Raining

Standar

image

image

image

image

Location in Japan.In about FT Island’s story. Before they knew as FT Island. It’s little story but deep in our heart.

<p>Genre: Endless Story (Spring)

Rate: PG

Jonghun menatap langit. Kemudian ia memejamkan matanya. Membiarkan angin musim semi menerpa wajahnya. Rasanya sejuk. Sejuk sekali. Ia menghirup udara musim semi yang begitu menenangkan. Tak lama kemudian setetes air jatuh mengenai wajahnya. Ia tidak berkutik. Hingga beberapa tetes jatuh membasahi wajahnya barulah ia membuka matanya. Langit tak lagi biru. Udara semakin dingin. Ia bergegas kembali ke rumah.
Ia berhenti di atas batu besar. Ia ingat peristiwa beberapa tahun yang lalu. Saat ia berusia delapan tahun. Ia pernah mengikat janji dengan seorang gadis di atas batu besar yang ia injak. Ia berjanji akan kembali untuk menemui gadis itu. Bersamaan dengan itu hujan mulai mengguyur tubuhnya.
Ia kembali memandang langit. Ia merasa ada sesuatu yang terlupakan. Lalu ia kembali berjalan. Di tengah jalan ia berhenti. Tepat di jembatan. Ia melihat seorang gadis berdiri tanpa alas kaki menari-nari. Matanya terpejam. Seketika itu Jonghun teringat gadis yang ada di masa kecilnya. Gadis itu juga melakukan tarian serupa saat hujan turun.

“Ame~” ucap Jonghun.
Gadis itu berhenti menari. Ia menatap Jonghun. Beberapa saat kemudian ia tersenyum.
“Akhirnya kau datang juga.” ucapnya.
“Kau benar Ame?” tanya Jonghun.
Gadis itu mengangguk.
Ia berjalan mendekati Jonghun kemudian menarik Jonghun. Mengajak laki-laki itu berlari bersamanya.
Jonghun tidak keberatan. Ia malah senang. Senyumnya mengembang. Ia merasa bebas.
Beberapa menit kemudia ia sampai di suatu tempat.
“Kau ingat tempat ini?” tanya gadis bernama Ame.
Jonghun mengangguk.
“Ini tempat pertama kali kita bertemu.” ucap Jonghun.
Ame tersenyum. Ia mentap Jonghun tanpa henti. Menyadari sedang diperhatikan Jonghun bertanya,
“Ada apa?”
Ame menggeleng.
“Sebentar lagi cerah. Aku harus cepat kembali. Sampai bertemu lagi.” ucap Ame lalu berlari meninggalkan Jonghun.
“Padahal aku mau bersamamu lebih lama lagi.” ucap Jonghun.

#########

Hongki mendesah. Ia tidak dapat keluar dari stasiun karena hujan. Ia berharap ada orang yang meminjamkannya payung.
Seperti dapat membaca pikiran Hongki, seorang gadis memberikan payung kepada Hongki. Hongki mentap gadis itu dan mulai berpikir.
Gadis itu mulai berceloteh dan bertanya kepada Hongki. Hongkipun menjawabnya. Gadis itu tak lain adalah Higasa. Ia memang berkerja seperti itu. Meminjamkan payung kepada orang-orang yang tidak membawa payung di stasiun saat hujan.
Di jalan Hongki beberapa kali menatap gadis itu. Higasa tidak menyadari tindakan Hongki. Hongki masih ingat. Saat masih sekolah ia sering kali bertemu Higasa saat hujan turun. Ia bahkan sengaja tidak membawa payung sepanjang musim semi agar Higasa dapat mengantarnya pulang. Ia selalu berceloteh saat perjalanan pulang. Tak jarang celotehannya membuat Higasa tertawa.
Tapi kali ini Hongki memilih untuk tidak banyak berbicara. Ia hanya bertanya-tanya sedikit kepada Higasa. Ia menyadari bahwa Higasa tidak mengenalnya lagi.
Saat sampai tempat tujuan, Hongki memberinya uang sesuai tarif. Dan ia memandang Higasa hingga ia menghilang dari penglihatannya.

*********

Minhwan duduk mengeluh mentap langit. Kemudian matanya menatap sosok yang ia kenal. Ia terkejut.
“Hyung~ kenapa basah kuyup begitu?” tanyanya.
“Ame” jawab Jonghun singkat lalu masuk ke dalam rumah.
“Ame? Padahal tidak ada Ame. Langit memang mendung tapi tidak turun hujan.” gerutunya.
Ia mendesah lagi.
“Kenapa tiap kali ke Jepang selalu hujan ya?”
Dia menggeleng.
“Tiap kali ke kota ini selalu hujan. Waktu ke Tokyo tidak hujan.”
Ia memejamkan matanya.
“Sepertinya akan turun hujan. Lebih baik aku masuk ke dalam menonton tv.”

#######

“Hongki? Ku kira kau datang besok.” seru Jaejin begitu melihat Hongki masuk ke dalam rumah.
“Ada orang yang membantalkan perjalanannya jadi aku dapat kemari lebih awal.” jawab Hongki.
“Kenapa tidak telpon agar aku dapat menjemputmu?” tanya Jaejin.
“Aku tidak ingin merepotkanmu.” ucap Hongki.
“Tapi kau bawa payungkan? Di luar hujan.” ucap Jaejin.
“Tidak. Higasa mengantarkanku.” ucap Hongki.
“Gadis payung itu? Kau masih menyukainya?” tanya Jaejin.
Hongki hanya diam.
“Di mana nenek?” tanya Hongki.
Lalu Jaejin mengantarnya.

*********

“Hyung kau mau kemana?” tanya Minhwan melihat Jonghun mengambil payung.
“Menemui seseorang.” jawab Jonghun.
“Nugu?” tanya Minhwan.
“Chingu.” jawab Jonghun.
“Hyung punya teman di kota ini?” tanya Minhwan ingin tau.
Jonghun mengangguk.
“Tapi sekarang hujan hyung, sudah malam pula. Lebih baik hyung temui dia besok.” ucap Minhwan.
Jonghun tersenyum. Ia tidak menggubris saran dongsaengnya. Ia keluar rumah. Ia membuka payungnya dan bergegas menujuh ke suatu tempat.

########

“Aku masih penasaran dengan Higasa. Seperti apakah dia sehingga membuatmu seperti ini.” cletuk Jaejin mendekati Hongki yang duduk menonton tv.
“Dia gadis yang ceria. Meski hujan ia selalu tersenyum. Meski ia basah kuyup ia tetap tersenyum. Ia selalu tersenyum kepada siapapun. Senyumannya itulah yang aku suka. Ia bagaikan matahari yang bersembunyi di balik payung. Aku merasa nyaman berada di dekatnya.” terang Hongki.
“Kau sudah tau nama aslinya?” tanya Jaejin.
“Belum.” Jawab Hongki.
“Kenapa tidak kau cari tau?” tanya Jaejin.
“Tidak ada yang tau siapa dia sebenarnya. Ia selalu bungkam jika di tanyai soal nama.” ucap Hongki.
“Katakan kepadaku sejujurnya. Alasan kau kemari karena nenek sakit atau karenanya?” tanya Jaejin ingin tau.
Hongki menunduk lalu menatap Jaejin.
“Keduanya.” ucap Hongki.
“Aku sayang nenek. Aku ingin menjenguknya. Aku ingat bahwa ini musim semi. Niatku untuk menjenguknya secepatnyapun bertambah. Karena aku ingin bertemu dengan cinta pertamaku. Aku kemari untuk bertemu dengan dua orang yang aku sayangi.” terang Hongki.

*********

“Kau sudah makan?” tanya sebuah suara.
Jonghun terkejut. Ia membalikan tubuhnya dan ia melihat seorang gadis dengan jas hujan tranparan tersenyum kepadanya. Gadis itu tidak lain adalah Ame.
“Belum.” ucap Jonghun.
Gadis itu mendekati Jonghun. Ia menarik tangan Jonghun dan membawanya ke sebuah kedai.
“Hari ini aku yang traktir. Hitung-hitung untuk merayakan kedatanganmu.” ucapnya sembari melepaskan jas hujannya.
Ia meletakkan jas hujannya di gantungan yang berada di dekat mulut kedai. Jonghunpun meletakkan payungnya di dekat mulut kedai.
“Tolong makanan special malam ini dua.” ucap Ame kepada pemilik kedai.
Lalu mereka berdua duduk.
“Apakah di sana dingin?” tanya Ame membuka pembicaraan.
Jonghun tampak bingung. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan Ame.
Ame tersenyum.
“Apakah di Korea dingin?” tanyanya sekali lagi.
“Jika musim panas rasanya tidak dingin sama sekali.” jawab Jonghun.
Merekapun tertawa.
“Kau tidak menangis di tengah hujan lagi kan?” tanya Ame bertopang dagu menatap Jonghun.
“Tidak. Aku bukan anak kecil lagi.” ucap Jonghun.
“Kau masih ingat kata-kataku dulu?” ucap Ame.
Jonghun mengangguk.
“Saat hujan kita tidak boleh menangis karena hujan adalah karunia. Kita harus tersenyum saat hujan.” ucap Jonghun.
Ame mengangguk -angguk.
“Tapi aku tidak melihatmu tersenyum saat ini.” ucapnya.
Langsung saja Jonghun menampakan senyumnya yang menawan.
“Nah begitu lebih baik.” ucapnya.
“Bagaimana keadaanmu selama ini?” tanya Jonghun.
“Baik.” jawab Ame.
“Dua tahun yang lalu saat musim panas aku kemari, aku tidak menemukanmu. Setahun yang lalu saat musim dingin aku mendengar kau ke luar kota untuk berobat. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?” tanya Jonghun penasaran.
“Ini menu special pesanan kalian. Selamat dinikmati.” ucap pemilik kedai meletakkan pesanan makan malam special di depan Ame dan Jonghun.
Ame terdiam seakan-akan Jonghun tidak mengatakan apapun. Jonghun berpikir untuk tidak menanyakannya lagi malam ini. Mungkin Ame belum bisa mengatakannya.
Mereka sama-sama diam atau mereka sama-sama menikmati makan halam. Suasana menjadi hening. Titik-titik hujan terdengar jelas. Titik hujan itu bagaikan musik yang indah. Seakan-akan mereka terbuai dengan pesona alunan hujan yang indah.
Jonghun baru menyadarinya. Ia terdiam memandang ke arah di mana suara titik hujan itu terdengar jelas.
“Seperti musik.” ucap Ame.
Jonghun terkejut. Lagi-lagi Ame dapat membaca pikirannya. Gadis itu sejak kecil membuat Jonghun terkagum-kagum.
“Aku tidak pernah kesepian mendengarkannnya. Melodinya sangat indah.” Lanjut Ame.
“Aku menyukai musik. Sepertinya hujan akan menjadi inspirasiku.” ucap Jonghun menatap Ame.
Hujan yang ia maksud adalah gadis yang ada di sampingnya. Gadis hujan yaitu Ame. Gadis itu yang merubah Jonghun. Gadis yang membuat Jonghun untuk tetap bermimpi dan tersenyum.

#########

Pagi-pagi sekali Jaejin keluar rumah. Ia berjalan menujuh ke suatu tempat.
“Semoga masih ada.” ucapnya di tengah jalan.
Tak berapa lama kemudian ia berada di sebuah tempat yang penuh dengan bunga berwarna putih. Ia tersenyum. Ia berjongkok dan mencium aroma bunga itu dengan mata terpejam. Beberapa detik kemudian air matanya jatuh mengenai mahkota bunga.

“Hana~ aku kembali.” ucapnya.
Ia membuka matanya kemudian memetik beberapa tangkai bunga.
“Hitotsu… Futasu… Mittsu… Yottsu.. Itsutsu.. Muttsu.. Nanatsu…”
Ia menghitung tangkai bunga yang ia petik. Dengan mata berkaca-kaca.
Kemudian ia beranjak. Ia pergi meninggalkan tampat yang penuh dengan bunga.
Langkahnya semakin lama semakin berat. Lalu langkahnya terhenti ia berlutut di dekat gundukan tanah.
“Hana~ aku kembali.” ucapnya.
“Maaf aku baru mengunjungimu hari ini.” lanjutnya.
“Seminggu yang lalu aku tidak sanggup menemuimu. Aku baru bisa hari ini.” lanjutnya lagi.
Air matanya tak terbendung lagi. Ia menangis.
“Gomenasai Hana-chan. Gomenasai.” isaknya.
“Aku membawakan tujuh tangkai bunga untukmu. Semoga kau bisa memaafkanku.” isaknya tertunduk.
Dan kejadian itu ia ingat kembali. Kenangan yang selama ini membuatnya takut. Saat itu ia masih berumur sembilan tahun. Kala itu mereka sedang duduk-duduk menikmati indahnya musim semi. Hana tertidur. Ia menyandarkan kepalahnya di bahu Jaejin. Lalu udara semakin dingin. Langit tak lagi biru. Titik-tik hujan terasa membasahi tangan Jaejin.
“Hana~ sepertinya akan turun hujan. Sebaiknya kita pulang.” ucap Jaejin.
Hana hanya diam tanpa respon. Tangannya masih menggenggam erat tangan Jaejin.
Jaejin sadar tangan Hana semakin dingin. Ia semakin panik.
“Hana~” panggilnya.
Hujanpun turun. Dengan sigap ia menggendong Hana yang tidak sadarkan diri. Ia berlari membawa Hana.
“Tenanglah Hana, aku akan membawamu ke dokter. Bertahanlah.” ucapnya.
Di tengah jalan ia tersandung. Tubuhnya terhempas ke depan. Ia merasakan kepedihan di sekitar wajah, tangan dan kaki. Ia berusah keras bangkit. Tapi tidak bisa. Ia menatap Hana yang ada di punggugnya.
“Hana-chan~ go…me…na…sa…i” ucap Jaejin lalu tak sadarkan diri di tengah hujan.
Setelah peristiwa itu Jaejin pindah ke Korea Selatan. Ia tidak pernah kembali ke Jepang. Tidak pernah diizinkan ke Jepang karena peristiwa itu. Baru musim semi ini Jaejin kembali ke Jepang karena neneknya ingin bertemu dengannya.
“Kenapa kau tidak pernah cerita kepadamu jika kamu sakit Hana?” isak Jaejin.
“Doushite?” isaknya membenamkan wajahnya di gundukan tanah.
“Saat mengetaui bahwa kau mempunyai penyakit kanker darah aku semakin bersalah denganmu. Aku bodoh sekali. Okaasanmu meninggal karena kanker darah, jadi kemungkinan kau terkena penyakitnya itu. Harusnya aku menyadari itu saat melihat kau selalu memakai topi. Topi itu bukan untuk melindungimu dari sinar matahari atau membuatmu tampak lebih cantik lagi. Tapi topi itu kau gunakan untuk menutupi kepalahmu karena rambutmu rontok semua. Maafkan aku. Gomen baru menyadari itu semua.” ucap Jaejin.
Ia memejamkan matanya. Ia dapat merasakan hembusan angin. Angin musim semi yang ia rasakan dulu saat bersama dengan Hana. Ia juga merasakan sesuatu yang dingin membelai wajahnya.

*********

“Hyung kau tidak keluar?” tanya Minhwan.
Jonghun menggeleng.
“Padahal hari ini cerah sekali lho. Ayo kita keluar!” seru Minhwan.
Jonghun malah merebahkan dirinya kemudian memejamkan matanya.
“Ya sudah jika tak mau keluar, aku akan keluar sendiri.” ucap Minhwan lalu ke luar rumah. Ia berjalan ke toko bunga. Ia membeli bunga Aster.
Sebenarnya ia tidak berniat ke toko bunga, hanya saja kakinya melangkah ke toko tersebut. Tanpa berpikir panjang ia langkahkan kakinya ke suatu tempat. Ia pergi ke pemakaman.
“Eomma aku datang.” ucapnya ceria.
Ia duduk di sebelah makam eommanya dan meletakan bunga Aster di depan nisan eommanya.
“Sebenarnya aku ingin datang saat upacara pemakamanmu besok tapi aku sudah tidak sabar melihatmu.” ucap Minhwan.
“Udara hari ini cerah. Aku sangat menyukainya.” ucap Minhwan memandang langit.
“Oh ya eomma aku di terima di kedokteran. Aku akan menyembuhkan keluarga kita dan orang-orang. Jadi mereka bisa terselamatkan.” ucap Minhwan girang.
“Dan tak ada lagi kehilangan.” lanjut Minhwan lesu.
Ia memejamkan matanya. Udara semakin dingin, pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Ia masih bertahan di tempat. Tubuhnya terasa kaku. Kejadian beberapa tahun yang lalu teringat kembali.
Waktu itu hujan deras. Langit gelap. Lampu-lampu jalan menyala redup. Ia duduk menunggui eommanya yang sakit. Ia sangat takut. Ia memegangi tangan eommanya dan mengatakan semua akan baik-baik saja.
Ia tidak tahu kenapa eommanya tiba-tiba sakit. Padahal tadi pagi saat mengantarkan, haraboji, appa & hyungnya ke stasiun untuk mengikuti lomba di luar kota, eomma tampak baik-baik saja. Ia tampak sehat. Tapi sekarang tidak. Ia pun bertindak. Ia memberi pertolongan pertama kepada eommanya. Tapi penyakit eommanya tak kunjung redah. Semakin lama semakin buruk.
Ia pun keluar rumah mencari pertolongan. Ia berkeliling mencari dokter atau toko obat. Karena jalanan licin ia beberapa kali jatuh. Kaki dan tangannya lecet. Angin yang kecang menghempaskan payungnya sehingga ia kehujanan. Tapi keadaannya itu tidak membuatnya pasrah. Ia tetep berjalan dengan gemetaran karena dingin & luka.
Setelah satu jam mencari seseorang bertanya kepadanya,
“Kenapa malam-malam & hujan begini kau ada di luar nak?”
“A…a…ku… men…ca….ri… se…o….rang… dok…ter…” jawab Minhwan terbata-bata.
“Aku seorang dokter. Ada apa mencariku?” tanya orang itu.
Minhwan menangis.
“Okasan….ku… sakit….” Jawab Minhwan secepat yang ia bisa.
Lalu tak berapa lama kemudian mereka berjalan ke rumah Minhwan. Saat tiba, dokter langsung memeriksa keadaan okasan/eomma Minhwan. Dengan berat hati dokter itu mengatakan bahwa okasan Minhwan sudah meninggal dunia. Minhwan langsung keluar rumah. Di tengah hujan ia menangis.
Semenjak kejadian itu ia bertekad menjadi dokter. Kini ia membuka matanya. Ia memeluk batu nisan eommanya.

#########

“Sepertinya akan turun hujan, apa Jaejin membawa payung?” tanya seorang wanita tua.
“Sepertinya tidak, nek. Jumlah payung tidak berkurang.” jawab Hongki.
“Temui dia, suruh pulang & jangan lupa bawa dua payung!” perintah nenek.
“Tapi nenek bagaimana?” tanya Hongki.
“Tidak apa-apa. Aku sudah lebih baik karena melihat cucuku ada di sini.” jawab nenek.
Hongki tersenyum. Lalu dia pergi dengan membawa dua payung. Ia menatap langit. Langit tak lagi biru tapi abu-abu. Angin bertiup cukup kecang. Ia bergegas berjalan. Ia berpikir kemana peginya Jaejin lalu ia teringat.
“Hana~”
Ya, Hana adalah yang ingin Jaejin temui. Pasti ia menemui Hana. Gadis yang sejak dulu Jaejin cintai. Karena Hana Jaejin tak pernah membuka hatinya untuk gadis lain.
Karena selama ini kebenaran tentang Hana disembunyikan. Saat itu Hana yang digendong Jaejin sudah tak bernyawa. Hana sudah meninggal saat bersama Jaejin di taman bunga.
Semua orang tak tega memberi tahu kebenaran ini kepada Jaejin yang masih kecil. Hingga akhirnya orang tua Jaejin membawa Jaejin ke Korea. Mereka memutuskan tinggal di sana.
Kemarin malam Jaejin sudah mengatakan bahwa ia akan menemui sesorang keesokan harinya saat mereka hendak tidur. Hongki takut Jaejin melakukan hal bodoh. Apakah Jaejin sudah tau bahwa Hana sudah meninggal?

*********

Jonghun kebingungan mencari adiknya. Appanya menyuruhnya untuk mencari adiknya itu karena sudah beberapa jam ia belum kembali. Ia berkeliling ke sana kemari. Ia tidak dapat berpikir lalu hujan turun. Seseorang menyodorkan payung kepadanya.
“Pakailah.” ucapnya.
Jonghun membuka payung pemberian orang itu dan mengucapkan terima kasih.
“Kau sedang mencari seseorang?” tanya orang asing itu.
“Iya, aku mencari adikku.” ucap Jonghun.
“Sama, aku juga mencari seseorang. Dia sepupuku. Sepertinya dia ke kuburan.” ucap orang itu.
“Oh ya watashi no namae wa Cho Jonghun. Anata no namae wa desuka?”
“Kau orang Korea? Aku Lee Hongki.”
Jonghun tersenyum.
“Appaku orang Korea, eommaku orang Jepang. Kau sendiri?” ucap Jonghun.
“Hampir sama. Bedanya Kakekku Korea Nenekku Jepang.”
Mereka berdua tertawa di tengah hujan.
“Kuburan. Kenapa tidak terpikirkan olehku. Kau kekuburankan?” cletuk Jonghun teringat sesuatu.
“Iya. Ada apa?” sahut Hongki.
Sepertinya adikku kekuburan. Sebaiknya aku bergegas.” ucap Jonghun khawatir.
Akhirnya mereka bergegas ke kuburan.
Jonghun berlari ke makam eommanya begitu melihat Minhwan tertunduk di dekat makam eommanya.
“Minhwan, kau tidak apa-apa?” tanya Jonghun mendekatkan diri ke Minhwan agar adiknya tidak kehujanan.
Minhwan mendongak.
“Aku tidak apa-apa hyung. Hanya kangen saja dengan eomma.” ucapnya.
“Ayo pulang dan makan. Kau belum makankan? Besok adalah peringatan kematian eomma, kau tidak boleh sakit.” ucap Jonghun.
“Aku mengerti. Aku tidak mau membuat eomma menangis.” ucap Minhwan.
Mereka bernajak pergi lalu langkah Jonghun terhenti.
“Ada apa hyung?” tanya Minhwan menggigil.
Jonghun melepaskan jaketnya lalu menyelimutkan kepada adiknya.
“Gomawo hyung.” ucap Minhwan.
“Kita tunggu mereka dulu ya. Ini payung milik mereka.” ucap Jonghun menunjuk Hongki dan Jaejin.

#########

Jaejin merasa rintikan hujan tidak mengguyur tubuhnya. Ia mendongak dan mendapati Hongki berada di sampingnya.
“Kau mau membuatnya terluka?” ucap Hongki.
Jaejin tak mengerti.
“Sampai kapan kau menangis & bertingkah seperti ini? Dia pasti sangat terluka. Dia tidak ingin di tangisi. Maka dari itu tak seorangpun memberitahumu hal ini.” ucap Hongki.
Jaejin menelan ludah memandang Hongki. Air matanya menetes lagi.
“Bangunlah, kau harus kuat.” ucap Hongki mengulurkan tangannya.
Jaejin menerima uluran tangan Hongki lalu ia berdiri.
“Nenek mencarimu, sebaiknya kita cepat pulang.” ucap Hongki.
Lalu mereka berdua berjalan meninggalkan kuburan Hana.
“Hai.” sapa Jonghun di tengah jalan.
“Hai, kau tidak pulang?” sahut Hongki.
“Aku menunggu kalian.” ucap Jonghun.
“Untuk apa?” tanya Hongki.
“Bisakah kalian ke rumah kami? Aku harus mengembalikan payung ini kepadamukan?” ucap Jonghun.
“Oh karena payung. Sudah kau ambil saja.” ucap Hongki.

*********

Hari ini Jonghun dan keluarganya ke keburan eommahnya karena hari ini hari peringatan kematian eommanya. Mereka sembahyang untuk mendoakan arwah eommanya. Tanpa sadar Jonghun menangis. Ia ingat sejak kematian eommanya dia menghilang. Ia menangis di tengah padang hingga hujan turun hingga gadis itu datang membantunya.
Tik… Tik… Tik… Tetes air hujan mulai turun. Appanya mengajaknya pulang tapi ia tidak inging pulang. Ia menyuruh appanya serta yang lain pulang terlebih dahulu.
Saat ini hanya ia dan Minhwan. Minhwan memandang makan eommanya.
“Semua telah berlalu. Sudah sangat lama. Tapi entah kenapa rasanya seperti baru-baru ini terjadi.” ucap Minhwan memecah kehinangan.
Jonghun hanya diam membisu. Ia mendongakkan wajahnya dan mentap langit.
Titik hujan menerpa wajahnya. Hujan mengguyur tubuhnya.
“Ini karena hujan. Hujan turun saat itu. Hujan menyaksikan kejadian itu. Saat hujan turun lagi, kenangan itu kembali lagi.” cletuk Jonghun lalu menatap adiknya.
“Ame~” ucapnya lagi.

#########

Hari ini Hongki bertemu dengan Higasa. Tidak seperti biasanya. Ya pertemuannya kali ini tidak biasa. Setiap hari hujan Higasa selalu membawa payung. Kali ini tidak. Malah Hongki yang membawa payung.
Hongki berjalan mendekati gadis yang berteduh di bawah pohon itu. Gadis itu tidak menyadari kehadiran Hongki.
“Kemana payungmu?” tanya Hongki.
Gadis itu terkejut.
“Maaf aku mengejutkanmu?” tanya Hongki kemudian.
Gadis itu hanya tersenyum.
“Tumben sekali kau tidak membawa payung.” ucap Hongki melipat payungnya kemudian berdiri disamping Higasa. Bersandar di bawah pohon Sakura yang rindang.
“Aku lupa.” ucap Higasa.
“Itu aneh.” sahut Hongki.
Higasa tertawa kecil.
“Aku benar-benar lupa jika payungku sudah ku jual. Bukan lupa membawanya.” ucapnya.
Hongki tertegun.
“Kenapa kau menjualnya?” tanya Hongki.
“Aku butuh uang waktu itu.” ucap Higasa.
“Baiklah. Kuberikan payung ini kepadamu.” ucap Hongki menyodorkan payung miliknya ke Higasa.
“Tidak usah.” tolaknya.
“Baiklah aku akan meminjamkan padamu.” ucap Hongki.
“Meminjamkan?” sahut Higasa.
Hongki mengangguk.
“Aku meminjamkan kepadamu sampai kau dapat membeli payung lagi.” ucap Hongki.
Hongki membuka payungnya.
“Ayo!” ucapnya menarik tangan Higasa.
Mereka berdua berada dalam satu payung. Lalu mereka berjalan berdua.
“Aku tidak pernah tau namamu. Sebenarnya siapa namamu?” tanya Hongki.
Higasa hanya diam.
Hening~
“Hikari. Watashi no namae wa Hikari desu.” ucap Higasa memecah keheningan.
“Hikari? Nama yang bagus. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.” ucap Hongki.
“Di Jepang memang banyak sekali orang bernama Hikari.” ucap Higasa yang bernama asli Hikari.
“Oh ya aku sampai lupa. Namaku Hongki.” cletuk Hongki tersenyum kepada Hikari.

***********

“Hyung, tiga hari lagi kita kembali ke Korea. Tapi aku masih ingin di sini.” ucap Minhwan menyandarkan dagunya di atas meja hangat.
“Aku juga ingin berada di sini lebih lama lagi. Aku menyukai hujan di kota ini. Aku mencintai hujan.” ucap Jonghun memandang ke luar.
“Hyung~” panggil Minhwan.
“Hm~” sahut Jonghun.
“Kau sedang jatuh cinta?” tanya Minhwan.
“Mungkin.” ucap Jonghun datar.
“Dengan siapa?” tanya Minhwan penasaran.
“Bukankah aku sudah mengatakannya.” ucap Jonghun lalu beranjak pergi meninggalkan Minhwan.
“Hujan? Ame? Apa dia benar-benar mencintai Ame? Tapi dia sering keluar di kala hujan. Seperti menemui seseorang. Aku harus mengikutinya. Pasti saat ini hyung mau bertemu dengan orang yang ia cintai.”
Minhwan memutuskan mengikutinya.

#########

Keesokan harinya Hongki mendapati Hikari berada di depan rumahnya. Dengan membawa payung milik Hongki.
“Kenapa kau di sini?” tanya Hongki.
“Apa kau tidak suka aku menemuimu?” sahut Hikari.
Hongki salah tingkah, “Aku tidak bermaksud seperti itu.”
Hikari tersenyum.
“Ayo ikut aku!” serunya.
Hongki menuruti permintaan Hikari. Mereka berdua berjalan di tengah hujan. Beberapa menit kemudian mereka tiba di suatu kedai.
“Kau sudah makan?” tanya Hikari ketika berada di dalam kedai.
Ia meletakkan payung di sudut ruangan.
“Belum. Aku tadi keluar berencana untuk membeli makanan.” ucap Hongki.
“Kau mau makan apa? Nanti aku buatkan.” ucap Hikari.
“Kau yang membuat?” sahut Hongki tak percaya.
Hikari mengangguk.
“Apa sajalah yang penting enak.” ucap Hongki riang.
Lalu Hikari masuk ke dalam suatu ruangan.
Di suatu sudaut ia melihat seorang bapak yang sibuk membuat mie. Seketika itu ia ingat. Ya, dia adalah pemilik kedai ini.
“Paman sudah berapa lama Hikari bekerja di sini?” tanya Hongki.
“Sudah lama. Tapi saat hari cerah. Jika hujan seperti ini dia datang saat malam hari untuk membantuku mencuci mangkuk dan piring.” jawab paman pemilik kedai.
Ia berjalan mendekati Hongki.
“Jangan pernah menangis.” ucap paman itu.
Hongki tidak mengerti. Baru pertama kali ia melihat pemilik kedai itu berwajah sangat serius.
Lalu seseorang masuk ke dalam kedai.
“Seperti biasanya.” ucap orang itu.
“Jonghun.” cletuk Hongki.
Orang itu menoleh ke arah Hongki.
“Ah Hongki. Kau makan di sini juga.” ucap Jonghun lalu duduk di sebelah Hongki.
Hongki mengangguk.

********

“Hyung sangat aneh. Benar-benar aneh. Sebenarnya ada apa dengannya. Apakah dia mempunyai kenangan dengan seseorang di tempat itu?” gerutu Minhwan.
“Hei bocah!” seru seseorang.
Minhwan membalikkan badannya.
“Jaejin hyung.” ucap Minhwan.
“Kau dari mana?” tanya Jaejin mendekati Minhwan.
“Membuntuti Jonghun hyung.” jawab Minhwan.
“Membuntuti?” sahut Jaejin.
Minhwan mengangguk.
“Dia selalu pergi ke bukit, jembatan dan tempat lainnya saat hujan. Dia tidak menemui siapapun tapi dia seakan-akan menemui seseorang. Ia seringkali berbicara sendiri.” tutur Minhwan.
Jaejin tersenyum.
“Aku mengerti. Kita bicarakan di rumahku ya. Sekalian makan siang. Kau belum makan bukan?”
Minhwan mengangguk.
Mereka berdua berjalan menujuh rumah nenek Jaejin.
Saat di dalam rumah mereka bercerita.
“Menurutku biarkan saya hyungmu seperti itu.” ucap Jaejin.
“Tapi aku takut dia kenapa-kenapa.” ucap Minhwan khawatir.
“Dia sudah dewasa.” ucap Jaejin.
“Ya kau benar. Tapi siapa Ame yang dia maksud apa ame itu?” sahut Minhwan lalu menunjuk ke luar, ke hujan.
Jaejin menggeleng.
“Baiklah kita cari tahu setelah ini. Seingatku dulu aku Hana pernah cerita ia mempunyai teman bernama Ame.” ucap Jaejin lalu melahap makanannya.

#########

“Kau mengenal Ame?” sahut Hikari ketika Jonghun membicarakan Ame.
Jonghun mengangguk.
“Kau mengenalnya?” tanya Hongki kepada Hikari.
“Ya. Dia temanku sejak kecil. Kami hanya bertemu saat musim dingin dan musim semi.” Tutur Hikari.
“Kau tau rumahnya?” tanya Jonghun.
Hikari terdiam.
“Kenapa diam?” sahut Hongki.
“Aku, Ame, Hana sering bermain di bukit waktu kecil. Kami tidak pernah mengetaui di mana tempat tinggal satu sama lain.” terang Hikari.
“Hana?” sahut Hongki.
Hikari mengangguk.
“Hana kekasih Jaejin dulu kau ingat?” ujar Hikari.
“Kau kenal Jaejin?” sahut Hongki.
“Hana sering bercerita tentangnya. Aku pernah bertemu dengannya sekali. Waktu bertemu Jaejin. Dia sering menceritakanmu kepadaku.” terang Hikari.
“Apa yang ia bicarakan?” tanya Hongki.
“Ia harap aku dapat menemuimu.” ucap Hikari.
Hongki tertawa.
Hikari memandang Jonghun. Namja itu tampak sedih.
“Pemilik kedai juga tidak memberi tauku di mana Ame sekarang. Ia seperti menghilang.” ucap Jonghun.
“Dia sudah lama pergi.” ucap Hikari.
Jonghun menatap Hikari tajam.
“Coba kau tanyakan kepada Yuko.” ucap Hikari.
“Siapa Yuko?” tanya Jonghun.

********

Jonghun sudah tiba di tempat seperti yang di katakan Hikari. Sebuah rumah yang bernuansa tradisional sangat tradisional. Ia masuk ke dalam rumah itu. Lalu ia melihat seorang namja berkacamata.
“Kau mencari Yuko?” cletuk namja itu.
“Dari mana kau tau?” sahut Jonghun terkejut.
“Ayo akan ku antarkan kau kepadanya.” ucap namja berkacamata itu.
Jonghun diantarkan ke sebuah ruangan. Di sana ada seorang yeoja berambut hitam lurus panjang.
“Dia sudah pergi untuk selamanya.” ucap Yuko saat Jonghun akan membuka matanya.
Jonghun terdiam.
“Kau mencari gadis bernama Ame bukan?” cletuk Yuko.
“Dia meninggal empat tahun yang lalu. Karena penyakitnya. Aku menaburkan abunya di bukit.” tutur Yuko.
Jonghun tak percaya.
“Penyakit apa? Sepertinya dia sehat-sehat saja.” ucap Jonghun.
“Kau tau kenapa dia selalu muncul di saat hujan?” sahut Yuko.
“Karena dia suka hujan.” jawab Jonghun.
“Karena dia tidak bisa hidup tanpa hujan. Dia memiliki kelainan. Ia tidak dapat terkena sinar matahari. Ia akan kesakitan jika terkena sinar matahari. Kulitnya akan terasa panas bagaikan di bakar.” terang Yuko.
“Kau bohongkan?” sahut Jonghun.
“Aku tidak pernah berbohong. Untuk apa aku berbohong.” ucap Yuko.
“Tidak kau bohong!!!” triak Jonghun.
Air matanya mengalir.
“Bagaimana bisa kau mengeramasinya. Kau bilang dia tidak kuat terkena api. Kau membunuhuhnya!!!” triak Jonghun.
“Dia meninggal dalam keadaan terbakar. Matahari yang membakarnya.” ucap Yuko
Jongun terhempas ke lantai. Ia menangis.
“Hapus air matamu. Dia tidak akan tenang jika kau terus-terusan mengeluarkan air matamu.” ucap Yuko.
Jonghun bangkit.
“Ini darinya.” ucap Yuko menyodorkan secarik kertas.

#########

“Hikari, kau belum mengatakan alasan kenapa kau tidak bekerja di kedai saat hujan.” rengek Hongki saat mereka berdua berjalan di tengah hujan.
“Aku menanti seseorang.” cletuk Hikari.
“Siapa?” tanya Hongki penasaran.
“Seseorang yang membuatku bersemangat hidup. Dialah yang memberiku kesempatan hidup selama ini. Maka dari itu aku selalu bekerja dengan payung. Berharap dapat menemuinya. Dan melihat senyumnnya.” terang Hikari.
Ada rasa sakit di hati Hongki mendengar perkataan Hikari.
“Sepertinya aku membuang waktumu. Kau carilah saja dia. Aku akan pulang.” ucap Hongki lalu berlari meninggalkan Hikari.
Hujan mengguyurnya. Pikirannya kosong. Ia tidak melihat jalan. Ia hanya berlari hingga…
“Hongki awas!!!” teriak Hikari yang sedari tadi mengejarnya.
Ia hempaskan payungnya dan mendorong Hongki kedapan. Ia terhempas di tengah jalan raya. Darah bercucuran dari kepalahnya.
“Hikari!!!” teriak Hongki mendekati Hikari.
Keadaan mulai ramai di jalan itu. Semua orang tertegun melihat kecelakaan itu.
Supir mobil yang menabrak Hikari turun. Ia panik.
“Hikari kau tidak apa-apa?” tanya Hongki panik.
Dari dahi Hongki keluar darah. Darah itu mengalir dan hujan menyapu darah dari wajah Hongki.
“Ka…ka…kau… a…da…lah… o…rang… yang…….. mem…beri…ku… ke…sem…pa…tan…. un….tuk…. hi…dup. Te…ri…ma… ka..sih Hong..ki.” ucap Hikari terbata-bata lalu tak sadarkan diri.
Hongki berteriak memanggil nama Hikari. Darah Hikari mengalir deras sederas hujan yang turun.

*********

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” tanya Jonghun terhadap gadis yang ada dihadapannya.
“Aku tak sanggup. Aku takut kau akan menangis.” ucap gadis itu.
“Bagaimana bisa kau muncul seperti ini jika kau sudah meninggal?” tanya Jonghun.
“Karena~ aku begitu mencintaimu.” ucap gadis itu.
“Lalu~ kenapa pemilik kedai dapat melihatmu? Dan kenapa kau tidak lagi muncul Ame?” Tanya Jonghun beruntun.
“Pemilik kedai dapat melihat makhluk sepertiku. Ia juga sangat mengenalku.” terang Ame.
“Jonghun~ jika kau merindukanku kau dapat menemuiku saat hujan di musim semi. Datanglah ke tempat ini dengan membawa bunga Aster. Aku akan muncul seperti ini.” lanjut Ame.
Jonghun tampak sedih.
Ame mengangkat kepalah Jonghun.
“Tolong jangan tampakkan wajah sedihmu. Aku harap kau mau menerima keadaan ini. Dan carilah kebahagianmu~ bahagiakanlah orang-orang di sekitarmu.” ucap Ame.

#########

Satu tahun kemudian

Jonghun membentuk sebuah band yang ia pimpin dengan nama FT Island. Anggota lainnya adalah adiknya, Hongki, Jaejin dan temannya Wonbin. Jonghun membuat sebuah lagu yang berjudul Rainning. Lagu itu diciptakan berdasarkan pengalaman pribadi mereka.
Setiap kali menyanyikan lagu itu Hongki melihat Hikari membawa payung diantara kerumuanan penonton dan ikut bernyanti. Tidak hanya Hongki, Jaejinpun juga. Ia merasakan Hana berada di depannya dengan membawa sebukut bunga. Minhwan merasa eommanya berada dibelakangnnya. Tapi yang paling menarik adalah Jonghun. Ia tidak hanya melihat tapi berbicara dengan Ame. Ia selalu membawa bunga aster agar dapat terhubung dengan Ame. Wonbin seringkali meneteskan air mata saat lagu Raining dimainkan.

—————–THE END————

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

7 responses »

  1. ff nya keren eonn >.<
    sebenernya jarang bgt baca ff kayak gini sering nya yaoi u.u tapi pas baca ff bagus di lanjut deh karena penasaran …

    kasian jonghun sama hongki , ame nya ternyata bkn manusia dia udah meninggal terus hikari T.T sampe nangis bacanya …

    eonni maaf komennya double , kepotong komenya ;/
    ^O^ ,..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s