Sarang Bi (Final Chapter)

Standar

Let’s meet when Rain~ Rain~ Rain~

Cast: Donghae, Hangeng, Jaerin, Jihee, Hyekyu

Genre: Tragedy, Romantic

PG: 15

Please don’t be silent reader

Komentar ya ^^

  

Malam hari

Aku masih memikirkan apa yang dikatakan Jihee. Apa benar Donghae selingkuh? Memang akhir-akhir ini ia terlihat aneh. Dia sering melupakan janjiku. Dia memetingkan pekerjaannya. Apakah dia benar-benar banyak pekerjaan?

HPku berbunyi. Ada MMS masuk dari Hyekyu. Aku segera membukanya. Dan aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Seakan-akan waktu berhenti dan semuanya berputar. Aku tidak dapat berpikir jernih. Setetes demi tetes air yang keluar dari kedua mataku membasahi kedua pipiku.

Keesokan harinya

Donghae POV

Aku ingin mengunjunginya sebelum aku bekerja. Aku memasuki toko di mana ia berkeja. Tapi aku tidak melihatnya. Aku hanya melihat chingunya Hyekyu.

”Hyekyu, Jaerin kemana?” tanyaku.

Tapi tidak ada respon darinya.

”Hyekyu, kau dengar aku?” tanyaku sekali lagi.

Yeoja itu tidak mempedulikanku. Ia berjalan masuk kedalam suatu ruangan.

”Doanghae, Jaerin tidak masuk kerja hari ini.” sahut sebuah suara.

Aku melnoleh ke asal muasal suara. Ternyata ahjumma pemilik toko.

”Apakah dia sakit?” tanyaku.

”Aku tidak tahu. Mungkin ia sedang bekerja di apertemennya.” ucapnya.

”Oh~” ucapku.

”Lihat saja ke apertemenya.” ujarnya.

Aku mengangguk.

”Tolong seikat bunga Krisan putih.” ujarku kepada pemilik toko.

”Untuk Jaerinkah?” tanyanya sembari mengambil bunga Krisan putih.

”Tentu ia sangat menyukai bunga Krisan.” ucapku.

”Kau tidak memberika mawar merah untuknya?” cletuk pemilik toko.

”Tidak. Aku tidak tahu apa ia suka bunga itu. Aku tidak ingin memberikan sesuatu yang tidak ia sukai.” ucapku.

Sekarang aku sudah berada di depan pintu apertemennya. Ku harap ia ada. Aku mengambil nafas dan menekan bell apertemennya.

Sudah 5 menit aku berdiri. Sudah 5 kali aku menekan bell apertemennya. Tapi tidak ada jawaban darinya.

Aku menghubunginya, HPnya tidak aktif. Sepertinya ia sibuk. Aku mendesah. Padahal aku ingin bertemu dengannya dan memberikan bunga untuknya.

Aku melangkah pergi dari apertemennya. Aku masuk dalam mobil dan melemparkan seikat bunga krisan ke bangku belakang.

Sekarang aku harus bekerja. Aku harus fokus.

Aku melihatnya duduk sendiri. Aku keluar dari mobil.

”Kau sudah lama menungguku.” ucapku.

Yeoja itu menggeleng. Aku mengulurkan tanganku.

”Ayo kita berangkat.”

Ia menerima uluran tanganku. Aku bisa merasakan tangannya yang dingin. Aku yakin dia sudah lama menungguku. Tak seharusnya aku mampir menemui Jaerin. Seharusnya aku menemuinya langsung. Toh pada akhirnya aku tidak dapat bertemu dengan Jaerin.

Aku membukakan pintu untuknya. Ia masuk ke dalam mobilku. Aku bergegas masuk ke dalam mobil lalu aku melajukan mobilku.

”Kenapa kau mengenakan pakaian itu lagi?” tanyaku.

”Aku suka. Aku suka pemberianmu. Kau mengerti apa yang aku suka.” ucapnya memandang pakaiannya.

Aku memang memberikan itu semua. Penutup kepalah, syal, baju rajutan itu kepadanya. Tapi aku melupakan sesuatu, sarung tangan. Aku tidak memberikan kepadanya. Memang waktu itu tidak ada sarung tangan berwarnah merah muda tapi biru muda, warna kesukaan Jaerin.

”Ini untukku?” tanyanya tiba-tiba.

Aku meliriknya. Ia mengenggam seikat bunga Krisan. Kapan ia mengetahuinya? Kepan ia mengambilnya?

”Ehm, ya.” ucapku.

Aku tidak ingin mengatakan bahwa bunga itu bukan untuknya, tapi untuk Jaerin. Aku tidak ingin melukai hatinya.

”Terima kasih. Tapi aku lebih suka bunga Lily.” ucapnya.

Aku hanya diam.

”Kemana kita pergi?” tanyanya memecahkan keheningan.

”Wonderland.” ucapku singkat.

Jaerin POV

Aku duduk sambil membaca pesan dari Hyekyu. Ia mengatakan Donghae mencariku di toko dan membeli bunga krisan untukku. Aku menghela nafas panjang. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku belum sanggup.

Aku mengganti nomorku untuk menjauh darinya. Hanya Hyekyu dan Jihee yang mengetahui nomer ini.

Ku tatap layar ponselku. Penuh dengan SMS dari Hyekyu. Aku membacanya lagi.

Dia bilang dia tidak ingin memberikan sesuatu  untukmu yang tidak kau sukai

Pesan itu terngiang-ngiang di otakku. Jadi benar, Donghae selingkuh. Perkataan Jihee benar. Ia membeli pakaian berwana merah muda bukanlah untukku. Tapi untuk yeoja lain yang kini mengisi hidupnya.

Air mataku kembali menetes.

Aku membuka MMS dari Hyekyu kemarin. Gambar itu menyayat hatiku. Gambar itu juga yang menguak keraguanku selama ini. Ternyata Donghae menduakanku.

Tangisku pecah.

”Jaerin kenapa kau menangis?” tanya sebuah suara.

Aku mendongak ternyata Jihee dengan Hangeng.

Jihee duduk di sebelahku.

”Apa ada masalah?” tanya Jihee.

Aku tertunduk.

”Jihee kau benar.” ucapku terisak.

”Apa maksudmu?” tanya Jihee tidak mengerti apa maksudku.

”Donghae~ Donghae selingkuh Jihee~” ucapku terisak.

”Jinca?” sontaknya terkejut.

Aku menunjukkan foto Donghae dan yeoja lain.

”Ini dari Hyekyu?” tanya Jihee.

Aku mengangguk.

”Hyekyu juga menatakan padaku Donghae selingkuh. Ia bertanya padaku apakah dia harus mengatakan padamu. Tapi aku tidak menjawabnya, aku tak tahu harus menjawab apa.” ucap Jihee.

”Sekarang katakan padaku. Pakaian itukah yang kau lihat?” ucapku.

”Maksudmu?”

”Kau melihat Donghae membelikan pakaian yang dikenakan yeoka itu bukan?” tekanku.

Jihee terdiam lalu mengangguk pelan. Aku kembali menangis. Ia memelukku dan menghiburku.

”Jihee bukankah itu namja yang waktu itu.” cletuk Hangeng.

”Namja yang mana?” tanya Jihee.

”Yang kau bilang namjachingu Jaerin.” ucap Hangeng.

”Mana?” sontak Jihee.

Hangeng menunjuk suatu arah. Jihee melihat ke arah yang di tunjuk Hangeng. Jihee terdiam.

Aku melihat raut muka Jihee dan Hangeng. Aku tidak suka ekspresi itu, aku yakin apa yang mereka lihat mengecewakan. Aku tidak ingin melihat. Tapi hasyratku mengatakan agar aku melihatnya.

Aku… Aku tak percaya. Donghae bersama yeoja itu lagi. Yeoja itu menggenakan pakain yang sama. Mereka bergandengan tangan mesra. Dan yeoja itu membawa bunga krisan. Bukankah bunga itu untukku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan berlari menjauh. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak ingin melihat itu lagi.

Donghae POV

Rasanya berbeda sekali mengenggam tangannya. Rasanya dingin. Dan rasa itu tetap terasa meski aku mengenggamnya erat. Dan bunga itu. Kenapa ia membawanya. Bukannya ia tidak suka dengan bunga itu? Sepertinya ia menyukai apa yang aku suka meski dia tidak menyukainya.

”Kita kemana dulu?” tanyanya.

”Kau ingin kemana?” tanyaku.

”Apakah di sini ada tempat duduk dekat kolam? Aku ingin duduk dan memandang kolam.” ucapnya.

”Ada. Di kolam itu juga ada bunga lily kesukaanmu.” ucapku.

”Aku tahu itu.” ucapnya.

Jika dia tahu, kenapa ia bertanya? Ia sengaja bersikap seperti itu? Ia manja kepadaku.

Kami berjalan ke arah kolam. Langkahku terhenti melihat yeoja yang menatapku dari bangku kolam. Yeoja itu berlinang air mata. Matanya merah, wajahnya lusuh. Aku tidak sanggup melihat wajah itu. Sungguh aku tak sanggup. Lalu yeoja itu berlari pergi, menghilang dari penglihatanku. Aku ingin mengejarnya. Tapi tidak bisa. Aku tidak bisa. Kakiku seperti mati rasa.

”Donghae~ Donghae~” panggil sesorang.

Aku tersadar. Yeoja yang ada di sampingku itu memanggil namaku.

”Kau tidak apa-apa?” tanyanya.

”Aku baik-baik saja.” ucapku berbohong.

Aku tidak baik-baik saja. Sepertinya sesuatu yang tajam menusuk tepat di jantungku.

”Ayo kita berjalan!” ajaknya.

Aku melangkahkan kaki. Rasanya sangat berat. Aku tidak melihat Jihee. Sepertinya dia mengjar Jaerin tadi.

Seorang namja mendekatiku. Aku tidak mengenalnya. Tapi dia bersama Jihee dan Jaerin tadi.

”Kau Donghae? Lee Donghae?” tanyanya dengan ekspresi jijik kepadaku.

”Ya, aku Lee Donghae.” ucapku.

Dan bruk….

Ia memukulku hingga jatuh tersungkur. Ia menarik pakaianku dan memukulku sekali lagi.

”Stop apa yang kau lakukan!!!” triak yeoja yang bersamaku kepada namja itu

”Aku memberinya pelajaran.” ucap namja itu lalu memukulku lagi.

”Kenapa?” tanya yeoja itu penasaran. Dia ketakutan.

”Tanyakan saja padanya.” sentak namja itu lalu pergi.

Sorenya

Aku menatap yeoja itu. Dia sedih melihatku seperti ini. ”Kenapa kau tidak menjelaskan kepadaku siapa dia? Kenapa dia memukulmu?”

”Aku tidak tahu.” ucapku.

”Lalu kenapa ia tahu namamu? Pasti dia mengenalmu.” cletuknya.

Aku mencoba bernafas, rasanya sangat berat.

”Kau tidak usah memikirkannya. Aku tidak apa-apa.” ucapku.

Dia memandangku.

”Aku pergi dulu. Annyeong~” ucapku lalu beranjak pergi meninggalkannya.

”Apakah ini semua gara-gara aku?” cletuknya tiba-tiba.

Aku berhenti melangkah.

”Apakah benar kau masih mempunyai yeojachingu?” cletuknya lagi.

Aku meneteskan air mata. Aku tidak ingin ia melihatku saat ini.

”Tidak. Ini bukan karenamu. Kau tidak melakukan sesuatu yang membuatku seperti ini.” ucapku datar tanpa berpaling kepadanya.

Aku kembali melangkah dan masuk ke dalam mobil. Aku menangis. Ini bukan salahnya. Tapi ini salahku. Aku melakukan sesuatu yang membuatku jadi seperti ini.

Seminggu kemudian

Sudah seminggu aku tidak bertemu dengnnya. Aku tak tahu dimana dirinya saat ini.

”Kau tidak akan menemuinya di sini. Dia tidak tinggal di sini lagi.” ucap sebuah suara.

Aku melirik ke asal muasal suara. Dan aku mendapati namja yang memukulku saat itu.

”Di mana dia?” tanyaku.

”Untuk apa aku mengatakan kepadamu.” ucapnya ketus.

”Aku ingin mejelaskan sesuatu padanya.” ucapku.

”Apa lagi yang ingin kau jelaskan padanya? Jelas-jelas kau selingkuh.” ucap namja itu.

”Aku tidak melakukan itu karena keinginanku.” ucapku.

”Lalu?”

”Aku melakukan ini untuk balas budi kepada kakaknya.”

Ia menatapku.

”Apa maksudmu.” tanyanya.

Jaerin POV

Jihee mengirimku SMS. Ia ingin bertemu denganku di taman. Sebenarnya aku tidak ingin ke tempat itu. Tempat itu mengingatkanku akan dirinya. Tapi ia memaksa. Katanya ia ingin memberikan sesuatu untukku.

Dengan ogah-ogahan aku pergi. Udara semakin dingin. Aku terpaksa melakukan ini karena ia tak tahu di mana aku tinggal. Aku hanya mengatakan aku tinggal di incheon. Tempat tinggalku saat ini sangat jauh dari taman itu. Taman itu dekat dengan tempat tinggalku dulu.

Aku sudah berada di taman. Aku melihat sekeliling. Tidak ada Jihee. Aku belum melihatnya.

”Jaerin.” panggil sesorang.

Aku menoleh ke belakang. Ke arah asal muasal suara itu.

Aku melihat sesok namja. Aku tidak ingin melihatnya lagi.

Ia berjalan mendekatiku.

”Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

”Aku baik-baik saja.” ucapku.

”Aku ingin menjelaskan sesuatu kepadamu.” ucapnya.

Aku membuang muka. Sepertinya Jihee bersekongkol dengan Donghae.

”Jaerin sebenarnya aku…”

”Aku tahu. Kau memiliki yeoja lain yang lebih baik dariku.” potongku.

”Bu.. Bukan…”

”Oh aku tahu. Kau menemukan belahan hatimu bukan?” potongku lagi.

”Jaerin~” ucapnya.

Aku tidak ingin mendengarkannya lagi.

”Aku tahu maksudmu menemuiku. Kau ingin mengakhiri hubungan ini bukan? Hubangan kita sudah menggantung selama berhari-hari. Sudah seminggukah?” cletukku.

Air itu menetes lagi membasahi pipiku. Aku mengusapnya.

”Apakah kau tidak mencintaiku lagi?” tanya Donghae.

”Ani~ aku tidak mencintaimu lagi. Kau hanya membuatku terluka. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Aku ingin melupakanmu. Bisakah kau pergi dari kehidupanku? Aku tidak bisa hidup bahagia jika kau masih membayang-membayangiku.” ucapku.

”Jadi kau benar-benar ingin mengakhiri hubungan ini?” tanyanya kepadku.

”Ya.” ucapku tanpa keraguan.

”Baiklah, aku akan melepaskanmu.” ucap Donghae lalu menghela nafas panjang.

”Mulai detik ini kita tidak ada hubungan lagi. Aku melepaskanmu. Carilah kebahagianmu.” lanjutnya.

Aku berbalik dan melangkah pergi.

Donghae POV

”Jaerin~” panggilku.

Ia menghentikkan langkahnya. Ia tidak memalingkan wajah kepadaku. Sepertinya ia benar-benar tidak ingin melihat wajahku.

”Berjanjilah~ berjanjilah kau akan tersenyum. Berjanjilah kau akan bahagia.” ucapku mungkin untuk terakhir kalinya.

Hanya itu yang bisa aku sampaikan.

Ia mengangguk pelan. Ia beranjak pergi menjauh dariku. Hatiku pecah berkeping-keping. Bukan itu yang aku inginkan. Tapi jika itu keinginanmu itu tak masalah. Asalkan dia bahagia.

saranghaesseotdeon otteoniga tteonagan jeok itgetjyo modeun ge nae tasiran saenggagi deun jeok itgetjyo na gaeuraeseo japji mothaetjyo 

(I’m sure you’ve had someone that you loved leave you You might have thought it was all my fault That’s why I couldn’t hold onto you)

ireon apeumjjeumeun modu ijeul su isseul geora dareun sarangi chaja ol geora saenggakhaesseotjyo wae geureonde itjil mothaetjyo? 

(I thought that I could forget small pains like this and that another love would come and find me why I can’t forget about you?)

Sekujur tubuhku mati rasa. Aku mendongak menatap langit. Aku menitikkan air mata.

‘Jaerin~ apakah kau benar-benar tidak mencintaku lagi?’

Aku merasa kedinginan. Udara semakin dingin.

‘Tuhan, aku berharap dia kembali lagi padaku. Aku berharap ia masih mencintaiku. Hanya itu harapanku saat ini ya Tuhan. Aku sangat mencintainya. Aku ingin menjelaskan kepadanya bahwa dia satu-satunya yeoja yang ada di hatiku. Yeoja yang waktu itu bukan siapa-siapa. Aku hanya berpura-pura pacaran dengannya. Aku berhutang budi dengan oppanya. Sebagai balasan oppanya menyuruhku untuk menjadi kekasihnya. Yeoja itu sangat menyukaiku. Oppanya ingin adik satu-satunya itu mendapatkan kebahagian yang di inginkan sebelum meninggal. Aku tidak dapat menolak. Lagi pula aku merasa iba kepada yeoja itu. Ia terkena kanker otak.’ tangisku semakin pecah. Aku memejamkan mataku.

‘Tuhan tololnglah aku…’

geujeo haneul barabomyeo oechijyo dasi hanbeon nareul saranghaejwo nae mamsok jageun baraemi biga doeeo naeryeoomyeon 

(I just look up at the sky and cry out please love me again If only this small wish in my heart would turn into rain and fall from the sky)

nae sarangi meorie naerimyeon chueogi doesara nago gaseume naerimyeon sojunghaetdeon sarangi tteooreugo 

(If my love comes into your head the memories comes alive again If my love comes into your heart I’m reminded of our precious love)

nae sarangi ipsure daheumyeon neol saranghae naege oechimyeo biga naerineun gue gireul ttara geotdaga geotdaga geotda bomyeon baradeon naega neol gidaryeo

(If my love touches your lips you cry out to me that you love me following the rainy street… As you walk, walk, walk you will see the me that you were waiting for)

mideumiraneun yeolsoero saranguiran sangjal yeoreo sarangiran gidoreul jeonhaneun jeonhwareul georeo nae mami neol chatji mothaedo

(With the key called trust I open the box called love I call to send a prayer called love Even if my heart can’t find you)

geujeo haneul barabomyeo oechijyo dasi hanbeon nareul saranghaejwo nae mamsok jageun baraemi biga doeeo naeryeoomyeon

(I just look up at the sky and cry out please love me again If only this small wish in my heart would turn into rain and fall from the sky)

nae sarangi meorie naerimyeon chueogi doesara nago gaseume naerimyeon sojunghaetdeon sarangi tteooreugo

(If my love comes into your head the memories comes alive again If my love comes into your heart I’m reminded of our precious love)

nae sarangi ipsure daheumyeon neol saranghae naege oechimyeo biga naerineun gue gireul ttara geotdaga geotdaga geotda bomyeon baradeon naega neol gidaryeo

(If my love touches your lips you cry out to me that you love me following the rainy street… As you walk, walk, walk you will see the me that you were waiting for)

doraga geuttaero nae sarme dan hanbeon gidohaetdeon daero ireoke oechimyeon sarangbiga naeryeowa

(Go back to that time as I prayed for just once in my life if I cry out like this the rain of love will come down)

neoui sarangi naui nune naerimyeon nae aphae niga seoitgo nae gwie naerimyeon nega dasi sarangeul soksagigo

(If your love rains down on my eyes you are standing in front of me if your love rains down on my ears you are whispering sweet nothings again)

neol saranghae nae pume aneumyeon tto dasi haengbokhaejimyeo haega bichuneun gue gireul ttara gachi tto geotdaga gotda bomyeon baradeon uriga seo isseo

(I love you, if I held you in my arms again if I were to be happy again I would follow that sunny road… walking and walking together we will see the us that we’ve been hoping for)

naege dasi oraneun gido hanbeon deo 

(Praying for you to come back to me… Once again…)

Jaerin POV

Aku berhenti melangkah. Aku mendongak ke atas. Sesuatu jatuh mengenai bibirku. Salju~ salju turun. Aku terisak. Aku tertunduk. Aku menangis. Aku teringat masa-masa bersama Donghae. Kami selalu berjanji bertemu saat hujan turun atau salju turun. Kami selalu menghabiskan waktu untuk menunggu salju pertama turun. Masa-masa saat itu tak terlupakan. Masa saat itu sangatlah berarti untukku.

Aku memalingkan tubuhku dan berjalan. Semakin lama semakin cepat. Aku masih melihatnya berdiri di situ.

Aku berjalan mendekatinya. Aku berdiri tepat dihadapannya dengan berlinang air mata.

Ia menurunkan kepalahnya. Ia menatapku. Aku dapat melihat matanya yang berlinang air mata. Ia mengangkat tangannya lalu mengusap air mataku. Tangannya dingin.

”Saranghae~” ucapnya.

Aku langsung memeluknya. Aku menangis dipelukannya. Ia memelukku erat.

”Kau pasti masih mencintaiku bukan?” ucapnya.

”Bagaimana kau tahu?” tanyaku di dalam pelukannya.

”Karena aku dapat merasakannya.” ucapnya pelan.

” Degup jantungmu mengatakan kau sangat-sangat mencintaiku. Kau ingin melihatku lagi. Kau tidak ingin melupakanku. Kau tidak bisa hidup bahagia tanpaku.” lanjutnya.

Ia melepaskan pelukan. Ia menatapku dan menjelaskan semua.

Aku terharu. Ternyata dia tidak bermaksud menyakitiku. Ia ingin membalas budi. Apa yang ia lakukan sungguh berjasa. Aku berharap yeoja itu bisa hidup tenang di sana. Terima kasih karena kau telah menyukai Donghae. Terima kasih karena kau berdoa untuk kami. Berdoa agar kami bahagia.

Beberapa bulan kemudian

Jihee sudah menikah sebulan yang lalu. Sedangkan Hyekyu sudah mendapatkan namjachingu.  Namjachingunya itu merupakan pelanggannya. Sekarang aku menujuh ke suatu tempat bersama Donghae. Dia tidak menjelaskan kemana. Bahkan ia menutup mataku dari awal perjalanan dengan kain.

”Kita sudah sampai.” ucapnya.

”Aku boleh melepaskan kain ini?” sahutku.

”Aniyo.” sahutnya.

Ia menuntunku turun dari mobil dan berjalan ke suatu tempat. Lalu ia melepaskanku.

”Aku boleh melepaskan ini?” tanyaku menyentuh kain yang menutup mataku.

”Nanti ikatan itu akan terlepas dan aku boleh membuka matamu.” ucapnya.

Hah terlepas? Apakah ada yang melepaskannya. Aku semakin tidak mengerti.

Lalu kain itu terlepas. Aku melihatnya berdiri di hadapanku.

Kemudian ia bernyanyi. Saat bait lagu

Orae juhnbutuh nuhreul wihae junbihan Nae sone bitnaneun banjireul badajwuh (Ia membuka sebuah kotak kecil berwarna putih, itu cincin)

Oneulgwa gateun maeumeuro jigeumui yaksok giuhkhalge (Ia berlutut di hadapanku)

”Would you marry me?” ucapnya meraih tangan kananku.

Seketika itu bunga-bunga berguguran. Bunga sakura berguguran. Hujan bunga. Mataku berkaca-kaca.

”I do~” ucapku kepadanya.

Beberapa orang bersorak. Ternyata di belakanku ada wajah-wajah yang aku kenal. Aku tersenyum.

Donghae memasangkan cincin di jari manisku. Lalu ia beranjak.

”Saranghae~” ucapnya.

Aku tidak dapat berkata. Aku hanya bisa tersenyum menatapnya.

Ia langsung melumatkan bibirnya dengan bibirku. Hujan bunga masih menemani kami. Mereka menjadi saksi bisu atas peristiwa ini

 

 END

 

ayo komentar~

Tolong ya komentarnya ^^

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

10 responses »

  1. jdi gk selingkuh,tpi balas budi toch!!!
    Sweeeettttt bngt dilamar’a haeppa saia jga mw dounk,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s