사랑 빠지다 (chapter 8)

Standar

Changmin 

사랑 빠지다

Cast: JYJ, DBSK, F4, Super Junior

Genre: Drama

Rate: PG

Series: Chapter 8 of 12

I Never Forget This

I’m sorry late post this chapter *bow*

Changmin menarik tubuh Hyunkyo dalam dekapannya lalu mencoba menciumnya. Tapi Hyunkyo mendorong tubuh Changmin.

”Hya~ oppa~ apa yang kau lakukan!!!!! Aku ini yodongsaengmu. Tidak sepantasnya kau melakukan hal itu.” bentak Hyunkyo.

Nafasnya tidak teratur. Ia merasa jantungnya berdegup kencang.

Changmin tertawa.

”Hyunkyo-ah. Kau memang tidak mendengar perkataan oarng tuamu ya.” ucap Changmin.

”Mwo?”

”Jonun… Aku bukanlah kakak tirimu. Aku tidak ada hubungan darah denganmu. Aku hanya anak angkat appamu. Appamu menumukanku di Amerika, karena iba ia mengankatku menjadi anak. Terlebih aku adalah anak korea. Ia tidak tega membiarkanku. Jadi jangan berpikir jika aku ini anak dari istri pertama appamu. Appamu kesal tahu, kau mengira begitu. Dan satu hal lagi yang direncanakan appamu. Kau tahu kenapa appamu selalu menyuruhmu menemaniku berkeliling?”

Hyunkyo masih terkejut. Bibirnya masih kaku. Ia meneteskan air matanya.

”Kenapa menangis.” ucap Changmin mengusap air mata Hyunkyo.

”Kau tahu kenapa appamu selalu menyuruhmu menemaniku berkeliling?” ulang Changmin.

Hyunkyo menggeleng.

Changmin membelai rambut Hyunkyo.

#####Rumah Sakit######

Heena tergopoh-gopoh keluar dari mobil. Ia berlari ke dalam rumah sakit dan bertanya di tempat informasi dimana Hikari dirawat saat ini. Kemudian ia berlari lagi. Siwon mengikutinya dari belakang. Lalu langkahnya terhenti.

“Waeyo?” tanya Siwon.

“Itu…” Heena menunjuk gadis berambut panjang.

Siwon melihat ke arah yang ditunjuk Heena.

“Itu Hikari.” Sahut Heena.

Gadis itu berjalan bersama bapak separuh baya melintasi Heena. Heena terheran-heran.

“Hikari-ssi.” Panggilnya.

Yuri menoleh.

“I’m sorry my name Yuri.” Cletuk Yuri kemudian berjalan meninggalkan Heena.

“Yuri?” cletuk Heena.

Lalu ia mendesah.

“Aku memang salah orang. Memang wajahnya mirip tapi Hikari tidak berambut panjang sepertinya. Dan mustahil baginya menggenakan pakaian feminim seperti itu.” ucap Heena.

“sudahlah sebaiknya kita berjalan lagi.” Ajak Siwon.

Kemudian mereka berjalan bersma.

Heena membuka pintu kamar Hikari lalu terdengar suara seseorang mengeluh.

“Auwh sakit~”

“Eh, Minho oppa. Joengmal mianhae. Aku tidak tahu.” ucap Heena.

Sementara itu, Hyejin dan Hikari tertawa.

“Hya!!! apa yang kau tertawakan Hyejin!” bentak Minho.

“Makanya jangan suka ngambek. Jadi kena pintu dech. Hahahahaha~” ucap Hyejin.

“Minhossi kau tidak apa-apa?” tanya Siwon.

Minho melirik pria yang berada di belakang Heena. Ia tertegun. Heena berjalan masuk menujuh Hikari.

“Siwon hyung? Kenapa kau di sini?” tanya Minho.

“Aku mengantarkan Heena.” Jawab Siwon.

Minho hendak bertanya lagi tapi Siwon mendahulianya.

“Kau sendiri?” tanya Siwon balik. Ia menutup pintu kamar dan berjalan masuk.

Minho berjalan di belakangnya. Ia berjalan mendekati Hyejin.

“Aku mengantarkan pacarku. Ini dia pacarku.” Ucap Minho merangkul Hyejin.

Hyejin merasah risih ia melepas rangkulan Minho.

Siwon tersenyum.

“Gureyo? Ku dengar kau belum punya pacar. ~~~Apa~ jangan-jangan~ kau ikut kencan kilat ya.” Cletuk Siwon.

“Mwo? Kencan kilat? Aniyo~” sahut Minho.

“Ah, I know. Kau pasti pura-pura pacaran dengannya untuk membohongi kakakmu, Lee Sungmin.” Ucap Siwon mengejutkan seisi ruangan, terutama Minho.

“Bba… bbagaimana kau tahu?” tanya Minho terbata-bata.

“Aku kan kepalah sekolahmu. Jadi aku tahu.” sahut Siwon.

“Mwo? oppa kau kepalah sekolah?” cletuk Heena terkejut.

Hikari dan Hyejin juga terkejut.

Siwon mengangguk.

“Tapi kau terlalu muda untuk menjadi kepalah sekolah akademi Haenol.” Ucap Heena.

“Ne. Ini perintah kedua orangtuaku yang harus kujalani agar mendapatkan fasilitas.”

Heena, Hikari, Hyejin mengangguk.

“Hikari, ayo ceritakan padaku apa yang terjadi kepadamu!” seru Heena.

“Ceritanya panjang, kapan-kapan akan ku ceritakan.” Ucap Hikari.

Heena cemberut.

“Kau sendiri. Kemana saja. Sampai tidak pulang ke asrama eh?” bentak Hyejin.

“Bisakah kau kecilkan suaramu itu. berisik tahu. lihat Hikari sedang sakit. Tidak sopan tahu!” sahut Heena kesal.

“Jagi, kau dengar sendiri. Kau itu berisik. Suarumu terlalu keras.” Sahut Minho.

“Ha~ jangan panggil aku jagi. Kita bukan di tempat umum. Kontrak itu tidak berlaku tahu.” sahut Hyejin kesal.

“Sudah-sudah jangan bertengkar. Kalian seperti tom and jerry saja. Jika kalian saling cinta baru tahu rasa.” Relai Hikari.

“Mwo?” sahut Hyejin dan Minho bersamaan.

“Yang benar saja.” Ucap Hyejin.

Minho mendesah tak percaya.

“Tapi menurutku kalian mungkin kok, saling jatuh cinta seperti drama Full House.” Sahut Siwon.

“Tidak munkin.” Elak Minho.

Siwon tersenyum.

“Kau tidak khawatir jika Sungmin mengetahui bahwa kau pura-pura pacaran dengannya eh?” goda Siwon.

“Aniyo.” Jawab Minho Ssingkat.

“Really? But Sungmin… Sungmin orangnya jeli. Kau tidak merasa eh?”

“Dari mana kau tahu?”

#####Everland#####

Jaerin terpengangah melihat everland.

“Waeyo?” tanya Jaejoong.

“Ini everland?” sahut Jaerin.

“Ne, kau tidak membaca tiket yang ku berikan padamu?”

Jaerin merogoh sling bagnya. Ia meraih amplop pemberian Jaejoong. Ia membukanya dan mengambil surat pemberian Jaejong, lalu ia merogoh amplop itu. ia menemukan sebuah tiket.

“Mwo? Kenapa aku tidak menyadarinya?” cletuk Jaerin.

Jaejong tersenyum. Ia mengelus kepalah Jaerin. *emang Jaerin kucing pake’ dielus segala*

”Ayo kita masuk!” ajak Jaejoong santai.

Saat di dalam everland, Jaerin terdiam memandang sekeliling.

”Wonderfull~ I never see before, Jaejoong oppa~ kamsahamnida~” ujar Jaerin kemudian membungkuk.

”Kau belum pernah ketempat ini sebelumnya?”

”Ani~ mereka selalu sibuk. Tidak sempat meluangkan cukup waktu untuk ketempat ini. Mereka juga melarangku kemari sendiri. Padahal jika sendiri aku bisa sepuas-puasnya ketempat ini.”

”Kau tidak mengajak teman-temanmu untuk kemari?”

”Teman? Chingu~ aku tidak pernah punya teman yang bertahan lama. Karena aku selalu moving class. Bahkan pindah sekolah.”

Jaejoong manggut-manggut.

”Ne. Aku tahu. Memang sulit tuk anak loncat kelas sepertimu mendapatkan seorang teman. Teman yang bisa menemanimu.”

Jaerin tersenyum.

”Sekarang aku sudah punya.” cletuk Jaerin.

”Mwo?”

”Aku punya teman. Diantaranya adalah kau oppa~”

Jaejoong tersenyum kemudian merangkul Jaerin membawanya kesalah satu tempat permainan.

”Kita mulai dari itu.” tunjuk Jaejoong.

Setelah mereka bersenang-senang Jaejoong menyuruh Jaerin ke Santa Claus.

”Waeyo?” tanya Jaerin kepada Jaejoong.

”Aku akan memotretmu bersama Santa Claus.” sahut Jaejoong mengelurkan kamera digital.

”Ani~ aku tidak mau. Aku bukan anak kecil.” tolak Jaerin.

”Ayolah~ ini untuk kenang-kenangan. Setahun sekali Santa Claus tampil di Everland, kau akan rugi.” bujuk Jaejoong.

Jaerin menggeleng.

Jaejoong mendesah, ia menarik tangan Jaerin menujuh ke Santa Claus.

”oppa~ apa yang kau lakukan?” tanya Jaerin.

Jaejoong hanya tersenyum.

”Nuna, bisakah kau fotokan kami berdua?” tanya Jaejoong kepada wanita yang berkostum rusa.

Wanita itu tersenyum.

”Ne.” sahutnya.

Jaejoong memberikan kameranya ke wanita itu.

Wanita itu berjalan mundur mencari posisi yang tepat untuk mengambil gambar Jaejoong dan Jaerin.

”Bisakah kalian lebih dekat lagi.” triak wanita itu.

Jaejoong menarik tangan Jaerin agar dekat dengannya. Mereka mengambil posisi di berdiri di belakang Santa Claus yang duduk di kereta.

”Ne, say Chesee!!!” triak wanita itu lagi kemudian mengambil gambar Jaejoong dan Jaerin.

Wanita itu berjalan mendekati Jaejoong.

”Ini kameramu.” ujarnya memberikan kamera Jaejoong.

Jaejoong menerimanya.

”Kamsahamnida.” ucapnya sembali membungkuk.

Lalu ia menarik Jaerin.

”Kemana lagi kita, oppa?” tanya Jaerin.

Jaejoong tersenyum. *kenapa senyam senyum melulu sich, jadi salting niech*

”Di sana ada panggung kita kesana.” jawab Jaejoong.

”Waeyo?” tanya Jaerin.

”Ada yang ingin kuberitahukan kepadamu.” ucap Jaejoong.

”Mwo?” sahut Jaerin.

Jaejoong tersenyum lagi ia menarik Jaerin dan melangkah cepat.

”Kau tunggu di sini.” ucap Jaejoong setibanya di muka panggung.

”oppa mau kemana?” tanya Jaerin risah.

”Aku pergi sebentar, tunggu di sini ya.” ucap Jaejoong kemudian tersenyum.

Jaejoong pergi meninggalkan Jaerin sendiri di kerumunan orang-orang.

Jaerin duduk di kursi kosong yang tersedia. Ia merasa gelisah. Ia merasa khawatir kalau-kalau ada orang yang menganggunya.

Tiba-tiba saja ada sesorang muncul dari belakang panggung.

”Anyoenghaseyo!” sapa sang MC.

”Ya, sepertinya Everland hari ini sungguh padat. Padahal sudah jam delapan malam. Dongsaeng yang ada di sana belum mengatuk?” tunjuk MC kepada salah seorang anak di akhir kalimatnya.

Ia tersenyum.

”Baiklah akan ku perkenalkan diriku terlebih dahulu. Jo irumun Xiah imnida. Dan pada hari ini kita mendapatkan sukarelawan yang akan menghibur kita. Baiklah kita sambut~~~ Kim~ Jaejoong!!!” seru Xiah.

Jaerin terkejut mendengar nama Jaejoong disebut.

Jaejoong keluar dari belakang panggung.

”Annyoeng Jaejoong!” sapa Xiah di atas panggung.

”Annyoeng, Xiah.” sahut Jaejoong dengan mikrofonniea.

”Ha~ dia tampan bukan penonton!” seru Xiah.

Jaejoong tersenyum.

”Dia ini chinguku lho! Kami berdua sama tampan ya.” cletuk Xiah.

Jaejoong hanya bisa geleng-geleng kepalah.

”Nah Jaejongssi. Kau akan bernyanyi bukan?”

”Ne.”

”Untuk siapa lagu yang kau bawakan?”

”Untuk dia.” Jaejoong menunjuk Jaerin yang duduk di depan.

Xiah melirik. Ia terkejut.

”Whoa~ kau suah punya pacar eh?”

Jaejoong tersenyum.

”Ani~ dia rekan kerjaku sekaligus…”

”Sweetheart!” sahut Xiah.

Jaejoong menjitak kepalah Xiah.

”Chinguku dodol. Kau tahu dia adiknya Donghae.” omel Jaejoong.

”Mwo? Gak mungkin dia adiknya Donghae.”

”Waeyo?”

”Dia terlalu cantik untuk jadi adiknya Donghae.” cletuk Xiah lalu tertawa.

Jaejoongpun ikut tertawa.

Jaerin bahkan tertawa mendengarnya.

”Baiklah sebaiknya aku langsung menyanyikan lagunya saja. Lagu yang ku persembahkan untuk gadis yang duduk di sebelah sana. Jaerin ah~ A Whole New World.

I can show you the world

Shining shimmering splendid

Tell me princess now

When did you last let your hearth decide

I can open your eyes

Take you wonder by wonder

Over sideways and under

On a magic carpet ride

A whole new world

A new fantastic point of view

No one to tell us no

Or where to go

Or say we’re only dreaming

A whole new world

A dazzling place I never knew

But now from way up here

Its crystal clear

That now I’m in a whole new world with you

Unbelievable sights

Indiscernible feelings

Soaring, tumbling, free wheeling

Through an endless diamond sky

A whole new world

A hundred thousand things to see

I’ like a shooting star

I’ve come so far

I can’t go back to where I used to be

A whole new world

With new horizons to purse

Every moment red letter

I’ll chase them anywhere

There’s time to spare

Let me share this whole new world with you

A whole new world

A new fantastic point of view

No one to tell us no

Or where to go

Or say we’re only dreaming

A whole new world

With new horizons to purse

Every moment red letter

I’ll chase them anywhere

There’s time to spare

Let me share this whole new world with you

A whole new world

That’s where we will be

A thrilling chase

A wonderful place

For you and me…”

Tanpa di sadari air mata Jaerin jatuh. *Author bener-bener ngeluarin air mata waktu nulis ini. Tapi bukan terharu. Karena suatu hal yang melegakan ^^* Ia tersenyum dan memberikan Jaejoong tepuk tangan. Lalu seseorang mengulurkan tangannya ke Jaerin.

“Ayo ikut aku!” seru Xiah.

Jaerin memberikan tangannya. Dan Xiah pun membawa Jaerin. Ia membawanya kebalik panggunggun di mana Jaejoong berdiri menunggu. *aku benci ditarik-tarik melulu*

“Jaerin ah~ kau menangis lagi?” ujar Jaejoong ketika melihat mata Jaerin yang berlinang air mata.

Jaerin mengusap air matanya.

“Ne. aku terharu oppa.” Ucap Jaerin.

“Ya, namanya juga Jaejoong. Suaranya lebih enak dari oppamu bukan?” sahut Xiah.

Jaerin tertawa.

“Xiah oppa sendiri bagaimana? Kata Donghae oppa. Xiah oppa juga bisa menyanyi.”

“Aku?” sahut Xiah menunjuk dirinya sendiri.

“Donghae menceritakanku kepadamu?” lanjutnya.

“Ne. Xiah atau Kim Junsu teman SMP Donghae oppa. Hobi tidur di bangku sekolah dan taman. Lalu…”

“Aish~ jangan ucapkan lagi. Dasar Donghae. Awas jika bertemu denganmu akan ku buat kau menjadi dadar gulung.” Omel Xiah.

Jaejoong tertawa.

“Jaerinssi, kapan kakakmu menceritakan itu?” tanya Jaejoong.

“Waktu dia masih SMP.” Cletuk Jaerin.

“Memang ingatanmu benar-benar hebat. Tidak heran kau lulus SMA dalam usia belia.”

“Mwo? Maksudmu dia loncat kelas?” sahut Xiah.

“Ne.” sahut Jaejoong.

“Ckckckckck kau lebih hebat dari kakakmu.” Ujar Xiah.

“Ohya oppa, apa kau benar akan menjadikan Donghae oppa dadar gulung?” tanya Jaerin serius.

Xiah tertawa.

“Ani~ hanya bercanda.” Jawab Xiah.

“Lakukan saja oppa. Biar dia tahu rasa.” Ucap Jaerin serius. *author bisa dibunuh Donghae fans kalo’ gini caranya*

“Joengmal?” sahut Xiah.

“Ne. dia melanggar janji berkali-kali denganku. Aku kesal dengannya. Dia sudah membuatku sakit hati bahkan menangis berkali-kali.” Sahut Jaerin.

“Joengmal?” sahut Xiah lagi.

“Jaerin-ah~ sudah jangan seperti itu.” Ucap Jaejoong.

“Ani~ Donghae oppa sudah keterlaluuan. Berjanji denganku tapi nyatanya dia malah asyik pacaran. Ugh sebel~” ucap Jaerin kesal.

“Mwo? Ckckckckck oppamu sudah keterlaluan. Ternyata bukan aku saja korban dari janji palsunya itu. tapi kau juga. Padahal kau ini adiknya. Ckckck ditinggapl pacaran pula. Sudah keterlaluan thu anak. Baiklah Jaerin. Aku akan membuatnya menjadi dadar guling. Hwating ya!”

“Hwaiting!!!” sahut Jaerin.

“Aku tidak ikut-ikut.” Ujar Jaejoong menggelengkan kepalahnya.

#####Hyunkyo dad’s home#####

Changmin masuk kedalam rumanh dengan menngendong Hyunkyo. Melihat Changmin membawa Hyunkyo, Jinsoek bertanya.

“Ada apa dengan Hyunkyo?”

“Dia kebayakan minum hingga tidak sadar seperti ini.” Jawab Changmin.

“kenapa dia minum banyak?”

“Mungkin karena apa yang aku ceritakan.”

“Memangnya apa yang kau ceritakan?”

“Semuanya.”

“semuanya? Semuanya kau ceritakan?”

Changmin mengangguk lalu meninggalakn Jinsoek. Yang diam tertegun. Ia membawa Hyunkyo ke sebuah kamar. Ia meletakkan Hyunkyo di atas kasur perlahan. Entah apa yang ia sandung sampai-sampai ia hampir menindihi tubuh Hyunkyo. Kini wajahnya tepat berjarak 10 cm di atas wajah Hyunkyo. Ia tersenyum kemudian mengecup kening Hyunkyo. Lalu ia berdiri hendak meninggalkan Hyunkyo. Tapi Hyunkyo meraih tangannya.

“oppa! Waeyo? Kenapa kau membuatku berdebar-debar.” Ucap Hyunkyo tanpa sadar.

Changmin tersenyum.

“Kau mengigokan isi hatimu, eh?”

Changmin berusaha melepaskan cengkaraman Hyunkyo. Tapi tidak bisa. Cengkaraman Hyunkyo terlalu kuat. Changmin takut jika memaksakan nanti Hyunkyo terbangun. Akhirnya ia memutusakan duduk di samping tempat tidur Hyunkyo. Ia memandangi Hyunkyo. Dan lama-lama, ia terlelap.

Beberapa menit kemudian Jinsoek mengintip dari balik pintu. Ia mendesah lalu tersenyum. Kemudian ia mematikan lampu kamar.

#####26 Desember#####

Hyunkyo terbangun. Ia tertegun menatap sosok Changmin yang tidur pulas di sebelah ranjangnya. Ia tersenyum. Ia memaddang Changmin lekat-lekat. Lalu tersirat dibenaknya untuk mengambil HP Changmin. Ia merogoh mantel Changmin dan mengambil HP Nokia Sirroco.

Hyunkyo membuka media<galeri ia=”” hampir=”” saja=”” berteriak.tapi=”” tahan=”” dengan=”” satu=”” tangannya.=”” tidak=”” percaya=”” melihat=”” foto=”” dirinya=”” begitu=”” banyak.=”” terutama=”” saat=”” tidur.=””>

“oppa~ sepertinya kita impas.” Ucapnya ke Changmin yang sedang tidur pulas.

#####Busan#####

“Hyerin, sepertinya aku akan kembali hari ini. Aku takut adikku ngambek parah gara-gara aku membatlkan janji.”

Ucap Donghae kepada hyerin yantg ada di hadapannya.

“Ne. Joengmal mianhae sudah meroptkanmu. Kamsahamnida~” ucap Hyerin kemudian membungkuk.

Donghae tersenyum lalu pergi meninggalan Hyerin.

Hyerin mengulum bibirnya setelah Donghae jauh darinya.

“Semoga aku bisa bertemu dengannya lagi di Seoul.” Harap Hyerin.

Kemuidan ia membalikkan tubuhnya dan melangkah.

Sementara itu Donghae membalikan tubuhnya menatap Hyerin yang pergi. Ia memandangnya hingga gadis itu tak tampak lagi.

“Pasti bisa.” Ucap Donghae.

*saya senang mereka berpisah* *dilempar botol ma Hyerin*

#####Kediaman Callisto, Seoul 5 Januari#####

Jaerin duduk terdiam memandang seorang pria dan seorang wanita.

“Lyra, kau sudah mengundurkan diri dari guru TK?” bentak pria berkacamata berambut coklat.

Jaerin mengangguk.

“Lalu apa lagi yang kau lakukan selama kami tidak ada.” Bentak pria itu lagi.

“Ke mall.” Jawab Jaerin singkat.

“Itu saja?” tanya pria itu.

“Ne. waeyo? Papa tidak percaya?” tanya Jaerin.

“Pasti tidak itu saja bukan?”

Jaerin beranjak dari dudukannya.

“Papa mau tahu lebih lanjut? Papa mau tahu apa yang sebenarnya aku lakukan selama papa dan mama tidak ada?”

Papa Jaerin mengangguk. Mama Jaerin mendekati Jaerin.

“Aku menangis!!! Menangis papa~ aku menangis karena hidupku seperti di sangkar emas *kok kayak lagu ya*. Hidupku berlinang harta karena aku salah satu keluarga Callisto. Karena aku Lyra Callisto. Tapi aku tersiksa. Karena hidupku hanya ada singkar. Tanpa kebebsan. Tanpa seseorang yang menemani. Aku benci melihat salju turun. Apa papa dan mama tahu? Aniyo gureyo? Apa perlu aku jelaskan kenapa aku benci~.” Jaerin tidak bisa meneruskan kata-katanya. Ia terlalu emosi. Ia sudah berlinang air mata.

Mamanya berusa menenangkan. Tapi ia mengelak. Ia tidak ingin di sentuh siapapun.

“Aku merasa~ aku bukan anak papa dan mama. Aku merasa aku bukan anak kandung kalian.” Ucap Jaerin terisak.

“Waeyo? Kenapa kau berkata begitu?” ucap Mama Jaerin lembut.

“Karena kalian tidak pernah meluangkan waktu untukku.” Ucap Jerin kemudain berlenggak pergi meninggalkan mama dan papanya.

Donghae yang mingintip hal itu langsung menangis. Ia merasa bersalah karena membuat musim dingin Jaerin tahun ini begitu menyedihkan. Ia merasa bersalah karena tidak membuat Jaerin bahagia musim ini.

”Kau lihat sendiri, anak kita~ anak kita satu-satunya membenci kita. Orang tua macam apa kita! Hentikan aturanmu yang membebaninya. Dan kita harus meluangkan waktu untuk anak kita.” isak Mama Jaerin.

”Kau tahu sendiri peraturan itu bentuk kasih sayang kita kepadanya.” ucap Papa Jaerin.

Mama Jaerin memandang sauaminya tajam.

”Dan lagi~ sebentar lagi dia tidak akan kesepian. Akan ada seseorang yang selalu menemaninya.”

#####Akademi Haenol#####

Siwon duduk terdiam di pinggir lapangan. Pandangannya mengarah ke tengah lapangan. Di mana Tatsuya sedang asyik bermain basket, tapi pikirannya entah kemana.

”Hyung! Tangkap bolanya!!!” triak Tatsuya dari tengah lapangan sembari melemparkan bola basket ke arah Siwon.

Siwon tersadar dari lamunannya. Ia langsung menangkap bola basket dari Tatsuya. *owh keren!!!*

Tatsuya berjalan menghampiri Siwon.

”Kau kenapa hyung?” tanya Tatsuya kemudian duduk di samping Siwon.

”Ani~ Aku hanya suntuk.” ujar Siwon.

”Sudahlah hyung ceritakan saja padaku.” paksa Tatsuya.

Siwon menggeleng.

”Ayo ceritakan aku mau dengar.” sahut Leeteuk dari pintu masuk.

Ia berjalan mendekati Siwon dan duduk di sisi lainnya.

”Baiklah jika begitu. Jonun…” ucap Siwon kemudian terdiam.

”Ne, kenapa denganmu?” sahut Leeteuk.

”Saranghae pajida~.” ucap Siwon pelan.

”Dengan siapa?” sahut Leeteuk.

”Dengan Han Heena?” cletuk Tatsuya.

Siwon mengangguk.

Leeteuk tersenyum.

”Bagus jika begitu. Kenapa kau murung?” ucapnya.

”Karena~ karena aku tidak mungkin memilikinya.” ucap Siwon sedih.

”Waeyo?” tanya Tatsuya.

”Kau tahu sendiri aku dari kalangan keluarga Choi. Dari kalangan keluarga Elite. Sementara Heena dari kalangan orang bawah. Terlebih lagi orang tuaku sudah merencanakan…”

*)to be continue…

Maaf klo typo dan tidak sesuai harapan

Iklan

About Lyra Callisto

Saya tuh orang yang aneh karena susah ditebak. Saya suka dengerin musik terutama Kpop, ngetik/nulis fanfiction, buka akun, ngedance, nonton acara about korea Status: menikah dengan Kim Jaejoong, bertunangan dengan Lee Donghae, berpacaran dengan Choi Minho, berselingkuh dengan Cho Kyuhyun, mengakhiri hubungan dengan Choi Siwon, menjalin hubungan dengan Choi Jonghun, berkencan dengan Kevin Woo, menjalin hubungan tanpa status dengan Nichkhun dst.

4 responses »

  1. Halo, bertemu lagi dengan saya… maaf kalau saya suka sekali mengobrak-abrik blog Kakak, hahaha *dijitak*
    Errr, saya boleh kasih saran kan? Saya sering dikasih tahu sama teman sesama penulis kalau tulisan yang baik adalah tulisan yang memiliki keseimbangan dialog dan narasi yang balance. Dan di FF ini saya merasa kalau dialog terlalu mendominasi sehingga latar cerita agak kurang tereksplor. Emmmh, ini cuman saran sih. banyak kok tulisan yang dialognya dominan tapi ceritanya bagus banget. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s