Monthly Archives: Oktober 2010

Lucifer (Jonghyun)

Standar

Inspiration from someone true story. When your love hurt your heart… is it love?

Cast: Jonghyun, Jaerin, Hyunkyo and friends

Genre: Love Story

PG: 15

lucifer

Jangam melihat matanya

Jangan melihat senyumnya

Jangan tersenyum kepadanya

Jangan dekat dengannya

Jangan menyukainya

Jangan jatuh cinta kepadanya

Seorang yeoja memandangi papan pengumuman daftar siswa baru. Kemudian seseorang menepuk pundaknya keras hingga ia tersentak kaget.

”Pasti kau mencari namanya.” cletuk sesorang yang menepuk pundaknya.

Yeoja itu mengangguk. Ia mengelus-elus dadanya ia bisa merasakan jantungnya berdenyut kencang karena terkejut.

”Jaerin~ sampai kapan kau menyukainya? Sudah lupakan saja dia. Dia tidak sekolah di sini.” cletuk orang berambut pendek itu menggibas-ngibaskan tangannya.

”Bagaimana bisa kau seyakin itu, Shin Hyunkyo?” cletuk yeoja berambut panjang.

”Yoon Chiyu.” cletuk Hyunkyo.

Jaerin mendesah.

”Aku tidak percaya. Coba aku SMS Chiyu dulu.”’ ucap Jaerin mengambil HP dari sakunya dan mengetik sesuatu.

”Sudahlah Jaerin~ kenapa kau masih mengharapkannya~ bukankah di sekolah ini sudah ada namja yang kau taksir?” ujar Hyunkyo.

”Namja itu lebih dari masalaluku. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Aku sudah melupakannya. Kenapa kau mengingatkanku lagi?” sahut Jaerin.

”Lalu dari mana kau tahu dia sekolah di sini?” lanjut Jaerin.

”Yoon Chiyu. Kau memutuskan masuk sini karena ada dia bukan? Meski sekolah ini jauh dari tempat tinggalmu.” sahut Hyunkyo.

HP Jaerin bergetar. Ada sms masuk ia membacanya.

Iya aku melihatnya kemarin di depan papan pengumuman. Aku tidak tahu dia masuk kelas berapa.

Oh ya kau sekelas dengan Hyunkyo?

Jaerin membalas.

Jadi dia sekolah di sana? =(

Tidak aku tidak sekelas dengan Halmeoni. Aku masuk kelas khusus, tidakkah kau ingat?

Jika ada kabar darinya tolong kabari aku, ahjumma tersayang ^^

”Bagaimana benar bukan?” cletuk Hyunkyo.

”Ye~ halmeoni benar.” sahut Jaerin.

”Ahjummamu jodoh dengannya ya.” ucap Hyunkyo.

Jaerin menjadi lesu.

”Halmeoni sudah jangan katakan itu lagi.” ucap Jaerin.

HP Jaerin bergetar lagi.

Sepertinya. Aku sering melihatnya.

Oh iya aku lupa ^^

Kau masih memanggilnya Halmeoni?

Iya~ keponakanku tersayang~ ^^

Jaerin membalas.

Tantu saja. Meski dia bukan Halmeoniku hubungan kita tetap seperti kelurga. Begitu juga denganmu ^^

”Kenapa kau tersenyum seperti itu?” cletuk Hyunkyo.

”Karena aku senang, setidaknya Halmeoni satu sekolah denganku.” ucap Jaerin.

”Kau tidak keberatankan aku memanggilmu Halmeoni?” lanjut Jaerin.

”Tidak apa-apa. Bukankah dari dulu seperti itu. Asalkan jangan Haraboji saja. Akukan yeoja, bukan namja.” cletuk Hyunkyo.

Lalu mereka tertawa.

Beberapa hari kemudian.

Jaerin melihat jam dinding kelasnya, beberapa menit lagi pulang. Jam pelajaran terakhir ia hanya mendapatkan tugas dari guru. Sang guru tidak dapat mengajar, ada urusan penting. Ia telah menyelesaikannya dan mengumpulkannya ke ketua kelas. Waktu luang yang ada ia gunakan mengingat masa itu. Masa saat bertemu dengan namja yang tidak lepas dari ingatannya.

FLASH BACK

Jaerin duduk di depan kelas sembari membaca buku. Buku yang ia baca bukan buku pelajaran, melainkan novel. Tidak ada pelajaran waktu itu. Awal-awal tahun ajaran baru memang begitu. Ia memandang ke depan, ke halaman tengah sekolah. Lomba masih berlangsung. Ia tidak tertarik menyaksikan. Tapi suara sorak sorai membuatnya penasaran. Ternyata ada kejadian yang tidak biasa baru saja terjadi. Matanya terdiam memandang seorang namja yang menggenakan jaket berwarna putih.

Namja itu tersenyum memandang ke tengah lapangan. Jaerin memperhatikan namja itu tanpa berkedip. Lalu namja itu menoleh ke arahnya. Jaerin langsung tertunduk menatap novel yang ada di pangkuannya. Sesekali ia menatap namja itu. Namja itu masih ada di tempat.

”Jaerin ayo ke kantin!” seru seseorang.

Jaerin mendongak ia melihat Hyunkyo, Chiyu,Hana,Sachi. Ia beranjak.

”Ayo~” cletuknya.

Sudah berhari-hari Jaerin mengamati namja itu. Ia ingin tahu siapa nama namja itu. Tapi tidak berhasil. Namja itu selalu menggenakan jaket. Ia tidak dapat melihat identitas/nama siswa.

”Ada yang aneh denganmu.” cletuk Chiyu.

”Iya. Kau akhir-akhir ini menjadi diam.” ucap Hana.

”Dan selalu bertengger di depan kelas.” cletuk Sachi.

”Bertengger? Kau pikir aku burung?” sahut Jaerin.

Chiyu, Hana dan Sachi tertawa.

”Kau lihat namja di sana.” ucap Jaerin memandang ke suatu arah.

”Yang mana?” cletuk Chiyu mencari namja yang di maksud Chiyu.

”Yang pakai jaket itu?” cletuk Hana.

”Kau menyukainya?” cletuk Sachi.

Jaerin mengangguk.

”Pantas saja kau betah duduk di sini.” cletuk Chiyu.

”Hai cucuku, hai keponakanku~” seru Hyunkyo yang baru datang.

Tidak satupun menghiraukannya.

”Aish~ kalian mengacuhkanku. Apa sich yang kalian lihat?” ucap Hyunkyu lalu menatap ke suatu arah.

”Oh~ ternyata kalian sedang membicarakan anak baru itu~” cletuk Hyunkyo.

Jaerin, Chiyu, Hana dan Sachi langsung menatap Hyunkyo.

FLASH BACK END

”Jaerin kau tidak pulang?” cletuk seseorang.

Jaerin tersadar. Ia melihat sekeliling, anak-anak meninggalkan kelas.

”Oh ya, aku akan pulang.” ucap Jaerin.

Orang itu meninggalkan Jaerin. Ia hanya menyadarkan Jaerin dari lamunannya.

Jaerin keluar kelas. Ia mencoba tersenyum. Lalu ia mengingat kejadian yang menyenangkan.

FLASH BACK

Jaerin berjalan ke kantin sendirian. Chingunya sudah berangkat duluan.

Deg~

Denyut jantungnya berpacu dengan cepat. Ia melihat namja itu berjalan meninggalkan kantin. Jaerin berusaha tenang. Mereka berpapasan. Setelah itu Jaerin tersenyum.

”Jaerin tadi aku melihatnya melintas barusan. Kau melihatnya tadi?” cletuk Hana yang melihat Jaerin berjalan mendekat.

”Sepertinya dia melihatnya. Lihat saja, dia tersenyum bahagia seperti itu.” sahut Chiyu.

Jaerin duduk di antara Hana dan Sachi, berhadapan hadapan dengan Chiyu.

”Kau seperti mendapatkan rejeki nomplok saja.” cletuk Sachi.

”Jangan-jangan kau mendapatkannya.” sahut Chiyu.

”Ya~ aku mendapatkannya~ akhirnya aku tahu siapa namanya.” ucap Jaerin.

”Siapa?” sahut Hana, Chiyu, Sachi bersamaan.

”Kim Jonghyun.” ucap Jaerin.

FLASH BACK END

”Hya~”

Jaerin tersentak kaget.

”Halmeoni!!!” sentak Jaerin.

Hyunkyo tertawa.

”Salah sendiri melamun.” cletuk Hyunkyo.

Jaerin cemberut.

”Pokoknya aku gak mau tau, Halmeoni harus membelikanku lolipop.” ucap Jaerin cemberut.

”Iya cucuku~” ucap Hyunkyo lalu tertawa.

”Aduh aku lupa mau bilang apa~” lanjut Hyunkyo.

”Berkali-kali kita bertemu kau pasti bilang begitu.” sahut Jaerin.

Hyunkyo berpikir keras, ia mencoba mengingat-ngingat.

Jaerin mendesah kemudian ia berhenti bernafas. Ia mencengkram tangan Hyunkyo yang ada di hadapannya.

”Di di di di di dia~ dia~ dia~” ucap Jaerin terbata-bata.

Hyunkyo memalingkan tubuhnya 90 derajat.

”Nah itu yang ingin aku katakan padamu.” cletuk Hyunkyo.

Jaerin mencengkram tangan Hyunkyo.

”Jonghyun~ sekolah di sini.” ucap Jaerin.

Ia tampak terkejut.

”Aku tahu kau terkejut. Tapi bisakah kau tidak mencengkramku.” ucap Hyunkyo kesakitan.

Jaerin melemparkan tasnya kemudian ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Ia memejamkan matanya.

‘Ia sudah berhari-hari satu sekolah denganku tapi aku tidak menyadarinya.’ batin Jaerin.

Tak seorangpun yang tahu bahwa Jaerin menyukai Jonghyun kecuali Hana, Chiyu, Sachi dan Hyunkyo. Tapi saat semester 2, sepertinya Jonghyun dan chingunya tahu.

Sejak Jaerin mengambil foto Jonghyun di mading, Jonghyun dan chingunya bersikap aneh. Padahal saat mengambil foto sekolah sepi karena hari itu hari libur.

Jaerin seringkali merasa Jonghyun menungguinya di tengah jalan. Saat di kantin, di kopisis bahkan saat ia ke toilet. Setelah dari kantin atau kopsis, Jonghyun pasti mengikutinya dari belakang atau jalan berjajar.

Jonghyun seringkali memberikan perhatian lebih kepada Jaerin.

FLASH BACK

Chiyu berdeham. Jaerin tertunduk ia mengerti mengapa chingunya itu berdeham. Karena Jonghyun tepat ada di sampingnya. Mereka berjalan bersama.

Chiyu, Hana dan Sachi berjalan cepat meninggalkan Jaerin. Jaerin ingin menyusul tapi ia mala terjatuh. Ia terdorong dari arah samping. Jonghyun terjatuh bersamanya. Jonghyunsegera bangkit dan membungkuk untuk minta maaf.

“Apa yang kau lakukan lihat aku terjatuh dan mengenainya. Jangan lakukan itu lagi.” Ucap Jonghyun berbisik kepada temannya.

Jaerin berdiri. Ia dapat mendengar apa yang di katakan Jonghyun.

Jonghyun menatap Jaerin dan membungkuk meminta maaf.

Jaerin langsung pergi begitu saja meninggalkan Jonghyun. Ia melangkah cepat ke arah kelas. Wajahnya merah.

FLASH BACK END

Jaerin memandangi layar HPnya. Tertera tulisan JH K dan sederet nomer. Beberapa detik kemudian ia mendesah.

‘Aku tidak berani mengiriminya pesan ataupun menghubunginya.’ Batin Jaerin.

Beberapa hari kemudian…

“Apa yang kau lihat?” tanya yeoja berambut panjang.

“Tidak ada.” Ucap Jaerin.

“Kau sedang memperhatikan namja itu ya.” Cletuk yeoja itu.

“Tidak kok Hyejin.” Elak Jaerin.

“Ku lihat akhir-akhir ini kau sering memperhatikan namja itu. Waktu SMP dulu kau juga begitu.” Ucap yeoja bernama Hyejin.

“Ehm…”

“Sudah mengaku saja.” Potong Hyejin.

“Iya aku memperhatikan namja itu. Aku menyukainya.” akuh Jaerin.

“Lupakan dia~ dia sudah mempunyai pacar.” Cletuk Hyejin.

“Mwo?” sahut Jaerin.

“Iya, pacarnya adik kelas kita dulu sekaligus tetanggaku.” Ucap Hyejin.

Jaerin terdiam tak percaya. Ia menatap namja yang sedari ia perhatikan. Namja itu sedang bergurau dengan chingunya.

“Jika kau tidak percaya lihat saju akunnya, statusnya pasti sudah berpacaran.” Cletuk Hyejin.

“Akunnya? Tunjukan padaku!” sahut Jaerin.

“Mana HPmu akan ku tunjukkan padamu.” Ucap Hyejin.

Dada Jaerin terasa sesak sekali. Ia menatap layar HPnya.

“Berpacaran dengan…” gumamnya.

Ia membuka akun namja bernama Kim Jonghyun. Ia terdiam begitu lama melihat status hubungannya. Lalu Jonghyun online, ia mengetik sesuatu di berandanya. Dengan cepat Jaerin memberi komentar, ia tak pernah seberani itu. Mungkin karena dunia maya. Karena ia ada di dunia maya ia dapat seberani itu. Tak berepa lama kemudian seseorang ikut mengomentari status Jonghyun. Orang itu tidak lain adalah pacar Jonghyun.

Sejak itu Jaerin akrab dengan Jonghyun dan pacarnya. Tapi itu berlangsung hanya di dunia maya. Di situs jejaring sosial saja. Antara suka dan duka. Ia berada di tengah-tengah hubungan orang lain. Sebelum dekat dengan pacarnya Jonghyun, Jaerin pernah di tanyai oleh yeoja yang membuatnya iri itu.

Apakah hubunganmu dengan Jonghyun?

Jaerin membalas

Teman.

Yeoja itu bertanya lagi.

Kau dekat dengannya?

Jaerin mulai mengerti. Yeoja itu curiga kepadanya.

Tidak~ aku hanya mengenalnya. Kami tidak pernah sekelas. Aku hanya seankatan dengannya. Oh ya kau adik kelasku dulu bukan?

Beberpa hari kemudian….

“Jaerin~ kau tahu~ Jonghyun putus dengannya.” Cletuk Hyejin tiba-tiba.

“Putus?” sahut Jaerin.

“Iya putus. Ia putus dengan tetanggaku. Katanya sich dia selingkuh dengan yeoja lain. Dia selingkuh di situs jejaring, pantas saja ketahuan. Dasar namja bodoh tak tahu diri.” Ucap Hyejin kesal.

Jaerin buru-buru mengecek akun Jonghyun. Status hubungannya sedang rumit. Itu tandanya dia belum-belum putus.

“Statusnya masih rumit tuh.” Cletuk Jaerin.

“Mungkin dia bingun memilih yeoja yang ingin di jadikan kekasihnya. Simpanannyakan banyak.” Sewot Hyejin.

Jaerin terdiam. Ia tidak mengira Jonghyun memiliki sifat seperti itu.

Pulang Sekolah

Jaerin pulang dengan lesuh. Ia tertudnduk.

“Hey!” seru Hyunkyo mencoba mengagetkan Jaerin tapi tidak berhasil.

“Kau kenapa?” tanya Hyunkyo.

Jaerin terdiam. Ia memandang ke dapan. Jonghyun baru saja melintas di hadapannya.

“Kau ada masalah dengan dia?” tanya Hyunkyo lagi.

Jaerin menarik nafas dengan berat.

“Kau seharusnya mengatakan perasaanmu kepadanya. Aku sering melihatnya memandangimu.” Cletuk Hyunkyo.

“Mwo? Memandangiku?” sahut Jaerin.

“Iya~ saat kau tak tahu dia ada di sekitarmu~ dia memperhatikanmu.” Ucap Hyunkyo.

“Dia sudah memiliki kekasih~ apakah kau tidak salah?” ucap Jaerin.

“Mungkin saja dia tidak mencintai kekasihnya saat itu. Tapi dia mencintaimu~ dia menyukaimu~ dia berpacaran dengan yeoja itu hanya demi status palsu. Mungkin saja bukan?” ucap Hyunkyo.

Dada Jaerin terasa sakit.

‘Apa mungkin dia mencintaiku? Apa dia putus dengan pacarnya karena aku?’ batin Jaerin.

“Oh ya apa hubungannya dengan kekasihnya baik-baik saja?” tanya Hyunkyo.

“Tidak~ mereka ada masalah. Ku dengar mereka sudah putus.” Ucap Jaerin.

“Bagus dong!!! Ini kesempatanmu untuk menyatakan cinta kepadanya.” Cletuk Hyunkyo.

“Mereka putus karena orang ketiga. Karena Jonghyun selingkuh.” Sahut Jaerin.

“Mwo?” sahut Hyunkyo.

“Selama ini aku berada di tengah-tengah mereka. Aku takut aku penyebab mereka putus.” Ucap Jaerin.

“Jangan berpikiran seperti itu. Mungkin saja mereka putus karena salah paham. Merekakan tidak satu sekolah lagi. Hubungan jarak jau memang seperti itu. Jangan menyalakan dirimu. Apa yang kau katakan dan apa yang ku katakan sebelumnya belum tentu benar.” Hibur Hyunkyo.

“Kalian ini sama-sama suka curi-curi pandang ya.” Cletuk Hyunkyo.

Jaerin menatap Hyunkyo yang baru keluar dari kelasnya.

“Kau tidak mengatakn perasaanmu kepadanya?” tanya Hyunkyo.

“Tidak~ hubunganku semakin buruk ketika ia putus. Ia jarang online.” Ucap Jaerin.

“Kau kanpunya nomornya, kenapa tidak SMS?” sahut Hyunkyo.

“Tidak berani~ aku takut ia mengetahui bahwa aku menyukainya. Lagi pula di situs jejaringku aku menggunakan nama samaran.” ucap Jaerin.

“Bukankah itu bagus? Tapi fotomu aslikan? Dia pasti mengenalimu.” sahut Hyunkyo.

“Kau gila!!! Aku tidak ingin dia tahu.” sentak Jaerin

“Jika dia tidak tahu, hubunganmu tidak ada perkembangan.” Ucap Hyunkyo.

“Sudahlah dia tidak penting lagi.” Ucap Jaerin.

“Kau menyerah?” sahut Hyunkyo.

Jaerin mengangguk.

“Kau tahu~ kalian itu berjodoh~ kenapa harus menutupi sich? Lagian jangan jaim jaim. Dia sudah tau kok kalu kamu suka sama dia.” Cletuk Hyunkyo.

Jaerin menatap Hyunkyo dalam.

“Dari mana kau tahu?” tanya Jaerin

“Tidak penting dari mana aku tahu. aku sudah mengetahuniya sejak smp dulu bahawa ia dan teman-temanya mengetahui bahwa kau menyukainya. kau masih ingat kejadian saat kau jatuh karenanya?” ucap Hyunkyo.

Jaerin mengangguk.

“Temannya sengaja menggodanya. Mereka tahu kau menyukai Jonghyun. Ia mendorong Jonghyun kepadamu. Tapi Jonghyun tidak berani bicara kepadamukan? Mungkin saja karena ia tahu kau menyukainya. ia tidak tahu harus berkata apa.” Ucap Hyunkyo.

Jaerin mengepalkan ke dua tangannya. Ia tidak percaya.

Seminggu kemudian…

“Hai~ itu dia.” Ucap HYunkyo memandang seseorang.

Jaerin yang duduk di depannya hanya terdiam.

“Ada apa denganmu? Biasanya kau tidak ketinggalan sedetikpun untuk memandangnya.” Ucap Hyunkyo.

Jaerin tidak menghiraukannya. Ia sibuk menikmati makananya.

“Apa ada masalah?” tanya Hyunkyo.

Jaerin meneguk air minumnya.

“Ya~” ucap Jaerin.

“Apa?” sahut Hyunkyo.

“Aku berusaha melupakannya.” Ucap Jaerin.

“Waeyo?” sahut Hyunkyo.

“Karena dia Lucifer.” Ucap Jaerin.

“Lucifer?” sahut Hyunkyo.

“Awalnya dia manis~ aku menyukainya~ tapi lama-lama ia menusuk dari belakang.” Ucap Jaerin.

“Aku tidak mengerti.” Ucap Hyunkyo.

“Dia sudah memuliki kekasih, tapi dia tetap berbagi rasa dengan yeoja lain. Perasaan yang tak seharusnya di bagi-bagi. Yeoja itu tahu dia memiliki kekasih, tapi yeoja itu tidak bisa lepas darinya. Dia memiliki bisikan maut yang membuat yeoja bertekuk lutut kepadanya. Ia mempunyai pandangan yang menakutkan. Karena pandangan itulah aku terjerat. Aku tidak bisa melupakannya. Dia sungguh kejam. Mencari korban dengan memberi kenikmatan. Pada akhirnya, ia menusuknya atu membuangnya.” Ucap Jaerin emosi.

“Apa dia melakukan sesuatu yang buruk padamau?” ucap Hyunkyo khawatir.

“Bukan padaku, tapi pada yeoja lain~ aku memperhatikannya. Ada Lucifer di dalam dirinya. Untung saja agamaku kuat,. Jika tidak mungkin aku terperangkap dalam dunianya.” Ucap Jaerin.

“Kau sungguh berlebihan Jaerin.” Ucap Hyunkyo.

“Karena kau belum merasakannya.” Sahut Jaerin

“Jadi dia melakukan sesuatu?” tanya Hyunkyo bingung.

Jaerin memejamkan matanya.

“Bisikannya, pandanganya, senyumnya itu memberkan cahaya kepadaku, membuatku bahagia~ tapi bisikannya, pandangnya, senyumnya juga membuatku terkekang. Semua ada di ingatanku dan tidak pernah lepas. Dia membuatku gila, tidakkah kau menyadarinya?” ucap Jaerin.

Hyunkyo menelan ludah.ia merasa ada benarnya. Sejak Jaerin menyukai Jonghyun, ia berubah. Jaerin menjadi orang lain tidak seperti Jaerin yang dulu.

“Jangan melihatnya.” Cletuk Jaerin ketika Hyunkyo hendak mentap Jonghyun.

“Dia akan tahu jika kita membicarkannya jika kau melihatnya.” Lanjut Jaerin.

“Dari mana kau tahu?” tanya Hyunkyo.

“Dari mana kau tahu dia tahu tentang perasaanku waktu itu~” ucap Jaerin lalu lanjut menyantab makanananya.

Hyunkyo terdiam ia mulai mengerti. Lalu ia mencoba berpikiran jernih. Lalu ia menyadari apa yang dikatakan Jaerin benar.

FLASH BACK

“Dia tahu jika di bicarakan. Waktu itu aku membicaraknnya. Jarakku dengannya kira-kira 2 kelaslah. Lalu aku memandangnya, dia tiba-tiba menatapku dan berkata ‘Ada apa membicarakanku?’ Aku terkejut mendengarnya.” Ucap yeoja berambut pendek.

“Kau juga harus hati-hati dengannya. Ada sesuatu yang lain darinya. Semoga kau tidak terjerumus lebih dalam.” Lanjutnya.

FLASH BACK END

“Jaerin~ aku percaya dia Lucifer. Tapi apakah tidak apa-apa kita memanggilnya Lucifer. Dia lebih baik dipanggil playboy.” Ucap Hyunkyo.

“Tidak.” Sahut Jaerin.

“Mengapa tidak? Bukankah dia mempermainkan yeoja?” tanya Hyunkyo.

“Dia lebih dari itu~ dia memiliki kekuatan yang kukatakan tadi. Dia bis menghipnotis~ dia Lucifer~” sahut Jaerin.

“Jika dia Lucifer, menghipnotismu~ bagaimana kau bisa sadar?” cletuk Hyunkyo.

“Kan sudah aku bilang agamaku kuat. Lagi pula aku sering mematahkan hipnotis. Bukankah aku pernah mencertakan padamu~ aku pernah keluar dari hipnotisan orang lain. Aku pernah hilang ingatan karena hipnotisku sendiri, dan aku bisa memecahkannya dan mengingat siapa diriku lagi.” Ucap Jaerin.

“Kau sungguh yeoja yang hebat.” Ucap Hyunkyo.

Jaerin hanya diam tidak berkomentar. Ia meneguk habis minumannya. Beberpa meter dari Jaerin dan Hyunkyo, Jonghyun duduk memperhatikan.

“Siapa mereka?” tanya namja yang duduk di sebelah Jonghyun.

“Teman satu sekolahku dulu.” Jawab Jonghyun.

“Kau kenal baik dengannya?”

“Tidak. Aku tidak pernah bicara kepada mereka.”

“Waeyo?”

“Salah satu dari mereka menyukaiku.”

“Kau tidak suka kepadanya? Kau merasa terganggu?”

Jonghyun tersenyum.

“Tidak~ dia berbeda.” Ucap Jonghyun.

“Berbeda? Yeoja yang menyukaimu yang mana?” tanya teman Jonghyun itu.

“Yang rambutnya panjang.” Ucap Jonghyun.

“Apa yang beda?”

“Sesuatu yang belum aku lihat sebelumnya.”

“Dari cara bicaramu sepertinya kau menyukainya.”

Jonghyun tersenyum untuk kesekian kali.

“Meski aku menyukainya aku tidak dapat memilikinya. Aku tidak bisa dekat dengannya. Aku hanya dapat melihatnya dari jauh.” Ucap Jonghyun.

“Dia sudah memiliki kekasih?”

Jonghyun menggeleng.

“Aku tidak pantas untuknya. Aku takut menyakitinya. Selama ini aku hanya berani memandangnya. Aku tidak bernani berbicara langsung kepadanya. Aku takut apa yang ku katakan padanya menyakitinya. Meski itu hanya kata maaf. Biarlah kami sama-sama menderita karena perasaan kami berdua. Karena ini demi kebaikan kami juga. Tidak sepantasnya kami bersama. Kami tidak di izinkan untuk bersama.” Terang Jonghyun.

“Kata-katamu berat sekali. Apa tidak dapat di sederhanakan?”

“Kami tidak boleh bersama, kami tidak boleh mencintai, itu terlarang. Intinya cintaku dan darinya adalah cinta terlarang.”

“Cinta terlarang? Bagaimana bisa?”

“Kau ingat tentang sejarah, cerita…”

“Stop~ aku tahu. pasti ada hubungannya dengan leluhurmu. Sebaiknya jangan cerita kepadaku. Aku tidak ingin terlibat terlalu dalam. Itu sebuah rahasia. Rahasiamu. Jangan libatkan aku, Jonghyun.”

Jonghyun tersenyum melihat temannya ketakutan dan tidak mau mendengarkannya. Ia menatap kedua tangannya.

“Lucifer” gumamnya.

Cinta membuat orang bahagia

Cinta membuat orang terluka

Cinta membuatku untuk berbohong

Cinta membuatku menyakiti dia

Cinta membuatku menyakiti diriku

Cintaku membunuhku

Cintaku tidak boleh menguasaiku

Aku tidak ingin mati karena cinta

Tidak apa-apa aku terluka

Asalkan aku dapat hidup dan melihatnya

Aku ingin melihatnya di sini

Aku tidak ingin melihatnya di sana

Aku tidak ingin melihatnya dari tempat yang buruk itu

Karena dia tidak mungkin ada di sana

Cinta kau bukan cintaku

Cinta aku tidak memiliki hati

Cinta pergi dariku

Cinta biarkan hidup

Cinta ambil nafasku, jangan nyawaku

Cinta biarkan aku melihat cinta meski tidak dapat merasakannya

END

Gimana menurut kalian?

Komentar dong!

Soal karakter-karakternya gimana?

Mohon bantuannya~ *bow sembilan puluh derajat*

Sarang Bi (Final Chapter)

Standar

Let’s meet when Rain~ Rain~ Rain~

Cast: Donghae, Hangeng, Jaerin, Jihee, Hyekyu

Genre: Tragedy, Romantic

PG: 15

Please don’t be silent reader

Komentar ya ^^

  

Malam hari

Aku masih memikirkan apa yang dikatakan Jihee. Apa benar Donghae selingkuh? Memang akhir-akhir ini ia terlihat aneh. Dia sering melupakan janjiku. Dia memetingkan pekerjaannya. Apakah dia benar-benar banyak pekerjaan?

HPku berbunyi. Ada MMS masuk dari Hyekyu. Aku segera membukanya. Dan aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Seakan-akan waktu berhenti dan semuanya berputar. Aku tidak dapat berpikir jernih. Setetes demi tetes air yang keluar dari kedua mataku membasahi kedua pipiku.

Keesokan harinya

Donghae POV

Aku ingin mengunjunginya sebelum aku bekerja. Aku memasuki toko di mana ia berkeja. Tapi aku tidak melihatnya. Aku hanya melihat chingunya Hyekyu.

”Hyekyu, Jaerin kemana?” tanyaku.

Tapi tidak ada respon darinya.

”Hyekyu, kau dengar aku?” tanyaku sekali lagi.

Yeoja itu tidak mempedulikanku. Ia berjalan masuk kedalam suatu ruangan.

”Doanghae, Jaerin tidak masuk kerja hari ini.” sahut sebuah suara.

Aku melnoleh ke asal muasal suara. Ternyata ahjumma pemilik toko.

”Apakah dia sakit?” tanyaku.

”Aku tidak tahu. Mungkin ia sedang bekerja di apertemennya.” ucapnya.

”Oh~” ucapku.

”Lihat saja ke apertemenya.” ujarnya.

Aku mengangguk.

”Tolong seikat bunga Krisan putih.” ujarku kepada pemilik toko.

”Untuk Jaerinkah?” tanyanya sembari mengambil bunga Krisan putih.

”Tentu ia sangat menyukai bunga Krisan.” ucapku.

”Kau tidak memberika mawar merah untuknya?” cletuk pemilik toko.

”Tidak. Aku tidak tahu apa ia suka bunga itu. Aku tidak ingin memberikan sesuatu yang tidak ia sukai.” ucapku.

Sekarang aku sudah berada di depan pintu apertemennya. Ku harap ia ada. Aku mengambil nafas dan menekan bell apertemennya.

Sudah 5 menit aku berdiri. Sudah 5 kali aku menekan bell apertemennya. Tapi tidak ada jawaban darinya.

Aku menghubunginya, HPnya tidak aktif. Sepertinya ia sibuk. Aku mendesah. Padahal aku ingin bertemu dengannya dan memberikan bunga untuknya.

Aku melangkah pergi dari apertemennya. Aku masuk dalam mobil dan melemparkan seikat bunga krisan ke bangku belakang.

Sekarang aku harus bekerja. Aku harus fokus.

Aku melihatnya duduk sendiri. Aku keluar dari mobil.

”Kau sudah lama menungguku.” ucapku.

Yeoja itu menggeleng. Aku mengulurkan tanganku.

”Ayo kita berangkat.”

Ia menerima uluran tanganku. Aku bisa merasakan tangannya yang dingin. Aku yakin dia sudah lama menungguku. Tak seharusnya aku mampir menemui Jaerin. Seharusnya aku menemuinya langsung. Toh pada akhirnya aku tidak dapat bertemu dengan Jaerin.

Aku membukakan pintu untuknya. Ia masuk ke dalam mobilku. Aku bergegas masuk ke dalam mobil lalu aku melajukan mobilku.

”Kenapa kau mengenakan pakaian itu lagi?” tanyaku.

”Aku suka. Aku suka pemberianmu. Kau mengerti apa yang aku suka.” ucapnya memandang pakaiannya.

Aku memang memberikan itu semua. Penutup kepalah, syal, baju rajutan itu kepadanya. Tapi aku melupakan sesuatu, sarung tangan. Aku tidak memberikan kepadanya. Memang waktu itu tidak ada sarung tangan berwarnah merah muda tapi biru muda, warna kesukaan Jaerin.

”Ini untukku?” tanyanya tiba-tiba.

Aku meliriknya. Ia mengenggam seikat bunga Krisan. Kapan ia mengetahuinya? Kepan ia mengambilnya?

”Ehm, ya.” ucapku.

Aku tidak ingin mengatakan bahwa bunga itu bukan untuknya, tapi untuk Jaerin. Aku tidak ingin melukai hatinya.

”Terima kasih. Tapi aku lebih suka bunga Lily.” ucapnya.

Aku hanya diam.

”Kemana kita pergi?” tanyanya memecahkan keheningan.

”Wonderland.” ucapku singkat.

Jaerin POV

Aku duduk sambil membaca pesan dari Hyekyu. Ia mengatakan Donghae mencariku di toko dan membeli bunga krisan untukku. Aku menghela nafas panjang. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku belum sanggup.

Aku mengganti nomorku untuk menjauh darinya. Hanya Hyekyu dan Jihee yang mengetahui nomer ini.

Ku tatap layar ponselku. Penuh dengan SMS dari Hyekyu. Aku membacanya lagi.

Dia bilang dia tidak ingin memberikan sesuatu  untukmu yang tidak kau sukai

Pesan itu terngiang-ngiang di otakku. Jadi benar, Donghae selingkuh. Perkataan Jihee benar. Ia membeli pakaian berwana merah muda bukanlah untukku. Tapi untuk yeoja lain yang kini mengisi hidupnya.

Air mataku kembali menetes.

Aku membuka MMS dari Hyekyu kemarin. Gambar itu menyayat hatiku. Gambar itu juga yang menguak keraguanku selama ini. Ternyata Donghae menduakanku.

Tangisku pecah.

”Jaerin kenapa kau menangis?” tanya sebuah suara.

Aku mendongak ternyata Jihee dengan Hangeng.

Jihee duduk di sebelahku.

”Apa ada masalah?” tanya Jihee.

Aku tertunduk.

”Jihee kau benar.” ucapku terisak.

”Apa maksudmu?” tanya Jihee tidak mengerti apa maksudku.

”Donghae~ Donghae selingkuh Jihee~” ucapku terisak.

”Jinca?” sontaknya terkejut.

Aku menunjukkan foto Donghae dan yeoja lain.

”Ini dari Hyekyu?” tanya Jihee.

Aku mengangguk.

”Hyekyu juga menatakan padaku Donghae selingkuh. Ia bertanya padaku apakah dia harus mengatakan padamu. Tapi aku tidak menjawabnya, aku tak tahu harus menjawab apa.” ucap Jihee.

”Sekarang katakan padaku. Pakaian itukah yang kau lihat?” ucapku.

”Maksudmu?”

”Kau melihat Donghae membelikan pakaian yang dikenakan yeoka itu bukan?” tekanku.

Jihee terdiam lalu mengangguk pelan. Aku kembali menangis. Ia memelukku dan menghiburku.

”Jihee bukankah itu namja yang waktu itu.” cletuk Hangeng.

”Namja yang mana?” tanya Jihee.

”Yang kau bilang namjachingu Jaerin.” ucap Hangeng.

”Mana?” sontak Jihee.

Hangeng menunjuk suatu arah. Jihee melihat ke arah yang di tunjuk Hangeng. Jihee terdiam.

Aku melihat raut muka Jihee dan Hangeng. Aku tidak suka ekspresi itu, aku yakin apa yang mereka lihat mengecewakan. Aku tidak ingin melihat. Tapi hasyratku mengatakan agar aku melihatnya.

Aku… Aku tak percaya. Donghae bersama yeoja itu lagi. Yeoja itu menggenakan pakain yang sama. Mereka bergandengan tangan mesra. Dan yeoja itu membawa bunga krisan. Bukankah bunga itu untukku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan berlari menjauh. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak ingin melihat itu lagi.

Donghae POV

Rasanya berbeda sekali mengenggam tangannya. Rasanya dingin. Dan rasa itu tetap terasa meski aku mengenggamnya erat. Dan bunga itu. Kenapa ia membawanya. Bukannya ia tidak suka dengan bunga itu? Sepertinya ia menyukai apa yang aku suka meski dia tidak menyukainya.

”Kita kemana dulu?” tanyanya.

”Kau ingin kemana?” tanyaku.

”Apakah di sini ada tempat duduk dekat kolam? Aku ingin duduk dan memandang kolam.” ucapnya.

”Ada. Di kolam itu juga ada bunga lily kesukaanmu.” ucapku.

”Aku tahu itu.” ucapnya.

Jika dia tahu, kenapa ia bertanya? Ia sengaja bersikap seperti itu? Ia manja kepadaku.

Kami berjalan ke arah kolam. Langkahku terhenti melihat yeoja yang menatapku dari bangku kolam. Yeoja itu berlinang air mata. Matanya merah, wajahnya lusuh. Aku tidak sanggup melihat wajah itu. Sungguh aku tak sanggup. Lalu yeoja itu berlari pergi, menghilang dari penglihatanku. Aku ingin mengejarnya. Tapi tidak bisa. Aku tidak bisa. Kakiku seperti mati rasa.

”Donghae~ Donghae~” panggil sesorang.

Aku tersadar. Yeoja yang ada di sampingku itu memanggil namaku.

”Kau tidak apa-apa?” tanyanya.

”Aku baik-baik saja.” ucapku berbohong.

Aku tidak baik-baik saja. Sepertinya sesuatu yang tajam menusuk tepat di jantungku.

”Ayo kita berjalan!” ajaknya.

Aku melangkahkan kaki. Rasanya sangat berat. Aku tidak melihat Jihee. Sepertinya dia mengjar Jaerin tadi.

Seorang namja mendekatiku. Aku tidak mengenalnya. Tapi dia bersama Jihee dan Jaerin tadi.

”Kau Donghae? Lee Donghae?” tanyanya dengan ekspresi jijik kepadaku.

”Ya, aku Lee Donghae.” ucapku.

Dan bruk….

Ia memukulku hingga jatuh tersungkur. Ia menarik pakaianku dan memukulku sekali lagi.

”Stop apa yang kau lakukan!!!” triak yeoja yang bersamaku kepada namja itu

”Aku memberinya pelajaran.” ucap namja itu lalu memukulku lagi.

”Kenapa?” tanya yeoja itu penasaran. Dia ketakutan.

”Tanyakan saja padanya.” sentak namja itu lalu pergi.

Sorenya

Aku menatap yeoja itu. Dia sedih melihatku seperti ini. ”Kenapa kau tidak menjelaskan kepadaku siapa dia? Kenapa dia memukulmu?”

”Aku tidak tahu.” ucapku.

”Lalu kenapa ia tahu namamu? Pasti dia mengenalmu.” cletuknya.

Aku mencoba bernafas, rasanya sangat berat.

”Kau tidak usah memikirkannya. Aku tidak apa-apa.” ucapku.

Dia memandangku.

”Aku pergi dulu. Annyeong~” ucapku lalu beranjak pergi meninggalkannya.

”Apakah ini semua gara-gara aku?” cletuknya tiba-tiba.

Aku berhenti melangkah.

”Apakah benar kau masih mempunyai yeojachingu?” cletuknya lagi.

Aku meneteskan air mata. Aku tidak ingin ia melihatku saat ini.

”Tidak. Ini bukan karenamu. Kau tidak melakukan sesuatu yang membuatku seperti ini.” ucapku datar tanpa berpaling kepadanya.

Aku kembali melangkah dan masuk ke dalam mobil. Aku menangis. Ini bukan salahnya. Tapi ini salahku. Aku melakukan sesuatu yang membuatku jadi seperti ini.

Seminggu kemudian

Sudah seminggu aku tidak bertemu dengnnya. Aku tak tahu dimana dirinya saat ini.

”Kau tidak akan menemuinya di sini. Dia tidak tinggal di sini lagi.” ucap sebuah suara.

Aku melirik ke asal muasal suara. Dan aku mendapati namja yang memukulku saat itu.

”Di mana dia?” tanyaku.

”Untuk apa aku mengatakan kepadamu.” ucapnya ketus.

”Aku ingin mejelaskan sesuatu padanya.” ucapku.

”Apa lagi yang ingin kau jelaskan padanya? Jelas-jelas kau selingkuh.” ucap namja itu.

”Aku tidak melakukan itu karena keinginanku.” ucapku.

”Lalu?”

”Aku melakukan ini untuk balas budi kepada kakaknya.”

Ia menatapku.

”Apa maksudmu.” tanyanya.

Jaerin POV

Jihee mengirimku SMS. Ia ingin bertemu denganku di taman. Sebenarnya aku tidak ingin ke tempat itu. Tempat itu mengingatkanku akan dirinya. Tapi ia memaksa. Katanya ia ingin memberikan sesuatu untukku.

Dengan ogah-ogahan aku pergi. Udara semakin dingin. Aku terpaksa melakukan ini karena ia tak tahu di mana aku tinggal. Aku hanya mengatakan aku tinggal di incheon. Tempat tinggalku saat ini sangat jauh dari taman itu. Taman itu dekat dengan tempat tinggalku dulu.

Aku sudah berada di taman. Aku melihat sekeliling. Tidak ada Jihee. Aku belum melihatnya.

”Jaerin.” panggil sesorang.

Aku menoleh ke belakang. Ke arah asal muasal suara itu.

Aku melihat sesok namja. Aku tidak ingin melihatnya lagi.

Ia berjalan mendekatiku.

”Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

”Aku baik-baik saja.” ucapku.

”Aku ingin menjelaskan sesuatu kepadamu.” ucapnya.

Aku membuang muka. Sepertinya Jihee bersekongkol dengan Donghae.

”Jaerin sebenarnya aku…”

”Aku tahu. Kau memiliki yeoja lain yang lebih baik dariku.” potongku.

”Bu.. Bukan…”

”Oh aku tahu. Kau menemukan belahan hatimu bukan?” potongku lagi.

”Jaerin~” ucapnya.

Aku tidak ingin mendengarkannya lagi.

”Aku tahu maksudmu menemuiku. Kau ingin mengakhiri hubungan ini bukan? Hubangan kita sudah menggantung selama berhari-hari. Sudah seminggukah?” cletukku.

Air itu menetes lagi membasahi pipiku. Aku mengusapnya.

”Apakah kau tidak mencintaiku lagi?” tanya Donghae.

”Ani~ aku tidak mencintaimu lagi. Kau hanya membuatku terluka. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Aku ingin melupakanmu. Bisakah kau pergi dari kehidupanku? Aku tidak bisa hidup bahagia jika kau masih membayang-membayangiku.” ucapku.

”Jadi kau benar-benar ingin mengakhiri hubungan ini?” tanyanya kepadku.

”Ya.” ucapku tanpa keraguan.

”Baiklah, aku akan melepaskanmu.” ucap Donghae lalu menghela nafas panjang.

”Mulai detik ini kita tidak ada hubungan lagi. Aku melepaskanmu. Carilah kebahagianmu.” lanjutnya.

Aku berbalik dan melangkah pergi.

Donghae POV

”Jaerin~” panggilku.

Ia menghentikkan langkahnya. Ia tidak memalingkan wajah kepadaku. Sepertinya ia benar-benar tidak ingin melihat wajahku.

”Berjanjilah~ berjanjilah kau akan tersenyum. Berjanjilah kau akan bahagia.” ucapku mungkin untuk terakhir kalinya.

Hanya itu yang bisa aku sampaikan.

Ia mengangguk pelan. Ia beranjak pergi menjauh dariku. Hatiku pecah berkeping-keping. Bukan itu yang aku inginkan. Tapi jika itu keinginanmu itu tak masalah. Asalkan dia bahagia.

saranghaesseotdeon otteoniga tteonagan jeok itgetjyo modeun ge nae tasiran saenggagi deun jeok itgetjyo na gaeuraeseo japji mothaetjyo 

(I’m sure you’ve had someone that you loved leave you You might have thought it was all my fault That’s why I couldn’t hold onto you)

ireon apeumjjeumeun modu ijeul su isseul geora dareun sarangi chaja ol geora saenggakhaesseotjyo wae geureonde itjil mothaetjyo? 

(I thought that I could forget small pains like this and that another love would come and find me why I can’t forget about you?)

Sekujur tubuhku mati rasa. Aku mendongak menatap langit. Aku menitikkan air mata.

‘Jaerin~ apakah kau benar-benar tidak mencintaku lagi?’

Aku merasa kedinginan. Udara semakin dingin.

‘Tuhan, aku berharap dia kembali lagi padaku. Aku berharap ia masih mencintaiku. Hanya itu harapanku saat ini ya Tuhan. Aku sangat mencintainya. Aku ingin menjelaskan kepadanya bahwa dia satu-satunya yeoja yang ada di hatiku. Yeoja yang waktu itu bukan siapa-siapa. Aku hanya berpura-pura pacaran dengannya. Aku berhutang budi dengan oppanya. Sebagai balasan oppanya menyuruhku untuk menjadi kekasihnya. Yeoja itu sangat menyukaiku. Oppanya ingin adik satu-satunya itu mendapatkan kebahagian yang di inginkan sebelum meninggal. Aku tidak dapat menolak. Lagi pula aku merasa iba kepada yeoja itu. Ia terkena kanker otak.’ tangisku semakin pecah. Aku memejamkan mataku.

‘Tuhan tololnglah aku…’

geujeo haneul barabomyeo oechijyo dasi hanbeon nareul saranghaejwo nae mamsok jageun baraemi biga doeeo naeryeoomyeon 

(I just look up at the sky and cry out please love me again If only this small wish in my heart would turn into rain and fall from the sky)

nae sarangi meorie naerimyeon chueogi doesara nago gaseume naerimyeon sojunghaetdeon sarangi tteooreugo 

(If my love comes into your head the memories comes alive again If my love comes into your heart I’m reminded of our precious love)

nae sarangi ipsure daheumyeon neol saranghae naege oechimyeo biga naerineun gue gireul ttara geotdaga geotdaga geotda bomyeon baradeon naega neol gidaryeo

(If my love touches your lips you cry out to me that you love me following the rainy street… As you walk, walk, walk you will see the me that you were waiting for)

mideumiraneun yeolsoero saranguiran sangjal yeoreo sarangiran gidoreul jeonhaneun jeonhwareul georeo nae mami neol chatji mothaedo

(With the key called trust I open the box called love I call to send a prayer called love Even if my heart can’t find you)

geujeo haneul barabomyeo oechijyo dasi hanbeon nareul saranghaejwo nae mamsok jageun baraemi biga doeeo naeryeoomyeon

(I just look up at the sky and cry out please love me again If only this small wish in my heart would turn into rain and fall from the sky)

nae sarangi meorie naerimyeon chueogi doesara nago gaseume naerimyeon sojunghaetdeon sarangi tteooreugo

(If my love comes into your head the memories comes alive again If my love comes into your heart I’m reminded of our precious love)

nae sarangi ipsure daheumyeon neol saranghae naege oechimyeo biga naerineun gue gireul ttara geotdaga geotdaga geotda bomyeon baradeon naega neol gidaryeo

(If my love touches your lips you cry out to me that you love me following the rainy street… As you walk, walk, walk you will see the me that you were waiting for)

doraga geuttaero nae sarme dan hanbeon gidohaetdeon daero ireoke oechimyeon sarangbiga naeryeowa

(Go back to that time as I prayed for just once in my life if I cry out like this the rain of love will come down)

neoui sarangi naui nune naerimyeon nae aphae niga seoitgo nae gwie naerimyeon nega dasi sarangeul soksagigo

(If your love rains down on my eyes you are standing in front of me if your love rains down on my ears you are whispering sweet nothings again)

neol saranghae nae pume aneumyeon tto dasi haengbokhaejimyeo haega bichuneun gue gireul ttara gachi tto geotdaga gotda bomyeon baradeon uriga seo isseo

(I love you, if I held you in my arms again if I were to be happy again I would follow that sunny road… walking and walking together we will see the us that we’ve been hoping for)

naege dasi oraneun gido hanbeon deo 

(Praying for you to come back to me… Once again…)

Jaerin POV

Aku berhenti melangkah. Aku mendongak ke atas. Sesuatu jatuh mengenai bibirku. Salju~ salju turun. Aku terisak. Aku tertunduk. Aku menangis. Aku teringat masa-masa bersama Donghae. Kami selalu berjanji bertemu saat hujan turun atau salju turun. Kami selalu menghabiskan waktu untuk menunggu salju pertama turun. Masa-masa saat itu tak terlupakan. Masa saat itu sangatlah berarti untukku.

Aku memalingkan tubuhku dan berjalan. Semakin lama semakin cepat. Aku masih melihatnya berdiri di situ.

Aku berjalan mendekatinya. Aku berdiri tepat dihadapannya dengan berlinang air mata.

Ia menurunkan kepalahnya. Ia menatapku. Aku dapat melihat matanya yang berlinang air mata. Ia mengangkat tangannya lalu mengusap air mataku. Tangannya dingin.

”Saranghae~” ucapnya.

Aku langsung memeluknya. Aku menangis dipelukannya. Ia memelukku erat.

”Kau pasti masih mencintaiku bukan?” ucapnya.

”Bagaimana kau tahu?” tanyaku di dalam pelukannya.

”Karena aku dapat merasakannya.” ucapnya pelan.

” Degup jantungmu mengatakan kau sangat-sangat mencintaiku. Kau ingin melihatku lagi. Kau tidak ingin melupakanku. Kau tidak bisa hidup bahagia tanpaku.” lanjutnya.

Ia melepaskan pelukan. Ia menatapku dan menjelaskan semua.

Aku terharu. Ternyata dia tidak bermaksud menyakitiku. Ia ingin membalas budi. Apa yang ia lakukan sungguh berjasa. Aku berharap yeoja itu bisa hidup tenang di sana. Terima kasih karena kau telah menyukai Donghae. Terima kasih karena kau berdoa untuk kami. Berdoa agar kami bahagia.

Beberapa bulan kemudian

Jihee sudah menikah sebulan yang lalu. Sedangkan Hyekyu sudah mendapatkan namjachingu.  Namjachingunya itu merupakan pelanggannya. Sekarang aku menujuh ke suatu tempat bersama Donghae. Dia tidak menjelaskan kemana. Bahkan ia menutup mataku dari awal perjalanan dengan kain.

”Kita sudah sampai.” ucapnya.

”Aku boleh melepaskan kain ini?” sahutku.

”Aniyo.” sahutnya.

Ia menuntunku turun dari mobil dan berjalan ke suatu tempat. Lalu ia melepaskanku.

”Aku boleh melepaskan ini?” tanyaku menyentuh kain yang menutup mataku.

”Nanti ikatan itu akan terlepas dan aku boleh membuka matamu.” ucapnya.

Hah terlepas? Apakah ada yang melepaskannya. Aku semakin tidak mengerti.

Lalu kain itu terlepas. Aku melihatnya berdiri di hadapanku.

Kemudian ia bernyanyi. Saat bait lagu

Orae juhnbutuh nuhreul wihae junbihan Nae sone bitnaneun banjireul badajwuh (Ia membuka sebuah kotak kecil berwarna putih, itu cincin)

Oneulgwa gateun maeumeuro jigeumui yaksok giuhkhalge (Ia berlutut di hadapanku)

”Would you marry me?” ucapnya meraih tangan kananku.

Seketika itu bunga-bunga berguguran. Bunga sakura berguguran. Hujan bunga. Mataku berkaca-kaca.

”I do~” ucapku kepadanya.

Beberapa orang bersorak. Ternyata di belakanku ada wajah-wajah yang aku kenal. Aku tersenyum.

Donghae memasangkan cincin di jari manisku. Lalu ia beranjak.

”Saranghae~” ucapnya.

Aku tidak dapat berkata. Aku hanya bisa tersenyum menatapnya.

Ia langsung melumatkan bibirnya dengan bibirku. Hujan bunga masih menemani kami. Mereka menjadi saksi bisu atas peristiwa ini

 

 END

 

ayo komentar~

Tolong ya komentarnya ^^

I Will Always Protect You (Final chapter)

Standar

Cast: 2PM

Genre: Action, Romantic, Family, Friendship

PG: 15

I Will Always Protect You Final Chapter

”Ya, pak Chansung ada apa?”

”Tuan Junho menyuruhmu ke ruangannya sekarang juga. Aku yang akan mengurus surat pengawalan.” jelas Chansung.

”Baik.” jawab singkat Nichkhun.

Chansung berjalan menujuh ke luar hotel meninggalkan Nichkhun sendiri.

Kemudian Nichkhun berjalan menujuh ke ruangan Junho.

Saat di muka pintu ia menghembuskan nafas panjang dan kemudian barulah ia mengetuk pintu.

”Masuk!” sahut suara di dlam ruangan.

Nichkhun masuk ke dalam ruangan Junho.

”Duduklah.” pinta Junho lalu tersenyum.

”Ada apa tuan mencari saya?”

Tuan Junho tersenyum dan hampir tertawa.

”Maaf tuan, apa kata-kata saya ada yang lucu?” tanya Nichkhun penasaran.

”Tidak. Tidak ada yang lucu. Hanya saja aku tidak mengira jika gadis yang kau maksud dulu itu Yurika.” sahut Junho.

Nichkhun tertegun. Ia mematung tidak bisa berkata.

”Kau tahu Nichkhun, aku senang Yurika memilihmu. Aku sudah lama mengenalmu dan ingin memberikan warisanku padamu. Setelah aku mengetahui soal anakku, Yurika. Aku hendak memaksanya menyukaimu. Tapi aku tidak ingin anakku berakhir sepertiku. Aku tidak ingin menjadi seperti appaku. Syukurlah jika Yurika memilihmu. Dengan begitu akau bisa tenang menyerahkan kekuasaanku padamu.” jelas Junho.

Nichkhun semakin membeku, ia sangat terkejut akan kata-kata yang terlontar dari mulut Junho.

”A… Apa maksud tuan?” tanya Nichkhun sedikit terbata-bata.

”Maksudku, aku akan menyerahkan harta kekayaan dan segalanya padamu jika kau menikahi anakku Yurika. Aku sudah memutuskan sejak awal. Aku ingin kekuasaanku ini kau kuasahi karena aku percaya.”

”Ta… Tapi tuan saya bukan…”

”Aku tidak peduli tentang asal usulmu. Aku peduli terhadap hati dan otakmu. Kau tahu mengapa aku membantumu dan Taecyon agar dapat melanjutkan sekolah hingga kuliah? Karena aku tahu kalian memiliki potensi. Tapi kau lebih pintar daripada Taecyon. Kau dapat kuliah hingga ke Jepang. Kau jenius, kau memiliki hati yang kuat dan tak pernah goyah. Aku kagum denganmu. Aku yakin perusahan-perusahaanku bisa maju dan berkembang di bawah kendalimu.” potong Junho

”Tapi tuan, aku dan Yurika tidak ada hubungan lagi. Kami sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi.”

”Itu karena salahku. Tiga tahun yang lalu aku menyuruhmu kembali ke Korea dan bekerja padaku. Kau sebenarnya ingin bekerja di Jepang karena wanita yang kau cintai itu ada di sana. Anggap saja ini sebagai tanda minta maafku padamu.”

”Tapi tuan…”

”Tidak ada tapi-tapian. Setelah tes DNA itu keluar aku akan menyiapkan pernikahan kalian. Kau lihat Yurika masi mencintaimu dan kau juga begitu.” potong Junho lagi kemudian ia mendongak ke Nichkhun dan meraih kalung Nichkhun.

”N&Y, Nichkhun & Yurika atau sebaliknya. Kau menggunakan kalung ini sama seperti yang digunakan Yurika. Dengan bukti itu sudah cukup membuktikan kalian masih saling mencintai.”

*******

Sorenya, di kamar Nichkhun dan Taecyon.

”Kau kenapa?” tanya Taecyon ketika baru masuk dan mendapati Nichkhun terdiam murung duduk di atas tempat tidurnya.

”Tidak, hanya saja aku teringat masa laluku.” jawab Nichkhun.

”Sudah jangan dipikirkan lagi, nanti kau tidak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalumu.” ujar Taecyon menepuk-nepuk punggung Nichkhun sambil duduk di samping sahabatnya.

”Oh ya, Taecyon. Kenapa tadi kau murung?” tanya Nichkhun tiba-tiba.

”Oh itu.” Raut wajah Taecyon berubah.

”Seseoarng melarangku berpacaran dengan Eunjo, Kekasihku. Padahal aku sungguh sangat mencintainya. Aku hampir saja melamarnya. Tapi sesorang itu mengatakan bahwa Eunjo bukanlah pilihan yang tepat. Ia menyuruhku memutuskan hubunganku dengannya dan menjalin hubungan dengan orang pilihannya. Tadi aku sempat menemui Eunjo. Saat aku mengatakn yang sejujurnya, ia menangis. Aku tak tega meninggalkannya. Tapi aku harus.” Lanjut Taecyon kemudian ia menangis.

”Memang siapa orang itu?” tanya Nichkhun penasaran.

”Appaku.” jawab singkat Taecyon.

”Appamu? Jadi kau menemukan appamu?”

Taecyon mengangguk.

”Aku sangat iri denganmu Nich, kau tidak punya orang tua. Dengan begitu kau tidak usah menuruti perintah orang tuamu, karena tak ada satupun perintah dari mereka.” ujar Taecyon terisak.

”Aku justru iri denganmu Taecyon, kau bisa tahu orang tuamu.” ujar Nichkhun lemah.

*******

Malam-malam Taecyon keluar kamarnya. Sebelumnya ia memastikan jika Nichkhun sudah tidur. Ia tidak ingin Nichkhun mengetahui rahasia yang ini ia simpan rapat. Ia berjalan keluar hotel menujuh ke sebuah resto cepat saji dekat hotel. Ia menujuh ke orang yang duduk dengan dua buah minuman di mejanya.

”Ada apa appa memanggilku lagi?” ujar Taecyon kemudian duduk dan menyedot minuman yang masih utuh.

”Aku ada berita buruk. Sangat buruk.” sahut Junsu.

Taecyon berhenti menyedot minumannya. Ia memandang appanya tanpa berkedip.

”Ka… Ka…bar apa appa?” tanya Taecyon terbata-bata.

”Soal pewaris aset milik tuan Junho.” ujar Junsu. Kemudian ia mengelap kepalahnya yang berkeringat dengan sapu tangan yang ada di sakunya.

”Ternyata tuan Junho menyerahkan aset kekayaan, kekuasaan kepada Nichkhun.” lanjut Junsu.

”Nichkhun?” Taecyon seakan tak percaya.

Kemudian Junsu menjelaskan panjang lebar tentang penyerahan itu.

”Dengan kata lain aku akan memberikan rencana kasar. Untuk merebut itu semua.”

”Rencana apa appa?” tanya Taecyon penasaran.

”Kau harus menculik dan menyelamatkan Yurika setelah tes DNA keluar. Lebih lanjutnya kau baca sendiri. Di amplop ini sudah jelas. Besok pagi, pagi sekali kau menemui mereka untuk membicarakn rencana yang ku buat.” terang Junsu.

”Mereka? Mereka siapa?” tanya Taecyon.

”Orang yang membantumu menculik Yurika. Aku tidak akan biarkan Nichkhun mendapatkan segalanya. Kau juga harus mendapatkan itu semua. Aku yang menyelamatkan tuan Junho dulu, seharusnya itu menjadi milikku dan menjadi milikmu anakku. Aku tidak bisa membiarkan kekayaan itu di tangan orang lain.” jelas Junsu.

*******

Pagi-pagi sekali, Taecyon menata bajunya ke dalam tasnya. Tanpa ia sadari Nichkhun terbangun.

”Kau sedang apa?” tanya Nichkhun mengejutkan Taecyon.

”Ah, aku… Aku di utus manejer ke hotel cabang di luar kota katanya ada masalah dan sepertinya aku orang yang tepat yang bisa menyelesaikannya.” ujar Taecyon berbohong.

”Sepagi ini? Ini masih jam setengah empat pagi?” tanya Nichkhun.

”Ya, karena aku langsung bekerja begitu tiba. Jika aku berangkat jam enam, tujuh atau delapan, pasti aku tiba siang dan sering macet jika jam begituan.” jelas Taecyon beralasan.

”Ya sudah jika seperti itu. Hati-hati di jalan ya.” ujar Nichkhun kemudian merangkul sahabatnya.

*******

Selama Taecyon menjalankan tugas Junsu mencoba menyibukkan Nichkhun dengan memberinya tugas-tugas agar ia jauh dari Yurika. Tapi jika Yurika seringkali menunggu Nichkhun bekerja atau ikut dengan Nichkhun bekerja usahanya bisa sia-sia. Maka dari itu Junsu menyuruh salah seorang karyawan wanita menemaninya menyelusuri hotel dan menyuruh pengawal Yurika untuk mengantar Yurika keliling kota.

Meski begitu, Nichkhun dan Yurika saling jumpa meski hanya sebentar saja. Dan tuan Junho seringkali membuat rencana mendekatkan kembali Yurika dan Nichkhun sehingga usaha Junsu benar-benar gagal total.

Setelah hasil DNA keluar. Tuan Junho dan Yurika segera membuka hasil. Dan tak diragukan lagi, Yurika benar-benar anak kandung tuan Junho.

Tuan Junho pun memeluk Yurika dan terharu. Kemudian ia menyuruh Pak Junsu menyiapkan pesta perkenalan untuk anak semata wayangnya.

Pada hari itu juga Junho bertanya-tanya kepada Yurika. Junho ingin mengetahui lebih jauh tentang anaknya. Yurika tampak bisa menerima Junho sebagai appanya.Appanya jauh lebih baik dari apa yang ia pikirkan.

*******

Malamnya, Yurika menceritakan tentang pebicaraannya dengan appanya. Dan ia mengakui bahwa Junho itu baik seperti yang dikatakan Nichkhun.

*******

Malam keesokan harinya. Yurika menggenakan gaun merah marron pemberian appanya untuk pesta.

”Kau tampak cantik seperti ibumu, anakku.” ujar Junho.

Yurika tersenyum kepada appanya lalu berkata,

”Arigato gozaimasu, papa.”

Junho tersenyum.

”Sudah, ayo kita keluar. Para tamu sudah menunggumu.” ujar Junho.

Kemudian mereka pergi menujuh ballroom. Di ballroom semua mata menujuh ke arah Yurika.

”Papa, apakah ada yang salah dengan dandananku?” tanya Yurika.

”Tidak anakku. Kau sungguh sempurnah. Mereka memandangmu karena kagum dengan keanggunanmu.” jawab Junho.

Yurika tersipu malu.

”Ah papa bisa saja.”

*******

”Nichkhun, kau disana?” sahut suara dari headphone Nichkhun.

”Ya, aku di sini. Ada apa Wooyoung?” tanya Nichkhun kepada Wooyoung melalui headphone yang terpasang di telinga kanannya.

”Ada kabar buruk.” sahut suara di sebrang sana.

”Apa?” Nichkhun mengerutkan dahinya.

”Yakuza mengetahui keberadaan Yurika. Koran pagi ini yang memberitahukannya.”

Deg, jantung Nichkhun terasa sakit. Ia merasa akan terjadi hal yang buruk malam itu juga.

”Dari mana kau tahu?” tanya Nichkhun.

”Adikku Jungshin. Kau tahu sendiri ia mengerti bahasa Jepang. Ia tidak sengaja mendengar pembicaraan dua orang Jepang berwajah sangar. Mereka mengatakan akan melakukan hal buruk kepada Yurika. Dan aku yakin mereka pasti Yakuza, kau berpikiran sama bukan?” jelas Wooyoung.

”Ya, aku pikir mereka Yakuza seperti dugaanmu.” sahut Nichkhun. Dadanya semakin sesak.

”Aku dan pengawal yang lain akan berjaga di luar hotel. Jumlah kami cukup untuk menjaga di luar. Kau jaga di dalam ya dengan staf-staf lain yang bisa melindungi Yurika.” pintah Wooyoung.

Nichkhun pun langsung menemui staf-staf lainnya dan menceritakan semuanya. Lalu Nichkhun masuk ke dalam ballroom. Ia beruasaha bersikap tenang.

”Nichkhun, kau dari mana saja?” sapa Yurika tiba-tiba.

Nichkhun membalikkan tubuhnya ke arah Yurika.

”Aku dari ruang operator. Biasa kerja.” ujar Nichkhun bersikap tenang.

”Kenapa kau berkeringat? Disinikan dingin?” tanya Yurika melihat Nichkhun berkeringat. Kemudian ia mengambil sapu tangan dari tas kecilnya kemudian mengusap keringat Nichkhun lembut.

”Kau tahukan hari ini bukan hari biasa. Hari ini banyak para tamu yang datang untuk pestamu. Jadi aku harus mondar mandir untuk memeriksa apa semuabya baik-baik saja.” sahut Nichkhun beralasan.

”Aku tidak mengerti dengan tugasmu di hotel ini. Aku akan menyuruh papa meringankan bebanmu. Mungkin menaikkan pangkatmu.” ujar Yurika masih mengusap keringat Nichkhun di wajah Nichkhun.

Nichkhun meraih tangan Yurika dan menurunkannya.

”Kau tak perlu repot melakukan itu semua. Aku cukup senang dengan tugasku ini.” kata Nichkhun serius.

Yurika menatap mata Nichkhun, ia mendapati Nichkhun tidak memamdangnya.

”Nichkhun, pandang aku!” sahut Yurika.

”Pandang mataku!” bentak Yurika.

Nichkhun hanya menatap lurus ia tidak menatap wajah Yurika karena Yurika lebih pendek darinya.

”Kau sembunyikan apa dariku?” tanya Yurika.

Nichkhun berjalan ke arah meja berisikan makanan. Ia meraih kentang dan memakannya. Sementara Yurika mengikutinya.

”Acaranya dimulai dari tadi ya?” kata Nichkhun tidak menghiraukan.

”Nichkhun kau dengar aku tidak?”

Nichkhun mengangguk. Ia tersenyum dan berkata,

”Tidak ada yang kau cemaskan, I will always protect you.”

Yurika tersenyum kemudian memeluk Nichkhun.

”Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku lagi.” kata Yurika.

Nichkhun melingkarkan tangannya ke tubuh Yurika.

”Akan ku usahakan.” jawab Nichkhun singkat.

”Berjanjilah kau akan mencintaiku selalu.” kata Yurika lagi di dada Nichkhun.

”I promaise, I will always love you.” ujar Nichkhun kemudian mengecup kening Yurika.

Kemudian seseorang berdeham. Nichkhun dan Yurika saling melepaskan pelukan. Dan menjadi salah tingkah. Lebih-lebih orang yang berdeham itu Junho. Ia tersenyum.

”Apa kalian sudah baikan?” tanya Junho.

Pipi Yurika bersemu merah.

”Apa maksud papa?” sahut Yurika.

Junho tertawa.

”Sudah, jangan malu-malu. Kalian kembali berpacaran lagi bukan?” ujar Junho.

”Tidak seperti tuan. Kami hanya… hanya…” kata Nichkhun beralasan.

”Teman?” potong Junho.

”Teman tapi mesra?” lanjut Junho kemudian tertawa.

Nichkhun dan Yurika salah tingkah. Mereka memalingkan wajah ke arah lain.

Tiba-tiba lampu menjadi padam. Semua orang dalam ballroom berteriak.

”Yurika kau tidak apa-apa?” tanya Nichkhun dalam kegelapan.

Tapi Yurika tidak memberi respon.

”Yurika kau disana?” ujar Junho.

”Yurika.” Panggil Nichkhun.

”Yurika.” panggil Junho.

Mereka memanggil Yurika bersahut-sahutan.

Kemudian lampu menyala.

Mereka mendapati Yurika tidak ada ditempat. Nichkhun mulai gusar. Ia mencari-cari Yurika dalam ballroom kemudian berkata,

”Wooyoung, Wooyoung kau disana?”

”Ya ada apa?” balas suara di ujung sana.

”Yurika. Yurika menghilang. Aku sudah mencari-carinya di ballroom, tapi tak ku temukan.” ujar Nichkhun tersengah-sengah.

”Ba…”

”Saat lampu padam barusan, dia tiba-tiba menghilang.” potong Nichkhun.

”Baiklah, kami akan mencarinya.”

”Jangan semua. Beberapa dari kalian saja bantu aku mencarinya. Biar yang lain menjaga di luar, mungkin saja dia ada di luar.”

Lalu Nichkhun memutuskan pembicaraan dan mulai mencari ke luar ruangan. Saat hendak membuka pintu ballroom, tiba-tiba saja terjadi keribuatan. Nichkhun memandang ke arah keributan itu. Ia mendapati orang bertopeng dengan pakaian serba hitam sedang menyodorkan pisau belati ke leher Yurika.

”Hei, apa yang kau lakukan dengan anakku?” triak Junho.

Nichkhun mendekati keributan itu. Setelah dekat ia mengatakan,

”Taecyon apa yang kau lakukan?”

Sontak orang-orang terkejut termasuk Junsu.

”Taecyon?” ujar Junsu.

‘Aku sudah mengatakan untuk menyuruh orang lain saja melakukannya mengapa dia melakukan itu semua?’ batin Junsu.

Orang bertopeng itu tertawa.

”Nichkhun, Nichkhun ternyata kau mengenaliku.” ujar Taecyon.

”Reto-kun.” triak Taecyon.

Kemudian orang berpakaian hitam dengan wajah sangar muncul mendekati Taecyon. Lalu Taecyon menyerahkan Yurika kepada orang bernama Reto itu.

Lalu Taecyon membuka topengnya.

Semua orang terkejut termasuk Nichkhun. Nichkhun tidak mengira Taecyon yang memiliki wajah yang hangat sekarang tampak menyeramkan. Ia menggunakan lensa kontak merah dan di pipi kanannya terdapat bekas luka.

”Bagaimana kau bisa mengenaliku, Nichkhun?” ujar Taecyon lembut dan senyum sinisnya.

”Saat pertama ku lihat aku sendiri tidak yakin. Tapi saat ku lihat dari dekat aku yakin. Pakaian itu adalah seragam milikmu, terlebih lagi cara berpakaianmu itu mudah dikenali.” Nichkhun menunjuk lengan kemeja Taecyon.

Taecyon mengangkat tangannya dan melihat lengan kemajanya yang berkemiti kecil berwarna emas.

Taecyon tersenyum sinis. Ia tidak mengira Nichkhun sejeli itu.

Kemudaian beberapa orang berpakain serba hitam masuk ke dalam ballroom. Orang berwajah sangar itu bukan orang lokal. Semua orang yang ada di dalam ballroom mulai resah. Mereka ketakutan.

”Yakuza.” ujar Nichkhun.

”Bagaimana bisa mereka masuk?” tanya Junho yang berada di samping Nichkhun

”Taecyon.” ujar Nichkhun singkat.

”Apa? Aku tidak mengerti maksudmu?” tanya Junho.

Taecyon tertawa.

”Ya, ya ini semua karena aku. Aku mengatur semua ini bersama mereka. Tentu saja dengan bantuan appaku Manejer Junsu.”

Sontak beberapa orang terkejut dan mencari-cari orang yang bernama Junsu.

”Tidak. Aku tidak ikut campur.” bentak Junsu.

”Tidak ikut campur ya? Kau sendiri yang merencakan ini semua dan aku hanya mengaturnya. Kau menjadi penulisnya dan aku menjadi sutradara sekaligus aktor.” ujar Junsu berlagak.

”Tapi” lanjutnya kemudian berjalan mendekati appanya.

”Aku tak suka menjadi aktor dalam naskahmu. Aku tidak suka kau mengaturku menyuruhku ini dan itu. Maka dari itu, aku ubah sekenario yang kau buat.”

Lalu Taecyon menusukan pisau tepat di perut appanya. Beberapa orang berteriak. Darah bercucuran dari tubuh Junsu, ia tersungkur dan berkata,

”Kenapa kau melakukan ini anakku?”

”Karena aku tidak menyukaimu.” jawab Taecyon keji.

Nichkhun tertegun melihat Taecyon seperti itu. Ia mendekati Taecyon tapi ia sudah dihadang pria bertubuh kekar. Pria itu melawannya, dengan sigap Nichkhun menghindari. Ia balas melawan pria itu yang merupakan anggota Yakuza. Dalam beberapa kali pukulan, Nichkhun dapat melumpuhkan Yakuza itu. Lalu ia mendekati Taecyon dan menghantam pipi kiri Taecyon sehingga Taecyon berdarah.

Taecyon nyengir.

”Lumayan sakit pukulanmu itu. Lakukan lagi dan kau akan kehilangan orang yang kau sayangi.” ujar Taecyon. Ia menghapus darah yang keluar dari hidungnya akibat hantaman Nichkhun.

Nichkhun melirik Yurika yang disekap Yakuza. Ia mengepalkan kedua tangannya penuh kebencian. Kemudian Taecyon menghantam Nichkhun berulang kali. Nichkhun tidak melawan, ia takut Yurika terluka karena ia melawan Taecyon.

Setelah Nichkhun jatuh tersungkur dan berdarah-darah, Taecyon berkata,

”Ternyata kau sangat lemah.”

Nichkhun menatap Taecyon.

”Bagaimana jika kau ada dalam posisiku? Apakah kau sanggup melihat orang yang kau sayangi terluka? Apakah kau sanggup melihat orang yang kau sayangi menangis karena kau terluka? Bagaima Taecyon? Bagaimana?” ujar Nichkhun.

Tangan Taecyon gemetar.

Di lain pihak, Wooyoung berhasil masuk ballroom tanpa sepengetahuan Yakuza. Dari belakang ia merenggut Yurika dari tangan seorang Yakuza. Wooyoung memerintahkan bawahannya menghajar Yakuza lainnya dan beberapa lainnya membawa tamu-tamu keluar dari ballroom.

Melihat Yurika sudah terlepas, Nichkhun bangkit dan mulai menghajar Taecyon yang terdiam gemetar.

”Ayo, Taecyon, katakan padaku apakah kau masih berani melawan jika kau ada diposisiku tadi.” ujar Nichkhun.

Taecyon masih gemetaran.

”Kau takut bukan? Bahkan kau lebih takut dariku. Kau hanya orang yang pengecut. Jika kau tidak suka sebaiknya katakan tidak saja pada appamu.” lanjut Nichkhun dan memukul kembali Taecyon.

Setelah puas memukuli Taecyon, Nichkhun menghampiri Yurika. Ia tersenyum melihat Yurika yang baik-baik saja. Saat di tengah jalan Yurika berteriak,

”Nichkhun awas!!!” Yurika tampak gusar.

”Awas belakangmu!!!” triak Wooyoung.

Nichkhun memalingkan tubuhnya dan ia terlambat. Pisau belati sudah menembus perutnya.

”Taecyon, ku kira kau sahabat yang baik, selama ini kau sudah ku anggap saudara. Ternyata aku salah menilaimu, aku kecewa, kau hanya orang yang pengecut.” ujar Nichkhun lemah kemudian terjatuh dan matanya pun terpejam.

Yurika berlari menujuh ke Nichkhun bersama Wooyoung.

Taecyon menangis, ia meremas-remas kepalahnya. Ia tidak percaya telah membunuh dua orang yang selama ini ada di sisinya.

”Maafkan akau Nichkhun, memang aku tak pantas menjadi sahabat maupun saudaramua. Aku hanya seorang yang pengecut.” isak Taecyon.

Kemudian ia mengambil pisau yang tadi ia tusukan ke tubuh Nichkhun, kemudian ia menusuk dirinya tepat di jantungnya.

*******

Sebulan kemudian…

Sesorang pria duduk di samping sebuah makam.

”Aku tidak menyangkah kau melakukan harakiri seperti itu Taecyon.” ujar pria itu terisak.

”Sudahlah Nichkhun, kau jangan cengeng seperti itu. Dia akan menangis disana jika kau menangisinya seperti ini.” sahut seorang gadis.

Nichkhun mendongak.

”Yurika, apakah aku salah mengatainya pengecut saat itu?” tanya Nichkhun.

Yurika menggeleng.

”Kau mengatakan hal yang benar. Kau tidak salah. Lagi pula ia mengakui bahwa ia adalah seorang yang pengecut saat itu.” jelas Yurika.

”Ayo kita pulang. Kau baru saja bangun dari koma, keadaanmupun sedikit lelah. Kau butuh istirahat.” lanjut Yurika.

Di tengah perjalanan Yurika berkata kepada Nichkhun.

”Nichkhun are you sure will always protect me?”

Nichkhun mengangguk.

”Baguslah jika begitu.” sahut Yurika.

”Kenapa?” tanya Nichkhun.

”Karena dengan kata lain kau setujuh menjadi suamiku yang akan selalu melindungiku. Papa sudah menetapakan tanggal pernikahan kita. Dia menyiapkan semuanya.” ujar Yurika.

Nichkhun menelen ludah. Yurika tersenyum. Nichkhun nyegir melihat aksen Yurika. Lalu ia mengecup dahi Yurika lembut.

Other Stories

Part 1 Taecyon Letter

Aku benci dan takut halilintar. Tapi aku tidak pernah mengataknnya kepadamu alasannya. Ku rasa ini saatnya aku menceitaknnya Nichk. Ini rahasia kita, jangan katakan kepada siapa-siapa. Aku punya kenangan buruk soal halilintar. Waktu kecil appaku selalu marah-marah. Suatu hari ia sangat marah, hari itu penuh dengan suara halilintar. Pekikannya sangat tajam seperti kerasanya suara halilintar. Ia marah dengan eommaku. Eomma yang aku sayangi. Sejak hari itu aku takut dengan halilintar. Aku tidak saja mendengar appaku marah bersamaan dengan suar halilintar tapi aku menyaksikan juga appa melakukan kekerasan kepada eommaku. Halilintar membunuh eommaku. Halilintar itu mampu membunuh eommaku. Halilintar itu appaku Nichk. Aku sungguh takut. Darah berceran di mana-mana. Saat itu aku baru berusai 8 tahun. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku hanya bisa menjerit ketakutan sementara appaku tetap marah-marah dan tidak merasa bersalah atas apa yang ia lakukan. Ia kesal denganku yang menjerit ketakutan. Ia membawaku dan membuangku ke jalan. Saat itu hujan badai, aku kedinginan. Sesorang menolongku. Sebuah keluarga yang mengendari truck rongsokan. Suara truck itu lebih berisik dari pada suara halilintar. Mereka memili seorang anak perumpuan yang lebih muda dariku. Namnya Eunjo, dia sangat manis dan baik kepadaku.

Aku menyukai kelurga itu. Mereka mengirimku ke panti asuhan karena tidak dapat menampungku. Aku dapat memaklumi itu. Aku sungguh berterimah kasih kepada mereka karena telah menolongku. Di sana aku bertemu denganmu. Bocah dengan sejuta senyuman. Kau seperti maliakat bagiku. Selalu ada menemaniku.

Nah Nichkhun, aku ingin kau melakukan satu hal untukku. Bisakah kau memastikan Eunjo bahagia? Bisakah kau menjaganya? Aku tidak ingin dia terluka. Carikan seseorang yang tepat untuk berada di sisinya. Dan Terima Kasih saudaraku.

Maafkan kesalahanku selama ini. Aku melakukan ini demi ketakutanku. Aku tidak ingin hidup dalam ketakutan. Caranya untuk lepas hanya ada dua cara. Membunuh orang yang membuatmu ketakutan atau mati.

Part 2 Penantian Wooyoung

“Kau mau kemana?” tanya Nichk.

“Acara penjodohan orang tuaku.” jawab Wooyoung.

“Jadi kau belum menemukan orang yang tepat?” cletuk Nichk.

“Belum. Jika pilihannya memang cantik-cantik tapi ya begitu, ada yang suka ikut campur urusankulah, matrelah, manja, bahkan ada yang sadis.” Ucap Wooyoung.

Nichk tertawa.

“Semoga gadis yang ini cocok denganmu.” Ucap Nichkhun lalu pergi meninggalkan Wooyoung.

“Ya semoga saja.”

Wooyoung duduk menanti gadis pilihan orang tuanya. Sudah satu jam ia menanti tapi gadis itu tidak kunjung tiba. Ia sudah bosan. Ia tidak suka dengan gadis yang tidak tepat waktu. Ia keluar dari café dan tak sengaja ia menabrak seorang gadis.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Wooyoung mengulurkan tangannya kepada gadis yang ia tabrak tadi.

“Tidak apa-apa aku hanya tidak terbiasa.” Ucap gadis itu.

“Kau habis kecelakaan?” tanya Wooyoung melihat kaki gadis itu berbalut perban yang masih baru.

“Iya. Aku menolong anak kecil tadi tapi aku terluka. Ya tidak apa-apa yang penting anak kecil itu selamat tidak terluka sama sekali.” Ucap gadis itu lalu mencari sesorang di dalam café.

“Kau mencari siapa di dalam café?” tanya Wooyoung.

“Aku mencari pria kenalan teman mantan pacarku.” Cletuk gadis itu.

“Mantan pacarmu? Teman? Kenalan?” cletuk Wooyoung.

“Pacarku memutuskan hubungan melalui temannya. Temannya menyuruhku menemui kenalannya ini untuk mengetahui kenapa ia memutuskanku.” Ucap gadis itu.

“Kalo boleh tahu siapa nama orang yang kau temui itu?” tanya Wooyoung.

“Ehm aku lupa marganya siapa, kalo gak salah namanya Wooyoung.” Ucap gadis itu.

“Kau yang bernama Eunjo?”

Gadis itu mengangguk.

“Bagaimana bisa kau tahu namaku?” tanya Eunjo.

Wooyoung menelan ludah.

“Nichkhun, jadi kau biang keladinya.” Cletuk Wooyoung pelan.

“Kau bicara apa barusan?” tanya Eunjo.

“Tidak apa-apa. Oh ya akulah orang yang kau cari aku Wooyoung.” Ucap Wooyong.

‘Mantan pacar gadis ini teman Nichkhun. Jangan-jangan dia mantan pacar… sepertinya aku mulai mengerti keadaan ini.’ Batin Wooyoung.

Tamat

Jangan lupa komentarnya reader ^^

Klo bias komentar menggunakan URL twitter or Koprol

When I Knew The Meaning of Love (chapter 2)

Standar

New world begin~ Get ready!!!

Cast: SHINee, Lyra Callisto as kim Jaerin, Iha as Choi Jira, Jinkintan as Choi Hyoah

Genre: Friendship, Romantic

PG: 15

when i knew the meaning of love

Ini baru saja dimulai…

Apakah aku sanggup untuk menghadapinya.

Hidup begitu banyak rintangan.

Aku harap dapat melampaui itu semua.

Aku yakin aku bisa.

Tapi bagaiman rasa sakit yang akan aku alami?

 

“MWORAGO???” sentak Key.

Namja yang dipandangnya hanya tertunduk.

“Minho-ah tak kusangka kau suka mengambil kesmpatan di dalam kesempitan.” Lanjut Key.

“Masalah aku merasa bersalah melakukan itu.” ucap namja yang bernama Minho.

“Bersalah? Memang kau salah. Tapi kau tidak perlu bersedih begitu.” Ucap Key lalu mendorong Minho pelan.

“Setelah aku melakukannya dia menangis dan berlari. Aku merasa bersalah.” cletuk Minho lalu mendesah panjang.

“Ada juga ya yeoja yang tidak mau chu darimu.” Sahut Key lalu tertawa.

“Dia berbeda.” Ucap Minho.

“Dia aneh. Kau lihat saja cara berpakaiannya.” Sahut Key.

 

*******

 

Taemin turun dari motornya. Ia memandang sekolah yang ada di hadapannya.

“Semoga saja dia ada.” Ucapnya pelan.

Ia berjalan memasuki sekolah tersebut. Dan ia tiba di lapangan basket. Banyak anak-anak berlatih basket.

“Siapa yang di sini bernama CHOI MINHO.” Triak Taemin.

Semua orang lalu memandang Taemin kemudian Minho.

“Kau yang bernama Minho?” tunjuk Taemin ke Minho.

Minho mengangguk.

Taemin berjalan mendekati Minho dan langsung menghajar Minho hingga Minho berdarah.

Minho mengusap darah yang keluar dari hidungnya.

“Waeyo? Aku ada salah denganmu?” tanya Minho.

“Kau salah. Kau salah seenaknya saja menciumnya.” Sahut Taemin.

Minho menjelaskan semuanya. Kini hanya tinggal mereka berdua, Minho dan Taemin.

“Mereka yach~ aku dengar beberapa sekolah bahkan beberapa yeoja menjadi korban keganasan mereka.” Ucap Taemin.

“Katakan pada dia, jangan keluar malam-malam, apalagi sendiri.” Cletuk Minho.

“Ye~ akan ku katakan padanya. Semoga dia mau mendengar.” Sahut Taemin lalu mendesah.

“Dia yeojamu?” tanya Minho tiba-tiba.

Taemin tersentak kaget.

“Aniyo~ dia chinguku~ aku menganggap seperti saudaraku sendiri. Dia sangat mengerti aku. Meski usiaku beda beberapa bulan dengannya, dia seperti nunaku saja. Dia juga tahu bahwa aku menyukai sahabatnya itu.” ungkap Taemin.

“Tapi pukulanmu keras juga.”

“Jinca?”

Minho mengangguk.

“Mianhae~ aku emosi. Aku tak tahan melihatnya menangis seperti itu. bayangkan saja jika kau mempunyai nuna atau yodongsaeng yang menangis seperti itu karena seorang namja, pasti kau akan melakukan apa yang aku lakukan jika kau menyayangi mereka.” Terang Taemin.

“Kasih sayang yach~” ucap Minho pelan.

 

********

 

Hyoah mengetuk pintu apertemen Jaerin.

Beberapa detik kemudian Jaerin membuka pintu.

“Masuklah onnie~”

Hyoahpun masuk. Mereka berjalan dan duduk di sofa.

“kau sudah baikan?” tanya Hyoah.

“ye~” sahut Jaerin.

“Ku rasa tidak~”

“Onnie juga~”

Mereka terdiam.

“Kita keluar yuk!” ajak Hyoah.

“kemana?” Tanya Jaerin.

“Bersenang-senang.” Sahut Hyoah.

 

*******

 

Hyoah memandang Jaerin.

“Waeyo?” tanya Jaerin heran.

“Kau tahu ini hari ini cuaca panas. Pakaianmu seperti hari ini sedang musim gugur. Apakah kau tidak kepanasan eh?”

Jaerin menggeleng.

“Aku merasa nyaman menggunak pakian ini.”

“Baiklah ayo kita berangkat!!!”

 

********

 

“Onnie~ kau bilang ini bersenang-senang?” ucap Jearin heran.

“Dengan minum semua masalah akan hilang. Cobalah kau minum~.” Ucap Hyonah.

“Ah onnie~ aku tidak bisa minum. Kau tahu sendiri soda saja aku tidak bisa. Apalagi yang seperti ini~” keluh Jaerin.

“Ya kau makan saja sepuasmu. Di sinikan ada ice cream waffel. Kau pesan itu saja. Aku yang traktir.” Ucap Hyonah.

“Jincayo?”

Hyunah mengangguk.

“Ini yang namanya bersenang-senang~ gomawo onnie~”

 

*******

 

“Aish~ kau terlalu banyak minum onnie~” keluh Jaerin membopong Hyonah.

“Aniyo~ aku tidak banyak minum.” Elak Hyonah.

“Iya. Onnie terlalu banyak minum. Lihat saja onnie berjalan. Onnie sudah mabuk.” ucap Jaerin.

Hyonah tersenyum.

”Kau tidak percaya denganku?” ucap Hyonah menunjuk dirinya sendiri.

Jaerin mengangguk.

”Kau lihat, aku akan berjalan lurus.” ucap Hyonah lalu tersenyum.

Ia mencoba membuktikan. Tapi jalannya lontang-lantung ke kanan dan ke kiri. Lalu ia terjatuh tersungkur. Seorang namja membantunya berdiri.

”Kau tidak apa-apa?” tanya namja itu.

Hyonah menatap namja tersebut, ia menyipitkan matanya memastikan siapa namja yang telah membantunya.

”Hyonah onnie kau tidak apa-apa?” tanya Jaerin menghampiri.

”Oh Jaerin~ aku baik… Baik saja… Ya berkat namja ini.” ucap Hyonah terpatah patah.

”Gomawo oppa atas bantuannya.” ucap Jaerin kepada namja yang ada di hadapannya.

Namja itu tersenyum.

”Cheonmaneyo.” ucapnya kemudian.

”K..kk… Kau… Ti…dak a..sing. Ehm…. Oh ya…. Aku…. Mengenalmu…. Kau kan….”

Bruk Hyonah terjatuh, namja itu langsung menagkap Hyonah.

”Ah Onnie~ kau benar-benar terlalu banyak minum.” ujar Jaerin.

”Dia onniemu?” tanya namja yang bersama mereka.

”Mwo?” sahut Jaerin belum bisa mencerna pertanyaan namja itu.

”Dia kakak kandungmu?” tanya namja itu menjelaskan.

”A~ aniyo~ dia tetanggaku. Aku sangat dekat denganku.” jawab Jaerin.

”Aku akan membantumu membawanya pulang.” ucap namja tersebut.

”Tidak perlu repot-repot, aku bisa mengatasinya.” tolak Jaerin.

”Ehm… Ya…. Aku mengingatmu…. Kkk…kka…u…. mo…deeel…. iklan ayam… go…reng…. Unyu-unyu.” ucap Hyonah mengigau.

Jaerin tertawa.

”Dia sudah bermimpi.” ucap Jaerin masih tertawa.

”Hya Hyonah apakah aku setampan model itu hingga kau mengira aku dia? Apakah kau tidak mengingatku?” tanya namja yang bersama mereka kepada Hyonah.

”Oppa kenal dengan Hyonah onnie?” tanya Jaerin heran.

”Ne~ kami satu fakulitas. Memang kami tidak seberapa dekat tapi kami saling mengenal. Tapi apakah dia masih mengingatku? Terakhir kami berbincang waktu ospek dulu.” ucap namja tersebut.

”Ospek?” sahut Jaerin.

Namja itu mengangguk.

”Dia cepat lupa dengan orang yang baru di kenal. Jadi sepertinya dia lupa dengamu oppa.” cletuk Jaerin.

”Oh ya aku belum memperkenalkan namaku. Namaku Lee Jinki.” ucap namja itu lalu tersenyum.

 

*******

 

”Jadi di sini kalian tinggal?” tanya Jinki.

”Ne~” jawab Jaerin singkat.

“Kalian tinggal di lantai berapa?”

“Lantai dua. Kami tidak terlalu suka tempat yang tinggi-tinggi.” Ucap Jaerin.

“Oh kebalikanku. Aku suka tempat yang tinggi. Dari tempat tinggi kita dapat melihat segalanya.” Ucar Jinki.

Jaerin tersenyum. Ia berjalan mendahuli menuntun ke apertemen Hyoah. Lalu berhenti kemudian berjalan lagi.

“Waeyo? Ini bukan apertemennya?” tanya Jinki menunjuk apertemen nomer 206.

“Iya itu apertemennya. Tapi aku tak tahu di mana ia menyimpan kuncinya.” Cletuk Jaerin lalu berhenti di depan pintu apertemen 207.

“Kenapa tidak merogoh sakunya saja?” sahut Jinki.

Jaerin menggeleng. Ia menempelkan kepalahnya di dinding dan mengetuk-ngetuknya berkali-kali.

“Oppa tidak tahu onnie seperti apa. Jika sedang mabuk seperti ini dia sungguh sensitif. Aku pernah merogoh sakunya dulu untuk mencari kunci apertemen. Tapi hasilnya aku dipukul, ia mengira aku pencuri. Untung saja aku lincah jika tidak aku sudah babak belur. Dan…. Ah sudahlah aku tidak mau membahasnya lagi. Lebih baik ia tinggal dulu di apertemenku.” Terang Jaerin.

Kemudian ia membuka pintu apertemennya. Dan mempersilahkan Jinku yang membopong Hyoah untuk masuk.

“Wah apertemenmu bersih ya.” Ucap Jinki.

“Kemarin aku habis membersihkannya. Oh ya letakkan onnie di sofa. Ia suka tidur di sofaku itu.” Sahut Jaerin.

“Kalian seperti saudara kandung ya.” Cletuk Jinki sembari meletakkan Hyoah di sofa.

“Ya begitulah, kami saliang menjaga karena kami sama-sama tinggal sendiri dan jauh dari keluarga.” Sahut Jaerin.

Jinki mengangguk.

“Oppa mau minum?” tawar Jaerin.

“Aniyo~ ini sudah malam lebih baik aku pulang saja.” Jawab Jinki tersenyum.

“Oh baiklah jika begitu.” Ucap Jaerin.

Jinki berjalan keluar apertemen. Jaerin mengikutinya di belakang.

“Gamsahamnida atas bantuannya.” Ucap Jaerin.

“Ne~” ucap Jinki tersenyum lalu pergi meninggalkan apertemen Jaerin.

Jaerin menutup pintu apertemennya.

“Namja itu bernama Lee Jinki. Sepertinya aku tidak asing dengannya. Jinki… jinki… Lee Jinki… LJ…. JL… JL???”

Jaerin menyadari sesuatu ia berjalan cepat ke tempat di mana Hyoah tidur. Yeoja yang tertidur itu mengigo. Jaerin duduk di dekatnya.

“Onnie~ katakan kepadaku apakah namja yang kau sukai itu Lee Jinki?” tanya Jaerin.

“Hm… namja? Yang ku sukai? Hmm… ya… ya… aku suka sekali dengan Lee Jinki… dia namjaku… dia seharusnya menjadi kekasihku…” ujar Hyoah dalam keadaan tidak sadar.

Jaerin tertawa.

“Sungguh gawat jika kau mabuk onn~ semua rahasiamu bisa terbongkar. Untung saja kau mabuk saat kau bersamaku.” Cletuk Jaerin lalu tertawa lagi.

“Jinki oppa lumayan juga. Kau pintar memelih.” Ucap Jaerin.

“Hm… a…yaaaam…. Go…..reeeeng…..” ujar Hyoah mengigo.

Jaerin tertawa.

 

*******

 

“Ah onnie kau sudah bangun?” ujar Jaerin sembari merapikan seragamnya.

“Dimana aku?” tanya Hyoah mengucek-ngucek matanya.

“Di apertemenku. Kemarin kau mabuk berat.” Sahut Jaerin.

“Kau membopongku kemari?” tanya Hyoah.

“Ani~ pangeran berkuda eh pangeran berayam putih menggendongmu.” Sahut Jaerin lalu berjalan mendekati Hyoah dan duduk di sebelahnya.

“Berayam putih maksudmu apa?” tanya Hyoah tidak mengerti.

Jaerin cekikian.

“Maksudku pangeran yang sedang menunggangi ayam.” Ucap Jaerin.

“Hah? Dia pasti kecil ya? Ah tidak mungkin anak kecil bisa menggendongku. Pasti ayamnya gedhe banget. Ya kan?” cletuk Hyoah.

Jaerin menyeret Hyoah keluar.

“Hei kenapa kau tidak menjawabku?” tanya Hyoah.

“Aku mau berangkat ke sekolah. Aku tidak mau telat.” Cletuk Jaerin lalu mengunci pintu apertemennya.

“Sebenernya siapa yang menggendongku?” tanya Hyoah penasaran.

Jaerin tidak menggubris ia merapikan sepatunya lalu berdiri.

“LEE JINKI” triak Jaerin lalu berlari.

“Hai yang benar?” triak Hyoah.

“Iya!!! Apa kau tidak ingat?” triak Jaerin ketika tiba di dasar.

Lalu ia berlari lagi sambil cekikikan,

 

*******

 

“Jaerin kau ceria sekali hari ini. Ada apa?” tanya Jira.

Jaerin hanya tersenyum.

“Ayo ceritakan kepadaku!” paksa Jira.

Jaerin tidak menggubris ia hanya tersenyum. Ia memandang ke Taemin.

“Kau tidak apa-apa Taemin? Kau terlihat pucat.” Tanya Jaerin ke Taemin.

“Aku tidak apa-apa hanya sedikit pusing. Penyakit biasa.” Cletuk Taemin lalu tersenyum.

‘Tidak mungkin aku menceritakannya. Dia sudah senang saat ini.’ Batin Taemin.

“Jaerin kau jahat sekali mangacuhkanku.” Omel Jira.

Jaerin hanya tersenyum.

“Aish~ kau gila ya?” cletuk Jira.

Jaerin tetap tersenyum.

“Ah aku tahu. Jangan-jangan tadi kau bertemu dengan Jonghyun oppa. Ya kan? Kau bertemu dengannya?” tanya Jira antusias.

Senyum Jaerin mengendor.

Taemin memukul kepalah Jira.

“Lihat apa yang kau lakukan kau membuatnya mengingat namja itu lagi.” Ucap Taemin kesal.

“Ah aku tidak tahu… ku kira Jaerin masih menyukainya.” Cletuk Jira mengelus-ngelus kepalahnya.

“Dan lagi, Taemin bisakah kau sehari saja tidak membuatku kesal. Aku muak kau selalu memukul keplahkau atau mengejekku.” Sahut Jira.

“Itu sudah makannanya jika ia tidak melakukan itu ia tidak bahagai.” Cletuk Jaerin.
“Jaerin~ kau tidak apa-apa?” sahut Jira.

“Tidak apa-apa. Aku hanya kaget kau menyebutkan namanya lagi.” Ucap Jaerin.

“Lalu maksud perkataanmu soal Taemin tadi apa? Aku tidak mengerti.” Ujar Jira.

“Dia melakukan itu untuk berbagi kebahagian.” Ucap Jaerin.

“Kebahagian? Ehm lalu kenapa kau tidak?” tanya Jira.

“Karena aku akan menghajarnya jika dia melakukan itu.” Sahut Jaerin.

Jaerin dan Jira tertawa.

 

*******

 

“Jaerin.” Panggil Taemin.

Jaerin menoleh.

“Biar ku antarkan kau.” Ucap Taemin.

“Tidak usah lebih baik kau antarkan Jira saja. Dia mudah sekali tersesat.” Cletuk Jaerin.

“Tidak usah aku bisa pulang sendiri.” Ucap Jira.

“Ada seseorang yang mau bertemu denganmu. Aku sudah berjanji dengannya.” Ucap Taemin.

“Uhm… gimana ya kau tahu sendiri aku…”

“Aku membawa mobil.” Potong Taemin.

“Ya sudahlah.” Cletuk Jaerin.

“Jira kau ikut?” tanya Taemin.

“Sudah ku bilang aku bisa pulang sendiri.” Ucap Jira lalu melangkah pergi dengan cepat.

“Ada apa dengannya?” tanya Taemin.

“Dia sensitif sekali hari ini. Biarlah mungkin ia butuh waktu untuk sendiri.” Sahut Jaerin.

 

*******

 

“Ah tempat ini…”

“Waeyo Jaerin?” tanya Taemin.

“Tempat ini mengingatkanku akan kenangan yang buruk.” Ucap Jaerin.

“Hai!!!” seru seseorang.

Taemin dan Jaerin menoleh ke asal muasal suara. Jaerin langsung mematung. Ia tidak bernafas ia dapat mendengar degup jantungnya yang berdetak keras. Ia tidak dapat bergerak.

“Sudah menunggu lama?” tanya namja yang tidak lain adalah Minho.

“Kami baru saja tiba.” Jawab Taemin.

Minho mentap Jaerin.

“Oh ya perkenalkan namaku Choi Minho. Pasti kau yang bernama Kim Jaerin.” Ucap Minho.

Jaerin menarik tangan Taemin.

“Ayo kita pulang.” Ucap Jaerin pelan.

“Jaerin dia ingin bicara denganmu. Kenapa kau ingin pulang?” ujar Taemin.

“Kita pulang sekarang!!!” sentak Jaerin mencengkram tangan Taemin.

Minho menarik tangan Jaerin.

“Jika kau punya masalah kau harus menghadapi masalah itu. Jangan lari. Jika kau lari, masalah itu akan terus menerus mengejarmu.” Ucap Minho.

Jaerin melepaskan cengkaramannya.

“Apa yang kau mau ?” ucap Jaerin mendongak ke arah Minho.

 

*******

 

Sudah tiga menit mereka duduk berdua tanpa berkata sepata katapun.

“Maafkan aku.” Ucap Minho.

“Maafkan aku yang memperlakukanmu seeneknya. Seharusnya aku tidak melakukan itu. Maafkan aku.” Sambung Minho.

Jaerin mengangguk.

“Tidak apa-apa. Aku yang terlalu melebih-lebihkan. Aku berlagak seperti putri dalam dongen saja.” Ujar Jaerin lalu tersenyum.

“Memangnya kau ingin itu untuk siapa?” cletuk Minho.

“Mwo?” sahut Jaerin tidak mengerti.

“Kau ingin ciuman pertamamu itu untuk siapa?” tanya Minho.

Jaerin tertunduk. Lalu mendesah.

“Seseorang yang mencintaiku, seseorang yang ku cintai, sesorang yang berarti dalam hidupku, sesorang yang tidak bisa hidup tanpaku.” Ucap Jaerin.

“Suamimu?” sahut Minho.

“Mworago?” sahut Jaerin.

“Deskripsimi mengarah ke arah deskripsi seorang suami.” Cletuk Minho.

Jaerin berpikir sejenak.

“Ya seperti itulah.” Ucap Jaerin.

“Kau sudah berapa kali?” tanya Jaerin tiba-tiba.

“Mwo?” sahut Minho.

“Kau sudah berapa kali berciuman?” tanya Jaerin meperjelas pertanyaan sebelumnya.

Minho membasahi bibirnya.

“Jujur… itu pertama kalinya.” Jawab Minho.

 

*******

 

“Apa??? Jadi itu sama-sama ciuman pertama???” seru Hyoah.

Jaerin mengangguk.

“Astaga~ ternyata namja itu… aish~ aku sudah memastikan.”

“Memastikan apa?” tanya Jaerin antusias.

“Kalian pasangan yang cocok.” Sahut Hyoah.

“Ah sudahlah aku tidak ingin membahas ini lagi. Bagaimana denganmu onnie? Kau sudah bertemu dengannya?”

“Ya~ aku malu sekali Jaerin. Sungguh malu sekali. Apa saja yang kau katakan padanya?”

“Ya dia cerita apa saja? Ya itu yang aku katakan atau yang kau katakan.”

“Apa maksudmu?”

“Kemarin kau menigo.”

“Ah tidak!!! Ternyata aku membongkar rahasiaku sendiri. Ehm!!! Aku benar-benar malu!!! Untuntg saja libur musim panas tiba. Dengan begitu aku tidak bertemu lagi dengannya.”

“Libur? Onnie libur juga?”

“Iya. Aku ingin melupakan hal buruk yang telah terjadi. Kau ikut?”

“Ke mana?”

“Aku sendiri juga tidak tahu.”

Jaerin melempari Hyoah bantal.

“Mending ikut denganku.”

“Kemana?”

“Ke resort milik temannya Minho.”

“Hei kau baru kenal dengannya sudah mau di ajak ke resort milik temannya. Jangan-jangan….”

“Itu sebagai ucapan permintaan maaf dan terima kasihnya saja. Lagi pula ia juga mengajak Taemin. Bukan aku saja yang diajak.”

“Taemin? Dia kenal Taemin?”

“Baru kenal. Ceritanya panjang. Kami berangkat Sabtu besok.” Ujar Jaerin lalu beranjak pergi.

 

*******

 

“Bocah tak kusangka ternyata kau bisa membawa mobil juga.” Cletuk Hyoah.

“Onnie~ sudahlah tidak usah banyak berceloteh.” Ucap Jaerin.

“Tapi kenapa aku harus di depan?” sahut Jira.

“Biar kau tidak bingung. Dan tidak bertanya-tanya kepadaku kita sudah di mana. Jika kau bertanya tanyakan saja kepada sebalahmu. Yang akan bercerita di sepanjang jalan.” Ujar Jaerin.

“Hya jika aku bercerita di sepanjang perjalanan yang ada aku bisa kehilangan suara.” Cletuk Taemin.

“Aku hanya bercanda.” Sahut Jaerin.

“Oh ya Jaerin. Minho itu senior apa junior?” tanya Jira.

“Senior.” Jawab Jaerin singkat.

“Berarti harus memanggilnya oppa dong. Kenapa kau tidak bilang?” ujar Jira.

“Kau tidak bertanya.” Sahut Jaerin.

“Lalu kenapa kau memanggilnya Minho saja? Seharusnya Minho oppa.” Cletuk Jira.

“Dia sendiri yang menyuruhku memanggilnya dengan Minho saja tanpa embel-embel oppa.” Ujar Jaerin.

Jira mengangguk.

“Oh ya Key senior juga?” tanya Jira lagi.

“Ye.” Sahut Jaerin.

“Apakah dia tampan? Keren?” tanya Jira.

“Aku belum bertemu dengannya. Tapi Minho memberikan fotonya. Ya lumayan dia keren, stylish.” Ucap Jaerin.

“Omo~” ujar Jira.

“Minho memberikan foto Key padamu?” tanya Hyoah.

“Foto tim lebih tepatnya. Dan dia menjelasakan satu demi satu nama anggota timnya.” Terang Jaerin.

“Waeyo?” ucap Hyoah.

“Karena bukan hanya kita saja yang ada di sana. Teman tim mereka juga ada di sana. Dan juga resort itu sungguh luas. Kau harus mengenal banyak orang. Jadi jika kau tersesat kau bisa minta bantuan kepada orang yang kau kenal.” Sahut Taemin.

“Itu semua resort milik Key?” tanya Jira.

“Bukan tetapi appanya. Jadi jaga sopan santun kalian. Kita di sana di undang jadi tamu jangan berlagak seperti pemilik resort. Dan juga jangan terkejut jika banyak tamu resort yang tidak asing.” Ucap Taemin.

“Maksudmu?” sahut Hyoah.

“Banyak artis yang sering menginap di resort itu.” Sahut Jaerin.

“Mwo?” sontak Hyoah dan Jira.

 

*******

 

“Astaga tempat ini besar sekali.” Cletuk Hyoah.

“Selamat datang~” ucap seseorang.

Hyoah, Jaerin, Taemin dan Jira menoleh.

“Key oppa?” tanya Jaerin.

Namja itu mengangguk.

“Kau pasti Jaerin.” Ucap Key.

“Ye. Jaerin imnida.” Ucap Jaerin.

Key mentap Jaerin sambil tersenyum lalu tertawa kecil.

“Waeyo?” tanya Jaerin.

“Minho tidak pernah dekat dengan namanya yeoja. Ku harap kalian dapat akrab. Lagi pula kalian jugsa sama-sama aneh.” Cletuk Key.

“Selera humormu boleh juga hyung.” Celtuk Taemin.

“Oh kau bocah yang waktu iu kan.” Ujar Key.

Taemin mengangguk lalu mereka berdua tertawa.

“Ah namja. Aku tidak mengerti apa yang ada di otaknya.” Cletuk Jira.

 

*******

 

“Sebelah kamarnya siapa?” tanya Jira di dalam kamar.

“Taemin, Key dan Minho.” Jawab Jaerin.

“Lalu sebelah lagi?” tanya Jira.

“Entahla kata Key ada orang lain yang memesan kamar itu.” Jawab Jaerin yang sibuk merapikan pakiannya.

“Selain kita yang yeoja di sini siapa lagi? Maksudku yang di undang Key oppa.” Tanya Jira.

“Kita satu-satunya yeoja.” Cletuk Jaerin.

“Mwo?” sahut Jira.

“Hyoah onnie~ kau tidak menata pakianmu?” triak Jaerin.

“Iya sebentar pemandangan di sini indah sekeli tapi sayang tempat ini mengerikan juga.” Sahut Hyoah.

“Waeyo?” tanya Jaerin.

“Aku merasa ada di lantai lima saja.” Sahut Hyoah.

“Oh iya tempat ini berbukit-bukit jadi lantai dasar seperti lantai atas.” Cletuk Jaerin.

“Jaerin, benar kita satu-satunya yeoja yang di undang?” tanya Jira.

“Iya, Key tadi cerita kepadaku. Ia melarang anggota tim yang lain mengundang orang lain. Untuk kita pengecualian.” Jawab Jaerin.

“Oh ya Jaerin menurutmu Key sudah punya pacar belum?” tanya Jira.

Jaerin memandang Jira.

“Perasaanmu kepada Key saat ini seperti perasaanku kepada Jonghyun saat itu. Jadi tidak usah di perpanjang jika kau tidak ingin berakhir sepertiku.” Sentak Jaerin membuat Jira diam tak berkutik.

Melihat hal itu Hyoah tertawa.

“Kenapa kau tertawa? Bereskan pakaianmu!” sentak Jaerin.

Hyoan gelagapan.

“Baik nyonya.” Sahut Hyoah.

Tak lama kemudian Jaerin tertawa.

“Kalian lucu sekali ya jika ketakutan.” Ucapnya.

Lalu beberapa bantal menyearngnya.

 

*******

 

“Annyeong.” Ucap Minho lalu masuk kamar.

“Oh Annyeong.” Ucap Taemin.

“Kau sudah datang rupanya.” Ucap Minho.

“Kau lama sekali.” Ucap Key.

“Maaf tidak muda lolos dari rumah.” Cletuk Minho.

“Kau kabur lagi?” tanya Key.

Minho mengangguk.

“Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya kepada orang tuamu?” tanya Key.

“Aku tidak ingin di ganggu. Kau tahu sendiri mereka itu seperti apa.” Ucap Minho lalu menata pakiannya.

“Oh ya Taemin kau sudah minta izin ke orang tuamu?” tanya Minho.

“Belum.” Jawab Taemin.

“Jangan-jangan kau kabur juga ya?” sahut Key.

“Kabur dengan membawa mobil dan beberapa kartu kredit? Ku rasa itu bukan kabur namanya.” Ucap Taemin.

“Lalu?” tanya Key.

“Orang tuaku masih di luar negri. Mereka berpesan jika pergi ke suatu tempat yang jauh dari rumah pastikan mengajak orang. Nah aku ke mari bersama teman-temanku. Lagi pula ada kalian juga di sini.” Terang Taemin.

“Sepertinya orang tuamu sibuk sekali.” Ucap Minho.

“Ya mereka sangat sibuk. Tapi mereka tidak pernah melupakanku. Setiap malam eommaku menelpon menanyakan keadaanku. Setiap akhir pekan appa melakukan videocall untuk melihat keadaanku. Mereka sangat perhatian.” Ujar Taemin.

“Kau sungguh beruntung.” Ucap Minho pelan.

“Apa yang barusan kau katakan hyung? Aku tidak mendengar.” Tanya Taemin.

“Bukan apa-apa.” Ucap Minho.

 

*******

 

“Hyoah onnie ayo bangun!!!” seru Jaerin.

Jaerin mendesah. Ia berjalan ke kamar mandi.

“Jira kau sudah selesai?” tanya Jaerin.

“Iya sebentar lagi selesai.” Sahut Jira dari dalam kamar mandi.

Semenit kemudian Jira keluar.

“Bersiaplah setelah ini kita makan malam bersama.” Ucap Jaerin.

Jira mengangguk.

Jaerin masuk dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan membawa segelas air. Ia berjalan mendekati Hyoah. Ia meraih tangan Hyoah dan memasukan jari Hyoah kedalam gelas.

“AH!!!! PANAS!!!” jerit Hyoah.

“Jaerin teganya kau.” Gerutu Hyoah.

“Habis onnie tidak bangun-bangun sich. Terpaksa dech aku bangunin pake’ air panas.” Sahut Jaerin lalu tersenyum.

Hyoah masih menggerutu.

“Hyoah onnie mandi gih sana, ntar telat makan malam lho. Klo telat ntar kehabisan makanan enak.” Cletuk Jira.

“Iya nanti kehabisan ayam gorang renyah unyu unyu…” sahut Jaerin.

Hyoah bergegas ke kamar mandi.

 

*******

 

Jaerin, Jira dan Hyoah berjalan ke tempat makan. Lalu tiba-tiba Hyoah berhenti berjalan.

“Onnie kenapa kau berhenti?” tanya Jaerin.

“Jaerin apakah aku sudah mabuk?” tanya Hyoah.

“Kau sakit sepertinya ia karena mukamu pucat. Kau tidak apa-apa onnie?” ujar Jaerin.

“Tidak mungkin dia ada di sini.” Ucap Hyoah.

“Siapa? Siapa onn? Kenapa kau pucat begitu?” tanya Jaerin khawatir.

“Sepertinya aku tidak ikut.” Ucap Hyoah.

“Tidak ada alasan. Kami telat gara-gara kau onn. Kau harus ikut.” Sahut Jira menyeret Hyoah.

Jaerin masih berdiri di tempat. Ia mencari-cari apa yang di lihat Hyoah tadi. Lalu ia menangkap sebuah sosok. Ia sungguh terkejut.

 

 

 

To Be Continue…

 

Chapter kali ini sedikit panjang ya.

Eh bukan sedikit emang panjang.

Jangan lupa komentarnya ^^

Klo bias komentar menggunakan URL twitter or Koprol

Mohon komentar yang sebanyak-banyaknya *butuh pemasukan* ^^

It Has To Be You 2 (chapter 2)

Standar

I’m still loving him

Cast: Yesung, Siwon, Kyuhyun, Heechul, Eunhyuk, Leeteuk, Jeoran, Hyekyu, Eunjo

Genre: Life

PG: 15

Tadi ada seorang namja datang kemari menyerahkan buku itu. Tapi kami menolak karena ini bukan tempat penitipan barang. Sekali lagi saya minta maaf.” Ucap resepsionis rumah sakit.

Wajah Jeoran berubah lesu.

“Jadi bagaima Jeo?” tanya Eunjo.

Jeoran berjalan ke teras rumah sakit kemudian ia terduduk. Ia menangis.

“Jeoran~ jangan menangis. Kita bisa mencarinya besok. Siapa tahu namja itu kemari lagi. Atau mungkin dia memiliki keluarga yang di rawat di sini. Pasti buku itu tertemukan. Kau jangan menangis.” Hibur Eunjo.

Tapi Joran tetap menangis. Ia menangis bagaikan ia di tinggal oleh seseorang yang ia sayangi.

“Sus~ tolong oppa saya!!!” triak seorang yeoja yang keluar dari taxi.

“Jeoran ayo bangun, kau menghalingi jalan. Ini bukan tempat untuk memangis. Sebaiknya kita ke tempat lain saja.” Ajak Eunjo.

Kemudian Jeoran bangkit. Ia tetap menangis tersedu-sedu.

###

“Dok bagaiman keadaan oppa saya?”

“Dia tidak apa-apa. Dia hanya terkejut. Apakah dia amnesia?” tanya dokter.

“Ye~ dia amnesia dan sebelumnya sempat koma.

“Sepertinya ingatannya kembali. Itu sebabnya ia pingsan. Ia terkejut dengan ingatannya sendiri.” Terang dokter.

“Tidak ada yang buruk terjadi padanya kan dok?”

“Tidak~ oh ya siapa namanya?”

“Siwon.”

“Siwon? Seperti nama aktor.”

“Aku tidak tahu namanya dok, maka dari itu aku memanggilnya Siwon.”

“Dia bukan keluargamu?”

“Bukan. Aku menemukannya dalam kondisi yang tidak memungkinkan.”

###

“Oppa, kau sudah sadar.” Cletuk Hyekyu.

Siwon melihat sekeliling.

“Di mana aku?” tanyanya.

“Di rumah sakit.” Jawab Hyekyu.

“Berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Siwon.

“Kira-kira setengah hari.” Jawab Hyekyu.

Siwon menggerutu. Ia memegang keplahnya dan mengeluh.

“Kau tidak apa-apa oppa?” tanya Hyekyu cemas.

“Aku hanya pusing.” Ucap Siwon.

“Mau aku ambilkan minum?” tawar Hyekyu.

Siwon mengangguk.

Kemudian Hyekyu memberikan segelas air outih yang ada di meja.

“Ini minumlah.” Ucapnya menyodorkan gelas ke Siwon.

Siwon meneguknya hingga habis kemudian memberikannya ke Hyekyu. Hyekyu meletakkan gelas di meja.

“Kau ingat sesuatu?” tanya Hyekyu.

Siwon mengangguk.

“Kau ingat apa saja oppa? Bisakah kau menceritakan kepadaku?” Sahut Hyekyu.

“Lagu itu.,It Has To Be You, aku pernah mendengarnya sebelumnya. Tapi ada yang berbeda. Penyanyinya bukan yeoja tapi namja. Lalu aku ingat peristiwa yang mengerikan. Aku kecelakaan mobil. Jalanan licin, hujan salju, putih-putih di warnai warna merah. Aku mendengar suara ledakan. Sepertinya mobil yang ku tumpangi meledak.” Terang Siwon.

“Benar. Aku menemukanmu saat musim dingin. Musim lalu~” ucap Hyekyu.

“Aku mendengar yeoja menangis dan kau berteriak memanggil suster. Kita harus mencari yeoja itu.” Cletuk Siwon.

“Waeyo?” sahut Hyekyu.

“Karena tangisan yeoja itu seperti tangisan yeoja yang ada dalam ingatanku.” Jawab Siwon.

###

“Musim Panas hampir tiba. Apakah tidak ada yang bisa menemukan di mana Sangwoo?” ucap seorang ahjumma. Ia terduduk di sofa.

“Jasadnya belum di temukan. Itu tandanya dia belum meninggal.” Ucapnya lagi.

Ia memandangi foto kelurga yang ada di hadapannya.

“Apa mungkin dia hilang ingatan dan tak tahu siapa dirinya? Maka dari itu dia tidak kemabali.” Ujarnya sekali lagi.

“Hyukjae!”

Seorang namja datang menghampiri ahjumma tadi.

“Ye nyonya.” Sahutnya.

“Apakah kita sudah memberitakan hilangnya Sangwoo di media massa atau elektronik?”

“Belum nyonya.”

“Kau urus pemberitaannya. Dan katakan pada appamu untuk memeriksa korban amnesia yang tidak tahu jati dirinya.”

“Baik nyonya.” Ucap namja bernama Hyukjae.

###

“Hyung ini kunci mobilmu.” Ucap Kyuhyun menyerahkan kunci kepada seorang namja.

“Kudengar Jeoran kecelakaan apa itu benar?” tanya namja itu.

Kyuhyun mengangguk pelan. Ia tampak lesu.

“Ya itu benar. Akhir-akhir ini dia berubah. Dan akhir-akhir ini apa yang aku lakukan selalu salah. Selalu membuatnya sengsara. Aku sudah memutuskan untuk melepaskannya. Benar-benar melepaskannya.” Ucap Kyuhyun.

“Ya kurasa dia akan baik-baik saja jika kau mebiarkannya terbang bebas.” Ucap namja itu.

Mereka terdiam.

“Siwon!!!” panggil seorang namja.

“Heechul hyung~” ucap namja yang tadi berbicara dengan Kyuhyun.

“Wah kau bersama dengan Kyuhyun~. Hei Kyu kenapa lese begitu.” Ucap Heechul.

“Dia ada masalah dengan Jeoran.” Ucap namja yang bernama Siwon.

“Jeoran?” sahut Heechul bingung.

“Itu, pacar Jungjae. Kau sudah mendengar penjelasnku bukan via e-mail.” Ucap Siwon.

“Oh~ Ternyata kau benar-benar mencintai yeoja saudaramu sendiri. Hahaha~” sahut Heechul.

Siwon menyikut Heechul.

“Aw~ sakit.” Omel Heechul.

“Dia sekarang menjadi penyanyi.” Ucap Siwon.

“Siapa?” tanya heechul.

“Jeoran.” Sahut Kyuhyun yang sedari diam.

“Selama kau di Amerika, banyak sekali hal yang terjadi. Kau pasti ingin mendengarkannya. Ku harap kau membawa tisu jika ingin mendengarkannya.” lanjut Kyuhyun.

“Ceritakan sekarang juga!!!” ucap Heechul semangat.

###

“Jeoran, kau tidak menemui Kyu?” tanya Eunjo.

Jeoran menggeleng.

“Kau seharusnya tidak bersikap kasar padanya. Niatnyakan baik.” Bela Eunjo.

“Terus saja membelanya. Lama-lama kau tampakterlihat jika menyukainya.” Sahut Jeoran.

“Aku tidak menyukainya hanya saja aku…”

“Ada apa? Jujur saja denganku. Akukan sahabatmu.”

“Aku menyukai temannya yang aktor itu.”

“Maksudmu Choi Siwon?” sahut Jeoran.

Eunjo mengangguk.

“Akan terasa berat jika kau menyukainya.” Sahut Jeoran.

“Waeyo?” tanya Eunjo.

“Dia aktor~ banyak penggemar, pengangum, disukai banyak orang.” Jawab Jeoran.

Ia bangkait.

“Ayo berangkat!” seru Jeoran semangat.

“Kemana?” sahut Eunjo.

“Ke rumah sakit.” Jawab Jeoran.

###

“Bagaimana?” tanya Eunjo.

Jeoran menggeleng.

“Dia tidak kembali. Sepertinya kita lakukan rencana B. Kita keliling rumah sakit ini, mencarinya. Mungkin saja ia ada di sini.” Ucap Jeoran.

“Kita mulai dari mana?”

“Dari aku jatuh.”

###

“Di sini aku terjatuh.” Ucap Jeoran.

“Lalu kita mencari dari koridor mana?” tanya Eunjo.

“Barangku berserakan di koridor itu. Jadi kita cari dari koridor itu.” Jawab Jeoran.

Mereka berjalan mencari seorang namja. Kemudian seseorang memanggil Jeoran.

“Bukankah kau So Jeoran?”

Jeoran dan eunjo menoleh.

“Dokter Park.” Ucap Jeoran.

“Kenapa kau ada di sini? Kau sakit?” tanya dokter Park.

“Aniyo~ aku tidak apa-apa.” Ucap Jeoran.

“Tapi langkahmu sedikit aneh.” Ucap Dokter Park.

“Ini hanya terkelir. Kemarin aku sudah periksa.” Terang Jeoran.

“Lalu apa yang kau lakukan di sini?” tanya dokter Park.

“Mencari seorang namja yang membawa bukuku.” Jawab Jeoran.

“Namja? Buku?” sahut dokter Park tidak mengerti.

“Kemarin bukuku terjatuh di koridor dan katanya seorang namja menemukan bukuku.” Terang Jeoran.

“Oh begitu~ masuklah aku akan membantumu.” Sahut dokter Park mempersilahkan masuk ke ruangannya.

“Jeo, siapa dia?” bisik Eunjo.

“Dia dokterku. Bukankah aku pernah menceritakannya.” Bisik Jeoran.

“Oh jadi dia dokter Park Jungsu.” Bisik Eunjo.

“Duduklah~” ucap dokter Park.

Joeran dan Eunjo duduk di kursi yang kosong.

Sementara dokter Park sibuk dengan ponselnya.

“Kau ingat jam berapa kau terjatuh dan dimana kau terjatuh?” tanya dokter Park.

Jeoran menceritakan kejadiannya.

Dokter Park mengangguk. Kemudian ia mengirim SMS ke seseorang.

“Aku akan menghubungimi jika buku itu di temukan.” Ucap dokter Park.

“Bagaimana kau bisa menemukannya?” cletuk Enjo.

“Dengan kamera rumah sakit. Kau bisa melihat wajah orang yang menemukan buku itu. Dan dengan kamera juga kita dapat menyelidiki ada perlu apa dia ke rumah sakit. Jika tujuannya menjenguk seseorang itu akan mudah.” Terang dokter Park.

###

“Kang Sangwoo~” ucap Eunjo heran.

“Waeyo?” tanya Jeoran.

“Lihatlah berita orang hilang ini.” Ucap Eunjo memperlihatkan berita orang hilang kepada Jeoran.

“Kau merasa familiar tidak?” tanya Eunjo.

“Ehm~ bukannya dia pelanggan di café.” Celetuk Jeoran.

“Jadi selama setengah tahun ini dia tidak ke café karena dia hilang? Apakah dia kecelakaan?” ucap Eunjo.

“Mungkin saja~” cletuk Jeoran kemudian meneguk susu coklat yang ada di hadapannya.

“Aku pergi dulu ya. Nanti sore aku tampil. Jangan lupa menonton ya.” Ucap Jeoran kemudian melangkah pergi meninggalkan Eunjo.

“Eunjo!!! Jeoran sudah pergi~ ayo lakukan tugasmu~ kita kerepotan dengan para pelanggan.” Teriak sesorang.

“Ne~”

###

Dokter Park mematikan tv. Dia beranjak dari kursinya.

“Kang Sangwoo, sampai kapan aku harus menyembunyikanmu. Aku tidak tega melakukan apa yang kau perintahkan.” Ucapnya kemudian mendesah.

“Tok tok tok”

“Ya masuk~” ucap dokter Park.

Seorang namja masuk.

“Dok, ini rekamannya yang dokter minta.” Ucap namja itu menyodorkan kaset kepda dokter Park.

“Gamsahamnida.” Ucap Dokter Park.

Namja itu membungkuk kemudian keluar dari ruangan dokter Park.

Dokter Park langsung memutar kaset rekaman.

“Kang Sangwoo…”

###

“Hyukjae.” Panggil seorang ahjumma.

“Ya nyonya Kang.” Ucap Hyukjae datang menghampiri ahjumma bermarga Kang itu.

“Apakah sudah ada kabar?” tanya nyonya Kang.

“Belum nyonya.” Jawab Hyukjae.

Nyonya Kang mendesah.

“Semua temannya tidak tahu ada di mana. Kendaraanya hilang tanpa bekas. Kemana perginya anak itu.” Keluh nyonya Kang.

“Ehm nyonya. Sebenarnya… akhir-akhir ini…”

“Waeyo? Bicara yang jelas!”

“Tuan muda Sangwoo sering kali berkunjung ke Rumah Sakit.” Terang Hyukjae.

“Rumah Sakit? Apakah dia sakit?”

Hyukjae hanya tertunduk.

###

“Kau langsung dikenal setelah meluncurkan album pertamamu ya.” Ucap seorang MC.

“Ya begitulah~.” Ucap Jeoran tersenyum.

“Lalu siapa orang yang paling berarti dalm pembuatan albummu ini?”

“Pencipta dan komposerku.”

“Dia Yesung bukan?”

Jeoran tertunduk. Semenit kemudian ia mengakat kepalahnya. Matanya berkaca-kaca. Setiap kali mendengar nama itu ia selalu begitu.

“Ya~ Yesung~.” Ucap Jeoran.

“Dia sudah meninggal bukan?”

Jeoran mengangguk pelan.

“Kalian pasti sahabat baik.”

“Bisakah kau tidak menanyakan soal ini?” ucap Jeoran terisak.

“Uhm… maaf. Baiklah kita akan bicara soal lain. Ku dengar kehidupanmu sungguh dramatis. Benar begitu?”

Jeoran tersenyum.

“Kehidupan tidak ada yang indah.” Ucap Jeoran.

“Permirsa di rumah penasaran dengan kehidupanmu. Bisakah kau ceritakan soal kehidupanmua?” tanya sang MC antusian.

“Baiklah~ aku anak Yatim Piatu. Bahkan aku tak tahu siapa appa dan eommaku. Sejak kecil aku di besarkan di panti asuhan. Aku tidak pernah menikmati kehidupan keluarga layaknya orang normal. Tapi mereka semua yang ada di panti asuhan sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri. Dan aku sangat senang menjadi bagian dari mereka.

Tak jarang teman-temanku mengejekku karena aku tidak memiliki asal usul yang jelas. Tapi aku tidak peduli. Yang penting aku tidak melakukan kesalahan.” Terang Jeoran.

“Ku dengar kau memiliki pacar ya saat ini?” tanya sang MC.

Jeoran menggeleng.

“Tidak.”

“Yang benar?”

“Ya. Pacarku meninggal sekitar 1,5 tahun yang lalu karena kecelakaan. Dan aku tidak pacaran sejak itu.” Terang Jeoran.

“Aku pernah melihatmu berjalan dengan seorang namja. Dia bukan pacarmu?” tanya sang MC.

“Ehm… dia saudara pacarku yang sudah meninggal itu.”

“Oh~ kau langsung menjawabnya dengan cepat.”

“Ya karena aku tidak punya banyak teman namja.” Ucap Jeoran tersenyum.

“Baiklah permirsa jangan kemana-kemana karena setelah ini ada bintang tamu yang merupakan aktor.” Ucap sang MC.

“Wah enak sekali jadi Jeoran~ dia akan bertemu dengan seoran aktor. Kira-kira siapa ya?” ucap Eunjo memandangi layar televisi yang kini menayangkan iklan.

“Choi Siwon.” Celetuk seorang yeoja.

Eunjo menoleh. Ia melihat yeoja yang sibuk membersihkan meja.

“Dari mana kau tahu?” tanya Eunjo.

“Kemarin MCnya bilang di akhir acara.”

“Jeongmal?” pekik Eunjo.

Yeoja itu meangangguk.

###

“Anda yang bernama dokter Park?” tanya seorang ahjumma kepada seorang dokter yang berkacamata.

Dokter itu mengangguk.

“Ya saya Dokter Parak.” Ucap dokter Park menelan ludah.

“Sepertinya anda terkejut melihat saya.” Ucap ahjumma tersebut.

Dokter Park hanya diam.

“Kau tahu siapa aku?”

“Ya. Anda nyonya Kang. Eomma dari Kang Sangwoo.”

“Benar. Jawab dengan jujur apa hubunganmu dengan putraku!”

“Aku adalah sahabat baiknya sejak SMA dulu.”

“Jeongmal? Aku tidak pernah tahu tentangmu.”

“Apakah anda mengenal teman-teman anak anda?”

Nyonya Kang bungkam.

“Anda tidak mengenal anak anda.”

“Apa maksud perkataanmu dokter Park?”

Dokter Park hanya diam.

“Baiklah saya tidak ada waktu untuk berdebat. Sekarang katakan di mana anak saya sekaran?”

“Saya tidak tahu. Sudah setengah tahun saya tidak melihatnya. Dia tidak memberikan kabar kepada saya.”

“Bohong~ pasti anda bohong.”

“Untuk apa saya bohong?”

Nyoyna Kang diam.

“Lalu kenapa dia sering kemari? Tidak mungkin ia ingin bertemu denganmu di saat kau sedang mengerjakan tugasmu. Apakah dia sakit?”

Doktor Park menghela nafas.

“Ia mengecek kesehatan.” Ucap dokter Park.

“Kesehatan? Kesehatanya?”

“Bukan. Kesehatan sesorang.”

“Siapa?”

“Seseorang yang di rindukan selama ini. Sesorang yang ia sayangi.”

“siapa dia? Katakan padaku.”

“Apa untungnya aku mengatakan ini kepada anda nyonya Kang.”

###

“Hyukjae, tolong kau cari tahu tempat-tempat Sangwoo pergi selama ini. Toko, rumah, café, taman hiburan, segalanya.” Ucap Nyonya Kang kesal.

“Baik nyonya.” Ucap Hyukjae.

“Lihat saja. Aku akan menemukannya. Orang itu pasti yang menyembunyikan Sangwoo dariku.” Ucap nyonya Kang dalam hati.

“Kau tidak apa-apa?” tanya seorang ahjussi.

“Aku khawatir dengan Sangwoo. Dia benar-benar hilang sayangku~.” Ucap nyonya Kang.

“Dia bukan anak kecil lagi~”

“Kenapa kau setenang itu??? Anak kita sudah hilang hampir setengah tahun dan kau bersikap tenang. Apa kau tidak malu dengan rekan bisnismu? Kau tidak dapat menjaga anakmu sendiri.” Sentak nyonya Kang lalu pergi meninggalkan suaminya, tuan Kang.

###

From : Eunjo


To :Jeoran






Jeoran kau tidak ke café hari ini?










From : Jeoran


To : Eunjo






Tidak. Aku ada urusan yang penting hari ini.










From : Eunjo


To : Jeoran






Urusan apa? Kenapa tidak mengajakku? Biasanya kau mengajakku.










From : Jeoran


To : Eunjo






Nanti aku ceritakan jika urusan ini selesai. Aku tidak bisa mengajakmu. Bukannya kau sedang kerja saat ini. Aku tidak mau bosmu marah ^^










From : Eunjo


To : Jeoran






Baiklah~ jika sudah selesai ceritakan kepadaku dan jangan lupa ceritakan soal Choi Siwon yang kemarin ^o^










From : Jeoran


To : Eunjo






OK OK aku akan menceritakan semuanya. Sampai nanti~ bye >.<

###

“Hyekyu, joengmal mianhae.” Ucap Siwon di atas tempat tidur.

“Waeyo?” sahut Hykeyu.

“Aku selalu meropatkanmu.” Ujar Siwon.

Hyekyu tersenyum.

“Tidap apa-apa oppa~. Aku senang melakukannya.” Ujar Hyekyu menyodorkan mangkuk berisi buah-buah yang baru ia potong ke Siwon.

Siwon menerimanya.

“Lalu bagaimana keadaan eommamu?”

Hyekyu hanya diam.

###

“Dokter, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”

Dokter Park menoleh. Ia melihat sosok yeoja yang ia kenal.

“Duduklah.” Ucap dokter Park.

Yeoja itu duduk di kursi yang kosong.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Kau ingin bertanya soal buku itu?” tanya dokter Park.

Jeroan menggeleng.

“Ini soal pendonor jantungku.” Ucap Jeoran.

“Ya waeyo?”

“Apakah benar yang mendonorkan jantungku itu Yesung?” tanya Jeoran serius.

Dokter Park terdiam.

“Kenapa kau bertanya begitu?”

“Aku mengetahui suatu hal dokter.”

“Apa itu?”

“Golongan darah Yesung AB dan golongan darahku O. jadi tidak mungkin Yesung mendonorkan jantungnya padaku. Terlalu beresiko.” Terang Jeoran.

Dokter Park terdiam. Ia melepaskan kacamatanya.

“Tolong dok, ceritakan yang sebenarnya. Ceritakan padaku, siapa pendonor jantung ini. Dan kenapa kau mengatakan bahwa pendonor jantung ini adalah Yesung? Tolong ceritakan semuanya kepadaku dok. Aku ingin tahu.” Ucap Jeoran dengan mata berkaca-kaca.

###

“Kau sudah melupakan Jeoran?” tanya Heechul.

“Hampir~” sahut Kyuhyun.

“Apa perlu ku bantu mencarikan yeoja lain?” tanya Heechul.

“Tidak perlu. Aku bisa mencarinya sendiri.” Ucap Kyuhyun.

Heechul tersenyum.

“Kau tidak perlu mencarinya. Jodoh tidak lari ke mana-mana. Ia akan menghampirimu. Tinggal menunggu waktu saja.” Ucap heechul.

Kemudian mereka terdiam.

“Ya turunkan aku di sini saja.” Ucap Heechul.

“Kau yakin turun di sini hyung?” tanya Kyuhyun.

“Aku ingin menemui seorang sahabat. Kau pulang saja dulu. Tak usah mengkhawatirkanku.” Ucap Heechul.

“Siapa yang mengkhawatirkanmu?” sahut Kyuhyun.

“Yayaya terserah kau bilang apa. Hati-hati saja di jalan.” Ucap Heechul kemudian keluar dari mobil Kyuhyun.

“Dan satu lagi. Semoga kau segera menemukan belahan jiwamu.” Lanjut Heechul.

Kyuhyun tersenyum.

Hari sudah larut. Jam sudah menunjukkan pukul 22.45. Kyuhyun masih menyetir. Sudah hapir satu jam ia berputar-putar tanpa tujuan. Kemudian ia mengerem dan turun dari kendaraanya.

“Hey apa yang kau lakukan!!!” teriak Kyuhyun.

Dua orang berwajah garang itu menatap Kyuhyun.

“Bukan urusanmu anak muda. Kau urusi saja urusanmu.” Ucap salah satu orang yang berwaja garang.

“Apakah kau mengenal yeoja ini? Tidak bukan? Jadi enyalah kau dari sini.” Ucap yang lainnya.

Kyuhyun mengepalkan tangannya. Ia berjalan mendekat dan menghajar salah seorang dari mereka. Pukulannya menghantam wajah orang jahat itu. Tapi yang lain melawan. Kyuhyun mencoba bertahan. Ia kalah jumlah. Kemudian yeoja yang terduduk di tanah bangkit dan meraih balok kayu. Yeoja memukulkan balok kayu itu kepada kedua orang jahat yang bertarung dengan Kyuhyun. Kedua penjahat itu terjatuh dan merintih kesakitan.

Kyuhyun langsung menyeret yeoja itu menjauh dari dua orang berwajah garang.

“Masuklah!!” seru Kyuhyun menyuruh yeoja itu masuk kedalam moobilnya.

Kyuhyun dan yeoja itu masuk ke dalam mobil.

“Hey kalian!!! Jangan lari kalian!!!” teriak salah seorang penjahat tadi.

To Be continue…

Nah ayo komen-komennya~
saya tunggu lho~