When I Knew The Meaning of Love (chapter 4)

Standar

SHOCK!!! Get ready to SHOCK!!!

Cast       : SHINee, Lyra as Jaerin, Iha as Jira, Intan as Hyoah

Genre   : Romantic, Friendship

PG          : 15

when i knew the meaning of love

”Itu dia~” cletuk Jira hendak mendekati Taemin.

Ia menghentikkan langkahnya ketika tahu Taemin mendekati Jaerin.

Jaerin berdiri dan menatap Taemin. Taemin mengatakan sesuatu. Jira tidak dapat mendengarkan apa yang di katakan Taemin. Ia memilih untuk bersembunyi.

Taemin tampak senang. Ia tidak berhenti tersenyum. Jaerin mengatakan sesuatu kepada Taemin. Lalu Taemin…

”Ia mencium Jaerin? Jadi Taemin menyukai Jaerin? Jadi selama ini Taemin menyukai Jaerin?” cletuk Jira pelan.

Dadanya terasa sesak. Rasanya sangat berat. Ia mencoba untuk melangkah. Lalu ia mengambil HP dari sakunya. Ia menghubungi seseorang. Setelah itu ia melangkah cepat. Ia menabrak seseorang.

”Kau tidak apa-apa?”

Jira hanya diam lalu ia berlari.

”Ada apa dengan dia?” cletuk orang yang Jira tabrak.

”Apa dia tidak menemukan Taemin dan Jaerin.” cletuk orang itu lagi yang tidak lain adalah Minho.

Ia memutuskan untuk duduk menunggu. Beberapa menit kemudian Taemin dan Jaerin datang mengahampiri.

“Kemana Jira?” tanya Taemin.

“Kau tidak bertemu dengannya tadi?” cletuk Minho.

Taemin dan Jaerin menggeleng.

Minho menatap Jaerin yang membawa boneka beruang. Dia masih ingat boneka itu. Ia menelan ludah. Ia mengetahui sesuatu.

“Mu… mungkin dia tidak enak badan. Ku lihat wajahnya sedikit pucat. Sepertinya ia kembali ke kamar.” Ucap Minho tiba-tiba.

“Taemin, coba kau tengok dia cepat!” pintah Jaerin.

Taemin mengangguk kemudian berlari keluar.

Minho beranjak.

“Wajahmu merah.” Cletuk Minho memandang lurus ke depan.

Jaerin tertunduk. Ia menutupi wajahnya dengan boneka beruangnya.

“Apa di sini sangat panas?” tanya Minho menatap Jaerin.

“Sepertinya begitu. Ayo kita keluar.” Cletuk Jaerin berjalan ke luar.

Mereka terdiam di sepanjang jalan.

“Itu dari Taemin?” tanya Minho memecahkan keheningan.

“Ne~” ucap Jaerin.

Minho tersenyum.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya Jaerin.

“Tidak apa-apa kalian mengingatkanku kepada dua orang yang kurindukan.” Cletuk Minho.

“Siapa?” tanya Jaerin penasaran.

“Hanya orang di masa lalu.” Jawab Minho.

“Dia temanmu?” tanya Jaerin lagi.

Minho tersenyum.

“Hanya masa lalu. Tidak perlu di ungkit lagi.” Ucap Minho.

Mereka terdiam lagi.

Taemin mengetuk pintu kamar Jira. Lalu seseorang membukakan pintu.

“Nuna, Jira ada?” tanya Taemin.

Hyoah menggeleng.

“Bukankah tadi dia bersamau dan yang lainnya?” cletuk Hyoah.

“Tadi dia meninggalkan kami. Kata Minho hyung dia pucat. Sepertinya dia sakit.” Ujar Taemin khawatir.

“Coba kau hubungi dia.” Cletuk Hyoah.

Taemin merogoh sakunya, mengambil HPnya. Ia bergegas menghubungi Jira.

“Bagaimana?” tanya Hyoah yang melihat Taemin yang memasukkan kembali HP ke dalam sakunya.

Taemin menggeleng.

“Tidak di angkat.” Ucapnya.

“Jangan-jangan dia pingsan di jalan.” Cletuk Hyoah.

Taemin tersentak kaget lalu ia lari meninggalkan Hyoah.

“Astaga~ apa yang aku katakan tadi. Aish~” oceh Hyoah sendiri.

HPnya berdering.

“Yoboseyo~ Hm… dia tidak ada di kamar. Taemin sedang mencarinya. Kau di mana? …… cepatlah kembali. Ada suatu hal yang ingin ku katakan. …………… iya mencari Jira itu penting. Tapi ada suatu hal yang lebih penting dari itu. …………………… baiklah ini berkaitan dengannya cepatlah kemabali.” Oceh Hyoah lalu menutup HPnya.

“Ada masalah?” tanya sesorang.

Hyoah menoleh.

“Biasa~ masalah yeoja~” cletuk Hyoah buru-buru masuk ke dalam kamar.

Ia mendesah.

“Aish~ Jinki~ kenapa kau membuat liburanku tidak karu-karuan?”

Taemin berhenti berlari melihat seorang yeoja yang duduk di tepi pantai. Ia mendekati yeoja itu. Lalu langkahnya terhenti setelah mengetahui yeoja itu menangis. Ia tetap berdiri di tempat.

Beberapa  menit kemudian yeoja itu beranjak. Ia memalingkan tubuhnya dan mendapati Taemin berdiri beberapa meter di depannya. Ia buruh-buruh menghapus air matanya.

“Kenapa kau menangis?” tanya Taemin.

“Aku tidak menangis. Mataku kemasukan pasir, rasanya perih.”

“Benarkah?”

“Iya. Apa aku pernah berbohong padamu?”

“Jira, aku tahu kau berbohong padaku.”

Jira tersenyum.

“Ya aku berbohong padamu~ nenekku sakit. Ia tadi menelpon, ia ingin melihatku sebelum dia mati. Ia mengatkan sesutu yang membuatku takut. Ia berbicara seolah-olah ajal akan menjemputnya esok.”

“Rumah nenekmu dekat sini bukan?”

“Ya, sekitar satu jam dari sini.” Ucap Jira kemudian berjalan mendekati Taemin.

“Pamanku akan menjemputku nanti.” Ucap Jira di sebelah Taemin.

Lalu ia meninggalkan Taemin.

Taemin memandang Jira.

“Kenapa tidak mengatakn langsung padaku? Aku bisa mengantarkanmu.” Ucap Taemin.

Jira berhenti melangkah.

“Aku tidak ingin merepotkanmu. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu.” Ucap Jira kemudian melangkah menjauh dari pandangan Taemin.

“Kau tahu dia di sini kenapa tidak mengatakn padaku?” sentak Hyoah.

Jaerin tidak mempedulikannya. Ia memeluk erat boneka beruangnya.

“Hya Jaerin~ kau dengar tidak?” triak Hyoah.

Jaerin meletakkan boneka beruangnya di meja.

“Aku mau mandi.” Cletuk Jaerin.

“Aish~ ada apa denganmu?” sentak Hyoah.

Kemudian seseorang masuk.

“Jira~ kau tidak apa-apa? Ada apa dengan wajahmu? Kau habis menangis?” tanya Hyoah.

Jira hanya diam. Ia menambil tasnya dan menata barang bawaanya.

“Kau mau kemana?” tanya Hyoah.

Jira menatap boneka beruang yang ada di meja.

“Ke mana Jaerin?” tanya Jira.

“Dia sedang mandi. Baru saja masuk kamar mandi.” Ucap Hyoah.

“Katakan padanya aku ke rumah nenekku. Nenekku sakit.” Ucap Jira lalu keluar kamar dengan barang bawaanya.

Hyoah tersentak.

“Sebenarnya ada apa dengan semua orang. Apa yang mereka katakan tidak sama dengan raut wajah mereka.” Cletuk Hyoah.

Ia mengacak-ngacak rambutnya kemudian menjatuhkan dirinya ke kasur.

“Ini musim panas yang terpanas yang pernah ada.” Cletuknya.

Malamnya

“Ini bukan salahmu.” Cletuk Taemin.

Jaerin mendesah. Ia tidak memakan makanannya. Ia hanya mengacak-ngacaknya.

“Akhir-akhir ini aku tidak memperhatikannya. Aku mengacuhkannya.” Ucap Jaerin.

“Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?” tanya Hyoah tiba-tiba.

“Tidak ada apa-apa.” Ucap Taemin.

Kemudian Minho datang duduk di sebalh Taemin.

“Hyung, kemana Key hyung?” tanya Taemin.

“Sebentar lagi muncul. Apa yang sedang kalian bicarakan?” ucap Minho.

“Soal Jira.” Ucap Hyoah.

“Dia sudah pergi?” tanya Minho.

“Ya~” ucap Jaerin lesuh.

“Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?” tanya Minho.

Taemin tersentak kaget.

“Hyung kata-katamu seperti Hyoah nuna.” Ujar Taemin.

“Benarkah? Aku hanya penasaran. Tadi di Istana Boneka dia mencari Jaerin. Lalu ia menabrakku setelah dari ruang belakang. Wajahnya pucat dan sepertinya ia menhan air mata.” Ucap Minho lalu melahap makanan yang ada di hadapannya.

Jaerin beranjak.

“Kau mau kemana?” tanya Hyoah.

Jaerin tidak menghiraukan. Ia langsung berlari keluar.

“Apa kau tidak menyadari sesuatu Taemin?” tanya Minho.

Taemin mencoba menyerna apa yang di katakan Minho.

Lalu tiba-tiba Taemin terbelalak. Ia beranjak dan berlari keluar.

“Kemana mereka?” cletuk Hyoah kesal.

“Kenapa tidak mengikuti mereka saja?” cletuk Minho beranjak.

“lalu makanannya?” cleyuk Hyoah.

“Kita bisa makan nanti.” Ucap Minho lalu mengikuti Taemin.

“Istana boneka?” cletuk Hyoah.

Minho berjalan masuk, Hyoah mengikutinya.

“Di sinikan tempatnya?” ucap Jaerin.

“Minho, dia tadi berlari dari sini?” tanya Jaerin.

Minho berjalan mendekat sambil mengangguk.

Jaerin menelan ludah.

“Apa dia… dia…” ucap Taemin terhenti. Ia tidak dapat mengelurkan suarnya. Sesuatu menhannyanya.

“Cemburu~” cletuk Jaerin.

“Mwo? Cemburu?” cletuk Hyoah.

“Bagaimana kejadiannya?” tanya Minho.

Lalu Jaerin menjelaskan semuanya.

“Nuna, coba kau praktekan Jira. Kau berdiri di sana.” Ucap Minho menunjuk ke suatu tempat.

“Kita lakukan reka ulang.” Cletuk Minho lalu memeraktekan apa yang dilakukan Taemin kepada Jaerin sore tadi.

“Aish~ kalian berciuman?” sentak Hyoah.

“Coba kau lihat dari sana.” Tunjuk Minho ke suatu tempat tanpa merubah posisinya saat itu.

Hyoah mlangkah ke tempat yang di tunjuk Minho.

“Hehehehe ternyata bisik membisik.” Cletuk Hyoah tertawa.

Taemin menangis.

“Aku menghancurkan semua.” Ucapnya.

“Hya kenapa kau menangis?” sentak Hyoah.

“Karena dia membuat Jira menangis.” Cletuk Minho.

“Jira cemburu kepadaku.” Ucap Jaerin.

“Sebentar sebentar. Taemin menyukai Jira?” ujar Hyoah.

Jaerin mengangguk.

“Jira cemburu. Dia cemburu padaku. Bukankah itu bagus Taemin.” Cletuk Jaerin.

Hyoah menjitak kepalah Jaerin.

“Apanya yang bagusa. Dia terluka seperti itu kau bilang bagus.” Sentak Hyoah.

Jaerin menatap Hyoah dengan kesal.

“Ya baguslah. Itu tandanya dia mencintai Taemin. Jika tidak cemburu berarti dia tidak ada rasa dengan Taemin.” Cletuk Jaerin.

“Tapi jika dia sudah cemburu seperti itu, ia akan semakin sulit untuk menerima kalian.” Ucap Hyoah.

“Kamikan temannya.” Sahut Jaerin.

“Meski kalian temannya itu sangat sulit. Lihat saja dia lari dari kenyataan.” Sahut Hyoah.

“Dia boleh lari dari kenyataan seperti itu. Tapi dia tidak dapat menyembunyikan perasaan bahwa ia mencintai Taemin.” Ucap Jaerin dengan senyum mengembang.

Ia mendekati Taemin dan manarik pakaian namja itu.

“Ayo bangun!” sentak Jaerin.

Dengan lesu Taemin berdiri.

“Sampai kapan kau akan menjadi pengecut Taemin!”

“Kau melihat Minho?” tanya Key kepada salah seorang chingunya.

Chingunya menggeleng.

Seseorang menyentuh pundaknya.

“Ada masalah?”

Key menoleh ia mendapati seorang namja yang sangat ia kenal.

“Tidak ada apa-apa.” Cletuk Key lalu bergegas pergi meninggalkan orang itu.

Ia mengubungi Minho.

“Kau di mana?”

“Sebaiknya kita kembali.” Cletuk Minho kemudian melangkah keluar.

Taemin mendesah lalu mengikuti Minho.

Jaerin menggeret Hyoah yang berdiri mematung.

“Kau yakin akan melakakukan hal itu?” tanya Hyoah.

“Tentu saja. Aku sudah berjanji dengan Taemin.” Ucap Jaerin.

“Tapi itu dapat melukai Jira.”

“Aku punya rencana. Pasti aku bisa.”

“Jika gagal?”

“Aku kenal Jira, aku kenal Taemin. Aku punya rencana yang sudah aku pikirkan sejak dulu. Tempat ini sungguh tepat untuk menjalankannya. Besok pagi aku akan menjemputnya kembali.”

“Untung kau cepat kembali. Aku tidak tahan melihatnya.” Cletuk Key.

“Melihat siapa hyung?” tanya Jaerin.

Key menatap ke suatu arah.

Jaerin mengikutinya. Lalu ia merasa dadanya sesak. Ia berjalan mundur kemudian berlari.

“Ini benar-benar musim panas yang terpanas.” Cletuk Hyoah yang menyadari apa yang di lihat Jaerin. Ia mengikuti Jaerin.

“Ada apa dengan Jaerin?” tanya Key.

“Aku mengerti.” Cletuk Taemin pelan.

“Ada apa?” tanya Key penasaran.

“Aku ke kamar juga. Aku tidak nafsu makan di sini.” Ucap Taemin lalu berjalan ke luar.

“Aku juga ke kamar.” Cletuk Minho.

“Lalu aku? Kau membirkanku makan sendiri di tampat ini melihatnya?” sahut Key.

“Suruh orang mengantarkan makanan ke kamar.” Ucap Minho lalu pergi meningglakan Key.

“Kenapa tidak terpikirkan olehku.” Gumam Key.

“Oh ya sebenarnya apa yang di lihat yeoja itu hingga lari seperti itu ya?” gumamnya lagi.

“Gimana Jaerin? Ini musim yang panas bukan?” cletuk Hyoah mendekati Jaerin yang duduk memeluk boneka beruang.

“Pertama aku, ke dua Jira, ke tiga kau. Sepertinya kita seri. Sungguh panas bukan?” cletuk Hyoah lalu duduk di sebalah Jaerin.

“Kau sanggup menghadapi ini semua?” tanya Hyoah.

“Aku sanggup~” gumam Jaerin.

“Apa kau tidak sanggup?” sahut Hyoah pura-pura tidak mendengar.

“AKU SANGGUP!” triak Jaerin.

“Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Yang harus aku lakukan menatap ke depan, berjalan lurus ke dapan. Jangan berpaling ke belakang. Aku boleh berhenti sejenak, tapi aku harus terus melangkah. Aku akan mengejar Jira terlebih dahulu dan menyadarkannya. Urusanku belakangan.” Ujar Jaerin.

Ia menatap Hyoah.

“Dan onnie~ kau harus maju~. Katakan padanya tentang perasaanmu sebelum terlambat.” Ucap Jaerin.

“Sepertinya suhu mempengaruhi otakmu.” Ucap Hyoah.

Ia beranjak.

“Kau gila ya? Aku tidak mungkin mengatakan soal perasaanku. Dia menganggapku sebagai teman. Hanya sekedar teman tidak lebih.”

“Dia baik denganmu.”

“Itu karena dia tidak ada teman di sini. Tidak ada orang yang ia kenal di tempat ini.”

“Benarkah. Apakah dia berpikir seperti itu juga?”

Paginya

“Jaerin! Kemana dia?” ujar Hyoah kebingunangan.

Ia melihat jam. Masih jam 6 pagi tapi Jaerin tidak ada. Ia sudah mencarinya di penjuru kamar tapi tidak ada.

Ia mengambil nafas.

“Mungkin ia pergi bersama Taemin ke rumah nenek Jira.” Gumamnya.

Ia bergegas berbenah kemudian keluar kamar. Ia terkejut melihat Taemin yang baru saja keluar kamar.

“Taemin kau tidak bersama Jaerin?” tanya Hyoah.

“Tidak~ aku baru saja keluar kamar.” Ucap Taemin.

“Astaga~ ku kira dia pergi bersamamu.” Ucap Hyoah.

Secara bersaamaan mereka menelpon seseorang.

“Kau menelponnya?” tanya Hyoah.

Taemin mengangguk.

Hyoah melihat jam di HPnya.

“Biar aku saja yang menghubinginya. Kau coba hubungi Jira apakah Jaerin ada di sana.” Ucap Hyoah.

Beberapa menit kemudian. Mereka mendesah.

“Tidak diangkat.” Cletuk Hyoah lesu.

“Sama.” Sahut Taemin tidak kalah lesu.

“Kau tahu rumah neneknya Jira?” tanya Hyoah.

Taemin mengangguk.

“Ayo kita ke sana!” seru Hyoah.

“Sebentar aku mengambil kunci mobilku dulu.” Cletuk Taemin.

Ia kembali masuk kedalam kamar dan mengambil kunci mobilnya.

“Kau mau kemana?” tanya Key.

“Aku mau menjemput Jira dan Jaerin.” Cletuk Taemin.

“Jaerin?” sahut Minho.

“Ye~ dia menghilang. Sepertinya menyusul Jira.” Ujar Taemin.

“Di mana rumah nenek Jira?” tanya Minho.

“Satu Jam dari sini ke arah selatan.” Ucap Taemin.

“Selatan?” sahut Minho.

Ekspresinya berubah tidak menyenangkan.

Key melemparkan sebuah kunci kepada Minho.

“Ada di garasi.” Cletuk Key.

“Ayo Taemin kita menyusulnya. Kau pakai motormu dan aku pakai sepeda motor Key.” Ucap Minho.

Mereka keluar kamar.

“Minho kau ikut menyusulnya?” tanya Hyoah.

“Lebih baik kau tidak iku nuna.” Ucap Minho.

“waeyo?”

“Terlalu berbahaya.” Ucap Minho

“Sebenarnya ada apa hyung?” tanya Taemin.

“Di daerah selatan ada perbatasan daerah. Mereka suka membuat masalah di sana.” Ucap Minho mengepalkan tangannya.

“Mereka siapa?” tanya Taemin.

“Musuh bebuyutan kami.” Sahut Key yang kelur dari kamar.

“Aku akan memanggil yang lain. Kau berangkat duluan sebelum terlambat.” Lanjut Key lalu pergi menjauh.

“Nuna, kau di sini saja mendoakan kami selamat.Taemin, kau tetap ada di belakangku. Aku akan membuatmu melewati tempat itu. Semoga saja Jaerin tidak ada masalah dengan mereka.” Ucap Minho.

Taemin berada di belakang Minho. Ia sedikit was-was.

Tiba-tiba Minho mengerim mendadak. Derit rem sangat terasa membuat gendang telinga terasa sakit. Ia melihat banyak orang berkerumun.

Minho yang menggendarai sepeda motor membelah orang yang berkerumun itu menjadi dua kelompok. Sesorang berusaha menghajar Minho. Minho berhasi menghindarinya. Tapi sesorang melemparkan sebalok kayu kepadanya. Kayu itu mengenai kepalahnya. Untung saja ia menggunakan helm. Ia terhempas dari sepeda montor. Salah seorang menarik-narik seorang yeoja. Taemin terkejut melihat yeoja itu.

Ia ingin turun. Tapi tidak bisa. Minho menyuruhnya untuk berada dalam mobil.

Minho melawan orang itu. Tapi ia kalah jumlah. Ia mencoba sekuat tenaganya. Saat ada kesempatan ia berlari ke seorang namja yang menarik lari seorang yeoja. Minho memukul namja itu dengan kayu yang ada di dekatnya. Ia merenggut yeoja itu dan membawanya lari. Mereka berlari mendekati mobil Taemin. Minho menyuruh yeoja itu masuk ke dalam mobil.

“Tarik gas! Jangan berhenti sedetikpun. Jangan pedulikan mereka.” Ucap Minho kepada Taemin.

“Cepat pergilah!!!” seru Minho.

Taeminpun memasukkan gigi dan mencap gas. Ia menyerempet beberapa orang yang berkelahi dengan Minho tadi.

“Jaerin kau tidak apa-apa?” tanya Taemin.

Jaerin terdiam. Sepertinya ia masih shcok.

“Jaerin kau dengar aku tidak?” tanya Taemin lagi.

“Kau mau minum?” tanya Taemin menyodorkan botol air mineral.

Ia tetap fokus mengendarai mobilnya. Ia takut ada orang-orang seperti itu menghadang.

Jaerin menerima pemberian Taemin dengan gemetaran.

“Tidak seharusnya kau berjalan sendiri. Kau belum mengenal tempat ini, kau seorang yeoja.” Ujar Taemin.

Taemin turun dari mobilnya. Ia dapat melihat Jira yang duduk memandangi anak-anak ayam. Ia mendekati yeoja itu.

“Mana nenekmu?” tanya Taemin.

Jira tersontak kaget.

“Ta Ta Ta Taemin?” sahut Jira.

“Siapa dia?” tanya seorang nenek yang ke luar dari rumah.

“Oh nenek~ kau tidak apa-apa?” tanya Taemin.

“Aku baik-baik saja. Kau siapa?” tanya nenek.

“Aku Taemin, chingunya Jira.” Ucap Taemin.

“Apa? Namjachingu? Jira tidak pernah cerita.” Ucap nenek.

“Nenek dia bukan namja chinguku. Dia chinguku.” Sahut Jira.

“Ehm… ya aku tahu. kau kira aku sudah tuli. Ya dia namja chingumu. Dia sangat tampat.” Ucap sang nenek.

Jira meringik ingin menangis.

“Kata Jira nenek…”

Jira membekap mulut Taemin.

“Ah~ baiklah aku tinggal sepertinya kalian tidak ingin diganggu.” Ucap sang nenek kemudain pergi meningglkan Taemin dan Jira.

Taemin mengenggam tangan Jira yang membekapnya.

Lalu Jira melepaskannya.

Taemin terbatuk-batuk.

“Kau habis memegang apa? Tanganmu bau sekali.” Cletuk Taemin.

“Makanan ayam.” sahut Jira.

“Tidak~ lebih bau dari itu. Pasti kau belum mandi.” Sahut Taemin.

“Apa urusanmu.” Sahut Jira.

“Sudah mandi sana lalu kita berangkat.”

“Tidak mau.”

“Jika kau tidak mau aku akan bilang kepda nenekmu soal apa yang kau katakn padaku kemarin.” Ancam Taemin.

“Aish~ baiklah aku akan menuruti perintahmu.”

“Yang cepat ya. Kasian Jaerin menunggu.”

“Jaerin?”

“Ia di mobil. Ia shock.”

“Shock?”

“Nanti ku jelaskan.”

Jira selesah berbenah. Ia pamit kepada neneknya. Ia sempat di omeli oleh neneknya karena ia kabur dari chingunya. Jira ingin menjelaskan kepada neneknya, tapi percuma. Neneknya rada tuli. Ia tidak peduli, yang penting ada orang tau posisinya saat ini. Yaitu pamannya.

Jira keluar rumah. Ia melihat Taemin menggendong Jaerin. Memindahkan Jaerin dari bangku depan ke belakang.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Jira.

“Masuklah.” Ujar Taemin.

Jira masuk ke dalam mobil. Ia menengok ke belakang. Sementara Taemin masuk ke dalam mobil.

“Ceritakan apa yang terjadi.”

“Hyung kau tidak apa-apa?” tanya Taemin ketika tiba di resort.

“Aku tidak apa-apa. Bagaiman dengan Jaerin?” tanya Minho.

“Dia ada di belakang. Ia shock dan tak sadarkan diri.” Ucap Taemin.

Minho membuka pintu belakang mobil Tamin. Lalu ia menggendong Jaerin.

“Maaf menyusahkanmu hyung~” ucap Taemin.

“Tidak apa-apa. Ini semua berawal dariku.” Ucap Minho membawa Jaerin masuk.

“Aish~ Jaerin~ apa yang terjadi padanya~” sahut Hyoah histeris. Ia berjalan mendekati Minho.

“Aku akan membawanya ke klinik resort. Kau tidak perlu khawatir.” Ucap Minho lalu meningglkan Hyoah.

Hyoah khawatir. Lalu ia mendekati Jira.

“Kau tidak apa-apa Jira?” tanya Hyoah.

“Aku tidak apa-apa. Maafkan aku. Ini salahku. Seandainya saja aku tidak ke rumah nenek kejadian ini pasti tidak terjadi.” Ucap Jira.

“Jangan salahkan dirimu. Yeoja itu memang ekstrem. Biarlah ini menjadi pelajaran baginya agar tidak keluar sendirian.” Ucap Hyoah.

“Hyung bisakah kau pelan sedikit~” oceh Key.

“Diamlah~ kau sensi sekali sich.” Ucap seorang namja.

“Biar aku sendiri yang mengobati lukaku.” Sahut Key merenggut kapas dari namja yang ada di hadapannya.

“Di mana dokternya Key?” sahut Minho.

Key dan namja di depannya menengok.

“Ada apa dengannya?” tanya Key.

“Dia shock.” Ujar Minho.

“Sebentar aku panggilkan dokternya. Baringkan dia di tempat tidur.” Ucap Key lalu beranjak pergi.

Minho membaringkan Jaerin di kasur putih.

“Siapa dia?” tanya namja itu.

“Teman baru.” Ucap Minho.

“Apa ini yeoja yang kau selamatkan tadi?”

Minho mengangguk.

“Dia sungguh berani keluar sendirian.”

“Dia yeoja yang seperti itu hyung. Dia berbeda.”

“Ini yeojanya?” sahut sebuah suura.

“Iya dok. Dia shock karena peristiwa tadi.” Ucap Key.

Dokter itu mendekati Jaerin.

“Baiklah aku akan menanganinya. Kalian bisa pergi.” Ucap dokter.

Key dan Minho pergi menjauh.

Dokter menatap namja yang ada di sebelahnya.

“Jonghyun~ pergilah. Kau menggangguku.” Ucap sang dokter.

“Ah nuna~ kenapa kau tidak memberikan kesempatan padaku.” Cletuk Jonghyun.

“Shut up! Get out from my room now!” sentak sang dokter.

Mendengar sentakan dokter muda itu, seisi ruangan berbondong-bondong pergi. Padahal sang dokter hanya mengusir Jonghyun.

“Sudah tahu punya kekasih kenapa masih menggodanya?” cletuk Key.

Jonghyun tersenyum.

“Aku sudah lama menyukainya. ah~ dia begitu cantik~ Key tolong persiapkan ya, saat makan malam aku akan bernyanyi untuknya.” Ujar Jonghyun lalu pergi meninggalkan Key dan Minho.

“Lalu bagaimana dengan kekasihmu?” sahut Key.

“Dia bukan kekasihku. Aku tidak menyukaiku. Dia memaksa ikut denganku.” Sahut Jonghyun kemudian melanjutkan perjalanannya.

“Dasar playboy!” gumam Key.

“Sabar Key.” Ucap Minho.

“Key~ tidak ku sangka dokter secantik itu ternyata galak.” Sahut salah seroang temen Key di ikuti beberapa lainnya.

Mereka pergi meninggalkan Key dam Minho yang berdiri di luar klinik.

“Syukurlah mereka sadar dan cepat keluar dari klinik. Lecet sedikit saja tingkahnya seperti orang patah tulang.” Cletuk Key.

“Kau sensi sekali Key.” Cletuk Minho.

“Semenjak ada Jonghyun aku tidak bisa tenang.” Ujar Key lesu.

“Dia selalu menyuruhku mentang-mentang dia lebih tua dariku.” Lanjutnya.

Minho menepuk-nepuk pundak Key agar membuat Key tenang.

“AAAAaaaaaa!!!!!”

“Sepertinya dari dalam.” Cletuk Key.

Minho langsung bergegas masuk kemudian di ikuti Key.

To be continue…

Gimana gimana? Seru gak? Maaf ya kalo terlalu sedikit^^

Please don’t be silent reader~

Comment my fanfiction please~ ^^

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

14 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s