SHINee Girl

Standar

Annyeong ^^

Ini oneshoot sebenarnya sudah lama author buat. Sekitar satu tahun yang lalu *lama bgt ya*

Dan sesusunggyhnya ini dapat ilham gara-gara satu photo.
Sekali lihat langsung cling~ author dapat ide XD
Drpd dipendem bikin cekikan sendiri, author bagi-bagi dech XD

Mian, klo gak bagus.
Author GJ yang buat XP

Gak usah banyak bacot langsung aja
Chek this one out (sok english)

Cast
Lyra Callisto as Kim Jaerin
Iha as Choi Jira
Jingga as Shin Hyunkyo
Reeha as Song Jihee
Elycha as Lee Hyeonna
SHINee all members

Genre: Comedy, romance

Rating:  G

Seorang gadis berambut wavy, dan jika dipertegas rambutnya sidikit spiral, ia duduk sambil menyesap susu coklat hangat. Kemudian ia mendesah, menghela nafas panjang dan memandangi langit yang cerah penuh dengan bintang. Ia memandangi rasi bintang yang ia suka. Rasi bintang yang terlihat jelas di bumi belahan utara. Rasi bintang dengan bintang terterangnya Vega.
“Kau belum tidur?”
Ia tersentak kaget mendegar sebuah suara di belakangnya.
Ia memalingkan badan dan mendapati gadis berambut pendek sebahu berjalan mendekatinya. Gadis itu duduk disampingnya.
“Sepertinya ada yang menggangu pikiranmu.” Ujarnya memandang lurus ke depan.
“Ne. Aku merasakan_ ehm_ entahlah. Aku hanya penasaran dengan orang yang selalu memberikanku hadiah-hadiah kecil dan menuliskan note untukku.” Ungkap gadis berambut wavy.
“Kau menyukainya Jaerin ah?”
Jaerin mengerjap-gerjap.
“Kenpa kau berpikiran seperti itu Hyunkyo?”
Gadis berembut pendek itu tersenyum simpul.
“Aku juga merasakannya.” Cletuk Hyunko.
“Mwo?” sahut Jaerin tidak paham.
“Kau masih ingat dengan Lee Jinki bukan?” tanya Hyunkyo memandang Jaerin.
Jaerin mendongak ke atas mencoba berpikir. Lalu ia manggut-manggut.
“Ne. aku masih mengingatnya. Orang yang kau sukai waktu SMP dulu gureyo?”
“Ah ternyata kau masih ingat.” Sahutnya lalu tersenyum.
“Aku menyadari bahwa aku mencintainya…”
“Setelah ia pergi dari kehidupanmu dan kau menyadari kau begitu merindukannya. Ne ne ne aku masih mengingatnya. Jadi apa hubungannya denganku?” potong Jaerin lalu meneguk habis susu coklatnya.
Hyunkyo memandang Jaerin sesaat. Ia mendongak ke atas mentap bintang.
“Aku mengamatimu Jaerin. Setiap kali kau menceritakannya ada sesuatu yang terpancar darimu. Mungkin dari matamu.”
Jaerin memandang Hyunkyo.
“Matamu bersinar saat menceritakannya. Dan kau tampak senang saat menceritakan itu semua. Kau sangat senang atas perhatian penggemar rahasiamu itu. aku tidak pernah melihat kau tersenyum begitu ringan saat membaca tulisannya. Dan kau selalu memikirkannya bukan?”
Jaerin tertenduk memandangi gelasnya yang kosong.
“Ne. aku selalu memikirkannya. Aku ingin tahu siapa dia.”
“Apakah kau tidak bisa menebak siapa dia?”
Jaerin menghela nafas.
“Aku hanya bersugesti.” Ucapnya pelan.
“Maksudmu?” tanya Hyunko heran.
“Dia selalu memberikan kejutan padaku saat di akademi ini. Aku menebak mungkin dia sekolah di sini.”
Hyunkyo sontak terpecaya.
“Hey kau salah minum obat ya?” sentaknya sembari mengernyitkan alis dan menegakkan tubuhnya.
Jaerin menggeleng.
“Kau tahu ini akademi khusus untuk perempuan. Mana mungkin ada laki-laki. Atau mungkin_ ada perempuan lesbi yang menyukaimu?” cletuk Hyunkyo.
Jaerin tertawa.
“Mungkin saja. Tapi siapapun dia, dia sudah berhasil mengambil hatiku.” Ucap Jaerin lalu tertawa lagi.
“Hya jangan bercanda.” Bentak Hyunkyo dia mulai ragu, jangan-jangan Jaerin salah minum obat.
“Aku tidak bercanda. Mungkin kau benar aku mencintainya.” pekik Jaerin.
“Tapi bagaimana jika dia benar dugaanmu. Dia sisiwi sini.” Tekan Hyunkyo kesal.
“Bagaimana jika ternyata dia siswi yang menyamar.” Sahut Jaerin.
“Maksudmu?” sahut Hyunkyo dengan nada pelan.
Ia menanti penjelasan Jaerin.
“Mungkin saja dia laki-laki yang menyamar menjadi siswi sini agar dia dapat mengawasiku.” Ujar Jaerin sambil memandang bintang di langit.
“Hanya laki-laki pabo yang melakukan itu!” sentak Hyunkyo.
“Hei mengapa kalian tidak tidur?” sontak sebuah suara yang rada aneh~
Hyunkyo dan Jaerin menoleh ke belakang ke asal muasal suara. Mereka sempat terkejut. Mereka mengira sosok yang berada di dekat pintu itu hantu asrama. Setelah di pertegas ternyata dia adalah chingu mereka. Merekapun menghela nafas bersma.
“Huft~”
“Kau sendiri mengapa belum tidur, Jihee?” sahut Jaerin.
“Aku habis mimpi buruk.” Cletuknya.
Hyunkyo dan Jaerin bangkit mendekati Jihee.
“Ayo kita turun ke asrama dan ceritakan kau mimpi apa.” Ujar Hyunkyo setelah berada dekat dengan Jihee.
Mereka meninggalkan atap gedung dan menuruni tangga.
Jihee hanya diam tidak menjelaskan apa yang ia impikan. Sementara Hyunkyo dan Jaerin menebak-nebak mimpinya.
‘Mukanya lusut begitu. Seperti hantu~ jangan-jangan dia baru saja mimpi ketemu hantu penunggu asrama? Atau mimpi ketemu penunggu sekolah? Atau dia mimpi lihat dirinya sendiri jadi hantu?’ batin Hyunkyo.
‘Mimpi apa ya dia? Klo mimpi hantu pasti dia sudah teriak histeris yang bisa membangunkan penghuni segedung asrama. Tapi sepertinya tidak. Apa dia mimpi ditolak dengan laki-laki yang ia sukai ya?’ batin Jaerin.
Jihee membuka mulut, ia hendek menceritakan mimpimya. Hyunkyo dan Jaerin menanti penjelasan Jihee.
“Aku bermimpi Keysa onnie menembakku.” Cletuk Jihee.
“Mwo?” sahut Jaerin dan Hyunkyo bersamaan.

###Keesokan harinya###

“Wah hari yang cerah!” seru gadis berpita merah.
Ia melangkah dengan riang gembira menyanyikan lagu waktu ia di tk dulu. Lalu langkahnya terhenti. Ia berbalik ke belakang.
“Hyunkyo, Jihee, Jaerin, ayo cepat! Kenapa kalian lambat sekali sich?” teriak gadis itu.
“Iya, iya~” triak Jihee.
Tanpa babibubebo atau bo peep bo peep mereka mempercepat langkahnya kecuali Hyunkyo.
Jaerin memekik ketika meliat Hyunkyo berjalan sambil memejamkan matanya.
“Ada apa Jaerin?” Sahut Jihee.
Jaerin menunjuk-nunjuk ke arah Hyunkyo bak melihat zombie berjalan. Jihee hanya bisa geleng-geleng kepalahkayak didiskotik.
“Chingu cepat!” teriak Jira jauh disana.
“Kau duluan saja Jihee. Biar ku urus Hyunkyo.” Sahut Jaerin.
“Ya sudah. Sampai bertemu istirahat nanti.” Ucap Jihee lalu melangkah pergi meninggalkan Jaerin.
Jaerin menghela nafas panjang memandangi Hyunkyo yang diam mematung dengan mata terpejam. Ia menggigit bibir bagian bawah kemudian tersenyum simpul.
“Bukankah itu Lee Jinki oppa.” Sontaknya.
Wajahnya berubah menjadi terkejut. Sangat terkejut.
“Gosh! Benar. Itu Jinki oppa. Hyunkyo itu Jinki oppa!!!” teriaknya sambil menggoyang-nggoyangkan tubuh Hyunkyo.
Mendengar nama Jinki disebut, Hyunkyo langsung membuka matanya. Ia melihat Jaerin yang berwajah kecewa.
“Siapa kau bilang?” tanyanya.
“Jinki oppa.” Ucap Jaerin lesu.
Mata Hyunkyo langsung melebar. Ia celingukan mencari sosok Jinki.
“Mana? Mana?” tanyanya sembari celingukan kayak ayam nyari jantannya.
“Terlambat. Dia baru saja menghilang ketika kau membuka matamu. Itu salahmu sendiri.” Cletuk Jaerin.
Hyunkyo mendesah panjang.
“Sial! Sudah tiga tahun aku tidak bertemu dengannya. Dan sekarang aku kehilangan kesempatan melihatnya.”
“Sudah, sudah mungkin kalian belum dijodohkan untuk bertemu. Sebaiknya kita masuk kelas saja. Sipa tahu waktu di kelas ia muncul ketika kau mentap keluar jendela.” Hibur Jaerin.
Dengan sigap hyunkyo langsung berlari meninggalkan Jaerin.
“Hya Hyunkyo! Tunggu aku!” triak Jaerin.
Tapi Hyunkyo tidak menggubris.
“Sial! Aku berhasil menipunya tapi dia meninggalkanku begitu saja. Aish~”

###Istirahat###

Jira menikmati makan siangnya. Ia tersenyum sepanjang waktu. Membuat Jaerin ingin bertanya.
“Kenapa kau tersenyum selalu?”
Jira kembali tersenyum.
“Semalam aku bermimpi.” Ucapnya kemudian melahap makanannya.
“Biar aku tebak. Ada yang menembakmu.” Tebak Jaerin.
Jira berhenti makan. Ia memandang Jaerin.
“Dari mana kau tahu?” sahut Jira heran.
Jihee memekik. Pekikannya terdengar olah seiisi rungan kecuali Hyunkyo yang sedang tidur di depannya.
Jaerin langsung membekap mulutnya.
Hening sesaat.
Ketika seiisi rungan tidak memperhatikan mereka Jira melanjutkannya.
“Dia tipeku, dan tahukah kau. Dia mirip_” Jira melirik Taessa yang berada dua meja di sampingnya.
“Taessa?” bisik Jaerin.
Jihee memikik lagi. Tapi kali ini Jaerin dengan sigap membekap Jihee.
“Kau bisa membunuhnya jika membekap Jihee seperti itu.”
Jaerin mendongak, diikuti Jihee dan Jira. Lalu Jaerin melepaskan bekapannya. Dan jihhe mencubit Jaerin karena bekapnnya membuatnya susah bernafas.
“Aw sakit tahu.” rintih Jaerin.
“Habiskan makananmu itu!” seru orang itu lalu duduk di samping Jaerin.
“Ne, onnie.” Cletuk Jaerin kepada sonbaenya yang bertubuh jangkung.
Mereka menikmati makan siang masing-masing. Kecuali Hyunkyo yang sudah menghabiskan makan siangnya lebih dulu kemudian tidur.
“Hyunkyo tidur?” tanya seseorang.
Jihee mengangguk begitu melihat gadis berambut panjang yang ia kenalnya.
“Semalaman dia tidak tidur.” Sahut Jaerin kemudian melanjutkan makan.
“Waeyo tidak tidur?” tanya Jira heran.
“Kalian berdua juga tidak tidur bukan?” lanjutnya lagi.
Jaerin mengangguk.
“Pantas saja mukamu seperti zombie.” Cletuk gadis berbando putih di samping Jaerin lalu tertawa.
“Minji onnie. Jangan tertawakan aku.” Sentak Jaerin.
Minji manggut-manggut.
“Ne. aku tidak mau berurusan dengan zombie sepertimu.” Ucap Minji.
Jaerin langsung memukulinya.
“Kau mau membawanya kemana Anna onnie?” tanya Jihee ketika gadis berambut panjang menarik Hyunkyo dan menempanya.
“Membawanya ke UKS. Lebih baik ia tidur di UKS dari pada di kantin ini.”
Jihee manggut-manggut. Sementara Jira mencuri-curi pandang dengan Taessa. Jihee hampir gila melihatnya. Lalu Jaerin, ia sibuk bergurau dengan Minji.
Choi Minji, sisiwi kelas 2-5, dia sangat mahir bermain basket seperti Jaerin. Wajahnya lumayan~ cantik. Banyak laki-laki dari sekolah lain yang menyukainya. Awalnya ia tidak berhubungan baik dengan Jaerin. Malah lebih buruk seperti tikus dan kucing. Mana tikus mana kucing juga kurang jelas. Entah apa yang membuat mereka akur dan menjadi dekat seperti itu.
Lee Anna, siswi kelas 3-3, dia mempunyai banyak fans. Para pria menyukainya. Mungkin karena ia tampak lembut. Ia juga ketua OSIS akademi. Dia sangat dekat dengan Hyunkyo karena Hyunkyo begitu supel dengannya. Berbeda dengan sisiwi lainnya yang takut kepadanya. Lebih tepatnya takut dekat dengannya karena jabatannya itu. sebenarnya Hynkyo mendekatinya karena beberapa alasan. Jaerin akan membelikan foto Changmin DBSK limited edition jika berhasil dekat dengan Anna, lalu ke dua ia akan jadi populer karena dekat dengan sisiwi terpopuler seakdemi, ke tiga karena Anna mengingatkan… dan lagi, Anna juga akrab dengan Jungyi.
Lee Taessa, siswi 1-4, dia mempunyai senyum yang melelehkan hati pria. Dia dekat dengan Jira karena merka mengikuti ekskul yang sama dan hobi yang sama. Banyak yang berpendapat Taessa adalah sisiwi kelas 1 tercantik dan termanis. Tidak heran jika banyak sisiwi yang membencinya karena iri~
“Jihee apakah kau ada acara sabtu malam besok?” tanya seseorang.
Jaerin menggelng-nggelengkan kepalahnya begitu tahu siapa yang bertanya. Ia merasa dunia semakin rumit saja. Ia merasa hidup di dunia komik. Seseorang yang menjadi bahan pembicaraan kemarin malam tiba-tiba datang.
Jihee menahan nafas. Ia hafal betul suara siapa itu. Jantungnya sudah berdebar tak menentu. Pelan-pelan ia memberanikan menatap orang itu.
“waeyo?” ucapnya pelan.
“Ada sesuatu yang penting yang ingin ku bicarakan. Sabtu malam akan kujelaskan sedetil-detilnya.” Terang gadis berkuncir dua itu.
“Ku rasa Jihee tidak ada acara, Keysa onnie.” Sahut Jira.
Keysa memadangi Jihee.
Jihee memang tidak ada acara sabtu malam besok. Tapi setelah mimpi buruk tadi malam. Ia berusaha menghindari Keysa. Ia merasa Keysa juga menjadi aneh akhir-akhir ini.
Maksud hati ingin menggeleng tapi hasrat dan reflek ingin mengangguk.
“Baiklah. Aku tunggu sabtu malam besok di tempat biasa. Di sungai Han.” Ucap Keysa lalu meninggalkan Jihee yang tidak percaya apa yang dilakukannya.
Jaerin mengernyitkan keningnya.
Kim Keysa, siswi kelas 2-1, banyak sisiw yang menduga ia blesteran. Tapi saat di tanya keysa hanya diam saja. Tidak tahu jelas siapa nama asli Keysa. Beberapa chingu dekatnyapun tak tahu. Termasuk Jihee yang merupakan wakilnya dalam ekskul jurnalistik. Keysa sosok yang dingin dan Jihee sosok yang hangat. Jihee adalah salah satu siswi yang pernah membuat Keysa tersenyum bahkan tertawa lepas.

###UKS###

Hyunkyo terbangun. Ia bingung kenapa dia berada di UKS. Sesorang membuka tirai tempat dimana ia tidur.
“Kau sudah bangun.” Ucap Anna membawa secangkirs teh.
“Minumlah.” Anna menyodorkan cangkir itu kepada Hyunkyo.
Hyunkyo menyesapnya kemudian meletakkan di meja yang ada di sebelanh ranjang.
“Bagaimana aku bisa di sini onnie?” tanya Hyunkyo bingung.
Anna menutup tirainya kembali. Ia mendekati Hyunkyo dan duduk di samping ranjang.
“Aku membawamu kemari.” Jawabnya lalu tersenyum.
Senyum itu. senyum yang meningatkan Hyunkyo kepada seseorang yang dirindukannya.
Anna meraih kedua tangan Hyunkyo dan menggenggamnya. Rasanya aneh jika dilihat.
Hyunkyo tidak menolaknya. Tangan Anna begitu hangat. Tangan Anna menghangatkan tanganya yang dingin.
“Hyunkyo, sebenarnya sudah lama aku ingin mengatkannya. Tapi setelah tahu__ ehm, aku berpikir untuk mengataknnya saat ini juga. Semasi ada waktu.” Ucap Anna.
Jantung Hyunkyo mulai berdebar tidak menentu. Ia berpikiran tidak-tidak.
‘Jangan-jangan ia salah mengartikan sikapku kepadanya.’ Batinnya.
“Hyunkyo~ Saranghae~” ucap Anna.
Hyunkyo tertegun. Ia menanhan nafasnya. Kata-kata itu masih terngiang di kepalahnya. Kata-kata yang ia harapkan keluar dari laki-laki yang ia cintai, bukan gadis seperti Anna.
Menyadari Hyunko terkejut, Anna langsung berkata,
“Mianhae, seharusnya aku tidak langsung to the point seperti itu.”
Hyunkyo merasa jantungnya berhenti berdetak. Atau dunia ini mulai berhenti. Ia sangat terkejut mendengar nada suara Anna seperti laki-laki. Dan suaranya itu tidak asing baginya.
Anna langsung melepaskan wig yang ia pakai selama ini dan menunjukan rambut aslinya.
“Ini aku Hyunkyo. Lee Jinki.” Ucap Anna yang sebenarnya Jinki.
Hyunkyo merasa dunia mendadak gelap. Ia langsung pingsan begitu saja.
“Aish~ dia benar-benar terkejut.” Keluh Jinki.
“Tidak salah aku membawanya kemari.” Lanjutnya lalu memasang kembali wignya.

###asrama###

Jaerin mondar mandir di depan pintu kamar asramanya. Sementara Jihee mengacak-ngacak rambutnya seperti orang gila karena mimipnya semalam. Lalu Jira senyam-senyum sendiri. Mereka bertiga seperti orang gila.
Jaerin memutuskan keluar kamar. Ia berjalan menujuh ke gedung sekolah.
Sekolah sudah sepi saat itu. tidak seorang siswipun berkeliaran. Ia melangkah menujuh ke UKS. Saat ia kan membuka pintu UKS, ia terkejut. Ia mengelus-elus dadanya.
“Aku membuatmu tekejut Jaerin?” tanyanya.
Jaerin menghela nafas lalu berkata,
“Jujur Jungyi onnie, kau membuatku terkejut.”
Kim Jungyi, siswi 3-4, dia siswi tercantik sesekolah. Hobinya belanja dan menonton film di bioskop waktu akhir pekan. Ia sering mengajak Jaerin karena Jaerin juga menyukai film-film yang ia suaki seperti horror dan action. Kemiripan itulah yang membuatnya sama-sama dekat. Tapi akhir-akhir ini Jaerin menjaga jarak dengan Jungyi setelah ada gosip negatif bahwa ia berpacaran dengan Jungyi. Dia juga dekat dengan Anna, seringkali ia curhat ke Anna. Hanya Anna tempat curhatan yang tepat untuknya.
“Kau pasti mencari Hyunkyo ya?” ucap Jungyi memberikan jalan kepada Jaerin.
Jaerin masuk ke dalam UKS. Jungyi menutup pintu UKS dan tidak jadi keluar.
“Ne, dimana dia?”
“Di ujung sana bersama Anna.” Tunjuk Jungyi ke arah tempat yang tertutup oleh tirai.
“Ah gureyo? Ne Gamsahamnida.” Ucap Jaerin.
Jungyi tersenyum. Jaerin terdiam.
“Kenapa onnie masih disini. Bukannya tadi kau ingin keluar.” Ucap Jaerin melihat Jungyi yang masih diam di tempat.
‘Kau mengusirku Jaerin? Tega nian kau. Semenjak gosip itu menyebar sikapmu berubah ya kepadaku.’ Batin Jungyi
“Ah ne. aku akan keluar.” Ucap Jungyi sambil tersenyum.
Jaerin memperhatikan Jungyi kelaur dari UKS. Lalu ia memlaingkan tubuh dan hendak melangkah.
“Oh ya Jaerin.”
Jaerin menoleh dan melihat Jungyi membuka pintu UKS dari luar.
“Jangan tunjukan wajah cemberut itu lagi di depanku. Aku tidak suka melihatmu cemberut seperti itu.” Ujar Jungyi lalu benar-benar pergi meninggalkan Jaerin.
Jaerin terdiam mematung. Kata-kata Jungyi meningatkannya kepada note yang pernah ia terima dari seseorang yang mungkin mencintainya.

Jangan tunjukan wajah cemberut itu lagi
Aku tidak menyukaimu saat cemberut
Tersenyumlah ^_^

Ia menghilangkan pikiran itu dan berjalan mendekati Hyunkyo berada. Ia membuka tirai dengan paksa. Sehingga Anna yang tadi tertidur di samping ranjang Hyunkyo terbangun. Ia mendongak melihat Jaerin dan ia tidak sadar bahwa wignya tidak benar. Dan wignya lepas begitu saja ketika ia mengangkat badannya.
Jaerin diam melongok. Ia seperti melihat hantu. Ia tidak menjerit dan tak berkedip.
Jinki hendak mengatakn sesuatu tapi telat. Jaerin keburu kabur seperti melihat hantu.

###Keesokan harinya###

Jira berjalan riang sambil bernyanyi-nyanyi mengucapkan saranghae~ nado saranghae~. Lalu ia melihat Taessa. Ia memanggilnya dan mereka berjalan bersama. Ia melingkarkan tangannya di lengan Taessa. Taessa tersemyum memandang Jira. Ia membelai rambut Jira lembut.
“Astaga! Dunia ini membuatku gila. Lama-lama aku bisa gila jika masih sekolah di sini. Arg~!” jerit Jihee. Melihat Taessa dan Jira yang mesra.
Hyunkyo tidak menggubris. Ia berlari menujuh ke gedung sekolah dengan senyum mengembang.
“Jira Taessa, aku duluan ya!” seru Hyunkyo kepada Jira dan Taessa.
Jira dan Taessa mengangguk.
“Hyunkyo tampak senang. Kenapa ya?” ucap Taessa.
“Entahlah. Mungkin dia merasakan apa yang kita rasakan jagi~” cletuk Jira lalu tersenyum.
“Maksudmu dia sedang di landa cinta?” sahut Taessa lalu tersenyum.
Jira hanya tersenyum.
Taessa mencubit pipi Jira.
“Kau membuatku tidak bisa berhenti tersenyum jagi~”
“Jaerin kau lihat!” pekik Jihee menunjuk ke arah Jira dan Taessa yang berada seratus meter di depannya.
Jaerin tertunduk.
“Hei Kim Jaerin kau dengar tidak?” tanya Jihee.
Jaerin mengangkat kepalahnya. Dan ia merasa dunia seperti di landa gempa. Semuanya berputar dan gelap.

###Istirahat###

Hyunkyo asyik menikmati makan siangnya bersama Anna. Mereka tampak mesra ketika mereka melakukan adegan suap-suapan. Jihee hampir gila melihat teman satu kamarnya itu. Lalu ia beralih ke Jira yang juga melakukan kemesaran bersama Taessa. Mereka saling berpegangan tangan dan~ yach mereka seperi pasangan kekasih saat makan. Jihee beranjak dari tempat duduknya.
“Kau tidak makan Jihee?” tanya Jira.
“Ani~ aku tidak bernafsu.” Ucap Jihee ketus.
Ia beranjak meninggalkan tempat yang membuatnya gila. Ia berpapasan dengan Keysa. Sepertinya Keysa ingin mengatakn sesuatu tapi keburu Jihee melangkah pergi.
“Ada apa dengan Jihee ya. Kok dari kemarin ia seperti orang tertekan begitu.” Cletuk Jira.
“Ia mulai setres karena ia mengira kita_ dan Keysa_” ucap Hyunkyo lalu berhenti.
Jira dan Taessa mencondongkan wajahnya lebih dekat ke Hyunkyo.
“Lesbi.” Lanjut Hyunkyo pelan.
Jira dan Taessa salaing berpandangan lalu mereka tertawa lepas.
“Sebentar-sebentar tadi kau bilang kita?” sahut Taessa.
“Ne. kau kira aku lesbi?” sahut Hyunkyo.
Jira dan Taessa berpandangan kemudian mereka mengangguk bersamaan.
“Astaga~ jika bukan karena Jin_ maksudku Anna aku tidak tahu jika kau Taessa ternyata seorang laki-laki.” Ucap Hyunkyo pelan.
Taessa tertegun. Ia memandang Anna yang menyantab makanannya.
“Anna juga sepertimu Taemin.” Ucap Hyunkyo pelan.
Taessa dan Jira tersontak kaget. Pertama karena Anna ternyata laki-laki dan ke dua Hyunkyo baru saja memanggil Taessa dengan nama aslinya.
“Jadi kapan kalian jadian?” tanya Hyunkyo lalu melahap makan siangnya.
“Sepulang sekolah di ruang musik.” jawab Jira.
Hyunkyo manggut-manggut.
“Siapa yang menyatakn duluan?” tanya Anna tiba-tiba.
“Aku.” Sahut Taessa.
“Sebenarnya, aku sudah mengataknnya kemarin lusa saat ia tertidur di ruang musik. Aku mengatakannya semuanya~” lanjut Taessa.

###Flashback###

Latihan musik sudah berakhir. Hari ini giliran Taessa piket. Ia akan membersihkan ruangan musik. Lalu ia terkejut melihat Jira tertidur di grand piano. Ia tertidur diatas tuts piano yang tertutup. Taessa tersenyum. Pantas saja ia tidak mendengar suara piano saat latihan. Ternyata Jira tertidur. Taessa memutuskan membersihkan ruang musik setelah itu berencana untuk membangunkan Jira.
Setelah selesai. Ia mengambil kursi dan menyeretnya di sebelah Jira tertidur. Taessa memandang wajah Jira yang tertidur dan tertepa cahaya matahari. Ia tersenyum.
“Jira, kau tahu~. Aku begitu menyukaimu.” Kata Taessa dengan nada laki-lakinya.
“Oh ya Jira. Asalkan kau tahu, aku ini laki-laki. Namaku Lee Taemin. Aku sudah menyukaimu sejak kelas 2 SMP.
Saat mendangar kau ingin masuk ke akademi ini, akupun mengikutimu. Aku ingin dekat denganmu. Aku mengikuti ekskul yang sama denganmu. Aku menyukai musik sama sepertimu. Aku tidak menyangka usahaku melakukan ini membuatmu menyukaiku.
Aku tahu waktu kau mengatakan kau menyukaiku itu berarti teman. Tapi untukku, itu bagaikan hadiah terbesar. Aku sudah menunggu kata-kata itu keluar dari mulutmu untukku. Sebisa mungkin aku membuatmu menyukaiku.
Saranghae Jira.” Terang Taessa alias Taemin mengenggam tangan Jira.
“Aku yakin kau pasti mencintaiku.” Cletuknya.
“Ya, waktu kau memarahiku dan menyuruhku menjauh dengan para siswa yang menyukaiku.” Lanjutnya lalu tersenyum.
“Kau tidak mengerti kenapa kau melakukan itu.
Jira~ katakan padaku apakah kau mencintaiku?” ucapnya lalu melepaskan genggamannya dari tangan Jira ketika tangan Jira bergerak.
Jira membuka matanya perlahan dan ia melihat samar-samar wajah Taessa.
“Jira kau sudah bangun?” tanya Taessa.
‘apakah dia mendengarku tadi?’ batin Taemin
Jira bangkit dan terlihat linglung.
“Latihannya sudah selesai?” tanyanya kepada Taessa.

###Flasback end###

“Kau sendiri Hyunkyo?” tanya Taessa setelah selesai bercerita.
“Kami jadian kemarin di UKS.” Jawab Hyunkyo tersipu malu.
“Akhirnya aku memiliki orang yang sejak SMP kucintai.” Lanjutnya lagi.

###Pulang sekolah – UKS###

Minji masuk ke dalam UKS dan menujuh dimana Jaerin berbaring lesu tak berdaya seperti anak kucing baru lahir. Ia terkejut ketika mendapati Jaerin tidak ada di tempat. Ia berbalik arah dan keluar UKS. Diambang pintu keluar ia menabrak Jungyi.
“Joengmal mianhae onnie.” Ucapnya.
Jungyi bangkit dan membenarkan seragamnya.
“Tidak apa-apa lain kali hati-hati.” Ucap Jungyi.
“Minji!” triak seseorang seperti memanggil tukang sate atau bakso.
Minji dan Jungyi menoleh. Mereka medapati Anna, Hyunkyo, Taessa dan Jira menghampirinya.
“Minji bagaimana keadaan Jaerin?” tanya Hyunkyo.
Minji diam.
“Waeyo kau diam saja?” tanyanya lagi.
Minji tak menggubris.
“Ne, joengmal mianhae. Maafkan kami baru menengoknya sekarang. Kami lupa diri karena urusan kami masing-masing.” Ucap Hyunkyo.
Jira manggut-manggut. Ia juga merasa bersalah.
“Dia sudah pulih bukan?” tanya Jira.
Minji mengangguk.
“Kami boleh menongoknya bukan?” tanya Jira.
Minji menggeleng.
“Wayo?” sahut Taessa.
“Dia menghilang.” Ucap Minji.
“Mwo?” sontak Jungyi.
Semua terkejut mendengar perkataan Minji.
Lalu Minji berlari meninggalkan Jungyi, Anna, Hyunkyo, Jira dan Taessa.
“Pergi kemana dia?” cletuk Anna.
“Entahlah ikuti saja dia.” Sahut Hyunkyo lalu berlari mengikuti Minji.
Yang lain ikut mengejar Minji.

###Atap Gedung sekolah###

Jaerin memadang lurus kedepan. Tangannya menggengam erat secarik kertas note. Note itu tertulis,

Apa yang kau pikirkan hingga jatuh pingsan seperti itu
Jika ada masalah, ceritakan saja pada chingumu
Cepat sembuh yach ^_^

Jaerin mendegar pintu dibuka. Lalu sesorang menyari-nyari sesuatu. Orang itu mendongak dan mendapati Jaerin duduk di atas atap gudang kecil. Orang itu tampak tidak begitu senang melihat wajah Jaerin.
“Turunlah.”
Jaerin tidak menggubris.
“Jaerin, turunlah!” sentaknya.
Jaerin menoleh ke asal suara.
“Minji onnie~” gumamnya.
Lalu beberapa orang datang.
“Kenapa dia mendongak ke atas?” ujar Anna.
“Ayo kita lihat!” seru Hyunkyo.
“Jaerin~” gumam Hyunkyo setelah melihat apa yang Minji lihat.
“Jaerin apa yang kau lakukan di atas? Ayo lekas turun sebelum kau terjatuh!” teriak Jungyi agar Jaerin mendengarnya.
Semua orang tampak cemas. Masalahnya Jaerin baru saja sadar dari pingsan. Mereka takut Jaerin kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
“Jaerin ayo turun!” jerit Hyunkyo.
Jaerin menghela nafas lalu menuruti kata-kata Hyunkyo. Ia bangkit, dan hendak berjalan tapi kakinya kesemutan dan ia pun terjatuh. Dengan sigap Minji berlari menangkap Jaerin. Mereka berdua jatuh tersungkur. Minji merintih kesakitan. Dan Jaerin merasa kakinya perih seperti tergesek sesuatu.
Lalu Jaerin menyadari sesuatu. Ia tahu ia menindihi Minji. Tapi yang ia tahu kini, lebih dari itu.
Minji yang menyadari Jaerin terbengong di atas tubunhnya. Lalu Minji berkata,
“Bisakah kau menyingkir aku sulit bernafas.”
Jaerin tersontak kaget mendengar suara Minji yang berat. Ia cepat-cepat bangkit.
“Ka.. ka… kau…”
Minji bangkit. Nafasnya tersengah-sengah. Ia memandang Jaerin yang masih terkejut melihatnya. Ia tahu Jaerin telah mengetahui rahasianya karena kejadian yang baru mereka alami.
“Ne aku…” ucap Minji lalu tidak melanjutkan karena sepertinya Jaerin tidak mendengar.
Jaerin berjongkok mengambil notes yang terjatuh ketika Minji bangkit. Tangannya bergetar ketika mengambil notes itu. ia bangkit dan membuka halaman demi halamn notes itu. ia merasa tidak asing dengan tulisan di notes itu. lalu ia menyocokkan dengan note yang ia genggam.
“Jadi selama ini kau…”
“Ne. selama ini aku yang memberikanmu hadia-hadiah kecil serta notes.” Potong Minji dengan nada yang berbeda.
Hyunkyo dan Jira melongok mendengarnya. Sementara Anna, Taessa dan jungyi hanya tertegun.
Minji melepaskan wignya. Lalu memandang Jaerin.
“Dan ini rambutku yang sebenarnya.” Cletuknya lalu tersenyum.
Jaerin terpukau melihat Minji tanpa wignya.
“Jika kejadian ini tidak terjadi apakah kau akan tetap menyamar menjadi perempuan?” tanya Jaerin.
Minji menggaruk-nggaruk kepalahnya.
“Ehm… tidak. Aku pasti memberitahukan gadis yang aku suka bahwa aku laki-laki dan aku_ Sungguh mencintainya.”
Minji meraih kedua tangan Jaerin.
“Jaerin, jaeirumun Choi Minhoimnida.”
Jaerin memadang wajah Minji yang ternyata bernama asli Choi Minho. Matanya kini berkaca-kaca.
“Saranghae Jaerin~ Saranghae saranghae saranghae, begitulah jantungku berdegup saat melihatmu.” Ucap Minho meletakkan kedua tangan Jaerin di dadanya. Agar gadis itu dapat merasakan detak jantungnya detak jantungnya.
Butiran-butiran air mata jatuh membasihi pipi Jaerin. Ia tidak dapat menahan air matanya.
“Aku juga mencintaimu Minho. Kau bisa membuatku melupakan laki-laki yang pernah menyakitiku saat akau menjadi Minji. Kau selalu melindungiki sebagai Minji. Dan kau adalah orang pertama sebagai penggemar rahasiaku yang mampu membuatku jatuh cinta dengan pemberian dan notes mu itu.” ucap Jaerin hambar karena menangis.
Minho langsung mendekap Jaerin kedalam pelukannya.
Jaerin dapat mendengar detak jantung Minho. Ia dapat mendengar kata saranghae~ saranghae~ dari jantung Minho. Ia merasa nyaman di pelukan Minho yang begitu hangat.
Minhopun senang ia dapat memeluk gadis yang selama ini ia cintai. Ia dapat mencium rambut Jaerin yang wangi. Dari dulu ia ingin melakukan ini. Ia bahagia. Ia membelai rambut Jaerin yang lembut dan berharap ini bukanlah mimpi.
Mereka tampak begitu bahagia. Seperti dunia milik berdua. Dan tak menyadari ada beberapa orang yang memperhatikan mereka bahkan terluka melihat mereka.
“Aku terlambat ya. Seharusnya aku mengatakannya lebih dulu.”
Hyunkyo, Jira, Taessa dan Anna menoleh ke arah Jungyi mereka tertegun mendengar nada suara Jungyi yang berbeda.
“Jangan-jangan” ucap Hyunkyo, Jira dan Taessa bersamaan.
“Ne dia laki-laki juga.” Sahut Anna.
Hyunkyo, Jira dan Taessa menelan ludah.
“Padahal aku bagitu mencintai Jaerin. Padahal aku sebisa mungkin membuatnya nyaman denganku. Tapi ternyata aku terlambat.” Ucap Jungyi.
“Jagi kenapa kau tidak cerita? Kenapa kau menceritakan hanya Taessa saja yang laki-laki selain dirimu.” Sentak Hyunkyo.
“Aku tidak mau rahasia-rahasia itu terbongkar.” Jawab Jinki dengan nada laki-lakinya.
Ia merangkul Jungyi yang menangis karena memandang Jaerin dan Minho berpelukan.
“Sudahlah Jonghyun jangan menangis. Masih banyak gadis lain yang menantimu.” Hibur Jinki.
“Aku hanya mau dia Jinki.” Ucap Jungyi yang ternyata bernama asli Jonghyun tersedu-sedu.
“Kau lihat sendiri dia memilih Minho dan dia tidak mencintaimu.”
Jonghyun menggeleng.
“Ani dia pasti mencintaiku hanya saja ia mengira aku laki-laki.” Sahut Jonghyun egois.
Hyunkyo mendekati Jonghyun.
“Sebenarnya aku dan Jaerin dari dulu ingin melakukan ini padamu. Setelah tahu kau laki-laki dan kau menggenakan wig, akan mudah untukku melakukannya.” Ucap Hyunkyo.
Yang lain pada heran tidak mengerti. Maksudnya apa ya~
Lalu Hyunkyo melepas wig Jonghyun.
“Joengmal!” pekik Hyunkyo.
“Waeyo?” tanya Jonghyun heran.
“Kau mirip sekali dengan laki-laki yang pernah menyakiti Jaerin.” Celtuk Hyunkyo.
“Kau bilang apa tadi?” tanya Jaerin yang berada di belakang Hyunkyo.
Ternyata Jaerin dan Minho sudah mengakhiri adegan pelukan dan menghampiri sekelompok orang yang dari tadi berada di tempat yang sama.
Hyunkyo langsung berjalan seperti kepiting, berjalan kesamping_ menunjukan ke Jaerin wajah asli Jonghyun.
Jaerin tertegun.
“Hwang Haeji.” Gumam Jaerin.
“Bukan Jaerin. Dia bukan Hwang Haeji. Dia Jonghyun.” Sahut Hyunkyo.
“Lebih tepatnya Lee Jonghyun.” Sahut Jinki.
“Gosh! I don’t believe it.” Sentak Jaerin.
“Terlalu banyak kejutan yang muncul akhir-akhir ini. Terutama soal laki-laki yang menyamar menjadi siswi. Pertama Jinki oppa, lalu Minho oppa, lalu Jonghyun oppa, lalu siapa lagi?” Jaerin melirik Taessa. “Taessa juga?”
Taessa mengangguk.
“Aku Lee Taemin.” Ucap Taessa dengan suara aslinya.
“Gosh! Ternyata banyak laki-laki di sekolah ini. Ada laki-laki lagikah?”

###Malamnya###

Jihee keluar kamar. Ia tidak sanggup melihat ketiga teman sekamarnya bercembu mesra dengan gadisnya masing-masing.
‘Gila, aku benar-benar gila.’ Batinnya.
Ia melangkah dan terus melangkah. Lalu langkahnya terhenti begitu mendengar suara air mancur.
Ia mendongakkan kepalahnya.
“Kenapa aku disini? Kenapa aku berada di sekitar sungai Han? Ah~ ada apa denganku?” jeritnya.
“Kau disini karena kau sudah berjanji akan menemuiku.” Sahut sebuah suara.
Jihee tidak merasa mengenal suara itu. Ia memalingkan tubuhnya ke asal suara itu. ia mendapati sorang pria berjaket hitam dan bercelana jins berjalan mendekatinya.
“Siapa kau?” tanya Jihee penasaran.
Ia merasa mengenali pria itu tapi ia tidak mengingatnya.
“Kau tidak menganliku?” tanya pria itu.
Ia mencondongkan wajahnya tepat di wajah Jihee.
“Jihee kau tidak mengenaliku?” ucap pria itu dengan nada suara yang berbeda.
Jihee memekik.
“Keysa onnie?”
Pria itu menegakkan kembali tubuhnya lalu tertawa.
“Jangan panggil aku seperti itu. Aku sekarang seorang pria. Panggil aku Key, Key oppa.” Ucap pria itu lalu tersenyum kepada Jihee.
“Key? Key oppa?” ulang Jihee.
Key mengangguk.
“Nama asliku Kim Kibum.” Ujar Key.
Jihee terdiam tak percaya.
Key merangkulnya dan membawanya ke suatu tempat.
“Kenapa kau membawaku?” tanya Jihee di tengah jalan.
“Kenapa kau mau?” cletuk Key.
“Apa yang kita lakukan?” tanya Jihee.
“Kita berkencan.” Cletuk Key lalu tersenyum kepada Jihee untuk kesekian kali.
Darah Jihee sudah mendidih. Berada di dekat Key saja membuat jantungnya berdegup tak karuan. Di tambah lagi Key selalu memberikan senyum yang membuatnya menahan nafas. Ia meras tidak karu-karuan. Hingga ia menabrak seseorang. Ia jatuh tersungkur. Orang yang ia tabrak hanya berdiri tegap. Hanya dua lembar tiket terjatuh dari tangan orang itu. Jihe memungutnya.
Key membantunya berdiri.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Key.
“Aku baik-baik saja.” Jawab Jihee.
Jihee memberikan tiket itu kepada orang yang ia tabrak. Orang itu hanya diam tertunduk.
“Mianhae, ini tiketmu~” ujar Jihee berkali-kali tapi tidak ada respon.
Key merasa mengenali orang itu.
“Hei kau tidak apa-apa?” ujar Key menepuk pundak orang itu.
Orang itu mendongak.
“Oh… Jonghyun hyung~ waeyo? Waeyo kau lesu begitu?” sahut Key.
“Padahal aku berencana mengajak Jaerin nonton malam ini. Tapi… tapi dia sudah memiliki seseorang disisinya…” ucap Jonghyun lesu.
“Mwo? Jaerin? Jaerin siapa yang kau maksud? Kim Jaerinkah?” sontak Jihee.
“Ne. Jaerin chingu sekamarmu…” jawab Jonghyun.
Jihee agak bingung. Ia merasa tidak mengenal orang itu, tapi wajahnya familiar. Dan orang itu mengenal Jaerin, tahu bahwa Jaerin sekamar dengan Jihee.
Key mengambil tiket dari tangan Jihee dan memberikannya pada Jonghyun.
“Jaerin sudah ada yang punya, lebih baik kau cari yang lain hyung~. Masih banyak perempuan yang menunggumu. Kau ambil ini tiket dan pergilah menonton. Siapa tahu kau menemukan pengganti Jaerin di sana.” Ujar Key memberikan dua tiket kepada Jonghyun.
“aku duluan ya hyung~ semoga kau menemukan penggantinya.” Lanjut Key menarik tangan Jihee dan meninggalkan Jonghyun.
“Sebenarnya dia siapa sich?” tanya Jihee.
Key menoleh ke belakang melihat Jonghyun yang melangkah lunglai. Membelakangi mereka.
“Dia Jungyi.” Jawab Key.
Jihee berhenti berjalan dan tertegun. Ia ingin memekik tapi keduluan cegukan. Key tertawa lalu menyeretnya.

###Bioskop###

Jonghyun duduk menunggu pintu bioskop 2 dibuka. Ia memandang dua tiket yang digenggamnya.
‘Dari dulu Jaerin ingin menonton ini.’ Batinya.
Ia sudah memesan tiket jauh-jauh hari. Ia ingin mengajak Jaerin pergi untuk menontonnya. Tapi gadis itu selalu menghindarinya. Saat di UKS itu kesempatan terkahirnya. Tapi ternyata gadis itu tidak ada di tempat. Ia menghilang. Dan ternyata gadis itu berada di atap gedung sekolah. Kesempatannya pun berakhir. Padahal ia juga berniat menyatakan cinta setelah menonton.
“Hah habis?” sentak seorang gadis dikejauhan.
“Saya gak percaya. Pasti anda bohongkan? Saya sudah sejam ngantri. Kok sudah habis sich?” sentaknya tak percaya.
Entah apa yang dikatakan karyawan yang melayani gadis itu, hingga gadis itu melangkah pergi dengan wajah cemberut. Gadis itu duduk di samping Jonghyun. Ia meluruskan kakinya dan memijat-mijatnya. Sepertinya ia kelelahan.
“Sial padahal aku ingin menonton film action itu dari dulu. Sekarang saat aku punya uang dan ada waktu, ternyata gak bisa~” keluhnya.
Jonghyun menengok ke arahnya.
“Aku punya dua tiket, kau mau?” tawarnya menunjukan dua tiket yang dimilikinya.
Gadis itu langsung sumringah.
“Ne. aku akan membayarnya.” Sahut gadis itu.
“Tidak usah, aku tidak butuh uangmu.” Sahut Jonghyun menyodorkan satu tiket kepada gadis itu.
Gadis itu menerimanya.
“Kau yakin memberikan tiket ini cuma-cuma?” tanya gadis itu.
Jonghyun memandang lurus ke depan lalu mendesah.
“Ne. Aku tidak membutuhkan uang. Aku hanya membutuhkannya. Aku tidak percaya dia tidak bisa hadir…”
Gadis itu membasahi bibirnya.
“Dia… jagiya mu?” tanyanya.
“Aniyo~ dia gadis yang aku suka. Dia baru saja menjadi milik orang lain. Padahal aku berniat menyatakan perasaanku hari ini juga.” Ujar Jonghyun lesu.
“Oh~ pantas tampangmu seperti orang yang tidak ingin hidup lagi~ kau pasti sangat patah hati~” gumam gadis itu.
“Mwo?” sahut Jonghyun. Ia tidak dapat mendengar jelas apa yang dikatakan gadis itu.
Gadis itu menggelang.
“Ani~ aku hanya mau memperkenalkan diri. Je irumun Lee Hyeonnaimnida.” Ujarnya.
“Kim Jonghyunimnida.” Ujar Jonghyun kemudian.

~~~~~THE END~~~~~

Yak yak yak
Gimana readers?
Hohoho GJ gak?
Gak nyangka juga jadi panjang gini~~~

Author paling suka adegan dimana Minho menyatakan perasaannya ma Jaerin terus meluk Jaerin full love *jangan sirik yach*

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

9 responses »

  1. ini tokohnya banyak banget dan semuanya pemeran utama.
    sempet rada bingung alur cerita tiap tokohnya.
    but bagus juga dan menghibur 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s