In My Dream

Standar
Judul : In My Dream
author: Fauzia. A
Cast : main>> Jang Wooyoung, Im Yoona
         supporting>> Lee Junho, Kim Hyoyeon
Genre : Drama, miracle.
Oneshoot
Rating: G (Untuk semua Umur)
2PM SNSD
prolog:
    Kurasa itu hanya mimpi bagiku. Tidak ada lagi sekarang. Tidak ada lagi kata ‘kita’ bagiku. Bahkan aku percaya, di hari ulang tahunku nanti kau tidak akan datang dan merayakannya bersamaku. Kenapa!? Kenapa kau tega melakukan ini padaku—meninggalkanku sendiri bersama semua bayangan indah yang kau tinggalkan.

In My Dream

Chapter 1

Aku ingin, setiap aku membuka mata, hanya ada wajah dengan senyuman khas-mu yang pertama kali muncul. Mata indah itu pun ikut tersenyum, membuatku selalu semangat memulai hari itu. Tapi, setelah kau tiada apa yang harus kulihat setiap kubangun? Dan untuk apa lagi aku semangat menjalani hidupku ini? Karena alasanku untuk bertahan adalah untuk melihat senyummu itu.

“Sudahlah, Hyung, ikhlaskan dia.” Ucap Junho, entah sudah keberapa ratus kalinya.

“Kau pasti tidak mengerti,” balasku dingin, tanpa menoleh ke arahnya.

Aku mendengar dia mendesah kesal. “Baiklah, aku memang bukan dirimu. Tapi, setidaknya……………..hyung harus tersenyum.”

Ya, Junho benar. Tidak seharusnya aku menjadi seperti ini. Dan aku yakin dia juga menginkan aku seperti yang Junho katakan. Tapi entah apa, aku tidak bisa membuat senyuman itu kembali menghiasi wajahku.

“Wooyoung-ah!!” teriak seseorang dari belakang. Dia! Dia kembali! Sudah kuduga dia tidak akan meninggalkanku.

Dengan cepat aku berdiri dari dudukku dan menoleh kepada si pemilik suara itu. Namun, betapa kecewanya diriku melihat dia bukanlah seseorang yang kumaksud. Senyumku langsung lenyap begitu saja.

“Wooyoung-ah, apa kau punya waktu luang? Ayahku baru saja membelikanku dua tiket film terbaru. Kau mau nonton bersamaku?” kata gadis yang sekarang sudah di hadapanku.

“Hei, Kim Hyo Yeon! kenapa hanya Wooyoung yang kau ajak?” ungkap Junho sedikit kesal.

“Mana mungkin aku mengajak cumi-cumi, sepertimu,” balas Hyo Yeon. Ia berpaling lagi padaku, “mau ya?”

Mungkin ini bisa jadi awal untuk aku melupakannya. Aku ingin mengucapkan kata ‘ya’ tapi, kenapa kata ‘tidak’ yang keluar?

“Kenapa?” tanya Hyo Yeon kecewa.

“Aku….ada kursus hari ini.” Akh.. alasan yang tidak logis.

“Oh, baiklah. Aku masih bisa memaklumimu.” Ucap Hyo Yeon sedih, lalu berlalu. Firasatku mengatakan kalau dia tahu aku sedang berbohing. Tapi, entah kenapa dia tidak kembali memaksaku.

“Bukankah itu acara yang bagus, Hyung?” tanya Junho.

“Junho-ya, aku………” kenapa aku tidak bisa melanjutkan kalimat ini? “Aku harus pergi sekarang!” aku mengambil tasku dan bersiap pergi, dan saat itu Junho menyentuh pundakku.

“Aku selalu ada untukmu, Hyung,” katanya.

Aku hanya tersenyum tipis padanya. Senyum yang membutuhkan banyak tenaga disaat hatiku dalam keadaan kacau seperti ini.

^^^

Kenyataan yang begitu pahit. Seharusnya kau tidak perlu datang ke hidupku, dalam semua mimpiku, bahkan dalam setiap lembaran buku yang kubuka. Kenapa harus ada nama itu di otakku, dan tidak dapat dihapus dengan mudah.

Bagaikan sebuah rekaman yang tersimpan baik di otakku, semua kenangan manis antara kita terlintas tanpa persetujuanku, membuatku mengeluarkan cairan bening lagi dari mataku.

Flashback on

Aku dan gadis yang paling kusayangi dan kucintai sedang piknik di sebuah padang rumput luas dengan pemandangan bunga tulip kuning yang hampir mekar.

 Angin musim semi membuat rambut lurus panjangnya berkibar bebas. Sesekali ia tertawa sendiri sambil berputar-putar, bersama kupu-kupu yang melintasinya. Sungguh, tawa khas yang tidak pernah kulupa.

Tanpa sadar, aku—yang sedang duduk beralas rumput hijau—tersenyum sendiri melihatnya. Melihatnya yang sedang memerhatikan bunga tulip dengan mata kecoklatannya, yang berkedip dengan anggunnya.

“Hei!” tiba-tiba dia muncul dihadapanku, hingga aku sadar kalau dia sudah tidak berada di tempat tadi. “Kenapa kau melihatku sambil tersenyum?”

Aku mencoba menghindar dari tatapan matanya yang selalu membuat jantungku bekerja tiga kali lebih cepat. “Siapa yang sedang melihatmu!?” ucapku bohong. “Mau sekali kau diperhatikan olehku!” tambahku. “Oh iya! Panggil aku ‘oppa’!” paksaku.

Ia semakin mendekatkan wajahnya ke arahku sambil mengangkat sebelah alisnya. “Jang Wooyoung,” panggilnya. Aku mengerti, dia sedang mengintrogasiku.

Aku mencoba menahan rasa gugup ini. “Aku tidak bohong! Aku hanya…….. sedang memerhatikan bunga tulip di sana!” aku menunjuk ke sembarang tempat.

Ia mendesah pelan sambil menjauhkan wajahnya, kemudian ia duduk bersila di sampingku. “Padahal aku mengharapkannya,” gumamnya pelan. Mungkin dia berkata pada dirinya sendiri, namun karena terlalu keras dalam hal ini, akupun bisa mendengarnya. Ia mengerucutkan bibirnya.

Tanpa persetujuannya, aku merebahkan kepalaku di pangkuannya. Aku senyum-senyum sendiri sambil pura-pura tertidur.

“Oppa! Apa yang kau lakukan! Ayo bangun!” gerutunya sambil terus mencoba mengangkatku bangun.

“Sudahlah..aku hanya meminjam kakimu sebentar..” hanya dengan kalimat itu, ia langsung diam—tidak lagi mencoba membangunkanku dan mengucapkan kalimat gerutuannya.

Angin musim semi terasa begitu hangat menerpa wajahku. Tak lama kemudian, aku merasakan sebuah tangan membelai rambut coklatku dengan lembut. Kemudian tangan itu turun ke dahiku, ia menyusuri alisku dengan jari-jarinya. Sesudah itu ia mengusap batang hidungku dengan satu jari. Akhirnya aku meraih tangan itu dan menciumnya lembut. Akupun membuka mata, dan melihatnya tersenyum dengan rambut yang diterpa angin musim semi.

Flashback off

^^^

            Aku mendengar detik jarum jam yang berdetik. Terasa sangat lambat, sunyi dan sepi. Aku tidak tahu harus berbuat apa di hari ulang tahunku ini. Junho semalam meneleponku bahwa ia ingin mengajakku ke karaoke sore ini. Aku tahu kalau ia dan teman-temanku lainnya akan mengadakan pesta kejutan di sana. Setidaknya untuk membuatku tersenyum satu hari ini saja. Namun, kali ini aku tidak bisa mengiyakannya, karena kutahu kalau Yoona akan datang dan memberikan kejutan untukku. Walaupun aku tidak yakin.

Akhirnya dengan malas, akupun membuka mata ini. Samar-samar aku melihat wajah seseorang yang kutunggu, sambil tersenyum di hadapanku. Buru-buru aku menggosok-gosokkan mataku, untuk memastikan kalau ini bukan ilusi.

“Yoona-ah?” tanyaku sambil duduk di kasurku.

Ia tersenyum padaku, “Oppa, apa kabar?” katanya.

Tanpa menjawab, aku menariknya dalam pelukkanku, membelai rambutnya, dan merasakan hangatnya. Benar. Ini bukan mimpi. Ini nyata! Di hari ulang tahunku ini, dia datang untukku.

“Selamat ulang tahun, Oppa,” ucapnya masih dalam pelukkanku.

Aku melepaskan pelukannya dan mengusap kedua pipinya. “Kau benar-benar datang?” ucapku tidak percaya.

Ia mengangguk. “Aku akan membuat hari ini menjadi special.” Katanya.

“Aku tidak perlu acara special maupun meriah di ulang tahunku ini, aku hanya menginginkan kau bersamaku hari ini.” Balasku.

Ia menggenggam tanganku, “aku janji!”

Aku pun mengecup puncak kepalanya dan kembali memeluknya.

^^^

            Yoona pergi ke dapur. Ia sudah bersiap dengan pisau dapurku. “Hari ini aku akan masak enak!” serunya dengan mata yang berbinar, hingga aku yang berada di konter dapur, di seberangnya, tertawa kecil.

Ia membuka isi kulkas-ku. “Aigoo…” katanya terkejut, lalu ia menoleh padaku, “sejak kapan oppa tidak mengisi kulkas-nya?”

Aku mengangkat kedua bahuku, sambil memasang wajah innocent. “Entahlah,” jawabku.

“Lalu, selama ini oppa makan apa?”

“Ehm… ramen.”

Ia memasang wajah tidak percayanya—dengan bibir membentuk huruf ‘O’. Itu sangat lucu, menurutku. “Ramen?” ucapnya tidak percaya. “Selama ini oppa makan ramen?” ulangnya sedikit emosi. Ia memang sangat tidak menyukai orang yang terlalu banyak makan ramen.

Aku mengangguk, “kenapa?” tanyaku pura-pura polos.

“Jang Wooyoung, kau benar-benar tidak sehat,” gerutunya. Ia pun menarik tanganku menuju pintu depan.

“Hei! Kita mau ke mana?” tanyaku, sedangkan Yoona masih terus menarik tanganku.

“Supermarket,” jawabnya singkat. Ia menoleh kepadaku, “Oppa, harus sehat hari ini.” Ia kembali menarik tanganku.

Aku tertawa kecil melihat tingkahnya ini.

Di supermarket.

Yoona mendorong troli-nya ke tempat sayuran. Aku terus mengikutinya dari belakang, takut-takut dia menghilang lagi.

Ia berhenti di tempat wortel yang berwarna oranye terang. Mungkin ia serius saat ini—untuk membuatku sehat. Lihat saja, ia mengambil beberapa ikat wortel dan memasukkannya ke troli. Ia pun berjalan lagi.

“Hei! Aku tak suka benda itu!” gerutuku sambil menunjuk sayuran hijau dengan batang besar, yang sedang dipegang Yoona.

Yoona berbalik dan menatapku kesal. “Pokoknya hari ini oppa harus makan ini. Kalau bisa saat ini juga!” katanya sambil mengancung-ngacungkan seledri ke wajahku.

“Apa?” aku menaikan sebelah alisku, “kau ingin membunuhku?”

“Tidak,” kata Yoona. “Aku hanya ingin membuat hari ini special.” Ia tersenyum padaku. Aku pun menghampirinya dan mendorong troli tersebut bersama-sama.

^^^

           Yoona memang menjadikan hari ini sangat special, walau aku hanya meniup tiga buah lilin di atas kue tart kecil, entah kenapa aku sangat senang. Lebih menyenangkan dari ulangtahunku yang kelima, yang dirayakan besar-besaran oleh orangtuaku. Aku yakin, pasti ini karena aku merayakan bersamanya—hanya berdua.

Yoona memasakkanku berbagai makanan lengkap dengan seledri (aku sempat berfikir untuk pura-pura memakannya). Dan hari ini aku pastikan menjadi hari terakhir aku memakan sayuran itu. Yoona terus menatapku dari seberang meja dengan tatapan ‘kau-harus-menghabiskan-seledri-itu’. Dan akhirnya aku menghabiskan makanan itu juga.

Setelah makan, Yoona menawarkanku untuk ke bioskop—menoton film. Tapi aku menolaknya. Aku bilang agar menonton DVD saja di rumah. Dia pun menyetujuinya.

Selama film berlangsung, aku tidak pernah melepaskan tanganku dari tangannya, dan aku terus memainkan jari-jarinya. Dan yang terjadi, aku—atau kami sama sekali tidak memperhatikan film itu secara itu. Sesekali aku mencium tangannya itu, dan dia hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambutku, dan aku kembali mengacak-acak poninya.

Kali ini ia merebahkan kepalanya di bahuku, Aku ikut menyenderkan kepalaku di kepalanya. Dia menutup mata indahnya, sepertinya dia mengantuk. Aku mengelus lembut rambutnya dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya. Aku mengecup dahinya, dan mencoba menutup mata, sampai akhirnya tertidur.

^^^

            Aku dan Yoona sedang berada di dalam mobilku, baru saja pulang dari taman bermain. Ia terlihat sangat senang sampai saat ini. Berkali-kali dia tersenyum-senyum lalu tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian tadi, yang sangat membuatku malu.

“Harusnya oppa lihat wajah oppa saat itu. Tadi itu oppa…….” Ia tertawa lagi.

“Yoona-ya! berhenti menertawakanku!” ucapku sedikit keras, sambil terus mengemudi. Aku tidak tahu sudah seberapa merah wajahku karena terus dipermalukan olehnya. Dan aku juga tidak tahu sudah berapa kali aku mendengarnya menertawakanku seharian ini.

“Mana mungkin, seorang pria seperti oppa takut dengan badut…..” ia memegangi perutnya, yang mungkin sudah sakit karena tertawaannya itu.

“Im Yoona!”

“Maaf….hump…” ia menutup mulutnya dan terdiam. Hanya sebentar. Sudah itu ia tertawa lagi.

“Jadi kau mau kuturunkan di sini?” kataku pura-pura marah.

“Oppa, kau marah sungguhan?” kini nadanya terdengar serius. Bagus! Dia mulai berhenti menertawakanku.

Aku tidak menjawab.

“Maaf, Oppa, aku tadi hanya bercanda…..” hahaha kau tidak tahu, betapa lucunya suara memohon yang keluar dari mulut Yoona.

“Oppa……….”

Kini berbalik aku yang tertawa—karena mendengar suara memohonnya itu. Sekilas aku melihatnya kebingungan, dan itu membuatku tertawa lebih keras lagi.

“Oppa….” Ucapnya pelan.

“Harusnya kau lihat wajahmu saat kau memohon-mohon tadi….” Sekarang aku yang mengucapkan kalimat itu untuknya.

Ia mengerucutkan bibirnya, sambil menunduk. Dua detik kemudian ia tertawa lagi, “dan oppa  juga harus melihat wajah ketakutan oppa tadi…..”

Di dalam mobil, kami tertawa bersama. Ia mengacak-acak rambutku sambil tertawa, dan aku melakukannya juga terhadap Yoona. Sampai aku melihat cahaya yang sangat menyilaukan dari arah depan. Cahaya yang sangat terang ditambah bunyi klakson. Mataku langsung membulat. Dan saat itu aku membelokkan stir mobilku ke arah kiri. Aku kehilangan kendali mobilku, Yoona memegangi erat tanganku. Dan….

BRRUUUKKKK………

Mobilku menabrak sebuah pohon besar. Kurasakan sakit yang amat sangat di kepalaku, hingga aku meraba bagian sakit itu. Kudapati cairan berwarna merah menempel di tanganku.

Yoona?

Ku tengokkan kepalaku ke sampingku. “Yoona-ya?”

Tidak ada jawaban.

Aku mulai panik, “Yoona-ya! Hei! Jangan bercanda Im Yoona!” aku menggocang-gocangkan tubuhnya. Tidak! Tidak mungkin!

Ku lihat darah mengucur dari pelipisnya. Melewati mata indahnya yang sedang terpejam. “YOONA!!!”

“Yoona!”

Aku mendapati diriku sedang tertidur di sofa rumahku, dengan nafas yang tidak beraturan dan keringat yang membasahi dahiku. Syukurlah—kukira itu….

Tunggu! Bukannya tadi aku tertidur di pundak Yoona? Kenapa aku sekarang sendiri di sofa ini?

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan ini. Apa dia meninggalkanku secepat ini?

“Yoona-ya!” aku mencoba memanggilnya. “Im Yoona! Di mana kau?”

Tidak ada jawaban.

Aku mulai mencarinya ke setiap ruangan di rumah ini. Semakin lama, aku semakin panik, hingga membuatku menyingkirkan semua benda yang menghalangiku dalam pencarian ini.

“Im Yoona!!” teriakku.

“Ada apa?” suara itu!

Aku menoleh ke arah datangnya suara itu. Di ambang pintu kaca geser dengan bingkai hitam, di dekat dapur yang terbuka, aku melihat sosok Yoona di sana. Ia membawa gunting rumput dan penyiram bunga, lengkap dengan sarung tangan kebun berwarna kuning milikku.

Aku tidak yakin apa yang terjadi dengan ekspresiku sekarang, tapi kelihatannya cukup membuat Yoona terkejut. Ia pun bertanya dengan nada khawatir bercampur bingung, “oppa kenapa? Aku hanya sedang merawat tamanmu yang mulai rusak.” Ia meletakkan peralatannya di dekat pintu.

Lagi-lagi tanpa menjawab aku berjalan ke arahnya dan memeluknya. Aku tahu, ia pasti kaget dengan perlakuanku ini. “Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri lagi.”

Yoona tidak menjawab, hanya menepuk-nepuk punggungku.

^^^

            Yoona tidur di sampingku, kami tidur saling berhadapan. Aku tidak rela kehilangannya satu detik pun. Aku tidak benar-benar terlelap malam itu, aku terus mengagumi wajah cantik Yoona. Kemudian aku menyingkirkan beberapa helai rambut di wajahnya, dan terakhir aku mencium keningnya dan menutup mata sambil memegangi tangannya.

Beberapa saat kemudian, aku merasakan kasur ini bergoyang. Aku membuka mata perlahan dan saat itu aku melihat Yoona sedang berjalan menuju teras kamarku yang berada di lantai dua ini. Aku pun mengikutinya. Aku melihatnya tengah berdiri di belakang tembok teras—menikmati angin malam di musim gugur ini yang menerpa rambutnya.

“Yoona-ya?” sapaku pelan.

Yoona berbalik dan tersenyum padaku. Tidak! Jangan sekarang! Kumohon….

Aku menggeleng-geleng ke arahnya. Yoona lagi-lagi tersenyum, “Oppa kenapa?” tanyanya.

“Yoona, jebal nal ttonagajima (Please, don’t leave me)!” ucapku pelan. Bahkan bisa dikatakan terdengar oleh orang normal.

“Aku sudah menempati janjiku, kan?” kata Yoona.

Malhajima! (don’t say it)!” aku berteriak sambil menutup kedua telingaku dengn kedua tanganku.

“Tapi…..”

“Baiklah, kalau itu maumu. Tapi aku akan ikut,” ucapku memotong ucapan Yoona, dan entah sejak kapan airmata ini mengalir dari mataku. “Izinkan aku ikut, Yoona.”

Yoona terlihat shock mendengar ucapanku, lalu akhirnya ia tersenyum lagi. matanya mulai berkaca-kaca, “Tidak, Oppa. Oppa harus tetap di sini. Hidup dalam tawa bersama yang lainnya, makan yang banyak, dan jangan sakit……”

“Cukup!!!” bentakku. “Lalu untuk apa kau ke sini, kalau bukan untuk mengajakku pergi bersamamu!”

“Aku hanya memastikan oppa baik-baik saja. Dan…. untuk mengatakan kalau oppa harus melupakanku secepatnya. Karena oppa selalu membuatku menderita.”

“Yoona-ya…”

“Oppa selalu bilang ingin melihatku bahagia, kan? Kalau begitu turuti kemauanku. Lupakan aku!” Yoona menegaskan kalimat terakhirnya.

“Oppa tahu? Setiap tetes airmata yang oppa keluarkan untuk menangisiku adalah ribuan jarum yang menusuk-nusuk jantungku, dan setiap oppa memanggil namaku dalam tangis, bagaikan puluhan palu yang memukul keras kepalaku. Tidaklah oppa lihat aku sangat tersiksa karenamu?” kini nada bicara Yoona seperti menyalahkanku.

Aku tidak harus berbuat apa. Hatiku begitu terenyak mendengar Yoona tidak baik-baik saja karenaku. “Mianhae, (I’m sorry) Yoona.” Hanya kata itu yang keluar dari mulutku.

Yoona mendekat ke arahku. Ia memegangi kedua pipiku, “Hanya melihat oppa bahagia dan tertawa seperti dulu tanpa memikirkan aku, aku sudah sangat bahagia…”

Aku memeluk erat Yoona. Tidak peduli Yoona akan mengatai-ku cengeng lagi seperti dulu. Dan kurasakan juga ia menangis di pelukanku. Dan kalau ini hanya mimpi bagiku di dunia nyata, aku berharap tidak akan pernah mau bangun dari mimpi ini.

Yoona melepaskan pelukannya. “Man should laugh, right?” ia tersenyum miris.

Aku mengangguk. “Saranghae, (I love you) Yoona,” ucapku pelan.

“Nado saranghae, Oppa (I love you too, Oppa),”

Aku memegangi kedua pipinya, kemudian mengangkat wajahnya. Kulihat dia sudah menutup mata, aku juga mulai menutup mata. Sedetik kemudian aku merasa bibir kami bertemu, lalu……………………hilang.

Ya. Yoona menghilang dari pelukanku.

Baik. Aku harus tersenyum! Jangan menangis! Sudah kubilang kau tidak boleh keluar, airmata! Aku mengutuki diriku sendiri yang menangis ini!

Bodoh bodoh bodoh!!!

Aku tidak boleh membuat Yoona menderita lagi!

^^^

^^^

^^^

            Daun-daun coklat khas musim gugur menyambut kedatanganku.

“Annyeonghaseyo, Yoona.” Ucapku sambil tersenyum. Lalu meletakkan sebuket bunga mawar berwarna pink soft—kesukaannya, di makam bertuliskan Im Yoona.

“Maaf telah membuatmu sakit selama dua hari ini lagi. Kau tahu, aku harus mengeluarkan sisa tangisku selama dua hari penuh setelah kedatanganmu itu……”

“….. aku akan mulai menuruti perintahmu, Yoona. Mungkin kau memang bukan tercipta untukku, tapi aku bahagia bisa bersamamu selama ini. Dan.. untuk beberapa saat kedepan aku tidak akan sering-sering ke sini karena, kau tahu sebentar lagi ada ujian kelulusan dan aku akan melanjutkan kuliahku di Inggris. Dan juga, aku harus belajar untuk tidak peduli padamu.”

Dan sesungguhnya aku tidak bisa melakukan itu. Tapi aku akan berusaha demi Yoona—wanita yang aku cintai.

Aku melirik jam tanganku, “God! Aku hampir telat!” ucapku sambil menepuk dahiku. “Baiklah Yoona, kalau ada waktu, aku akan ke sini lagi.” aku mulai berjalan meninggalkan makam Yoona.

Setelah lima langkah aku meninggalkannya, aku baru teringat satu kata yang terlupakan olehku. Aku pun menoleh ke makamnya, “saranghae, Im Yoona,” dan berbalik lagi menuju mobilku.

Tiba-tiba angin berhembus cukup kencang. Dan saat itu aku mendengar samar-samar suara Yoona, “Nado Saranghae, Jang Wooyoung..”

Aku menoleh ke makamnya lagi. Dan tersenyum. “Gamsahamnida (thank you)” gumamku.

The End

Iklan

3 responses »

  1. wah panjang banget ceritanya….
    ceritanya bagus juga pas ama cover ceritanya
    bener2 fokusnya alurnya menceritakan wooyoung ma yoona aja ampe misal keluarga si wooyoung ini gak ada diceritanya sedikitpun atau keluarga si yoona
    wah bener2 berasa dunia milik berdua hehe…
    cocok banget yang emang lagi galau-galaunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s