When I Knew The Meaning of Love (chapter 3)

Standar

Oh My God, it’s destiny~

Cast: SHINee, Lyra as Jaerin, Iha as Jira, Intan as Hyoah

Genre: Romantic, Friendship

PG: 15

when i knew the meaning of love

”Noona kau tidak makan?” tanya Key kepada Hyoah.

Hyoah menggeleng. Ia hanya duduk dan memandangi meja yang ada di depannya. Pandangannya kosong.

Jaerin duduk di sampingnya ia meletakkan piring berisi berbagai jenis ayam seperi ayam goreng, ayam bakar, ayam rebus, ayam tepung atau yang dikenal dengan fried chicken di depan Hyoah.

”Makanlah onn, sayang jika tidak dimakan.” cletuk Jaerin lalu menyantab makannanya sendiri.

”Jaerin kau tidak makan nasi lagi?” tanya Jira.

Jaerin mengangguk.

”Mengapa tidak makan nasi? Kau tidak akan berenergi jika tidak makan nasi.” cletuk Minho.

”Jangan-jangan ingin diet ya? Hyoah noona juga?” sahut Key.

Jaerin menggeleng. Ia meneguk es tehnya.

”Aniyo~ aku tidak bisa makan nasi. Itu membuatku mual.” cletuk Jaerin.

”Kau seperti orang barat saja.” sahut Taemin.

”Wah ternyata kau menyadarinya.” cletuk Jaerin.

Semua orang melongok.

”Kau beneran keturunan orang barat?” tanya Taemin.

”Benar~ benar benar salah.” cletuk Jaerin lalu tertawa.

Key, Minho dan Jira tertawa sementara Taemin menggerutu.

”Onn kau tidak mau ayamnya? Untukku saja ya?” ujar Taemin meraih ayam yang ada di depan Hyoah.

Hyoah langsung menepis tangan Taemin.

”Aku mau kok. Ini aku mau memakannya.” sentak Hyoah langsung mengembat ayamnnya.

”Noona tidak makan dengan nasi?” tanya Key.

”Onnie lagi ada masalah mendadak, yang dapat ia makan saat ini ayam sedangkan yang dapat di minum itu alkohol.” cletuk Jaerin.

Taemin menelan ludah.

”Masalah apa hingga seperti itu.” ucapnya.

”Lihat saja nanti kau pasti tahu.” ucap Jaerin.

Tak beberapa lama kemudian mereka selesai makan. Mereka berkumpul dengan anggota Tim Basket Minho dan Key. Ada minuman memabukan bersama itu juga. Sebenarnya para pemain tidak diperbolehkan minum itu. Tapi ada 2-5 orang yang tidak lepas dari minuman itu. Salah satunya Hyoah.

”Onnie!!!! Sudah ku katakan jangan banyak minum!!! Aku tidak akan menggendongmu lagi. Ah aku pergi saja dari sini. Tempat ini membuatku gila!!!” sentak Jaerin keluar ruangan.

Ia menggerutu. Lalu mendesah.

”Biar nanti aku yang menggendongnya jika dia mabuk.” cletuk seseorang.

Jaerin berbalik ia melihat Minho berjalan mendekatinya.

”Tidak usah. Kau akan menyesal nanti. Biar dia berjalan sendiri ke kamar.” ucap Jaerin.

”Apa tidak apa-apa?” tanya Minho khawatir.

”Jika dia masih melanjutkan minum ia tidak dapat kembali. Tapi jika saat aku keluar dia berhenti minum, sepertinya ia dapat kembali ke kamar.” terang Jaerin.

Minho berdiri tepat di samping Jaerin.

Jaerin mendongak ke atas.

“Apa yang kau lihat?” tanya Minho ikutan mendongak.

“Langit.” Jawab Jaerin singkat.

“Waeyo?” cletuk Minho.

“Aku mencari bintang.” Tutur Jaerin.

Kemudian ia mendesah.

“Ada apa?” tanya Minho.

“Tempat ini terlalu terang, aku tidak dapat melihat bintang dengan jelas.” Ujar Jaerin tertunduk.

Minho memandang ke atas kemudian ia menarik tangan Jaerin.

“Mau kemana?” tanya Jaerin kaget.

“Aku tidak bermaksud jahat. Aku tidak akan melakukan kejadian seperti dulu. Ikut saja denganku, kau pasti menyukainya.” Tutur Minho.

“OK, tapi bisakah kau tidak menarik tanganku? Cengkramanmu menyakitiku.” Cletuk Jaerin.

Minho langsung melepaskannya.

“Maafkan aku.” Ucap Minho datar.

Jaerin mengangguk.

Mereka berjalan ke suatu tempat, menaiki satu demi satu anak tangga. Lalu Minho membuka suatu pintu dan masuk. Jaerin hanya terdiam di dekat pintu.

“Masuklah!” seru Minho yang sudah ada berada di tengah loteng.

Jaerin hanya diam. Minho berjalan mendekati Jaerin. Ia membukukkan badannya memandang wajah Jaerin.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Minho.

“Tem…pat… ini terlalu gelap… a…ku… tidak bis melihat apa-apa.” Ucap Jaerin terbata-bata.

Lalu Minho berjalan ke arah pintu yang tampaknya seperti gudang. Ia masuk dan keluar dengan membawa suatu kardus.

“Ini light stick warna biru, pakailah agar tak terlalu gelap.” Ujar Minho menyodorkan satu kardus light stick.

Jaerin mengambil satu light stick kemudian ia menyalakannya dengan menekuknya. Minho juga melakukan hal yang sama.

“Kenapa kau menyalakan banyak light stick?” tanya Jaerin.

“Agar tidak seberapa gelap.” Ucap Minho kemudian meletakkan light stick di lantai.

“Kenapa kau letakkan di lantai?” tanya Jaerin sekali lagi.

“Untuk menerangi jalan agar kau tidak tersesat di jalan.” Ucap Minho.

Jaerin tertawa.

“waeyo?” tanya Minho datar.

“Kau pikir aku anak kecil yang tersesat di tempat seperti ini? Kau pikir kita berada di hutan?” tutur Jaerin lalu tertawa.

“Ya aku berpikiran seperti itu.” Ucap Minho.

Jaerin hanya geleng-geleng kepalah lalu memandang langit.

“Sudah lama aku tidak melihat bintang-bintang.” Ujar Jaerin.

“Kau suka melihat bintang ya?” tanya Minho menatap langit.

“Ya. Dulu aku sering melihat bintang bersama orang tuaku. Saat itu sungguh bahagia. Aku merindukannya.”

“Merindukan orang tuamu?”

“Ya aku merindukannya. Aku berharap mereka masih ada. Tapi itu tidak mungkin.”

“Orang tuamu sudah tiada?”

“ya.”

“Maafkan aku.”

“Tidak apa-apa. Aku dapat merelakannya. Awalnya sulit, tapi aku sudah dapat merelakannya. Karena itulah keinginannya. Bersikap dewasa, semua orang pasti meninggal.” Tutur Jaerin.

“Jadi selama ini kau hidup dengan siapa?” tanya Minho.

“Aku tinggal sendiri, kemudian aku pindah. Aku mendapatkan beasiswa di Seoul. Aku menjual rumah pemberian orang tuaku. Aku tidak mampu mengurus rumah itu sendiri dengan tabungan yang sedikit. Lalu aku membeli sebuah apertemen sederhana di Seoul. Di sana aku bertemu dengan Hyoah onnie. Dia sudah ku anggap seperti onnie kandungku.” Terang Jaerin.

“Kau anak tunggal?”

Jaerin mengangguk.

“Kenapa kau tidak tinggal di asarama sekolah jika kau mendapatkan beasiswa?”

“Aku tidak suka dengan kamarnya, terlalu sempit.” Ucap Jaerin lalu tersenyum.

“Apakah kau tidak merindukan rumah tempat tinggalmu dulu? Tempat yang mempunya kenangan terindah?” tanya Minho menatap lurus ke depan.

”Aku merindukannya.” ucap Jaerin lalu memandang lurus ke depan.

”Tapi rumah itu bukan milikku lagi. Dan sangat sulit bagiku untuk mendapatkan rumah itu meski ku ingin.” lanjut Jaerin.

”Jika boleh tahu rumahmu dulu di mana?” tanya Minho menatap Jaerin.

Jaerin menoleh.

”Taemin!” seru Jira.

Taemin menoleh.

”Waeyo?” sahutnya lalu mendekati Jira.

”Kau lihat Jaerin?” tanya Jira.

”Tidak. Bukannya dia tadi keluar bersama Minho.” ucap Taemin.

”Tapi di mana?” tanya Jira khawatir.

”Ke lantai atas. Minho sering ke sana.” sahut Key yang berjalam mendekati mereka.

”Aku ingin ke sana!” cletuk Jira.

”Jangan ganggu mereka. Biarlah mereka berdua.” ujar Key.

”Tidak aku biarkan Jaerin berduaan dengan orang yang baru dia kenal di tempat semperti itu. Andwae~!!!” Sentak Jira.

Taemin menyeret Jira.

”Lebih baik kau ikut aku ke mobil. Ada yang ketinggalan.” ucap Taemin menyeret Jira yang memberontak.

Key menatap sambil menggeleng-nggelengkan kepalah.

”Chaesonghamnida, di manakah tempat Karoeke?” tanya seorang namja.

”Oh di sana. Kau lurus saja lalu belok kanan.” ucap Key menunjuk ke lorong yang ada di belakangnya.

”Gamsahamnida.” ucap namja itu tadi.

Hyoah baru saja bernanyi lagu MIROTIC. Ia memutuskan keluar dari tempat karoeke dan berpamitan kepada dongsaengnim yang ada di tempat karaoke. Kebanyakan dari mereka mabuk. Hyoah mencoba berjalan lurus. Keadaannya memang sedikit buruk. Ia tidak dapat berjalan lurus, mungkin karena minuman yang diminumnya tadi atau mungkin karena suara audio yang begitu keras.

Ia memutuskan berjalan di pinggir. Ia berpegangan di tembok seolah-oloh gempa bumi terjadi saat itu juga. Pandangannya ke bawah. Ia merasa mual. Mungkin karena seharian ia tidak makan nasi, hanya memakan ayam dan kemudian meminum minuman memabukkan itu. Ia merasa gempa bumi sedang terjadi. Ia terjatuh. Seorang namja yang memperhatikannya sedari tadi langsung berlari mendekatinya.

Namja itu mendesah kemudian menggeleng-nggelengkan kepalahnya. Lalu ia mengangkat Hyoah dengan ke dua tangannya. Ia membawa Hyoah keluar dari tempat itu.

“Hyoah noona… dan kau… kau namja yang tadi bukan?” cletuk Key terkejut melihat seorang namja yang menggendong Hyoah.

“Di mana kamarnya?” tanya namja itu.

“Ah~ tidak usah repot-repot aku akan mengatarkannya ke kamarnya.” Ujar Key.

“Tidak aku tidak merasa di repotkan. Oh ya apa hubunganmu dengan Hyoah?” tanya namja itu.

“Kami baru saja kenal ceritanya panjang. Ehm~ kau mengenalnya?” sahut Key.

“Terimah kasih ya sudah mengantarkanku dan menemaniku melihat bintang.” Ucap Jaerin.

“Sama-sama. Istirahatlah besok pagi-pagi kita ada kegiatan.” Ujar Minho.

“Kegiatan apa?” tanya Jaerin penasaran.

“Kegiatan musim panas yang di adakan setiap tahunnya di resort ini.” Terang Minho.

Jaerin mengangguk.

“Baiklah aku mau istirahat dulu. Sampai besok~” ucap Jaerin tersenyum lalu masuk ke kamarnya.

Minho tersenyum lalu berjalan ke kamarnya.

“Key oppa? Aku salah masuk kamar ya?” cletuk Jaerin melihat Key duduk di sofa.

Key menoleh.

“Aniyo. Ini kamarmu.” Ucap Key.

“Lalu kenapa oppa di sini?” tanya Jaerin.

“Aku mengantarkannya.” Ucap Key menunjuk sesuatu.

“Oh pasti Hyoah onnie.” Ucap Jaerin menghampiri.

Kemudian ia melihat ke tempat tidur dan ia tersentak kaget.

“Annyeong~” ucap namja yang membuat Jaerin terkejut.

Hyoah terbangun. Nafasnya tersengal-sengal. Ia melihat kesamping. Hanya ada Jira. Ia turun dari ranjang kemudia ke kamar mandi. Ia membuka pintu kamar mandi tapi terkunci. Ia mengetuk pintu kamar mandi.

“Jaerin~ kau di dalam?” ucapnya pelan.

Ia mengetuknya lagi. Tidak ada respon.

“Jaerin jika kau di dalam jawab aku.” Ucapnya sekali lagi.

Ia mendesah kemudian ia berjalan ke lemari es, membukanya dan mengambil sebotol air mineral. Ia meneguknya.  Dan meletakkan kembali di dalam lemari es. Lalu ia berjalan kembali ke kamar mandi dan mengetuk pintu yang ada di hadapannya. Sekali lagi ia menggedor-nggedor pintu itu dan memanggil Jaerin.

Terdengar sesuatu dari dalam sana. Suara riak air. Lalu Hyoah berkata,

”Jaerin~ kau di sana?”

”Ye~” sahut Jaerin dari dalam.

Beberapa menit kemudian Jaerin keluar.

”Wah kenapa wajahmu merah?” cletuk Hyoah kemudian menyentuh dahi Jaerin.

”Badanmu juga hangat~ kau sakit?” lanjut Hyoah.

Jaerin menggeleng lalu tersenyum.

”Aku baru saja berendam air panas. Rasanya enak sekali.” tutur Jaerin.

”Mworago?” sentak Hyoah terkejut.

”Astaga ini musim panas~ kenapa kau berendam air panas? Apakah tidak kepanasan?” lanjut Hyoah masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.

”Ani~ aku suka berendam. Itu menenangkan pikiranku dan menghilangkan rasa lelah.” ucap Jaerin sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.

”Tapi kenapa harus air panas? Kenapa tidak air dingin saja? Inikan musim panas~” sahut Hyoah.

”Air dingin hanya dapat mendinginkan pikiran. Tapi tidak efektif untuk menenangkan atau menghilangkan rasa lelah.” terang Jaerin lalu berjalan ke tempat rias. Ia duduk dan meraih HPnya. Beberapa menit kemuadian Hyoah keluar.

”Sudah berapa lama kau berendam tadi?” ucapnya.

”Tiga puluh menit.” ucap Jaerin.

”Kau tertidur tadi?” tanya Hyuah.

Jaerin tersenyum.

”Iya. Mungkin karena aku terlalu lelah.” ucap Jaerin.

Hyoah mengangguk.

”Oh ya kau tidur jam berapa semalam?” tanya Hyoah.

Jaerin terdiam. Ia berpikir.

”Ehm… Jam berapa ya? Jam sepuluh sepertinya. ” ucap Jaerin.

”Waeyo?” lanjutnya.

”Lalu aku tertidur jam berapa?” tanya Hyoah.

Jaerin tertawa.

“Hei katakan apa yang terjadi kemarin malam. Apa terjadi hal yang buruk? Apa aku sungguh mabuk berat?” tanya Hyoah.

“Entahlah. Yang mabukkan onnie, bukan aku. Lagi pula saat itu aku kan tidak bersamamu.” Ucap Jaerin.

“Ah kau pelit informasi.” Cletuk Hyoah lalu cemberut.

Jaerin tersenyum.

“Nanti onnie pasti ingat tenang saja~ oh ya lebih baik onnie cepat mandi gih. Setelah ini ada kegiatan.”

“Kegiatan apa?”

“Kegiatan musim panas yang diadakan di sini.”

Hyoah mengangguk lalu berjalan menujuh ke kamar mandi.

Jaerin menghampiri Jira yang masih tidur. Ia membangunkan Jira tapi tidak berhasil.

“Astaga Jira~ susah juga membangunkanmu. Aku tidak mungkin menyirammu dengan air seperti dulu lagi. Bisa-bisa kasurnya basah. Dan itu sungguh merepotkan. Aish~ lebih baik aku bersiap-siap saja dulu dan ku suruh Taemin yang membangunkanmu.” Oceh Jaerin.

Beberapa menit kemudian Hyoah keluar dari kamar mandi.

“Kau mau pergi kemana?” tanya Hyoah yang melihat Jaerin hendak keluar dari kamar.

“Aku mau keluar duluan. Oh ya onn bisakah kau bangunkan Jira.”

Hyoah mengangguk.

“OK jika ke sulitan SMS aku saja.” Ucap Jaerin lalu keluar kamar.

Jaerin keluar kamar, ia berjalan ke arah pantai. Di sana sudah ada beberapa orang berkumpul.

“Hey Jaerin~ kau sudah siap rupanya.” Seru Key.

Di sampingnya sudah ada Minho dan Key. Jaerin mendekatinya.

“Wah Jaerin apakau tidak punya pakaian lain? Kenapa berdandan seperti itu?” cletuk Key memandang Jaerin dari atas hingga bawah.

Minho menyikut Key.

“Jangan berkata seperti itu.” Ucap Minho.

“Aku suka memakai pakaian seperti ini.” Ucap Jaerin.

“Jika kau melihatnya tidak berpakaian seperti ini kau akan lebih heran dari pada ini.” Cletuk Taemin.

Jaerin hanya tersenyum. Dia suka pakaiannya. Dia suka memakai jaket, celana jins dan sepatu sneakers. Pakaiannya sungguh tertutup. Kali ini dia menggunakan topi musim panas. Karena akan sangat panas jika bermain-main di daerah pantai.

“Oh ya Jaerin di mana Jira? Lalu Hyoah noona?” tanya Taemin.

“Masih di kamar sepertinya.” Ucap Jaerin kemudian HPnya berbunyi.

Ia mengangkatnya.

“Yoboseyo~” ucap Jaerin.

“Jaerin!!! Aku tidak tahu harus bagamana lagi untuk membangunkan anak ini. Aku lelah. Aku sudah berteriak hingga suaraku seperti ini tapi dia tidak berkutik sama sekali. Aku seperti orang gila yang membangunkan orang mati.” Triak Hyoah dari sebrang sana.

Jaerin tertawa.

“Kenapa kau tertawa?” sentak Hyoah dari sebrang sana.

“Ah ani~ OK aku akan memanggil bala bantuan. Onnie sudah siap?” ucap JAerin.

“Ya aku sudah siap.”

“Baiklah Onnie ke sini saja. Di pantai. Kami sudah berkumpul di sini.”

Lalu Jaerin menutup HPnya.

“Taemin aku ada tugas untukmu.” Ucap Jaerin.

“Tugas?” sahut Taemin.

“Tolong bangunkan Jira sekarang juga. Dia belum bangun dari tadi. Ia seperti orang mati saja. Check juga dia masih hidup apa sudah mati.” Ucap Jaerin.

“Aish~ kenapa harus aku?” sahut Taemin.

“Sudah tidak usah protes! Cepat pergi sana.” Usir Jaerin.

Taemin mendesah mau tidak mau ia harus membangunkan Jira.

“Wah temanmu yang satu itu susah susah sekali di bangunkan ya.” Cletuk Key.

“Ya seperti itulah.” Ucap Jaerin lalu mendesah.

“Oh ya oppa~ kegiatannya pertama apa?” tanya Jaerin.

“Voli pantai.” Ucap Key.

Jaerin mendesah.

“Kenapa kau mendesah?” tanya Minho.

“Aku tidak suka voli.” Ucap Jaerin.

“Kau tidak mau main di kegiaatan pertama?” tanya Key.

Jaerin menggeleng. Ia tertunduk.

“Sepertinya kau mempunyai kenangan buruk dengan voli ya?” ucap Minho.

Jaerin mendongak ke arah Minho. Dia mengangguk.

Dengan cemberut Hyoah berjalan menujuh pantai. Ia tidak melihat jalan hingga terjatuh.

“Auw~” rintiknya kesakitan.

Lututnya terluka. Beberapa orang gadis yang lewat mengejeknya karena tidak becus berjalan. Gadis-gadis itu mentertawakannya. Ia semakin kesal.

Sesorang mengulurkan tangannya tapi Hyoah menepisnya.

”Aku tidak perlu bantuanmu.” ucap Hyoah ketus lalu mencoba bangkit.

Sepertinya kakinya terkilir, ia kehilangan keseimbangan lalu ia terjatuh lagi. Tapi seseorang menarik tangannya sebelum ia terjatuh. Hyoah bertatapan dengan orang yg menolongnya.

”Kau tidak apa-apa?” tanya orang itu.

Hyoah terdiam, ia terkejut.

”Hyoah kau baik-baik saja?” tanya orang itu sekali lagi.

”Lee… Lee…. Lee Jin~ki?” ucap Hyoah.

Jinki tersenyum.

”Iya ini aku. Kau terkejut melihatku? Seharusnya aku yang terkejut melihatmu. Aku sering ke tempat ini selama musim panas. Dan musim ini aku malah bertemu denganmu. Wow~” cletuk Jinki lalu tertawa.

”Kau bisa berjalan?” tanyanya.

”entahlah, Sepertinya kakiku terkilir.” ucap Hyoah pelan.

Jinki berjongkok dan melihat pergelangan kaki Hyoah.

”Sepertinya begitu. Biar aku gendong kau ke sana dan ku obati. Di sana ada kotak P3K.” cletuk Jinki bangkit.

”Ani~ aku berat. Aku tidak ingin membebanimu. Lebih baik kau ambil saja kotak P3Knya. Aku akan menunggu di sini.” ucap Hyoah.

”Di sini tidak aman. Ini tempat lalu lalang orang-orang dan ini tangga, kau bisa saja terjatuh dengan kondisimu yang seperti itu.” ujar Jinki perhatian.

”Hyoah noona, kau sudah keluar rupanya. Jira masih di kamar ya?” sahut Taemin yang berjalan mendekat.

Hyoah mengangguk.

”Noona kau kenapa?” tanya Taemin melihat kaki Hyoah.

”Lalu dia siapa?” lanjut Taemin memandang Jinki.

”Hyoah terjatuh, lutunya berdarah dan kakinya terkilir. Lalu aku Lee Jinki temannya.” sahut Jinki.

”Oh~” gumam Taemin.

”Ini kunci kamarnya. Bangunkan dia. Dan katakan kepada Jaerin aku tidak bisa ikutan.” ucap Hyoah menyodorkan sebuah kartu kepada Taemin.

Taemin menerimanya.

”Lalu kau bagaimana?” tanya Taemin.

”Aku yang mengurusnya.” ucap Jinki lalu mengangkat Hyoah.

”Hyah apa yang kau lakukan!!!” sentak Hyoah terkejut.

”Membawamu untuk diobati sebelum terinfeksi dan lukamu bertambah parah.” ucap Jinki lalu membawa Hyoah pergi.

Taemin hanya bisa memandang.

”Romantis~” gumamnya lalu beranjak pergi.

Ia menujuh ke kamar Jira. Ia memasukan kunci kemudian membuka pintunya. Tak lupa ia mengambil kuncinya kembali. Kamarnya sungguh gelap. Ia meletakkun kartu kunci di tempat kunci. Dengan seketika lampu menyalah. Ia mengendap-ngendap menujuh ke tempat tidur. Di lihatnya Jira masih tertidur pulas. Taemin menggugahnya. Tapi tidak berhasil. Ia menarik selimut Jira, tetapi Jira ikut menarik. Jira bergumam. Terjadilah adegan tarik menarik hingga Taemin terjatuh di tempat tidur. Tepat di sebelah Jira. Posisinya sangat dekat dengan Jira.

Jira yang terkejut karena goncangan tubuh Taemin terjatuh langsung membuka matanya. Di lihatnya 15 cm dari wajahnya ada Taemin yang merintih kesakitan. Taemin menatap Jira, yeoja yang ada di hadapannya itu terbangun. Tetapi beberapa saat setelah Taemin memandang Jira. Jira memejamkan matanya ia tidak percaya apa yang dilihatnya.

Taemin bangkit dan menarik selimut Jira.

”Cepat mandi sana!!! Kau bau sekali~ lebih bau dari kambing. Aish~” sentak Taemin.

Jira tidak berkutik.

”JIRA!!! Kau dengar tidak? Semua orang sedang menunggumu!!! Cepat mandi sana!!!” sentak Taemin.

Jira bangkit perlahan. Ia menatap Taemin.

”Apa yang kau lakukan di sini? Inikan bukan kamarmu?” omel Jira.

”Ya ini bukan kamarku. Aku hanya menjalankan tugas. Yaitu membangunkanmu.” ucap Taemin dengan sedikit penekanan di akhir kalimatnya.

”Lalu di mana yang lain? Jaerin dan Hyoah onnie?” cletuk Jira melihat sekeliling.

”Sudah pergi duluan. Kau sich tidak bisa bangun.” ucap Taemin.

Jira kembali merebahkan tubuhnya.

”Lho kenapa kau tidur lagi?” tanya Taemin heran.

”Aku ingin tidur~ aku masih ngantuk~” gumam Jira.

”Astaga~ kau tahu kita ke sini untuk apa? Untuk liburan~ bersenang-senang, menikmati fasilitas serta kegiatan yang ada. Kenapa kau malah menyia-nyiakan waktu untuk tidur & tidur.” sentak Taemin.

”Aku ini sedang liburan, bersenang-senang dengan tidur. Menikmati fasilitas tempat tidur yang empuk. Mengisi kegiatan dengan tidur. Aku tidak membuang waktuku.” gumam Jira yang sudah terpejam.

Taeming menggeleng-nggelengkan kepalahnya. Lalu ia merebahkan tubuhnya di sebelah Jira.

”Baiklah jika itu maumu. Aku akan menemanimu bersenang-senang. Tidak asyikkan jika bersenang-senang sendirian.” ucap Taemin.

Jira terkejut mendengar perkataan Taemin. Ia berusaha menjauhi Taemin dan terjatuh. Lalu ia merintik kesakitan.

Taemin menatap Jira.

”Kau sedang apa? Bukannya kau ingin bersenang-senang?” ucap Taemin.

Jira bergumam kesal. Ia beranjak.

”Aku tidak ingin tidur. Aku mau ikut Jaerin. Kau keluar aku ingin mandi.” sentak Jira.

”Nanti kau tertidur di kamar mandi~ itu sama saja.” ucap Taemin.

”ANI~ sudah kau tunggu saja di luar.” triak Jira.

Taemin bangkit. Ia keluar dari kamar dengan senyam-senyum. Ia menahan tawa. Ia mengambil HPnya dari sakunya dan menelpon Jaerin.

”Kau gila!!!” cletuk Jaerin tiba-tiba.

Key & Minho  sontak menatap Jaerin.

Jaerin terdiam.

”Hm…. Apa imbalannya?” ucap Jaerin kemudian.

Ia terdiam lagi.

”Kau sendiri saja yang melakukannya. Bukankah kau lebih hebat dariku? Lihat saja apa yang kau lakukan. Apakau tidak berani melihat kenyataan bagaimana dirimu?” tutur Jaerin lalu menutup telpon.

”Siapa yang gila?” sahut Key.

Jaerin tersenyum.

”Taemin.” ucap Jaerin.

”Waeyo?” tanya Key sekali lagi.

”Dia punya ide gila untuk membangunkan Jira. Dan itu berhasil.” ucap Jaerin.

”Oh ya? Apa?” tanya Key antusias.

”Tanyakan sendiri pada orangnya.” ucap Jaerin menahan tawa.

”Lalu dimana Hyoah noona? Dia kemarikan?” tanya Minho.

”Ani~” ucap Jaerin lesu.

”Waeyo?” tanya Minho lagi.

”Onnie mendapatkan sedikit masalah. Ia terluka. Tapi Jinki oppa sudah menolongnya.” tutur Jaerin.

”Oh hyung yang kemarin?” sahut Key.

Jaerin mengangguk.

”Siapa Jinki?” tanya Minho.

Sore harinya~

”Wow seru juga ternyata.” ucap Jira.

”Lebih seru lagi saat kau tersesat.” sahut Taemin.

Jira menjitak kepalah Taemin.

”Sakit tau.” ujar Taemin.

Mereka berdua saling adu mulut.

”Wah itu Istana Beruang ya?” tanya Jaerin girang.

”Iya. Isinya boneka-boneka beruang. Ada yang di pamerkan dan ada juga yang di jual.” cletuk Key.

”Aku mau ke sana!” seru Jaerin menunjuk Istana Beruang.

”Bersama Minho ya, aku tidak bisa mengantarkan. Aku ada urusan. Sampai bertemu nanti malam.” ucap Key lalu pergi meninggalkan Jaerin dan yang lainnya.

”Minho kau tidak kembali ke kamar?” tanya seorang namja.

”Tidak aku mau mengantarkan yeoja ini ke istana beruang.” ucap Minho.

”Istana beruang?” sahut namja yang lain.

Namja-namja itu tertawa.

”Yah yah yah terserah kau saja. Semoga harimu indah.” ucap namja pertama lalu pergi bersama namja-namja yang lainnya.

Mereka adalah teman satu Timnya Minho dan Key.

”Ayo ke sana!!!” ajak Jaerin menarik kaos Minho seperti anak kecil.

”Ayo.” ucap Minho datar.

Ia berjalan duluan. Jaerin menarik Taemin & Jira dengan paksa.

Jaerin terbelak ketika tiba di Istana Boneka. Ia langsung melepaskan Taemin & Jira yang mengomelinya. Ia girang sekali. Ia melihat-lihat boneka beruang. Seketika itu juga ia melupakan segalanya.

”Boneka beruang~ Jaerin suka boneka beruang.” gumam Jira ketika sadar ia ada di mana.

Taemin memandang Jira.

”Mworago? Jaerin suka boneka beruang?” ucap Taemin.

Jira mengangguk. Lalu Taemin meninggalkan Jira.

”Hyung Jaerin kemana?” tanya Taemin kepada Minho yang sedang melihat-lihat.

”Ke arah sana” ucap Minho menunjuk ke suatu sudut.

”Gomawo hyung.” ucap Taemin lalu meninggalkan Minho.

Ia pergi ke arah yang di tunjukkan Minho. Ia menemukan Jaerin yang sedah melihat-lihat boneka beruang. Yeoja itu melihat harga tiap-tiap boneka beruang. Lalu dia menumakan boneka beruang berwarna coklat berukuran sekitar 1 meter. Ia mengambil beneka itu dan memelukknya. Lalu ia melihat label harga. Ia langsung lemas dan meletakkan boneka itu kembali. Lalu ia melangkah ke tempat lain.

Taemin berjalan mendekati boneka yang baru saja di letakkan oleh Jaerin. Ia melihat lebel harga itu lalu ia tersenyum. Taemin membawa boneka itu ke kasir. Ia ingin membelinya.

”Kau suka boneka beruang?” cletuk Minho mendekati Taemin.

”Aniyo~ aku mau memberikan ini kepada seseorang.” ucap Taemin tersenyum.

Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Minho.

HP Minho berdering. Ada SMS masuk dari Key.

Kau tahu, dia membawa kekasihnya kemari -_-

 

Minho membalasnya.

Dia? Siapa? Kakak sepupumu?

Tak beberapa lama kemudian Key membalas.

 

Iya. Siapa lagi yang selalu hadir untuk menikmati musim panas di sini.

Minho tersenyum.

Bukannya bisasanaya dia seperti itu? Selalu membawa kekasihnya.

 

Key membalas

Kali ini beda lagi. Dia membawa kekasih barunya. Aku tidak habis pikir -_-

 

Minho tertawa kecil

waeyo? Kau iri? Kau ingin mempunyai kekasih juga sepertinya dan menghabiskan musim panas bersama kekasihmu?

 

Key membalas dengan cepat.

ANIYO~

 

Minho hanya bisa menggeleng. Ia memasukkan HPnya ke dalam sakunya.

Taemin menatap yeoja yang duduk diam diantara boneka-boneka beruang. Ia mendekatinya dengan senyum mengembang di wajahnya.

 To Be Continue…

Please don’t be silent reader ^^

Ayo komentar ya ^^

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

6 responses »

  1. Eonnie !!
    akhirnya aku menepati janjiku untuk komen,, hheeeee :DD
    keren,, keren,, keren !!
    ffnya keren !!
    lanjutannya udah ada eonn ??
    @NikeytaTita

  2. kyaaa td masi ada bbrp split thor ._. hehe
    thor jgn bilang taemin suka sama jaerin. haa
    oyya thor knp jae suka bgt papanasan gtu sh. ? ._.
    @mounsang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s