Monthly Archives: Desember 2010

Miss You

Standar

I made this for you. Hope you cry all night because remember it. How could you…

 

Cast: Kyuhyun Super Junior, Lyra Callisto as Kim Jaerin, Jung Chanrin

Genre: Love story – Romance

PG: 15

 

Jika kamu pembaca yang memiliki hati, mohon komentar. Jika tidak komentar berarti kamu pemabaca yang tidak memiliki hati ^0^

Miss You

-MISS YOU-

 

*Kyuhyun POV*

 

Aku tak peduli sudah berapa kecepatan mobilku ini. Aku tak bisa menahan emosi.

“TURUNKAN AKU!” sentaknya.

Aku tidak mepedulikannya. Aku sedang marah dengannya. Jung Chanrin, tidak akan ku biarkan kau meremahkanku. Tidak akan ku biarkan kau pergi meninggalkanku.

“AKU BILANG TURUNKAN AKU KYU!!!” sentaknya lagi.

Aku tidak menghiraukannya. Mataku hanya tertujuh kedepan.

“TURUNKAN AKU ATAU AKU MENELPON POLISI.” Ancamnya.

Aku tidak mengerti mengapa dia akan melakukan hal itu. Apa dia tidak mencintaiku lagi. Aku membanting setir dan mengerem mendadak. Keadaan mobilku kini memotong jalan. Aku tidak peduli. Jalanan di sini sepi.

“Ternyata kau tidak mencintaiku lagi.” cletukku.

Dia terkejut. Entah terkejut dengan kata-kataku atau terkejut atas tindakanku tadi.

“Sikapmu ini membuatku yakin bahwa kau telah mengkhianatiku.” ucapku.

“Aku tidak mengkhianatimu, ini cuma salah paham. Aku begini karena kau. Kau selalu emosi, aku muak dengan sikapmu itu.” sentaknya.

“BAGAIMANA AKU TIDAK EMOSI, KAU JALAN BERDUA DENGAN NAMJA LAIN. DAN KAU TAU SENDIRI BAHWA KITA SUDAH BERTUNANGAN. KENAPA KAU LAKUKAN HAL INI? KENAPA?” Triakku lalu memukul setir mobil.

Dia menangis. Mungkin karena aku meneriakinya. Sepertinya dia takut. Tapi aku tidak dapat menahan emosi ini. Akupun diam. Lebih baik aku diam dari pada melukainya lebih jauh.

“Bukakan pintunya aku ingin turun di sini.” isaknya memohon kepadaku.

Aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan dia pergi dari sisiku. Lagi pula saat ini jalanan sepi. Tidak ada kendaraan lain. Jam menunjukkan pukul 11.44 PM.

Lalu ku dengar samar samar suara klakson. Aku menoleh ke kiri, tidak ada apa-apa. Lalu ku lihat ke arah kanan, Chanrin mencoba membuka pintu. Lalu aku tersentak kaget. Dari kejauhan ada sebuah truk mendekat. Aku cepat-cepat menyalahkan mesin tapi sial tidak bisa.

Chanrin menjerit ketakutan. Aku tak bisa mendengarnya seperti ini. Aku harap tidak ada sesuatu yang buruk terjadi.

Mesin mobilku menyala tapi terlambat. Aku terlambat. Truk itu sudah menabrak mobilku. Mobilku terseret. Chanrin terus menjerit. Aku tidak sempat memandangnya, aku sibuk melepaskan diri. Ku coba menginjak gas dan membanting setir agar dapat lepas dari truk yang menyeret mobilku ini. Usahaku berhasil tapi mobilku tak terkendali. Aku menabrak sebuah tiang. Kepalahku terbentur. Kaca depan mobilku pecah. Aku dapat melihat Chanrin di sampingku. Ia tidak sadarkan diri. Darah menutipi wajahnya yang indah. Sepihan kaca melukai bagian wajahnya sebelah kiri. Aku berusaha meraihnya tapi aku terlalu lemah. Aku tak kuat dan akupun tak sadarkan diri sama sepertinya.

 

 

#SATU TAHUN KEMUDIAN#

 

Saat ini aku hanya dapat melihatmu terbaring di situ dengan di selimuti tanah. Aku tidak percaya kau akan berakhir seperti ini. Aku menyentuh nisan yang ada di dekatku. Jung Chanrin, itu yang tertera di batu nisan.

“Jeongmal mianhae, Chanrin~” ucapku.

Aku ingin menangis tapi tidak bisa. Air mataku sudah habis sejak kematianmu. Aku merasa bersalah kepadamu. Seandainya saja waktu itu aku tidak emosi pasti kau masih hidup.

Aku kembali ke mobilku. Di sana supirku sudah menungguku. Ya aku memiliki supir pribadi untuk mengatarku. Sejak kecelakan setahun yang lalu aku trauma mengendarai kendaraan. Aku takut. Aku masuk ke dalam mobil dan supirku siap mengatarkanku ke tempat kerja. Tapi baru sepuluh meter jalan kami terhenti. Supirku tidak sengaja menabrak seseorang.

“Apa kau tidak melihat dengan baik.” Sentakku emosi.

“Maaf tuan. Dia tadi berlari melintasi kita. Saya tidak tahu jika ia akan melintas seperti itu.” Ucap supirku.

Aku mendesah aku menyuruhnya mengecek orang itu dan aku hanya berdiam diri di dalam mobil. Lalu sopir itu mengetuk kaca mobil yang ada di sampingku. Aku membuka kacanya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Dia pingsan.” Jawabnya.

“Apa ia terluka?” tanyaku.

“Hanya lecet tuan.” Jawabnya.

“Sebaiknya antarkan dia pulang. Apa dia membawa identitasnya?” tanyaku.

“Sepertinya tidak tuan. Dia hanya memakai pijama dan tidak mengenakan alas kaki.” Jawabnya.

“Apa dia tidak waras?” sahutku.

“Entahlah tuan. Apa yang harus saya lakukan?” cletuk supirku.

“Bahwa saja pulang ke rumah. Jika dia sadar tanya di mana dia tinggal dan antarkan dia pulang.” Ucapku.

Kemudian ia membawanya masuk ke dalam mobil. Dia seorang yeoja. Sepertinya ia seusiaku. Aku langsung pindah duduk di depan bersama supir.

 

 

#Malamnya di Rumah Kyuhyun#

 

“Dia benar-benar gila?” tanyaku kepada pelayan rumah.

“Sepertinya begitu tuan. Dia tidak mau bicara ataupun makan. Seharian ini dia duduk di pojok kamar. Sepertinya dia ketakutan.” Tutur pelayan rumahku.

“Antarkan aku di mana dia.” Pintahku.

Lalu ia mengantarkanku ke kamar tamu di mana yeoja itu berada. Ia membukakan pintu kamarnya. Aku dapat melihat yeoja itu duduk di dekat jendela memandang ke luar. Ia menggigit jarinya.

“Siapa namamu?” tanyaku menghampirinya.

Ia mendongak menatapku. Sepertinya ia terkejut.

“Euichul oppa~” cletuknya.

Lalu ia beranjak dan memelukku. Aku terkejut. Aku melepaskan pelukannya.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Oppa ini aku~ Jaerin~ Kim Jaerin.” Ucapnya.

Dia benar-benar tidak waras.

“Aku tidak mengenalmu.” Ucapku.

“Oppa~ tidak mungkin kau tidak mengingatku. Kau sendiri yang bilang akan selalu mengingatku. Kau bilang akan kembali kepadaku setelah kau mendapatkan pekerjaan. Dan sekarang kau sudah kembali.” Tuturnya lalu memelukku lagi.

“Aku merindukanmu oppa~” lanjutnya.

“Maaf~ sepertinya kau salah orang. Aku tidak mengenalmu.” Ucapku melepaskan pelukannya.

Aku memandang wajahnya.

“Kau panggil aku siapa tadi?” tanyaku.

“Euichul? Kau Jung Euichul.” Ucapnya.

“Dengar aku bukan. Jung Euichul aku Cho Kyuhyun. Mengerti?” ucapku.

“Bukan~ kau bukan Kyuhyun kau Euichul.” Elaknya.

“Aku Kyuhyun bukan Euichul. Sekarang katakan di mana kau tinggal biar supirku mengatarkanmu.” Sentakku.

Dia menjerit lalu terduduk menangis.

Aku mendesah. Aku terlalu keras kepadanya.

“Tuan~ bersabarlah sedikit. Sepertinya ia tertekan karena namja bernama Euichul itu pergi darinya.” Ucap pelayan rumahku.

Aku mendesah. Aku keluar kamar. Aku masuk ke kamarku. Aku ingin membersikan diri.

Beberapa menit kemudian aku keluar kamar. Sudah waktunya makan malam tapi aku tidak nafsu. Aku teringat Chanrin. Aku memandang grand piano yang ada di hadapanku. Saat ia di rumahku aku selalu melantunkan lagu untuknya. Lalu aku memutuskan untuk memainkan sebuah lagu.

 

Geureul itji motaeseo apahanayo
Geudaega isseul jariga yeogin aningayo
Nareul wihan georamyeon chameul pillyo eobtjyo
Eonjengan kkeutnabeoril teni

Nae sarangi jejariro oji motago
Heullin nunmulmankeum meolli ganeyo
Naneun ijeoya hajyo geudae neomu geuriwo
Nareul apeuge haljineun mollado ijeoyo

Babo gateun naran geol geudaen anayo
Gaseumi jjijeojineunde useumman naojyo
Eonjekkajirado nan gidaryeo nae nunmul gamchumyeo
Naege doraogin haneun geongayo

Nae sarangi jejariro oji motago
Heullin nunmulmankeum meolli ganeyo
Naneun ijeoya hajyo geudae neomu geuriwo
Nareul apeuge haljineun mollado ijeoyo

Ijeoya haneun geon jiwoya haneun geon
Naegen neomuna eoryeoun irijyo

Nae sarangi jejariro oji motago
Heullin nunmulmankeum meolli ganeyo
Naneun ijeoya hajyo geudae neomu geuriwo
Nareul apeuge haljineun mollado ijeoyo

Nae maeumi jejariro ojil anhayo
Michin deusi gyesok nunmulman najyo
Naneun andwaena bwayo
Geudael itneundaneun geon
Geunyang jukgo sipeodo
Geudaeui sarang noheul su eobseo
Na salgo itjyo

 

Sesorang memberi tepuk tangan. Ku lihat yeoja itu berdiri memandangiku tepat di samping piano.

“Kau henat seperti biasanya.” Ucapnya lalu duduk di sampingku.

Ia mulia menekan-nekan tuts piano.

Aku heran. Apakah namja Euichul sering melantunkan lagu untuknya.

“Aku tidak menyangka kau bisa bermain piano juag. Biasanya kau memtikkan gitar dan melantunkan lagu untukku.” Ucapnya memandangku.

“Lagu itu~ sedih sekali. Aku juga merasakan bagaimana rasanaya merindukan seseorang. Merindukanmu.” Ucapnya lalu tersenyum.

“Nah oppa sekarang giliranku. Aku dulu pernah berjanji akan memainkan piano di depanku. Ini saatnya.” Tuturnya mulai melemaskan tangannya.

Ia mulai melantunkan sebuah musik klasik karya Chopain, Minute Waltz. Ia memainkan dengan indah dengan sempurnah hingga tak sadar aku meneteskan air mata. Aku dan dirinya tak jauh berbeda. Kami merindukan seseorang dan kami gila karena rasa rindu itu.

Setelah selesai aku membelai rambutnya. Dan tersenyum kepdanya.

“Kau sudah makan?” tanyaku.

Dia menggeleng.

“Oppa kenapa kau menangis?” tanyanya mengusap air mataku.

“Tidak apa-apa. Aku hanya senang mendengar Minute Waltz yang kau mainkan tadi.” Tuturku.

“Oppa~ ternyata kau tahu judul musik itu. Ku kira kau tidak tau sama sekali soal musik klasik.” Ucapnya.

Jadi namja bernama Euichul itu tidak tahu menau soal musik klasik. Mungkin musik klasik bukan aliran namja itu.

“Sebaiknya kita makan bersama.” Ucapku mengajakanya makan.

Dia mengangguk dan memeluk erat tanganku. Aku tidak keberatan. Aku sudah lama tidak merasakan hal ini. Semakin lama aku semakin merindukanmu Chanrin.

 

 

#Keesokan harinya#

 

“Tolong kau kembali ke pemakaman dan tanya penduduk sekitar apakah mereka mengenal yeoja bernama Kim Jaerin. Mungkin saja rumahnya tidak jauh dari sana. Lalu kau periksa juga apakah ada namja bernama Jung Euichul yang di makamkan di sana.” Ucapku kepada supirku.

Kemudian aku turun dari mobil dan masuk ke dalam kantorku.

Dua jam kemudian aku mendapatkan informasi dari supirku. Ia mengatakan tidak ada yeoja yang bernama Kim Jaerin yang tinggal di kampung sekitar pemakaman. Tapi ia mengatakn bahwa ada namja bernama Jung Euichul yang di makamkan di sana. Namja itu meninggal tiga tahun yang lalu. Sebulan selama kematiannya ada seorang yeoja yang ke makamnya. Kemudian setaip bulan itu datang tepat di tanggal kematian Euichul. Yeoja itu berpenampilan aneh, sepertinya yeoja itu gila. Aku dapat memastikan yeoja itu adalah Kim Jaerin. Supirku mendapatkan informasi ini dari penjaga makam.

Aku membuka laptopku dan mulai browsing mengenai Jung Euichul. Aku memasukan data tanggal lahirnya dan tanggal kematiannya seperti yang aku dapat dari supirku. Lalu aku menemukannya.

Jung Euichul dia seorang musisi. Dia salah satu anggota band indie. Ia meninggal karena kecelakaan. Dia bukan berasal dari Seoul. Ia berasal dari Busan. Ia datang ke Seoul untuk mencari kerja bersama anggota band lainnya. Seluruh anggota band meninggal. Sepertinya akan sulit melacak di mana Kim Jaerin tinggal. Aku mendesah.

 

 

#Malamnya#

 

“Bagaimana keadaannya?” tanyaku sembari berjalan menujuh ke kamarku.

“Dia tidak ketakutan seperti kemarin. Dia mau berbicara dengan pelayan-pelayan di sini. Dia tetap mengira tuang Jung Euichul, tunangannya.” Ucap pelayanku.

“Tunangannya?” sahutku.

“Ia tuan. Mereka bertunangan empat tahun yang lalu. Setelah nona Jaerin lulus SMA.” Terang pelayanku itu.

Aku hanya mengangguk.

“Dia bercerita tentang Euichul sepanjang hari ini. Apa yang dia suka dan apa yang sering mereka lakukan.” Tutur pelayanku.

“Apakah dia menceritakan di mana dia tinggal?” tanyaku.

“Dia bilang dia berasal dari Busan. Setiap bulan ia selalu datang ke Seoul.” Jawab pelayanku.

“Baiklah aku akan menemuinya nanti. Tolong siapkan makan malam kami.” Ucapku.

Aku masuk ke dalam kamarku. Melepaskan jas dan dasiku. Aku menghubungi seseorang. Seorang psikiater. Aku menceritakan kondisi Jaerin.

“Ku rasa dia sepertimu tuan Cho.” Ucapnya

“Maksud anda dia benar-benar tidak percaya bahwa Euichul meninggal.” Ucapku.

“Ye~ Tuan bisa memberitahunya pelan-pelan bahwa tuan bukanlah Jung Euichul melainkan Cho Kyuhyun. Jika dia mulai mengerti barulah anda mengatakan kepadanya bahwa Euichul sudah meninggal.” Ucap sang psikiater.

“Aku mengerti. Terima kasih.” Ucapku menutup telpon genggamku.

Aku mendesah. Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini.

Saat makan malam tiba aku keluar kamar. Aku mendengar lantunan piano. Pasti Jaerin sedang bermain piano. Aku memastikannya. Ternyata benar dia. Aku tidak percaya melihatnya. Saat ia menyadari aku menatapnya ia melihat ke arahku. Dadaku terasa sesak. Aku melihat bayangan Chanrin di dirinya. Ia tersenyum kepadaku. Bukan dia. Tapi Chanrin. Astaga mataku mulai membuta. Aku berjalan mendekatinya. Ia menggenakan pakaian Chanrin. Setelah aku bertunangan dengan Chanrin aku menyuruhnya tinggal di rumahku. Aku tidak ingin hidup sendiri.

“Kau membeli pakaian ini untukku.” Cletuknya memandangku.

“Ye~” ucapku berbohong.

Ia tersenyum.

“Gomawo~” ucapnya.

Ia berdiri  memandangi pakaiannya ia bertingkah seperti anak kecil.

“Apakah aku lucu?” tanyanya.

Lagi-lagi ia menunjukkan senyum itu. Dia bukan Chanrin. Chanrin bersikap dewasa dan tidak seperti dia yang ke kanak-kanakan. Apa mungkin ia bertingkah seperti itu karena mentalnya terganggu?

Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. Kemudian ia berhenti tersenyum. Ia berjalan mendekat ke arahku. Ia memandang wajahku.

“kenapa kau tidak tersenyum? Jika aku lucu seharusnya kau tersenyum.” Ucapnya.

Aku mencoba tersenyum. Aku mencoba tersenyum kepadanya semampuku.

“Apakah ada masalah?” tanyanya.

Aku menggeleng.

“Kau bohong.” Sahutnya.

“Aku baik-baik saja.” Ucapku.

“Tidak~ ada sesuatu yang mengganjal. Di sini. Di hatimu.” Ucapnya menekan ke dadaku.

Memang benar. Ada sesutu yang mengganjal di hatiku. Rasa ini tidak bisa hilang. Rasa ini muncul ketika kepergian Chanrin. Aku belum seratus persen sembuh. Aku masih menanam luka di hatiku.

“Aku akan melantunkan lagu untukmu agar kau senang.” Tuturnya lalu duduk di depan piano.

“Tidak kita makan malam saja.” Ucapku.

“Hanya satu saja. Ku mohon~ aku ingin melihat oppa tersenyum kembali~” pintahnya memohon padaku.

“Baiklah jika itu maumu.” Ucapku mengabulkan permintaannya.

Ia tersenyum senang. Ia mulai melantunkan lagu. Lagu itu dapat membuatku tersenyum. Lagu itu dapat mengurangi rasa yang tidak enak yang ku rasa selama ini.

 

 

#Beberapa hari kemudian#

 

Hampir seminggu ia tinggal di rumahku. Aku belum menemukan di mana ia tinggal. Siapa keluarganya. Aku yakin ia tinggal di Seoul selama ini. Tapi di mana? Ku hubungi rumah sakit jiwa di kota ini tapi tidak ada yang kehilangan pasien. Aku juga tidak dapat memaksanya mengatakan di mana ia tinggal. Ia pasti menangis.

PYARRR

Aku mendengar ada sesutu yang pecah. Dan itu berasal dari kamar Chanrin. Aku keluar ruang kerjaku dan berlari menujuh kamar Chanrin. Ku lihat Jaerin berdiri mematung. Di sekitarnya terdapat serpihan kaca. Pigoraku~ pigora berisi fotoku dengan Chanrin pecah.

“Astaga apa yang kau lakukan?” sentakku.

Diam terdiam. Sekujur tubuhnya gemetaran. Seorang pelayan datang. Ia turut menyesal. Ia langsung membersihkan serpihan kaca yang berserekan di lantai.

“Yeo.. yeo.. ja… i… tu… si… a… pa..?” tanyanya terbata-bata.

“Dia tunanganku. Jung Chanrin. Kami sudah bertunangan lima belas bulan yang lalu.” Sentakku.

“Euichul oppa..” ucapnya.

“Jangan panggil aku Euichul oppa!!! Namaku Cho Kyuhyun!!!” sentakku.

Aku mengeluarkan dompetku. Mengambil kartu identitasku dan menunjukkan kepadanya.

“Lihat!!! Aku Cho Kyuhyun!!! Jangan sesekali kau memanggilku dengan nama itu aku bukan dia!!!” sentakku.

Dia mulai menangis. Aku merampas kartu identitasku.

“Dan jangan sesekali kau menyentuh barang di kamar ini. Sebaiknya kau diam di kamarmu atau pulang sana!” sentakku lalu ke luar dari kamar.

Aku tidak bisa membiarkan orang lain merusak kenanganku bersama Chanrin. Tidak satupun orang yang boleh menghancurkan itu semua.

 

 

#Keesokan harinya#

 

Aku duduk sendiri di meja makan.

“Di mana dia? Apa dia tidak mau sarapan?” tanyaku menyantab sarapnku.

Semua pelayanku hanya diam tertunduk.

“Waeyo? Kenapa kalian hanya diam saja.” Ucapku.

“Dia sudah pergi tuan.” Ucap seorang pelayan.

“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

“Dia pergi. Dia meninggalkan surat di kamarnya.” Ucap seorang pelayan lalu menyodorkan secarik surat kepadaku.

Aku membuka dan membacanya.

 

Jeongmal mianhae~

Mungkin itu yang bisa aku sampaikan. Pasti selama ini aku sungguh merepotkanmu. Aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja aku tidak dapat mengontrol emosiku. Aku begitu karena aku merindukan orang yang ku cintai. Jung Euichul. Namja yang bersumpah akan menikahiku setelah ia mendapatkan pekerjaan yang layak. Aku sungguh mencintainya. Aku sedih saat ia pergi menjauh dariku. Sungguh-sungguh jauh dariku. Aku merindukannya. Tidak apa-apa jika ia tidak mendapatkan pekerjaan yang layak agar dapat menikaiku. Asalakan aku dapat memandang wajahnya.

Setiap tanggal kematiannya aku selalu ke makamnya. Berharap ia ada di sana. Berharap ia menampakkan wujudnya. Lalu aku menemukanmmu. Kau mirip dengannya. Aku mulai berasumsi bahwa kau adalah dia. Saat aku melihat foto itu aku berusaha menolak. Bahwa yeoja itu tidak ada hubungannya denganmu. Saat kau mengatakan bahwa yeoja itu tunanganmu aku mulai sadar. Euichul tidak akan begitu. Ia tidak akan berpaling ke yeoja lain. Dia sudah berjanji. Dan dia tidak pernah menyentakku seperti itu.

Gamsahamnida~ telah menyadarkanku, menemaniku selama ini & membuatku senang. Akan selalu ku ingat kau bukan Jung Euichul tapi Cho Kyuhyun.

 

Aku melemparkan surat itu ke lantai dan lanjut menyantab makananku.

“Dia pergi dengan pijama yang ia gunakan tuan. Tanpa alas kaki.” Tutur seorang pelayan.

Aku berhenti menyantab makananku.

“Kakinya terluka. Waktu itu saya belum selesai membersihkan serpihan kaca. Ia tidak sengaja menginjaknya. Hingga terluka. Lalu ia berlari ke kamar dan menguncinya dari dalam. Ia tidak mengizinkan saya mengobati lukanya.” Tutur pelayan yang kemarin menyaksikan amarahku kepada Jaerin.

Aku mulai tidak bernafsu makan. Aku mulai merasa bersalah.

“Ayo berangkat!” seruku mengelap mulutku.

“Kemana tuan?” tanya supirku.

“Menyusulnya.” Ucapku.

Kamipun menyusulnya. Aku yakin ia pergi ke makam Euichul. Aku harap ia ada di sana. Aku harap dia baik-baik saja. Aku akan merasa bersalah seumur hidupku jika sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.

 

 

*Jaerin POV*

 

Aku melepaskan kalung yang melingkar di leherku selama ini. Liontin kalungku itu sebuah cincin. Cincin pertunanganku denganmu. Aku meletakkan kalungku ini di makammu. Aku ingin melepasmu. Aku tidak bisa hidup seperti ini. Aku sudah merepotkan banyak orang. Aku harap aku dapat menyusulmu. Karena aku sungguh mencintaimu. Tidak ada orang lain yang menganggapku spesial selain dirimu. Tidak ada orang yang mencintaiku kecuali kau.

Euichul oppa, bolehkah aku menyusulmu? Aku tidak ingin tinggal dengan bibi tiriku. Dia sangat jahat padaku. Ia selalu menyentakku. AKu tidak mau tinggal sendiri. Hanya kau satu-satunya yang ku miliki. Aku akan menyusulmu. Ya aku akan menyusulmu.

Aku memandang sekeliling berharap mencari sesutu yang dapat membuatku bisa menyusulmu. Lalu aku menemukan serpihan kaca di rerumputan dekat makam orang lain. Sepertinya itu serpihan kaca botol minuman keras. Aku mengenggamnya. Lalu aku dekatkan ujungnya yang tajam ke pergelangan tanganku. Aku menyayat tangan kiriku. Darah segar mengalir. Rasanya semakin berat. Aku ingin berbaring. Semuanya menjadi gelap. Apakah aku sedang berada dalam perjalanan ke sana? Menemuimu Euichul oppa?

Aku membuka mataku. Semuanya putih. Apakah aku sudah berada di surga? Aku turun dari ranjang. Aku merasa kesakitan. Apa ini surga? Kenapa aku merasa kesakitan?

Lalu seseorang membukakn pintu.

“Euichul~” celetukku.

Dia langsung memelukku. Ia menangis.

“Oppa~” cletukku tidak mengerti kenapa ia menangis.

Ia melepaskan pelukannya. Ia menatap wajahku. Aku mengusap air matanya.

“Kenapa kau menangis oppa?” tanyaku.

Dia tersenyum. Dia memegangi tanganku yang mengusap air matanya.

“Karena aku merindukanmu.” Ucapnya lalu tersenyum.

Sudah lama aku tidak melihat senyum itu. Tapi semakin lama dia tampak berbeda. Dia~ dia bukan Euichul.

“Kau bukan Euichul.” Ucapku menerunkan tanganku.

“Ye~ aku bukan dia. Dia sudah pergi jauh Jaerin, tidakkah kau mengingatnya?” ucapnya.

“Kau~ Kyuhyun?” ucapku.

Dia mengangguk. Dia tersenyum lagi.

“Kau jangan pergi dariku ya.” Ucapnya mencubit pipiku.

“Waeyo~? Kenapa kau menolongku?” tanyaku heran.

Aku tidak mengerti kenapa dia menolongku. Seharusnya aku sudah pergi ke tempat Euichul.

“Because I Miss You. I can’t live without you. Please stay beside me. I fall in love with you. I love you.” Ucapnya.

Aku terdiam. Bukankah dia sudah bertunangan.

“Kau menyadarkanku bahwa aku harus melupakan Chanrin. Aku harus melupakan yeoja yang pernah mengisi hatiku itu. Dia sudah pergi jauh dan hidup tenang di sana. Jadi aku harus melepaskannya dan memulai hidup baru.” Ucapnya.

Jadi tunangannya sudah meninggal? Ia bernasib sama denganku?

“Sudah lama aku tidak tersenyum. Saat bersamamu aku dapat tersenyum. Rasa yang mengganjal di hatiku ini lama-lama berkurang.” Ucapnya meraih tanganku dan meletakkanya di dadanya.

“Aku akan mulai menjalani hidup baru bersamamu. Jadi maukah kau menemaniku?” tuturnya menatapku.

Aku tidak dapat berkata. Air mataku mengalir membasahi ke dua pipiku. Aku memeluknya.

“Gomawo~ terima kasih sudah mencintaiku, Kyuhyun~” isakku.

Ia memelukku dengan erat. Aku tidak percaya akan hal ini. Akhirnya ada orang yang menganggapku special. Akhirnya ada yang mencintaiku. Akhirnya ada pengganti Euichul.

“Saranghae~” ucapku.

Lalu ia melepaskan pelukanku. Ia membelai pipiku kemudian ia menciumku. Rasanya begitu lembut. Aku dapat merasakan ketulusan cintanya dan kehangatannya. Aku harap ia tidak pernah pergi dariku. Aku tidak ingin kehilangan seseorang yang ku cintai. Aku tidak dapat hidup tanpa cinta.

 

 

-THE END-

 

Gimana? Gimana?

Endingnya jelek ya?

Komentar donk >.<

Please komentar ya ^^

Gomawo ^^

Lucifer (Key)

Standar

Annyeong ^^

Akhirnya posting FF Lucifer part Key. ini semua atas permintaan para readers.

Maaf ya klo kurang srek atau kurang puas. coz waktu mbuat author lagi yadong *Lucifer laugh*

Now silakan menbaca FF Romeo & Juliet eh Gali & Ratne eh bukan deh kayaknya. oh iya LUCIFER ^^

 

Cast: Key SHINee

Genre: Fantasy, romance

PG: 15

 

Please Don’t be Silent Reader if You Really Human Not Lucifer

 

Luicifer Key

 

-Lucifer-


Seorang namja asik bermain PSP. Di sebuah café. Beberap kali ia memandang keluar kaca jendela. Tujuannya cuma satu, mencari mangsa. Sehari biasanya ia mendapatkan 3 korban.

Sudah dua puluh lima menit ia duduk di café tapi ia tidak mendapatkan mangsa. Ia melihat arlojinya, sudah satu jam yang lalu anak sekolah pulang. Seharusnya ia mendapatkan korban. Dia tidak ambil pusing, ia sibuk bermain PSP.

Beberapa menit kemudian seorang yeoja duduk di depannya.

“Annyeong~” ucap yeoja itu.

Namja itu berhenti bermain PSP. Ia menatap yeoja yang ada di hadapannya. Ia tersenyum kepada yeoja itu.

“Annyeong~” ucapnya manis.

“Namaku Song Jihee.” Ucap yeoja itu mengulurkan tangannya. *nyolong nama bolehkan Reeha ^^*

“Kim Kibum. Panggil saja Key.” Ucap namja itu menjabat tangan yeoja bernama Jihee.

“Kau sendirian?” tanya Key.

“Ah aniyo~ aku bersama temanku.” Ucap Jihee memandang teman-temannya yang duduk tak jauh darinya.

Key tersenyum. Ia mulai melanjutkan aksinya. Pertama-tama ia mengajak Jihee jalan berdua. Lalu ia membuat Jihee benar-benar jatuh cinta kepadanya. Kemudian ia melakukannya. Ia mengambil jiwa Jihee. Setelah selesai mengambil jiwa Jihee ia meninggalkan Jihee.

“Dasar yeoja paboya.” Cletuk Key tersenyum ala devil sembari menatap tangan kanannya.

Ia memegang jiwa Jihee. Kemudian ia memasukkannya ke dalam liontin kalungnya yang berbentuk kunci.

Ia menyelusir jalanan mencari korban. Terkadang ia memberi senyuman kepada orang lain. Ia sekedar menyapa dengan senyuman. Orang itu sama dengannya. Seorang Lucifer.

 

 

 

 

*Di dunia yang berbeda*

 

 

“Berhantilah bermai-main dan seriuslah kepada pekerjaanmu!!!” sentak seorang ahjussi kepada Key.

Key tidak menghiraukan. Ia sibuk bermain PSP.

Ahjussi itu marah. Ia merampas PSP Key.

“Lihat hyungmu Jonghyun. Ia sudah mendapatkan banyak jiwa kenapa kau tidak seperti dia?” sentak ahjussi itu.

Key medesah.

“Aku tidak sepertinya appa~ Jika dia seorang cassanova aku hanya namja biasa.” Cletuk Key.

“Kau itu seorang Lucifer, mana mungkin tidak dapat melakukannya. Apakah cahayamu sudah cukup kuat?” sahut appa Key.

Key menunjukkan cahayanya yang ada di tangannya. Appanya menepis tangannya.

“Kau tidak pernah berlatih? Bagaimana bisa cahayamu menjadi seperti itu? Jika begini terus kau tidak bisa menjadi Lucifer.” Sentak appa Key.

“Aku tidak ingin menjadi Lucifer. Aku tidak berharap terlahir sebagai Lucifer. Aku ingin menjadi manusia biasa.” Sahut Key.

“Baiklah jika kau ingin menjadi manusia biasa. Aku akan mengabulkannya.” Ucap appa Key.

Key langsung girang. Ia memeluk appanya.

“Tapi dengan satu syarat.” Ucap appa Key.

“Apa syaratnya?” tanya Key.

“Kau mendapatkan seratus jiwa dalam waktu tujuh hari.” Ucap appa Key.

“Aish~ itu sangat berat.” Sahut Key.

“Aku juga merasa berat jika melepaskanmu menjadi manusai biasa.” Ucap appa Key.

 

 

 

*Di dunia manusia*

 

 

Key bermain game di game zone. Ia tampak frustasi dengan persyaratan appanya. Saat bermain game basket. Ia terlalu keras melemparkan bolanya hingga terpental dan mengenai orang.

“Aish! Siapa yang melakukannya.” Ucap seorang yeoja yang memegangi dahinya.

Ia mencari-cari seseorang kemudian ia berjalan mendekati Key.

“Kau yang melakukannya!” sentak yeoja itu memelototi Key.

Key sedikit takut dengan yeoja itu.

“Ye~” ucap Key pasrah.

Yeoja itu menarik kaos Key dan menyeret Key ke suatu tempat. Tempat yang sepi.

“Kau tidak tahu siapa aku?” ucap yeoja itu menatap tajam ke Key.

“Siapa? Bukan artiskan? Karena artis tidak mungkin sepertimu.” Sahut Key.

“Diam kau!” sentak yeoja itu.

“Kau pasti nenek sihir.” Sahut Key.

“Ternyata kau berani juga yach.” Ucap yeoja itu.

Yeoja itu menempelkan telapak tangan kirinya di dada Key. Key bisa melihat cahaya dari tangan yeoja itu. Dia meresakan kehangatan dari tangan yeoja itu.

“Kenapa tidak bisa?” cletuk yeoja itu memandangi tangannya.

Ia mengulangi lagi. Ia menempelkan telapak tangan kirinya di dada Key. Ia menekan Key.

“Apakah ini panas? Apaka ini sakit?” sentak yeoja itu.

Key tersenyum.

“Rasanya hangat seperti sinar matahari di musim panas.” Sahut Key.

Yeoja itu mendorong Key.

“Sebenarnya siapa kau?” tanya yeoja itu memegangi tangan kirinya.

“Menurutmu aku siap?” sahut Key.

“Aku tidak bisa mengambil jiwamu. Ini aneh.” Ucap yeoja itu.

Key mengangkat tangan kananya.

“Jelas kau tidak bisa mengambil jiwaku. Karena aku seorang Luicfer.” Ucap Key menunjukkan cahayanya di tangan kanannya.

“Jadi kau seorang Lucifer?” ucap yeoja itu ketakutan.

Ia berjalan mundur dan berlari. Key langsung meraih tangan yeoja itu. Yeoja itu memberontak. Seseorang melihat mereka. Key langsung saja mencium yeoja itu. Dan orang itupun pergi. Orang itu mengira Key dan yeoja itu adalah sepasang kekasih maka dari itu orang itu pergi.

Key tanpa sengaja menyedot sesuatu dari mulut yeoja itu. Ia memuntahkannya. Sebuah bola berwarnah biru tua.

“Kenapa kau laukan itu? Kembalikan bolaku.” Sentak yeoja itu lalu berusaha mengambil bola miliknya.

Key tidak memberikan bola itu kepada yeoja yang ada di hadapannya. ia mengangkatnya tinggi-tinggi dan berusaha membaca tulisan yang tertera di batu itu.

“Persefone?” cletuk Key.

“Kau tinggal di neraka?” tanya Key.

“Ne~ aku tinggal di neraka. Sekarang kembalikan bola milikku.” Ucap yeoja itu berusa merebut bola yang ada di genggaman Key.

Key menggeleng lalu ia menelan bola itu.

“Kenapa kau menelannya? Appaku bisa membunuhku.” Ucap yeoja itu.

“Siapa namamu?” tanya Key.

“Park Seoyoung.” Jawab yeoja itu.

“Seoyoung~ appamu tidak akan membunuhmu. Lagi pula kau tinggal di neraka pasti kau tinggal jiwa dan terkurung dalam neraka.” Cletuk Key.

“Aku tidak suka terkurung di nereka maka dari itu kembalikan bolaku.” Sentak Seoyoung.

Key menggelng.

“Aku tidak akan memberikannya kepadamu.” Ucap Key.

Seoyoung menarik kaos Key sehingga Key tertarik ke depan tepat di depan wajah Seoyoung.

“Kembalikan atau aku akan membunuhmu.” Ancam Seoyoung.

“Mengambil jiwaku saja kau tidak bisa. Bagaimana kau akan membunuhku?” sahut Key.

Seoyeong melepaskan Key.

“Aku akan mengembalikannya jika kau mau membantuku.” Ucap Key.

“Membantu apa?” sahut Seoyoung ketus.

“Membantuku mendapatkan seratus jiwa dalam waktu tujuh hari.” Ucap Key.

“Seratus jiwa? Dalam waktu tujuh hari?” sahut Seoyoung.

Key mengannguk.

“Gampang. Sehari aku bisa menangkap dua puluh jiwa.” Sahut Seoyoung.

“Menangkap?” sahut Key.

“Ne~ aku menangkap jiwa-jiwa yang melayang tanpa tujuan kemudian mengirimnya ke neraka.” Terang Seoyoung.

“Kau tidak pernah mengambil jiwa sesorang?” tanya Key.

Seoyoung menggeleng.

“Aku tidak bisa dekat dengan namja manapun. Jadi aku hanya menangkapnya. Lagi pula Lucifer lebih hebat melakukan itu ketimbang diriku.” Ucap Seoyoung.

“Aku hanya butuh jiwa-jiwa yeoja. Kau bisakan menangkapnya?” ujar Key.

Seoyoung berpikir.

“Ya~ lihat saja apakah ada jiwa-jiwa yeoja yang melayang.” Ucap Seoyoung.

 

 

 

*Di taman*

 

 

Key dan Seoyoung duduk berdua memandang langit.

“Kebanyakan di sini jiwa-jiwa namja.” Ucap Seoyoung memandang langit.

“Kau bisa melihatnya?” sahut Key.

“Ne~ aku lahir dan besar di neraka jadi aku bisa melihat jiwa.” Ucap Seoyoung.

“Jika aku memiliki kemampuan sepertimu pasti aku tak perlu repot-repot begini.” Cletuk Key.

“Aku berharap tidak dapat melihat mereka. Mereka sungguh menakutkan.” Ucap Seoyoung.

“Seperti apa mereka?” tanya Key.

“Seperti dirimu. Sungguh menyeramkan.” Jawab Seoyoung memandang Key.

“Ah di sana ada. Sebentar aku akan menangkapnya.” Cletuk Seoyoung lalu pergi meninggalkan Key.

Ia menangkap jiwa seperti menangkap serangga. Bedanya ia menggunakan tangan kirinya. Beberapa saat kemudian ia kembali. Ia duduk di sebelah Key.

“Aku dapat tiga.” Cletuk Seoyoung menyodorkan tiga jiwa kepada Key.

“Letakkan saja di kalungku.” Ucap Key.

Seoyoung meletakkan jiwa-jiwa itu ke dalam kalung Key.

“Aku lapar~ ayo makan malam Key.” Cletuk Seoyoung.

“Aku juga. Kau ingin makan apa?” tanya Key.

“Apa saja yang pedas.” Ucap Seoyoung.

Key mengangguk.

 

 

 

 

*Keesokan harinya*

 

 

Key mendesah.
“Mengapa hari ini begitu panas ya.” Ucapnya mengusap keringat di dahinya.

Seoyong tertawa.
“Waeyo?” sahut Key heran.

“Itu karena kau menelan bola milikku.” Ucap Seoyoung.

“Jinca?” sahut Key.

Seoyoung mengangguk.

“Kembalikan saja padaku.” Ucap Seoyoung.

“Aniyo~” sahut Key.

“Hari ini kau harus menangkap lebih dari dua puluh lima jiwa.” lanjut Key.

Seoyoung mendesah.

“Ne~ tapi kau juga harus ikutan menangkapnya. Kau cari dengan caramu dan aku mencari dengan caraku. Kita berpencar.” ucap Seoyoung.

“Kenapa harus berpencar?” sahut Key.

“Agar kita dapat banyak, pabo!” sahut Seoyoung menjitak kepalah Key.

“Kita bertemu di kedai ramen yang kemarin malam saat makan malam OK.” ucap Seoyoung beranjak pergi meninggalkan Key.

 

 

 

*Malamnya*

 

 

Key sibuk bermain PSP di kedai ramen. Ia sudah memasan dua mangkuk ramen untuknya dan Seoyoung. Ia juga memeasan dua gelas soda. Tak lama kemudian Seoyoung duduk di sampingnya. Ia mengunyah sesuatu. Kecapannya itu menganggu Key.

“Berhentilah mengunyah. Kau mengganggu saja.” cletuk Key tidak berpaling dari PSPnya.

“Waeyo? Aku hanya mengunyah permen karet.” ucap Seoyoung.

Key sedikit kesal, ia terus konsentrasi bermain PSP.

“Kau dapat berapa?” tanya Seoyoung.

“Dapat apa?” sahut Key yang sedang sibuk.

“Jiwa!” sentak Seoyoung.

“Dua.” sahut Key tidak berpaling dari layar PSP.

“Mwo?” sentak Seoyoung merampas PSP Key.

“Aku susah-susah membantumu menangkap duapuluh lima jiwa hari ini dan kau hanya mendapatkan dua jiwa?” ucap Seoyong kecewa.

“Astaga~ apakah kau seorang Lucifer?” lanjut Seoyoung.

“Bukankah itu sudah tugasmu untuk menangkap jiwa-jiwa. Jadi buat apa aku repot-repot.” cletuk Key.

Kemudian seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka lalu pergi.

“Kau tahu, kau sudah menelan bola milikku. Aku tidak dapat menangkap banyak jiwa tanpa itu.” cletuk Seoyoung.

Key tidak menggubris. Ia berusaha mengambil PSPmiliknya dari tangan Seoyoung. Seoyoung langsung membakar PSP milik Key dengan tangannya.

“Aish~ kenapa kau lakukan itu?” sentak Key.

Ia melihat sekeliling berharap tidak ada yang melihat mereka. Kedai itu sepi, tidak ada yang memperhatikan mereka. Pemilik kedai dan pelayannya sibuk menonton acara tv.

“Kau menelan sumber kekuatanku. Aku cepat lelah menangkap jiwa-jiwa tanpa itu. Cahaya yang biasa ku gunakan untuk merampas jiwapun perlahan-lahan sirna. Hanya kekuatan bawaan dari lahir yang masih bertahan. Yaitu api. Sudah lama aku tidak mengaktifkannya. Mungkin karena bola itu.” terang Seoyoung lalu menumpahkan sambal di kedua mangkuk berisi ramen.

“Aish~ kenapa kau memasukkan samabal ke makanananku?” sentak Key.

“Kau pesan lagi aku akan memakan ini semua. Aku sangat lapar.” ucap Seoyoung lalu memuntahkan permen karet dan meletakkannya di tangan Key.

“Aish~ apa-apain ini?” omel Key menatap permen karet di tangannya.

“Itu jiwa-jiwa yang ku dapat.” cletuk Seoyoung lalu menyantab makanannya.

“Kenapa kau simpan di permen karet?” sahut Key.

“Aku tidak punya media untuk menyimpannya. Jadi aku mengunyahnya bersama permen karet agar tidak lepas.” sahut Seoyoung lalu kembali menyantab makanannya.

Key geleng-geleng kepalah. Lalu Seoyoung menekan permen karet itu dan membakarnya sehingga yang tersisa hanya jiwa-jiwa yang ia tangkap tadi. Kemudian Key menyimpannya dalam kalungya lalu ia kembali memesan ramen.

Setelah menghabiskan ramennya. Ia menyadari ada yang aneh dengan Seoyoung.

“Seoyoung~ kau tidak apa-apa?” tanya Key.

Samar-samar Seoyoung memandang Key lalu ia terkulai lemas dan tertidur.

“Aish~ kau merepotkan saja.” ucap Key meraih tubuh Seoyoung.

Ia menggendongnya dan membawanya ke luar.

“Cepat sekali ia tertidur. Cletuk Key.

Ia tidak mungkin membawa Seoyoung pulang ke rumahnya. Appanya akan marah besar. Dan sangat tidak mungkin membawa Seoyoung pulang ke rumahnya. Appanya akan membantai mereka. Keypun memutuskan menyewa kamar di sebuah motel. Ia merebahkan Seoyoung ke tempat tidur kemudian ia keluar dari kamar meninggalkan Seoyoung sendiri.

 

 

 

 

*Keesokan harinya*

 

 

Key membuka pintu kamar. Ia tersentak kaget melihat Seoyoung. Mata yeoja itu hitam dan wajahnya pucat.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Key memandangi Seoyoung.

Seoyoun menatap ke arah Key.

“Aku lapar.” cleteuk Seoyoung pelan.

Key menutup pintu kamar.

“Ini aku membawakan ramen pedas untukmu.” ucap Key lalu duduk di lantai membuka bungkusan yang ia bawa.

Seoyoung langsung menyantabnya. Beberapa menit kemudian ia selesai makan.

“Aku masih lapar~” cletuk Seoyoung.

“Apakah kau kelelahan?” tanya Key khawatir.

“Sepertinya~” cletuk Seoyoung memegangi perutnya yang lapar.

“Hari ini kau tidak usah menangkap jiwa. Biar aku saja yang melakukannya. Aku sudah mendapatkan empat puluh jiwa. Masih ada waktu empat hari lagi.” ucap Key.

“Ya kau sendiri bisa menangkap jiwa dengan bolaku itu. Kau dapat merenggut lima jiwa sekaligus.” cletuk Seoyoung.

“Jinca? Bagaimana caranya?” sahut Key.

“Belikan aku makanan yang pedas-pedas dulu.” cleteuk Seoyoung.

 

 

 

 

*siangnya*

 

 

“Penampilanku tak jauh beda dengan hyungku. Ternyata kau lihai juga dalam mendandani orang.” cletuk Key memandangi dirinya di kaca.

“Mwo? Hyung? Kau punya hyung?” tanya Seoyoung.

“Ye~ dia Lucifer yang hebat. Sehari ia dapat mendapatkan lebih dari dua puluh jiwa. Dalam sehari.” cletuk Key.

“Berarti kau Lucifer yang payah.” sahut Seoyoung.

“Ayo beri tahu aku bagaiman mengaktifkannya!” seru Key mengalihkan pembicaraan.

 

 

 

*Sehari sebelum hari H*

 

 

Seoyoung menyantab makanannya dengan lahap.

“Pantas saja kau tidak dapat dekat dengan namja manapun. Sikapmu tidak seperti yeoja semestinya.” cletuk Key lalu meneguk makanannya.

“Terserah aku.” sahut Seoyoung mengunyah makanannya.

“Kurang berapa jiwa?” tanya Seoyoung setelah menelan makanannya.

“Dua belas jiwa lagi. Sepertinya bisa kita selesaikan besok. Tepat seminggu. Semoga berhasil.” ucap Key lalu meneguk minumannya.

Seoyoung mengunyah makanannya lahap. Dia senang mendengar sebentar lagi Key akan mengembalikan bola miliknya.

“Ngomong-ngomong kenapa kau ingin mengumpulkan seratus jiwa dalam waktu satu minggu?” tanya Seoyoung lalu lanjut menyantab makanannya.

“Aku ingin menjadi manusia.” jawab Key.

Seoyoung berhenti makan. Ia menatab Key.

“Untuk apa kau ingin jadi manusia?” tanyanya.

“Aku tidak ingin menjadi Lucifer. Aku ingin hidup bebas tanpa tanggung jawab yang berat ini. Aku tidak sanggup merampas jiwa-jiwa. Aku ingin bermain layaknya namja jaman sekarang.” terang Key.

“Pabo~ kau Lucifer yang paling pabo yang pernah aku lihat.” sahut Seoyoung.

“Untuk apa kau ingin menjadi manusia? Manusia adalah makhluk yang lemah. Kau akan menderita menjadi manusia.” omel Seoyoung.

Key mendesah. Untung mereka ada di tempat yang sepi.

“Aku sudah lemah menjadi Lucifer. Apa yang perlu aku khawatirkan lagi?” sahut Key.

“Kembalikan bolakku sekarang!” sentak Seoyoung.

“Aniyo~ aku belum mendapatkan seratus jiwa.” sahut Key.

“Baiklah. Jika kau tidak mau mengembalikannya sekarang.” sahut Seoyoung beranjak meninggalkan Key.

“Kenapa dia berubah seperti itu?” cletuk Key heran.

Ia melihat arlojinya. Masih jam delapan malam.

“Lebih baik aku merampas dua belas jiwa malam ini juga sebelum ia melakukan hal yang aneh-aneh untuk mendapatkan bola miliknya.” ucap Key lalu beranjak.

 

 

 

*Di Bar*

 

 

Key melihat arlojinya. Jam dua pagi. Satu jam lagi bar akan tutup. Ia berharap mendapatkan korban lagi. Hanya satu korban lagi. Ia merasa bergairah karena satu jiwa lagi dan ia akan menjadi manusia seutuhnya.

Seorang yeoja duduk di sampingnya. Yeoja itu memesan minuman kepada bartender.

“Sendirian saja?” tanya Key.

Yeoja itu menoleh lalu tersenyum ke arah Key.

“Ya seperti yang kau lihat aku sendirian.” ucap yeoja itu.

Key merasa pernah melihat yeoja itu sebelumnya.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Key.

“Aku penyanyi di bar ini. Mungkin kau pernah melihatku saat menyanyi.” ucap yeoja itu.

Bartender memberikan pesanannya. Ia meneguk minumannya.

Key berjalan mendekat dan merangkul yeoja itu.

“Bagaimana jika kita mengobrol di dalam.” Bisik Key di telinga yeoja itu.

Yeoja itu menurut. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya nantinya. Ia meraih gelas minumannya. Membawanya dan mengikuti Key. Key memasuki ruang pribadi. Ia sedah menggunakannya semalam ini untuk merenggut jiwa-jiwa korbannya. Ia membuang korbannya di tempat semestinya. Jadi ruang itu kosong.

“Duduklah.” Ucap Key mempersilahkan yeoka itu duduk.

Yeoja itupun menuruti kata-kata Key. Ia duduk di samping Key dan meletakkan minumanya di atas meja yang tepat ada di hadapannya.

“Di sini kita dapat mengobrol sepuasnya tanpa terganggu suara berisik di luar sana.” Ucap Key.

Yeoja itu tersenyum.

“Ya kau benar.” Tuturnya.

“Jadi kau seorang penyayi ya?” cletuk Key membuka pembicaraan.

“Ne~” ucap yeoja itu.

“Jika aku boleh tahu siapa namamu?” tanya Key membelai yeoja itu.

“Kau sendiri siapa?” tanya balik yeoja itu meraih tangan Key yang menyentuhnya.

“Panggil saja aku Key.” Ucap Key.

“Dan kau?” tanya Key.

“Kau tak perlu tau siapa namaku. Itu tidak penting.” Ucap yeoja itu lalu mencium bibir Key.

Key terkejut akan reaksi yeoja itu. Ia memulai aksinya. Sangat mudah merebut jiwa yeoja itu dalam keadaan seperti ini. Tapi ada sesutu yang salah. Yeoja itu seakan menyedotnya. Yeoja itu menyedot bola yang ada di dalam tubuhnya. Sontak Key mengaktifkan kekuatannya dan mencoba merenggut jiwa yeoja itu. Ia sedikit kesulitan merenggut jiwa yeoja itu. Yeoja itu bukan yeoja biasa.

Key merasakan bola milik Seoyoung berada di mulutnya. Ia langsung saja mencabut jiwa yeoja itu dan menelan kemgbali bola Persefone milik Seoyoung. Key mendorong tubuh yeoja yang ada di hadapannya. Ia tersentak, ia menyentuh yeoja itu. Menatab wajah yeoja itu. Lalu suasana di sekitarnya semakin lama semakin gelap.

“Kau berhasil anakku. Aku tidak menyangka kau akan sekuat ini. Nah apakah kau siap menjadi manusia?” sahut sebuah suara.

Key mendongak ternyata appanya.

“Kenapa ada manusia di sini?” tanya appa Key.

Key terdiam. Wajahnya pucat.

“Apakah dia korbanmu yang ke seratus?” tanya appa Key lagi.

Key menelan ludahnya.

“Aku akan mengabulkan permintaanmu karena aku sudah berjanji kepadamu. Sekarang berikan seratus jiwa yang telah kau renggut.” Ucap appa Key.

Key menggeleng.

“Kenapa kau tidak ingin memberikannya kepadaku? Apakah kau stidak ingin menjadi manusia?” sahut appa Key.

Key memejamkan matanya dan berusaha menata perkataanya yang akan di katakan kepada appanya.

“Appa~ aku belum mendapatkan seratus jiwa.” Ucap Key datar.

“Kau tidak akan ada di sini jika kau tidak mendapatkan seratus jiwa.” Sahut appa Key.

Key menitikkan air matanya.

“Jiwa ke seratus adalah jiwa yang tak seharusnya ku renggut. Aku salah merenggut jiwa appa~” isak Key.

“Apa maksudmu? Kenapa kau menangis?” sentak appa Key.

“Dia bukan manusia. Aku telah merenggut jiwa yang salah.” Isak Key.

“Aaa apa?” sahut appa Key.

BLUUUMMMM

Sebauh percikan api muncul di hadapan appa Key. Api itu menyala-nyala tiada padam. Api itu berwarna biru. Kemudian lama-lama api itu mulai sirna dan muncullah sebuah sosok. Sosok itu menatap Key.

“Berani-beraninya kau merenggut jiwa putriku.” Ucap sosok itu menatap tajam Key.

Mata sosok itu berwarnah merah padam membara.

“Hades~ maksudmu? Yeoja itu putrimu?” tutur appa Key.

Sosok yang bernama Hades itu beralih ke appa Key.

“Ya kau pikir siapa dia? Dia adalah putriku. Anakku satu-satunya.” Ucap Hades menarik pakaian appa Key.

“Mianhae~ ini semua salahku. Aaa aku… tidak sengaja merenggut jiwanya.” Tutur Key tertunduk.

Hades melempar appa Key. Dia lebih hebat dari appa Key yang hanya seorang Lucifer. Dia adalah dewa Neraka. Penunggu Neraka. Makhluk yang tinggal jauh di bawah tempat tinggal Key.

“Mianhae? Kau telah merenggut jiwa putriku dan hanya berkata mianhae?” sentak Hades lalu mencekik dan mengangkat Key dengan tangan kirinya.

“Bahkan kau sudah mencuri Persefone milik putriku.” Sentak Hades lagi lalu ia membanting Key.

Amarahnya sudah memuncak.

“Putriku memang tidak sekuat dirimu. Ia tidak sebanding dengan Lucifer. Tapi dia tetap putriku. Aku akan selalu melindunginya. Aku tidak segan-segan memusnahkan siapapun yang berani menyakitinya apalagi merenggut jiwanya.” Tutur Hades.

Ia mengeluarkan kobaran api berwarnah biru menyala yang menyilaukan mata dari tangan kirinya. Ia hendak melemparkan nyala api itu kepada Key tapi urung.

“Seoyoung.” Cletuk Hades.

“Kenapa kau membelanya? Dia telah merenggut jiwamu.” Ucap Hades.

Key heran melihat Hades berbicara sendiri.

“Baiklah.” Ucap Hades.

“Sekarang kau kembalikan jiwa putriku beserta bola miliknya.” Sentak Hades kepada Key.

Key mendekati tubuh Seoyoung. Lalu ia teringat ia belum menyimpan jiwa Seoyoung. Saat ia menyadari bahwa itu Seoyoung ia melepaskan jiwa itu. Ia tidak sengaja melepaskannya.

“Kenapa?” sentak Hades melihat Key diam tak berkutik.

“Aku tidak membawa jiwanya. Jiwanya terlepas.” Ucap Key.

“Cari jiwanya. Dia ada di sekitar sini.” Ucap Hades berusaha sabar.

“Taa taaapiii aku seorang Lucifer. Aku tidak bisa melihat jiwa-jiwa yang melayang-layang.” Tutur Key.

Hades melototinya. Key ketakutan.

“Baiklah aku akan berusaha menemukannya.” Ucap Key.

Key menyelusuri segala penjuru berusaha mencari jiwa Seoyoung. Tapi ia tidak dapat menemukannya. Lalu ia mulai memejamkan matanya. Ia menggenggam tangan Seoyoung.

“Di mana kau saat ini.” Cletuk Key pelan.

Ia mulai berkonsentarasi. Ia memusatkan pikiran dan kekuatannya. Lalu ia membuka matanya. Matanya berubah merah dan ia dapat melihat jiwa Seoyoung. Ia berusaha menangkap jiwa Seoyoung.

‘Kenapa kau ingin menangkapku?’ tanya Seoyoung.

‘Aku ingin menyelamatkanmu.’ Ucap Key.

‘Untuk apa? Jika kau mengembalikanku kembali ke tubuhku kau akan kehilangan kesempatan untuk menjadi manusia.’ Ucap Seoyoung.

‘Aku mendapatkan jalan yang lain.’ Tutur Key lalu menangkap Seoyoung dengan kekuatannya.

Ia mengembalikan jiwa Seoyoung. Tapi jiwa itu tidak mau masuk ke dalam tubuh Seoyoung.

“Gunakan bola itu untuk mengembalikan jiwa Seoyoung.” Ucap Hades.

Key memasukkan jiwa Seoyoung ke dalam mulutnya. Lalu ia membuka mulut Seoyoung. Lalu ia memasukkan jiwa Seoyung dari mulut kemulut. Ia masih merasakan jiwa Seoyoung masih berada di mulutnya. Ia mencoba memuntahkan bola biru yang ada di dalam tubuhnya. Bola itu berhasil keluar dari tubuhnya masuk kedalam mulut Seoyoung bersama dengan jiwa Seoyoung. Key langsung mentup mulut Seoyoung. Ia menunggu.

Beberapa menit kemudian Seoyoung mulai membuka matanya. Ia bangkit.

“Kenapa kau lakukan itu?” tanya Seoyoung.

“Appamu akan membantaiku.” Sahut Key.

“Appa tolong jangan menghukumnya. Hukum saja aku. Aku telah melanggar perintahmu.” Ucap Seoyoung berlutut di hadapan appanya.

Appanya mendesah.

“Aku tidak akan menghukum kalian jika kalian menikah.” Ucap Hades.

“Mwo?” sahut Seoyoung dan Key bersamaan.

“Key akan menjadi manusia. Dia tidak bisa menikah denganku. Appa hukum saja aku.” Sahut Seoyoung.

“Sekarang tidak mungkin Key merenggut jiwa lagi.” Sahut appa Key yang sudah sadar.

“Baiklah aku akan menikah dengan Seoyoung.” Sahut Key.

“Key apa yang kau katakan? Kau menyerah begitu saja setelah apa yang kita lakukan? Kau masih ada waktu untuk merenggut satu jiwa lagi dan menjadi manusia.” Sahut Seoyoung.

“Aku tidak ingin kau mendapatkan hukuman.” Sahut Key.

“Tapi kau mengecewakanku. Aku telah berusaha selama ini demi keinginannmu yang baru ku ketahu beberapa jam yang lalu.” sahut Seoyoung.

“Bukankah kau mengatakan bahwa menjadi manusia ada hal yang bodoh. Kau mengatakan bahwa aku adalah Lucifer bodoh yang berkeinginan menjadi Lucifer.” Sentak Key.

Seoyoung menangis.

“Kau tidak seharusnya membelaku. Ini semua salahku karena tidak dapat menjaga bola persefone milikku. Ini semua berawal dariku.” Isak Seoyoung.

“Sekarang kau tidak dapat hidup bebas.” Lanjut Seoyoung.

“Berhentilah menangis. Bukankah ini keinginanmu? Kau mengubah dirimu menjadi seorang yeoja yang dari tomboi menjadi feminim dan berusaha merebut bola persefone dariku karena kau tidak setujuh aku menjadi manusia.” Sentak Key.

“Kenapa kau memaraiku?” isak Seoyoung menatap Key.

“Karena kau berusaha menolakku.” Sentak Key meraih tangan Seoyoung.

“Apa maksudmu?” ucap Seoyoung mentap mata Key.

Matanya berkaca-kaca.

“Kau mencintaiku. Kenapa kau berusaha menolak itu.” Ucap Key.

“Karena kau tidak mencintaiku.” Ucap Seoyoung lalu ia memejamkan matanya dan menangis lagi.

“Pabo~ aku juga mencintaimu.” Cletuk Key lalu memeluk Seoyoung.

Seoyoung tidak percaya dengan apa yang dikatakan Key.

“Apa kau bilang?” tanya Seoyoung dalam pelukan Key.

“Yeoja paboya~ sarangheyo~” bisik Key di telinga Seoyoung.

Seoyoung melingkarkan tangannya di tubuh Key.

“Gomawo~” isaknya.

“Akhirnya aku menemukan namja yang dapat menjaga Seoyoung.” Tutur Hades.

“Dan akhirnya aku tidak kecewa dengan Key. Sekarang dia menjadi sepertimu Hades.” Sahut appa Key.

“Ya~ dia menjadi penerusku. Mungkin karena ia menelan persefone dan kuat menhan kekuatan persefone di dalamnya. Sungguh dia bocah yang kuat.” Ucap Hades.

“Aku juga tidak menyangka jika kekuatannya sungguh besar dan ia membutuhkan rangsangan seperti itu.” Ucap appa Key.

“Jadi tanggal berapa mereka menikah?” sahut Hades menatap appa Key.

“Tanyakan saja kepada mereka yang akan menikah.” Sahut appa Key.

“Jadi kapan kalian akan menikah?” tanya Hades kepada dua sejoli yang sedang berpelukan.

“Terserah appa.” Cletuk Seoyoung.

Key melepaskan pelukannya.

“Bagaimana jika kita makan Seoyoung. Aku lapar, aku ingin makan yang pedas-pedas.” Cletuk Key.

Seoyoung tersenyum.

“Kau lucu.” Ucap Seoyoung mencubit pipi Key.

“Kau manis.” Ucap Key balik mencubit pipi Seoyoung.

Lalu mereka berdua lenyap.

“Kemana mereka pergi?” sahut appa Key.

“Mereka pergi kencan. Biar aku saja yang mengurus pernikahan mereka.” Cletuk Hades lalu lenyap bersama api.

Appa Key geleng-geleng keplah.

“Jonghyun kau di langkai bahkan di kalakan oleh adikmu sendiri.” Cletuknya lalu lenyap.

 

#THE END#

 

Gimana? bagus gak?

Komentar ya ^^ saya butuh pemasukan untuk seri berikutnya juga ^^

When I Knew The Meaning of Love (chapter 8)

Standar

Cast: Minho, Taemin, Onew, Key, Jonghyun, Jaerin *Lyra*, Hyoah *Intan*, Jira *Iha*, Jihee *Reeha*, Jaejoong

Genre: Romantic, Friendship

PG: 15

 

PLEASE DON’T BE SILENT READER, PLEASE COMMENT. AUTHOR NEED YOUR COMMENT. THANKS BEFORE

 

When I Knew The Meaning of Love chapter 8

-The Meaning of Love-

 

Key memandang ke kolam renang. Yeoja itu Jihee. Yeoja itu berenang hingga ke dalaman 2 meter. Key tidak habis pikir. Yeoja itu tidak dapat berenang tapi sok sokan.

Key melepaskan kemejanya dan sepatunya lalu ia meluncur ke dalam kolam renang. Ia meraih Jihee dan membawa yeoja itu ke tepi. Seseorang membantunya membawa Jihee ke daratan. Lalu ia naik ke daratan dan membantu Jihee. Ia memberikan pertolongan pertama kepada Jihee.

“Yeoja paboya.” Ucap Key begitu melihat Jihee tersadar.

“Tolong ambilkan handuk.” Pintah Key kepada seorang karyawan yang ada di dekatnya.

Jihee bangkit. Ia sedikit terkejut.

“Sudah bagus tadi kau bermain air di kedalaman 1,5 meter. Kenapa nekat ke 2 meter? Kau tahu sendiri kau tidak bisa renang. Kau merepotkan saja.” Ucap Key.

Seseorang memberikan 2 handuk kepada Key. Key memberikan salah satunya kepada Jihee. Tapi Jihee tidak menerimanya. Jihee malah menangis. Key mendesah. Key menutupi tubuh yeoja itu dengan handuk lalu menggendong yeoja itu.

“Kau berat sekali. Berapa beratmu.” Ucap Key.

Tangis Jihee meledak.

“Key!!!” sentak Jaejoong yang muncul tiba-tiba.

“Kau apakan dia?” sentak Jaejoong.

“Saya tidak mengapa-ngapakan dia tuan. Dia habis tenggelam. Saya menyelamatkannya.” Ucap Key.

“Bagaimana bisa dia bisa tenggelam? Kau pasti teledor.” Sahut Jaejoong.

“Maafkan saya tuan.” Ucap Key.

“Jangan minta maaf kepada saya. Minta maaflah kepada dia.” Sahut Jaejoong.

“Baik.” Ucap Key.

“Saya masih banyak urusan. Jadi tidak bisa selalu mengawasi. Tolong jangan terulang lagi.” Ucap Jaejoong lalu meninggalkan Key.

Key lanjut berjalan. Ia masuk ke dalam kamar Jihee dan membaringkan Jihee di tempat tidur. Kemudian Key menyelimuti yeoja itu.

“Apakah kau tadi berniat bunuh diri? Karena payah hati?” tanya Key.

Jihee diam.

“Aku tidak tahu apa yang ada di otak kalian.” Ucap Key.

“Suka mengejar-ngejar orang yang di cintainya, pemaksa, manja, merepotkan.” Lanjut Key.

Ia berjalan mendekati jendela. Ia memandang ke luar.

“Yeoja sepertimu memang orang yang aneh.” Cletuk Key.

“Tidak aneh!” sahut Jihee.

“Yeoja itu sungguh rapuh. Kerikil kecil saja bisa memecahkan hatinya.” Isak Jihee.

Key memalingkan tubuhnya menatap Jihee.

“Aku melakukan itu semua untuk memuaskan hatiku. Aku ingin mendapatkan yang aku mau. Aku tidak bisa jika aku tidak mendapatkan yang ku mau. Karena itu sungguh menyakitkan di hatiku.” Isak Jihee.

Key terdiam. Ia berjalan menujuh ke kamer mandi. Beberapa menit kemudian ia keluar.

“Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Berendamlah untuk menenangkan pikiranmu.” Ucap Key kepada Jihee lalu pergi ke luar kamar.

 

 

10.03 AM

 

Jonghyun berujalan menujuh café. Ia mendapati Key duduk melamun. Ia mendekati Key dan duduk di dekatnya.

“Apa yang kau lamunkan?” tanya Jonghyun.

Key tersadar dari lamunannya.

“Tidak~ tidak ada.” Ucap Key lalu meneguk soda yang ada di hadapannya.

Jonghyun tersenyum simpul.

“Kau tidak bisa membohongiku. Katakanlah apa yang kau pikirkan, aku akan membantumu.” Ucap Jonghyun.

Key berpikir sejanak. Kemudian ia berkata,

“Apakah yeoja itu sungguh rapuh?”

“Ye~ yeoja itu sungguh rapuh. Mereka muda terluka. Tapi banyak dari mereka yang kuat menahan luka. Ada juga yang tidak dapat menahan luka mereka sehingga mereka sering kali menangis.” Terang Jonghyun.

“Apa kau pernah membuat yeoja menangis?” tanya Key.

“Pernah. Termasuk eommaku. Aku tidak bermaksud untuk membuat mereka menangis;. Tapi aku tidak ingin dikengkang oleh mereka.” Ucap Jonghyun

“Cantik~ aku pesan cappucino. Kau antarkan ya.” Cletuk Jonghyun kepada waiter yang melintas.

Key mendesah.

“Kau genit.” Cletuk Key.

Jonghyun tersenyum simpul.

“By The Way kenapa kau bertanya soal itu?” tanya Jonghyun.

“Tidak apa-apa.” Ucap Key.

“Baiklah jika kau tidak ingin mengatakannya.” Ucap Jonghyun.

Mereka terdiam.

“Apakah Minho berpacaran dengan Jaerin?” tanya Jonghyun tiba-tiba.

Key menatap Jonghyun.

“Kenapa kau berpikir seperti itu?” sahut Key.

“Entahlah mereka sangat dekat. Katamu Minho belum pernah dekat dengan yeoja. Jadi aku pikir mereka berpacaran.” Ucap Jonghyun.

“Tidak~ mereka tidak berpacaran.” Ucap Key.

“Apa kau yakin?” tanya Jonghyun penasaran.

“Kenapa kau pertanyakan ini? Kau suka dengan Jaerin?” sahut Key.

“Ehm~ aku tertarik dengannya.” Cletuk Jonghyun.

Key memekul kepalah Jonghyun.

“Aish~ apa yang kau lakukan.” Sahut Jonghyun memegangi kepalahnya.

“Jangan dekati dia, dia bukan permainan.” Sahut Key.

“Memangnya siapa yang akan mempermainkanya.” Cibir Jonghyun.

“Kau seharusnya ingat kau seorang cassanova dan dia tidak mungkin tahan denganmu. Terlebih lagi kau terlalu bergairah & bernafsu. Dia pasti takut.” Sahut Key.

“Sepertinya kau tahu banyak tentangnya.” Ucap Jonghyun memandang Key.

“Dia hampir sama denganku. Tapi dia bisa menahan emosinya tidak sepertiku yang langsung mengomel-ngomel. Dan dia lebih mengerti cinta dari pada diriku. Aku tak tahu apa itu cinta. Apa artinya. Seperti yang kau tahu.” terang Key.

“Apakah kau sudah lama mengenal Jaerin?” tanya Jonghyun.

“Ani~ baru-baru saja. Karena suatu insiden.” Sahut Key.

“Insiden ciuman?” sahut Jonghyun.

Key mengangguk.

“Jaerin sangat marah saat Minho menciumnya. Ia lari dan menangis. Ia tidak dapat meluapkan amarahnya kepada Minho. Ia hanya menangis.” Ucap Key.

“Tapi aku dapat merasakan bahwa dia mencintaiku. Dia selalu gugup di dekatku.” Cletuk Jonghyun.

“Dia takut kau melakukan hal buruk padanya, maka ia sedikit aneh. Sudahlah sebaiknya kau cari yeoja lain saja jangan Jaerin. Sepertinya Minho mulai ada rasa dengannya.” Celtuk Key lalu bangkit meninggalkan Jonghyun.

“Ini cappucinonya tuan.” Ucap seorang pelayan meletakkan cangkir di meja Jonghyun.

Jonghyun hanya diam saja. Ia terdiam dalam lamunan hingga pelayan itu pergi.

“Aku yakin dia mencintaiku. Bukankah dulu dia mengejar-ngejarku. Membuntutiku setiap waktu.” Ucap Jonghyun pelan lalu menyesap kopinya.

 

 

11.35 AM

 

“Jinki boleh kah kami duduk di sini?” tanya seorang yeoja.

Jinki tersenyum.

“Aniyo~ aku ada janji dengan seseorang kami tidak ingin diganggu. Cari tempat yang lain ya.” Ucap Jinki.

“Ya~ biasanya kami boleh duduk bersamamu dengan chingumu7.” Ucap yeoja yang lain.

“Kali ini bukan sekedar chingu.” Sahut Jinki.

Para yeoja itupun meninggalkan Jinki. Mereka duduk di bangku kosong yang masih tersedia.

Jinki memandang makanannya. Ia sedikit tidak bernafsu makan. Ia hanya memain-mainkannya.

“Apa yang kalian bicarakan?” sahut seseorang.

Jinki mendongak. Ia melihat Hyoah berderi dengan mapan berisi makananan.

“Bukan apa-apa. Mereka ingin duduk bersamaku tapi aku menolaknya.” Ucap Jinki.

Hyoah duduk di sampingnya.

“Ku harap kau tidak menggoda yeoja lain.” Cletuk Hyoah.

“Yang ada mereka yang menggodaku. Bukankah kau memperhatikannya selama ini.” Sahut Jinki.

“Hm~ iya juga.” Ucap Hyoah lalu memakan makanannya.

“Jagi~ sepertinya makananmu enak. Boleh aku minta.” Cletuk Jinki.

“Makan makananmu sendiri. Bukankah makananmu masih utuh.” Sahut Hyoah.

Jinki menggeleng.

“Ani~ aku tidak mau makananku, aku mau makananmu.” Rengek Jinki.

Hyoah mendesah.

“Kau seperti anak kecil saja. Ini.” Ucap Hyoah menyodorkan piringnya.

Jinki menggeleng.

“Suapin~” ucapnya manja.

Hyoah memandang Jinki heran.

“Kenapa kau jadi manja begini? Apa kau tidak malu di lihat orang.” Cletuk Hyoah.

“Kitakan sudah berpacaran, sah sah saja dong jika kita seperti ini. Bukankah akan menyenangkan?” sahut Jinki lalu tersenyum kepada Hyoah.

“Asih~ aku tidak bisa menolakmu jika kau tersenyum seperti itu.” Ucap Hyoah.

Lalu ia menyuapkan makanan kepad Jinki. Ya mereka saling suap-suapan dan saling membelai. Beberapa yeoja yang melihat miris menangis melihat kemesraan Hyoah & Jinki. Mereka hampir menangis karena cemburu.

“Jagi~ sepertinya da yang tidak suka jika kita seperti ini.” Ucap Hyoah.

“Tidak usah dipedulikan, mereka harus menerima kenyataannya.” Ucap Jinki lalu mengecup kening Hyoah.

“Ada sisa nasi di bibirmu.” Ucap Jinki membersihkan bibir Hyoah.

Lalu ia mencium bibir Hyoah. Terdengar beberapa jeritan yeoja.

“Jinki~ tak seharusnya kau melakukannya di sini.” Ucap Hyoah. Setelah Jinki melepaskan ciumannya.

“Aku ingin menyakinkan mereka bahwa kau adalah yeojachinguku. Karena cinta tak dapat di tolak. Aku tidak mungkin memnyembunyikan betapa aku mencintaimu. Akan ku lakukan apapun demi mempertahankan cinta ini.” Ucap Jinki.

“Bisakah kau berkata dengan sederhana. Aku tidak dapat memahami kata-katamu.” Ucap Hyoah.

“Aku hanya mencoba memberikan pengertianku tentang arti cinta.” Ucap Jinki.

“Maksudmu kau lakukan ini karena kau tau arti cinta itu seperti ini.” Sahut Hyoah.

“Ye~ arti cinta~. Cinta itu memberi dan menerima. Saling berbagi.” Sahut Jinki.

“Aku ada arti yang lain.” Sahut Hyoah.

“Apa?” sahut Jinki.

“Cinta tak harus memiliki.” Ucap Hyoah.

“Maksudmu?” sahut Jinki.

“Aku sudah lama mencintaimu tapi aku tidak memilikimu. Aku cukup senang dengan hanya mencintaimu.” Terang Hyoah.

Jinki tersenyum.

“Tapi cinta indah pada akhirnya.” Ucap Jinki lalu merangkul Hyoah.

 

 

2.32 PM

 

“Jaerin kau tidak pulang?” tanya Jira.

“Aniyo~ aku masih ada tugas.” Jawab Jaerin sibuk membuka buku.

“Bailah, aku pulang dulu dengan Taemin.” Ucap Jira.

“Hm~” ucap Jaerin tidak berpaling dengan buku-bukunya.

“Jangan pulang larut.” Ucap Taemin.

“Hm~” ucap Jaerin.

“Hya~ Jaerin kau dengar tidak?” sentak Taemin.

“Ya ya aku mendengarnya. Aku tidak akan pulang larut.” Sahut Jaerin mentap Taemin.

“Baiklah kami pergu dulu.” Ucap Taemin.

Jira dan Taemin pergi meninggalkan Jaerin di kelas. Mereka berjalan ke laur.

“Kita jalan-jalan dulu ya Jira.” Ucap Taemin.

“Kemana?” tanya Jira.

“Kau ingin kemana?” tanya Taemin balik.

“Beli ice cream yuk.” Ucap Jira.

Taemin mengangguk.

“Ini kenakan helmmu.” Ucap Taemin menyodorkan helm kepada Jira.

Jira menggenakannya. Taemin juga menggenakan helmnya. Ia naik dan menyalakan sepeda montornya.

“Ayo naik!” seru Taemin.

Jira naik ke sepeda montor Taemin.

“Pegangan yang kuat.” Ucap Taemin.

Jira langsung melingkarkan tangannya di perut Taemin.

Beberapa menit kemudian mereka tiba di mall.

“Kenapa di mall?” cletuk Jira dalam perjalanan menujuh ke suatu tempat.

“Aku dengar ada toko ice cream di sini. Rasa ice creamnya enak-enak.” Ucap Taemin.

“Di mana?” tanya Jira.

“Itu di depan sana.” Sahut Taemin menunjuk ke sebuah arah.

Jira memandang arah yang di tunjuk Taemin. Ia langsung beragairah. Ia langsung menarik Taemin ke toko ice cream.

“Kau mau pesan apa Jira?” tanya Taemin.

“Cone rasa vanilla dan mint saja.” Ucap Jira.

“Cone rasa vanilla dan mint satu, cone rasa cappucino dan choco cips satu.” Ucap Taemin kepada pelayan toko ice cream.

Beberapa menit kemudian mereka ke luar toko sembari menikmati ice cream mereka.

“Kemana lagi kita?” tanya Jira.

“Ke game zone yuk!” seru Taemin.

Jira mengangguk.

“Ada sisa ice cream di bawah bibir mu.” Ucap Taemin membersihkan bagian bawah bibir Jira.

Lalu Taemin terdiam.

“Waeyo? Apa yang kau pikirkan?” tanya Jira.

“Ah, aniyio~ ayo kita ke game zone!” sahut Taemin.

Jira menjilati ice creamnya.

“Dia tampak aneh tadi.” Ujar Jira pelan.

Setibanya di game zone Jira meminta Taemin meminta Taemin untuk mendapatkan boneka di box boneka.

“Kau ingin boneka apa?” tanya Taemin.

“Terserah. Yang menurutmu bagus.” Ucap Jira.

“Pegangkan dulu ice creamku.” Cletuk Taemin menyodorkan ice creamnya kepada Jira.

Jira menerimanya.

“Ada sisa-sisa ice cream di bibirmu dan sekitarnya.” Ucap Jira menunjuk-nunjuk bibir Taemin.

“Jinca?” sahut Taemin.

Lalu ia mencium pipi Jira.

“Sekarang sudah tidak ada bukan.” Ujar Taemin.

“Iya sudah tidak ada tapi di pipiku ada.” Omel Jira.

Taemin tertawa lalu ia mencoba mendapatkan boneka di box boneka. Dan ia berhasil mendapatkan boneka kelinci berwarna merah muda.

Jira berlonjak-lonjak senang. Ia memeluk Taemin kemudian menyodorkan ice creamnya ke Taemin. Ia menerima boneka kelinci Taemin.

Ia girang. Ia memakan ice cream yang ada di tangannya lalu ia tersadar. Itu bukan ice cream miliknya.

“Aish~ ini ice cream milikmu. Cappucinonya pahit. Aku tidak seberapa suka.” Ujar Jira.

Taemin tertawa melihat ekspresi Jira. Ia memakan ice cream Jira yang ada di tangannya kemudian ia menempelkan bibirnya di bibir Jira. Ia mengulum bibirnya dengan bibir Jira. Ia menyesap sisa-sisa ice cream di bibir Jira.

“Sudah tidak pahit bukan.” Ucap Taemin setelah melepaskan ciumannya.

Jira terdiam merona.

“Bagaimana rasanya?” tanya Taemin.

“Manis~ seperti susu.” Ucap Jira pelan.

Taemin tersenyum. Ia mengacak-ngacak rambut Jira.

“Kenapa kau melakukannya. Lihat rambutku berantakan.” Omel Jira cemberut.

“Aku senang melihatmu seperti itu. Kau sungguh lucu.” Sahut Taemin.

“Kau senang aku yang susah.” Omel Jira cemberut.

“Mianhae~ Jangan marah padaku. Itu bukti sayangku padamu. Jika aku tidak akan menyakitimu. Jika kau tidak suka, baiklah akan ku lakukan itu padamu saat aku mau.” Sahut Taemin.

“Apa?” sahut Jira.

“Chu~” sahut Taemin.

“Kau pikir cinta hanya butuh chu.” Sahut Jira.

“Ani~ cinta lebih butuh perhatian dan pengorbanan. Maka dari itu aku akan selalu memperhatikanmu dan berkorban demimu.” Ucap Taemin.

“Gomawo Taemin~” ucap Jira memeluk Taemin.

 

 

4.05 PM

 

Jaerin membereskan mejanya yang penuh dengan brangnya. Ia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas lalu ia beranjak ke luar kelas. Suasana sungguh sepi.

“Kau belum pulang?” sahut seseorang hampir mengagetkan Jaerin.

“Ini aku mau pulang.” Ucap Jaerin.

“Jangan pulang dulu. Tontonlah pertandingan basket sekolah kita.” Ucap orang itu.

“Tapi aku tidak ingin pulang telat.” Ucap Jaerin.

“Ini tidak berlangsung lama. Mungkin 25 menit lagi selesai. Tolong dukung sekolah kita. Score pertandingan masih beda tipis.” Ucap orang itu.

“Baiklah. Aku akan menontonnya.” Ucap Jaerin.

“Pertandingannya ada di lapangan luar.” Ucap orang itu lalu berlari pergi ke arah berlawanan.

Jaerin mendesah. Ia tidak seberapa suka melihat pertandingan basket. Bahkan bisa di bilang ia tidak ingin melihat pertandingan basket. Basket hanya mengingatkannya kepada seseorang di masa lalu. Orang yang mirip dengan Minho, yaitu Donghae. Bedanya Donghae menomersatukan balapan lalu menomerduakan basket. Sedangkan Minho, ia menomersatukan basket lalu menomerduakan balapan.

Lapangan sungguh ramai dengan suporter. Kebanyakan dari mereka adalah yeoja. Jaerin tidak dapat melihat pertandingan karena tertutup oleh suporter. Lalu ia memutuskan untuk tidak melihat. Saat beranjak pergi, DUG~ sebuah bola basket mengenainya. Ia memegangi dahinya dan merintih ke sakitan.

“Kau tidak apa-apa?” tanya seseorang.

Jaerin menatap orang itu ia tersentak.

“Jaerin~ kau tak apa-apa?” tanya orang itu.

“Minho~ kau~” sahut Jaerin.

“Kami ada pertandingan hari ini.” Ucap Minho.

Ia mengambil bola basket yang mengenai Jaerin tadi lalu menarik Jaerin ke tepi lapangan.

“Duduklah di sini. Jangan pergi dulu.” Ucap Minho menyuruh Jaerin duduk bersama dengan pemain cadangan dari sekolahnya.

Lalu Minho masuk ke lapangan dan mulai bertanding.

“Hai Jaerin~ ini sekolahmu yach?” sapa seorang pemain cadangan.

“Oh hai~ iya ini sekolahku.” Sahut Jaerin.

“Ini, pakailah ini di kepalahmu.” Ujar seorang pemain cadangan menyodorkan bungkusan handuk berisi air es.

“Gomawo~” ucap Jaerin menerima pemberian orang itu.

“Key tidak ikut?” tanya Jaerin ketika tidak menemukan wajah Key di lapangan.

“Urusannya masih belum selesai.” Ucap salah seorang pemain cadangan.

Jaerin mengangguk. Ia mengompres keplahnya sembari memperhatikan Minho bermain. Para yeoja bersorak ketika melihat Minho mencetak score. Jaerin tidak habis pikir teman satu sekolahnya mendukung musuh. Ia hanya bisa geleng-geleng kepalah.

Beberapa menit kemudian pertandingan usai.

“Kau hebat sekali.” Ucap Jaerin.

Minho hanya tersenyum. Lalu meneguk air mineral.

“Sayang sekali tim basket sekolahku kalah. Padahal aku sudah-susah menyempatkan diri kemari untuk mendukung tim sekolahku.” Ucap Jaerin.

Minho terseledak. Ia terbatuk-batuk.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jaerin khawatir.

“Hya Jaerin jadi kau tadi tidak mendukung Minho?” sahut seorang pemain.

Jaerin sedikit bingung.

“Sudahlah jangan dipermasalahkan.” Ucap Minho.

“Mana ke dua chingumu itu?” tanya Minho kepada Jaerin.

“Mereka sudah pulang duluan.” Ucap Jaerin.

“Kenapa kau belum pulang?” tanya Minho.

“Aku mengerjakan tugas di kelas tadi. Dan baru saja selesai.” Ucap Jaerin.

“Kenapa tidak di selesaikan di apartemenmu saja.” Ucap Minho.

“Aku tidak punya bukunya. Tadi aku menggunakan buku milik temanku. Ini saja aku akan mengembalikannya.” Ucap Jaerin.

“Jadi sekarang kau ingin mengembalikan buku ke rumah temanmu?” tanya Minho.

Jaerin mengangguk.

“Akan ku antarkan. Aku membawa mobil.” Sahut Minho.

“Tidak usah. Pasti kau ada acara makan-makan dengan timmu. Kaliankan menang.” Sahut Jaerin.

“Tidak apa-apa aku bisa bergabung bersama mereka setelah mengantarkanmu.” Ucap Minho.

“Baiklah~ itu jauh lebih aman dari pada ke sana sendirian.” Sahut Jaerin.

 

 

 

5.01 PM

 

Key duduk di ayunan tepat di sebelah Jihee.

“Apa yang kau lamunkan?” tanya Key.

“Bukan urusanmu.” Sahut Jihee ketus.

“Itu akan jadi urusanku. Jika kau melamun terus masuk jurang, aku yang akan di salahkan. Bisa-bisa tuan Kim Jaejoong membunuhku.” Cletuk Key.

“Ternyata kau peduli pada dirimu sendiri.” Sahut Jihee.

“Bukannya kau begitu?” sahut Key.

Jihee mendesah.

“Tidak ada satu namjapun yang mau denganku. Sepertinya perkataanmu benar. Memang ada apa denganku hingga paran namja tidak menyukaiku.” Ucap Jihee mulai berayun.

Key memandang lurus ke dapan.

“Kau yeoja yang liar. Tidak dapat di kendalain. Namja tidak suka yeoja yang tidak dapat ia kendalian.” Sahut Key.

“Berarti namja suka memainkan yeoja.” Sahut Jihee.

“Bukan seperti itu. Namja tidak suka yeoja yang agresig. Itu sungguh menganggu. Kau sangat agresif dan kekana-kanakan.” Sahut Key.

“Jinca? Aku seperti itu?” sahut Jihee.

“Ye~” ucap key.

“Appa benar. Sepertinya aku harus bersikap dewasa. Lalu apa yang harus aku lakukan?” ujar Jihee.

“Berhenti menggantungkan orang lain dan bermanja-manaj.” Ucap Key.

“Kau mengatakn itu karena ingin keluar dari tugasmu melayaniku bukan?” sahut Jihee menatap Key.

“Akhirnya kau mengerti juga.” Sahut Key tertawa senang.

“Asih~ aku tidak akan melepaskanmu.” Sahut Jihee.

“Kenapa tidak bisa melepaskanku? Apakah kau menicntaiku?” sahut Key.

“Aniyo~” sentak Jihee beranjak dari ayunan.

“Aku tidak mencintaimu.” Sentak Jihee lalu pergi meninggalkan Key.

“Jika tidak cinta kenapa matah?” sahut Key lalu tertawa.

 

6.47 PM

 

“Aku duluan ya, aku ingin mengantarkan Jaerin pulang.” Pamit Minho kepada Temannya.

Ia dan Jaerinpun keluar dari rumah makan dan menujuh ke mobil. Mereka masuk ke dalam mobil dan menujuh ke rumah Jaerin.

“Sepertinya aku merepotkanmu saja.” Ucap Jaerin dalam perjalan.

“Aniyo~ aku senang melakukannya. Sudah lama aku ingin seperti ini. Dulu noonaku pernah melakukan ini kepadaku. Saat aku masih kecil. Aku sungguh merindukannya.” Ucap Minho.

“Apakah keluargamu sudah mencarinya ke segala tempat?” tanya Jaerin.

“Sudah. Kami sudah lapor ke kantor polisi dan mengumumkannya ke media massa tapi hasilnya nihil.” Ucap Minho.

“Setahun setelah menghilang orang tua memutuskan menganggap noonaku benar-benar meninggal. Mereka sangat marah dengan noonaku. Mereka melupakan noonaku.” Lanjutnya.

“Apakah kau begitu?” tanya Jaerin.

“Awalnya aku marah karena noonaku tidak mendengarkan perkataan orang tuaku. Tapi akhirnya aku mengerti dan aku tidak marah kepadanya. Aku smerindukannya. Aku yakin dia masih hidup. Mungkin ia berada di suatu tempat.” Terang Minho.

Lalu mereka terdiam.

Beberapa saat kemudian Minho mengerem mendadak.

“Ada apa?” tanya Jaerin panik.

“Sepertinya aku melihat noonaku.” Jawab Minho memandang ke arah pejalan kaki.

Ia menyelusuri para pejalan kaki dengan matanya.

“Apa kita turun saja dan mengeceknya?” saran Jaerin.

“Ani~ aniyo. Sepertinya aku salah lihat. Mungkin saja aku hanya membayangkannya karena aku sedang memikirkannya.” Ucap Minho lalu mejukan kendaraanya.

“Suatu saat kau pasti bertemu dengan noonamu. Oh ya jika boleh tahu siapa nama noonanamu?” cletuk Jaerin.

“Yeonra, Choi Yeonra.” Jawab Minho.

“Astaga~” cletuknya menagetkan Jaerin.

“Ada apa?” tanya Jaerin khawatir.

“Mungkin saja noonaku berusaha menemui kami tapi dia tidak menemukan kami. Kami pindah rumah setahun setelah dia menghilang.” Sahut Minho.

“Sebaiknya kita ke rumahmu yang dulu. Siapa tahu tetanggamu melihatnya datang ke sana.” Ucap Jaerin.

“Baiklah. Sekarang juga kita meluncur ke sana.” Ucap Minho.

 

 

7.35 PM

 

“Ini rumahmu yang dulu?” tanya Jaerin setelah turun dari Mobil.

“Ye~ sedikit lebih kecil dari rumah kami yang baru.” Ucap Minho.

“Jadi rumahmu yang baru jauh lebih besar dari ini?” sahut Jaerin.

Minho mengangguk.

“Ini saja sudah besar.” Ucap Jaerin.

Minho tidak mendengar apa yang di katakan Jaerin. Ia berjalan ke rumah tetangganya. Tepat sekali. Tetangganya keluar rumah dan mendapati Minho berjalan ke arahnya.

“Minho~” ucap tetangga Minho yang seorang halmeoni.

“Halmeoni~ bagaima kabarmu.” Sapa Minho.

“Aku baik-baik saja. Sudah lama aku tak bertemu denganmu. Kau sudah besar. Kau tinggi sekali.” Ucap  Halmeoni.

Minho tersenyum.

“Ne~” ucapnya.

“Oh ya, Yeonra. Choi Yeonra masih hidup.” Ucap halmeoni.

“Apakah dia kemari?” sahut Minho.

“Beberapa minggu yang lalu ia kemari dengan membawa anak dan suaminya.” Ucap halmeoni.

“Anak? Suami?” sahut Minho.

“Sepertinya noonamu itu kawin lari. Apa orang tuamu tidak mengizinkan mereka berhubungan?” ucap halmeoni.

Minho hanya terdiam. Jaerin angkat bicara.

“Apa dia memberi tau dimana ia tinggal?” tanya Jaerin.

“Siapa kau?” tanya halmeoni.

“Aku temannya Minho.” Ucap Jaerin.

“Oh~ dia mengatakan saat ini ia tinggal di rumah keluarga suaminya. Sebelumnya ia tinggal di rumah suaminya.” Terang halmeoni.

“Halmeoni tau siapa nama suaminya? Dan di mana suaminya bekerja?” tanya Jaerin.

“Nama suaminya. Kim~ Kim~ Kim siapa ya, aku lupa. Sepertinya suaminya itu orang kaya. Wajahnya tampan bagai malaikat. Ku rasa mereka sudah menjadi keluarga yang bahagia.” Terang halmeoni.

“Minho~ kau titipkan saj alamtmu kepada halmeoni. Jika noonamu kemari ia bisa meberikan alamatmu.” Bisik Jaerin.

Minho mengangguk.

“Kau ada kertas dan pen?” tanya Minho.

Jaerin mengangguk.Ia mengeluarkan kertas dan pen dari tasnya lalu memberikannya kepada Minho. Minho mencatat alamat rumah beserta nomer telpon rumah dan HPnya. Ia memberikannya kepada halmeoni.

“Tolong berikan kertas ini kepada noonaku jika ia datang kemari.” Ucap Minho.

“Aku ingat.” Cletuk halmeoni.

“Ingat apa?” sahut Minho penasaran.

“Dimana suaminya bekerja.” Sahut halmeoni.

“Dimana?” tanya Minho dan Jaerin bersamaan.

 

 

 

To Be continue…

 

Cepet banget ya udah posting ^^

author rada terbawa NC di chapter ini *ini aslinya FF NC* XD

Jangan lupa komentar ya ^^

Oh ya, author ada spinoff *cerita diluar cerita* yang munkin posting Januari besok =3

 

BTW enaknya di tamatin sampai berapa chapter ya ^^

When I Knew The Meaning of Love (chapter 7)

Standar

Cast: Minho, Taemin, Onew, Key, Jonghyun, Jaerin *Lyra*, Hyoah *Intan*, Jira *Iha*, Jihee *Reeha*, Jaejoong

Genre: Romantic, Friendship

PG: 15

 

PLEASE DON’T BE SILENT READER, PLEASE COMMENT. AUTHOR NEED YOUR COMMENT. THANKS BEFORE

SHINee When I Knew The Meaning of Love chapter 7 saranghae

-Saranghae-

 

 

”Hyoah~” cletuk Jinki.

Hyoah menunduk.

”Maaf aku tidak bermaksud menganggu kalian.” ucap Hyoah lalu pergi meninggalkan Jinki dan Jihee.

”Hyoah tunggu.” ucap Jinki menyusul Hyoah.

Jihee manarik tangan Jinki.

”Oppa mau kemana? Jawab dulu apa yang ku katakan padamu.” ucap Jihee.

”Kita bicarakan nanti.” ucap Jinki.

”Shiro. Aku mau sekarang!” ujar Jihee rewel.

Jinki mendesah.

”Aku tidak mencintaimu. Aku hanya suka kepadamu sebagai adik, tidak lebih.” ucap Jinki.

Ia ingin menyusul Hyoah tapi lagi-lagi Jihee menarik tangan Jinki.

”Wae?” tanyanya.

”Karena di hatiku ada yeoja lain. Aku mencintai yeoja itu dan tidak mungkin mencintaimu. Aku tidak bisa mencintaimu. Kau harus bisa bersikap dewasa. Mianhae Jihee.” terang Jinki lalu melepaskan tanggannya dari Jihee.

Ia berlari menyusul Hyoah.

Jihee tertegun mendengar apa yang di katakan Jinki. Ia melangkahkan kakinya yang berat. Pandangannya kosong. Ia tidak ingat kemana dan dimana ia berada. Ia menabrak sesorang yang sedang berbincang bincang dengan seorang pegawai. Jihee terjatuh. Dia tertunduk.

”Hya!!! Kau punya mata tidak?” sentak orang itu yang tidak lain adalah Key.

Pegawai tadi pergi meninggalkan Key. Sepertinya apa yang mereka bicarakan sudah usai.

”Hye Kau!!!! Kenapa tidak bangkit???” sentak Key.

”Kau ingin aku mengulurkan tanganku kepadamu?” sentak Key lagi.

”Tidak akan. Kau yang menabrakku. Untung saja aku tidak apa-apa.” sentak Key sekali lagi.

Jihee menitikkan air matanya. Lalu ia menangis dengan keras.

Key tersentak. Ia kalang kabut.

”Hey kenapa kau tiba-tiba menangis?” tanya Key pelan.

Jihee tidak menjawab. Ia tetap menangis.

Key mendesah. Ia berjongkok memandang Jihee.

”Jangan menangis. Orang-orang akan mengira aku telah melakukan hal yang buruk kepadamu.” ucap Key.

Jihee tetap menangis.

Key mendesah lagi. Ia menyeret Jihee ke tepi koridor. Lalu ia dudu di sebelah Jihee. Bersandar di tembok.

”Apakah ada masalah?” tanya Key.

”Ne~” jawab Jihee.

”Apa? Ceritakan padaku. Siapa tahu aku bisa membantumu.” ucap Key.

”Jinki oppa~” ucap Jihee lalu tersendat.

”Ada apa dengan Jinki hyung?” tanya Key.

”Jinki oppa menolakku~” jawab Jihee lalu menangis lagi.

”Tidak heran Jinki hyung menolakmu. Siapa yang mau dengan yeoja sepertimu.” sahut Key.

Tangisan Jihee meledak. Ia memukul-mukul Key. Lalu beranjak pergi meninggalkan Key dengan berlinang air mata.

”Apa salahku?” cletuk Key polos.

Lalu ia beranjak. Ia melangkah pergi kemudian berbalik mengejar Jihee.

 

 

10.25 AM

 

”Jaerin!” triak Jinki berlari mendekati Jaerin.

”Ada apa oppa?” sahut Jaerin.

”Kau lihat Hyoah?” tanya Jinki tersengal-sengal.

”Ku rasa aku milhatnya di bar.” ucap Jaerin.

”Dia minum lagi?” sahut Jinki.

Jaerin menggeleng.

”Dia memainkan grand piano. Menghibur para tamu.” ujar Jaerin.

”Apakah dia menangis?” tanya Jinki.

”Ani~ tapi dia nampak sedih. Apa ada masalah oppa?” ujar Jaerin.

Jinki mendesah.

”Masalah kecil. Aku bisa mengatasinya. Terima kasih untuk infonya.” ucap Jinki lalu pergi meninggalkan Jaerin sendiri.

‘Bar. Kenapa aku tidak ke sana dari tadi. Aish~’ batinnya.

Ia telah tiba di bar. Ia melihat Hyoah sedang memainkan tuts tuts piano. Yeoja itu memainkan lagu Why Did I Fall In Love With You dari TVXQ. Hyoah tidak menyadari kehadiran Jinki. Ia sibuk memainkan piano. Matanya terpejam saat ia memainkan bagian reff. Air matanya keluar setetes demi tetes. Jinki mendekati yeoja itu.

Setelah Hyoah selesai memainkan piano Jinki duduk di sebelah yeoja itu. Yeoja itu membuka matanya. Ia tertegun. Ia menghapus air matanya kemudian beranjak pergi. Tapi Jinki meraih tangannya.

”Duduklah sebentar di sini bersamaku. Ada yang ingin ku katakan padamu.” ucap Jinki.

Hyoah tetap diam.

”Duduklah dan dengarkan aku baik-baik.” ucap Jinki.

Ia melepaskan tangan Hyoah. Ia melemaskan jarinya kemudian ia menekan tuts piano. Ia memainkan lagu anak-anak.

Merasa kesal karena Jinki tidak berbicara kepadanya, Hyoah beranajak pergi. Seketika itu Jinki langsung mulai beraksi memainkan melodi Because of You.

Jinki memandangnya. Namja itu menyuruh Hyoah duduk di sebelahnya. Dan Hyoahpun menuruti permintaan namja itu.

If ever you wonder

if you touch my soul, yes you do

since I met you Im not the same

you bring life in everything I do

just the way you say hello

with one touch, I can’t let go

never thought I have fallen in love with you

because of you my life has changed

thank you for the love and the joy you bring

because of you I feel no shame

I’ll tell the world its because of you

sometimes I get lonely

and all I got to do is think of you

you captured something inside of me

you made all my dreams come true

its not enough that you love me for me

you reach inside and touch me internally

i love you best explain how i feel for you

because of you my life has changed

thank you for the love and the joy you bring

because of you I feel no shame

I’ll tell the world its because of you

the magic in your eyes

true love I can’t deny

when you hold me, I just loose control

i want you to know that i’m never letting go

you mean so much to me

i want the world to see

it’s because of you

because of you my life has changed

thank you for the love and the joy you bring

because of you I feel no shame

I’ll tell the world its because of you

”Saranghae Hyoah~” ucap Jinki memandang Hyoah dalam.

Ia tidak berkedip menatap mata Hyoah.

Hyoah meneteskan air matanya. Jinki langsung memeluknya.

”Kenapa menangis? Apa kau tidak percaya denganku?” ucap Jinki.

”Dengarlah detak jantungku kau akan tahu bahwa aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu.” lanjutnya.

Hyoah tidak dapat mendengar detak jantung Jinki. Mungkin karena posisinya sejajar dengan Jinki. Lalu ia mengangkat tangan kanannya kemudian meletakkannya di dada Jinki. Ia dapat merasakan detak jantung Jinki.

Hyoah terdiam, lalu ia mengahpus air matanya. Ia meletakkan tangan kirinya di dadanya dan tangan kanannya di dada Jinki. Ia mencoba merasakan detak jantungnya dan detak jantung Jinki bersamaan. Kemudian ia menatap Jinki.

”Waeyo?” ucap Jinki pelan.

”Detak jantung~ detak jantung kita sama~ Jantung kita berdetak seirama. Detak jantung ini bukan detak jantung biasanya~” ucap Hyoah lalu menurunkan tangannya.

Ia memalingkan wajahnya mencoba mencerna apa yang terjadi.

”Itu karena kita sama-sma menicintai.” ucap Jinki lalu menyium Hyoah.

 

Beberapa meter dari Hyoah dan Jinki, Jaerin berdiri mengamati mereka. Ia terkejut melihat Jinki mencium Hyoah. Ia berjalan mundur lalu menabrak seseorang. Ia memalingkan tubuhnya dan ia tersentak kaget.

”Minho~” ucapnya.

Minho gelagapan. Sepertinya ia terkejut.

Minho menatap Jaerin. Melihat bibir Jaerin ia jadi teringat peristiwa itu. Ia langsung memejamkan matanya dan menggeleng. Ia tidak ingin mengingat peristiwa itu.

”Kau baik-baik saja?” tanya Jaerin.

Minho tidak menjawab. Ia menunduduk.

”Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?” tanya Jaerin sekali lagi.

Minho menghela nafas lalu berlari meninggalkan Jaerin.

Ia menabrak Key saat di pertigaan koridor.

”Hey~ kenapa kau lari-lari?” sentak Key emosi karena terkejut.

Minho ngos-ngosan. Ia tidak menjawab pertanyaan Key. Keringat dingin bercucuran dari tubuhnya.

”Kau sedikit pucat. Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Key khawatir.

”Ya ya ya aku ingin mengatakannya kepadamu tapi tidak di sini.” sahut Minho tersengal-sengal.

Kemudian ia menarik Key ke tempat sepi.

”Aku tadi melihat Jinki hyung dan Hyoah nuna di bar.” ucap Minho.

”Lalu kenapa?” sahut Key tidak mengerti.

”Jinki hyung mengutarakan perasaannya melalui lagu. Kemudian ia menyatakan bahwa ia mencintai Hyoah. Akhir cerita Jinki mencium Hyoah.” terang Minho.

”Lalu apa hubungannya dengan keadaanmu saat ini?” tanya Key tambah tak mengerti.

”Saat itu Jaerin di depanku. Ia berjalan mundur setelah melihat mereka berciuman. Jaerin menabrakku. Dan seketika itu aku menatapnya. Menatap bibirnya. Aku jadi teringat peristiwa waktu itu. Rasanya~ rasanya…”

”Rasanya kau ingin menciumnya lagi?” potong Jonghyun yang berjalan mendekat.

Minho tertegun.

“Apa benar begitu Minho?” cletuk Key.

Minho mengangguk pelan.

Jonghyun tersenyum simpul.

“ternyata kau sudah dewasa Minho. Tidak seperti Key.” Ucap Jonghyun menepuk punggung Minho.

“Apa maksudmu?” sahut Key.

“Kau belum dewasa Key. Maka dari itu kau tidak mengerti cinta.” Sahut Jonghyun.

“Jadi kita mengerti cinta ketika dewasa?” sahut Key.

“Bukan begitu. Kita dapat dikatakan dewasa jika kita mengerti apa arti cinta sebenarnya.” Sahut Jonghyun.

“Tapi jujur aku belum mengerti tentang cinta.” Cletuk Minho.

“Ya kau baru saja merasakan cinta. Dan lama-lama kau akan mengerti apa arti cinta yang sebenarnya. Sudah dulu ya aku mau ke suatu tempat.” Sahut Jonghyun lalu pergi meninggalkan Key dan Minho.

 

 

11.01 AM

 

“Sedang apa kau?” cletuk Jonghyun mengagetkan Jaerin.

“Jonghyun oppa~” ucap Jaerin terkejut.

Jonghyun lalu duduk di sebelah Jaerin.

“Ada yang kau rencanakan?” tanya Jonghyun.

Jaerin mengangguk pelan.

“Aku membantu menyatukan dua hati chinguku.” Ucap Jaerin.

“Wah itu bagus. Lalu kau sendiri gimana?’ tanya Jonghyun.

“Mwo? Mworago?” sahut Jaerin terkejut.

“Kau sudah memiliki kekasih?” sahut Jonghyun.

Jaerin menggeleng.

“Waeyo?” tanya Jonghyun.

“Belum menemukan yang tepat.” Ucap Jaerin.

“Lihatlah sekelilingmu baik-baik siapa tahu orang yang cocok itu ada di sekitarmu bahkan di sampingmu.” Ucap Jonghun membuat Jaerin tertunduk.

“Lalu oppa sendiri bagaimana?” tanya Jaerin.

“Ehm~ aku~ Ada seorang yeoja. Aku seringkali menangkap sosoknya di sekitarku. Entah kebutulan atau apa. Tapi sepertinya dia ada rasa denganku. Tapi saat aku berada di dekatnya aku tidak menyangka sikapnya akan seperti itu.” Ucap Jonghun.

“Seperti apa?” sahut Jaerin.

“Seperti dirimu.” Ucap Jonghyun memandang Jaerin lekat.

 

 

5 PM

 

“Ada apa kau mengajakku ketempat seperti ini? Sebentar lagi petang lebih baik kita kembali saja.” Ucap Jira.

Taemin tetap diam tak bergeming. Ia berjalan tetap berjalan. Jira tetap mengikuti Taemin.

“Duduklah.” Ucap Taemin stelah ia duduk di sebuah batu besar.

Jira menuruti Taemin. Ia duduk di dekat Taemin.

Mereka terdiam. Hening~ hanya terdengar suara ombak dan burung camar.

“Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Ku harap kau mendengarnya baik-baik.” Ucap Taemin serius.

Jira mengangguk pelan.

“Aku menyukai seorang yeoja~” ucap Taemin.

Jira mengangguk mengerti.

“Sudah cukup lama aku menyukainya.” ucap Taemin lagi.

Jira mengangguk lagi.

“Aku ingin mengutarakan perasaanya padaku, karena perasaan ini tak bisa ku tampung di lubuk hatiku.” Ucap Taemin sekali lagi.

Taemin meraih tangan Jira dan mengenggamnya.

“Tolong bantu aku Jira. Dengarkan baik-baik kataku, jika kata-kataku sudah cukup bagus aku ingin mengutarakan perasaanku kepada yeoja itu.” Ujar Taemin.

Jira terdiam. Ia memalingkan wajanhya. Lalu ia mengangguk pelan.

“Saat pertama kali bertemu denganmu ada sesuatu yang membuatku tak mengerti. Aku tidak dapat berhenti memikirkanmu. Senyummu selalu tersirat di benakku. Aku ingin selalu melihat senyum itu. Lalu aku menyadari perasaanku ini. Aku ingin mengutarakan kepadamu tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Aku selalu gugup di depanmu. Tapi saat aku tak melihat senyum di raut wajhamu, aku mulai berusaha untuk menghilangkan rasa gugup ini. Dan kini ku beranikan diri mengatarkan perasaanku. Perasaan bahwa aku mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu. Apakah kau merasakannya juga…… Choi Jira?”

Jira tersentak kaget. Ia memandangi Taemin. Ia menatap lekat mata Taemin. Ia merasa Taemin serius mengatakan itu.

“Saranghae Choi Jira.” Ucap Taemin mengenggam erat tangan Jira kemudian mengecup kening Jira.

Jira menitikkan air matanya. Ia memeluk Taemin erat. Tangisnya meledak.

“Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu. Aku lelah menunggunya. Aku terluka karena kau tidak mengatakannya karena Ku begitu mencintaimu.” Isak Jira.

“Mianhae~ Saranghae~” ucap Taemin di telinga Jira.

Lalu merekapun berciuman.

Merke berhenti berciuman ketika ombak besar datang menghampiri mereka dan membuat mereka basah kuyup.

“Aish~” cletuk Jira dan Taemin bersamaan.

Lalu mereka tertawa memandang satu sama lain.

“Sudah bercintanya?” sahut sesorang.

Jira dan Taemin menoleh.

“Hari ini kalian harus mentraktirku! Belikan aku Boneka Beruang terbesar yang pernah ada.” Lanjut orang yang tak lain adalah Jaerin.

“Jika hari ini sepertinya tidak bisa.” Cletuk Taemin.

“Bagaiman jika lain kali saja.” Cletuk Jira.

“Kalian bgaimana sich. Kalian kan jadiannya sekarang jadi hadianya minta sekarang bukan lain kali.” Sahut Jaerin cemberut.

“Wah kau merusak suasana mereka. Ayo ikut denganku saa. Ku traktir makan coklat.” Sahut Jonghyun merangkul Jaerin dan mengjaknya pergi.

“Oppa lepaskan. Aku belum selesai dengan mereka.” Sentak Jaerin berusaha lepas dari Jonghyun.

“Ku belikan boneka-boneka beruang saja ya.” triak Taemin agar Jaerin mendengar.

Jira tertawa melihat Jaerin yang ditarik Jonghyun menjauh.

“Dia yang merencakan ini semua?” tanya Jira kepada Taemin.

Taemin mengangguk.

“Jadi selama ini aku salah sangka.” Ujar Jira.

Taemin mengangguk.

“Jangan-jangan dia mengawasi kita tadi.” Cletuk Jira.

“Benar. Kami semua mengawasi kalian.” Sahut Key datang mendekati Jira dan Taemin.

Di belakangnya ada Minho, Hyoah beserta Jinki.

“Ah~ aku jadi malu.” Ucap Jira menutup wajahnya.

“Ini handuk untuk kalian.” Ucap Key melemparkan handuk kepada Jira dan Taemin.

“Sungguh pemandangan yang indah. Jagi, kapan kita seperti itu?” ucap Hyoah.

“Bukankah tadi sudah saat di bar. Apakah itu kurang romantis? Itukulakukan dengan segenap jiwaku langsung spontan.” Sahut Jinki.

“Tapi…”

‘Chu~’

Jinki langsung menyela Hyoah dengan ciuman.

“Astaga~ aku mulai muak melihat orang berciuman. Lebih baik aku kembali ke kamar.” Cletuk Key lalu pergi.

“Gantilah pakaian kalia.” Ucap Minho lalu mengikuti Key.

 

 

6.45 PM

 

“Kau dari mana Jaerin?” tanya Jira begitu Jaerin masuk ke dalam kamar.

“Tentu saja habis bermesra-mesraan dengan Jonghyun.” Sahut Hyoah.

Jaerin langsung melemparkan bantal kepada Hyoah.

“Aku ditraktir chocolate shortcake dengan Jonghyun oppa.” Ucap Jaerin lalu merebahkan dirinya di tempat tidur.

“Kau menjalin hubungan dengannya?” tanya Jira serius.

Jaerin melemparkan bantal ke Jira.

“Ada apa sich dengan kalian.” Sentak Jaerin.

“Santai~” sahut Jira dan Hyoah bersamaan.

“Hanya kau yang belum jadian. Kami berdua jadian hari ini. Jadi ku kira kau juga begitu.” Ucap Hyoah.

“Hyoah onnie jadian tadi siang. Aku tadi sore. Mungkinkah Jaerin nanti malam? Tengah malam nanti?” sahut Jira.

“Astaga~ aku sudah tidak ada rasa lagi dengan Jonghyun.” Sahut Jaerin.

“Jinca? Lalu kenapa kau sering curi-curi pandang dengannya.” Sahut Jira.

“Sudahlah jangan bahas itu.” Sahut Jaerin.

“Ku dengar dia sudah mengatakan perasaannya kepadamu.” Sahut Hyoah.

“Tidak tahu juga. Kata-katanya sulit di mengerti.” Sahut Jaerin.

“Kata-katany atau kau sendiri yang tidak memahami ucapannya?” sahut Hyoah.

Jaerin mengambil bantal. Tapi tidak untuk ia lemparkan. Ia menutup mukanya dengan bantal.

Hyoah langsung menarik bantal itu.

“Kau mau bunuh diri?” sahutnya.

“Sudah mandi sana. Hanya kau sendiri yang belum mandi.” Lanjutnya.

Jaerin mendesah. Ia beranjak lalu masuk ke kamar mandi.

“Onnie~ apakah benar Jonghyun mengutarakan perasaannya?” bisik Jira.

Hyoah mengangguk.

“Aku tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat di café.” Jawab Hyoah.

“Kira-kira apakah Jaerin masih ada rasa dengan Jonghyun?” tanya Jira.

“Entahlah. Ia sudah terlanjur kecewa dengan namja itu. Mungkin dia mencintai namja lain.” Cletuk Hyoah.

“Nugu?” sahut Jira.

 

 

 

Beberapa Hari Kemudian…

 

8.15 AM

 

“Sedang apa kau di sini?”

Jihee mendongak ia melihat Key berdiri satu meter darinya. Ia memalingkan wajahnya.

“Memangnya tidak boleh apa.” Cletuk Jihee cemberut.

“Kau tidak pulang dan sekolah?” tanya Key.

“Ani~ aku masih ingin liburan. Kau sendiri kenapa masih di sini? Tidak sekolah? Teman-temanmu sudah pergi dari sini beberapa hari yang lalu. Liburan sudah berakhir.” Ucap Jihee balik bertanya.

“Aku ada urusan yang belum selesai.” Jawab Key.

“Menyebalkan~ kenapa setiap hari selalu melihat wajahmu.” Cletuk Jihee.

“Aku lebih sebal darimu. Karena kau merusak pemandangan di resort ini.” Sentak Key.

“Mwo? Mworago?” sahut Jihee beranjak.

“Kau merusak pemandangan di resort ini.” Ulang Key.

“Kau bahkan perusak resort ini. Resort ini tidak butuh orang seperti dirimu.” Sentak Jihee.

“Hey aku orang penting di resort ini.” Sentak Key.

“Orang penting? Jika kau orang penting seharusnya kau menginap di kamar terbesar di resort ini. Resort VIP yang ada di ujung sana. Bukan di ujang sana.” Sentak Jihe menunjuk arah Utara lalu Selatan.

“Terserah kau bilang apa. Yang jelas resort ini lebih memilih aku darimu.” Sentak Key lalu melanggak pergi meninggalkan Jihee.

“Hya kau mau pergi kemana? Aku belum selesai bicara denganmu. Hya kembalilah kemari! Dasar pengecut!” triak Jihee.

Tapi Key tetap tak bereaksi. Ia menganggap Jihee sebagai angin lalu.

“Berani-beraninya kau mengacuhkan.” Cletuk Jihee lalu mengejar Key.

Ia menarik tangan Key. Key menepisnya. Jihee mengulanginya lagi. Key mendorongnya untung saja sesorang menangkap tubuh Jihee cepat. Jika tidak mungkin yeoja itu sudah jatuh tersungkur.

“Kau tahu apa yang kau lakukan itu?” ucap orang itu.

Orang itu seorang namja yang berusia sekitar 24 tahun.

Key menunduk.

“Maafkan saya tuan.” Ucap Key.

“Apa anda tidak apa-apa nona?” ucap namja berjas kepada Jihee.

“Aku tidak apa-apa. Hanya terkejut saja. Apakah anda bekerja di sini?” ucap Jihee

“Ya. Saya bekerja di sini. Nama saya Kim Jaejoong. Maaf jika karyawan kami bertindak tidak sopan kepada anda.” ucap namja yang bernama Jaejoong kepada Jihee.

Jihee terkejut mengetahui bahwa Key adalah karyawan.

“Sebaiknya anda memberikannya hukuman.” Sahut Jihee.

Jaejoong mengangguk.

“Jika boleh tahu anda bekerja di sini bagian apa?” tanya Jihee.

“CEO.” Jawab Jaejoong.

Jihee tersentak kaget.

“Key, mulai detik ini kau layani nona ini selama berada di resort ini.” Perintah Jaejoong.

Key terkejut.

“Kenapa saya harus melayaninya? Memangnya siapa dia?” sahut Key.

“Dia anak tuan Song, partner kerja tuan Kim.” Ucap Jaejoong.

“Ta.. tapi tapi saya ada pekerjaan yang lain tuan.” Ucap Key.

“Biar Jonghyun yang mengerjakannya.” Ucap Jaejoong.

Jihee tersenyum sinis.

“OK, aku suka ada yang melayani. Sekarang tolong kau antarkan jus Jeruk ke kamarku segera.” Ucap Jihee kepada Key lalu beranjak pergi seenaknya sendiri.

“Hyung~ kenapa kau lakukan itu kepadaku?” ucap Key kepada Jaejoong.

“Ini demi kebaikanmu juga.” Ucap Jaejoong.

“Kau tahu aku tidak suka berada dekat dengan yeoja semacam dia. Kau membuatku gila!!!” cletuk Key mengacak ngacak rambutnya.

“Memang itu tujuanku. Agar kau biasa melayani tamu. Terutama tamu yang kau angga[ merepotkan. Kau akan menjadi CEO di sini jadi kau harus tahu bagaimana caranya menangani masalah ini.” Ucap Jaejoong.

“Lalu hyung, sampai kapan kau di sini?” tanya Key.

“Sampai appamu sembuh. Aku tidak seberapa suka di sini karena istriku tidak menyukai tempat ini. Aku berharap appamu cepat sembuh.” Ucap Jaejoong lalu meninggalkan Key.

Key mendesah.

“Sekarang aku harus mengantarkan jus jeruk ke nenek sihir itu.” Ucap Key pasrah.

 

 

9 AM

 

Key masuk ke dalam sebuah kamar.

“Hya!!! Jika masuk bisa mengetuk pintu tidak?” triak Jihee.

“Pintunya sudah terbuka, jadi untuk apa mengetuk lagi.” Sahut Key.

“Ini jusmu.” Lanjut Key menyodorkan jus Jeruk kepada Jihee.

“Tidak~ tidak di sini. Tolong bawakan ke kolam renang dan sekalian bawa ini. Aku ingin berenang.” Ucap Jihee menyodorkan tas kepada Key.

Key menerimanya. Ia mendesah lalu beranjak pergi.

“Eit~ aku dulu. Kau di belakangku saja.” Ucap Jihee lalu berjalan ke luar kamar.

“Jangan lupa kunci pintunya.” Ucap Jihee lalu melenggak.

Key berusaha sabar.

 

Di kolam renang

Key mengawasi Jihee yang sedang renang. Ia benci pekerjaanya ini. Ini pertama kalinya ia bekerja seperti ini. Ia memandang jus jeruk Jihee. Jus itu di minum tidak sampai ¼ oleh Jihee.

Key mengambil HPnya di sakunya. Ia sibuk dengan HPnya.

Beberapa menit kemudian seseorang menjerit.

“Astaga~ yeoja itu tenggelam!” seru seseorang.

 

 

 

To be continue…

 

Maaf telat

Jangan lupa komentarnya ^^

Gomawo ^^

It Has To Be You 2 (chapter 8)

Standar

Jangan nangis

Jangan Kecewa

Jangan gebukin author

Seru abis chap ini ^^

Genre: Tragedy, Family, Friendship, Love

Cast: Super Junior, Jeoran, Hyekyu, Eunjo, Hyobyun

PG: 15

 

*PLEASE DON’T BE SILENT READER!!! HELP AUTHOR WITH GIVE COMMENT*

It Has To Be You 2 chpater 8

-Don’t Cry My Love-

 

©©©©©©©

 

Beberapa orang berdiri memadangi sebuah makam. Beberapa saat kemudian, satu demi satu dari mereka pergi meningglkan makam. Seorang yeoja berlutut di dekat makam itu. Ia tidak berkedip memandangi makam itu. Seorang yeoja lain mendekatinya, ia berlutut dan berkata,

“Jeongmal mianhae. Ini semua salahku.” Ucap Yeoja itu lalu menangis.

Ia bengkit.

“Jeoran kami pergi diri.” Ucap seorang namja.

Namja dan yeoja itu pergi meninggalkan Jeoran sendiri di makam.

“Sudah habis air mataku. Tak ada setitik air mengalir di kedua pipiku. Kini kau dapatkan yang kau mau. Aku tak akan pernah menangis seumur hidupku.” Ucap Jeoran.

“CUT~!!!” triak seseorang.

“Ya bagus Jeo!” lanjut orang itu.

Seseorang mendekati Jeoran.

“Akting yang bagus. Tidak ku sangka kau akan sehebat ini.”

Jeoran tersenyum.

“Gomawo Siwon.” Ucap Jeoran.

“Kau mengalahkan aku. Aish~ sepertinya aku selalu kalah denganmu.” Sahut seorang yeoja.

“Tidak juga Hyobyun. Aktingmu jauh lebih bagus denganku. Kau bisa memerankan berbgai macam peran. Sedangkan aku, aku hanya bisa memerankan diriku sendiri.” Sahut Jeoran.

“Jeo!” seru sesorang.

“Eunjo.” Cletuk Jeoran.

“Kau sudah selesai syuting?” tanya Eunjo.

Jeoran mengangguk.

“Aku tidak sabar menonton MVmu yang ini.” Ucap Eunjo.

“Ceritanya menyedihkan.” Sahut Hyobyun.

“Ya, ini diambil dari kisah kehidupan Jeoran.” Sahut Siwon.

“Apakah kau menangis Jeo?” tanya Eunjo.

Jeoran tersenyum.

“Sudah habis air mataku. Tak ada setitik air mengalir di kedua pipiku. Kini kau dapatkan yang kau mau. Aku tak akan pernah menangis seumur hidupku.” Ucap Jeoran.

Eunjo menangis.

“Kenapa kau menangis?” tanya Jeoran heran.

“Bagaimana aku tidak menangis. Kau melantukan lagu itu. Lagu yang membuatku mengenang masa-masa itu. Lagu tentang kehidupanmua. Aku jadi menangis. Itu sungguh menyedihkan.” Isak Eunjo.

Semua orang tertawa. Eunjo ikut tertawa.

“Lalu di mana dai?” cletuk Eunjo menghapus air matanya.

“Ia dari tadi aku tak melihatnya.” Sahut Siwon.

“Perasaan saat syuting tadi aku melihatnya. Lalu saat syuting berakhir dia menghilang begitu saja.” Sahut Hyobyun.

Jeoran memandang sekelilintg. Ia mencari sesosok orang.

©©©©©©©

“Aku tidak menyangka akan berakhir seperti itu.” Cletuk Hykyu.

“Berakhir? Apa yang berakhir?” sahut Kyuhyun.

“Yesung oppa.” Sahut Hyekyu

“Tidak ada yang berakhir.” Sahut Kyuhyun.

Hyekyu memandang Kyuhyun.

“Ini baru saja di mulai. Ini awal yang baru. Kehidupan yang baru.” Ucap Kyuhyun.

“Awal yang baru?” sahut Hyekyu.

“Semau orang mulai membuka lemabran yang baru.” Ucap Kyuhyun.

“Lembaran baru?” sahut Hyekyu.

“Termasuk aku.” Sahut Kyuhyun.

“Kau?” sahut Hyekyu.

“Ne~ aku memutuskan untuk bertunangan dengan yeoja itu.” Ucap Kyuhyun pelan.

Pandangannya lurus ke depan.

“Bertunangan? Yeoja itu siapa?” Sahut Hyekyu.

“Yang jelas yeoja itu mencintaiku dan menerima aku apa adanya.” Sahut Kyuhyun.

“Nugu?” sahut Hyekyu.

Kyuhyun bangkit dari tempat duduk. Ia menujuh ke mobilnya kemudian ia kembali lagi dengan membawa sebuah undangan. Ia menyerahkannya kepada Hyekyu. Hyekyu menerimanya. Ia langsung membuka undangan itu dan membcanya. Ia tertegun.

©©©©©©©

“Apa yang kau lamunkan?” tanya Siwon.

“Hm?” sahut Hyobyun.

Siwon duduk di samping Hyobyun.

“Ada yang kau pikirkan?” tanya Siwon sekali lagi.

“Aku memikirkan apa yang telah aku lakukan.” Jawab Hyobyun.

“Aku merasah aku sangat bersalah. Tak seharusnya aku di sini.” Lanjut Hyobyun.

“Mereka sudah memaafkanmu.” Ucap Siwon.

“Benarkah begitu?” sahut Hyobyun.

“Tentu saja.” Ucap Siwon.

“Meski begitu aku tetap bersalah. Aku telah membuat luka yang begitu besar. Aku telah membuat dosa besar. Aku telah menusuk orang lain dari belakang. Aku…”

‘Chup~’ Siwon menempelkan bibirnya di bibir Hyobyun.

“Jangan bicara lagi. Jangan menylahkan diri sendiri. Itu sudah berlalu. Itu hanya kecelakaan.” Ucap Siwon.

Hyobyun memandang Siwon dalam.

“Wae? Kenapa kau begitu peduli denganku?” ucap Hyobyun.

“Karena aku mencintaimu.” Ucap Siwon.

©©©©©©©

“Ada perlu apa kau mengajakku kemari?” tanya Hyukjae.

“Aku ingin curhat.” Sahut Eunjo.

Hyukjae terkejut.

“Kenapa kepadaku? Kenapa tidak kepada Jeoran?” sahutnya.

“Aku tidak ingin membebaninya. Lagi pula aku tidak tahu di mana dia sekarang. Tadi seseorang menghubunginya lalu ia pergi begitu saja. Meninggalkanku sendiri di lokosi stuting.” Ucap Eunjo.

Lalu ia meneguk minumanya.

“Hidupku hancur Hyuk.” Cletuk Eunjo.

“Hancur?” sahut Hyukaje.

“Ne~ ternyata Siwon lebih memilih Hyobyun dari pada diriku.” Ucap Eunjo.

“Itu jelas. Sekarang aku ini siapanya? Aku hanya orang baru di hidupnya. Aku aneh. Aish~ perasaan ini membuatku gila.” Lanjutnya.

“Kau mengatakan perasaanmu kepadanya?” tanya Hyukjae.

Eunjo menggeleng.

“Ia sudah tahu bahawa aku menyukainya. Ia mengatakan bahwa aku kagum kepadanya, bukan mencintainya. Apakah rasa kagum dan cinta itu berbeda? Ku rasa sama saja.” Ucap Eunjo lalu meneguk habis minumannya.

“Lalu bagaimanakah rasa cinta itu? Mengapa aku tidak merasakan rasa cinta itu?” ucap Eunjo.

“Kau harus terbuka. Jangan menutup dirimu. Cobalah melihat orang di sekelilingmu.” Sahut Hyukjae.

“Huft~ aku ingin bersenang-senang saat ini.” Cletuk Eunjo.

“Baiklah ikut aku.” Seru Hyukjae menarik tangan Eunjo.

©©©©©©©

Hyekyu mengejar-ngejar Kyuhyun. Ia berusa memukul namja itu.

“Hya jangan lari kau!!!” triak Hyekyu.

Kyuhyun tidak mengacuhkannya. Ia tetap berlari mengitari pantai.

“Hya namja pabo….”

‘BRUK’

Kyuhyun berhenti karean Hyekyu berhenti berteriak. Ia memalingkan tubuhnya. Ia mendapati Hyekyu terduduk memandangi lututnya. Kyuhyunpun bergegas mendekatinya.

“waeyo?” tanya Kyuhyun.

Hyekyu menangis.

“Ini semua salahmu!” isak Hyekyu.

“Mwo? Kenapa menyalahkanku?” sahut Kyuhyun.

Hyekyu menjerit. Ia menangis.

“Aku tak percaya ini.” Triaknya.

Kyuhyun menempelkan bibirnya di bibir Hyekyu. Yeoja itu mulai terdiam. Yeoja itu berhenti merengek kesakitan. Air matanyapun berhenti.

“Sekarang kau percaya? Bagaimana rasanya? Menyengkan bukan?” ucap Kyuhyun yang baru saja melepasakan bibirnya dari bibir Hyekyu.

Hyekyu tertunduk wajahnya merah padam.

Kyuhyun tersenyum simpul.

“Itukan yang kau inginkan?” cletuk Kyuhyun.

Hyekyu tetap tertunduk.

Kyuhyun menggendong Hyekyu.

“Ayo kita pulang! Kita harus istirahat. Besok kita harus memilih busana untuk pertunangan kita.” Seru Kyuhyun.

“Apkah ini benar?” celtuk Hyekyu.

“Apakah ini keputusan yang benar?” lanjut Hyekyu.

“Aku mencintaimu dan kau menicntaiku.” Sahut Kyuhyun menggendong Hyekyu menujuh ke mobil.

“Apakah aku menicntaimu?” ucap Hyekyu.

“Dengarkan jantungmu. Kau akan tahu.” sahut Kyuhyun.

Hyekyu berusaha mendengarakan jantungnya. Detak jantungnya sungguh cepat. Sekujur tubuhnya bergetar. Ia memadang wajah Kyuhyun lalu Kyuhyun memandangnya. Hyekyu membuang muka, wajahnya merah lagi.

“Sudah sudah, wajahmu sudah merah. Apakah mau memungkiri perasaanmu sendiri?” cletuk Kyuhyun.

‘Hm~ gomawo telah mencintaiku. Akhirnya aku dapat merasakan cinta sesungguhnya. Saranghae~’ batin Hyekyu.

©©©©©©©

“Kau sering kemari?” cletuk Eunjo.

“Dulu.” Sahut Hyukjae.

“Apa kita akan menari? Dance seperti mereka?” ujar Eunjo.

Hyukjae tersenyum simpul.

“Yo Eunhyuk! Lama tak bertemu dengamu.” Ucap seorang namja.

“Ya lama sekali. Aku tidak menyangka kau masih mengingatku.” Ucap Hyukjae.

“Akukan temanmu~ apa kau mau tunjukan kebolehanmu?” ucap namja itu.

“Bagaimana klo kita aduh kebolehan?” sahut Hyukjae.

Namja itu mengangguk.

“Kau kenal dengannya?” tanya Eunjo.

Hyukjae mengangguk.

“Dia temanku. Sudah lama tidak bertemu dengannya.” Ucap Hyukjae.

“Tadi dia memanggilmu apa?” tanya Eunjo.

Hyukjae hanya tersenyum. Ia memandang ke depan. Temannya sedang menunjukkan kebolehannya.

“Wow dia hebat!” seru Eunjo terpukau.

“Siapa namanya?” tanya Eunjo kepada Hyukjae.

“Donghae. Lee Donghae.” Jawab Hyukjae.

“Donghae?” sahut Eunjo.

“Waeyo?” sahut Hyukjae.

“Tidak apa-apa aku hanya familiar dengan namanya.” Ujar Eunjo.

“Lihat aku baik-baik. Ku harap apa yang aku lakukan dapat membuatmu senang.” Cletuk Hyukjae.

Ia berjalan ke tempat dance dan mulai menujukkan kebolehannya. Ia bergerak sesuai irama.

Eunjo terpukau.

“Aneh~ aku merasa pernah mengalami ini sebelumnya.” Cletuk Eunjo.

“Excellent~! He is Eunhyuk The Allrisesilver!!!” ujar seseorang pada pengeras suara.

Eunjo tersentak kaget.

“Eunhyuk The Allrisesilver?” cletuknya.

Hyukjae tersenyum ia berjalan mendekati Eunjo.

“Bagaiamana? Apakah pertunjukan tadi memukau?” tanya Hyukjae.

Eunjo terdiam.

“Oh ya bukankah kau Eunjo?” sahut Donghae menunjuk Eunjo.

Eunjo mengangguk pelan.

“Wah hyuk kau mendapatkan apa yang kau mau ternyata.” Ucap Donghae menepuk pundak Hyukjae.

“Kau tahu dia sudah lama menyukaimu. Sejak SMP dulu.” Ucap Donghae.

Eunjo tertegun.

“Maksudmu~ surat dengan ibnisial HJ.L itu dar dia?” ujar Eunjo menunjuk Hyukjae.

Donghae mengangguk.

“HJ.L Hyukjae Lee. Lee Hyukjae. Itu nama aslinya.” Ujar Donghae.

Eunjo tertetun. Ia memandang Hyukjae. Namja itu menggaruk-nggaruk kepalahnya. Ia sama tertegunnya dengan Eunjo.

“Kenapa kau mengatakkannya Donghae~” cletuk Hyukjae.

“waeyo?” sahut Donghae.

“Hyukjae, Eunhyuk, Allrisesilver mereka dalah orang yang sama?” cletuk Eunjo.

“ye~” sahut Donghae.

Eunjo mendesah.

“Mianhae Eunjo.” Ucap Hyukjae.

“Tidak termaafkan.” Sentak Eunjo.

Hyukjae & Donghae terkejut.

“Hyuk apa yang terjadi?” bisik Donghae di telingah Hyukjae.

“Dia belum mengenalku. Kami baru saja dekat. Ini karena majikanku adalah sahabatnya.” Bisik Hyukjae di telingah Donghae.

“Ku dengar kau seorang bodygaurd dan sahabat Eunjo adalah Jeoran. Mereka masih bersahabat bukan.” Bisik Donghae.

Hyukjae mengangguk.

“Jadi majikanmu Jeoran?” sentak Donghae.

“Hyuk aku benar-benar tidak dapat memaafkanmu!” triak Eunjo lalu melangkah pergi.

“Kenapa pergi Eunjo?” ujar Donghae.

Eunjo berhenti melangkah.

“Bukankah kau menyukai Allrisesilver?” ujar Donghae.

“Apa yang kau katakan Donghae. Sudah jangan membuatnya marah.” Sahut Hyukjae,

“Kau sering kemari bukan? Melihat Allrisesilver manari. Bahkan saat Allrisesilver menghilang kau tetap kemari berharap dapat menemukannya lagi.” Ujar Donghae.

“Donghae sudah.” Ucap Hyukjae.

“Setaipkali kemari kau bertanya pada karyawan di sini apakah Allrisesilver datang.” Ujar Donghae.

Eunjo berbalik. Ia menangis.

“Eunjo~” ucap Hyukjae.

“Aku sudah lama menunggu. Kenapa kau sepengecut itu.” Isak Eunjo.

Hyukjae mendekati Eunjo lalu memeluknya.

“Jeongmal mianhae. Aku tidak tahu harus bagaimana.” Ucap Hyukjae.

“Saranghae~” lanjutnya.

©©©©©©©

Jeoran memandang dirinya di cermin.

“Kau mau kemana?” tanya seseorang.

Jeoran berbalik.

“Aku hendak menemui seseorang, ahjumma.” Ucapnya.

“Nugu?” tanya nyonya Kang.

Jeoran tersenyum simpul.

“Sepertinya aku tahu siapa.” Ucap Nyonya Kang.

“Apakah ada supir?” cletuk Jeoran.

“Apakah Hyukjae tidak ada?” tanya Nyonya Kang.

“Aku menyuruhnya untuk libur hari ini.” Ujar Jeoran.

“Baiklah pak Lee yang mengantarkanmu.” Ucap Nyonya Kang.

“Aku berangkat sekarang.” Ucap Jeoran.

©©©©©©©

Jeoran celingukkan. Ia memastikan apakah ia berada di alamat yang benar. Ia menelusuri jalan setapak. Tidak ada siapapun. Tempat itu sungguh sepi. Jalanan hanya di terangi cahaya lilin yang berada di sepanjang jalan.

Jeoran mulai mendengarkan alunan melodi piano. Lalu ia menemukannya. Ia menemukan dari mana melodi itu berasal. Ia melihat sebuah grand piano putih di depannya. Seseorang sedang bernyanyi.

Kau kekuatan yang membangkitkanku

Membangunkanku dari mimpi burukku

Kau terangiku di setiap waktu

Dengan cahaya yang terpancar dari lubuk hatimu

Kau adalah malaikatku

Bawalah aku bersamamu

Kau adalah malaikatku

Izinkan aku bersamamu

Kau adalah malaikatku

Selamatkan aku dengan kekuatnmu

Tak pernah ku rasakan waktu

Saat bersamu semua membisu

Hidupku hanya untukmu

Tak ada yang lain selain dirimu

Kau adalah malaikatku

Bawalah senyummu kepadaku

Kau adalah malaikatku

Izinkan aku mencintaimu

Kau adalah malaikatku

Selamatkan aku dengan cintamu

Jeoran menepuk tangannya.

“Sunguh indah.” Ucap Jeoran.

“Apa judulnya?” tanyanya.

“My Angel.” Sahut namja yang duduk di depan grand piano.

“Kapan kau menciptakannya?” tanya Jeoran.

“Sudah lama~ tapi bagian akhirnya belum selsesai. Seminggu yang lalu aku menyelesaikannya.” Jawab namja itu.

“Jangan bilang kau menciptakaannya bersama lagu It Has To Be You.” Ujar Jeoran.

“Kau benar. Aku menciptakan lagu My Angel ini bersama dengan lagu It Has To Be You.” Sahut namja itu yang tak lain adalah Yesung.

“Kau sungguh memukau.” Ucap Jeoran.

“Benarkah?” Sahut Yesung.

Jeoran tersenyum.

“Kau suka tempat ini?” cletuk Yesung bangkit dari tempat duduknya.

“Ne~” ucap Jeoran.

Yesung mengulurkan tangnnya.

Jeoran tersipu malu. Ia meletakkan tangan kirinya di atas tangan yesung.

“Ini seperti dongeng. Kau berlagak seperti pangeran.” Ucap Jeoran yang kini berjalan bersama Yesung.

Mereka berjalan ke meja makan yang terletak tak jauh dari grand piano.

“Kau tidak tahu? aku seorang pangeran.” Cletuk Yesung.

Lalu ia mempersilahkan Jeoran duduk. Ia bersikap romantis. Bertingkah layaknya seorang pangeran. Kemudian ia duduk di depan Jeoran.

“Pangeran apa?” celtuk Jeoran.

“Coba kau tebak.” Sahut Yesung.

Jeoran mencoba berpikir.

“Pangeran Kodok.” Cletuk Jeoran.

Yesung tersenyum simpul.

“Jika aku pangeran kodok berarti kau telah menciumku hingga aku bisa kembali seperti ini.” Ucap Yesung.

Jeoran tertegun.

“Waeyo? Apakah itu banar?” tanya Yesung

#FLASH BACK#

Mata Jaeoran terpejam. Ia mendengar suara yang konstan. suara itu berasala dari namja yang berbaring di hadapannya. Ia menggennggam erat tangan namja itu.

“Yesung~ sampai kapan kau akan tidur seperti ini?” ucap Jeoran.

“Yesung~ kau sedang berakting ya? Kau ingin merasakan menjadai Jungjae? Kau ingin aku memperhatikanmu layaknya aku memperhatikan Jungjae dulu?” lanjut Jeoran.

Ia memejamkan matanya.

“Yesung~ apakah kau mendengarkan suaraku? Aku memanggilmu Yesung. Aku membutuhkanmu Yesung.” Ucap Jeoran.

Beberapa saat kemudain ia bangkit. Ia memadang wajah Yesung. Ia mengecup bibir Yesung yang dingin kemudian yesung kejang-kejang. Jeoran panik. Ia segara memanggil suster dan dokter.

#FLASH BACK END#

“Appamu Neptunus.” Cletuk Yesung menyantab makan malamnya.

Jeoran berhenti makan.

“Maksudmu aku ini adalah putri duyung dan kau pangerannya?” ucap Jeoran.

“Kisah kita hampir seperti itu.” Ucap Yesung.

Jeoran tersenyum.

“Kau ada-ada saja. Kau bukan pangeran itu. Tapi~” ucap Jeoran.

“Tapi apa?” sahut yesung.

“Kau adalah seorang Pangeran yang kehilangan suaranya. Kau memutuskan untuk berdiam diri di menarah putih tanpa seorangpun yang menemui.dari menara itu kau dapat melihat banyak hal. Termasuk seorang putri miskin yang tetap tersenyum meski seorang yang di cintainya akan pergi meninggalkannya. Kau tak bisa melupakannya hingga kau memutuskan turun dari menarah putih dan mencarinya. Saat kau menemukannya kau menyadari bahwa putri itu memiliki seseorang di sisinya. Kau tak berani mendekati putri itu. Kau hendak kembali ke menarahmu tapi kau terjatuh ke sebuah jurang. Tapi kau selamat. Kau berjalan pulang kembali ke menarahmu. Lalu seseorang menghadangmu. Dan mengatakan bahwa kau ingin bertemu dengannya sebelumnya. Kemudain kau menyadari. Bahwa kau pernah menemui seorang putri. Kau menyangka dia putri itu karena saat itu kau sedang terluka. Matamu tak dapat melihat dengan jelas. Saat kau sembuh, hatimu terluka menyadari bahwa putri yang bersamamu bukanlah putri yang kau cari. Kau memutuskan untuk kabur dan mencari putri itu. Kau terjatuh lagi dari jurang. Dan seorang putri membantumu. Putri itu adalah putri yang kau cari.” Cerita Jeoran.

“Ku rasa kau bakat jadi penulis.” Cletuk Yesung lalu tersenyum.

Jeoran tersenyum.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Jeoran.

“Aku pangeran yang sungguh malang.” Ucap Yesung.

Jeoran tertawa.

Mereka melanjutkan makannya dan terdiam. Mereka mendengarkan alunan melodi yang tiba-tiba terdengar. Melodi itu seaka-akan membuat mereka membisu.

“Kau mengatur ini juga?” cletuk Jeoran setelah selesai makan.

“Aku mengatur ini semua. Dengan bantuan beberapa orang tentunya.” Jawab Yesung.

“Music Classic memang membuat kita tenang.” Ucap Jeoran.

“Ayo!” seru Yesung.

“Ayo apa?” sahut Jeoran.

Yesung bangkit dan meraih tangan Jeoran. Ia mengajak tempat yang kosong.

“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Jeoran.

“Menari.” Jawab Yesung.

Yesung menuntun Jeoran menari waltz. Kemudian di lanjutkan dengan swing.

“Kau tahu Yesung, kau benra-benar berdarah bangsawan. Tapi apakah kau tahu, mungkin aku bisa menari waltz karena temponya lambat. Tapi yang ini ku rasa tidak.” Ujar Jeoran.

“Kenapa tidak? Aku akan membimbingmu.” Ucap Yesung.

Dan tepat setalh itu, Jeoran tergelincir. Yesung langsung menarik tangan Jeoran. Mendekat Jeoran dipelukannya. Ia dapat merasakan denyut jantung Jeroan berdetak kencang. Yesung mengangkat keplah Jeoran ke atas. Lalu secara perlahan ia menempelkan bibirnya di bibir Jeoran. Ia mengulum bibir Jeoran.

Setelah itu Yesung berlutut di hadapan Jeoran.

“My Angel~ you are the only one I love. I give my heart for you because I love you.” Ucap Yesung.

Ia menunjukkan kotak kecil berisis cincin dan berkata,

“Would you marry me?”

Jeoran mengangguk lalu memluk Yesung.

“Saranghae” ucap Yesung dan Jeoran bersamaan.

©©©©©©©END©©©©©©©

Jangan Lupa komentarnya ^^

I will give you gift ^^