Author Archives: winkieswingers

About winkieswingers

my real name's Dinda. My korean name's Yoon Jihwa a.k.a Hwang Yoong Yoong. My japanesse name's Natsuki Arishima.. U can call me dind, jihwa, yoong, natsu.. sesuka kalian saja memanggil diriku. dind juga seorang author dg nama WinkiesWingers. My lovely hubby Park jungsoo 'leeteuk', Jung 'U-know' Yunho, Lee Jinki 'onew', Nichkhun B. Horvejkul. Lee Changsun 'joonie'.. my lovely sister Im Jin Ah 'nana'.. fandom, Cassiopeia, ELF, Shawol, Hottest, A , Playgirlz.. bangapseumnida, chingudeuleen ^^

You Make Me Smile

Standar

Tittle: You Make Me Smile

Author: WinkiesWingers

Genre: romance, friendship

Rate: PG 15

Cast:

–          Kim Jaerin / Kim Joeran ( Lyra Callisto)

–          Lee Donghae

–          Cho Kyuhyun

Disclaimer: They’re not mine ^^ .. Story is mine! Hha

A/N:  hello hello * ngedance hello-shinee* .. kyknya saya mengurungkan niat vakum deh. Hhaha.. tp gak tau juga deh. Kali ini mo bawain FF special for nae yeodongsaengie, Lyra ^^ .. awalny aragu juga mo ngepostin ni FF. So..sori ye, klo critanya ancur ><. Belakangan ini napsu bkin FF berkurang. Udh gak bgitu berminat bkin FF.. karena kesibukan yg padatlah yg membuat author kesayangan kalian ini, jd jrg ngeposting FF 😥 .. gak ush banyak omong, siapin kripik kalian dan mari kita baca bersama2 FF terindah ini. Gyahahaha…

= = = = = = = = = = == =

<Photo 1>

“Gyahaha…” gelak tawa ketiga bocah itu membahana ke seluruh taman samping sekolah dasar mereka.

“Donghae-ya, lihat! Bukankan ikan itu mirip dengan dirimu?” Jeoran menunjuk salah satu ikan kecil yang lincah berenang kesana-kemari. “Geurae! Mirip sekali dengan dirimu, Hae! Hhahaha..Gak bisa diam.” celetuk Jaerin.

Read the rest of this entry

Iklan

Miracle on Valentine’s Day

Standar

Tittle: Miracle on Valentine’s Day

Author: WinkiesWingers

Genre: Romance, Angst

Rating: PG 15

Type: Straight

Status: Oneshot

Cast:

Park Jungsoo – Leeteuk

Yoon Jihwa

Hwang Mi Cha

Lee Jinki –Onew

A/N: After posting one Fanfic, now! I’m comeback again with my best couple  .. Jungsoo-Jihwa couple XD. Ini bisa dibilang side story dari FF Only One is You. Masih inget? Gak inget? Yowes :p .. Disini, author bikin sosok Jungsoo menjadi beda. Hhahaha… skali-kali lah dia dpt peran yg nakal (?). Dia juga srg nakal toh? *nglirik tajem ke parkteuk* . Okay, ini ff juga special dibuat u/ menyambut hari kasih sayang.Hope u like it ^^ ..

WARNING!! DI FF INI AUTHOR PAKE 3 ORG POV.. (JIHWA-JUNGSOO-AUTHOR) SMOGA GAK BIKIN KALIAN BINGUNG soalnya gak dikasi tanda.WKEKEKEKEK

“Selama ini aku sudah mencoba untuk sabar dengan sikap oppa. Tapi, kali ini kesabaranku pada oppa benar-benar sudah habis.” kata ku pada kekasihku, Park Jungsoo. Aku berusaha menahan airmata yang nyaris jatuh membasahi pipiku. “Apa maksud foto ini oppa?” aku melempar sebuah amplop yang berisikan sebuah foto dirinya dengan seorang yeoja yang entah siapa dia. “JELASKAN PADAKU!!” teriakku dengan airmata yang mulai membasahi kedua mata dan pipiku.

Read the rest of this entry

THANK YOU

Standar

tittle : Thank You

author: WinkiesWingers

genre : friendship

rating : G

cast : all Super Junior member

A/N : annyeong ^^ ..i’m back with my fanfic. ini fanfic udah lama author bikin dari taun lalu, special menyambut ulangtahun our eternal magnae Kim Ryeowook , our Ryeong9 ^o^ . dan author pengen share ke reader-deul .. hope u like my fanfic. happy read~

 

 

= = = = = = = = = = = = =

 

Sepulangnya dari mengisi acara di salah satu stasiun televisi, Ryeowook yang biasanya langsung memasak untuk makan malam kali ini lebih memilih beristirahat di kamarnya. Selama perjalanan pulang tadi pun ia hanya diam tak bersuara. Keanehan itu memancing rasa penasaran para member SuJu. Mereka merasa ada yang tidak beres dengan Ryeowook hari ini. Sungmin sempat menanyakan keadaan dongsaengnya itu, tapi Ryeowook hanya mengatakan,” aku tidak apa-apa, hyung. Tidak usah khawatir”

 

Yesung yang sudah tidak bisa menahan rasa laparnya lantas masuk ke kamar dan memanggil Ryeowook.

 

”Wookie-ya, kami lapar…kau mau kan memasakkan makan malam untuk kami?” pinta Yesung. Ryeowook yang tadi akan tidur langsung menyanggupi dan segera memasakkan untuk mereka.

 

”Dia kenapa?” tanya Eunhyuk.

”Entahlah,,” jawab Yesung singkat.

 

Selesai memasak, Ryeowook menatanya di meja makan dan memanggil Kyuhyun dan Hyung-deul untuk makan malam.

 

 

”Ryeowook-a, aku boleh pinjam handphonemu?” tanya Eunhyuk setelah selesai makan.

”Untuk apa, hyung?”

”telepon…”

”kau kan punya handphone sendiri.”

”handphoneku mati. Ayolah..sebentar saja” Eunhyuk terus memaksa Ryeowook sampai khirnya Ryeowook mengalah dan meminjamkan handphonenya.

 

Selang beberapa menit, Shindong datang ke dorm mereka dan menghampiri Ryeowook.

”Ryeowook!!” panggil Shindong.

”Wae?”

”Aku lapar..”

”Hyung belum makan?” Shindong menggeleng.

Sebenarnya ia malas untuk memasak karena ia merasa sangat lelah hari ini. Namun, melihat ekspresi Shindong membuat Ryeowook tidak tega.

Gangguan demi ganguan datang silih berganti menghampiri Ryeowook yang ingin tidur. Hampir saja ia terlelap, Yesung datang membangunkannya.

 

”Ryeowook-a, ireona..kenapa kau tidur sekarang? Ini masih pukul 8 malam. Lebih baik temani aku ke toko hewan.”

”mwo? Toko hewan? Buat apa?”

”makanan ketiga kura-kuraku habis. Kau temani aku yah? Aku sudah mengajak yang lain tapi mereka semua menolak..” Ryeowook terdiam.,” sudah! Kkaja..” Yesung langsung menarik Ryeowook pergi.

 

 

++++++++++++++++++++++++++

 

”Ryeowookie!!” panggil Kyuhyun. Tak ada sahutan dari Ryeowook, Kyuhyun masuk ke kamarnya dan mendapati Ryeowook sedang duduk di kasurnya sambil membaca buku.

”Ryeowook-a..” panggil Kyuhyun.

”Waeyo?”

”Tolong kupaskan buah untukku..”

”Kau bisa mengupasnya sendirikan?”

”Tanganku kemarin terluka saat latihan..”

”hhhahh, baiklah..”

 

Belum selesai ia mengupaskan buah untuk Kyuhyun, Heechul datang ke dorm dan membawa Heebum.

 

”Ryeowook-a, kau bisa jaga Heebum dan baengshin untukku?”

”Eh?”

”Hari ini sajaa.. Aku ada janji dengan Hongki. Tolong yah, annyeong”

”Tapi hyung..aku lelah..” keluh Ryeowook yang tentu saja tidak akan di dengar Heechul karena hyungnya itu telah pergi. Dengan terpaksa ia menjaga kucing2 Heechul.

 

Rasa kantuk yang tadi muncul kini telah hilang. Ryeowook pun memutuskan untuk menonton televisi. Akan tetapi, ia tidak bisa tenang menonton karena daru tadi Kyuhyun terus-terusan berteriak. Saat ini, kyuhyun tengah asyik bermain game menggunakan komputer dorm mereka.

”Dasar! Mengganggu saja!!” Ryeowook pun memutuskan masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan diri di kasur. Kepalanya sangat pusing. Ia memegang dahinya dan ternyata panas.

”Sepertinya aku demam. Lebih baik tidur saja..”

 

Untuk kesekian kalinya, Ryeowook ingin memejamkan matanya selalu saja ada yang mengganggunya. Bergantian para member memanggil mereka. Ada yang meminta Ryeowook untuk ini dan itu. Ada pula yang meminjam barang milik Ryeowook. Hanya Sungmin dan Leeteuk yang semakin curiga dengan keadaan Ryeowook. Tidak biasanya ia menuruti semua permintaan para member.

 

”Ryeowook-a, kau baik-baik saja?” tanya Sungmin mberjalan mendekati Ryeowook. Ryeowook bangun dan duduk,” aku baik-baik saja” jawab Ryeowook lemas.

”Wajahmu pucat. Apa kau sakit?”

 

Saat Sungmin hendak memegang dahi Ryeowook, secara reflek Ryeowook menampik tangan Sungmin.

”Ah, mianhaeyo hyung..”

”Kau sedang ada masalah?” tanya Sungmin semakin khawatir.

Ryeowook menggeleng,” aniyo. Hyung, tolong tinggalkan aku sendiri. Hari ini aku sangat lelah. Aku ingin tidur..”

”Baiklah..tidur yang myemyak yah..” ujar Sungmin lalu keluar dari kamar Ryeowook.

 

Di luar Leeteuk telah menanti,” bagaimana?” tanya Leeteuk. Sungmin menggelengkan kepalanya.

”Sebenarnya dia kenapa? Ini seperti bukan Ryeowook yang kukenal..” komentar Leeteuk.

”Entahlah, tapi sepertinya keadaan tubuhnya kurang baik.”

”Apa dia sakit? Kenapa diam saja kalau sedang sakit?”

”Sudahlah, biarkan dia istirahat..”

 

++++++++++++++++++

 

Tengah malam Donghae terbangun. Perutnya berbunyi.

 

”aish, sial! Kenapa lapar di tengah malam begini?” gerutu Donghae. Ia segera beranjak dari kasurnya dan menuju ke lantai 11.

 

Donghae mengendap-endap masuk ke dalam dorm agar tidak mengganggu tidur mereka. Dari arah samping, Eunhyuk keluar dari kamarnya membuat Donghae terkejut.

 

“Ya! Kenapa kau disini?” tanya Eunhyuk.

“Aku lapar. Aku ingin membagunkan Ryeowook untuk memasakkan makanan untukku”

“Begitu.. Kebetulan aku juga lapar. Kau saja yang bangunkan Wookie. Aku tunggu diluar” Eunhyuk menyuruh Donghae dan Donghae menurut.

 

“Ryeowook-a. Ryeowook-a..” panggil Donghae seraya menggiyangkan tubuh Ryeowook yang sedang terlelap.

“ughh..Donghae hyung. Waeyo?”

“Aku lapar. Buatkan makanan untukku…”

”Ini masih tengah malam, hyung. Aku sangat mengantuk” tolak Ryeowook dan memunggungi Donghae.

”Ayolah..jebaal” Donghae terus memaksa Ryeowook,” kau ingin aku dan Eunhyuk mati kelaparan? Tega sekali kau..”

”Agh! Arrasseo..akan kubuatkan makanan untuk kalian” Ryeowoo akhirnya terbangun.

”Ahh! Saranghaeyo” Donghae memeluk Ryeowook.

 

Dengan lemas ia terbangun dan segera menuju dapur untuk memasak. Eunhyuk dan Donghae menunggu sambil bermain komputer. Satu jam sudah Ryeowook memasak.

 

”Hyung, makanannya sudah siap di meja makan..” ujar Ryeowook dengan napas yang tak teratur.

”Gomawo..” Donghae langsung menuju meja makan. Tidak dengan Eunhyuk. Ia menatap kearah Ryeowook yang duduk disofa sambik memijit kepalanya.

 

”Ryeowook-a, kau sakit?” tanya Eunhyuk.

”Aniyo. Aku baik-baik saja..” kilah Ryeowook.

 

Tentu saja Eunhyuk tidak langsung percaya. Ia lantas memegang dahi Ryeowook,” Agh!! Kau demam!” pekik Eunhyuk,” badanmu sangat panas..”

 

Suara Eunhyuk yang terlalu keras itu membuat para member terbangun. Donghae juga menghentikan kegiatan makannya dan menghampiri Eunhyuk.

”Wae? Wae?” tanya mereka bebarengan.

 

”Ryeowook, dia..”

”Tidak. Aku tidak apa-apa” Ryeowook memotong perkataan Eunhyuk dan bergegas kembali ke kamarnya. Sayang, saat hendak kembali ke kamar Ryeowook berjalan sempoyongan dan pandangannya mulai kabur. Tiba-tiba semua menjadi gelap. Itu yang dirasakan Ryeowook.

 

+++++++++++++++++++++

 

”kenapa dia tidak bilang kalau sedang tidak enak badan?” gerutu Yesung.

”Aku rasa dia tidak ingin membuat kita repot hanya karena dia sakit” komentar Sungmin yang baru saja keluar dari kamar Ryeowook.

”Bagaimana keadaannya?” tanya Leeteuk.

”Demamnya sedikit turun. Sekarang dia sedang tidur..”

 

Saat ini semua member sedang berkumpul di dorm lantai 11.

 

”Aku jadi merasa bersalah padanya. Seharusnya aku tidak membangunkan dia tadi.. ” ucap Donghae.

”Benar, hari ini aku juga telah banyak merepotkan Ryeowook. Padahal ia sedang sakit.” sambung Kyuhyun dan disetujui yang lainnya.

 

”Hey!!” teriak Eunhyuk tiba-tiba mengagetkan semua member. Heechul yang disamping eunhyuk menjitak kepala Eunhyuk.

”sakit..” keluh Eunhyuk,” Oya, kalian ingat hari ini hari apa?” tanya Eunhyuk penuh teka-teki.

”Hari senin..” jawab Kyuhyun polos,

” aku tahu hari ini hari senin..” sahut Eunhyuk.

”lalu, apa maksudmu dengan pertanyaan ’kalian ingat hari ini hari apa’ ?” tanya Donghae dan dibenarkan mereka semua.

”Kalian tidak tahu?” semua member menggeleng,” tega sekali kalian kalau tidak ingat..ck ck ck”

”AH! Aku tahu..hari ini kan hari ulang tahunnya Ryeowook.” seru Leeteuk.

”Bingo!!” sahut Eunhyuk.

”Lalu, apa rencanamu?” tanya Shindong.

”Kita bikin surprise party untuk Ryeowook..” usul Eunhyuk.

”Benar juga..”

”Surprise party apa maksudmu?” tanya Heechul.

“Spesial hari ini, kita memasak untuk Ryeowook. Kita kan sering memintanya untuk memasak. Tidak ada salahnya kan gantian kita yang memasak untuk Ryeowook?”

 

Semua member menyetujui usul Eunhyuk itu.

 

”Tunggu! Aku juga ada ide. Besokkan kita ada jadwal tampil di acara televisi yang acaranya disiarkan secara langsung. Bagaimana kalau…” Heechul membisikkan rencananya,” bagaimana? Setuju? Nanti biar Leeteuk yang menyampaikannya pada manager..”

 

”kenapa aku?”

”Di Super Junior kau jadi apa?” tanya Heechul.

”Leader..” jawab Leeteuk polos.

”yasudah, kau kan leader. Jadi kau yang menyampaikannya pada manager..”

”Benar kata Heechul hyung..” kata Yesung.

 

Semua mata memandang penuh harap kearah Leeteuk.

 

”baiklah, sebagai leader SuJu..aku terima” ujar Leeteuk pasrah. Semua member SuJu bersorak gembira lalu segera mengatur rencana untuk besok.

 

+++++++++++++++++

 

Hari ini Super Junior dijadwalkan akan tampil membawakan lagu terbaru mereka dari album ke-4 Bonamana yang berjudul Miinah. Mereka akan mengisi acara musik di salah satu stasiun televisi. Saat ini mereka tengah berada di ruang tunggu yang disediakan untuk Super Junior. Sembari menunggu untuk tampil, para member SuJu sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Yesung sibuk dengan laptopnya, Eunhyuk sibuk mendengarkan lagu lewat i-podnya, Shindong dan Heechul tak pernah lepas dari handphonenya, Donghae dan Leeteuk pun juga tak pernah lepas dari Handphonenya, Siwon membaca buku di sofa, Ryeowook tengah berbincang-bincang dengan kru dan Sungmin, sedangkan Kyuhyun? Pasti sudah banyak bisa yang menebak apa yang sedang ia lakukan. Yap, Kyuhyun sibuk berkutat dengan laptopnya. Bukak untuk membuat lagu ataupun browsing. Melainkan untuk bermain game, Starcraft, game favoritnya. Terkadang, Donghae dan Eunhyuk mengganggu kekhusyukkan Kyuhyun bermain game yang membuat Kyuhyun sebal.

 

Merasa bosan dengan suasana yang ada, Ryeowook pun menatap satu persatu member SuJu.

“Ryeowook-a!” panggil Donghae dan Ryeowook pun menoleh kearah Donghae.

“Wae, hyung?” sahut Ryeowook.

“Tolong ambilkan aku minum..” perintah Donghae tanpa menatap Ryeowook dan asyik bermain dengan handphonenya.

“Kenapa menyuruhku? Hyung kan bisa ambil sendiri..” protes Ryeowook.

“Aku sedang sibuk nih” balas Donghae,”sibuk twitteran” tambahnya. Dengan pasrah Ryeowook menuruti permintaan Donghae untuk mengambilkan minum.

 

”Ryeowook!” kali ini manager memanggil Ryeowook. Ryeowook dengan segera berjalan menghampiri Manager. Mereka terlihat sedang mendiskusikan sesuatu. Leeteuk yang masih asyik bermain handphone merasa penasaran dengan apa yang mereka diskusikan.

 

”Mwo?!” pekik Ryeowook tibab-tiba membuat semua member menghentikan kegiatannya dan menatap kearah Ryeowook,” keundae..manager hyung, bukankah ini sangat mendadak?”

”Memang betul. Tapi aku percaya padamu. Kau pasti bisa! Oke?” ucap Manager meyakinkan Ryeowook. Ryeowook pun berjalan denagn lemas dan merebahkan diri di sofa.

”Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat pucat?” tanya Leeteuk khawatir.

”Benar. Tidak seperti biasanya kau begini..kau terlihat sangat gugup” tambah Sungmin.

 

Ryeowook hanya terdiam. Tiba-tiba keringat dingin keluar dari dahinya.

 

”Ryeowook-a, gwaenchanha?” Leeteuk kembali bertanya dan tampaknya ia mulai sangat khawatir dengan dongsaengnya itu. Member yang lainya pun berkumpul mengelilingi Ryeowook karena sangat penasaran apa yang terjadi dengan Ryeowook.

 

”Gwaenchanha…Sudah, aku mau ke toilet dulu” Ryeowook pun beranjak dari duduknya dan keluar ruangan menuju toilet.

”Kenapa dia?” tanya Heechul. Semua mengangkat bahu karena tidak tahu. Leeteuk terlihat benar-benar khawatir lalu mencoba bertanya kepada manager perihal Ryeowook. Setelah mendengar penjelasan dari mananger, Leeteuk bernapas lega dan senyum mengembang dibibirnya.

 

Sekembalinya dari toilet, Ryeowook duduk termenung sambil menatap kertas lirik lagunya dan menyanyikannya.

 

”Yak! Kau ini membuat hyung cemas saja. Hyung pikir terjadi sesuatu denganmu. Ternyata..” celetuk Leeteuk membuyarkan lamunan Ryeowook.

”Benar! Seharusnya senang dong diberi kesempatan.” sambung Eunhyuk.

”Jadi, kau gugup karena itu..” kali ini Shindong yang bersuara.

“itu?” tanya Ryeowook bingung.

“weleh, malah balik tanya. Kau akan tampil solo dan bawain lagu one fine spring day kan buat nanti?” ujar Kyuhyun gemas.

 

Ryeowook mengangguk. Ia merasa kegugupannya hilang karena para member SuJu memberinya semangat dan menyakinkan Ryeowook kalau semua akan berjalan dengan lancar. Setelah menunggu cukup lama, kini tiba giliran Ryeowook untuk tampil membawakan lagu solonya dari album Bonamana. Seperti halnya saat Yesung tampil solo, sebagian member SuJu berada di pinggir panggung untuk memberi semangat pada eternal magnae mereka. Penampilan Ryeowook menyanyikan lagu solo ini membuat para penonton dan ELF terkejut.

 

Tinggal beberapa bait lagi Ryeowook selesai membawakan lagunya, tiba-tiba lampu panggung mati seketika membuat Ryeowook panik. Ia bingung harus berbuat apa. Wajahnya pucat, keringat dingin kembali muncul membasahi dahinya. Sorakan kekecewaan terlontar dari beberapa penonton. Rasanya saat ini Ryeowook ingin menghilang saja. Namun percuma, kakinya sama sekali tidak bisa bergerak. Ini pertama kalinya ia membawakan lagu solonya dihadapan ELF dan publik. Terlebih lagi ini siaran langsung yang ditonton oleh semua rakyat Korea Selatan.

 

Selang beberapa detik, dari arah samping panggung terlihat secercah cahaya kecil berjalan kearah tengah panggung. Para member pun muncul tepat saat lampu panggung dinyalakan. Ternyata cahaya kecil itu berasal dari lilin yang terpasang rapi diatas kue tart yang dibawa oleh Yesung. Mereka lantas menyanyikan lagu Happy birthday untuk Ryeowook yang ulang tahun tepat hari ini.

 

“Saengil chukhahamnida. Saengil chukhahamnida. Saranghaneun uri Ryeowook. Saengil chukhahamnida”

 

Eunhyuk dan Donghae memberi aba-aba kepada ELF untuk menyanyikan lagi happy birthday secara bersama-sama. Mereka pun secara serempak kembali menyanyikan lagu kappy birthday.

 

Ryeowook sama sekali tak bersuara dan tidak berkutik sampai Leeteuk menyadarkannya,”Kenapa bengong?”

 

Ryeowook menatap Leeteuk lalu memeluknya erat,” Hyung, jeongmal gomawoyo” ujarnya. Airmata haru mengalir membasahi pipinya,”anieyo” sahut Leeteuk tersenyum dan menyeka airmata Ryeowook. Ryeowook berbalik dan menatap semua para member SuJu,”Jeongmal kamsahamnida” seru Ryeowook dan kembali menitikkan airmata. Para ELF pun tak mau kalah. Dengan serempak dan seolah-olah diberi abab-abab, mereka mengucapkan selamat pada Ryeowook dalam waktu bersamaan,” Saengil Chukhaeyo, Ryeowook oppa!!” seru para ELF.

 

Selesai memberi surprise party untuk Ryeowook, kini tiba giliran Super Junior tampil sebagai penutup acara membawakan lagu Miinah.

 

++++++++++++++++++++

 

Selesai tampil mereka kembali ke ruang make-up. Di dalam sangat gaduh. Para kru memberi selamat untuk Ryeowook termasuk para manager mereka. Setelah mengganti pakaian mereka, mereka kembali ke dorm. Sesampainya di dorm Ryeowook merasa heran dengan apa yang dia lihatnya. Semua member SuJu berkumpul di dorm lantai 11.

 

”Kenapa hyung-deul disini? Tidak kembali ke dorm kalian?” tanya Ryeowook pada Leeteuk, Heechul, Donghae, dan Shindong penghuni dorm lantai 12.

”Kami akan kembali setelah semua selesai” ucap Heechul disertai senyum misterius yang membuat Ryeowook penasaran.

 

Para member terlihat sibuk sedangkan Ryeowook hanya duduk manis menatap mereka. Ia pun memutuskan untuk memasak karena pasti para member sudah merasa lapar,” Apa kalian lapar? Aku akan memasakkan makanan untuk kalian” kata Ryeowook lalu berjalan menuju dapur.

 

”Andwae!!” teriak Kyuhyun mencegah Ryeowook,” wae? Kau tidak lapar?” tanya Ryeowook.

”Bukan begitu..”

”Ryeowookkie, kau tidak usah memasak hari ini. Lebih baik kau istirahat sekarang di kamarmu.” pinta Yesung lalu menarik tangan Ryeowook dan menuju kamar,” AH! Atau kau mau menemani aku bermain dengan ketiga kura-kuraku?”

”Tidak mau!!” tolak Ryeowook,” Kalian ini sebenarnya kenapa sih? Semua berkumpul disini. Aku mau masak tidak boleh..”protes Ryeowook dengan tampang memelas.

 

”Kim Ryeowook, benar kata Yesung. Lebih baik kau istirahat atau mungkin kau menonton tv. Kau pasti lelah kan karena jadwal kita hari ini?”

”Sungmin hyung, aku kan ingin memaska untuk kalian. Ini kan hari ulang tahunku. Jadi aku ingin memasak yang spesial untuk kalian.”

”Tidak. Tidak. Tidak. Kau istirahat saja. Biar kami yang memasak” Sungmin mendorong Ryeowook menuju kamarnya. Ryeowook hanya bisa menurut saja.

 

2 jam berlalu…

 

Ryeowook yang merasa bosan menunggu dikamar memutuskan keluar kamar. Tampak keanehan terjadi lagi. Semua tampak gelap gulita. Suasana 2 jam lalu yang gaduh kini berubah sunyi. Kemana perginya para member?

 

Ryeowook berjalan dengansangat hati-hati agar tidak menabrak barang yang ia lewati. Kemudian, ia menyalakan semua lampu di dorm.

 

”Saengil chukhaeyo!!!”

 

Ryeowook tersentak kaget.

 

”Apa kau terkejut?” tanya Eunhyuk,” kau akan tambah terkejut setelah melihat ini…tadaaa”

 

Sebuah kue tart cokelat dengan patung Ryeowook versi anime yang terbuat dari gula menghiasi tart serta lilin denga angka 24. Di sebelahnya lagi terlihat fruite tart dengan 15 lilin kecil beraneka warna. Di dinding juga dihiasi balon sapphire blue. Balon itu ditiup kecil dan membentuk kalimat ’Saengil Chukhae’ . Di bawahnya terdapat tulisan ’ Kim Ryeowook’ yang disusun dari kertas warna-warni. Kejutan tidak hanya sampau disini.

 

”Kau suka?” tanya Leeteuk

Ryeowook mengangguk,” sangat suka!”

”ini belum selesai.. HEY!” Heechul memberi aba-aba dengan tepukan lalu muncullah Kyuhyun, Yesung, Shindong, Donghae, dan Siwon membawakan piring berisi berbagai macam makanan lalu menatanya di meja yang sudah mereka siapkan.

 

Ryeowook terkesima melihat ini semua. Tanpa sadar ia kembali menitikkan airmatanya.

”Ya! Uljima,,” ujar Heechul dan memeluk Ryeowook,” saengil chukhae” lanjutnya.

”Gomawo, hyung” sahut Ryeowook.

 

Para member pun bergantian menyelamati dan memeluk Ryeowook. Mereka pun segera menyantap makanan mereka.

 

”Wah!! Enaak!” seru Ryeowook.

”Tentu saja enak. Siapa dulu yang masak…” Kyuhyun menepuk-nepuk dadanya,” Cho Kyuhyun!” lanjutnya dengan bangga.

”Dasar Sombong! Hanya masak dadar telor aja bangga..” cemooh Donghae,” kayak aku dong! Bikin sushi gulung..enak kan, wookie?”

 

”Hwueek..uhhuk uhhuk..air! jebaal..”

”Wae ryeowook?” tanya Donghae cemas.

”ini sushi buatan Donghae hyung? Kebanyakan wasabinya..” keluh Ryeowook dan diiyakan member lain yang tengah berebut air minum.

”Bangga kau,hyung?” sindir Kyuhyun.

”Dasar ikan! Kau mau kita mati kepedasan, hah?” protes Eunhyuk.

”Memang pedas yah? Bukannya enak?”

 

Semua member tidak menggubris pertanyaan Donghae itu. Tiba-tiba Sungmin beridiri dan masuk ke kamar. Tak lama ia kembali membawa sebotol wine,” ini, oleh-oleh dari appa” Mereka semua pun bersorak gembira.

 

”Ini..ini sangat enaak! Siapa yang bikin daging panggang ini?” tanya Ryeowook.

”Daging panggang itu juga oleh-oleh dari appa yang kemarin baru kembali dari luar negeri” sahut Siwon.

 

Tiba-tiba, Ryeowook menghentikan kegiatan makannya.

 

”Kau kenapa lagi? Tidak suka ramyeon buatanku yah?” tanya Leeteuk.

”Aniyo. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih banyak..kalian menyiapkan ini untukku. Sebenarnya kalian tidak perlu repot2 seperti ini..”

”Tidak! Seharusnya kami yang berterima kasih padamu. Hampir setiap hari kau memasak untuk kami. Kami bilang lapar, dengan cepat kau bersedia membuatkan makanan untuk kita..” kata Eunhyuk

”Walau sushi itu tidak enak. Itu aku buat sebagai tanda permintaan maafku karena kemarin aku terlalu merepotkanmu dan memaksamu membuatkan makanan untukku padahal kau sedang sakit” ujar Donghae.

 

”Benar kata mereka berdua. Ini kami buat sebagai tanda maaf dan terima kasih untukmu uri eternal magnae, Kim Ryeowook.” ucap Leeteuk diikuti anggukan yang lain.

”Lain kali kami akan berusaha untuk tidak lagi merepotkanmu..” timpal Yesung.

”yah, itu berarti kita harus masak sendiri dong” keluh Shindong

”hahaha..tidak apa-apa. Aku ikhlas kok memasakkan makanan untuk kalian kalau kalian lapar”

”Benar?” tanya Shindong dengan mata berbinar-binar” Horeeee!!” soraknya.

”Dasar!”  Sungmin bersedekap dan menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah Shindong.

 

Mereka pun melanjutkan makan.  Seperti biasa, mereka selalu suit untuk menentukan siapa yang akan membereskan piring dan mencuci piringnya. Donghae yang memang tidak suka mencuci piring langsung main kabur entah kemana. Leeteuk mengeluh karena kekenyangan dan memilih menonton tv. Berbagai alasan pun juga dilontarkan oleh beberapa member agar tidak mencuci piring. Alhasil, hanya tinggal Ryeowook, Eunhyuk, Siwon, Sungmin, dan Yesung. Bukan Eunhyuk namanya kalu tidak memiliki pikiran-pikiran yang sedikit curang.

 

”Hey, ini kan hari ulang tahunnya Ryeowook. Jadi, biarkan Wookie yang membereskan ini semua” seru Eunhyuk.

”Kenapa aku? Tadi kata kalian hari ini aku tidak usah melakukan apa-apa. Lalu, kalian juga bilang agar tidak berusaha merepotkanku.” keluh Ryeowook.

”tapi kami tidak mengatakan kau tidak usah cuci piring hari ini bukan? Lagian ini juga hari ulang tahunmu. Gak apa dong. Lalu, kami juga tidak bilang mulai hari ini tidak akan merepotkanmu, bukan?” tambah Eunhyuk dan tersenyum puas.

 

Ryeowook hanya bisa pasrah menerima ini semua. Tapi dalam hati ia merasa sangat senang. Selama Ryeowook mencuci piring, tanpa merasa bersalah member lain malah asyik meminum wine pemberian ayah Sungmin. Bukan Super Junior kalau tidak usil. Selesai mencuci piring Ryeowook kembali berkumpul dengan yang lainnya. Dengan santainya mereka mengatakan Wine-nya telah habis dan mereka sengaja tidak mengisakan untuk Ryeowook. Ryeowook lantas protes besar-besaran dan hampir merengek karena belum mencoba wine itu. Dasar  berhati malaikat, Leeteuk yang tidak tega mengerjai Ryeowook menyudahi semuanya. Leeteuk lalu mengeluarkan botol wine yang masih berisi walau tidak penuh. Tanpa merasa bersalah, member yang lain tertawa sangat puas telah mengerjai Ryeowook.

 

Party kecil itu pun telah berakhir. Member SuJu penghuni dorm lantai 12 hendak kembali ke dormnya. Eunhyuk, Sungmin, dan Yesung oun sudah berada di dalam kamarnya. Siwon sendiri juga memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dengan cepat Ryeowook mencegah mereka.

 

“Hyung-deul!!”  panggil Ryeowook.

 

Leeteuk, Heechul, Donghae, Shindong, dan Siwon menghentikan langkah mereka yang hendak keluar dari dorm.

 

“Waeyo?” tanya Siwon.

 

Ryeowook terdiam. Wajahnya sedikit memerah. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya.

 

“Begini…ini kan hari ulang tahunku. Boleh aku minta satu permintaan?”

”Apa itu? Cepat katakan. Aku mengantuk” kata Heechul.

”Begini…aku..aku ingin…”

”Ppalli marhaebwa!!” paksa Heechul. Leeteuk memberi isyarat pada Heechul untuk mendengarkan perkataan Ryeowook,” katakan saja. Kami akan berusaha menurutinya kalau itu sanggup kami lakukan..” ujar Leeteuk.

 

”Malam ini..bisakah kita tidur bersama-sama? Kita bersepuluh. Kita bisa tidur di ruang tengah..” kata Ryeowook seraya menundukkan kepala karena malu dan tidak sanggup menatap wajah hyung-deul nya.

 

Mendengar permintaan Ryeowook, Mereka tersenyum.

“Dasar..” ujar Heechul dan meninju pelan dada Ryeowook. Begitu pula Siwon, Donghae, dan Shindong. Mereka masuk kembali ke dalam dorm. Tinggallah Ryeowook dan Leeteuk di depan pintu. Leeteuk menatap Ryeowook lembut lalu mengelus rambut Ryeowook dan segera menyusul yang lainnya. Ryeowook masih berdiri diluar dan samar-samar terdengar teriakan Heechul memanggil Yesung, Sungmin, dan Eunhyuk.

 

“Hey, kenapa masih disitu? Ayo masuk..” panggil Leeteuk. Ryeowook tertawa senang dan berlari masuk ke dalam dan memeluk Leeteuk,” dasar manja..”

 

Mereka pun menata kasur dilantai serta pembagian tempat tidur. Setelah beres semua, mereka merebahkan diri di kasur. Mereka tidak lantas tidur. Mereka malah asyik mengobrol ningga larut malam.

 

“Hey, cebol!” panggil Heechul yang kebetulam tidur disamping Ryeowook,” Kau tahu, sebenarnya kau tampil solo hari ini yang terkesan sangat mendadak..itu sudah kami atur semuanya.”

“Maksud Hyung?” tanya Ryeowook bingung.

“kau tampil solo hari ini adalah permintaan dari kami semua. Lampu panggung yang mati itupun kami yang mengatur. Kami ingin memberikan surprise party padamu.” Cerita Eunhyuk sambil menatap langit-langit dinding.

“jadi kesimpulannya, kalian semua mengerjaiku, begitu?”

” ya begitulah! Hahahaha” seru mereka kompak.

”Menyebalkan!! Tapi..thank you..” ucap Ryeowook.

 

The end

I’m Sorry My Love

Standar

tittle : I’M SORRY, MY LOVE

author: WinkiesWingers

rate: PG – 15

genre : Romance, drama

cast:

Kim Eun Si

Kim Jong Woon (Yesung) as him self

Kim Hee Chul as him self

Author as Yoon Ji Hwa

Lee Hong Ki as him self

and other cast

note: Hello..Hello.. Hello.. Hello*lupin mode:on* . Author balik lagi bawain FF oneshot dengan genre yang sama sperti sebelumnya ==’ … happy read ^^

 

======  I’M SORRY, MY LOVE =====

Melihat pemandangan yang ada di depan mataku, aku hanya bisa diam mematung. Tak tahu harus berbuat apa. Airmataku turun begitu saja saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kekasihku mencium gadis lain. Hubungan kami masih seumur jagung. Baru sebulan lalu ia menyatakan cinta kepadaku dan tentu aku menerimanya karena aku juga mencintainya. Tapi, apa-apaan ini? Ia mencium gadis lain disaat ia masih memiliki kekasih. Tidak hanya itu, aku juga pernah melihat mereka jalan berdua. Dan bodohnya sampai sekarang aku masih mempertahankan hubungan kami. Tak pernah terbesit di pikiranku untuk memutuskannya. Mungkin karena aku terlalu mencintai lelaki bodoh itu.

 

Sampai suatu ketika, dia memutuskan hubungan kami hanya karena ia ingin melanjutkan sekolahnya ke luar negeri.

“Kenapa harus putus?”

“Aku tidak bisa melakukan long distance, Eun Si-ya. Mianhae..” tuturnya datar dan meninggalkanku seorang diri.

“Yesung oppa!!” teriakku.

 

Aku terduduk lemas di depan rumahku. Aku menangis sejadi-jadinya. Setelah ia bermain di belakangku dengan gadis lain tanpa pernah mengaku padaku. Sekarang ia memutuskan hubungan kami begitu saja. Seandainya dulu ia mengaku, mungkin saja aku bisa memaafkannya dan merelakannya dengan gadis itu. Dan yang pasti aku tidak merasakan hancur seperti ini. Rasa cinta yang terus aku pertahankan kini mencair sudah. Rasa itu telah berubah menjadi kebencian seutuhnya.

 

“Eun Si-ya..” Hee Chul oppa yang melihatku menangis langsung datang memelukku. “Uljima..”

“Aku membencinya, oppa! Aku membencinya!” teriakku dalam tangis.

“Arasseo.. Arasseo..” sahutnya sambil terus menenangkanku.

 

===========================

 

Sejak kejadian itu, aku menjadi sosok yang dingin dan pemurung. Hatiku pun menjadi beku dan sedingin es. Akibat kejadian beberapa tahun lalu itu pandanganku tentang lelaki pun berubah. Aku selalu berpikiran kalau laki-laki hanya bisa menyakiti dan mempermainkan perasaan perempuan. Itulah sebabnya aku menolak mereka yang mencoba mendekatiku. Padahal, sebagian besar laki-laki yang mendekatiku memiliki wajah yang tampan dan ber-uang.

 

“Eun Si-ya, kenapa mereka kau tolak semua?” tanya Hee Chul oppa suatu hari.

“Karena aku tidak berminat menjalin hubungan dengan laki-laki.”

“Kalau begitu, sekarang kau berminat menjalin hubungan dengan perempuan? Eun Si-ya! Kenapa kau jadi tidak normal begini?!” pekiknya sambil mengguncang-guncang badanku. Aku hanya menutup kedua telingaku dengan kedua tanganku.

 

Buukkk!!

 

Sebuah bantal mendarat mulus di kepala Hee Chul oppa. Hee Chul oppa lantas mengusap-usap kepalanya.

“Chagiya! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melempar bantal kearahku?”

“Jangan bicara yang tidak-tidak, oppa. Mana mungkin Eun Si unnie berminat dengan perempuan.” kata Ji Hwa sambil menatap tajam Hee Chul oppa.

“Aku kan hanya bercanda, chagiya. Chagiya jangan marah ya..” bujuk Hee Chul oppa. Ia bergelayut manja di lengan Ji Hwa. Dasar! Kalau dengan Ji Hwa saja ia bersikap manis.

 

Terkadang aku merasa aneh dengan pasangan ini. Bagaimana bisa dua orang yang berbeda bisa bersatu? Sifat mereka sangat bertolak belakang. Ji Hwa yang kalem dan terkesan pendiam sedangkan Hee Chul oppa aneh, urakan, dan bersikap seenaknya sendiri. Mereka cepat bertengkar, tapi rujuknya pun juga cepat. Mereka pun juga jarang terlihat tampil mesra.

 

Daripada terus-terusan memperhatikan mereka dan melihat sikap Hee Chul oppa yang sok manis di depan Ji Hwa, aku memutuskan pergi ke cafe favoritku yang terletak tak jauh dari rumahku. Sesampainya disana aku langsung duduk di tempat yang biasa aku duduki. Sangat nyaman. Suara angin yang menyapu rumput hijau serta suara gemericik air mancur buatan, membuat suasana hati siapa saja yang datang ke cafe ini menjadi tenang. Tapi ternyata keputusanku untuk datang kesini adalah salah. Kenyamanan yang aku rasakan tadi langsung lenyap saat aku melihat kembali sosok lelaki itu memasuki cafe ini. Aku berusaha menutupi wajahku agar kehadiranku tak disadarinya.

 

“Eun Si?”

Aku mengangkat kepalaku dan menatap orang yang memanggil namaku.

“Hongki?”

“Ahh, Eun Si-ya! lama tidak bertemu!” Hongki langsung memelukku. Aku membalas pelukannya.

 

 

Sudah lama aku tidak bertemu dengan bocah satu ini. Lee Hong Ki, ia teman dekat Hee Chul oppa. Hong Ki dulu sering sekali mampir ke rumah kami dan itu membuat aku dengannya menjadi akrab.

 

“Kemana saja kau selama ini? Kenapa tidak pernah lagi main ke rumah?” tanyaku pada Hong Ki.

“Mianhae, aegya. Aku melanjutkan sekolah ke luar negeri.” jawab Hong Ki. Ia masih sama seperti dulu, memanggilku dengan sebutan ‘aegya’ dan aku tidak mempermasalahkan hal itu.

“Nappeun! Kenapa kau tidak mengabari kami?”

“Haha. Bagaimana bisa aku mengabari kalian sedangkan kalian saat itu pergi ke Daegu? Aku mencoba menelepon kau dan Hee Chul hyung tapi tak ada yang menjawab teleponku itu. Dasar!” keluh Hong Ki sambil mengacak-acak rambutku. “Oya, kebetulan kita bertemu. Aku kenalkan kau dengan teman baruku. Hyung!”

 

Kemudian, seseorang muncul dari belakang Hong Ki. Aku sangat terkejut saat mengetahui siapa teman Hong Ki itu. Setelah sekian lama tidak bertemu bahkan mungkin aku sudah melupakannya, kami di pertemukan kembali. Rasa benci yang sudah aku kubur dalam-dalam kini kembali menyeruak. Tapi, tidak dipungkiri masih tersimpan di dalam hatiku rasa rindu untuk lelaki ini.

“Hyung, kenalkan ini Kim Eun Si. Eun Si, ini Yesung hyung.” Hong Ki memperkenalkan kami.

 

===========================

 

Aku tidak tahu apa yang sedang Tuhan rencanakan untukku. Kenapa Tuhan harus kembali mempertemukanku dengan lelaki itu.

Saat ini aku tengah mencari CD kaset penyanyi kesukaanku di toko kaset yang terletak di daerah myeongdong. DIkarenakan aku tidak menemukannya, aku mencoba bertanya pada penjaga toko kaset itu.

 

“Ah, Mianhamnida aegesshi. CD itu…” ucapan penjaga toko itu terpotong karena ada orang yang datang menghampiriku.

“Eun Si? Sedang apa kau disini?”

“Ye–Yesung-ssi.”

“CD itu baru saja dibeli oleh tuan ini..” Penjaga toko itu melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong.

“he? Jadi kau mencari CD ini? Wah, sayang sekali. Mianhae Eun Si-ya, aku dulu yang mendapatkannya.” kata lelaki ini sambil menyeringai.

 

Aku hanya menatapnya dengan kesal lalu pergi keluar dari toko kaset itu. Ia pun mengikutiku keluar dan menahanku. “Kenapa terburu-buru begitu? Bagaimana kalau kita mampir ke cafe? Aku traktir deh.”

“Tidak perlu, Yesung-ssi. Terima kasih.” jawabku angkuh dan pergi meninggalkannya.

 

– [[ YESUNG POV ]]-

 

Hari ini aku memutuskan jalan-jalan di daerah Myeongdong. Saat melewati toko kaset, aku berhenti sejenak di depannya. Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam dan membeli cd kaset yang kebetulan yang sedang aku cari tersisa satu. Tanpa pikir panjang aku langsung membelinya. “Pasti dia akan menyukainya.” gumamku senang sambil menatap CD itu.

 

Selang beberapa menit saat aku masih ada di depan meja kasir, seorang gadis memasuki toko kaset ini. Aku sangat terkejut ketika mengetahui gadis itu adalah Eun Si. Tampaknya ia sedang mencari CD kaset yang sama seperti yang aku beli dan sayang ia tidak mendapatkannya karena terdahului olehku.

“he? Jadi kau mencari CD ini? Wah, sayang sekali. Mianhae Eun Si-ya, aku dulu yang mendapatkannya.” ucapku sedikit menyombongkan diri. Tapi, reaksi yang ia berikan membuatku menjadi merasa bersalah. Ia pergi keluar begitu saja. Tak kehabisan akal, aku keluar menyusulnya dan kutarik lengannya.

“Kenapa terburu-buru begitu? Bagaimana kalau kita mampir ke cafe? Aku traktir deh.” aku berusaha bersikap ramah padanya. “Tidak perlu, Yesung-ssi. Terima kasih.” jawabnya sambil menatapku tajam. lalu, pergi meninggalkanku yang masih berdiri menatap punggungnya.

 

Aku menghela napas. Sikapnya padaku telah berubah. Eun Si yang hangat berubah menjadi Eun Si yang dingin. Ada kebencian yang tersirat dari matanya saat ia menatap wajahku. Sekaligus aku juga melihat kesedihan yang terpancar dari matanya. Aku menyadari, akulah yang membuatnya membenci diriku. Aku tersenyum walau hatiku terasa miris mengingat apa yang telah aku lakukan padanya dulu. ” Eun Si-ya, mianhae. Tapi, itu harus aku lakukan padamu.”

 

-[[ YESUNG POV END]]-

 

===================================

 

Sejak bertemu di toko kaset, entah kenapa beberapa kali kami bertemu tanpa sengaja. Apa ini yang namanya takdir dan jodoh? Tuhan memisahkan kami dulu dan sekarang Tuhan mempertemukan kami kembali. Bahkan berkali-kali kami dipertemukan tanpa sengaja. Entahlah. Aku tidak terlalu peduli dengan yang namanya takdir atau pun jodoh.

 

“Eun Si?” panggil seseorang. Aku pun menoleh kearah sumber suara. Dia lagi? Ya Tuhan!

“Sedang apa kau disini?” tanya Yesung padaku yang tengah berjalan-jalan di taman kota.

“Bukan urusanmu.” jawabku sekenanya dan melanjutkan kegiatan memotretku yang terhenti tadi.

“Kau masih menyukai fotografi ya?” Yesung berdiri disampingku sambil melihat pemandangan yang tersaji di taman kota ini. Aku tidak menggubrisnya dan malah sibuk melihat hasil fotoku. Lalu, aku berjalan mencari view yang bagus dan memotretnya.

“Kau tak berubah, Eun Si-ya. Masih sama seperti dulu. Suka memotret pemandangan.” tuturnya sambil mengikuti kemanapun kakiku melangkah.

Aku yang mulai risih dengannya, menghentikan langkahku. “Berhentilah mengikutiku!” bentakku kesal.

 

Setelah seharian mengelilingi kota Seoul untuk menambah koleksi foto landscapeku, aku memutuskan pulang ke rumah. Saat memasuki ke dalam rumah, aku melihat ada banyak sepatu asing yang tergeletak rapi di lantai. Aku pun melangkah masuk ke dalam dan langsung disambut ramai oleh teman-teman Hee Chul oppa dan teman-teman Ji Hwa yang sekaligus temanku.

“Kim Eun Si! Welcome home, babe!” teriak Hong Ki riang. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan salam pada mereka. Kemudian berjalan menuju kamarku.

 

Aku merebahkan diri ke kasurku. Rasanya sangat lelah sekali. Tiba-tiba wajah Yesung  terbayang di benakku. Tadi aku melihatnya berada diantara teman-teman Hee Chul oppa. Ia tersenyum kearahku. Senyumannya itu masih sama seperti dulu. “Aghh! Kenapa aku jadi memikirkannya?” gerutuku sambil mengacak-acak rambutku sendiri.

Tak lama kemudian Ji Hwa masuk ke dalam kamarku. “Unnie, kenapa tidak ikut bergabung dengan kami? Masa unnie tega membiarkan aku seorang diri diantara kumpulan laki-laki seperti mereka?” bujuk Ji Hwa dan duduk disampingku. Melihat tatapan matanya yang seperti puppy membuatku tak bisa menolak. Jujur, aku sedang malas untuk bergabung dengan teman-teman Hee Chul oppa. Terlebih lagi ada Yesung diantara mereka. Membuatku semakin malas. Tapi, aku lemah melihat tatapan Ji Hwa tadi. Gadis ini seperti anak anjing. Lincah, ceria, menggemaskan, dan sangat manis. Pantas saja Hee Chul oppa menyukainya. *nyahaha, heenim bakal dicincang teukie gr2 suka am author :p*

 

“Kemana mereka?” tanyaku pada Ji Hwa saat melihat ruang tengah yang ramai tadi mendadak sepi.

“Mereka ada di taman belakang. Kita akan pesta Barbeque.” jawab Ji Hwa antusias.

 

Setelah melihat kedatanganku, kami pun memulai pestanya. Sudah aku duga akan seperti ini. Berhasil membujukku sekarang malah sibuk menempel dengan Hee Chul oppa. Alhasil, aku hanya duduk di bangku tamanseorang diri sambil menikmati Orange Juice. Aku memperhatikan mereka. Hong Ki, Key dan Ryeowook oppa sibuk memanggang daging. Simon oppa, Dong Hae oppa, Eun Hyuk oppa dan Jung Mo oppa meramaikan suasana dengan menyanyi dan bermain gitar. Sang Chun oppa sedang bercanda ria dengan Han Geng gege, Hee Chul oppa dan Ji Hwa. Sung Min oppa menyiapkan wine bersama Kyu Hyun oppa . Yesung, dia sedang berjalan kearahku. EH? sial! kenapa dia harus kesini sih?

 

“Sendirian?”

“Ne.”

“Kenapa tidak bergabung dengan mereka?”

“Malas.”

“Oh.”

 

Apa-apaan ini? Percakapan yang sangat hambar. Aku menghela napas dan menatap lagit malam yang kebetulan hari itu banyak sekali bintang yang bertebaran. Bahkan aku menemukan rasi bintang Cassiopeia yang bersinar paling terang malam itu.

“Whoa~ yeppeoyo.” ucapku spontan. Namun, tiba-tiba hal yang tak kuduga-duga terjadi.

“Eun Si-ya..” panggil Yesung.

“Mm?” aku menoleh dan mendapati Yesung sedang menatapku dengan tajam. Bahkan kini tangannya menggenggam tangan kananku. Aku tidak bisa berkutik. Sejak pertama mengenalnya, aku terlalu lemah dengan tatapan matanya itu. Mendadak jantungku berdebar  lebih cepat. Ia mendekatkan wajahnya kearahku dan semakin dekat.

 

“Chamkkanman! Chamkkanmanyo!!” jeritku dalam hati sambil menutup rapat mataku.

“Hayooo!! Sedang apa kalian?” teriak Hee Chul oppa mengagetkan kami berdua. Aku langsung membuka mataku. Aku langsung menarik napas lega. Sekilas aku melihat ia menundukkan kepalanya. Malu? mungkin.

“Nah yaa! Eun Si, ketahuan..” cibir Hee Chul oppa membuat kami berdua salah tingkah.

“Apaan sih?”  aku langsung pergi meninggalkan mereka berdua.

 

Barbeque pun telah siap, kami segera menyantapnya. Selama pesta itu, aku terus bersama dengan Hong Ki dan berusaha menghindari Yesung. Kami bercanda bersama dan itu sangat menyenangkan. Berkali-kali aku melihat Yesung terus menatap kearah kami. Bahkan saat tangan Hong Ki merangkul pundakku, ia menatapku dengan tajam. Tapi, aku tak mau ambil pusing tentang itu. Aku malah membalas rangkulan Hong Ki. Entah setan apa yang merasukiku, selama pesta aku terus menempel pada Hong Ki. Aku berusaha bersikap mesra dengan Hong Ki dihadapan Yesung. Aku juga tidak tahu kenapa aku melakukan ini. Mungkin aku ingin membalas dendam bagaimana sakitnya hatiku saat ia bersama gadis lain.

 

Pesta pun akhirnya selesai pada dini hari sekitar pukul 2 pagi.

“Ahhhh.. kenapa harus sudah selesai? Kita lanjutkan lagi saja sampai pagi..” keluh Hee Chul oppa yang tampaknya sudah mabuk karena terlalu banyak minum wine dan soju. Jalannya pun sudah sempoyongan seperti itu.

“Oppa! Kau sudah mabuk..” Ji Hwa langsung menopang tubuh Hee Chul yang hampir terjatuh.

“Yoon Ji Hwa. Kau milikku! Aku mencintaimu, Yoon Ji Hwa! Hhahaha..” ucap Hee Chul oppa yang mulai ngelantur. tampaknya mulai bahaya ini. Hee Chul oppa mabuk dan sekarang omongannya mulai ngelantur. Sebentar lagi pasti ia akan berbuat macam-macam. Dan bingo! Ia mencium bibir Ji Hwa di hadapan kami. Sungguh gila! *wuah! author gak mau tanggungjwb kalo ntar teukie murka*

“Eun Si!”

Aku pura-pura tak mendengar ada seseorang yang memanggilku. Aku sudah mengenal pemilik suara itu. Aku memutuskan masuk ke dalam.

“Eun Si!!” panggil Yesung lagi dan kali ini menarik tanganku dan menggiringku ke taman yang kini sudah sepi. Genggaman tangannya terlalu kencang hingga membuatku meringis kesakitan. “Kenapa kau melakukan itu? Apa maksudnya?”

“Melakukan apa?” aku tidak mengerti apa yang ia maksud dengan melakukan itu.

“jangan pura-pura tidak tahu! Kenapa kau bersikap seperti itu dengan Hong Ki?” tanya Yesung dengan penekanan di seluruh kalimat yang ia ucapkan *??*.

“Lalu? Apa hakmu melarangku? Aku mau dekat dengan siapa sekarang BUKAN URUSANMU, Kim Jong Woon-ssi!!” bentakku emosi. Yesung melepaskan tangannya yang sedari tadi mencengkeram erat lenganku. Tatapan matanya yang tadi terlihat marah berubah menjadi sedih.

“Apa sudah tidak ada kesempatan kedua untukku, Kim Eun Si-yang?”

Aku terdiam dan hanya menatapnya. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran lelaki ini.

“Apa kau pikir aku bisa memberimu kesempatan kedua setelah apa yang kau lakukan padaku, Yesung-ssi? Aku tidak habis pikir. Kau egois!” ucapku kesal dan bergegas menuju kamar.

 

Aku termenung di dalam kamar. Semua yang terjadi barusan terus berputar di otakku. Ia telah kembali mengingatkanku akan kejadian pahit itu. Tapi, ada satu yang mengganjal hatiku. Wajahnya. Malam tadi, dia terlihat pucat. Berbeda saat aku bertemu dengannya tadi siang di taman kota. Bahkan tangannya berkeringat dan itu dingin.

 

===================================================

 

Selama ini aku tidak pernah melihatnya sepucat itu. Pikiran-pikiran negative pun datang menghampiriku. Dan ini sudah seminggu setelah pesta Barbeque. Aku tidak pernah lagi melihat wajahnya. Terakhir ia datang ke rumah adalah sehari setelah pesta itu. Hari itu dia masih bisa tertawa dan berusaha mengajakku ngobrol seperti biasa. Seolah terlihat tak terjadi apa-apa antara aku dengannya semalam.

 

Aku yang mulai terbiasa dengan keberadaannya selama sebulan ini merasa kehilangan. Ia menghilang begitu saja setelah muncul kembali. Aku mencoba bertanya pada Hong Ki pun juga tak ada hasilnya. Sampai suatu hari aku mendapati ia tengah keluar dari Rumah Sakit dan menuju Apotik yang tepat disamping Rumah Sakit. Aku pun menunggunya di depan Apotik.

 

“Ah, Eun Si? Wae? Sedang apa kau disini?” tanya Yesung gugup. Gelagatnya terlihat aneh.

“Apa kau sakit?” aku balik bertanya.

“Ye? Ani…aniyo.”

“Lalu, kenapa kau pergi ke Rumah Sakit dan ke Apotik? Igo mwoya?” aku menunjuk sebuah tas plastik kecil yang ia bawa. Aku tebak, pasti itu obat.

“Ahh.. ige..  hanya obat. Aku sedikit demam. Makanya, langsung pergi ke Rumah Sakit..hehe” jawabnya. “Ngomong-ngomong, kenapa kau jadi peduli denganku?”

“He? Ani–aniyo! Si–siapa yang peduli padamu? Aku..aku hanya kebetulan lewat sini dan melihatmu. Itu saja.” elakku. Sebelum maluku bertambah, aku memutuskan pergi. ” Sudah ah. Aku pergi dulu.”

“Chamkkanman!”

“Wae?”

“Apa lusa kau ada waktu luang? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Dan kuyakin kau akan menyukainya. Pastikan kau bawa kamera.”

“Lihat besok.”

 

================================

 

Hari ini adalah hari yang ditentukan Yesung untuk mengajakku pergi. Sore ini Yesung sedang menungguku di ruang tamu. Sedangkan aku sedari tadi masih sibuk memilih baju. Aku terus membongkar lemari untuk mencari pakaian yang sesuai. Dan setelah menghabiskan waktu 15 menit, aku menemukan pakaian yang sesuai. Kemudian, aku keluar dan menemui Yesung. Setelah semua siap kami segera pergi ke tempat tujuan.

 

Selama perjalanan tak banyak kalimat yang kuucapkan. Aku hanya menjawab seperlunya dan mengatakan seadanya jika Yesung mengajakku berbicara. Entah kenapa aku menjadi merasa canggung di dekatnya.

“Nah, sudah sampai!” serunya. Ia segera memarkirkan mobilnya.

Aku membuka jendela dan menjulurkan kepalaku keluar jendela. “Namsang Tower? Kau mengajakku ke Namsang Tower?”

“Ne. Bukankah jika kita berada di tower itu, kita bisa melihat pemandangan? Pemandangan dari sana sangat bagus. Kau bisa memotret sepuasmu.” Yesung menatapku lembut membuat wajahku merona merah.

“Ne, arasseo.”

 

Kami pun segera menuju ke tower. Benar apa yang dikatakan Yesung. Pemandangan dari sini sangat indah. Apalagi ditambah pemandangan matahari tenggelam. Sangat bagus. Aku yang tidak mau kehilangan kesempatan lantas mengeluarkan kameraku dan memotret pemandangan yang ada di depan mata.

“Aku tidak tahu ternyata dari atas menara bisa melihat pemandangan seindah ini.” tuturku senang sambil kembali melihat hasil potretku.

“Apa kau belum pernah kesini?”

“Ye? Aku jarang datang ke tempat seperti ini.” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari kamera. “Aku lebih suka pergi ke pantai atau keatas bukit.” lanjutku sambil tersenyum kearahnya.

“Kau masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah dalam dirimu, Eun Si-ya.” Yesung menepuk puncak kepalaku. Diperlakukan seperti itu membuat jantungku berdegup kencang.

 

Aku kembali memotret sedangkan dia pergi untuk membeli minuman. Aku membalikkan badanku menatap dirinya yang berjalan menuju mesin penjual minuman. Aku mengarahkan kameraku kearahnya dan memotret dirinya. “Kenapa kau pintar sekali memainkan perasaanku, Yesung-ssi?” gumamku sambil menatap dirinya.

“Ini untukmu. Chocolate cappucino.” Yesung memberikan sebotol kaleng minuman kepadaku. Bahkan ia masih ingat apa minuman kesukaanku.

“Gomapta.”

 

 

Saat aku sibuk memotret, aku mendengarnya bernyanyi. Sejenak aku menghentikan kegiatanku dan mendengarkannya bernyanyi. Suaranya terdengar sangat lembut dan merdu. Aku kembali memotret sambil mendengar suara merdunya melantunkan lagu.

Hampir 2 jam kami menghabiskan waktu disini. Yesung pun langsung menarikku dan ia kembali mengajakku ke suatu tempat. Ia mengajakku ke Lotte World. Disana kami menghabiskan waktu dengan menaiki beberapa wahana yang ada. Ia juga mentraktirku makan ice cream. Kecanggungan yang sangat terasa saat di Namsang Tower kini mulai mencair. Kami tertawa bersama, bercanda, dan bahkan kami berfoto bersama menggunakan kameraku. Malam itu, kami menghabiskan waktu dengan bermain dan berjalan-jalan sepuasnya di Lotte World. Akan tetapi, saat kami akan memutuskan pulang. Wajah Yesung terlihat sangat pucat. Berkali-kali aku melihatnya saat kami bermain tadi, dia seperti menahan sakit.

 

“Eun Si-ya..” panggilnya. Saat ini kami sudah berada di depan rumahku.

“Ne?”

“Maafkan aku..”

“For what, Yesung-ssi?”

“Kejadian 5 tahun yang lalu..Aku tahu, karena itu kau menjadi benci padaku dan selalu bersikap dingin padaku selama ini.”

“Sudahlah. Aku tidak ingin lagi mengingat atau membahas masalah itu. Jadi, tolong jangan bicarakan itu lagi.” suaraku mulai meninggi.

“Tapi, aku merasa sangat bersalah padamu, Eun Si. Apa kau mau memaafkanku?”

 

Aku terdiam. Entah aku bisa memaafkannya atau tidak. Perbuatannya itu benar-benar membuatku sakit hati.

 

“Tampaknya memang percuma.” Yesung berkata seraya menengadahkan kepalanya. Ia kembali menatapku. ” Aku akan terima jika kau memang tidak memaafkanku. Eun Si-ya, terima kasih untuk semuanya hari ini. Melihatmu tertawa itu sudah sangat cukup untukku.”

 

Aku menatapnya. Sungguh! Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Tiba-tiba saja ia memelukku.

 

“Saranghae, Kim Eun Si. Terima kasih kau mau bersedia menemaniku di saat-saat terakhirku ini.” Yesung melepas pelukannya dan menatap mataku dengan lembut. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kami sama-sama saling memejamkan mata. Sejurus kemudian, Yesung mencium bibirku. Aku menyambut ciumannya. Tatapannya membuatku tak bisa melawan.

“Sekarang, aku bisa pergi dengan tenang.” ucapnya setelah melepas ciuman kami.

“Mwo? memang kau…umphh.” ia kembali menciumku. Seolah tak ingin memberiku kesempatan untuk bicara. Kali ini lebih dalam dari sebelumnya dan bodohnya sekali lagi aku tidak bisa menolaknya. Oh, tidak! Tampaknya aku kembali menyukainya.

 

Seluruh tubuhku mendadak jadi lemas. Jantungku kembali berdetak lebih cepat. Aku terus melihat kearahnya yang kini telah berada di dalam mobil. Ia melambaikan tangan kepadaku dan aku membalasnya. Kenapa kau pintar sekali mempermainkan perasaanku, Kim Jong Woon? Kau membuatku cinta padamu hanya karena senyum dan tatapan matamu yang lembut. Kau membuatku membenciku dengan sikap playboymu. Dan sekarang kau kembali membuatku mencintaimu hanya dengan bersamamu seharian ini.

 

=============================

 

Sudah dua hari ini tak ada kabar dari Yesung. Dia kembali menghilang tanpa jejak. Tiba-tiba, ucapannya kembali teringat olehku.

 

“Saranghae, Kim Eun Si. Terima kasih kau mau bersedia menemaniku di saat-saat terakhirku ini.”

“Sekarang, aku bisa pergi dengan tenang.”

 

Perasaanku berubah tidak enak. Saat-saat terakhir? Pergi dengan tenang? Apa maksudnya?

 

“Eun Si-ya!!!” teriak Hong Ki. Aku langsung keluar dari kamarku.

“Hong Ki? Kenapa kau datang ke rumahku? Ada perlu apa?”

“Eun Si-ya..” wajah Hong Ki terlihat sangat pucat.

“Ne. Waeyo?” aku menatapnya dengan bingung.

“Yesung hyung. Yesung hyung, Eun Si-ya!!” Hong Ki berkata dengan suara yang tinggi. Ia terduduk lemas di lantai.

 

Tiba-tiba saja jantungku berdetak tak karuan. “Apa yang terjadi dengan Yesung, Hong Ki-ya?” Aku mengguncang-guncang tubuh Hong Ki. Tanpa pikir panjang Hong Ki langsung membawaku ke Rumah Sakit. Aku yang bertanya kenapa kesini sama sekali tidak digubrisnya. Ia tampak terburu-buru. Lalu, kami masuk ke salah satu kamar pasien. Seketika aku mematung saat mendapati Yesung tergeletak lemas diatas kasur dengan berbagai peralatan medis disampingnya.

 

Dengan perlahan aku menghampirinya. “Wae? Wae?!” teriakku sembari memegang tangannya.

“Unnie-ya..” Ji Hwa menepuk pundakku.

“Ji Hwa-ya, Hee Chul oppa..” aku memandang sekelilingku. Disana juga ada Simon oppa, Sang Chun oppa, Wookie oppa, dan yang lainnya. Mereka semua menundukkan kepala.

 

Aku datang terlambat. Yesung telah pergi. Dia tidak akan lagi membuka matanya. Aku hanya bisa menangisi kepergiannya. Ji Hwa memelukku. Ia juga menangis. Aku tidak akan lagi bisa melihat senyumnya, tidak bisa lagi mendengar suara merdunya saat bernyanyi, tidak akan ada lagi suara ocehannya.

 

-Tempat pemakaman-

 

Pagi ini Pemakaman Yesung dilaksanakan. Bersama dengan Ji Hwa dan Hee Chul oppa, aku menghadiri upacara pemakaman. Selama pemakaman berlangsung, aku hanya memandangi foto Yesung yang terpampang diatas makamnya.

 

Aku masih berdiri menatap makam Yesung. Semua pelayat telah pulang. Hanya aku dan Hong Ki seorang di makam ini. Aku juga menolak saat Hee Chul oppa mengajakku pulang. Aku meletakkan rangkaian bunga lily diatas makamnya. Aku tidak menyangka akan hal ini. Yesung pergi untuk selamanya. Dan baru kuketahui penyebab kematiannya adalah penyakit kanker paru-paru yang telah lama menggerogoti tubuhnya. “Babo..” aku berguman dan menundukkan kepalaku.

 

“Eun Si-ya..” Hong Ki menghampiriku. “Yesung hyung menitipkan ini padaku.” ujar Hong Ki sambil menyerahkan sebuah surat kepadaku. Aku menerima surat itu dan membukanya. Lalu, kubaca surat itu dalam hati.

 

Dear my love, Kim Eun Si..

 

Eun Si-ya, annyeong ^o^

Aku tahu, kau sangat membenciku karena aku memutuskanmu secara sepihak. Dan menduakanmu.

Eun Si-ya, maafkan aku. Aku terpaksa melakukan itu semua.

Saat kau melihatku berciuman dengan gadis lain serta melihatku kencan dengan gadis yang sama. itu semua hanya rekayasa. Saat itu, aku tak benar-benar menciumnya dan kencan dengan gadis itu juga adalah atas usulku sendiri. Aku tahu, aku jahat dan tega melakukan itu. Tapi, apa kau tau sebab aku melakukan itu semua. Semua itu kulakukan untukmu. Bukankah lebih baik membuatmu membenciku daripada kau mencintai lelaki berpenyakitan sepertiku yang bisa mati kapan saja. Sebulan setelah kita jadian, baru kuketahui aku mengidap kanker paru-paru. Maka dari itulah aku melakukan hal seperti itu agar kau membenciku dan melupakanku.

 

Ternyata usahaku gagal. Kau dengan mudahnya memaafkan diriku. Tapi, semakin hari penyakitku semakin parah. Para Dokter mengusulkanku untuk melakukan perawatan dan itu tempatnya di luar negeri. Maka dari itu, aku terpaksa memutuskanmu dengan alasan ingin melanjutkan sekolah disana.  Kata maaf dariku, tampaknya tak cukup untuk mengobati lukamu.

 

Setelah hampir 5 tahun aku disana, aku menyerah dan memutuskan pulang. Tampaknya ini adalah hukuman yang Tuhan berikan untukku karena telah membuatmu terluka. Penyakitku telah sampai stadium akhir dan sulit untuk disembuhkan. Kanker telah menyebar ke seluruh tubuhku.

kau tahu bagaimana perasaanku saat Tuhan mempertemukan kita kembali? Sangat senang! Aku yang telah menyerah kembali memiliki semangat. Walau kau membenciku, aku terus mendekatimu. Karena apa? Karena aku ingin menghabiskan saat-saat terakhirku denganmu, Eun Si-ya. Dari dulu cintaku selalu untukmu dan tak akan pernah berubah. Sampai aku mati, aku akan terus mencintaimu, Eun Si-ya..

 

Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan untukmu.

I love U..and I’m Sorry, my love..

 

-Kim Jong Woon-

 

Airmataku semakin deras mengalir dan membasahi kertas. Aku meremas kertas itu.

“Nappeun!” gumamku.

“Kau egois! Kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri! Kenapa kau tidak katakan yang sejujurnya padaku? itu akan lebih baik daripada harus seperti ini. Kau datang ke dalam kehidupanku, lalu pergi begitu saja dan meninggalkan luka yang dalam untukku. Sekarang, setelah Tuhan mempertemukan kita lagi kau pergi. Kau pergi dan tak akan kembali. Disaat aku bisa lagi merasakan cinta. Kau jahat, oppa!” aku menangis sejadinya. Hong Ki langsung datang menghampiriku. Ia memelukku dan menenangkanku.

 

-THE END-

Only One is You

Standar

tittle: Only One is You

author: WinkiesWingers

genre: sad romance

length: oneshot

rating: PG

cast: Leeteuk ‘superjunior’, Yoon Jihwa, and other cast

theme song: Life- shinee

A/N:

annyeong ^^, ini ff kedua dari ku .. DO NOT BASHING, okay? comment yah klo abis baca ^^. happy read..

 

 

======= ONLY ONE IS YOU ==========

 

 

Jihwa tengah duduk di bangku yang ada di balkon apartementnya. Ia mendekap erat boneka beruang besar berwarna putih seraya memandang langit biru yang cerah sore itu. Sesekali ia menghela napas panjang. Tampak ada hal yang sedang ia pikirkan.

 

“Eotteohkhaji?” desah Jihwa sambil membenamkan kepalanya ke boneka yang ia dekap. Ia merasakan sesak di dadanya. Matanya pun memanas. Setiap kali memikirkan atau mengingat tentang ‘dia’ , hatinya terasa sangat sakit. Ingin rasanya dia menjerit dengan sangat lantang untuk melampiaskan rasa sakit di dadanya. Tak terasa ia menitikkan airmata tepat saat seseorang memeluknya dari belakang. “Chagi..” sapanya pada Jihwa dan ia meletakkan dagunya di pundak Jihwa. Jihwa yang terkejut dengan kedatangannya lantas menghapus airmatanya. “Bogoshipeun..” lanjutnya. Jihwa tetap tak bergeming dan ia hanya memejamkan matanya. Suara lembut itu membuat dadanya bergemuruh kencang. Ingin rasanya ia berbalik lalu memeluk tubuh pria itu, tapi tubuhnya tak sanggup menerima permintaan dari kata hatinya.

 

Tak mendapati respon dari Jihwa, pria itu melepas pelukannya dan berjongkok di hadapan Jihwa. “Chagi, kau kenapa?” tanya pria itu . “Kau sakit?” lanjutnya sambil membelai lembut rambut Jihwa. Mimik wajahnya menunjukkan kekhawatirannya pada Jihwa. Jihwa membuka matanya. Sejenak ia memandang wajah pria yang amat ia cintai. Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya ke langit senja. “Nan gwaenchana..” jawab Jihwa singkat tanpa menatap wajah kekasihnya itu. Jihwa kembali menghela napas lalu masuk ke dalam tanpa memedulikan kekasihnya.

 

=========================================

 

-[[ JIHWA POV ]]-

 

“Jihwa-ya!” panggil Jungsoo oppa yang mengikutiku masuk ke dalam. Aku tak merespon panggilannya dan terus berjalan menuju ke ruang tengah. Aku duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tentu Jungsoo oppa juga mengikutiku sampai ke ruang tengah. Bahkan kini ia duduk disampingku. “Ceritakan padaku. Apa yang terjadi padamu?” tanya Jungsoo oppa. “Bukankah aku sudah mengatakannya tadi? Aku baik-baik saja, oppa.” jawabku tanpa menatap wajahnya.

 

“Kau berbohong padaku.” ujarnya tegas membuatku menatap wajahnya. Bukan kemarahan yang terpancar di matanya melainkan kekhawatiran yang ia tunjukkan untukku. “Kau tidak biasanya seperti ini. Dimana Yoon Jihwa yang selalu memanggilku dengan sebutan ParkTeuk? Dimana Yoon Jihwa yang selalu menyambutku dengan hangat saat aku datang menemuinya?” Kali ini tersirat kesedihan dimatanya.  ParkTeuk adalah panggilan special dariku untuknya. Aku selalu memanggilnya ParkTeuk, tapi kali ini rasanya sulit untuk memanggilnya dengan sebutan itu.

 

Aku hanya terdiam mendengar pertanyaannya. Haruskah aku melakukan ini padanya? Aku sungguh tak tega. Tapi, ini harus kulakukan. Aku tidak ingin lebih dalam masuk ke dalam kehidupannya. Karena itu hanya akan bisa membuatku merasa sakit.

“Jihwa-ya, tatap mata oppa!” kata Jungsoo oppa seraya mengangkat daguku. aku melihat ia menatapku dengan tajam. Tatapan yang selalu membuatku semakin mencintainya. Dengan segera aku memalingkan wajahku. Aku menarik napas dalam-dalam mencoba mengatakan sesutau padanya.

 

“Oppa.. lebih baik..” ucapku mengambang. Berat bagiku untuk mengatakan ini, tapi tak ada pilihan lain selain ini. “Lebih baik kita akhiri saja hubungan kita.”

“Mworago?”

“Kita putus.” ujarku datar.

“Wae? Wae, Jihwa?” Jungsoo oppa memegang kedua pundakku.

“Aku lelah dengan semua ini.”

“Lelah?  Lelah karena apa? Apa karena berita miring itu?”

aku hanya diam.

“Jihwa-ya, kau tak percaya padaku? Aku dan Taeyeon tak ada hubungan apa-apa. Hubunganku dengannya hanya seperti kakak-adik. Tak lebih dan tak kurang. Lalu, kalung itu.. itu hanya sebuah hadiah dari sponsor.”

“Apa aku bisa mempercayai perkataan Oppa itu? Kau bisa saja mengatakan begitu di depanku. Tapi di belakang, tak ada yang tahu kebenarannya.” sahutku dingin. Jungsoo oppa hanya terdiam. Aku tahu, aku percaya mereka memang tidak ada hubungan apa-apa. Mungkin dengan memancingnya menggunakan gosip lama ini, dengan mudah aku bisa merelakannya pergi dariku.

 

“Apa aku terlihat seperti itu? Jihwa-ya, kau tahu..aku mencintaimu. Tidak mungkin aku bermain dibelakangmu. Percayalah..Apa kau tidak mencintaiku lagi?”

“Bukannya begitu…tapi..” aku kembali mengambangkan kata-kataku dan memutar otakku untuk mencari alasan. “Tapi apa, Jihwa? Kalau kau masih mencintaiku, lalu kenapa kau ingin kita putus? Malhaebwa!” teriak Jungsoo oppa.

“Karena mencintaimu adalah sebuah kesalahan untukku!” aku membalas berteriak.

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Aku sudah mencoba memahami status Oppa sebagai idola yang sibuk dengan schedulenya dan sebagainya. Serta, banyaknya fangirls yang memuja dirimu dan juga kedekatanmu dengan beberapa artis wanita yang membuatku cemburu. Aku sudah berusaha menahannya. Tapi, aku tidak bisa. Aku merasa tertekan. Itu terlalu menyakitkan bagiku. Aku tidak sanggup, oppa..Maafkan aku.”

“Bukankah dulu kau mengatakan tak masalah menjalin hubungan denganku walau statusku adalah seorang idola? Lalu, kenapa sekarang kau seperti ini? ”

“Karena aku sangat mencintaimu dan terlalu mencintaimu! Perasaan ini membuatku tersiksa! Aku tidak tahan dengan ini semua. Semakin besar perasaanku padamu semakin aku merasakan sakit. ”

aku bisa melihat dia tampak terkejut dengan ucapanku barusan. Kesedihan terpancar dari matanya. “Apakah begitu menyakitkannya kau mencintaiku?” tanya Jungsoo oppa. Suaranya sedikit bergetar. Aku hanya bisa diam mematung.

 

“Baiklah, jika dengan mengakhiri hubungan kita itu bisa membuatmu lebih baik, aku akan menerimanya.” Jungsoo oppa bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan. Sebelum ia keluar, Jungsoo oppa membalikkan badannya. “Geundae, ada hal yang harus kau tahu,Jihwa-ya. Apapun yang terjadi cintaku selalu untukmu dan itu tak akan pernah berubah selamanya.”

Aku terhenyak mendengar pernyataannya. Aku bisa merasakan airmata mengalir dari kedua mataku. Aku menundukkan kepalaku dan tak ada keberanian untuk menatap wajahnya. Setelah Jungsoo oppa meninggalkan Apartementku, tangisku pecah.  Hubunganku dengannya sudah berakhir. Cerita awal cinta kami yang penuh canda dan tawa, kini berubah menjadi kepedihan yang aku sebabkan dari diriku sendiri.

 

“Mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo, ParkTeuk-a. Kau begitu baik padaku. Selalu memberikan sebuah hadiah untukku. Kau juga sangat peduli dengan keluargaku. Aku mencintaimu dan sangat mencintaimu. Tapi, aku tidak bisa..itu sangat menyakitkan untukku.”

 

 

==============================

 

-[[ JUNGSOO POV]]-

 

Aku bisa mendengarnya. Dengan sangat jelas aku mendengar suara tangisnya. Ingin sekali aku kembali masuk ke dalam lalu memeluknya. Mendengar tangisannya membuat hatiku perih. Aku selalu memberikan cintaku untuk gadis itu. Akan tetapi, aku tidak menyangka Jihwa mengakhiri hubungan kami. Itu bagaikan tamparan untukku. Jihwa gadis yang sangat berarti dalam hidupku. Aku sangat mencintainya, bahkan sejak awal kami bertemu. Kata-kata yang diucapkan Jihwa kembali terngiang di telingaku. Aku mendesah panjang. Lalu, aku putuskan untuk kembali ke dorm.

 

“Aku pulang..”

 

sesampainya di dorm aku langsung masuk ke kamar dan mengurung diri tanpa memedulikan member lain yang menyapaku. Aku masih terpukul dengan kejadian tadi. Mungkin ini yang terbaik untuk Jihwa. Aku tidak ingin membuat Jihwa lebih tersiksa dan tersakiti karena perasaannya padaku. Lalu untukku? Apa aku bisa menjalani hidup tanpa Jihwa disisiku? Aku tidak yakin.

“Ahh, andwae! Aku tidak boleh menangis.” aku mencoba menghapus airmataku dan menahan diri agar tidak menangis. Entah kenapa semua kenangan-kenangan saat aku bersama dengan Jihwa kembali menghiasi kepalaku membuatku kembali menangis.

 

“Hyung!” panggil Donghae dari luar kamar sembari mengetuk pintu. “Gwaenchana?” tanya Donghae. “Hyung, aku masuk yah..”

Mendengar Donghae akan masuk ke kamar, aku lantas menghapus airmataku dan beranjak ke tempat tidur.

“Hyung, gwaenchana?” tanya Donghae begitu masuk ke dalam kamar.

“Nan gwaenchana. Aku hanya lelah dan butuh istirahat.” jawabku berusaha melemparkan senyum kearah Donghae. “Arasseo.. Kalau begitu aku keluar. Istirahatlah yang cukup, Hyung.”

 

Selalu saja aku seperti ini. Menyembunyikan semua masalah yang sedang aku hadapi dari mereka, member-deul ku. Sudah banyak masalah yang terjadi dalam grup kami dan aku tidak ingin membuat mereka cemas karena masalahku. Aku tidak boleh terpuruk dalam kesedihan. Aku harus kuat dan tidak boleh seperti 4 tahun yang lalu. Yap, aku harus menjadi orang yang kuat dihadapan semua orang. Aku harus kembali menjadi Leeteuk.

 

=====================================

 

Tampaknya aku tak berhasil. Sekeras apapun aku menyembunyikannya, itu malah memberikan dampak pada pekerjaanku. Alhasil, di beberapa syuting acara aku banyak melakukan kesalahan. Saat latihan dance aku juga selalu melakukan kesalahan.Tidak ada semangat dalam diriku saat ini dan ini sudah berlangsung selama beberapa hari. Sulit untukku tersenyum saat ini. Belakangan ini juga tweetku di twitter dan diary entry di cyworldku penuh dengan emoteuk. Para member terlihat sangat mengkhawatirkan diriku tapi aku berusaha tersenyum dan selalu mengatakan,” aku baik-baik saja.”

 

Perasaanku yang belum membaik, kini harus kembali dihadang masalah. Para netizen kembali menyemprotku karena insiden yang terjadi di konser SMTOWN. Di dunia ini tampaknya aku orang yang gampang untuk dihina. Aghh! Jihwa-ya, apa kau tahu? Aku sangat membutuhkanmu. Kau selalu ada untukku saat aku dilanda masalah. Apa yang harus akau lakukan? Aku tidak bisa apa- apa tanpamu.

“Hyung! Kau salah gerakan!” tegur Shindong. Saat ini kami sedang latihan untuk persiapan sushow 3 selanjutnya.

“Ahh, mianhaeyo..” jawabku kikuk. Para member menatapku semua. Ada diantara mereka yang menatapku sebal dan ada juga yang menatapku dengan khawatir.

“Lebih baik sekarang kita istirahat dulu.” ujar Siwon.

“Hyung, gwaenchana? Kau terlihat kurang sehat..” tanya Ryeowook menghampiriku.

“Gwaenchana..”

 

Para member duduk berkumpul menjadi satu sedangkan aku memilih untuk menjauh dari mereka. Bukan apa-apa tapi aku hanya butuh sedikit ketenangan. Sesekali aku menatap layar hapeku. Berharap ada balasan sms atau telepon dari Jihwa untukku. Yah, di dalam lubuk hatiku aku masih mengharapkan bisa kembali dengan Jihwa. Pikiranku pun kembali ke saat-saat kami bersama dulu. Sangat sulit bagiku untuk melupakan gadis yang sangat berharga bagiku. Terlebih dia sudah mengisi hari-hariku dengan cintanya yang ia berikan padaku. Aghh! aku masih sangat membutuhkan Jihwa disampingku. Lama-lama bisa gila aku memikirkan gadis itu.

 

Aku mengacak-acak rambutku sendiri. Aku merasa gemas dengan diriku yang seperti ini.

 

“Teukie hyung, harus sampai kapan kau seperti ini? Ceritakanlah masalahmu pada kami. Kami siap mendengarkannya.” ucap Siwon setelah selesai latihan. Para member yang lain mengerubutiku. Aku menatap mereka satu persatu. Pandangan mereka penuh harap agar aku berbagi kesusahan dengan mereka. Tapi ini masalahku, aku tidak ingin merepotkan mereka.

“Kalian ini kenapa? Aku baik-baik saja. Sungguh!”

“Geotjimal! Hyung selalu saja seperti ini. Memendam semuanya sendirian. Kami disini untukkmu, Hyung. Jika kami ada masalah, hyung selalu ada untuk kami dan mendengar curhatan kami. Tapi, hyung? Hyung tidak sendirian..” ujar Eunhyuk. Ucapannya membuatku terharu.

 

Mereka semua sangat memedulikanku. Aku menghela napas lalu kuceritakan semua kejadian itu pada mereka. Seperti dugaanku, mereka sangat terkejut mendengarnya.

 

“Lalu, hyung mau berbuat apa?” tanya Donghae.

“Tidak berbuat apa-apa. Aku tidak ingin Jihwa merasa lebih sakit jika bersamaku.”

“Pabo! Kalau kau masih mencintainya, seharusnya kau kembali berusaha mendapatkannya. Yakinkan dia, kalau mencintaimu bukanlah kesalahan. heishh chinjja..” celetuk Heechul.

“Tapi aku sudah berusaha, Chul-a! 2 hari lalu aku mencoba mendatangi apartementnya. Tapi apa? Dia mengusirku. Dia mengatakan kalau dia membenciku.” jelasku dengan penuh emosi.

“Percaya padaku. Aku yakin Jihwa juga masih mencintaimu, hyung.” ujar Siwon.

“Neo… eotteohkhae?”

“Diakan seorang pendeta. Percaya saja apa kata dia..” celetuk Heechul lagi. Siwon terlihat memelototi Heechul.

“Hyung masih mempunyai kesempatan!” seru Kyuhyun.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”

“Lakukan saja apa yang bisa kau lakukan. Kami percaya padamu, hyung pasti bisa.” ujar Sungmin bijak.  Aku pun diam sejenak memikirkan cara apa yang harus aku lakukan. “AH! Arasseo. Gomawo..” seruku setelah mendapatkan ide yang mungkin bisa aku lakukan. “Bolehkan aku meminta bantuan kalian? Begini…”

 

-[[ JUNGSOO POV END]]-

 

========================

 

Malam harinya..

 

“Jihwa-ya, kembalilah padanya. Apa kau mau terus-terusan melihat dia seperti itu? Dia membutuhkanmu, Jihwa-ya.”

“Majayo. Kami tidak ingin melihat kalian berdua seperti ini. Kalian masih sama-sama membutuhkan dan masih saling mencintai.”

 

Jihwa membisu mendengar perkataan kedua sahabatnya.

 

Yah, mungkin memang benar apa yang dikatakan Nana unnie dan Jooyeon unnie. Tidak bisa dipungkiri kalau aku masih menyimpan perasaanku pada Jungsoo oppa. Belakangan ini aku membaca diary entry-nya. Entah kenapa aku lebih sakit melihatnya sedih seperti itu daripada sakit yang kurasakan saat bersamanya.Tapi, semua sudah terlanjur. Aku yang mengakhiri cerita cinta kami. Batin Jihwa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kaca.

Tanpa ia sadari, airmatanya menetes membasahi kedua pipinya. Nana yang melihat itu lantas menghampiri Jihwa dan memeluknya.

“Jihwa-ya, semua akan baik-baik saja. Uljima..”

“Unnie, ini lebih menyakitkan. Aku tidak bisa jika tidak ada Jungsoo oppa. Seharusnya aku tidak mengakhiri ini. Karena aku dia seperti ini. Unnie, naneun eotteohkhae?” Jihwa terisak di dalam pelukan Nana. Perasaan bersalah muncul dihatinya.

 

“Daripada kau berdiam diri di Apartementmu, lebih baik kau menghirup udara segar saja. Pergilah ke taman, mungkin itu akan membuat perasaanmu lebih baik..” Tawar Jooyeon sambil menarik tangan Jihwa.

“Dengan unnie-deul?”

“Mianhae, tapi kami berdua harus kembali ke lokasi syuting. Gahee unnie sudah menelepon kami.” jawab Nana.

“Arasseo..”

Dengan langkah gontai Jihwa berjalan menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah itu, bersama dengan Nana dan Jooyeon mereka meninggalkan Apartement. Mereka pun saling berpamitan satu sama lain. Dalam perjalanan menuju lokasi syuting, Nana menelepon seseorang.

“Yoboseyo. Heechul-ssi,  semua beres. Sekarang dia sedang menuju kesana. Anieyo gwaenchana. Ne, annyeong..”

 

================================

 

“Chinjjaro? Oo, arasseo. Gomawo, Nana-ya. Mian, telah membuat kau dan Jooyeon repot. Oke, annyeong.”

“Hyung, gimana?” tanya Eunhyuk. “Jihwa sudah menuju kesini..Ppali! Ppali!” jawab Heechul. Mereka pun segera bersiap-siap sesuai apa yang direncanakan Jungsoo siang tadi.

 

Jihwa tengah berjalan menuju taman. Jalanan yang sepi membuat bulu kuduk Jihwa berdiri. Terlebih lagi angin malam yang menusuk tulangnya. “hyaa, dingiiin! Ahh, kenapa mereka menyuruhku ke taman? Padahal anginnya kencang seperti ini. Tapi, bodohnya aku juga kenapa mau menuruti mereka berdua? Ahh, sudahlah, kesana saja..”

Jihwa pun melanjutkan perjalanannya menuju taman. Tepat saat ia memasuki taman, suara petir menyambar membuat Jihwa terperanjak kaget. ” Gyaa..ParkTeuk-a!!” latah Jihwa. “Ahh, chinjja! Membuatku kaget saja. Lebih baik aku kembali pulang saja.” gerutu Jihwa sebal.

 

“Ya! Chamkkanman, Jihwa-ssi!!” cegah seseorang.

 

Merasa namanya dipanggil, Jihwa membalikkan badannya mencari asal sumber suara yang memanggilnya. Dengan pelan-pelan diselimuti rasa ngeri, Jihwa berjalan kembali memasuki taman. Disana telah berdiri 9 pria yang tak asing baginya.

 

“Kalian? Kenapa ada disini?” tanya Jihwa kepada 9 pria yang berdiri tak jauh darinya. Mereka semua melemparkan senyum kearah Jihwa dan tak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan Jihwa.

“Ya! Kenapa bajumu seperti itu? Heishhh, seharusnya mereka menyuruhmu memakai gaun atau apalah. Kau terlalu biasa dan tidak terlihat cantik..” olok Heechul sambil menatap Jihwa dari bawah lalu keatas. Saat ini hanya celana jeans, kaos putih polos, cardigan, dan sepatu sneakers yang Jihwa kenakan.

“Oppa! Apa yang kau katakan? Memang kenapa dengan pakaian yang aku kenakan? Aku datang kesini hanya untuk mencari udara saja.”

“Ahh,sudahlah! Toh bukan aku yang punya keperluan.” Heechul berjalan mendekati Jihwa. Dari balik punggungnya ia mengeluarkan sesuatu membuat Jihwa bingung.

“Ini untukmu. terimalah..” ujar Heechul seraya menyerahkan sebucket bunga mawar merah kepada Jihwa. “Ige mwoya?” tanya Jihwa polos membuat Heechul gemas melihatnya. “Sudah! terima saja!”

 

Dengan penuh tanda tanya Jihwa menerima pemberian bunga dari Heechul. Belum terjawab apa maksud Heechul memberinya bunga, ke-7 member Suju yang tersisa bergantian juga memberinya bucket bunga mawar merah. Di setiap bucket bunga itu, ditengahnya terdapat sebuah memo kecil. Di memo itu terdapat potongan-potongan kata. Jihwa membacanya bergantian saat tiap member memberinya bunga.

 

Oh, geochin salmae shideureogal ddae, geudaega naegae dagawa

Eoleobooteun nae maeumae soneul daen soongan

Naui salmeun shijak dwaesseumeul

Oh, When this passing life withers away. You come to me..

The moment i touch your frozen heart, my life begins..

 

Geudae jichigo himdeul ttae

budi geu yeopjarie nareul itge hae

When you’re tired and having a hard time

Please let me stay by your side

 

Batgiman han sarangeul dasideuril su itge

i salmi kkeutnagi jeone

So i can give back to you the love i had only received

Before this life ends

 

Sesange mureup kkurko nunmul heullil ttae

pokpung sok bal meomchul ttae geudaeman seo itdamyeon

When I get on my knees and cry

When I stop my tracks inside the storm

ireon apeum, gotongjjeum gyeondil su inneungeollyo

ojik geudaeman, naege itdamyeon in my life

If you alone are standing, I can handle this much pain and suffering

If only you, are with me in my life

 

eodun sup sok gil irheul ttae

eorin naui yeonghoni ulgo isseul ttae

When i lose my way inside the dark forest

When my young soul is crying

biccheoreom gijeokcheoreom, nareul ikkeureojwoyo

i salmi kkeutnagi jeone

Guide me like a light, like a miracle

Before this life ends

 

Uljji anhayo, dashin ulji anhayo

I won’t cry, I won’t cry again

 

geu mueotdo jeoldae nal meomchuji mothae

Absolutely nothing can stop me

 

heona ojik dan han saram geudae

nareul mandeulgo wanseongsikigo

But only one person

You make me, you perfect me

 

o ireoke sumswige hae you

Oh, You make me able to breath like this

 

Begitulah isi kalimat yang ada di tiap memo jika digabungkan menjadi satu. Jihwa terpukau membaca kata-kata yang terdapat ditiap memo itu. Tak dipungkiri, ia merasa sangat terharu. Yah, tampaknya ia mengerti siapa yang ada dibalik ini semua. Dan perkiraan Jihwa pun benar. Jungsoo datang dan seperti para membernya, ia memberi Jihwa sebucket bunga mawar merah yang ukurannya lebih besar dari ke-7 bucket bunga lainnya.

 

“sesange mureup kkurko nunmul heullil ttae, pokpung seokbal meomchul ttae geudaeman seo itdamyeon. eotteon apeum, nunmuljjeum chameul su inneungeollyo. All i want is you, only one is you in my life..” Jungsoo pun menyanyikan sisa bait yang tersisa dari semua memo itu seraya memberikan bucket bunga pada Jihwa. Yap, potongan2 kalimat itu adalah rangkaian sebuah lirik lagu. Jihwa menerima bunga itu tanpa ada senyum diwajahnya. Ia tak tahu harus menunjukkan ekspresi apa didepan pria yang masih mengisi relung hatinya itu.

 

“Semua ini kupersembahkan untukmu. Apa kau suka? itu adalah lagu kesukaanmu kan?” tanya Jungsoo dan Jihwa mengangguk kecil.

“Tugas kami selesai! Teuk-a, sisanya semua terserah padamu. Kami pulang ya. Daah..” seru Heechul. Mereka pun meninggalkan Jungsoo dan Jihwa seorang diri di taman.

 

========================================

 

Keadaan menjadi sunyi senyap. Daun bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti arah angin yang berhembus sedikit kencang. Suara jangkrik yang saling bersahutan terdengar merdu bagaikan lagu keong racun *lho?*. Maksudnya, bagaikan paduan suara.

 

Tak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan satu kata pun. Jungsoo terlihat salah tingkah sedangkan Jihwa, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Sesekali ia mengusap tangannya untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan karena angin malam. Yah, seperti yang ada di film-film. Pria yang melihat gadisnya kedinginan selalu memberikan jaket atau syal yang ia kenakan untuk gadisnya itu. Begitu pula dengan Jungsoo. Ia melepas jas yang ia kenakan lalu memakaikannya ke Jihwa. Awalnya Jihwa menolak, namun Jungsoo memaksanya agar Jihwa tidak jatuh sakit.

 

“Jihwa-ya.. ” panggil Jungsoo.

“Ne” jawab Jihwa singkat, jelas, padat.

“Jihwa-ya, nan…” Jungsoo menggantungkan ucapannya. Ia menarik napas panjang. “Nan.. Neoreul saranghae. Bisakah kita kembali seperti dulu lagi?” tanya Jungsoo sambil memegang kedua tangan Jihwa. “Jihwa-ya, aku tidak bisa tanpa dirimu..”

 

Jihwa menarik tangannya.

 

“Sekeras apapun aku mencoba melupakanmu, tetap tidak bisa. Kau selalu muncul dipikiranku. Seperti yang aku katakan pada hari itu,cintaku selalu untukmu dan itu tak akan pernah berubah selamanya. Aku memikirkanmu, dan selalu memikirkanmu. Aku sangat menyukaimu dan aku tidak bisa melupakan segalanya tentangmu, Jihwa-ya. Hanya kau yang aku inginkan di dalam hidupku.”

Jihwa tertegun mendengar ucapan Jungsoo.

 

“Oppa, mencintai oppa adalah sebuah kebahagian untukku saat pertama kali aku merasakannya. Tapi, semakin lama cintaku padamu semakin besar. Bukannya aku senang dengan perasaan itu, aku malah merasa tersiksa dengan perasaanku itu. Terlebih lagi status oppa, itu membuatku tertekan. Dunia kita sangat berbeda..” Jihwa menghentikan ucapannya. Sejenak ia menengadahkan kepalanya menahan agar airmatanya tak jatuh. “Tapi… ternyata aku salah. Keputusanku itu malah membuat orang yang aku cintai merasa kesepian dan berlarut dalam kesedihan. Apa oppa tahu? Melihat oppa yang seperti itu malah membuatku sakit. Lebih sakit daripada sakit karena terlalu mencintai oppa. Seperti halnya oppa. Aku selalu berusaha agar bisa menghapusmu dari kehidupanku. Tapi aku tidak bisa. ”

 

“Lalu? Apa kita bisa…”

Jihwa langsung memotong perkataan Jungsoo. ” Maafkan aku. Karena aku, oppa terluka. Saat berita insiden itu yang memberika dampak buruk pada oppa, aku merasa sangat sedih.”

“Kau tahu? Saat itu, aku sangat membutuhkanmu. Hanya kau yang bisa membuatku lebih baik. Jihwa-ya, jebal.. dorawa.”

“Tapi, oppa harus berjanji padaku. Jangan ada lagi emoteuk. Melihat oppa sedih, aku juga sedih. Melihat oppa merasakan sakit, aku juga merasa sakit melihat oppa seperti itu.”

“Jika ada kau disampingku, itu seperti memberikanku kekuatan untuk menjalankan hidup ini. Kau mencintaiku dan ada disisiku itu sudah lebih dari cukup.”

 

Jihwa dan Jungsoo saling berpandangan. Senyum lebar menghiasa wajah mereka.

“Nae aegya, jeongmal saranghae..”

“Na do saranghae, naui cheonsa..”

Jungsoo pun memeluk Jihwa dan Jihwa membalas pelukannya.

 

Sayangnya kemesraan itu tak berlangsung lama. Air hujan yang jatuh dari langit langsung mengguyur tubuh mereka. Jungsoo mencari-cari tempat berteduh. Setelah menemukannya, ia lantas menarik tangan Jihwa dan berlari ke box telepon umum.

“Ahh, chinjja! kenapa hujan turun disaat2 terpenting seperti ini?” gerutu Jungsoo kesal sambil menatap keluar box. Jihwa terkekeh dibuatnya. “Kenapa tertawa?”

“Ani. Lucu saja melihatmu menggerutu seperti itu. hihihi”

Jungsoo hanya menggembungkan pipinya melihat Jihwa menertawainya.

 

Hampir setengah jam mereka menunggu hujan reda. Tapi, hujan tak kunjung reda juga.

“Apa kau kedinginan?” tanya Jungsoo cemas melihat Jihwa yang terus-terusan meniup kedua telapak tangannya.

“Ani, gwaenchana..” jawab Jihwa disertai senyumnya.

“Apanya yang baik-baik saja? Tanganmu dingin begini..” seru Jungsoo sembari memegang kedua telapak tangan Jihwa yang memang dingin.”Mendekatlah..”

“Ye?”

“Mendekat padaku! Apa kau tidak dengar?” perintah Jungsoo. Jihwa terlihat kaget melihat Jungsoo berbicar keras padanya. Dengan ragu-ragu ia mendekat kearah Jungsoo. Jungsoo langsung menarik tubuh Jihwa kedalam pelukannya.

“Apa kau merasa hangat?”

“Ne. Gomawo, ParkTeuk-a..”

 

Jungsoo memeluk Jihwa untuk menghilangkan rasa dingin yang melanda Jihwa. Suasana itu malah membuat jantung Jihwa berdegup kencang. Ternyata tak hanya JIhwa, Jungsoo pun merasakan hal yang sama. Ia melirik kearah Jihwa. Ia bisa melihatnya, gadisnya itu terlihat gugup. Lucu sekali.

“ParkTeuk-a! Kenapa melihatku seperti itu?”  Jihwa melepas pelukannya dan sedikit menjauhkan diri dari Jungsoo.

 

Tiba-tiba suara guntur terdengar sangat kencang. Jihwa menjerit karena kaget dan reflek ia memeluk Jungsoo. Jungsoo langsung menenangkan Jihwa. Setelah semuanya baik-baik saja, Jihwa kembali melepas pelukannya. Jihwa terlihat sangat malu dan gugup karena tiba-tiba ia memeluk Jungsoo. Jungsoo yang melihat kegugupan Jihwa, meraih tangan Jihwa dan menggenggamnya.

“All i want is you. Only one is you in my life.” ucap Jungsoo yang tengah memandang kearah luar. Jihwa yang mendengarnya langsung menatap Jungsoo. Jungsoo mengalihkan pandangannya menatap Jihwa dan melemparkan senyum untuk gadis itu.

“Jihwa-ya..” panggil Jungsoo. Ia mendekatkan wajahnya kearah Jihwa. Tangan kanannya dengan perlahan memegang tengkuk gadis itu. Sejurus kemudian Jungsoo menempelkan bibirnya ke bibir Jihwa. Dengan lembut ia mencium Jihwa ditengah hujan yang mulai mereda.

 

Jungsoo melepas ciumannya dan menatap Jihwa yang tertunduk malu. Jungsoo mengecup puncak kepala Jihwa membuat Jihwa memandang kearahnya. Jungsoo tersenyum kearahnya dan Jihwa membalas senyum pria itu. Sedetik kemudian, Jungsoo kembali mencium bibir Jihwa. Kali ini, ciuman yang lebih dalam dari sebelumnya.

 

-THE END-