Lucifer (Jonghyun)

Standar

Inspiration from someone true story. When your love hurt your heart… is it love?

Cast: Jonghyun, Jaerin, Hyunkyo and friends

Genre: Love Story

PG: 15

lucifer

Jangam melihat matanya

Jangan melihat senyumnya

Jangan tersenyum kepadanya

Jangan dekat dengannya

Jangan menyukainya

Jangan jatuh cinta kepadanya

Seorang yeoja memandangi papan pengumuman daftar siswa baru. Kemudian seseorang menepuk pundaknya keras hingga ia tersentak kaget.

”Pasti kau mencari namanya.” cletuk sesorang yang menepuk pundaknya.

Yeoja itu mengangguk. Ia mengelus-elus dadanya ia bisa merasakan jantungnya berdenyut kencang karena terkejut.

”Jaerin~ sampai kapan kau menyukainya? Sudah lupakan saja dia. Dia tidak sekolah di sini.” cletuk orang berambut pendek itu menggibas-ngibaskan tangannya.

”Bagaimana bisa kau seyakin itu, Shin Hyunkyo?” cletuk yeoja berambut panjang.

”Yoon Chiyu.” cletuk Hyunkyo.

Jaerin mendesah.

”Aku tidak percaya. Coba aku SMS Chiyu dulu.”’ ucap Jaerin mengambil HP dari sakunya dan mengetik sesuatu.

”Sudahlah Jaerin~ kenapa kau masih mengharapkannya~ bukankah di sekolah ini sudah ada namja yang kau taksir?” ujar Hyunkyo.

”Namja itu lebih dari masalaluku. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Aku sudah melupakannya. Kenapa kau mengingatkanku lagi?” sahut Jaerin.

”Lalu dari mana kau tahu dia sekolah di sini?” lanjut Jaerin.

”Yoon Chiyu. Kau memutuskan masuk sini karena ada dia bukan? Meski sekolah ini jauh dari tempat tinggalmu.” sahut Hyunkyo.

HP Jaerin bergetar. Ada sms masuk ia membacanya.

Iya aku melihatnya kemarin di depan papan pengumuman. Aku tidak tahu dia masuk kelas berapa.

Oh ya kau sekelas dengan Hyunkyo?

Jaerin membalas.

Jadi dia sekolah di sana? =(

Tidak aku tidak sekelas dengan Halmeoni. Aku masuk kelas khusus, tidakkah kau ingat?

Jika ada kabar darinya tolong kabari aku, ahjumma tersayang ^^

”Bagaimana benar bukan?” cletuk Hyunkyo.

”Ye~ halmeoni benar.” sahut Jaerin.

”Ahjummamu jodoh dengannya ya.” ucap Hyunkyo.

Jaerin menjadi lesu.

”Halmeoni sudah jangan katakan itu lagi.” ucap Jaerin.

HP Jaerin bergetar lagi.

Sepertinya. Aku sering melihatnya.

Oh iya aku lupa ^^

Kau masih memanggilnya Halmeoni?

Iya~ keponakanku tersayang~ ^^

Jaerin membalas.

Tantu saja. Meski dia bukan Halmeoniku hubungan kita tetap seperti kelurga. Begitu juga denganmu ^^

”Kenapa kau tersenyum seperti itu?” cletuk Hyunkyo.

”Karena aku senang, setidaknya Halmeoni satu sekolah denganku.” ucap Jaerin.

”Kau tidak keberatankan aku memanggilmu Halmeoni?” lanjut Jaerin.

”Tidak apa-apa. Bukankah dari dulu seperti itu. Asalkan jangan Haraboji saja. Akukan yeoja, bukan namja.” cletuk Hyunkyo.

Lalu mereka tertawa.

Beberapa hari kemudian.

Jaerin melihat jam dinding kelasnya, beberapa menit lagi pulang. Jam pelajaran terakhir ia hanya mendapatkan tugas dari guru. Sang guru tidak dapat mengajar, ada urusan penting. Ia telah menyelesaikannya dan mengumpulkannya ke ketua kelas. Waktu luang yang ada ia gunakan mengingat masa itu. Masa saat bertemu dengan namja yang tidak lepas dari ingatannya.

FLASH BACK

Jaerin duduk di depan kelas sembari membaca buku. Buku yang ia baca bukan buku pelajaran, melainkan novel. Tidak ada pelajaran waktu itu. Awal-awal tahun ajaran baru memang begitu. Ia memandang ke depan, ke halaman tengah sekolah. Lomba masih berlangsung. Ia tidak tertarik menyaksikan. Tapi suara sorak sorai membuatnya penasaran. Ternyata ada kejadian yang tidak biasa baru saja terjadi. Matanya terdiam memandang seorang namja yang menggenakan jaket berwarna putih.

Namja itu tersenyum memandang ke tengah lapangan. Jaerin memperhatikan namja itu tanpa berkedip. Lalu namja itu menoleh ke arahnya. Jaerin langsung tertunduk menatap novel yang ada di pangkuannya. Sesekali ia menatap namja itu. Namja itu masih ada di tempat.

”Jaerin ayo ke kantin!” seru seseorang.

Jaerin mendongak ia melihat Hyunkyo, Chiyu,Hana,Sachi. Ia beranjak.

”Ayo~” cletuknya.

Sudah berhari-hari Jaerin mengamati namja itu. Ia ingin tahu siapa nama namja itu. Tapi tidak berhasil. Namja itu selalu menggenakan jaket. Ia tidak dapat melihat identitas/nama siswa.

”Ada yang aneh denganmu.” cletuk Chiyu.

”Iya. Kau akhir-akhir ini menjadi diam.” ucap Hana.

”Dan selalu bertengger di depan kelas.” cletuk Sachi.

”Bertengger? Kau pikir aku burung?” sahut Jaerin.

Chiyu, Hana dan Sachi tertawa.

”Kau lihat namja di sana.” ucap Jaerin memandang ke suatu arah.

”Yang mana?” cletuk Chiyu mencari namja yang di maksud Chiyu.

”Yang pakai jaket itu?” cletuk Hana.

”Kau menyukainya?” cletuk Sachi.

Jaerin mengangguk.

”Pantas saja kau betah duduk di sini.” cletuk Chiyu.

”Hai cucuku, hai keponakanku~” seru Hyunkyo yang baru datang.

Tidak satupun menghiraukannya.

”Aish~ kalian mengacuhkanku. Apa sich yang kalian lihat?” ucap Hyunkyu lalu menatap ke suatu arah.

”Oh~ ternyata kalian sedang membicarakan anak baru itu~” cletuk Hyunkyo.

Jaerin, Chiyu, Hana dan Sachi langsung menatap Hyunkyo.

FLASH BACK END

”Jaerin kau tidak pulang?” cletuk seseorang.

Jaerin tersadar. Ia melihat sekeliling, anak-anak meninggalkan kelas.

”Oh ya, aku akan pulang.” ucap Jaerin.

Orang itu meninggalkan Jaerin. Ia hanya menyadarkan Jaerin dari lamunannya.

Jaerin keluar kelas. Ia mencoba tersenyum. Lalu ia mengingat kejadian yang menyenangkan.

FLASH BACK

Jaerin berjalan ke kantin sendirian. Chingunya sudah berangkat duluan.

Deg~

Denyut jantungnya berpacu dengan cepat. Ia melihat namja itu berjalan meninggalkan kantin. Jaerin berusaha tenang. Mereka berpapasan. Setelah itu Jaerin tersenyum.

”Jaerin tadi aku melihatnya melintas barusan. Kau melihatnya tadi?” cletuk Hana yang melihat Jaerin berjalan mendekat.

”Sepertinya dia melihatnya. Lihat saja, dia tersenyum bahagia seperti itu.” sahut Chiyu.

Jaerin duduk di antara Hana dan Sachi, berhadapan hadapan dengan Chiyu.

”Kau seperti mendapatkan rejeki nomplok saja.” cletuk Sachi.

”Jangan-jangan kau mendapatkannya.” sahut Chiyu.

”Ya~ aku mendapatkannya~ akhirnya aku tahu siapa namanya.” ucap Jaerin.

”Siapa?” sahut Hana, Chiyu, Sachi bersamaan.

”Kim Jonghyun.” ucap Jaerin.

FLASH BACK END

”Hya~”

Jaerin tersentak kaget.

”Halmeoni!!!” sentak Jaerin.

Hyunkyo tertawa.

”Salah sendiri melamun.” cletuk Hyunkyo.

Jaerin cemberut.

”Pokoknya aku gak mau tau, Halmeoni harus membelikanku lolipop.” ucap Jaerin cemberut.

”Iya cucuku~” ucap Hyunkyo lalu tertawa.

”Aduh aku lupa mau bilang apa~” lanjut Hyunkyo.

”Berkali-kali kita bertemu kau pasti bilang begitu.” sahut Jaerin.

Hyunkyo berpikir keras, ia mencoba mengingat-ngingat.

Jaerin mendesah kemudian ia berhenti bernafas. Ia mencengkram tangan Hyunkyo yang ada di hadapannya.

”Di di di di di dia~ dia~ dia~” ucap Jaerin terbata-bata.

Hyunkyo memalingkan tubuhnya 90 derajat.

”Nah itu yang ingin aku katakan padamu.” cletuk Hyunkyo.

Jaerin mencengkram tangan Hyunkyo.

”Jonghyun~ sekolah di sini.” ucap Jaerin.

Ia tampak terkejut.

”Aku tahu kau terkejut. Tapi bisakah kau tidak mencengkramku.” ucap Hyunkyo kesakitan.

Jaerin melemparkan tasnya kemudian ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Ia memejamkan matanya.

‘Ia sudah berhari-hari satu sekolah denganku tapi aku tidak menyadarinya.’ batin Jaerin.

Tak seorangpun yang tahu bahwa Jaerin menyukai Jonghyun kecuali Hana, Chiyu, Sachi dan Hyunkyo. Tapi saat semester 2, sepertinya Jonghyun dan chingunya tahu.

Sejak Jaerin mengambil foto Jonghyun di mading, Jonghyun dan chingunya bersikap aneh. Padahal saat mengambil foto sekolah sepi karena hari itu hari libur.

Jaerin seringkali merasa Jonghyun menungguinya di tengah jalan. Saat di kantin, di kopisis bahkan saat ia ke toilet. Setelah dari kantin atau kopsis, Jonghyun pasti mengikutinya dari belakang atau jalan berjajar.

Jonghyun seringkali memberikan perhatian lebih kepada Jaerin.

FLASH BACK

Chiyu berdeham. Jaerin tertunduk ia mengerti mengapa chingunya itu berdeham. Karena Jonghyun tepat ada di sampingnya. Mereka berjalan bersama.

Chiyu, Hana dan Sachi berjalan cepat meninggalkan Jaerin. Jaerin ingin menyusul tapi ia mala terjatuh. Ia terdorong dari arah samping. Jonghyun terjatuh bersamanya. Jonghyunsegera bangkit dan membungkuk untuk minta maaf.

“Apa yang kau lakukan lihat aku terjatuh dan mengenainya. Jangan lakukan itu lagi.” Ucap Jonghyun berbisik kepada temannya.

Jaerin berdiri. Ia dapat mendengar apa yang di katakan Jonghyun.

Jonghyun menatap Jaerin dan membungkuk meminta maaf.

Jaerin langsung pergi begitu saja meninggalkan Jonghyun. Ia melangkah cepat ke arah kelas. Wajahnya merah.

FLASH BACK END

Jaerin memandangi layar HPnya. Tertera tulisan JH K dan sederet nomer. Beberapa detik kemudian ia mendesah.

‘Aku tidak berani mengiriminya pesan ataupun menghubunginya.’ Batin Jaerin.

Beberapa hari kemudian…

“Apa yang kau lihat?” tanya yeoja berambut panjang.

“Tidak ada.” Ucap Jaerin.

“Kau sedang memperhatikan namja itu ya.” Cletuk yeoja itu.

“Tidak kok Hyejin.” Elak Jaerin.

“Ku lihat akhir-akhir ini kau sering memperhatikan namja itu. Waktu SMP dulu kau juga begitu.” Ucap yeoja bernama Hyejin.

“Ehm…”

“Sudah mengaku saja.” Potong Hyejin.

“Iya aku memperhatikan namja itu. Aku menyukainya.” akuh Jaerin.

“Lupakan dia~ dia sudah mempunyai pacar.” Cletuk Hyejin.

“Mwo?” sahut Jaerin.

“Iya, pacarnya adik kelas kita dulu sekaligus tetanggaku.” Ucap Hyejin.

Jaerin terdiam tak percaya. Ia menatap namja yang sedari ia perhatikan. Namja itu sedang bergurau dengan chingunya.

“Jika kau tidak percaya lihat saju akunnya, statusnya pasti sudah berpacaran.” Cletuk Hyejin.

“Akunnya? Tunjukan padaku!” sahut Jaerin.

“Mana HPmu akan ku tunjukkan padamu.” Ucap Hyejin.

Dada Jaerin terasa sesak sekali. Ia menatap layar HPnya.

“Berpacaran dengan…” gumamnya.

Ia membuka akun namja bernama Kim Jonghyun. Ia terdiam begitu lama melihat status hubungannya. Lalu Jonghyun online, ia mengetik sesuatu di berandanya. Dengan cepat Jaerin memberi komentar, ia tak pernah seberani itu. Mungkin karena dunia maya. Karena ia ada di dunia maya ia dapat seberani itu. Tak berepa lama kemudian seseorang ikut mengomentari status Jonghyun. Orang itu tidak lain adalah pacar Jonghyun.

Sejak itu Jaerin akrab dengan Jonghyun dan pacarnya. Tapi itu berlangsung hanya di dunia maya. Di situs jejaring sosial saja. Antara suka dan duka. Ia berada di tengah-tengah hubungan orang lain. Sebelum dekat dengan pacarnya Jonghyun, Jaerin pernah di tanyai oleh yeoja yang membuatnya iri itu.

Apakah hubunganmu dengan Jonghyun?

Jaerin membalas

Teman.

Yeoja itu bertanya lagi.

Kau dekat dengannya?

Jaerin mulai mengerti. Yeoja itu curiga kepadanya.

Tidak~ aku hanya mengenalnya. Kami tidak pernah sekelas. Aku hanya seankatan dengannya. Oh ya kau adik kelasku dulu bukan?

Beberpa hari kemudian….

“Jaerin~ kau tahu~ Jonghyun putus dengannya.” Cletuk Hyejin tiba-tiba.

“Putus?” sahut Jaerin.

“Iya putus. Ia putus dengan tetanggaku. Katanya sich dia selingkuh dengan yeoja lain. Dia selingkuh di situs jejaring, pantas saja ketahuan. Dasar namja bodoh tak tahu diri.” Ucap Hyejin kesal.

Jaerin buru-buru mengecek akun Jonghyun. Status hubungannya sedang rumit. Itu tandanya dia belum-belum putus.

“Statusnya masih rumit tuh.” Cletuk Jaerin.

“Mungkin dia bingun memilih yeoja yang ingin di jadikan kekasihnya. Simpanannyakan banyak.” Sewot Hyejin.

Jaerin terdiam. Ia tidak mengira Jonghyun memiliki sifat seperti itu.

Pulang Sekolah

Jaerin pulang dengan lesuh. Ia tertudnduk.

“Hey!” seru Hyunkyo mencoba mengagetkan Jaerin tapi tidak berhasil.

“Kau kenapa?” tanya Hyunkyo.

Jaerin terdiam. Ia memandang ke dapan. Jonghyun baru saja melintas di hadapannya.

“Kau ada masalah dengan dia?” tanya Hyunkyo lagi.

Jaerin menarik nafas dengan berat.

“Kau seharusnya mengatakan perasaanmu kepadanya. Aku sering melihatnya memandangimu.” Cletuk Hyunkyo.

“Mwo? Memandangiku?” sahut Jaerin.

“Iya~ saat kau tak tahu dia ada di sekitarmu~ dia memperhatikanmu.” Ucap Hyunkyo.

“Dia sudah memiliki kekasih~ apakah kau tidak salah?” ucap Jaerin.

“Mungkin saja dia tidak mencintai kekasihnya saat itu. Tapi dia mencintaimu~ dia menyukaimu~ dia berpacaran dengan yeoja itu hanya demi status palsu. Mungkin saja bukan?” ucap Hyunkyo.

Dada Jaerin terasa sakit.

‘Apa mungkin dia mencintaiku? Apa dia putus dengan pacarnya karena aku?’ batin Jaerin.

“Oh ya apa hubungannya dengan kekasihnya baik-baik saja?” tanya Hyunkyo.

“Tidak~ mereka ada masalah. Ku dengar mereka sudah putus.” Ucap Jaerin.

“Bagus dong!!! Ini kesempatanmu untuk menyatakan cinta kepadanya.” Cletuk Hyunkyo.

“Mereka putus karena orang ketiga. Karena Jonghyun selingkuh.” Sahut Jaerin.

“Mwo?” sahut Hyunkyo.

“Selama ini aku berada di tengah-tengah mereka. Aku takut aku penyebab mereka putus.” Ucap Jaerin.

“Jangan berpikiran seperti itu. Mungkin saja mereka putus karena salah paham. Merekakan tidak satu sekolah lagi. Hubungan jarak jau memang seperti itu. Jangan menyalakan dirimu. Apa yang kau katakan dan apa yang ku katakan sebelumnya belum tentu benar.” Hibur Hyunkyo.

“Kalian ini sama-sama suka curi-curi pandang ya.” Cletuk Hyunkyo.

Jaerin menatap Hyunkyo yang baru keluar dari kelasnya.

“Kau tidak mengatakn perasaanmu kepadanya?” tanya Hyunkyo.

“Tidak~ hubunganku semakin buruk ketika ia putus. Ia jarang online.” Ucap Jaerin.

“Kau kanpunya nomornya, kenapa tidak SMS?” sahut Hyunkyo.

“Tidak berani~ aku takut ia mengetahui bahwa aku menyukainya. Lagi pula di situs jejaringku aku menggunakan nama samaran.” ucap Jaerin.

“Bukankah itu bagus? Tapi fotomu aslikan? Dia pasti mengenalimu.” sahut Hyunkyo.

“Kau gila!!! Aku tidak ingin dia tahu.” sentak Jaerin

“Jika dia tidak tahu, hubunganmu tidak ada perkembangan.” Ucap Hyunkyo.

“Sudahlah dia tidak penting lagi.” Ucap Jaerin.

“Kau menyerah?” sahut Hyunkyo.

Jaerin mengangguk.

“Kau tahu~ kalian itu berjodoh~ kenapa harus menutupi sich? Lagian jangan jaim jaim. Dia sudah tau kok kalu kamu suka sama dia.” Cletuk Hyunkyo.

Jaerin menatap Hyunkyo dalam.

“Dari mana kau tahu?” tanya Jaerin

“Tidak penting dari mana aku tahu. aku sudah mengetahuniya sejak smp dulu bahawa ia dan teman-temanya mengetahui bahwa kau menyukainya. kau masih ingat kejadian saat kau jatuh karenanya?” ucap Hyunkyo.

Jaerin mengangguk.

“Temannya sengaja menggodanya. Mereka tahu kau menyukai Jonghyun. Ia mendorong Jonghyun kepadamu. Tapi Jonghyun tidak berani bicara kepadamukan? Mungkin saja karena ia tahu kau menyukainya. ia tidak tahu harus berkata apa.” Ucap Hyunkyo.

Jaerin mengepalkan ke dua tangannya. Ia tidak percaya.

Seminggu kemudian…

“Hai~ itu dia.” Ucap HYunkyo memandang seseorang.

Jaerin yang duduk di depannya hanya terdiam.

“Ada apa denganmu? Biasanya kau tidak ketinggalan sedetikpun untuk memandangnya.” Ucap Hyunkyo.

Jaerin tidak menghiraukannya. Ia sibuk menikmati makananya.

“Apa ada masalah?” tanya Hyunkyo.

Jaerin meneguk air minumnya.

“Ya~” ucap Jaerin.

“Apa?” sahut Hyunkyo.

“Aku berusaha melupakannya.” Ucap Jaerin.

“Waeyo?” sahut Hyunkyo.

“Karena dia Lucifer.” Ucap Jaerin.

“Lucifer?” sahut Hyunkyo.

“Awalnya dia manis~ aku menyukainya~ tapi lama-lama ia menusuk dari belakang.” Ucap Jaerin.

“Aku tidak mengerti.” Ucap Hyunkyo.

“Dia sudah memuliki kekasih, tapi dia tetap berbagi rasa dengan yeoja lain. Perasaan yang tak seharusnya di bagi-bagi. Yeoja itu tahu dia memiliki kekasih, tapi yeoja itu tidak bisa lepas darinya. Dia memiliki bisikan maut yang membuat yeoja bertekuk lutut kepadanya. Ia mempunyai pandangan yang menakutkan. Karena pandangan itulah aku terjerat. Aku tidak bisa melupakannya. Dia sungguh kejam. Mencari korban dengan memberi kenikmatan. Pada akhirnya, ia menusuknya atu membuangnya.” Ucap Jaerin emosi.

“Apa dia melakukan sesuatu yang buruk padamau?” ucap Hyunkyo khawatir.

“Bukan padaku, tapi pada yeoja lain~ aku memperhatikannya. Ada Lucifer di dalam dirinya. Untung saja agamaku kuat,. Jika tidak mungkin aku terperangkap dalam dunianya.” Ucap Jaerin.

“Kau sungguh berlebihan Jaerin.” Ucap Hyunkyo.

“Karena kau belum merasakannya.” Sahut Jaerin

“Jadi dia melakukan sesuatu?” tanya Hyunkyo bingung.

Jaerin memejamkan matanya.

“Bisikannya, pandanganya, senyumnya itu memberkan cahaya kepadaku, membuatku bahagia~ tapi bisikannya, pandangnya, senyumnya juga membuatku terkekang. Semua ada di ingatanku dan tidak pernah lepas. Dia membuatku gila, tidakkah kau menyadarinya?” ucap Jaerin.

Hyunkyo menelan ludah.ia merasa ada benarnya. Sejak Jaerin menyukai Jonghyun, ia berubah. Jaerin menjadi orang lain tidak seperti Jaerin yang dulu.

“Jangan melihatnya.” Cletuk Jaerin ketika Hyunkyo hendak mentap Jonghyun.

“Dia akan tahu jika kita membicarkannya jika kau melihatnya.” Lanjut Jaerin.

“Dari mana kau tahu?” tanya Hyunkyo.

“Dari mana kau tahu dia tahu tentang perasaanku waktu itu~” ucap Jaerin lalu lanjut menyantab makanananya.

Hyunkyo terdiam ia mulai mengerti. Lalu ia mencoba berpikiran jernih. Lalu ia menyadari apa yang dikatakan Jaerin benar.

FLASH BACK

“Dia tahu jika di bicarakan. Waktu itu aku membicaraknnya. Jarakku dengannya kira-kira 2 kelaslah. Lalu aku memandangnya, dia tiba-tiba menatapku dan berkata ‘Ada apa membicarakanku?’ Aku terkejut mendengarnya.” Ucap yeoja berambut pendek.

“Kau juga harus hati-hati dengannya. Ada sesuatu yang lain darinya. Semoga kau tidak terjerumus lebih dalam.” Lanjutnya.

FLASH BACK END

“Jaerin~ aku percaya dia Lucifer. Tapi apakah tidak apa-apa kita memanggilnya Lucifer. Dia lebih baik dipanggil playboy.” Ucap Hyunkyo.

“Tidak.” Sahut Jaerin.

“Mengapa tidak? Bukankah dia mempermainkan yeoja?” tanya Hyunkyo.

“Dia lebih dari itu~ dia memiliki kekuatan yang kukatakan tadi. Dia bis menghipnotis~ dia Lucifer~” sahut Jaerin.

“Jika dia Lucifer, menghipnotismu~ bagaimana kau bisa sadar?” cletuk Hyunkyo.

“Kan sudah aku bilang agamaku kuat. Lagi pula aku sering mematahkan hipnotis. Bukankah aku pernah mencertakan padamu~ aku pernah keluar dari hipnotisan orang lain. Aku pernah hilang ingatan karena hipnotisku sendiri, dan aku bisa memecahkannya dan mengingat siapa diriku lagi.” Ucap Jaerin.

“Kau sungguh yeoja yang hebat.” Ucap Hyunkyo.

Jaerin hanya diam tidak berkomentar. Ia meneguk habis minumannya. Beberpa meter dari Jaerin dan Hyunkyo, Jonghyun duduk memperhatikan.

“Siapa mereka?” tanya namja yang duduk di sebelah Jonghyun.

“Teman satu sekolahku dulu.” Jawab Jonghyun.

“Kau kenal baik dengannya?”

“Tidak. Aku tidak pernah bicara kepada mereka.”

“Waeyo?”

“Salah satu dari mereka menyukaiku.”

“Kau tidak suka kepadanya? Kau merasa terganggu?”

Jonghyun tersenyum.

“Tidak~ dia berbeda.” Ucap Jonghyun.

“Berbeda? Yeoja yang menyukaimu yang mana?” tanya teman Jonghyun itu.

“Yang rambutnya panjang.” Ucap Jonghyun.

“Apa yang beda?”

“Sesuatu yang belum aku lihat sebelumnya.”

“Dari cara bicaramu sepertinya kau menyukainya.”

Jonghyun tersenyum untuk kesekian kali.

“Meski aku menyukainya aku tidak dapat memilikinya. Aku tidak bisa dekat dengannya. Aku hanya dapat melihatnya dari jauh.” Ucap Jonghyun.

“Dia sudah memiliki kekasih?”

Jonghyun menggeleng.

“Aku tidak pantas untuknya. Aku takut menyakitinya. Selama ini aku hanya berani memandangnya. Aku tidak bernani berbicara langsung kepadanya. Aku takut apa yang ku katakan padanya menyakitinya. Meski itu hanya kata maaf. Biarlah kami sama-sama menderita karena perasaan kami berdua. Karena ini demi kebaikan kami juga. Tidak sepantasnya kami bersama. Kami tidak di izinkan untuk bersama.” Terang Jonghyun.

“Kata-katamu berat sekali. Apa tidak dapat di sederhanakan?”

“Kami tidak boleh bersama, kami tidak boleh mencintai, itu terlarang. Intinya cintaku dan darinya adalah cinta terlarang.”

“Cinta terlarang? Bagaimana bisa?”

“Kau ingat tentang sejarah, cerita…”

“Stop~ aku tahu. pasti ada hubungannya dengan leluhurmu. Sebaiknya jangan cerita kepadaku. Aku tidak ingin terlibat terlalu dalam. Itu sebuah rahasia. Rahasiamu. Jangan libatkan aku, Jonghyun.”

Jonghyun tersenyum melihat temannya ketakutan dan tidak mau mendengarkannya. Ia menatap kedua tangannya.

“Lucifer” gumamnya.

Cinta membuat orang bahagia

Cinta membuat orang terluka

Cinta membuatku untuk berbohong

Cinta membuatku menyakiti dia

Cinta membuatku menyakiti diriku

Cintaku membunuhku

Cintaku tidak boleh menguasaiku

Aku tidak ingin mati karena cinta

Tidak apa-apa aku terluka

Asalkan aku dapat hidup dan melihatnya

Aku ingin melihatnya di sini

Aku tidak ingin melihatnya di sana

Aku tidak ingin melihatnya dari tempat yang buruk itu

Karena dia tidak mungkin ada di sana

Cinta kau bukan cintaku

Cinta aku tidak memiliki hati

Cinta pergi dariku

Cinta biarkan hidup

Cinta ambil nafasku, jangan nyawaku

Cinta biarkan aku melihat cinta meski tidak dapat merasakannya

END

Gimana menurut kalian?

Komentar dong!

Soal karakter-karakternya gimana?

Mohon bantuannya~ *bow sembilan puluh derajat*

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

38 responses »

  1. eon, aku mau bilang aku bingung sama pov di bagian awal-awal cerita terus sama alurnya yg bikin bingung juga ~ padahal ceritanya bagus ^^ hehe itu pendapat aku eon jangan marah ya ^^v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s