When I Knew The Meaning of Love (chapter 5)

Standar

Our Feeling

Cast: Minho, Taemin, Onew, Key, Jonghyun, Jaerin *Lyra*, Hyoah *Intan*, Jira *Iha*, Jihee *Reeha*

Genre: Romantic, Friendship

PG: 15

PLEASE DON’T BE SILENT READER, PLEASE COMMENT. AUTHOR NEED YOUR COMMENT. THANKS BEFORE

when I knew the meanig of love (chapter 5) 

Jira duduk di ayunan sembari memandangi laut yang ada di depannya.

“Kau tidak masuk? Di sini dingin.” Cletuk Taemin yang tiba-tiba muncul dan duduk di ayunan samping Jira.

“Ehm~ nanti aku akan masuk.” Ucap Jira.

Taemin terdiam memandang lautan. Tatapannya lurus ke depan tak berkedip. Jira memandangnya.

“Apa ada masalah?” tanya Jira.

Taemin menunduk. Lalu ia mendesah.

“Ya~ banyak sekali yang terjadi akhir-akhir ini. Semua itu membuatku tidak berdaya. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Seolah-olah apa yang aku lakukan malah membuat penderitaan. Bagi diriku maupun orang lain.” Ujar Taemin.

“Apakah tidak ada yang membuatmu bahagia?” tanya Jira memandang lurus ke depan.

Taemin tersenyum.

“Ada~ seseorang yang membuatku tersenyum.” Ujar Taemin.

“Seorang yeojakah?” sahut Jira.

TAemin mengangguk.

“Ya.” Ujarnya.

“Pasti dia sangat special.” Ujar Jira.

“Ya dia sangat special. Tapi~” ucap Taemin menggantung.

“Tapi kenapa?” sahut Jira.

“Sepertinya ia tidak menerimaku lebih dari itu. Ia tidak ingin menerima cintaku. Sepertinya dia ingin menjadi chinguku. Hanya chinguku.” Terang Taemin.

Jira terdiam memandang ke bawah.

“Benarkah dia ingin menjadi chingumu?” ujar Jira memecahkan keheningan.

“Sepertinya~ karena dia tidak menunjukkan bahwa diriku sangat special di hatinya. Mungkin aku bukan tipenya.” Sahut Taemin.

Lalu Taemin beranjak.

“Ayo kembali sekarang sudah jam sepuluh malam. Tidak baik di luar sini.” Ujar Taemin.

“Nanti aku kembali.” Sahut Jira.

“Tidak ada tapi tapian, nanti kau tersesat di dalam kegelapan bagaimana? Nanti kalau kau sakit bagaimana? Aku jugakan yang repot?” sahut Taemin.

“Ya ya ya aku menurut padamu.” Ujar Jira beranjak dari ayunan.

Mereka berjalan bersama-sama, dalam hati Jira berkata,

‘Apakah Jaerin menolak Taemin? Jika ia menolak Taemin kenapa ia menerima boneka Taemin? Lalu kenapa mereka berciuman?’

11.37 PM

Jaerin terbangun. Ia memandang sekeliling. Putih dan putih. Ia turun dari ranjangnya dan melangkah. Tapi sesutu menghambatnya. Ia melihat apa yang menghambatnya. Infus~ dengan paksa ia mencabut infus itu. Tangannya berdarah. Ia membuka tirai dan berjalan. Ia mendapati seorang yeoja berpakaian putih tertidur di sofa yang tidak jauh dari tempat ia berbaring tadi.

Jaerin berjalan keluar, ia sedikit pusing. Dengan sekuat tenanga ia melangkahkan kakinya hingga ia terhenti di suatu tempat. Angin yang kencang menggibaskan rambutnya.

“Jaerin~” cletuk sebuah suara dari depan Jaerin.

Jaerin tidak dapat melihat jelas karena gelap. Ia melangkahkan kakinya mendekati asal muasal suara itu. Ia tidak takut, karena ia mengenal suara itu.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” suara itu muncul kembali.

Lalu Jaerin bisa melihat siapa orang itu. Ia tersenyum.

“Aku terbangun.” Ucap Jaerin.

“Kau harus banya istirahat.” Ujar seseorang yang tidak lain adalah Minho.

“Aku sudah banyak istirahat. Sudah seharian aku tertidurkan?” sahut Jaerin.

Minho diam. Ia memandang tangan Jaerin. Lalu ia merogoh saku jaketnya dan mendapati slayers. Ia meraih tangan Jaerin.

“Kau ceroboh sekali. Pasti kau mencabut infus secar paksa.” Cletuk Minho yang membalut luka Jaerin dengan slayersnya.

Ia melepaskan jaketnya dan menyelimuti Jaerin.

“Pakailah~ di sini dingin.” Ujar Minho.

“Gomawo~” ucap Jaerin.

“Ayo akan ku antarkan kau kemabli ke klinik resort.” Ujar Minho.

Jaerin menggeleng.

“Aku ingin di sini sebentar.” Ujarnya.

“Kau mengingatkanku kepada seseorang.” Sahut Minho.

Jaerin menoleh.

Minho mendesah. Ia menyandarkan tubuhnya ke pagar tembok dan memandang lurus ke depan.

“Di sini tempat ia menghilang.” Cletuk Minho.

Jaerin melihat perubahan ekspresi Minho. Ia bisa melihat mata Minho berbeda. Dengan melihat matanya saja Jaerin sudah tahu, Minho sedang sedih saat ini.

“Nugu?” tanya Jaerin.

“Nunaku.” Ujar Minho.

Jaerin terdiam.

“Kejadiannya sudah lama~ sekitar empat tahun yang lalu. Ia sepertimu. Menyukai boneka beruang. Aku tidak tahu mengapa ia menyukai boneka itu yang jelas ia sangat menyukai boneka itu. Dia mencintai seseorang, tapi dia tidak berani mengatkannya. Hingga suatu hari ia mengetahui bahwa namja yang ia sukai akan segera menikah dengan yeoja lain, nunaku jadi lepas kendali. Ia pergi ke bar dan minum minum untuk pertama kalinya. Dia tidak bisa minum. Ia tak kuat minum. Hasilnya ia mabuk. Saat itulah peristiwa mengerikan terjadi. Malam itu seseorang membawanya. Seorang namja. Nunaku tidur bersama namja yang tidak di kenalnya. Sebulan kemudian nunaku mengetahui bahwa dirinya hamil. Ia minta pertanggung jawaban dari namja yang telah menidurinya. Tapi namja itu mengelak. Ia bilang bisa jadi nunaku melakukannya dengan orang lain. Namja itu mengatkan bahwa nunaku wanita murahan. Orang tuaku menyuruh nunaku untuk membunuh janin di dalam perutnya itu. Tapi ia menolak. Ia kabur kemari dan hilang di tempat ini. Ada yang bilang ia bunuh diri dari tempat ini karena ia sering ke atap ini. Tapi tidak seorangpun menemukan jasadnya. Aku tidak tahu kenapa ia melakukan itu. Menyiksa dirinya sendiri.” Terang Minho.

Jaerin mendesah.

“Aku tidak menyangkah kau punya rahasia seperti itu. Siapa lagi yang tahu hal ini?” ujar Jaerin.

“Key~” sahut Minho.

“Aku mengerti perasaan onnie. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama.” Cletuk Jaerin.

Minho menatap Jaerin.

“Waeyo?” tanya Minho.

“Sarang~ Bagaimana bisa seorang ibu membunuh anaknya sendiri. Ia tidak akan melakukan itu meski ia tidak ingin melakukkannya. Bagaimanpun juga itu anaknya~ anak kandungnya.” Ucap Jaerin.

Minho terdiam.

“When you knew the meaning of love you will understand.” Cletuk Jaerin.

“When I Knew The Meaning of Love?” sahut Minho.

7.35 AM

“Jira ayo bangun!!! Sampai kapan kau akan tidur!!!” sentak Hyoah.

Jira tetap dalam tempat. Ia tidur pulas.

“Astaga~ sepertinya tempat ini membiusnya untuk tetap tidur.” Keluh Hyoah.

“Hya JIRA!!! CEPAT BANGUN!!! JAERIN DALAM KEADAAN KRITIS!!! IA AKAN DIPINDAHKAN KE RUMAH SAKIT SEKARANG JUGA!!!” Triak Hyoah.

Jira langsung bangun.

“Benarakah?” sahutnya.

Hyoah terkejut.

Jira mengucek-ngucek matanya yang sayu. Ia masih mengantuk.

“Cepat mandi sana dan kita lihat keadaan Jaerin!” seru Hyoah.

Jira bangkit dan menujuh ke kamar mandi. Lalu terdengar

BRUK!!!

“Apa itu?” sahut Hyoah.

“Mian~ aku terjatuh karena aku mengantuk.” Sahut Jira.

Hyoah menggeleng. Lalu ia melangkah keluar kamar.

“Annyeong~” cletuk sebuah suara.

Hyoah menoleh lalu ia menalan ludah ketika tahu siapa.

“A~ annyeong~” balasnya.

Deg~ jantungnya lalu berdetak kencang ketika melihat orang itu tersenyum kepadanya. Orang itu tidak lain adalah Jinki.

“Kau mau kemana?” tanya Jinki.

“Ah~ aku mau ke klinik.” Sahut Hyoah.

“Kau sakit?” tanya Jinki.

Hyoah menggeleng.

“Lalu siapa?” tanya Jinki lagi.

“Jaerin.” Jawab Hyoah.

“Apa yang terjadi padanya?” tanya Jinki khawatir.

Hyoah terdiam.

“Waeyo? Apakah aku tidak boleh mengetahuinya?” ujar Jinki.

“Bu~ bukan. Hanya saja ceritanya sedikit panjang.” Sahut Hyoah.

“Tidak apa-apa ayo ceritakan padaku sambil jalan ke klinik.” Sahut Jinki.

“Jalan ke klinik? Kau mau ke sana juga?” sahut Hyoah.

Jinki mengangguk.

“Ya~ aku ingin melihat keadaan Jaerin. Dia sudah ku anggap adikku sendiri.” Cletuk Jinki.

7.57 AM

“Onnie~ onnie~” ujar Jira.

Ia mencari sesorang di dalam kamar.

“Aish~ aku di tinggal Hyoah onnie.” Cletuknya.

Ia keluar kamar dengan wajah cemberut. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Lalu ia melangkahkan kakinya.

8.47 AM

Seseorang membuka pintu.

“Minho~ apa yang kau bawa?” tanya Hyoah.

“Bubur ayam.” Jawab Minho lalu berjalan mendekati Jaerin.

“Ini makanlah.” Ujar Minho menyodorkan semangkuk bubur ayam.

Jaerin menggeleng.

“Aku tidak mau bubur ayam.” Ujarnya.

“Jika tidak mau aku saja yang makan. Aku belum makan.” Sahut Hyoah.

“Ya~ berikan kepada Hyoah onnie saja.” Cletuk Jaerin.
“Tidak kau harus memakannya.” Paksa Minho.

Jaerin membungkam mulutnya dan menggeleng.

“Sakitku tidak parah kenapa aku harus makan bubur itu?” keluh Jaerin.

“Dokter bilang pencernaanmu terganggu karena kau sering telat makan. Kau sering mual dan pusingkan?” sahut Minho.

Jaerin terdiam.

“Pusing dan mual?” sahut Hyoah.

“Ya aku sering pusing dan mual.” Ujar Jaerin.

“Jangan-jangan kau hamil!” cletuk Hyoah.

“Hya Hyoah~ apa yang kau katakan itu!!!!” sahut Jinki mengacak-ngacak rambut Hyoah.

“Hentikan!!! Aku hanya bercanda.” Ujar Hyoah.

Jinki berhenti mengacak rambut Hyoah.

Hyoah merapikan rambutnya.

“Lihat apa yang kau lakukan. Jaerin jadi tersinggung.” Ujar Jinki.

Jaerin tersenyum.

“Tidak aku tidak tersinggung~ aku tahu Hyoah annie ingin membuatku tertawa karena kata-katanya yang NG~” ujar Jaerin.

Hyoah tersenyum.

“Mustihal bagiku hamil di luar nikah. Yang mungkin seperti itu Hyoah onnie. Karena Hyoah onnie sering mabuk dan tidak sadarkan diri. Siapa yang membawanya saat mabuk ia tidak peduli. Ia lepas kendali.” Cletuk Jaerin.

“Apa kau bilang?” sahut Hyoah menyingsingkan lengannya.

Jaerin tertawa. Lalu Jinki ikutan tertawa.

“Jaerin kau benar juga.” Ucap Jinki.

“Hya kau jangan ikut-ikutan. Lama-lama aku ngeri juga dekat dengannmu.” Sentak Hyoah ke Jinki.

Jinki diam menahan tawanya.

“Sudah-sudah.” Cletuk Minho yang sedari tadi diam tidak bergeming.

“Ayo Jaerin kau makan ini.” Ujar Minho menyodorkan bubur ke Jaerin.

Jaerin membungkam mulutnya dan menggeleng sekali lagi.

“Baiklah jika kau tidak mau makan sendiri. Aku akan menyuaipimu.” Ujar Minho duduk di dekat ranjang Jaerin.

“Ngomong-ngomong di mana Jira ya?” cletuk Hyoah.

Ia melihat jam dinding.

“Sudah satu jam lebih.” Lanjutnya.

“Jira? Dia kemari bersama siapa?” sahut Jaerin.

“Sendiri~ aku tadi meninggalkannya.” Sahut Hyoah.

“Tidak bersama Taemin?” sahut Jaerin.

“Taemin tadi bersama Key. Mereka menyiapkan acara untuk nanti malam.” Cletuk Minho.

“Jadi dia sendiri? Kemari? Astaga~” sahut Jaerin.

“Waeyo?” tanya Hyoah.

“Dia mudah tersesat. Dia mudah bingung di tempat yang baru.” Sahut Jaerin membaringkan dirinya kemudian memjamkan matanya.

Ia memegang dahinya.

9.03 AM

“Kenapa kau di sini?” tanya Taemin kepada seorang yang duduk jongkok.

Yeoja itu mendongak menatap Taemin. Yeoja itu berlinang air mata. Ia bangkit lalu memeluk Taemin.

“Ah Taemin~ akhirnya kau menemukanku~ Aku sudah lama berputar putar tapi tidak menemukan klinik dan aku tidak ingat jalan kembali.” Isak yeoja itu.

“Jira~ sudah~ sudah jangan menangis~ tidak enak di lihat orang.” Ucap Taemin.

Seketika itu Jira sadar apa yang di lakukannya. Ia melepas pelukannya lalu menghapus air matanya.

“Di mana kliniknya? Aku ingin bertemu dengan Jaerin.” Ujar Jira.

“Ikut aku!” seru Taemin.

Mereka berjalan berdua menujuh ke klinik.

“Jira!!!” seru Jaerin yang melihat Jira masuk.

Ia langsung turun dari ranjangnya dan memeluk Jira.

“Jaerin~” isak Jira.

“akhirnya kau datang juga.” Ucap Jaerin.

“Mianhae aku telat.” Sahut Jira.

“Kau tersesat lagi?” sahut Jaerin.

“Ne~”

Mereka melepaskan pelukan.

“Pabo~ sampai kapan kau akan mudah tersesat begitu.” Omel Jaerin.

“Mian~ aku selalu panik hingga aku tersesat. Aku ingin melihat kondisimu. Bagaimana kondisimu?” sahut Jira.

“Ah~ aku tidak suka di sini. Aku harus memakan bubur. Aku benci bubur.” Cletuk Jaerin.

“Bubur? Apakah pencernaanmu bermasalah?” tanya Jira.

“Ya~ dia terkena infeksi usus.” Sahut Minho.

“Mwo? Infeksi usus?”

10.15 AM

“Wah sepertinya sepeda motor trailenya rusak parah. Apakah kejadiannya sungguh parah hingga seperti ini jadinya?” cletuk Jonghyun.

“Ya seperti itulah~ kau tidak lihat. Korban shock hingga tidak sadarkan diri. Ia trauma dan sekarang masih di rawat di klinik.” Sahut Key yang mengecek kondisi motornya.

“Apa acara biasanya tetap diadakan?” tanya Jonghyun.

“Tentu~ itu acara klub kami. Kau ikut?” sahut Key.

“Ya~ tidak ada hiburan lagi.” Sahut Jonghyun.

“Dimana yeoja itu?” tanya Key.

“Oh yeoja itu~ ada~ tapi nanti aku akan menyuruhnya pulang. Aku tidak ada rasa dengannya.” Celtuk Jonghyun.

Key mendesah. Ia beranjak.

“Sampai kapan kau mempermainkan yeoja seperti itu.” Celtuk Key.

“Aku tidak mempermainkannya. Dia sendiri yang mengejarku dan ingin bersamaku.” Sahut Jonghyun.

“Tapi kau bisa memberitahukan bahwa kau tidak tertarik kepadanya. Itu lebih baik.” Ujar Key.

“Tidak, aku tidak bisa. Aku merasa kesepian tanpa yeoja di sampingku meski aku tidak mempunyai rasa  kepadanya.” Ujar Jonghyun.

“Dasar Lucifer.” Gumam Key lalu pergi meninggalkan Jonghyun.

“Apa? Lucifer?” ucap Jonghyun heran.

Ia menatap Key yang lama-lama menghilang dari pandangannya.

“Lucifer?” ucap Jonghyun lagi.

Ia mendecakkan lidah.

11.55 AM

“Akhirnya aku keluar juga dari klinik.” Cletuk Jaerin

“Tapi kau masih dalam pengawasan.” Sahut Hyoah.

“Dan kau hanya di perbolehkan makan bubur hingga benar-benar sembuh.” Sahut Jira.

“Ah~ kenapa harus bubur! Apa tidak ada makanan yang lain?” ujar Jaerin.

“Kau harus makan yang lembut-lembut jika kau ingin sembuh.” Cletuk Minho.

“Apakah aku boleh memakan sosis, daging sapi nanti malam?” tanya Jaerin kepada Minho.

“Ehm~ entahlah~ akan ku tanyakan kepada dokter.” Jawab Minho.

“Ku rasa boleh. Asalkan kau mengunyahnya hingga lembut.” Sahut Taemin.

“Aku dulu pernah begitu.” Lanjutnya.

“Yang sabar ya Jaerin.” Sahut Jinki tersenyum.

“Gomawo oppa~ sekarang aku mulai mual melihat ayam.” Sahut Jaerin.

“Ayam? Kenapa? Bukankah ayam itu enak? Aku suka ayam.” Sahut Jinki.

“Itu karena bubur ayam yang aku makan tadi.” Cletuk Jaerin memegangi perutnya.

“Kau tidak apa-apa? Mukamu pucat lagi.” Ujar Minho memegangi pundak Jaerin.

“Perutku sakit dan aku merasa mual.” Ucap Jaerin.

“Apa kita mengantarkannya  ke klinik?” sahut Jira.

“Kita sudah 2/3 jalan/ lebih baik bergegas ke kamar.” Ujar Minho.

Ia berjengkok dan berkata.

“Naiklah ke punggungku, biarku gendong.”

Jaerin menurut. Ia naik ke punggung Minho.

Minho menggendong Jaerin dan berjalan menujuh ke kamar.

“Jinki oppa~” triak sesorang yeoja.

Jinki menoleh. Ia mendapati seorang yeoja berlari mendekatinya.

“Siapa dia?” tanya Hyoah.

Jinki tidak menjawab ia hanya mendesah.

“Kalian duluan saja aku akan menyusul.” Ucap Jinki.

Mereka meninggalkan Jinki, termasuk Hyoah.

“Kenapa kau kemari?” tanya Jinki kepada yeoja yang menghampirinya.

“Aku ingin bertemu denganmu. Sudah lama kita tidak bertemu.” Ucap yeoja itu.

“Jihee~ bisakah kau tidak mengikuti kemana aku pergi. Aku ingin berlibur~” keluh Jinki.

“Kenapa kau mengeluh seperti itu? Akukan tidak menyusahkanmu.” Sahut Jihee.

“Awas saja jika kau menyusahkanku.” Ancam Jinki.

“Aku hanya minta bantuan kepadamu.” Ujar Jihee.

“Apa itu?” tanya Jinki.

“Bisakah kau membawakan barang-barangku ke kamar?” sahut Jihee.

“Aish~ Jihee~ apakah kau tidak bisa menyuruh pelayan resort untuk membawakannya?” sahut Jinki.

“Mereka namja~ aku tidak mengenalnya~ jika mereka lakukan sesuatu padaku bagaiman?” ucap Jihee.

“Terserah kaulah.” Sahut Jinki.

12.07PM

“Jinki hyung~ apa yang kau lakukan?” tanya Key menghampiri Jinki dan seorang yeoja yang bersamanya.

“Aku membantu yeoja ini mengangkut barangnya.” Ucap Jinki.

“Kenapa tidak menyuruh pelayan resort?” tanya Key.

“Dia takut dengan namja yang tidak ia kenal.” Ucap Jinki.

“Kan ada pelayan resort perempuan yang bertugas membawakan barang.” Cletuk Key.

“Jinca?” sahut Jinki.

Key mengangguk. Lalu ia melihat sekeliling.

“Ahjumma~” triaknya melambai-lambai.

Seorang ahjumaa datang menghampiri.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya ahjuma itu.

“Bawakan barang-barang itu kekamar yeoja itu.” Ucap Key menunjuk barang bawaan Jinki lalu menunjuk Jihee.

Ahjumaa itu mengangguk kemudian membawa barang-barang milik Jihee.

“Baiklah akan kembali ke kamarku.” Ucap Jinki lalu kabur.

“Aish!!! Jinki oppa!!!” triak Jihee.

“kau mengenalnya?” tanya Key.

“Tentu! Aku kemari karenanya.” Sahut Jihee cemberut.

“Tapi sepertinya dia tidak ingin bersamamu.” Sahut Key.

“Bukan urusanmu.” Sewot Jihee lalu meninggalkan Key bersama ahjumma yang membawakan barang-barangnya.

“Hah! Aku tidak mengerti apa yang ada di otak para yeoja itu. Kenapa mereka mengejar namja yang jelas-jelas tidak menyukainya.” cletuk Key.

7.07 PM

“Jira, kemana Hyoah onnie?” tanya Jaerin yang sedang menyisir rambutnya.

“Ia sudah keluar duluan. Jinki oppa menjemputnya.” Ujar Jira.

“Owh~ sepertinya hubungan mereka menjadi dekat.” Cletuk Jaerin.

“Apaka Hyoah onnie menyukai Jinki oppa?” sahut Jira.

“Ya~ dan sepertinya Jinki oppa juga menyukai Hyoah onnie.” Ujar Jaerin.

“Bagaimana kau bisa bilang seperti itu? Siapa tahu saja Jinki oppa hanya kesepian dan ingin di temani. Satu satunya yang ia kenal di sini hanyalah Hyoah onnie.” Cletuk Jira.

“Alu bisa melihat dari matanya. Aku bisa merasakannya.” Sahut Jaerin.

“Kau hebat ya bisa melihat perasaan orang lain dengan melihat matanya.” Ujar Jira.

“Aku belajar dari orang tuaku.” Ucap Jaerin.

“Apakah kau bisa mengajariku?” tanya Jira.

“Entahlah~ kau memiliki jiwa yang mudah tersesat ku rasa akan sulit untuk belajar.” Ucap Jaerin.

Jira mendesah.

“Jika begitu katakan perasaan orang lain yang ada di sekitar kita!” seru Jira.

“Ehm~ mulai dari mana ya~ oh ya Minho! Dia memiliki perasaan yang dingin. Ia bersikap hangat kepda orang lain karena merasah bersalah dengan orang itu.”

“Seperti dirimu?” sahut Jira.

Jaerin mengangguk.

“Dia memiliki suatu rahasia. Ia memendamnya . Ia orang yang tertutup. Dan ia tipe orang yang menhan air matanya.” Ucap Jaerin.

“Benarkah seperti itu?” sahut Jira.

“Jika di lihat dari matanya sich begitu~ lalu~ Key oppa~ dia merasa bingung akan suatu hal. Ia selalu memikirkan hal itu. Dan ia tidak dapat menyadari apa yang dirasakannya.” Terang Jaerin.

“Wah kau seperti peramal saj. Berpa lama kau mempelajarinya?’ sahut Jira.

“Entahlah. Sejak kecil orang tuaku mengajariku.” Ucap Jaerin.

“Lalu Taemin~” sahut Jira.

“Taemin? Kau ingin apa perasaanya?” sahut Jaerin.

Jira mengangguk.

“Dia memiliki mata yang indah dan perasaanya yang indah. Dia merupakan karakter yang lemah lembut dan tak berani melihat orang lain terluka. Dari matanya juga aku bisa melihat dia memiliki kesulitan untuk menyampaikan apa yang di rasakannya.” Terang Jaerin.

Jira terdiam.

“Kenapa kau diam?” tanya Jaerin.

“Ehm~ tidak apa-apa. Lalu bagaimana denganku?” ucap Jira.

“Kau mudah tersesat. Itu karena kau selalu bimbang. Aku bisa melihat dari matamu, kau merasa tidak percaya diri dan selalu bertanya-tanya yang manakah jalan yang tepat untukmu. Ku rasa kau harus meningkatkan rasa percaya dirimu dan mengikuti apa kata hatimu. Cobalah memberanikan diri Jira~ katakan apa yang ada di dalam hatimu. Jangan memendamnya. Jika kau tidak bertanya, kau sendiri yang tersesat.” Terang Jaerin.

TET~ TET~ TET~

“Sepertinya kita sudah di jemput.” Cletuk Jaerin lalu beranjak.

Ia berjalan ke pintu kamar dan membukanya.

“Hai Taemin~” ucap Jaerin tersenyum.

“Ada apa? Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanya Taemin curiga.

Jaerin hanya tersenyum.

“Kalian habis membicarakanku ya?” tanya Taemin sekali lagi.

“Tidak~ kami membicarakan urusan perempuan. Tidak ada hubungannya denganmu.” Sahut Jira mendekati.

“Ayo kita berangkat!” seru Jaerin.

7.35 PM

“Kemana Hyoah onnie ya?” gumam Jaerin lalu mengambil HPnya yang ada di saku jaketnya.

Ia mengirim SMS kepada Hyoah.

Onnie~ kau di mana? Kau tidak ikut dengan kami?

 

Dua menit kemudian Hyoah membalas.

Ini aku sedang berjalan ke sana.

Jaerin membalas.

Kalian ke mana sich?

 

Hyoah membalas

Kami baru saja menyicipi coklat yang ada di restourant. Rasanya enak sekali ^^

 

Jaerin mendesash.

“Waeyo?” tanya Minho yang duduk di sebelah Jaerin.

“Di restourant ada coklat yach?” tanya Jaerin.

“Ya~ ada pameran coklat. Hari ini mereka membuat miniatur resort dari coklat.”  Jawab Minho.

Jaerin mendesah lagi.

“Waeyo?” tanya Minho lagi.

“Aku meninginkannya.” Jawab Jaerin tertunduk.

“Kau bisa minta Key untuk menyisahkan coklat untukmu.” Ucap Minho.

“Jinca?” sahut Jaerin semangat.

Minho mengangguk.

“Key~” panggil Minho.

Key menoleh.

“Ada apa?” tanya Key.

“Jaerin menginginkan coklat.” Ujar Minho.

“Oh~ biar ku suruh anak itu membawa coklta. Kebutulan dia ada di sana saat ini.” Ucap Key.

“Gomawo~” ucap Jaerin.

“Cheonmaneyo~” ucap Key lalu sibuk mempersiapkan bahan yang akan di bakar.

“Minho~ bisakah kau membantuku.” Ujar Key.

“Ne~” sahut Minho lalu beranjak dari tempat duduknya.

“Tadi kau bilang ingin coklat?” cletuk Jira dari belakang Jaerin.

Jaerin tersentak kaget.

“Aish Jira~ kau mengagetkanku saja.” Omel Jaerin.

Jira tersenyum. Ia menyodorkan segelas minuman kepada Jaerin. Jaerin menerimanya. Lalu Jira duduk di sebalah Jaerin.

“Akhir-akhir ini kau sering terkejut ya.” Cletuk Jira.

“Ne~ semenjak perisiwa itu.” Ujar Jaerin.

“Peristiwa apa?” tanya Jira tidak mengerti.

“Peristiwa aku dengan Minho.” Sahut Jaerin.

“Hai! Apa yang kalian bicarakan!” seru Hyoah yang baru tiba.

“Bukan apa-apa” ucap Jaerin.

“Hyoah onnie dari mana?” tanya Jira.

“Dari restauran~ mencicipi coklat~” sahut Hyoah.

“Oh~ pantas Jaerin tiba-tiba ingin coklat. Itukan favoritenya.” Ujar Jira.

“Hyoah~ seharusnya tadi kau membawakan Jaerin coklat. Kau gimana sich~” omel Jinki.

“Kenpa aku yang kena marah? Aku kan lupa Jinki~” sahut Hyoah.

“Tidak apa-apa kok oppa~ aku tahu kenapa Hyoah onnie lupa. Lagian sesorang akan membawakan coklat untukku.” Sahut Jaerin.

“Siapa yang mengantarkan?” tanya Hyoah.

“Mungkin pegawai di sini.” Cletuk Jaerin.

“Hyung~ bisa bantu aku menyalakan api unggunya?” cletuk Taemin datang menghampiri Jinki.

“Oj ne~ dengan senang hati.” Ujar Jinki lalu beranjak.

Taemin dan Jinki sibuk menyalakan api unggun. Key, Minho dan teman satu klub lainnya sibuk mempersiapklan bahan dan alat untuk memanggang. Sementara Jaerin, Jira dan Hyoah membicarakan tentang liburan yang mengasyikan itu.

“Ayo kita mulai acaranya!!!” seru Key ketika semua persiapannya siap.

“Ayo!!!” seru orang-orang.

“Minho~ kau bagian memanggang!”  perintah Key.

“Lalu kalian berdua siapkan minuman untuk semua orang.” Lanjutnya menunjuk dua orang temannya

“OK kita mulai acaranya dengan acara pertunjukan bakat. Apakalian sudah mempersiapkannya?” ujar Key.

“Apa bakat?” sahut Hyoah.

“Iya~ apa tidak ada yang memberitahumu?” sahut Key.

Hyoah menggeleng.

Aku juga tidak tahu.” sahut Jaerin.

“Begitu juga denganku.” Sahut Jira.

“Maafkan aku. Aku lupa memberitahu mereka.” Sahut Minho.

“Ya sudah tidak apa-apa kalian tidak ikut juga tidak apa-apa. Kalian menyaksikan saja.” Ucap Key.

“Siapa yang mau duluan?” tanya Key kemudian.

“Aku~” sahut Jinki mengangkat tangan.

“Oh ternyata kau hyung.” Ujar Key.

“Aku tamu tak di undang di sini jadi aku ingin mengisi acar dulu agar kalian terhibur.” Ujar Jinki.

“Ah jangan berkata begitu hyung~ kami senang kau di sini.” Ucap Key.

“Kau akan menunjukkan bakat apa?” tanya Taemin.

Jinki tersenyum. Ia beranjak dari tempat duduknya menujuh ke namja yang membawa gitar. Ia berbisik kepada namja itu. Lalu ia duduk di sebelah namja itu.

Namja itu mulai memetikkan gitar. Lalu Jinki mulai menyanyi.

soni siryeowa sarangui gieogi chagapge dagawa

aryeoonda ijeneun deo isang neoreul bujeonghago sipji anheun nareul algo itjiman

gakkai inneun neol saranghal su eomneungeol algo itgie

nal barabol su eomneun neol gidarimi neomu himdeureo

ijen gyeondil su eobseo irwojil su eopgie

naega saranghaetdeon geu ireum

bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon

geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo

nae ane sumgo sipeojyeo

neol saranghal subakke eobseotdeon

geu nareul ijen arajwoyo

irul su eomneun sarangdo saranginikka

honja hal su eomneun sarangiran neukkimeun naege dagawa

sijak hal su do eomneun geuriumdeureun keojyeoman gago

sirin gaseum han kyeonen neoui hyanggiman nama

naega saranghaetdeon geu ireum

bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon

geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo

nae ane sumgo sipeojyeo

neol saranghal subakke eobseotdeo

geu nareul ijen arajwoyo

irul su eomneun sarangdo saranginikka

sucheon beoneul dorikyeo cheoeumui naro gan sungane

gaseum han guseoge da asagal ne moseubin geol

naega saranghaetdeon geu ireum

bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon

geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo

nae ane sumgo sipeojyeo

neol saranghal subakke eobseotdeon

geu nareul ijen arajwoyo

irul su eomneun sarangdo saranginikka

irul su eomneun sarangdo saranginikka

 

“Omo~ bagus sekali oppa~ Aku menyukainya!!!” sahut sebuah suara dengan lantang.

Dan semua matapun tertuju padanya.

To be continue…

Panjang sekali yach?

Ayo komentarnya jangan lupa~

Di like yach~

Isi ratingnya juga ^^

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

14 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s