Like A Wind (Part 1)

Standar

Like A Wind Part 1

Judul : Like A Wind

Author : Tiara Shahnaz

Facebook : Tiara Shahnaz

Twitter : @tiara_sielf

Cast :   Super Junior’s Eunhyuk

Kwan Jikyo (OC)

Super Junior’s Member

Genre: Sad, romance

Twoshoot

Rating: PG

Eunhyuk FF Korea_

Prolog:

Sebuah kecelakaan kecil saat hendak menuju dorm Super Junior membuat Eunhyuk harus terbaring di kamar inap salah satu rumah sakit di Seoul. Tangannya mengalami keretakan tulang yang mengakibatkan dia tidak bisa –untuk sementara- melakukan hal paling dicintainya, menari. Tapi siapa sangka, di tengah kondisi buruknya itu, dia menemukan sosok yang bisa mengembalikan senyumnya.

Like A Wind Part 1

Eunhyuk POV

Suara tangis para member  Super Junior –para Hyung dan para Dongsaengku- masih jelas terdengar di telingaku. Suara tangis si anak ke-13 lah yang paling keras terdengar. Kyuhyun menangis layaknya seorang bayi kecil. Meski saat ini keadaanku setengah sadar, aku masih bisa melihat mereka menangisiku.

Jangan menangis..

Ingin sekali kuhapus airmata dari wajah mereka semua. Namun aku tidak sanggup. Aku hanya bisa terbaring, melihat mereka dengan mataku yang hampir tertutup. Tak ada tenaga lagi bagiku untuk bergerak. Dan perlahan semuanya menjadi kabur. Menghilang dari pandanganku. Meninggalkanku di tengah kegelapan.

***

Author POV

“Syukurlah kondisi pasien sudah terselamatkan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dia pasti akan segera pulih dengan baik. Hanya saja, tangan kirinya mengalami keretakan. Perlu beberapa minggu untuk membuatnya pulih seperti semula.” ujar Dokter yang menangani Eunhyuk.

Eunhyuk baru saja selesai melakukan operasinya. Dia mengalami kecelakaan saat hendak pulang  menuju dorm. Saat itu hanya dia sendiri yang mengendarai mobilnya. Di tengah perjalanan, mobilnya tertabrak sebuah truk. Dari tempat kejadian, bisa diduga Eunhyuk membanting setirnya ke arah yang berlawanan dengan truk itu. Namun sayangnya, mobilnya malah terbentur keras mengenai pembatas jalan.

Itu adalah kabar buruk bagi semua member Super Junior. Setelah mendengar berita itu, semuanya langsung membatalkan acaranya masing-masing dan langsung menuju rumah sakit di mana Eunhyuk dilarikan. Kekhawatiran terus menyelimuti mereka ketika berada di rumah sakit. Menunggu kondisi namja yang sudah mereka anggap seperti saudara kandung mereka dalam kecemasan, bibir mereka terus bergerak memohon kesembuhan untuk Eunhyuk.

“Jadi Eunhyuk harus dirawat di sini?” tanya Leeteuk pada Dokter.

“Ne, dia harus menjalani perawatan di sini hingga kondisinya benar-benar pulih.” jawab sang Dokter.

“Kalau memang begitu, saya mohon bantuan Anda menangani kondisi Eunhyuk.” ujar  Leeteuk lagi.

Dokter itu mengangguk. “Tentu saja, itu sudah kewajiban bagi seorang dokter. Pasien Eunhyuk akan pulih kembali. Dia sangat kuat, belum pernah aku menemui pasien sekuat dia.”

Leeteuk tersenyum mendengar perkataan Dokter itu. Begitulah Eunhyuk, dongsaengnya yang tidak pernah menyerah pada kegagalan. Dongsaengnya yang kuat, yang selalu berusaha dengan segenap kemampuannya untuk tetap bertahan.

***

Eunhyuk POV

Sudah sekitar 3 hari aku berada di sini. Dengan tangan kiriku yang terbalut oleh gips. Jujur, aku sudah bosan berada di sini terus-menerus. Aku ingin kembali ke tempatku. Bekerja bersama dengan 9 saudaraku di luar sana. Tapi aku harus terjebak di tempat ini, menunggu hingga tanganku bisa kembali digerakkan.

Saat ini aku berada di taman belakang rumah sakit. Suasana di sini cukup sepi. Hanya ada beberapa pasien yang berjalan atau duduk di bangku taman bersama keluarga mereka yang merawatnya.

Kulangkahkan kakiku menuju tempat di samping taman, tempat yang di penuhi oleh pohon yang cukup tinggi. Tidak ada seorang pun yang berada di sana. Aku heran, kenapa ada tempat seperti ini di dekat rumah sakit? Namun kakiku terus melangkah menuju tempat itu. Bagaikan ada sesuatu yang menarikku untuk mendekat.

Kuperhatikan sekelilingku. Meski di sini sangat sepi, namun anehnya aku langsung merasa nyaman berada di sini. Kuarahkan diriku ke bangku kayu yang ada di depanku dan duduk di sana. Udara di sini terasa berbeda dengan di taman rumah sakit. Wangi dedaunan bercampur dengan wangi batang pohon terasa sangat harum bagiku. Kuhirup udara yang dipenuhi wangi dedaunan itu, seraya menutup kedua mataku.

Tenang.

Kata itulah yang bisa mewakili suasana hatiku saat ini. Berada di sini membuatku bisa melupakan sejenak kebosananku.

Sreek, sreek!

Tiba-tiba terdengar suara aneh di dekatku. Segera kubuka kedua mataku, dan melihat suara apa itu. Tak diduga mataku menangkap sosok yeoja berdiri tak jauh dariku. Dia tampak membelakangiku. Penasaran, aku bangkit dari dudukku dan mencoba mendekatinya.

Kuarahkan diriku ke arahnya berada. Semakin dekat.. Semakin dekat.. Hingga dia membalikkan badan menghadapku.

Kedua matanya tampak terkejut saat melihatku berdiri tepat di belakangnya. Bibirnya yang mungil terkatup rapat, tak mengeluarkan sepatah katapun.

“Ah, a-annyeonghaseyo..” sapaku, meski sedikit terbata.

Hal tak terduga tiba-tiba terjadi. Darah segar mendadak keluar dari lubang hidungnya, mengalir cukup deras.

Dilanda kepanikan, aku langsung membantunya menghentikan darah yang terus keluar dari hidung yeoja itu. Tapi usahaku kelihatannya gagal, karena semakin lama darahnya semakin mengalir deras. Dan kali ini, darah segarnya itu hampir memenuhi tangan kananku yang mencoba menghentikannya.

“Aissh, kenapa darahmu tidak berhenti?” keluhku, sambil tetap berusaha melap darahnya.

“Tidak perlu membantuku, tanganmu bisa kotor oleh darahku.” ujarnya, terdengar sedikit gugup.

“Ya! Kalau aku tidak membantumu, bagaimana darahnya bisa berhenti?” balasku agak sebal. “Aissh, aku juga tidak membawa tissue. Apa kau membawanya?”

Yeoja itu menggeleng, menatapku dengan tatapan takutnya.

Kuputar otakku, mencari jalan keluar untuk mengatasi darah yeoja ini agar lekas berhenti. Sedetik kemudian, kurobek bagian bawah baju pasienku dan segera menyumbatnya di hidung yeoja itu. Syukurlah, perlahan darahnya sudah tidak terlihat mengalir keluar lagi seperti tadi.

Kuhela nafas, bersyukur darahnya bisa berhenti. Tadi itu cukup menakutkan. Bagaimana bisa darahnya keluar begitu derasnya? Baru kali ini aku melihat seseorang yang mimisan hebat.

“Kamsahamnida.” ujarnya padaku, seraya membungkukkan badan sekilas. Tangannya masih memegang kain yang membalut hidungnya.

“Cheonmaneyo.” jawabku. Mataku terus melihat yeoja di depanku itu. Dia juga memakai baju pasien, sama sepertiku. Mungkin dia juga sedang melakukan perawatan di rumah sakit ini.

“Kau juga pasien di sini?” tanyaku.

Dia hanya mengangguk, namun kepalanya terus saja menunduk. Tak mau memandang wajahku.

“Baru kali ini aku melihat orang yang mimisan hebat sepertimu. Apa kau sedang sakit parah?” tanyaku blak-blakan.

Dia menggeleng dengan cepat. “Bukan karena itu. Tapi karena aku melihatmu.” Jawabannya itu cukup membuatku bingung. Kupandang yeoja itu penuh tanya. Karena aku? Dia mimisan karena diriku?

“Karena aku?”

Yeoja itu mengangguk lagi, tapi masih menundukkan kepalanya. “Karena melihatmu aku tiba-tiba mimisan. Sebenarnya, aku adalah fansmu..”

Aku cukup terkejut mendengar pengakuannya. Meski kejadian mimisan barusan cukup aneh bagiku, namun senyumku mendadak mengembang ketika mendengarnya bilang bahwa dirinya adalah fansku. “Jadi kau adalah fansku?”

“Ne, baru kali ini aku melihatmu, makanya aku terkejut. Tapi saking terkejutnya, aku malah mimisan. Benar-benar memalukan.” ujarnya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Aku tertawa mendengar pengakuannya. Yeoja ini benar-benar polos. Baru kali ini aku melihat yeoja sepertinya. Lucu sekali.

“Jangan tertawa…” pintanya pelan, sedikit protes karena aku menertawainya.

“Hmmpf, hmmpf.. Oke, hmmpf..” Kututup mulutku dengan tanganku yang bebas, menahan tawaku yang sedari tadi meledak.

Yeoja itu terlihat malu, wajahnya yang putih mulus memerah. Dan menurutku, itu sangat manis! Astaga, ada apa denganku? Dia fans ku, jangan berpikir yang macam-macam, Eunhyuk-ah!

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanyaku.

“Kwan Jikyo imnida.” jawabnya, sembari membungkukkan badannya.

“Kwan Jikyo, nama yang bagus.” komentarku, sambil tersenyum padanya.

Lagi-lagi dia menunduk malu. “Kamsahamnida.” ujarnya pelan, suaranya sedikit bergetar. Mungkin karena dia masih gugup berada di dekatku, makanya dia seperti itu.

“Senang berkenalan denganmu, Jikyo-ah. Karena kita satu rumah sakit, bagaimana kalau kita berteman?” Kusunggingkan senyum lebarku padanya, tangan kananku mengarah padanya berniat untuk berjabat tangan.

Dia mendongak menatapku, bola matanya yang bulat memandangku seolah tak percaya. “Berteman? Apa aku boleh berteman denganmu?”

Yeoja ini benar-benar polos. Rasanya aku ingin mencubit pipinya saking gemasnya. “Tentu saja, kenapa tidak? Kau adalah fans ku, dan aku sangat senang bisa bertemu langsung dengan fans ku. Aku makin senang jika bisa berteman denganmu.”

“Harusnya aku yang mengatakan itu. Aku sangat senang bisa berteman denganmu.” ujarnya, kali  ini dia menunjukkan senyumnya padaku. Dan entah kenapa, lututku terasa lemas saat melihatnya.

Ada apa ini?

***

Aku sudah kembali ke kamar tempatku dirawat. Sedangkan Jikyo pasti juga sudah kembali ke kamarnya sendiri. Kududuk di tepi kasurku, pikiranku melayang mengingat kejadian di taman belakang tadi. Pertemuan pertama kami awalnya cukup lucu, walaupun agak aneh. Baru kali ini ada orang yang mimisan ketika melihatku. Sampai sekarang, senyumku tak pernah hilang jika mengingat kejadian tadi.

Kwan Jikyo. Kenapa wajahnya tak bisa hilang dari otakku?

“Eunhyuk-ah!”

Suara yang sangat kukenal tiba-tiba berseru memanggil namaku. Membuatku sedikit terperanjat dari lamunanku. Aku menoleh ke pintu masuk kamarku. Di sana sudah berdiri Sungmin Hyung dan juga salah satu dongsaeng kesayanganku, Ryeowook. Senyumku mengembang ketika melihat mereka berdua datang kemari mengunjungiku. Tidak kusangka mereka akan datang hari ini. Kupikir tidak akan ada yang datang kemari hari ini, karena aku tahu mereka semua pasti sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

“Hyung! Ryeowook! Astaga, aku senang sekali kalian datang kemari!” seruku, seraya bangkit dari dudukku dan langsung memeluk mereka satu per satu.

“Kami juga.” jawab Sungmin Hyung. “Bagaimana keadaanmu?”

“Aku baik-baik saja, Hyung.”  jawabku, seraya tersenyum pada Hyung ku yang sangat perhatian ini.

“Kau kelihatan kurus, Hyung. Ini, aku bawakan bubur dan buah-buahan untukmu. Makanlah yang banyak, tubuhmu itu sangat kekurangan nutrisi.” sahut  Ryeowook. Dia lalu meletakkan bungkusan yang sedari tadi dipegangnya di atas meja.

“Aku tidak sekurus itu, Wookie-ah..” protesku. Badanku six pack, meski tidak sebagus siwon, tapi kupikir badanku ini bagus dan mempesona. Aku tidak kurus. -.-

“Terserah kau saja, Hyung.” balas Ryeowook. Dasar dongsaeng yang satu ini, wajahnya memang seperti malaikat, tapi terkadang tingkah bisa lebih menyeramkan daripada Kyuhyun si evil.

“Lalu bagaimana kalian bisa kemari? Apa tidak ada jadwal acara untuk hari ini?” tanyaku pada Sungmin Hyung, mengalihkan topik “badan kurusku”.

Sungmin Hyung yang semula menyibak gorden jendela kamar rawatku, menoleh padaku. “Tentu saja hari ini kami ada jadwal. Tapi sekarang ada waktu luang bagi kami untuk kemari.”

Aku mengangguk mengerti. “Kalian pasti sibuk sekali. Gomawo sudah meluangkan waktu untuk datang kemari. Jeongmal gomawoyo.”

“Itu sudah kewajiban kami untuk datang mengunjungimu, Hyung. Kita ini kan saudara, jadi harus saling menjaga.” sahut Ryeowook. Akhirnya sisi manisnya muncul juga. Aku cukup terharu mendengar jawabannya. Ya, kami adalah saudara. Dan sebagai saudara kami harus saling menjaga satu sama lain. Sungguh, mereka semua benar-benar harta paling berharga untukku.

“Ryeowook benar, kita adalah keluarga. Harus selalu melindungi dan menjaga.” tambah Sungmin Hyung. “Mungkin besok giliran member lainnya yang datang kemari mengunjungimu, Eunhyuk-ah. Kau pasti rindu sekali dengan mereka, bukan?”

“Ah ne, Hyung. Aku juga sudah rindu sekali dengan yang lain. Apalagi si fishy, dan juga dongsaeng evil ku.” Baik Sungmin Hyung maupun Ryeowook tertawa mendengar ucapanku.

“Donghae Hyung juga sangat merindukanmu, Hyung. Dia sempat menitipkan salam padaku tadi.” ujar Ryeowook, tangannya kini sibuk mengupas apel untukku.

“Sampaikan salamku juga untuknya.” balasku.

“Akan kusampaikan.” jawabnya, lalu memberi potongan buah apel yang tadi dikupasnya padaku.

Aku menerima potongan apel itu darinya, kemudian memakannya dengan sekali lahap. “Kenapa tidak membawakanku strawberry?” tanyaku. Dari sekian macam buah yang dibawanya, tak kulihat buah kesukaanku itu ada.

“Sudah jangan cerewet, Hyung. Buah apel lebih baik untukmu, daripada strawberry.” balas Ryeowook.

“Darimana dan sejak kapan statement itu berlaku?” protesku. Di mana-mana buah sama bermanfaatnya bagi kesehatan. Dongsaengku ini hanya asal bicara saja, bilang saja dia lupa membelikanku strawberry. -.-

“Jangan banyak protes, Hyung. Turuti apa kataku.”

Astaga, sejak kapan dongsaengku yang imut ini berubah evil seperti ini? Apa dia sudah tertular keevilan Kyuhyun selama aku ada di rumah sakit, dan akhirnya sekarang Ryeowook ku yang manis sudah hilang entah kemana. -.-

Pada akhirnya, aku lah yang diam menuruti kata-katanya. Sebenarnya di sini, siapa yang bertindak sebagai Hyung? -.-

“Lalu apa saja yang kau lakukan selama kami tidak ada?” tanya Sugmin Hyung yang tengah berdiri di samping jendela.

“Ah, itu.. Tadi aku baru saja bertemu dengan seorang yeoja.” jawabku jujur.

“Yeoja?”

Kuanggukkan kepalaku, senyumku mendadak mengembang dengan sendiri saat Kwan Jikyo mulai muncul dalam pikiranku. “Ne, seorang yeoja. Dia adalah fansku, dia juga pasien di sini.”

Si kecil Ryeowook langsung menatapku penuh curiga, tersenyum menggodaku. “Wah, sepertinya kau menyukainya, Hyung. Kelihatan sekali dari ekspresimu saat ini.”

“Anniyo, aku baru bertemu dengannya tadi. Mana mungkin secepat itu timbul perasaan suka?” kilahku.

“Jangan berbohong, Eunhyuk-ah. Kau buruk dalam hal itu, kau tahu?” sahut Sungmin Hyung, yang juga tersenyum menggodaku.

“Ee, yaa, mungkin.. Aku sedikit tertarik padanya..” jawabku pada akhirnya, berusaha menyembunyikan wajahku yang mulai terasa panas. Yang kukatakan memang benar, sedari tadi yeoja itulah yang ada dalam otakku.

“Siapa nama yeoja itu, Hyung?” tanya Ryeowook. Dari caranya bicara, aku tahu dia sangat penasaran dengan hal itu.

Aku diam sejenak, tersenyum memandang kedua saudaraku ini. “Kwan Jikyo.”

“Kwan Jikyo? Nama yang bagus. Apa dia cantik?” tanya Sungmin Hyung dengan nada usil.

“Dia manis, sangat manis.” jawabku, sambil membayangkan wajah Jikyo.

“Aigoo, sepertinya Eunhyuk Hyung benar-benar sudah jatuh cinta.” komentar Ryeowook, dengan senyum nakalnya. “Ceritakan bagaimana kalian bertemu.” pintanya penuh semangat.

Melihat dongsaengku itu memohon layaknya anak kecil yang sedang meminta permen, aku pun mulai menceritakan pertemuanku dengan Kwan Jikyo. Mulai dari saat aku duduk di taman belakang rumah sakit, sampai saat yeoja itu mendadak mimisan hebat gara-gara melihat wajahku. Semuanya kuceritakan pada mereka, tanpa ada satu pun hal yang terlewatkan. Kulihat Sungmin Hyung dan Ryeowook tersenyum penuh arti padaku setelah aku selesai menceritakan semuanya.

“Kelihatannya kau benar-benar sedang jatuh hati pada yeoja itu, Eunhyuk-ah. Aah~, aku penasaran sekali dengan Kwan Jikyo. Bagaimana sebenarnya yeoja yang sudah mencuri hati sang anchovy ini?” ujar Sungmin Hyung.

“Tapi lucu sekali yeoja itu, sampai mimisan hebat hanya gara-gara melihatmu, Hyung.” sahut Ryeowook. “Aku juga penasaran dengan yeoja itu.”

“Aku tidak akan mengenalkannya pada kalian.” celetukku.

“Kau takut dia tergoda pada pesona kami, kan? Hm, jelas saja sih, kami berdua memang lebih mempesona daripadamu.” canda Sungmin Hyung.

Dengan penuh percaya diri, aku menjawab candaan Hyung ku itu. “Dia tidak akan tergoda pada kalian.”

“Arra, arra..” balas Ryeowook. “Tapi aku punya saran padamu, Hyung. Jangan kenalkan dia pada Siwon Hyung jika kau tidak mau Jikyo berpaling darimu.”

Tawa kami meledak mendengar ucapan sang eternal maknae itu. Benar juga, aku tidak akan mengenalkan Jikyo pada Siwon. Tidak akan pernah.

Hahaha, aku hanya bercanda. Aku jauh lebih tampan daripada Choi Siwon. Tidak ada alasan untuk cemas, bukan begitu?

***

Author POV

Malam harinya…

Akhirnya Jikyo sampai di depan kamar Eunhyuk, namja yang telah lama menjadi idola dan inspirasinya. Tapi kakinya terasa kaku saat berdiri di sana. Jantungnya tak hentinya berdegup dengan kencangnya. Sudah lama dia berharap bisa bertemu langsung dengan namja itu. Baru kali ini kesempatan itu datang padanya. Tapi kenapa kakinya masih saja terasa kaku? Jangan lewatkan kesempatan ini, Jikyo-ah! Bukankah ada yang ingin kau tunjukkan padanya sekarang?

Dengan penuh usaha menekan perasaannya yang sedari tadi meledak-ledak, Jikyo memutar kenop pintu kamar Eunhyuk, membukanya dengan hati-hati.

“Eunhyuk-ssi?” panggilnya hati-hati, sambil melongokkan kepalanya ke dalam.

Namja itu tampak duduk di kasurnya, sebuah headset terlihat terpasang di kedua telinganya. Wajahnya cukup terkejut saat melihat Jikyo mengintipnya di balik pintu.  “Jikyo-ssi?”

“Apa aku mengganggumu?” tanya yeoja itu.

“Anniyo, sama sekali tidak. Masuklah!” jawab Eunhyuk, seraya melepas headsetnya.

Perlahan Jikyo masuk ke dalam ruangan itu, berjalan menuju Eunhyuk berada. “Kau sedang sibuk?” tanyanya, sedikit berbasa-basi. Tapi dia sadar itu pertanyaan yang konyol untuk memulai pembicaraan, karena namja itu jelas tidak terlihat sedang sibuk.

Eunhyuk menggeleng. “Ada apa kemari, Jikyo-ssi?”

“Mm, ada yang ingin kutunjukkan padamu..” jawab Jikyo.

Namja itu memandangnya penuh tanya, dia memiringkan kepalanya menatap Jikyo. “Apa?”

“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Bisakah kau ikut denganku?” tanya Jikyo, tersenyum penuh misteri. Membuat Eunhyuk semakin penasaran apa yang ingin ditunjukkan yeoja itu padanya. Baru kali ini pula, dia melihat Jikyo tersenyum seperti itu padanya.

“Kau membuatku penasaran, Jikyo-ssi.” ujar Eunhyuk.

“Kalau begitu, ayo ikut aku.” balas yeoja itu, senyum misteriusnya masih terukir di wajahnya yang manis.

Eunhyuk tertawa renyah mendengar balasan Jikyo. “Baiklah, aku akan ikut denganmu.”

Jikyo tersenyum senang, karena namja itu mau ikut dengannya. Awalnya dia takut jika Eunhyuk tidak mau. Padahal ada sesuatu yang ingin ditunjukkannya pada namja itu. Sesuatu yang menjadi rahasianya di tempat ini.

***

Eunhyuk POV

“Sebenarnya kau ingin membawaku kemana, Jikyo-ssi?” tanyaku padanya.

Aku berjalan dengan kedua mata tertutup, tanganku memegang lengan Jikyo. Tadi yeoja itu menyuruhku memejamkan mataku. Dia bilang mataku harus terpejam hingga sampai ke tempat yang ingin didatanginya. Yeoja ini ingin membuat surprise untukku.

“Sebentar lagi kita sampai, Eunhyuk-ssi.” jawabnya, sambil tetap menuntun jalanku.

Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami berhenti di suatu tempat yang aku tidak tahu di mana –mataku terpejam, ingat?. Namun bisa kurasakan keheningan di sekitarku, dan udara yang cukup dingin menyelimuti kami. Biar kutebak, ini diluar gedung rumah sakit, bukan?

“Kita sudah sampai.” ujar Jikyo padaku. “Kau boleh membuka matamu.”

Perlahan kubuka kedua mataku, mengerjapkannya sesaat untuk mengambalikan penglihatanku sepenuhnya. Dan benar tebakanku, dia membawaku keluar. Kubuka mataku semakin lebar. Ini taman belakang rumah sakit? Kulihat sekelilingku, mengamatinya dengan teliti. Ada yang aneh di sini, tapi otakku masih belum berfungsi maksimal. Kukerjapkan mataku sekali lagi. Dan tampak di mataku cahaya-cahaya terang di sekeliling kami. Cahaya itu berterbangan dengan indahnya.

“Apa ini?” tanyaku, otakku masih belum bisa menangkap apa yang terjadi di sini.

“Kunang-kunang.” jawab Jikyo dengan nada senang di dalamnya.

Kunang-kunang? Kuamati lagi cahaya-cahaya itu. Benar juga, itu kunang-kunang. Mereka berterbangan dengan penuh cahaya di atas kami, bagai menyelimuti kami.

Senyumku mengembang melihatnya. Mataku menatap pemandangan indah ini dengan takjub. Tidak kusangka di tempat ini ada sesuatu yang sangat indah. Jadi inikah yang ingin ditunjukkan Jikyo padaku?

Kualihkan pandanganku ke arah yeoja yang berdiri di sampingku. “Ini sangat indah.”

Wajahnya yang putih membalas pandanganku, senyum lebarnya terukir manis di sana. “Kau menyukainya?” tanyanya.

Aku mengangguk dengan cepat. “Sangat menyukainya. Belum pernah aku melihat kunang-kunang, ini pertama kalinya aku melihatnya. Benar-benar indah.”

Dia tersenyum, lalu mengalihkan tatapan pada kunang-kunang yang ada di atas kami. “Mereka teman-temanku. Selama ini aku selalu sendiri di sini, dan hanya mereka yang menemaniku dengan cahaya indah mereka.”

Jikyo seolah bicara pada dirinya sendiri, tampak larut dalam lamunannya sendiri. Kutatap yeoja itu, senyumnya masih terukir di wajahnya. Namun kali ini senyumnya berbeda dari biasanya. Aku tak tahu apa arti senyumnya itu. Tak ada satu katapun yang bisa mengungkapkannya. Tapi aku menemukan rasa kesepian yang tersirat dalam senyumannya.

“Memangnya di mana keluargamu? Apa mereka tidak ada di sini menemanimu?” tanyaku.

“Mereka ada, dan selalu menemaniku. Tapi hanya kunang-kunang dan kau yang bisa melihat diriku yang sekarang.”

Kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya itu sama sekali tak kumengerti. “Apa maksudmu, Jikyo-ssi?”

Yeoja itu tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya tersenyum menatapku, kemudian berganti memandang cahaya kunang-kunang. Meski saat ini diriku dipenuhi oleh rasa penasaran, tapi aku tidak melanjutkan pertanyaanku itu. Ada sesuatu yang tidak ingin dan belum ingin dia bicarakan denganku. Aku tidak mau memaksanya menjawab rasa ingin tahuku ini.

Kutatap wajah yeoja itu sekali lagi. Yeoja yang selalu membuatku penasaran dengan sikapnya yang misterius. Namun terus-menerus membuatku memikirkannya.

Kwan Jikyo, mungkinkah aku menyukaimu?

***

To be continue….

Iklan

6 responses »

  1. Wah, tulisannya bagus…^^ Saya suka.
    Tapi kalau boleh sedikit kritik, seharusnya istilah asing/bahasa korea dalam konteks FF ini ditulis menggunakan huruf cetak miring. Ini memang agak mengganggu saya, dan saya sering menemukan kesalahan seperti ini di FF2 Author yg lain. Semoga berkenan ya. ^^ Kata adminnya boleh kasih masukkan bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s