Miss You

Standar

I made this for you. Hope you cry all night because remember it. How could you…

 

Cast: Kyuhyun Super Junior, Lyra Callisto as Kim Jaerin, Jung Chanrin

Genre: Love story – Romance

PG: 15

 

Jika kamu pembaca yang memiliki hati, mohon komentar. Jika tidak komentar berarti kamu pemabaca yang tidak memiliki hati ^0^

Miss You

-MISS YOU-

 

*Kyuhyun POV*

 

Aku tak peduli sudah berapa kecepatan mobilku ini. Aku tak bisa menahan emosi.

“TURUNKAN AKU!” sentaknya.

Aku tidak mepedulikannya. Aku sedang marah dengannya. Jung Chanrin, tidak akan ku biarkan kau meremahkanku. Tidak akan ku biarkan kau pergi meninggalkanku.

“AKU BILANG TURUNKAN AKU KYU!!!” sentaknya lagi.

Aku tidak menghiraukannya. Mataku hanya tertujuh kedepan.

“TURUNKAN AKU ATAU AKU MENELPON POLISI.” Ancamnya.

Aku tidak mengerti mengapa dia akan melakukan hal itu. Apa dia tidak mencintaiku lagi. Aku membanting setir dan mengerem mendadak. Keadaan mobilku kini memotong jalan. Aku tidak peduli. Jalanan di sini sepi.

“Ternyata kau tidak mencintaiku lagi.” cletukku.

Dia terkejut. Entah terkejut dengan kata-kataku atau terkejut atas tindakanku tadi.

“Sikapmu ini membuatku yakin bahwa kau telah mengkhianatiku.” ucapku.

“Aku tidak mengkhianatimu, ini cuma salah paham. Aku begini karena kau. Kau selalu emosi, aku muak dengan sikapmu itu.” sentaknya.

“BAGAIMANA AKU TIDAK EMOSI, KAU JALAN BERDUA DENGAN NAMJA LAIN. DAN KAU TAU SENDIRI BAHWA KITA SUDAH BERTUNANGAN. KENAPA KAU LAKUKAN HAL INI? KENAPA?” Triakku lalu memukul setir mobil.

Dia menangis. Mungkin karena aku meneriakinya. Sepertinya dia takut. Tapi aku tidak dapat menahan emosi ini. Akupun diam. Lebih baik aku diam dari pada melukainya lebih jauh.

“Bukakan pintunya aku ingin turun di sini.” isaknya memohon kepadaku.

Aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan dia pergi dari sisiku. Lagi pula saat ini jalanan sepi. Tidak ada kendaraan lain. Jam menunjukkan pukul 11.44 PM.

Lalu ku dengar samar samar suara klakson. Aku menoleh ke kiri, tidak ada apa-apa. Lalu ku lihat ke arah kanan, Chanrin mencoba membuka pintu. Lalu aku tersentak kaget. Dari kejauhan ada sebuah truk mendekat. Aku cepat-cepat menyalahkan mesin tapi sial tidak bisa.

Chanrin menjerit ketakutan. Aku tak bisa mendengarnya seperti ini. Aku harap tidak ada sesuatu yang buruk terjadi.

Mesin mobilku menyala tapi terlambat. Aku terlambat. Truk itu sudah menabrak mobilku. Mobilku terseret. Chanrin terus menjerit. Aku tidak sempat memandangnya, aku sibuk melepaskan diri. Ku coba menginjak gas dan membanting setir agar dapat lepas dari truk yang menyeret mobilku ini. Usahaku berhasil tapi mobilku tak terkendali. Aku menabrak sebuah tiang. Kepalahku terbentur. Kaca depan mobilku pecah. Aku dapat melihat Chanrin di sampingku. Ia tidak sadarkan diri. Darah menutipi wajahnya yang indah. Sepihan kaca melukai bagian wajahnya sebelah kiri. Aku berusaha meraihnya tapi aku terlalu lemah. Aku tak kuat dan akupun tak sadarkan diri sama sepertinya.

 

 

#SATU TAHUN KEMUDIAN#

 

Saat ini aku hanya dapat melihatmu terbaring di situ dengan di selimuti tanah. Aku tidak percaya kau akan berakhir seperti ini. Aku menyentuh nisan yang ada di dekatku. Jung Chanrin, itu yang tertera di batu nisan.

“Jeongmal mianhae, Chanrin~” ucapku.

Aku ingin menangis tapi tidak bisa. Air mataku sudah habis sejak kematianmu. Aku merasa bersalah kepadamu. Seandainya saja waktu itu aku tidak emosi pasti kau masih hidup.

Aku kembali ke mobilku. Di sana supirku sudah menungguku. Ya aku memiliki supir pribadi untuk mengatarku. Sejak kecelakan setahun yang lalu aku trauma mengendarai kendaraan. Aku takut. Aku masuk ke dalam mobil dan supirku siap mengatarkanku ke tempat kerja. Tapi baru sepuluh meter jalan kami terhenti. Supirku tidak sengaja menabrak seseorang.

“Apa kau tidak melihat dengan baik.” Sentakku emosi.

“Maaf tuan. Dia tadi berlari melintasi kita. Saya tidak tahu jika ia akan melintas seperti itu.” Ucap supirku.

Aku mendesah aku menyuruhnya mengecek orang itu dan aku hanya berdiam diri di dalam mobil. Lalu sopir itu mengetuk kaca mobil yang ada di sampingku. Aku membuka kacanya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Dia pingsan.” Jawabnya.

“Apa ia terluka?” tanyaku.

“Hanya lecet tuan.” Jawabnya.

“Sebaiknya antarkan dia pulang. Apa dia membawa identitasnya?” tanyaku.

“Sepertinya tidak tuan. Dia hanya memakai pijama dan tidak mengenakan alas kaki.” Jawabnya.

“Apa dia tidak waras?” sahutku.

“Entahlah tuan. Apa yang harus saya lakukan?” cletuk supirku.

“Bahwa saja pulang ke rumah. Jika dia sadar tanya di mana dia tinggal dan antarkan dia pulang.” Ucapku.

Kemudian ia membawanya masuk ke dalam mobil. Dia seorang yeoja. Sepertinya ia seusiaku. Aku langsung pindah duduk di depan bersama supir.

 

 

#Malamnya di Rumah Kyuhyun#

 

“Dia benar-benar gila?” tanyaku kepada pelayan rumah.

“Sepertinya begitu tuan. Dia tidak mau bicara ataupun makan. Seharian ini dia duduk di pojok kamar. Sepertinya dia ketakutan.” Tutur pelayan rumahku.

“Antarkan aku di mana dia.” Pintahku.

Lalu ia mengantarkanku ke kamar tamu di mana yeoja itu berada. Ia membukakan pintu kamarnya. Aku dapat melihat yeoja itu duduk di dekat jendela memandang ke luar. Ia menggigit jarinya.

“Siapa namamu?” tanyaku menghampirinya.

Ia mendongak menatapku. Sepertinya ia terkejut.

“Euichul oppa~” cletuknya.

Lalu ia beranjak dan memelukku. Aku terkejut. Aku melepaskan pelukannya.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Oppa ini aku~ Jaerin~ Kim Jaerin.” Ucapnya.

Dia benar-benar tidak waras.

“Aku tidak mengenalmu.” Ucapku.

“Oppa~ tidak mungkin kau tidak mengingatku. Kau sendiri yang bilang akan selalu mengingatku. Kau bilang akan kembali kepadaku setelah kau mendapatkan pekerjaan. Dan sekarang kau sudah kembali.” Tuturnya lalu memelukku lagi.

“Aku merindukanmu oppa~” lanjutnya.

“Maaf~ sepertinya kau salah orang. Aku tidak mengenalmu.” Ucapku melepaskan pelukannya.

Aku memandang wajahnya.

“Kau panggil aku siapa tadi?” tanyaku.

“Euichul? Kau Jung Euichul.” Ucapnya.

“Dengar aku bukan. Jung Euichul aku Cho Kyuhyun. Mengerti?” ucapku.

“Bukan~ kau bukan Kyuhyun kau Euichul.” Elaknya.

“Aku Kyuhyun bukan Euichul. Sekarang katakan di mana kau tinggal biar supirku mengatarkanmu.” Sentakku.

Dia menjerit lalu terduduk menangis.

Aku mendesah. Aku terlalu keras kepadanya.

“Tuan~ bersabarlah sedikit. Sepertinya ia tertekan karena namja bernama Euichul itu pergi darinya.” Ucap pelayan rumahku.

Aku mendesah. Aku keluar kamar. Aku masuk ke kamarku. Aku ingin membersikan diri.

Beberapa menit kemudian aku keluar kamar. Sudah waktunya makan malam tapi aku tidak nafsu. Aku teringat Chanrin. Aku memandang grand piano yang ada di hadapanku. Saat ia di rumahku aku selalu melantunkan lagu untuknya. Lalu aku memutuskan untuk memainkan sebuah lagu.

 

Geureul itji motaeseo apahanayo
Geudaega isseul jariga yeogin aningayo
Nareul wihan georamyeon chameul pillyo eobtjyo
Eonjengan kkeutnabeoril teni

Nae sarangi jejariro oji motago
Heullin nunmulmankeum meolli ganeyo
Naneun ijeoya hajyo geudae neomu geuriwo
Nareul apeuge haljineun mollado ijeoyo

Babo gateun naran geol geudaen anayo
Gaseumi jjijeojineunde useumman naojyo
Eonjekkajirado nan gidaryeo nae nunmul gamchumyeo
Naege doraogin haneun geongayo

Nae sarangi jejariro oji motago
Heullin nunmulmankeum meolli ganeyo
Naneun ijeoya hajyo geudae neomu geuriwo
Nareul apeuge haljineun mollado ijeoyo

Ijeoya haneun geon jiwoya haneun geon
Naegen neomuna eoryeoun irijyo

Nae sarangi jejariro oji motago
Heullin nunmulmankeum meolli ganeyo
Naneun ijeoya hajyo geudae neomu geuriwo
Nareul apeuge haljineun mollado ijeoyo

Nae maeumi jejariro ojil anhayo
Michin deusi gyesok nunmulman najyo
Naneun andwaena bwayo
Geudael itneundaneun geon
Geunyang jukgo sipeodo
Geudaeui sarang noheul su eobseo
Na salgo itjyo

 

Sesorang memberi tepuk tangan. Ku lihat yeoja itu berdiri memandangiku tepat di samping piano.

“Kau henat seperti biasanya.” Ucapnya lalu duduk di sampingku.

Ia mulia menekan-nekan tuts piano.

Aku heran. Apakah namja Euichul sering melantunkan lagu untuknya.

“Aku tidak menyangka kau bisa bermain piano juag. Biasanya kau memtikkan gitar dan melantunkan lagu untukku.” Ucapnya memandangku.

“Lagu itu~ sedih sekali. Aku juga merasakan bagaimana rasanaya merindukan seseorang. Merindukanmu.” Ucapnya lalu tersenyum.

“Nah oppa sekarang giliranku. Aku dulu pernah berjanji akan memainkan piano di depanku. Ini saatnya.” Tuturnya mulai melemaskan tangannya.

Ia mulai melantunkan sebuah musik klasik karya Chopain, Minute Waltz. Ia memainkan dengan indah dengan sempurnah hingga tak sadar aku meneteskan air mata. Aku dan dirinya tak jauh berbeda. Kami merindukan seseorang dan kami gila karena rasa rindu itu.

Setelah selesai aku membelai rambutnya. Dan tersenyum kepdanya.

“Kau sudah makan?” tanyaku.

Dia menggeleng.

“Oppa kenapa kau menangis?” tanyanya mengusap air mataku.

“Tidak apa-apa. Aku hanya senang mendengar Minute Waltz yang kau mainkan tadi.” Tuturku.

“Oppa~ ternyata kau tahu judul musik itu. Ku kira kau tidak tau sama sekali soal musik klasik.” Ucapnya.

Jadi namja bernama Euichul itu tidak tahu menau soal musik klasik. Mungkin musik klasik bukan aliran namja itu.

“Sebaiknya kita makan bersama.” Ucapku mengajakanya makan.

Dia mengangguk dan memeluk erat tanganku. Aku tidak keberatan. Aku sudah lama tidak merasakan hal ini. Semakin lama aku semakin merindukanmu Chanrin.

 

 

#Keesokan harinya#

 

“Tolong kau kembali ke pemakaman dan tanya penduduk sekitar apakah mereka mengenal yeoja bernama Kim Jaerin. Mungkin saja rumahnya tidak jauh dari sana. Lalu kau periksa juga apakah ada namja bernama Jung Euichul yang di makamkan di sana.” Ucapku kepada supirku.

Kemudian aku turun dari mobil dan masuk ke dalam kantorku.

Dua jam kemudian aku mendapatkan informasi dari supirku. Ia mengatakan tidak ada yeoja yang bernama Kim Jaerin yang tinggal di kampung sekitar pemakaman. Tapi ia mengatakn bahwa ada namja bernama Jung Euichul yang di makamkan di sana. Namja itu meninggal tiga tahun yang lalu. Sebulan selama kematiannya ada seorang yeoja yang ke makamnya. Kemudian setaip bulan itu datang tepat di tanggal kematian Euichul. Yeoja itu berpenampilan aneh, sepertinya yeoja itu gila. Aku dapat memastikan yeoja itu adalah Kim Jaerin. Supirku mendapatkan informasi ini dari penjaga makam.

Aku membuka laptopku dan mulai browsing mengenai Jung Euichul. Aku memasukan data tanggal lahirnya dan tanggal kematiannya seperti yang aku dapat dari supirku. Lalu aku menemukannya.

Jung Euichul dia seorang musisi. Dia salah satu anggota band indie. Ia meninggal karena kecelakaan. Dia bukan berasal dari Seoul. Ia berasal dari Busan. Ia datang ke Seoul untuk mencari kerja bersama anggota band lainnya. Seluruh anggota band meninggal. Sepertinya akan sulit melacak di mana Kim Jaerin tinggal. Aku mendesah.

 

 

#Malamnya#

 

“Bagaimana keadaannya?” tanyaku sembari berjalan menujuh ke kamarku.

“Dia tidak ketakutan seperti kemarin. Dia mau berbicara dengan pelayan-pelayan di sini. Dia tetap mengira tuang Jung Euichul, tunangannya.” Ucap pelayanku.

“Tunangannya?” sahutku.

“Ia tuan. Mereka bertunangan empat tahun yang lalu. Setelah nona Jaerin lulus SMA.” Terang pelayanku itu.

Aku hanya mengangguk.

“Dia bercerita tentang Euichul sepanjang hari ini. Apa yang dia suka dan apa yang sering mereka lakukan.” Tutur pelayanku.

“Apakah dia menceritakan di mana dia tinggal?” tanyaku.

“Dia bilang dia berasal dari Busan. Setiap bulan ia selalu datang ke Seoul.” Jawab pelayanku.

“Baiklah aku akan menemuinya nanti. Tolong siapkan makan malam kami.” Ucapku.

Aku masuk ke dalam kamarku. Melepaskan jas dan dasiku. Aku menghubungi seseorang. Seorang psikiater. Aku menceritakan kondisi Jaerin.

“Ku rasa dia sepertimu tuan Cho.” Ucapnya

“Maksud anda dia benar-benar tidak percaya bahwa Euichul meninggal.” Ucapku.

“Ye~ Tuan bisa memberitahunya pelan-pelan bahwa tuan bukanlah Jung Euichul melainkan Cho Kyuhyun. Jika dia mulai mengerti barulah anda mengatakan kepadanya bahwa Euichul sudah meninggal.” Ucap sang psikiater.

“Aku mengerti. Terima kasih.” Ucapku menutup telpon genggamku.

Aku mendesah. Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini.

Saat makan malam tiba aku keluar kamar. Aku mendengar lantunan piano. Pasti Jaerin sedang bermain piano. Aku memastikannya. Ternyata benar dia. Aku tidak percaya melihatnya. Saat ia menyadari aku menatapnya ia melihat ke arahku. Dadaku terasa sesak. Aku melihat bayangan Chanrin di dirinya. Ia tersenyum kepadaku. Bukan dia. Tapi Chanrin. Astaga mataku mulai membuta. Aku berjalan mendekatinya. Ia menggenakan pakaian Chanrin. Setelah aku bertunangan dengan Chanrin aku menyuruhnya tinggal di rumahku. Aku tidak ingin hidup sendiri.

“Kau membeli pakaian ini untukku.” Cletuknya memandangku.

“Ye~” ucapku berbohong.

Ia tersenyum.

“Gomawo~” ucapnya.

Ia berdiri  memandangi pakaiannya ia bertingkah seperti anak kecil.

“Apakah aku lucu?” tanyanya.

Lagi-lagi ia menunjukkan senyum itu. Dia bukan Chanrin. Chanrin bersikap dewasa dan tidak seperti dia yang ke kanak-kanakan. Apa mungkin ia bertingkah seperti itu karena mentalnya terganggu?

Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. Kemudian ia berhenti tersenyum. Ia berjalan mendekat ke arahku. Ia memandang wajahku.

“kenapa kau tidak tersenyum? Jika aku lucu seharusnya kau tersenyum.” Ucapnya.

Aku mencoba tersenyum. Aku mencoba tersenyum kepadanya semampuku.

“Apakah ada masalah?” tanyanya.

Aku menggeleng.

“Kau bohong.” Sahutnya.

“Aku baik-baik saja.” Ucapku.

“Tidak~ ada sesuatu yang mengganjal. Di sini. Di hatimu.” Ucapnya menekan ke dadaku.

Memang benar. Ada sesutu yang mengganjal di hatiku. Rasa ini tidak bisa hilang. Rasa ini muncul ketika kepergian Chanrin. Aku belum seratus persen sembuh. Aku masih menanam luka di hatiku.

“Aku akan melantunkan lagu untukmu agar kau senang.” Tuturnya lalu duduk di depan piano.

“Tidak kita makan malam saja.” Ucapku.

“Hanya satu saja. Ku mohon~ aku ingin melihat oppa tersenyum kembali~” pintahnya memohon padaku.

“Baiklah jika itu maumu.” Ucapku mengabulkan permintaannya.

Ia tersenyum senang. Ia mulai melantunkan lagu. Lagu itu dapat membuatku tersenyum. Lagu itu dapat mengurangi rasa yang tidak enak yang ku rasa selama ini.

 

 

#Beberapa hari kemudian#

 

Hampir seminggu ia tinggal di rumahku. Aku belum menemukan di mana ia tinggal. Siapa keluarganya. Aku yakin ia tinggal di Seoul selama ini. Tapi di mana? Ku hubungi rumah sakit jiwa di kota ini tapi tidak ada yang kehilangan pasien. Aku juga tidak dapat memaksanya mengatakan di mana ia tinggal. Ia pasti menangis.

PYARRR

Aku mendengar ada sesutu yang pecah. Dan itu berasal dari kamar Chanrin. Aku keluar ruang kerjaku dan berlari menujuh kamar Chanrin. Ku lihat Jaerin berdiri mematung. Di sekitarnya terdapat serpihan kaca. Pigoraku~ pigora berisi fotoku dengan Chanrin pecah.

“Astaga apa yang kau lakukan?” sentakku.

Diam terdiam. Sekujur tubuhnya gemetaran. Seorang pelayan datang. Ia turut menyesal. Ia langsung membersihkan serpihan kaca yang berserekan di lantai.

“Yeo.. yeo.. ja… i… tu… si… a… pa..?” tanyanya terbata-bata.

“Dia tunanganku. Jung Chanrin. Kami sudah bertunangan lima belas bulan yang lalu.” Sentakku.

“Euichul oppa..” ucapnya.

“Jangan panggil aku Euichul oppa!!! Namaku Cho Kyuhyun!!!” sentakku.

Aku mengeluarkan dompetku. Mengambil kartu identitasku dan menunjukkan kepadanya.

“Lihat!!! Aku Cho Kyuhyun!!! Jangan sesekali kau memanggilku dengan nama itu aku bukan dia!!!” sentakku.

Dia mulai menangis. Aku merampas kartu identitasku.

“Dan jangan sesekali kau menyentuh barang di kamar ini. Sebaiknya kau diam di kamarmu atau pulang sana!” sentakku lalu ke luar dari kamar.

Aku tidak bisa membiarkan orang lain merusak kenanganku bersama Chanrin. Tidak satupun orang yang boleh menghancurkan itu semua.

 

 

#Keesokan harinya#

 

Aku duduk sendiri di meja makan.

“Di mana dia? Apa dia tidak mau sarapan?” tanyaku menyantab sarapnku.

Semua pelayanku hanya diam tertunduk.

“Waeyo? Kenapa kalian hanya diam saja.” Ucapku.

“Dia sudah pergi tuan.” Ucap seorang pelayan.

“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

“Dia pergi. Dia meninggalkan surat di kamarnya.” Ucap seorang pelayan lalu menyodorkan secarik surat kepadaku.

Aku membuka dan membacanya.

 

Jeongmal mianhae~

Mungkin itu yang bisa aku sampaikan. Pasti selama ini aku sungguh merepotkanmu. Aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja aku tidak dapat mengontrol emosiku. Aku begitu karena aku merindukan orang yang ku cintai. Jung Euichul. Namja yang bersumpah akan menikahiku setelah ia mendapatkan pekerjaan yang layak. Aku sungguh mencintainya. Aku sedih saat ia pergi menjauh dariku. Sungguh-sungguh jauh dariku. Aku merindukannya. Tidak apa-apa jika ia tidak mendapatkan pekerjaan yang layak agar dapat menikaiku. Asalakan aku dapat memandang wajahnya.

Setiap tanggal kematiannya aku selalu ke makamnya. Berharap ia ada di sana. Berharap ia menampakkan wujudnya. Lalu aku menemukanmmu. Kau mirip dengannya. Aku mulai berasumsi bahwa kau adalah dia. Saat aku melihat foto itu aku berusaha menolak. Bahwa yeoja itu tidak ada hubungannya denganmu. Saat kau mengatakan bahwa yeoja itu tunanganmu aku mulai sadar. Euichul tidak akan begitu. Ia tidak akan berpaling ke yeoja lain. Dia sudah berjanji. Dan dia tidak pernah menyentakku seperti itu.

Gamsahamnida~ telah menyadarkanku, menemaniku selama ini & membuatku senang. Akan selalu ku ingat kau bukan Jung Euichul tapi Cho Kyuhyun.

 

Aku melemparkan surat itu ke lantai dan lanjut menyantab makananku.

“Dia pergi dengan pijama yang ia gunakan tuan. Tanpa alas kaki.” Tutur seorang pelayan.

Aku berhenti menyantab makananku.

“Kakinya terluka. Waktu itu saya belum selesai membersihkan serpihan kaca. Ia tidak sengaja menginjaknya. Hingga terluka. Lalu ia berlari ke kamar dan menguncinya dari dalam. Ia tidak mengizinkan saya mengobati lukanya.” Tutur pelayan yang kemarin menyaksikan amarahku kepada Jaerin.

Aku mulai tidak bernafsu makan. Aku mulai merasa bersalah.

“Ayo berangkat!” seruku mengelap mulutku.

“Kemana tuan?” tanya supirku.

“Menyusulnya.” Ucapku.

Kamipun menyusulnya. Aku yakin ia pergi ke makam Euichul. Aku harap ia ada di sana. Aku harap dia baik-baik saja. Aku akan merasa bersalah seumur hidupku jika sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.

 

 

*Jaerin POV*

 

Aku melepaskan kalung yang melingkar di leherku selama ini. Liontin kalungku itu sebuah cincin. Cincin pertunanganku denganmu. Aku meletakkan kalungku ini di makammu. Aku ingin melepasmu. Aku tidak bisa hidup seperti ini. Aku sudah merepotkan banyak orang. Aku harap aku dapat menyusulmu. Karena aku sungguh mencintaimu. Tidak ada orang lain yang menganggapku spesial selain dirimu. Tidak ada orang yang mencintaiku kecuali kau.

Euichul oppa, bolehkah aku menyusulmu? Aku tidak ingin tinggal dengan bibi tiriku. Dia sangat jahat padaku. Ia selalu menyentakku. AKu tidak mau tinggal sendiri. Hanya kau satu-satunya yang ku miliki. Aku akan menyusulmu. Ya aku akan menyusulmu.

Aku memandang sekeliling berharap mencari sesutu yang dapat membuatku bisa menyusulmu. Lalu aku menemukan serpihan kaca di rerumputan dekat makam orang lain. Sepertinya itu serpihan kaca botol minuman keras. Aku mengenggamnya. Lalu aku dekatkan ujungnya yang tajam ke pergelangan tanganku. Aku menyayat tangan kiriku. Darah segar mengalir. Rasanya semakin berat. Aku ingin berbaring. Semuanya menjadi gelap. Apakah aku sedang berada dalam perjalanan ke sana? Menemuimu Euichul oppa?

Aku membuka mataku. Semuanya putih. Apakah aku sudah berada di surga? Aku turun dari ranjang. Aku merasa kesakitan. Apa ini surga? Kenapa aku merasa kesakitan?

Lalu seseorang membukakn pintu.

“Euichul~” celetukku.

Dia langsung memelukku. Ia menangis.

“Oppa~” cletukku tidak mengerti kenapa ia menangis.

Ia melepaskan pelukannya. Ia menatap wajahku. Aku mengusap air matanya.

“Kenapa kau menangis oppa?” tanyaku.

Dia tersenyum. Dia memegangi tanganku yang mengusap air matanya.

“Karena aku merindukanmu.” Ucapnya lalu tersenyum.

Sudah lama aku tidak melihat senyum itu. Tapi semakin lama dia tampak berbeda. Dia~ dia bukan Euichul.

“Kau bukan Euichul.” Ucapku menerunkan tanganku.

“Ye~ aku bukan dia. Dia sudah pergi jauh Jaerin, tidakkah kau mengingatnya?” ucapnya.

“Kau~ Kyuhyun?” ucapku.

Dia mengangguk. Dia tersenyum lagi.

“Kau jangan pergi dariku ya.” Ucapnya mencubit pipiku.

“Waeyo~? Kenapa kau menolongku?” tanyaku heran.

Aku tidak mengerti kenapa dia menolongku. Seharusnya aku sudah pergi ke tempat Euichul.

“Because I Miss You. I can’t live without you. Please stay beside me. I fall in love with you. I love you.” Ucapnya.

Aku terdiam. Bukankah dia sudah bertunangan.

“Kau menyadarkanku bahwa aku harus melupakan Chanrin. Aku harus melupakan yeoja yang pernah mengisi hatiku itu. Dia sudah pergi jauh dan hidup tenang di sana. Jadi aku harus melepaskannya dan memulai hidup baru.” Ucapnya.

Jadi tunangannya sudah meninggal? Ia bernasib sama denganku?

“Sudah lama aku tidak tersenyum. Saat bersamamu aku dapat tersenyum. Rasa yang mengganjal di hatiku ini lama-lama berkurang.” Ucapnya meraih tanganku dan meletakkanya di dadanya.

“Aku akan mulai menjalani hidup baru bersamamu. Jadi maukah kau menemaniku?” tuturnya menatapku.

Aku tidak dapat berkata. Air mataku mengalir membasahi ke dua pipiku. Aku memeluknya.

“Gomawo~ terima kasih sudah mencintaiku, Kyuhyun~” isakku.

Ia memelukku dengan erat. Aku tidak percaya akan hal ini. Akhirnya ada orang yang menganggapku special. Akhirnya ada yang mencintaiku. Akhirnya ada pengganti Euichul.

“Saranghae~” ucapku.

Lalu ia melepaskan pelukanku. Ia membelai pipiku kemudian ia menciumku. Rasanya begitu lembut. Aku dapat merasakan ketulusan cintanya dan kehangatannya. Aku harap ia tidak pernah pergi dariku. Aku tidak ingin kehilangan seseorang yang ku cintai. Aku tidak dapat hidup tanpa cinta.

 

 

-THE END-

 

Gimana? Gimana?

Endingnya jelek ya?

Komentar donk >.<

Please komentar ya ^^

Gomawo ^^

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

68 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s