When I Knew The Meaning of Love (chapter 2)

Standar

New world begin~ Get ready!!!

Cast: SHINee, Lyra Callisto as kim Jaerin, Iha as Choi Jira, Jinkintan as Choi Hyoah

Genre: Friendship, Romantic

PG: 15

when i knew the meaning of love

Ini baru saja dimulai…

Apakah aku sanggup untuk menghadapinya.

Hidup begitu banyak rintangan.

Aku harap dapat melampaui itu semua.

Aku yakin aku bisa.

Tapi bagaiman rasa sakit yang akan aku alami?

 

“MWORAGO???” sentak Key.

Namja yang dipandangnya hanya tertunduk.

“Minho-ah tak kusangka kau suka mengambil kesmpatan di dalam kesempitan.” Lanjut Key.

“Masalah aku merasa bersalah melakukan itu.” ucap namja yang bernama Minho.

“Bersalah? Memang kau salah. Tapi kau tidak perlu bersedih begitu.” Ucap Key lalu mendorong Minho pelan.

“Setelah aku melakukannya dia menangis dan berlari. Aku merasa bersalah.” cletuk Minho lalu mendesah panjang.

“Ada juga ya yeoja yang tidak mau chu darimu.” Sahut Key lalu tertawa.

“Dia berbeda.” Ucap Minho.

“Dia aneh. Kau lihat saja cara berpakaiannya.” Sahut Key.

 

*******

 

Taemin turun dari motornya. Ia memandang sekolah yang ada di hadapannya.

“Semoga saja dia ada.” Ucapnya pelan.

Ia berjalan memasuki sekolah tersebut. Dan ia tiba di lapangan basket. Banyak anak-anak berlatih basket.

“Siapa yang di sini bernama CHOI MINHO.” Triak Taemin.

Semua orang lalu memandang Taemin kemudian Minho.

“Kau yang bernama Minho?” tunjuk Taemin ke Minho.

Minho mengangguk.

Taemin berjalan mendekati Minho dan langsung menghajar Minho hingga Minho berdarah.

Minho mengusap darah yang keluar dari hidungnya.

“Waeyo? Aku ada salah denganmu?” tanya Minho.

“Kau salah. Kau salah seenaknya saja menciumnya.” Sahut Taemin.

Minho menjelaskan semuanya. Kini hanya tinggal mereka berdua, Minho dan Taemin.

“Mereka yach~ aku dengar beberapa sekolah bahkan beberapa yeoja menjadi korban keganasan mereka.” Ucap Taemin.

“Katakan pada dia, jangan keluar malam-malam, apalagi sendiri.” Cletuk Minho.

“Ye~ akan ku katakan padanya. Semoga dia mau mendengar.” Sahut Taemin lalu mendesah.

“Dia yeojamu?” tanya Minho tiba-tiba.

Taemin tersentak kaget.

“Aniyo~ dia chinguku~ aku menganggap seperti saudaraku sendiri. Dia sangat mengerti aku. Meski usiaku beda beberapa bulan dengannya, dia seperti nunaku saja. Dia juga tahu bahwa aku menyukai sahabatnya itu.” ungkap Taemin.

“Tapi pukulanmu keras juga.”

“Jinca?”

Minho mengangguk.

“Mianhae~ aku emosi. Aku tak tahan melihatnya menangis seperti itu. bayangkan saja jika kau mempunyai nuna atau yodongsaeng yang menangis seperti itu karena seorang namja, pasti kau akan melakukan apa yang aku lakukan jika kau menyayangi mereka.” Terang Taemin.

“Kasih sayang yach~” ucap Minho pelan.

 

********

 

Hyoah mengetuk pintu apertemen Jaerin.

Beberapa detik kemudian Jaerin membuka pintu.

“Masuklah onnie~”

Hyoahpun masuk. Mereka berjalan dan duduk di sofa.

“kau sudah baikan?” tanya Hyoah.

“ye~” sahut Jaerin.

“Ku rasa tidak~”

“Onnie juga~”

Mereka terdiam.

“Kita keluar yuk!” ajak Hyoah.

“kemana?” Tanya Jaerin.

“Bersenang-senang.” Sahut Hyoah.

 

*******

 

Hyoah memandang Jaerin.

“Waeyo?” tanya Jaerin heran.

“Kau tahu ini hari ini cuaca panas. Pakaianmu seperti hari ini sedang musim gugur. Apakah kau tidak kepanasan eh?”

Jaerin menggeleng.

“Aku merasa nyaman menggunak pakian ini.”

“Baiklah ayo kita berangkat!!!”

 

********

 

“Onnie~ kau bilang ini bersenang-senang?” ucap Jearin heran.

“Dengan minum semua masalah akan hilang. Cobalah kau minum~.” Ucap Hyonah.

“Ah onnie~ aku tidak bisa minum. Kau tahu sendiri soda saja aku tidak bisa. Apalagi yang seperti ini~” keluh Jaerin.

“Ya kau makan saja sepuasmu. Di sinikan ada ice cream waffel. Kau pesan itu saja. Aku yang traktir.” Ucap Hyonah.

“Jincayo?”

Hyunah mengangguk.

“Ini yang namanya bersenang-senang~ gomawo onnie~”

 

*******

 

“Aish~ kau terlalu banyak minum onnie~” keluh Jaerin membopong Hyonah.

“Aniyo~ aku tidak banyak minum.” Elak Hyonah.

“Iya. Onnie terlalu banyak minum. Lihat saja onnie berjalan. Onnie sudah mabuk.” ucap Jaerin.

Hyonah tersenyum.

”Kau tidak percaya denganku?” ucap Hyonah menunjuk dirinya sendiri.

Jaerin mengangguk.

”Kau lihat, aku akan berjalan lurus.” ucap Hyonah lalu tersenyum.

Ia mencoba membuktikan. Tapi jalannya lontang-lantung ke kanan dan ke kiri. Lalu ia terjatuh tersungkur. Seorang namja membantunya berdiri.

”Kau tidak apa-apa?” tanya namja itu.

Hyonah menatap namja tersebut, ia menyipitkan matanya memastikan siapa namja yang telah membantunya.

”Hyonah onnie kau tidak apa-apa?” tanya Jaerin menghampiri.

”Oh Jaerin~ aku baik… Baik saja… Ya berkat namja ini.” ucap Hyonah terpatah patah.

”Gomawo oppa atas bantuannya.” ucap Jaerin kepada namja yang ada di hadapannya.

Namja itu tersenyum.

”Cheonmaneyo.” ucapnya kemudian.

”K..kk… Kau… Ti…dak a..sing. Ehm…. Oh ya…. Aku…. Mengenalmu…. Kau kan….”

Bruk Hyonah terjatuh, namja itu langsung menagkap Hyonah.

”Ah Onnie~ kau benar-benar terlalu banyak minum.” ujar Jaerin.

”Dia onniemu?” tanya namja yang bersama mereka.

”Mwo?” sahut Jaerin belum bisa mencerna pertanyaan namja itu.

”Dia kakak kandungmu?” tanya namja itu menjelaskan.

”A~ aniyo~ dia tetanggaku. Aku sangat dekat denganku.” jawab Jaerin.

”Aku akan membantumu membawanya pulang.” ucap namja tersebut.

”Tidak perlu repot-repot, aku bisa mengatasinya.” tolak Jaerin.

”Ehm… Ya…. Aku mengingatmu…. Kkk…kka…u…. mo…deeel…. iklan ayam… go…reng…. Unyu-unyu.” ucap Hyonah mengigau.

Jaerin tertawa.

”Dia sudah bermimpi.” ucap Jaerin masih tertawa.

”Hya Hyonah apakah aku setampan model itu hingga kau mengira aku dia? Apakah kau tidak mengingatku?” tanya namja yang bersama mereka kepada Hyonah.

”Oppa kenal dengan Hyonah onnie?” tanya Jaerin heran.

”Ne~ kami satu fakulitas. Memang kami tidak seberapa dekat tapi kami saling mengenal. Tapi apakah dia masih mengingatku? Terakhir kami berbincang waktu ospek dulu.” ucap namja tersebut.

”Ospek?” sahut Jaerin.

Namja itu mengangguk.

”Dia cepat lupa dengan orang yang baru di kenal. Jadi sepertinya dia lupa dengamu oppa.” cletuk Jaerin.

”Oh ya aku belum memperkenalkan namaku. Namaku Lee Jinki.” ucap namja itu lalu tersenyum.

 

*******

 

”Jadi di sini kalian tinggal?” tanya Jinki.

”Ne~” jawab Jaerin singkat.

“Kalian tinggal di lantai berapa?”

“Lantai dua. Kami tidak terlalu suka tempat yang tinggi-tinggi.” Ucap Jaerin.

“Oh kebalikanku. Aku suka tempat yang tinggi. Dari tempat tinggi kita dapat melihat segalanya.” Ucar Jinki.

Jaerin tersenyum. Ia berjalan mendahuli menuntun ke apertemen Hyoah. Lalu berhenti kemudian berjalan lagi.

“Waeyo? Ini bukan apertemennya?” tanya Jinki menunjuk apertemen nomer 206.

“Iya itu apertemennya. Tapi aku tak tahu di mana ia menyimpan kuncinya.” Cletuk Jaerin lalu berhenti di depan pintu apertemen 207.

“Kenapa tidak merogoh sakunya saja?” sahut Jinki.

Jaerin menggeleng. Ia menempelkan kepalahnya di dinding dan mengetuk-ngetuknya berkali-kali.

“Oppa tidak tahu onnie seperti apa. Jika sedang mabuk seperti ini dia sungguh sensitif. Aku pernah merogoh sakunya dulu untuk mencari kunci apertemen. Tapi hasilnya aku dipukul, ia mengira aku pencuri. Untung saja aku lincah jika tidak aku sudah babak belur. Dan…. Ah sudahlah aku tidak mau membahasnya lagi. Lebih baik ia tinggal dulu di apertemenku.” Terang Jaerin.

Kemudian ia membuka pintu apertemennya. Dan mempersilahkan Jinku yang membopong Hyoah untuk masuk.

“Wah apertemenmu bersih ya.” Ucap Jinki.

“Kemarin aku habis membersihkannya. Oh ya letakkan onnie di sofa. Ia suka tidur di sofaku itu.” Sahut Jaerin.

“Kalian seperti saudara kandung ya.” Cletuk Jinki sembari meletakkan Hyoah di sofa.

“Ya begitulah, kami saliang menjaga karena kami sama-sama tinggal sendiri dan jauh dari keluarga.” Sahut Jaerin.

Jinki mengangguk.

“Oppa mau minum?” tawar Jaerin.

“Aniyo~ ini sudah malam lebih baik aku pulang saja.” Jawab Jinki tersenyum.

“Oh baiklah jika begitu.” Ucap Jaerin.

Jinki berjalan keluar apertemen. Jaerin mengikutinya di belakang.

“Gamsahamnida atas bantuannya.” Ucap Jaerin.

“Ne~” ucap Jinki tersenyum lalu pergi meninggalkan apertemen Jaerin.

Jaerin menutup pintu apertemennya.

“Namja itu bernama Lee Jinki. Sepertinya aku tidak asing dengannya. Jinki… jinki… Lee Jinki… LJ…. JL… JL???”

Jaerin menyadari sesuatu ia berjalan cepat ke tempat di mana Hyoah tidur. Yeoja yang tertidur itu mengigo. Jaerin duduk di dekatnya.

“Onnie~ katakan kepadaku apakah namja yang kau sukai itu Lee Jinki?” tanya Jaerin.

“Hm… namja? Yang ku sukai? Hmm… ya… ya… aku suka sekali dengan Lee Jinki… dia namjaku… dia seharusnya menjadi kekasihku…” ujar Hyoah dalam keadaan tidak sadar.

Jaerin tertawa.

“Sungguh gawat jika kau mabuk onn~ semua rahasiamu bisa terbongkar. Untung saja kau mabuk saat kau bersamaku.” Cletuk Jaerin lalu tertawa lagi.

“Jinki oppa lumayan juga. Kau pintar memelih.” Ucap Jaerin.

“Hm… a…yaaaam…. Go…..reeeeng…..” ujar Hyoah mengigo.

Jaerin tertawa.

 

*******

 

“Ah onnie kau sudah bangun?” ujar Jaerin sembari merapikan seragamnya.

“Dimana aku?” tanya Hyoah mengucek-ngucek matanya.

“Di apertemenku. Kemarin kau mabuk berat.” Sahut Jaerin.

“Kau membopongku kemari?” tanya Hyoah.

“Ani~ pangeran berkuda eh pangeran berayam putih menggendongmu.” Sahut Jaerin lalu berjalan mendekati Hyoah dan duduk di sebelahnya.

“Berayam putih maksudmu apa?” tanya Hyoah tidak mengerti.

Jaerin cekikian.

“Maksudku pangeran yang sedang menunggangi ayam.” Ucap Jaerin.

“Hah? Dia pasti kecil ya? Ah tidak mungkin anak kecil bisa menggendongku. Pasti ayamnya gedhe banget. Ya kan?” cletuk Hyoah.

Jaerin menyeret Hyoah keluar.

“Hei kenapa kau tidak menjawabku?” tanya Hyoah.

“Aku mau berangkat ke sekolah. Aku tidak mau telat.” Cletuk Jaerin lalu mengunci pintu apertemennya.

“Sebenernya siapa yang menggendongku?” tanya Hyoah penasaran.

Jaerin tidak menggubris ia merapikan sepatunya lalu berdiri.

“LEE JINKI” triak Jaerin lalu berlari.

“Hai yang benar?” triak Hyoah.

“Iya!!! Apa kau tidak ingat?” triak Jaerin ketika tiba di dasar.

Lalu ia berlari lagi sambil cekikikan,

 

*******

 

“Jaerin kau ceria sekali hari ini. Ada apa?” tanya Jira.

Jaerin hanya tersenyum.

“Ayo ceritakan kepadaku!” paksa Jira.

Jaerin tidak menggubris ia hanya tersenyum. Ia memandang ke Taemin.

“Kau tidak apa-apa Taemin? Kau terlihat pucat.” Tanya Jaerin ke Taemin.

“Aku tidak apa-apa hanya sedikit pusing. Penyakit biasa.” Cletuk Taemin lalu tersenyum.

‘Tidak mungkin aku menceritakannya. Dia sudah senang saat ini.’ Batin Taemin.

“Jaerin kau jahat sekali mangacuhkanku.” Omel Jira.

Jaerin hanya tersenyum.

“Aish~ kau gila ya?” cletuk Jira.

Jaerin tetap tersenyum.

“Ah aku tahu. Jangan-jangan tadi kau bertemu dengan Jonghyun oppa. Ya kan? Kau bertemu dengannya?” tanya Jira antusias.

Senyum Jaerin mengendor.

Taemin memukul kepalah Jira.

“Lihat apa yang kau lakukan kau membuatnya mengingat namja itu lagi.” Ucap Taemin kesal.

“Ah aku tidak tahu… ku kira Jaerin masih menyukainya.” Cletuk Jira mengelus-ngelus kepalahnya.

“Dan lagi, Taemin bisakah kau sehari saja tidak membuatku kesal. Aku muak kau selalu memukul keplahkau atau mengejekku.” Sahut Jira.

“Itu sudah makannanya jika ia tidak melakukan itu ia tidak bahagai.” Cletuk Jaerin.
“Jaerin~ kau tidak apa-apa?” sahut Jira.

“Tidak apa-apa. Aku hanya kaget kau menyebutkan namanya lagi.” Ucap Jaerin.

“Lalu maksud perkataanmu soal Taemin tadi apa? Aku tidak mengerti.” Ujar Jira.

“Dia melakukan itu untuk berbagi kebahagian.” Ucap Jaerin.

“Kebahagian? Ehm lalu kenapa kau tidak?” tanya Jira.

“Karena aku akan menghajarnya jika dia melakukan itu.” Sahut Jaerin.

Jaerin dan Jira tertawa.

 

*******

 

“Jaerin.” Panggil Taemin.

Jaerin menoleh.

“Biar ku antarkan kau.” Ucap Taemin.

“Tidak usah lebih baik kau antarkan Jira saja. Dia mudah sekali tersesat.” Cletuk Jaerin.

“Tidak usah aku bisa pulang sendiri.” Ucap Jira.

“Ada seseorang yang mau bertemu denganmu. Aku sudah berjanji dengannya.” Ucap Taemin.

“Uhm… gimana ya kau tahu sendiri aku…”

“Aku membawa mobil.” Potong Taemin.

“Ya sudahlah.” Cletuk Jaerin.

“Jira kau ikut?” tanya Taemin.

“Sudah ku bilang aku bisa pulang sendiri.” Ucap Jira lalu melangkah pergi dengan cepat.

“Ada apa dengannya?” tanya Taemin.

“Dia sensitif sekali hari ini. Biarlah mungkin ia butuh waktu untuk sendiri.” Sahut Jaerin.

 

*******

 

“Ah tempat ini…”

“Waeyo Jaerin?” tanya Taemin.

“Tempat ini mengingatkanku akan kenangan yang buruk.” Ucap Jaerin.

“Hai!!!” seru seseorang.

Taemin dan Jaerin menoleh ke asal muasal suara. Jaerin langsung mematung. Ia tidak bernafas ia dapat mendengar degup jantungnya yang berdetak keras. Ia tidak dapat bergerak.

“Sudah menunggu lama?” tanya namja yang tidak lain adalah Minho.

“Kami baru saja tiba.” Jawab Taemin.

Minho mentap Jaerin.

“Oh ya perkenalkan namaku Choi Minho. Pasti kau yang bernama Kim Jaerin.” Ucap Minho.

Jaerin menarik tangan Taemin.

“Ayo kita pulang.” Ucap Jaerin pelan.

“Jaerin dia ingin bicara denganmu. Kenapa kau ingin pulang?” ujar Taemin.

“Kita pulang sekarang!!!” sentak Jaerin mencengkram tangan Taemin.

Minho menarik tangan Jaerin.

“Jika kau punya masalah kau harus menghadapi masalah itu. Jangan lari. Jika kau lari, masalah itu akan terus menerus mengejarmu.” Ucap Minho.

Jaerin melepaskan cengkaramannya.

“Apa yang kau mau ?” ucap Jaerin mendongak ke arah Minho.

 

*******

 

Sudah tiga menit mereka duduk berdua tanpa berkata sepata katapun.

“Maafkan aku.” Ucap Minho.

“Maafkan aku yang memperlakukanmu seeneknya. Seharusnya aku tidak melakukan itu. Maafkan aku.” Sambung Minho.

Jaerin mengangguk.

“Tidak apa-apa. Aku yang terlalu melebih-lebihkan. Aku berlagak seperti putri dalam dongen saja.” Ujar Jaerin lalu tersenyum.

“Memangnya kau ingin itu untuk siapa?” cletuk Minho.

“Mwo?” sahut Jaerin tidak mengerti.

“Kau ingin ciuman pertamamu itu untuk siapa?” tanya Minho.

Jaerin tertunduk. Lalu mendesah.

“Seseorang yang mencintaiku, seseorang yang ku cintai, sesorang yang berarti dalam hidupku, sesorang yang tidak bisa hidup tanpaku.” Ucap Jaerin.

“Suamimu?” sahut Minho.

“Mworago?” sahut Jaerin.

“Deskripsimi mengarah ke arah deskripsi seorang suami.” Cletuk Minho.

Jaerin berpikir sejenak.

“Ya seperti itulah.” Ucap Jaerin.

“Kau sudah berapa kali?” tanya Jaerin tiba-tiba.

“Mwo?” sahut Minho.

“Kau sudah berapa kali berciuman?” tanya Jaerin meperjelas pertanyaan sebelumnya.

Minho membasahi bibirnya.

“Jujur… itu pertama kalinya.” Jawab Minho.

 

*******

 

“Apa??? Jadi itu sama-sama ciuman pertama???” seru Hyoah.

Jaerin mengangguk.

“Astaga~ ternyata namja itu… aish~ aku sudah memastikan.”

“Memastikan apa?” tanya Jaerin antusias.

“Kalian pasangan yang cocok.” Sahut Hyoah.

“Ah sudahlah aku tidak ingin membahas ini lagi. Bagaimana denganmu onnie? Kau sudah bertemu dengannya?”

“Ya~ aku malu sekali Jaerin. Sungguh malu sekali. Apa saja yang kau katakan padanya?”

“Ya dia cerita apa saja? Ya itu yang aku katakan atau yang kau katakan.”

“Apa maksudmu?”

“Kemarin kau menigo.”

“Ah tidak!!! Ternyata aku membongkar rahasiaku sendiri. Ehm!!! Aku benar-benar malu!!! Untuntg saja libur musim panas tiba. Dengan begitu aku tidak bertemu lagi dengannya.”

“Libur? Onnie libur juga?”

“Iya. Aku ingin melupakan hal buruk yang telah terjadi. Kau ikut?”

“Ke mana?”

“Aku sendiri juga tidak tahu.”

Jaerin melempari Hyoah bantal.

“Mending ikut denganku.”

“Kemana?”

“Ke resort milik temannya Minho.”

“Hei kau baru kenal dengannya sudah mau di ajak ke resort milik temannya. Jangan-jangan….”

“Itu sebagai ucapan permintaan maaf dan terima kasihnya saja. Lagi pula ia juga mengajak Taemin. Bukan aku saja yang diajak.”

“Taemin? Dia kenal Taemin?”

“Baru kenal. Ceritanya panjang. Kami berangkat Sabtu besok.” Ujar Jaerin lalu beranjak pergi.

 

*******

 

“Bocah tak kusangka ternyata kau bisa membawa mobil juga.” Cletuk Hyoah.

“Onnie~ sudahlah tidak usah banyak berceloteh.” Ucap Jaerin.

“Tapi kenapa aku harus di depan?” sahut Jira.

“Biar kau tidak bingung. Dan tidak bertanya-tanya kepadaku kita sudah di mana. Jika kau bertanya tanyakan saja kepada sebalahmu. Yang akan bercerita di sepanjang jalan.” Ujar Jaerin.

“Hya jika aku bercerita di sepanjang perjalanan yang ada aku bisa kehilangan suara.” Cletuk Taemin.

“Aku hanya bercanda.” Sahut Jaerin.

“Oh ya Jaerin. Minho itu senior apa junior?” tanya Jira.

“Senior.” Jawab Jaerin singkat.

“Berarti harus memanggilnya oppa dong. Kenapa kau tidak bilang?” ujar Jira.

“Kau tidak bertanya.” Sahut Jaerin.

“Lalu kenapa kau memanggilnya Minho saja? Seharusnya Minho oppa.” Cletuk Jira.

“Dia sendiri yang menyuruhku memanggilnya dengan Minho saja tanpa embel-embel oppa.” Ujar Jaerin.

Jira mengangguk.

“Oh ya Key senior juga?” tanya Jira lagi.

“Ye.” Sahut Jaerin.

“Apakah dia tampan? Keren?” tanya Jira.

“Aku belum bertemu dengannya. Tapi Minho memberikan fotonya. Ya lumayan dia keren, stylish.” Ucap Jaerin.

“Omo~” ujar Jira.

“Minho memberikan foto Key padamu?” tanya Hyoah.

“Foto tim lebih tepatnya. Dan dia menjelasakan satu demi satu nama anggota timnya.” Terang Jaerin.

“Waeyo?” ucap Hyoah.

“Karena bukan hanya kita saja yang ada di sana. Teman tim mereka juga ada di sana. Dan juga resort itu sungguh luas. Kau harus mengenal banyak orang. Jadi jika kau tersesat kau bisa minta bantuan kepada orang yang kau kenal.” Sahut Taemin.

“Itu semua resort milik Key?” tanya Jira.

“Bukan tetapi appanya. Jadi jaga sopan santun kalian. Kita di sana di undang jadi tamu jangan berlagak seperti pemilik resort. Dan juga jangan terkejut jika banyak tamu resort yang tidak asing.” Ucap Taemin.

“Maksudmu?” sahut Hyoah.

“Banyak artis yang sering menginap di resort itu.” Sahut Jaerin.

“Mwo?” sontak Hyoah dan Jira.

 

*******

 

“Astaga tempat ini besar sekali.” Cletuk Hyoah.

“Selamat datang~” ucap seseorang.

Hyoah, Jaerin, Taemin dan Jira menoleh.

“Key oppa?” tanya Jaerin.

Namja itu mengangguk.

“Kau pasti Jaerin.” Ucap Key.

“Ye. Jaerin imnida.” Ucap Jaerin.

Key mentap Jaerin sambil tersenyum lalu tertawa kecil.

“Waeyo?” tanya Jaerin.

“Minho tidak pernah dekat dengan namanya yeoja. Ku harap kalian dapat akrab. Lagi pula kalian jugsa sama-sama aneh.” Cletuk Key.

“Selera humormu boleh juga hyung.” Celtuk Taemin.

“Oh kau bocah yang waktu iu kan.” Ujar Key.

Taemin mengangguk lalu mereka berdua tertawa.

“Ah namja. Aku tidak mengerti apa yang ada di otaknya.” Cletuk Jira.

 

*******

 

“Sebelah kamarnya siapa?” tanya Jira di dalam kamar.

“Taemin, Key dan Minho.” Jawab Jaerin.

“Lalu sebelah lagi?” tanya Jira.

“Entahla kata Key ada orang lain yang memesan kamar itu.” Jawab Jaerin yang sibuk merapikan pakiannya.

“Selain kita yang yeoja di sini siapa lagi? Maksudku yang di undang Key oppa.” Tanya Jira.

“Kita satu-satunya yeoja.” Cletuk Jaerin.

“Mwo?” sahut Jira.

“Hyoah onnie~ kau tidak menata pakianmu?” triak Jaerin.

“Iya sebentar pemandangan di sini indah sekeli tapi sayang tempat ini mengerikan juga.” Sahut Hyoah.

“Waeyo?” tanya Jaerin.

“Aku merasa ada di lantai lima saja.” Sahut Hyoah.

“Oh iya tempat ini berbukit-bukit jadi lantai dasar seperti lantai atas.” Cletuk Jaerin.

“Jaerin, benar kita satu-satunya yeoja yang di undang?” tanya Jira.

“Iya, Key tadi cerita kepadaku. Ia melarang anggota tim yang lain mengundang orang lain. Untuk kita pengecualian.” Jawab Jaerin.

“Oh ya Jaerin menurutmu Key sudah punya pacar belum?” tanya Jira.

Jaerin memandang Jira.

“Perasaanmu kepada Key saat ini seperti perasaanku kepada Jonghyun saat itu. Jadi tidak usah di perpanjang jika kau tidak ingin berakhir sepertiku.” Sentak Jaerin membuat Jira diam tak berkutik.

Melihat hal itu Hyoah tertawa.

“Kenapa kau tertawa? Bereskan pakaianmu!” sentak Jaerin.

Hyoan gelagapan.

“Baik nyonya.” Sahut Hyoah.

Tak lama kemudian Jaerin tertawa.

“Kalian lucu sekali ya jika ketakutan.” Ucapnya.

Lalu beberapa bantal menyearngnya.

 

*******

 

“Annyeong.” Ucap Minho lalu masuk kamar.

“Oh Annyeong.” Ucap Taemin.

“Kau sudah datang rupanya.” Ucap Minho.

“Kau lama sekali.” Ucap Key.

“Maaf tidak muda lolos dari rumah.” Cletuk Minho.

“Kau kabur lagi?” tanya Key.

Minho mengangguk.

“Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya kepada orang tuamu?” tanya Key.

“Aku tidak ingin di ganggu. Kau tahu sendiri mereka itu seperti apa.” Ucap Minho lalu menata pakiannya.

“Oh ya Taemin kau sudah minta izin ke orang tuamu?” tanya Minho.

“Belum.” Jawab Taemin.

“Jangan-jangan kau kabur juga ya?” sahut Key.

“Kabur dengan membawa mobil dan beberapa kartu kredit? Ku rasa itu bukan kabur namanya.” Ucap Taemin.

“Lalu?” tanya Key.

“Orang tuaku masih di luar negri. Mereka berpesan jika pergi ke suatu tempat yang jauh dari rumah pastikan mengajak orang. Nah aku ke mari bersama teman-temanku. Lagi pula ada kalian juga di sini.” Terang Taemin.

“Sepertinya orang tuamu sibuk sekali.” Ucap Minho.

“Ya mereka sangat sibuk. Tapi mereka tidak pernah melupakanku. Setiap malam eommaku menelpon menanyakan keadaanku. Setiap akhir pekan appa melakukan videocall untuk melihat keadaanku. Mereka sangat perhatian.” Ujar Taemin.

“Kau sungguh beruntung.” Ucap Minho pelan.

“Apa yang barusan kau katakan hyung? Aku tidak mendengar.” Tanya Taemin.

“Bukan apa-apa.” Ucap Minho.

 

*******

 

“Hyoah onnie ayo bangun!!!” seru Jaerin.

Jaerin mendesah. Ia berjalan ke kamar mandi.

“Jira kau sudah selesai?” tanya Jaerin.

“Iya sebentar lagi selesai.” Sahut Jira dari dalam kamar mandi.

Semenit kemudian Jira keluar.

“Bersiaplah setelah ini kita makan malam bersama.” Ucap Jaerin.

Jira mengangguk.

Jaerin masuk dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan membawa segelas air. Ia berjalan mendekati Hyoah. Ia meraih tangan Hyoah dan memasukan jari Hyoah kedalam gelas.

“AH!!!! PANAS!!!” jerit Hyoah.

“Jaerin teganya kau.” Gerutu Hyoah.

“Habis onnie tidak bangun-bangun sich. Terpaksa dech aku bangunin pake’ air panas.” Sahut Jaerin lalu tersenyum.

Hyoah masih menggerutu.

“Hyoah onnie mandi gih sana, ntar telat makan malam lho. Klo telat ntar kehabisan makanan enak.” Cletuk Jira.

“Iya nanti kehabisan ayam gorang renyah unyu unyu…” sahut Jaerin.

Hyoah bergegas ke kamar mandi.

 

*******

 

Jaerin, Jira dan Hyoah berjalan ke tempat makan. Lalu tiba-tiba Hyoah berhenti berjalan.

“Onnie kenapa kau berhenti?” tanya Jaerin.

“Jaerin apakah aku sudah mabuk?” tanya Hyoah.

“Kau sakit sepertinya ia karena mukamu pucat. Kau tidak apa-apa onnie?” ujar Jaerin.

“Tidak mungkin dia ada di sini.” Ucap Hyoah.

“Siapa? Siapa onn? Kenapa kau pucat begitu?” tanya Jaerin khawatir.

“Sepertinya aku tidak ikut.” Ucap Hyoah.

“Tidak ada alasan. Kami telat gara-gara kau onn. Kau harus ikut.” Sahut Jira menyeret Hyoah.

Jaerin masih berdiri di tempat. Ia mencari-cari apa yang di lihat Hyoah tadi. Lalu ia menangkap sebuah sosok. Ia sungguh terkejut.

 

 

 

To Be Continue…

 

Chapter kali ini sedikit panjang ya.

Eh bukan sedikit emang panjang.

Jangan lupa komentarnya ^^

Klo bias komentar menggunakan URL twitter or Koprol

Mohon komentar yang sebanyak-banyaknya *butuh pemasukan* ^^

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

10 responses »

  1. nah disini udh mulai ngerti hehe
    terus udh ga kaya split juga n.n
    lanjut part 3 yaa hehe

    oyya maksudnya komen pake url twitter tuh apa ya. ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s