Lucifer (Key)

Standar

Annyeong ^^

Akhirnya posting FF Lucifer part Key. ini semua atas permintaan para readers.

Maaf ya klo kurang srek atau kurang puas. coz waktu mbuat author lagi yadong *Lucifer laugh*

Now silakan menbaca FF Romeo & Juliet eh Gali & Ratne eh bukan deh kayaknya. oh iya LUCIFER ^^

 

Cast: Key SHINee

Genre: Fantasy, romance

PG: 15

 

Please Don’t be Silent Reader if You Really Human Not Lucifer

 

Luicifer Key

 

-Lucifer-


Seorang namja asik bermain PSP. Di sebuah café. Beberap kali ia memandang keluar kaca jendela. Tujuannya cuma satu, mencari mangsa. Sehari biasanya ia mendapatkan 3 korban.

Sudah dua puluh lima menit ia duduk di café tapi ia tidak mendapatkan mangsa. Ia melihat arlojinya, sudah satu jam yang lalu anak sekolah pulang. Seharusnya ia mendapatkan korban. Dia tidak ambil pusing, ia sibuk bermain PSP.

Beberapa menit kemudian seorang yeoja duduk di depannya.

“Annyeong~” ucap yeoja itu.

Namja itu berhenti bermain PSP. Ia menatap yeoja yang ada di hadapannya. Ia tersenyum kepada yeoja itu.

“Annyeong~” ucapnya manis.

“Namaku Song Jihee.” Ucap yeoja itu mengulurkan tangannya. *nyolong nama bolehkan Reeha ^^*

“Kim Kibum. Panggil saja Key.” Ucap namja itu menjabat tangan yeoja bernama Jihee.

“Kau sendirian?” tanya Key.

“Ah aniyo~ aku bersama temanku.” Ucap Jihee memandang teman-temannya yang duduk tak jauh darinya.

Key tersenyum. Ia mulai melanjutkan aksinya. Pertama-tama ia mengajak Jihee jalan berdua. Lalu ia membuat Jihee benar-benar jatuh cinta kepadanya. Kemudian ia melakukannya. Ia mengambil jiwa Jihee. Setelah selesai mengambil jiwa Jihee ia meninggalkan Jihee.

“Dasar yeoja paboya.” Cletuk Key tersenyum ala devil sembari menatap tangan kanannya.

Ia memegang jiwa Jihee. Kemudian ia memasukkannya ke dalam liontin kalungnya yang berbentuk kunci.

Ia menyelusir jalanan mencari korban. Terkadang ia memberi senyuman kepada orang lain. Ia sekedar menyapa dengan senyuman. Orang itu sama dengannya. Seorang Lucifer.

 

 

 

 

*Di dunia yang berbeda*

 

 

“Berhantilah bermai-main dan seriuslah kepada pekerjaanmu!!!” sentak seorang ahjussi kepada Key.

Key tidak menghiraukan. Ia sibuk bermain PSP.

Ahjussi itu marah. Ia merampas PSP Key.

“Lihat hyungmu Jonghyun. Ia sudah mendapatkan banyak jiwa kenapa kau tidak seperti dia?” sentak ahjussi itu.

Key medesah.

“Aku tidak sepertinya appa~ Jika dia seorang cassanova aku hanya namja biasa.” Cletuk Key.

“Kau itu seorang Lucifer, mana mungkin tidak dapat melakukannya. Apakah cahayamu sudah cukup kuat?” sahut appa Key.

Key menunjukkan cahayanya yang ada di tangannya. Appanya menepis tangannya.

“Kau tidak pernah berlatih? Bagaimana bisa cahayamu menjadi seperti itu? Jika begini terus kau tidak bisa menjadi Lucifer.” Sentak appa Key.

“Aku tidak ingin menjadi Lucifer. Aku tidak berharap terlahir sebagai Lucifer. Aku ingin menjadi manusia biasa.” Sahut Key.

“Baiklah jika kau ingin menjadi manusia biasa. Aku akan mengabulkannya.” Ucap appa Key.

Key langsung girang. Ia memeluk appanya.

“Tapi dengan satu syarat.” Ucap appa Key.

“Apa syaratnya?” tanya Key.

“Kau mendapatkan seratus jiwa dalam waktu tujuh hari.” Ucap appa Key.

“Aish~ itu sangat berat.” Sahut Key.

“Aku juga merasa berat jika melepaskanmu menjadi manusai biasa.” Ucap appa Key.

 

 

 

*Di dunia manusia*

 

 

Key bermain game di game zone. Ia tampak frustasi dengan persyaratan appanya. Saat bermain game basket. Ia terlalu keras melemparkan bolanya hingga terpental dan mengenai orang.

“Aish! Siapa yang melakukannya.” Ucap seorang yeoja yang memegangi dahinya.

Ia mencari-cari seseorang kemudian ia berjalan mendekati Key.

“Kau yang melakukannya!” sentak yeoja itu memelototi Key.

Key sedikit takut dengan yeoja itu.

“Ye~” ucap Key pasrah.

Yeoja itu menarik kaos Key dan menyeret Key ke suatu tempat. Tempat yang sepi.

“Kau tidak tahu siapa aku?” ucap yeoja itu menatap tajam ke Key.

“Siapa? Bukan artiskan? Karena artis tidak mungkin sepertimu.” Sahut Key.

“Diam kau!” sentak yeoja itu.

“Kau pasti nenek sihir.” Sahut Key.

“Ternyata kau berani juga yach.” Ucap yeoja itu.

Yeoja itu menempelkan telapak tangan kirinya di dada Key. Key bisa melihat cahaya dari tangan yeoja itu. Dia meresakan kehangatan dari tangan yeoja itu.

“Kenapa tidak bisa?” cletuk yeoja itu memandangi tangannya.

Ia mengulangi lagi. Ia menempelkan telapak tangan kirinya di dada Key. Ia menekan Key.

“Apakah ini panas? Apaka ini sakit?” sentak yeoja itu.

Key tersenyum.

“Rasanya hangat seperti sinar matahari di musim panas.” Sahut Key.

Yeoja itu mendorong Key.

“Sebenarnya siapa kau?” tanya yeoja itu memegangi tangan kirinya.

“Menurutmu aku siap?” sahut Key.

“Aku tidak bisa mengambil jiwamu. Ini aneh.” Ucap yeoja itu.

Key mengangkat tangan kananya.

“Jelas kau tidak bisa mengambil jiwaku. Karena aku seorang Luicfer.” Ucap Key menunjukkan cahayanya di tangan kanannya.

“Jadi kau seorang Lucifer?” ucap yeoja itu ketakutan.

Ia berjalan mundur dan berlari. Key langsung meraih tangan yeoja itu. Yeoja itu memberontak. Seseorang melihat mereka. Key langsung saja mencium yeoja itu. Dan orang itupun pergi. Orang itu mengira Key dan yeoja itu adalah sepasang kekasih maka dari itu orang itu pergi.

Key tanpa sengaja menyedot sesuatu dari mulut yeoja itu. Ia memuntahkannya. Sebuah bola berwarnah biru tua.

“Kenapa kau laukan itu? Kembalikan bolaku.” Sentak yeoja itu lalu berusaha mengambil bola miliknya.

Key tidak memberikan bola itu kepada yeoja yang ada di hadapannya. ia mengangkatnya tinggi-tinggi dan berusaha membaca tulisan yang tertera di batu itu.

“Persefone?” cletuk Key.

“Kau tinggal di neraka?” tanya Key.

“Ne~ aku tinggal di neraka. Sekarang kembalikan bola milikku.” Ucap yeoja itu berusa merebut bola yang ada di genggaman Key.

Key menggeleng lalu ia menelan bola itu.

“Kenapa kau menelannya? Appaku bisa membunuhku.” Ucap yeoja itu.

“Siapa namamu?” tanya Key.

“Park Seoyoung.” Jawab yeoja itu.

“Seoyoung~ appamu tidak akan membunuhmu. Lagi pula kau tinggal di neraka pasti kau tinggal jiwa dan terkurung dalam neraka.” Cletuk Key.

“Aku tidak suka terkurung di nereka maka dari itu kembalikan bolaku.” Sentak Seoyoung.

Key menggelng.

“Aku tidak akan memberikannya kepadamu.” Ucap Key.

Seoyoung menarik kaos Key sehingga Key tertarik ke depan tepat di depan wajah Seoyoung.

“Kembalikan atau aku akan membunuhmu.” Ancam Seoyoung.

“Mengambil jiwaku saja kau tidak bisa. Bagaimana kau akan membunuhku?” sahut Key.

Seoyeong melepaskan Key.

“Aku akan mengembalikannya jika kau mau membantuku.” Ucap Key.

“Membantu apa?” sahut Seoyoung ketus.

“Membantuku mendapatkan seratus jiwa dalam waktu tujuh hari.” Ucap Key.

“Seratus jiwa? Dalam waktu tujuh hari?” sahut Seoyoung.

Key mengannguk.

“Gampang. Sehari aku bisa menangkap dua puluh jiwa.” Sahut Seoyoung.

“Menangkap?” sahut Key.

“Ne~ aku menangkap jiwa-jiwa yang melayang tanpa tujuan kemudian mengirimnya ke neraka.” Terang Seoyoung.

“Kau tidak pernah mengambil jiwa sesorang?” tanya Key.

Seoyoung menggeleng.

“Aku tidak bisa dekat dengan namja manapun. Jadi aku hanya menangkapnya. Lagi pula Lucifer lebih hebat melakukan itu ketimbang diriku.” Ucap Seoyoung.

“Aku hanya butuh jiwa-jiwa yeoja. Kau bisakan menangkapnya?” ujar Key.

Seoyoung berpikir.

“Ya~ lihat saja apakah ada jiwa-jiwa yeoja yang melayang.” Ucap Seoyoung.

 

 

 

*Di taman*

 

 

Key dan Seoyoung duduk berdua memandang langit.

“Kebanyakan di sini jiwa-jiwa namja.” Ucap Seoyoung memandang langit.

“Kau bisa melihatnya?” sahut Key.

“Ne~ aku lahir dan besar di neraka jadi aku bisa melihat jiwa.” Ucap Seoyoung.

“Jika aku memiliki kemampuan sepertimu pasti aku tak perlu repot-repot begini.” Cletuk Key.

“Aku berharap tidak dapat melihat mereka. Mereka sungguh menakutkan.” Ucap Seoyoung.

“Seperti apa mereka?” tanya Key.

“Seperti dirimu. Sungguh menyeramkan.” Jawab Seoyoung memandang Key.

“Ah di sana ada. Sebentar aku akan menangkapnya.” Cletuk Seoyoung lalu pergi meninggalkan Key.

Ia menangkap jiwa seperti menangkap serangga. Bedanya ia menggunakan tangan kirinya. Beberapa saat kemudian ia kembali. Ia duduk di sebelah Key.

“Aku dapat tiga.” Cletuk Seoyoung menyodorkan tiga jiwa kepada Key.

“Letakkan saja di kalungku.” Ucap Key.

Seoyoung meletakkan jiwa-jiwa itu ke dalam kalung Key.

“Aku lapar~ ayo makan malam Key.” Cletuk Seoyoung.

“Aku juga. Kau ingin makan apa?” tanya Key.

“Apa saja yang pedas.” Ucap Seoyoung.

Key mengangguk.

 

 

 

 

*Keesokan harinya*

 

 

Key mendesah.
“Mengapa hari ini begitu panas ya.” Ucapnya mengusap keringat di dahinya.

Seoyong tertawa.
“Waeyo?” sahut Key heran.

“Itu karena kau menelan bola milikku.” Ucap Seoyoung.

“Jinca?” sahut Key.

Seoyoung mengangguk.

“Kembalikan saja padaku.” Ucap Seoyoung.

“Aniyo~” sahut Key.

“Hari ini kau harus menangkap lebih dari dua puluh lima jiwa.” lanjut Key.

Seoyoung mendesah.

“Ne~ tapi kau juga harus ikutan menangkapnya. Kau cari dengan caramu dan aku mencari dengan caraku. Kita berpencar.” ucap Seoyoung.

“Kenapa harus berpencar?” sahut Key.

“Agar kita dapat banyak, pabo!” sahut Seoyoung menjitak kepalah Key.

“Kita bertemu di kedai ramen yang kemarin malam saat makan malam OK.” ucap Seoyoung beranjak pergi meninggalkan Key.

 

 

 

*Malamnya*

 

 

Key sibuk bermain PSP di kedai ramen. Ia sudah memasan dua mangkuk ramen untuknya dan Seoyoung. Ia juga memeasan dua gelas soda. Tak lama kemudian Seoyoung duduk di sampingnya. Ia mengunyah sesuatu. Kecapannya itu menganggu Key.

“Berhentilah mengunyah. Kau mengganggu saja.” cletuk Key tidak berpaling dari PSPnya.

“Waeyo? Aku hanya mengunyah permen karet.” ucap Seoyoung.

Key sedikit kesal, ia terus konsentrasi bermain PSP.

“Kau dapat berapa?” tanya Seoyoung.

“Dapat apa?” sahut Key yang sedang sibuk.

“Jiwa!” sentak Seoyoung.

“Dua.” sahut Key tidak berpaling dari layar PSP.

“Mwo?” sentak Seoyoung merampas PSP Key.

“Aku susah-susah membantumu menangkap duapuluh lima jiwa hari ini dan kau hanya mendapatkan dua jiwa?” ucap Seoyong kecewa.

“Astaga~ apakah kau seorang Lucifer?” lanjut Seoyoung.

“Bukankah itu sudah tugasmu untuk menangkap jiwa-jiwa. Jadi buat apa aku repot-repot.” cletuk Key.

Kemudian seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka lalu pergi.

“Kau tahu, kau sudah menelan bola milikku. Aku tidak dapat menangkap banyak jiwa tanpa itu.” cletuk Seoyoung.

Key tidak menggubris. Ia berusaha mengambil PSPmiliknya dari tangan Seoyoung. Seoyoung langsung membakar PSP milik Key dengan tangannya.

“Aish~ kenapa kau lakukan itu?” sentak Key.

Ia melihat sekeliling berharap tidak ada yang melihat mereka. Kedai itu sepi, tidak ada yang memperhatikan mereka. Pemilik kedai dan pelayannya sibuk menonton acara tv.

“Kau menelan sumber kekuatanku. Aku cepat lelah menangkap jiwa-jiwa tanpa itu. Cahaya yang biasa ku gunakan untuk merampas jiwapun perlahan-lahan sirna. Hanya kekuatan bawaan dari lahir yang masih bertahan. Yaitu api. Sudah lama aku tidak mengaktifkannya. Mungkin karena bola itu.” terang Seoyoung lalu menumpahkan sambal di kedua mangkuk berisi ramen.

“Aish~ kenapa kau memasukkan samabal ke makanananku?” sentak Key.

“Kau pesan lagi aku akan memakan ini semua. Aku sangat lapar.” ucap Seoyoung lalu memuntahkan permen karet dan meletakkannya di tangan Key.

“Aish~ apa-apain ini?” omel Key menatap permen karet di tangannya.

“Itu jiwa-jiwa yang ku dapat.” cletuk Seoyoung lalu menyantab makanannya.

“Kenapa kau simpan di permen karet?” sahut Key.

“Aku tidak punya media untuk menyimpannya. Jadi aku mengunyahnya bersama permen karet agar tidak lepas.” sahut Seoyoung lalu kembali menyantab makanannya.

Key geleng-geleng kepalah. Lalu Seoyoung menekan permen karet itu dan membakarnya sehingga yang tersisa hanya jiwa-jiwa yang ia tangkap tadi. Kemudian Key menyimpannya dalam kalungya lalu ia kembali memesan ramen.

Setelah menghabiskan ramennya. Ia menyadari ada yang aneh dengan Seoyoung.

“Seoyoung~ kau tidak apa-apa?” tanya Key.

Samar-samar Seoyoung memandang Key lalu ia terkulai lemas dan tertidur.

“Aish~ kau merepotkan saja.” ucap Key meraih tubuh Seoyoung.

Ia menggendongnya dan membawanya ke luar.

“Cepat sekali ia tertidur. Cletuk Key.

Ia tidak mungkin membawa Seoyoung pulang ke rumahnya. Appanya akan marah besar. Dan sangat tidak mungkin membawa Seoyoung pulang ke rumahnya. Appanya akan membantai mereka. Keypun memutuskan menyewa kamar di sebuah motel. Ia merebahkan Seoyoung ke tempat tidur kemudian ia keluar dari kamar meninggalkan Seoyoung sendiri.

 

 

 

 

*Keesokan harinya*

 

 

Key membuka pintu kamar. Ia tersentak kaget melihat Seoyoung. Mata yeoja itu hitam dan wajahnya pucat.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Key memandangi Seoyoung.

Seoyoun menatap ke arah Key.

“Aku lapar.” cleteuk Seoyoung pelan.

Key menutup pintu kamar.

“Ini aku membawakan ramen pedas untukmu.” ucap Key lalu duduk di lantai membuka bungkusan yang ia bawa.

Seoyoung langsung menyantabnya. Beberapa menit kemudian ia selesai makan.

“Aku masih lapar~” cletuk Seoyoung.

“Apakah kau kelelahan?” tanya Key khawatir.

“Sepertinya~” cletuk Seoyoung memegangi perutnya yang lapar.

“Hari ini kau tidak usah menangkap jiwa. Biar aku saja yang melakukannya. Aku sudah mendapatkan empat puluh jiwa. Masih ada waktu empat hari lagi.” ucap Key.

“Ya kau sendiri bisa menangkap jiwa dengan bolaku itu. Kau dapat merenggut lima jiwa sekaligus.” cletuk Seoyoung.

“Jinca? Bagaimana caranya?” sahut Key.

“Belikan aku makanan yang pedas-pedas dulu.” cleteuk Seoyoung.

 

 

 

 

*siangnya*

 

 

“Penampilanku tak jauh beda dengan hyungku. Ternyata kau lihai juga dalam mendandani orang.” cletuk Key memandangi dirinya di kaca.

“Mwo? Hyung? Kau punya hyung?” tanya Seoyoung.

“Ye~ dia Lucifer yang hebat. Sehari ia dapat mendapatkan lebih dari dua puluh jiwa. Dalam sehari.” cletuk Key.

“Berarti kau Lucifer yang payah.” sahut Seoyoung.

“Ayo beri tahu aku bagaiman mengaktifkannya!” seru Key mengalihkan pembicaraan.

 

 

 

*Sehari sebelum hari H*

 

 

Seoyoung menyantab makanannya dengan lahap.

“Pantas saja kau tidak dapat dekat dengan namja manapun. Sikapmu tidak seperti yeoja semestinya.” cletuk Key lalu meneguk makanannya.

“Terserah aku.” sahut Seoyoung mengunyah makanannya.

“Kurang berapa jiwa?” tanya Seoyoung setelah menelan makanannya.

“Dua belas jiwa lagi. Sepertinya bisa kita selesaikan besok. Tepat seminggu. Semoga berhasil.” ucap Key lalu meneguk minumannya.

Seoyoung mengunyah makanannya lahap. Dia senang mendengar sebentar lagi Key akan mengembalikan bola miliknya.

“Ngomong-ngomong kenapa kau ingin mengumpulkan seratus jiwa dalam waktu satu minggu?” tanya Seoyoung lalu lanjut menyantab makanannya.

“Aku ingin menjadi manusia.” jawab Key.

Seoyoung berhenti makan. Ia menatab Key.

“Untuk apa kau ingin jadi manusia?” tanyanya.

“Aku tidak ingin menjadi Lucifer. Aku ingin hidup bebas tanpa tanggung jawab yang berat ini. Aku tidak sanggup merampas jiwa-jiwa. Aku ingin bermain layaknya namja jaman sekarang.” terang Key.

“Pabo~ kau Lucifer yang paling pabo yang pernah aku lihat.” sahut Seoyoung.

“Untuk apa kau ingin menjadi manusia? Manusia adalah makhluk yang lemah. Kau akan menderita menjadi manusia.” omel Seoyoung.

Key mendesah. Untung mereka ada di tempat yang sepi.

“Aku sudah lemah menjadi Lucifer. Apa yang perlu aku khawatirkan lagi?” sahut Key.

“Kembalikan bolakku sekarang!” sentak Seoyoung.

“Aniyo~ aku belum mendapatkan seratus jiwa.” sahut Key.

“Baiklah. Jika kau tidak mau mengembalikannya sekarang.” sahut Seoyoung beranjak meninggalkan Key.

“Kenapa dia berubah seperti itu?” cletuk Key heran.

Ia melihat arlojinya. Masih jam delapan malam.

“Lebih baik aku merampas dua belas jiwa malam ini juga sebelum ia melakukan hal yang aneh-aneh untuk mendapatkan bola miliknya.” ucap Key lalu beranjak.

 

 

 

*Di Bar*

 

 

Key melihat arlojinya. Jam dua pagi. Satu jam lagi bar akan tutup. Ia berharap mendapatkan korban lagi. Hanya satu korban lagi. Ia merasa bergairah karena satu jiwa lagi dan ia akan menjadi manusia seutuhnya.

Seorang yeoja duduk di sampingnya. Yeoja itu memesan minuman kepada bartender.

“Sendirian saja?” tanya Key.

Yeoja itu menoleh lalu tersenyum ke arah Key.

“Ya seperti yang kau lihat aku sendirian.” ucap yeoja itu.

Key merasa pernah melihat yeoja itu sebelumnya.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Key.

“Aku penyanyi di bar ini. Mungkin kau pernah melihatku saat menyanyi.” ucap yeoja itu.

Bartender memberikan pesanannya. Ia meneguk minumannya.

Key berjalan mendekat dan merangkul yeoja itu.

“Bagaimana jika kita mengobrol di dalam.” Bisik Key di telinga yeoja itu.

Yeoja itu menurut. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya nantinya. Ia meraih gelas minumannya. Membawanya dan mengikuti Key. Key memasuki ruang pribadi. Ia sedah menggunakannya semalam ini untuk merenggut jiwa-jiwa korbannya. Ia membuang korbannya di tempat semestinya. Jadi ruang itu kosong.

“Duduklah.” Ucap Key mempersilahkan yeoka itu duduk.

Yeoja itupun menuruti kata-kata Key. Ia duduk di samping Key dan meletakkan minumanya di atas meja yang tepat ada di hadapannya.

“Di sini kita dapat mengobrol sepuasnya tanpa terganggu suara berisik di luar sana.” Ucap Key.

Yeoja itu tersenyum.

“Ya kau benar.” Tuturnya.

“Jadi kau seorang penyayi ya?” cletuk Key membuka pembicaraan.

“Ne~” ucap yeoja itu.

“Jika aku boleh tahu siapa namamu?” tanya Key membelai yeoja itu.

“Kau sendiri siapa?” tanya balik yeoja itu meraih tangan Key yang menyentuhnya.

“Panggil saja aku Key.” Ucap Key.

“Dan kau?” tanya Key.

“Kau tak perlu tau siapa namaku. Itu tidak penting.” Ucap yeoja itu lalu mencium bibir Key.

Key terkejut akan reaksi yeoja itu. Ia memulai aksinya. Sangat mudah merebut jiwa yeoja itu dalam keadaan seperti ini. Tapi ada sesutu yang salah. Yeoja itu seakan menyedotnya. Yeoja itu menyedot bola yang ada di dalam tubuhnya. Sontak Key mengaktifkan kekuatannya dan mencoba merenggut jiwa yeoja itu. Ia sedikit kesulitan merenggut jiwa yeoja itu. Yeoja itu bukan yeoja biasa.

Key merasakan bola milik Seoyoung berada di mulutnya. Ia langsung saja mencabut jiwa yeoja itu dan menelan kemgbali bola Persefone milik Seoyoung. Key mendorong tubuh yeoja yang ada di hadapannya. Ia tersentak, ia menyentuh yeoja itu. Menatab wajah yeoja itu. Lalu suasana di sekitarnya semakin lama semakin gelap.

“Kau berhasil anakku. Aku tidak menyangka kau akan sekuat ini. Nah apakah kau siap menjadi manusia?” sahut sebuah suara.

Key mendongak ternyata appanya.

“Kenapa ada manusia di sini?” tanya appa Key.

Key terdiam. Wajahnya pucat.

“Apakah dia korbanmu yang ke seratus?” tanya appa Key lagi.

Key menelan ludahnya.

“Aku akan mengabulkan permintaanmu karena aku sudah berjanji kepadamu. Sekarang berikan seratus jiwa yang telah kau renggut.” Ucap appa Key.

Key menggeleng.

“Kenapa kau tidak ingin memberikannya kepadaku? Apakah kau stidak ingin menjadi manusia?” sahut appa Key.

Key memejamkan matanya dan berusaha menata perkataanya yang akan di katakan kepada appanya.

“Appa~ aku belum mendapatkan seratus jiwa.” Ucap Key datar.

“Kau tidak akan ada di sini jika kau tidak mendapatkan seratus jiwa.” Sahut appa Key.

Key menitikkan air matanya.

“Jiwa ke seratus adalah jiwa yang tak seharusnya ku renggut. Aku salah merenggut jiwa appa~” isak Key.

“Apa maksudmu? Kenapa kau menangis?” sentak appa Key.

“Dia bukan manusia. Aku telah merenggut jiwa yang salah.” Isak Key.

“Aaa apa?” sahut appa Key.

BLUUUMMMM

Sebauh percikan api muncul di hadapan appa Key. Api itu menyala-nyala tiada padam. Api itu berwarna biru. Kemudian lama-lama api itu mulai sirna dan muncullah sebuah sosok. Sosok itu menatap Key.

“Berani-beraninya kau merenggut jiwa putriku.” Ucap sosok itu menatap tajam Key.

Mata sosok itu berwarnah merah padam membara.

“Hades~ maksudmu? Yeoja itu putrimu?” tutur appa Key.

Sosok yang bernama Hades itu beralih ke appa Key.

“Ya kau pikir siapa dia? Dia adalah putriku. Anakku satu-satunya.” Ucap Hades menarik pakaian appa Key.

“Mianhae~ ini semua salahku. Aaa aku… tidak sengaja merenggut jiwanya.” Tutur Key tertunduk.

Hades melempar appa Key. Dia lebih hebat dari appa Key yang hanya seorang Lucifer. Dia adalah dewa Neraka. Penunggu Neraka. Makhluk yang tinggal jauh di bawah tempat tinggal Key.

“Mianhae? Kau telah merenggut jiwa putriku dan hanya berkata mianhae?” sentak Hades lalu mencekik dan mengangkat Key dengan tangan kirinya.

“Bahkan kau sudah mencuri Persefone milik putriku.” Sentak Hades lagi lalu ia membanting Key.

Amarahnya sudah memuncak.

“Putriku memang tidak sekuat dirimu. Ia tidak sebanding dengan Lucifer. Tapi dia tetap putriku. Aku akan selalu melindunginya. Aku tidak segan-segan memusnahkan siapapun yang berani menyakitinya apalagi merenggut jiwanya.” Tutur Hades.

Ia mengeluarkan kobaran api berwarnah biru menyala yang menyilaukan mata dari tangan kirinya. Ia hendak melemparkan nyala api itu kepada Key tapi urung.

“Seoyoung.” Cletuk Hades.

“Kenapa kau membelanya? Dia telah merenggut jiwamu.” Ucap Hades.

Key heran melihat Hades berbicara sendiri.

“Baiklah.” Ucap Hades.

“Sekarang kau kembalikan jiwa putriku beserta bola miliknya.” Sentak Hades kepada Key.

Key mendekati tubuh Seoyoung. Lalu ia teringat ia belum menyimpan jiwa Seoyoung. Saat ia menyadari bahwa itu Seoyoung ia melepaskan jiwa itu. Ia tidak sengaja melepaskannya.

“Kenapa?” sentak Hades melihat Key diam tak berkutik.

“Aku tidak membawa jiwanya. Jiwanya terlepas.” Ucap Key.

“Cari jiwanya. Dia ada di sekitar sini.” Ucap Hades berusaha sabar.

“Taa taaapiii aku seorang Lucifer. Aku tidak bisa melihat jiwa-jiwa yang melayang-layang.” Tutur Key.

Hades melototinya. Key ketakutan.

“Baiklah aku akan berusaha menemukannya.” Ucap Key.

Key menyelusuri segala penjuru berusaha mencari jiwa Seoyoung. Tapi ia tidak dapat menemukannya. Lalu ia mulai memejamkan matanya. Ia menggenggam tangan Seoyoung.

“Di mana kau saat ini.” Cletuk Key pelan.

Ia mulai berkonsentarasi. Ia memusatkan pikiran dan kekuatannya. Lalu ia membuka matanya. Matanya berubah merah dan ia dapat melihat jiwa Seoyoung. Ia berusaha menangkap jiwa Seoyoung.

‘Kenapa kau ingin menangkapku?’ tanya Seoyoung.

‘Aku ingin menyelamatkanmu.’ Ucap Key.

‘Untuk apa? Jika kau mengembalikanku kembali ke tubuhku kau akan kehilangan kesempatan untuk menjadi manusia.’ Ucap Seoyoung.

‘Aku mendapatkan jalan yang lain.’ Tutur Key lalu menangkap Seoyoung dengan kekuatannya.

Ia mengembalikan jiwa Seoyoung. Tapi jiwa itu tidak mau masuk ke dalam tubuh Seoyoung.

“Gunakan bola itu untuk mengembalikan jiwa Seoyoung.” Ucap Hades.

Key memasukkan jiwa Seoyoung ke dalam mulutnya. Lalu ia membuka mulut Seoyoung. Lalu ia memasukkan jiwa Seoyung dari mulut kemulut. Ia masih merasakan jiwa Seoyoung masih berada di mulutnya. Ia mencoba memuntahkan bola biru yang ada di dalam tubuhnya. Bola itu berhasil keluar dari tubuhnya masuk kedalam mulut Seoyoung bersama dengan jiwa Seoyoung. Key langsung mentup mulut Seoyoung. Ia menunggu.

Beberapa menit kemudian Seoyoung mulai membuka matanya. Ia bangkit.

“Kenapa kau lakukan itu?” tanya Seoyoung.

“Appamu akan membantaiku.” Sahut Key.

“Appa tolong jangan menghukumnya. Hukum saja aku. Aku telah melanggar perintahmu.” Ucap Seoyoung berlutut di hadapan appanya.

Appanya mendesah.

“Aku tidak akan menghukum kalian jika kalian menikah.” Ucap Hades.

“Mwo?” sahut Seoyoung dan Key bersamaan.

“Key akan menjadi manusia. Dia tidak bisa menikah denganku. Appa hukum saja aku.” Sahut Seoyoung.

“Sekarang tidak mungkin Key merenggut jiwa lagi.” Sahut appa Key yang sudah sadar.

“Baiklah aku akan menikah dengan Seoyoung.” Sahut Key.

“Key apa yang kau katakan? Kau menyerah begitu saja setelah apa yang kita lakukan? Kau masih ada waktu untuk merenggut satu jiwa lagi dan menjadi manusia.” Sahut Seoyoung.

“Aku tidak ingin kau mendapatkan hukuman.” Sahut Key.

“Tapi kau mengecewakanku. Aku telah berusaha selama ini demi keinginannmu yang baru ku ketahu beberapa jam yang lalu.” sahut Seoyoung.

“Bukankah kau mengatakan bahwa menjadi manusia ada hal yang bodoh. Kau mengatakan bahwa aku adalah Lucifer bodoh yang berkeinginan menjadi Lucifer.” Sentak Key.

Seoyoung menangis.

“Kau tidak seharusnya membelaku. Ini semua salahku karena tidak dapat menjaga bola persefone milikku. Ini semua berawal dariku.” Isak Seoyoung.

“Sekarang kau tidak dapat hidup bebas.” Lanjut Seoyoung.

“Berhentilah menangis. Bukankah ini keinginanmu? Kau mengubah dirimu menjadi seorang yeoja yang dari tomboi menjadi feminim dan berusaha merebut bola persefone dariku karena kau tidak setujuh aku menjadi manusia.” Sentak Key.

“Kenapa kau memaraiku?” isak Seoyoung menatap Key.

“Karena kau berusaha menolakku.” Sentak Key meraih tangan Seoyoung.

“Apa maksudmu?” ucap Seoyoung mentap mata Key.

Matanya berkaca-kaca.

“Kau mencintaiku. Kenapa kau berusaha menolak itu.” Ucap Key.

“Karena kau tidak mencintaiku.” Ucap Seoyoung lalu ia memejamkan matanya dan menangis lagi.

“Pabo~ aku juga mencintaimu.” Cletuk Key lalu memeluk Seoyoung.

Seoyoung tidak percaya dengan apa yang dikatakan Key.

“Apa kau bilang?” tanya Seoyoung dalam pelukan Key.

“Yeoja paboya~ sarangheyo~” bisik Key di telinga Seoyoung.

Seoyoung melingkarkan tangannya di tubuh Key.

“Gomawo~” isaknya.

“Akhirnya aku menemukan namja yang dapat menjaga Seoyoung.” Tutur Hades.

“Dan akhirnya aku tidak kecewa dengan Key. Sekarang dia menjadi sepertimu Hades.” Sahut appa Key.

“Ya~ dia menjadi penerusku. Mungkin karena ia menelan persefone dan kuat menhan kekuatan persefone di dalamnya. Sungguh dia bocah yang kuat.” Ucap Hades.

“Aku juga tidak menyangka jika kekuatannya sungguh besar dan ia membutuhkan rangsangan seperti itu.” Ucap appa Key.

“Jadi tanggal berapa mereka menikah?” sahut Hades menatap appa Key.

“Tanyakan saja kepada mereka yang akan menikah.” Sahut appa Key.

“Jadi kapan kalian akan menikah?” tanya Hades kepada dua sejoli yang sedang berpelukan.

“Terserah appa.” Cletuk Seoyoung.

Key melepaskan pelukannya.

“Bagaimana jika kita makan Seoyoung. Aku lapar, aku ingin makan yang pedas-pedas.” Cletuk Key.

Seoyoung tersenyum.

“Kau lucu.” Ucap Seoyoung mencubit pipi Key.

“Kau manis.” Ucap Key balik mencubit pipi Seoyoung.

Lalu mereka berdua lenyap.

“Kemana mereka pergi?” sahut appa Key.

“Mereka pergi kencan. Biar aku saja yang mengurus pernikahan mereka.” Cletuk Hades lalu lenyap bersama api.

Appa Key geleng-geleng keplah.

“Jonghyun kau di langkai bahkan di kalakan oleh adikmu sendiri.” Cletuknya lalu lenyap.

 

#THE END#

 

Gimana? bagus gak?

Komentar ya ^^ saya butuh pemasukan untuk seri berikutnya juga ^^

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

54 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s