사랑 빠지다 (chapter 1)

Standar

Annyeonghaseyo ^^

Hihihi ini ff lama tapi gak apalah saya post. mian ya klo jelek. namanya juga FF pertama ^^

Cast: TVXQ, JYJ, Super Junior, F4
Ratintg: PG
Genre: Romance, Friendship, Family
Series: 1 of 12

 

Super junior F4 DBSK JYJ

Seoul, 21 Desember

Seorang gadis berjalan sendiri di kerumunan lalu lalang orang-orang yang hendak berbelanja atau sekeder melihat lihat barang yang dijual di pertokaan tersebut. Ia mulai merapatkan mantelnya. Ia menghembuskan nafasnya melalui rongga mulutnya dan semacam kabut putihpun keluar. Ia menggerutu.

”Dingin sekali, padahal salju belum turun.”

Tanpa sadar ia sudah berada di subuah taman. Ia menatap salah satu sudut taman. Orang tua dengan ke dua anaknya bermain riah di taman. Anak pertama berumur sekitar sepuluh tahun dan si kecil berumur sekitar empat tahun. Lalu ia berkata,

”Andai saja aku mempunyai keluarga seperti mereka.”

Kemudian ia melangkah ke ayunan. Dan duduk di atas ayunan. Ia mengayun ayunan dengan pelan. Pandangannya kosong.

Beberapa menit kemudian ia terkejut melihat titik-titik putih turun. Ia mendongakkan wajahnya. Ia tidak salah melihat.

”Akhirnya turun juga. Ah indahnya.” sahut sebuah suara.

Gadis itu menoleh ke arah kirinya. Ia tidak menyadari pemuda itu berada di ayunan sebelahnya. Mungkin karena pikirannya melayang tadi, tanap sadar pemuda itu duduk di samping ayunannya.

”Kau suka salju?” tanya pemuda itu kepada gadis yang menatapnya.

”Mwo?” tanya si gadis tidak mendengar pertanyaan si pemuda.

”Kau suka salju?” ulang pemuda itu.

Gadis itu menggeleng. Karena merasa dingin, gadis itu beranjak. Mencari tempat yang hangat.

”Kau tidak membawa payung?” tanya pemuda itu.

Gadis itu mencari-cari payung di sling bagnya.

”Mana ya? Tiap hari aku bawa, kok gak ada.” gumannya.

”Ini, pakai punyaku.” Pemuda itu menyodorkan payung berwarna merah maron.

Seaakan bisa membaca pikiran si gadis, pemuda itu berkata,

”Tidak apa-apa, pakailah. Rumahku tak jauh dari sini.”

Lalu pemuda itu bangkit meninggalkan si gadis. Tanpa sempat si gadi mengatakan kamsahamnida.

Kediaman Callisto

”Ah, syukurlah kau segara paluang. Salju turun, kau lupa bawa payungmu.” ujar wanita separuh baya melihat seorang gadis berdiri di depan pintu.

”Iya, aku sudah tahu omoni. Aku mendapat pinjaman dari sesorang. Ini payungnya.”

wanita itu terkejut.

”Mwo? Kau menerima pinjaman payung ini dari orang lain? Aduh nona, sudah ku katakan berulang kali jangan berhubungan dengan orang asing apa lagi menerima pemberian orang lain. Nona kau bagaimana sich.” keluhnya.

”Omoni~” panggil gadis itu manja

”Jangan panggil aku seperti itu nona.” sahut wanita tua itu.

”Mianhae. Tolong jangan panggil aku nona. Bu Lee Hansoek, panggil saja aku Kim Jaerin. ” ujar gadis itu.

”Aniyo~ aku memanggilmu Lyra Callisto saja. Agar kau sadar siapa dirimu.”

”Omoni~” Jaerin cemberut. Ia memainkan payung yang sedari tadi ia genggam di tangan kanannya.

Kemudian ia sadar ada ukiran hangul di pegangan payung. Ia membacanya.

”Kim?”

”Apa yang kau baca?” tanya Hansoek penasaran.

”Hangul di payung ini. Sepertinya pemilik payung ini bermarga Kim.” jawab Jaerin.

Sesorang berdeham. Jaerin dan Hansoek menoleh.

”Hansoek mengapa kau tidak menyuruh nona muda masuk di luar dingin.” bentak bapak separuh baya kepada Hansoek.

”Aboji~ jangan membentak istrimu.” sahut Jaerin.

”Non…”

”Eit, aboji panggil aku Jaerin. J.A.E.R.I.N. Areso?” potong Jaerin.

Pak Lee mengangguk.

”Aku sudah di Soeul, tempat dimana aku lahir. Bukankah lebih baik jika aku menggunakan nama Koreaku.” sahut Jaerin lagi.

Kemudian Jaerin masuk ke rumah, bersama dengan Pak dan Bu Lee.

Pusat kota

Café

Lima gadis duduk di sebuah cafe. Mereka memilih duduk di ujung ruangan dekat dengan jendela yang bening. Empat dari mereka sibuk memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di luar. Sementara yang lain, sibuk dengan ponselnya.

”Hikari!” panggil gadis yang berambut panjang tergerai.

”Hm…” sahut gadis yang sibuk dengan ponselnya.

”Kau sedang apa sich?”

”Aku sedang chating.” jawab Hikari.

”Hyejin, sudah biarkan saja Hikari. Dia tidak tertarik memiliki pacar atau teman kencan. Yang dia pikirkan hanya Naruto dan Naruto.” Gadis berambut ikal mulai bicara.

”Kalo’ boleh tahu kau chating dengan siapa Hikari?” tanya gadis yang duduk di dekat kaca.

Hikari menatap temannya itu.

”Sama-sama penggemar Naruto. Dia juga orang Jepang. Sama denganku.” jawab Hikari.

”Pantas saja aku tidak mengerti bahasa yang kau tulis di ponselmu itu.” sahut Hyejin.

”Hahaha, kau payah dalam bahasa Jepang ya?” ujar Hikari, ia tertawa.

”Biar saja. Yang penting nilai bahasa ku sendiri dan bahasa Inggris tidak sepaya bahasa Jepang.” sahut Hyejin.

”Oh ya, Hyejin, Heena, Hyekyu, Hyerin!” panggil Hikari.

Keempat gadis itu menoleh.

”Mwo?” tanya keempat gadis bersamaan.

”Kalian sudah memesankanku minuman?” tanya Hikari serius.

”Ya~ ku pikir apaan.” sahut Heena.

”Sudah belum?” tanya Hikari lagi.

Kemudian seseorang mendatangi mereka.

”Ini pesanan kalian. Dan buat kau Hikari, kubuatkan susu coklat hangat spesial.” ujar perempuan berambut pendek.

”Hyunkyo onnie, arigato gozaimasu.” sahut Hikari.

”Ya sama-sama. Aku hafal pesanan kalian. Jadi aku tahu apa yang kalian pesan. Bosan juga mendengarkan kalian memesan yang sama tiap harinya. Lain kali bilang saja, HYUNKYO ONNIE YANG BIASA YA.” ujar Hyunkyo.

Kelima gadis yang ada di hadapannya tersenyum.

”Hei lihat arah jam sebelas.” sahut Hyunkyo tiba-tiba.

Kelima gadis itu langsung melihat ke arah yang ditunjuk Hyunkyo.

”Wah, mereka kan pelajar dari akademi Haenol!” seru Hyejin.

”Ini dia yang dicari-cari.” sahut Hyekyu

”Ha, biasa aja.” Hikari tidak menghiraukan. Ia meneguk susu coklatnya.

”Makanya, jangan masuk akademi Kkotbi jika kau ingin mencari pacar.” sahut Hyunkyo.

”Onnie, jika kita tidak masuk akedemi itu kita tidak akan bertemu. Dan mungkin kau tidak akan kenal dengan kami yang memeriahkan cafe milikmu.” ujar Heena.

Hyunkyo nyengir.

”Kau sendiri bagaimana onnie? Sudah pernah pacaran?” tanya Hyerin.

Hyunkyo duduk di sebalah Hikari yang kosong.

”Musim gugur kemarin aku memutuskannya. Ku rasa aku tidak cocok dengannya. Aku hanya mencari orang yang dapat mencintaiku, meyayangiku dan menjagaku. Tapi dia malah mencari sosok yang sempurnah, sesorang yang dapat menjaganya. Maksudku dia mencari seorang istri.” Keluh Hyunkyo.

”Sudah onnie, kau yang tabah saja. Suatu hari nanti kau pasti dapatkan pria yang kau inginkan” sahut Hikari.

”Hei lihat mereka mengarah kemari!” seru Hyekyu.

Hyunkyo bangkit. Ia kembali bekerja.

Pusat kota

”Jungsae! Jungsae!” panggil seorang gadis bertubuh mungil.

”LEE JUNGSAE!” teriak gadis itu.

”Iya, aku datang Jaesi.” ujar gadis yang bernama Jungsae.

Dengan cemberut ia melangkah ke arah Jaesi.

”Ha~ sampai kapan kau akan makan camilan itu terus?” keluh Jaesi melihat Jungsae membawa satu tas plastik berisi makanan ringan.

”Jaesi, aku tidak bisa lepas dari camilan ini.” ujar Jungsae.

”Kau tahu tidak, kau bisa gendut jika makan itu semua.” bentak Jaesi.

Jungsae tidak menggubris, dia membuka salah satu camilan yang baru ia beli kemudian memakannya.

”Ya, sudah ayo jalan.”

Jaesi dan Jungsae berjalan dengan wajah kesal. Jaesi melihat ke bawah sementara Jungsae menghitung-hitung camilannya sambil memakan camilan yang ia bawa. Tiba-tiba…

BRUK!

Jaesi dan Junsae menabrak sesuatu. Lebih tepatnya orang.

Jaesi mengomel-ngomel. Kemudian orang yang ia tabrak mengulurkan tangannya.

”Mianhae, yongdongseng. Aku tidak sengaja.” ujar laki-laki itu kemudian tersenyum.

Jaesi menatap pria itu. Ia merasa melihat sesosok malaikat. Lesung pipi pria itu membuatnya terpana.

Sementara itu Jungsae memunguti camilannya yang terjatuh. Sesorang juga membantunya.

”Kau suka nyemil ya?” tanya pemuda yang membantunya.

Jungsae tidak menggubris.

Pemuda itu menyerahkan camilan yang ia punguti ke Jungsae.

”Ada bekas camilan di pipimu.” ujar pemuda itu kemudian memberisikan wajah Jungsae dengan jarinya.

Jungsae terdiam. Ia merasa jantungnya berhenti berdegup.

Pemuda itu tersenyum.

”Ayo bangkit!” ajak pemuda itu.

”Dia yongdongseng mu?” tanya laki-laki yang memiliki lesung pipi mempesona.

”Aniyo, dia sepupuku.” sahut Jaesi lalu tertawa

”Baru kali ini ada orang yang benar-benar tahu bahwa aku lebih muda darimu Jaesi.” sahut Jungsae.

”Aku tahu dari cara berpakaian kalian. Dan terutama camilanmu adik kecil.” ujar lelaki itu.

”Hyung, aku baru tahu ada gadis yang tergila-gila dengan camilan.” ujar pemuda yang menolong Jungsae.

”Hei, boleh ku minta camilannya?” tanya pemuda itu ke Jungsae.

Jungsae menggeleng.

Pemuda itu tersenyum.

”Yongdongseng, siapa namamu? Aku Kim Sang Bum, panggil aku Kimbum.” pemuda bernama Kimbum mengulurkan tangannya.

”Lee Jungsae imnida.” Jungsae mengulurkan tangannya kemudian menggengam tangan Kimbum yang hangat lalu melepaskannya.

”Ohya, aku Leeteuk. Kau siapa?” tanya laki-laki yang ada dihadapan Jaesi.

”Lee Jaesi imnida.” sahut Jaesi.

Dalam hati. Jaesi ingin berjabat tangan dengan Leeteuk layaknya Jungsae dan Kibum.

”Hei, kalian berbicara dengan siapa?” sahut sebuah suara dari belakang Leeteuk.

”Mwo? Dua gadis kecil rupanya.” sahut suara lainnya.

”Ohya ini Lee Minho, itu Kyuhyun dan dia yang sibuk dengan ponselnya itu Tatsuya. Dia anak Jepang, sedikit aneh.” ujar Leeteuk memperkenalkan tiga orang lain yang ternyata bersamanya.

Seoul, 22 Desember

Kediaman Callisto

”Kapan oppa akan pulang?” tanya Jaerin kemudian menyantap sarapannya.

”Mungkin nanti malam. Dia akan pulang.” sahut Hansoek.

”Apakah disana tidak ada jaringan? Setiap aku mengirim pesan atau menelponya, pasti tidak dibalas, pasti tidak dijawab. Aku kesal dengannya.” keluh Jaerin.

”Kemarin dia menelpon. Katanya ponselnya jatuh saat dia latihan. Jadi dia tidak dapat dihubungi.” ujar pak Lee Goonsu suami Hansoek.

Jaerin berhenti makan.

”Dasar ceroboh!” oceh Jaerin.

Kemudian ia meneguk habis susu coklatnya.

”Ayo aboji antarkan aku!”

Jaerin bangkit kemudian melangkah keluar rumah.

Akademi Kkotbi

Kelas 2-3

”Kau ingat? Kemarin yang menabrak anak akademi Haenol siswa kelas satu bukan?” tanya Hyejin.

Hyekyu mengangguk.

”Mereka membuatku iri. Bisa-bisanya mereka berkenalan dengan mereka.” omel Hyejin.

”Kau kira aku tidak iri apa?” sahut Hyekyu.

”Aku juga.” sahut Heena pelan.

”Mereka sungguh beruntung.” sahut Hyerin.

”Kalian bicara apa sich? Siapa yang beruntung?” sahut Hikari yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.

Keempat temannya mengeluh.

”Ah, kalian ini. Jika bagitu aku boleh tanya?” oceh Hikari.

”Apa lagi?” sahut Hyejin.

”Akademi Haenol dimana yach?”

Semua terdiam. Kemudian Hyekyu bertanya,

”Kenapa kau menanyakan hal itu?”

Akademi Haenol

Seorang laki-laki turun dari mobil sport warna hitam. Ia menggunakan pakaian serba hitam. Bahkan kacamata yang ia kenakan pun berwana hitam.

Ia melangkah menujuh ke gedung sekolah. Ia melewati lorong kelas. Sesekali dua kali ia melihat ke dalam kelas. Ia melihat murid-murid yang memandanginya. Entah apa arti pandangan itu. Ia tetap melangkah dengan santainya.

”Siwon!” seseorang memanggilnya. Ia mencari-cari sosok orang yang memanggilnya. Kemudian dilihatnya seorang laki-laki dengan rambut yang dkuncir satu.

”Kau sudah datang rupanya.” ujar laki-laki itu kemudian tersenyum.

”Astaga Leeteuk…, kau semakin mempesona saja.” ujar Siwon.

Leeteuk memamerkan senyum khasnya.

”Ya, tapi aku belum mendapatkan pacar.” ujar Leeteuk.

Kemudian mereka berjalan sambil mengobrol.

”Bagaimana disana kau bersenang-senang?” tanya Leeteuk.

”Senang apanya. Orang tuaku selalu membuntutiku kemanapun aku pergi.” oceh Siwon.

”Mwo? Orang tuamu membuntutimu?”

”Aniyo, orang suruhannya membuntutiku. Dan sekarang mereka menugaskanku menjadi kepalah sekolah di sekolah ini. Kau tahukan aku malas bekerja. Lebih baik aku menyanyi daripada bekerja seperti ini.” keluh Siwon.

Leeteuk tertawa.

”Kau harus berhenti bersenang-senang. Kau sudah dewasa saat ini. Kau bukan lagi pelajar.

Kau tahu? Posisimu waktu menjadi pelajar sudah digantikan oleh pelajar lain.”

kemudian mereka memasuki ruangan kepalah sekolah. Siwon melihat dengan jelas tulisan yang ada di meja hadapannya adalah namanya.

”Mereka niat sekali menjadikanku kepalah sekolah.” keluh Siwon.

”Ohya siapa pelajar yang menggantikanku?” lanjut Siwon.

”Lee Minho. Dia merupakan sosok yang dikagumi disekolah ini maupun diluar. Aku sering mendapatkan titipan hadiah dari gadis-gadis untuk dirinya. Dia duduk dikelas tiga saat ini.” Jelas Leeteuk kemudian duduk di sofa ruang itu dan menyalakan tv.

Siwon yang duduk dikursinya mengangguk angguk mengerti.

”Dia sudah memiliki kekasih?” tanya Siwon.

”Belum. Ada empat orang yang merupakan idola sekolah ini yang belum memiliki kekasih.” jawab Leeteuk memandangi layar tv.

”Tunggu tunggu. Apa maksudmu?” tanya Siwon bingung dengan perkataan Leeteuk.

”Lee Minho, siswa kelas 3 dikagumi karena prestasinya di bidang sepak bola dan game. Kemudian Hayate Tatsuya, siswa kelas 3 dikagumi karena prestasinya di bidang basket dan renang Lalu Kim Sang Bum, siswa kelas 2 dikagumi karena prestasinya di bidang baseball dan kendo. Dan yang terakhir, Cho Kyuhyun,dia dikagumi karena prestasinya di bidang seni dan matematika. Kyuhyun sedikit berbeda diantara yang lainnya. Ia disebut sebut sebagai pangeran. Mungkin jika Minho sudah lulus, ia dapat mengambil ahli posisi Minho.” jelas Leeteuk.

Siwon hendak mengajukan pertanyaan lagi tapi tidak jadi ketika ia mendengar suara pintu di ketuk.

”Masuk!” ujar Siwon.

Siwon dan Leeteuk terkejut melihat sosok yang dilihatnya.

~~~to be cuntinue…….~~~

Gimana ceritanya bagus gak? jeongmal mianhae klo kurang bagus =(

mohon komentarnya *bow*

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

12 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s