사랑 빠지다 (chapter 4)

Standar

Annyoeng chingu!
Akhirnya author bisa posting setelah sekian lama *sambil nangis*
*readers: pliz dech jangan lebay*
XD

Habis kena musibah yang ngelibatin PC *hingga kini masalahnya belum kelar*
*readers: kebanyakan bacot niech orang*

WARNING
Jangan di baca di sembarang tempat
Terutama di tempat umum

~사랑 빠지다~

Jika diberi kesempatan untuk hidup lagi
Aku ingin hidup di kehidupan yang sederhana
Seperti halnya orang lain
Kesederhanaan yang sempurna
Kesederhanaan yang penuh canda tawa dan kehangatan
I wish it be come true…

#####TK Matahari#####

Jaerin menunggui anak didiknya yang sedang bermain di luar kelas. Ulasan senyumnya selalu mengembang dan tak pernah hilang. Lalu seorang anak menarik mantelnya. Ia menunduk. Lalu tersenyum melihat gadis kecil yang di lihatnya. Ia masih ingat namanya. Jaerin hafal nama anak kelasnya hanya dengan sekali berkenalan.
“Ada apa Minji?” tanya Jaerin kemudian berjongkok. *ngebayang kalo Minji satu ini Minjix 2NE1, lucu juga*
“Bu guru, apa…. Aku boleh memanggilmu onnie?” ucap Minji.
Jaerin tersenyum. Ia membelai rambut Minji.
“Ne. Kau boleh memanggilku onnie.”
“Onnie, ayo kita bermain!” seru Minji.
Kemudian anak-anak yang lain berseru mengikuti kata-kata Minji. Jaerin bangkit, ia tidak menyangka, anak didiknya begitu menyukainya.
“OK. Kita main apa?” tanya Jaerin.
“Lempar salju!” seru bocah bermantel cokelat.
“Oh, Hyunjo kau suka bermain lempar salju ya. Tapi aku tidak tahan terkena salju. Mianhae…” ucap Jaerin.
“Kata oemma jika terbiasa pasti kita kebal.” Ucap gadis kecil berbando.
Jaerin berpikir sejenak.
“Baiklah akan ku coba. Seseru apa permainan ini. Dan sehebat mana kalian mengalakan onnie.”
Jaerin langsung menyiapkan bola-bola salju dan melemparinya ke anak didiknya.
Donghae memperhatikan Jaerin dari kejauhan. Ia senyam senyum sendiri melihat yodongsengnya itu.
“Kau kenapa?” tanya Jaejoong mendekati Donghae.
“Aniyo~ aku hanya senang melihat yodongsengku. Dia tidak bisa tahan dingin. Tapi sepertinya itu tidak berlaku lagi.” Ucap Donghae.
“Mwo?” sahut Jaejoong.
Donghae mendesah.
“Jaerin… sejak kecil ia selalu sakit-sakitan jika terkena suhu dingin seperti ini. Maka dari itu aku tidak pernah mengajaknya bermain salju. Aku takut dia sakit. Dia sendiri juga begitu. Selalu ketakutan melihat salju turun.”
“Kenapa?” tanya Jaejoong.
“Karena ia mempunyai kenangan buruk sewaktu salju turun. Waktu ia kecil saat musim dingin ia menangis lalu salju pun turun.”
“Kenapa ia menangis?”
“Karena ia merasa kesepian. Ia merasa tidak mempunyai siapa-siapa. Kau tahu sendiri setiap natal aku selalu ada job, natal besok jobku lebih penting dari pada menemaninya. Kadang aku juga menangis meninggalkannya sendiri pada malam natal hingga malam berikutnya. Orang tuaku juga. Mereka sibuk dengan kerjanya dan tidak bisa menemaninya. Setaip Natal Callisto mall selalu mengadakan acara dimana orangtuaku yang mengawasi acara itu. jadi rasanya sungguh sulit…” air mata Donghae mulai menetes satu demi satu.
“Aku ingin mengajaknya ke tempat aku bekerja saat natal agar ia tidak sendiri. Tapi dia selalu meonolak. Aku merasa bersalah….” Donghae mencoba menghapus air matanya.
“Bukankah kau dapat job sejak SMP, lalu bagaimana dengan sebelumnya?”
“Oh, itu…. saat kecil ia jarang di Korea.” Cletuk Donghae tanpa sadar ia sedikit membongkar rahasia Jaerin.
“Jarang di Korea?” Jaejoong mulai penasaran.
“Ehm anu apa, Jaerin ikut omoniku ke luar negeri. Aku pernah cerita bukan jika omoniku selama beberapa tahun bekerja di luar negeri?” jelas Donghae. Dia tidak berbohong.
Jaejoong menepuk punggung Donghae.
“Sudah serakan saja Jaerin padaku.” Ucap Jaejoong.
“Kau ingatkan setiap Natal yayasan ini mengajak anak-anak yayasan untuk pergi rekreasi? Akan ku ajak Jaerin. Jadi kau tidak usah khawatir.” Lanjut Jaejoong.
Donghae tersenyum.
“Gomawo~ Kau memang chinguku yang paling baik.”
PLAK~
Wajah Donghae terserang bola salju.
Donghae mengelus elus dadanya untuk bersabar. Kemudian.
PLAK~
Wajah Donghae lagi-lagi terserang bola salju. Dan ini tepat di muka.
“Hai! Apa yang kau lakukan ah?” bentak Donghae.
Jaerin cekikan dari sebrang sana.
“Asyik bukan oppa?” teriak Jaerin.
Ia tertawa diikuti anak didiknya.
“Satu, dua, tiga Serang!!!” seru Jaerin.
Anak didiknya melempari Donghae dengan bola salju. Tidak hanya Donghae saja yang kena. Jaejoong pun ikut kena.
Donghae berlari ke Jaerin. Jaerin berusaha menghindari Donghae.
Gagal mengejar Jaerin Donghaepun melempari Jaerin dengan bola salju.
Jaejoong mendekat. Ia tersenyum melihat Donghae dan Jaerin yang bahagia.
“Oppa ayo main!” seru ank kecil berbando yang bernama Iensu.
Jaejoong mengangguk. Lalu ia berjongkok dan membuat bola-bola salju. Lalu ia lemperkan ke Donghae. Dan terjadilah perang bola-bola salju yang sangat meriah.

#####Akademi Haenol#####

Kyuhyun memandang keluar jendela.
“Hai apa yang kau lamunkan?” tanya Kimbum tiba-tiba mengagetkan Kyuhyun.
Kyuhyun menoleh ke arah Kimbum.
“Mwo?”
“Apa yang kau lamunkan?”
Kyuhyun tersenyum.
“Jaerin~”
“Kau terpana dengan kepintarannya?”
Kyuhyun tersenyum kembali.
“Belum pernah aku kalah dari perempuan. Tapi kemarin aku baru kalah. Dia sungguh hebat. Aku ingin bersamanya.” Ucap Kyuhyun lembut.
“Tapi apakah dia mau dengan orang sepertimu?”
“Mwo?” sahut Kyuhyun heran.
Kimbum nyengir.
“Dia lebih hebat darimu. Apa dia mau bersamamu? Bersama orang yang menjemukan sepertimu?” ujar Kimbum.
“Kau sendiri? Mana ada yang mau denganmu. Kau selalu mempermainkan wanita. Tidak ada yang mau denganmu.”
Kimbum menggelang.
“Jungsae.” Ucap Kimbum.
“Mwo? Gadis rakus itu?” sahut Kyuhun.
“hey jangan mengatainya seperti itu. kau tahu dia sangat berbeda. Dia lugu dan imut. Aku senang kepadanya. Ditambah lagi ia tidak peduli dengan kata diet. Beda dengan gadis-gadis yang dulu pernah aku kencani. Mereka selalu berhati-hati makan karena takut gemuk. Jungsae berbeda. Apapun ia mau. Ia tidak peduli.” Terang Kimbum.
“Ya terserah kau saja. Aku juga begitu. Aku akan berusaha mendapatkan Jaerin.” Sahut Kyuhyun.

#####Taman#####

“Oppa tidak menemani anak yayasan?” tanya Jaerin yang duduk di ayunan.
“Aniyo. Sudah ada yang lainnya.”
“Lalu… tinggal berapa anak yang ada di yayasan?”
“Dua belas anak. Lima anak SD dan tujuh anak TK. Aku berharap mereka segera di adopsi.” Ucap Jaejoong.
“Apa kau tidak kesepian?”
Jaejonong menghela nafasnya.
“Aniyo~ aku malah senang jika mereka mendapatkan keluarga. Aku tidak ingin mereka bernasib sepertiku. Hingga duduk di bangku SMP tidak ada yang mengadobsiku. Akhirnya tuan Kim Sunjai pemilik yayasan mengadobsiku.” Terang Jaejoong.
Jaerin menatap Jaejoong. Ia tidak suka dengan raut muka Jaejoong.
“Setidaknya ada orang yang masih peduli dan mengerti keadaanmu.” Ucap Jaerin lalu tersenyum.
Jaerin berayun. Ia ingin melupakan raut wajah Jaejoong yang tidak ia sukai. Ia tidak senang melihat wajah yang menyedihkan itu. raut wajahnya hanya mengingatkannya akan kesepiannya dulu. Kemudian ia terdiam.
“Mwo? Salju turun lagi.” Ujar Jaerin.
Jaejoong tersenyum simpul.
“Kenapa cemberut seperti itu. ekspresimu sama seperti waktu itu. apa kau tidak membawa payung lagi eh?” sahut Jaejoong.
“Aniyo~ aku membawa. Hanya saja aku…”
“Kita cari tempat untuk makan siang bagaimana?” potong Jaejoong.
Jarin mengangguk. Lalu ia mengambil payung dari tasnya dan mengelurakannya. Jaejoong langsung menyambar payung yang di pegang Jaerin, ia membukanya.
“Ayo jalan!” seru Jaejoong lalu tersenyum kepada Jaerin.

#################

Hyunkyo memandangi langit. Raut wajahnya tampak tidak begitu senang melihat salju turun. Pria yang ada dihadapannyapun bertanya.
”Kau kenapa?”
Hyunkyo langsung memutarkan matanya ke arah kakaknya Changmin.
”Ani~ aku merasa bosan.”
”Kau bosan ya menemaniku?”
Hyunkyo terkejut mendengar perkataan Changmin. Ia tidak menyangka perkataannya tadi membuat Changmin mengatakan hal seperti itu.
”Aniyo~ aku tidak bosan kepadamu. Aku hanya bosan saja dengan hidupku.”
Reflek Changmin langsung mengenggam tangan Hyunkyo.
”Kau tidak berniat bunuh diri bukan?” tanya Changmin serius.
Hyunkyo merasa pabo akan apa yang telah ia katakan. Ia menggelengkan kepalahnya.
”Ani, ani~ aku tidak melakukan hal itu seumur hidupku. Aku hanya merasa duniaku tidak berwarna.”
Changmin melepaskan genggamannya.
Hyunkyo menepuk-nepuk pipinya, berharap ia sadar. Berharap ia tidak akan salah ucap lagi.
”Musim semi… Dalam hidupku pada musim itu hanya ada warna hijau. Musim panas, kuning, musim gugur coklat tua, musim dingin… Musim dingin putih… Aku benci warnah putih.” jelas Hyunkyo. Ia mengepalkan ke dua tangannya.
”Aneh, kebayakan orang menyukai warna putih. Kenapa kau tidak menyukainya? Apa karena salju? Kau benci salju maka dari itu kau membenci warna putih.” cletuk Changmin.
Kemudian seseorang mengantarkan makanan dan minuman.
”Ini pesanan kalian, selamat menikamti.” ujar orang itu setelah meletakkan pesanan Changmin dan Hyunkyo.
Hyunkyo menyesap teh hangat yang ia pesan.
”Aku benci warna putih karena warna putih itu melambangkan kebersihan dan kesucian.” ujar Hyunkyo seteleh menyesap tehnya.
Changmin menunjukkan ekspresinya yang menyadarkan Hyunkyo bahwa pria yang ada di hadapannya sungguh penasaran.
”Awalnya aku tidak membenci warna ini. Aku malah menyukainya. Tapi tiap kali aku menggunakan pakaian berwarnah putih, aku pasti mendapatkan kesialan. Benar kata appa. Tak seharusnya aku mendengarkan kata oemma bahwa aku terlihat cantik jika menggunakan pakaian berwarnah putih.
Kau tahu, aku pernah dikerjai seniorku waktu duduk dibangku SMP. Waktu itu aku menggunakan seragam putih. Karena tidak tahan aku minta pindah sekolah. Dan di sekolah baruku, untung saja tidak menggunakan seragam berwarnah putih.
Sejak itu aku sedikit membenci seragam putih yang sering membawa kesialan.
Waktu SMA juga seperti itu. Pernah ada acara dimana diwajibkan untuk mengenakan pakaian putih. Waktu itu aku hampir saja mati tertabrak mobil saat berangkat. Pakaianku merah ternoda oleh darahku.
Dan yang paling menyakitiku…..
Mantan pacarku……
Ia sangat menyukaiku jika aku menggenakan pakaian berwarnah putih. Suatu hari aku membranikan diri memakai pakaian yang dia inginkan. Tapi setelah melihatku, responya terlalu… Dari kata-katanya aku sudah tahu. Dia hanya menggunakanku sebagai budaknya, sebagai pelayannya, sebal sekali ia menggunakan kata istri untuk menutupi apa dibalik ucapannya itu.” cerita Hyunkyo kemudian ia menyantab makanannya perlahan.
”Maksudmu mantan pacarmu waktu itu melamarmu?” tanya Changmin lalu menyantab makanannya.
Hyunkyo mengangguk.
”Kau seperti appamu. Sungguh sensitif dengan perkataan orang lain.”
”Tapi yang ini beda. Ia terlalu bernafsu. Bahkan ia mengatakan bahwa ia tidak sabar melakukan hubungan yang serius. Kau tahu yang ‘serius’.” sahut Hyunkyu memberikan penekanan pada kata terkahirnya.
Changmin menelan makanannya. Kali ini ia bener-benar paham apa yang dikatakan Hyunkyo.
”Ini meja tuan dan nyonya.” ujar seorang pelayan kepada kedua tamu yang baru masuk kedai.
”Apakah tidak ada tempat lain lagi?” tanya tamu pria.
”Maaf tuan hanya meja ini yang tersisa.”
”Kau tidak apa-apa duduk di…”
”Memangnya meja ini kenapa? Tidak berbahaya bukan?” potong tamu perempuan.
”Dari meja ini kau jelas sekali melihat salju. Apa tidak apa-apa?”
”Aku dari tadi melihat salju.”
”Ani. Kau tidak suka degan butiran-butiran salju yang turun. Kau selalu menatap ke bawah saat salju turun. Aku khawatir…”
tamu perempuan itu duduk.
”Sudah. Kau berpikiran berlibihan. Lebih baik kita pesan makanan sekarang aku lapar. Pilihkan yang enak ya.” cletuk tamu perempuan.
Tamu laki-laki langsung memberitahukan pelayan yang masih berdiri di dekatnya pesanan mereka. Lalu pelayan itu melangkah pergi.
”Duduklah Jaejoong opha.” ucap tamu perempuan.
”Ne.” sahut Jaejoong kemudian duduk di depan perempuan yang sedang tersenyum.
”Kenapa ekspresimu selalu begitu jika melihat salju turun eh?” tanya Jaejoong.
Perempuan yang ada di hadapannya, Jaerin hanya tertunduk diam.
Sementara Hyunkyo, mendengar pembicaraan mereka. Ia menyantab makanannya perlahan.
”Kau tertarik dengan cerita anak itu?” tanya Changmin yang sadar akan perubahan ekspresi Hyunkyo yang menunjukkan rasa penasaran.
Hyunkyo mengangguk.
”Aku juga. Apakah anak itu mempunyai cerita yang sama denganmu, atau lebih parah lagi.” bisik Changmin. Ia takut perkataannya terdengar oleh tamu pria yang baru datang yang saat ini duduk di membelakanginya.
”Setiap aku menangis di musim dingin, pasti turun salju. Butiran-butiran salju yang turun sepertinya adalah butiran-butiran kesedihanku. Tidak henti-hentinya menyiksaku, menenggelamkan aku kedalam kepolosan warnanya.” ujar Jaerin tertunduk. Ia menghela nafas.
”Aku sempat iri. Mungkin sudah berulang kali. Aku iri sekali dengan orang lain yang memiliki keluarga kandung yang bahagia. Aku iri sekali, sangat iri. Aku benci hari natal di mana semua orang bersenang-senang…. Berkumpul bersama kelurganya….. Sedangkan aku…. Aku hanya bisa menangis….. Meratapi nasibku yang merupakan anak angkat. Aku juga sempat berpikir…. Bagaimana jika mereka tidak mengetahui setatusku sebagai anak orang yang menolong mereka. Apakah mereka tetap mengangkatku sebagai anak? Apakah mereka akan menyayangiku?” isak Jaerin.
Jaejoong memberikan sapu tangan berwarna biru muda kepada Jaerin. Jaerin menerimanya dan menghapus air matanya.
”Jangan berpikiran seperti itu. Setidaknya mereka ada waktu di musim-musim yang lain. Donghae sering bercerita, setiap musim kalian sering rekreasi ke suatu tempat. Kau tahu aku sangat iri. Aku hanya dapat melakukan seperti kau hanya setahun sekali. Tentu saja bersama kelurgaku. Keluarga angkatku.” ucap Jaejoong.
Jaein tersenyum.
”Maafkan aku. Aku jadi menceritakan hal ini kepadamu. Aku juga sedikit malu pembicaraan ini sampai terdengar dua orang yang ada di dekat kita. Kita mengganggu ya?” ujar Jaerin memandangi Hyunkyo dan Changmin.
Hyunkyo nyegir. Ia merasa pabo karena mendengarkan pembicaraan orang lain.
”Ani, kalian tidak menganggu kami. Hanya saja topik pembicaraan kalian menarik perhatian kami.” sahut Changmin.
”Malah seharusnya kami yang minta maaf karena menguping pembicaraan kalian.” tambah Hyunkyo.
Jaerin terseyum.
”Baiklah jika begitu.” ucap Jaerin.
”Tapi aku mau tanya… Mianhae opha apakah kita pernah bertemu denganmu?” lanjut Jaerin. Ia bertanya kepada Changmin.
Changmin terdiam sepertinya ia berpikir.
Jaejoong melihat Changmin lalu Jaerin bergantian. Lalu iapun berkata,
”Ini perasaanku apa kalian benar-benar….”

#####Asrama Akademi Kkotbi######

”Hyekyu, apakah kau benar-benar tidak bisa?” tanya Hyejin.
”Ne. Aku sedang sibuk mengerjakan tugasku.” sahut Hyekyu.
”Apa tidak bisa dikerjakan nanti setelah menemaniku?”
”Ani~ aku bisa begadang jika soal ini benar-benar sulit.”
”Kenapa kau tidak menyalin saja pekerjaan Hyerin.”
Hyekyu mendongak ke arah Hyejin.
”Aku tidak sepertimu pabo yang suka menyalin tugas matematika Hyerin. Sana kau! Mengganggu saja.”
Hyejin menggerutu. Ia berpaling ke Hikari.
”Hikari kau mau ikut denganku?” tanya Hyejin dengan suara lembut bak putri raja.
Hikari manggut-mangut.
”Baiklah kalo begitu ayo!” seru Hyejin semangat.
Ia mengambil sling bagnya kemudian berjalan ke pintu. Ia menoleh ke Hikari.
”Hikari ayo!” seru Hyejin.
”Hikari! Hikari!” teriak Hyejin.
Hikari masih berada dalam posisnya. Duduk bersandar di atas kasur sambil membaca komik.
”Hikari katanya kau mau ikut.” ucap Hyejin kesal.
Hikari tak memberi tanggapan.
Hyekyu memandang Hikari yang bersebrangan dengannya. Ia nyengir lalu melemparkan bantal kecil ke Hikari.
Hikari terkejut kemudian memandang Hyekyu.
”Nani~” sahut Hikari.
Hyekyu menunjuk-nunjuk Hyejin.
Hikari melepaskan headsetnya.
Hyejin langsung lemas menyadari apa yang ia katakan kepada Hikari tidak di dengar.
”Mwo?” tanya Hikari kepada Hyejin.
”Ikut denganku.” ujar Hyejin layaknya orang mabok.
”Kemana?”
”Ke mall, shopping. Ada sesuatu yang harus ku beli.”
”Kenapa tidak pergi bersama Hyerin saja tadi.”
”Aku tidak tahu jika dia akan pergi ke mall juga.”
”Tidak tahu apa tidak mau tahu?” tanya Hikari melanjutkan membaca komik.
”Ash~ sudah jawab saja kau mau ikut apa tidak?”
”Jika aku tidak kedatangan tamu dan keram seperti ini mungkin aku sudah bersama Hyerin sekarang.” cletuk Hikari.
”Hyejin~” panggil Heena.
”Mwo?” sahut Hyejin.
”Kau mau ikut eh?” lanjut Hyejin.
”Tidak. Aku hanya bilang. Rasakan apa yang dirakan Hyerin.” sahut Heena kemudian tertawa.
Hyejin langsung menendang pintu kamar mandi yang berada tidak jauh darinya.
”Hey, sampai kapan kau di dalam kamar mandi eh? Kau tahu berlama-lama di kamar mandi membuatmu cepat tua.” bentak Hyejin kesal.
”Aku masih ingin berendam air panas yang sering dilakukan Hikari. Lagipula perkataanmu itu salah. Orang yang marah-marah seperti kaulah yang cepat tua.” sahut Heena kemudian tertawa lagi.
Hyekyu dan Hikari tertawa.
Hyejin kesal. Ia keluar kamar dan mambanting pintu kamar asramanya. Ia menggerutu.
Lalu Hikari keluar.
”Hyejin, kenapa kau tidak mengajak Jungsae atau Jaesi saja.”

#####Kediaman Callisto#####

”Aboji bisa antarkan aku?” tanya Jaerin di samping Goonsu.
”Kan ada ophamu, kenapa kau tak mengajaknya saja.” elak Goonsu.
Jaerin mendecakkan lidah.
”Jika opha sudah datang pastinya aku tidak minta diantar aboji~” ucap Jaerin cemberut.
”Ophamu itu memang betah di mall. Jangan-jangan ia main dance game di sana.” ujar Goonsu kemudian menutup map-map berisi surat-surat yang ia baca.
”Baiklah aku akan mengantarkanmu.” tambah Goonsu.
Jaerin tersenyum. Ia bangkit kemudian melangkah keluar, diikuti Goonsu.
”Kau mau kemana?” tanya Hansoek saat Jaerin tiba di ruang tengah.
”Ke mall. Aku mau cari kado buat anak didikku.” jawab Jaerin.
Hansoek mengangguk mengerti.
”Oh ya jika bertemu dengan ophamu suruh dia pulang ya. Dia baru saja datang dari Amerika tapi suka kelayapan kemana-mana, ah~” keluh Hansoek.
Jaerin mendekati Hansoek.
”Omoni tenang saja. Aku akan memukulinya agar dia cepat pulang. Atau mungkin kupukuli agar ia mendapatkan pekerjaan yang layak bukan pekerja hiburan panggilan.” ucap Jaerin kemudian tertawa. *jujur aku gak suka banget apa yang ku katakan ini*

##### Mall#####

Hyejin berjalan sendiri di mall. Ia membawa beberapa kantong belanjaanya yang kebanyakan berisi camilan dan aksesoris. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara yang familiar. Ya suara lantang dan menyebalkan. Sungguh menyebalkan dapat mendegarkan itu. Ia memalingkan wajahnya ke arena permainan, asal muasal suara itu. Ia mempertajam penglihatanya. Ia mendecakkan lidah dan berjalan masuk ke arena permainan dengan kesal.
”Hey~ apa kau tidak bisa mengecilkan volemu itu eh? Aku bosan mendegar suaramu yang bagaikan gonggongan anjing.” omel Hyejin.
”Kau~ berani-beraninya kau mengomeliku eh? Kau tahu aku lebih tua darimu. Seharusnya kau menghormatiku.” bentak Minho.
Gadis yang ada di hadapan Minho tertunduk.
”Aku tidak akan pernah menghormati orang yang tidak punya sopan santun sepertimu.” bentak Hyejin.
”Kau sendiri, apa sopan datang ikut campur urusan orang lain eh?” sahut Minho.
”Masih ada hubungan. Dia, Han Juni teman sekelasku. Tak akan ku biarkan temanku dibentak oleh monster sepertimu.” ujar Hyejin.
”Juni, kau ada urusan apa dengan monster ini? Kenapa dia membentakmu?” tanya Hyejin kepada Juni.
Juni mengangkat kepalahnya menatap sosok perempuan berambut panjang yang tergerai. *agak ngeri niech, apalagi author ngetiknya malem. Duch moga aja ntar tidur gak kebawa mimpi. Author males leat kuntilanak lagi*
”A… Aku… Hanya ingin minta tanda tangannya dan foto bersamanya.” jawab Juni pelan.
Hyejin nyegir ia tidak percaya.
”Kau dengarkan. Dia itu mengangguku. Gara-gara dia menggangguki meminta tanda tangan dan foto bersamaku aku kalah bermain.” cletuk Minho.
”Hya~ dia hanya minta segitu saja kenapa tidak kau tururi eh? Artis saja tidak seplit kau? Masih untung ada yang menyukaimu. Sana turuti permintaanya.” bentak Hyejin kemudian memelototi Minho.
Sontak Minho kalang kabut dengan pelototan yang bak hantu. Ia merasa benar-benar melihat hantu. *author tertawa* Juni tidak berani memandang Hyejin.
Setelah selesai mencapai tujuaannya, Juni meninggalkan Minho dan Hyejin.
”Itu tidak gratis lho!” cletuk Minho.
Hyejin menatap Minho.
”Apa maksudmu eh?”
”Aku memberikan hadiah kepada temanmu tanda tangan dan foto bersamaku. Itu semua ku lakukan atas permintaanmu. Dan kau pasti tahu tentunya, di dunia ini tidak ada yang gratis jadi….”
Hyejin mulai paham apa yang dibicarakan Minho. Ia mencoba kabur. Tapi telat. Tangan kanan Minho sudah mengekang tangan kirinya. Minho menarik Hyejin ke tempat penitipan barang.
”Apa yang akan kau lakukan?” ucap Jaerin kesal dan mencoba melepaskan cengkraman Minho.
Minho cuek bebek. Ia mengambil barang belanjaan Hyejin dan menitipkannya. Kartu penitipannya ia letakkan di dalam saku jaketnya. Lalu ia tertawa. *ngeri aku ngebayangin Minho tertawa bagaikan penjahat*
”Kalahkan aku bermain game.”
Hyejin terkejut.
”Hey! Kau gila ya!” teriak Hyejin.
”Ani. Aku normal. Kau yang gila jika teriak seperti itu. Sudah terima saja. Permintaanku kan cuma satu.”
”Iya satu tapi berat sekali. Aku tidak pernah main game. Bagaimana aku bisa menang darimu eh?”
”Ya coba dulu. Kan aku yang bayar. Jika kau tidak mau ya sana pergi dengan tangan kosong.”
Hyejin mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia menonjok Minho. Tapi ia urungkan. Ia takut orang-orang mengira ia benar-benar gila.

###########

”Kau yakin tidak perlu ditemani?” tanya Goonsu dari dalam mobil.
”Ani. Mall ini milik papa. Lagipula banyak karyawan yang mengenaliku. Mereka pasti melindungiku jika ada apa-apa. Aboji tak perlu khawatir.” jawab Jaerin.
”Jika kau perlu bantuan tinggal katakan saja kepada anak buahku. Ia akan membantumu apapun yang kau mau.” ucap Goonsu.
Jaerin mengangguk kemudian tersenyum. *murah senyum ya author*
Goonsu menutup kaca mobil dan melaju meninggalkan Jaerin di loby.
Jaerin berbalik masuk ke dalam mall. Ia melangkah menujuh ke lift naik ke lantai dua. Ia melanjutkan perjalanannya *kayak pergi jauh aja*. Ia menujuh ke toko buku dan alat tulis.
”Yunho opha, bisa bantu aku?”
Pria tegap berkaca mata tebal yang sedang merapikan buku menoleh.
”Lyra-ah.” sahutnya terkejut melihat Jaerin.
”Kapan kau kembali dari Paris?” lanjutnya.
”Panggil aku Jaerin saja. Tidak enak di dengar orang mereka pasti memperhatikan aku seperti waktu dulu.” bisik Jaerin.
Yunho mengangguk sekali.
”Aku baru datang sekitar sepuluh hari yang lalu.” ucap Jaerin.
”Ada apa gerangan kau kembali ke Korea?” tanya Yunho berbisik.
”Aku telah menyelesaikan kuliahku. Aku ingin istirahat di Korea sebelum orang tuaku menetapkan pekerjaanku.” bisik Jaerin.
Yunho mengangguk sekali lagi.
”Oh ya kau minta bantuan apa?” tanya Yunho.
”Tolong bawakan barangku.”
”Barang? Kau sama sekali belum belanja.” sahut Yunho memperhatikan Jaerin.
”Iya sekarang tolong bawakan barang belanjaan yang akan ku borong. Di sebelah sana.” ujar Jerin kemudian menunjuk ke sudut arena peralatan menggambar.
”Memborong? Kau ingin belanja besar-besaran eh?” sahut Yunho.
Jaerin melangkahkan kakinya dikuti langkah kaki Yunho.
”Ne. Ini buat kado. Bisa opha membungkusnya sekalian. Kira-kira ada duapuluhan.”
Yunho menelan ludahnya sendiri.
”Akan ku berikan tips kok.” ucap Jaerin memandang Yunho kemudian tersenyum.
Jaerin memberikan beberapa barang kepada Yunho. Yunho meletakkannya di keranjang yang sudah ia siapkan.
”Tidak usah memberikan tips asal kau ikut membatu.” ujar Yunho.
”Jaerin-ah.” sapa sesorang.
Jaerin dan Yunho menoleh bersamaan.

To be cuntinue…

Gimana readers?
Jangan lupa komentaranya
Oh sekalian jempolnya.

Iklan

5 responses »

  1. chingu…kok aku ngerasa part ini terlalu pendek.Eh,maksudnya bukan pendek bgt tapi kurang panjang aja..but still good

    Chingu,perbanyak bagian Jaejoong-nya dong .Pliiiiiisss #banyak maunya/plak!

    Lanjutkan FFnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s