사랑 빠지다 (Chapter 3)

Standar

Jeongmal mianhae…

Cast: F4 JYJ Super Junior TVXQ Rating: PG Genre: Romance Friendship Family Series: 3 of 12

 

Super Junior TVXQ JYJ F4

Kediaman Callisto

“Tiba juga di rumah. Kediaman Callisto lebih tepatnya.” Ujar Donghae ketika memasuki rumah.

“Donghae~” sapa Hansoek.

“Mama~”

Donghae langsung memeluk omoninya.

“I’m so…”

Hansoek memukul kepalah Donghae dengan kemucing yang ia bawah.

“Jangan sok pakai bahasa Inggris, bahasa Inggrismu mengalahi Jaerin.”

“Omoni~ jangan samahkan aku dengan Jaerin yang jenius itu.” keluh Donghae.

Hansoek nyengir. Sementara Goonsu hanya tersenyum.

”Istirahatlah, kau pasti lelah setelah berjam-jam di pesawat.” ujar Goonsu kemudian meninggalkan anak dan istrinya.

”Iya anakku kau istirahat saja dulu.” ujar Hansoek sembari membelai rambut anaknya.

”Ne. Dimana Jaerin? Mengapa ia tidak menyambutku?” ucap Donghae.

”Kami sengaja tidak memberitahukanmu datang secepat ini. Kami mengatakan kau datang malam ini. Sebaiknya kau kejutkan saja saat dia pulang. Dia sedang mencari kehidupan normal saat ini.” jelas Hansoek.

”Mwo? Normal? Dia sekolah lagi?” cletus Donghae.

Hansoek memukul kepalah Donghae lagi. *author gak tega*

”Pabo~ bukan itu. Dia sedang belajar hidup seperti anak seumurannya. Memang sulit baginya hidup di keluarga elite yang terlalu ini. Ditambah lagi otaknya yang super itu, yang membuatnya sudah lulus kuliah dalam umur yang relatif muda.” terang Hansoek.

©©©©©©©©©

Leeteuk berjalan di sekitar area kolam renang. Disadarinya ada orang yang sedang berenang saat itu. Lalu ia mengeceknya. Ia tersenyum.

”Kau dari tadi berenang disini eh?” ucap Leeteuk ketika Tatsuya berada di tepi kolam renang.

Tatsuya melepaskan kacamata renangnya.

”Aniyo, aku baru lima menit berenang.”

”Kau tahu, tadi Siwon sangat terkejut melihatmu.” ujar Leeteuk mendekati Tatsuya.

”Memangnya ada yang salah?” tanya Tatsuya.

”Ya bagaimana tidak terkejut kau datang dengan rambut yang basah. Lalu aku jelaskan kebiasaanmu itu.” terang Leeteuk.

Tatsuya tersenyum.

”Siwon sanbae masih penasaran?” tanya Tatsuya.

”Ne. Jika ada waktu temui dia. Jika dia bertanya kepadamu, terangkan saja. Tapi ajak aku juga. Aku juga pengin tahu.” ujar Leeteuk.

Tatsuya mencipratkan air kepada Leeteuk.

”Mau tahu saja kau oppa.” sahut Tatsuya.

”Aish~ kau ini. Pokoknya cepat jelaskan ya. Dia orang yang muda sekali penasaran.”

”Ne.” sahut Tatsuya kemudian ia memasang kaca mata renangnya. Ia meluncur dan memeratekkan gaya bebasnya.

Leeteuk berjalan keluar meninggalkan ruang kolam renang.

©©©©©©©©©

Minho memarahi Kimbum habis-habisan. Jungsae tertawa melihat mereka berdua. Kyuhyun yang dari tadi bertampang kecewa langsung duduk di depan Jaesi. Ia malas duduk di dekat Minho.

”Kyuhyun oppa ada masalah?” tanya Jaesi.

”Aniyo, cuma pemberian dari para gadis tadi tertinggal.” ujar Kyuhyun kemudian tertawa.

”Memangnya pemberian apa sich?” tanya Jaesi penasaran.

”Peralatan menggambar.” jawab Kyuhyun.

”Owh~” sahut Jaesi.

Sementara itu Hyejin dan Hyekyu memandangi Kyuhyun tanpa berkedip. Heena dan Hyerin yang melihat sikap kedua temannya itu hanya bisa geleng-geleng kepalah. Memang Kyuhyun sangat mempesona. Tapi mereka tidak seberapa tertarik. Hanya Hyejin dan Hyekyu saja yang berselera dengan anak sebayanya.

Kyuhyun yang melihat Hyejin dan Hyekyu yang memandangnya, langsung bertanya.

”Kenapa dengan kalian?”

Tidak ada respon.

Kyuhyun mncoba bertanya kepada temannya yang lain.

”Mereka kenapa?”

”Tidak usah pedulikan mereka, lebiih baik kita kenalan saja.” sahut Heena.

”Ne. Tho nanti mereka sadar juga.” sahut Hyerin.

Sementara Kyuhyun berkenalan dengan gadis-gadis, Hikari dan Jaerin membicarakan suatu topik.

”Hikari, apa yang sering kau lakukan?”

”Chating.” jawab Hikari.

”Lalu kau Jungsae?”

”Makan camilan.” sahut Jungsae

Jaerin nyengir.

Kemudian seorang pelayan mengantarkan pesanan Hikari dan Jaerin.

”Hyunkyo onnie belum datang?” tanya Hikari kepada pelayan itu.

”Belum. Ku rasa ia masih kuliah. Mungkin nanti malam ia bekerja.” jawab pelayan itu kemudian menyinkir.

”Hyunkyo onnie? Kau dekat dengannya?” tanya Jaerin.

”Ne. Karena kami sering kemari setelah pulang sekolah ataupun malam hari, kami sering bertemu dengannya. Dia sungguh supel, cepat akrab dengan orang lain. Karena umur kami yang tidak berbeda jauh, dia menganggap kami chingu.” terang Hikari.

Jaerin mengangguk mengerti. Ia menyantab makanan yang ia pesan. Hikari tidak memakan makan yang ia pesan. Ia meneguk sekali minumannya kemudian mengirim pesan kepada sesorang. Jungsae mengamati Kimbum dan Minho yang bersiteru sambil menghabiskan makanan yang ia pesan.

”Lalu itu Hikari, dia orang Jepang. Dan perempuan di sampingnya itu Jaerin, kami baru kenal dengannya.” Jelas Hyerin sambil menunjuk nunjuk ke arah belakang Kyuhyun.

Kyuhyun melihat arah yang di tunjuk Hyerin.

”Jaerin sudah lulus SMA setahun yang lalu. Kupikir dia sangat pintar.” sahut Heena.

”Benarkah?” ucap Kyuhyun kemudian bangkit dan duduk di depan Jaerin.

”Kau Jaerin bukan?” ujar Kyuhyun.

Jaerin menelan makanannya kemudian meneguk minumannya.

”Ne.” ucap Jaerin.

”Aku Cho Kyuhyun.” ujar Kyuhyun.

Jaerin tersnyum.

”Tolong jawab pertanyaanku dengan cepat ya.”

”35 di kali 31 berapa?”

”1085.” sahut Jaerin.

Kyuhyun mengangguk.

”51 kali 54?”

”2754.”

”79 kali 71?”

”5609.”

”126 kali 124?”

”15624.”

”Kau hebat.” cletuk Kyuhyun.

Semua mata tertuju pada Jaerin.

Jaerin tersenyum.

”Sekarang giliranku bertanya padamu.”

”Mwo?” sahut Kyuhyun.

”99999 kali 45 berapa?”

Kyuhyun berpikir.

Hikari langsung mengetik sesutu di ponselnya.

”Ah~ aku menyerah. Aku tidak hafal perkalian hingga ribuan.” ujar Kyuhyun setelah beberapa menit berpikir.

”4499955.” sahut Jaerin.

”Jaerin, jadilah guru matematikaku. Jawabanmu benar.” sahut Hikari.

Jaerin tersenyum.

”Ne.” sahutnya.

”Hei, kau makan buku juga seperti Kyuhyun eh?” sahut Minho yang tadi berhenti menceramhi Kimbum hanya untuk memperhatikan Kyuhyun dan Jaerin.

Semua orang tertawa.

©©©©©©©©©

Souel,

Malam hari

Hyunkyo memasuki sebuah rumah. Ia terkejut pintu rumah tersebut tidak dikunci.

”Ada orang di dalam?” tanyanya.

Ia berjalan masuk. Kemudian berhenti di sebuah pintu.

”Lampunya menyala. Mungkin ada orang di dalamnya.” gumam Hyunkyo.

Kemudian ia membuka pintu itu perlahan. Ia terkejut akan apa yang di lihatnya.

”Aaaaaaaaa~~~!!!” jerit Hyunkyo.

Namja yang dilihatanya melongo memegangi handuk putihnya.

Hyunkyo langsung membanting pintu. Ia terengah-engah.

Seorang bapak setengah baya tergopoh-gopoh mendekatinya.

”Mwo? Ada apa?” tanyanya.

Hyunkyo terdiam melihat bapak yang ada di hadapannya.

”Hyunkyo, kau kenapa?” tanya bapak itu lagi.

”Appa? Di.. Di… Di da… Lam…. A… A…” ujar Hyunkyo terbata-bata.

Bapak itu langsung masuk ke dalam.

Hyunkyo meletakkan ke dua tangannya di dada berusaha menenangkan dirinya sendiri. Lalu appanya keluar.

”Ikut denganku!”

Hyunkyo mengikuti appanya. Mereka menujuh ke ruang makan. Appanya duduk di kursi paling ujung di meja makan. Hyunkyo duduk di sampingnya.

”Appa, kenapa  makan mie instant? Seharusnya appa makan nasi.” ujar Hyunkyo.

”Sudah kau diam saja. Aku tidak sempat membuat nasi.”

Hyunkyo cemberut.

”Lalu siapa namja tadi appa?” tanya Hyunkyo.

Bapak yang ada di dektanya tidak menggubris. Dia sibuk makan mie instant.

”Appa~” rengek Hyunkyo.

”Appa, kenapa tidak mengirim pesan kepadaku jika appa sudah sampai di rumah?” tanya Hyunkyo.

Tapi orang yang di tanya diam saja. Ia sibuk memakan mie. Ia seakan akan tidak menganggap Hyunkyo ada.

Hyunkyo diam. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jarinya. Sesekali dua kali ia menengok ke arah pintu. Ia masih kepikiran dengan namja yang berbalut handuk yang ia lihatnya tadi.

”Aboji kau makan mie instant lagi.” seru sebuah suara.

Hyunkyo menengok. Ia tertegun.

Appa Hyunkyo tersenyum.

”Hyunkyo, namja yang kau lihat tadi, dia adalah oppamu.” ujar bapak berkacamata menunjuk sosok namja yang bertubuh tegap.

”Annyonghaseyo, jo irumun Shim Changmin imnida.” ujar namja yang berdiri di dekat pintu kemudian membungkuk.

”Nah Changmin dia adalah anak perempuanku Shim Hyunkyo.” cletuk bapak tua bernama Jinsoek.

”Mwo? Dia oppaku?” tanya Hyunkyo tidak percaya.

”Oemmamu tidak menceritakannya?” ujar Jinsoek.

Hyunkyo terdiam.

”Mmm sepertinya aku lupa.” gumannya.

”Ash~ kau ini.” sahut Jinsoek.

”Ajak oppamu makan di luar.” ujar Jinsoek.

”Mwo?”

”Sudah sana makan di luar. Berakrab-akrablah kalian!” seru Jinsoek kemudian berdiri meninggalkan Hyunkyo dan Changmin di ruang makan.

”Kita mau makan dimana?” cletuk Changmin.

Hyunkyo terbengong. Ia bingung mengajak makan oppanya di mana.

©©©©©©©©©

Asrama Kkotbi

”Tadi kenapa mereka tidak berlima ya?” tanya Heena memeluk bantal.

”Mana aku tahu. Mungkin yang lainnya ada urusan kali.” sahut Hyerin sambil membuka majalah.

”Kenapa tadi kalian tidak tanya saja?” cletuk Hikari yang sedang membaca komik.

”Kami kan tidak ingin dikatai wanita genit yang suka memata-matahi laki-laki.” ujar Hyejin yang duduk memeluk bantal love.

”Enak ya Jaerin. Sepertinya Kyuhyun menyukainya karena dia pintar matematika.” cletuk Hyekyu yang dari tadi melamun.

Tiba-tiba saja Hikari bertanya.

”Chingu~, Tastuya yang kalian lihat kemarin malam itu orang Jepang bukan?”

Semua mata memandangnya.

”Iya, kenapa Hikari?” sahut Hyejin.

”Molla.” ujar Hikari kemudian ia berahli dari membaca komik menjadi mengutak atik ponselnya. Sepertinya ia sedang chating.

”Kau tidak menduga dia temanmu itu bukan?” seru Hyekyu.

Hikari diam saja.

”Hei!” bentak Hyekyu.

”Aku tidak melihat wajahnya. Mana aku tahu.” ujar Hikari.

©©©©©©©©©

Kediaman Callisto.

Jaerin sudah siap-siap. Ia berpakain rapi kemudian menujuh ke ruang tengah.

”Aboji ayo berangkat!” seru Jaerin kepada Goosun yang duduk di sofa.

”Kau mau kemana Jaerin?” tanya sebuah suara.

Jaerin menengok ke belakang, asal muasal suara itu.

”DONGHAE OPPA!” teriak Jaerin.

Donghae langsung mendekati Jaerin kemudian memeluknya. Jaerin merasakan degupan jantung Donghae. Kemudian Jaerin melepaskan pelukan itu.

”Kenapa kau sudah datang?” bentak Jaerin.

Donghae tersenyum.

”Aboji omoni ini ulah kalian. Lihat anak perempuan kesayangan kalian membentakku.” ujar Donghae.

Jaerin menengok ke arah aboji. Reaksi aboji biasa saja. Tidak merasa bersalah.

”Ugh, padahal aku sudah siap begini.” rengek Jaerin sambil menarik-narik kemeja Donghae.

”Sudah kau jangan marah lebih baik kita makan malam di restoran saja.” bujuk Donghae.

”Mwo?”

Jaerin mendongak ke arah Donghae.

”Aku sudah memikirkannya. Anggap saja sebagi permintaan maafku karena meninggalkanmu.” Ujar Donghae tepat di depan wajah Jaerin.

Jaerin nyengir.

”Makan malam kali ini cuma bisa memafkanmu soal kau datang lebih awal hari ini.” cletuk Jaerin kemudian tersenyum.

Jaerin memalingkan tubuhnya. Ia melangkah ke luar ruangan.

”Ayo oppa, kita naik mobil baru papaku saja!” seru Jaerin.

Hansoek mendekati Donghae.

”Setidaknya ia bisa tersenyum.” Ujar Hansoek.

”Ne. Aku akan mengajaknya jalan-jalan besok. Ku harap dia bisa memaafkanku.” ucap Donghae.

©©©©©©©©©

Asrama akademi Haenol

Minho masuk ke dalam kamar. Kemudian ia menjitak laki-laki yang sedang asyik mengutak atik ponselnya.

”Auwh~.” keluh Tatsuya.

”Kenapa tadi kau mau diajak kabur dengan Kimbum, eh!” bentak Minho.

”Aku juga tidak ingin dikerubuti para gadis seperti kau dan Kyuhyun.” ujar Tatsuya tetap terpaku layar ponsel.

”Ash~ tidak usah beralasan. Lalu kau pergi kemana eh?”

”Kimbum tidak mengatakan kepadamu eh?”

”Ya. Saat pulang tadi ia bilang kau ke kolam.”

”Nah kau sudah tahu kenapa kau masih tanya?”

”Sudahlah. Lalu kau kemana lagi setelah itu? Kau tidak mungkin renang sampai selarut ini kan?”

Tatsuya memandang Minho.

”Aku membeli makanan.” sahut Tatsuya.

”Jadi setelah renang kau keluar membeli makanan kemudian kau kembali saat aku keluar? Begitu?”

Tatsuya mengangguk. Ia memandangi layar ponselnya kembali.

”Kau sendiri kemana?” ganti Tatsuya bertanya.

”Aku tadi ke kamar sonarae kita, Kyuhyun dan Kimbum.”

©©©©©©©©©

Souel, 23 Desember

Kediaman Callisto

Donghae mengetuk pintu.

”Jaerin~ kau sudah bangun.” ujar Donghae di muka pintu.

”Ne.” sahut Jaerin dalam kamar.

”Cepat turun dan makan sarapanmu.”

”Ne. Aku akan turun segera.”

Donghae berbalik arah. Ia turun ke lantai dasar. Ia melangkah menujuh ke ruang makan. Di sana ia melihat omoninya beserta pelayan yang lain menyiapkan makanan.

”Aboji mana?” tanya Donghae mendekati omoninya.

”Sebentar lagi datang.” ujar Hansoek.

Donghae mengamati makanan yang ada di meja makan. Kemudian abojinya datang.

”Dimana Jaerin?” tanya Goosun.

”Di kamarnya.” sahut Donghae.

”Aku sudah datang~” sahut Jaerin riang.

Donghae menengok.

”Rapi sekali, mau kemana kau?” tanya Donghae.

Jaerin tak menggubris ia langsung duduk di kursi paling ujung.

”Aboji, omoni, oppa, ayo duduk kita makan bersama!” ajak Jaerin kemudian tersenyum.

Goojun duduk di sisi kanan Jaerin dan Hansoek ada duuk di sampingnya. Sementara Donghae duduk di sisi kiri Jaerin. Lalu para pelayan dengan sopan menyingkir dari ruang makan.

Mereka menikamti sarapan layaknya keluarga. Di tengah-tengah itu, Donghae bertanya.

”Kau tadi belum menjawab pertanyaanku.”

”Ehm~ aku… Aku mau kerja.” ujar Jaerin.

”Mwo?” sontak seisi ruangan.

”Ne. Aku bekerja menjadi guru TK. Kemarin aku sudah mengisi form dan katanya aku besok sudah bisa bekerja.” jelas Jaerin kemudian melanjutkan makannya.

”Kau mengajar di TK mana?” tanya Goosun.

”Matahari.” sahut Jaerin.

Donghae berpikir, sepertinya itu tidak asing baginya.

”Jika papa dan mamu tahu kau pasti dimarahi dan kita juga dimarahi. Kau tahu jangan…” ucap Hansoek.

”Berhubungan dengan orang asing.” potong Jaerin sambil manggut-manggut.

”Itu memiliki yayasan bukan?” tanya Donghae.

”Ne.” jawab Jaerin singkat kemudian menyantab makanannya.

”Aku kenal sesorang di sana.” ujar Donghae sambil menatap Jaerin.

”Ne. Kim Jaejoong.” sahut Jaerin.

Donghae bengong.

”Kau tahu?” cletuknya.

”Ne. Dia mengatakan dia siswa akademi Haenol. Lalu ku tanyakan juga apakah dia kenal oppa. Katanya iya. Bahkan sepertinya dekatya. Dia bilang Donghae oppa sering menceritakanku.” terang Jaerin.

”Iya. Dia sahabatku yang sering aku ceritakn itu. Dia…”

”Arreso. Anak yatim piatu. Dari ucapannya saja sudah aku pahami. Dia anak angkat tuan Kim gureyo?” potong Jaerin.

Donghae mengangguk kemudian menyantap makanannya.

”Tapi kenapa sich Donghae oppa kau selalu menceritakan temanmu tanpa memberitahukan namanya padaku. Katakan padaku satu alasan.” ujar Jaerin memandangi Donghae tanpa berkedip.

Hansoek dan Goosun yang dari tadi menyantap makanan ikut-ikutan memandangi Donghae.

Donghae menelan makananya.

”Itu karena…” ucapnya kemudian meneguk segelas susu vanila.

”Aku takut jika kau bertemu dengan sesorang yang namanya mirip dengan mereka dan memiliki ciri-ciri yang sama seperti yang ku ceritakan, kau langsung menegurnya.” lanjut Donghae.

”Mwo?” Jaerin bingung.

”Tapi biasanya Jaerin tidak salah mengenali orang meski ia belum mengenali.” sahut Goosun.

”Dengan ciri-ciri dan nama saja Jaerin sudah dapat meyakinkan itu bukan orang asing. Maksudku….” tambah Hansoek.

”Ne. Ne. Ne. Aku mengerti. Maksudku. Jika chinguku itu disapanya, ia pasti terkejut. Mereka pasti mengira kau menyukainya. Karena kau memperhatikan mereka, maksudku ciri-ciri mereka dan kebiasaan mereka.” potong Donghae.

Jaerin nyengir. Sementara Goosun tertawa dan Hansoek tersenyum mencoba menahan tawa.

”Ne. Aku akan pura-pura tidak kenal dengan mereka. Tapi, bisakah oppa memberitahuku nama chingu-chingu oppa?” ucap Jaerin kemudian meneguk habis susu coklatnya.

”Ne. Ayo berangkat.” ujar Donghae setelang menghabiskan susunya.

Kemudian ia bangkit dari tempat duduk.  Disusul Jaerin.

”Kau mau mengantarkanku?” tanya Jaerin.

”Ne.”

”Kita naik kendaraan umum saja.”

”Mwo?”

”Aku tidak mau Jaejoong oppa curiga.”

Donghae menghela nafas.

”Tapi aku bisa beralasan jika aku pinjam…”

”Aniyo.” potong Jaerin.

”Meski oppa telah menceritakan kepadanya bahwa keluarga oppa bekerja dan tinggal di kediaman Callisto, bukankah sebaiknya kita tidak membuat kecurigaan. Rasanya bakalan aneh jika pegawai sesuka-suka menggunakan barang milik tuannya.” lanjut Jaerin.

”Ne. Aku setujuh denganmu Jaerin. Menyamar menjadi orang biasa-biasa saja seperti kita.” sahut Goosun.

”Ok. Ayo kita jalan!” seru Jaerin kemudian bangkit dari tempat duduknya.

©©©©©©©©©

TK Matahari

”Anyonghaseyo!” sapa Jaerin kepada laki-laki yang berdiri di depan gedung sekolah.

”Anyonghaseyo, Jaerin ah~” ucap Jaejoong.

”Anyong!” sapa Donghae lalu tersenyum.

”Donghae~” Jaejong terkejut.

Kemudian mereka berdua berpelukan  Lalu Donghae mulai bicara.

”Aku juara tiga lho.”

”Benarkah?” sahut Jaejoong.

Jaerin gelang-geleng kepalah. Ia bosan dengan tingkah oppanya yang tukang pamer.

”Ne. Mereka lumayan hebat. Juara pertama diraih pemenang tetap dari Broklyn, juara dua di raih pemuda asal London.” terang Donghae.

”Lalu bagaimana kau menjalani hari-harimu di Amerika?” tanya Jaejoong.

”Payah. Aku sungguh payah dalam bahasa Inggris. Untung saja ada peserta asal Korea juga yang bisa berbahasa Inggris, aku meminta bantuan kepadanya.” jelas Donghae lalu tertawa.

Jaejoong tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Donghae.

Dalam hati Jaerin berkata,

‘Donghae oppa sungguh payah. Bakat menari dan menyanyi tapi dipamerin, sok kayak dancer hebat, sok suaranya teramat sangat bagus. Tho ujungnya payah.’

”Sudah-sudah. Kalian sudah berapa lama tidak bertemu sich? Kayak reuni dah lama gak ketemu aja.” omel Jaerin.

”Sudah berapa lama ya?” ujar Donghae kemudian ia menatap langit dan berpikir.

Jaejoong mencoba menghitung.

”Satu bulan.” ucap Jaejoong.

”Ne. Kurang lebih sebulan.” sahut Donghae.

”Ohya, sudah dua minggu kau tidak bisa dihubungi. Kau ganti nomer, eh?” tanya Jaejoong.

”Ahw sudahlah, ceritakan di dalam saja. Di sini semakin dingin.” omel Jaerin.

Kedua laki-laki itu memandang Jaerin, kemudian tersenyum.

”Ayo kita masuk!” seru Jaejoong.

Kemudian ia menyapa anak-anak yang berada di koridor. Ia selalu tersenyum dan tersenyum. Jaerin senang melihatnya. Belum pernah ia melihat senyuman seseorang seperti itu.

©©©©©©©©©

Akademi Haenol

Leeteuk berjalan dengan membawa beberapa map di tangannya. Di lihatnya dua murid keluar dari ruang kapsek. Ia mempercepat langkahnya. Lalu ia masuk ke ruang kapsek. Dilihatnya Siwon tampak kesal. Siwon memegangi dahinya seakan memikirkan sesuatu.

”Kau kenapa?” tanya Leeteuk kemudian meletakkan map-map yang ia bawa di meja Siwon.

”Aku sangat pusing dengan ini semua. Kau lihat bukan anak yang baru keluar tadi?” sahut Siwon.

Leeteuk mengangguk. Ia sadar Siwon tidak melihat ke arahnya saat ini.

”Ne.” jawab Leeteuk.

”Mereka selalu membuat pelanggaran.” sahut Siwon dengan nada keras.

”Aku semakin sebal. Baru saja aku menduduki posisi kepalah sekolah, tapi aku dihadang masalah.” terang Siwon emosi.

Leeteuk duduk di kursi kosong yang di lihatnya.

”Tapi kau bisa mengatasinya bukan?” ucap Leeteuk.

”Anggap saja ini sebagai karma karena kau terlalu malas membantu orang tuamu dan terlalu bersenang senang.” lanjut Leeteuk.

Siwon nyengir, ia menatap Leeteuk.

”Asal kau tahu, aku ini wakilmu. Aku bisa membantumu, kapanpun kau mau.” cletuk Leeteuk.

Ekspresi Siwon berubah menjadi bersemangat.

”Kenapa kau tidak mengatakan sejak awal jika kau wakilku? Baiklah akanku serahakn masalah-masalah ini kepadamu.” ucap Siwon menyandar di kursi empuknya.

Leeteuk nyengir.

”Jika begitu caranya aku mengundurkan diri dari jabatan yang diberikan orang tuamu ini.”

”Mwo?” sahut Siwon heran.

”Jadi ini ulah orang tuaku juga?” lanjut Siwon.

Leeteuk mengangguk.

Tok tok tok.

Pintu ruang kapsek di ketuk. Siwon menghembuskan nafas panjang.

”Pasti anak badung lagi yang bertengkar dengan sekolah lain.” sahut Siwon.

”Ya. Masuk.” lanjutnya.

Pemuda yang masuk itu tersenyum ramah.

”Kau tidak ada pelajaran lagi seperti kemrin eh?” tanya Leeteuk.

”Duduklah!” seru Siwon menunjuk kursi kosong di sebelah Leeteuk.

Tatsuya duduk. Ia merapikan rambutnya yang basah.

”Kenapa kau kemari?” tanya Siwon.

Leeteuk memperhatikan Tatsuya.

“Biar aku tebak, guru olahraga menyuruhmu kemari karena lagi-lagi kau seenaknya renang di  waktu jam pelajaran, meski jam pelajaran itu kosong.” Cletuk Leeteuk.

Tatsuya tersenyum.

Siwon mulai menyandar di kursinya.

“Ya, intinya aku harus memberimu hukuman begitu?” ucap Siwon kemudian menekan tombol menyala pada remote tv.

“Aniyo~. Kali ini aku renang waktu jam pelajaran olahraga. Jadi aku kemari bukan untuk minta hukuman. Melainkan ingin menceritakan kenapa aku tselalu renang setiap hari. Mumpung ada jam kosong. Kalian penarasan bukan?” ujar Tatsuya.

Leeteuk membenarkan posisinya menghadap ke Tatsuya. Sedangkan Siwon langsung mematikan tv dengan remote. Ia juga membenarkan posisi yang tepat untuk mendegarkan penjelasan Tatsuya.

“Ayo ceritakan!” Seru Siwon.

*)to be continue……..

Bagaimana reader?

Gak buruk-buruk amat bukan?

Mianhae kalo konfliknya belum kelihat juga.

*perasaan sudah gak enak, kaykanya di chap selanjutnya konfliknya bakalan membludak*

Jangan dipkirkan kata-kata di atas.

Author rada lebay T^T

Ayo silahkan beri komentar-komentar!

Satu kata dari reader itu sangat berati buat author.

Karena authir semakin lama semakin kejam dan sadis saja membuat FF T^T

Jempolnya jangan lupa!

NB: Tatsuya dalam FF ini bayangkan saja Tatsuya yang ada di Autumn in Paris.

Iklan

12 responses »

  1. akhirnya selesai baca deh aku .
    sorry ya .
    commentnya beda tanggal .
    habis baca ff nya malam” .
    nggak papa” kan? .
    hhehe~~
    nice fict .
    gila si jaerin pinter banget tu bocah .
    ajarin napa? 😀

  2. hwaaa… hebat yah jaerin….
    lyra aku udah baca ff ni 3 kali wkwkwk….
    tapi br sempet coment… hehe mian
    mumpung ol dikompi bs coment. tp ttp itu napa pp ku ttp sapi hwaaa…..>_<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s