When I Knew The Meaning of Love (Chapter 9)

Standar

Cast: Minho, Taemin, Onew, Key, Jonghyun, Jaerin *Lyra*, Hyoah *Intan*, Jira *Iha*, Jihee *Reeha*, Jaejoong

Genre: Romantic, Friendship

PG: 15

 

 

 

PLEASE DON’T BE SILENT READER, PLEASE COMMENT. AUTHOR NEED YOUR COMMENT. THANKS BEFORE

 

 

 

When I Knew The Meaning of Love (chapter 9)

-I Get You-

 

 

 

 

“Dia bekerja di sebuah perusahan motor. Aku tak tahu dai bekerja di bagian apa.” Ucap Halmeoni.

Minho berpikir. Banyak perusahan motor di Korea. Bagaimana ia bisa menemukannya hanya dengan sebuah marga.

“Baiklah. Terima kasih atas bantuannya. Kami pulang dulu.” Ucap Minho.

“Hati-hati di jalan.” Ucap halmeoni.

Minho dan Jaerin masuk ke dalam mobil.

“Kau akan mencarinya Minho.” Cletuk Jaerin.

‘Ye~ besok aku akan mencarinya.” Sahut Minho melajukan kendaraanya.

“Kau tidak sekolah besok?” sahut Jaerin.

“Aniyo~ aku ingin mencari noonaku.” Ucap Minho.

“Aku ikut ya?” sahut Jaerin.

“Kau tidak sekolah?” sahut Minho.

“Aniyo~ aku ingin membantumu. Siapa tahu kau perlu bantuanku.” Sahut Jaerin.

“Tidak usah. Kau sekolah saja, aku bisa menangani ini sendiri.” Ucap Minho.

“Apa salahnya sich kau menerima bantuan orang lain.” Omel Jaerin.

“Belum tentu kau bisa menyarinya sendiri. Terlebih lagi kau dalam kondisi ingin cepat-cepat bertemu noonamu, pasti kau cepat emosi jika tidak dapat menemukan noonamu.” Lanjut Jaerin.

Minho mendesah.

“Baiklah.” Ucapnya kemudian.

 

 

 

 

 

9.07 PM

  

 

Jihee menarik Key.

“Mau kemana kita?” tanya Key.

“Ke tempat karaoke.” Sahut Jihee.

“Mwo?” sahut Key.

“Kau harus menemaniku berkaraoke. Aku tidak ingin menyanyi sendirian.” Sahut Jihee.

Lalu mereka masuk ke dalam ruangan karaoke.

“Ku harap Jonghyun tidak melihatku.” Ucap Key pelan.

“Mwo?” sahut Jihee tidak mendengar ucapan Key.

“Ah, aniyo~” ucap Key

Jihee menyuruh Key duduk sementara ia memilih-milih lagu.

“Bisa kau pesankan makanan dan minuman?” cletuk Jihee yang sibuk memilih lagu.

“Kau mau pesan apa?” tanya Key.

“Terserah yang penting enak.” Sahut Jihee.

Key langsung meraih telpon yang ada di ruang karaoke dan memulai memesan.

Kemudian Jihee mulai menyanyi. Ia menemukan lagu yang tepat. Ia mulai menyanyi lagu Oh dari SNSD.

Key menahan tawa. Ya bagaimana dia tidak tertawa. Jihee menyanyi dengan gaya rocker dan suara yang tak karu-karuan.

“Hya kenapa kau tertawa? Apa yang kau tertawakan?” sentak Jihee.

“Kau seperti orang gila.” Sahut Key.

“Apa kau bilang?” sentak Jihee.

Key tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Jihee.

“Sekarang giliranmu menyanyi.” Sahut Jihee menarik Key.

“Nyanyikan lagu ini persis dengan tariannya.” Ucap Jihee.

Key melongok. Ini lagu Magic Girl dari Orange Caramel. Jihee duduk menonton dan Key mulai bernyanyi. Key benar-benar menghibur. Suaranya enak di dengar dan dia dapat menirukan tarian Orange Caramel.

Jihee tertawa karena Key persis dengan Orange Caramel.

“Sebenarnya kau namja apa yeoja?” cletuk Jihee tertawa.

Key tersenyum dan melanjutkan menyanyi.

Beberap saat kemudian pelayan masuk membawa pesanan.

“Sepertinya kalian bersenang-senang.” Ucap seorang pelayan.

Key tersenyum.

“Tu…”

Key melototi pelayan itu. Ia tidak ingin ada yang memanggilnya dengan sebutan tuan. Ia tidak ingin orang lain tau bahwa ia memiliki kedudukan yang sangat tinggi di resort.

“Ehm maksudku Key. Sampai kapan kau akan bekerja di sini.” Ucap sang pelayan sembari meletakkan pesanan di atas meja.

“Entahlah. Sampai tuan Kim mengatakan tugasku selesai mungki.” Ucap Key.

“Memang sebelumnya kau ada tugas apa?” sahut Jihee mencomot makanan pesanan yang ada di hadapannya.

Key bingung. Tidak mungkin ia mejelaskannya. Jihee akan tahu banyak tentangnya. Dia tidak ingin yeoja itu tahu. tidak ada satupun yeoja yang tahu kecuali Jaerin dan Hyoah yang terlanjur tahu.

“Key adalah tour guide di sini. Jika hari libur ia datang kemari untuk bekerja. Tuan Kim menyuruhnya untuk bekerja lebih lama lagi karena ada beberapa tamu yang butuh tour guide. Kami kekurangan tour guide jadi tuan Kim menyuruh Key.” Sahut pelayan asal.

“Jinca? Berarti besok kau harus jadi tour guideku donk.” Sahut Jihee.

Key mendesah. Ia menatap pelayan itu dan tersenyum. Lalu pelayan itu keluar.

“Oh ya Key, siapa nama aslimu? Aku yakin Key itu bukan nama aslimu.” Ucap Jihee.

“Waeyo?” sahut Key sembari menyicipi kentang goreng yang ada di hadapannya.

“Penasaran saja. Terus kenapa kau di panggil Key?” sahut Jihee.

“Tidak penting. Untuk apa kau ingin tahu aku? Bukankah aku hanya seorang pelayan?” sahut Key lalu mencomot ebikatsu.

“Aku hanya ingin mengenalmu saja.” Ucap Jihee.

Key terdiam memandang Jihee.

“Kau mencintaiku?” ucap Key.

“Aish~ kenapa kau selalu bilang begitu? Menyebalkan.” Sahut Jihee beranjak dari tempat duduk dan mulai memilih lagu.

“Kau sendiri yang memulai. Kenapa tidak ingin melepasku dan ingin mengenal diriku.” Cletuk Key mencomot kentang goreng.

“Aku ingin berteman denganmu.” Sahut Jihee.

“Selama ini aku tidak mempunyai teman baik. Mereka mau berteman denganku jika ada inginnya saja. Biasanya aku main dengan Jinki oppa. Tapi dia sangat sibuk. Dan kini dia sudah memiliki kekasih. Terlebih lagi dia tidak menyukaiku.” Lanjut Jihee.

“Aku bisa mengerti.” Sahut Key.

“Kau mengerti perasaanku?” sahut Jihee.

“Bukan. Aku bisa mengerti perasaan orang-orang di sekitarmu. Temanmu dan Jinki hyung.” Sahut Key.

“Aku juga menyadari, ternyata kau tidak berperasaan.” Ucap Jihee lalu memutarkan sebuah lagu.

Kemudian ia mulai menyanyikan lagu I Got Crazy Because of You dari T-ara dengan gaya seperti orang gila. Key geleng-gelang kepalah.

“Yeoja ini semakin gila saja.” Ucap Key pelan.

 

 

Keesokan harinya…

6.43 AM

 

Minho menekan bel sebuah apartemen. Dua menit kemudian sesorang membukan pintu.

“Annyeong.” Ucapnya.

“Annyeong Minhossi.” Ucap Jaerin.

“Boleh aku meminjam kamar mandimu? Aku ingin ganti sergamku ini dengan pakaian biasa.” Ucap Minho.

Jaerin mempersilahkan masuk ia menunjukkan kamar mandinya.

“Kau belum memberi tahu orang tuamu?” tanya Jaerin.

“Belum. Meski aku katakan sepertinya mereka tidak akan peduli.” Ucap Minho lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Beberapa menit kemudian ia keluar.

“Ayo kita berangkat !” seru Minho.

Jaerin mengangguk.

“Kau tidak ada pakaian lagi selain itu?” cletuk Minho memandang pakain Jaerin.

“Waeyo apa aneh?” sahut Jaerin.

“Pakaianmu terlalu casual untuk musim panas. Itu lebih cocok untuk pakaian musim gugur. Apa kau tidak kepanasan?” ucap Minho.

“Hanya ini pakaian yang aku punya. Lebih baik aku kepanasan dari pada kedinginan.” Ucap Jaerin.

Minho tersenyum simpul.

“Baiklah ayo kita keluar.” Ucap Minho.

Merekapun keluar. Jaerin mengunci apartemannya.

“Oh!!! Apa yang baru kalian lakukan di dalam apartemen? Jangan-jangan kalian habis melakukan sesuatu ya?” sahut Hyoah yang juga keluar dari apartemennya.

“Aniyo~” sahut Jaerin.

“Aku baru saja datang dan meminjam kamar mandi Jaerin. Jadinya aku masuk.” Sahut Minho.

“Untuk apa kau ke apartemen Jaerin? Lalu kalian tidak sekolah?” sahut Hyoah.

“Aku menjemput Jaerin. Kami ada suatu urusan. Permisi kami tergesah-gesah.” Sahut Minho menarik Jaerin turun.

Hyoah bingung.

“Kenapa Minho menjemput Jaerin? Kenapa mereka tidak sekolah? Apa urusan mereka?” cletuk Hyoah.

“Apa mereka sedang berkencan?” ujar Hyoah.

Ia melihat ke bawah. Minho membukakan pintu mobilnya untuk Jaerin. Lalu ia memasang kaca mata hitamnya dan masuk ke dalam mobilnya.

“Pasti mereka sedang berkencan.” Ucap Hyoah lalu buru-buru turun ke bawah.

 

 

7.05 AM

 

“Kenapa kita kemari?” tanya Jaerin.

“Membeli pakaian untukmu. Untung saja aku membawa kartu kreditku.” Ucap Minho.

“Mwo? Untuk apa membeli pakaian untukku.” Sahut Jaerin.

“Tidak mungkin kita bisa masuk ke perusahaan jika kau berpakaian seperti itu.” Sahut Minho lalu turun dari mobilnya.

Jaerin turun dari mobil.

“Mereka tidak mengizinkan orang berpakaian sepertiku?” sahut Jaerin.

Minho mengangguk.

“Mianhae~ aku jadi merepotkanmu.” Ucap Jaerin.

“Tidak apa-apa. Anggap saja ini ucapan terima kasih untukku.” Ucap Minho lalu masuk ke dalam butik.

Jaerin bingung. Ia menyusul Minho.

“Ucapan terima kasih untuk apa?” tanya Jaerin.

“Karena kau telah membuat perubahan dalam hidupku. Kau memberikanku pelajaran soal kehidupan. Kau memberikan harapan hidupku.” Ucap Minho memandang Jaerin.

“Ehm~ kata-katamu terlalu berlebihan.” Ucap Jaerin.

“Sudahlah sebaiknya kita memilih pakaian yang cocok untukmu.” Ucap Minho.

“Ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya seorang pelayan.

“Tolong carikan pakaian yang cocok untuknya.” Ucap Minho menunjuk Jaerin.

“Mari nona, ikut dengan saya.” Ucap sang pelayan.

Jaerin menatap Minho. Minho hanya mengangguk.

Minho duduk di sebuah kursi dan menunggu sembari membaca majalah. Beberapa menit kemudian Jaerin datang dengan pelayan tadi.

“Bagaimana dengan ini tuan?” ucap sang pelayan.

Minho menatap Jaerin.

“Terlalu glamour.” Ucap Minho lalu melanjutkan membaca.

Pelayan dan Jaerin pergi meninggalkan Minho lagi.

Beberapa menit kemudian mereka kemablai lagi.

“Bagaimana dengan ini?” ucap sang pelayan.

Terlalu futuristic.” ucap Minho.

Selanjutnya.

“Gothic?” ucap Minho lalu mendesah.

Selanjutnya.

“Terlalu kekanak-kanakan.” ucap Minho lalu tertawa.

Selanjutnya.

Jaerin mentap Minho. Ia berharap Minho tidak menyuruhnya ganti pakaian. Ia cukup lelah.

Minho memandang Jaerin. Dia hanya diam lalu menunduk.

Jaerin mendesah. Ia membalik tubuhnya berjalan ke ruang ganti. Tapi seseorang menarik tangannya. Ia meneloh. Ternyata Minho. Namja itu tersenyum kepadanya kemudian memasangkan bando di kepalahnya.

“Ini akan membuatmu lebih cantik.” Ucap Minho lalu tersenyum kepada Minho.

“Gomawo~” ucap Jaerin datar.

“Nah sekarang kita cari sandal yang cocok untukmu.” Cletuk Minho menarik tangan Jaerin ke tempat sandal.

“Tolong carikan sandal untuknya. Yang cocok dengan pakaiannya.” Ucap Minho kepda pelayan.

Pelayan itu mengangguk.

“Apakah harus menggunakan heels?” tanya Jaerin.

“Hm~” ucap Minho.

Jaerin langsung duduk di bangku yang tersedia. Dia merasa kecewa karena ikut dengan Minho.

“Bagaiman jika sepatu biasa saja. Sepatu boots mungkin. Dengan begitu aku bisa menggunakannya saat musim dingin.” Ucap Jaerin.

Minho menoleh.

“Kau selalu membeli pakaian serta alas kaki yang dapat di pakai di segala musim?” tanya Minho.

Jaerin menjawab dengan anggukan.

“Aish~ pantas dandananmu seperti itu.” Ucap Minho lalu menerima sandal pemberian pelayan.

Ia berjongkok di depan Jaerin.

“Mau apa kau?” sahut Jaerin.

“Memasangkan ini di kakimu.” Ucap Minho menunjukan sandal heels yang ada di tangannya.

“Aku bisa sendiri.” Ucap Jaerin mencoba merenggut sandal dari tangan Minho.

“Ani~ aku pasangkan.” Ucap Minho memaksa.

Setelah berdebat akhirnya Jaerin menyerah. Ia membiarkan Minho membuka sepatunya dan memasangkan sandal di kakinya. Tapi tidak pas dengan ukuran kaki Jaerin. Pelayan mencari sandal yang cocok dengan ukuran Jaerin. Entah sudah berapa kali Jaerin menggenakan sandal yang berbeda-beda. Lalu ada sandal yang cocok dengannya. Saat ia mencoba berjalan ia tergelincir dan jatuh. Untuk saja Minho sigap menagkap tubuhnya.

“Gomawo.” Ucap Jaerin.

Ia kembali duduk. Minho melepaskan sandalnya. Mereka berdua mendesah.

“Ini yang terakhir.” Ucap sang pelayan.

“Wedges~” sahut Minho lalu meraih sandal wedgest dari tangan pelayan.

“Semoga pas untukmu.” Ucap Minho memasangkan wedgest di kaki Jaerin.

Minho mendesah. Ternyata pas.

“Cobalah berjalan.” Pinta Minho.

Jaerin menuruti perkataan Minho. Ia melenggak. Dan hasilnya ia tidak terjatuh lagi seperti tadi.

“Bagus. Sekarang tinggal di bayar.” Ucap Minho.

“Berapa semuanya?” tanya Minho kepada pelayan

Sang pelayan menyebutkan harganya. Lalu Minho membayarnya. Jaerin melongok terkejut dengan harga kesemuan barang yang dikenakannya.

Saat mereka di mobil Jaerin mulai membicarakan pakaian yang ia kenakan.

“Seharusnya kita tidak beli di tempat ini. Harganya sungguh mahal. Aku bisa mendapatkan satu HP beserta tiga dady long legs dengan total harga itu.”cletuk Jaerin.

“Apa salahnya? Tempat ini bagus. Produk yang mereka jual berkualitas tinggi, jadi tahan lama.” Ucap Minho.

“Tapi…”

“Sudahlah~ tidak usah diperdebatkan.” Ucap Minho.

Jaerin terdiam.

“Oh ya kenakan sabuk pengamanmu.” Ucap Minho menatap Jaerin.

Jaerin mencoba menarik sabuk pengaman yang terletak di sisi kanannya tapi ia kesulitan. Minho mencoba membantunya. Ia dapat merasakan hembusan nafas minho tepat di depannya. Rasanya hangat. Kemudian suasana menjadi hening. Wajah JAerin sudah merah. Begitu juga Minho. Mereka jadi canggungg karena hal kecil.

 

 

1.17 PM

 

Jonghyun mendesah melihat Key yang bersenang-senang dengan Jihee. Awalnya mereka seperti To & Jerry tapi pada akhirnya mereka berteman baik meski Key seringkali melontarkan kata-kata pedas. Tapi Jihee tidak menanggapinya ia tidak ingin beradu mulut dengan Key. Karena Key selalu menang di akhir perdebatan mereka.

Di atas kebahagian Key dan Jihee, Jonghyun merasakan sakit yang tak tertahankan. Kebahagiannya telah di renggut. Ia harus mengerjakan tugas yang seharusnya di selesaikan Key. Meski ia masih kuliah tapi orang tuanya selalu menekan mereka untuk bekerja. Agar membiasakan merka bekerja di perusaan orang tua mereka.

Tidak ada lagi yeoja. Itu yang ada di pikiran Jonghyun. Awalnya ia merasa kesepian tapi setelah dirasakan kembali ia cukup senang. Ia lebih suka kelelahan karena kerja dari pada kelelahan karena di kejar-kejar yeoja. Ia ingin berhenti bermain-main dengan yeoja. Ia takut apa yang di katakan Jaerin benar. Selama ini mencari-cari nomor kontak Jaerin dan akhirnya ia mendapatkannya. Yeoja itu benar-benar menolaknya mentah-mentah. Jaerin tidak tahan dengan Jonghyun yang selalu dikelilingi yeoja dan bermesraan dengan yeoja itu. Jaerin merasa tidak nyaman. Jaerin mengecap Jonghyun bukan namja normal. Jonghyun sangat tersentak. Lalu terlontarlah kata-kata dari JAerin yang membuat Jonghyun sadar. Selama ini Jonghyun hanya merinduhkan sosok eomma di diri yeoja. Jonghyun memang tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang eomma. Saat ia lahir eommanya meninggal karena pendarahan. Ia di besarkan oleh appanya dan beberpa anggota keluarga Kim lainnya.

Saat pamannya, appa Key menikah, barulah Jonghyun meraskan kasih sayang seoerang eomma dari eomma Key. Tapi itu tak berlangsung lama. Saat mereka mempunya anak, mereka lebih menyanyangi anak mereka. Memanjakan mereka. Sejak itulah Jonghyun sering berdiam diri dan menghabiskan waktu untuk bermain musik dan bernyanyi. Saat SMP ia mulai bermain yeoja. Ia merasa diperhatikan.

Tapi semua itu berkahir karena Jaerin. Jonghyun tidak dapat melupakan Jaerin. Ia seperti sosok yang ia cari. Seseorang yang bijaksana. Tapi Jonghyun tidak dapat memilikinya. Yeoja itu sadah tidak memiliki rasa apapun padanya. Yeoja itu menganggapnya sebagai appanya.

Sekarang Jonghyun berada di lobby. Ia akan kembali ke Seoul karena ia dapat panggilan dari perusahaan di Seoul. Saat memasuki mobil ia di cegat seorang yeoja yang berpakaian seragam lengkap dengan tasnya.

“Ada apa?” tanya Jonghyun heran.

Yeoja itu menatap Jonghyun tajam dan penuh kebencian.

“Kembalikan rumahku!” cletuk yeoja itu.

“Rumah?” sahut Jonghyun heran.

“Ne~ kau menyitanya beberapa hari yang lalu. Aku memintanya kembali.” Ucap yeoja itu.

Jonghyun mulai mengerti apa yang dikatakan yeoja itu.

“Kau adiknya Jiyeo?” ucap Jonghyun.

“Ne~” ucap yeoja itu.

Jonghyun meringis.

“Bagaimana bisa aku mengembalikannya begitu saja. Onniemu itu berhutang banyak kepadaku. Dengan rumah dan seisinya saja tidak cukup untuk membayarnya.” Ucap Jonghyun Ketus.

“Jika begitu aku minta barangku. Di dalamnya ada barangku, bagaimana bisa kau mengambilnya.” Ucap yeoja itu terisak.

Jonghyun tidak peduli. Ia berusaha meninggalkan yeoja itu dan masuk ke dalam mobil tapi yeoja itu menariknya. Ia menepis tangan yeoja itu. Ia masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan yeoja itu. Yeoja itu menangis dan menatap kepergiannya. Lalu tiba-tiba yeoja itu terjatuh. Jonghyun menyuruh sopirnya berhenti. Ia menyuruh sopirnya kembali. Ia turun dari mobil dan mengecek kondisi yeoja itu yang kini di bopong security.

“Bahwa dia ke klinik.” Ucap Jonghyun.

Saat di klinik, dokter mengecek kondisi yeoja itu.

“Konidsinya buruk.” Ucap dokter.

“Sangat buruk?” tanya Jonghyun.

“Kau apakan dia?” sentak dokter.

“Kenapa kau marah padaku? Aku tidak mengapa-apakannya. Dia sendiri datang kepadaku dan meminta rumahnya, barangnya kembali.” Cletuk Jonghyun.

“Rumah? Barang?” sahut dokter muda itu.

“Ye~ Jiyeon berhutang banyak kepadaku, maka dari itu aku menyita rumahnya.” Ucap Jonghyun.

“Salah satu mantanmu?” sahut dokter.

Jonghyun hanya mengangguk.

“Serakan miliknya kembali. Pasti di dalam rumahnya itu ada sesuatu yang berharga. Miliknya bukan milik Jiyeong.” Ucap dokter.

“Andwae~” sahut Jonghyun.

“Seberapa besar hutangnya?”tanya dokter penasaran.

“Hutangnya cukup untuk membeli café yang sering kau kunjungi.” Ucap Jonghyun.

Dokter menelan ludahnya.

“Bagaimana jika mempekerjakannya di mall milik appamu. Ku dengar mereka membutuhkan beberpa karyawan. Dengan begitu dia dapat mebayar hutnag kakaknya.” Ucap dokter.

Jonghyun hanya diam saja.

“Dia kelelahan. Sepertinya dia sudah dua hari tidak makan. Sepatunya sudah lusuh. Sepertinya dia berjalan kaki dari Seoul kesini.” Ucap dokter yang membuat Jonghyun tertawa.

 

 

3.45 PM

 

“Aish~ kemana sich tuh anak.” Omel Jira yang kini berada di depan pintu apartemen Jaerin.

“Ponselnya juga tidak dapat di hubungi.” Cletuk Taemin yang mencoba menghubungi Jaerin.

“Apa jangan-jangan dia~ Ah tidak mungkin. Kejadian itu tidak mungkin terulang lagi.” Cletuk Jira.

Apa dia mengunjungi keluarganya?” cletuk Taemin.

“Dia sebatang kara.” sahut Jira.

“Jangan-jangan dia….”

“Bersama dengan Minho.” sahut sebuah suara.

Jira dan Taemin menoleh. Ia mendapati sesosok yeoja yang mereka kenal. Di belakang yeoja itu ada seorang namja yang berjalan mendekat.

“Nugu? Minho?” sahut Jira.

“Ne~ mereka sangat mencurigakan. Tadi pagi aku melihar Minho keluar dari apartemen Jaerin. Mereka tidak menggenakan seragam. Mereka bilang mereka sedang menangani suatu urusan.” teran yeoja yang bernama Hyoah.

“Urusan?” sahut Taemin.

“Kurasa Minho semalam menginap di apartemen Jaerin lalu mereka melakukan ‘itu’ paginya mereka ke dokter mengecek apakah Jaerin hamil.” ucap Hyoah.

Jinki menjitak kepalah Hyoah.

“Tidak mungkin seperti itu. Jagi~ jangan berpikiran negatif.” ucap Jinki.

Hyoah mengelus kepalahnya yang sakit karena jitakan Jinki.

“Kemarin Jaerin pulang sore dan kemarin sore ada pertandingan basket. Ku dengar sekolah kita dan sekolah Minho hyung bertanding jagi~ kurasa kemaren mereka bertemu dan merencanakan sesuatu. Aku baru ingat.” ucap Taemin kepada Jira.

Jira menjitak kepala Taemin.

“Pabo~ jika kau mengatakan dari tadi kita langsung saja telpon Minho oppa.” sentak Jira.

Taemin hanya tersenyum kecut karena Jira menjitak dan menyentaknya. Kemudian ia mencoba menelpon Minho.

“Ah hyung~ apa kau bersama Jaerin sekarang? …….. Syukurlah. Kami mengkhawatirkan Jaerin. ……………. Aku tidak bisa menghubunginya maka dari itu kami khawatir. ………………. Pantas saja. Oh ya kalian kemana? ……………. Oh baiklah. Jaga dia baik-baik.” ucap Taemin lalu memutuskan pembicaraan.

“Bagaimana?” tanya Jira dan Hyoah bersamaan.

“Jaerin bersama Minho hyung. Dia lupa membawa ponselnya. Mereka sedang ada urusan. Sebenarnya urusan Minho hyung tapi Jaerin ingin membantu.” terang Taemin.

“Yeoja satu selalu membuat orang khawatir.” ucap Jira.

“Sudah-sudah lebih baik kita masuk ke apartemanku dan berbincang-bincang. Bukankah sudah cukup lama kita tidak berbincang?” sahut Hyoah.

“Hm~ baiklah.” ucap Taemin.

Jira hanya mengangguk.

 

 

5 PM

 

“Rumahnya besar sekali~” cletuk Jaerin memandang rumah yang ada di hadapannya.

“Tapi mungkin saja ini bukan rumah noonaku.” Sahut Minho.

Seorang satpam mendekati mobil Minho dan mengetuk pintu kaca Minho.

“Apa ada yang perlu saya bantu tuan, nona?” tanya satpam itu.

“Apakah benar ini kediaman tuan Kim?” tanya Minho.

“Ye~ ini kediaman tuan Kim.” Jawab satpam itu.

“Apa tuan Kim ada di rumah?” tanya Minho.

“Tuan Kim belum datang tuan. Mungkin sebentar lagi belia akan datang. Tapi dia tidak akan lama di sini karena nyonya sekarang ada di Seoul. Maaf jika boleh saya tahu anda siapa?” tanya satapam.

“Saya rekan bisnis.” Ucap Minho.

“Silakan masuk. Anda bisa menunggu tuan di dalam.” Ucap satpam itu lalu membuka pintu gerbang.

Saat di dalam rumah, Minho dan Jaerin berusaha mencari foto keluarga yang biasa di pajang di dinding. Tapi mereka hanya menemukan foto sepasang kakek dan nenek.

“Maaf apakah itu…” tanya Minho menunjuk pigora yang dipajang di dinding.

“Itu foto tuan besar Kim dan mendiang istrinya.” Ucap pelayan yang menyajikan mereka minuman.

“Lalu di mana foto keluarga tuan Kim sendiri? Kudengar belia sudah berkeluarga.” Ucap Jaerin sembari menyesap teh yang di suguhkan.

“Tuan Kim tidak pernah memajang fotonya di ruangan terbuka seperti ini. Beliau biasa memajangnya di kamar. Tapi ada foto nyonya dan anaknya di dinding dekat tangga.” Ucap si pelayan.

“Boleh kami melihatnya?” sahut Minho tak sabar.

“Mari~”

Ucap sang pelayan mulai melangkahkan kakinya. Minho dan Jaerin beranjak mengikuti langkah kaki pelayan.

“Ini foto nyonya dan putranya.” Ucap pelayan menunjukan pigora foto seorang yeoja dan anak kecil yang kira-kira berusia tiga atau empat tahun.

Minho tertegun.

“Wah~ cantiknya. Anaknya juga lucu. Siapa nama anaknya?” ucap Jaerin.

“Donghae~” ucap si pelayan.

DEG~ tiba-tiba jantung Jaerin berdetag kencang. Ia tertegun.

“Namanya Choi Yeonra?” cletuk Minho.

“Eh~” sahutsi pelayan itu.

“Ne~ nyonya Yeonra.” Ucap pelayan itu kemudian.

“Kalian terlihat pucat. Apa kalian tidak apa-apa?” tanya si pelayan.

“Saya tidak apa-apa. Hanya terkejut saja istrinya masih muda.” Ucap Minho.

“Tuan Kim menikah muda. Beliau menikah saat usia dua puluh tahun dan nyonya sembilan belas tahun.” Ucap si pelayan.

Minho memandangi Jaerin. Yeoja itu berkeringat dingin.

“Jaerin kau tidak apa-apa?” tanya Minho.

Jaerin tetap diam. Minho meraih tangan Jaerin. Tangan yeoja itu dingin.

“Kau benar-benar sakit?” tanya Minho.

Jaerin memandang Minho.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingat seseorang.” Ucap Jaerin.

“Donghae?” tanya Minho.

Jaerin mengangguk.

“Maaf kenapa mereka memberi nama putra mereka Donghae?” tanya Jaerin bergetar.

“Saya tidak tahu pasti. Tapi saya dengar itu nama teman tuan Kim yang sudah meninggal beberapa taun yang lalu.” Ucap si pelayan.

Tiba-tiba kaki Jaerin lemas. Ia terduduk di lantai.

“Jaerin kau tidak apa-apa?” tanya Minho khwatir.

“Apakah tuan Kim dulunya tidak tinggal di sini tapi di daerah dekat sini?” tanya Jaerin dengan nada bergetar.

“Ehm~ Ne~” ucap si pelayan.

“Apakah eomma tuan Kim meninggal saat melahirkannya dan appanya meninggal karena kecelakaan?” tanya Jaerin sekali lagi.

Matanya berkeca-kaca.

“Benar sekali.” Ucap si pelayan heran.

“Jaerin kau kenapa?” tanya Minho khawatir.

Ia berjongkok di depan Jaerin.

“Se… sebaiknya kita pulang. Aku tidak enak badan.” Ucap Jaerin.

Minho tau Jaerin menyembunyikan sesutu tapi dia tidak ingin bertanya. Ia takut Jaerin semakin tersiksa dan menangis. Ia memutuskan menggendong Jaerin dan membawanya ke mobil.

“Maaf kami tidak bisa menunggu lama lagi.” Ucap Minho sebelum masuk ke dalam mobil

“Ne~ saya mengerti.” Ucap si pelayan.

Lalu Minho masuk ke dalam mobil.

“Minho bisakah kita mampir ke……”

 

 

6.07 PM

 

“Ku dengar tadi ada yang mencariku.” Ucap Jaejoong yang baru saja tiba.

“Ne~ tuan.” Ucap si pelayan.

“Nugu?” tanya Jaejoong.

“Mereka mengatakan bahwa mereka rekan bisnis tuan.” Ucap si pelayan.

“Nama mereka?” saut Jaejoong.

“Yang namja bernama tuan Choi Minho dan…”

“Minho? Choi Minho? Apakah dia masih muda?” potong Jaejoong.

“Ne tuan. Dia bersama dengan seorang yeoja yang bernama Jaerin.” Ucap si pelayan.

“Jaerin? Seperti apa dia?” tanya Jaejoong.

“Dia cantik dan anggun tuan. Saat dia melihat foto nyonya dan putra tuan, ia sangat senang. Tapi raut wajahnya berubah saat mengetaui nama putra tuan. Dan keadaanya semakin buruk saat mengetaui bahwa nama putra tuan berasal dari nama teman tuan.” Terang si pelayan.

Jaejoong membalikan tubuhnya.

“Ke arah mana mereka pergi.” ucapnya sembari menujuh ke luar.

“Mereka menujuh ke tempat tinggal tuan dulu.” Ucap si pelayan.

“Tolong telpon Yeonra katakan padanya aku tidak pulang hari ini. Katakan juga bahwa Choi Minho datang kemari.” Ucap Jaejoong.

Ia buru-buru masuk ke dalam mobilnya yang di parkir di depan rumah.

“Mengapa mereka ke sana? Tempat itu sudah tidak aman lagi.” Ucap Jaejoong.

Ia meraih ponselnya dari saku jasnya lalu menelpon seseorang.

“Yoochun~ apakah kau sibuk? ……… Kau bisa bantu aku? ……. Kau masih ingat Kim Jaerin? ………. Dia kembali ke tempat tinggalnya dulu. Melewati tempat di mana kejadian itu. ……………. Apa mereka sudah bebas? Itu semakin bahaya! ………….” Ucap Jaejoong mentup pembicaraan kemudian melemperkan ponselnya ke kursi di sampingnya.

 

 

7 PM

 

“Jaerin kau tidak apa-apa?” tanya Minho.

Jaerin tidak menjawab. Ia masih shock.

Minho melepaskan sabuk pengamannya lalu melepaskan sabuk pengaman Jaerin.

“Tenanglah~ ada aku di sini.” Ucap Minho menggenggam tangan Jaerin.

“Untung kau tidak terluka parah. Apa benturan tadi sakit Jaerin?” tanya Minho.

Jaerin tidak mejawab ia hanya menangis.

Tubuh Jaerin gemetaran. Minho medesah.

“Siapa mereka? Apakah mereka gangster?” ucap Minho menatap keluar.

Di luar sana ada beberpa orang mengelilingi mobil Minho. Lalu seorang namja dengan bekas luka di wajahnya mnedekati mobil Minho. Namja itu berdiri tepat di pintu mobil dekat Jaerin. Minho sudah merasakan firasat buruk tentang ini. Dan benar. Namja itu berusaha memecahkan kaca. Minho langsung memeluk Jaerin.

PYAR~

Kaca mobil di dekat Jaerin pecah. Untung saja Minho memeluk Jaerin. Jadi yeoja itu baik-baik saja. Tetapi tidak untuk Minho. Serpihan kaca tadi melukai tubuh Minho.

Namja dengan bekas luka di wajahnya membuka pintu dan menarik Jaerin. Minho berusaha agar Jaerin tidak terlepasa darinya tapi tidak bisa. Seseorang memecahkan kaca pintu yang lain dan menyeret Minho keluar.

“Kau….”

 

 

 

 

To Be Continue….

 

 

Mian lama~

Gimana chapter kali ini?

Maaf klo jelek.

Sepertinya chaoter berikutnya saya protek. Mungkin cuma chapter itu saja.

Mengapa di protek? Karena eh karena ada suatu adegan gitulah.

JANGAN MENGANGGAP ADEGAN HOT!!!

Author cuma mau melindungi chapter berikutnya biar tidak terjadi kesalah pahaman. Syaratnya harus sudah berusia 15 tahun dan mampu menjawab pertanyaan saya. Yang mau passwordnya hubungi admin via FB or Twitter

Oh ya FF ini ada spinoffnya lho~ ada 3 chapter. Hehehe ^^

 

Jangan lupa tinggalkan komentar

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

30 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s