When I Knew The Meaning of Love (Chapter 1)

Standar

Jangan jadi silent reader, komen juga~ komen sebagai user name twitter *klo punya twitter*

Cast SHINee. Lyra Callisto as Kim Jaerin, Iha as Choi Jira, Jinkintan as Choi Hyoah

Genre: Friendship, Romantic, Comedy???

PG: 15

SHINee When I Knew The Meaning of Love

I just want something which makes my heart so calm and I never forget it

Your smile~

I need your smile which heartfelt from your heart to me

Just once and I never forget it

 

*******

 

Matahari begitu terik, membuat seorang yeoja merasa kepanasan. Entah dia yang pabo atau cuaca yang benar-benar aneh. Yeoja itu menggunakan jaket berwarna coklat, celana panjang hitam dan sepatu sneakers hitam.

”Hya yeoja paboya!!!” teriak seorang namja kepada yeoja tersebut.

Yeoja itu menengok.

”Jaerin, kau bodoh atau pura-pura bodoh?” tanya namja itu mendekati yeoja bernama Jaerin.

”Mworago?” sahut Jaerin.

”Kau tahu ini musim panas. Kenapa kau menggenakan pakaian itu?” omel namja yang ada di hadapan Jaerin.

”Suka-suka akulah mau pakai apa. Ohya Taemin, Jira sudah datang?”

Namja bernama Taemin itu hanya bisa garuk-garuk kepalah.

”Aku sendiri bingung. Dua jam yang lalu dia mengirim sms bahwa dia sudah berangkat. Tapi hingga kini dia belum tiba juga.”

”Jincayo?” sontak Jaerin.

Taemin mengangguk.

”Ayo kita langsung ke rumahmu saja. Aku sudah tak tahan. Dehidrasi tingkat tinggi.”

”Baiklah.”

Jaerin meneguk habis segelas es jeruk yang disodorkan Taemin dalam sekali teguk.

Taemin hanya bisa memandang heran melihat chingunya yang dehidrasi hebat.

”Bisa kau ambilkan lagi untukku Taemin-ah~” ucap Jaerin menyodorkan gelas kosongnya.

”Kau ambil saja sendiri di sana~” tunjuk Taemin ke suatu arah.

”Aniyo~ aku ini tamu~ di tambah lagi aku lebih tua darimu~” elak Jaerin.

”Bisa saja kau ini. Lebih tua beberapa bulan saja sok memerintah.” omel Taemin meraih gelas Jaerin dan mengisinya kembali dengan es jeruk.

Ddddrrrrrtttttt ddddrrrrrttttttt

HP Jaerin bergetar.

Jaerin kau ada di mana?

Tolong aku sepertinya aku tersesat~

Aku sudah sejam berjalan mencari rumah Taemin tapi tidak ketemu =((

Jaerin cekikan.

”Kenapa kau?” tanya Taemin meletakkan gelas Jaerin di meja.

”Jira tersesat. Dia sudah sejam berjalan mencari rumahmu.”

”Jinca? Kenapa kau malah tertawa? Tanyakan di mana dia sekarang?”

Aku sudah berada di rumahnya Taemin.

Sekarang kau berada di mana?

”Aku sudah mengirim sms kepadanya.” ucap Jaerin.

”Kita tinggal menunggu sms balasan darinya.” ucap Taemin.

Jaerin mengangguk kemudian ia meraih gelas berisi es jeruk. Taemin menatapnya.

”Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Jaerin.

”Hanya tidak menyangka saja, ada orang sepertimu di dunia ini.” jawab Taemin.

Lalu Jaerin meneguk es jeruknya.

Dddrrrrrttttt ddddrrrrrtttttt

Jaerin langsung membuka pesan masuk.

Aku tidak tahu aku berada di mana =((

sekarang aku terduduk di dekat kotak pos

”Taemin kau tahu di mana ada kotak pos di dekat sini?” tanya Jaerin.

”Kotak pos?” sahut Taemin.

”Ye~ kotak pos.”

”Di dekat sini jaraknya~ ehm… 5 blok dari sini. Kenapa kau menanyakannya?”

Jaerin bangkit.

”Ayo kesana!” serunya.

”Mwo?” sahut Taemin tidak mengerti.

”Katanya Jira berada di dekat kotak pos. Ayo kita susul dia~ mungkin dia di sana.”

”Hya yeoja paboya~ kenapa kau bisa berada di sini?” sentak Taemin kepada yeoja yang duduk di dekat kotak pos.

Yeoja itu mendongak kemudian memeluk Taemin.

”Taemin~ akhirnya kau menemukanku~ aku takut~ aku capek~ hiks hiks hiks”

Wajah Taemin tiba-tiba memerah.

”Sudahlah Jira jangan menangis kau kan sudah besar. Tidak malu di liat anak kecil?” sahut Jaerin.

Yeoja bernama Jira langsung berpaling ke Jaerin. Ia memeluk Jaerin.

”Gomawo Jaerin sudah menemukanku~ hiks hiks hiks” ucap Jira.

Jaerin mendesah. Sahabatnya yang satu ini memang gampang tersesat. Lalu matanya menangkap sesuatu.

”Taemin, kenapa wajahmu merah begitu?” tanya Jaerin.

Jira melepaskan pelukannya.

”Iya Taemin wajahmu merah~” ucap Jira.

Taemin salah tingkah.

”Eh… Eh… Mung…. Mungkin karena panas. Kau tahukan ini musim panas~ jadi wajar saja mukaku merah. Ini karena panas.” ujarnya lalu memamerkan senyumnya.

”Wah kau kepanasa gara-gara mencariku~ aku merasa bersalah~” ucap Jira lalu memeluk Taemin lagi.

”Mianhae Taemin-ah~” ujar Jira.

Wajah Taemin semakin memerah.

Jaerin cekikan. Akhirnya ia tahu penyebab wajah Taemin merah yang sebenarnya.

”Sudah Jira jangan memeluknya~ dia bisa kepanasan.” cletuk Jaerin lalu tertawa.

”Sebaiknya kita cepat kembali ke rumah Taemin sebelum Taemin menjadi kepiting rebus~” lanjut Jaerin lalu tertawa lagi.

Jaerin dan Taemin hanya bisa mengernyitkan dahi mendengar penjelasan Jira. Dia salah naik bus, salah turun, salah arah, pokoknya bikin serba salah.

”Aku tidak menyangka mempunyai chingu pabo seperti kalian.” ujar Taemin.

Jaerin langsung melemparinya dengan bantal sofa.

”Kau sendiri juga namja paboya.” cletuk Jira.

”Mworago?” sahut Taemin.

Jira langsung menunjukkan sesuatu.

”Hya HPku~ kenapa bisa ada padamu?” tanya Taemin kemudian mengambil HPnya dari tangan Jira.

”Kemarin sepulang sekolah aku mendengar suara HP bergetar. Ternyata HPmu yang bergetar di loker mejamu. Jadi aku ambil saja. Kau sudah pulang. Toh keesokannya aku ke rumahmu.” Jawab Jira.

”Jincayo?” sahut Taemin.

Jira mengangguk.

”Gamsahamnida~” ucap Taemin.

”Taemin~ah!” teriak Jaerin.

Taemin menoleh dan sebuah bantal mengenai wajahnya.

”Kau juga namja paboya~” ujar Jaerin.

Taemin hendak membelas tapi Jira menghentikan.

”Sudah sebaiknya kita mulai mengerjakan tugas kita. Sudah tidak ada waktu lagi untuk bercanda. Atau semacamnya.”

“Tidak terasa sudah malam.” Ujar Jaerin lalu mendesah.

“Taemin, orang tuamu belum pulang juga ya?” tanya Jira tiba-tiba.

“Ye~ mereka masih di Amerika. Mungkin musim gugur mereka akan pulang.” Jawab Taemin.

“Jadi di rumah ini kau tinggal dengan pembantumu saja?” sahut Jaerin.

Taemin mengangguk.

“Oh ya Taemin, kau antarkan Jira yach.” Ucap Jaerin lalu beranjak dari tempat duduknya.

Taemin menunjuk dirinya.

“Aku?” sahutnya.

“Ye~ kau punya sepeda montorkan? Antarkan saja chingu ini~ aku takut dia tersesat lagi seperti tadi. Lagi pula ini sudah malam.” Ujar Jaerin lalu tersenyum.

“Lalu kau sendiri bagaimana?” tanya Jira mendongak ke Jaerin.

“Aku baik-baik saja~ aku sudah biasa keluar jam segini. Jika ada yang macam-macam tinggal ku tendang dengan tendangan andalanku.” Sahut Jaerin.

Ia berjalan mendekati Taemin.

“Jaga dia baik-baik. Jangan sampai wajahmu memerah lagi. Tidak ada alasan seperti itu lagi~ kan sudah malam.” Bisik Jaerin di telinga Taemin lalu tertawa.

“Jira aku dulu ya.” Ucap Jaerin melambai ke arah Jira kemudian melangkah pergi.

Setelah JAerin menghilang dari hadapan mereka berdua, Temin beranjak.

“Kau mau kemana?” tanya Jira.

“Mengantarkanmu pulnag.” Jawab Taemin.

 

*******

Jaerin turun dari bus yang ditumpanginya. Ia berjalan sembari melihat arlojinya. Sudah jam sembilan lewat. Ia mendesah dan berjalan lurus ke depan. Tempat tinggalnya 15 menit dari tempat ia turun tadi. Ia bersenandung untuk memecahkan keheningan. Ia tidak habis fikir jam segini daerah ini sangat sepi. Bisa di bilang ini terlalu aneh.

Saat di tikungan ia terhenti. Segerombolan namja berlari mendekatinya. Ia tidak dapat berpikir lagi. Kakinya terasa berat. Segerombolan namja itu semakin mendekat dan sesorang menarik tangannya. Jaerin hanya terdiam. Ia tidak tahu apa yang terjadi.

“Saat di keramain kita berpencar dan lepas jaket kita ini.” Ujar salah seorang namja.

Jaerin tidak dapat mencerna lagi apa yang mereka bicarakan.

Benar saat di keramaian mereka berpencar. Namja yang menarik tangan Jaerin membawa Jaerin ke taman kota yang ramai.

“Lepaskan jaketmu!” ujarnya.

“Mworago?” sahut Jaerin.

“Sudah lepasakan saja.” Ucapn namja itu sambil melepas jaketnya sendiri.

Akhirnya Jaerin menurut. Toh sesungguhnya ia kepanasan karena menggenakan kaos berlengan panjang dan jaket.

“Masukkan jaketku dan jaketmu di dalam tasmu.” Perintah namja itu sembari memberikan jaketnya.

Jaerin meraih jaket namja itu dan memasukkannya ke sling bagnya beserta jaketnya. Lalu ia menatap namja yang dihadapannya itu. namja itu sudah melepaskan topinya. Ia sepertinya mencari seseorang.

“Astaga dia kemari.” Ujar namja itu pelan.

“Mwo? Siap yang ke….”

Namja itu langsung menarik Jaerin, mengakat kepalah Jaerin dan mencium bibir Jaerin.

Satu detik… dua detik… tiga detik…

Dan beberapa saat kemuidan namja itu melepaskan ciumannya.

“Sepertinya mereka sudah pergi.” Cletuknya.

 

*******

 

Jira berjalan menujuh ke bangkunya. Ia duduk dan menoleh ke sekeliling.

“Kau kenapa?” tanya Taemin yang duduk di belakangnya.

“Jaerin~ kemana dia?” tanya Jira menoleh ke belakang.

Taemin mengangkat bahunya menandakan ia tidak tahu.

Jira melirik jam dinding yang berada di belakang kelas.

“Sepuluh menit pelajaran di mulai. Tidak biasanya ia belum tiba jam segini.” Ucap Jira.

“Coba kau sms saja.” Cletuk Taemin.

Jira mengangguk. Ia mengambil HPnya dan mengirim pesan ke Jaerin.

Jaerin, kau masuk sekolah bukan?

Kau sudah berangkatkan?

Beberapa menit kemudian…

“Taemin-ah, Jaerin tidak membalas smsku~” ucap Jira cemberut.

“Mungkin ia berada di jalan dan tidak sempat membalas sms mu.” Sahut Taemin.

“Aish~ sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Aku sms tidak di balas. Aku telpon tidak diangkat. Menyebalkan!!!” omel Jira.

“Sudah tenang~ kita ke sana saja sekarang. Mungkin dia sakit jadi tidak dapat membalas sms ataupun menngangkat telponmu.” Hibur Taemin.

“Jincayo? Ayo kita cepat kesana!” seru Jira.

 

*******

 

Jira langsung turun dari sepada montor Taemin begitu tiba di apertemen tempat Jaerin tinggal. Taemin membuka helmnya dan mendesah. Ia memarkinkan kendaraanya dan menguncinya.

Ia mencari-cari sosok Jira tapi tidak ketemu.

”Hya Taemin-ah, apa yang kau cari?” triak Jira dari lantai dua.

Taemin mendongak.

‘Pabo~ aku mencarimu tahu~’ batin Taemin.

”Cepat sekali kau ke sana~” Ujar Taemin.

”Ye~ pali~!!!” sahut Jira.

Taemin mendesah ia langsung berjalan menyusul Jira.

Jira mengetuk pintu apertemen Jaerin.

”Jaerin-ah~ ini aku Jira~ buka pintunya~.” ucap Jira.

Jira cemas. Tidak ada jawaban dari Jaerin.

”Eottoekkae Taeminssi~ sepertinya Jaerin benar-benar sakit.” ucap Jira cemas.

Taemin mendesah.

”Mengangkat telpon saja tidak bisa apalagi membuka pintu.” cletuk Taemin.

Jira menarik-narik seragam Taemin.

”Pokoknya aku gak mau tahu bagaimana caranya kita harus masuk!!!” rengek Jira.

Taemin mendesah sekali lagi.

”Baiklah akan aku dobrak pintunya.” ujar Taemin datar.

”Mworago???” sentak Jira dengan suara lantang.

”Itu malah membuatnya strezzz!!! Kau mau membetulkannya jika kau dobrak?” omel Jira.

Taemin menggaruk-garuk rambutnya.

”Kau sendiri yang meminta dengan cara apapun agar kita dapat masuk, kenapa malah marah?” ujar Taemin.

Jira malah mengomeli Taemin habis-habisan. Taemin pura-pura mendengar.

Merasa terganggu dengan suara bising yang di hasilkan mereka berdua. Seorang tetangga keluar dari apertemennya.

”Hya kalian berdua~” triak seorang yeoja.

Jira dan Taemin menoleh. Mereka mendapati seorang yeoja berusia sekitar 20 tahunan dengan penampilan yang sedikit lusuh.

”Kalian temannya Jaerin?” ujar yeoja itu.

Taemin dan Jira mengangguk.

”Masuklah~ dari beranda apertemenku kalian bisa masuk ke apertemennya.” ujar yeoja itu lagi.

”Ye~” ucap Taemin dan Jira bersamaan.

Mereka berjalan menujuh ke apertemen yeoja tersebut.

”Ayo masuk~ tidak perlu takut.” ucap yeoja itu lalu tersenyum.

Taemin dan Jirapun masuk kedalam apertemen.

“Jae irumun Choi Hyoah imnida.” Ujar si pemilik apertemen.

“Choi Jira imnida.” Ujar Jira.

“Lee Taemin imnida.” Ujar Taemin.

“Mianhae yach~ apertemenku sedikit berantakan.” Cletuk Hyoah.

“Tidak apa-apa onnie~.” Sahut Jira.

“Baiklah akan ku tunjukan jalannya. Ikuti aku!” ujar Hyoah lalu berjalan diikuti Taemin dan Jira.

Hyoah membuka pintu ke berandanya yang terbuat dari kaca. Lalu ia berjalan ke ujung. Melompati tembok setinggi satu meter.

“Taemin kau duluan.” Ujar Jira.

“Waeyo?” sahut Taemin.

“Sudahlah kau duluan~” omel Jira.

Taemin menurut begitu saja. Ia melompati tembok setinggi satu meter.

“Onnie pastikan Taemin tidak melihat kemari.” Ujar Jira lantang.

Hyoah tersenyum. Ia tahu kenapa Jira berkata seperti itu.

“Nah Taemin kau dengarkan apa yang dikatakan Jira~ sekarang kau harus menghadap ke sana memblekangi tembok.”

“Ye, nuna.” Jawab Taemin.

Ia berdiri membelakangi tembok.

Sementara itu Jira berusaha melompati tembok. Ia berhasil.

“huft ternyata aku bisa melompati ini~” ujar Jira menepuk-nepuk tembok yang tadi ia lompati.

“Hampir saja celana dalammu terlihat.” Cletuk Hyoah tersenyum.

“Mwo? Celana dalam?” sahut Taemin menoleh ke arah Jira.

“Kau tahu sendiri aku menggenakan rok~ pastinya susah untuk melompati tembok ini. Maka dari itu aku menyuruhmu duluan dan tidak melihat ke arahklu.” Ujar Jira.

Taemin hanya mengangguk mengerti.

Lalu Hyoah mencoba membuka pintu beranda yang terbuat dari kaca. Dan hasilnya berhasil. Pintu itu tidak di kunci.

“Ayo kita masuk!” ajak Hyoah.

Jira dan Taemin mengangguk lalu melangkah masuk.

Mereka mendapati apertemen Jaerin lebih berantakan daripada apertemen Hyoah.

“Sepertinya dia ada masalah serius.” Cletuk Hyoah.

“Bukannya sakit?” sahut Jira.

“Kurasa tidak. Jika dia sakit dia pasti menghubungiku, menyuruhku membelikan obat untuknya.” Ujar Hyoah.

“Menurutku apa yang dikatakan Hyoah nuna benar. Jika kita ada masalah, barang-barang di sekitar kita menjadi barang pelampiasan perasaan kita.” Cletuk Taemin.

“Astaga siapa itu di sofa?” Jira menunjuk ke arah sofa.

“Jaerin?” sahut Hyoah.

Ia langsung mendekati Jaerin.

“Jaerin kau tidak apa-apa?” tanya Hyoah.

Jaerin membuka matanya.

“Matamu bengkak. Kau habis menangis ya?” tanya Hyoah.

Jaerin langsung memeluk Hyoah.

“Onnie~ aku tidak percaya akan mengalami kejadian seperti itu~ aku tidak percaya onnie~” Jaerin mulai menangis.

Jira mendekati Jaerin.

“Jaerin-ah~ apa yang terjadi padamu?” tanya Jira.

Jaerin melepaskan pelukannya. Ia tertunduk.

“Apakah terjadi sesuatu saat kau pulang dari rumahku Jaerin?” tanya Taemin.

Jaerin diam sejenak. Kemudian ia mengangguk pelan.

“Apa itu? ceritakan pada kami.” Pintah Jira.

Jaerin malah menangis. Ia tak kuasa mencertitakannya.

“Ayolah Jaerin~ ceritakanlah apa yang kau alami~” pintah Jira sekali lagi.

Ia berlutut dan menggenggam tangan Jaerin.

“Kami akan membantumu. Ceritakanlah apa yang terjadi.” Ujar Jira.

Ia meneteskan air mata. Tidak sanggup melihat keadaan sahabatnya itu.

Jaerin menghela nafas. Kemudian ia mulai membuka mulutnya. Ia menceritakan kejadian yang ia alami.

Tangis Jira meledak.

“Sudah Jaerin tak perlu di tangisi lagi. Itu hanya masalah sepele.” Ujar Hyoah.

Jaerin menatap Hyoah.

“Kau inget dengan ciuman pertamaku dengan orang yang tidak aku cintai?” ujar Hyoah lagi.

Jaerin mengangguk.

“Orang itu seorang yeoja dan itu seratus persen murni kecelakaan.” Jelas Hyoah.

“JINCAYO!!!” sahut Jaerin.

Jira berhenti menangis, ia menatap Hyoah lekat lalu menangis lagi.

“Jira kenapa kau ikut-ikutan menangis?” tanya Taemin.

“Bagaimana aku tidak menangis, Jaerin kehilang firstkissnya dengan onamja yang tidak di kenalnya. Bagiku firstkiss itu sangat berharga. Jaerin juga menganggap seperti itu. hwa~” jawab Jira lalu menangis lagi.

Taemin hanya menggelengkan kepalahnya.

“Dia berusia berapa?” tanya Taemin ke Jaerin.

“Sekitar 18 tahunan.” Jawab Jaerin.

“Berarti dia masih sekolah. Kau ingat wajahnya?”

Jaerin mengangguk.

“Ohya Jaketnya ketinggalan. Sekarang masih di tasku.” Ujar Jaerin.

“Mana tasmu?” tanya Taemin.

Jaerin menunjuk ke salah satu sudut.

Taemin menoleh ke sudut yang di tunjuk Jaerin.

Ia melangkahkan kakinya dan mengambil tas milik Jaerin. Ia membuka tas itu dan menemukan jaket hitam yang dimaksud Jaerin. Ia memeriksa jaket itu.

“Jaket ini_”

“Waeyo?” sahut Jaerin.

 

*******

 

Choi Hyoah tergopoh-gopoh. Ia berlari menujuh kekampusnya.

“Pabo~ kenapa aku bisa lupa jika ada mata kuliah pagi ini.” Ucapnya.

Ia hampir tersandung, untung saja ia dapat menyembangi agar tidak terjatuh. Ia membuka pintu kelasnya. Ia menghela nafas panjang.

‘Ternyata dosennya belum datang.’ Batinnya.

Tapi dia seikit bingung. Teman-temannya keluar dari kelas satu demi satu.

“Hyoah kau tidak keluar?” tanya seorang yeoja.

“Waeyo?” sahut Hyoah.

“Hari ini dosen tidak hadir. Kita di beri tugas. Thu tugasnya di papan. Besok di kumpulkan.” Ujar yeoja itu lalu melangkah pergi.

Hyoah mengutuk dirinya sendiri.

‘Jika tahu begini aku tidak tergopoh-gopoh ke kampus. Tahu begini aku akan tidur di kasurku.’

Ia melangkahkan kakinya ke luar. Ia berjalan menujuh ke taman kampus. Ia duduk di bawah pohon besar. Hari ini matahari begitu terik. Ia mengusap keringatnya kemudian mengambil botol minum di tasnya.

Setelah itu ia menengok ke sekeliling. Ia menangkap sesosok namja yang ia kenal. Namja itu tersenyum manis. Tapi bukan untuknya. Melainkan untuk yeoja yang ada di sekitarnya. Namja itu memang pintar, maka dari itu banyak yeoja yang minta tolong bantuannya. Ia tidak percaya yeoja itu mendekati namja itu untuk tujuan itu.

Hyoah mendesah. Ia memutuskan mengeluarkan laptopnya dan mengerjakan tugas dari dosen. Tapi ia tidak dapat fokus. Selama namja itu masih tertangkap oleh kedua matanya, ia tidak dapat fokus mengerjakan tuagasnya. Hingga namja itu menghilang ia baru mengerjakan tugasnya dengan benar.

‘Entah sampai kapan aku harus seperti ini.’ Batinnya.

 

********

 

Taemin menguap untuk sekian kalinya.

Jira membalikkan badannya.

“Kau tidak tidur eh?” tanya Jira.

Taemin hanya diam.

Jira langsung mendecakkan lidah. Sekarang ia menatap Jaerin yang kembali normal seperti tidak terjadi apa-apa.

“Kau benar-benar baik saja Jaerin?” tanya Jira.

Jaerin mengangguk.

“Matamu tidak dapat membohongiku. Kau masih memikirkannya bukan?” tanya Jira.

Teeetttt teeetttt. Bel istirahat berbunyi.

Jaerin mendesah.

“Itu seperti mimpi buruk.” Ucapnya pelan.

“Mimpi buruk itu akan segera berakhir dengan berjalannya waktu.” Cletuk Taemin.

 

*******

 

“Kau berhasil lolos?” tanya seorang namja kepada namja yang sedang melamun.

Namja itu mengangguk.

“Tapi aku berhasil lolos berkat yeoja itu, Key.” Ucap namja itu pelan.

Namja bernama Key langsung duduk di samping namja itu.

“Yeoja itu?” tanya Key untuk meyakinkan.

Namja itu mengangguk.

“Kau tahu sendriri aku membawanya untuk menolongnya. Kasian saja dia. Jika dia bertemu mereka pasti yeoja itu tak terselamtkan.” Ucap namja itu lalu mendesah.

“Bagaima kau bisa lolos?” tanya Key.

Namja itu memandang Key.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Key lagi.

“Kau bersembunyi?” tanyanya sekali lagi.

Namja itu hanya diam.

“Ayolah katakan padaku.”

 

 

 

To Be continue….

 

 

 

 

Don’t forget comments~

I need your comments~ ^^

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

15 responses »

  1. annyeong. monik imnida 17yo *reader baru*hehe

    agak bingung soalnya pas di sikon a eh tiba tiba langsung ke sikon b tnpa tanda apa gtu hehe

    terus masi belum ngerti ceritanya *reader lemot* hehe

    lanjut ke part 2 deh. see there thor (?) ^^v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s