Lucifer (Taemin)

Standar

Annyeong ^^

Kali ini saya kembali lagi dengan FF Lucifer

Ini FF saya buat untuk teman saya Vuyu~ aka Firyal Fadhilah yang cinta mati ama Taemin ^^

Langsung saja ya

 

Cast: Taemin, Firyal Fadhilah as Shin Minbyul

R: PG

G: Fantasy, Romance

 

Need Your Comments, Please Comments This Fiction


fanfiction korea lucifer taemin

-LUCIFER-

 

*Minbyul POV*

 

Hari yang membosankan. Semuanya berjalan seperti biasa. Teman-temanku sudah hafal betul gerak-gerikku jadi mereka tidak dapat ku kerjai. Sekarang aku duduk sendiri menatap ke luar jendela. Langit begitu cerah tapi tidak secerah hatiku

“Minbyul!” kudengar seseorang memanggil namaku.

“SHIN MINBYUL! Kau dengar tidak?”

Kali ini aku menoleh. Seongsaengnim menatapku tajam. Sejak kapan dia tiba di kelas dan siapa namja yang ada di sampingnya.

“Dia akan duduk di sebelahmu, ku harap kau baik dengannya.” ucap seongsaengnim menatapku tajam.

Aku langsung sumringah. Yes! Ada korban baru.

“OK pak!” seruku.

Lalu namja itu berjalan mendekatiku. Aku sudah menyiapkan jebakan di bangkunya. Aku menumpahkan lem di bangku yang akan ia duduki.

“Annyeonghaseyo. Jaeirumun Lee Taemin imnida. Manasao bangabsumnida.” ucapnya ketika duduk di sampingku.

“Siapa namamu?” tanyanya mencari nametag di blazerku.

“Kau tak perlu tau siapa namaku.” ucapku ketus lalu membuang muka darinya.

Aku tersenyum ala devil karena ia sudah terjebak dalam jebakanku. Tinggal menunggu nanti~

 

Saat bel istirahat berbunyi aku melihatnya ia berdiri. Aku melongok. Bagaimana bisa? Aku sudah memberi lem di bangkunya. Di celananya tidak ada sisa bekas lem

 

*Taemin POV*

 

Ada yang aneh dengan yeoja yang duduk disebelahku. Ia memperhatikanku ketika aku bangkit dari kursi yang ku duduki. Apa ada yang salah denganku? Ekspresinya menunjukkan dia terheran-heran denganku.

Aku keluar kelas menujuh kantin. Beberapa chingu sekelasku bertanya kepadaku apa aku baik-baik saja. Aku jawab aku baik-baik saja. Lalu aku bertanya kenapa mereka menanyaiku seperti itu. Ternyata yeoja yang duduk disampingku adalah tukang iseng. Dia suka mengerjai anak apalagi anak baru sepertiku. Aku hanya tersenyum. Pasti dia terheran-heran karena tidak dapat menjailiku. Oh ya tadi seonsaengnim memanggilnya Minbyul. Shin Minbyul. Hm…. Apakah dia….

Sudahlah aku mau membeli sesuati di kantin.

Lalu aku kembali. Dia masih berada di bangkunya. Ia merebahkan kepalahnya di meja dan tertidur. Wajahnya menghadap ke jendela. Lalu aku melihat kursinya. Aku tersenyum. Ternyata ia tidak beranjak dari tempat duduknya karena lem. Pasti tadi ia, menaruh lem di bangkuku. Aku nyengir. Aku memandanginya tidur. Aku dapat melihat auranya. Itu bukan aura biasa. Sepertinya aku yakin akan siapa dirinya sebenarnya.

Lalu beberapa yeoja mendekatiku. Ia mengajakku menonton apalah dan apalah. Aku sudah biasa seperti ini. Aku berkata iya dan menyuruh mereka menungguku di tempat yang berbeda.

 

Saat bel pulang sekolah berbunyi aku beranjak. Aku membiarkan teman sebangkuku tidur. Aku heran dengannya, bukankah tadi dia sudah tidur saat istirahat? Lalu kenapa ia tidur lagi saat jam terakhir dan kini ia tidak bangun.

Aku siap-siap menghadapi satu demi satu yeoja yang menungguku. Aku tidak menuruti perkataan mereka. Tapi merekalah yang harus menuruti perkataanku. Dengan sekali senyuman ia tidak dapat berkutik. Mereka akan selalu mendengar perkataanku dan menuruti perkataanku. Aku memperbudak mereka untuk melakukan kekacauan di suatu tempat-tempat tertentu.

Setelah selesai dengan tugaku aku kembali ke kelas. Firasatku yeoja itu masih tertidur di kelas. Dan…. Dugaanku salah. Yeoja itu sudah bangun tapi ia kesusahan untuk berdiri. Lalu aku datang mendekatinya. Ia memandangku heran.

“Kenapa kau belum pulang?” tanyanye ketus.

“Kau sendiri saja belum pulang.” sahutku.

Lalu memutar bangkunya ke belakang kelas. Ia bertanya-tanya kepadaku dan melarangku dekat dengannya tapi aku tidak menghiraukan. Kemudian aku meraih ke dua tangannya dan menariknya. Ia terhempas kepelukanku bersamaan dengan suara~

KRAAAKKK~

Sepertinya ada yang sobek dan aku tahu itu.

“Astaga~” ucapnya mendongak menatap wajahku.

“Jangan lihat! Tutup matamu!” sentaknya.

Aku menutup mataku sembari melepaskan blazer milikku.

“Kenakan ini untuk menutupi rokmu yang sobek.” ucapku menyodorkan blazer milikku.

Ia menerimanya. Lalu semenit kemudian aku membuka mataku.

“Eits~ jangan buka matamu. Hitung hingga 100 baru buka matamu.” sahutnya lantang.

Firasatku tidak enak. Aku menurutinya. Setelah berhitung aku membuka mataku. Dia sudah menghilang. Aku melangkah. Aku hampir terjatuh karena tali sepatuku terikat satu dengan yang lain. Sepertinya ia mengikat tali sepatu kiri dan kanan saat aku berhitung tadi. Tapi usahanya gagal. Aku tersenyum ala Lucifer dan seketika itu ikatan tali sepatuku kembali seperti semula. Aku berjalan keluar ruangan mengejarnya. Aku tahu dia masih berada di sekolah.

 

 

*Minbyul POV*

 

Semoga saja dia terjatuh dan tidak mengejarku. Aku cepat-cepat menuruni tangga. Saat menuruni anak tangga terakhir aku terjatuh. Sial! Mungkin karena aku tergesah-gesah. Aku berusaha beranjak tapi tidak bisa. Rasanya sakit sekali. Kakiku benar-benar terkilir.

Aku mencari pegangan merabah-rabah tembok dan mulai melangkah dengan terpincang-pincang. Saat keluar gedung aku kembali jatuh. Kali ini lututku menjadi korban. Aku merintih kesakitan mengutuk diriku yang sungguh sial hari ini. Sekarang rasanya sulit untukku berdiri.

Lalu seseorang berjongkok di hadapanku. Ia membelakangiku, menunjukkan punggungnya.

“Naiklah, aku akan mengantarmu pulang.” ucapnya.

Aku ragu. Mungkin saja dia bermaksud jahat kepadaku.

“Aku tidak akan melukaimu. Tenanglah.” ucapnya.

Aku menelan ludahku. Lalu naik ke punggungnya. Ia memegangi kedua kakiku lalu berdiri. Ia berjalan perlahan. Kami terdiam.

“Di mana rumahmu?” tanyanya memecahkan keheningan.

Aku terdiam. Lalu terbesit di otak untuk mengerjainya. Aku akan membuatnya kelelahan karena menggendongku kesana kemari.

Aku menjelaskan di mana rumahku dengan berputar putar. Tapi tidak berhasil. Dia tetap bugar. Mala aku yang lelah seakan posisiku seperti dirinya. Aku menyandarkan kepalahku di bahunya kemudia aku melinkarkan tanganku di lehernya.

“Waeyo?” tanyanya heran melihat sikapku.

“Aku lelah. Lebih baik kita naik bus atau kereta bawah tanah.” ucapku pelan.

Aku memejamkan mataku. Entah kenapa aku merasa lelah. Aku selalu melemah jika ada di dekatnya. Seakan-akan dia menyerap semua energiku.

Aku merasa tubuhku di hempaskan ke bangku. Entah kenapa aku merasa berada di suatu tempat yang gelap dan hanya ada aku dan dia. Tempat ini benar gelap.

Ku dengar ia bercakap-cakap dengan yeoja. Aku tidak dapat mendengar jelas apa yang ia katakan. Aku merasa panas. Tubuhku berkeringat. Aku dapat merasakan dia mengenggam tanganku. Akupun membuka mataku. Aku menatapnya. Dia tersenyum padaku. Tidak ada yang salah padanya. Tapi aku merasa takut. Saat bus yang aku tumpangi ini berhenti, aku buru-buruk keluar dan berlari darinya. Dengan terpincang-pincang aku menujuh ke keramaian. Bersembunyi di balik keramaian. Ku harap dia kehilangan jejakku.

Aku melihat sekelilingku. Hari sudah malam dan aku tak tahu aku berada dimana. Ada rasa takut. Entah dari mana asalnya. Mungkin karena dia. Ya, namja bernama Taemin itu memiliki senyuman yang tidak biasa. Siapa yang melihatnya langsung luluh. Tapi tidak untuk aku. Aku merasa ia menyedot energi. Membalikkan apa yang ku lakukan kepadanya ke diriku sendiri. Dia selalu berbicara dengan yeoja dengan nada pelan.

Aku punya firasat tentangnya. Firasat yang buruk. Aku menduga dia seorang Lucifer. Mungkin aku gila jika menyimpulkan Taemin seperti itu. Lucifer hanya sebuah legenda yang ku dengar dari orang tuaku. Tugas Lucifer bermacam-macam. Ada yang mencuri jiwa, berbuhat jahat, pokoknya mereka bekerja mengendalikan jiwa orang lain, membuat orang lain sengsara.

Dulu orang tuaku mengataiku sebagai Lucifer. Aku sangat kesal. Setelah mengalami kecelakaan, mereka berhenti mengataiku. Hingga kini aku tidak ingat peristiwa itu.

Ya Tuhan aku belum menemukan jalan pulang. Rasanya aku ingin menangis tapi kenapa air mata ini tidak keluar juga. Aku terduduk di jalan setapak. Tempat ini sungguh gelap. Tidak ada orang yang berlalu-lalang. Suasana sunyi senyap. Yang terdengar hanya suara angin dan ranting-ranting yang bergesekkan.

Lalu terdengar suara berat. Aku menelan ludahku. Sepertinya mimpi burukku segera dimulai.

 

 

*Taemin POV*

 

Aku tidak menyangka ia akan lari dariku dan menghilang begitu cepat. Sebenarnya dimanakah dia? Aku khawatir. Hari semakin malam, apakah dia sudah pulang?

Dalam sunyi senyap aku berjalan menyelusuri jalan setapak. Di kiri kanan terdapat semak belukar dan pepohonan yang menjulang tinggi. Lalu terdengar suara sentakan-sentakan dari kejauhan. Dan paling mengejutkan adalah suara ledakan. Aku langsung berlari ke asal suara. Aku tertegun saat nenyelusuri asap hitam dan menemukan bebarapa orang yang berdiri ketakutan serta sesosok Devil. Aku menelan ludahku.

Devil itu mengamuk, menghantam siapa saja yang mendekatinya. Manusia-manusia yang berusaha melukainya tadi tak berdaya di hantamnya, dilempar ke sana kemari. Saat tak ada lagi yang ia hantam ia menatapku dengan matanya yang merah. Ku lihat dua tanduknya yang ada di kepalahnya. Kurasa ia menjadi devil sempurnah dengan sayap kelalawar hitam yang ia kebahkan. Ia berjalan mendekatku. Aku dapat merasakan nafasnya yang panas. Lalu ia mencekik leherku. Aku tidak bisa bernafas. Aku….

 

 

*Minbyul POV*

 

Aku terbangun. Aku mengucek-ngucek mataku memastikan apa yang aku lihat adalah kenyataan.

Dimana aku? Dan tempat apa ini? Tak ada lampu tapi aku bisa melihat dengan jelas. Lalu apa yang aku kenakan? Dimana seragamku?

Aku turun dari ranjang dan keluar ruangan. Aku menyelusuri lorong yang hanya di terangi obor. Lorong ini berujung ke sebuah ruangan makan. Di meja makan sudah tertata makanan. Saat itu pula aku merasa lapar.

“Kau sudah bangun?”

Aku tersentak. Ku lihat sebuah sosok yang ku kenal berjalan menghampiriku membawa mapan berisi gelas. Ia menata gelas itu di meja kemudian tersenyum kepadaku. Senyumnya itu memaksaku untuk tersenyum. Aku berusaha menahan diriku untuk tersenyum.

“Duduklah~ kita sarapan terlebih dahulu.” ucapnya.

Aku mengernyitkan alisku. Sarapan? Memang sekarang jam berapa?

Aku tidak peduli. Aku duduk berhadapan dengannya dan menyantab makanan yang ada di hadapanku. Aku sangat lapar.

Ia tersenyum lagi. Membuatku jadi salah tingkah.

“Kau sangat lapar ya?” tanyanya yang memperhatikanku melahap makanan.

Aku mengangguk.

Setelah selesai, ku habiskan segelas susu vanilla yang ada di hadapanku. Tapi aku belum puas. Aku merampas gelas susu miliknya. Ia hanya meneguknya sekali.

 

 

*Taemin POV*

 

Dia merampas susu milikku. Padahal aku baru meneguknya sekali. Aku hanya bisa pasrah dan memandangnya. Ia seperti tidak makan selama beberapa hari saja. Aku tertawa, aku baru ingat kemarin siang ia tidak istirahat. Tidak memakan apapun hingga pagi ini.

“Apa yang kau tertawakan?” sentaknya melototiku.

Aku hanya tersenyum. Aku mencondongkan tubuhku lalu mengusap bibirnya yang penuh dengan sisa susu.

“Kau sudah mandi?” tanyaku.

Dia menggeleng ragu.

“Sebentar lagi mereka datang. Sebaiknya kau mandi dulu. Lalu kita berangkat ke sekolah.” ucapku.

“Mereka siapa?” sahutnya.

Aku bangkit lalu menariknya.

“Lepaskan!” pintahnya.

Aku tidak peduli.

“Mandi dulu dan kau akan tahu siapa mereka.” ucapku menyeruhnya masuk ke dalam kamar.

“Di sini gelap.” ucapnya.

Aku menepuk tanganku tiga kali dan

BLEP BLEP BLEP obor-obor di kamar yang ia tiduri tadi menyala.

“Kamar mandinya di sebelah sana.” ucapku menunjuk ke ujung kamar.

“Mereka akan mengantarkan seragammu kemari.” ucapku.

“Siapa si mereka?” tanyanya penasaran.

Aku diam.

“Lalu ini pakaian siapa? Siapa yang mengganti pakaianku?” cerocosnya.

“Pakaian eommaku. Eommaku yang mengganti pakaianmu.” ucapku lalu aku keluar kamar.

Aku menujuh kamarku untuk berganti pakaianku dengan seragam.

Setelah selesai aku keluar kamar. Tidak lupa aku membawa tasku. Aku melewati lorong menujuh ke kamarnya. Ku dengar ada suara dari dalam.

“Jadi katakan. Kenapa eomma bisa ada di sini?”

Sepertinya Minbyul terkejut melihat eommanya berada di sini.

“Akanku jelaskan di luar.” ucap sebuah sauara.

Aku yakin itu eomma Minbyul.

Lebih baik aku ke ruang tamu. Appa pasti sudah menungguku di sana.

Dugaanku benar. Ia berada di sana dengan~ dengan tuan Dev. Aku menelan ludahku. Kenapa tuan Dev ada di sini. Lalu aku duduk bersama mereka. Tak kusangka tuan Dev tersenyum kepadaku. Biasanya beliau tidak pernah tersenyum. Lalu aku membalas senyumannya.

“Duduklah Minbyul.” ucap eommaku.

Ia bersama Minbyul dan eomma Minbyul. Mereka ikut duduk bersama kami.

“Taun Lee dulu teman sekolah eomma.” ucap eomma Minbyul.

“Dia juga teman appamu.” lanjutnya.

Aku melihat raut muka Minbyul berubah.

“Appa?” ucapnya.

“Ne~ kau ingin tahu siapa appamu?” tanya eommanya.

Minbyul mengangguk.

Tunggu. Jadi Minbyul tidak tahu siapa appanya? Sepertinya aku mulai tahu.

“Dia adalah appamu.” ucap eommanya menunjuk tuan Dev.

Minbyul memandang tuan Dev. Tersirat dari rautnya ia tidak percaya dengan semua ini.

Dia tertawa. Semakin lama semakin lantang. Tawanya menggema. Menusuk saraf otakku. Aku benar-benar yakin ia putri tuan Dev. Mereka memiliki tawa yang sama persis.

“Aku tidak percaya.” ucapnya.

“Apa kau mau bukti?” sahut tuan Dev.

Minbyul hanya diam.

“Lihat tanganmu.” ucap tuan Dev.

Minbyul mengankat tangan kanannya. Memperhatikan tangannya yang biasa itu

“Nyonya Lee bisakah kau membantuku?” ucap tuan Dev meminta bantuan eommaku.

Eommaku mengangguk. Ia meraih tangan Minbyul dan melemparkan api dari tangannya ke tangan Minbyul. Minbyul menjerit kesakitan. Aku tidak tega melihatnya. Aku juga merasakan kesakitan seperti itu.

Beberapa detik kemudian cahaya terpancar dari tangan Minbyul.

“Lihatlah tulisan di telapak tanganmu. Apa persis dengan tatu di lenganku ini?” ucap tuan Dev menunjukkan tatonya.

Sepertinya Minbyul sudah yakin tuan Dev itu appanya.

“Lalu apa ini? Kenapa tanganku seperti ini?” ucap Minbyul ingin penjelasan.

“Karena kau seorang Lucifer.” sahut eommaku.

Kurasa Minbyul tidak suka dengan kata Lucifer. Ia memelototi eommaku. Entah kenapa aku ingin membuka mulutku dan mengatakan,

“Kau Lucifer Minbyul. Kau sungguh-sungguh Lucifer. Ada devil di dalam dirimu.” ucapku.

Ia beranjak mendekatiku. Mencengkram kemejaku.

“Apa maksudmu heh?” sentaknya.

“Kau pikir aku sekeji itu?” sentaknya lagi.

“Aku mungkin suka jahil, tapi aku bukan devil atau Lucifer. Kaulah yang Lucifer.” lanjutnya melototiku.

Matanya berubah merah.

Aku tertawa. Dan sepertinya dia tidak suka aku mentertawainya.

“Taemin sudahlah.” ucap appaku.

Aku tidak peduli.

“Kau tahu kenapa kau suka jail?” tanyaku kepada Minbyul yang masih menarik kemejaku.

Aku mencondongkan tubuhku.

“Karena ada darah Lucifer di dalam tubuhmu. Semakin kau mengelak darah itu semakin bergejolak.” Bisikku di telinganya.

Ia mulai memanas. Wajahnya merah padam.

“Tapi kau payah. Kau tidak dapat menjailiku. Malah apa yang kau lakukan padaku berbalik kepadamu. Kau Lucifer yang bodoh. Mana ada Lucifer yang senang menjadi manusia sepertimu.” Ucapku menatap matanya.

Aku sungguh semangat kali ini. Cahaya yang terpancar dari tanganku tidak seperti cahaya Lucifer biasanya. Ini api~ apa aku benar memiliki kekautan api? Pengendali api?

Aku tersenyum kepadanya lalu tertawa di hadapannya.

“Taemin~” sentak appaku.

“Biarkan saja dia.” Ucap tuan Dev.

“Jangin sakiti dia Taemin.” Ucap eommaku.

“Minbyul, jangan kau lakukan itu lagi.” Ucap ahjumma.

Ia tampak khawatir.

Minbyul menatapnya. Ia menatap eommanya seakan meminta kepastian apa maksud dari kata-kata yang eommanya katakan.

“Memangnya apa yang akan ku lakukan?” ucapnya menatap eommanya.

“Membunuhnya…” ucap ahjumma lalu menangis.

Ku lihat amarah Minbyul memuncak.

“Kau Lucifer pembantai. Aku melihat kau sudah membunuh beberapa manusia. Ku rasa kau kurang puas. Apakah kau akan membantiku yang seorang Lucifer ini?” pancingku.

Tanduknya mulai muncul. Dia berubah menjadi Devil sempurnah. Ekornya mengikat tubuhku. Ujungnya yang lancip itu menggores pipiku.

“Kau Lucifer bodoh dengan penampilan Devil. Kau tidak akan pernah bisa mengalakanku.” Ucapku.

Ia berteriak. Lalu membanting tubuhku ke samping. Aku berhasil menahan tubuhku agar tidak terbentur. Sayapku sudah keluar. Aku melayang ke udara dan dia menyusulku. Ia membantaiku habis-habisan.

Tidak tega melihat rumahku berantakan dan ahjumma yang ketakutan aku pun mencengkram tangannya dengan apiku. Lalu mencium bibirnya. Dari mulutnya aku merasakan sesuatu. Sepertinya aku semakin bertenanga.

Kami berdua terjatuh. Aku melepaskan ciumannku. Dia langsung lemas. Apakah dia pingsan? Lalu dia membuka matanya pelan-pelan.

 

 

*Minbyul POV*

 

Aku terhempas ke lanatai. Tapi aku tidak terluka. Aku hanya merasa lemas. Seakan-akan aku baru saja berlari mengelilingi kota. Aku membuka mataku. Aku lihat sesosok orang di hadapanku. Pandanganku tidak seberapa jelas.

“Minbyul kau tidak apa-apa?” tanya eommaku.

Entah sejak kapan ia berada di sampingku.

Aku menatap sosok itu lagi. Dia seorang namja. Aku menyipitkan mataku. Dia… dia… seperti Taemin. Tapi~ kenapa dia bertanduk? Memiliki ekor dan sayap?

“Taemin kau~ sungguh menyeramkan.” Ucapku.

“Lihat dirimu.” Sahutnya.

Ku lihat diriku. Ternyata aku sepertinya. Memiliki tanduk, ekor dan sayap sepertinya. Aku mendesah.

“Jadi aku sepertimu. Aku bukan manusia?” cletukku.

“Ye~” sahutnya.

“Lalu bagaimana aku menghilangkan ini?” tanyaku.

“Sulit untukmu untuk menghilangkan itu semua karena kau tidak terbiasa. Kau tidak terlatih.” Ucap appaku.

Ia berjalan mendekatiku.

“Mulai sekarang kau harus tinggal di dunia ini. Tapi kau masih bisa bersekolah, bermain di dunia manusia.” Ucapnya lalu mengecup keningku.

“Jadi aku tidak bisa sekolah hari ini?” celetukku.

Taemin mnedekati. Ia berjongkok tepat di hadapanku.

“Kau masih bisa sekolah hari ini.” Ucapnya lalu tersenyum kepadaku.

Ia meraih ke dua tanganku dan mengenggamnya. Lalu ia tersenyum lagi kepadaku. Ia mentap mataku dalam. Tanduk, sayap dan ekornya menghilang. Aku merasa aneh terus melihatnya tersenyum kepadaku. Tatapannya membuat jantungku berdebar-debar. Aku memalingkan wajahku. Jangan bilang wajahku merah.

“Wajahmu memerah.” Ucap Taemin mencubit pipiku.

“Tapi karena wajahmu memerah kau jadi kembali seperti semula.” Ucapnya.

Akupun menyadari tubuhku kembali normal. Astaga bagaimana bisa?

 

 

#Di Sekolah#

 

Aku dan Taemin hampir telat.untung saja kami menggunakan ilmu melintasi ruangan, jadi kami tidak telat.

Teman sekelas menatap kami berdua yang masuk bersamaan. Apalagi saat Taemin mempersilahkan aku duduk bagai pangeran yang berudaha bersikap romantis kepada seorang putri.

“Tidak usah memeprlakukanku seperti itu.” Ucapku ketus.

Taemin hanya tersenyum.

Beberapa yeoja mendatanginya. Yayaya menyebalkan sekali. Yeoja itu mengata-ngataiku. Meski tidak langsung. Aku merasa tersindir. Aku ingin marah. Tanganku mulai memanas. Lalu Taemin menggenggam tanganku erat. Aku menatapnya.

“Kau marah jagiya?” ucapnya tersenyum kepasanya.

Aish~ senyumnya itu membuat amarahku padam. Ehm~ dia memanggilku apa?

“Jagiya~ kau cemburu?” ucapnya.

Jagiya?

Ia memalingkan wajahnya ke yeoja yang mengitarinya. Tangannya masih menggenggam tanganku.

“Dia yeojachinguku. Tolong jangan ganggu dia atau aku akan memberi perthitungan padamu.” Ucapnya.

“Dan barang siapa yang menyakitinya. Aku tidak akan segan-segan mencabik-cabikmu.” Ucap Taemin lantang sehingga seisi kelas mendengarnya.

“Ta… Taemin~” ucapku.

Dia memalingkan wajahnya kepadaku. Dia tersenyum lagi. Aku menelan ludahku.

“Saranghae~” ucapnya kemudian tersenyum dan terus tersenyum.

“Nado saranghae~” ucapku tersenyum kepadanya.

“Kau terlihat sangat cantik jiga tersenyum.” Ucapnya mencibit pipiku.

Entah kenapa aku bisa berkata seperti itu. Mungkin ia sudah menghipnotisku. Ia benar-benar seorang Luicfer sejati. Aku mencintainya. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta~

 

 

 

_THE END_

 

 

Need Your Comments, Please Comments This Fiction. Thank You ^^

Mian klo jelek, author lagi kurang enak badan dan depresi karena suatu hal (jiah~ malah curhat)

Kritik dan saran saya terimah.

Mau kasih coklat, bunga, boneka juga saya terima (ngarep) 😀

 

 

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

30 responses »

  1. Eonni ^^ jeongmal daebak !!
    Aku beru pertama kali baca FF yang seperti ini, aku ngerasa kalau aku masuk ke dalam dunai lain(?) yang jelas bukan kpop, mungkin anime? hehhe.. lanjutkan eonn ^^
    Aku suka Taemin oppa disitu, ngerasa dia cool banget. keren 🙂 aku merasa kalau yang ada disana itu aku bukannya si pemeran wanita itu 😀 heheh ,. neomu kamsahamnida 😀

    • Gomawo *peluk Taemin*
      apa dunia lain? ketemu Harry Pantca. anime? emang bener author suka anime jd ffnya rada bergaya anime *bahasa apapula itu*
      aku malah kurang cocok sama karakternya taemin. wah berarti aku sudah cukup hebatnya sehingga kamu merasa jd pemeran utama.
      chonmaneyo 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s