Monthly Archives: Januari 2011

I’m Sorry My Love

Standar

tittle : I’M SORRY, MY LOVE

author: WinkiesWingers

rate: PG – 15

genre : Romance, drama

cast:

Kim Eun Si

Kim Jong Woon (Yesung) as him self

Kim Hee Chul as him self

Author as Yoon Ji Hwa

Lee Hong Ki as him self

and other cast

note: Hello..Hello.. Hello.. Hello*lupin mode:on* . Author balik lagi bawain FF oneshot dengan genre yang sama sperti sebelumnya ==’ … happy read ^^

 

======  I’M SORRY, MY LOVE =====

Melihat pemandangan yang ada di depan mataku, aku hanya bisa diam mematung. Tak tahu harus berbuat apa. Airmataku turun begitu saja saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kekasihku mencium gadis lain. Hubungan kami masih seumur jagung. Baru sebulan lalu ia menyatakan cinta kepadaku dan tentu aku menerimanya karena aku juga mencintainya. Tapi, apa-apaan ini? Ia mencium gadis lain disaat ia masih memiliki kekasih. Tidak hanya itu, aku juga pernah melihat mereka jalan berdua. Dan bodohnya sampai sekarang aku masih mempertahankan hubungan kami. Tak pernah terbesit di pikiranku untuk memutuskannya. Mungkin karena aku terlalu mencintai lelaki bodoh itu.

 

Sampai suatu ketika, dia memutuskan hubungan kami hanya karena ia ingin melanjutkan sekolahnya ke luar negeri.

“Kenapa harus putus?”

“Aku tidak bisa melakukan long distance, Eun Si-ya. Mianhae..” tuturnya datar dan meninggalkanku seorang diri.

“Yesung oppa!!” teriakku.

 

Aku terduduk lemas di depan rumahku. Aku menangis sejadi-jadinya. Setelah ia bermain di belakangku dengan gadis lain tanpa pernah mengaku padaku. Sekarang ia memutuskan hubungan kami begitu saja. Seandainya dulu ia mengaku, mungkin saja aku bisa memaafkannya dan merelakannya dengan gadis itu. Dan yang pasti aku tidak merasakan hancur seperti ini. Rasa cinta yang terus aku pertahankan kini mencair sudah. Rasa itu telah berubah menjadi kebencian seutuhnya.

 

“Eun Si-ya..” Hee Chul oppa yang melihatku menangis langsung datang memelukku. “Uljima..”

“Aku membencinya, oppa! Aku membencinya!” teriakku dalam tangis.

“Arasseo.. Arasseo..” sahutnya sambil terus menenangkanku.

 

===========================

 

Sejak kejadian itu, aku menjadi sosok yang dingin dan pemurung. Hatiku pun menjadi beku dan sedingin es. Akibat kejadian beberapa tahun lalu itu pandanganku tentang lelaki pun berubah. Aku selalu berpikiran kalau laki-laki hanya bisa menyakiti dan mempermainkan perasaan perempuan. Itulah sebabnya aku menolak mereka yang mencoba mendekatiku. Padahal, sebagian besar laki-laki yang mendekatiku memiliki wajah yang tampan dan ber-uang.

 

“Eun Si-ya, kenapa mereka kau tolak semua?” tanya Hee Chul oppa suatu hari.

“Karena aku tidak berminat menjalin hubungan dengan laki-laki.”

“Kalau begitu, sekarang kau berminat menjalin hubungan dengan perempuan? Eun Si-ya! Kenapa kau jadi tidak normal begini?!” pekiknya sambil mengguncang-guncang badanku. Aku hanya menutup kedua telingaku dengan kedua tanganku.

 

Buukkk!!

 

Sebuah bantal mendarat mulus di kepala Hee Chul oppa. Hee Chul oppa lantas mengusap-usap kepalanya.

“Chagiya! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melempar bantal kearahku?”

“Jangan bicara yang tidak-tidak, oppa. Mana mungkin Eun Si unnie berminat dengan perempuan.” kata Ji Hwa sambil menatap tajam Hee Chul oppa.

“Aku kan hanya bercanda, chagiya. Chagiya jangan marah ya..” bujuk Hee Chul oppa. Ia bergelayut manja di lengan Ji Hwa. Dasar! Kalau dengan Ji Hwa saja ia bersikap manis.

 

Terkadang aku merasa aneh dengan pasangan ini. Bagaimana bisa dua orang yang berbeda bisa bersatu? Sifat mereka sangat bertolak belakang. Ji Hwa yang kalem dan terkesan pendiam sedangkan Hee Chul oppa aneh, urakan, dan bersikap seenaknya sendiri. Mereka cepat bertengkar, tapi rujuknya pun juga cepat. Mereka pun juga jarang terlihat tampil mesra.

 

Daripada terus-terusan memperhatikan mereka dan melihat sikap Hee Chul oppa yang sok manis di depan Ji Hwa, aku memutuskan pergi ke cafe favoritku yang terletak tak jauh dari rumahku. Sesampainya disana aku langsung duduk di tempat yang biasa aku duduki. Sangat nyaman. Suara angin yang menyapu rumput hijau serta suara gemericik air mancur buatan, membuat suasana hati siapa saja yang datang ke cafe ini menjadi tenang. Tapi ternyata keputusanku untuk datang kesini adalah salah. Kenyamanan yang aku rasakan tadi langsung lenyap saat aku melihat kembali sosok lelaki itu memasuki cafe ini. Aku berusaha menutupi wajahku agar kehadiranku tak disadarinya.

 

“Eun Si?”

Aku mengangkat kepalaku dan menatap orang yang memanggil namaku.

“Hongki?”

“Ahh, Eun Si-ya! lama tidak bertemu!” Hongki langsung memelukku. Aku membalas pelukannya.

 

 

Sudah lama aku tidak bertemu dengan bocah satu ini. Lee Hong Ki, ia teman dekat Hee Chul oppa. Hong Ki dulu sering sekali mampir ke rumah kami dan itu membuat aku dengannya menjadi akrab.

 

“Kemana saja kau selama ini? Kenapa tidak pernah lagi main ke rumah?” tanyaku pada Hong Ki.

“Mianhae, aegya. Aku melanjutkan sekolah ke luar negeri.” jawab Hong Ki. Ia masih sama seperti dulu, memanggilku dengan sebutan ‘aegya’ dan aku tidak mempermasalahkan hal itu.

“Nappeun! Kenapa kau tidak mengabari kami?”

“Haha. Bagaimana bisa aku mengabari kalian sedangkan kalian saat itu pergi ke Daegu? Aku mencoba menelepon kau dan Hee Chul hyung tapi tak ada yang menjawab teleponku itu. Dasar!” keluh Hong Ki sambil mengacak-acak rambutku. “Oya, kebetulan kita bertemu. Aku kenalkan kau dengan teman baruku. Hyung!”

 

Kemudian, seseorang muncul dari belakang Hong Ki. Aku sangat terkejut saat mengetahui siapa teman Hong Ki itu. Setelah sekian lama tidak bertemu bahkan mungkin aku sudah melupakannya, kami di pertemukan kembali. Rasa benci yang sudah aku kubur dalam-dalam kini kembali menyeruak. Tapi, tidak dipungkiri masih tersimpan di dalam hatiku rasa rindu untuk lelaki ini.

“Hyung, kenalkan ini Kim Eun Si. Eun Si, ini Yesung hyung.” Hong Ki memperkenalkan kami.

 

===========================

 

Aku tidak tahu apa yang sedang Tuhan rencanakan untukku. Kenapa Tuhan harus kembali mempertemukanku dengan lelaki itu.

Saat ini aku tengah mencari CD kaset penyanyi kesukaanku di toko kaset yang terletak di daerah myeongdong. DIkarenakan aku tidak menemukannya, aku mencoba bertanya pada penjaga toko kaset itu.

 

“Ah, Mianhamnida aegesshi. CD itu…” ucapan penjaga toko itu terpotong karena ada orang yang datang menghampiriku.

“Eun Si? Sedang apa kau disini?”

“Ye–Yesung-ssi.”

“CD itu baru saja dibeli oleh tuan ini..” Penjaga toko itu melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong.

“he? Jadi kau mencari CD ini? Wah, sayang sekali. Mianhae Eun Si-ya, aku dulu yang mendapatkannya.” kata lelaki ini sambil menyeringai.

 

Aku hanya menatapnya dengan kesal lalu pergi keluar dari toko kaset itu. Ia pun mengikutiku keluar dan menahanku. “Kenapa terburu-buru begitu? Bagaimana kalau kita mampir ke cafe? Aku traktir deh.”

“Tidak perlu, Yesung-ssi. Terima kasih.” jawabku angkuh dan pergi meninggalkannya.

 

– [[ YESUNG POV ]]-

 

Hari ini aku memutuskan jalan-jalan di daerah Myeongdong. Saat melewati toko kaset, aku berhenti sejenak di depannya. Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam dan membeli cd kaset yang kebetulan yang sedang aku cari tersisa satu. Tanpa pikir panjang aku langsung membelinya. “Pasti dia akan menyukainya.” gumamku senang sambil menatap CD itu.

 

Selang beberapa menit saat aku masih ada di depan meja kasir, seorang gadis memasuki toko kaset ini. Aku sangat terkejut ketika mengetahui gadis itu adalah Eun Si. Tampaknya ia sedang mencari CD kaset yang sama seperti yang aku beli dan sayang ia tidak mendapatkannya karena terdahului olehku.

“he? Jadi kau mencari CD ini? Wah, sayang sekali. Mianhae Eun Si-ya, aku dulu yang mendapatkannya.” ucapku sedikit menyombongkan diri. Tapi, reaksi yang ia berikan membuatku menjadi merasa bersalah. Ia pergi keluar begitu saja. Tak kehabisan akal, aku keluar menyusulnya dan kutarik lengannya.

“Kenapa terburu-buru begitu? Bagaimana kalau kita mampir ke cafe? Aku traktir deh.” aku berusaha bersikap ramah padanya. “Tidak perlu, Yesung-ssi. Terima kasih.” jawabnya sambil menatapku tajam. lalu, pergi meninggalkanku yang masih berdiri menatap punggungnya.

 

Aku menghela napas. Sikapnya padaku telah berubah. Eun Si yang hangat berubah menjadi Eun Si yang dingin. Ada kebencian yang tersirat dari matanya saat ia menatap wajahku. Sekaligus aku juga melihat kesedihan yang terpancar dari matanya. Aku menyadari, akulah yang membuatnya membenci diriku. Aku tersenyum walau hatiku terasa miris mengingat apa yang telah aku lakukan padanya dulu. ” Eun Si-ya, mianhae. Tapi, itu harus aku lakukan padamu.”

 

-[[ YESUNG POV END]]-

 

===================================

 

Sejak bertemu di toko kaset, entah kenapa beberapa kali kami bertemu tanpa sengaja. Apa ini yang namanya takdir dan jodoh? Tuhan memisahkan kami dulu dan sekarang Tuhan mempertemukan kami kembali. Bahkan berkali-kali kami dipertemukan tanpa sengaja. Entahlah. Aku tidak terlalu peduli dengan yang namanya takdir atau pun jodoh.

 

“Eun Si?” panggil seseorang. Aku pun menoleh kearah sumber suara. Dia lagi? Ya Tuhan!

“Sedang apa kau disini?” tanya Yesung padaku yang tengah berjalan-jalan di taman kota.

“Bukan urusanmu.” jawabku sekenanya dan melanjutkan kegiatan memotretku yang terhenti tadi.

“Kau masih menyukai fotografi ya?” Yesung berdiri disampingku sambil melihat pemandangan yang tersaji di taman kota ini. Aku tidak menggubrisnya dan malah sibuk melihat hasil fotoku. Lalu, aku berjalan mencari view yang bagus dan memotretnya.

“Kau tak berubah, Eun Si-ya. Masih sama seperti dulu. Suka memotret pemandangan.” tuturnya sambil mengikuti kemanapun kakiku melangkah.

Aku yang mulai risih dengannya, menghentikan langkahku. “Berhentilah mengikutiku!” bentakku kesal.

 

Setelah seharian mengelilingi kota Seoul untuk menambah koleksi foto landscapeku, aku memutuskan pulang ke rumah. Saat memasuki ke dalam rumah, aku melihat ada banyak sepatu asing yang tergeletak rapi di lantai. Aku pun melangkah masuk ke dalam dan langsung disambut ramai oleh teman-teman Hee Chul oppa dan teman-teman Ji Hwa yang sekaligus temanku.

“Kim Eun Si! Welcome home, babe!” teriak Hong Ki riang. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan salam pada mereka. Kemudian berjalan menuju kamarku.

 

Aku merebahkan diri ke kasurku. Rasanya sangat lelah sekali. Tiba-tiba wajah Yesung  terbayang di benakku. Tadi aku melihatnya berada diantara teman-teman Hee Chul oppa. Ia tersenyum kearahku. Senyumannya itu masih sama seperti dulu. “Aghh! Kenapa aku jadi memikirkannya?” gerutuku sambil mengacak-acak rambutku sendiri.

Tak lama kemudian Ji Hwa masuk ke dalam kamarku. “Unnie, kenapa tidak ikut bergabung dengan kami? Masa unnie tega membiarkan aku seorang diri diantara kumpulan laki-laki seperti mereka?” bujuk Ji Hwa dan duduk disampingku. Melihat tatapan matanya yang seperti puppy membuatku tak bisa menolak. Jujur, aku sedang malas untuk bergabung dengan teman-teman Hee Chul oppa. Terlebih lagi ada Yesung diantara mereka. Membuatku semakin malas. Tapi, aku lemah melihat tatapan Ji Hwa tadi. Gadis ini seperti anak anjing. Lincah, ceria, menggemaskan, dan sangat manis. Pantas saja Hee Chul oppa menyukainya. *nyahaha, heenim bakal dicincang teukie gr2 suka am author :p*

 

“Kemana mereka?” tanyaku pada Ji Hwa saat melihat ruang tengah yang ramai tadi mendadak sepi.

“Mereka ada di taman belakang. Kita akan pesta Barbeque.” jawab Ji Hwa antusias.

 

Setelah melihat kedatanganku, kami pun memulai pestanya. Sudah aku duga akan seperti ini. Berhasil membujukku sekarang malah sibuk menempel dengan Hee Chul oppa. Alhasil, aku hanya duduk di bangku tamanseorang diri sambil menikmati Orange Juice. Aku memperhatikan mereka. Hong Ki, Key dan Ryeowook oppa sibuk memanggang daging. Simon oppa, Dong Hae oppa, Eun Hyuk oppa dan Jung Mo oppa meramaikan suasana dengan menyanyi dan bermain gitar. Sang Chun oppa sedang bercanda ria dengan Han Geng gege, Hee Chul oppa dan Ji Hwa. Sung Min oppa menyiapkan wine bersama Kyu Hyun oppa . Yesung, dia sedang berjalan kearahku. EH? sial! kenapa dia harus kesini sih?

 

“Sendirian?”

“Ne.”

“Kenapa tidak bergabung dengan mereka?”

“Malas.”

“Oh.”

 

Apa-apaan ini? Percakapan yang sangat hambar. Aku menghela napas dan menatap lagit malam yang kebetulan hari itu banyak sekali bintang yang bertebaran. Bahkan aku menemukan rasi bintang Cassiopeia yang bersinar paling terang malam itu.

“Whoa~ yeppeoyo.” ucapku spontan. Namun, tiba-tiba hal yang tak kuduga-duga terjadi.

“Eun Si-ya..” panggil Yesung.

“Mm?” aku menoleh dan mendapati Yesung sedang menatapku dengan tajam. Bahkan kini tangannya menggenggam tangan kananku. Aku tidak bisa berkutik. Sejak pertama mengenalnya, aku terlalu lemah dengan tatapan matanya itu. Mendadak jantungku berdebar  lebih cepat. Ia mendekatkan wajahnya kearahku dan semakin dekat.

 

“Chamkkanman! Chamkkanmanyo!!” jeritku dalam hati sambil menutup rapat mataku.

“Hayooo!! Sedang apa kalian?” teriak Hee Chul oppa mengagetkan kami berdua. Aku langsung membuka mataku. Aku langsung menarik napas lega. Sekilas aku melihat ia menundukkan kepalanya. Malu? mungkin.

“Nah yaa! Eun Si, ketahuan..” cibir Hee Chul oppa membuat kami berdua salah tingkah.

“Apaan sih?”  aku langsung pergi meninggalkan mereka berdua.

 

Barbeque pun telah siap, kami segera menyantapnya. Selama pesta itu, aku terus bersama dengan Hong Ki dan berusaha menghindari Yesung. Kami bercanda bersama dan itu sangat menyenangkan. Berkali-kali aku melihat Yesung terus menatap kearah kami. Bahkan saat tangan Hong Ki merangkul pundakku, ia menatapku dengan tajam. Tapi, aku tak mau ambil pusing tentang itu. Aku malah membalas rangkulan Hong Ki. Entah setan apa yang merasukiku, selama pesta aku terus menempel pada Hong Ki. Aku berusaha bersikap mesra dengan Hong Ki dihadapan Yesung. Aku juga tidak tahu kenapa aku melakukan ini. Mungkin aku ingin membalas dendam bagaimana sakitnya hatiku saat ia bersama gadis lain.

 

Pesta pun akhirnya selesai pada dini hari sekitar pukul 2 pagi.

“Ahhhh.. kenapa harus sudah selesai? Kita lanjutkan lagi saja sampai pagi..” keluh Hee Chul oppa yang tampaknya sudah mabuk karena terlalu banyak minum wine dan soju. Jalannya pun sudah sempoyongan seperti itu.

“Oppa! Kau sudah mabuk..” Ji Hwa langsung menopang tubuh Hee Chul yang hampir terjatuh.

“Yoon Ji Hwa. Kau milikku! Aku mencintaimu, Yoon Ji Hwa! Hhahaha..” ucap Hee Chul oppa yang mulai ngelantur. tampaknya mulai bahaya ini. Hee Chul oppa mabuk dan sekarang omongannya mulai ngelantur. Sebentar lagi pasti ia akan berbuat macam-macam. Dan bingo! Ia mencium bibir Ji Hwa di hadapan kami. Sungguh gila! *wuah! author gak mau tanggungjwb kalo ntar teukie murka*

“Eun Si!”

Aku pura-pura tak mendengar ada seseorang yang memanggilku. Aku sudah mengenal pemilik suara itu. Aku memutuskan masuk ke dalam.

“Eun Si!!” panggil Yesung lagi dan kali ini menarik tanganku dan menggiringku ke taman yang kini sudah sepi. Genggaman tangannya terlalu kencang hingga membuatku meringis kesakitan. “Kenapa kau melakukan itu? Apa maksudnya?”

“Melakukan apa?” aku tidak mengerti apa yang ia maksud dengan melakukan itu.

“jangan pura-pura tidak tahu! Kenapa kau bersikap seperti itu dengan Hong Ki?” tanya Yesung dengan penekanan di seluruh kalimat yang ia ucapkan *??*.

“Lalu? Apa hakmu melarangku? Aku mau dekat dengan siapa sekarang BUKAN URUSANMU, Kim Jong Woon-ssi!!” bentakku emosi. Yesung melepaskan tangannya yang sedari tadi mencengkeram erat lenganku. Tatapan matanya yang tadi terlihat marah berubah menjadi sedih.

“Apa sudah tidak ada kesempatan kedua untukku, Kim Eun Si-yang?”

Aku terdiam dan hanya menatapnya. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran lelaki ini.

“Apa kau pikir aku bisa memberimu kesempatan kedua setelah apa yang kau lakukan padaku, Yesung-ssi? Aku tidak habis pikir. Kau egois!” ucapku kesal dan bergegas menuju kamar.

 

Aku termenung di dalam kamar. Semua yang terjadi barusan terus berputar di otakku. Ia telah kembali mengingatkanku akan kejadian pahit itu. Tapi, ada satu yang mengganjal hatiku. Wajahnya. Malam tadi, dia terlihat pucat. Berbeda saat aku bertemu dengannya tadi siang di taman kota. Bahkan tangannya berkeringat dan itu dingin.

 

===================================================

 

Selama ini aku tidak pernah melihatnya sepucat itu. Pikiran-pikiran negative pun datang menghampiriku. Dan ini sudah seminggu setelah pesta Barbeque. Aku tidak pernah lagi melihat wajahnya. Terakhir ia datang ke rumah adalah sehari setelah pesta itu. Hari itu dia masih bisa tertawa dan berusaha mengajakku ngobrol seperti biasa. Seolah terlihat tak terjadi apa-apa antara aku dengannya semalam.

 

Aku yang mulai terbiasa dengan keberadaannya selama sebulan ini merasa kehilangan. Ia menghilang begitu saja setelah muncul kembali. Aku mencoba bertanya pada Hong Ki pun juga tak ada hasilnya. Sampai suatu hari aku mendapati ia tengah keluar dari Rumah Sakit dan menuju Apotik yang tepat disamping Rumah Sakit. Aku pun menunggunya di depan Apotik.

 

“Ah, Eun Si? Wae? Sedang apa kau disini?” tanya Yesung gugup. Gelagatnya terlihat aneh.

“Apa kau sakit?” aku balik bertanya.

“Ye? Ani…aniyo.”

“Lalu, kenapa kau pergi ke Rumah Sakit dan ke Apotik? Igo mwoya?” aku menunjuk sebuah tas plastik kecil yang ia bawa. Aku tebak, pasti itu obat.

“Ahh.. ige..  hanya obat. Aku sedikit demam. Makanya, langsung pergi ke Rumah Sakit..hehe” jawabnya. “Ngomong-ngomong, kenapa kau jadi peduli denganku?”

“He? Ani–aniyo! Si–siapa yang peduli padamu? Aku..aku hanya kebetulan lewat sini dan melihatmu. Itu saja.” elakku. Sebelum maluku bertambah, aku memutuskan pergi. ” Sudah ah. Aku pergi dulu.”

“Chamkkanman!”

“Wae?”

“Apa lusa kau ada waktu luang? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Dan kuyakin kau akan menyukainya. Pastikan kau bawa kamera.”

“Lihat besok.”

 

================================

 

Hari ini adalah hari yang ditentukan Yesung untuk mengajakku pergi. Sore ini Yesung sedang menungguku di ruang tamu. Sedangkan aku sedari tadi masih sibuk memilih baju. Aku terus membongkar lemari untuk mencari pakaian yang sesuai. Dan setelah menghabiskan waktu 15 menit, aku menemukan pakaian yang sesuai. Kemudian, aku keluar dan menemui Yesung. Setelah semua siap kami segera pergi ke tempat tujuan.

 

Selama perjalanan tak banyak kalimat yang kuucapkan. Aku hanya menjawab seperlunya dan mengatakan seadanya jika Yesung mengajakku berbicara. Entah kenapa aku menjadi merasa canggung di dekatnya.

“Nah, sudah sampai!” serunya. Ia segera memarkirkan mobilnya.

Aku membuka jendela dan menjulurkan kepalaku keluar jendela. “Namsang Tower? Kau mengajakku ke Namsang Tower?”

“Ne. Bukankah jika kita berada di tower itu, kita bisa melihat pemandangan? Pemandangan dari sana sangat bagus. Kau bisa memotret sepuasmu.” Yesung menatapku lembut membuat wajahku merona merah.

“Ne, arasseo.”

 

Kami pun segera menuju ke tower. Benar apa yang dikatakan Yesung. Pemandangan dari sini sangat indah. Apalagi ditambah pemandangan matahari tenggelam. Sangat bagus. Aku yang tidak mau kehilangan kesempatan lantas mengeluarkan kameraku dan memotret pemandangan yang ada di depan mata.

“Aku tidak tahu ternyata dari atas menara bisa melihat pemandangan seindah ini.” tuturku senang sambil kembali melihat hasil potretku.

“Apa kau belum pernah kesini?”

“Ye? Aku jarang datang ke tempat seperti ini.” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari kamera. “Aku lebih suka pergi ke pantai atau keatas bukit.” lanjutku sambil tersenyum kearahnya.

“Kau masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah dalam dirimu, Eun Si-ya.” Yesung menepuk puncak kepalaku. Diperlakukan seperti itu membuat jantungku berdegup kencang.

 

Aku kembali memotret sedangkan dia pergi untuk membeli minuman. Aku membalikkan badanku menatap dirinya yang berjalan menuju mesin penjual minuman. Aku mengarahkan kameraku kearahnya dan memotret dirinya. “Kenapa kau pintar sekali memainkan perasaanku, Yesung-ssi?” gumamku sambil menatap dirinya.

“Ini untukmu. Chocolate cappucino.” Yesung memberikan sebotol kaleng minuman kepadaku. Bahkan ia masih ingat apa minuman kesukaanku.

“Gomapta.”

 

 

Saat aku sibuk memotret, aku mendengarnya bernyanyi. Sejenak aku menghentikan kegiatanku dan mendengarkannya bernyanyi. Suaranya terdengar sangat lembut dan merdu. Aku kembali memotret sambil mendengar suara merdunya melantunkan lagu.

Hampir 2 jam kami menghabiskan waktu disini. Yesung pun langsung menarikku dan ia kembali mengajakku ke suatu tempat. Ia mengajakku ke Lotte World. Disana kami menghabiskan waktu dengan menaiki beberapa wahana yang ada. Ia juga mentraktirku makan ice cream. Kecanggungan yang sangat terasa saat di Namsang Tower kini mulai mencair. Kami tertawa bersama, bercanda, dan bahkan kami berfoto bersama menggunakan kameraku. Malam itu, kami menghabiskan waktu dengan bermain dan berjalan-jalan sepuasnya di Lotte World. Akan tetapi, saat kami akan memutuskan pulang. Wajah Yesung terlihat sangat pucat. Berkali-kali aku melihatnya saat kami bermain tadi, dia seperti menahan sakit.

 

“Eun Si-ya..” panggilnya. Saat ini kami sudah berada di depan rumahku.

“Ne?”

“Maafkan aku..”

“For what, Yesung-ssi?”

“Kejadian 5 tahun yang lalu..Aku tahu, karena itu kau menjadi benci padaku dan selalu bersikap dingin padaku selama ini.”

“Sudahlah. Aku tidak ingin lagi mengingat atau membahas masalah itu. Jadi, tolong jangan bicarakan itu lagi.” suaraku mulai meninggi.

“Tapi, aku merasa sangat bersalah padamu, Eun Si. Apa kau mau memaafkanku?”

 

Aku terdiam. Entah aku bisa memaafkannya atau tidak. Perbuatannya itu benar-benar membuatku sakit hati.

 

“Tampaknya memang percuma.” Yesung berkata seraya menengadahkan kepalanya. Ia kembali menatapku. ” Aku akan terima jika kau memang tidak memaafkanku. Eun Si-ya, terima kasih untuk semuanya hari ini. Melihatmu tertawa itu sudah sangat cukup untukku.”

 

Aku menatapnya. Sungguh! Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Tiba-tiba saja ia memelukku.

 

“Saranghae, Kim Eun Si. Terima kasih kau mau bersedia menemaniku di saat-saat terakhirku ini.” Yesung melepas pelukannya dan menatap mataku dengan lembut. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kami sama-sama saling memejamkan mata. Sejurus kemudian, Yesung mencium bibirku. Aku menyambut ciumannya. Tatapannya membuatku tak bisa melawan.

“Sekarang, aku bisa pergi dengan tenang.” ucapnya setelah melepas ciuman kami.

“Mwo? memang kau…umphh.” ia kembali menciumku. Seolah tak ingin memberiku kesempatan untuk bicara. Kali ini lebih dalam dari sebelumnya dan bodohnya sekali lagi aku tidak bisa menolaknya. Oh, tidak! Tampaknya aku kembali menyukainya.

 

Seluruh tubuhku mendadak jadi lemas. Jantungku kembali berdetak lebih cepat. Aku terus melihat kearahnya yang kini telah berada di dalam mobil. Ia melambaikan tangan kepadaku dan aku membalasnya. Kenapa kau pintar sekali mempermainkan perasaanku, Kim Jong Woon? Kau membuatku cinta padamu hanya karena senyum dan tatapan matamu yang lembut. Kau membuatku membenciku dengan sikap playboymu. Dan sekarang kau kembali membuatku mencintaimu hanya dengan bersamamu seharian ini.

 

=============================

 

Sudah dua hari ini tak ada kabar dari Yesung. Dia kembali menghilang tanpa jejak. Tiba-tiba, ucapannya kembali teringat olehku.

 

“Saranghae, Kim Eun Si. Terima kasih kau mau bersedia menemaniku di saat-saat terakhirku ini.”

“Sekarang, aku bisa pergi dengan tenang.”

 

Perasaanku berubah tidak enak. Saat-saat terakhir? Pergi dengan tenang? Apa maksudnya?

 

“Eun Si-ya!!!” teriak Hong Ki. Aku langsung keluar dari kamarku.

“Hong Ki? Kenapa kau datang ke rumahku? Ada perlu apa?”

“Eun Si-ya..” wajah Hong Ki terlihat sangat pucat.

“Ne. Waeyo?” aku menatapnya dengan bingung.

“Yesung hyung. Yesung hyung, Eun Si-ya!!” Hong Ki berkata dengan suara yang tinggi. Ia terduduk lemas di lantai.

 

Tiba-tiba saja jantungku berdetak tak karuan. “Apa yang terjadi dengan Yesung, Hong Ki-ya?” Aku mengguncang-guncang tubuh Hong Ki. Tanpa pikir panjang Hong Ki langsung membawaku ke Rumah Sakit. Aku yang bertanya kenapa kesini sama sekali tidak digubrisnya. Ia tampak terburu-buru. Lalu, kami masuk ke salah satu kamar pasien. Seketika aku mematung saat mendapati Yesung tergeletak lemas diatas kasur dengan berbagai peralatan medis disampingnya.

 

Dengan perlahan aku menghampirinya. “Wae? Wae?!” teriakku sembari memegang tangannya.

“Unnie-ya..” Ji Hwa menepuk pundakku.

“Ji Hwa-ya, Hee Chul oppa..” aku memandang sekelilingku. Disana juga ada Simon oppa, Sang Chun oppa, Wookie oppa, dan yang lainnya. Mereka semua menundukkan kepala.

 

Aku datang terlambat. Yesung telah pergi. Dia tidak akan lagi membuka matanya. Aku hanya bisa menangisi kepergiannya. Ji Hwa memelukku. Ia juga menangis. Aku tidak akan lagi bisa melihat senyumnya, tidak bisa lagi mendengar suara merdunya saat bernyanyi, tidak akan ada lagi suara ocehannya.

 

-Tempat pemakaman-

 

Pagi ini Pemakaman Yesung dilaksanakan. Bersama dengan Ji Hwa dan Hee Chul oppa, aku menghadiri upacara pemakaman. Selama pemakaman berlangsung, aku hanya memandangi foto Yesung yang terpampang diatas makamnya.

 

Aku masih berdiri menatap makam Yesung. Semua pelayat telah pulang. Hanya aku dan Hong Ki seorang di makam ini. Aku juga menolak saat Hee Chul oppa mengajakku pulang. Aku meletakkan rangkaian bunga lily diatas makamnya. Aku tidak menyangka akan hal ini. Yesung pergi untuk selamanya. Dan baru kuketahui penyebab kematiannya adalah penyakit kanker paru-paru yang telah lama menggerogoti tubuhnya. “Babo..” aku berguman dan menundukkan kepalaku.

 

“Eun Si-ya..” Hong Ki menghampiriku. “Yesung hyung menitipkan ini padaku.” ujar Hong Ki sambil menyerahkan sebuah surat kepadaku. Aku menerima surat itu dan membukanya. Lalu, kubaca surat itu dalam hati.

 

Dear my love, Kim Eun Si..

 

Eun Si-ya, annyeong ^o^

Aku tahu, kau sangat membenciku karena aku memutuskanmu secara sepihak. Dan menduakanmu.

Eun Si-ya, maafkan aku. Aku terpaksa melakukan itu semua.

Saat kau melihatku berciuman dengan gadis lain serta melihatku kencan dengan gadis yang sama. itu semua hanya rekayasa. Saat itu, aku tak benar-benar menciumnya dan kencan dengan gadis itu juga adalah atas usulku sendiri. Aku tahu, aku jahat dan tega melakukan itu. Tapi, apa kau tau sebab aku melakukan itu semua. Semua itu kulakukan untukmu. Bukankah lebih baik membuatmu membenciku daripada kau mencintai lelaki berpenyakitan sepertiku yang bisa mati kapan saja. Sebulan setelah kita jadian, baru kuketahui aku mengidap kanker paru-paru. Maka dari itulah aku melakukan hal seperti itu agar kau membenciku dan melupakanku.

 

Ternyata usahaku gagal. Kau dengan mudahnya memaafkan diriku. Tapi, semakin hari penyakitku semakin parah. Para Dokter mengusulkanku untuk melakukan perawatan dan itu tempatnya di luar negeri. Maka dari itu, aku terpaksa memutuskanmu dengan alasan ingin melanjutkan sekolah disana.  Kata maaf dariku, tampaknya tak cukup untuk mengobati lukamu.

 

Setelah hampir 5 tahun aku disana, aku menyerah dan memutuskan pulang. Tampaknya ini adalah hukuman yang Tuhan berikan untukku karena telah membuatmu terluka. Penyakitku telah sampai stadium akhir dan sulit untuk disembuhkan. Kanker telah menyebar ke seluruh tubuhku.

kau tahu bagaimana perasaanku saat Tuhan mempertemukan kita kembali? Sangat senang! Aku yang telah menyerah kembali memiliki semangat. Walau kau membenciku, aku terus mendekatimu. Karena apa? Karena aku ingin menghabiskan saat-saat terakhirku denganmu, Eun Si-ya. Dari dulu cintaku selalu untukmu dan tak akan pernah berubah. Sampai aku mati, aku akan terus mencintaimu, Eun Si-ya..

 

Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan untukmu.

I love U..and I’m Sorry, my love..

 

-Kim Jong Woon-

 

Airmataku semakin deras mengalir dan membasahi kertas. Aku meremas kertas itu.

“Nappeun!” gumamku.

“Kau egois! Kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri! Kenapa kau tidak katakan yang sejujurnya padaku? itu akan lebih baik daripada harus seperti ini. Kau datang ke dalam kehidupanku, lalu pergi begitu saja dan meninggalkan luka yang dalam untukku. Sekarang, setelah Tuhan mempertemukan kita lagi kau pergi. Kau pergi dan tak akan kembali. Disaat aku bisa lagi merasakan cinta. Kau jahat, oppa!” aku menangis sejadinya. Hong Ki langsung datang menghampiriku. Ia memelukku dan menenangkanku.

 

-THE END-

Ketentuan Rating

Standar

Annyeong~

Saya mau memberi informasi baru tentang rating FF

Langsung aja ya.

ada empat macam rating di blog ini.

1. “G” dimana FF ini boleh dibaca seluruh kalangan. Tidak adegan-adegan berbahaya seperti kekerasan atau ciuman sedikitoun ^o^. Klo genre komedi di sini tempatnya. Tapi klo komedia yang ada unsur seperti yang saya sebutkan tadi itu berbeda. Jadi semua umur bisa baca FF rating G ini.

2.” PG” dimana FF ini boleh dibaca pembaca remaja, dewasa maupun manula ^o^. Disini biasanya ada adegan yang cukup panas seperti “Kiss” or “Chu~” pokoknya adegan romantis-romantis. ada juga adegan yang sedikit~ ehm kasar, tapi tidak terlalu seperti perkelahian. Soal pembunuhan? Psikopat? bukan di sini tempatnya. Ini hanya FF yang butuh pengertian kepada pembacanya tentang isi yang terkandung di dalamnya. Meskipun hanya sepele saja tapi jika ditirukan itu tidak tepat lagi kecuali sudah cukup umur dan mampu. Sepertinya FF ini cocok untuk pembaca yang sudah duduk di bangku SMP. Untuk anak SD, TK or apalah yang masih kecil~ bacanya sama kakak or orang tua ya ^^

3. “R” dimana FF ini boleh dibaca pembaca tertentu saja dengan beberapa ketentuan. Seharusnya rating ini di gunakan untuk NC 17 tapi saya ganti ^0^. Rating ini mengandung unsur kekerasan tingkat berat seperti pembunuhan, psikopat, pokoknya yang berdarah-darah dan bikin bulu kuduk berdiri. Selain itu pelecehan termasuk dalam rating ini. Pelechan ringan tentunya. Seperti apa contohnya? tanya saya langsung ya ^o^ Ketentuan untuk dapat membaca FF rating “R” gampang kok. tinggal kirim umur dan tanggal lahir ke author lalu jawab pertanyaan author ^^

4. “X” dimana FF ini boleh dibaca pembaca yang telah menginjak usia 17 tahun. Nah tempatnya NC ada di sini. jadi yang suka baca FF NC 17 or 21, pokoknya NC di sini tempatnya ^^. Di sini banyak sekali adegan HOT dan ada juga pelecahan berat, kekerasaan dalam hal “itu” pokoknya gitulah~ ^o^. Buat yang mau membaca langsung saja menghubungi author dengan menyertakan, nama, tgl lahir dan no. KTP

Cukup sekian informasi dari saya ^^

Annyeong 🙂

Only One is You

Standar

tittle: Only One is You

author: WinkiesWingers

genre: sad romance

length: oneshot

rating: PG

cast: Leeteuk ‘superjunior’, Yoon Jihwa, and other cast

theme song: Life- shinee

A/N:

annyeong ^^, ini ff kedua dari ku .. DO NOT BASHING, okay? comment yah klo abis baca ^^. happy read..

 

 

======= ONLY ONE IS YOU ==========

 

 

Jihwa tengah duduk di bangku yang ada di balkon apartementnya. Ia mendekap erat boneka beruang besar berwarna putih seraya memandang langit biru yang cerah sore itu. Sesekali ia menghela napas panjang. Tampak ada hal yang sedang ia pikirkan.

 

“Eotteohkhaji?” desah Jihwa sambil membenamkan kepalanya ke boneka yang ia dekap. Ia merasakan sesak di dadanya. Matanya pun memanas. Setiap kali memikirkan atau mengingat tentang ‘dia’ , hatinya terasa sangat sakit. Ingin rasanya dia menjerit dengan sangat lantang untuk melampiaskan rasa sakit di dadanya. Tak terasa ia menitikkan airmata tepat saat seseorang memeluknya dari belakang. “Chagi..” sapanya pada Jihwa dan ia meletakkan dagunya di pundak Jihwa. Jihwa yang terkejut dengan kedatangannya lantas menghapus airmatanya. “Bogoshipeun..” lanjutnya. Jihwa tetap tak bergeming dan ia hanya memejamkan matanya. Suara lembut itu membuat dadanya bergemuruh kencang. Ingin rasanya ia berbalik lalu memeluk tubuh pria itu, tapi tubuhnya tak sanggup menerima permintaan dari kata hatinya.

 

Tak mendapati respon dari Jihwa, pria itu melepas pelukannya dan berjongkok di hadapan Jihwa. “Chagi, kau kenapa?” tanya pria itu . “Kau sakit?” lanjutnya sambil membelai lembut rambut Jihwa. Mimik wajahnya menunjukkan kekhawatirannya pada Jihwa. Jihwa membuka matanya. Sejenak ia memandang wajah pria yang amat ia cintai. Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya ke langit senja. “Nan gwaenchana..” jawab Jihwa singkat tanpa menatap wajah kekasihnya itu. Jihwa kembali menghela napas lalu masuk ke dalam tanpa memedulikan kekasihnya.

 

=========================================

 

-[[ JIHWA POV ]]-

 

“Jihwa-ya!” panggil Jungsoo oppa yang mengikutiku masuk ke dalam. Aku tak merespon panggilannya dan terus berjalan menuju ke ruang tengah. Aku duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tentu Jungsoo oppa juga mengikutiku sampai ke ruang tengah. Bahkan kini ia duduk disampingku. “Ceritakan padaku. Apa yang terjadi padamu?” tanya Jungsoo oppa. “Bukankah aku sudah mengatakannya tadi? Aku baik-baik saja, oppa.” jawabku tanpa menatap wajahnya.

 

“Kau berbohong padaku.” ujarnya tegas membuatku menatap wajahnya. Bukan kemarahan yang terpancar di matanya melainkan kekhawatiran yang ia tunjukkan untukku. “Kau tidak biasanya seperti ini. Dimana Yoon Jihwa yang selalu memanggilku dengan sebutan ParkTeuk? Dimana Yoon Jihwa yang selalu menyambutku dengan hangat saat aku datang menemuinya?” Kali ini tersirat kesedihan dimatanya.  ParkTeuk adalah panggilan special dariku untuknya. Aku selalu memanggilnya ParkTeuk, tapi kali ini rasanya sulit untuk memanggilnya dengan sebutan itu.

 

Aku hanya terdiam mendengar pertanyaannya. Haruskah aku melakukan ini padanya? Aku sungguh tak tega. Tapi, ini harus kulakukan. Aku tidak ingin lebih dalam masuk ke dalam kehidupannya. Karena itu hanya akan bisa membuatku merasa sakit.

“Jihwa-ya, tatap mata oppa!” kata Jungsoo oppa seraya mengangkat daguku. aku melihat ia menatapku dengan tajam. Tatapan yang selalu membuatku semakin mencintainya. Dengan segera aku memalingkan wajahku. Aku menarik napas dalam-dalam mencoba mengatakan sesutau padanya.

 

“Oppa.. lebih baik..” ucapku mengambang. Berat bagiku untuk mengatakan ini, tapi tak ada pilihan lain selain ini. “Lebih baik kita akhiri saja hubungan kita.”

“Mworago?”

“Kita putus.” ujarku datar.

“Wae? Wae, Jihwa?” Jungsoo oppa memegang kedua pundakku.

“Aku lelah dengan semua ini.”

“Lelah?  Lelah karena apa? Apa karena berita miring itu?”

aku hanya diam.

“Jihwa-ya, kau tak percaya padaku? Aku dan Taeyeon tak ada hubungan apa-apa. Hubunganku dengannya hanya seperti kakak-adik. Tak lebih dan tak kurang. Lalu, kalung itu.. itu hanya sebuah hadiah dari sponsor.”

“Apa aku bisa mempercayai perkataan Oppa itu? Kau bisa saja mengatakan begitu di depanku. Tapi di belakang, tak ada yang tahu kebenarannya.” sahutku dingin. Jungsoo oppa hanya terdiam. Aku tahu, aku percaya mereka memang tidak ada hubungan apa-apa. Mungkin dengan memancingnya menggunakan gosip lama ini, dengan mudah aku bisa merelakannya pergi dariku.

 

“Apa aku terlihat seperti itu? Jihwa-ya, kau tahu..aku mencintaimu. Tidak mungkin aku bermain dibelakangmu. Percayalah..Apa kau tidak mencintaiku lagi?”

“Bukannya begitu…tapi..” aku kembali mengambangkan kata-kataku dan memutar otakku untuk mencari alasan. “Tapi apa, Jihwa? Kalau kau masih mencintaiku, lalu kenapa kau ingin kita putus? Malhaebwa!” teriak Jungsoo oppa.

“Karena mencintaimu adalah sebuah kesalahan untukku!” aku membalas berteriak.

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Aku sudah mencoba memahami status Oppa sebagai idola yang sibuk dengan schedulenya dan sebagainya. Serta, banyaknya fangirls yang memuja dirimu dan juga kedekatanmu dengan beberapa artis wanita yang membuatku cemburu. Aku sudah berusaha menahannya. Tapi, aku tidak bisa. Aku merasa tertekan. Itu terlalu menyakitkan bagiku. Aku tidak sanggup, oppa..Maafkan aku.”

“Bukankah dulu kau mengatakan tak masalah menjalin hubungan denganku walau statusku adalah seorang idola? Lalu, kenapa sekarang kau seperti ini? ”

“Karena aku sangat mencintaimu dan terlalu mencintaimu! Perasaan ini membuatku tersiksa! Aku tidak tahan dengan ini semua. Semakin besar perasaanku padamu semakin aku merasakan sakit. ”

aku bisa melihat dia tampak terkejut dengan ucapanku barusan. Kesedihan terpancar dari matanya. “Apakah begitu menyakitkannya kau mencintaiku?” tanya Jungsoo oppa. Suaranya sedikit bergetar. Aku hanya bisa diam mematung.

 

“Baiklah, jika dengan mengakhiri hubungan kita itu bisa membuatmu lebih baik, aku akan menerimanya.” Jungsoo oppa bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan. Sebelum ia keluar, Jungsoo oppa membalikkan badannya. “Geundae, ada hal yang harus kau tahu,Jihwa-ya. Apapun yang terjadi cintaku selalu untukmu dan itu tak akan pernah berubah selamanya.”

Aku terhenyak mendengar pernyataannya. Aku bisa merasakan airmata mengalir dari kedua mataku. Aku menundukkan kepalaku dan tak ada keberanian untuk menatap wajahnya. Setelah Jungsoo oppa meninggalkan Apartementku, tangisku pecah.  Hubunganku dengannya sudah berakhir. Cerita awal cinta kami yang penuh canda dan tawa, kini berubah menjadi kepedihan yang aku sebabkan dari diriku sendiri.

 

“Mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo, ParkTeuk-a. Kau begitu baik padaku. Selalu memberikan sebuah hadiah untukku. Kau juga sangat peduli dengan keluargaku. Aku mencintaimu dan sangat mencintaimu. Tapi, aku tidak bisa..itu sangat menyakitkan untukku.”

 

 

==============================

 

-[[ JUNGSOO POV]]-

 

Aku bisa mendengarnya. Dengan sangat jelas aku mendengar suara tangisnya. Ingin sekali aku kembali masuk ke dalam lalu memeluknya. Mendengar tangisannya membuat hatiku perih. Aku selalu memberikan cintaku untuk gadis itu. Akan tetapi, aku tidak menyangka Jihwa mengakhiri hubungan kami. Itu bagaikan tamparan untukku. Jihwa gadis yang sangat berarti dalam hidupku. Aku sangat mencintainya, bahkan sejak awal kami bertemu. Kata-kata yang diucapkan Jihwa kembali terngiang di telingaku. Aku mendesah panjang. Lalu, aku putuskan untuk kembali ke dorm.

 

“Aku pulang..”

 

sesampainya di dorm aku langsung masuk ke kamar dan mengurung diri tanpa memedulikan member lain yang menyapaku. Aku masih terpukul dengan kejadian tadi. Mungkin ini yang terbaik untuk Jihwa. Aku tidak ingin membuat Jihwa lebih tersiksa dan tersakiti karena perasaannya padaku. Lalu untukku? Apa aku bisa menjalani hidup tanpa Jihwa disisiku? Aku tidak yakin.

“Ahh, andwae! Aku tidak boleh menangis.” aku mencoba menghapus airmataku dan menahan diri agar tidak menangis. Entah kenapa semua kenangan-kenangan saat aku bersama dengan Jihwa kembali menghiasi kepalaku membuatku kembali menangis.

 

“Hyung!” panggil Donghae dari luar kamar sembari mengetuk pintu. “Gwaenchana?” tanya Donghae. “Hyung, aku masuk yah..”

Mendengar Donghae akan masuk ke kamar, aku lantas menghapus airmataku dan beranjak ke tempat tidur.

“Hyung, gwaenchana?” tanya Donghae begitu masuk ke dalam kamar.

“Nan gwaenchana. Aku hanya lelah dan butuh istirahat.” jawabku berusaha melemparkan senyum kearah Donghae. “Arasseo.. Kalau begitu aku keluar. Istirahatlah yang cukup, Hyung.”

 

Selalu saja aku seperti ini. Menyembunyikan semua masalah yang sedang aku hadapi dari mereka, member-deul ku. Sudah banyak masalah yang terjadi dalam grup kami dan aku tidak ingin membuat mereka cemas karena masalahku. Aku tidak boleh terpuruk dalam kesedihan. Aku harus kuat dan tidak boleh seperti 4 tahun yang lalu. Yap, aku harus menjadi orang yang kuat dihadapan semua orang. Aku harus kembali menjadi Leeteuk.

 

=====================================

 

Tampaknya aku tak berhasil. Sekeras apapun aku menyembunyikannya, itu malah memberikan dampak pada pekerjaanku. Alhasil, di beberapa syuting acara aku banyak melakukan kesalahan. Saat latihan dance aku juga selalu melakukan kesalahan.Tidak ada semangat dalam diriku saat ini dan ini sudah berlangsung selama beberapa hari. Sulit untukku tersenyum saat ini. Belakangan ini juga tweetku di twitter dan diary entry di cyworldku penuh dengan emoteuk. Para member terlihat sangat mengkhawatirkan diriku tapi aku berusaha tersenyum dan selalu mengatakan,” aku baik-baik saja.”

 

Perasaanku yang belum membaik, kini harus kembali dihadang masalah. Para netizen kembali menyemprotku karena insiden yang terjadi di konser SMTOWN. Di dunia ini tampaknya aku orang yang gampang untuk dihina. Aghh! Jihwa-ya, apa kau tahu? Aku sangat membutuhkanmu. Kau selalu ada untukku saat aku dilanda masalah. Apa yang harus akau lakukan? Aku tidak bisa apa- apa tanpamu.

“Hyung! Kau salah gerakan!” tegur Shindong. Saat ini kami sedang latihan untuk persiapan sushow 3 selanjutnya.

“Ahh, mianhaeyo..” jawabku kikuk. Para member menatapku semua. Ada diantara mereka yang menatapku sebal dan ada juga yang menatapku dengan khawatir.

“Lebih baik sekarang kita istirahat dulu.” ujar Siwon.

“Hyung, gwaenchana? Kau terlihat kurang sehat..” tanya Ryeowook menghampiriku.

“Gwaenchana..”

 

Para member duduk berkumpul menjadi satu sedangkan aku memilih untuk menjauh dari mereka. Bukan apa-apa tapi aku hanya butuh sedikit ketenangan. Sesekali aku menatap layar hapeku. Berharap ada balasan sms atau telepon dari Jihwa untukku. Yah, di dalam lubuk hatiku aku masih mengharapkan bisa kembali dengan Jihwa. Pikiranku pun kembali ke saat-saat kami bersama dulu. Sangat sulit bagiku untuk melupakan gadis yang sangat berharga bagiku. Terlebih dia sudah mengisi hari-hariku dengan cintanya yang ia berikan padaku. Aghh! aku masih sangat membutuhkan Jihwa disampingku. Lama-lama bisa gila aku memikirkan gadis itu.

 

Aku mengacak-acak rambutku sendiri. Aku merasa gemas dengan diriku yang seperti ini.

 

“Teukie hyung, harus sampai kapan kau seperti ini? Ceritakanlah masalahmu pada kami. Kami siap mendengarkannya.” ucap Siwon setelah selesai latihan. Para member yang lain mengerubutiku. Aku menatap mereka satu persatu. Pandangan mereka penuh harap agar aku berbagi kesusahan dengan mereka. Tapi ini masalahku, aku tidak ingin merepotkan mereka.

“Kalian ini kenapa? Aku baik-baik saja. Sungguh!”

“Geotjimal! Hyung selalu saja seperti ini. Memendam semuanya sendirian. Kami disini untukkmu, Hyung. Jika kami ada masalah, hyung selalu ada untuk kami dan mendengar curhatan kami. Tapi, hyung? Hyung tidak sendirian..” ujar Eunhyuk. Ucapannya membuatku terharu.

 

Mereka semua sangat memedulikanku. Aku menghela napas lalu kuceritakan semua kejadian itu pada mereka. Seperti dugaanku, mereka sangat terkejut mendengarnya.

 

“Lalu, hyung mau berbuat apa?” tanya Donghae.

“Tidak berbuat apa-apa. Aku tidak ingin Jihwa merasa lebih sakit jika bersamaku.”

“Pabo! Kalau kau masih mencintainya, seharusnya kau kembali berusaha mendapatkannya. Yakinkan dia, kalau mencintaimu bukanlah kesalahan. heishh chinjja..” celetuk Heechul.

“Tapi aku sudah berusaha, Chul-a! 2 hari lalu aku mencoba mendatangi apartementnya. Tapi apa? Dia mengusirku. Dia mengatakan kalau dia membenciku.” jelasku dengan penuh emosi.

“Percaya padaku. Aku yakin Jihwa juga masih mencintaimu, hyung.” ujar Siwon.

“Neo… eotteohkhae?”

“Diakan seorang pendeta. Percaya saja apa kata dia..” celetuk Heechul lagi. Siwon terlihat memelototi Heechul.

“Hyung masih mempunyai kesempatan!” seru Kyuhyun.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”

“Lakukan saja apa yang bisa kau lakukan. Kami percaya padamu, hyung pasti bisa.” ujar Sungmin bijak.  Aku pun diam sejenak memikirkan cara apa yang harus aku lakukan. “AH! Arasseo. Gomawo..” seruku setelah mendapatkan ide yang mungkin bisa aku lakukan. “Bolehkan aku meminta bantuan kalian? Begini…”

 

-[[ JUNGSOO POV END]]-

 

========================

 

Malam harinya..

 

“Jihwa-ya, kembalilah padanya. Apa kau mau terus-terusan melihat dia seperti itu? Dia membutuhkanmu, Jihwa-ya.”

“Majayo. Kami tidak ingin melihat kalian berdua seperti ini. Kalian masih sama-sama membutuhkan dan masih saling mencintai.”

 

Jihwa membisu mendengar perkataan kedua sahabatnya.

 

Yah, mungkin memang benar apa yang dikatakan Nana unnie dan Jooyeon unnie. Tidak bisa dipungkiri kalau aku masih menyimpan perasaanku pada Jungsoo oppa. Belakangan ini aku membaca diary entry-nya. Entah kenapa aku lebih sakit melihatnya sedih seperti itu daripada sakit yang kurasakan saat bersamanya.Tapi, semua sudah terlanjur. Aku yang mengakhiri cerita cinta kami. Batin Jihwa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kaca.

Tanpa ia sadari, airmatanya menetes membasahi kedua pipinya. Nana yang melihat itu lantas menghampiri Jihwa dan memeluknya.

“Jihwa-ya, semua akan baik-baik saja. Uljima..”

“Unnie, ini lebih menyakitkan. Aku tidak bisa jika tidak ada Jungsoo oppa. Seharusnya aku tidak mengakhiri ini. Karena aku dia seperti ini. Unnie, naneun eotteohkhae?” Jihwa terisak di dalam pelukan Nana. Perasaan bersalah muncul dihatinya.

 

“Daripada kau berdiam diri di Apartementmu, lebih baik kau menghirup udara segar saja. Pergilah ke taman, mungkin itu akan membuat perasaanmu lebih baik..” Tawar Jooyeon sambil menarik tangan Jihwa.

“Dengan unnie-deul?”

“Mianhae, tapi kami berdua harus kembali ke lokasi syuting. Gahee unnie sudah menelepon kami.” jawab Nana.

“Arasseo..”

Dengan langkah gontai Jihwa berjalan menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah itu, bersama dengan Nana dan Jooyeon mereka meninggalkan Apartement. Mereka pun saling berpamitan satu sama lain. Dalam perjalanan menuju lokasi syuting, Nana menelepon seseorang.

“Yoboseyo. Heechul-ssi,  semua beres. Sekarang dia sedang menuju kesana. Anieyo gwaenchana. Ne, annyeong..”

 

================================

 

“Chinjjaro? Oo, arasseo. Gomawo, Nana-ya. Mian, telah membuat kau dan Jooyeon repot. Oke, annyeong.”

“Hyung, gimana?” tanya Eunhyuk. “Jihwa sudah menuju kesini..Ppali! Ppali!” jawab Heechul. Mereka pun segera bersiap-siap sesuai apa yang direncanakan Jungsoo siang tadi.

 

Jihwa tengah berjalan menuju taman. Jalanan yang sepi membuat bulu kuduk Jihwa berdiri. Terlebih lagi angin malam yang menusuk tulangnya. “hyaa, dingiiin! Ahh, kenapa mereka menyuruhku ke taman? Padahal anginnya kencang seperti ini. Tapi, bodohnya aku juga kenapa mau menuruti mereka berdua? Ahh, sudahlah, kesana saja..”

Jihwa pun melanjutkan perjalanannya menuju taman. Tepat saat ia memasuki taman, suara petir menyambar membuat Jihwa terperanjak kaget. ” Gyaa..ParkTeuk-a!!” latah Jihwa. “Ahh, chinjja! Membuatku kaget saja. Lebih baik aku kembali pulang saja.” gerutu Jihwa sebal.

 

“Ya! Chamkkanman, Jihwa-ssi!!” cegah seseorang.

 

Merasa namanya dipanggil, Jihwa membalikkan badannya mencari asal sumber suara yang memanggilnya. Dengan pelan-pelan diselimuti rasa ngeri, Jihwa berjalan kembali memasuki taman. Disana telah berdiri 9 pria yang tak asing baginya.

 

“Kalian? Kenapa ada disini?” tanya Jihwa kepada 9 pria yang berdiri tak jauh darinya. Mereka semua melemparkan senyum kearah Jihwa dan tak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan Jihwa.

“Ya! Kenapa bajumu seperti itu? Heishhh, seharusnya mereka menyuruhmu memakai gaun atau apalah. Kau terlalu biasa dan tidak terlihat cantik..” olok Heechul sambil menatap Jihwa dari bawah lalu keatas. Saat ini hanya celana jeans, kaos putih polos, cardigan, dan sepatu sneakers yang Jihwa kenakan.

“Oppa! Apa yang kau katakan? Memang kenapa dengan pakaian yang aku kenakan? Aku datang kesini hanya untuk mencari udara saja.”

“Ahh,sudahlah! Toh bukan aku yang punya keperluan.” Heechul berjalan mendekati Jihwa. Dari balik punggungnya ia mengeluarkan sesuatu membuat Jihwa bingung.

“Ini untukmu. terimalah..” ujar Heechul seraya menyerahkan sebucket bunga mawar merah kepada Jihwa. “Ige mwoya?” tanya Jihwa polos membuat Heechul gemas melihatnya. “Sudah! terima saja!”

 

Dengan penuh tanda tanya Jihwa menerima pemberian bunga dari Heechul. Belum terjawab apa maksud Heechul memberinya bunga, ke-7 member Suju yang tersisa bergantian juga memberinya bucket bunga mawar merah. Di setiap bucket bunga itu, ditengahnya terdapat sebuah memo kecil. Di memo itu terdapat potongan-potongan kata. Jihwa membacanya bergantian saat tiap member memberinya bunga.

 

Oh, geochin salmae shideureogal ddae, geudaega naegae dagawa

Eoleobooteun nae maeumae soneul daen soongan

Naui salmeun shijak dwaesseumeul

Oh, When this passing life withers away. You come to me..

The moment i touch your frozen heart, my life begins..

 

Geudae jichigo himdeul ttae

budi geu yeopjarie nareul itge hae

When you’re tired and having a hard time

Please let me stay by your side

 

Batgiman han sarangeul dasideuril su itge

i salmi kkeutnagi jeone

So i can give back to you the love i had only received

Before this life ends

 

Sesange mureup kkurko nunmul heullil ttae

pokpung sok bal meomchul ttae geudaeman seo itdamyeon

When I get on my knees and cry

When I stop my tracks inside the storm

ireon apeum, gotongjjeum gyeondil su inneungeollyo

ojik geudaeman, naege itdamyeon in my life

If you alone are standing, I can handle this much pain and suffering

If only you, are with me in my life

 

eodun sup sok gil irheul ttae

eorin naui yeonghoni ulgo isseul ttae

When i lose my way inside the dark forest

When my young soul is crying

biccheoreom gijeokcheoreom, nareul ikkeureojwoyo

i salmi kkeutnagi jeone

Guide me like a light, like a miracle

Before this life ends

 

Uljji anhayo, dashin ulji anhayo

I won’t cry, I won’t cry again

 

geu mueotdo jeoldae nal meomchuji mothae

Absolutely nothing can stop me

 

heona ojik dan han saram geudae

nareul mandeulgo wanseongsikigo

But only one person

You make me, you perfect me

 

o ireoke sumswige hae you

Oh, You make me able to breath like this

 

Begitulah isi kalimat yang ada di tiap memo jika digabungkan menjadi satu. Jihwa terpukau membaca kata-kata yang terdapat ditiap memo itu. Tak dipungkiri, ia merasa sangat terharu. Yah, tampaknya ia mengerti siapa yang ada dibalik ini semua. Dan perkiraan Jihwa pun benar. Jungsoo datang dan seperti para membernya, ia memberi Jihwa sebucket bunga mawar merah yang ukurannya lebih besar dari ke-7 bucket bunga lainnya.

 

“sesange mureup kkurko nunmul heullil ttae, pokpung seokbal meomchul ttae geudaeman seo itdamyeon. eotteon apeum, nunmuljjeum chameul su inneungeollyo. All i want is you, only one is you in my life..” Jungsoo pun menyanyikan sisa bait yang tersisa dari semua memo itu seraya memberikan bucket bunga pada Jihwa. Yap, potongan2 kalimat itu adalah rangkaian sebuah lirik lagu. Jihwa menerima bunga itu tanpa ada senyum diwajahnya. Ia tak tahu harus menunjukkan ekspresi apa didepan pria yang masih mengisi relung hatinya itu.

 

“Semua ini kupersembahkan untukmu. Apa kau suka? itu adalah lagu kesukaanmu kan?” tanya Jungsoo dan Jihwa mengangguk kecil.

“Tugas kami selesai! Teuk-a, sisanya semua terserah padamu. Kami pulang ya. Daah..” seru Heechul. Mereka pun meninggalkan Jungsoo dan Jihwa seorang diri di taman.

 

========================================

 

Keadaan menjadi sunyi senyap. Daun bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti arah angin yang berhembus sedikit kencang. Suara jangkrik yang saling bersahutan terdengar merdu bagaikan lagu keong racun *lho?*. Maksudnya, bagaikan paduan suara.

 

Tak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan satu kata pun. Jungsoo terlihat salah tingkah sedangkan Jihwa, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Sesekali ia mengusap tangannya untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan karena angin malam. Yah, seperti yang ada di film-film. Pria yang melihat gadisnya kedinginan selalu memberikan jaket atau syal yang ia kenakan untuk gadisnya itu. Begitu pula dengan Jungsoo. Ia melepas jas yang ia kenakan lalu memakaikannya ke Jihwa. Awalnya Jihwa menolak, namun Jungsoo memaksanya agar Jihwa tidak jatuh sakit.

 

“Jihwa-ya.. ” panggil Jungsoo.

“Ne” jawab Jihwa singkat, jelas, padat.

“Jihwa-ya, nan…” Jungsoo menggantungkan ucapannya. Ia menarik napas panjang. “Nan.. Neoreul saranghae. Bisakah kita kembali seperti dulu lagi?” tanya Jungsoo sambil memegang kedua tangan Jihwa. “Jihwa-ya, aku tidak bisa tanpa dirimu..”

 

Jihwa menarik tangannya.

 

“Sekeras apapun aku mencoba melupakanmu, tetap tidak bisa. Kau selalu muncul dipikiranku. Seperti yang aku katakan pada hari itu,cintaku selalu untukmu dan itu tak akan pernah berubah selamanya. Aku memikirkanmu, dan selalu memikirkanmu. Aku sangat menyukaimu dan aku tidak bisa melupakan segalanya tentangmu, Jihwa-ya. Hanya kau yang aku inginkan di dalam hidupku.”

Jihwa tertegun mendengar ucapan Jungsoo.

 

“Oppa, mencintai oppa adalah sebuah kebahagian untukku saat pertama kali aku merasakannya. Tapi, semakin lama cintaku padamu semakin besar. Bukannya aku senang dengan perasaan itu, aku malah merasa tersiksa dengan perasaanku itu. Terlebih lagi status oppa, itu membuatku tertekan. Dunia kita sangat berbeda..” Jihwa menghentikan ucapannya. Sejenak ia menengadahkan kepalanya menahan agar airmatanya tak jatuh. “Tapi… ternyata aku salah. Keputusanku itu malah membuat orang yang aku cintai merasa kesepian dan berlarut dalam kesedihan. Apa oppa tahu? Melihat oppa yang seperti itu malah membuatku sakit. Lebih sakit daripada sakit karena terlalu mencintai oppa. Seperti halnya oppa. Aku selalu berusaha agar bisa menghapusmu dari kehidupanku. Tapi aku tidak bisa. ”

 

“Lalu? Apa kita bisa…”

Jihwa langsung memotong perkataan Jungsoo. ” Maafkan aku. Karena aku, oppa terluka. Saat berita insiden itu yang memberika dampak buruk pada oppa, aku merasa sangat sedih.”

“Kau tahu? Saat itu, aku sangat membutuhkanmu. Hanya kau yang bisa membuatku lebih baik. Jihwa-ya, jebal.. dorawa.”

“Tapi, oppa harus berjanji padaku. Jangan ada lagi emoteuk. Melihat oppa sedih, aku juga sedih. Melihat oppa merasakan sakit, aku juga merasa sakit melihat oppa seperti itu.”

“Jika ada kau disampingku, itu seperti memberikanku kekuatan untuk menjalankan hidup ini. Kau mencintaiku dan ada disisiku itu sudah lebih dari cukup.”

 

Jihwa dan Jungsoo saling berpandangan. Senyum lebar menghiasa wajah mereka.

“Nae aegya, jeongmal saranghae..”

“Na do saranghae, naui cheonsa..”

Jungsoo pun memeluk Jihwa dan Jihwa membalas pelukannya.

 

Sayangnya kemesraan itu tak berlangsung lama. Air hujan yang jatuh dari langit langsung mengguyur tubuh mereka. Jungsoo mencari-cari tempat berteduh. Setelah menemukannya, ia lantas menarik tangan Jihwa dan berlari ke box telepon umum.

“Ahh, chinjja! kenapa hujan turun disaat2 terpenting seperti ini?” gerutu Jungsoo kesal sambil menatap keluar box. Jihwa terkekeh dibuatnya. “Kenapa tertawa?”

“Ani. Lucu saja melihatmu menggerutu seperti itu. hihihi”

Jungsoo hanya menggembungkan pipinya melihat Jihwa menertawainya.

 

Hampir setengah jam mereka menunggu hujan reda. Tapi, hujan tak kunjung reda juga.

“Apa kau kedinginan?” tanya Jungsoo cemas melihat Jihwa yang terus-terusan meniup kedua telapak tangannya.

“Ani, gwaenchana..” jawab Jihwa disertai senyumnya.

“Apanya yang baik-baik saja? Tanganmu dingin begini..” seru Jungsoo sembari memegang kedua telapak tangan Jihwa yang memang dingin.”Mendekatlah..”

“Ye?”

“Mendekat padaku! Apa kau tidak dengar?” perintah Jungsoo. Jihwa terlihat kaget melihat Jungsoo berbicar keras padanya. Dengan ragu-ragu ia mendekat kearah Jungsoo. Jungsoo langsung menarik tubuh Jihwa kedalam pelukannya.

“Apa kau merasa hangat?”

“Ne. Gomawo, ParkTeuk-a..”

 

Jungsoo memeluk Jihwa untuk menghilangkan rasa dingin yang melanda Jihwa. Suasana itu malah membuat jantung Jihwa berdegup kencang. Ternyata tak hanya JIhwa, Jungsoo pun merasakan hal yang sama. Ia melirik kearah Jihwa. Ia bisa melihatnya, gadisnya itu terlihat gugup. Lucu sekali.

“ParkTeuk-a! Kenapa melihatku seperti itu?”  Jihwa melepas pelukannya dan sedikit menjauhkan diri dari Jungsoo.

 

Tiba-tiba suara guntur terdengar sangat kencang. Jihwa menjerit karena kaget dan reflek ia memeluk Jungsoo. Jungsoo langsung menenangkan Jihwa. Setelah semuanya baik-baik saja, Jihwa kembali melepas pelukannya. Jihwa terlihat sangat malu dan gugup karena tiba-tiba ia memeluk Jungsoo. Jungsoo yang melihat kegugupan Jihwa, meraih tangan Jihwa dan menggenggamnya.

“All i want is you. Only one is you in my life.” ucap Jungsoo yang tengah memandang kearah luar. Jihwa yang mendengarnya langsung menatap Jungsoo. Jungsoo mengalihkan pandangannya menatap Jihwa dan melemparkan senyum untuk gadis itu.

“Jihwa-ya..” panggil Jungsoo. Ia mendekatkan wajahnya kearah Jihwa. Tangan kanannya dengan perlahan memegang tengkuk gadis itu. Sejurus kemudian Jungsoo menempelkan bibirnya ke bibir Jihwa. Dengan lembut ia mencium Jihwa ditengah hujan yang mulai mereda.

 

Jungsoo melepas ciumannya dan menatap Jihwa yang tertunduk malu. Jungsoo mengecup puncak kepala Jihwa membuat Jihwa memandang kearahnya. Jungsoo tersenyum kearahnya dan Jihwa membalas senyum pria itu. Sedetik kemudian, Jungsoo kembali mencium bibir Jihwa. Kali ini, ciuman yang lebih dalam dari sebelumnya.

 

-THE END-

Lucifer (Taemin)

Standar

Annyeong ^^

Kali ini saya kembali lagi dengan FF Lucifer

Ini FF saya buat untuk teman saya Vuyu~ aka Firyal Fadhilah yang cinta mati ama Taemin ^^

Langsung saja ya

 

Cast: Taemin, Firyal Fadhilah as Shin Minbyul

R: PG

G: Fantasy, Romance

 

Need Your Comments, Please Comments This Fiction


fanfiction korea lucifer taemin

-LUCIFER-

 

*Minbyul POV*

 

Hari yang membosankan. Semuanya berjalan seperti biasa. Teman-temanku sudah hafal betul gerak-gerikku jadi mereka tidak dapat ku kerjai. Sekarang aku duduk sendiri menatap ke luar jendela. Langit begitu cerah tapi tidak secerah hatiku

“Minbyul!” kudengar seseorang memanggil namaku.

“SHIN MINBYUL! Kau dengar tidak?”

Kali ini aku menoleh. Seongsaengnim menatapku tajam. Sejak kapan dia tiba di kelas dan siapa namja yang ada di sampingnya.

“Dia akan duduk di sebelahmu, ku harap kau baik dengannya.” ucap seongsaengnim menatapku tajam.

Aku langsung sumringah. Yes! Ada korban baru.

“OK pak!” seruku.

Lalu namja itu berjalan mendekatiku. Aku sudah menyiapkan jebakan di bangkunya. Aku menumpahkan lem di bangku yang akan ia duduki.

“Annyeonghaseyo. Jaeirumun Lee Taemin imnida. Manasao bangabsumnida.” ucapnya ketika duduk di sampingku.

“Siapa namamu?” tanyanya mencari nametag di blazerku.

“Kau tak perlu tau siapa namaku.” ucapku ketus lalu membuang muka darinya.

Aku tersenyum ala devil karena ia sudah terjebak dalam jebakanku. Tinggal menunggu nanti~

 

Saat bel istirahat berbunyi aku melihatnya ia berdiri. Aku melongok. Bagaimana bisa? Aku sudah memberi lem di bangkunya. Di celananya tidak ada sisa bekas lem

 

*Taemin POV*

 

Ada yang aneh dengan yeoja yang duduk disebelahku. Ia memperhatikanku ketika aku bangkit dari kursi yang ku duduki. Apa ada yang salah denganku? Ekspresinya menunjukkan dia terheran-heran denganku.

Aku keluar kelas menujuh kantin. Beberapa chingu sekelasku bertanya kepadaku apa aku baik-baik saja. Aku jawab aku baik-baik saja. Lalu aku bertanya kenapa mereka menanyaiku seperti itu. Ternyata yeoja yang duduk disampingku adalah tukang iseng. Dia suka mengerjai anak apalagi anak baru sepertiku. Aku hanya tersenyum. Pasti dia terheran-heran karena tidak dapat menjailiku. Oh ya tadi seonsaengnim memanggilnya Minbyul. Shin Minbyul. Hm…. Apakah dia….

Sudahlah aku mau membeli sesuati di kantin.

Lalu aku kembali. Dia masih berada di bangkunya. Ia merebahkan kepalahnya di meja dan tertidur. Wajahnya menghadap ke jendela. Lalu aku melihat kursinya. Aku tersenyum. Ternyata ia tidak beranjak dari tempat duduknya karena lem. Pasti tadi ia, menaruh lem di bangkuku. Aku nyengir. Aku memandanginya tidur. Aku dapat melihat auranya. Itu bukan aura biasa. Sepertinya aku yakin akan siapa dirinya sebenarnya.

Lalu beberapa yeoja mendekatiku. Ia mengajakku menonton apalah dan apalah. Aku sudah biasa seperti ini. Aku berkata iya dan menyuruh mereka menungguku di tempat yang berbeda.

 

Saat bel pulang sekolah berbunyi aku beranjak. Aku membiarkan teman sebangkuku tidur. Aku heran dengannya, bukankah tadi dia sudah tidur saat istirahat? Lalu kenapa ia tidur lagi saat jam terakhir dan kini ia tidak bangun.

Aku siap-siap menghadapi satu demi satu yeoja yang menungguku. Aku tidak menuruti perkataan mereka. Tapi merekalah yang harus menuruti perkataanku. Dengan sekali senyuman ia tidak dapat berkutik. Mereka akan selalu mendengar perkataanku dan menuruti perkataanku. Aku memperbudak mereka untuk melakukan kekacauan di suatu tempat-tempat tertentu.

Setelah selesai dengan tugaku aku kembali ke kelas. Firasatku yeoja itu masih tertidur di kelas. Dan…. Dugaanku salah. Yeoja itu sudah bangun tapi ia kesusahan untuk berdiri. Lalu aku datang mendekatinya. Ia memandangku heran.

“Kenapa kau belum pulang?” tanyanye ketus.

“Kau sendiri saja belum pulang.” sahutku.

Lalu memutar bangkunya ke belakang kelas. Ia bertanya-tanya kepadaku dan melarangku dekat dengannya tapi aku tidak menghiraukan. Kemudian aku meraih ke dua tangannya dan menariknya. Ia terhempas kepelukanku bersamaan dengan suara~

KRAAAKKK~

Sepertinya ada yang sobek dan aku tahu itu.

“Astaga~” ucapnya mendongak menatap wajahku.

“Jangan lihat! Tutup matamu!” sentaknya.

Aku menutup mataku sembari melepaskan blazer milikku.

“Kenakan ini untuk menutupi rokmu yang sobek.” ucapku menyodorkan blazer milikku.

Ia menerimanya. Lalu semenit kemudian aku membuka mataku.

“Eits~ jangan buka matamu. Hitung hingga 100 baru buka matamu.” sahutnya lantang.

Firasatku tidak enak. Aku menurutinya. Setelah berhitung aku membuka mataku. Dia sudah menghilang. Aku melangkah. Aku hampir terjatuh karena tali sepatuku terikat satu dengan yang lain. Sepertinya ia mengikat tali sepatu kiri dan kanan saat aku berhitung tadi. Tapi usahanya gagal. Aku tersenyum ala Lucifer dan seketika itu ikatan tali sepatuku kembali seperti semula. Aku berjalan keluar ruangan mengejarnya. Aku tahu dia masih berada di sekolah.

 

 

*Minbyul POV*

 

Semoga saja dia terjatuh dan tidak mengejarku. Aku cepat-cepat menuruni tangga. Saat menuruni anak tangga terakhir aku terjatuh. Sial! Mungkin karena aku tergesah-gesah. Aku berusaha beranjak tapi tidak bisa. Rasanya sakit sekali. Kakiku benar-benar terkilir.

Aku mencari pegangan merabah-rabah tembok dan mulai melangkah dengan terpincang-pincang. Saat keluar gedung aku kembali jatuh. Kali ini lututku menjadi korban. Aku merintih kesakitan mengutuk diriku yang sungguh sial hari ini. Sekarang rasanya sulit untukku berdiri.

Lalu seseorang berjongkok di hadapanku. Ia membelakangiku, menunjukkan punggungnya.

“Naiklah, aku akan mengantarmu pulang.” ucapnya.

Aku ragu. Mungkin saja dia bermaksud jahat kepadaku.

“Aku tidak akan melukaimu. Tenanglah.” ucapnya.

Aku menelan ludahku. Lalu naik ke punggungnya. Ia memegangi kedua kakiku lalu berdiri. Ia berjalan perlahan. Kami terdiam.

“Di mana rumahmu?” tanyanya memecahkan keheningan.

Aku terdiam. Lalu terbesit di otak untuk mengerjainya. Aku akan membuatnya kelelahan karena menggendongku kesana kemari.

Aku menjelaskan di mana rumahku dengan berputar putar. Tapi tidak berhasil. Dia tetap bugar. Mala aku yang lelah seakan posisiku seperti dirinya. Aku menyandarkan kepalahku di bahunya kemudia aku melinkarkan tanganku di lehernya.

“Waeyo?” tanyanya heran melihat sikapku.

“Aku lelah. Lebih baik kita naik bus atau kereta bawah tanah.” ucapku pelan.

Aku memejamkan mataku. Entah kenapa aku merasa lelah. Aku selalu melemah jika ada di dekatnya. Seakan-akan dia menyerap semua energiku.

Aku merasa tubuhku di hempaskan ke bangku. Entah kenapa aku merasa berada di suatu tempat yang gelap dan hanya ada aku dan dia. Tempat ini benar gelap.

Ku dengar ia bercakap-cakap dengan yeoja. Aku tidak dapat mendengar jelas apa yang ia katakan. Aku merasa panas. Tubuhku berkeringat. Aku dapat merasakan dia mengenggam tanganku. Akupun membuka mataku. Aku menatapnya. Dia tersenyum padaku. Tidak ada yang salah padanya. Tapi aku merasa takut. Saat bus yang aku tumpangi ini berhenti, aku buru-buruk keluar dan berlari darinya. Dengan terpincang-pincang aku menujuh ke keramaian. Bersembunyi di balik keramaian. Ku harap dia kehilangan jejakku.

Aku melihat sekelilingku. Hari sudah malam dan aku tak tahu aku berada dimana. Ada rasa takut. Entah dari mana asalnya. Mungkin karena dia. Ya, namja bernama Taemin itu memiliki senyuman yang tidak biasa. Siapa yang melihatnya langsung luluh. Tapi tidak untuk aku. Aku merasa ia menyedot energi. Membalikkan apa yang ku lakukan kepadanya ke diriku sendiri. Dia selalu berbicara dengan yeoja dengan nada pelan.

Aku punya firasat tentangnya. Firasat yang buruk. Aku menduga dia seorang Lucifer. Mungkin aku gila jika menyimpulkan Taemin seperti itu. Lucifer hanya sebuah legenda yang ku dengar dari orang tuaku. Tugas Lucifer bermacam-macam. Ada yang mencuri jiwa, berbuhat jahat, pokoknya mereka bekerja mengendalikan jiwa orang lain, membuat orang lain sengsara.

Dulu orang tuaku mengataiku sebagai Lucifer. Aku sangat kesal. Setelah mengalami kecelakaan, mereka berhenti mengataiku. Hingga kini aku tidak ingat peristiwa itu.

Ya Tuhan aku belum menemukan jalan pulang. Rasanya aku ingin menangis tapi kenapa air mata ini tidak keluar juga. Aku terduduk di jalan setapak. Tempat ini sungguh gelap. Tidak ada orang yang berlalu-lalang. Suasana sunyi senyap. Yang terdengar hanya suara angin dan ranting-ranting yang bergesekkan.

Lalu terdengar suara berat. Aku menelan ludahku. Sepertinya mimpi burukku segera dimulai.

 

 

*Taemin POV*

 

Aku tidak menyangka ia akan lari dariku dan menghilang begitu cepat. Sebenarnya dimanakah dia? Aku khawatir. Hari semakin malam, apakah dia sudah pulang?

Dalam sunyi senyap aku berjalan menyelusuri jalan setapak. Di kiri kanan terdapat semak belukar dan pepohonan yang menjulang tinggi. Lalu terdengar suara sentakan-sentakan dari kejauhan. Dan paling mengejutkan adalah suara ledakan. Aku langsung berlari ke asal suara. Aku tertegun saat nenyelusuri asap hitam dan menemukan bebarapa orang yang berdiri ketakutan serta sesosok Devil. Aku menelan ludahku.

Devil itu mengamuk, menghantam siapa saja yang mendekatinya. Manusia-manusia yang berusaha melukainya tadi tak berdaya di hantamnya, dilempar ke sana kemari. Saat tak ada lagi yang ia hantam ia menatapku dengan matanya yang merah. Ku lihat dua tanduknya yang ada di kepalahnya. Kurasa ia menjadi devil sempurnah dengan sayap kelalawar hitam yang ia kebahkan. Ia berjalan mendekatku. Aku dapat merasakan nafasnya yang panas. Lalu ia mencekik leherku. Aku tidak bisa bernafas. Aku….

 

 

*Minbyul POV*

 

Aku terbangun. Aku mengucek-ngucek mataku memastikan apa yang aku lihat adalah kenyataan.

Dimana aku? Dan tempat apa ini? Tak ada lampu tapi aku bisa melihat dengan jelas. Lalu apa yang aku kenakan? Dimana seragamku?

Aku turun dari ranjang dan keluar ruangan. Aku menyelusuri lorong yang hanya di terangi obor. Lorong ini berujung ke sebuah ruangan makan. Di meja makan sudah tertata makanan. Saat itu pula aku merasa lapar.

“Kau sudah bangun?”

Aku tersentak. Ku lihat sebuah sosok yang ku kenal berjalan menghampiriku membawa mapan berisi gelas. Ia menata gelas itu di meja kemudian tersenyum kepadaku. Senyumnya itu memaksaku untuk tersenyum. Aku berusaha menahan diriku untuk tersenyum.

“Duduklah~ kita sarapan terlebih dahulu.” ucapnya.

Aku mengernyitkan alisku. Sarapan? Memang sekarang jam berapa?

Aku tidak peduli. Aku duduk berhadapan dengannya dan menyantab makanan yang ada di hadapanku. Aku sangat lapar.

Ia tersenyum lagi. Membuatku jadi salah tingkah.

“Kau sangat lapar ya?” tanyanya yang memperhatikanku melahap makanan.

Aku mengangguk.

Setelah selesai, ku habiskan segelas susu vanilla yang ada di hadapanku. Tapi aku belum puas. Aku merampas gelas susu miliknya. Ia hanya meneguknya sekali.

 

 

*Taemin POV*

 

Dia merampas susu milikku. Padahal aku baru meneguknya sekali. Aku hanya bisa pasrah dan memandangnya. Ia seperti tidak makan selama beberapa hari saja. Aku tertawa, aku baru ingat kemarin siang ia tidak istirahat. Tidak memakan apapun hingga pagi ini.

“Apa yang kau tertawakan?” sentaknya melototiku.

Aku hanya tersenyum. Aku mencondongkan tubuhku lalu mengusap bibirnya yang penuh dengan sisa susu.

“Kau sudah mandi?” tanyaku.

Dia menggeleng ragu.

“Sebentar lagi mereka datang. Sebaiknya kau mandi dulu. Lalu kita berangkat ke sekolah.” ucapku.

“Mereka siapa?” sahutnya.

Aku bangkit lalu menariknya.

“Lepaskan!” pintahnya.

Aku tidak peduli.

“Mandi dulu dan kau akan tahu siapa mereka.” ucapku menyeruhnya masuk ke dalam kamar.

“Di sini gelap.” ucapnya.

Aku menepuk tanganku tiga kali dan

BLEP BLEP BLEP obor-obor di kamar yang ia tiduri tadi menyala.

“Kamar mandinya di sebelah sana.” ucapku menunjuk ke ujung kamar.

“Mereka akan mengantarkan seragammu kemari.” ucapku.

“Siapa si mereka?” tanyanya penasaran.

Aku diam.

“Lalu ini pakaian siapa? Siapa yang mengganti pakaianku?” cerocosnya.

“Pakaian eommaku. Eommaku yang mengganti pakaianmu.” ucapku lalu aku keluar kamar.

Aku menujuh kamarku untuk berganti pakaianku dengan seragam.

Setelah selesai aku keluar kamar. Tidak lupa aku membawa tasku. Aku melewati lorong menujuh ke kamarnya. Ku dengar ada suara dari dalam.

“Jadi katakan. Kenapa eomma bisa ada di sini?”

Sepertinya Minbyul terkejut melihat eommanya berada di sini.

“Akanku jelaskan di luar.” ucap sebuah sauara.

Aku yakin itu eomma Minbyul.

Lebih baik aku ke ruang tamu. Appa pasti sudah menungguku di sana.

Dugaanku benar. Ia berada di sana dengan~ dengan tuan Dev. Aku menelan ludahku. Kenapa tuan Dev ada di sini. Lalu aku duduk bersama mereka. Tak kusangka tuan Dev tersenyum kepadaku. Biasanya beliau tidak pernah tersenyum. Lalu aku membalas senyumannya.

“Duduklah Minbyul.” ucap eommaku.

Ia bersama Minbyul dan eomma Minbyul. Mereka ikut duduk bersama kami.

“Taun Lee dulu teman sekolah eomma.” ucap eomma Minbyul.

“Dia juga teman appamu.” lanjutnya.

Aku melihat raut muka Minbyul berubah.

“Appa?” ucapnya.

“Ne~ kau ingin tahu siapa appamu?” tanya eommanya.

Minbyul mengangguk.

Tunggu. Jadi Minbyul tidak tahu siapa appanya? Sepertinya aku mulai tahu.

“Dia adalah appamu.” ucap eommanya menunjuk tuan Dev.

Minbyul memandang tuan Dev. Tersirat dari rautnya ia tidak percaya dengan semua ini.

Dia tertawa. Semakin lama semakin lantang. Tawanya menggema. Menusuk saraf otakku. Aku benar-benar yakin ia putri tuan Dev. Mereka memiliki tawa yang sama persis.

“Aku tidak percaya.” ucapnya.

“Apa kau mau bukti?” sahut tuan Dev.

Minbyul hanya diam.

“Lihat tanganmu.” ucap tuan Dev.

Minbyul mengankat tangan kanannya. Memperhatikan tangannya yang biasa itu

“Nyonya Lee bisakah kau membantuku?” ucap tuan Dev meminta bantuan eommaku.

Eommaku mengangguk. Ia meraih tangan Minbyul dan melemparkan api dari tangannya ke tangan Minbyul. Minbyul menjerit kesakitan. Aku tidak tega melihatnya. Aku juga merasakan kesakitan seperti itu.

Beberapa detik kemudian cahaya terpancar dari tangan Minbyul.

“Lihatlah tulisan di telapak tanganmu. Apa persis dengan tatu di lenganku ini?” ucap tuan Dev menunjukkan tatonya.

Sepertinya Minbyul sudah yakin tuan Dev itu appanya.

“Lalu apa ini? Kenapa tanganku seperti ini?” ucap Minbyul ingin penjelasan.

“Karena kau seorang Lucifer.” sahut eommaku.

Kurasa Minbyul tidak suka dengan kata Lucifer. Ia memelototi eommaku. Entah kenapa aku ingin membuka mulutku dan mengatakan,

“Kau Lucifer Minbyul. Kau sungguh-sungguh Lucifer. Ada devil di dalam dirimu.” ucapku.

Ia beranjak mendekatiku. Mencengkram kemejaku.

“Apa maksudmu heh?” sentaknya.

“Kau pikir aku sekeji itu?” sentaknya lagi.

“Aku mungkin suka jahil, tapi aku bukan devil atau Lucifer. Kaulah yang Lucifer.” lanjutnya melototiku.

Matanya berubah merah.

Aku tertawa. Dan sepertinya dia tidak suka aku mentertawainya.

“Taemin sudahlah.” ucap appaku.

Aku tidak peduli.

“Kau tahu kenapa kau suka jail?” tanyaku kepada Minbyul yang masih menarik kemejaku.

Aku mencondongkan tubuhku.

“Karena ada darah Lucifer di dalam tubuhmu. Semakin kau mengelak darah itu semakin bergejolak.” Bisikku di telinganya.

Ia mulai memanas. Wajahnya merah padam.

“Tapi kau payah. Kau tidak dapat menjailiku. Malah apa yang kau lakukan padaku berbalik kepadamu. Kau Lucifer yang bodoh. Mana ada Lucifer yang senang menjadi manusia sepertimu.” Ucapku menatap matanya.

Aku sungguh semangat kali ini. Cahaya yang terpancar dari tanganku tidak seperti cahaya Lucifer biasanya. Ini api~ apa aku benar memiliki kekautan api? Pengendali api?

Aku tersenyum kepadanya lalu tertawa di hadapannya.

“Taemin~” sentak appaku.

“Biarkan saja dia.” Ucap tuan Dev.

“Jangin sakiti dia Taemin.” Ucap eommaku.

“Minbyul, jangan kau lakukan itu lagi.” Ucap ahjumma.

Ia tampak khawatir.

Minbyul menatapnya. Ia menatap eommanya seakan meminta kepastian apa maksud dari kata-kata yang eommanya katakan.

“Memangnya apa yang akan ku lakukan?” ucapnya menatap eommanya.

“Membunuhnya…” ucap ahjumma lalu menangis.

Ku lihat amarah Minbyul memuncak.

“Kau Lucifer pembantai. Aku melihat kau sudah membunuh beberapa manusia. Ku rasa kau kurang puas. Apakah kau akan membantiku yang seorang Lucifer ini?” pancingku.

Tanduknya mulai muncul. Dia berubah menjadi Devil sempurnah. Ekornya mengikat tubuhku. Ujungnya yang lancip itu menggores pipiku.

“Kau Lucifer bodoh dengan penampilan Devil. Kau tidak akan pernah bisa mengalakanku.” Ucapku.

Ia berteriak. Lalu membanting tubuhku ke samping. Aku berhasil menahan tubuhku agar tidak terbentur. Sayapku sudah keluar. Aku melayang ke udara dan dia menyusulku. Ia membantaiku habis-habisan.

Tidak tega melihat rumahku berantakan dan ahjumma yang ketakutan aku pun mencengkram tangannya dengan apiku. Lalu mencium bibirnya. Dari mulutnya aku merasakan sesuatu. Sepertinya aku semakin bertenanga.

Kami berdua terjatuh. Aku melepaskan ciumannku. Dia langsung lemas. Apakah dia pingsan? Lalu dia membuka matanya pelan-pelan.

 

 

*Minbyul POV*

 

Aku terhempas ke lanatai. Tapi aku tidak terluka. Aku hanya merasa lemas. Seakan-akan aku baru saja berlari mengelilingi kota. Aku membuka mataku. Aku lihat sesosok orang di hadapanku. Pandanganku tidak seberapa jelas.

“Minbyul kau tidak apa-apa?” tanya eommaku.

Entah sejak kapan ia berada di sampingku.

Aku menatap sosok itu lagi. Dia seorang namja. Aku menyipitkan mataku. Dia… dia… seperti Taemin. Tapi~ kenapa dia bertanduk? Memiliki ekor dan sayap?

“Taemin kau~ sungguh menyeramkan.” Ucapku.

“Lihat dirimu.” Sahutnya.

Ku lihat diriku. Ternyata aku sepertinya. Memiliki tanduk, ekor dan sayap sepertinya. Aku mendesah.

“Jadi aku sepertimu. Aku bukan manusia?” cletukku.

“Ye~” sahutnya.

“Lalu bagaimana aku menghilangkan ini?” tanyaku.

“Sulit untukmu untuk menghilangkan itu semua karena kau tidak terbiasa. Kau tidak terlatih.” Ucap appaku.

Ia berjalan mendekatiku.

“Mulai sekarang kau harus tinggal di dunia ini. Tapi kau masih bisa bersekolah, bermain di dunia manusia.” Ucapnya lalu mengecup keningku.

“Jadi aku tidak bisa sekolah hari ini?” celetukku.

Taemin mnedekati. Ia berjongkok tepat di hadapanku.

“Kau masih bisa sekolah hari ini.” Ucapnya lalu tersenyum kepadaku.

Ia meraih ke dua tanganku dan mengenggamnya. Lalu ia tersenyum lagi kepadaku. Ia mentap mataku dalam. Tanduk, sayap dan ekornya menghilang. Aku merasa aneh terus melihatnya tersenyum kepadaku. Tatapannya membuat jantungku berdebar-debar. Aku memalingkan wajahku. Jangan bilang wajahku merah.

“Wajahmu memerah.” Ucap Taemin mencubit pipiku.

“Tapi karena wajahmu memerah kau jadi kembali seperti semula.” Ucapnya.

Akupun menyadari tubuhku kembali normal. Astaga bagaimana bisa?

 

 

#Di Sekolah#

 

Aku dan Taemin hampir telat.untung saja kami menggunakan ilmu melintasi ruangan, jadi kami tidak telat.

Teman sekelas menatap kami berdua yang masuk bersamaan. Apalagi saat Taemin mempersilahkan aku duduk bagai pangeran yang berudaha bersikap romantis kepada seorang putri.

“Tidak usah memeprlakukanku seperti itu.” Ucapku ketus.

Taemin hanya tersenyum.

Beberapa yeoja mendatanginya. Yayaya menyebalkan sekali. Yeoja itu mengata-ngataiku. Meski tidak langsung. Aku merasa tersindir. Aku ingin marah. Tanganku mulai memanas. Lalu Taemin menggenggam tanganku erat. Aku menatapnya.

“Kau marah jagiya?” ucapnya tersenyum kepasanya.

Aish~ senyumnya itu membuat amarahku padam. Ehm~ dia memanggilku apa?

“Jagiya~ kau cemburu?” ucapnya.

Jagiya?

Ia memalingkan wajahnya ke yeoja yang mengitarinya. Tangannya masih menggenggam tanganku.

“Dia yeojachinguku. Tolong jangan ganggu dia atau aku akan memberi perthitungan padamu.” Ucapnya.

“Dan barang siapa yang menyakitinya. Aku tidak akan segan-segan mencabik-cabikmu.” Ucap Taemin lantang sehingga seisi kelas mendengarnya.

“Ta… Taemin~” ucapku.

Dia memalingkan wajahnya kepadaku. Dia tersenyum lagi. Aku menelan ludahku.

“Saranghae~” ucapnya kemudian tersenyum dan terus tersenyum.

“Nado saranghae~” ucapku tersenyum kepadanya.

“Kau terlihat sangat cantik jiga tersenyum.” Ucapnya mencibit pipiku.

Entah kenapa aku bisa berkata seperti itu. Mungkin ia sudah menghipnotisku. Ia benar-benar seorang Luicfer sejati. Aku mencintainya. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta~

 

 

 

_THE END_

 

 

Need Your Comments, Please Comments This Fiction. Thank You ^^

Mian klo jelek, author lagi kurang enak badan dan depresi karena suatu hal (jiah~ malah curhat)

Kritik dan saran saya terimah.

Mau kasih coklat, bunga, boneka juga saya terima (ngarep) 😀

 

 

URINEUN HEETEUKIEYEO

Standar

Tittle: URINEUN HEETEUKIEYO

author: WinkiesWingers

genre: friendship

length: oneshot

rating: PG

cast:

-HEE CHUL

-LEETEUK

– SUJU MEMBER-DEUL

-and other cast

A/N: Hallo, salam sejahtera semuanya. Sebelumnya, mo ngenalin diri dulu nih. WinkiesWingers author baru di Fanfiction Korea. Makasih buat Lyra yang udah nerima WinkiesWingers jadi author disini ^^ ..Dan untuk pertama kali WinkiesWingers mo share FFnya.Nih FF udah lumayan lama dan udah pernah di share di fb Winkies Wingers. FF special for our Heenim and Leeteuk. Mian kalo critanya rumit+aneh..hope u like it ^^

 

-_____- URINEUN HEETEUK -_____-

 

 

Malam ini seperti biasa aku begadang lagi bersama Eunhyuk dan Shindong. Kami tengah menyusun script untuk segmen Teukigayo berikutnya untuk acara Kang Shim Jang. Shindong yang bertugas mengedit lagu, Eunhyuk bertugas mencari foto-foto bintang tamu yang akan menjadi korban kami, dan aku bertugas yang menyusun naskahnya. Kami akan menyerahkan scriptnya pada tim kreatif KSJ. Syukur-syukur mereka menyukai konsep kami. Jika mereka kurang puas dengan konsep yang kami buat, mau tidak mau kami harus membuat semuanya dari awal.
”aghh..mataku sudah tidak kuat! Aku ambil minum dulu yah..”

 

Aku menatap Eunhyuk yang sedang mengambil air minum di dapur. Kasian, pasti dia sudah sangat mengantuk. Aku bisa melihatnya dari mata Eunhyuk yang mulai sayu. Berkali-kali ia menguap dan mengerjapkan matanya agar kantuk yang ia rasakan hilang. Aku berbalik menatap Shindong. Wah! Dia malah sudah terlelap. Shindong pasti juga sangat lelah. Jadwal kami hari ini terbilang sangat padat. Dari pagi hingga sore kami syuting untuk sebuah acara. Malam harinya, aku dan Eunhyuk siaran radio. Jam berikutnya Shindong siaran radio larut malam. Sepulangnya dari ShimShimtapa, Shindong langsung bergabung dengan kami untuk menyusun script. Aku memintanya untuk istirahat saja tapi dia menolak. Baru 2 jam yang lalu Shidong mengatakan masih sanggup tapi sekarang sudah tidur? Dasar!
”Shindong-a..Shindong-a..” aku membangunkan Shindong.
“a-ah..hyung, mianhae. Aku ketiduran yah?” Shindong langsung bangun dan melanjutkan kegiatannya.
“Sudah, hentikan. Lebih baik kau tidur sekarang. Kita masih punya waktu besok..”
”Tapi, hyung….”
”Sudah, tidak apa-apa…”

 

Shindong pun menurut lalu membereskan kertas-kertas yang berserakan lalu masuk ke kamar.

”Eunhyuk-a, kau lebih baik pulang sekarang dan tidur. Jadwal kita besok masih padat..”
”Ne, hyung..hoaahmmm..”
Eunhyuk menguap lebar. Aku tersenyum melihatnya. Sangat lucu ekspresinya saat menguap tadi. Ia pun segera meninggalkan dorm dan pulang ke dormnya di lantai bawah. Hampir setiap hari kami begadang untuk membuat bahan Teukigayo. Kami hanya bisa membuatnya pada larut malam karena pagi sampai malam jadwal kami sangat padat. Terkadang kami tidak tidur sama sekali demi menyelesaikannya.

 

”Hwaah…capeek!” aku merenggangkan otot-otot tubuhku.

Sepertinya aku sendiri juga sudah mengantuk. Tapi, melihat pekerjaan kami yang belum selesai mana mungkin aku tinggal tidur?

”Kau belum tidur juga?”
Aku terperanjat mendengar suara Heechul yang mengagetkanku.
”Belum..” jawabku singkat dan kembali berkutat dengan script.
”Belum selesai juga?” tanya Heechul yang berdiri disampingku.
”Belum. Masih banyak yang harus diperbaiki lagi..Bagaimana pesta ulangtahunmu? Menyenangkan?”
”Ya begitulah. Tidak ada yang tidak seru selama ada diriku..” aku tertawa mendengar perkataannya. Dia pun menceritakan apa saja yang terjadi selama party-nya berlangsung. Mendengar Heechul bercerita kalau Geun Suk datang terlambat dan alhasil dirinya tidak dapat kue, aku tertawa. Dia juga menunjukkan foto-fotonya saat party. Betapa kejamnya dia, mengadakan party yang diundang hanya member The AB Club. Aku iri saat Yesung ikutan party. Ya, maklumlah, dia juga berdarah AB seperti Heechul.

”Mau aku buatkan minum atau makanan?”

Aku terkejut. Lalu, kutatap Heechul lekat-lekat. Apa dia salah makan hari ini? Apa dia benar Kim Heechul? Tumben dia menawariku. Aku terus menatapnya dari atas hingga bawah. Aku pun berjalan mendekatinya, memegang jidatnya. Siapa tahu dia sedang demam?

”Ya! Kenapa kau menatapku seperti itu?” seru Heechul sambil mengerjapkan matanya. Sangat imut! Ditambah mukanya yang memerah. Ahh, Heechul-a! Kau membuatku gemas dan membuatku rindu dengan Ji Hwa. Kalian berdua sangat mirip saat kalian salah tingkah. Haha
”Ya! Park Jung Soo!! Kenapa kau tersenyum seperti itu? Senyummu membuatku takut, gaeteuk! Menjauhlah!” Heechul mendorong tubuhku. Aku tertawa.
”Hahaha.. Kau semakin membuatku rindu dengan Ji Hwa, Chul-a.”
”aish, kau menyamakan diriku dengan yeojamu yang aneh itu?”
”Mwo?! Kau mengatakan Ji Hwa aneh? Lalu, dirimu bagaimana?”

Ah, tidak! Sifat burukku keluar. Jika mereka menjelek-jelekkan yeojachingu-ku, Yoon Ji Hwa. Aku akan kehilangan kontrol emosiku. Walau itu hal sepele, itu membuatku sangat sensitif dan cepat emosi. Tidak salah dong aku emosi? Apa kalian juga rela kalau kekasih kalian diolok2 dan menjadi bahan bercandaan? Tidak kan? Aku pun begitu.

”Tch, kalau menyangkut Ji Hwa kau hilang kendali. Dasar! Aku hanya bercanda, teukie-ya.”
“Ne, mianhae..” aku jadi merasa bersalah pada Heechul. Dia hanya bercanda tapi aku menanggapinya dengan emosi. Aku malu.
”Anieyo. Sudah, lupakan saja. Oya, bagaimana?”
”Apanya yang bagaimana?” tanyaku bingung.
”Mau aku buatkan minum?”

Aku melongo mendengar pertanyaan Heechul.
”Kenapa bengong? Mau tidak?” tanya Heechul yang sepertinya sedikit emosi.
”Ne..Ne, gomawo..”

Unbelievable! Aku tidak percaya Heechul menawariku dan bersedia membuatkan minum untukku. Padahal, kalau diingat-ingat selama ini Heechul tidak pernah seperti itu padaku. Bisa dikatakan dia cuek padaku dan member lain. Aghh, aku jadi teringat dulu kami pernah berdebat saat terbesit dari pikirannya kalau dia ingin keluar dari SuJu.

 

-flashback-

 

Kami lahir di tahun yang masa dan di bulan yang sama, kami sama sekali tidak dekat. Yah, hubungan kami hanya sebatas teman. Kami pribadi yang berbeda, kami jarang bekerja sama dan jarang berbicara meskipun kami sama – sama tinggal di satu dorm.

Pernah suatu ketika, Heechul lebih mementingkan mini seri dan dramanya. Awalnya, aku terima saja dan menyetujui dengan pilihan Heechul. Tapi, makin lama makin kesini aku sudah tidak tahan dengan sikapnya itu yang lebih mementingkan akting daripada SuJu dan aku sampai menegurnya,“ Heechul-ah…menurutmu apa pantas sebagai seorang penyanyi kau tidak pernah ikut gladiresik panggung ?”
Yang dibalas Heechul “ Kalau gitu sebaliknya, apa kau kira pantas sebagai seorang actor aku tidak ikut syuting, datang dan pergi semaunya ?”
Aku tersentak mendengar ucapan Heechul. Hal itu juga yang membuatnya kerap silang pendapat dengan Shindong ataupun Eunhyuk yang buntutnya membuat Heechul keluar dari dorm dan untuk beberapa lama tinggal sendirian, sebelum akhirnya kembali tinggal di apartemen bersama yang lain.

Saat itu, kami tengah persiapan album baru kami. Aku menjadi kehilangan semangat saat tahu Heechul ingin keluar dari Super Junior. ”Hey, Man! Kenapa kau sangat egois sekali hanya karena Hankyung tidak ada kau jadi ikut-ikutan keluar begitu?” Itulah yang kira-kira aku katakan pada Heechul. Heechul hanya diam dan masuk kembali ke dalam kamar. Aku tahu dari raut wajahnya, dia pasti sangat marah padaku. Setelah itu, Heechul keluar dari kamarnya membawa tas.

”Apa hyung berniat keluar lagi dari dorm? Hyung, tolong..jangan seperti ini..” bujuk Ryeowook. Eternal magnae kami sudah meneteskan airmatanya melihat perdebatan diantara kami.
”Hyung, kenapa kau seperti ini?” tanya Kyuhyun.
”Hyung, kau sudah tidak sayang lagi pada kami? Kami semua sangat menyayangimu. Jadi, mohon dengan sangat kau jangan bersikap seperti ini..” Donghae memluk Heechul erat. Heeechul hanya mematung dan tatapan matanya kosong.

Aku sudah tidak bisa lagi menahan semuanya. Pertahananku runtuh. Melihat Siwon, Shindong, Eunhyuk, Sungmin, kyuhyun, Ryeowook, Donghae, dan Yesung, aku merasa sangat sakit. Mereka semua berusaha mencegah agar Heechul mengurungkan niatnya. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku hanya dapat menangis. Tanpa sadar aku mengatakan,” aku gagal…aku gagal menjadi leader kalian. Seharusnya aku tidak pantas disebut leader dan menjadi leader kalian. Aku tidak bisa mengatur, mengurus, dan membimbing kalian dengan baik. Aku tidak pantas menjadi leader. Lebih baik aku saja yang keluar dai Super Junior..” . Airmata ku semakin deras mengalir. Aku terduduk lemas di sofa dan menundukkan kepalaku sambil kututup wajahku dengan kedua tanganku. “Young Woon-a..” gumamku memanggil Kangin. Seandainya ada Kangin, pasti dia bisa membantuku dan bisa mengatasi masalah ini.

Semua member menatapku. Aku merasakan sebauh tangan merangkul pundakku. Sebuah tangan lagi menggengam tanganku. Aku mendongakkan kepalaku. Aku melihat Siwon yang merangkulku dan Yesung dihadapanku jongkok dan menggenggam kedua tanganku. Mereka tersenyum seakan memberiku semangat.

”Hyung, kau tidak boleh berkata seperti itu. Kaku adalah leader kami. Pemimpin kami. Selamanya..” kata Siwon bijak.
”Hyung, kau tidak gagal menjadi leader. Percayalah..”

Aku melihat Eunhyuk berjalan mendekati Heechul. Ia menepuk pundak Heechul dan berkata,“ Hyung kami sudah menyiapkan spot-mu, jadi nanti kamu bisa langsung bergabung dengan kami !” dengan senyum cerahnya dan ucapannya itu berhasil membuat Heechul mengurungkan niatnya. Akan tetapi..

Mengingat tentang hal itu, mau tidak mau aku kembali mengenangnya dan pikiranku terbang mengenang hal yang menurut kami itu sangat menyakitkan. Dimana saat kami mengetahui bahwa member kita yang berasal dari China menggugat SM Ent. Jujur, kami sama sekali tidak tahu akan hal ini sampai suatu hari aku membacanya di sebuah surat kabar. Mengingat hal itu, aku menjadi merasa sangat bersalah pada Hankyung. Selama ini kami selalu bersama membuat kami lupa kalau Hankyung adalah orang China. Dia tidak pernah menceritakan keluh kesahnya padaku ataupun member lain. Aku terkadang lupa kalau ia orang asing, seharusnya sebagai leader aku mendengar keluh kesahnya, tapi karena kami sama – sama sibuk kami jarang komunikasi. Saat itu aku yakin merupakan masa yang teramat sulit baginya mengambil keputusan.
Kami benar-benar terkejut saat mengetahui ini. Kami sangat terpukul. Dia sama sekali tidak membicarakan hal ini pada kami dan dengan diam-diam pergi meninggalkan dorm tanpa pamit pada kami. Kami sangat sedih. Tapi, aku rasa ada orang yang lebih terpukul ketimbang kami ber-9. Yap, Heechul. Dia sangat depresi mengetahui masalah Hankyung. Sepergiannya Hankyung dari dorm pun membuat Heechul berubah drastis. Aku paham perasaannya, karena dulu saat Kangin terlibat kasus hukum yang membuatnya harus hiatus dari SuJu aku sangat terpukul.

Heechul dan Hankyung, hubungan mereka sangat dekat. Selama beberapa hari dia mengurung diri dikamar. Semua jadwal ia batalkan. Saat itu, Heechul bagaikan mayat hidup. Aku sangat sedih melihat kondisi Heechul seperti itu. Aku tidak tahu bagaimana cara menghibur dirinya. Hampir tiga bulan dia mengurung diri di kamar. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan saja didalam. Sampai akhirnya, aku membaca postingannya di Cyworld dan di twitter. Itu sukses membuatku menangis. Dalam postingan itu betapa dia sangat merindukan sosok sahabatnya yang kini ada di negarai tirai bambu itu.

-flashback end-

Ahh, aku jadi ingin menangis mengingat hal itu. Tapi itu masa lalu. Sekarang, karena masalah itu kami menjadi semakin dekat. Aku sangat bersyukur akan hal ini.

[HEECHUL POV]

Whoa~ aku takjub sendiri mengatakan itu. Seorang Kim Heechul menawarkan diri membuatkan minum? Daebak! Haha
Tapi, toh tidak ada salahnya aku seperti ini. Aku tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Ah, tidak! Apa yang kukatakan?
Aish! Aku kembali teringat dimana saat dulu aku sangat terpuruk setelah kepergian Hankyung dari dorm dan dari SuJu. Saat Hankyung pergi..aku serasa hancur..sulit bagiku tertawa dan menari di televisi. Selama 3 bulan, Desember, Januari dan Februari, aku mengunci pintu kamarnya dan tenggelam dalam kesedihan dengan hanya ditemani 2 ekor kucingku. Tapi, hal tersebut malah membuatku makin depresi. Itu juga membuatku berniat keluar dari SuJu. Aku sangat berterima kasih dengan Eunhyuk saat itu. Walau kami dua pribadi yang berbeda. Dia dapat membuatku bertahan hingga sekarang.
Disaat aku berada di titik rendah itulah, Eunhyuk yang selama ini kuanggap jauh justru menjadi penolong. Berbeda dengan Hankyung, aku dan Eunhyuk sangat bertolak belakang. Aku yang atheis tidak bisa nyambung dengan Eunhyuk yang seorang kristiani yang taat. Tapi untuk kedua kali perkataan Eunhyuk kembali menguatkan diriku , “ Hyung..kau tidak pandai menyanyi dan menari..tapi kami semua membutuhkanmu..tanpamu kami tidak bisa bertahan”
Leeteuk dan Shindong juga terus menyemangatiku, dan Donghae bela – belain datang kemudian memasakan makanan untukku.

“ Selama ini aku selalu terpaku pada satu teman, tanpa menyadari bahwa disana ada mereka yang juga memperhatikanku..” ujarku sambil mengaduk minuman yang sedang aku buat.
”Kau mengatakan apa?” tanya Leeteuk tiba-tiba sudah berada disampingku.
”Aniyo! Sudah, tidak ada apa-apa..Ini, aku sudah membuatkan minum untukmu.”
”Gomawo, Chul-a” ucap Leeteuk sambil mengambil minuman buatanku.

Selesai meminumnya, Leeteuk kembali mengerjakan pekerjaannya. Aku sangat kagum dengan dirinya. Terlebih lagi dengan sikap ssantunnya yang kerap dilakukannya sampai saat ini. Ia kerap membungkuk 90 derajat pada semua rekan kerja kami. Melihatnya melakukan itu, aku sampai menangis.

Aku dan Leeteuk memang kurang dekat. Hubungan kami hanya sebatas teman. Kita tidak ngobrol banyak soal pekerjaan. Tapi setelah berbagi hal terjadi, kami mulai sharing soal kehidupan karir masing – masing.

Aku menatap jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Aku melihat kearah Leeteuk. Dia masih berkutat dengan pekerjaannya.

”Ya! Apa kau tidak lelah? Kau belum tidur daritadi kan?”
”Kau sendiri tidak mengantuk? Kau baru pulang party, apa tidak merasa lelah?”
”Ya! Kalau orang bertanya jangan balik tanya dong! Jawab dulu pertanyaanku.”

Aku kesal kalau orang yang aku tanyai tidak menjawab pertanyaanku dan malah balik bertanya padaku.
”Hahaha, mianhae. Sebentar lagi selesai..”
”Bagaimana hubunganmu dengan Ji Hwa? Ahh, mian…” aku lupa. Aku baru ingat kalau mereka sedang bertengkar gara-gara gosip yang menerpa Leeteuk.
”Gwaenchanayo.. Yah, kau tahu lah Ji Hwa bagaimana?”
”Masih ngambek? Dasar..sepertinya kalian harus bicarakan ini baik-baik. Apa perlu bantuanku?”
”tidak..tidak! Yang ada malah kau akan menghancurkan semuanya.”
”Ya! Mworago?”
”Hahaha, aniyo..”
”Tapi, aku rasa dia akan kembali seperti semula. Aku tahu banget Ji Hwa orangnya seperti apa. Dia terlalu mencintaimu, GaeTeuk-a. So, don’t worry about this.. Wae? Kau menatapku seakan aku makhluk asing?”
“Bukannya kau orang dari Planet Mars?”
“YA!” aku melempar bantal ke Leeteuk dan sayang dia bisa menghindar.

++++++++++++++++++++++

Siang ini kami akan tampil di acara MuCore membawakan lagu baru kami, No Other. Saat ini semua member terlihat sangat sibuk. Tapi, tidak dengan satu orang itu. Orang yang semalaman bela-belain begadang demi mendapatkan cerita yang pas untuk Teukigayo sekarang tengah tertidur lelap. Yap, Leeteuk. Aku tersenyum melihatnya. Kau benar-benar mengagumkan.

Hey, Chamkkanman! Kenapa tiba-tiba jantungku berdegup kencang? Aku menjadi gugup sekali. Aku melihat mereka, tak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan kegugupan mereka. Aku yang biasanya bermain hape, kini hanya bisa memutar-mutar hapeku. Tanganku bergetar dan itu tidak bisa membuatku mengetik.

”Kan kenapa, Chul-a?” tanya Leeteuk membuyarkan lamunanku.
”ah, ani..anieyo. Kau sudah bangun? Nyenyak tidurmu?”
”Ne, nyenyak sekali ^^.”
”Sebentar lagi kalian tampil. Jadi, tolong bersiap-siap,” Seru PD-nim pada Kami.

Ajaib! Tiba-tiba rasa gugupku hilang. Begitu menginjakkan kaki di stage, perasaanku menjadi sangat baik. Terlebih melihat lautan balon pearl sapphire blue yang memenuhi studio. Selama tampil, senyum tak pernah hilang dari wajahku. Apalagi, ada banner bertuliskan ‘HAPPY BIRTHDAY OUR KIM HEECHUL’.
Selesai acara, kami segera kembali ke dorm untuk istirahat sejenak sebelum kami melanjutkan jadwal berikutnya. Selama perjalanan pulang, aku selalu bersama Leeteuk. Entahlah, sekarang aku merasa nyaman jiha ada disampinh Leeteuk. Sesampainya di dorm, aku merebahkan diriku di kasur kamarku. Aku termenung. Sampai saat ini belum ada satu member pun yang mengucapkan selamat padaku kecuali Yesung yang aku undang untuk datang ke party semalam. Apa mereka lupa padaku? Tidak mungkin! Leeteuk semalam bertanya bagaimana pestaku. Di studio tadi juga ada banner ucapan saengil untukku. Jangan katakan mereka mau memberiku kejutan? Atau jangan-jangan mereka sedang merencanakan sesuatu dan mau menumpahkan kue ke wajahku. Itu tidak akan berhasil. Yang kalian lawan adalah Kim Heechul. Aku tertawa sendiri.

Suasana dorm sepi. Aku mencoba menguping dari dalam. Siapa tahu mereka sedang merencanakan sesuatu. Tapi, nihil. Aku tidak mendengar apapun. Aku membuka pintu pelan dan mengintip. Kosong. Tak ada siapa-siapa. Lalu, kemana mereka pergi?
Suara bell pintu berbunyi dan mengejutkanku.
“Nuguseyo?”
“Ada kiriman barang..”
Aku membuka pintu dan menerima barang yang dikirim untukku? Aku menutup pintu dan duduk di sofa ruang santai. Sejenak aku memandang kotak itu. Samar-samar aku mendengar ada suara orang yang sedang berkasak-kusuk. Hey, jangan bilang ini bagian dari kejahilan kalian. Aku membuka kertas yang membungkus kotak kardus itu dan membuka kardus itu pelan-pelan. Di dalam kardus itu ada sebuak kotak lagi. Aku bisa menebak apa isi di dalam kotak itu. Aku membukanya pelan-pelan. Dan benar saja, saat aku membuka kotak itu, ada kepala badut mencuat keluar. Aku hanya terkekekh melihat ini. Kalian kurang cerdik untuk mengerjaiku. Aku pun berinisiatif juga membalas mereka dengan berpura-pura terkejut.

”Hey, Heechul hyung sedang membuka kadonya..”

YA! Kalian pikir aku tidak dengar suara kalian dari dalam kamar Leeteuk? Sangat jelas sekali salah saytu dari mereka ada yang mengatakan itu. Aku pun memulai aksiku. Aku kembali menutup kotak itu. Aku membukanya dengan cepat dan aku menjerit, ” GYAAAAA!!!”
Dari arah dalam aku dengar mereka tengah mempersiapkan sesuatu. Aku menahan tawa. Aku berjalan mendekati kamar Leeteuk. Aku berdiri disana. Beberapa detik kemudian mereka keluar.

”Saengil Chukhahamnida..Saengil Chukhahamnida..Saranghaneun Uri Heenim..Saengil Chukhahamnida..” sorak mereka bersamaan. Leeteuk membawa cake-nya, EunHyuk-DongHae meniup terompet kecil, Shindong-Sungmin menebarkan kertas beraneka warna yang dipotong kecil kearahku, dan sisanya bernyanyi lagu saengil. Aku hanya menatap mereka tanpa ekspresi. Mereka langsung panik. Pasti mereka berpikir aku marah. Aku tidak bisa menahannya lagi. Tawaku pecah. Sangat lucu sekali melihat wajah panik mereka.

”Ya! Hyung kenapa tertawa?” tanya Eunhyuk menggembungkan pipinya.
”Kalian mau mengerjaiku? Tidak akan bisa…” sahutku menyombongkan diri.
Mereka terlihat kecewa. Pasti mereka lelah memikirkan cara untuk mengerjaiku. Kasian..

”Sudah ah! Mana cake-nya?” aku merebut cake dari tangan Leeteuk setelah meniup lilin yang ada diatas kue itu. Kami pun mengadakan party kecil. Ahh, tapi sialnya tak ada yang memasakkanku makanan seperti saat Ryeowook ulangtahun. Dengan terpaksa aku mengeliarkan uang untuk mentraktir mereka makan.

Saat kami asyik makan-makan, aku merasa bosan dan memutuskan membaca majalah yang ada di dekatku. Kebetulan ada liputan tentang wawancara dengan Super Junior. Aku memutuskan membaca artikel wawancara kami.

Q: Di“Strong Heart” Heechul bilang dia hampir keluar dari Super Junior. Apakah kalian butuh waktu untuk untuk bicara dari hati ke hati ?
Lee Teuk : Kami saling sharing selama Asia tour. Karena masing – masing memiliki pekerjaan masing – masing, hanya sebelum dan sesudah konser asia tour-lah kita bisa berkumpul dan membicarakan segala hal bersama – sama. Asia tour membuat hubunganku dengan heechul menjadi semakin dekat.
Q: Memangnya bagaimana hubungan kalian selama ini ?
Lee Teuk : Tidak ada masalah, tapi hubungan kami hanya sebatas teman. Kita tidak ngobrol banyak soal pekerjaan, Tapi setelah berbagi hal terjadi, kami mulai sharing soal kehidupan karir masing – masing.
Heechul : Kami pribadi yang berbeda, kami jarang bekerja sama dan jarang berbicara meskipun kami sama – sama tinggal di satu dorm. Pendapat kami masing – masing, oleh sebabnya, aku, Leeteuk dan Shindong memtuskan untuk kembali ke masa 8 tahun yang lalu sebelum kami debut, dimana kami selalu lepas mengeluarkan semua uneg – uneg, memaki satu sama lain kemudian semua masalah selesai..
Q: What did you talk about?
Heechul : Aku hanya merasa, alangkah baiknya jika kami bisa kembali seperti teman saat dulu, kami bebas membicarakan apapun mengenai segala hal. Sebelumnya aku sering menolak tampil dalam acara variety dengan member yang lain karena kurang nyaman. Aku menyadari begitu banyak hal yang kulewati karena aku menganggap mereka sebagi teman bukan sebagai tim member. Kemudian aku berbicara pada leeteuk dan shindong selama 5 jam, aku merasa lebih nyaman, dan akhirnya aku memutuskan melakukan “strong heart”. Aku menikmati tampil di variety show belakangan ini.

interview with Chosun-article credit. starjunior.com

Aku termenung saat membaca bagian itu. Benar, selama ini aku dan Leeteuk hanya sebatas teman. Selama ini pula pun aku jarang membantunya mengurus member-deul dan aku lebih mementingkan diriku sendiri. Tapi, sekarang kami menjadi dekat satu sama lain setelah berbagai masalah menghampiri kami. Ini menjadi pelajaran berharga dan kini kami semua semakin bertambah dekat dengan adanya masalah ini (red:kasus hangeng).

Leeteuk datang menghampiriku dan mengucapkan selamat kepadaku. Aku menatap mereka satu per satu. Aku ingin mengatakan sesuatu pada Leeteuk. Aku menarik napas dalam-dalam dan beranjak dari tempat dudukku.
”Jung Soo-ya..” panggilku. Aku kalau ingin menyampaikan sesuatu yang penting padanya pasti akan memanggil nama asli Leeteuk.
”Ne, Heechul-a. Waeyo? Ada yang ingin kau sampaikan padaku? Pasti sangat penting” tanya Leeteuk dan aku mengangguk.
”Kau tahu aku bukan tipe orang yang bisa mengungkapkan terima kasih atau kata maaf pada orang. Tapi, aku akan belajar memperlakukan mereka dengan baik selagi mereka dan kau masih bersamaku, dengan begitu aku bisa merasakan bahwa kalian begitu berharga. Aku tidak ingin menyesal untuk kesekian kalinya..”


[HEECHUL POV END]l

Aku langsung memeluknya. Heechul sempat meronta dan aku tidak peduli. Aku hanya bisa mengatakan terima kasih. Ia pun akhirnya membalas pelukanku dan menepuk-nepuk punggungku mencoba menenangkanku karena aku mulai menangis.

”Hyung, kalian kenapa? Kenapa Teukie hyung menangis?”

Kami melepas pelukan kami dan saling pandang. Kami tersenyum penuh arti. Lalu, kembali berbaur dengan mereka tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Dong Hae.

”Hey, 83 lines! Lihat kearah sini..” Siwon memanggil kami. Melihat Siwon membawa kamera, aku dan Heechul lantas berpose. Siwon memberi aba-aba, lalu dengan lantang aku mengucapkan,
” Urineun HeeTeuk-yeyo..” teriak kami bersamaan saat mengatakan ‘yeyo’ dengan pose khas salam kami. Semua member memandang kami. Eunhyuk berlari kearah kami.
“Kalian curaaaang!! Dong Hae! Ayo, kita juga melakukan hal yang sama..” Eunhyuk menarik Donghae.
”We are Eun.. kenapa diam? Lanjutkan..” paksa Eunhyuk sedangkan Donghae terlihat bingung.
”Hae imnida..”
”Yak! Udah keren-keren pake bahasa inggris, endingnya pake imnida..”

”mana aku tahu. Dasar monyet!”

Aigoo~ mulai lagi deh..

”Sudah, sudah..lebih baik kita foto bersama-sama saja. Manager hyung, tolong foto kami..” pinta Heechul lalu menyerahkan kamerea yang tadi dpegang Siwon pada salah satu manager mereka..
“Urineun Syupo Junio-yeyo…” seru kami bersama-sama.

 

-THE END-

 

=================

eotteyo?? comment yah ^^