사랑 빠지다 (chapter 5)

Standar

PG

F4 JYJ Super Junior TVXQ

chapter 5 of 12

F4 JYJ SUJU TVXQ

Akankah duniaku berubah setelah ku ubah dunia mereka
Apakah dunia akan berubah jika aku berjalan di tempat yang sama
Apakah pendirianku ini membuatku kehilangan?
Kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya

##########

Jaerin dan Yunho menoleh bersamaan.
”Kyuhyun-ssi.” sahut Jaerin.
”Kau belanja itu semua?” tanya Kyuhyun mendekati Jaerin.
Jaerin mengangguk.
”Kau suka menggambar ya?”
”Ani~ ini untuk kado. Kado baut anak-anak lebih tepatnya.”
Kyuhyun manggut-manggut. Ia mengambil buku sketsa.
Yunho berdeham.
Kyuhyun menoleh.
”Oh hyung sepertinya kau terlalu banyak membawa barang. Sini berikan keranjang yang satunya kepadaku.” cletuk Kyuhyun setelah melihat wajah Yunho yang memelas membawa dua keranjang barang.
”Gomawo. Ini lebih baik.” sahut Yunho menyerakan salah satu keranjang.
”Kyu, kau jangan mau. Aku sendiri yang memintanya. Kau tidak perlu repot-repot.” ujar Jaerin.
”Oppa kau tidak suka membantuku ya?” tanya Jaerin menatap Yunho.
Yunho tersenyum.
”Ani. Aku senang sekali membatumu.”
”Sudalah Jaerin tidak apa-apa. Dia terlalu sering ku suruh begitu jika aku belanja banyak.” sahut Kyu.
”Kalian saling kenal?” tanya Jerin.
”Tentu. Karena aku seringkali bertemu dengannya saat belanja di sini.” jawab Kyu.
”Lalu kau sendiri?” lanjut Kyuhyun.
”Sama sepertimu.” jawab Jaerin singkat.
”Tapi aku tidak pernah melihatmu di tempat ini.” ucap Kyuhyun.
‘Terang saja Jaerin kemari waktu jam pelajaran sekolah. Dan kuliahnya juga libur. Sedangkan kau Kyu, kau datang setelah jam pelajaran sekolah. Mana bisa bertemu. Apa lagi Jaerin seringkali belanja via ponsel alias menelpon dan aku yang jadi kurirnya.’ batin Yunho.
”Aku sering kali kemari waktu pagi, waktu toko baru buka.” ucap Jaerin.
Kyuhyun mengangguk mengerti.

#########

”Mianhae, gara-gara aku kau sampai jadi begini.” ujar Donghae khawatir dengan gadis yang ada di depannya.
Gadis itu tertunduk tak berani menatap Donghae. Ia menyesap teh hangatnya dan merasa gelisa.
”Apa kau tidak apa-apa?” tanya Donghae. Kali ini ia mecoba melihat wajah gadis yang dari tadi tertunduk tak memperhatikannya.
Donghae langsung mengangkat wajah gadis itu.
”Lihatlah wajah yang menawan ini terluka karenaku. Ijinkan aku mengobatimu. Aku akan merasa bersalah jika tidak mengobatimu.” ucap Donghae sembari memperhatikan wajah gadis yang ada dihadapannya.

Gadis itu mengangguk. Ia berusaha melihat ke arah lain. Sepertinya ia tidak ingin melihat wajah Donghae.
Lalu Donghae mencari seuatu ditas plastik kecil. Ia mengambil hansaplast kemudian membukanya dengan kedua tangannya.
”Hyerin-ssi.” sontaknya.
Hyerin mengerjap-ngerjap. Matanya yang bulat memancarkan ia sedang gugup.
”Aku akan merekatkan hansplast ini ke wajahmu. Condongkan kepalahmu ke depan agar aku muda merekatkannya.” lanjut Donghae.
Hyerin mengangguk kemudian perlahan ia mencondongkan kepalahnya.
Donghae merekatkan hansaplast di beberapa bagian wajah Hyerin yang terluka.
”Sudah beres!” seru Donghae kemudian mencubit pipi Hyerin gemas.
Lalu Donghae tersenyum. Senyuman yang membuat Hyerin bersemu merah

Karena takut melihat Donghae melihat wajahnya yang bersemu merah, Hyerin menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
”Ayo kuantarkan pulang!” seru Donghae lagi lalu menghabiskan minumannya.
Hyerin tertunduk. Ia menepuk-nepuk kedua pipnya.
”Eotchaeso i? dadaku sudah berdebar-debar dengan melihatnya saja. Dia malah ingin mengantarkanku. Chegi… Aku tidak bisa berlama-lama dengan cinta pertamaku ini” guman Hyerin.
Donghae berdiri siap untuk mengantar Hyerin.
”Hyerin-ssi, ayo aku antarkan pulang! Kau tidak apa-apa bukan? Kau pusing ya? Apa perlu aku gendeon?” sahut Donghae

Hyerin langsung berdiri. Ia menggeleng.
”Aniyo~ Aku sudah merepotkanmu. Aku bisa kok pulang sendiri.” ucap Hyerin.

”Tidak bisa begitu. Aku yang menabrakmu hingga kau seperti itu. Aku harus bertanggung jawab. Ijinkan aku mengantarmu pulang. Agar aku lega kau baik-baik saja sampai asramamu.”
Hyerin mengeleng. Ia melangkah pergi dengan barang bawaannya. Jalannya tak terarah, ia seperti orang mabuk. Ia hampir jatuh. Untung saja Donghae langsung menarik tangannya dan mendekapkannya di tubuhnya. Ia menunduk dan bertanya kepada Hyerin,
”Kau tidak apa-apa?”
Hyerin melihat jelas mata Donghae. Ia tidak bisa menolak untuk melihatnya.
”Kau pusing, gureyo?”
tanpa mendengar jawaban dari Hyerin Donghae menempahnya.
Sementara itu. Sesorang memperhatikan mereka dari jauh. Ia membawa kamera digital kemudian tersenyum sinis melihat kameranya. Kemungkinan ia melihat hasil foto yang memuaskan baginya.

#########

”Hei apa tidak apa-apa kita berjalan berdua seperti ini?” tanya gadis berambut panjang.
Ia menggenakan topi yang baru ia beri untuk menutupi wajahnya.
Pemuda yang bersamanya memasang kacamata hitam di wajahnya. Menutupi keindahan matanya.
Gadis itu mendecakkan lidah melihat pemuda yang bersamanya.
”Kau sudah menggenakan topi sekarang kau menggenakan kacamata hitam. Emang kau artis eh?” oceh gadis itu.
Pemuda itu menatap gadis yang ada di sampingnya lekat-lekat.
”Aku ini artis. Kau tak sadar apa yang dilakukan temanmu tadi eh? Itu sudah membuktikan bahwa aku artis.” jawab pemuda itu.
”Artis apanya? Kau tidak pantas jadi artis, kau tidak memikat.” sahut sang gadis kemudian berlenggak pergi.
Pemuda itu menyusul.
”Hei, aku ini kapten sepakbola. Aku selalu memenangi pertandingan sepakbola dalam berbagai perlombaan.”
”I don’t care!” sahut Hyejin dengan nada I don’t care-nya 2NE1.
gadis itu melangkah semakin cepat.
”Hei bisakah kau pelan sedikit?” bentak pemuda cool yang membuntuti si gadis.
”Ah Minho kenapa kau membuntutiku terus…” rengek si gadis.
Beberapa pasang mata memperhatikan mereka berdua.
Karena merasa dirinya seperti kriminal saja, Minho pura-pura menjadi kekasih gadis itu. Ia mendekap gadis itu di sisinya dan berjalan. Ia mengatakan kepada orang-orang yang memperhatikan mereka bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
”Minho apa maksudmu?”
”Diam saja kau Hyejin. Ini gara-gara kau merengek seperti tadi. Orang-orang jadi mengira aku sebagai penguntit.” sahut Minho.
”Habis kau mengikutiku. Aku merasa tidak enak dekat-dekat denganmu.”
”Kenapa?”
”Banyak gadis yang melihatku sinis.”
”Kenapa tidak kau balas saja. Kau kan juga punya tatapan sinis.”
Hyejin langsung cemberut.
Minho merangkul Hyejin.
”Sudahlah jagiya jangan ngambek. Ayo kau mau beli apa tadi.” ujar Minho lantang, hingga beberapa orang melihatnya.
Hyejin kebingungan ia berbisik.
”Apa-apan lagi kau?”
”Sudah kau berpura-pura saja menjadi kekasihku.”
”Itu untung bagimu. Bagiku apa?”
”Karena kau sudah baik menemaiku bermain tadi. Ya meski kau selalu kalah. Aku ingin berterimah kasih dengan membelikanmu apa yang kau mau.”
Hyejin sumringah kemudian ia kembali bertanya,
”Kenapa harus berpura-pura?”
”Pertama gara-gara ucapanmu tadi, kedua gara-gara kebanyakan gadis di sini adalah penggemarku. Aku harus menutupi identitasku dengan merubah statusku. Mereka tidak akan mengira jika aku ini Minho. Karena Minho yang mereka kenal tidak mempunyai kekasih.”
Merasa puas dengan penjelasan Minho, Hyejin melangkahkan kakinya diikuti Minho. Minho tersenyum penuh kemenangan.
Ditengah jalan Hyejin berhenti melangkah.
”Ada apa jagi?” tanya Minho.
Hyejin menunjuk ke sebuah arah. Minho mengikuti arah yang ditunjuk Hyejin.
”Kyuhyun-ah?” sahut Minho.
Hyejin mengangguk.
”Kau lihat dengan siapa dia?”
”Jaerin?” sahut Minho lagi.
Hyejin langsung cemberut.
”Sepertinya mereka berkencan. Mereka bahagia sekali.” ucap Hyejin kecewa melihat Kyuhyun dan Jaerin berdua membungkus kado.
”Aneh jika itu berkencan. Jika berkencan berjalan berdua seperti kita. Tapi itu malah membungkus kado di toko bersama seorang pelayan toko pula.”
”Iya juga. Tapi pelayan itu seakan-akan memberikan mereka waktu untuk berdua. Lihat saja pelayan itu cuma beberapa detik diantara mereka.” sahut Hyejin tidak sadar sesuatu.
Beberapa detik kemudian ia baru sadar.
”Sebentar-sebentar tadi kau bilang apa? Kita berkencan?”
Minho mengangguk.
Hyejin memukul-mukul kepalahnya.
”Hey apa yang kau lakukan?”
Hyejin terdiam, ia memandang Minho.
”Tidak aku baru sadar jika dari tadi apa yang aku lakukan seperti orang berkencan saja.”
”Kita lanjutkan saja bagaiman?”
”Mwo?” sahut Hyejin lantang.
”Bagaimana jika kita berkencan selama satu minggu.” tawar Minho.
Hyejin menggelang.
”Ani ani aniyo.”
”Ayolah, kakakku akan menertawaiku karena belum pernah berkencan. Jadi bisakah kau menjadi teman kecanku seminggu saja.” rengek Minho.
Hyejin nyengir kemudian ia tertawa.
”Apa kau bilang? Kau belum pernah berkencan? Aku tak percaya. Padahal banyak gadis yang mengejarmu tapi kau belum pernah sekalipun berkencan. Aku tidak percaya. Jangan-jangan kau gay?”
”Hey jaga perkataanmu. Aku bukan gay. Lagipula aku tidak suka dengan gadis yang terlalu memujahku. Itu sungguh risih. Dan perlu kau tahu alasanku kenapa tidak sempat berkencan, aku sibuk. Aku sibuk dengan sepak bola.”
”Ya ya ya terserah kau mau bilang apa. Tapi apa untungnya bagiku?”
Minho tersenyum.
”Sepertinya kau menyukai Kyuhyun. Aku akan memberikan nomernya jika kau mau menjadi teman kecanku.”
Hyejin terdiam. Ia menimbang-nimbang tawaran Minho.

#####Asrama Akademi Kkotbi#####

Hikari memandangi jam dinding yang terletak di tengah sisi ruangan. Ia memainkan ponselnya. Mengetuk-ngetuk ponselnya di kepalahnya.
”Sudah jam sembilan, kenapa Hyejin belum pulang juga ya?” ocehnya sendiri.
Ia bangkit dari dudukannya menujuh ke tempat tidur Hyekyu. Ia melihat Hyekyu tertidur pulas dengan buku di sampingnya. Hikari mengambil buku itu dan membukanya.
”Hebat, sudah selesai. Aku sendiri saja belum tentu bisa menyelesaikannya. Untung saja aku meminta bantuan Jaerin lewat pesan. Hehehehe….” ujarnya kemudian meletakkan buku Hyekyu di atas meja dekat Hyekyu tidur.
Ia balik melangkah ke arah Heena.
”Aish~ ia tidur di atas pekerjaannya.”
lalu Hikari mencoba membangunkanya.
”Heena…”
”Hm…”
”Heena bangun…”
”Ah~”
Hikari sedikit kesal karena Heena tak kunjung bangun juga.
”Heena, Hyerin pulang dengan seorang pria. Pria tampan!” seru Hikari tepat di telinga Heena.
Sontak Heena terbangun.
”Mana? Mana?” tanya Heena penasaran.
Hikari nyengir.
”Dia belum datang. Lihatlah jam berapa ini.” ujar Hikari.
Heena mendongak ke arah jam.
”Semalam ini? Lalu Hyerin?” tanya Heena.
”Molla. Mungkin dia sedang terjebak diskon pakaian.” sahut Hikari.
Heena manggut-manggut.
”Ohya kerjakan tugasmu itu. Belum selesai kok dah tidur.” ucap Hikari.
”Aku ngantuk Hikari~”
”Mwo? Aku tak percaya. Bukannya tadi kau berendam?” sahut Hikari tak pecaya.
”Berendam cuma menghilangkan capekku saja. Rasa ngantuk masih ada tuh.” cletuk Heena.
Hikari tak menggubris ia berjalan ke arah beranda. Ia membuka kaca beranda dan melihat sekeliling.
”Mwo~???” pekiknya.
Heena bangkit dan menujuh ke Hikari.
”Ada apa?” tanyanya bingung.
Hikari menunjuk ke arah bawah.
Heena mengikuti arah tangan Hikari. Dan sontak ia terkejut.
”Hikari, apa yang kau katakan ternyata benar-benar terjadi.” ucap Heena masih terheran-heran.
Hikari menelan ludah.

#####Kediaman Callisto#####

Baru lima belas menit Jaerin tiba, Donghae tiba pula.
Hansoek memukili anak laki-lakinya itu.
”Omoni…” rengek Donghae.
”kau kemana saja eh? Dari pagi sampai malam begini baru pulang.” bentak Hansoek.
”Ne… Oppa kau kemana saja?” tanya Jaerin.
Donghae tersenyum.
”Aku ada kabar baik untukmu. Kau tahu, mereka selama ini menghubungiku untuk mengabariku bahwa besok dan natal aku tidak ada pekerjaan. Maksudku mereka membatalkan acara karena suatu hal. Jadi besok aku bisa menemanimu.” jelas Donghae kemudian memeluk Jaerin.
Jaerin terdiam. Ia tak percaya. Lalu ia melepaskan pelukan oppanya.
”Kau janji mau menemaniku?” tanya Jaerin.
”Ne.” sahut Donghae.
”Ohya. Oppa kau beli HP baru? Boleh aku lihat.
Donhae merogoh-rogoh kantongnya. Ia menemukan sebuah HP kemudian memberikan HP itu ke Jaerin.
Jaerin mengotak-atik ponsel Donghae.
”Kau sudah makan Donghae?” tanya Hansoek yang bersama mereka.
Donghae mengangguk.
”Aku tinggal dulu, aku mau menyipakan buat acara besok.” sahut Hansoek kemudian melangkah pergi.
”Oppa? Kau beli HP second eh?” tanya Jaerin masih fokus dengan HP Donghae.
”Ani. Aku beli baru.” sahut Donghae.
”Jadi ini bukan HPmu? Kau lihat disana sini banyak goresan. Kontaknya juga berisi nama-nama yang sungguh aku tidak mengenalinya. Dan galerinya berisi gambar chingu-chinguku. Sekarang katakan padaku. Siapa namanya?” oceh Jaerin memberikan HP kepada Donghae.
Donghae terheran-heran. Ia mengecek apa yang dikatakan Jaerin benar atau tidak.
”Aish~ sepertinya ponselku tertukar waktu menabraknya tadi.” keluh Donghae.
”Mwo menabraknya?”
”Ne. Setelah aku menerima telpon dari pak Kang aku menabrak dia. Aku terlalu senang sehingga tidak melihat jalan. Oh ya kau kenal dengannya? Namaya Hyejin.”
”Hyejin?” seru Jaerin.
”Ne. Kenapa?”
”Molla.”
”Bagaimana kau bisa kenal dia?”
Jaerin menghela nafas.
”Baiklah akan aku ceritakan. Begini…” *reader dah tahu bukan XP*

#####Asrama Akademi Haenol#####

Minho masuk ke dalam kamar asramanya yang memiliki ukaran tidak sebesar kamar asrama akademi Kkotbi. Ia tersenyum senyum sendiri.
”Kau kenapa?” tanya Tatsuya mengejutkan Minho.
”Ha, kau mengejutkanku saja.” sahut Minho mengelus dadanya.
Tatsuya mengubah posisinya dari tidur terlentang menjadi duduk bersandar.
Minho mendekati Tatsuya.
”Akhirnya aku punya teman kecan.” ucap Minho yang duduk di dekat Tatsuya. Ia tersenyum senang.
”Teman kencan?” sahut Tatsuya tidak percaya.
”Apa salah satu penggemarmu menarik perhatianmu eh?” lanjut Tatsuya.
”Ani. Dia bukan penggemarku. Malah bisa dibilang dia anti denganku. Tapi dia penggemarnya Kyuhyun.”
”Kyuhyun?”
”Ne. Sejak aku bertemu dengannya di cafe aku memperhatikan dia memandangi Kyuhyun tanpa henti. Ada juga temannya yang berlaku sama, tapi cara memandang temannya tidak seaneh dia.” jelas Minho lalu tertawa.
”Kenapa kau tertawa?”
”Entahlah mengingatnya ia memandangi Kyuhyun lekat-lekat sama halnya mengingat diriku dulu waktu melihat kue di toke kue. Seperti ingin menyantabnya saja.”
”Kau kira dia kanibal apa?” sahut Tatsuya lalu geleng-geleng kepalah.
Minho tertawa.
”Meski dia tidak ikhlas denganku yang penting aku punya teman kecan selama seminggu ini.” ujar Minho.
”Seminggu?”
”Ne, seminggu sudah cukup. Hyung akan kemari saat natal besok dan akan kembali setelah tahun baru. Kurasa cukupkan untuk meyakinkan hyung jika aku punya teman kecan selama ini?”
Tatsuya manggut-manggut. Ia kembali dengan HPnya dan mengetik dengan cepat.
”Kau sedang apa sich?” tanya Minho penasaran.
”Chating.” jawab Tatsuya singkat.
”Serius amat, dengan siapa sich?” tanya Minho lagi.
Tapi tak ada jawaban dari Tatsuya. Minhopun merampas HP Tatsuya ia membaca chatingan Tatsuya.
”Mwo? Kau sedang chating dengan Hinata? Hi-chan? Apa yang kau tulis ini? Bahasa Jepang?” sahut Minho.
Tatsuya mengambil HPnya dari tangan Minho.
”Ne. Dia gadis Jepang tapi dia sekolah di sini. Aku lebih suka menggunakan bahasa Jepang. Agar lebih akrab.”
”Lebih akrab ya? Ya ya ya. Bisa dibilang hangulmu sedikit payah. Pantas saja penggemarmu sering ilfeel denganmu.”
Tatsuya nyengir.
”Oh ya, kau sudah bertemu dengannya?” tanya Minho penuh semangat.
”Ani.” jawab Tatsuya singkat.
Minho mendecakkan lidah.
”Sudah berapa lama kau chatingan dengannya?”
Tatsuya berpikir.
”Pasti sudah lama.” ujar Minho.
Tatsuya mengangguk.
Minho memukul kepalah Tatsuya.
”Seharusnya kau bertemu dengannya, siapa tahu dia jodohmu.” ucap Minho berdiri dari dudukan menujuh ke lemari.
Ia melepaskan jaketnya. Meletakkan topi dan kacamata yang sedari tadi ia genggam di meja. Kemudian ia berbaring.
”Kau menyukainya?” tanya Minho tiba-tiba.
Tatsuya mengaruk-ngaruk kepalahnya yang gak gatal.
”Aku tidak tahu.”
Minho bangkit.
”Mwo? Tidak tahu? Seberapa sering kau chatingan dengan dia mungkin saja sama besarnya dengan cintamu itu.” sentak Minho.
”Benarkah?” tanya Tatsuya polos.
”Kurasa aku benar-benar mencintainya~ karena aku tidak bisa tidak berhubungan dengannya.” lanjut Tatsuya.
”Sebaiknya kau temui dia dan katakan ‘Saranghae’ areso?” bentak Minho.
Tatsuya tersenyum.
”Minho, kau tahu? Ku rasa dia…..”

#####Seoul 24 Desember#####
#####Akademi Kkotbi#####

Jaesi melihat Hyejin berjalan loyo tak bersemangat. Ia melangkahkan kakinya menujuh ke sonbaenya itu.
”Onny, kau tidak apa-apa?” tanya Jaesi.
”Mwo?” sahut Hyejin tak bersemangat.
”Sepertinya kondisimu kurang baik.” ucap Jaesi.
Hyejin terdiam. Ia melangkah pelan. Jaesi mengikutinya.
”Perlu aku bawa ke UKS?” tawar Jaesi.
Hyejin menggeleng.
”Aniyo, hari ini aku kena bad day. Kurang tidur tugas gak beres, ditambahlagi setan baru yang aku kenal ngajak janjian satu jam sepulang sekolah. Mana ada kesempatan untukku agar dapat istirahat.” ucap Hyejin kemudian terduduk lesu.
Murid-murid lain yang ada di lorong memperhatikan Hyejin.
”Kenapa tidak bilang onny tidak enak badan saja?” tanya Jaesi jongkok di dekat Hyejin.
”Sudah ku katakan dia itu setan. Alasan seperti itu tidak mempan. Seharusnya sejak awal aku tidak terbujuk rayuannya.” ucap Hyejin.
”Onny, ayo bangkit. Akan ku antarkan ke UKS.” cletuk Jaesi mencoba menempah Hyejin.
”Hyejinssi!” seru seseorang.
Ia mendekati Hyejin.
”Gomawo sudah membantuku kemarin. Ohya aku lihat kau dan Minho kemarin akrab sekali. Kau dekat ya dengannya?” tanya gadis yang tak lain adalah Juni.
Hyejin menelan ludah. Ia berusaha berjalan sebaik-baiknya meninggalakan Juni dan Jaesi yang tadi di sampingnya.
”Hyejin ah tunggu, aku belum selesai bicara.” teriak Juni.
”Onny, pelan-pelan jalanmu seperti orang mabuk saja. Awas!” teriak Jaesi.
Dan Hyejin pingsan setealah menabrak anak tergemuk di akademi itu.

#####Tk Matahari#####

Jaerin berdiri menunggu di gerbang sekolah. Seseorang yang memperhatikannya bertanya kepadanya.
”Jaerin… Kau menunggu kakakmu?”
Jaerin menoleh. Ia mendapati Jaejoong berjalan mendekatinya. Ia tersenyum.
”Aniyo, Donghae oppa ke akademi Haenol menemu kawannya. Aku menunggu aboji menjemputku.” jawab Jaerin.
”Tak biasanya kau dijemput.” ucap Jaejoong.
”Ne. Aku mau menyiapkan hal-hal untuk nanti malam.”
”Nanti malam?”
Jaerin mengangguk.
”Ne. Oppa tidak ada pekerjaan. Aku bisa bersamanya akhir tahun ini. Maka dari itu aku menolak ajakanmu.”
Jaejoong tersenyum senang.

#####Akademi Haenol#####

Tok tok tok
Terdengar pintu ruang Kapsek diketuk, Siwon yang sibuk dengan arsipnya pun berkata,
”Masuk.”
Seseorang masuk ke dalam ruangannya. Ia berdiri di depan meja Siwon.
”Ada perlu apa?” tanya Siwon yang sibuk dengan lembaran-lembaran kertas yang ada di mejanya.
Tapi bukannya jawaban yang ada tapi pekikan. Kemudian dilanjut suara tawa yang ditahan-tahan.
Siwon meletakkan bulpen yang ia pegang. Ia menghela nafas.
”Apa maksudmu menertawiku?” bentaknya kemudian menatap seseorang yang ada di hadapannya.
Siwon terkejut. Ia Ia mengelus-elus dadanya.
”Kau menagetkanku saja Donghae.” ujarnya kemudian meminum air putih yang ada di mejanya.
Tawa Donghae meledak. Ia duduk di kursi kosong depan meja Siwon.
”Kenapa kau tertawa?” bentak Siwon.
”Mwo?” sahut Donghae masih tertawa.
”Berhentilah tertawa!” sentak Siwon.
Donghae berusaha meredakan tawanya.
”Kau tahu. Saat Leeteuk tadi mengatakan bahwa dirimu menjadi kepalah sekolah, aku sungguh tak percaya. Tapi saat aku lihat langsung, aku sungguh tak menyangkah.” ucap Donghae kemudian tertawa.
”Memangnya kenapaa, eh?”
”Lihatlah dirimu, kau pantas menjabat menjadi Kepalah Sekolah. Kau memang punya wajah menawan, tapi tatapan matamu bisa mematikan murid-muridmu.”
dan sekali lagi Donghae tertawa.
”Dan, dan sepertinya kau lebih cocok seperti ini dari pada Leeteuk. Sebaiknya kau cari istri. Kebanyakan kepalah sekolah adalah sesosok bapak-bapak beristri.” lanjut Donghae terpingkal-pingkal.
Siwon tampak kesal. Ia melemparkan map biru ke kepalah Donghae.
”Auwh~ jangan galak begitu.” rintih Donghae mengelus kepalahnya yang terkena map lemparan Siwon.
”Ada perlu apa kau kemari?” tanya Siwon sinis.
”Aku hanya mampir menemuimu. Apa tidak boleh?”
Siwon bangkit dari dudukannya.
”Ayo keluar dari ruangan ini aku bosan dengan tempat ini!” ajak Siwon melangkah keluar ruangan.
Donghae mengikuti Siwon.
”Kita kemana?” tanya Donghae di tengah jalan.
”Tour.” jawab Siwon singkat.
”Ke gedung olahraga?” tanya Donghae lagi.
Siwon diam. Ia membuka pintu gymnasium.
Donghae nyegir,
”Kau menyuruhku menunjukkan tarianku yang memberiku juara ke tiga di Amerika eh?”
Siwon menggeleng.
”Lihatlah!” tunjuk Siwon ke tengah gymnasium.
Donghae terkejut.
”Ada festival olahraga?” ucapnya.
”Aniyo~.” sahut sebuah suara.
Leeteuk muncul dan menunjukkan lesungnya yang mempesona.
”Awas!!!” teriak sesorang.
Leeteuk berhasil menghindar tapi tidak untuk Donghae.
Donghae terjatuh ia merintih kesakitan, memegangi dahinya.
Siwon berjongkok.
”Kau tidak apa-apa?” tanya Siwon.
Donghae masih merintih kesakitan. Sementara itu beberapa orang berlari mendekatinya.
”Donghae~ apa yang kau pikirkan? Bukankah kau bisa menghindarinya? Gerakan reflekmu lebih bagus dariku.” ucap Leeteuk yang berada di depan Donghae.
”Hyung, kau tidak apa-apa? Mianhae, aku ceroboh.” ujar Minho kemudian mengambil bolanya.
Tatsuya melempar bola basket tepat di kepalah Minho.
”Auwh~ sakit tahu!” rintih Minho.
”Gara-gara kau tidak fokus dahi Donghae sonbae terluka. Bisakah kau tidak memikirkan rencana kencanmu selama bermain?” bentak Tatsuya.
Minho menggerutu.
”Kencan?” sahut Kyuhyun dan Kimbum bersamaan.
”Wah Minho ternyata kau sudah punya teman kecan rupanya.” cletuk Leeteuk.
”Ya, itu lebih baik. Jangan buang masa mudamu untuk fokus kepada hobimu.” sahut Siwon.
”Seharusnya perkataan itu ditujukan untukmu, Siwon.” sahut Donghae lalu bangkit. Di ikuti beberapa chingunya.
”Baiklah siapa mereka dan kenapa mereka melakukan hal-hal ini di sini?” tanya Donghae.
”Oke akan ku jelaskan. Pertama Lee Minho pemuda yang menggenakan seragam sepak bola yang baru saja melakukan kesalahan padamu…” jelas Leeteuk menunjuk Minho.
Donghae mengangguk.
”Dia atlet sepak bola kita dan bisa di bilang dia seperti chingu kita satu ini” lanjut Leeteuk menepuk Siwon.
”Lalu yang menggenakan seragam NBA, oh bukan seragam basket biasa, Hayate Tatsuya. Dia atlet basket kita sekaligus atlet renang. Dia seperti chingu kita yang tidak ada di sini.” jelas Leeteuk.
”Jaejoong.” sahut Siwon dan Donghae bersamaan.
”Lanjut dia Kim Sang Bum. Salah satu pelajar yang akrab denganku. Panggil saja Kimbum, dia atlet Kendo.” terang Leeteuk.
Lalu Kimbum memperaktekan kendo. Ia seakan akan memukul Donghae. Donghae terkejut ketika tongkat kendo berada tepat 1 inchi diatas kepalahnya.
”Sudah hentikan Kimbum. Kita lanjut ke Cho Kyuhyun yang pandai melukis. Kau sadar Donghae?” ucap Leeteuk melirik Donghae.
”Dia sedikit mirip denganku.” sahut Donghae.
”Mereka penerus kita. Dan ku kumpulkan mereka di sini untuk pemotretan keahlihan mereka.” ucap Siwon.
”Pemotertan? Untuk apa?” tanya Donghae.
”Acara tahunan sekolah.” sahut Siwon.
”Oh ya pesta tahuan akademi Haenol. Tapi apa hubungannya dengan ini?” tanya Donghae tak mengerti.
”Aku membuka bisnis. Acara tahunan kali ini bukan sekedar acara biasa. Acara ini bisa di hadiri sekolah lain. Terutama sekolah wanita seperti akademi Kkotbi. Di sana kita akan menjual foto-foto bintang Akademi Haenol dengan costum yang menunjukkan keahlihan mereka masing-masing.” jelas Siwon.
Donghae nyengir.
”Ada-ada aja akalmu. Kau ingin mengorek keuntungan besar eh?” ucap Donghae.
”Bukankah ini rencanamu waktu masih sekolah di sini?” ujar Siwon lalu tersenyum.
Semua orang tertawa.
”Sungguh ide gila.” ucap Kyuhyun.
*yang gila sebenernya author T^T hikz hikz hikz*

#####Asrama Akademi Kkotbi#####

”Permisi.”
seorang gadis menoleh. Jantungnya terasa berhenti berdegup.
”Mianhae, apa aku menagetkanmu?” tanya pria bertinggi 175 cm.
Gadis itu menggeleng.
”Aku ingin bertanya boleh?” tanya pria itu lagi.
Gadis itu menelan ludah kemudian mengangguk.
”Kau kenal dengan Lee Hyerin?”
”Mwo?” sahut gadis itu.
”Hyerin.” ulang Donghae.
”Sepertinya dia belum kembali ke asrama. Ku dengar salah sahabatnya ketimpa musibah.”
”Apakah di sina di larang menyalakan HP?”
”Eh? Mwo?”

*)To be continue….

Iklan

4 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s