Why did I Fall in Love with You

Standar

Sudah lama saya ingin posting ide ini. Akhirnya kesampain juga ^o^

Seharusnya awal Febuari posting, berhubung author kena DHV aka Demam Berdarah jd baru bisa posting sekarang

Maaf ya klo ada kata-kata yang terlalu…. Habis author lagi feeling blue~

Jangan lupa komentar ya ^^

Cast: Jaejoong

Genre: Love Story

Rating: PG

 

 

Jaejoong Doushite

 

“Katakan padaku, apa kau mencintaiku?” tanyaku.

Dia tersenyum kepadaku.

“Aku mencintaimu.” ucapnya lalu mengecup bibirku.

Aku melayang-layang. Aku sungguh mencintainya.

“Kau akan menantikukan?” tanyaku lagi.

Dia mengangguk.

“Aku akan menantimu. Karena aku sungguh mencintaimu.” tuturnya.

Aku lega. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Aku yakin ia akan setia.

**Dua tahun kemudian**

Seorang namja tersenyum bahagia dengan membawa sebuket bunga mawar merah. Beberapa kali ia menghirup aroma dari bunga mawar dan tersenyum. Ia berjalan menyelusuri lalu lalang pejalan kaki. Kemudian ia duduk di sebuah taman. Bukan taman umum karena terletak di salah satu perguruan tinggi.

Beberapa kali ia melihat arlojinya dan menatap sekeliling. Ia menanti seseorang.

“Jejung-san sedang apa kau di sini?” tanya seorang pria mendekati namja yang sedak menanti seseorang.

“Aku menanti Ayumu. Kami sudah berjanji di sini.” ucap namja yang dipanggil Jejung ini.

“Di sini dingin. Sebaiknya kau ikut denganku.” ucap pria berkaca mata itu.

“Aku khawatir Ayumu akan mencariku.” ucap Jejung.

“Dia tidak bisa menemuimu. Sebaiknya kau ikut denganku.” ucap orang itu.

**Malamnya**

Namja bernama Jejung itu menangis di tengah taman. Buket bunga yang ia pegang layu karena tidak tahan dengan suhu dingin kota Tokyo. Saljupun turun membuat namja itu semakin tidak dapat berhenti menangis.

“Dooshite? Dooshite Ayumu??? Ku pikir kau akan menantiku. Ku pikir kau mencintaiku. Ayumu~ dooshite???” isak Jejung.

Ia membanting buket bunga yang di genggamnya. Ia beranjak berjalan menujuh suatu kedai. Ia memesan rokok dan arak. Pikirannya kacau. Ia tidak henti-hentinya memanggil nama Saitou Ayumu.

**Dua hari kemudian**

“Kau sudah siap?” tanya seseorang membuyarkan lamunan Jejung.

“Ya~ aku siap Tatsuya.” ucap Jejung kepada pria berkacamata yang ia temui beberapa waktu yang lalu.

Merekapun bergegas masuk ke dalam mobil milik Tatsuya.

Tatsuya adalah teman kuliah Jejung saat di Tokyo University. Dia juga teman Ayumu. Beberapa hari yang lalu Tatsuya menceritakan kebenaran tentang Ayumu. Yeojachingu Jejung itu akan segera menikah. Hari ini hari pernikahan Ayumu. Mereka berencana datang ke acara pernikahan Ayumu bersama.

Beberapa kali Tatsuya menatap Jejung. Namja yang ada di sampingnya itu tampak sedih. Sudah sepantasnya Jejung bersedih. Sudah enam tahun ia berpacaran dengan Ayumu. Ayumu sendiri yang berjanji akan menerimah lamaran Jejung setelah Jejung menyelesaikan wamil. Memang belum waktunya Jejung ikut wamil. Tapi ayah Ayumu hanya mengizinkan orang yang ikut wamil untuk menikahi anaknya. Jejung tidak ingin menunggu lama. Ia memutuskan mempercepat wamil. Ayumu berjanji akan menanti Jejung dan tetap mencintai Jejung. Tapi faktanya, Ayumu menikah dengan orang lain.

Hati Jejung sangat pedih ketika Ayumu dan pasangannya mengatakan janji setia semati.

“Kau baik-baik saja Jejung?” tanya Tatsuya.

Jejung mengangguk pelan meski hatinya berkata bahwa hatinya sedang buruk saat ini.

Acara resepsi pernikahan di mulai. Jejung tidak nafsu makan, ia mengaduk-ngaduk hidangan pembuka.

“Jejung~ dia mau menyanyikan sebauh lagu.” cletuk Tatsuya mengangetkan Jejung.

“Ada apa?” sahut Jejung.

“Ayo maju sana~ mereka membolehkan para tamu bernyanyi.” ucap Tatsuya.

Jejung menggeleng.

“Ayo Jejung-san. Silakan ke depan dan menyanyikan sebuah lagu untuk pasangan yang baru menikah ini.” ucap sang MC mempersilahkan Jejung.

Jejung pasrah. Ia berjalan ke depan, ke atas panggung. Ia menatap pasangan pengantin baru. Dadanya sesak. Ayumu tampak merasa bersalah. Ia mencoba untuk tersenyum.

Sesorang memberi mikrofon kepada Jejung. Ia menerimanya kemudian memejamkan matanya dan mencoba mengatur nafasnya. Lalu ia membisikkan sesutu kepada MC. MC mengangguk kemudian menujuh ke operator acara. Sepertinya Jejung mengatakan judul lagu yang ingin ia nyanyikan tadi.

Lalu MC mengangguk kepada Jejung mengatakan bahwa lagu yang ingin Jejung nyanyikan ada. Jejung memandang Ayumu saat intro mulai terdengar.

doushite kimi o suki ni natte shimatta n darou
donna ni toki ga nagarete mo
kimi wa zutto koko ni iru to omotteta no ni
 
[Why did I fall in love with you?
No matter how much time passes
I thought you would always be here]
 
demo kimi ga eranda no wa chigau michi
 
[But you chose a different path]
 
doushite kimi ni nani mo tsutaerarenakatta n darou
mainichi maiban tsunotteku omoi
afuredasu kotoba wakatteta no ni
 
[Why couldn't I convey to you
Every day, every night, the growing thoughts
The words begin to flow]
 
mou todokanai
 
[But they won't reach you]
 
hajimete deatta sono hi kara
kimi o shitte ita ki ga shita n da
amari ni shizen ni tokekonde shimatta futari
 
[Since the day that I met you
I felt like I knew you
We melted together so naturally]
 
doko e iku no ni mo issho de
kimi ga iru koto ga touzen de
bokura wa futari de otona ni natte kita
 
[Wherever we would go, together
Needing you is a natural thing
The two of us became adults together]
 
demo kimi ga eranda no wa chigau michi
 
[But you chose a different path]
 
doushite kimi o suki ni natte shimatta n darou
donna ni toki ga nagarete mo
kimi wa zutto koko ni iru to omotteta no ni
 
[Why did I fall in love with you?
No matter how much time passes
I thought you would always be here]
 
mou kaerenai
 
[But you won't come back]
 
tokubetsu na imi o motsu kyou o
shiawase kao de tatsu kyou o
kirei na sugata de kamisama ni chigatteru kimi o
 
[Today will always have a special meaning
Today the happiness stands on our faces
You defy God with your beautiful figure]
 
boku ja nai hito no tonari de shukufuku sarete ru sugata o
boku wa douyatte miokureba ii no darou
 
[I'm not the one being blessed at your side
I'm supposed to say farewell?]
 
mou doushite kimi o suki ni natte shimatta n darou
ano koro no bokura no koto mou modorenai (kangaeta)
mou modorenai (kangaeta)
 
[And why did I fall in love with you?
We can't go back to how it was (consider it)
Can't go back (consider it)]
 
doushite kimi no te o tsukami ubaenakatta n darou
donna ni toki ga nagarete mo
kimi wa zutto boku no yoko ni iru hazu datta (mou kanawanai)
 
[Why didn't I take your hand?
No matter how much time passes
You should be at my side forever (but it didn't come true)]

sore demo kimi ga boku no soba hanarete ite mo
eien ni kimi ga shiawase de aru koto tada negatteru

[But you are still being taken from my side
And I still wish for your eternal happiness]

tatoe sore ga donna ni samishikute mo (tsurakute mo)

[No matter how lonely (no matter how painful)]

 

Buru-buru Jejung turun dari panggung. Ia tidak tahan lagi. Iapun keluar. Tatsuya menyusulnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Tatsuya.

“Aku baik-baik saja. Hanya ingin menghirup udara segar.” tutur Jejung

“Temui dia ketika acara selesai. Kalian perlu bicara. Aku akan mengatur tempat dan waktunya.” ucap Tatsuya menepuk punggung Jejung.

Jejung hanya terdiam memandang langit. Tatsuya kembali ke dalam sementara Jejung menunduk. Dia tidak dapat menangis lagi.

**Setelah resepsi pernikahaan**

Tatsuya pergi meninggalkan Ayumu dan Jejung.

“Selamat ya” ucap Jejung datar.

Ayumu mengangguk.

“Sepertinya dia lebih baik dariku.” lanjut Jejung.

“Maafkan aku.” ucap Ayumu.

“Tidak apa-apa. Aku tahu ayahmu tidak menyukaiku. Maka dari itu ia menyuruhku mengikuti wamil agar kau dapat dekat dengannya.” ucap Jejung.

“Sungguh maafkan aku.” isak Ayumu.

“Tidak perlu menangis. Bukankah kau bahagia dengannya?” sahut Jejung.

“Dia sempurnah. Ku dengar dia orang genius, kaya & dari keluarga terpandang. Kau pasti sangat mencintainya.” lanjut Jejung.

Ayumu menggeleng.

“Tapi aku masih mencintaimu Jejung~” isak Ayumu hendak memeluk Jejung tapi Jejung menolak.

“Jangan sentuh aku Ayumu. Kau sudah memiliki suami. Hubungan kita sudah berakhir.” ucap Jejung.

Ayumu menghapus air matanya.

“Ya hubungan kita sudah berakhir. Aku harap ini jalan terbaik.” tutur Ayumu.

Jejung beranjak pergi. Ayumu menarik tangannya.

“Jangan membenciku. Jangan menangis karenaku.” tutur Ayumu.

“Aku hanya kecewa padamu. Ku harap kau bahagia dengannya.” ucap Jejung lalu pergi meninggalkan Ayumu sendiri.

**Keesokan harinya**

“Kau pergi hari ini?” tanya Tatsuya sembari merapikan meja kerjanya.

“Ya.” jawab Jejung singkat.

“Kau mau aku antarkan?” sahut Tatsuya menatap Jejung.

“Tidak perlu. Aku berangkat nanti malam. Aku mau jalan-jalan dulu di Tokyo. Lagi pula kau sepertinya sibuk.” ucap Jejung.

“Semoga kau mendapatkan harapan baru.” ucap Tatsuya.

Jejung mengangguk.

“Sayonara~” ucapnya lalu pergi meninggalkan Tatsuya.

Ia berjalan ke luar gedung menuju ke taman. Ia berdiri menatap pohon Sakura yang ada di hadapannya. Pohon itu merupakan pohon terbesar di taman itu. Raut mukanya berubah ketika mendengar suara tangisan seorang yeoja. Ia mengitari pohon Sakura dan menemukan seorang gadis menangis di bawah pohon Sakura.

Jejung langsung merogoh sakunya dan mengelurkan sapu tangan. Ia memberikan sapu tangan nya kepada yeoja yang menangis itu.

“Pakailah ini.” Ucap Jejung.

Yeoja itu mendongak. Ia menatap Jejung lalu menatap sapu tangan yang di berikan Jejung. Kemudian ia menerimanya. Ia menghapus air matanya.

“Thank you.” Ucapnya kemudian.

Jejung hanya mengangguk pelan.

‘Sepertinya yeoja ini bukan dari Jepang. Apa dia dari Korea?’ batin Jejung lalu duduk di samping yeoja itu.

“Kau berasal dari Korea?” tanya jejung dalam bahasa Korea.

Yeoja itu menoleh. Ia terbelalak menatap Jejung.

“Kau dari Korea juga?” sahutnya.

Jejung mengangguk.

“Ku pikir kau orang Jepang.” Ucap yeoja itu lalu tertawa.

Jejung sedikit heran dengan yeoja ini.

“Waeyo? Apa ada yang salah denganku?” tanya yeoja itu.

“Aku hanya heran. Baru beberapa detik yang lalu kau sedih, sekarang kau tampak senang .” Ucap Jejung.

Yeoja itu tersenyum.

“Aku menangis karena merasa sendiri. Tapi sekarang tidak.” Ucap yeoja itu.

Jejung hanya mengangguk.

“Oh ya, Jae irumun Jung Yeonraimnida.” Ucap yeoja itu mengulurkan tangannya.

“Kim Jaejoong imnida.” Ucap Jejung atau Jaejoong menjabat tangan Yeonra.

“Jaejoong oppa kuliah di sini?” tanya Yeonra.

“Aniyo. Aku sudah lulus dari sini tiga tahun yang lalu.” Ucap Jaejoong.

“Oppa di sini untuk reuni?” cletuk Yeonra.

Jaejoong terdiam.

“Aniyo~ aku ke sini untuk bertemu dengan yeojachinguku.” Ucap Jaejoong pelan.

“Tampaknya oppa tidak begitu senang. Apa ada masalah oppa?” ucap Yeonra.

Jaejoong tertunduk.

“Jika tidak mau cerita juga tak apa-apa. Aku dulu saja ya yang bercerita.” Ucap Yeonra.

Ia mengambil nafas panjang lalu mulai berceloteh,

“Aku kemari juga untuk bertemu dengan namjachinguku. Sudah tiga tahun kami pacaran. Dia satu tahun lebih tua dariku. Dia mendaptkan beasiswa di sini setahun yang lalu. Aku khawatir hubungan kami berakhir karena long distance. Tapi dia meyakinkanku bahwa hubungan kami baik-baik saja. Selama enam bulan kami long distance dia selalu menghubungiku. Lalu dia jarang menghubungiku. Dan sudah tiga bulan dia tidak menghubungiku. Aku sangat khawatir. Sekarang aku ada waktu menemuinya. Tadi aku melihatnya. Aku sangat senang bertemu dengannya. Tapi aku tidak senang dengan siapa dia bersama. Mereka berdua sangat mesra. Aku bertanya kepada seseorang, katanya mereka sudah berpacaran selama enam bulan.”

Air mata Yeonra turun kembali.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jaejoong.

Yeonra menghapus air matanya dengan sapu tangan milik Jaejoong.

“Tidak apa-apa. Seharusnya aku menyadari bahwa hubungan kami tidak dapat bertahan lebih lama karena long distance. Seharusnya dia mengatakan yang sebenarnya kepadaku jika dia tidak ingin berhubungan denganku. Seharusnya dia minta maaf kepadaku.” Ucap Yeonra.

Ia menghela nafas panjang.

“Dia lebih cantik dan sepertinya jauh lebih baik dariku. Apa aku yang salah?” cletuk Yeonra.

“Kau tidak sama-sekali. Berhentilah menangis.” Ucap Jaejoong.

“Entahlah rasanya campur aduk. Merasa marah sekaligus bersalah.” Sahut Yeonra.

“Masih mending namjachingumu mengkhianatimu selama enam bulan dan berpacaran dengan yeoja lain. Yeojachinguku, ia mengkhianatiku selama dua tahun dan kemarin ia menikah dengan namja lain.” Ucap Jaejoong.

“Menikah?” sahut Yeonra.

“Ye~ selama aku ikut wamil, ia di jodohkan dengan namja pilihan appanya. Dan ia jatuh cinta dengan namja pilihan appanya. Rasanya sungguh pedih. Appanya sendiri menyurihku ikut wamil lalu kembali untuk menikahi anaknya, tapi ternyata itu hanya janji palsu untuk menjauhkanku dengan putrinya. Yeojachinguku yang berjanji akan setia menantiku ternyata berbohong. Ia mengkhianatiku. Masih sempat-sempatnya juga ia mengatakan bahwa ia masih mencintaiku. Itu sungguh konyol. Jika dia masih mencintaiku, untuk apa dia menikah dengan namja itu.” Terang Jaejoong.

“Ternyata ada yang lebih menderita dibanding aku.” Ucap Yeonra.

Lalu ia mendongak. Ia melihat butiran-butiran putih jatuh menerpa wajahnya.

“Salju~” ucapnya.

Jaejoong menoleh menatap Yeonra. Yeoja itu mengadakan tangannya. Mata yeoja itu terpejam. Beberapa detik kemudian yeoja itu bangkit.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jaejoong heran melihat Yeonra berputar-putar.

“Menari~” ucap Yeonra berputar-putar sambil menatap langit.

Lalu ia mulai berubah gerakan. Ia mulai menari dengan kata sebenarnya. Mulai dari balet hingga hip hop.

“Oppa tidak ikut?” cletuk Yeonra yang masih sibuk menari.

“Aniyo~ aku tidak dapat menari.” Ucap Jaejoong.

Yeonra berhenti menari. Ia berjalan mendekati Jaejoong lalu duduk di samping Jaejoong.

“Kenapa kau menari?” tanya Jaejoong masih penasaran kenapa tiba-tiba Yeonra menari.

“Karena dengan menari aku dapat melupakan masalahku. Dan rasanya sangat menyenangkan.” Jawab Yeonra.

Jaejoong memandangi Yeonra lagi.

“Waeyo? Apa ada yang salah.?” Tanya Yeonra.

“Ani~ hanya saja aku merasa pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya.” Ucap Jaejoong.

“Lalu kenapa kau mulai menari saat salju turun?” tanya Jaejoong.

“Karena aku suka salju.” Jawab Yeonra.

KRUEEEK~

“Bunyi apa itu?” sahut Jaejoong.

Yeonra tersenyum.

“Sepertinya bunyi perutku oppa.” Ucap Yeonra memegangi perutnya.

Jaejoong bangkit.

“Ayo!” serunya.

“Ayo kemana?” tanya Yeonra.

“Makan. Kau lapar bukan?” sahut Jaejoong.

Yeonra berpikir.

“Aku yang teraktir.” Ucap Jaejoong.

Yeonra bangkit.

“Baiklah. Kita makan di mana?” tanya Yeonra riang.

“Ramen di kantin enak. Kita makan di sana.” Ucap Jaejoong.

“Ehm~ tapi…”

“Sudahlah ayo ke sana!” seru Jaejoong menarik tangan Yeonra.

#Di Kantin#

Yeonra dan Jaejoong semakin akrab. Mereka bercerita soal keindahan kota Tokyo yang menawan. Lalu pembicaran mereka terhenti ketika Yeonra menangkap sesosok orang yang ia kenal. Dia~ dia adalah namjachingunya. Dia bersama yeoja lain. Dada Yeonra menjadi sesak ketika melihat mereka berciuman.

“Gwenchana?” tanya Jaejoong khawatir.

Yeonra mengangguk lalu bangkit.

“Kau mau kemana?” tanya Jaejoong lagi.

“Menyelesaikan ini semua.” Ucap Yeonra lalu berjalan menujuh ke namjachingunya.

“Kita perlu bicara.” Ucap Yeonra menepuk punggung namjachingunya.

Sepertinya namjachingunya itu tidak menyadari kehadiran Yeonra. Wajahnya langsung pucat melihat Yeonra.

“Yeonra~ Sejak kapan kau di sini?” ucapnya.

“Kita harus menyelesaikannya.” Ucap Yeonra tidak menjawab pertanyaan namja yang ada di hadapannya.

“Kita bicarakan di tempat lain saja.” Ucap namjachingu Yeonra.

“Aniyo~ disini saja. Lagi pula mereka bahkan yeojachingumu itu tidak tahu apa yang kita bicarakan.” Ucap Yeonra datar.

“Dia hanya temanku.” Ucap namja yang ada di depan Yeonra.

“Sudahlah tidak usah kau tutupi, aku sudah mengetahuinya. Aku ingin hubungan kita berakhir detik ini. Ini jalan terbaik untuk kita berdua. Terima kasih telah mengisi hatiku beberapa bulan ini.” Ucap Yeonra lalu pergi meninggalkan namja itu sendiri.

Air matanya menetes. Ia mempercepat langkahnya. Lalu seseorang memeluknya.

“Gwenchana~ masih ada namja yang lebih baik darinya.” Ucap orang yang memeluknya.

Yeonra menatap orang itu. Orang itu tidak lain adalah Jaejoong.

Ia tersenyum. Lalu berkata,

“Gomawo oppa~” ucap Yeonra.

“Cepat sekali kau sudah tersenyum.” Ucap Jaejoong heran.

“Karena ada yang mendukungku jadi aku senang. Untung saja oppaku tidak ikut menemaniku. Jika oppa ikut mungkin dia sudah dihabisinya.” Ucap Yeonra lalu tertawa.

Jaejoong hanya diam memperhatikan Yeonra.

“Oppa~ kenapa kau tidak tersenyum sama sekali? Apakah kau sungguh terluka?” tanya Yeonra.

Jaejoong menunduk.

“Masih ada yeoja yang lebih baik darinya oppa.” Ucap Yeonra menguntip kata-kata Jaejoong.

Jaejoong mengankat wajahnya lalu mendesah.

“Rasanya masih sakit.” Ucapnya menepuk-nepuk dadanya.

“Menangislah oppa~ atau berteriaklah dan keluarkan isi hatimu, mungkin itu bisa melegahkanmu.” Ucap Yeonra.

Jaejoong hanya mengangguk.

“Oh ya kapan oppa kembali ke Seoul?” tanya Yeonra.

“Malam ini.” Jawab Jaejoong.

“Sesampainya di Seoul, cobalah oppa berteriak saat di bandara. Di lapangangan tinggal landas. Di sanakan bising, jadi orang tidak akan mendengar dan tidak akan terganggu dengan teriakan oppa. Keluarkan segala perasaan oppa.” Ucap Yeonra.

“Akan ku coba.” Ucap Jaejoong.

Yeonra tersenyum.

“Aku ingin melihat senyum oppa saat aku kembali ke Seoul.” Cletuk Yeonra.

“Kapan kau kembali?” tanya Jaejoong.

“Secepatnya. Mungkin besok atau lusa.” Ucap Yeonra.

Lalu mereka memutuskan untuk berpisah. Jaejoong pergi ke bandara dan Yeonra pergi istirahat di hotelnya. Saat di hotel Yeonra termenung. Ia melamun dan tanpa sadar air matanya mengalir membasahi ke dua pipinya. Ia menghapusnya dengan sapu tangan milik Jaejoong. Kemudian ia tersenyum menatap sapu tangan milik Jaejoong.

“Gomawo oppa~” gumamnya.

*Dua hari kemudian*

Yeonra turun dari pesawat. Ia sudah tiba di Seoul. Ia berjalan ke luar dan mencari-cari oppanya. Ia mencoba tersenyum karena khwatir oppanya curiga. Ia belum menceritakan kejadian yang ia alami di Tokyo, tentang kisah cintanya yang berakhir.

“Sudah ku bilang aku pulang malam ini kenapa dia belum datang juga sich?” keluh Yeonra.

Tiba-tiba sesosok badut berada tepat di depannya. Badut beruang berwarna coklat.

“Annyeonghaseyo~” sapa badut itu.

Suara badut itu lucu. Seperti suara anak kecil.

Yeonra membalikan tubuhnya melangkah menjahui badut itu. Dia terkejut. Sekarang dihadapannya ada badut panda. Yeonra menelan ludahnya.

‘Astaga~ kenapa banyak badut di sini? Apa ada festival.’

“Kenapa nona tidak tersenyum? Apakah kami kurang lucu?” tanya badut panda.

Yeonra berjalan menghindari badut. Tapi tetap saja, dua badut itu menghalanginya.

“Kami tidak akan melepaskan nona sampai nona tersenyum.” Ucap badut beruang.

Yeonra menghela nafas. Ia melipat kedua tangannya di dadanya lalu menatap ke dua badut yang ada di hadapannya itu.

Beberapa detik kemudian terdengar sebuah melodi dan para badut itupun menari serta menyanyi.

Yeonra tersenyum melihatnya bahkan ia tertawa.

“Begitukan lebih baik.” Ucap sebuah suara.

Yeonra terbelalak kaget melihat siapa di balik badut beruang.

“Kenapa bengong?” tanya orang yang ada di hadapan Yeonra lalu memasukan kepalah beruang ke kepalah Yeonra.

Yeonra melepaskannya.

“Oppa~ kenapa kau di sini?” tanya Yeonra heran.

“Bukankah kau ingin melihat aku tersenyum ketika kau tiba di Seoul.” Ucap namja yang ada di hadapan Yeonra lalu tersenyum.

Namja itu tak lain adalah Kim Jaejoong yang menggunakan costume badut beruang.

Yeonra tersenyum.

“hei bantu aku melepaskan ini.” Ucap badut panda memegangi kepalahnya mencoba untuk melepaskannnya.

Jaejoong membantu si panda melepaskan keplahnya.

Blep~ akhirnya terlepas.

“Oppa~” pekik Yeonra terkejut.

“Jaejoong sudah menceritakannya. Seandainya aku ada di sana pasti sudah ku bunuh dia.” Ucap si panda yang tak lain adalah oppanya.

“Bagaimana oppa mengenal Jaejoong oppa?” tanya Yeonra heran.

“Oppamu adalah temanku saat di wamil. Saat sampai di Seoul aku mengajaknya minum. Aku menceritakan semua hal tentangku dan tentangmu di sana. Ia bertanya seperti apakah dirimu. Lalu ia menunjukkan fotomu dan alangkah terkejutnya aku melihatnya. .” Terang Jaejoong.

“Dia yang merencanahkan ini setelah tau aku oppamu.” Ucap oppa Yeonra.

“Kenapa oppa melakukan ini?” tanya Yeonra kepada Jaejoong.

“Ucapan terimah kasih karena kau dapat mengembalikan senyumku.” Ucap Jaejoong lalu tersenyum kepada Yeonra.

“Saranmu sungguh ampuh. Dan menari memang membuatku merasa lega.” Lanjut Jaejoong tersenyum kembali ke Yeonra.

“Gomawo oppa~” ucap Yeonra memeluk Jaejoong.

Jaejoong membalas pelukan Yeonra.

“Hei~ kau tidak memeluk oppamu juga?” sahut oppa Yeonra.

Yeonra nyengir lalu berahlih ke oppanya. Ia memeluk oppanya.

“Selalu tersenyum ya~” ucap oppa Yeonra mengacak-acak rambut Yeonra.

“Ne~” ucap Yeonra.

THE END

 

Gimana menurut kalian?

Maaf ya klo kurang bagus, ini FF author buat untuk melegahkan perasaan author =3

Comments Please~ >.<

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

29 responses »

  1. keren!!
    berasa liat mv.nya
    tp endingnya gantung, ntuh jaejoong jd ama yeonra kagak ya??
    klo kagak jd, ama aq aja dech hehehe #plakkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s