Concert Full Love

Standar

 

 If it happen~ I can’t move again. close my eyes and let’s pray

Cast: Lee Donghae, Kim Jaerin, Choi Minji

Genre: Romatic, Friendship

PG: 13

 

Seorang yeoja  duduk bertopang dagu, entah apa yang dipikirkannya. Suasana disekitarnya lumayan sepi padahal ia berada di kantin sekolah. Maklum di kelas tak ada guru jadi dia lari ke kantin. Seseorang memperhatikannya dari jauh. Awalnya ia hanya ingin memandangi saja, tapi toh akhirnya ia menghampiri si yeoja yang sendirian itu.

“Dooor!”

Sontak sang yeoja terkejut.

“Donghae! Ugh kamu yach bisanya nagetin aja!” bentaknya sambil berkecak pinggang.

Donghae cekikkan kemudian berkata,

“Siapa suruh bengong begitu. Ntar kesurupan baru tahu rasa.”

Sang yeoja hanya menggerutu.

“Jaerin-ah, tumben sendiri yg lain pada kemana?” tanya Donghae yang baru duduk di hadapan Jaerin.

“Ke perpus!” jawab Jaerin ketus.

“Gak ngikut?”

“Aku lagi males baca.”

“Tumben. waeyo?”

“Aku lagi bingung mikirin konser CN BLUE.”

“Bingung kenapa?”

Jaerin jadi kesal. Nich anak nanya melulu yach, gak tahu orang lagi bad mood yach. Batinnya.

“Aku bingung soalnya gak ada yang nganterin ke konser sama pulangnya. Kalo aku nekat berangkat pulangnya yang bikin bingung. Masak aku jalan kaki ke rumah. Aku kan yeoja, kalo ada apa-apa di jalan gimana? Terus aku juga pingin waktu konser besok dapat tanda tangannya Hero Jaejoong~.”

“Kamu dah beli tiketnya?”

“Belum.” Jawab Jaerin ketus.

“Kenapa belum.”

“Duch Donghae!!! Kan sudah ku bilang aku lagi bingung. Lagi mikir-mikir.” Sentak Jaerin. Dia menatap ke langit melihat langit biru.

“Gak usah mikir neng, sama aku aja yach. Nich ada tiket. Si Kyuhyun gak mau ikut trauma kecopetan. Jadi lebih nich tiketnya.” Ia melambai-lambaikan tiket konser di hadapan Jaerin.

“APAAA? Ini buat aku?”

Donghae mengangguk.

Sontak Jaerin memeluk Donghae. Setelah sadar apa yang dia lakukan, ia langsung melepaskan pelukannya. Lalu mereka saling terdiam beberapa saat.

By the way, kamu gak ada guru?”

“Oh, nggak. Guruku sibuk nyiapin anak lomba. Kami cuma dikasih tugas doang.”

“Oh…”

“Besok aku jemput jam tujuh tepat. Dah dulu yach aku mau balik ke kelas.” Dan Donghae meninggalkan Jaerin sendiri begitu saja.

Ia tidak pergi ke kelas. Ternyata ia pergi ke toilet. Ia mengelus-ngelus dadanya.

Oh my god, dia meluk aku. Bisa bertahan gak yach? Aduh, jantungku serasa mau copot.”

Keesokan harinya…

“Hm…”

“Hei!”

“Jeoran!!! Kamu ngagetin aku tahu!”

“Salah sendiri ngelamun sendirian di kelas.”

“Aku ngelamun gini gara-gara kamu juga.”

“Gara-gara aku? Kok bisa?”

“Ya, iyalah. Kamu kan nolak ajakanku liat konsernya CN BLUE, jadi mikir nich.”

“Ya, sorry aku kira yang lain bisa. Ternyata pada males and gak boleh ortu. Kamu juga ngajaknya telat banget. Coba satu minggu sebelumnya aku bakalan gak janjian sama Eunhyuk.”

“Dasar pacaran melulu. Sobatnya gak diperhatiin.”

“Yeach, gimana sich. Akukan bisa ketemu ama dia cuma weekend and holiday, kalo kamu hampir tiap hari ketemu and aku perhatiin. Nich bukti perhatianku.” Lalu Jeoran mengeluarkan sebuah buku. “Tuh PR matematikamu dah aku kerjaain. Perhatiankan aku?”

Jaerin langsung meluk Jeoran. Lalu berkata,

Thank’s so much! Aku aja lupa kalo ada PR matematika.”

“Terus kamu jadi liat konser?” tanya Jeoran kemudian dia duduk lalu disusul Jaerin.

“Jadi dong!”

“Terus?”

“Terus apa?”

“Ya terus apa yang kamu pikirin lagi?”

“Aku mikirin gimana dapet tanda tangannya Yonghwa.”

“Apa? Yonghwa? Vokalisnya itu?” Jeoran terbelalak. Mulutnya tak dapat ia rapatkan, ia sungguh terkejut akan ide gila sahabatnya yang satu ini.

Jaerin mengangguk.

“Gila! Gimana caranya coba. Mang kamu berani?”

“Berani? Maksudmu berani minta tanda tangannya Yonghwa atau berani ngelewaitn penjaga untuk minta tanda tangannya, yang mana?”

“Yang terakhir.”

“Kan ada Donghae yang nemenin.”

“Donghae?”

Jaerin menganggunk sambil tersenyum lebar.

“Donghae anak sebelas tiga itu?”

“Iya!”

“Dia anak band juga kan?”

“Iya iya. Duch… mang kenapa sich.”

“Eh, aku gak nyangkah kamu bisa ngajak dia.”

“Ngajak dia? Gak kebalik tuh. Dia yang ngajak aku kemarin. Sorry gak bilang aku masih ngambek kemarin.”

“Uh, gila! Kamu sejak kapan deket sama dia?”

“Deket sama dia? Udah lama. Sejak kelas sepuluh dulu. Tapi kita jarang ketemu. Mang kenapa sich?”

“Kamu kenal dia gak bilang-bilang yach. Hayo pasti ada apa-apanya.”

“Bukannya dulu waktu kelas sepuluh kamu bilang kamu gak suka sama dia.”

“Eh, itukan dulu. Sekarang….”

“Eits, inget Eunhyuk. Kamu dah punya Eunhyuk.”

“Hei aku cuma ngefans doang!!!”

“Sejak kapan?”

“Sejak aku tahu dia suka buat puisi-puisi cinta yang di tempel di mading itu. Yang no name.”

Tanpa disadari banyak teman sekelasnya sudah datang. Bahkan dua sahabat yang lainnya barusan datang dan ikut bergabung.

“Ceritaiin gimana kamu bisa tahu puisi itu maha karya Donghae.” Jaerin mulai antusias.

Jeoranpun mulai bercerita. Dia bertanya pada ketua mading sekolah, tapi sang ketua tak mau beri tahu. Katanya si penulis gak mau ketahuan kalo yang buat itu dia. Jeoran gak nyerah, dia tahu si penulis tiap hari senin selalu mengganti puisinya. Jeoran bela-belain datang pagi di hari senin. Jam enam kurang dah sampai sekolah dan nungguh di dekat mading. Alangkah terkejutnya dia ketika tahu itu Donghae. Dia baru tahu dua minggu yang lalu. Waktu ditanya kenapa gak beri tahu ke yang lain jawabannya, salah sendiri gak tanya.

Lalu gantian Jaerin bercerita tentang acara konsernya bareng Donghae nanti malam. Mulai dia bengong di kantin sampai waktu Donghae bilang bakal menjemputnya jam tujuh malam nanti.

Jam menunjukan pukul delapan belas lima puluh. Jaerin sudah siap untuk berangkat ke konser. Ia pamit ke pada orang tuanya dan segera pergi. Tapi Donghae belum datang. Memang dia sengaja jalan keluar dulu sebelum Donghae datang. Takutnya, ortu Jaerin nanya yang enggak nggak. Maklum anak yeoja satu-satunya. Jadi yach gitu dijaga lumayan ketat.

Jaerin menunggu di gang perumahannya. Lumayan banyak yang ngelirik sich waktu dia jalan sampai ke gang. Yach bagaiman enggak pakainnya itu lho. Dari bawah, Jaerin pakai flat boots item. Lalu celana skinny yang mengkilau. Atasannya pakai tank top item dilapasi jaket kulit yang hanya berlengan sehingga ia tampak lebih slim. Tidak lupa juga ia pakai craf hitam bermotif tengkorak di lehernya. Untuk make up, Jaerin pakai eyeshadow biru tua and lipgloss. Look dia tambah gothic banget. Rambutnya di blow, saggy!!!

Gak lama nunggu, sebuah sepeda motor yang kayak motor balap melintas dihadapannya kemudian kembali lagi dan berhenti di hadapan Jaerin. Jaerin kebingungan. Jangan-jangan nich namja mau nggoda aku lagi. Batinnya. Ia bingung ia perhatikan namja itu. gak tahu wajahnya sich yach emang jelas gak tahu orang ketutupan helm yang super wah, keren abizzz. Terus pakai kaus putih super ketat yang membentuk lekuk tubuhnya yang keren abizzz bikin yeoja ngiler. Terus dilapisi jaket kulit. Celananya pakai jeans item. And sepatunya pakai snacker.

Namja itu membuka helmnya. Jaerin terkejut. Matanya gak bisa berkedip melihat namja yang ada dihadapannya.

“Kok bengong! Aku gak telatkan?”

Jaerin hanya bisa diam.

Donghae menggaruk rambutnya yang sebenarnya gak gatal amat.

“Eh, kamu kok nunggu disini sich? Hampir aja aku gak ngenalin kamu tadi. Habis beda banget. Untung aja aku ingat gitar bag biru tuamu yang kamu pakai itu.”

“Oh, eh iya. Gitar bagku yach. Kok kamu bisa yakin dengan gitar bagku?”

“Hanya kamu yang pakai gitar bag dengan cara begitu.” Donghae menunjuk ke arah sabuk yang dikenakan Jaerin.

“He… he… habis talinya bisa dibuat sabuk. Jadi aku modif aja. Lagi pula capek juga kalo dipakai kayak sling bag biasa. Keren kan? Ehm, Donghae.”

“Hm…”

“Aku juga gak ngenalin kamu tadi. Aku kira kamu namja usil yang suka godain yeoja tadi.”

Donghae tersenyum tak menyangkah yeoja yang dihadapannya kini mengiranya namja nakal.

“Jika begitu kita impas. Aku kira kamu anak punk yang lagi nungguin namjanya.”

Yach kemudian mereka terdiam. Lalu Donghae menyuruh Jaerin naik. kemudian mereka berangkat.

Sesampainya di tempat konser Jaerin bilang ke Donghae untuk membantunya mendapatkan tanda tangan Yonghwa. Donghae mau aja. Jaerin tersenyum kemudian berkata gomawo.

Di tempat konser yang riuh dan becek (tempat konsernya dilapangan terbuka dan tadi sore hujan jadi becek) Jaerin hampir saja terjatuh karena padatnya di tempat itu. untung saja ada Donghae. Melihat Jaerin yang kayaknya gak nyaman di tengah lapangan tempat konser, Donghae mengajaknya pindah ke pinggiran yang lumayan sepi. Jaerin sempet ngomel karena gak jelas liat ke panggung. Lalu Donghae njelasin ke Jaerin.

“Ini masih band lokal yang tampil. Entar dech waktu CN BLUE tampil kita ke tempat yang dapat melihat CN BLUE jelas banget.”

Setelah bicara itu Jaerin hanya diam saja melihat ke arah panggung. Donghae menatap Jaerin, kemudian ia menyentuh dadanya. Oh my god jantungku. Jantungku berdegup kencang. Kenapa tiap kali dekat dengannya aku harus merasakan ini. Rasanya aku tak sanggup bertahan… Ehm… sabar Donghae. Kamu bisa menhan ini sampai nanti. Batinnya. Ia meraba saku di jaketnya. Malam ini juga akan kuserahkan ini padanya. Batinnya lagi.

Yang dinanti akhirnya tiba juga. CN BLUE muncul tepat jam setengah sepuluh. Jaerin langsung berteriak histeris. Ketika Yonghwa vokalis CN BLUE mulai menyanyi Jaerin ikut menyanyi. Tak lama kemudian ia mulai gila seperti yang lainnya. Loncat-loncat triak-triak sambil nyanyi. Lalu Donghae cuma bisa geleng kepalah melihat yeoja yang dibawanya itu.

“Donghae, disini gak jelas. Ayo katanya kamu mau cari tempat yang bisa liat jelas CN BLUE!”

“Ehm, sebentar.” Singkat Donghae. Dia langsung bingung mencari sesuatu. Entah apa yang ia cari atau mungkin lebih tepatnya siapa yang ia cari.

“Donghae!!! Kamu cari siapa sich?”

Donghae tak menhiraukan apa yang dikatakan Jaerin barusan.

“Kangin!!!” triaknya kepada seseorang.

Jaerin menoleh ke belakang. Ia melihat namja berpakain seragam. Yach seragam, pangatur konser.

“Ayo ikut aku!” ajak Donghae.

Jaerin mengikuti Donghae berjalan. Yach berjalan menujuh temannya yang bernama Joey.

“Hei, bisa bantukan?”

“Beres bro. Ini nich yang suka banget sama CN BLUE?”

“Yoi man, kayaknya dia tergila-gila tuh sama CN BLUE.”

“Oh sudah terlihat. Dari gaya berpakaiannya yang sepadan dengan CN BLUE. Super rock! Gothic banget. Dah punya namja belum?”

Donghae berdehem.

“Wah kayaknya ada yang gak suka nich.”

“Jadi bagaimana apakah kita bisa ke sana sekarang juga?”

“Ya, kalian berdua bisa ke sana sekarang juga.”

Lalu ia membukakan pagar besi yang ada dibelakangnya dan mempersilahkan Donghae dan Jaerin masuk.

“Selamat berbahagia!” ujarnya untuk yang terakhir kali.

Jaerin tampak bingung. Ia berjalan berhati-hati karena jalannya becek. Ia mengikuti Donghae yang ada satu meter di depannya.

“Kita kemana?”

Donghae hanya diam saja.

Jaerin berjlan dengan melihat gelagat Donghae yang cuek. Lalu tiba-tiba.

“Auuuwww. Oh my god!

Donghae membalikan tubuhnya dan mendapati kaki kiri Jaerin terpelosok ke dalam lubang lumpur yang dangkal. Lalu ia mendesah kemudian menghampiri Jaerin dan membantunya. Setelah itu ia menarik tangan Jaerin dan berjalan cepat. Jaerin tidak dapat berkata apa-apa. Ia membiarkan dirinya dibawah namja yang awalnya tampak cuek ini.

Jaerin terpanah menyadari bawah dirinya kini berada di area panggung. Donghae membawanya kebelakang panggung kemudian memutari panggung hingga berhenti di depan panggung. Jaerin terdiam. Ia terpukau melihat CN BLUE berada di hadapannya. Dan itu sangat jelas. Lalu Donghae berbisik di telingah Jaerin.

“Bagaimana, kau suka?”

Jaerin menatap Donghae kemudian mengangguk. Lalu ia menatap lagi ke panggung. Ia sekarang memperhatikan Yonghwa, sang vokalis CN BLUE. Saat Harvis mulai mendekat Jaerin salting, ia masih tak percaya akan keadaannya sekarang. Donghae, dia membuka Hpnya dan sepertinya ia merekam sesuatu.

Jaerin tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Donghae. Matanya terfokus pada Yonghwa yang begitau memukau. Ada detik-detik dimana ia menggenggam tangan Yonghwa. Saat itulah ia merasa dirinya berada di dalam mimpi. Sungguh mustahil baginya. Kenyataanya sungguh benar, bukan mimpi. Ia benar-benar menggenggam tangan Yonghwa saat Yonghwa mengulurkan tangan. Donghae hanya bisa tersenyum melihat Jaerin yang sangat bahagia. Sangking bahagianya mungkin Jaerin tidak menyadari, sedari tadi Donghae memperhatikan gelagatnya.

“Donghae, apa yang aku lakukan tadi nyata? Apakah benar tadi aku menggenggam tangan Yonghwa? Apakah benar Yonghwa tersenyum melihatku tadi? Donghae apa ini mimpi? Aku tidak sedang tidur bukan? Apa ini hanya ilusiku saja?”

Donghae tersenyum.

“Mungkin kau melihatnya seperti ilusi. Tapi ini sangat nyata Jaerin. Sangat begitu nyata. Kurasa pikiranmu itu yang kacau. Coba kau tenang sedikit.”

“Ah terserah. Aku hanya butuh jawaban bawah ini nyata.”

Donghae mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Jaerin berpaling setelah Donghae memberi anggukan. Ia mulai memperhatikan Yonghwa lagi. Lalu tak lama kemudian, Donghae meraih tangan Jaerin dan menyeretnya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Ikuti aku!”

“Tapi konsernya belum selesai, aku mau disini.”

“Sebentar saja. Kau pasti senang.”

Akhirnya Jaerin membiarkan dirinya ditarik-tarik oleh namja yang menurutnya cakep hari ini.

“Belakang panggung?” sahut Jaerin bingung.

“Siapkan kertas dan bulpen!”

“Untuk apa?” Jaerin melirik ke arah Donghae.

“Sudah siapkan saja!” ketus Donghae.

Lalu Jaerin membuka gitar bagnya. Ia mengambil note book dan gel pen biru dari tasnya.

“Naik ke panggung segera dan minta tanda tangan Yonghwa segera!”

“Ta… tapi ba..”

“Ah lambat.” Donghae langsung merampas note book dan gel pen Jaerin lalu ia naik ke panggung. Tepat pada waktu itu juga ternyata konser CN BLUE berakhir.

Jaerin masih bengong tak percaya melihat Donghae yang waktu berakhirnya konser CN BLUE. Ia melihat Donghae meminta tanda tangan kepada Yonghwa. Lalu ia turun dan memberikan note book dan gel pen kepada Jaerin. Jaerin tetap bengong. Apalagi ketika seluruh personel turun dari panggung setelah Donghae. Jaerin sungguh terpanah. Tak sedetikpun ia berkedip.

“Tunggu dulu Yonghwa!!!” triak Jaerin.

Kemudian ia mengejar Yonghwa. Dan Donghae mengikutinya.

“Ada apa kau mengejarnya?”

“Aku ingin mengatakan gamsahamnida kepadanya.”

Donghae menarik tangan Jaerin. Ia berlari cepat di dalam kerumunan pengawal-pengawal CN BLUE. Mereka berhasil berhadapan langsung dengan Yonghwa.

“Ehm, Yonghwa, gamsahamnida atas tanda tangannya. Suaramu juga bagus, menggugah hatiku.” Jaerin tersenyum. Ia sangat senang berada dekat dengan Yonghwa.

“Cheonmaneyo.” Lalu Yonghwa melepaskan syal yang ia genakan. “Apakah kau keberatan aku memberikan ini pada jagimu?” tanya Yonghwa kepada Donghae.

Donghae menatap Yonghwa kemudian berkata,

“Tak apa-apa.”

Setelah itu Yonghwa mengalungkan kepada Jaerin dan tersenyum. Lalu seluruh personel CN BLUE masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan tempat konser.

“Hei…, kenapa diam?”

“Aku tidak menyangka mendapat bonus syal darinya.”

Donghae tertawa kecil.

“Oh ya tadi dia mengira aku…”

“Ikut aku!” Lagi-lagi Donghae menarik tangan Jaerin. Tapi kali ini ia tak peduli Jaerin mau ikut apa tidak. Ia hanya menarik yeoja itu saja.

“Kita kemana?”

“Ke panggung.”

“Kenapa kita kesana?”

“Ada yang ketinggalan.”

Jaerin hanya diam saja. Jantungnya berdegup kencang. Ia baru menyadari hal itu. entah sejak kapan terjadi.

Di atas panggung Jaerin celingukan mencari sesuatu yang hilang. Ia merasa bodoh. Tapi apa salahnya mencari. Mungkin sesuatu yang janggal itulah yang tertinggal. Ia tak sadar Donghae tidak berada dekat dengannya.saat ia melihat ke depan, ia mendapati Donghae berada di tengah panggungg dan menggenggam mikrofon.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jaerin.

Donghae menatap dalam Jaerin kemudian menyanyi. Jaerin melihat ke seluruh sudut panggung. Ternyata teman satu bandnya Donghae ada disana. Ia terheran-heran.

Donghae mendekati Jaerin dan menggenggam tangannya. Ia membawa Jaerin ke tengah panggung. Lalu ia menyanyikan reff lagu yang ia nyanyikan dengan berlutut dihadapan Jaerin. Jaerin jadi salting. Terlebih lagi lagu yang dinyanyikan itu bertema cinta. Dan sangat cocok dinyanyikan untuk orang yang lagi…

Setelah menyanyikan reff, Donghae berkata,

“Jaerin, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu.” Ia mengambil sesuatu dari kantongnya. “Sejak pertama bertemu aku begitu terpesona. Saat aku berada dekat, jantungku berdegup kencang. Rasanya aku tak sanggup mendapati jantungku yang berdetak tak karuan. Aku ingin degup jantung didada ini karena aku berada dekat dengan orang yang sangat spesial bagiku.” Ia terdiam sejenak. “Jadi, maukah kau menjadi orang yang spesial di hatiku? Mungkin saja degup jantungku yang berantakan itu akan berhenti menyakitiku. Membuat perasaan tak karuan. Bersediakah kau Jaerin, menjadi jagiku?”

Jaerin tersentak, ia tak dapat bergerak.

Donghae berdiri dan memasngkan benda yang ia ambil dari kantongnya tadi ke leher Jaerin. Lalu tersenyum.

Jaerin meneteskan air mata. Ia memandang Donghae lalu memeluknya. Ia berkata,

“Aku mau jadi orang yang spesial itu Donghae.”

Donghae membalas pelukan Jaerin kemudian bernyanyi lagi.

THE END

Komen ya chingu~

Pliz komen~

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

7 responses »

  1. awal2nya ceritanya lucu haha apalagi kyuhyun trauma kecopetan itu , trus yang mumggu di gang tapi akhir2nya jadi romantis gitu ya apalagi kata2nya donghae :DD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s