사랑 빠지다 (Chapter 7)

Standar

image

Annyeonghaseyo ^^ saya kembali lagi dengan FF GJ ^^

Selamat menikmati =3

Cast: JYJ F4 Super Junior TVXQ

Rate: PG

Lyra Callisto / Kim Jaerin : adiknya Donghae

Matsuyama Hikari : Gadis Jepang anggota 5H

Song Hyekyu : Mencintai Kyuhyun, first lovenya

Han Heena       : Gadis yang kemarin hampir tertabrak, berharap menemukan seseorang yang mencintainya

Song Hyejin : Gadis egois yang melalukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan

Shim Hyunkyo : Adiknya Changmin, anak pemilik cafe

Lee Jaesi : Junior akademi Kkotbi, jatuh cinta pada Leeteuk pada pandangan pertama

Lee Jungsae : Teman sekelas Jaesi sekaligus sepupunya, hobi ngemil

Lee Hyerin : Mencintai Donghae, sering mendapatkan masalah

Aku akan selalu melindungimu

Menjagamu tiap waktu

Meski kau tak tahu

Asalkan aku dapat melihat senyummu

 

Tak peduli beberapa luka yang ku derita

Asalkan aku melihat senyummu

Semua derita ini akan sirna

Melayang jauh

 

Dan kini ku sadari

Degup jantungku mengatakan

Saranghae Pajida

Saranghae~ Saranghae~

Tatsuya mendesah, ia menekuk tekuk leher Hikari kemudian memberikan nafas buatan. Tiba-tiba saja Hikari sadar. Ia terseladak air. Ia memuntahkan air dan menggigil kedinginan. Tatsuya memeluknya, ia merai mantelnya dan menyelimuti Hikari dengan mantelnya itu.

”Bagaimana pendapat mu melihat gadis ini?” tanya Hyekyu pelan menunjuk Yuri.

Kyuhyun, Tatsuya, dan Hikari memandang gadis yang kini tampak terlihat berambut pendek sependek Hikari.

Hikari tidak percaya. Matanya tidak berhenti berkedip.

”Kau mirip denganku…” ucap Hikari pelan.

Hyekyu bingung. Ia tidak mengerti betul apa yang dikatakan Hikari. Bahasa Jepangnya tidak seberapa bagus.

”You are twins.” sahut Tatsuya tiba-tiba.

Hikari menatap Tatsuya.

”Nani?” tanyanya.

”Yuri Matsuyama, Hikari Matsuyama. Dua saudara kembar yang tidak pernah berjumpa sejak umur empat tahun.” ucap Tatsuya.

Yuri mengeleng tak percaya.

Hyekyu manggut-manggut. Ia senang Tatsuya menerangkan dengan bahasa Inggris.

”Apakah tak ada satu dari kalian yang tahu hal ini?” ucap Tatsuya.

Hikari menggeleng, Yuripun menggeleng.

”Jangan berbohong kepadaku Yuri!” bentak Tatsuya.

Ia berdiri menghadap Yuri.

”You knew everything! Aku tahu itu. Jika tidak mana mungkin kau menyamar menjadi saudara kembarmu? Membaca diarynya dan pura-pura tidak mengenalnya. Kau jahat sekali Yuri. Aku sudah tahu sejak awal. Jika bukan karena permintaan pamanmu, aku tidak mungkin menganggapmu. Mungkin sudah ku campakkan kau sejak dulu. Sejak setahun yang lalu. Persangkaanku selama ini benar. Kau bukan yang dulu lagi.” ucap Tatsuya penuh amarah.

Hikari terduduk tak mengerti. Ia mencoba mencernah perkataan Tatsuya. Tapi ia terlalu lemah. Dan ia pun pingsan.

”Hikari!” teriak Hyekyu mendekati Hikari.

”Kyuhyun carikan taksi.” pinta Tatsuya memandang Kyuhyun dengan tatapan tajam.

”Ne” jawab Kyuhyun singkat kemudian berlari ke jalan raya.

”Yuri-chan. Kau hidup dengan pamanmu dan Hikari-chan hidup dengan pamanmu yang lain. Kalian tidak pernah dipertemukan sejak kematian kedua orang tua kalian. Kau tahu kenapa?” ujar Tatsuya kesal.

Yuri hanya diam memandang Tatsuya ketakutan.

”Hikari tinggal di Osaka kau tinggal di Tokyo. Kau tinggal di Osaka, Hikari tinggal di Seoul. Alasannya mengapa seperti itu? Karena kalian saling histeris melihat satu sama lain. Kalian saling berteriak teringat kematian orang tua kalian.” ucap Tatsuya bergetar.

Ia mulai kedinginan.

Yuri mulai teringat sesuatu. Saat dimasa kecilnya.

#####Seoul 25 Desember#####

Lonely girl
nae maeumsogui lonely girl
nareul heundeuneun lonely girl
nal sarojabneun lonely girl
it’s a love

lonely girl
nae kkumgyeolgateun lonely girl
nareul gajyeogan lonely girl
nae sarangseureon lonely girl
the love is come tonight

Heena terbangun. Ia mengucek-ngucek matanya. Ia terbengong dan berkata.

”Di mana aku?”

Ia bangkit dari tempat tidur. Melihat sekeliling. Lalu matanya tertujuh kepada sosok yang tertidur di sofa. Ia memandangnya lekat-lekat. Lalu ia berpikir.

”Sepertinya aku pernah melihatnya di mana ya?”

Ia mendongakkan wajahnya mencoba mengingat. Lalu ia teringat.

Sesosok orang yang tidur di sofa mulai menggerakkan tubuhnya.

Dengan sigap Heena kembali keranjang dan menyelimuti dirinya lalu pura-pura tidur.

Orang itu mulai membuka matanya. Ia melirik ke Heena. Kemudian bangkit mendekati Heena.

”Jangan pura-pura tidur. Sebaiknya kau lekas mandi. Nanti akan ku suruh pembantuku mengantarkan pakaianmu.” ucapnya.

Heena membuka matanya pelan. Ia menatap sesok namja yang menurutnya lumayan tampan.

”Ne.” jawab Heena pelan.

Heena tampak gusar.

”Tenang saja, aku tidak akan mengintipmu. Aku akan ke kamar mandi orang tuaku untuk membersihkan diri.” ujar namja itu lalu meninggalkan Heena.

Heena membuka selimutnya kemudian turun dari ranjang.

”Ohya,” sahut namja itu memalingkan tubuh menghadap Heena.

”Siapa namamu?” tanyanya.

”Han Heena.” jawab Heena.

”Oh, aku Choi Siwon.” sahut Siwon. Ia tersenyum kemudian meninggalkan Heena.

#####Kamar Jaerin#####

Hajimal geol geuraesseo moreuncheok haebeorilgeol
Anboineun geotcheoreom bolsueopneun geotcheoreom
Neol aye bojimalgeol geuraetnabwa
Domangchil geol geuraesseo motdeuleuncheok geureolgeol
Deutjido motaneun cheok
Deuleul su eopneun geotcheoreom
Aye ne sarang deutji aneulgeol
Maldo eopsi sarangeul alge hago
Maldo eopsi sarangeul naege jugo
Sumgyeol hanajocha neol damge haenotgo
Ireoke domangganigga

Jaerin duduk di beranda kamarnya dengan berpakaian piajama biru mudanya. Ia menyentuh dadanya. Ia masih merasakan kesakitan. Lalu ia bangkit berjalan masuk ke dalam. Ia meneguk air yang terletak di atas meja kecil.

Setelah itu Jaerin duduk di depan Laptopnya. Ia membukanya. Dan mendapatkan e-mail masuk.

”Micky?” gumannya.

Ia langsung membuka e-mail dari Micky.

Jaerin sangat terkejut. Hatinya semakin sakit. Apa lagi kata-kata terakhir Micky di dalam e-mailnya.

‘Sepertinya mereka pacaran, kau tahu apa artinya? Tidak ada lagi Donghae yang menyayangimu…’

Butiran air mata Jaerin jatuh tetes demi tetes. Ia meyakinkan foto-foto yang di kirim Micky itu adalah Donghae.

”Ini… Benar foto Donghae oppa. Dia menggenakan pakaian itu kemarin lusa…” isaknya.

”Dan perempuan itu… Tidak salah lagi. Itu Hyerin…” isaknya lagi.

Jaerin meyentuh dadanya yang semakin lama semakin sakit.

”Kenapa? Kenapa aku menangis?” tanyanya terisak-isak.

#####Asrama Akademi Kkotbi#####

Hyejin terbangun. Ia terbelalak. Ia tidak percaya.

”Kya~ kemana anak-anak? Apa mereka menyusul Hyerin?” oceh Hyejin kesal.

Ia meraih HPnya. Kemudian memecet-mecet tombol. Lalu ia meletakkan HPnya di telingah kanannya.

Berapa detik kemudian, ia memecet-mecet tombol lagi. Ia melakukan hal yang sama.

Ia semakin kesal setelah berulang kali mencoba menelpon tapi tidak ada yang mengangkat.

”Apa Hyekyu masih marah denganku ya sehingga ia tidak pulang?” pikrinya.

”Lalu, kemana si Hikari dan Heena? Apa mereka mencari Hyekyu? Lalu kenapa tidak menelponku jika mereka mencari Hyekyu?” pikirnya kesal.

Lalu HPnya berbunyi. Tanpa melihat siapa yang menelpon ia mengangkatnya.

”Heena? Hikari? Atau Hyekyu? Kalian dimana?” oceh Hyejin dengan nada tinggi.

”Kecilkan suramu itu.” sahut suara disebrang sana.

”Minho?” sahut Hyejin terkejut.

”Ne. Kedua temanmu Hyekyu dan Hikari berada di rumah sakit. Tatsu…”

”Apa? Di rumah sakit? Ada apa dengan Hyekyu? Dia mencoba bunuh diri atau dia…” potong Hyejin.

”Aish~ bisakah kau kecilkan suaramu itu. Telingaku sakit tahu.” potong Minho.

”Mianhae. Ada apa dengan mereka?” tanya Hyejin.

”Nanti akan aku jelaskan di jalan.” sahut Minho.

”Mwo?” Hyejin mencoba memahami apa yang dikatakan Minho.

”Setengah jam lagi kau akan kujemput. Bersiaplah.”

”Menjemput?”

”Akan kuantarkan kau menemui mereka.”

Hyejin mengangguk. Ia tersadar bahwa ia sedang berbicara melalui HP, ia meralat.

”Ne.”

#####Hyunkyo dad’s Home#####

Hyunkyo celingukan di dalam rumah appanya. Ia mencari-cari penghuni rumah itu.

”Appa…” panggilnya.

”Oppa…” panggilnya.

Ia berjalan menujuh ruang tv. Ia mendapati appanya sedang menonton tv.

”Appa kenapa kau tidak menyaut tadi saat aku panggil?” tanya Hyunkyo cemberut.

”Joengmal mianhae Hyunkyo. Appa terlalu serius menonton tv.” jawab Jinsoek santai.

Hyunkyu duduk di samping appanya. Jinsoek membelai rambutnya. 
”Apa, ini sarapan untukmu.” cletuk Hyunkyo. 
”Kau sudah makan?” tanya Jinsoek. 
Hyunkyo mengangguk. 
”Oh ya appa? Dimana Changmin opha?” tanya Hyunkyo tiba-tiba. 
Jinsoek terdiam. Ia mengambil nafas panjang. Kemudian mengatakan. 
”Ia ada urusan yang harus diselesaikan.” ujar Jinsoek. 
”Urusan apa?” tanya Hyunkyo penasaran. 
”Urusan pribadinya. Ia mencari…” 
”Oemmanya?” potong Hyunkyo. 
”Kata oemma Changmin opha tidak tahu menau soal oemmanya yang pergi meninggalkannya.” lanjut Hyunkyo. 
”Ya seperti itu, dia juga…”

”Ah, appa kenapa kau tidak membantunya? Bagaimana juga oemmanya mantan istrimu juga. Kau yang lebih tahu darinya. Kau bagaimana sich?” potong Hyunkyo kesal.
”Aish~ kau tidak tahu juga ya. Ah~ kau sich suka tidur jika oemmamu menjelaskan sesuatu. Kau sama saja seperti ophamu.” ujar Jinsoek kesal.
Ia bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Hyunkyo.
”Apa aku salah bicara ya? Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Hyunkyo bingung.

#####Kediaman Callisto#####

Jujur aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya
Jujur aku bingung dengan perasaanku ini
Jujur aku merasa bukan seperti yang dulu lagi
Jujur aku sungguh mengagumimu

”Ada apa dengan Jaerin?” tanya Jaejoong kepada salah satu pelayan yang bekerja di kediaman Callisto.
”No… Eh maksud saya, Jaerin lagi ngambek. Sejak kemarin malam ia tidak keluar dari kamar. Tidak makan sama sekali. Saya dengar, Jaerin menangis di dalam kamar.” terang si pelayan.
”Apakah tidak ada yang bisa menghiburnya?” tanya Jaejoong cemas.
Pelayan itu menggeleng.
”Hanya ophanya bisa menghiburnya. Tapi ophanya itu belum pulang juga dari kemarin.” jelas si pelayan.
”Ne. Saya tahu itu. Donghae menelpon saya untuk mengganti posisinya, maksud saya menemani Jaerin. Bisa minta tolong serakan amplop ini kepada Jaerin?” ujar Jaejoong menyerahkan sebuah amplop.

”Ne. Saya akan menyerahkan ke non, eh Jaerin.” sahut pelayan itu kemudian tersenyum.
Jaejoong berjalan meninggalkan kediaman Callisto. Ia sedikit curiga, dalam hati ia berkata.
‘Pembantu tadi seringkali salah sebut memanggil Jaerin dengan sebutan non… Nona? Mungkinkah Jaerin itu cucu tuan Callisto? Tapi bukannya mereka berada di Prancis?’

#####Rumah Sakit#####

Hyejin berlari di lorong rumah sakit. Minho menarik tangannya.
”Minho lepaskan!” pinta Hyejin.
Minho malah mempererat cengkramannya.
”Kau tahu, ini rumah sakit. Bukan taman bermain. Jadi bisakah kau berjalan santai?” ucap Minho melototi Hyejin.
Hyejin tertunduk.
Mereka berjalan dan kemudian menatap sesosok orang yang familiar.
”Tatsuya!” sapa Minho.
Minho mempercepat langkahnya. Di susul Hyejin.
”Bagaimana keadaan Hikari?” tanya Minho.
”Dia baru sadar. Sekarang ia sedang berbincang dengan pamannya.” jawab Tatsuya pelan.
”Lalu di mana Hyekyu?” tanya Hyejin sepontan.
”Dia… Dia keluar membeli makanan. Mungkin akan sekalian ke asrama. Katanya sich begitu.” ucap Tatsuya gugup.
‘Untung aku gak keceplosan ngomong kalo’ Hyekyu keluar dengan Kyuhyun.’ batin Tatsuya. *koq Tatsuya mbatin gitu ya? readers bingung? Author tambah bingung*
”Apa aku boleh masuk?” tanya Hyejin polos.
”Oh tentu.” sahut Tatsuya.

Kemudian Tatsuya masuk ke dalam kamar Hikari di susul Hyejin dan Minho.
Melihat Hikari yang berada di atas ranjang, Hyejin langsung memeluknya.
”Hikari-ah kau baik-baik saja. Aku mengkhawatirkanmu. Ku kira keadaanmu parah.” ucap Hyejin kemudian melepaskan pelukannya.
Hikari tersenyum.
”Gomawo sudah mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja. Aku hanya shock saat itu, makanya aku pingsan.” ucap Hikari.
”Shock kenapa?” tanya Hyejin penasaran.
Raut wajah Hikari berubah. Ia membasahi bibirnya. Matanya tertujuh ke gadis yang duduk tertunduk.
Hyejin melirikan matanya ke gadis yang ditatap Hikari. Lalu ia memperhatikan bapak separuh baya yang ada di sebelah gadis itu.
”Hikari, itu pamanmu?” tanya Hyejin menunjuk bapak separuh baya.
Hikari mengangguk.
”Dia pamanku. Pamanku yang merawat saudara kembarku…” ucap Hikari pelan.
Hyejin menelan ludah mendengar perkataan Hikari.
Gadis yang tertunduk itu memperhatikan wajahnya. Hingga seisi ruangan dapat melihat wajahnya.
Minho terkejut.
”Yuri…” cletuknya.
Yuri menatap Minho kemudian berganti menatap Hikari.
”Watashi wa ayamaru desu. Aku bukanlah sesosok kakak yang baik. Hikari apakah kau mau memaafkan kakakmu yang jahat ini?” isak Yuri.
Hikari memandang lekat-lekat Yuri. Kemuidan Hikari tersenyum. Dengan lantang ia berkata,
”Kakushin shite iru!”

Yuri langsung beranjak dan memeluk Hikari. Ia menangis.
Sedangkan Hikari, ia meneteskan air mata. Ia tidak mempunyai rasa benci. Rasanya sungguh sakit jika ia membenci orang yang berusaha membunuhnya. Terlebih lagi dia adalah saudara kembarnya. Saudara yang telah lama hilang dari ingatannya.
Hyejin berjalan menujuh ke Tatsuya.
”Tatsuya opha, mereka ngomong apa sich?” bisik Hyejin.
Hyejin tidak mengerti bahasa Jepang.
Tatsuya hanya tersenyum simpul kemudian keluar dari ruangan.
Hyejin sempat melihat mata Tatsuya berkaca-kaca. Ia balik mendekati Minho.
”Minho, kau tahu apa yang dikatakan mereka?” tanya Hyejin.
”Jika kau panggil aku opha, aku akan menjelaskannya padamu.” ucap Minho.
Hyejin nyengir.
”Bilang saja gak ngerti. Aku tahu kau juga gak bisa bahasa Jepang bukan?” cletuk Hyejin.
Minho terdiam.
”Payah!” cletuk Hyejin.

#####Kediaman Choi#####

Nae nun majchwo jul suneun eobtnayo
Nae maeumeul deureobwayo
Nunbushin geudaereul barabolddae
Naui haruneun ddo shijagdoejyo

Nae maeume geudae gadeughaeseo
Pureun biteuro saragalddaeen
Jageun geudae moseubeul naui i maeumi
Ddaragajyo ddaragajyo

 

Siwon duduk di ujung meja makan. Sementara Heena duduk di sebelah kirinya.
”Oppa, kau tinggal sendiri di rumah ini?” tanya Heena tiba-tiba di tengah makan pagi. *bilang aja sarapan, author payah*
”Ne.” jawab Shiwon singkat.
Heena melanjutkan makan.
”Kau sendiri bagaimana?” tanya Shiwon balik.
”Aku tinggal di asrama.” jawab Heena singkat.
Kemudian keadaan kembali hening.
Selesai makan Shiwon bangkit.
”Ayo ku antarkan kau ke asramamu.” cletuk Siwon.

Heena mengangguk kemudian beranjak.
”Ohya oppa, apa kau tahu HPku?” tanya Heena.
”HPmu? Memang sebelumnya kau letakkan dimana?” tanya Siwon.

”Di kantongku ini.” ucap Heena menunjukkan kantong dimana ia meletakkan HPnya.
”Aku tidak tahu mungkin tertinggal di mobilku.” ucap Siwon kemudian berjalan ke luar rumah.
Ia membukakan pintu depan mobil untuk Heena. Heena masuk ia mengecek mobil Siwon.
Siwon masuk ke dalam mobilnya.
”Sudah kau temukan?” tanya Siwon.
Heena menggeleng.
”Belum.”
”Kemarin kau ku letakkan di belakang.”
Heena menengok ke belakang. Ia mencari-cari HPnya.
”Mungkin jatuh di bawah.” cletuk Siwon.
Heena merabah-rabah mencari HPnya di bawah.
Siwon turut membantu.
Lalu mereka menemukan sebuah HP bersamaan. Mereka saling bersentuhan.
”Ini HPmu.” ucap Siwon memberikan HP ke Heena.
Heena yang sedikit gugup menerimanya. *gak sedikit pasti banyak*
”Kau tinggal di asrama mana?” tanya Siwon kemudian menyalakan kendaraannya.
”eh….., a… Aku tinggal di asrama akademi kkotbi.” jawab Heena terbata-bata.
Siwon mengangguk. Ia menatap Heena. Lalu memasangkannya sabuk pengaman.
Heena bisa merasakan aroma Siwon. Ia semakin salting. Matanya mengerjap-ngerjap. Ia memandang layar HPnya. Dengan tangan gemetar ia mencoba mengutak-atik HPnya.
Siwon melajukan kendaraannya. Ia menyalakan radio. Kebetulan lagu yang di putar berjudul ~Saranghae Pajida~
”Mwo???” sontak Heena.
Siwon terkejut.
”Ada apa?” tanyanya penasaran.
”Oppa antarkan aku ke rumah sakit!” ucap Heena.
”Ne. Rumah sakit mana?”

#####Taman#####

Museunmaleul halji damun ibi
Honjaseo nollangeot gata
Maldo eopsi waseo
Wae ireoke apeunji wae jagguman apeunji
Neol bolsu eopdaneungeon
Nega eopdaneungeo malgo
Modu yejeongwa ddokgateungeonde

Jaerin terdiam memandang pria yang duduk di ayunan. Ia melihat pria itu memejamkan matanya dan mendongak ke atas.
Jaerin berjalan mendekati pria itu. Seketika itu juga salju turun. Jaerin mulai menangis.
Pria itu membuka kedua matanya. Ia memandang Jaerin. Lalu beranjak.
Pria itu mendekati Jaerin.
”Jangan menangis.” ucap pria itu sambil menyeka air mata Jaerin dengan sapu tangan putih.
Jaerin tetap mengeluarkan air matanya.
”Aku benci salju turun, Jaejoong oppa~” ucap Jaerin pelan.
Jaejoong mendekap Jaerin pelan. *akhirnya~*
”Jangan menyalahkan salju Jaerin. Salju turun bukan untuk mengolokmu. Salju turun untuk menghiburmu Jaerin. Menghiburmu yang sedang sedih.” ucap Jaejoong. Kemudian mengelus-elus rambut Jaerin. *duch jadi kucingnya Jaejoong*
”Nah, ayo kita berangkat!”ajak Jaejoong.
Jaerin melepaskan dekapan Jaejoong. Ia mengusap air matanya.

#####Cafe#####

Jaesi bertopang dagu memandangi langit yang kini turun salju. Sesekali ia melirik Jungsae yang sangat menikmati sandwichnya.
”Jaesi~” panggil Jungsae dengan mulut penuh makanan.
Lalu ia terseledak.
Jaesi hanya bisa mendecakkan lidah.
Jungsae meneguk minumannya.
”Mwo?” sahut Jaesi sinis.
”Tunggu aku sampai selesai makan pasta ya.” sahut Jungsae kemudian memperlihatkan deretan giginya.
”Aku mau tambah satu pasta dan kentang goreng. Dan mochahitto tentunya.” tambah Jungsae.
Jaesi menelan ludah. Ia hendak membentak Jungsae. Tapi ia didahului seorang pemuda.
”Ckckckck, I, Il, Sam. Kau sudah habis tiga porsi. Kau mau tambah lagi, eh? Hebat sekali.” cletuk pemuda berparas imut.

”Kimbum oppa~” sahut Jaesi terkejut.
Ia melirik pria yang berada di belakang Kimbum.
”Leeteuk oppa~” sahutnya lagi lebih terkejut.
Leeteuk tersenyum menunjukkan lesungnya. Membuat Jaesi tak berhenti berkedip.
”Kenapa dengan mukamu?” tanya Leeteuk kepada Jaesi.
Jaesi merogoh tasnya dan mengambil kaca hello kittynya. Ia bercermin mengecek wajahnya.
”Memang ada apa dengan wajahku oppa?” tanya Jaesi.
Leeteuk dan Kimbum tertawa.
Leeteuk menarik tangan Jaesi.
”Oppa~ apa yang kau lakukan?” tanya Jaesi bingung.
”Ikut aku.” sahut Leeteuk singkat.
Jaesi menuruti Leeteuk. Ia memasukan kembali cerminnya kedalam tas dan mengikuti Leeteuk.
”Jaesi-ah~ temani aku~” rengek Jungsae menatap Jaesi dengan wajah memelas.
Tapi Jaesi tidak peduli, ia melangkah mengikuti Leeteuk membawanya.
Kimbum duduk di hadapan Jungsae.
”Aku akan menemanimu.” cletuk Kimbum lalu tersenyum.
Jungsae menelan ludahnya sendiri. Ia merasa jantungnya berdegup kencang saat memandang lekat-lekat Kimbum.

#####Di tepi sungai Han#####

Aku tahu ini sungguh salah
Tapi aku tidak bisa membohongi diriku
Aku tidak kuat menahan air mata ini
Aku tidak kuat menahan rasa ini
Saranghae Pajida
Saranghae Pajida
Saranghae
Kata-kata yang inginku ucapkan kepadamu
Tapi ini sungguh salah

Hyunkyo memandangi layar ponselnya. Ia tersenyum memandangi foto Changmin yang sedang tidur. Kemudian ia gulirkan ke foto yang lain. Masih foto Changmin yang sedang tidur. Tapi kali ini foto Changmin dalam keadaan duduk di sofa. Lalu ia gulirkan lagi. Foto Changmin berdiri. Hyunkyo memamandangnya lekat-lekat. Lalu ia tertawa.
”Oppa~ kau mirip denganku. Aku juga sering tidur dalam keadaan berdiri. Tapi waktu masih kecil.” ucap Hyunkyo.
Lalu HPnya berdering.
Ternyata sebuah pesan.
Pesan dari Changmin.
Ia membacanya.

Hey, jangan senyum-senyum sendiri di tempat umum. Orang akan berpikir kau gila.

Hyunkyo terkejut. Ia menatap sekeliling mencari sosok Changmin yang mungkin berada tak jauh darinya. Lalu ia mendapati sesosok pria bertinggi 186 cm.

”Changmin oppa~” cletuk Hyunkyo. Ia bangkit dari dudukannya dan berjalan mendekati Changmin.
”Sejak kapan kau di sini?” tanya Hyunkyo.
”Ehm~” Changmin berpikir.
”Sejak~ sejak~ kau bangun dari tidurmu.” ucap Changmin lalu tersenyum.
”Oppa melihat aku tidur?” tanya Hyunkyo menarik pakaian Changmin sehingga Changmin menunduk.
”Ne. Kau jelek sekali waktu tidur.” ucap Changmin lalu tertawa.
Hyunkyo cemberut.
”Kau bahkan lebih jelek dariku.” ujar Hyunkyo.
”Oh ya. Aku dengar oppa sedang mencari oemma oppa. Apa sudah menemukannya?” tanya Hyunkyo serius.
”Hm… Ani~” sahut Changmin.
Ekspresinya berubah. Ia tampak sedih.
”Kenapa oppa tidak meminta bantuan appa? Appa pasti tahu dimana oemma oppa. Karena oemma oppa istri pertama appa.” cletuk Hyunkyo.
Changmin memandang Hyunkyo lekat-lekat. Ia tersenyum kemudian tertawa.
”Seharusnya kau mendengar apa yang dikatakan orang tuamu.” ucap Changmin.
”Mwo?” sahut Hyunkyo.
Changmin menarik tubuh Hyunkyo dalam dekapannya lalu mencoba menciumnya. Tapi Hyunkyo mendorong tubuh Changmin.
”Hya~ oppa~ apa yang kau lakukan!!!!! Aku ini yodongsaengmu. Tidak sepantasnya kau melakukan hal itu.” bentak Hyunkyo.
Nafasnya tidak teratur. Ia merasa jantungnya berdegup kencang.
Changmin tertawa.
”Hyunkyo-ah. Kau memang tidak mendengar perkataan oarng tuamu ya.” ucap Changmin.
”Mwo?”
”Jonun…”

*)To be continue…

 

komen please~

Iklan

3 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s