When I Knew the Meaning of Love (chapter 6)

Standar

Chapter 6

 

Cast: Minho, Taemin, Onew, Key, Jonghyun, Jaerin *Lyra*, Hyoah *Intan*, Jira *Iha*, Jihee *Reeha*

Genre: Romantic, Friendship

PG: 15

 

PLEASE DON’T BE SILENT READER, PLEASE COMMENT. AUTHOR NEED YOUR COMMENT. THANKS BEFORE

When I Knew The Meanig of Love (chapter 6)

-Deep Secret-


Yeoja itu berjalan mendekati Jinki. Ia duduk di sebelah Jinki dan merangkul tangan Jinki.

”Oppa~ kau pandai sekali bernyanyi.” ucap yeoja itu.

Jinki melepaskan tangan yeoja itu dari tangannya.

”Jeehae tolong jang lakukan hal itu kepadaku.” cletuk Jinki.

”Waeyo? Dulu aku boleh melakukannya kenapa sekarang tidak?” sahut Jeehae cemberut.

”Situasinya sudah berubah.” celetuk Jinki.

”Menganggu saja.” sahut Key.

Jeehae langsung menatap Key. Ia menyipitkan matanya.

”Apa kau bilang?” sentaknya.

”Kau mengganggu acara orang saja. Tiba-tiba triak dan masuk ke dalam acara orang lain.” sentak Key.

Jeehae beranjak dari tempat duduknya.

”Inikan tempat terbuka bukan private, so aku boleh donk ke tempat ini. Gak usah dech ngelarang-ngelarang. Kayak km aja yg punya resort.” sewot Jeehae.

Key mengepalkan tangannya.

”Kau ini yach!!!” sentaknya.

”Tahan Key.” sahut Minho mencoba menenangkan Key.

”Biarlah Key~ apa salahnya ia bergabung.” cletuk Minho.

Key memandang Minho tajam.

”Aku tidak suka dengan yeoja semacam dia. Dia sama saja dengan namja itu.” bisik Key lalu duduk di bangku yang terelatk di sudut dekat Taemin.

Sementara itu Hyoah meremas-remas gelas plastik. Ia tidak tahan melihat kegenitan Jeehae.

”Onnie kau tidak apa-apa?” tanya Jira.

‘Ah apa?” sahut Hyoah tersentak kaget.

”Kau tidak apa-apa?” ulang Jira.

”Aku tidak apa-apa kok. Hanya dehidrasi saja. Aku ambil minuman dulu yach.” ucap Hyoah lalu tersenyum.

Kemudian ia beranjak mengambil minuman. Jaerin mengikutinya.

”Ku harap kau tidak mabuk lagi.” cletuk Jaerin.

”Aku tidak ingin mabuk lagi. Aku tidak ingin terlihat bodoh di hadapannya karena mabuk. Aku tidak ingin ia mengatahui perasaanku.” ucap Hyoah.

”Kenapa tidak ingin Jinki oppa mengetahui perasaan onnie?” sahut Jaerin.

”Aku tidak ingin ia mengetahui perasaanku saat aku mabuk. Saat-saat ini tidak tepat untuk mengatakannya. Lagi pula aku tidak yakin dengan perasaanku sendiri. Apa aku mencintainya? Apakah aku hanya sekedar mengaguminya? Aku tidak tahu apa itu cinta yang sebenarnya? Apa artinya?” terang Hyoah datar.

”Onn~ cobalah untuk menenangkan diri. Renungkanlah segala permasalahan onnie. Kelak semua resah gundah di hati onnie akan terjawab.” ujar Jaerin.

”Maaf apakah kau Jaerin?” sahut seorang namja.

Jaerin dan Hyoah menoleh ke asal muasal suara. Mereka tersentak kaget melihat orang itu.

“Jadi diantara kalian tidak ada yang bernama Jaerin?” tanya namja itu.

Hyoah mengangkat tangannya perlahan menunjuk ke arah Jaerin.

“Dia Jaerin.” Ucapnya.

Namja itu memandang Jaerin lalu tersenyum.

“Ini pesenanmu. Katanya Key kau meminta coklat ini.” Ucap namja itu menyodorkan seloyang coklat.

Jaerin menerimanya dengat tak percaya.

“Jika kurang kau bisa bilang ke aku.” Ucap namja itu lalu mengedipkan sebelah matanya kemudian meninggalkan Jaerin dan Hyoah.

Jaerin memandang namja itu. Matanya tidak berkedip memandang namja itu.

“Jae kau tak apa-apa?” tanya Hyoah.

“Ehm~ aku hanya terkejut.” Ucap Jaerin.

“Apa hubungannya dia dengan Key ya? Apa dia bekerja di sini? Tapi dari gayanya sepertinya tidak. Dia tidak menggunakan seragam.” Cletuk Hyoah.

“Mungkin saja dia bekerja sebagai penyanyi. Diakan pandai menyanyi.” Sahut Jaerin lalu menyomot coklat yang ada di tangannya.

“Tapi~ aneh juga jika dia mau di suruh Key untuk mengambilkan coklat untukmu. Apa jangan-jangan~” ujar Hyoah lalu terdiam.

“Jangan-jangan apa?” sahut Jaerin.

“Jangan-jangan mereka bersaudara.” Cletuk Hyoah.

“Mworago?” sahut Jaerin terkejut.

“Sssttt kecilkan volume suaramu. Kau ingat namanya Kim Jonghyun, marganya Kim lalu Key~ Kim… Kim..”

“Kim Kibum” sahut Jaerin.

“Ya~ Kim Kibum. Marga mereka sama-sama Kim.” Sahut Hyoah.

“Tidak mungkin. Minho bilang Key oppa hanya memiliki saudara perempuan. Dan saudaranya itu sudah menikah.” Sahut Jaerin.

“Hey kalian sedang apa?” sahut sebuah suara.

Jaerin dan Hyoah menoleh. Ternyata itu Key.

“Kami hanya berbincang-bincang~ biasa masalah yeoja.” Sahut Hyoah lalu tersenyum.

“Kau sudah menerima coklat darinya ya” ucap Key begitu melihat seloyang coklat di tangan Jaerin.

Jaerin mengangguk.

“Maaf ya jika dia bertingkah aneh. Dia selalu begitu. Huft~ hanya dia yang bisa aku mintai tolong untuk masalah ini.” Ujar Key.

“Sebenarnya dia siapa?” Sahut Hyoah.

“Dia sepupuku. Kim Jonghyun. Meski dia lebih tua dariku, tapi kedudukanku di keluarga besarku lebih tinggi darinya. Appaku anak pertama sedangkan appanya anak kedua. Maka dari itu resort ini di serahkan kepadaku.” Terang Key.

Hyoah terkejut. Ia mengangah tak percaya. Jaerin tertegun.

“Tolong jangan katakan siapa-siapa bahwa aku calon pemilik resort ini ya. Aku tidak mau di kelilingi yeoja yang hanya ingin harta kekayaanku. Aku tidak mau menjadi Jonghyun yang selalu di kelilingi para yeoja.” Tutur Key.

“Ne~” sahut Hyoah dan Jaerin.

Lalu Key melangkahkan kakinya.

“Mau kemana?” tanya Hyoah.

Key menunjuk ke meja tempat air minum.

“OK aku ikut. Aku juga haus.” Ujar Hyoah.

“Oh ya Jaerin, segeralah kembali ke acara. Tolong awasi sepupuku. Jangan biarkan ia menggoda yeoja yang ada di sana.” Ucap Key.

Jaerin menelan ludah. Ia merasa mendapatkan setumpuk buku yang harus dibaca hari itu juga.

 

 

9.45 PM

 

“Nah terakhir adalah pesta kembang api~!” seru Key.

“Apa kembang apinya sudah siap?” tanya Key kepada temannya.

Temannya menganguk.

“OK ayo mulai!!!!” triak Key.

Ciiiiuuuutttt DOORRRR

Jaerin tersentak kaget. Tubuhnya gemetaran. Melihat itu Minho langsung berjalan mendekati Jaerin menarik Jaerin ke pelukannya dan menutup telingah Jaerin dengan kedua tangannya. Minho memandang langit yang penuh dengan kembang api. Ia juga merasakan kaos yang dikenakannya basah.

Setelah kembang api selesai. Semua orang menyadari apa yang di lakukan Minho.

“Minho apa yang kau lakukan dengan Jaerin?” cletuk Key.

Minho melepaskan tangannya dan berjalan mundur satu langkah. Ia menatap yeoja yang ada di hadapanya itu. Yeoja itu meneteskan air matanya. Tubuhnya gemetaran.

“Hya MINHO!!! APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAPANYA HINGGA IA MENANGIS!!!” Sentak Hyoah emosi.

Minho tidak menghiraukan.

“Sudah tau akan ada kembang api kenapa kau tidak kembali?” tanya Minho kepada Jaerin.

Jaerin mengangkat kepalahnya memandang Minho.

Minho memegang pundak Jaerin.

“Kau tidak boleh menyembunyikannya lagi. Sekarang ceritakanlah, setidaknya kepdaku.” Ucap Minho.

Jaerin menggeleng. Tangisannya semakin keras.

Hyoah datang menepis tangan Minho.

“JANGAN SENTUH! APA YANG KAU LAKUKAN HAH?” sentak Hyoah.

“Aku hanya membantunya~ ia ketakutan.” Ucap Minho.

“JANGAN BANYAK ALASAN!!!” sentak Hyoah.

“Onnie~ sudah jangan marah. Dia sudah membantuku.” Ucap Jaerin.

Hyoah tertegun.

“Gomawo~” ucap Jaerin kepada Minho.

Minho meraih tangan Jaerin dan menariknya meninggalkan teman-teman mereka. Hyoah berusaha mengikutinya tapi Key menahannya.

“Biarlah~ Minho memang tidak pernah dekat dengan yeoja tapi dia tidak akan melakukan hal yang buruk kepada yeoja. Jadi percayalah Jaerin akan baik-baik saja. Biarkan Jaerin tenang bersama dengan Minho. Kau lihat sendirikan dia seperti ketakutan.” Ucap Key.

“Aku baru sadar, dia takut dengan suara yang meledak-ledak.” Sahut Taemin.

“Jadi itu yang membuat dia selalu menolak ajakanku melihat kembang api di pesta kembang api.” Sahut Jira.

Taemin mengangguk.

“Dia phobia?” sahut Jinki.

“Phobia? Apa itu phobia?” sahut Jira tidak mengerti.

“Ketakutan yang berlebihan.” Jawab Hyoah.

“Mungkin ada kaitannya dengan menapa ia tidak berani naik sepeda montor.” Ujar Taemin.

“Bukankah ia trauma naik sepeda motor karena pernah mengalami kecelakaan?” sahut Hyoah.

“Kapan kejadian itu onn? Apaka kau bisa menceritakannya? Jaerin tidak pernah cerita.” Sahut Jira.

Hyoah menggeleng.

“Dia hanya menceritakan bahwa dia pernah mengalami kecelakaan sepeda montor dan dia menyuruhku untuk tidak mengungkit-ukitnya lagi.” Ucapnya.

“Oppa~ antakan aku ke kamar~ aku mengantuk. Aku tidak berani ke sana sendiri. Gelap~” sahut Jeehae berjalan mendekati Jinki.

Jinki mendesah.

“Sebaiknya kau antarkan saja dia hyung.” Ucap Key.

“Baiklah.” Ujar Jinki.

Lalu Jinki dan Jeehae pergi meninggalkan Key dan yang lainnya.

“Maafkan aku noona, aku tidak tahan dengan yeoja itu.” Ucap Key kepada Hyoah.

Hyoah menggeleng.

“Tidak apa-apa.  Lebih baik mereka pergi dari pada membuatku semakin panas saja melihatnya.” Ucapnya.

 

 

10 PM

 

Minho membawa Jaerin ke atas loteng.

”Hanya tinggal kita berdua. Jadi katakan semuanya. Katakan mengapa kau begitu takut dengan kejadian itu, kenapa kau takut dengan suara meledak-ledak seperti kemabang api?” paksa Minho.

Jaerin diam. Ia menghapus air matanya dan berdiam diri.

”Baiklah jika kau tidak ingin cerita. Biar aku yang menceritakan sesuatu kepadmu.” ucap Minho lalu bersandar ke pagar tembok dan memandang ke arah pantai.

”Kami sering mengikuti street basket ball. Suatu hari lawan main kami tidak terima karena kami menang. Semenjak itu mereka seringkali mengejar-ngejar kami. Waktu aku bertemu denganmu, mereka menemukan kami. Mereka hendak mencari perhitungan dengan kami. Jika mereka marah, apapun dan siapapun dapat mejadi korbannya. Itulah alasan kenapa aku menarikmu dan membawamu ke tempat itu. Aku tidak ingin ada yang menjadi korban.” terang Minho.

”Lalu~ kami memutuskan untuk tidak bermain street ball lagi. Tapi aku~ aku tidak bisa tinggal diam. Aku tidak bisa diam di rumah untuk waktu luangku. Aku ingin sebuah kegiatan. Aku ingin mendapatkan uang untuk kebutuhanku sendiri. Maka dari itulah aku sering mengikuti balapan liar. Aku sering menang. Semakin sering aku menang semakin banyak musuhku. Me…”

”Cukup!!!” sentak Jaerin.

Minho menoleh ke arah Jaerin. Yeoja itu menangis lagi. Perlahan yeoja itu berjalan ke arah Minho. Yeoja itu menarik kaos Minho dan meremasnya.

”Kumohon jangan cerita lagi. Kumohon jangan melakukan itu lagi. Cukup jangan balapan lagi.” isak Jaerin tertunduk.

Minho memegang ke dua pundak Jaerin.

”Waeyo?” tanyanya.

”Ka… Karena…. Karena aku tidak ingin kau sepertinya.” Isak Jaerin manatap Minho.

”Siapa?” tanya Minho penasaran.

Jaerin menghapus air matanya. Ia mengambil nafas panjang.

 

#FLASH BACK#

 

Seorang yeoja berumur sekitar dua belas tahun berdiri memandang langit di loteng rumahnya. Sesorang membunyikan klakson yang membuatnya berhenti memandang langit. Ia melihat seorang berhelm hitam mengendari sepeda motor Ninja 250R berwarna senada dengan helmnya. Orang itu membuka helmnya dan memandang yeoja yang tadi asyik memandang langit.

”Donghae oppa~” cletuk yeoja itu.

Namja yang bernama Donghae tersenyum lalu berkata,

”Turunlah!”

Yoeja itu ragu. Melihat senyum namja bernama Donghae itu meyakinkan dirinya. Ia memutuskan untuk ikut dengan Donghae.

”Ini hadiah untukmu.” ucap Donghae ketika yeoja itu datang mendekatinya.

Ia memberikan sebuah kotak yang cukup besar. Yeoja itu menerimanya.

”Bukalah kotak itu, Jaerin.” pintah Donghae.

Yeoja itu membuka kotak berwarna coklat polos pemberian Donghae.

”Helm?” cletuk Jaerin

Donghae mengangguk.

”Aku tidak dapat melindungimu lagi. Semoga helm ini dapat menggantikanku.” ucap Donghae.

”Waeyo?” tanya Jaerin.

”Besok aku akan pindah ke Kanada.” ujar Donghae.

”Kenapa oppa tidak mengatakan sebelumnya kepadaku? Aku belum siap.” isak Jaerin.

Donghae menghapus air mata Jaerin.

”Aku tidak ingin kau gelisah karena kepergianku. Jika aku mengatakan jauh-jauh hari sebelumnya pasti kau sibuk membeli sesuatu untukku. Untuk dijadikan kenang-kenangan. Aku tidak ingin itu.” ucap Donghae datar.

”Jadi oppa tidak ingin hadiah dariku? Oppa tidak ingin mengingatku lagi? Oppa ingin melupakanku.” isak Jaerin.

Donghae menyentuh kedua pundak Jaerin. Ia mencondongkan tubuhnya. Wajahnya kini tepat di depan Jaerin.

”Aku menginginkan kenangan yang akan selalu aku ingat. Aku ingin kenangan yang kekal. Aku ingin kenangan itu tersimpan di otakku dan menenangkan jiwaku.” Ucap Donghae memandang mata Jaerin.

Kata-kata itu membuat Jaerin tenang.

”Kenangan apa yang oppa inginkan?” ucap Jaerin.

Donghae melepaskan tangannya dari pundak Jaerin. Ia naik sepeda montornya.

”Naiklah. Gunakan helm itu. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” cletuk Donghae lalu memasang helmnya.

Jaerin menggenakan helmnya. Lalu naik ke sepeda montor milik Donghae.

”Pegangan yang kuat.” ucap Donghae.

Jaerin mencengkram jaket kulit Donghae. Donghae menunduk lalu menoleh ke belakang. Jaerin mengangguk menandakan ia sudah berpegangan kuat. Donghae menyalakan motornya. Ia mengegas motornya lalu mengeremnya hingga Jaerin terpental kedepan merangkul Donghae. Donghae tertawa ia melajukan motornya. Sementara itu Jaerin menggerutu.

Di tengah jalan ada yang memotong jalan mereka sehingga Donghae mengerem mendadak hingga terdengar bunyi menderit dari ban Ninja 250R milik Donghae.

”Sialan!!!” cletuk Donghae.

Jaerin memandang sekitarnya. Ada beberapa pengendara sepeda motor menghadang mereka. Pengendara motor tersebut menggunakan motor besar seperti milik Donghae.

”Jaerin pegangan yang kuat. Pejamkan matamu. Karena aku akan mengebut kali ini.” ucap Donghae.

Jaerin mempererat pegangannya. Ia memeluk Donghae dan memejamkan matanya.

Donghae mengegas. Ia mulai mengebut. Ia mencoba menghindari pengendara sepeda motor yang mengejarnya. Kecepatannya sudah di atas 100Km/Jam. Jalanan sangat sepi. Memang jalan itu bukan jalan umum. Jarang kendaraan yang melintasi jalan itu.

Terdengar suara tembakan.

”Oppa apa yang terjadi?” triak Jaerin supaya terdengar oleh Donghae.

”Mereka mencoba menembaki kita.” triak Donghae menjawab pertanyaan Jaerin.

Jaerin menjadi ketakutan.

”Tenanglah ia hanya mencoba menembaki ban motorku. Dan aku dapat mengatasi hal itu.” triak Donghae mencoba menenangkan Jaerin.

Jaerin mencoba tenang tapi tidak bisa. Suara bising membuatnya berpikiran negatif sehingga menimbulkan ketakuan.

Ban belakang motor Donghae tertembak. Donghae dan Jaerin terjatuh. Donghae buru-buru bangkit. Ia melepaskan helmnya lalu mendekati Jaerin.

”Kau tidak apa-apa?” tanya Donghae.

Jaerin meringkuk kesakitannya. Helmnya terlepas dari kepalahnya. Kepalahnya baik-baik saja tetapi kakinya terluka karena bergesekan dengan aspal saat terjatuk tadi. Donghae langsung mengangkatnya dengan kedua tangannya. Ia menggendong Jaerin kemudian berlari menjauh ke tempat yang ramai. Tapi gang motor itu berhasil menghadang mereka.

”Tutup matamu Jaerin.” bisik Donghae di telinga Jaerin.

Jaerin memejamkan matanya.

Beberapa gang motor itu turun dari motor dan berjalan mendekati Donghae. Jumlah mereka ada lima orang.  Dua lainnya menghadang jalan Donghae di depan dan belakang.

Seorang dari mereka berlima melayangkan pukulannya ke Donghae. Donghae berhasil menghindari. Ia membalasnya dengan menendang mereka. Donghae berhasil menghindari serangan mereka. Tetapi seseorang berhasil melumpuhkan Donghae. Orang itu menembak Donghae dari belakang mengenai pundak Donghae.

Jaerin tersentak ketika mendengar suara tembakan. Ia menatap Donghae. Ekspresi Donghae berubah. Lalu Donghae terjatuh bersama Jaerin.

”Oppa!!!” triak Jaerin panik.

Donghae memuntakan darah. Ia menengok ke kanannya. Ia mendapati Jaerin panik & ketakutan.

”Sudah ku bilang tutup matamu, kenapa kau tidak mendengarkan kataku?” cletuk Donghae.

Jaerin menitikkan air mata. Ia ketakutan.

Donghae mendekap Jaerin.

”Jangan takut aku akan melindungimu.” ucap Donghae.

Dan Donghaepun di serang oleh beberapa gang motor. Mereka memukuli Donghae. Donghae hanya dapat diam. Ia berusaha melindungi Jaerin agar tidak terkena serangan dari gang motor.

”Jae…Jae… Jaerin… be… Berjan… ji… lah ke… pa… da… ku… ja… ja.. ngan… per…. nah… me… na… ngis.” ucap Donghae terpatah-patah.

Jaerin memejamkan matanya. Air matanya masih mengalir membasahi pipinya. Berkali-kali ia mendengar suara pukulan. Ia tak kuasa menahan tangis, ia ingin menangis sekencang-kencangnya. Lalu Donghae jatuh pingsan. Jaerin dapat merasakan kulit Donghae menjadi dingin. Ia membuka matanya. Ia melihat Donghae terkulai lemas. Dari mulut dan hidungnya keluar darah. Jaerin menangis. Ia mencoba bangkit dan mencoba menolong Donghae. Tapi usahanya sia-sia. Tubuh Donghae terlalu berat, ia tidak dapat bangkit. Lalu Jaerin menyadari sesuatu. Tangannya penuh dengan darah. Seingatnya ia baru saja menyentuh tubuh Donghae. Ia merabah-rabah Donghae dan menemukan cairan berwarnah merah keluar dari pundak kiri Donghae.

”Hei apa yang kau lakukan!!!” triak seorang namja.

Para gang motor itu berhenti memukuli Donghae. Mereka beralih ke namja itu.

Tangan Jaerin gemataran. Ia dapat melihatnya dengan jelas. Lalu ia triak sekuat tenaga. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

”Jaerin?” cletuk namja yang membuat perhatian gang motor tadi.

”JAERIN!!!” triaknya lagi.

Lalu beberapa motor mendekat. Mereka melaju melewati namja yang berteriak dan memanggil nama Jaerin. Mereka mendekati gang motor yang tadi memukuli Donghae. Dan di mulailah perperangan antar dua kubu.

Namja yang tadi berteriak memanggil nama Jaerin mendekati Jaerin dan Donghae. Ia mendapati Donghae mendekap Jaerin. Keduanya pingsan.

”Donghae~ eotteokkae???” ucapnya.

Ia mengecek keadaan Donghae. Ia mendapati Donghae terluka parah. Ada luka tembakan di pundak Donghae. Tangan namja itu bersimpah darah. Lalu ia berteriak.

Kemudian ekpresi namja itu berubah menjadi ekpresi yang penuh kebencian. Namja itu bangkit berjalan mendekati gang motor yang sedang berkelahi. Lalu ia memukul satu demi satu gang motor yang tadi memukul Donghae tanpa ampun.

 

#FLASH  BACK  END#

 

”Ketika aku sadar aku melihat wajah mereka seperti zombie. Appa & eommaku menangis. Aku berpikir apa yang mereka tangisi? Apakah aku? Apakah aku terluka parah sehingga mereka tidak dapat berhenti menangis? Aku beratanya apa yang terjadi. Aku bertanya di mana Donghae? Mereka tidak menjawab.” crita Jaerin lalu menitikkan air mata.

Minho mendekapnya. Ia membelai rambut Jaerin.

”Jangan menangis~ semuanya telah berlalu. Semua sudah terjadi jangan kau tangisi. Jika kau menangis Donghae hyung akan sedih. Ia akan merasa kecewa karena kau tak menepati janjinya.” ucap Minho.

 

 

#FLASH BACK#

 

”Dia sudah pergi Jaerin.” ucap seorang namja kepada Jaerin.

Jaerin memalinkan tubuhnya ke arah eomma dan appanya.

”Kenapa eomma dan appa tidak membangunkanku?” ujar Jaerin.

Lalu ia berusaha keluar dari kamar. Tapi namja yang berdiri di pintu itu menghadangnya.

”Minggir oppa! Aku mau menyusul Donghae oppa!!!” sentak Jaerin.

Namja itu tidak menyingkir.

”Kau tidak boleh menyusulnya.” ucap namja itu.

”Wae? Waeyo oppa!!!!!” isak Jaerin.

Ia terduduk lemas di lantai. Air matanya mengalir.

”Dia benar-benar pergi jauh. Jauh sekali. Kau tidak boleh menyusulnya. Belum waktunya kau menemui Donghae saat ini.” ucap namja itu berjongkok memandang Jaerin.

”Donghae oppa~” isak Jaerin.

”Donghae oppa!!!” triak Jaerin.

Namja yang ada di depan Jaerin menitikkan air matanya.

”Mianhae Jaerin. Jeongmal mianhae. Ini semua salahku. Karena aku terlambat menolongnya. Salahku karena membuatnya terjeremus dengan gang motor. Mianhae Jaerin.” ucap namja itu dengan berlinang air mata.

 

#FLASH BACK END#

 

 

7.25 AM

 

Taemin mengetuk pintu kamar Jaerin. Lalu beberapa detik kemudian Jaerin keluar. Lalu mereka berjalan berdua dan duduk di bangku taman.

”Kau yakin dia tidur?” tanya Taemin.

”Tentu. Dia tidak dapat bangun pagi.” cletuk Jaerin.

”Tapi aku merasa ada yang mengikuti kita. Dan sepertinya dia.” ucap Taemin lalu menoleh ke belakang.

”Jika dia mengikuti kita bukannya itu bagus?” cletuk Jaerin.

”Bagus?” sahut Taemin.

Jaerin mengangguk.

”Biar dia tambah cemburu. Lagi pula dia tidak akan mendengar apa yang kita katakan.” ucap Jaerin.

Taemin mengangguk.

”Kapan kau akan menyatakan perasaanmu kepadanya?” tanya Jaerin memandang Taemin.

”Rencanananya sich hari ini juga.” jawab Taemin.

”Kau sudah siap?” tanya Jaerin.

Taemin mendesah.

”Belum.” jawabnya.

Jaerin langsung menjitak kepalah Taemin.

”Kau tidak punya rencana bagaimana mengutarakannya hah?” sentak Jaerin.

”Ne~ aku tidak tahu. Aku hanya ingin cepat-cepat mengutarakan perasaanku kepadanya.” ucap Taemin.

”Nanti saat matahari terbenam utarakan perasaanmu kepadanya di sana.” ucap Jaerin lalu menunjuk ke sebuah tanjung.

”Aku akan meminta bantuan Key oppa untuk memesan tempat itu untukmu. Agar tidak ada satu orangpun berada di tempat itu. Sehingga hanya ada kalian berdua.” lanjut Jaerin.

Taemin mengangguk.

”Lalu bagaimana aku mengutarakan perasaanku kepadanya?” tanyanya.

Jaerin membisiki Taemin.

 

 

9.15 AM

 

Jihee memeluk tangan Jinki. Ia tidak pernah lepas dari Jinki. Jinki hanya bisa menghela nafas. Ia tidak dapat melakukan apa-apa. Ia takut membuat yeoja itu menangis. Ia tidak suka melihat yeoja menangis.

”Oppa~” panggil Jihee manja.

”Hm~”’ sahut Jinki.

Jihee berhenti melangkah.

”Ada apa?” tanya Jinki.

”Aku ingin mengatakan sesuatu.” ucap Jihee.

”Apa?” sahut Jinki.

”Membungkuklah sedikit. Aku akan membisikimu.” ucap Jihee.

Jinki membukukkan badannya. Lalu Jihee berbisik,

”Jinki oppa~ saranghae~” lalu ia mengecup pipi Jinki.

Jinki terkejut. Kemudian ie merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Ia menegakkan tubuhnya dan memandang ke depan.Lima meter di depannya ada seorang yeoja.

 

 

 

 

To be continue…

 

 

Akhirnya chapter 6 selesai juga ^^

Jangan lupa komentarnya yach ^^

Isi like dan ratingnya juga yach ^^

Gomawo ^^

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

18 responses »

  1. kayaknya ada yg kurang deh. 😀
    aku koment cingu,, itu napa ada kalimat ‘menyalakan klakson’ ?? klakson masak dinyalain ?? dipencet / ditekan kek 😀 haha
    trus juga,, jgn pakek kata ‘dech’ dong. kagag enak nih dibacanya. hehehe
    ntah knp ni chapter kagag kyak tulisanmu yg biasanya

  2. Mian chingu waktu mbuat ada suatu problema. Wwaktu mbuat aq sering de javu. Jd aq agak pusing dan hasilnya ya jd kayak gitu.
    Menurutmu gimana loh cerita ku yg ini? Tambah aneh tah tulisanku? Atao gimana? Cerita donk!!!

  3. dibilang aneh ya gag juga sih tp jujur aku g terlalu terbawa perasaan ma chap ni. klo emang lg g mood nulis mnding kgag nulis dlu cingu dr pd hasilnya kurang memuaskan. but i believe u will make a better chapter for the next 🙂 hwaiting !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s