When I Knew The Meaning of Love (chapter 8)

Standar

Cast: Minho, Taemin, Onew, Key, Jonghyun, Jaerin *Lyra*, Hyoah *Intan*, Jira *Iha*, Jihee *Reeha*, Jaejoong

Genre: Romantic, Friendship

PG: 15

 

PLEASE DON’T BE SILENT READER, PLEASE COMMENT. AUTHOR NEED YOUR COMMENT. THANKS BEFORE

 

When I Knew The Meaning of Love chapter 8

-The Meaning of Love-

 

Key memandang ke kolam renang. Yeoja itu Jihee. Yeoja itu berenang hingga ke dalaman 2 meter. Key tidak habis pikir. Yeoja itu tidak dapat berenang tapi sok sokan.

Key melepaskan kemejanya dan sepatunya lalu ia meluncur ke dalam kolam renang. Ia meraih Jihee dan membawa yeoja itu ke tepi. Seseorang membantunya membawa Jihee ke daratan. Lalu ia naik ke daratan dan membantu Jihee. Ia memberikan pertolongan pertama kepada Jihee.

“Yeoja paboya.” Ucap Key begitu melihat Jihee tersadar.

“Tolong ambilkan handuk.” Pintah Key kepada seorang karyawan yang ada di dekatnya.

Jihee bangkit. Ia sedikit terkejut.

“Sudah bagus tadi kau bermain air di kedalaman 1,5 meter. Kenapa nekat ke 2 meter? Kau tahu sendiri kau tidak bisa renang. Kau merepotkan saja.” Ucap Key.

Seseorang memberikan 2 handuk kepada Key. Key memberikan salah satunya kepada Jihee. Tapi Jihee tidak menerimanya. Jihee malah menangis. Key mendesah. Key menutupi tubuh yeoja itu dengan handuk lalu menggendong yeoja itu.

“Kau berat sekali. Berapa beratmu.” Ucap Key.

Tangis Jihee meledak.

“Key!!!” sentak Jaejoong yang muncul tiba-tiba.

“Kau apakan dia?” sentak Jaejoong.

“Saya tidak mengapa-ngapakan dia tuan. Dia habis tenggelam. Saya menyelamatkannya.” Ucap Key.

“Bagaimana bisa dia bisa tenggelam? Kau pasti teledor.” Sahut Jaejoong.

“Maafkan saya tuan.” Ucap Key.

“Jangan minta maaf kepada saya. Minta maaflah kepada dia.” Sahut Jaejoong.

“Baik.” Ucap Key.

“Saya masih banyak urusan. Jadi tidak bisa selalu mengawasi. Tolong jangan terulang lagi.” Ucap Jaejoong lalu meninggalkan Key.

Key lanjut berjalan. Ia masuk ke dalam kamar Jihee dan membaringkan Jihee di tempat tidur. Kemudian Key menyelimuti yeoja itu.

“Apakah kau tadi berniat bunuh diri? Karena payah hati?” tanya Key.

Jihee diam.

“Aku tidak tahu apa yang ada di otak kalian.” Ucap Key.

“Suka mengejar-ngejar orang yang di cintainya, pemaksa, manja, merepotkan.” Lanjut Key.

Ia berjalan mendekati jendela. Ia memandang ke luar.

“Yeoja sepertimu memang orang yang aneh.” Cletuk Key.

“Tidak aneh!” sahut Jihee.

“Yeoja itu sungguh rapuh. Kerikil kecil saja bisa memecahkan hatinya.” Isak Jihee.

Key memalingkan tubuhnya menatap Jihee.

“Aku melakukan itu semua untuk memuaskan hatiku. Aku ingin mendapatkan yang aku mau. Aku tidak bisa jika aku tidak mendapatkan yang ku mau. Karena itu sungguh menyakitkan di hatiku.” Isak Jihee.

Key terdiam. Ia berjalan menujuh ke kamer mandi. Beberapa menit kemudian ia keluar.

“Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Berendamlah untuk menenangkan pikiranmu.” Ucap Key kepada Jihee lalu pergi ke luar kamar.

 

 

10.03 AM

 

Jonghyun berujalan menujuh café. Ia mendapati Key duduk melamun. Ia mendekati Key dan duduk di dekatnya.

“Apa yang kau lamunkan?” tanya Jonghyun.

Key tersadar dari lamunannya.

“Tidak~ tidak ada.” Ucap Key lalu meneguk soda yang ada di hadapannya.

Jonghyun tersenyum simpul.

“Kau tidak bisa membohongiku. Katakanlah apa yang kau pikirkan, aku akan membantumu.” Ucap Jonghyun.

Key berpikir sejanak. Kemudian ia berkata,

“Apakah yeoja itu sungguh rapuh?”

“Ye~ yeoja itu sungguh rapuh. Mereka muda terluka. Tapi banyak dari mereka yang kuat menahan luka. Ada juga yang tidak dapat menahan luka mereka sehingga mereka sering kali menangis.” Terang Jonghyun.

“Apa kau pernah membuat yeoja menangis?” tanya Key.

“Pernah. Termasuk eommaku. Aku tidak bermaksud untuk membuat mereka menangis;. Tapi aku tidak ingin dikengkang oleh mereka.” Ucap Jonghyun

“Cantik~ aku pesan cappucino. Kau antarkan ya.” Cletuk Jonghyun kepada waiter yang melintas.

Key mendesah.

“Kau genit.” Cletuk Key.

Jonghyun tersenyum simpul.

“By The Way kenapa kau bertanya soal itu?” tanya Jonghyun.

“Tidak apa-apa.” Ucap Key.

“Baiklah jika kau tidak ingin mengatakannya.” Ucap Jonghyun.

Mereka terdiam.

“Apakah Minho berpacaran dengan Jaerin?” tanya Jonghyun tiba-tiba.

Key menatap Jonghyun.

“Kenapa kau berpikir seperti itu?” sahut Key.

“Entahlah mereka sangat dekat. Katamu Minho belum pernah dekat dengan yeoja. Jadi aku pikir mereka berpacaran.” Ucap Jonghyun.

“Tidak~ mereka tidak berpacaran.” Ucap Key.

“Apa kau yakin?” tanya Jonghyun penasaran.

“Kenapa kau pertanyakan ini? Kau suka dengan Jaerin?” sahut Key.

“Ehm~ aku tertarik dengannya.” Cletuk Jonghyun.

Key memekul kepalah Jonghyun.

“Aish~ apa yang kau lakukan.” Sahut Jonghyun memegangi kepalahnya.

“Jangan dekati dia, dia bukan permainan.” Sahut Key.

“Memangnya siapa yang akan mempermainkanya.” Cibir Jonghyun.

“Kau seharusnya ingat kau seorang cassanova dan dia tidak mungkin tahan denganmu. Terlebih lagi kau terlalu bergairah & bernafsu. Dia pasti takut.” Sahut Key.

“Sepertinya kau tahu banyak tentangnya.” Ucap Jonghyun memandang Key.

“Dia hampir sama denganku. Tapi dia bisa menahan emosinya tidak sepertiku yang langsung mengomel-ngomel. Dan dia lebih mengerti cinta dari pada diriku. Aku tak tahu apa itu cinta. Apa artinya. Seperti yang kau tahu.” terang Key.

“Apakah kau sudah lama mengenal Jaerin?” tanya Jonghyun.

“Ani~ baru-baru saja. Karena suatu insiden.” Sahut Key.

“Insiden ciuman?” sahut Jonghyun.

Key mengangguk.

“Jaerin sangat marah saat Minho menciumnya. Ia lari dan menangis. Ia tidak dapat meluapkan amarahnya kepada Minho. Ia hanya menangis.” Ucap Key.

“Tapi aku dapat merasakan bahwa dia mencintaiku. Dia selalu gugup di dekatku.” Cletuk Jonghyun.

“Dia takut kau melakukan hal buruk padanya, maka ia sedikit aneh. Sudahlah sebaiknya kau cari yeoja lain saja jangan Jaerin. Sepertinya Minho mulai ada rasa dengannya.” Celtuk Key lalu bangkit meninggalkan Jonghyun.

“Ini cappucinonya tuan.” Ucap seorang pelayan meletakkan cangkir di meja Jonghyun.

Jonghyun hanya diam saja. Ia terdiam dalam lamunan hingga pelayan itu pergi.

“Aku yakin dia mencintaiku. Bukankah dulu dia mengejar-ngejarku. Membuntutiku setiap waktu.” Ucap Jonghyun pelan lalu menyesap kopinya.

 

 

11.35 AM

 

“Jinki boleh kah kami duduk di sini?” tanya seorang yeoja.

Jinki tersenyum.

“Aniyo~ aku ada janji dengan seseorang kami tidak ingin diganggu. Cari tempat yang lain ya.” Ucap Jinki.

“Ya~ biasanya kami boleh duduk bersamamu dengan chingumu7.” Ucap yeoja yang lain.

“Kali ini bukan sekedar chingu.” Sahut Jinki.

Para yeoja itupun meninggalkan Jinki. Mereka duduk di bangku kosong yang masih tersedia.

Jinki memandang makanannya. Ia sedikit tidak bernafsu makan. Ia hanya memain-mainkannya.

“Apa yang kalian bicarakan?” sahut seseorang.

Jinki mendongak. Ia melihat Hyoah berderi dengan mapan berisi makananan.

“Bukan apa-apa. Mereka ingin duduk bersamaku tapi aku menolaknya.” Ucap Jinki.

Hyoah duduk di sampingnya.

“Ku harap kau tidak menggoda yeoja lain.” Cletuk Hyoah.

“Yang ada mereka yang menggodaku. Bukankah kau memperhatikannya selama ini.” Sahut Jinki.

“Hm~ iya juga.” Ucap Hyoah lalu memakan makanannya.

“Jagi~ sepertinya makananmu enak. Boleh aku minta.” Cletuk Jinki.

“Makan makananmu sendiri. Bukankah makananmu masih utuh.” Sahut Hyoah.

Jinki menggeleng.

“Ani~ aku tidak mau makananku, aku mau makananmu.” Rengek Jinki.

Hyoah mendesah.

“Kau seperti anak kecil saja. Ini.” Ucap Hyoah menyodorkan piringnya.

Jinki menggeleng.

“Suapin~” ucapnya manja.

Hyoah memandang Jinki heran.

“Kenapa kau jadi manja begini? Apa kau tidak malu di lihat orang.” Cletuk Hyoah.

“Kitakan sudah berpacaran, sah sah saja dong jika kita seperti ini. Bukankah akan menyenangkan?” sahut Jinki lalu tersenyum kepada Hyoah.

“Asih~ aku tidak bisa menolakmu jika kau tersenyum seperti itu.” Ucap Hyoah.

Lalu ia menyuapkan makanan kepad Jinki. Ya mereka saling suap-suapan dan saling membelai. Beberapa yeoja yang melihat miris menangis melihat kemesraan Hyoah & Jinki. Mereka hampir menangis karena cemburu.

“Jagi~ sepertinya da yang tidak suka jika kita seperti ini.” Ucap Hyoah.

“Tidak usah dipedulikan, mereka harus menerima kenyataannya.” Ucap Jinki lalu mengecup kening Hyoah.

“Ada sisa nasi di bibirmu.” Ucap Jinki membersihkan bibir Hyoah.

Lalu ia mencium bibir Hyoah. Terdengar beberapa jeritan yeoja.

“Jinki~ tak seharusnya kau melakukannya di sini.” Ucap Hyoah. Setelah Jinki melepaskan ciumannya.

“Aku ingin menyakinkan mereka bahwa kau adalah yeojachinguku. Karena cinta tak dapat di tolak. Aku tidak mungkin memnyembunyikan betapa aku mencintaimu. Akan ku lakukan apapun demi mempertahankan cinta ini.” Ucap Jinki.

“Bisakah kau berkata dengan sederhana. Aku tidak dapat memahami kata-katamu.” Ucap Hyoah.

“Aku hanya mencoba memberikan pengertianku tentang arti cinta.” Ucap Jinki.

“Maksudmu kau lakukan ini karena kau tau arti cinta itu seperti ini.” Sahut Hyoah.

“Ye~ arti cinta~. Cinta itu memberi dan menerima. Saling berbagi.” Sahut Jinki.

“Aku ada arti yang lain.” Sahut Hyoah.

“Apa?” sahut Jinki.

“Cinta tak harus memiliki.” Ucap Hyoah.

“Maksudmu?” sahut Jinki.

“Aku sudah lama mencintaimu tapi aku tidak memilikimu. Aku cukup senang dengan hanya mencintaimu.” Terang Hyoah.

Jinki tersenyum.

“Tapi cinta indah pada akhirnya.” Ucap Jinki lalu merangkul Hyoah.

 

 

2.32 PM

 

“Jaerin kau tidak pulang?” tanya Jira.

“Aniyo~ aku masih ada tugas.” Jawab Jaerin sibuk membuka buku.

“Bailah, aku pulang dulu dengan Taemin.” Ucap Jira.

“Hm~” ucap Jaerin tidak berpaling dengan buku-bukunya.

“Jangan pulang larut.” Ucap Taemin.

“Hm~” ucap Jaerin.

“Hya~ Jaerin kau dengar tidak?” sentak Taemin.

“Ya ya aku mendengarnya. Aku tidak akan pulang larut.” Sahut Jaerin mentap Taemin.

“Baiklah kami pergu dulu.” Ucap Taemin.

Jira dan Taemin pergi meninggalkan Jaerin di kelas. Mereka berjalan ke laur.

“Kita jalan-jalan dulu ya Jira.” Ucap Taemin.

“Kemana?” tanya Jira.

“Kau ingin kemana?” tanya Taemin balik.

“Beli ice cream yuk.” Ucap Jira.

Taemin mengangguk.

“Ini kenakan helmmu.” Ucap Taemin menyodorkan helm kepada Jira.

Jira menggenakannya. Taemin juga menggenakan helmnya. Ia naik dan menyalakan sepeda montornya.

“Ayo naik!” seru Taemin.

Jira naik ke sepeda montor Taemin.

“Pegangan yang kuat.” Ucap Taemin.

Jira langsung melingkarkan tangannya di perut Taemin.

Beberapa menit kemudian mereka tiba di mall.

“Kenapa di mall?” cletuk Jira dalam perjalanan menujuh ke suatu tempat.

“Aku dengar ada toko ice cream di sini. Rasa ice creamnya enak-enak.” Ucap Taemin.

“Di mana?” tanya Jira.

“Itu di depan sana.” Sahut Taemin menunjuk ke sebuah arah.

Jira memandang arah yang di tunjuk Taemin. Ia langsung beragairah. Ia langsung menarik Taemin ke toko ice cream.

“Kau mau pesan apa Jira?” tanya Taemin.

“Cone rasa vanilla dan mint saja.” Ucap Jira.

“Cone rasa vanilla dan mint satu, cone rasa cappucino dan choco cips satu.” Ucap Taemin kepada pelayan toko ice cream.

Beberapa menit kemudian mereka ke luar toko sembari menikmati ice cream mereka.

“Kemana lagi kita?” tanya Jira.

“Ke game zone yuk!” seru Taemin.

Jira mengangguk.

“Ada sisa ice cream di bawah bibir mu.” Ucap Taemin membersihkan bagian bawah bibir Jira.

Lalu Taemin terdiam.

“Waeyo? Apa yang kau pikirkan?” tanya Jira.

“Ah, aniyio~ ayo kita ke game zone!” sahut Taemin.

Jira menjilati ice creamnya.

“Dia tampak aneh tadi.” Ujar Jira pelan.

Setibanya di game zone Jira meminta Taemin meminta Taemin untuk mendapatkan boneka di box boneka.

“Kau ingin boneka apa?” tanya Taemin.

“Terserah. Yang menurutmu bagus.” Ucap Jira.

“Pegangkan dulu ice creamku.” Cletuk Taemin menyodorkan ice creamnya kepada Jira.

Jira menerimanya.

“Ada sisa-sisa ice cream di bibirmu dan sekitarnya.” Ucap Jira menunjuk-nunjuk bibir Taemin.

“Jinca?” sahut Taemin.

Lalu ia mencium pipi Jira.

“Sekarang sudah tidak ada bukan.” Ujar Taemin.

“Iya sudah tidak ada tapi di pipiku ada.” Omel Jira.

Taemin tertawa lalu ia mencoba mendapatkan boneka di box boneka. Dan ia berhasil mendapatkan boneka kelinci berwarna merah muda.

Jira berlonjak-lonjak senang. Ia memeluk Taemin kemudian menyodorkan ice creamnya ke Taemin. Ia menerima boneka kelinci Taemin.

Ia girang. Ia memakan ice cream yang ada di tangannya lalu ia tersadar. Itu bukan ice cream miliknya.

“Aish~ ini ice cream milikmu. Cappucinonya pahit. Aku tidak seberapa suka.” Ujar Jira.

Taemin tertawa melihat ekspresi Jira. Ia memakan ice cream Jira yang ada di tangannya kemudian ia menempelkan bibirnya di bibir Jira. Ia mengulum bibirnya dengan bibir Jira. Ia menyesap sisa-sisa ice cream di bibir Jira.

“Sudah tidak pahit bukan.” Ucap Taemin setelah melepaskan ciumannya.

Jira terdiam merona.

“Bagaimana rasanya?” tanya Taemin.

“Manis~ seperti susu.” Ucap Jira pelan.

Taemin tersenyum. Ia mengacak-ngacak rambut Jira.

“Kenapa kau melakukannya. Lihat rambutku berantakan.” Omel Jira cemberut.

“Aku senang melihatmu seperti itu. Kau sungguh lucu.” Sahut Taemin.

“Kau senang aku yang susah.” Omel Jira cemberut.

“Mianhae~ Jangan marah padaku. Itu bukti sayangku padamu. Jika aku tidak akan menyakitimu. Jika kau tidak suka, baiklah akan ku lakukan itu padamu saat aku mau.” Sahut Taemin.

“Apa?” sahut Jira.

“Chu~” sahut Taemin.

“Kau pikir cinta hanya butuh chu.” Sahut Jira.

“Ani~ cinta lebih butuh perhatian dan pengorbanan. Maka dari itu aku akan selalu memperhatikanmu dan berkorban demimu.” Ucap Taemin.

“Gomawo Taemin~” ucap Jira memeluk Taemin.

 

 

4.05 PM

 

Jaerin membereskan mejanya yang penuh dengan brangnya. Ia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas lalu ia beranjak ke luar kelas. Suasana sungguh sepi.

“Kau belum pulang?” sahut seseorang hampir mengagetkan Jaerin.

“Ini aku mau pulang.” Ucap Jaerin.

“Jangan pulang dulu. Tontonlah pertandingan basket sekolah kita.” Ucap orang itu.

“Tapi aku tidak ingin pulang telat.” Ucap Jaerin.

“Ini tidak berlangsung lama. Mungkin 25 menit lagi selesai. Tolong dukung sekolah kita. Score pertandingan masih beda tipis.” Ucap orang itu.

“Baiklah. Aku akan menontonnya.” Ucap Jaerin.

“Pertandingannya ada di lapangan luar.” Ucap orang itu lalu berlari pergi ke arah berlawanan.

Jaerin mendesah. Ia tidak seberapa suka melihat pertandingan basket. Bahkan bisa di bilang ia tidak ingin melihat pertandingan basket. Basket hanya mengingatkannya kepada seseorang di masa lalu. Orang yang mirip dengan Minho, yaitu Donghae. Bedanya Donghae menomersatukan balapan lalu menomerduakan basket. Sedangkan Minho, ia menomersatukan basket lalu menomerduakan balapan.

Lapangan sungguh ramai dengan suporter. Kebanyakan dari mereka adalah yeoja. Jaerin tidak dapat melihat pertandingan karena tertutup oleh suporter. Lalu ia memutuskan untuk tidak melihat. Saat beranjak pergi, DUG~ sebuah bola basket mengenainya. Ia memegangi dahinya dan merintih ke sakitan.

“Kau tidak apa-apa?” tanya seseorang.

Jaerin menatap orang itu ia tersentak.

“Jaerin~ kau tak apa-apa?” tanya orang itu.

“Minho~ kau~” sahut Jaerin.

“Kami ada pertandingan hari ini.” Ucap Minho.

Ia mengambil bola basket yang mengenai Jaerin tadi lalu menarik Jaerin ke tepi lapangan.

“Duduklah di sini. Jangan pergi dulu.” Ucap Minho menyuruh Jaerin duduk bersama dengan pemain cadangan dari sekolahnya.

Lalu Minho masuk ke lapangan dan mulai bertanding.

“Hai Jaerin~ ini sekolahmu yach?” sapa seorang pemain cadangan.

“Oh hai~ iya ini sekolahku.” Sahut Jaerin.

“Ini, pakailah ini di kepalahmu.” Ujar seorang pemain cadangan menyodorkan bungkusan handuk berisi air es.

“Gomawo~” ucap Jaerin menerima pemberian orang itu.

“Key tidak ikut?” tanya Jaerin ketika tidak menemukan wajah Key di lapangan.

“Urusannya masih belum selesai.” Ucap salah seorang pemain cadangan.

Jaerin mengangguk. Ia mengompres keplahnya sembari memperhatikan Minho bermain. Para yeoja bersorak ketika melihat Minho mencetak score. Jaerin tidak habis pikir teman satu sekolahnya mendukung musuh. Ia hanya bisa geleng-geleng kepalah.

Beberapa menit kemudian pertandingan usai.

“Kau hebat sekali.” Ucap Jaerin.

Minho hanya tersenyum. Lalu meneguk air mineral.

“Sayang sekali tim basket sekolahku kalah. Padahal aku sudah-susah menyempatkan diri kemari untuk mendukung tim sekolahku.” Ucap Jaerin.

Minho terseledak. Ia terbatuk-batuk.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jaerin khawatir.

“Hya Jaerin jadi kau tadi tidak mendukung Minho?” sahut seorang pemain.

Jaerin sedikit bingung.

“Sudahlah jangan dipermasalahkan.” Ucap Minho.

“Mana ke dua chingumu itu?” tanya Minho kepada Jaerin.

“Mereka sudah pulang duluan.” Ucap Jaerin.

“Kenapa kau belum pulang?” tanya Minho.

“Aku mengerjakan tugas di kelas tadi. Dan baru saja selesai.” Ucap Jaerin.

“Kenapa tidak di selesaikan di apartemenmu saja.” Ucap Minho.

“Aku tidak punya bukunya. Tadi aku menggunakan buku milik temanku. Ini saja aku akan mengembalikannya.” Ucap Jaerin.

“Jadi sekarang kau ingin mengembalikan buku ke rumah temanmu?” tanya Minho.

Jaerin mengangguk.

“Akan ku antarkan. Aku membawa mobil.” Sahut Minho.

“Tidak usah. Pasti kau ada acara makan-makan dengan timmu. Kaliankan menang.” Sahut Jaerin.

“Tidak apa-apa aku bisa bergabung bersama mereka setelah mengantarkanmu.” Ucap Minho.

“Baiklah~ itu jauh lebih aman dari pada ke sana sendirian.” Sahut Jaerin.

 

 

 

5.01 PM

 

Key duduk di ayunan tepat di sebelah Jihee.

“Apa yang kau lamunkan?” tanya Key.

“Bukan urusanmu.” Sahut Jihee ketus.

“Itu akan jadi urusanku. Jika kau melamun terus masuk jurang, aku yang akan di salahkan. Bisa-bisa tuan Kim Jaejoong membunuhku.” Cletuk Key.

“Ternyata kau peduli pada dirimu sendiri.” Sahut Jihee.

“Bukannya kau begitu?” sahut Key.

Jihee mendesah.

“Tidak ada satu namjapun yang mau denganku. Sepertinya perkataanmu benar. Memang ada apa denganku hingga paran namja tidak menyukaiku.” Ucap Jihee mulai berayun.

Key memandang lurus ke dapan.

“Kau yeoja yang liar. Tidak dapat di kendalain. Namja tidak suka yeoja yang tidak dapat ia kendalian.” Sahut Key.

“Berarti namja suka memainkan yeoja.” Sahut Jihee.

“Bukan seperti itu. Namja tidak suka yeoja yang agresig. Itu sungguh menganggu. Kau sangat agresif dan kekana-kanakan.” Sahut Key.

“Jinca? Aku seperti itu?” sahut Jihee.

“Ye~” ucap key.

“Appa benar. Sepertinya aku harus bersikap dewasa. Lalu apa yang harus aku lakukan?” ujar Jihee.

“Berhenti menggantungkan orang lain dan bermanja-manaj.” Ucap Key.

“Kau mengatakn itu karena ingin keluar dari tugasmu melayaniku bukan?” sahut Jihee menatap Key.

“Akhirnya kau mengerti juga.” Sahut Key tertawa senang.

“Asih~ aku tidak akan melepaskanmu.” Sahut Jihee.

“Kenapa tidak bisa melepaskanku? Apakah kau menicntaiku?” sahut Key.

“Aniyo~” sentak Jihee beranjak dari ayunan.

“Aku tidak mencintaimu.” Sentak Jihee lalu pergi meninggalkan Key.

“Jika tidak cinta kenapa matah?” sahut Key lalu tertawa.

 

6.47 PM

 

“Aku duluan ya, aku ingin mengantarkan Jaerin pulang.” Pamit Minho kepada Temannya.

Ia dan Jaerinpun keluar dari rumah makan dan menujuh ke mobil. Mereka masuk ke dalam mobil dan menujuh ke rumah Jaerin.

“Sepertinya aku merepotkanmu saja.” Ucap Jaerin dalam perjalan.

“Aniyo~ aku senang melakukannya. Sudah lama aku ingin seperti ini. Dulu noonaku pernah melakukan ini kepadaku. Saat aku masih kecil. Aku sungguh merindukannya.” Ucap Minho.

“Apakah keluargamu sudah mencarinya ke segala tempat?” tanya Jaerin.

“Sudah. Kami sudah lapor ke kantor polisi dan mengumumkannya ke media massa tapi hasilnya nihil.” Ucap Minho.

“Setahun setelah menghilang orang tua memutuskan menganggap noonaku benar-benar meninggal. Mereka sangat marah dengan noonaku. Mereka melupakan noonaku.” Lanjutnya.

“Apakah kau begitu?” tanya Jaerin.

“Awalnya aku marah karena noonaku tidak mendengarkan perkataan orang tuaku. Tapi akhirnya aku mengerti dan aku tidak marah kepadanya. Aku smerindukannya. Aku yakin dia masih hidup. Mungkin ia berada di suatu tempat.” Terang Minho.

Lalu mereka terdiam.

Beberapa saat kemudian Minho mengerem mendadak.

“Ada apa?” tanya Jaerin panik.

“Sepertinya aku melihat noonaku.” Jawab Minho memandang ke arah pejalan kaki.

Ia menyelusuri para pejalan kaki dengan matanya.

“Apa kita turun saja dan mengeceknya?” saran Jaerin.

“Ani~ aniyo. Sepertinya aku salah lihat. Mungkin saja aku hanya membayangkannya karena aku sedang memikirkannya.” Ucap Minho lalu mejukan kendaraanya.

“Suatu saat kau pasti bertemu dengan noonamu. Oh ya jika boleh tahu siapa nama noonanamu?” cletuk Jaerin.

“Yeonra, Choi Yeonra.” Jawab Minho.

“Astaga~” cletuknya menagetkan Jaerin.

“Ada apa?” tanya Jaerin khawatir.

“Mungkin saja noonaku berusaha menemui kami tapi dia tidak menemukan kami. Kami pindah rumah setahun setelah dia menghilang.” Sahut Minho.

“Sebaiknya kita ke rumahmu yang dulu. Siapa tahu tetanggamu melihatnya datang ke sana.” Ucap Jaerin.

“Baiklah. Sekarang juga kita meluncur ke sana.” Ucap Minho.

 

 

7.35 PM

 

“Ini rumahmu yang dulu?” tanya Jaerin setelah turun dari Mobil.

“Ye~ sedikit lebih kecil dari rumah kami yang baru.” Ucap Minho.

“Jadi rumahmu yang baru jauh lebih besar dari ini?” sahut Jaerin.

Minho mengangguk.

“Ini saja sudah besar.” Ucap Jaerin.

Minho tidak mendengar apa yang di katakan Jaerin. Ia berjalan ke rumah tetangganya. Tepat sekali. Tetangganya keluar rumah dan mendapati Minho berjalan ke arahnya.

“Minho~” ucap tetangga Minho yang seorang halmeoni.

“Halmeoni~ bagaima kabarmu.” Sapa Minho.

“Aku baik-baik saja. Sudah lama aku tak bertemu denganmu. Kau sudah besar. Kau tinggi sekali.” Ucap  Halmeoni.

Minho tersenyum.

“Ne~” ucapnya.

“Oh ya, Yeonra. Choi Yeonra masih hidup.” Ucap halmeoni.

“Apakah dia kemari?” sahut Minho.

“Beberapa minggu yang lalu ia kemari dengan membawa anak dan suaminya.” Ucap halmeoni.

“Anak? Suami?” sahut Minho.

“Sepertinya noonamu itu kawin lari. Apa orang tuamu tidak mengizinkan mereka berhubungan?” ucap halmeoni.

Minho hanya terdiam. Jaerin angkat bicara.

“Apa dia memberi tau dimana ia tinggal?” tanya Jaerin.

“Siapa kau?” tanya halmeoni.

“Aku temannya Minho.” Ucap Jaerin.

“Oh~ dia mengatakan saat ini ia tinggal di rumah keluarga suaminya. Sebelumnya ia tinggal di rumah suaminya.” Terang halmeoni.

“Halmeoni tau siapa nama suaminya? Dan di mana suaminya bekerja?” tanya Jaerin.

“Nama suaminya. Kim~ Kim~ Kim siapa ya, aku lupa. Sepertinya suaminya itu orang kaya. Wajahnya tampan bagai malaikat. Ku rasa mereka sudah menjadi keluarga yang bahagia.” Terang halmeoni.

“Minho~ kau titipkan saj alamtmu kepada halmeoni. Jika noonamu kemari ia bisa meberikan alamatmu.” Bisik Jaerin.

Minho mengangguk.

“Kau ada kertas dan pen?” tanya Minho.

Jaerin mengangguk.Ia mengeluarkan kertas dan pen dari tasnya lalu memberikannya kepada Minho. Minho mencatat alamat rumah beserta nomer telpon rumah dan HPnya. Ia memberikannya kepada halmeoni.

“Tolong berikan kertas ini kepada noonaku jika ia datang kemari.” Ucap Minho.

“Aku ingat.” Cletuk halmeoni.

“Ingat apa?” sahut Minho penasaran.

“Dimana suaminya bekerja.” Sahut halmeoni.

“Dimana?” tanya Minho dan Jaerin bersamaan.

 

 

 

To Be continue…

 

Cepet banget ya udah posting ^^

author rada terbawa NC di chapter ini *ini aslinya FF NC* XD

Jangan lupa komentar ya ^^

Oh ya, author ada spinoff *cerita diluar cerita* yang munkin posting Januari besok =3

 

BTW enaknya di tamatin sampai berapa chapter ya ^^

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

30 responses »

  1. mian lyra baru baca. dari chap1 udah seru banget tp banyak kisseu nya haha~
    suka part taemin kissu smbl nge-ice cream haha *mulai yadong*

    oiya, hubungan jonghyun sm jaerin apa yah? aku bingung abisnya hehe~
    btw ditunggu chap berikutnya 🙂

    • Gwenchana~ biasalah~ klo gak ada kchunya~ kesannya gak romantis ^o^ Wah waktu itu saya lagi yadong. kebablasan ngetiknya ^o^

      Jaerin dulu pernah suka Jonghyun. dan Jonghyun sepertinya menyadari hal itu dan dia telat menyadari perasaannya kepada Jaerin.
      OK 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s