Monthly Archives: November 2010

When I Knew the Meaning of Love (chapter 6)

Standar

Chapter 6

 

Cast: Minho, Taemin, Onew, Key, Jonghyun, Jaerin *Lyra*, Hyoah *Intan*, Jira *Iha*, Jihee *Reeha*

Genre: Romantic, Friendship

PG: 15

 

PLEASE DON’T BE SILENT READER, PLEASE COMMENT. AUTHOR NEED YOUR COMMENT. THANKS BEFORE

When I Knew The Meanig of Love (chapter 6)

-Deep Secret-


Yeoja itu berjalan mendekati Jinki. Ia duduk di sebelah Jinki dan merangkul tangan Jinki.

”Oppa~ kau pandai sekali bernyanyi.” ucap yeoja itu.

Jinki melepaskan tangan yeoja itu dari tangannya.

”Jeehae tolong jang lakukan hal itu kepadaku.” cletuk Jinki.

”Waeyo? Dulu aku boleh melakukannya kenapa sekarang tidak?” sahut Jeehae cemberut.

”Situasinya sudah berubah.” celetuk Jinki.

”Menganggu saja.” sahut Key.

Jeehae langsung menatap Key. Ia menyipitkan matanya.

”Apa kau bilang?” sentaknya.

”Kau mengganggu acara orang saja. Tiba-tiba triak dan masuk ke dalam acara orang lain.” sentak Key.

Jeehae beranjak dari tempat duduknya.

”Inikan tempat terbuka bukan private, so aku boleh donk ke tempat ini. Gak usah dech ngelarang-ngelarang. Kayak km aja yg punya resort.” sewot Jeehae.

Key mengepalkan tangannya.

”Kau ini yach!!!” sentaknya.

”Tahan Key.” sahut Minho mencoba menenangkan Key.

”Biarlah Key~ apa salahnya ia bergabung.” cletuk Minho.

Key memandang Minho tajam.

”Aku tidak suka dengan yeoja semacam dia. Dia sama saja dengan namja itu.” bisik Key lalu duduk di bangku yang terelatk di sudut dekat Taemin.

Sementara itu Hyoah meremas-remas gelas plastik. Ia tidak tahan melihat kegenitan Jeehae.

”Onnie kau tidak apa-apa?” tanya Jira.

‘Ah apa?” sahut Hyoah tersentak kaget.

”Kau tidak apa-apa?” ulang Jira.

”Aku tidak apa-apa kok. Hanya dehidrasi saja. Aku ambil minuman dulu yach.” ucap Hyoah lalu tersenyum.

Kemudian ia beranjak mengambil minuman. Jaerin mengikutinya.

”Ku harap kau tidak mabuk lagi.” cletuk Jaerin.

”Aku tidak ingin mabuk lagi. Aku tidak ingin terlihat bodoh di hadapannya karena mabuk. Aku tidak ingin ia mengatahui perasaanku.” ucap Hyoah.

”Kenapa tidak ingin Jinki oppa mengetahui perasaan onnie?” sahut Jaerin.

”Aku tidak ingin ia mengetahui perasaanku saat aku mabuk. Saat-saat ini tidak tepat untuk mengatakannya. Lagi pula aku tidak yakin dengan perasaanku sendiri. Apa aku mencintainya? Apakah aku hanya sekedar mengaguminya? Aku tidak tahu apa itu cinta yang sebenarnya? Apa artinya?” terang Hyoah datar.

”Onn~ cobalah untuk menenangkan diri. Renungkanlah segala permasalahan onnie. Kelak semua resah gundah di hati onnie akan terjawab.” ujar Jaerin.

”Maaf apakah kau Jaerin?” sahut seorang namja.

Jaerin dan Hyoah menoleh ke asal muasal suara. Mereka tersentak kaget melihat orang itu.

“Jadi diantara kalian tidak ada yang bernama Jaerin?” tanya namja itu.

Hyoah mengangkat tangannya perlahan menunjuk ke arah Jaerin.

“Dia Jaerin.” Ucapnya.

Namja itu memandang Jaerin lalu tersenyum.

“Ini pesenanmu. Katanya Key kau meminta coklat ini.” Ucap namja itu menyodorkan seloyang coklat.

Jaerin menerimanya dengat tak percaya.

“Jika kurang kau bisa bilang ke aku.” Ucap namja itu lalu mengedipkan sebelah matanya kemudian meninggalkan Jaerin dan Hyoah.

Jaerin memandang namja itu. Matanya tidak berkedip memandang namja itu.

“Jae kau tak apa-apa?” tanya Hyoah.

“Ehm~ aku hanya terkejut.” Ucap Jaerin.

“Apa hubungannya dia dengan Key ya? Apa dia bekerja di sini? Tapi dari gayanya sepertinya tidak. Dia tidak menggunakan seragam.” Cletuk Hyoah.

“Mungkin saja dia bekerja sebagai penyanyi. Diakan pandai menyanyi.” Sahut Jaerin lalu menyomot coklat yang ada di tangannya.

“Tapi~ aneh juga jika dia mau di suruh Key untuk mengambilkan coklat untukmu. Apa jangan-jangan~” ujar Hyoah lalu terdiam.

“Jangan-jangan apa?” sahut Jaerin.

“Jangan-jangan mereka bersaudara.” Cletuk Hyoah.

“Mworago?” sahut Jaerin terkejut.

“Sssttt kecilkan volume suaramu. Kau ingat namanya Kim Jonghyun, marganya Kim lalu Key~ Kim… Kim..”

“Kim Kibum” sahut Jaerin.

“Ya~ Kim Kibum. Marga mereka sama-sama Kim.” Sahut Hyoah.

“Tidak mungkin. Minho bilang Key oppa hanya memiliki saudara perempuan. Dan saudaranya itu sudah menikah.” Sahut Jaerin.

“Hey kalian sedang apa?” sahut sebuah suara.

Jaerin dan Hyoah menoleh. Ternyata itu Key.

“Kami hanya berbincang-bincang~ biasa masalah yeoja.” Sahut Hyoah lalu tersenyum.

“Kau sudah menerima coklat darinya ya” ucap Key begitu melihat seloyang coklat di tangan Jaerin.

Jaerin mengangguk.

“Maaf ya jika dia bertingkah aneh. Dia selalu begitu. Huft~ hanya dia yang bisa aku mintai tolong untuk masalah ini.” Ujar Key.

“Sebenarnya dia siapa?” Sahut Hyoah.

“Dia sepupuku. Kim Jonghyun. Meski dia lebih tua dariku, tapi kedudukanku di keluarga besarku lebih tinggi darinya. Appaku anak pertama sedangkan appanya anak kedua. Maka dari itu resort ini di serahkan kepadaku.” Terang Key.

Hyoah terkejut. Ia mengangah tak percaya. Jaerin tertegun.

“Tolong jangan katakan siapa-siapa bahwa aku calon pemilik resort ini ya. Aku tidak mau di kelilingi yeoja yang hanya ingin harta kekayaanku. Aku tidak mau menjadi Jonghyun yang selalu di kelilingi para yeoja.” Tutur Key.

“Ne~” sahut Hyoah dan Jaerin.

Lalu Key melangkahkan kakinya.

“Mau kemana?” tanya Hyoah.

Key menunjuk ke meja tempat air minum.

“OK aku ikut. Aku juga haus.” Ujar Hyoah.

“Oh ya Jaerin, segeralah kembali ke acara. Tolong awasi sepupuku. Jangan biarkan ia menggoda yeoja yang ada di sana.” Ucap Key.

Jaerin menelan ludah. Ia merasa mendapatkan setumpuk buku yang harus dibaca hari itu juga.

 

 

9.45 PM

 

“Nah terakhir adalah pesta kembang api~!” seru Key.

“Apa kembang apinya sudah siap?” tanya Key kepada temannya.

Temannya menganguk.

“OK ayo mulai!!!!” triak Key.

Ciiiiuuuutttt DOORRRR

Jaerin tersentak kaget. Tubuhnya gemetaran. Melihat itu Minho langsung berjalan mendekati Jaerin menarik Jaerin ke pelukannya dan menutup telingah Jaerin dengan kedua tangannya. Minho memandang langit yang penuh dengan kembang api. Ia juga merasakan kaos yang dikenakannya basah.

Setelah kembang api selesai. Semua orang menyadari apa yang di lakukan Minho.

“Minho apa yang kau lakukan dengan Jaerin?” cletuk Key.

Minho melepaskan tangannya dan berjalan mundur satu langkah. Ia menatap yeoja yang ada di hadapanya itu. Yeoja itu meneteskan air matanya. Tubuhnya gemetaran.

“Hya MINHO!!! APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAPANYA HINGGA IA MENANGIS!!!” Sentak Hyoah emosi.

Minho tidak menghiraukan.

“Sudah tau akan ada kembang api kenapa kau tidak kembali?” tanya Minho kepada Jaerin.

Jaerin mengangkat kepalahnya memandang Minho.

Minho memegang pundak Jaerin.

“Kau tidak boleh menyembunyikannya lagi. Sekarang ceritakanlah, setidaknya kepdaku.” Ucap Minho.

Jaerin menggeleng. Tangisannya semakin keras.

Hyoah datang menepis tangan Minho.

“JANGAN SENTUH! APA YANG KAU LAKUKAN HAH?” sentak Hyoah.

“Aku hanya membantunya~ ia ketakutan.” Ucap Minho.

“JANGAN BANYAK ALASAN!!!” sentak Hyoah.

“Onnie~ sudah jangan marah. Dia sudah membantuku.” Ucap Jaerin.

Hyoah tertegun.

“Gomawo~” ucap Jaerin kepada Minho.

Minho meraih tangan Jaerin dan menariknya meninggalkan teman-teman mereka. Hyoah berusaha mengikutinya tapi Key menahannya.

“Biarlah~ Minho memang tidak pernah dekat dengan yeoja tapi dia tidak akan melakukan hal yang buruk kepada yeoja. Jadi percayalah Jaerin akan baik-baik saja. Biarkan Jaerin tenang bersama dengan Minho. Kau lihat sendirikan dia seperti ketakutan.” Ucap Key.

“Aku baru sadar, dia takut dengan suara yang meledak-ledak.” Sahut Taemin.

“Jadi itu yang membuat dia selalu menolak ajakanku melihat kembang api di pesta kembang api.” Sahut Jira.

Taemin mengangguk.

“Dia phobia?” sahut Jinki.

“Phobia? Apa itu phobia?” sahut Jira tidak mengerti.

“Ketakutan yang berlebihan.” Jawab Hyoah.

“Mungkin ada kaitannya dengan menapa ia tidak berani naik sepeda montor.” Ujar Taemin.

“Bukankah ia trauma naik sepeda motor karena pernah mengalami kecelakaan?” sahut Hyoah.

“Kapan kejadian itu onn? Apaka kau bisa menceritakannya? Jaerin tidak pernah cerita.” Sahut Jira.

Hyoah menggeleng.

“Dia hanya menceritakan bahwa dia pernah mengalami kecelakaan sepeda montor dan dia menyuruhku untuk tidak mengungkit-ukitnya lagi.” Ucapnya.

“Oppa~ antakan aku ke kamar~ aku mengantuk. Aku tidak berani ke sana sendiri. Gelap~” sahut Jeehae berjalan mendekati Jinki.

Jinki mendesah.

“Sebaiknya kau antarkan saja dia hyung.” Ucap Key.

“Baiklah.” Ujar Jinki.

Lalu Jinki dan Jeehae pergi meninggalkan Key dan yang lainnya.

“Maafkan aku noona, aku tidak tahan dengan yeoja itu.” Ucap Key kepada Hyoah.

Hyoah menggeleng.

“Tidak apa-apa.  Lebih baik mereka pergi dari pada membuatku semakin panas saja melihatnya.” Ucapnya.

 

 

10 PM

 

Minho membawa Jaerin ke atas loteng.

”Hanya tinggal kita berdua. Jadi katakan semuanya. Katakan mengapa kau begitu takut dengan kejadian itu, kenapa kau takut dengan suara meledak-ledak seperti kemabang api?” paksa Minho.

Jaerin diam. Ia menghapus air matanya dan berdiam diri.

”Baiklah jika kau tidak ingin cerita. Biar aku yang menceritakan sesuatu kepadmu.” ucap Minho lalu bersandar ke pagar tembok dan memandang ke arah pantai.

”Kami sering mengikuti street basket ball. Suatu hari lawan main kami tidak terima karena kami menang. Semenjak itu mereka seringkali mengejar-ngejar kami. Waktu aku bertemu denganmu, mereka menemukan kami. Mereka hendak mencari perhitungan dengan kami. Jika mereka marah, apapun dan siapapun dapat mejadi korbannya. Itulah alasan kenapa aku menarikmu dan membawamu ke tempat itu. Aku tidak ingin ada yang menjadi korban.” terang Minho.

”Lalu~ kami memutuskan untuk tidak bermain street ball lagi. Tapi aku~ aku tidak bisa tinggal diam. Aku tidak bisa diam di rumah untuk waktu luangku. Aku ingin sebuah kegiatan. Aku ingin mendapatkan uang untuk kebutuhanku sendiri. Maka dari itulah aku sering mengikuti balapan liar. Aku sering menang. Semakin sering aku menang semakin banyak musuhku. Me…”

”Cukup!!!” sentak Jaerin.

Minho menoleh ke arah Jaerin. Yeoja itu menangis lagi. Perlahan yeoja itu berjalan ke arah Minho. Yeoja itu menarik kaos Minho dan meremasnya.

”Kumohon jangan cerita lagi. Kumohon jangan melakukan itu lagi. Cukup jangan balapan lagi.” isak Jaerin tertunduk.

Minho memegang ke dua pundak Jaerin.

”Waeyo?” tanyanya.

”Ka… Karena…. Karena aku tidak ingin kau sepertinya.” Isak Jaerin manatap Minho.

”Siapa?” tanya Minho penasaran.

Jaerin menghapus air matanya. Ia mengambil nafas panjang.

 

#FLASH BACK#

 

Seorang yeoja berumur sekitar dua belas tahun berdiri memandang langit di loteng rumahnya. Sesorang membunyikan klakson yang membuatnya berhenti memandang langit. Ia melihat seorang berhelm hitam mengendari sepeda motor Ninja 250R berwarna senada dengan helmnya. Orang itu membuka helmnya dan memandang yeoja yang tadi asyik memandang langit.

”Donghae oppa~” cletuk yeoja itu.

Namja yang bernama Donghae tersenyum lalu berkata,

”Turunlah!”

Yoeja itu ragu. Melihat senyum namja bernama Donghae itu meyakinkan dirinya. Ia memutuskan untuk ikut dengan Donghae.

”Ini hadiah untukmu.” ucap Donghae ketika yeoja itu datang mendekatinya.

Ia memberikan sebuah kotak yang cukup besar. Yeoja itu menerimanya.

”Bukalah kotak itu, Jaerin.” pintah Donghae.

Yeoja itu membuka kotak berwarna coklat polos pemberian Donghae.

”Helm?” cletuk Jaerin

Donghae mengangguk.

”Aku tidak dapat melindungimu lagi. Semoga helm ini dapat menggantikanku.” ucap Donghae.

”Waeyo?” tanya Jaerin.

”Besok aku akan pindah ke Kanada.” ujar Donghae.

”Kenapa oppa tidak mengatakan sebelumnya kepadaku? Aku belum siap.” isak Jaerin.

Donghae menghapus air mata Jaerin.

”Aku tidak ingin kau gelisah karena kepergianku. Jika aku mengatakan jauh-jauh hari sebelumnya pasti kau sibuk membeli sesuatu untukku. Untuk dijadikan kenang-kenangan. Aku tidak ingin itu.” ucap Donghae datar.

”Jadi oppa tidak ingin hadiah dariku? Oppa tidak ingin mengingatku lagi? Oppa ingin melupakanku.” isak Jaerin.

Donghae menyentuh kedua pundak Jaerin. Ia mencondongkan tubuhnya. Wajahnya kini tepat di depan Jaerin.

”Aku menginginkan kenangan yang akan selalu aku ingat. Aku ingin kenangan yang kekal. Aku ingin kenangan itu tersimpan di otakku dan menenangkan jiwaku.” Ucap Donghae memandang mata Jaerin.

Kata-kata itu membuat Jaerin tenang.

”Kenangan apa yang oppa inginkan?” ucap Jaerin.

Donghae melepaskan tangannya dari pundak Jaerin. Ia naik sepeda montornya.

”Naiklah. Gunakan helm itu. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” cletuk Donghae lalu memasang helmnya.

Jaerin menggenakan helmnya. Lalu naik ke sepeda montor milik Donghae.

”Pegangan yang kuat.” ucap Donghae.

Jaerin mencengkram jaket kulit Donghae. Donghae menunduk lalu menoleh ke belakang. Jaerin mengangguk menandakan ia sudah berpegangan kuat. Donghae menyalakan motornya. Ia mengegas motornya lalu mengeremnya hingga Jaerin terpental kedepan merangkul Donghae. Donghae tertawa ia melajukan motornya. Sementara itu Jaerin menggerutu.

Di tengah jalan ada yang memotong jalan mereka sehingga Donghae mengerem mendadak hingga terdengar bunyi menderit dari ban Ninja 250R milik Donghae.

”Sialan!!!” cletuk Donghae.

Jaerin memandang sekitarnya. Ada beberapa pengendara sepeda motor menghadang mereka. Pengendara motor tersebut menggunakan motor besar seperti milik Donghae.

”Jaerin pegangan yang kuat. Pejamkan matamu. Karena aku akan mengebut kali ini.” ucap Donghae.

Jaerin mempererat pegangannya. Ia memeluk Donghae dan memejamkan matanya.

Donghae mengegas. Ia mulai mengebut. Ia mencoba menghindari pengendara sepeda motor yang mengejarnya. Kecepatannya sudah di atas 100Km/Jam. Jalanan sangat sepi. Memang jalan itu bukan jalan umum. Jarang kendaraan yang melintasi jalan itu.

Terdengar suara tembakan.

”Oppa apa yang terjadi?” triak Jaerin supaya terdengar oleh Donghae.

”Mereka mencoba menembaki kita.” triak Donghae menjawab pertanyaan Jaerin.

Jaerin menjadi ketakutan.

”Tenanglah ia hanya mencoba menembaki ban motorku. Dan aku dapat mengatasi hal itu.” triak Donghae mencoba menenangkan Jaerin.

Jaerin mencoba tenang tapi tidak bisa. Suara bising membuatnya berpikiran negatif sehingga menimbulkan ketakuan.

Ban belakang motor Donghae tertembak. Donghae dan Jaerin terjatuh. Donghae buru-buru bangkit. Ia melepaskan helmnya lalu mendekati Jaerin.

”Kau tidak apa-apa?” tanya Donghae.

Jaerin meringkuk kesakitannya. Helmnya terlepas dari kepalahnya. Kepalahnya baik-baik saja tetapi kakinya terluka karena bergesekan dengan aspal saat terjatuk tadi. Donghae langsung mengangkatnya dengan kedua tangannya. Ia menggendong Jaerin kemudian berlari menjauh ke tempat yang ramai. Tapi gang motor itu berhasil menghadang mereka.

”Tutup matamu Jaerin.” bisik Donghae di telinga Jaerin.

Jaerin memejamkan matanya.

Beberapa gang motor itu turun dari motor dan berjalan mendekati Donghae. Jumlah mereka ada lima orang.  Dua lainnya menghadang jalan Donghae di depan dan belakang.

Seorang dari mereka berlima melayangkan pukulannya ke Donghae. Donghae berhasil menghindari. Ia membalasnya dengan menendang mereka. Donghae berhasil menghindari serangan mereka. Tetapi seseorang berhasil melumpuhkan Donghae. Orang itu menembak Donghae dari belakang mengenai pundak Donghae.

Jaerin tersentak ketika mendengar suara tembakan. Ia menatap Donghae. Ekspresi Donghae berubah. Lalu Donghae terjatuh bersama Jaerin.

”Oppa!!!” triak Jaerin panik.

Donghae memuntakan darah. Ia menengok ke kanannya. Ia mendapati Jaerin panik & ketakutan.

”Sudah ku bilang tutup matamu, kenapa kau tidak mendengarkan kataku?” cletuk Donghae.

Jaerin menitikkan air mata. Ia ketakutan.

Donghae mendekap Jaerin.

”Jangan takut aku akan melindungimu.” ucap Donghae.

Dan Donghaepun di serang oleh beberapa gang motor. Mereka memukuli Donghae. Donghae hanya dapat diam. Ia berusaha melindungi Jaerin agar tidak terkena serangan dari gang motor.

”Jae…Jae… Jaerin… be… Berjan… ji… lah ke… pa… da… ku… ja… ja.. ngan… per…. nah… me… na… ngis.” ucap Donghae terpatah-patah.

Jaerin memejamkan matanya. Air matanya masih mengalir membasahi pipinya. Berkali-kali ia mendengar suara pukulan. Ia tak kuasa menahan tangis, ia ingin menangis sekencang-kencangnya. Lalu Donghae jatuh pingsan. Jaerin dapat merasakan kulit Donghae menjadi dingin. Ia membuka matanya. Ia melihat Donghae terkulai lemas. Dari mulut dan hidungnya keluar darah. Jaerin menangis. Ia mencoba bangkit dan mencoba menolong Donghae. Tapi usahanya sia-sia. Tubuh Donghae terlalu berat, ia tidak dapat bangkit. Lalu Jaerin menyadari sesuatu. Tangannya penuh dengan darah. Seingatnya ia baru saja menyentuh tubuh Donghae. Ia merabah-rabah Donghae dan menemukan cairan berwarnah merah keluar dari pundak kiri Donghae.

”Hei apa yang kau lakukan!!!” triak seorang namja.

Para gang motor itu berhenti memukuli Donghae. Mereka beralih ke namja itu.

Tangan Jaerin gemataran. Ia dapat melihatnya dengan jelas. Lalu ia triak sekuat tenaga. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

”Jaerin?” cletuk namja yang membuat perhatian gang motor tadi.

”JAERIN!!!” triaknya lagi.

Lalu beberapa motor mendekat. Mereka melaju melewati namja yang berteriak dan memanggil nama Jaerin. Mereka mendekati gang motor yang tadi memukuli Donghae. Dan di mulailah perperangan antar dua kubu.

Namja yang tadi berteriak memanggil nama Jaerin mendekati Jaerin dan Donghae. Ia mendapati Donghae mendekap Jaerin. Keduanya pingsan.

”Donghae~ eotteokkae???” ucapnya.

Ia mengecek keadaan Donghae. Ia mendapati Donghae terluka parah. Ada luka tembakan di pundak Donghae. Tangan namja itu bersimpah darah. Lalu ia berteriak.

Kemudian ekpresi namja itu berubah menjadi ekpresi yang penuh kebencian. Namja itu bangkit berjalan mendekati gang motor yang sedang berkelahi. Lalu ia memukul satu demi satu gang motor yang tadi memukul Donghae tanpa ampun.

 

#FLASH  BACK  END#

 

”Ketika aku sadar aku melihat wajah mereka seperti zombie. Appa & eommaku menangis. Aku berpikir apa yang mereka tangisi? Apakah aku? Apakah aku terluka parah sehingga mereka tidak dapat berhenti menangis? Aku beratanya apa yang terjadi. Aku bertanya di mana Donghae? Mereka tidak menjawab.” crita Jaerin lalu menitikkan air mata.

Minho mendekapnya. Ia membelai rambut Jaerin.

”Jangan menangis~ semuanya telah berlalu. Semua sudah terjadi jangan kau tangisi. Jika kau menangis Donghae hyung akan sedih. Ia akan merasa kecewa karena kau tak menepati janjinya.” ucap Minho.

 

 

#FLASH BACK#

 

”Dia sudah pergi Jaerin.” ucap seorang namja kepada Jaerin.

Jaerin memalinkan tubuhnya ke arah eomma dan appanya.

”Kenapa eomma dan appa tidak membangunkanku?” ujar Jaerin.

Lalu ia berusaha keluar dari kamar. Tapi namja yang berdiri di pintu itu menghadangnya.

”Minggir oppa! Aku mau menyusul Donghae oppa!!!” sentak Jaerin.

Namja itu tidak menyingkir.

”Kau tidak boleh menyusulnya.” ucap namja itu.

”Wae? Waeyo oppa!!!!!” isak Jaerin.

Ia terduduk lemas di lantai. Air matanya mengalir.

”Dia benar-benar pergi jauh. Jauh sekali. Kau tidak boleh menyusulnya. Belum waktunya kau menemui Donghae saat ini.” ucap namja itu berjongkok memandang Jaerin.

”Donghae oppa~” isak Jaerin.

”Donghae oppa!!!” triak Jaerin.

Namja yang ada di depan Jaerin menitikkan air matanya.

”Mianhae Jaerin. Jeongmal mianhae. Ini semua salahku. Karena aku terlambat menolongnya. Salahku karena membuatnya terjeremus dengan gang motor. Mianhae Jaerin.” ucap namja itu dengan berlinang air mata.

 

#FLASH BACK END#

 

 

7.25 AM

 

Taemin mengetuk pintu kamar Jaerin. Lalu beberapa detik kemudian Jaerin keluar. Lalu mereka berjalan berdua dan duduk di bangku taman.

”Kau yakin dia tidur?” tanya Taemin.

”Tentu. Dia tidak dapat bangun pagi.” cletuk Jaerin.

”Tapi aku merasa ada yang mengikuti kita. Dan sepertinya dia.” ucap Taemin lalu menoleh ke belakang.

”Jika dia mengikuti kita bukannya itu bagus?” cletuk Jaerin.

”Bagus?” sahut Taemin.

Jaerin mengangguk.

”Biar dia tambah cemburu. Lagi pula dia tidak akan mendengar apa yang kita katakan.” ucap Jaerin.

Taemin mengangguk.

”Kapan kau akan menyatakan perasaanmu kepadanya?” tanya Jaerin memandang Taemin.

”Rencanananya sich hari ini juga.” jawab Taemin.

”Kau sudah siap?” tanya Jaerin.

Taemin mendesah.

”Belum.” jawabnya.

Jaerin langsung menjitak kepalah Taemin.

”Kau tidak punya rencana bagaimana mengutarakannya hah?” sentak Jaerin.

”Ne~ aku tidak tahu. Aku hanya ingin cepat-cepat mengutarakan perasaanku kepadanya.” ucap Taemin.

”Nanti saat matahari terbenam utarakan perasaanmu kepadanya di sana.” ucap Jaerin lalu menunjuk ke sebuah tanjung.

”Aku akan meminta bantuan Key oppa untuk memesan tempat itu untukmu. Agar tidak ada satu orangpun berada di tempat itu. Sehingga hanya ada kalian berdua.” lanjut Jaerin.

Taemin mengangguk.

”Lalu bagaimana aku mengutarakan perasaanku kepadanya?” tanyanya.

Jaerin membisiki Taemin.

 

 

9.15 AM

 

Jihee memeluk tangan Jinki. Ia tidak pernah lepas dari Jinki. Jinki hanya bisa menghela nafas. Ia tidak dapat melakukan apa-apa. Ia takut membuat yeoja itu menangis. Ia tidak suka melihat yeoja menangis.

”Oppa~” panggil Jihee manja.

”Hm~”’ sahut Jinki.

Jihee berhenti melangkah.

”Ada apa?” tanya Jinki.

”Aku ingin mengatakan sesuatu.” ucap Jihee.

”Apa?” sahut Jinki.

”Membungkuklah sedikit. Aku akan membisikimu.” ucap Jihee.

Jinki membukukkan badannya. Lalu Jihee berbisik,

”Jinki oppa~ saranghae~” lalu ia mengecup pipi Jinki.

Jinki terkejut. Kemudian ie merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Ia menegakkan tubuhnya dan memandang ke depan.Lima meter di depannya ada seorang yeoja.

 

 

 

 

To be continue…

 

 

Akhirnya chapter 6 selesai juga ^^

Jangan lupa komentarnya yach ^^

Isi like dan ratingnya juga yach ^^

Gomawo ^^

Iklan

It Has To Be You 2 (chapter 6)

Standar

 

Genre: Tragedy, Family, Friendship, Love

Cast: Super Junior, Jeoran, Hyekyu, Eunjo, Hyobyun

PG: 15

 

*PLEASE DON’T BE SILENT READER!!! HELP AUTHOR WITH GIVE COMMENT*

 

it has to be you 2 chapter 6

 

Siwon menutup flat HPnya.

“Bagaimana?” tanya Eunjo.

“Dia tidak mengangkat.” Jawab Siwon.

“Telpon rumahnya.” Sahut Heecul.

Siwon mengangguk. Ia membuka flat HPnya kemudian menghubungi nomor rumah Shin Hyobyun.

“Yoboseyo~ ……. Choi Siwon imnida. Apakah Hyobyun ada di rumah? ………….. Yesung? ………… Jeongmal? … ah ahjumma apakah aku boleh meminta alamat rumah Yesung? ……………….. Gamsahamnida~” ucap Siwon lalu menutup flat HPnya.

“Bagaimana?” tanya Eunjo penasaran.

“ Aku mendapat alamat rumah Yesung.” Cletuk Siwon.

 

©©©©©©©

 

Keesokan harinya

 

“Kau dari mana?” tanya Jeoran yang melihat Hyukjae baru datang.

“Aku baru saja dari rumah teman.” Jawab Hyukjae.

“Kau sudah makan?” tanya Jeoran.

Hyukjae menggeleng.

“Ayo kita makan di luar.” Cletuk Jeoran.

“Kau tidak makan buatan nenek Jang?” tanya Hyukjae.

“Dia sudah tua. Aku tidak ingin merepotkannya lagi. Lagipula saat ini dia sibuk mengurus taman belakang.” Ujar Jeoran.

“Baiklah jika begitu. Aku tahu tempat yang tepat.” Ucap Hyukjae.

 

©©©©©©©

 

“Hyekyu~” panggil seorang ahjussi dari luar rumah.

“Ne~” sahut Hyekyu dari dalam rumah.

“Ada namja yang mencarimu. Cepat kemari!” sahut ahjussi.

“Nugu?” sahut Hyekyu.

“Orang yang kau kenal~ aku juga mengenalnya.” Ucap ahjussi.

Beberapa detik kemudian Hyekyu keluar. Ia terkejut.

“O… oppa~” cletuk Hyekyu.

Namja itu tersenyum lalu berkata,

“Annyeong~”

Hyekyu hanya bisa tertegun.

“A~ ada apa mencariku?” tanya Hyekyu.

“Pertama aku minta maaf atas tindakanku tempo hari. Ke dua aku ingin mengucapkan terimah kasih karena kau menyelamatkan hidupku. Ketiga aku ingin minta bantuan kepadamu.” Ucap namja itu.

“Bantuan apa? Oh ya bagaimana aku harus memanggilmu?” sahut Hyekyu.

“Tolong bantu aku mengingat kembali ingatanku. Panggil aku Yesung.” Sahut namja itu.

“Ne~ Yesung oppa~” ujar Hyekyu.

 

©©©©©©©

 

“Ramennya enak sekali.” Ujar Jeoran.

“Tentu saja.” Sahut Hyukjae.

Lalu mereka terdiam.

“Sampai kapan kita bicara bahasa Ingrris seperti ini?” tanya Hyukjae tiba-tiba.

“Sampai segala urusan terselesaikan.” Ujar Jeoran.

Mereka melanjutkan perjalanan. Beberapa menit kemudian Jeoran berhenti. Ia terdiam.

“Why?” tanya Hyukjae.

Jeoran tidak menjawab. Ia malah melangkahkan kakinya ke suatu rumah. Ia mengikuti alunan melodi yang ia dengar. Saat tiba di mana melodi itu berasal, Jeoran tertegun.

“Ye  ye Yesung~” ucapnya.

Yesung berhenti memetikkan gitar dan memandang Jeoran. Yeoja yang ada di samping Yesung ikut terkejut.

Mata Jeoran mulai berkaca-kaca.

“Benarkah kau Yesung?” tanya Jeoran dalam bahasa Korea.

Hyukjae hanya memandang dari jauh. Ia tidak ingin ikut campur. Ia hanya ingin mengawasi.

“Ne~ Aku Yesung.” Ucap Yesung.

“Apakah aku mengenalmu?” tanya Yesung.

Jeroan menangis.

“Apakah kau tidak ingat lagi denganku Yesung? Apa perlu aku mengingatkanmu?” isak Jeoran.

Kemudian ia mulai bernyanyi

 

Oneuldo nae gieogeul ttarahemaeda
I gil kkeuteseo seoseongineun na
Dasin bol sudo eomneun niga nareul butjaba
Naneun tto I gireul mutneunda

Neol bogo sipdago
Tto ango sipdago
Jeo haneulbomyeo gidohaneun nal

Niga animyeon andwae
Neo eobsin nan andwae
Na ireoke haru handareul tto illyeoneul
Na apado joha
Nae mam dachyeodo joha nan
Geurae nan neo hanaman saranghanikka

 

Yesung mencengkram kepalahnya lalu tidak sadarkan diri.

“Yesung!!!” triak Jeoran panik.

Ia langsung mendekati Yesung.

“Ahjussi!!! Ahjussi!! Tolong!!!” triak Hyekyu memanggil ahjussinya.

Hyukjae berlari mendekat.

“Apa perlu di bawa ke rumah sakit?” cletuknya.

“Aniyo~ ahjussi seorang dokter.” Sahut Hyekyu.

 

 

“Ayo kita pulang. Ini sudah larut. Lagi pula kita dapat menengoknya besok.” Bujuk Hyukjae.

Jeoran menggeleng.

“Pulanglah~ dia tidak apa-apa. Besok kau bisa menengoknya.” Ucap ahjussi yang berada bersama mereka.

Jeoran mengenggam tangan Yesung. Ia terus menangis.

“Pulanglah~ kau butuh istirahat juga. Jika dia sadar aku akan memberitahu Yesung oppa untuk menemuimu. Aku tahu siapa kau. Kau penyanyi terkenal itu. Aku tidak tahu apa hubunganmu dengannya. Tapi setiap mendengar lagu itu ia selalu begini. Saat ia sadar, ia mengingat sesuatu. Ku harap saat sadar ia mengingat dirimu.” Ucap Hyekyu..

Akhirnya Jeoran memutuskan untuk pulang ke tempat tinggal yang di rawat oleh nenek Jang. Saat tiba di rumah nenek Jang sungguh khawatir dengan kondisi Jeoran.

“Ada apa dengannya?” tanya nenek Jang.

“Ceritanya panjang~” ucap Hyukjae.

 

©©©©©©©

 

Keesokan harinya

 

“Dimana dia?” tanya Jeoran.

“Dia… dia…”

Jeoran mencengkram tangan Hyekyu.

“Katakan padaku dimana dia!!!” triak Jeoran.

“Jeo~ tenang~” sahut Hyukjae mencoba melepaskan tangan Jeoran dari tangan Hyekyu.

“Aniyo~ dia berjanji menyuruh Yesung untuk menemuiku taoi mana? Mana? Dia tidak menemuiku? Bahkan dia tidak mau mengatakan di mana Yesung saat ini.” Sentak Jeoran.

“Jeo! Apa yang kau lakukan di sini.” Sahut sebuah suara.

Semua mata memandang orang itu.

Orang itu berjalan mendekati.

“Ada apa ini?” tanya orang itu.

Jeoran melepaskan cengkramannya. Ia terduduk menangis.

“Mianhae~” ucap Hyekyu menitikkan air mata.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya orang yang baru datang itu.

“Kyu~ kau mengenal Jeoran?” cletuk Hyekyu.

Kyuhyun terdiam.

“Tentu saja aku mengenalnya. Dia yeojachingu saudaraku, saudarku yang sudah meninggal.” Ucap Kyuhyun lalu terduduk.

“Jeoran~ apa yang terjadi?” tanyanya kepada Jeoran yang menangis.

Hyekyu menelan ludah. Akhirnya ia tahu siapa yeoja yang dimaksud Siwon.

“Ini ada sakut pautnya dengan oppaku.” Cletuk Hyekyu.

“Oppamu? Ada apa dengan oppamu?” sahut Kyuhyun.

“Dia bukan oppa kandungku. Aku hanya merawatnya saat dia tidak mengingat dirinya.” Ucap Hyekyu.

“Namja itu Yesung. Kemarin ia kemari, Jeoran menemukannya saat ia memtikkan gitar. Lalu ia pingsan dan kami meninggalkannya untuk di rawat Hyekyu. Kami berniat menemuinya keesokan harinya, hari ini. Tapi sepertinya namja itu tidak ada di sini.” Sahut Hyukjae.

“Kemarin sesorang menghubunginya. Ia mengatakan ia keluarganya. Lalu yeoja itu membawanya pulang. Ia mengaku ia calon istrinya Yesung.” Cletuk Hyekyu.

“Kau tahu siapa yeoja itu?” tanya Kyuhyun bangkit.

Hyekyu mengangguk.

“Shin Hyobyun.” Ucap Hyekyu.

“Bukankah dia aktris. Lawan main Choi Siwon di serial drama terbaru itu.” Sahut Hyukjae.

“Siwon? Ya benar~ sepertinya aku tahu bagaimana cara menemukan Yesung. Jeoran bangunlah aku akan membawamu menemui Yesung.” Sahut Kyuhyun.

Jeoran bangkit.

“Mengapa kau membantuku menemuinya? Bukankah kau tidak ingin aku menginatnya lagi?” ujar Jeoran ketus.

“Karena aku tidak ingin melihatmu menangis. Aku ingin melihatmu bahagia. Tersenyum seperti dulu lagi.” Ucap Kyuhyun.

 

©©©©©©©

 

“MWORAGO?” sahut Siwon.

“Aish~ yeoja itu tidak pernah sedetik saja tidak membuat masalah. Baiklah aku akan menangani yang satu ini.” Lanjut Siwon menutup flat HPnya.

Ia mencengkram HPnya kemudian membantingnya ketembok. Ia mendesah.

“Baiklah Shin Hyobyun, jika kau ingin berperang aku akan melawanmu. Kau perlu tahu apa arti cinta yang sebenarnya.” Ucap Siwon.

Ia meraih kunci mobilnya dan berjalan ke gerasi. Ia membuka pintu mobilnya yang berwarna hitam. Ia menyalakan mesinnya, menarik handrem, lalu memasukkan gigi kemudian ia menancapkan gas.

Ia berhenti di suatu tempat. Dan turun dari mobilnya. Ia menarik tangan seorang yeoja dengan kasar.

“Apa yang kau lakukan. Lepaskan!!!” sentak yeoja itu.

“Hyobyun~ kau boleh saja mencintai seseorang. Tapi kau tidak boleh berbohong seperti itu.” Ujar Siwon.

“Hey apa yang kau lakukan!” seru seseorang.

Orang itu berjalan mendekati.

“Siwon~ apa yang kau lakukan.” Ucap orang itu ketika melihat wajah Siwon.

“Kau ingat denganku Yesung?” tanya Siwon.

Yesung mengangguk.

“Apakah kau mengingat Jeoran?” tanya Siwon lagi.

Yesung mengangguk.

“Aku memberikan lagu ciptaanku untuk dinyanyikan olehnya. Waeyo?” ujar Yesung.

“Apa hubunganmu dengan Jeoran?” tanya Siwon sekali lagi.

“Komposer dengan penyanyi.” Jawab Yesung.

“Lalu apa hubunganmu dengan Hyobyun?” tanya Siwon untuk kesekian kalinya.

“Dia calon istriku.” Ujar Yesung.

 

©©©©©©©

 

“Hyung~ aku beberapa kali menghubungimu tidak bisa. Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Kyuhyun.

Siwon hanya duduk tertunduk. Ia memutar-mutar cangkir kopinya.

“Ini buruk.” Ucap Siwon pelan.

“Apa yang buruk?” tanya Kyuhyun.

“Yesung hilang ingatan. Dia tidak dapat mengingat kejadian sau setengah tahun yang lalu. Kemudian ia menerima ingatan palsu dari seseorang yang mengaku calon istrinya.” Jawab Siwon.

“Hyobyun~” sahut Kyuhyun.

“Yeoja itu telah memanipulasi Yesung. Aktingnya hebat. Ia juga dapat mengarang cerita sedemikian rupa. Sepertinya ia layak mendapatkan adwards untuk ini.” Sahut Siwon.

“Apa yang harus ku katakan kepada Jaerin?” sahut Kyuhyun bimbang.

“Katakan kepadanya yang sebenarnya.” Sahut Siwon.

Kyuhyun mendesah.

“Ini akan menjadi flash back.” Cletuk Kyuhyun.

 

©©©©©©©

 

Keesokan harinya

 

 

Joeran menanti seseorang. Matanya tidak berhenti memandang pagar rumah yang ada di sebrangnya. Lima menit kemudian seorang namja keluar.

“Yesung ah~” panggil Jeoran menahan Yesung.

“Ne, ada apa?” ucap Yesung.

“Kau mengenalku?” tanya Jeoran.

Yesung mengangguk.

“Kau yang menyanyikan lagu ciptaanku. Kau So Jeoran.” Ucap Yesung.

“Kau ingat semuanya?” tanya Jeoran lagi.

“Ehm~ belum. Maaf aku buru-buru. Aku mau membeli cincin.” Ucap Yesung.

“Cincin? Cincin apa?” sahut Jeoran.

“Cincin pernikahan. Aku akan segera menikah dengan Shin Hyobyun.” Ucap Yesung.

Jeoran mulai menitikkan air mata. Ia membuka sling bagnya. Mengambil sebuah buku diari.

“Ini untukmu.” Ucap Jeoran memberikan buku diari kepada Yesung.

Yesung menerimanya.

“Sebenarnya itu milikmu.” Ucap Jeoran dengan berlinang air mata.

“Ku harap kau dapat mengingatnya.” Isak Jeoran kemudian.

“Ne gomawo~” ucap Yesung.

Ia beranjak meninggalkan Jeoran.

Jeoran terduduk menangis. Ia tidak merasa sakit menerima kenyataan yang pahit.

Yesung tidak mengerti kenapa Jeoran menangis. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Jeoran. Yeoja itu menangis. Ia semakin tidak mengerti melihatnya. Ia merasa ada sesuatu yang salah. Dan ia merasa ia tidak asing dengan tangisan itu.

 

 

“Ada angin apa kau ingin kemabali ke Seoul?” tanya Kyuhyun sembari memasukkan koper ke dalam bagasi mobilnya.

“Aku ingin membantu Yesung oppa mengingat kemabli ingatannnya.” Sahut Hyekyu.

“Kau serius akan melakukannya?” tanya Kyuhyun.

Hyekyu mengangguk.

“Tentu saja. Aku tidak akan membiarkannya menderita karena kehilangan ingatanya.” Cletuk Hyekyu.

“Tapi bagaimana jika dia tidak menginginkan kenangan itu?” tanya Kyuhyun serius.

Hyekyu mencubit lengan Kyuhyun.

“Tidak mungkin Yesung oppa tidak menginginkan kenangan itu. Itukan kenangan yang membuatnya bertahan hidup. Kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan.” Omel Hyekyu.

“Buktinya dia melupakannya.” Cletuk Kyuhyun.

“Aish~ kau ini mengajak bercanda denganku.” Sentak Hyekyu.

Kyuhyun tertawa.

 

©©©©©©©

 

Hyukjae melirik Jeoran dari kaca spion tengah. Yeoja itu tidak menangis lagi. Tapi dari wajahnya terukir sangat jelas luka yang begitu dalam. Wajahnya pucat pasih. Pandangannya kosong. Matanya sedikit merah.

Hyukjae jadi mengingat Sangwoo. Ia memiliki paras yang sama dengan Jeoran. Memang benar karena mereka kembar. Tapi mereka kembar bersaudara. Jadi ada beberapa perbedaan. Saat melihat Jeoran seperti ini, ia selalu mengingat kembali Sangwoo. Ia menganggap Sangwoo sepertinya saudaranya sendiri. Namja itu selalu bersikap baik dengannya. Karena kebaikannya ia tidak pernah membagi penderitaannya dengan Hyukjae.

Sangwoo selalu merehasiakan sesuatu kepada Hyukjae. Sesuatu yang pribadi. Ia tidak ingin Hyukjae mengetahui yang sebenarnya. Sangwoo tidak ingin siapaun tahu. tapi saat ini semuanya telah terbongkar. Akhirnya Hyukjae mengetahui penyebab Sangwoo berekspresi seperti Jeoran saat ini. Itu karena luka yang ia simpan sendiri. Sangwoo tidak pernah menceritakan yang sebenarnya tentang siapa dirinya. Perasaanya~

Hyukjae menyalakan musik agar membuat Jeoran tenang. Lagu yang di sukai Sangwoo. Ia berharap Jeoran menyukainya.

“Lagunya enak~ ini soundtrack bukan?” ujar Jeoran yang tiba-tiba membuka mulut.

Ekspresinya sudah berubah.

“Ne~” sahut Hyukjae.

“Ini lagu kesukaan Sangwoo.” Lanjut Hyukjae.

“Oh ya aku hampir lupa dengan saudara kembarku sendiri.” Cletuk Jeoran.

“Andai saja ia mengatakan langsung kepadaku. Pasti aku senang sekali mengetahui aku masih memiliki saudara. Aku ingin mengajaknya jalan-jalan. Membuat kenangan dan berbagi layaknya kakak adik. Tapi kini dia telah pergi meninggalkanku.” Ucap Jeoran.

“Kau sedih?” tanya Hyukjae.

“Tentu~” ucap Jeoran pelan.

Ekspresinya kembali sedih.

“Aku ingin tahu seperti apa dia. Bisakah kau menceritakan padaku?” cletuk Jeoran.

“Dia tidak jauh berbeda denganmu. Dia memiliki wajah yang hampir sama denganmu. Hanya mata kalian berbeda. Aku pernah melihat foto orang tuamu. Matamu menurun eommamu dan mata Sangwoo menurun appamu.” Terang Hyukjae.

“Jinca? Apa kau memiliki foto mereka?” sahut Jeoran.

“Tentu saja. Nyonya Kang~ ahjumma mu itu pasti memilikinya. Hanya saja ia menyimpannya di gudang. Itu kenangan terburuknya. Kau pasti masih ingat ceritaku tbeberapa waktu lalu. Hubungan mereka tidak baik.” Ujar Hyukjae.

“Lalu~ Seperti apa lagi Sanwo?” tanya Jeoran antusias.

Hyukjaepun mulai bercerita semabari menyetir. Setidaknya ia dapat menghapus sejenak ekspresi kesedihan di wajah Jeoran.

 

©©©©©©©

 

Jeoran memandangi satu demi satu foto dari album yang ada di pangkuannya saat ini. Sesekali ia tersenyum. Seharusnya ia menitikkan air matanya. Seharusnya ia menangis karena tidak pernah bertemu dengan mereka. Ia dapat tegar menghadapi hidupnya yang begitu menyedihkan.

“Appa~ eomma~ kalian pasangan yang begitu serasi. Aku senang dapat melihat wajah kalian meski aku tidak pernah bertemu dengan kalian. Aku sungguh senang~ karena akhirnya aku mengetahui kalian. Meski kalian telah tiada~ tapi aku merasa kalian sungguh dekat denganku.

Appa~ eomma~ besok aku akan berkunjung ke makam kalian. Tunggu aku ya~” ucap Jeoran sembari memandangi foto kedua orang tuanya.

Kemudian ia menutup album itu dan berahli ke album yang lain. Ia melihat foto bayi. Ia tersenyum.

“Ternyata kita tak jauh berbeda.” Ucap Jeoran.

Ia membalik halaman ke halaman selanjutnya. Foto balita.

Jeoran tersenyum lagi.

“Astaga~ tidak aku sangka kau benar-benar mirip denganku. Ekspresimu juga sama saat aku seusiamu saat itu.” Ujar Jeoran.

Ia membalik lagi ke halaman selanjutnya.

“Astaga~ kenapa kau berwajah dingin seperti itu?” cletuk Jeoran.

Ia membalik lagi ke halaman selanjutnya.

“Kau tidak berubah. Tetap dingin. Apa kau ingin memikat hati yeoja dengan gayamu seperti itu?” cletuk Jeoran lalu tertawa.

Ia membalik lagi halaman. Ia terdiam.

“Saat dewasa perbedaan itu mulai tampak. Mungkin karena di besarkan di tempat yang berbeda… tapi kenapa tidak ada yang sadar bahwa kita memiliki wajah yang sama? Apa karena jenis kelamin kita?” ujar Jeoran.

Ia mengamati baik-baik foto Sangwoo yang telah tumbuh dewasa. Jika diperhatikan sekilas memang mereka tidak mirip. Apa lagi matanya. Di tambah lagi bentuk wajah mereka sedikit berbeda. Sangwoo berwajah kota sedangkan Jeoran berwajah oval.

Jeoran menutup album yang berisikan foto Sangwoo. Ia meraih sebuah pigora. Foto Songwoo dengan pakaian lengkap.

Jeoran tersenyum dan berkata,

“Kau terlihat lebih tua dariku jika berpakaian seperti itu.”

Lalu Jeoran merasa ada yang aneh. Foto itu sedikit miring. Iapun membuka pigora berniat untuk membetulkan letak foto. Dia terkejut melihat tulisan di balik foto.

Ingin sekali aku tersenyum kepadanya, tertawa lepas kepadanya.

Berbagi kebahagian dengannya.

Senyumnya membuat penat di kepalahku menghilang.

Senyumnya meruabh duniaku.

Memberikan kebahagian dalam hidupku.

Jeoran langsung membalik foto itu dan ia terkejut. Itu foto dirinya. Foto dirinya saat tersenyum. Ia tidak mengingat kapan foto itu di ambil. Di balik foto itu ada foto lagi dengan tulisan di baliknya.

 

Aku tidak sanggup melihatnya seperti itu

Aku ingin memeluknya dan mengatakan,

“Jangan menangis~ menangis itu tidak ada gunanya.”

Jeoran membalik fotonya. Itu foto dirinya saat menangis. Ia tidak tahu kapan Sangwoo menagmbil gambar dirinya.

Tanpa sadar, air matanya membasahi kedua pipnya. Jatuh membasahi foto dirinya.

 

©©©©©©©

 

Keesokan harinya

 

Jeoran memandang makam ke dua orang tuanya. Ia telah meletakkan bunga krisan putih di kedua makam. Ia juga telah berdoa. Ia tidak mengatakn sepatah katpun. Tapi ia mengatakn sesuatu di dalam hatinya ntuk ke dua orang tuanya. Cerita hidupnya~ ia menceiritakan kisah hidupnya yang sikat selama satu jam.

Hyukjae memandangnya dari jauh. Ia tidak tahu apa yang di lakukan yeoja itu. Ia diam menatap makam. Ia berpikir mungkin yeoja itu sedang merenung. Lalu ada pesan masuk dari HPnya. Ia membukanya.

 

Katakan padanya agar tidak muncul di depan publik. Aku sudah membicarakan kepada manejernya besok kami akan mengadakan konfrensi pers. Tolong jaga dia agar tidak mendapatkan masalah. Lalu tolong jangan ijinkan dia bertemu dengan Yesung.

Hyukjaepun membalas.

 

Baiklah Nyonya Kang

Aku akan melaksanakan perintahmu

Hyukaje memasukkan HPnya ke dalam sakunya. Ia menatap ke arah Jeoran. Yeoja itu berjalan mendekatinya. Ia langsung masuk ke dalam mobil tanpa sekatapun tanpa ekspresi. Semuanya datar-datar saja.

Hyukjaepun masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin kemudian pergi meninggalkan pemakaman.

 

“Kita langsung pulang atau …”

“Aku ingin bertemu temanku Eunjo.” Potong Jeoran.

 

©©©©©©©

 

Melihat Jeoran, Eunjo buru-buru menarik yeoja itu ke suatu ruangan. Ruangan istirahat pegawai.

“Kenapa kau kemari?” tanya Eunjo.

“Aku ingin bertemu denganmu.” Ucap Jeoran datar.

“Seharusnya kau tidak kelayapan ke mana-mana. Jika ada paparazi bagaimana?” ujar Eunjo khawatir.

“Khan ada Hyukjae.” Cletuk Jeoran.

“Oh ya bagaimana kondisimu? Apa baikan?” tanya Eunjo.

Jeoran mengangguk.

“Oh ya mengenai Yesung…”

“Dia tidak mengingatku.” Potong Jeoran.

“Dia benar-benar amnesia?” tanya Eunjo.

“Ya dia amnesia~ setidaknya dia sudah mengingat kembali namaya.” Cletuk Jeoran.

“Benarkah kau baik-baik saja? Sepertinya ini sangat buruk.” Ujar Eunjo khawatir.

“Sudahlah tidak usah di bahas. Oh ya kau masih ingat dengan saudara kembarku? Sangwoo?” ujar Jeoran.

Eunjo mengangguk.

“Sejujurnya waktu pertama kali melihatnya aku menyadari dia mirip denganmu. Tapi aku tidak menyangka jika dia saudara kembarmu. Bukankah di dunia ini banyak orang yang berwajah mirip.” Cletuk Eunjo.

“Meski dia memiliki keluarga. Tapi dia jauh menderita dibanding denganku. Penderitaan itu mulai muncul ketika ia mengetahu kebenaran tentang keluarganya. Ia sembunyi-sembunyi mencari keberadaanku. Mengamatiku dari jauh. Dia sangat sayang kepadaku. Bahkan ia rela memberikan jantungnya untukku. Kemarin aku menemukan beberapa fotoku yang diambil olehnya. Di balik foto itu terdapat komentarnya tentangku. Ada satu foto yang ku temukan di meja kerjanya yang membuatku tidak ingin menangis lagi.” Terang Jeoran.

“Foto apa?” tanya Eunjo penasaran.

“Fotoku bersama Yesung saat di café. Saat itu aku tersenyum bahagia dengan Yesung. Di balik foto itu tertera tulisan. Kau baca saja sendiri.” Ucap Jeoran mengambil sebuah foto dari tasnya kemudian memberikannya kepada Eunjo.

Eunjo membalik foto itu. Terdapat tulisan tangan…

 

Aku bahagia jika kau bahagia. Bisakah kau mempertahankan senyummu itu jika aku memberikan kehidupan baru untukmu?

Aku ingin mendonorkan jantungku untukmu dengan harapan kau bahagia.

Karena hanya itulah hadiah yang bisa ku berikan kepdamu sebagai seorang saudara.

Dan tolonglah jangan menangis. Aku akan menangis jika kau menangis. Aku terluka jika kau terluka. Kau dan aku adalah satu.

Eunjo menitikkan air mata. Ia langsung memeluk Jeoran.

“Kau beruntung memiliki saudara sepertinya. Kau harus menepati janjinya.” Isak Eunjo.

Ia melepaskan pelukannya.

“Kau tahu Jeo~ dia belum meninggal.” Ucap Eunjo.

“Dia hidup di dalam dirimu. Aku meraskannya. Kau tidak seperti dirimu yang dulu. Kau jarang menangis dan terluka seperti dulu lagi. Kau lebih sering shock dan menyembunyikan perasaanmu. Aku tahu itu bawaan sifat darinya. Dia ada di dirimu. Dia hidup bersamamu di dalam jantungmu.” Lanjut Eunjo.

“Ya~ aku merasakannya.” Ucap Jeoran meletakkan tangan kanannya di dadanya dan merasakan denyut jantungnya.

 

©©©©©©©

 

Keesokan harinya…

 

Di ruangan itu sudah banyak wartawan. Jeoran menahan nafas. Ia tidak tahu harus berkata apa. Seseorang menyentuh pundaknya.

“Biar aku yang bicara. Kau diam saja. Tidak perlu menjawab. Jangan mengurusi pertanyaan-pertanyaan mereka yang menyimpang.” Ucap Nyonya Kang.

Jeoran mengangguk. Merekapun memasuki ruangan. Suara jepretan kamerapun beradu. Suasana menjadi riuh. Para wartawan saling melontarkan pertanyaan. Kemudian sesorang mengatakn sesuatu kepada mereka untuk diam melalui pengeras suara. Orang itu adalah manejer Jeoran.

Acarapun dimulai. Jeoran hanya terduduk diam. Dan Nyonya Kang mulai menjelaskan semua tentang siapa Jeoran yang sebenarnya. Tidak ada yang di tutupi lagi, ia bahkan mengatakan bahwa jantung yang ada di tubuh Jeoran adalah milik Sanwoo, saudara kembar Jeoran.

Para wartawan mulai tertarik tentang kisah yang mengharukan ini. Jeoran pun mulai membuka mulut. Ia menceritakan tentang Sanwoo yang ia ketahui. Ia menceritakan mengenai foto-foto yang baru-baru ini ia temukan.

Setelah selesai ada seorang wartawa yang bertanya,

“Lalu bagaimana hubunganmu dengan Yesung saat ini? Dia masih hidup bukan? Bukannya kau mengatakan bahwa dia mencintaimu? Maka dari itu dia menciptakan lagu It Has To Be You yang ditujuhkan kepadamu?”

Jantung Jeoran seakan berhenti berdetak. Ia tidak mengatakan apapun. Semuanya sangat buruk. Ia berharap waktu cepat berlalu. Ia berharap ia dapat keluar dari ruangan itu. Ia tidak ingin mengingat ngingat soal Yesung saat ini.

“Soal hubungannya dengan Yesung~ biar aku yang menjelaskan.” Sahut sebuah suara.

Semua mata memandang orang itu. Orang itu berjalan ke tengah ruangan.

Orang itu tidak lain adalah…..

.

.

.

To be continue….

©

©

©Gimana ceritanya? Bagus gak? ©

©Mohon komentarnya ^^©

©Oh ya enaknya ditamatin di chapter berapa yach?©

When I Knew The Meaning of Love (chapter 5)

Standar

Our Feeling

Cast: Minho, Taemin, Onew, Key, Jonghyun, Jaerin *Lyra*, Hyoah *Intan*, Jira *Iha*, Jihee *Reeha*

Genre: Romantic, Friendship

PG: 15

PLEASE DON’T BE SILENT READER, PLEASE COMMENT. AUTHOR NEED YOUR COMMENT. THANKS BEFORE

when I knew the meanig of love (chapter 5) 

Jira duduk di ayunan sembari memandangi laut yang ada di depannya.

“Kau tidak masuk? Di sini dingin.” Cletuk Taemin yang tiba-tiba muncul dan duduk di ayunan samping Jira.

“Ehm~ nanti aku akan masuk.” Ucap Jira.

Taemin terdiam memandang lautan. Tatapannya lurus ke depan tak berkedip. Jira memandangnya.

“Apa ada masalah?” tanya Jira.

Taemin menunduk. Lalu ia mendesah.

“Ya~ banyak sekali yang terjadi akhir-akhir ini. Semua itu membuatku tidak berdaya. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Seolah-olah apa yang aku lakukan malah membuat penderitaan. Bagi diriku maupun orang lain.” Ujar Taemin.

“Apakah tidak ada yang membuatmu bahagia?” tanya Jira memandang lurus ke depan.

Taemin tersenyum.

“Ada~ seseorang yang membuatku tersenyum.” Ujar Taemin.

“Seorang yeojakah?” sahut Jira.

TAemin mengangguk.

“Ya.” Ujarnya.

“Pasti dia sangat special.” Ujar Jira.

“Ya dia sangat special. Tapi~” ucap Taemin menggantung.

“Tapi kenapa?” sahut Jira.

“Sepertinya ia tidak menerimaku lebih dari itu. Ia tidak ingin menerima cintaku. Sepertinya dia ingin menjadi chinguku. Hanya chinguku.” Terang Taemin.

Jira terdiam memandang ke bawah.

“Benarkah dia ingin menjadi chingumu?” ujar Jira memecahkan keheningan.

“Sepertinya~ karena dia tidak menunjukkan bahwa diriku sangat special di hatinya. Mungkin aku bukan tipenya.” Sahut Taemin.

Lalu Taemin beranjak.

“Ayo kembali sekarang sudah jam sepuluh malam. Tidak baik di luar sini.” Ujar Taemin.

“Nanti aku kembali.” Sahut Jira.

“Tidak ada tapi tapian, nanti kau tersesat di dalam kegelapan bagaimana? Nanti kalau kau sakit bagaimana? Aku jugakan yang repot?” sahut Taemin.

“Ya ya ya aku menurut padamu.” Ujar Jira beranjak dari ayunan.

Mereka berjalan bersama-sama, dalam hati Jira berkata,

‘Apakah Jaerin menolak Taemin? Jika ia menolak Taemin kenapa ia menerima boneka Taemin? Lalu kenapa mereka berciuman?’

11.37 PM

Jaerin terbangun. Ia memandang sekeliling. Putih dan putih. Ia turun dari ranjangnya dan melangkah. Tapi sesutu menghambatnya. Ia melihat apa yang menghambatnya. Infus~ dengan paksa ia mencabut infus itu. Tangannya berdarah. Ia membuka tirai dan berjalan. Ia mendapati seorang yeoja berpakaian putih tertidur di sofa yang tidak jauh dari tempat ia berbaring tadi.

Jaerin berjalan keluar, ia sedikit pusing. Dengan sekuat tenanga ia melangkahkan kakinya hingga ia terhenti di suatu tempat. Angin yang kencang menggibaskan rambutnya.

“Jaerin~” cletuk sebuah suara dari depan Jaerin.

Jaerin tidak dapat melihat jelas karena gelap. Ia melangkahkan kakinya mendekati asal muasal suara itu. Ia tidak takut, karena ia mengenal suara itu.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” suara itu muncul kembali.

Lalu Jaerin bisa melihat siapa orang itu. Ia tersenyum.

“Aku terbangun.” Ucap Jaerin.

“Kau harus banya istirahat.” Ujar seseorang yang tidak lain adalah Minho.

“Aku sudah banyak istirahat. Sudah seharian aku tertidurkan?” sahut Jaerin.

Minho diam. Ia memandang tangan Jaerin. Lalu ia merogoh saku jaketnya dan mendapati slayers. Ia meraih tangan Jaerin.

“Kau ceroboh sekali. Pasti kau mencabut infus secar paksa.” Cletuk Minho yang membalut luka Jaerin dengan slayersnya.

Ia melepaskan jaketnya dan menyelimuti Jaerin.

“Pakailah~ di sini dingin.” Ujar Minho.

“Gomawo~” ucap Jaerin.

“Ayo akan ku antarkan kau kemabli ke klinik resort.” Ujar Minho.

Jaerin menggeleng.

“Aku ingin di sini sebentar.” Ujarnya.

“Kau mengingatkanku kepada seseorang.” Sahut Minho.

Jaerin menoleh.

Minho mendesah. Ia menyandarkan tubuhnya ke pagar tembok dan memandang lurus ke depan.

“Di sini tempat ia menghilang.” Cletuk Minho.

Jaerin melihat perubahan ekspresi Minho. Ia bisa melihat mata Minho berbeda. Dengan melihat matanya saja Jaerin sudah tahu, Minho sedang sedih saat ini.

“Nugu?” tanya Jaerin.

“Nunaku.” Ujar Minho.

Jaerin terdiam.

“Kejadiannya sudah lama~ sekitar empat tahun yang lalu. Ia sepertimu. Menyukai boneka beruang. Aku tidak tahu mengapa ia menyukai boneka itu yang jelas ia sangat menyukai boneka itu. Dia mencintai seseorang, tapi dia tidak berani mengatkannya. Hingga suatu hari ia mengetahui bahwa namja yang ia sukai akan segera menikah dengan yeoja lain, nunaku jadi lepas kendali. Ia pergi ke bar dan minum minum untuk pertama kalinya. Dia tidak bisa minum. Ia tak kuat minum. Hasilnya ia mabuk. Saat itulah peristiwa mengerikan terjadi. Malam itu seseorang membawanya. Seorang namja. Nunaku tidur bersama namja yang tidak di kenalnya. Sebulan kemudian nunaku mengetahui bahwa dirinya hamil. Ia minta pertanggung jawaban dari namja yang telah menidurinya. Tapi namja itu mengelak. Ia bilang bisa jadi nunaku melakukannya dengan orang lain. Namja itu mengatkan bahwa nunaku wanita murahan. Orang tuaku menyuruh nunaku untuk membunuh janin di dalam perutnya itu. Tapi ia menolak. Ia kabur kemari dan hilang di tempat ini. Ada yang bilang ia bunuh diri dari tempat ini karena ia sering ke atap ini. Tapi tidak seorangpun menemukan jasadnya. Aku tidak tahu kenapa ia melakukan itu. Menyiksa dirinya sendiri.” Terang Minho.

Jaerin mendesah.

“Aku tidak menyangkah kau punya rahasia seperti itu. Siapa lagi yang tahu hal ini?” ujar Jaerin.

“Key~” sahut Minho.

“Aku mengerti perasaan onnie. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama.” Cletuk Jaerin.

Minho menatap Jaerin.

“Waeyo?” tanya Minho.

“Sarang~ Bagaimana bisa seorang ibu membunuh anaknya sendiri. Ia tidak akan melakukan itu meski ia tidak ingin melakukkannya. Bagaimanpun juga itu anaknya~ anak kandungnya.” Ucap Jaerin.

Minho terdiam.

“When you knew the meaning of love you will understand.” Cletuk Jaerin.

“When I Knew The Meaning of Love?” sahut Minho.

7.35 AM

“Jira ayo bangun!!! Sampai kapan kau akan tidur!!!” sentak Hyoah.

Jira tetap dalam tempat. Ia tidur pulas.

“Astaga~ sepertinya tempat ini membiusnya untuk tetap tidur.” Keluh Hyoah.

“Hya JIRA!!! CEPAT BANGUN!!! JAERIN DALAM KEADAAN KRITIS!!! IA AKAN DIPINDAHKAN KE RUMAH SAKIT SEKARANG JUGA!!!” Triak Hyoah.

Jira langsung bangun.

“Benarakah?” sahutnya.

Hyoah terkejut.

Jira mengucek-ngucek matanya yang sayu. Ia masih mengantuk.

“Cepat mandi sana dan kita lihat keadaan Jaerin!” seru Hyoah.

Jira bangkit dan menujuh ke kamar mandi. Lalu terdengar

BRUK!!!

“Apa itu?” sahut Hyoah.

“Mian~ aku terjatuh karena aku mengantuk.” Sahut Jira.

Hyoah menggeleng. Lalu ia melangkah keluar kamar.

“Annyeong~” cletuk sebuah suara.

Hyoah menoleh lalu ia menalan ludah ketika tahu siapa.

“A~ annyeong~” balasnya.

Deg~ jantungnya lalu berdetak kencang ketika melihat orang itu tersenyum kepadanya. Orang itu tidak lain adalah Jinki.

“Kau mau kemana?” tanya Jinki.

“Ah~ aku mau ke klinik.” Sahut Hyoah.

“Kau sakit?” tanya Jinki.

Hyoah menggeleng.

“Lalu siapa?” tanya Jinki lagi.

“Jaerin.” Jawab Hyoah.

“Apa yang terjadi padanya?” tanya Jinki khawatir.

Hyoah terdiam.

“Waeyo? Apakah aku tidak boleh mengetahuinya?” ujar Jinki.

“Bu~ bukan. Hanya saja ceritanya sedikit panjang.” Sahut Hyoah.

“Tidak apa-apa ayo ceritakan padaku sambil jalan ke klinik.” Sahut Jinki.

“Jalan ke klinik? Kau mau ke sana juga?” sahut Hyoah.

Jinki mengangguk.

“Ya~ aku ingin melihat keadaan Jaerin. Dia sudah ku anggap adikku sendiri.” Cletuk Jinki.

7.57 AM

“Onnie~ onnie~” ujar Jira.

Ia mencari sesorang di dalam kamar.

“Aish~ aku di tinggal Hyoah onnie.” Cletuknya.

Ia keluar kamar dengan wajah cemberut. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Lalu ia melangkahkan kakinya.

8.47 AM

Seseorang membuka pintu.

“Minho~ apa yang kau bawa?” tanya Hyoah.

“Bubur ayam.” Jawab Minho lalu berjalan mendekati Jaerin.

“Ini makanlah.” Ujar Minho menyodorkan semangkuk bubur ayam.

Jaerin menggeleng.

“Aku tidak mau bubur ayam.” Ujarnya.

“Jika tidak mau aku saja yang makan. Aku belum makan.” Sahut Hyoah.

“Ya~ berikan kepada Hyoah onnie saja.” Cletuk Jaerin.
“Tidak kau harus memakannya.” Paksa Minho.

Jaerin membungkam mulutnya dan menggeleng.

“Sakitku tidak parah kenapa aku harus makan bubur itu?” keluh Jaerin.

“Dokter bilang pencernaanmu terganggu karena kau sering telat makan. Kau sering mual dan pusingkan?” sahut Minho.

Jaerin terdiam.

“Pusing dan mual?” sahut Hyoah.

“Ya aku sering pusing dan mual.” Ujar Jaerin.

“Jangan-jangan kau hamil!” cletuk Hyoah.

“Hya Hyoah~ apa yang kau katakan itu!!!!” sahut Jinki mengacak-ngacak rambut Hyoah.

“Hentikan!!! Aku hanya bercanda.” Ujar Hyoah.

Jinki berhenti mengacak rambut Hyoah.

Hyoah merapikan rambutnya.

“Lihat apa yang kau lakukan. Jaerin jadi tersinggung.” Ujar Jinki.

Jaerin tersenyum.

“Tidak aku tidak tersinggung~ aku tahu Hyoah annie ingin membuatku tertawa karena kata-katanya yang NG~” ujar Jaerin.

Hyoah tersenyum.

“Mustihal bagiku hamil di luar nikah. Yang mungkin seperti itu Hyoah onnie. Karena Hyoah onnie sering mabuk dan tidak sadarkan diri. Siapa yang membawanya saat mabuk ia tidak peduli. Ia lepas kendali.” Cletuk Jaerin.

“Apa kau bilang?” sahut Hyoah menyingsingkan lengannya.

Jaerin tertawa. Lalu Jinki ikutan tertawa.

“Jaerin kau benar juga.” Ucap Jinki.

“Hya kau jangan ikut-ikutan. Lama-lama aku ngeri juga dekat dengannmu.” Sentak Hyoah ke Jinki.

Jinki diam menahan tawanya.

“Sudah-sudah.” Cletuk Minho yang sedari tadi diam tidak bergeming.

“Ayo Jaerin kau makan ini.” Ujar Minho menyodorkan bubur ke Jaerin.

Jaerin membungkam mulutnya dan menggeleng sekali lagi.

“Baiklah jika kau tidak mau makan sendiri. Aku akan menyuaipimu.” Ujar Minho duduk di dekat ranjang Jaerin.

“Ngomong-ngomong di mana Jira ya?” cletuk Hyoah.

Ia melihat jam dinding.

“Sudah satu jam lebih.” Lanjutnya.

“Jira? Dia kemari bersama siapa?” sahut Jaerin.

“Sendiri~ aku tadi meninggalkannya.” Sahut Hyoah.

“Tidak bersama Taemin?” sahut Jaerin.

“Taemin tadi bersama Key. Mereka menyiapkan acara untuk nanti malam.” Cletuk Minho.

“Jadi dia sendiri? Kemari? Astaga~” sahut Jaerin.

“Waeyo?” tanya Hyoah.

“Dia mudah tersesat. Dia mudah bingung di tempat yang baru.” Sahut Jaerin membaringkan dirinya kemudian memjamkan matanya.

Ia memegang dahinya.

9.03 AM

“Kenapa kau di sini?” tanya Taemin kepada seorang yang duduk jongkok.

Yeoja itu mendongak menatap Taemin. Yeoja itu berlinang air mata. Ia bangkit lalu memeluk Taemin.

“Ah Taemin~ akhirnya kau menemukanku~ Aku sudah lama berputar putar tapi tidak menemukan klinik dan aku tidak ingat jalan kembali.” Isak yeoja itu.

“Jira~ sudah~ sudah jangan menangis~ tidak enak di lihat orang.” Ucap Taemin.

Seketika itu Jira sadar apa yang di lakukannya. Ia melepas pelukannya lalu menghapus air matanya.

“Di mana kliniknya? Aku ingin bertemu dengan Jaerin.” Ujar Jira.

“Ikut aku!” seru Taemin.

Mereka berjalan berdua menujuh ke klinik.

“Jira!!!” seru Jaerin yang melihat Jira masuk.

Ia langsung turun dari ranjangnya dan memeluk Jira.

“Jaerin~” isak Jira.

“akhirnya kau datang juga.” Ucap Jaerin.

“Mianhae aku telat.” Sahut Jira.

“Kau tersesat lagi?” sahut Jaerin.

“Ne~”

Mereka melepaskan pelukan.

“Pabo~ sampai kapan kau akan mudah tersesat begitu.” Omel Jaerin.

“Mian~ aku selalu panik hingga aku tersesat. Aku ingin melihat kondisimu. Bagaimana kondisimu?” sahut Jira.

“Ah~ aku tidak suka di sini. Aku harus memakan bubur. Aku benci bubur.” Cletuk Jaerin.

“Bubur? Apakah pencernaanmu bermasalah?” tanya Jira.

“Ya~ dia terkena infeksi usus.” Sahut Minho.

“Mwo? Infeksi usus?”

10.15 AM

“Wah sepertinya sepeda motor trailenya rusak parah. Apakah kejadiannya sungguh parah hingga seperti ini jadinya?” cletuk Jonghyun.

“Ya seperti itulah~ kau tidak lihat. Korban shock hingga tidak sadarkan diri. Ia trauma dan sekarang masih di rawat di klinik.” Sahut Key yang mengecek kondisi motornya.

“Apa acara biasanya tetap diadakan?” tanya Jonghyun.

“Tentu~ itu acara klub kami. Kau ikut?” sahut Key.

“Ya~ tidak ada hiburan lagi.” Sahut Jonghyun.

“Dimana yeoja itu?” tanya Key.

“Oh yeoja itu~ ada~ tapi nanti aku akan menyuruhnya pulang. Aku tidak ada rasa dengannya.” Celtuk Jonghyun.

Key mendesah. Ia beranjak.

“Sampai kapan kau mempermainkan yeoja seperti itu.” Celtuk Key.

“Aku tidak mempermainkannya. Dia sendiri yang mengejarku dan ingin bersamaku.” Sahut Jonghyun.

“Tapi kau bisa memberitahukan bahwa kau tidak tertarik kepadanya. Itu lebih baik.” Ujar Key.

“Tidak, aku tidak bisa. Aku merasa kesepian tanpa yeoja di sampingku meski aku tidak mempunyai rasa  kepadanya.” Ujar Jonghyun.

“Dasar Lucifer.” Gumam Key lalu pergi meninggalkan Jonghyun.

“Apa? Lucifer?” ucap Jonghyun heran.

Ia menatap Key yang lama-lama menghilang dari pandangannya.

“Lucifer?” ucap Jonghyun lagi.

Ia mendecakkan lidah.

11.55 AM

“Akhirnya aku keluar juga dari klinik.” Cletuk Jaerin

“Tapi kau masih dalam pengawasan.” Sahut Hyoah.

“Dan kau hanya di perbolehkan makan bubur hingga benar-benar sembuh.” Sahut Jira.

“Ah~ kenapa harus bubur! Apa tidak ada makanan yang lain?” ujar Jaerin.

“Kau harus makan yang lembut-lembut jika kau ingin sembuh.” Cletuk Minho.

“Apakah aku boleh memakan sosis, daging sapi nanti malam?” tanya Jaerin kepada Minho.

“Ehm~ entahlah~ akan ku tanyakan kepada dokter.” Jawab Minho.

“Ku rasa boleh. Asalkan kau mengunyahnya hingga lembut.” Sahut Taemin.

“Aku dulu pernah begitu.” Lanjutnya.

“Yang sabar ya Jaerin.” Sahut Jinki tersenyum.

“Gomawo oppa~ sekarang aku mulai mual melihat ayam.” Sahut Jaerin.

“Ayam? Kenapa? Bukankah ayam itu enak? Aku suka ayam.” Sahut Jinki.

“Itu karena bubur ayam yang aku makan tadi.” Cletuk Jaerin memegangi perutnya.

“Kau tidak apa-apa? Mukamu pucat lagi.” Ujar Minho memegangi pundak Jaerin.

“Perutku sakit dan aku merasa mual.” Ucap Jaerin.

“Apa kita mengantarkannya  ke klinik?” sahut Jira.

“Kita sudah 2/3 jalan/ lebih baik bergegas ke kamar.” Ujar Minho.

Ia berjengkok dan berkata.

“Naiklah ke punggungku, biarku gendong.”

Jaerin menurut. Ia naik ke punggung Minho.

Minho menggendong Jaerin dan berjalan menujuh ke kamar.

“Jinki oppa~” triak sesorang yeoja.

Jinki menoleh. Ia mendapati seorang yeoja berlari mendekatinya.

“Siapa dia?” tanya Hyoah.

Jinki tidak menjawab ia hanya mendesah.

“Kalian duluan saja aku akan menyusul.” Ucap Jinki.

Mereka meninggalkan Jinki, termasuk Hyoah.

“Kenapa kau kemari?” tanya Jinki kepada yeoja yang menghampirinya.

“Aku ingin bertemu denganmu. Sudah lama kita tidak bertemu.” Ucap yeoja itu.

“Jihee~ bisakah kau tidak mengikuti kemana aku pergi. Aku ingin berlibur~” keluh Jinki.

“Kenapa kau mengeluh seperti itu? Akukan tidak menyusahkanmu.” Sahut Jihee.

“Awas saja jika kau menyusahkanku.” Ancam Jinki.

“Aku hanya minta bantuan kepadamu.” Ujar Jihee.

“Apa itu?” tanya Jinki.

“Bisakah kau membawakan barang-barangku ke kamar?” sahut Jihee.

“Aish~ Jihee~ apakah kau tidak bisa menyuruh pelayan resort untuk membawakannya?” sahut Jinki.

“Mereka namja~ aku tidak mengenalnya~ jika mereka lakukan sesuatu padaku bagaiman?” ucap Jihee.

“Terserah kaulah.” Sahut Jinki.

12.07PM

“Jinki hyung~ apa yang kau lakukan?” tanya Key menghampiri Jinki dan seorang yeoja yang bersamanya.

“Aku membantu yeoja ini mengangkut barangnya.” Ucap Jinki.

“Kenapa tidak menyuruh pelayan resort?” tanya Key.

“Dia takut dengan namja yang tidak ia kenal.” Ucap Jinki.

“Kan ada pelayan resort perempuan yang bertugas membawakan barang.” Cletuk Key.

“Jinca?” sahut Jinki.

Key mengangguk. Lalu ia melihat sekeliling.

“Ahjumma~” triaknya melambai-lambai.

Seorang ahjumaa datang menghampiri.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya ahjuma itu.

“Bawakan barang-barang itu kekamar yeoja itu.” Ucap Key menunjuk barang bawaan Jinki lalu menunjuk Jihee.

Ahjumaa itu mengangguk kemudian membawa barang-barang milik Jihee.

“Baiklah akan kembali ke kamarku.” Ucap Jinki lalu kabur.

“Aish!!! Jinki oppa!!!” triak Jihee.

“kau mengenalnya?” tanya Key.

“Tentu! Aku kemari karenanya.” Sahut Jihee cemberut.

“Tapi sepertinya dia tidak ingin bersamamu.” Sahut Key.

“Bukan urusanmu.” Sewot Jihee lalu meninggalkan Key bersama ahjumma yang membawakan barang-barangnya.

“Hah! Aku tidak mengerti apa yang ada di otak para yeoja itu. Kenapa mereka mengejar namja yang jelas-jelas tidak menyukainya.” cletuk Key.

7.07 PM

“Jira, kemana Hyoah onnie?” tanya Jaerin yang sedang menyisir rambutnya.

“Ia sudah keluar duluan. Jinki oppa menjemputnya.” Ujar Jira.

“Owh~ sepertinya hubungan mereka menjadi dekat.” Cletuk Jaerin.

“Apaka Hyoah onnie menyukai Jinki oppa?” sahut Jira.

“Ya~ dan sepertinya Jinki oppa juga menyukai Hyoah onnie.” Ujar Jaerin.

“Bagaimana kau bisa bilang seperti itu? Siapa tahu saja Jinki oppa hanya kesepian dan ingin di temani. Satu satunya yang ia kenal di sini hanyalah Hyoah onnie.” Cletuk Jira.

“Alu bisa melihat dari matanya. Aku bisa merasakannya.” Sahut Jaerin.

“Kau hebat ya bisa melihat perasaan orang lain dengan melihat matanya.” Ujar Jira.

“Aku belajar dari orang tuaku.” Ucap Jaerin.

“Apakah kau bisa mengajariku?” tanya Jira.

“Entahlah~ kau memiliki jiwa yang mudah tersesat ku rasa akan sulit untuk belajar.” Ucap Jaerin.

Jira mendesah.

“Jika begitu katakan perasaan orang lain yang ada di sekitar kita!” seru Jira.

“Ehm~ mulai dari mana ya~ oh ya Minho! Dia memiliki perasaan yang dingin. Ia bersikap hangat kepda orang lain karena merasah bersalah dengan orang itu.”

“Seperti dirimu?” sahut Jira.

Jaerin mengangguk.

“Dia memiliki suatu rahasia. Ia memendamnya . Ia orang yang tertutup. Dan ia tipe orang yang menhan air matanya.” Ucap Jaerin.

“Benarkah seperti itu?” sahut Jira.

“Jika di lihat dari matanya sich begitu~ lalu~ Key oppa~ dia merasa bingung akan suatu hal. Ia selalu memikirkan hal itu. Dan ia tidak dapat menyadari apa yang dirasakannya.” Terang Jaerin.

“Wah kau seperti peramal saj. Berpa lama kau mempelajarinya?’ sahut Jira.

“Entahlah. Sejak kecil orang tuaku mengajariku.” Ucap Jaerin.

“Lalu Taemin~” sahut Jira.

“Taemin? Kau ingin apa perasaanya?” sahut Jaerin.

Jira mengangguk.

“Dia memiliki mata yang indah dan perasaanya yang indah. Dia merupakan karakter yang lemah lembut dan tak berani melihat orang lain terluka. Dari matanya juga aku bisa melihat dia memiliki kesulitan untuk menyampaikan apa yang di rasakannya.” Terang Jaerin.

Jira terdiam.

“Kenapa kau diam?” tanya Jaerin.

“Ehm~ tidak apa-apa. Lalu bagaimana denganku?” ucap Jira.

“Kau mudah tersesat. Itu karena kau selalu bimbang. Aku bisa melihat dari matamu, kau merasa tidak percaya diri dan selalu bertanya-tanya yang manakah jalan yang tepat untukmu. Ku rasa kau harus meningkatkan rasa percaya dirimu dan mengikuti apa kata hatimu. Cobalah memberanikan diri Jira~ katakan apa yang ada di dalam hatimu. Jangan memendamnya. Jika kau tidak bertanya, kau sendiri yang tersesat.” Terang Jaerin.

TET~ TET~ TET~

“Sepertinya kita sudah di jemput.” Cletuk Jaerin lalu beranjak.

Ia berjalan ke pintu kamar dan membukanya.

“Hai Taemin~” ucap Jaerin tersenyum.

“Ada apa? Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanya Taemin curiga.

Jaerin hanya tersenyum.

“Kalian habis membicarakanku ya?” tanya Taemin sekali lagi.

“Tidak~ kami membicarakan urusan perempuan. Tidak ada hubungannya denganmu.” Sahut Jira mendekati.

“Ayo kita berangkat!” seru Jaerin.

7.35 PM

“Kemana Hyoah onnie ya?” gumam Jaerin lalu mengambil HPnya yang ada di saku jaketnya.

Ia mengirim SMS kepada Hyoah.

Onnie~ kau di mana? Kau tidak ikut dengan kami?

 

Dua menit kemudian Hyoah membalas.

Ini aku sedang berjalan ke sana.

Jaerin membalas.

Kalian ke mana sich?

 

Hyoah membalas

Kami baru saja menyicipi coklat yang ada di restourant. Rasanya enak sekali ^^

 

Jaerin mendesash.

“Waeyo?” tanya Minho yang duduk di sebelah Jaerin.

“Di restourant ada coklat yach?” tanya Jaerin.

“Ya~ ada pameran coklat. Hari ini mereka membuat miniatur resort dari coklat.”  Jawab Minho.

Jaerin mendesah lagi.

“Waeyo?” tanya Minho lagi.

“Aku meninginkannya.” Jawab Jaerin tertunduk.

“Kau bisa minta Key untuk menyisahkan coklat untukmu.” Ucap Minho.

“Jinca?” sahut Jaerin semangat.

Minho mengangguk.

“Key~” panggil Minho.

Key menoleh.

“Ada apa?” tanya Key.

“Jaerin menginginkan coklat.” Ujar Minho.

“Oh~ biar ku suruh anak itu membawa coklta. Kebutulan dia ada di sana saat ini.” Ucap Key.

“Gomawo~” ucap Jaerin.

“Cheonmaneyo~” ucap Key lalu sibuk mempersiapkan bahan yang akan di bakar.

“Minho~ bisakah kau membantuku.” Ujar Key.

“Ne~” sahut Minho lalu beranjak dari tempat duduknya.

“Tadi kau bilang ingin coklat?” cletuk Jira dari belakang Jaerin.

Jaerin tersentak kaget.

“Aish Jira~ kau mengagetkanku saja.” Omel Jaerin.

Jira tersenyum. Ia menyodorkan segelas minuman kepada Jaerin. Jaerin menerimanya. Lalu Jira duduk di sebalah Jaerin.

“Akhir-akhir ini kau sering terkejut ya.” Cletuk Jira.

“Ne~ semenjak perisiwa itu.” Ujar Jaerin.

“Peristiwa apa?” tanya Jira tidak mengerti.

“Peristiwa aku dengan Minho.” Sahut Jaerin.

“Hai! Apa yang kalian bicarakan!” seru Hyoah yang baru tiba.

“Bukan apa-apa” ucap Jaerin.

“Hyoah onnie dari mana?” tanya Jira.

“Dari restauran~ mencicipi coklat~” sahut Hyoah.

“Oh~ pantas Jaerin tiba-tiba ingin coklat. Itukan favoritenya.” Ujar Jira.

“Hyoah~ seharusnya tadi kau membawakan Jaerin coklat. Kau gimana sich~” omel Jinki.

“Kenpa aku yang kena marah? Aku kan lupa Jinki~” sahut Hyoah.

“Tidak apa-apa kok oppa~ aku tahu kenapa Hyoah onnie lupa. Lagian sesorang akan membawakan coklat untukku.” Sahut Jaerin.

“Siapa yang mengantarkan?” tanya Hyoah.

“Mungkin pegawai di sini.” Cletuk Jaerin.

“Hyung~ bisa bantu aku menyalakan api unggunya?” cletuk Taemin datang menghampiri Jinki.

“Oj ne~ dengan senang hati.” Ujar Jinki lalu beranjak.

Taemin dan Jinki sibuk menyalakan api unggun. Key, Minho dan teman satu klub lainnya sibuk mempersiapklan bahan dan alat untuk memanggang. Sementara Jaerin, Jira dan Hyoah membicarakan tentang liburan yang mengasyikan itu.

“Ayo kita mulai acaranya!!!” seru Key ketika semua persiapannya siap.

“Ayo!!!” seru orang-orang.

“Minho~ kau bagian memanggang!”  perintah Key.

“Lalu kalian berdua siapkan minuman untuk semua orang.” Lanjutnya menunjuk dua orang temannya

“OK kita mulai acaranya dengan acara pertunjukan bakat. Apakalian sudah mempersiapkannya?” ujar Key.

“Apa bakat?” sahut Hyoah.

“Iya~ apa tidak ada yang memberitahumu?” sahut Key.

Hyoah menggeleng.

Aku juga tidak tahu.” sahut Jaerin.

“Begitu juga denganku.” Sahut Jira.

“Maafkan aku. Aku lupa memberitahu mereka.” Sahut Minho.

“Ya sudah tidak apa-apa kalian tidak ikut juga tidak apa-apa. Kalian menyaksikan saja.” Ucap Key.

“Siapa yang mau duluan?” tanya Key kemudian.

“Aku~” sahut Jinki mengangkat tangan.

“Oh ternyata kau hyung.” Ujar Key.

“Aku tamu tak di undang di sini jadi aku ingin mengisi acar dulu agar kalian terhibur.” Ujar Jinki.

“Ah jangan berkata begitu hyung~ kami senang kau di sini.” Ucap Key.

“Kau akan menunjukkan bakat apa?” tanya Taemin.

Jinki tersenyum. Ia beranjak dari tempat duduknya menujuh ke namja yang membawa gitar. Ia berbisik kepada namja itu. Lalu ia duduk di sebelah namja itu.

Namja itu mulai memetikkan gitar. Lalu Jinki mulai menyanyi.

soni siryeowa sarangui gieogi chagapge dagawa

aryeoonda ijeneun deo isang neoreul bujeonghago sipji anheun nareul algo itjiman

gakkai inneun neol saranghal su eomneungeol algo itgie

nal barabol su eomneun neol gidarimi neomu himdeureo

ijen gyeondil su eobseo irwojil su eopgie

naega saranghaetdeon geu ireum

bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon

geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo

nae ane sumgo sipeojyeo

neol saranghal subakke eobseotdeon

geu nareul ijen arajwoyo

irul su eomneun sarangdo saranginikka

honja hal su eomneun sarangiran neukkimeun naege dagawa

sijak hal su do eomneun geuriumdeureun keojyeoman gago

sirin gaseum han kyeonen neoui hyanggiman nama

naega saranghaetdeon geu ireum

bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon

geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo

nae ane sumgo sipeojyeo

neol saranghal subakke eobseotdeo

geu nareul ijen arajwoyo

irul su eomneun sarangdo saranginikka

sucheon beoneul dorikyeo cheoeumui naro gan sungane

gaseum han guseoge da asagal ne moseubin geol

naega saranghaetdeon geu ireum

bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon

geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo

nae ane sumgo sipeojyeo

neol saranghal subakke eobseotdeon

geu nareul ijen arajwoyo

irul su eomneun sarangdo saranginikka

irul su eomneun sarangdo saranginikka

 

“Omo~ bagus sekali oppa~ Aku menyukainya!!!” sahut sebuah suara dengan lantang.

Dan semua matapun tertuju padanya.

To be continue…

Panjang sekali yach?

Ayo komentarnya jangan lupa~

Di like yach~

Isi ratingnya juga ^^

It Has To Be You 2 (chapter 5)

Standar

 Comlicated Life~ I’m walking and I’m fall~

Genre: Tragedy, Family, Friendship, Love

Cast: Super Junior, Jeoran, Hyekyu, Eunjo, Hyobyun

PG: 15

*PLEASE DON’T BE SILENT READER!!! HELP AUTHOR WITH GIVE COMMENT*

It Has Tobe you 2 - 5 

”Kau masih tidak ingat?” tanya seorang dokter.

”Aku sudah ingat.” cletuk seorang namja.

”Lalu kenapa kau tidak ingat yeoja itu?” tanya sang dokter.

”Aku benar-benar tidak mengenalnya.” ucap si namja.

”Apakah ada yang membuatmu bingung?” tanya sang dokter lagi.

”Ya~ aku ingat aku kecelakaan saat musim dingin, tapi kenapa sudah hampir musim panas? Apakah aku koma selama itu?” cletuk si namja.

”Ternyata kau belum ingat. Coba jelaskan apa yang menyebabkan kau masuk ke rumah sakit.”

”Aku mengalami kecelakaan mobil.”

”Dari mana kau dan mau kemana kau saat itu?”

”Aku baru saja pulang dari pekerjaanku dan hendak pulang.”

”Apa pekerjaanmu?”

”Aku seorang penyanyi.”

”Apakah kau penyanyi terkenal?”

”Aku baru saja memulai debutku.”

”Siapa namamu?”

”Semua orang memanggilku Yesung.”

”Bagaimana keadaanya?” tanya dokter Park.

”Dia tidak mengingat peristiwa 1,5th yang lalu. Dia mengira dia masuk rumah sakit karena kecelakaan 1,5th yang lalu.” ucap seorang dokter yang baru keluar dari suatu ruangan.

”Apakah ada kemungkinan ia mengingat kembali beberapa ingatannya yang hilang?”

”Mungkin, jika lingkungannya mendukung ia cepat mengingatnya.”

”Lalu apa langkahmu selanjutnya?”

”Aku akan menyerahkan kepada orang tuanya. Aku akan bicara langsung pada orang tuanya. Mereka mungkin bisa membantu mengembalikan ingatan Yesung.”

Malamnya

”Hyekyu mana?” tanya Kyuhyun.

”Dia sudah kembali.” jawab appa Hyekyu.

”Kapan?” tanya Kyuhyun lagi.

”Tadi siang setelah pemakaman eommanya.” jawab appa Hyekyu lesu.

”Siapa yang mengatarkannya?”

”Dia pergi sendiri.”

”Bukankah itu sangat berbahaya?”

”Dia tidak ingin di antarkan siapapun. Dia tidak percaya siapapun. Bahkan aku.” ucap appa Hyekyu lalu menangis.

”Maafkan aku ini semua salahku.” ucap Kyuhyun lesuh.

”Bukan. Ini bukan salahmu. Ini salahku karena aku egois.” isak appa Hyekyu.

Berkali-kali Kyuhyun memukul setir mobilnya hingga tangannya terluka. Ia berteriak lalu menangis.

”Namja macam apa aku yang selalu membuat yeoja tersakiti. Aku memang egois. Aku tidak ingin menjadi seperti ini.” isak Kyuhyun.

Dua hari kemudian

 

”Akhirnya aku keluar juga dari rumah sakit ini.” cletuk Yesung menatap langit.

”Tapi ada yang aneh~” lanjutnya.

”Tentu saja aneh~ kau sudah setengah tahun menghilang entah kemana. Lalu kau tidak ingat kejadian 1.5 tahun ini.” cletuk seorang ahjumma.

”Apakah aku harus menemukan yeoja itu agar aku mengetahui apa yang terjadi dan mengingat semuanya?” ucap Yesung.

”Ya kau harus menemuinya. Dia yang menyelamtkanmu. Setelah kau mengingat semuanya kau harus menemui malaikatmu.” cletuk sang ahjumma.

”Ah eomeoni~ kau ingin aku mati?” sahut Yesung.

Yesung eomeoni tertawa.

”Saat kau ingat kau pasti tertawa mengingat apa yang kau katakan barusan. Malaikatmu berada di suatu tempat. Kau harus menemukannya dan menyelamatkannya.”

”Menemukannya? Menyelamatkannya?”

”Sayapnya patah~ kau harus menyelamatkannya.”

”Sayapnya???” sahut Yesung semakin tidak mengerti.

Eomeoninya melangkah ke tempat parkir. Sementara Yesung tetap diam di tempat. Ia melangkah ke arah lain. Ia melangkahkan kakinya ke taman.

Jeoran menggulung rambutnya kemudian menggunakan topi. Ia mengambil sunglass putih dari tasnya. Kemudian ia melangkah ke luar kamar. Di depan sudah ada Hyukjae yang menunggunya.

”Di depan tidak ada wartawankan?” cletuk Jeoran.

”Tidak nona. Kami sudah membuat wartawan itu mengira nona ada di panti asuhan.” ucap Hyukjae.

”Jangan memanggilku nona, aku tidak suka. Panggil aku dengan namaku.” sahut Jeoran.

”Tapi bisa-bisa…”

”Call me Jeoy. Can you speak english?” potong Jeoran.

”Yes, I can.” jawab Hyukjae.

”OK. I will speak in english. I will disguise to be foreigner.” ucap Jeoran lalu berjalan ke luar.

Hyukjae mengikutinya.

Jeoran tidak berjalan ke tempat parkir ia berjalan ke taman. Ia menghirup udara di taman dengan senyum mengembang.

”Finally, I get out from this hospital.” cletuknya.

Ia mendongak menatap langit kemudian menatap ke sebuah arah. Di sana ada seorang namja yang membelakanginya. Lalu namja itu berbalik. Jeoran terdiam seakan-akan ia berada di tengah-tengah badai salju dan membeku.

Namja itu berjalan ke arah kanan. Jeoran hanya bisa memandang namja itu dari jauh.

”Jeoy~ are you okay?” tanya Hyukjae.

Jeoran menelan ludah. Ia melangkahkan kakinya yang berat. Ia menitikkan air mata.

‘Kenapa terasa berat?’ batinnya.

”Jeoy~ what’s happen?” tanya Hyukjae sekali lagi.

Jeoran mengepalkan tangannya kemudian berusaha untuk berlari. Ia mengejar namja itu. Hyukjae mengikutinya.

Namja itu membuka pintu mobil.

Jeorang berteriak,

”Yesung~”

Namja itu masuk ke dalam dan menutup pintu mobil.

”Yesung~” triak Jeoran hingga ia terjatuh.

Mobil yang di tupangi namja itu melaju.

”Yesung~” triak Jeoran sekali lagi lalu menangis.

”Yesung?” cletuk Hyukjae.

Jeoran menangis terseduh seduh. Hyukjae mencoba membantunya berdiri.

”Ada apa dengannya?” tanya nyonya Kang melihat Hyukjae memampa Jeoran.

”Where’s my room? I need rest.” ucap Jeoran.

Seorang pembantu menuntunya ke kamarnya.

”Apakah dia sudah sembuh?” tanya nyonya Kang khawatir.

”Kondisinya sudah membaik dan ia dapat di rawat di rumah. Ia belum sembuh betul. Saat aku menjemputnya ia baik-baik saja. Tapi saat di taman ia berubah.” terang Hyukjae.

”Berubah?” sahut nyonya Kang.

”Sepertinya ia melihat Yesung.” ujar Hyukjae.

”Ye… Yesung? Bukannya dia~” ucap nyonya Kang.

”Jasadnya belum di temukan hingga kini. Mungkin saja jasadnya belum ditemukan karena ia masih hidup.” ujar Hyukjae.

”Coba kau selediki.” pinta nyonya Kang.

Hyukjae mengangguk.

”Ehm nyonya~”

”Ya~”

”Jeo~ ehm nona Jeoran ingin di panggil Jeoy. Ia ingin menyamar menjadi orang asing.” cletuk Hyukjae.

”Penyamaran ya~ Aku mengerti. Maka dari itu ia berbicara bahasa Inggris. Oh ya kau sudah mengurus semuanya? Soal keluarga ini?” ucap nyonya Kang.

”Sudah nyonya.” ucap Hyukjae.

”Baiklah. Kapan konfresinya?” tanya nyonya Kang.

”Minggu depan.” ucap Hyukjae.

Nyonya Kang mengangguk.

”Oh ya. Bisakah kau membawa Jeoy besok?”

”Kemana nyonya? Nona Jeoy baru saja tiba.”

”Aku tidak ingin dia mengingat kejadian akhir-akhir ini. Kejadian yang membuatnya sepeti itu. Bawalah dia ke kampung halaman eommanya. Anggap saja liburan.”

Seorang yeoja berpikir sembari menggigit jari telunjuknya.

”Dia masih hidup.” cletuknya tiba-tiba.

”Apa yang kau pikirkan.” sahut sebua suara.

Yeoja itu mendongak.

”Siwonssi~ kau mengagetkanku saja.” ucapnya.

Siwon tersenyum lalu duduk di sampingnya. Ia menyesap kopi yang ia bawa.

”Kau tampak aneh akhir-akhir ini.” ucap Siwon.

”Aku memikirkan Yesung.” ucap yeoja itu.

”Waeyo?” sahut Siwon.

”Ada yang bilang ia masih hidup.” ucap yeoja itu.

”Lalu?” sahut Siwon.

Yeoja itu terdiam.

”Hya Shin Hyobyun kau dengar aku tidak?” ujar Siwon.

Yeoja bernama Hyobyun itu  mendesah.

”Ya ya aku mendengar. Aku senang jika Yesung masih hidup. Tapi ada yang aneh…” ucap Hyobyun.

”Sudah cukup kau selalu saja memikirkannya. Padahal ia tidak pernah memikirkanmu. Berita itu hanya gosip. Dia sudah tiada Hyobyun!” sentak Siwon lalu meninggalkan Hyobyun.

”Kenapa dia marah begitu? Suka suka aku dong mau mikirin siapa.” cibir Hyobyun.

Keesokan Harinya…

”Setelah pulang dari sana aku harap kondisimu pulih dan kita bisa meluruskan segala kebenaran yang ada.” ucap nyonya Kang dalam bahasa Inggris.

Joey hanya mengangguk. Lalu masuk ke dalam mobil. Kemudian Hyukjae masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil.

Mereka terdiam dalam perjalanan hingga Hyukjae mulai bicara.

”Call me Eunhyuk right now.” ucap Hyukjae.

”Eunhyuk?” sahut Jeoy.

”Ya~ itu nama samaran. Untuk menutupi identitas kita. Di sana mereka mengenaliku sebagai Eunhyuk, laki-laki yang berdarah Korea-Inggris.” ucap Eunhyuk alias Hyukjae dalam bahasa Inggris.

”Itu palsu?”

”Ya~ agar mereka mengira aku turis. Dengan begitu mereka tidak banyak tanya karena mereka tidak dapat berbahas Inggris.”

”Lalu bagaimana jika kita ada masalah? Siapa yang akan membantu?”

”Di sana ada temanku. Dia siap membantu. Hanya dia yang tahu siapa aku.”

”Kau sering ke sana?”

”Tidak juga. Aku baru tiga kali ke sana.”

”Apa tempatnya indah?”

”Sangat indah. Itu desa yang indah. Desa keliharan eommamu.”

”Apa ada nenekku di sana?”

”Tidak ada keluargamu di sana. Mereka semua sudah meninggal. Keluarga yang kamu punya hanya nyonya Kang.”

Jeoy terdiam. Ia memandang ke luar. Memandang laut yang berwarna biru.

Seorang ahjussi memandangi yeoja yang kini sedang menyapu halaman rumah.

”Hyekyu-ah~ istirahatlah~ sampai kapan kau akan menyibukkan dirimu~ carilah udara segar.” ucap ahjussi.

Hykeyu tidak menggubris. Ia tetap dalam pekerjaannya.

”Kau sama keras keplahnya dengan appamu.” ucap ahjussi membuat Hyekyu berhenti bekerja.

”Ya~ aku butuh udara segar.” ucap Hyekyu lalu keluar rumah.

Ia berjalan dengan tertunduk hingga ia menabrak seseorang dan terjatuh.

”Maafkan aku.” ucap seorang namja.

Namja itu membantu Hyekyu berdiri. Hyekyu tidak memandang namja itu. Ia melihat sikutnya yang berdarah.

”Astaga kau terluka.” ucap namja itu.

Hyekyu terdiam sejenak kemudian memandang namja yang ada di hadapannya itu. Ia menelan ludah kemudian membalikan tubuh dan melangkah pergi. Tapi namja itu meraih tangannya.

”Lepaskan!” sentak Hyekyu.

”Tidak akan aku lepaskan.” ucap namja itu.

”Lepaskan!!! Aku bilang lepaskan!!!” triak Hyekyu berusaha melepaskan diri dari cengkraman namja yang bersamanya.

”Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu.” ucap namja itu lalu menarik Hyekyu.

Namja itu membawa Hyekyu ke suatu kedai.

”Ramen dingin dua.” ucap namja itu kepada penjual ramen.

Penjual ramen mengangguk lalu ia menatap Hyekyu.

”Hyekyussi~ dia namja chingumu ya?” ucap si penjual ramen.

”Bukan!!! Aku tidak mengenalnya! Dia orang asing!!!” sahut Hyekyu.

”Aku calon suaminya Hyekyu.” sahut namja yang mencengkram tangan Hyekyu.

Hyekyu merasa kesal.

”Lepaskan aku!!!” sentak Hyekyu.

”Hei lepaskan Hyekyu!” sentak penjual ramen yang merasa kasian dengan Hyekyu.

Namja itu hanya diam.

”CHO KYUHYUN LEPASKAN AKU!!!” sentak Hyekyu keras.

Namja itu langsung melepaskan Hyekyu.

”Kau mengenalnya Hyekyu? Katamu kau tidak mengenalnya.” ujar si penjual ramen.

Hyekyu tidak menghiraukannya. Ia sedang menggerutu sendiri.

”Dia pura-pura tidak mengenalku. Biasa~ karena pertengkaran.” ucap Kyuhyun lalu tersenyum kepada penjual ramen.

Penjual ramen tersenyum.

”Namaku Ryeowook, aku temannya Hyekyu.” ucap si penjual ramen sembari menyiapkan bahan untuk membuat ramen.

”Senang berkenalan denganmu.” ucap Kyuhyun.

”Kau benar namja chingunya Hyekyu?” tanya Ryeowook.

”Bukan!” sahut Hyekyu.

”Ya tentu saja bukan, aku kan calon suamimi.” sahut Kyuhyun.

”Benarkah?” sahut Ryeowook.

”Tidak! Aku tidak akan menikah denganmu.” ucap Hyekyu melototi Kyuhyun.

”Jika kau tidak menikah denganku, kau akan jadi perawan tua. Karena tidak ada namja yang mau denganmu.” ucap Kyuhyun.

Ryeowook tertawa.

”Kenapa kau tertawa?” tanya Hyekyu ketus.

”Dia benar. Tidak ada namja yang mau denganmu karena kau kekanak-kanakkan. Selalu pilih-pilih namja yang ingin dijadikan namja chingu.” sahut Ryeowook.

Hyekyu menggerutu.

‘Aku harus mencari yeoja itu. Dimana aku bisa menemukannya?’ Tanya Yesung dalam hati.

Ia mengemudikan kendaraannya. Setelah beberapa menit, ia sudah tiba di Rumah Sakit. Ia masuk ke dalam rumah sakit dan menujuh ke resepsionis.

”Ada yang bisa saya bantu?” tanya si resepsionis.

”Aku pernah di rawat di sini sebelumnya. Aku ingin mengetahui siapa yang membawaku kemari.” ucap Yesung.

”Anda Kamar berapa?” tanya si resepsionis.

”Kamar 204.” jawab Yesung.

Resepsionis mengetik sesuatu di komputer lalu berkata,

”Nona Song Hyekyu. Anda tuan Siwon?”

Yesung terdiam.

‘Siwon? Apakah yeoja itu memanggilku dengan sebutan Siwon? Mengapa dia memanggilku Siwon?’ batin Yesung.

”Apakah saya bisa minta alamatnya? Saya ingin berterimah kasih kepadanya.” ucap Yesung.

”Ya sebentar.” ucap si resepsionis.

3 menit kemudian si resepsionis memberikan kertas berisikan alamat rumah.

”Gamsahamnida.” ucap Yesung

Yesung turun dari mobil. Ia memandangi rumah yang berpagar hitam. Ia menekan bel rumah itu.

”Siapa?” tanya sesorang melalui alat komunikasi yang ada di dekat pagar.

”Saya Yesung. Saya mau bertemu dengan Song Hyekyu.” jawab Yesung.

”Hyekyu? Ehm… Baiklah silakan masuk.”

Seorang membukakan pintu pagar, orang itu terkejut melihat Yesung.

”Siwon~” ucap orang itu.

”Bukan saya Yesung.” ucap Yesung.

”Jadi kau sudah ingat semua?” tanya orang yang tidak lain adalah appa Hyekyu.

”Belum semua.” ucap Yesung.

”Apakah Hyekyu ada?” tanya Yesung kemudian.

”Masuklah. Akan ku jelaskan di ruang tamu.”

”Dimana Hyobyun?” tanya sesorang namja.

”Tidak tahu. Dari tadi aku tidak melihatnya.” sahut seorang yeoja yang sibuk menata kostum.

”Aish~ hari ini ada syuting!!! Tapi dia tidak masuk, nomernya tidak bisa di hubungi juga. Aish~ bagaimana ini!!!” ujar namja itu.

”Ada apa?” tanya Siwon.

”Hyobyun tidak masuk. Padahal dia pemeran utamanya. Aish~ dia ingin membatalkan kontrak apa?” ujar namja itu kesal.

Siwon terdiam dia tidak ingin memikirkan yeoja itu.

”Baiklah kita batal syuting hari ini!!!” ujar namja yang dari tadi meributkan Hyobyun.

”Kenapa di batalkan? Biar aku yang menggantikan. Akukan lebih cantik dari Hyobyun.” sahut sebuah suara.

Semua mata memandang ke asal muasal suara.

”Hya Heechul, kau itu namja!!!” sentak Siwon.

”Siapa yang peduli? Yang penting akukan lebih cantik darinya.” cletuk Heechul mengedip-ngedipkan mata.

Semua orang tertawa.

”Siapapun tolonglah aku!!!” jerit Eunjo di dalam toilet.

”Aish~ siapa yang artis siapa yang di kejar.” ucapnya kemudian.

”Nasib punya chingu seorang artis.” lanjutnya.

Ia memandang ke jendela. Lalu terlintas di benaknya.

‘Apa aku keluar dari sana ya?’

Eunjo mencoba keluar dari jendela. Ia berhasil lolos. Tapi aksinya itu membuar orang terluka.

“Astaga apa yang kau lakukan!!!” omel orang itu.

“Joengmal mianhae~ aku tidak tahu.” ucap Eunjo.

“Kenapa kau keluar dari situ?” tanya orang itu.

“Itu satu-satunya jalan.” Ucap Eunjo.

“Kau bukan wartawankan?” tanya Eunjo tiba-tiba.

“Bukan~ kenapa kau bertanya begitu?”

“Syukurlah jika bukan. Bisakah kau membantuku?”

Orang itu diam dan berpikir.

“Sebenarnya kau siapa sich?” tanya orantg itu kemudian.

“Aku…”

“ITU DIA!!!” triak sesorang.

Eunjo lari bersama orang yang ia ajak bicara tadi.

“Sebenarnya siapa kau? Kenapa kau dikejar-kejar?”

“Aku Eunjo~ aku teman Joeran.”

“Joeran? Penyanyi baru itu?”

“Ya.”

Mereka masuk ke dalam lokasi syuting dan tersengal-sengal.

“Yeoja yang di sukai Kyuhyun itu?” tanya orang yang bersama Eunjo.

“Ya~” jawab Eunjo.

Lalu ia tersadar.

“Tunggu dulu. Darimana kau tahu itu?” ujar Eunjo.

Orang itu tersenyum.

“Aku Kim Heechul. Aku kenal dengannya. Oh ya tadi kau mau minta bantuan apa?”

“Heechul~ kau kenal dengan Choi Siwon tidak?” tanya Eunjo.

Heechul mengangguk.

“Syukurlah~ aku minta bantuanmu untuk menemuinya. Mereka pasti mengijinkanmu.” Ucap Eunjo.

“Ada perlu apa kau ingin bertemu denganku?” sahut Siwon yang tiba-tiba muncul.

“Aish~ kau lebih tampan dari pada di tv.” Celetuk Eunjo.

“Ehm, gamsahamnida.” Sahut Siwon.

“Ternyata kau fansnya Siwon.” Cletuk Heechul.

“Aku sudah lama ingin bertemu denganmu. Ta ta tapi bukan itu tujuanku. Tujuanku kemari untuk minta bantuanmu.” Ujar Eunjo

“Ya ada apa?” tanya Siwon.

“Kau kenal dengan Yesung bukan?” tanya Eunjo.

Siwon mengangguk.

“Apakah kau dekat dengannya?” tanya Eunjo lagi.

“Tidak juga. Aku pernah bekerjasama dengannya. Tapi kami tidak dekat. Kami dekat hanya sebatas pekerjaan.” Jawab Siwon.

“Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?” tanya Eunjo mengintrogasi.

“Aku tidak ingat.” Jawab Siwon.

“Kenapa kau bertanya hal itu?” sahut Heechul ingin tahu.

“Aku ingin mencarinya.” Sahut Eunjo.

“Mwo mencarinya? Bukannya dia sudah tiada?” sahut Heechul.

“Tidak~ jasadnya belum di temukan.” Ujar Eunjo.

“Bu bu bukannya…” ujar Heechul terbata-bata.

“Siwon kau tahu hal ini bukan?” potong Eunjo.

Siwon mengangguk.

“Kemungkinan kecil dia masih hidup. Jika dia hidup dia pasti menampakkan diri.” Ujar Siwon.

“Jeoran melihatnya di Rumah Sakit kemarin saat ia pulang. Aku kira dia berhalusinasi. Tapi dokter Park menceritakan bahwa itu benar Yesung. Dia masih hidup tapi aku tidak bisa melacaknya. Aku tidak pernah tahu tempat tinggalnya. Bisakah kau membantuku?” ucap Eunjo.

“Jadi itu benar ya? Jangan-janga Hyobyun tidak masuk karena itu.” Cletuk Siwon.

“Hyobyun? Dia~ dia menyukai Yesung?” sahut Eunjo.

“Iya. Saat pertama yesung debut, ia jatuh cinta dengan Yesung. Ia berusaha menunjukkan kepada Yesung tapi Yesung tidak merespon. Hingga suatu hari Yesung mengalami kecelakaan dan tidak ingin bertemu dengan siapapun. Hyobyun melupakan namja itu. Karena ia melihat Yesung tidak seperti dulu lagi. Lalu kemarin ia kembali mengingat namja itu.” Terang Siwon.

“Jangan-jangan dia sudah mendengar berita kembalinya Yesung. Apa dia dekat dengan keluarga Yesung?” ujar Eunjo.

“Appanya kenal dengan appanya Yesung.” Sahut Siwon.

“Apa dia tidak tahu bahwa Yesung menyukai Jeoran?” tanya Eunjo.

“Tidak. Dia tidak percaya. Lagi pula tidak banyak yang tahu cerita di balik lagu-lagu yang dinyanyikan Jeoran. Hanya Jeoran yang tahu seluk beluk lagu itu.” Ucap Siwon.

“Wow~ hidup ini sungguh rumit dan penuh kejutan.” Sahut Heechul.

“Lalu apa yang akan kita lakukan?” lanjut Heechul.

Siwon menatap Heechul.

“Ayo ke rumah Yesung.” Ucap Siwon.

“Kau yakin ini rumuhnya?” tanya Eunjo.

“Rumah ini sepertinya kosong.” Sahut Heechul.

“Astaga aku lupa~ aku dengar mereka pindah setelah kematian Yesung.” Sahut Siwon.

“Ya terus gimana?” sahut Eunjo lesu.

“Hyobyun.” Sahut Siwon.

Heechul dan Eunjo memandang Siwon.

“Dia tidak ada di rumah?” tanya seorang yeoja kepada seorang ahjumma.

“Ne~ dia pergi mencari seorang yeoja.” Ucap ahjumma itu.

“Yeoja? Nugu?” tanya yeoja itu.

To be continue…

Bagaiman chapter ini?

Ayo berikan pendapat kalian tentang chapter ini ya~ ^^

Gomawo~

When I Knew The Meaning of Love (chapter 4)

Standar

SHOCK!!! Get ready to SHOCK!!!

Cast       : SHINee, Lyra as Jaerin, Iha as Jira, Intan as Hyoah

Genre   : Romantic, Friendship

PG          : 15

when i knew the meaning of love

”Itu dia~” cletuk Jira hendak mendekati Taemin.

Ia menghentikkan langkahnya ketika tahu Taemin mendekati Jaerin.

Jaerin berdiri dan menatap Taemin. Taemin mengatakan sesuatu. Jira tidak dapat mendengarkan apa yang di katakan Taemin. Ia memilih untuk bersembunyi.

Taemin tampak senang. Ia tidak berhenti tersenyum. Jaerin mengatakan sesuatu kepada Taemin. Lalu Taemin…

”Ia mencium Jaerin? Jadi Taemin menyukai Jaerin? Jadi selama ini Taemin menyukai Jaerin?” cletuk Jira pelan.

Dadanya terasa sesak. Rasanya sangat berat. Ia mencoba untuk melangkah. Lalu ia mengambil HP dari sakunya. Ia menghubungi seseorang. Setelah itu ia melangkah cepat. Ia menabrak seseorang.

”Kau tidak apa-apa?”

Jira hanya diam lalu ia berlari.

”Ada apa dengan dia?” cletuk orang yang Jira tabrak.

”Apa dia tidak menemukan Taemin dan Jaerin.” cletuk orang itu lagi yang tidak lain adalah Minho.

Ia memutuskan untuk duduk menunggu. Beberapa menit kemudian Taemin dan Jaerin datang mengahampiri.

“Kemana Jira?” tanya Taemin.

“Kau tidak bertemu dengannya tadi?” cletuk Minho.

Taemin dan Jaerin menggeleng.

Minho menatap Jaerin yang membawa boneka beruang. Dia masih ingat boneka itu. Ia menelan ludah. Ia mengetahui sesuatu.

“Mu… mungkin dia tidak enak badan. Ku lihat wajahnya sedikit pucat. Sepertinya ia kembali ke kamar.” Ucap Minho tiba-tiba.

“Taemin, coba kau tengok dia cepat!” pintah Jaerin.

Taemin mengangguk kemudian berlari keluar.

Minho beranjak.

“Wajahmu merah.” Cletuk Minho memandang lurus ke depan.

Jaerin tertunduk. Ia menutupi wajahnya dengan boneka beruangnya.

“Apa di sini sangat panas?” tanya Minho menatap Jaerin.

“Sepertinya begitu. Ayo kita keluar.” Cletuk Jaerin berjalan ke luar.

Mereka terdiam di sepanjang jalan.

“Itu dari Taemin?” tanya Minho memecahkan keheningan.

“Ne~” ucap Jaerin.

Minho tersenyum.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya Jaerin.

“Tidak apa-apa kalian mengingatkanku kepada dua orang yang kurindukan.” Cletuk Minho.

“Siapa?” tanya Jaerin penasaran.

“Hanya orang di masa lalu.” Jawab Minho.

“Dia temanmu?” tanya Jaerin lagi.

Minho tersenyum.

“Hanya masa lalu. Tidak perlu di ungkit lagi.” Ucap Minho.

Mereka terdiam lagi.

Taemin mengetuk pintu kamar Jira. Lalu seseorang membukakan pintu.

“Nuna, Jira ada?” tanya Taemin.

Hyoah menggeleng.

“Bukankah tadi dia bersamau dan yang lainnya?” cletuk Hyoah.

“Tadi dia meninggalkan kami. Kata Minho hyung dia pucat. Sepertinya dia sakit.” Ujar Taemin khawatir.

“Coba kau hubungi dia.” Cletuk Hyoah.

Taemin merogoh sakunya, mengambil HPnya. Ia bergegas menghubungi Jira.

“Bagaimana?” tanya Hyoah yang melihat Taemin yang memasukkan kembali HP ke dalam sakunya.

Taemin menggeleng.

“Tidak di angkat.” Ucapnya.

“Jangan-jangan dia pingsan di jalan.” Cletuk Hyoah.

Taemin tersentak kaget lalu ia lari meninggalkan Hyoah.

“Astaga~ apa yang aku katakan tadi. Aish~” oceh Hyoah sendiri.

HPnya berdering.

“Yoboseyo~ Hm… dia tidak ada di kamar. Taemin sedang mencarinya. Kau di mana? …… cepatlah kembali. Ada suatu hal yang ingin ku katakan. …………… iya mencari Jira itu penting. Tapi ada suatu hal yang lebih penting dari itu. …………………… baiklah ini berkaitan dengannya cepatlah kemabali.” Oceh Hyoah lalu menutup HPnya.

“Ada masalah?” tanya sesorang.

Hyoah menoleh.

“Biasa~ masalah yeoja~” cletuk Hyoah buru-buru masuk ke dalam kamar.

Ia mendesah.

“Aish~ Jinki~ kenapa kau membuat liburanku tidak karu-karuan?”

Taemin berhenti berlari melihat seorang yeoja yang duduk di tepi pantai. Ia mendekati yeoja itu. Lalu langkahnya terhenti setelah mengetahui yeoja itu menangis. Ia tetap berdiri di tempat.

Beberapa  menit kemudian yeoja itu beranjak. Ia memalingkan tubuhnya dan mendapati Taemin berdiri beberapa meter di depannya. Ia buruh-buruh menghapus air matanya.

“Kenapa kau menangis?” tanya Taemin.

“Aku tidak menangis. Mataku kemasukan pasir, rasanya perih.”

“Benarkah?”

“Iya. Apa aku pernah berbohong padamu?”

“Jira, aku tahu kau berbohong padaku.”

Jira tersenyum.

“Ya aku berbohong padamu~ nenekku sakit. Ia tadi menelpon, ia ingin melihatku sebelum dia mati. Ia mengatkan sesutu yang membuatku takut. Ia berbicara seolah-olah ajal akan menjemputnya esok.”

“Rumah nenekmu dekat sini bukan?”

“Ya, sekitar satu jam dari sini.” Ucap Jira kemudian berjalan mendekati Taemin.

“Pamanku akan menjemputku nanti.” Ucap Jira di sebelah Taemin.

Lalu ia meninggalkan Taemin.

Taemin memandang Jira.

“Kenapa tidak mengatakn langsung padaku? Aku bisa mengantarkanmu.” Ucap Taemin.

Jira berhenti melangkah.

“Aku tidak ingin merepotkanmu. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu.” Ucap Jira kemudian melangkah menjauh dari pandangan Taemin.

“Kau tahu dia di sini kenapa tidak mengatakn padaku?” sentak Hyoah.

Jaerin tidak mempedulikannya. Ia memeluk erat boneka beruangnya.

“Hya Jaerin~ kau dengar tidak?” triak Hyoah.

Jaerin meletakkan boneka beruangnya di meja.

“Aku mau mandi.” Cletuk Jaerin.

“Aish~ ada apa denganmu?” sentak Hyoah.

Kemudian seseorang masuk.

“Jira~ kau tidak apa-apa? Ada apa dengan wajahmu? Kau habis menangis?” tanya Hyoah.

Jira hanya diam. Ia menambil tasnya dan menata barang bawaanya.

“Kau mau kemana?” tanya Hyoah.

Jira menatap boneka beruang yang ada di meja.

“Ke mana Jaerin?” tanya Jira.

“Dia sedang mandi. Baru saja masuk kamar mandi.” Ucap Hyoah.

“Katakan padanya aku ke rumah nenekku. Nenekku sakit.” Ucap Jira lalu keluar kamar dengan barang bawaanya.

Hyoah tersentak.

“Sebenarnya ada apa dengan semua orang. Apa yang mereka katakan tidak sama dengan raut wajah mereka.” Cletuk Hyoah.

Ia mengacak-ngacak rambutnya kemudian menjatuhkan dirinya ke kasur.

“Ini musim panas yang terpanas yang pernah ada.” Cletuknya.

Malamnya

“Ini bukan salahmu.” Cletuk Taemin.

Jaerin mendesah. Ia tidak memakan makanannya. Ia hanya mengacak-ngacaknya.

“Akhir-akhir ini aku tidak memperhatikannya. Aku mengacuhkannya.” Ucap Jaerin.

“Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?” tanya Hyoah tiba-tiba.

“Tidak ada apa-apa.” Ucap Taemin.

Kemudian Minho datang duduk di sebalh Taemin.

“Hyung, kemana Key hyung?” tanya Taemin.

“Sebentar lagi muncul. Apa yang sedang kalian bicarakan?” ucap Minho.

“Soal Jira.” Ucap Hyoah.

“Dia sudah pergi?” tanya Minho.

“Ya~” ucap Jaerin lesuh.

“Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?” tanya Minho.

Taemin tersentak kaget.

“Hyung kata-katamu seperti Hyoah nuna.” Ujar Taemin.

“Benarkah? Aku hanya penasaran. Tadi di Istana Boneka dia mencari Jaerin. Lalu ia menabrakku setelah dari ruang belakang. Wajahnya pucat dan sepertinya ia menhan air mata.” Ucap Minho lalu melahap makanan yang ada di hadapannya.

Jaerin beranjak.

“Kau mau kemana?” tanya Hyoah.

Jaerin tidak menghiraukan. Ia langsung berlari keluar.

“Apa kau tidak menyadari sesuatu Taemin?” tanya Minho.

Taemin mencoba menyerna apa yang di katakan Minho.

Lalu tiba-tiba Taemin terbelalak. Ia beranjak dan berlari keluar.

“Kemana mereka?” cletuk Hyoah kesal.

“Kenapa tidak mengikuti mereka saja?” cletuk Minho beranjak.

“lalu makanannya?” cleyuk Hyoah.

“Kita bisa makan nanti.” Ucap Minho lalu mengikuti Taemin.

“Istana boneka?” cletuk Hyoah.

Minho berjalan masuk, Hyoah mengikutinya.

“Di sinikan tempatnya?” ucap Jaerin.

“Minho, dia tadi berlari dari sini?” tanya Jaerin.

Minho berjalan mendekat sambil mengangguk.

Jaerin menelan ludah.

“Apa dia… dia…” ucap Taemin terhenti. Ia tidak dapat mengelurkan suarnya. Sesuatu menhannyanya.

“Cemburu~” cletuk Jaerin.

“Mwo? Cemburu?” cletuk Hyoah.

“Bagaimana kejadiannya?” tanya Minho.

Lalu Jaerin menjelaskan semuanya.

“Nuna, coba kau praktekan Jira. Kau berdiri di sana.” Ucap Minho menunjuk ke suatu tempat.

“Kita lakukan reka ulang.” Cletuk Minho lalu memeraktekan apa yang dilakukan Taemin kepada Jaerin sore tadi.

“Aish~ kalian berciuman?” sentak Hyoah.

“Coba kau lihat dari sana.” Tunjuk Minho ke suatu tempat tanpa merubah posisinya saat itu.

Hyoah mlangkah ke tempat yang di tunjuk Minho.

“Hehehehe ternyata bisik membisik.” Cletuk Hyoah tertawa.

Taemin menangis.

“Aku menghancurkan semua.” Ucapnya.

“Hya kenapa kau menangis?” sentak Hyoah.

“Karena dia membuat Jira menangis.” Cletuk Minho.

“Jira cemburu kepadaku.” Ucap Jaerin.

“Sebentar sebentar. Taemin menyukai Jira?” ujar Hyoah.

Jaerin mengangguk.

“Jira cemburu. Dia cemburu padaku. Bukankah itu bagus Taemin.” Cletuk Jaerin.

Hyoah menjitak kepalah Jaerin.

“Apanya yang bagusa. Dia terluka seperti itu kau bilang bagus.” Sentak Hyoah.

Jaerin menatap Hyoah dengan kesal.

“Ya baguslah. Itu tandanya dia mencintai Taemin. Jika tidak cemburu berarti dia tidak ada rasa dengan Taemin.” Cletuk Jaerin.

“Tapi jika dia sudah cemburu seperti itu, ia akan semakin sulit untuk menerima kalian.” Ucap Hyoah.

“Kamikan temannya.” Sahut Jaerin.

“Meski kalian temannya itu sangat sulit. Lihat saja dia lari dari kenyataan.” Sahut Hyoah.

“Dia boleh lari dari kenyataan seperti itu. Tapi dia tidak dapat menyembunyikan perasaan bahwa ia mencintai Taemin.” Ucap Jaerin dengan senyum mengembang.

Ia mendekati Taemin dan manarik pakaian namja itu.

“Ayo bangun!” sentak Jaerin.

Dengan lesu Taemin berdiri.

“Sampai kapan kau akan menjadi pengecut Taemin!”

“Kau melihat Minho?” tanya Key kepada salah seorang chingunya.

Chingunya menggeleng.

Seseorang menyentuh pundaknya.

“Ada masalah?”

Key menoleh ia mendapati seorang namja yang sangat ia kenal.

“Tidak ada apa-apa.” Cletuk Key lalu bergegas pergi meninggalkan orang itu.

Ia mengubungi Minho.

“Kau di mana?”

“Sebaiknya kita kembali.” Cletuk Minho kemudian melangkah keluar.

Taemin mendesah lalu mengikuti Minho.

Jaerin menggeret Hyoah yang berdiri mematung.

“Kau yakin akan melakakukan hal itu?” tanya Hyoah.

“Tentu saja. Aku sudah berjanji dengan Taemin.” Ucap Jaerin.

“Tapi itu dapat melukai Jira.”

“Aku punya rencana. Pasti aku bisa.”

“Jika gagal?”

“Aku kenal Jira, aku kenal Taemin. Aku punya rencana yang sudah aku pikirkan sejak dulu. Tempat ini sungguh tepat untuk menjalankannya. Besok pagi aku akan menjemputnya kembali.”

“Untung kau cepat kembali. Aku tidak tahan melihatnya.” Cletuk Key.

“Melihat siapa hyung?” tanya Jaerin.

Key menatap ke suatu arah.

Jaerin mengikutinya. Lalu ia merasa dadanya sesak. Ia berjalan mundur kemudian berlari.

“Ini benar-benar musim panas yang terpanas.” Cletuk Hyoah yang menyadari apa yang di lihat Jaerin. Ia mengikuti Jaerin.

“Ada apa dengan Jaerin?” tanya Key.

“Aku mengerti.” Cletuk Taemin pelan.

“Ada apa?” tanya Key penasaran.

“Aku ke kamar juga. Aku tidak nafsu makan di sini.” Ucap Taemin lalu berjalan ke luar.

“Aku juga ke kamar.” Cletuk Minho.

“Lalu aku? Kau membirkanku makan sendiri di tampat ini melihatnya?” sahut Key.

“Suruh orang mengantarkan makanan ke kamar.” Ucap Minho lalu pergi meningglakan Key.

“Kenapa tidak terpikirkan olehku.” Gumam Key.

“Oh ya sebenarnya apa yang di lihat yeoja itu hingga lari seperti itu ya?” gumamnya lagi.

“Gimana Jaerin? Ini musim yang panas bukan?” cletuk Hyoah mendekati Jaerin yang duduk memeluk boneka beruang.

“Pertama aku, ke dua Jira, ke tiga kau. Sepertinya kita seri. Sungguh panas bukan?” cletuk Hyoah lalu duduk di sebalah Jaerin.

“Kau sanggup menghadapi ini semua?” tanya Hyoah.

“Aku sanggup~” gumam Jaerin.

“Apa kau tidak sanggup?” sahut Hyoah pura-pura tidak mendengar.

“AKU SANGGUP!” triak Jaerin.

“Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Yang harus aku lakukan menatap ke depan, berjalan lurus ke dapan. Jangan berpaling ke belakang. Aku boleh berhenti sejenak, tapi aku harus terus melangkah. Aku akan mengejar Jira terlebih dahulu dan menyadarkannya. Urusanku belakangan.” Ujar Jaerin.

Ia menatap Hyoah.

“Dan onnie~ kau harus maju~. Katakan padanya tentang perasaanmu sebelum terlambat.” Ucap Jaerin.

“Sepertinya suhu mempengaruhi otakmu.” Ucap Hyoah.

Ia beranjak.

“Kau gila ya? Aku tidak mungkin mengatakan soal perasaanku. Dia menganggapku sebagai teman. Hanya sekedar teman tidak lebih.”

“Dia baik denganmu.”

“Itu karena dia tidak ada teman di sini. Tidak ada orang yang ia kenal di tempat ini.”

“Benarkah. Apakah dia berpikir seperti itu juga?”

Paginya

“Jaerin! Kemana dia?” ujar Hyoah kebingunangan.

Ia melihat jam. Masih jam 6 pagi tapi Jaerin tidak ada. Ia sudah mencarinya di penjuru kamar tapi tidak ada.

Ia mengambil nafas.

“Mungkin ia pergi bersama Taemin ke rumah nenek Jira.” Gumamnya.

Ia bergegas berbenah kemudian keluar kamar. Ia terkejut melihat Taemin yang baru saja keluar kamar.

“Taemin kau tidak bersama Jaerin?” tanya Hyoah.

“Tidak~ aku baru saja keluar kamar.” Ucap Taemin.

“Astaga~ ku kira dia pergi bersamamu.” Ucap Hyoah.

Secara bersaamaan mereka menelpon seseorang.

“Kau menelponnya?” tanya Hyoah.

Taemin mengangguk.

Hyoah melihat jam di HPnya.

“Biar aku saja yang menghubinginya. Kau coba hubungi Jira apakah Jaerin ada di sana.” Ucap Hyoah.

Beberapa menit kemudian. Mereka mendesah.

“Tidak diangkat.” Cletuk Hyoah lesu.

“Sama.” Sahut Taemin tidak kalah lesu.

“Kau tahu rumah neneknya Jira?” tanya Hyoah.

Taemin mengangguk.

“Ayo kita ke sana!” seru Hyoah.

“Sebentar aku mengambil kunci mobilku dulu.” Cletuk Taemin.

Ia kembali masuk kedalam kamar dan mengambil kunci mobilnya.

“Kau mau kemana?” tanya Key.

“Aku mau menjemput Jira dan Jaerin.” Cletuk Taemin.

“Jaerin?” sahut Minho.

“Ye~ dia menghilang. Sepertinya menyusul Jira.” Ujar Taemin.

“Di mana rumah nenek Jira?” tanya Minho.

“Satu Jam dari sini ke arah selatan.” Ucap Taemin.

“Selatan?” sahut Minho.

Ekspresinya berubah tidak menyenangkan.

Key melemparkan sebuah kunci kepada Minho.

“Ada di garasi.” Cletuk Key.

“Ayo Taemin kita menyusulnya. Kau pakai motormu dan aku pakai sepeda motor Key.” Ucap Minho.

Mereka keluar kamar.

“Minho kau ikut menyusulnya?” tanya Hyoah.

“Lebih baik kau tidak iku nuna.” Ucap Minho.

“waeyo?”

“Terlalu berbahaya.” Ucap Minho

“Sebenarnya ada apa hyung?” tanya Taemin.

“Di daerah selatan ada perbatasan daerah. Mereka suka membuat masalah di sana.” Ucap Minho mengepalkan tangannya.

“Mereka siapa?” tanya Taemin.

“Musuh bebuyutan kami.” Sahut Key yang kelur dari kamar.

“Aku akan memanggil yang lain. Kau berangkat duluan sebelum terlambat.” Lanjut Key lalu pergi menjauh.

“Nuna, kau di sini saja mendoakan kami selamat.Taemin, kau tetap ada di belakangku. Aku akan membuatmu melewati tempat itu. Semoga saja Jaerin tidak ada masalah dengan mereka.” Ucap Minho.

Taemin berada di belakang Minho. Ia sedikit was-was.

Tiba-tiba Minho mengerim mendadak. Derit rem sangat terasa membuat gendang telinga terasa sakit. Ia melihat banyak orang berkerumun.

Minho yang menggendarai sepeda motor membelah orang yang berkerumun itu menjadi dua kelompok. Sesorang berusaha menghajar Minho. Minho berhasi menghindarinya. Tapi sesorang melemparkan sebalok kayu kepadanya. Kayu itu mengenai kepalahnya. Untung saja ia menggunakan helm. Ia terhempas dari sepeda montor. Salah seorang menarik-narik seorang yeoja. Taemin terkejut melihat yeoja itu.

Ia ingin turun. Tapi tidak bisa. Minho menyuruhnya untuk berada dalam mobil.

Minho melawan orang itu. Tapi ia kalah jumlah. Ia mencoba sekuat tenaganya. Saat ada kesempatan ia berlari ke seorang namja yang menarik lari seorang yeoja. Minho memukul namja itu dengan kayu yang ada di dekatnya. Ia merenggut yeoja itu dan membawanya lari. Mereka berlari mendekati mobil Taemin. Minho menyuruh yeoja itu masuk ke dalam mobil.

“Tarik gas! Jangan berhenti sedetikpun. Jangan pedulikan mereka.” Ucap Minho kepada Taemin.

“Cepat pergilah!!!” seru Minho.

Taeminpun memasukkan gigi dan mencap gas. Ia menyerempet beberapa orang yang berkelahi dengan Minho tadi.

“Jaerin kau tidak apa-apa?” tanya Taemin.

Jaerin terdiam. Sepertinya ia masih shcok.

“Jaerin kau dengar aku tidak?” tanya Taemin lagi.

“Kau mau minum?” tanya Taemin menyodorkan botol air mineral.

Ia tetap fokus mengendarai mobilnya. Ia takut ada orang-orang seperti itu menghadang.

Jaerin menerima pemberian Taemin dengan gemetaran.

“Tidak seharusnya kau berjalan sendiri. Kau belum mengenal tempat ini, kau seorang yeoja.” Ujar Taemin.

Taemin turun dari mobilnya. Ia dapat melihat Jira yang duduk memandangi anak-anak ayam. Ia mendekati yeoja itu.

“Mana nenekmu?” tanya Taemin.

Jira tersontak kaget.

“Ta Ta Ta Taemin?” sahut Jira.

“Siapa dia?” tanya seorang nenek yang ke luar dari rumah.

“Oh nenek~ kau tidak apa-apa?” tanya Taemin.

“Aku baik-baik saja. Kau siapa?” tanya nenek.

“Aku Taemin, chingunya Jira.” Ucap Taemin.

“Apa? Namjachingu? Jira tidak pernah cerita.” Ucap nenek.

“Nenek dia bukan namja chinguku. Dia chinguku.” Sahut Jira.

“Ehm… ya aku tahu. kau kira aku sudah tuli. Ya dia namja chingumu. Dia sangat tampat.” Ucap sang nenek.

Jira meringik ingin menangis.

“Kata Jira nenek…”

Jira membekap mulut Taemin.

“Ah~ baiklah aku tinggal sepertinya kalian tidak ingin diganggu.” Ucap sang nenek kemudain pergi meningglkan Taemin dan Jira.

Taemin mengenggam tangan Jira yang membekapnya.

Lalu Jira melepaskannya.

Taemin terbatuk-batuk.

“Kau habis memegang apa? Tanganmu bau sekali.” Cletuk Taemin.

“Makanan ayam.” sahut Jira.

“Tidak~ lebih bau dari itu. Pasti kau belum mandi.” Sahut Taemin.

“Apa urusanmu.” Sahut Jira.

“Sudah mandi sana lalu kita berangkat.”

“Tidak mau.”

“Jika kau tidak mau aku akan bilang kepda nenekmu soal apa yang kau katakn padaku kemarin.” Ancam Taemin.

“Aish~ baiklah aku akan menuruti perintahmu.”

“Yang cepat ya. Kasian Jaerin menunggu.”

“Jaerin?”

“Ia di mobil. Ia shock.”

“Shock?”

“Nanti ku jelaskan.”

Jira selesah berbenah. Ia pamit kepada neneknya. Ia sempat di omeli oleh neneknya karena ia kabur dari chingunya. Jira ingin menjelaskan kepada neneknya, tapi percuma. Neneknya rada tuli. Ia tidak peduli, yang penting ada orang tau posisinya saat ini. Yaitu pamannya.

Jira keluar rumah. Ia melihat Taemin menggendong Jaerin. Memindahkan Jaerin dari bangku depan ke belakang.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Jira.

“Masuklah.” Ujar Taemin.

Jira masuk ke dalam mobil. Ia menengok ke belakang. Sementara Taemin masuk ke dalam mobil.

“Ceritakan apa yang terjadi.”

“Hyung kau tidak apa-apa?” tanya Taemin ketika tiba di resort.

“Aku tidak apa-apa. Bagaiman dengan Jaerin?” tanya Minho.

“Dia ada di belakang. Ia shock dan tak sadarkan diri.” Ucap Taemin.

Minho membuka pintu belakang mobil Tamin. Lalu ia menggendong Jaerin.

“Maaf menyusahkanmu hyung~” ucap Taemin.

“Tidak apa-apa. Ini semua berawal dariku.” Ucap Minho membawa Jaerin masuk.

“Aish~ Jaerin~ apa yang terjadi padanya~” sahut Hyoah histeris. Ia berjalan mendekati Minho.

“Aku akan membawanya ke klinik resort. Kau tidak perlu khawatir.” Ucap Minho lalu meningglkan Hyoah.

Hyoah khawatir. Lalu ia mendekati Jira.

“Kau tidak apa-apa Jira?” tanya Hyoah.

“Aku tidak apa-apa. Maafkan aku. Ini salahku. Seandainya saja aku tidak ke rumah nenek kejadian ini pasti tidak terjadi.” Ucap Jira.

“Jangan salahkan dirimu. Yeoja itu memang ekstrem. Biarlah ini menjadi pelajaran baginya agar tidak keluar sendirian.” Ucap Hyoah.

“Hyung bisakah kau pelan sedikit~” oceh Key.

“Diamlah~ kau sensi sekali sich.” Ucap seorang namja.

“Biar aku sendiri yang mengobati lukaku.” Sahut Key merenggut kapas dari namja yang ada di hadapannya.

“Di mana dokternya Key?” sahut Minho.

Key dan namja di depannya menengok.

“Ada apa dengannya?” tanya Key.

“Dia shock.” Ujar Minho.

“Sebentar aku panggilkan dokternya. Baringkan dia di tempat tidur.” Ucap Key lalu beranjak pergi.

Minho membaringkan Jaerin di kasur putih.

“Siapa dia?” tanya namja itu.

“Teman baru.” Ucap Minho.

“Apa ini yeoja yang kau selamatkan tadi?”

Minho mengangguk.

“Dia sungguh berani keluar sendirian.”

“Dia yeoja yang seperti itu hyung. Dia berbeda.”

“Ini yeojanya?” sahut sebuah suura.

“Iya dok. Dia shock karena peristiwa tadi.” Ucap Key.

Dokter itu mendekati Jaerin.

“Baiklah aku akan menanganinya. Kalian bisa pergi.” Ucap dokter.

Key dan Minho pergi menjauh.

Dokter menatap namja yang ada di sebelahnya.

“Jonghyun~ pergilah. Kau menggangguku.” Ucap sang dokter.

“Ah nuna~ kenapa kau tidak memberikan kesempatan padaku.” Cletuk Jonghyun.

“Shut up! Get out from my room now!” sentak sang dokter.

Mendengar sentakan dokter muda itu, seisi ruangan berbondong-bondong pergi. Padahal sang dokter hanya mengusir Jonghyun.

“Sudah tahu punya kekasih kenapa masih menggodanya?” cletuk Key.

Jonghyun tersenyum.

“Aku sudah lama menyukainya. ah~ dia begitu cantik~ Key tolong persiapkan ya, saat makan malam aku akan bernyanyi untuknya.” Ujar Jonghyun lalu pergi meninggalkan Key dan Minho.

“Lalu bagaimana dengan kekasihmu?” sahut Key.

“Dia bukan kekasihku. Aku tidak menyukaiku. Dia memaksa ikut denganku.” Sahut Jonghyun kemudian melanjutkan perjalanannya.

“Dasar playboy!” gumam Key.

“Sabar Key.” Ucap Minho.

“Key~ tidak ku sangka dokter secantik itu ternyata galak.” Sahut salah seroang temen Key di ikuti beberapa lainnya.

Mereka pergi meninggalkan Key dam Minho yang berdiri di luar klinik.

“Syukurlah mereka sadar dan cepat keluar dari klinik. Lecet sedikit saja tingkahnya seperti orang patah tulang.” Cletuk Key.

“Kau sensi sekali Key.” Cletuk Minho.

“Semenjak ada Jonghyun aku tidak bisa tenang.” Ujar Key lesu.

“Dia selalu menyuruhku mentang-mentang dia lebih tua dariku.” Lanjutnya.

Minho menepuk-nepuk pundak Key agar membuat Key tenang.

“AAAAaaaaaa!!!!!”

“Sepertinya dari dalam.” Cletuk Key.

Minho langsung bergegas masuk kemudian di ikuti Key.

To be continue…

Gimana gimana? Seru gak? Maaf ya kalo terlalu sedikit^^

Please don’t be silent reader~

Comment my fanfiction please~ ^^