I Love Fussy Girl! (Kai Exo Birthday) Part1

Standar

Judul : I Love Fussy Girl! (Kai Exo Birthday) Part1

Author : Aqila

Cast : Cho Jehee, Kai (Kim JongIn) Exo, Cho Kyuhyun, Cho Ah-Ra, Kris Exo, Sehun Exo, Suho Exo, Han Ha Gun.

Genre : Romance

Rating : G

 

-Twoshoot-

Note : Ini aku buat untuk merayakan hari ulang tahun Kai Exo pada 14 Januari 2013 yang ke 19 tahun yang akan datang. Dan salam kenal, aku baru pertama kali ngirim FF ke blog ini. Semoga kalian semua bisa memaklumi kalo masih ada kekurangannya dan ditunggu komentarnya yaa.

 

Happy reading guys!!

 cats

Yeoja mungil dengan suara nyaring dan kalimat panjangnya. Menutupi semua kepribadian Kai yang terkadang lebih memilih untuk terdiam. Walaupun terkadang dia menyerah untuk menjadi diam ketika bersama Jehee. Persiapan malam pesta dansa yang mengesankan. Membuat mereka yang awalnya selalu bertukar debat tak penting dan selalu ribut, menjadi sebuah keakraban tersendiri yang tercipta.

 

Kim JongIn (Kai) PoV

Kemarin hanya kebetulan. Kemarin lusa juga hanya kebetulan. Dan kemarin sebelum lusa juga hanya kebetulan. Tiga kali kebetulan yang aku temui. Jangan sampai ada yang keempat. Itu sama saja membuat aku untuk menarik kesimpulan bahwa ini semuan adalah.. Pertanda takdir?

“Kai~ssi?” Aku menoleh ke arah orang yang menepuk ringan pundakku. Dia tersenyum kecil menahan tawa saat melihat ekspresiku yang mungkin menurutnya aneh. Entah kenapa aku malah berpikiran orang yang menepuk pundakku adalah dia, yeoja yang aku temui beberapa hari belakangan ini. Dan aku menjadi menoleh dengan perasaan berharap. “Wae? Apa kau begitu merindukanku, eo?”

Aku menggeleng cepat. “Setidaknya aku masih ada perasaan senang saat melihat yeoja – yeoja berkumpul didepan mataku, Hyung” Elakku yang berusaha memberhentikan tawanya.

“Baiklah, aku akui kau masih menyukai yeoja.” Suho Hyung menghentikan tawanya, “Aku menemuimu hanya sedikit penasaran, sekaligus mengetes kewarasanmu sebagai namja. Kau sudah menemukan pasangan untuk pesta dansa malam lusa?”

Sedikit membuatku terlonjak, mengingat aku yang sudah melupakan undangan pesta itu. Sebuah acara tidak penting yang dibuat oleh kampus untuk merayakan ulang tahun kampusku. “Ah! Aku hampir saja lupa Hyung, jadi maaf. Aku belum bisa memberikanmu bocoran tetang yeoja yang akan aku ajak.”

“Katakan saja kalau kau memang tidak tertarik untuk datang,” Suho Hyung berujar dengan sedikit menyindir. “Aku tidak memaksamu untuk datang, hanya saja jangan salahkan aku kalau.. kau menjadi topik terheboh di kampus setelahnya. Papan madding akan dipenuhi berita tentang “Namja popular di kampus tidak datang pesta dansa. Mungkin, tidak ada yang berminat dengannya.””

“YAK, hyung! Hentikan omong kosongmu. Baiklah, akan ku usahakan datang. Setidaknya aku akan membawa yeoja istimewa untuk malam lusa.” Ujarku yang kemudian memutuskan untuk berlalu pergi meninggalkannya.

***

Aku tersenyum singkat, menyambut hangat kedatangan keluarga Cho yang datang mengunjungi rumahku. Teman kerja appa yang dulunya adalah teman sewaktu SMA, sudah lama di inginkan appa untuk makan malam bersama keluarga. Sekedar bertukar cerita dan saling bernostalgia, katanya.

Kami sudah berada dalam meja makan di ruang pertemuan. Ruangan ini sengaja di buat appa untuk menjamu tamu – tamu penting. Aku duduk diantara kedua kakak perempuanku. Dan Ah-ra nuna, putri sulung keluarga Cho duduk bersebelahan dengan Kyuhyun Hyung. Entah kenapa mereka menyisakan bangku dihadapanku. Apa diantara mereka tidak ada yang ingin duduk berhadapan denganku?

“Dimana Jehee?” Cho Ajjushi menolehkan pandangannya pada Kyuhyun.

“Dia izin ke kamar kecil. Tadinya ingin aku antarkan, tapi dia bersikeras untuk mencari sendiri. Jadi mungkin dia tersesat,” Jawab kyuhyun hyung dengan nada datarnya. “Tapi aku yakin, dia tidak akan mungkin di culik oleh penjahat konyol dirumah ini.”

Aku menahan tawa yang nyaris keluar begitu saja. Yang kukira Kyuhyun Hyung dengan wajah dinginnya akan menakutkan, tapi kurasa dia tidak seseram itu. Masih ada selera humor yang cukup tinggi.

“Maaf, tadi aku sedikit keliru dengan jalan menuju kamar kecil, jadi aku terlambat.” Gadis mungil dengan kaos berlengan panjang orange dan gardigan tak berlengan berwarna kelabu datang menghampiri meja makan. Duduk di bangku hadapanku. Cukup dengan celana jeans dan gayanya yang santai, tapi tidak mengurangi kesopanannya sebagai tamu. Kalung panjangnya berbentuk bunga tergantung cukup cantik menghiasi lehernya.

Rambut panjang bergelombangnya dibiarkan tergerai rapih. Walaupun tetap terlihat berbeda jauh dengan Ah-ra nuna yang terlihat begitu feminim malam ini dengan gaunnya. Dan.. aku rasa ada sedikit kesalahan disini. Wajahnya lama kelamaan terasa begitu tidak asing bagiku.

“Baiklah, sekarang sudah lengkap dan aku bisa memperkenalkan anak – anakku padamu.” Ujar Cho ajjushi yang diiringi oleh cengiran kecilnya. “Dia Cho Ah-Ra, putri sulungku. Mungkin JongIn pernah bertemu sebelumnya dalam beberapa acara. Begitu juga dengan Cho Kyuhyun. Mereka yang selalu aku ajak untuk pertemuan pertemuan penting dan bersangkutan dengan perusahaan.”

“Dan Cho Jehee, adalah putri kecil kami. Dia kami anggap terlalu kecil untuk mengetahui urusan perusahaan. Jadi, dia sampai sekarang tidak mempunyai daya tarik apapun dengan perusahaan,” Cho Ajjushi tertawa sejenak sebelum kembali melanjutkan, “Dia memilih dunianya sendiri, di dunia Jurnalistik. Aku sendiri tidak mengerti dari mana datangnya bakat menulis pada anak ini.”

Aku menyeringai kecil mendengar penjelasan Cho Ajjushi. Telingaku mendengarkan dengan baik tentangnya. Dan mataku menatap lurus kearahnya. Dia terlalu menyimpan misteri sepertinya. Wajahnya memang benar – benar tidak asing bagiku.

“Chakkaman, maaf kalau aku menyela pembicaraan ini,” Jehee akhirnya menyuarakan diri. “Apa aku pernah bertemu denganmu sebelumnya? Sepertinya kau tidak terlalu asing bagiku dan..” Dia berujar ke arahku, padaku. Membuatku sedikit sulit mengontrol keterkejutanku.

“Pemberhentian bus dekat kereta bawah tanah. Dan saat hujan.” Kami berujar dengan kata yang tepat dan bersamaan. Membuat semua orang yang ada di dalam ruangan bertukar pandang heran.

***

Cho Jehee PoV

Aku hanya terdiam menatap suasana ramai dari balik jendela mobil. Ah-Ra eonni masih terkadang melirikku dengan senyuman anehnya. Dan Kyuhyun oppa masih sibuk dengan PSPnya. Aku harap mereka tidak akan membahas kembali kejadian barusan yang cukup memalukan.

Ucapan bodoh yang keluar bersamaan. Kehisterisanku spontan setelah menyadari Kai adalah orang yang pernah bertemu denganku. Dan sikap bodohku yang mengambil jatah ayam goreng Kai, yang sebenarya boleh – boleh saja kalau aku mengambilnya. Hanya saja dia terlalu mengincar ayam itu. Dan terjadilah keributan ketiga antara aku dengannya.

“Dia menyukaimu,” Kyuhyun Oppa berujar tanpa menolehkan padangan dari PSPnya. “Aku bisa melihat dari sorot matanya. Kalau Kai menyukaimu.”

“Kau berbicara denganku?” Tanyaku dengan sedikit segan. Mendengar kalimat Kyuhyun Oppa yang benar – benar tak logis. “Aku rasa kau salah mengerti. Kami selalu bertengkar disetiap kami bertemu.”

“Kyuhyun sepertinya benar,” Ah-Ra eonni ikut ambil suara. “Kau dan Kai membuatku iri.”

“Mwo?” Aku membalikkan tubuh kearah Kyuhyun oppa dan Ah-Ra eonnni. “Kalian gila kalau sampai berpikiran seperti itu. Asal kalian tahu. Dia yang sudah membuat kacau kedatanganku pada acara pernikahan senior kampusku, Taeyeon eonni. Pakaian ku basah semua karena dia mengambil paksa payungku, dan aku terpaksa harus membeli pakaian disebuah toko kemudian menggantinya.”

“Yang kedua, aku tertinggal kereta bawah tanah yang menjadi alternative terakhirku untuk pulang saat hujan deras karenanya. Dia mencegatku dengan mengira kalau aku adalah teman yang ditunggunya. Kami berdebat panjang sampai aku melupakan waktu. Yang ketiga, aku sedang menunggu di pemberhentian bus dekat stasiun kereta bawah tanah. Dan dia datang dengan payung basah yang diletakkan dekat buku kampusku. Dia membasahinya. Lalu yang ke empat? Aku bertemu dengannya pada jamuan makan malam hari ini dan dia mengacaukannya! Dan sialnya ternyata aku satu kampus dengannya.”

Aku menghempaskan tubuh pada sandaran jok tengah. Appa dan eomma hanya menyeringai kecil menanggapi ocehanku. Terlihat dari  kaca spion tengah yang bisa aku lihat dari sisi dudukku.

Ah-Ra eonni menepukkan tangannya dan menatapku dengan wajah berseri. “Hebat! Kalian bertemu pada waktu yang sama. Hujan. Dan pada lokasi yang berdekatan.”

“Kebetulan sampai lebih dari empat kali, menurut ilmu psikologi, itu adalah takdir.” Ujar Kyuhyun Oppa

***

 “Kau datang dengan siapa pada malam pesta dansa besok?” Ha Gun menyikut lenganku. Menyadarkanku yang masih terpaku dengan layar laptopku.

“Molla. Sepertinya aku tidak berminat untuk datang.” Jawabku. “Kau tahu? Datang pada acara pesta dansa sama saja aku masuk ke dalam nerakaku. Mengenakan gaun, make up, rambutku yang harus diacak – acak menyesuaikan gaun, dan sepatu high heels. Kau seharusnya tahu aku. Tidak mungkin untuk seorang Cho Jehee mengenakan itu semua.”

“Kau pikir aku juga betah dengan pakaian seperti itu?” Dengus Ha Gun sembari menyeruput minuman hangatnya. “Ini akan aku jadikan sebagai hadiah 1st anniversary ku dengan Kyuhyun. Setidaknya dia harus pernah melihatku berdandan.”

“Ck, aku rasa Kyuhyun oppa akan mati kaku besok malam.” Sahutku. “Tapi kalau kau datang dengan Kyuhyun oppa, pasti aku akan ikut terseret dalam pesta dansa itu. Dan sialnya, sampai sekarang aku belum memutuskan dengan siapa akan datang.”

“MinHyuk bukannya mengajakmu?” Aku menggelengkan kepala.

“Dia terlalu baik, dan sepertinya akan mengekor denganku terus kemanapun aku pergi.”

“Siwon oppa juga menawarkanmu kan?”

“Dia mempunyai fans terlalu banyak. Kalau aku dengannya, sepulang pesta aku akan dihabisi oleh semua fansnya.”

“Eum.. Bagaimana dengan Kris? Kau masih menyukainya?”

“Tutup mulutmu! Kau kira aku mau mencari mati dengan datang bersamanya, hah? Sudahlah, aku juga sudah melupakannya. Dia hanya mantan kekasiku yang begitu terobsesi denganku.”

“Yak! Kau ini! pantas saja sampai sekarang belum mempunyai pasangan untuk datang ke pesta dansa. Kau terlalu mencari kelemahan setiap namja yang mengajakmu datang ke pesta dansa besok malam.” Ha Gun mengertakkan mejanya. “Untuk tawaran terakhirku. Aku akan mencobanya membuat dia mau dan kau juga harus mau.”

“Terserah kau sajalah. Aku sudah tidak berniat mencari namja untuk pesta dansa besok malam.”

“Kai. alias Kim JongIn. Namja jurusan kedokteran. Otte?”

“YAK HAN HA GUN KAU MAU MENCARI MATI DENGANKU, HAH?!”

***

Kim JongIn (Kai) PoV

Aku meletakkan sumpit disamping ramenku. Memperhatikan Jehee yang makan dengan lahapnya dihadapanku. Dia terlihat begitu menikmati ramennya siang ini. Atau entah karena memang kebiasaan makannya yang sangat mengkhawatirkan. Melahap semua makanan dihadapannya tanpa bernapas.

“Kau lapar?” Tanyaku yang hanya ditanggapi dengan anggukan kecilnya sebelum dia menyelesaikan makanannya secara kilat. Kemudian meletakkan sumpitnya dan mulai berceloteh panjang.

“Bayangkan saja. Hari ini aku harus menyerahkan laporan dua puluh lima berita pada dosen. Aku sendiri tidak yakin dia akan membacanya semua. Tapi yang aku dengar, dia akan membaca secara detail berita yang kita berikan. Bahkan dia tidak jarang mengecek langsung ke aktualan beritanya. Dan mencari berita actual itu melelahkan.”

“Habiskan dulu makanan dalam mulutmu baru bicara.” Aku menyentuh pipinya menggunakan sumpitku. Membuatnya sedikit mengercut kesal.

“Biarkan saja.” Dengusnya yang kemudian menyambar jus strawberrynya.

“Kau tidak menyadari cara makanmu yang bisa saja membuatmu jatuh sakit?” Ujarku akhirnya, “Makan dengan kecepatan tinggi kemudian dengan cepat menyambar minuman tanpa diberikan jarak. Apa kau belum pernah mendapatkan dampak buruk dari kebiasaan makanmu?”

“Yak, aku tahu kau calon dokter Kai~a. Tapi sepanjang hidupku, aku belum pernah mengalami dampak buruk apapun dari kebiasaan makanku. Karena selama ini Kyuhyun oppa melototiku setiap kali aku makan seperti ini.”

“Lalu? Apa kau butuh untuk aku pelototi agar makan dengan baik?”

“Tidak, terima kasih” Jawabnya dengan raut wajah menolak. “Aku lebih suka makan dengan gayaku seperti ini. perutku tidak perlu menunggu lama untuk terisi.”

“Tapi itu sama saja kau mencoba melukai dirimu. Perutmu bukannya senang, malah menjadi stress karenamu.”

“Tidak akan, karena aku tidak memberikan tugas dateline pada perutku.”

“Mungkin saja, karena mencerna makananmu sama saja seperti dikejar dateline.”

“Kau bisa berhenti merecoki urusan makanku? Aku rasa kau tidak ada hak untuk melarangku sedikitpun.”

“Aku punya hak, karena aku calon dokter. Dan aku harus mencoba mempraktekkan penyuluhan pada makhluk – makhluk sepertimu.”

“Kau pikir aku makhluk seperti apa, hah?”

“Makhluk tak tahu diri. Masih untung aku mentraktirmu ramen dan menasihatimu.”

“Kalau kau mau menyuruhku bayar sendiri aku juga bisa. Kau saja yang terlalu gengsi mentraktirku.”

“Sudah, habiskan minummu kemudian kita bicarakan permasalahan Ha Gun barusan.”

Dia nyaris tersedak saat aku menyebutkan perkataan terakhir. Matanya sempat membulat dan wajahnya berubah menjadi pucat seketika.

“Aku tidak yakin yeoja sepertimu tidak akan mempermalukanku pada pesta dansa besok malam” Tuturku setelah melihatnya selesai meminum habis jatah minumannya.

“Aku juga tidak yakin kalau kau akan membuatku tenang selama pesta dansa besok.” Sahutnya. “Lagipula aku sedikit meragukan.. kau untuk bisa berdansa?”

Aku menyeringai kecil. “Kau pikir aku makhluk sebodoh apa? Jangan remehkan aku dalam hal menari. Aku sangat ahli dalam hal dance, tarian Jazz, popping, dan looking dance. Jadi aku tentu tidak akan diragukan lagi dalam hal berdansa.”

“Cih, percaya diri sekali kau.” Cibirnya sembari melipatkan tangannya, “Aku tidak bisa berdansa. Itu adalah fakta tersialku. Kalau kau benar – benar ahli, setidaknya ajari aku dulu sebelum aku menjadi orang yang memalukan besok malam”

“Jadi? Kita sepakat untuk datang bersama pada pesta dansa besok malam?” Tanyaku untuk memastikannya. Ha Gun, temannya yang menyodorkanku beberapa waktu lalu. Hingga akhirnya aku bisa mendiskusikan dengannya dengan makan siang bersama.

“Mau tidak mau. Karena aku tidak punya pilihan lain.”

***

Dia mengumpat kesal setiap kali mendapat kesulitan dalam mempelajari gerakan yang aku ajarkan. Aku hanya memberikannya arahan tiga empat kali. Kemudian dia melanjutkan dengan berlatih sendiri. Mengulang sesuka dirinya.

Terkadang aku tertawa geli melihatnya yang begitu kualahan mempelajarinya. Sesekali aku mengerjainya dengan memberikan gerakan sulit. Dan segera diprotes olehnya. Dengan alasan ‘Gerakan dansa tidak mungkin sesulit itu’

Dia terlihat begitu manis hanya dengan kaos panjang berwarna coklat muda bergambar beruang dan celana jinsnya. Jehee sepertinya menyukai pakaian santai dan simple. Rambut panjang bergelompangnya pun dibiarkan tergerai bagitu saja tanpa ada selaan pita ataupun ikat rambut satupun. Dan aku menyukai sikapnya yang natural.

“Kau mengerjaiku lagi ya? Gerakan ini sulit sekali.” Keluhnya yang kemudian datang menghampiriku. “Kakiku sepertinya tidak akan aman jika terus – menerus seperti ini.”

“Tidak. Hanya saja ini akan mudah dipelajari jika kita berlatih bersama. Berdansa itu harus ada pasangannya. Jadi akan sulit jika kau hanya mempelajarinya sendiri.”

“Bersama? Maksudmu.. kita berlatih berdua?” Matanya sedikit membulat setelah mengerti maksud ucapanku.

“Memangnya besok malam kau mau berdansa dengan siapa? Denganku kan? Berarti kau harus mencoba berdansa denganku terlebih dahulu.” Aku berdiri dari dudukku. “Tapi kau jangan berpikir yang macam – macam karenanya.”

“Yak! Kau pikir aku yeoja murahan yang mudah mengira perasaan orang, hah?” Gerutunya yang kemudian membuntutiku ke tengah ruang latihan. “Setidaknya kau yang harus berjanji untuk tidak bermacam – macam atau mencari kesempatan padaku.”

“Cih, kesempatan apa yang bisa diambil? Lagipula tidak ada hal yang menarik darimu.”

“Tutup mulutmu, kemudian cepat ajari aku.” Dengusnya yang mulai kesal denganku.

***

Cho Jehee PoV

Kedua tanganku sempat merasa pegal untuk menutupi kedua telingaku. Lagi. Mereka yang lewat dihadapanku ataupun yang ada disebrang manapun, sibuk membicarakan pesta dansa nanti malam. Semuanya tersenyum senang sembari terus berceloteh ria tentang rencanya nanti malam.

Banyak diantara para yeoja yang sibuk membincangkan gaun dan sepatu terbaiknya yang akan dikenakan. Dan diantara para namja, sibuk membicarakan yeoja yang akan digandengnya. Saling membanggakan kecantikan yeojanya nanti malam.

Untukku, semua hal seperti itu sangat menjijikan. Aku tidak tahu sebenarnya aku ditakdirkan menjadi manusia normal atau tidak. Gaun ataupun sepatu high heels adalah benda terlangkaku. Pesta dansa atau pesta semacamnya juga sangat jarang aku datangi. Karena mau tidak mau aku harus ber make up ria. Atau ini dampak dari eomma dan appa yang tidak terbiasa membawaku ke acara – acara besarnya dari kecil?

Lagipula percuma saja kalau aku ikut membincangkan hal  itu. Gaun. Aku tidak punya banyak gaun untuk aku banggakan. Sepatu ber hak. Aku tidak punya koleksi berderet untuk itu. Dan namja. Aku rasa Kai tidak akan pernah menceritakan atau bahkan membanggakanku dihadapan teman – temannya. Kami sama – sama menjadi pilihan terakhir dan pasangan terpaksa.

“Jehee~ssi.” Kris melangkah menghampiriku. Membuatku sedikit terkejut dengan kedatangannya yang tiba – tiba berdiri dihadapanku. “Maaf, mengejutkanmu.”

“Gwenchana. Ada apa?” Tanyaku dengan sedikit memalingkan wajah.

“Kau, sudah mendapatkan pasangan untuk.. nanti malam?” Dia berujar sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang sepertinya sama sekali tidak gatal.

“Sudah. Memangnya kenapa?”

“Kalau boleh aku tahu, dengan siapa?” Kris bertanya dengan sedikit ragu.

“Dengan ku.” Kai datang dengan mengejutkannya entah dari mana. Dia segera merangkulku sambil tersenyum menyeringai.

“Oh, denganmu.” Kris terlihat sedikit canggung sesaat, “Baguslah kalau seperti itu. Aku permisi. Sampai jumpa Jehee~a”

Aku mengangguk kecil dan memberikan senyuman singkat padanya. Sebelum dia melangkah pergi dari hadapanku dan Kai. Mungkin maksudnya ingin menawarkanku datang bersamanya. Atau sekedar ingin tahu siapa namja yang akan bersamaku?

“Yak, lepaskan!” Aku melepaskan diri dari rangkulan Kai. “Apa yang kau lakukan hah? Dan sejak kapan kau berkeliaran di lingkungan fakultasku?”

“Melindungimu dari namja lain, yang bisa saja merebut pasangan untuk pesta dansaku.” Jelasnya yang kemudian menyelipkan tangan dalam saku celananya. “Dan aku kesini sengaja, Ah-Ra nuna barusan meneleponku. Dan satuhal yang ingin kutanyakan sebelumnya. Apa kau selalu menceritakan pada kakak – kakakmu apa yang terjadi setiap harinya?”

Aku mengangguk mantap. “Memangnya kenapa? Kyuhyun Oppa adalah orang yang tidak terlalu banyak bicara. Dan Ah-Ra eonni orang yang cukup ekspresif. Jadi, aku sudah terbiasa dari kecil untuk bercerita pada mereka. Apapun yang terjadi hari itu. Baik hal sekecil apapun, pasti mereka senang mendengarkannya.”

“Oh, begitu.” Ujar Kai. “Apa kau tidak bisa menutup mulut cerewetmu ini tentangku? Aku tidak tahu cerita apa yang kau sampaikan pada kedua kakakmu. Hanya saja, aku tidak ingin dibuat malu olehmu.”

“Aku tidak bisa janji. Karena aku tidak akan membuat janji kalau aku sendiri belum tentu sanggup menepatinya.” Jawabku, “Jadi, sekarang katakan apa yang dikatakan Ah-Ra eonni padamu.”

“Ck, aku harap kau lupa untuk bercerita tentangku.” Kai kemudian mengeluarkan tangannya satu dari saku, kemudian berpindah pada lenganku dan menariknya. “Ah-Ra nuna menyuruhku untuk menemanimu memilih gaun dan sepatu untuk nanti malam. Sebenarnya aku ingin menolak dan memilih untuk tidur nyenyak. Tapi sialnya aku mengangkat telepon tepat didepan eomma. Jadi mau tidak mau, aku harus melakukannya.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Akan ku telepon Kyuhyun Hyung untuk menyeretmu dan memintanya yang menemanimu.”

“Jangan sampai kau melakukan itu. Karena berburu pakaian dan sepatu dengannya, akan membuatku patah tulang. Seleranya terlalu tinggi, dan aku bisa cepat mati karena mengellingi banyak mall.”

***

TBC

Iklan

4 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s