Category Archives: 2PM

In My Dream

Standar

Judul : In My Dream
author: Fauzia. A
Cast : main>> Jang Wooyoung, Im Yoona
         supporting>> Lee Junho, Kim Hyoyeon
Genre : Drama, miracle.
Oneshoot
Rating: G (Untuk semua Umur)
2PM SNSD
prolog:
    Kurasa itu hanya mimpi bagiku. Tidak ada lagi sekarang. Tidak ada lagi kata ‘kita’ bagiku. Bahkan aku percaya, di hari ulang tahunku nanti kau tidak akan datang dan merayakannya bersamaku. Kenapa!? Kenapa kau tega melakukan ini padaku—meninggalkanku sendiri bersama semua bayangan indah yang kau tinggalkan.
Iklan

I Will Always Protect You (Final chapter)

Standar

Cast: 2PM

Genre: Action, Romantic, Family, Friendship

PG: 15

I Will Always Protect You Final Chapter

”Ya, pak Chansung ada apa?”

”Tuan Junho menyuruhmu ke ruangannya sekarang juga. Aku yang akan mengurus surat pengawalan.” jelas Chansung.

”Baik.” jawab singkat Nichkhun.

Chansung berjalan menujuh ke luar hotel meninggalkan Nichkhun sendiri.

Kemudian Nichkhun berjalan menujuh ke ruangan Junho.

Saat di muka pintu ia menghembuskan nafas panjang dan kemudian barulah ia mengetuk pintu.

”Masuk!” sahut suara di dlam ruangan.

Nichkhun masuk ke dalam ruangan Junho.

”Duduklah.” pinta Junho lalu tersenyum.

”Ada apa tuan mencari saya?”

Tuan Junho tersenyum dan hampir tertawa.

”Maaf tuan, apa kata-kata saya ada yang lucu?” tanya Nichkhun penasaran.

”Tidak. Tidak ada yang lucu. Hanya saja aku tidak mengira jika gadis yang kau maksud dulu itu Yurika.” sahut Junho.

Nichkhun tertegun. Ia mematung tidak bisa berkata.

”Kau tahu Nichkhun, aku senang Yurika memilihmu. Aku sudah lama mengenalmu dan ingin memberikan warisanku padamu. Setelah aku mengetahui soal anakku, Yurika. Aku hendak memaksanya menyukaimu. Tapi aku tidak ingin anakku berakhir sepertiku. Aku tidak ingin menjadi seperti appaku. Syukurlah jika Yurika memilihmu. Dengan begitu akau bisa tenang menyerahkan kekuasaanku padamu.” jelas Junho.

Nichkhun semakin membeku, ia sangat terkejut akan kata-kata yang terlontar dari mulut Junho.

”A… Apa maksud tuan?” tanya Nichkhun sedikit terbata-bata.

”Maksudku, aku akan menyerahkan harta kekayaan dan segalanya padamu jika kau menikahi anakku Yurika. Aku sudah memutuskan sejak awal. Aku ingin kekuasaanku ini kau kuasahi karena aku percaya.”

”Ta… Tapi tuan saya bukan…”

”Aku tidak peduli tentang asal usulmu. Aku peduli terhadap hati dan otakmu. Kau tahu mengapa aku membantumu dan Taecyon agar dapat melanjutkan sekolah hingga kuliah? Karena aku tahu kalian memiliki potensi. Tapi kau lebih pintar daripada Taecyon. Kau dapat kuliah hingga ke Jepang. Kau jenius, kau memiliki hati yang kuat dan tak pernah goyah. Aku kagum denganmu. Aku yakin perusahan-perusahaanku bisa maju dan berkembang di bawah kendalimu.” potong Junho

”Tapi tuan, aku dan Yurika tidak ada hubungan lagi. Kami sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi.”

”Itu karena salahku. Tiga tahun yang lalu aku menyuruhmu kembali ke Korea dan bekerja padaku. Kau sebenarnya ingin bekerja di Jepang karena wanita yang kau cintai itu ada di sana. Anggap saja ini sebagai tanda minta maafku padamu.”

”Tapi tuan…”

”Tidak ada tapi-tapian. Setelah tes DNA itu keluar aku akan menyiapkan pernikahan kalian. Kau lihat Yurika masi mencintaimu dan kau juga begitu.” potong Junho lagi kemudian ia mendongak ke Nichkhun dan meraih kalung Nichkhun.

”N&Y, Nichkhun & Yurika atau sebaliknya. Kau menggunakan kalung ini sama seperti yang digunakan Yurika. Dengan bukti itu sudah cukup membuktikan kalian masih saling mencintai.”

*******

Sorenya, di kamar Nichkhun dan Taecyon.

”Kau kenapa?” tanya Taecyon ketika baru masuk dan mendapati Nichkhun terdiam murung duduk di atas tempat tidurnya.

”Tidak, hanya saja aku teringat masa laluku.” jawab Nichkhun.

”Sudah jangan dipikirkan lagi, nanti kau tidak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalumu.” ujar Taecyon menepuk-nepuk punggung Nichkhun sambil duduk di samping sahabatnya.

”Oh ya, Taecyon. Kenapa tadi kau murung?” tanya Nichkhun tiba-tiba.

”Oh itu.” Raut wajah Taecyon berubah.

”Seseoarng melarangku berpacaran dengan Eunjo, Kekasihku. Padahal aku sungguh sangat mencintainya. Aku hampir saja melamarnya. Tapi sesorang itu mengatakan bahwa Eunjo bukanlah pilihan yang tepat. Ia menyuruhku memutuskan hubunganku dengannya dan menjalin hubungan dengan orang pilihannya. Tadi aku sempat menemui Eunjo. Saat aku mengatakn yang sejujurnya, ia menangis. Aku tak tega meninggalkannya. Tapi aku harus.” Lanjut Taecyon kemudian ia menangis.

”Memang siapa orang itu?” tanya Nichkhun penasaran.

”Appaku.” jawab singkat Taecyon.

”Appamu? Jadi kau menemukan appamu?”

Taecyon mengangguk.

”Aku sangat iri denganmu Nich, kau tidak punya orang tua. Dengan begitu kau tidak usah menuruti perintah orang tuamu, karena tak ada satupun perintah dari mereka.” ujar Taecyon terisak.

”Aku justru iri denganmu Taecyon, kau bisa tahu orang tuamu.” ujar Nichkhun lemah.

*******

Malam-malam Taecyon keluar kamarnya. Sebelumnya ia memastikan jika Nichkhun sudah tidur. Ia tidak ingin Nichkhun mengetahui rahasia yang ini ia simpan rapat. Ia berjalan keluar hotel menujuh ke sebuah resto cepat saji dekat hotel. Ia menujuh ke orang yang duduk dengan dua buah minuman di mejanya.

”Ada apa appa memanggilku lagi?” ujar Taecyon kemudian duduk dan menyedot minuman yang masih utuh.

”Aku ada berita buruk. Sangat buruk.” sahut Junsu.

Taecyon berhenti menyedot minumannya. Ia memandang appanya tanpa berkedip.

”Ka… Ka…bar apa appa?” tanya Taecyon terbata-bata.

”Soal pewaris aset milik tuan Junho.” ujar Junsu. Kemudian ia mengelap kepalahnya yang berkeringat dengan sapu tangan yang ada di sakunya.

”Ternyata tuan Junho menyerahkan aset kekayaan, kekuasaan kepada Nichkhun.” lanjut Junsu.

”Nichkhun?” Taecyon seakan tak percaya.

Kemudian Junsu menjelaskan panjang lebar tentang penyerahan itu.

”Dengan kata lain aku akan memberikan rencana kasar. Untuk merebut itu semua.”

”Rencana apa appa?” tanya Taecyon penasaran.

”Kau harus menculik dan menyelamatkan Yurika setelah tes DNA keluar. Lebih lanjutnya kau baca sendiri. Di amplop ini sudah jelas. Besok pagi, pagi sekali kau menemui mereka untuk membicarakn rencana yang ku buat.” terang Junsu.

”Mereka? Mereka siapa?” tanya Taecyon.

”Orang yang membantumu menculik Yurika. Aku tidak akan biarkan Nichkhun mendapatkan segalanya. Kau juga harus mendapatkan itu semua. Aku yang menyelamatkan tuan Junho dulu, seharusnya itu menjadi milikku dan menjadi milikmu anakku. Aku tidak bisa membiarkan kekayaan itu di tangan orang lain.” jelas Junsu.

*******

Pagi-pagi sekali, Taecyon menata bajunya ke dalam tasnya. Tanpa ia sadari Nichkhun terbangun.

”Kau sedang apa?” tanya Nichkhun mengejutkan Taecyon.

”Ah, aku… Aku di utus manejer ke hotel cabang di luar kota katanya ada masalah dan sepertinya aku orang yang tepat yang bisa menyelesaikannya.” ujar Taecyon berbohong.

”Sepagi ini? Ini masih jam setengah empat pagi?” tanya Nichkhun.

”Ya, karena aku langsung bekerja begitu tiba. Jika aku berangkat jam enam, tujuh atau delapan, pasti aku tiba siang dan sering macet jika jam begituan.” jelas Taecyon beralasan.

”Ya sudah jika seperti itu. Hati-hati di jalan ya.” ujar Nichkhun kemudian merangkul sahabatnya.

*******

Selama Taecyon menjalankan tugas Junsu mencoba menyibukkan Nichkhun dengan memberinya tugas-tugas agar ia jauh dari Yurika. Tapi jika Yurika seringkali menunggu Nichkhun bekerja atau ikut dengan Nichkhun bekerja usahanya bisa sia-sia. Maka dari itu Junsu menyuruh salah seorang karyawan wanita menemaninya menyelusuri hotel dan menyuruh pengawal Yurika untuk mengantar Yurika keliling kota.

Meski begitu, Nichkhun dan Yurika saling jumpa meski hanya sebentar saja. Dan tuan Junho seringkali membuat rencana mendekatkan kembali Yurika dan Nichkhun sehingga usaha Junsu benar-benar gagal total.

Setelah hasil DNA keluar. Tuan Junho dan Yurika segera membuka hasil. Dan tak diragukan lagi, Yurika benar-benar anak kandung tuan Junho.

Tuan Junho pun memeluk Yurika dan terharu. Kemudian ia menyuruh Pak Junsu menyiapkan pesta perkenalan untuk anak semata wayangnya.

Pada hari itu juga Junho bertanya-tanya kepada Yurika. Junho ingin mengetahui lebih jauh tentang anaknya. Yurika tampak bisa menerima Junho sebagai appanya.Appanya jauh lebih baik dari apa yang ia pikirkan.

*******

Malamnya, Yurika menceritakan tentang pebicaraannya dengan appanya. Dan ia mengakui bahwa Junho itu baik seperti yang dikatakan Nichkhun.

*******

Malam keesokan harinya. Yurika menggenakan gaun merah marron pemberian appanya untuk pesta.

”Kau tampak cantik seperti ibumu, anakku.” ujar Junho.

Yurika tersenyum kepada appanya lalu berkata,

”Arigato gozaimasu, papa.”

Junho tersenyum.

”Sudah, ayo kita keluar. Para tamu sudah menunggumu.” ujar Junho.

Kemudian mereka pergi menujuh ballroom. Di ballroom semua mata menujuh ke arah Yurika.

”Papa, apakah ada yang salah dengan dandananku?” tanya Yurika.

”Tidak anakku. Kau sungguh sempurnah. Mereka memandangmu karena kagum dengan keanggunanmu.” jawab Junho.

Yurika tersipu malu.

”Ah papa bisa saja.”

*******

”Nichkhun, kau disana?” sahut suara dari headphone Nichkhun.

”Ya, aku di sini. Ada apa Wooyoung?” tanya Nichkhun kepada Wooyoung melalui headphone yang terpasang di telinga kanannya.

”Ada kabar buruk.” sahut suara di sebrang sana.

”Apa?” Nichkhun mengerutkan dahinya.

”Yakuza mengetahui keberadaan Yurika. Koran pagi ini yang memberitahukannya.”

Deg, jantung Nichkhun terasa sakit. Ia merasa akan terjadi hal yang buruk malam itu juga.

”Dari mana kau tahu?” tanya Nichkhun.

”Adikku Jungshin. Kau tahu sendiri ia mengerti bahasa Jepang. Ia tidak sengaja mendengar pembicaraan dua orang Jepang berwajah sangar. Mereka mengatakan akan melakukan hal buruk kepada Yurika. Dan aku yakin mereka pasti Yakuza, kau berpikiran sama bukan?” jelas Wooyoung.

”Ya, aku pikir mereka Yakuza seperti dugaanmu.” sahut Nichkhun. Dadanya semakin sesak.

”Aku dan pengawal yang lain akan berjaga di luar hotel. Jumlah kami cukup untuk menjaga di luar. Kau jaga di dalam ya dengan staf-staf lain yang bisa melindungi Yurika.” pintah Wooyoung.

Nichkhun pun langsung menemui staf-staf lainnya dan menceritakan semuanya. Lalu Nichkhun masuk ke dalam ballroom. Ia beruasaha bersikap tenang.

”Nichkhun, kau dari mana saja?” sapa Yurika tiba-tiba.

Nichkhun membalikkan tubuhnya ke arah Yurika.

”Aku dari ruang operator. Biasa kerja.” ujar Nichkhun bersikap tenang.

”Kenapa kau berkeringat? Disinikan dingin?” tanya Yurika melihat Nichkhun berkeringat. Kemudian ia mengambil sapu tangan dari tas kecilnya kemudian mengusap keringat Nichkhun lembut.

”Kau tahukan hari ini bukan hari biasa. Hari ini banyak para tamu yang datang untuk pestamu. Jadi aku harus mondar mandir untuk memeriksa apa semuabya baik-baik saja.” sahut Nichkhun beralasan.

”Aku tidak mengerti dengan tugasmu di hotel ini. Aku akan menyuruh papa meringankan bebanmu. Mungkin menaikkan pangkatmu.” ujar Yurika masih mengusap keringat Nichkhun di wajah Nichkhun.

Nichkhun meraih tangan Yurika dan menurunkannya.

”Kau tak perlu repot melakukan itu semua. Aku cukup senang dengan tugasku ini.” kata Nichkhun serius.

Yurika menatap mata Nichkhun, ia mendapati Nichkhun tidak memamdangnya.

”Nichkhun, pandang aku!” sahut Yurika.

”Pandang mataku!” bentak Yurika.

Nichkhun hanya menatap lurus ia tidak menatap wajah Yurika karena Yurika lebih pendek darinya.

”Kau sembunyikan apa dariku?” tanya Yurika.

Nichkhun berjalan ke arah meja berisikan makanan. Ia meraih kentang dan memakannya. Sementara Yurika mengikutinya.

”Acaranya dimulai dari tadi ya?” kata Nichkhun tidak menghiraukan.

”Nichkhun kau dengar aku tidak?”

Nichkhun mengangguk. Ia tersenyum dan berkata,

”Tidak ada yang kau cemaskan, I will always protect you.”

Yurika tersenyum kemudian memeluk Nichkhun.

”Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku lagi.” kata Yurika.

Nichkhun melingkarkan tangannya ke tubuh Yurika.

”Akan ku usahakan.” jawab Nichkhun singkat.

”Berjanjilah kau akan mencintaiku selalu.” kata Yurika lagi di dada Nichkhun.

”I promaise, I will always love you.” ujar Nichkhun kemudian mengecup kening Yurika.

Kemudian seseorang berdeham. Nichkhun dan Yurika saling melepaskan pelukan. Dan menjadi salah tingkah. Lebih-lebih orang yang berdeham itu Junho. Ia tersenyum.

”Apa kalian sudah baikan?” tanya Junho.

Pipi Yurika bersemu merah.

”Apa maksud papa?” sahut Yurika.

Junho tertawa.

”Sudah, jangan malu-malu. Kalian kembali berpacaran lagi bukan?” ujar Junho.

”Tidak seperti tuan. Kami hanya… hanya…” kata Nichkhun beralasan.

”Teman?” potong Junho.

”Teman tapi mesra?” lanjut Junho kemudian tertawa.

Nichkhun dan Yurika salah tingkah. Mereka memalingkan wajah ke arah lain.

Tiba-tiba lampu menjadi padam. Semua orang dalam ballroom berteriak.

”Yurika kau tidak apa-apa?” tanya Nichkhun dalam kegelapan.

Tapi Yurika tidak memberi respon.

”Yurika kau disana?” ujar Junho.

”Yurika.” Panggil Nichkhun.

”Yurika.” panggil Junho.

Mereka memanggil Yurika bersahut-sahutan.

Kemudian lampu menyala.

Mereka mendapati Yurika tidak ada ditempat. Nichkhun mulai gusar. Ia mencari-cari Yurika dalam ballroom kemudian berkata,

”Wooyoung, Wooyoung kau disana?”

”Ya ada apa?” balas suara di ujung sana.

”Yurika. Yurika menghilang. Aku sudah mencari-carinya di ballroom, tapi tak ku temukan.” ujar Nichkhun tersengah-sengah.

”Ba…”

”Saat lampu padam barusan, dia tiba-tiba menghilang.” potong Nichkhun.

”Baiklah, kami akan mencarinya.”

”Jangan semua. Beberapa dari kalian saja bantu aku mencarinya. Biar yang lain menjaga di luar, mungkin saja dia ada di luar.”

Lalu Nichkhun memutuskan pembicaraan dan mulai mencari ke luar ruangan. Saat hendak membuka pintu ballroom, tiba-tiba saja terjadi keribuatan. Nichkhun memandang ke arah keributan itu. Ia mendapati orang bertopeng dengan pakaian serba hitam sedang menyodorkan pisau belati ke leher Yurika.

”Hei, apa yang kau lakukan dengan anakku?” triak Junho.

Nichkhun mendekati keributan itu. Setelah dekat ia mengatakan,

”Taecyon apa yang kau lakukan?”

Sontak orang-orang terkejut termasuk Junsu.

”Taecyon?” ujar Junsu.

‘Aku sudah mengatakan untuk menyuruh orang lain saja melakukannya mengapa dia melakukan itu semua?’ batin Junsu.

Orang bertopeng itu tertawa.

”Nichkhun, Nichkhun ternyata kau mengenaliku.” ujar Taecyon.

”Reto-kun.” triak Taecyon.

Kemudian orang berpakaian hitam dengan wajah sangar muncul mendekati Taecyon. Lalu Taecyon menyerahkan Yurika kepada orang bernama Reto itu.

Lalu Taecyon membuka topengnya.

Semua orang terkejut termasuk Nichkhun. Nichkhun tidak mengira Taecyon yang memiliki wajah yang hangat sekarang tampak menyeramkan. Ia menggunakan lensa kontak merah dan di pipi kanannya terdapat bekas luka.

”Bagaimana kau bisa mengenaliku, Nichkhun?” ujar Taecyon lembut dan senyum sinisnya.

”Saat pertama ku lihat aku sendiri tidak yakin. Tapi saat ku lihat dari dekat aku yakin. Pakaian itu adalah seragam milikmu, terlebih lagi cara berpakaianmu itu mudah dikenali.” Nichkhun menunjuk lengan kemeja Taecyon.

Taecyon mengangkat tangannya dan melihat lengan kemajanya yang berkemiti kecil berwarna emas.

Taecyon tersenyum sinis. Ia tidak mengira Nichkhun sejeli itu.

Kemudaian beberapa orang berpakain serba hitam masuk ke dalam ballroom. Orang berwajah sangar itu bukan orang lokal. Semua orang yang ada di dalam ballroom mulai resah. Mereka ketakutan.

”Yakuza.” ujar Nichkhun.

”Bagaimana bisa mereka masuk?” tanya Junho yang berada di samping Nichkhun

”Taecyon.” ujar Nichkhun singkat.

”Apa? Aku tidak mengerti maksudmu?” tanya Junho.

Taecyon tertawa.

”Ya, ya ini semua karena aku. Aku mengatur semua ini bersama mereka. Tentu saja dengan bantuan appaku Manejer Junsu.”

Sontak beberapa orang terkejut dan mencari-cari orang yang bernama Junsu.

”Tidak. Aku tidak ikut campur.” bentak Junsu.

”Tidak ikut campur ya? Kau sendiri yang merencakan ini semua dan aku hanya mengaturnya. Kau menjadi penulisnya dan aku menjadi sutradara sekaligus aktor.” ujar Junsu berlagak.

”Tapi” lanjutnya kemudian berjalan mendekati appanya.

”Aku tak suka menjadi aktor dalam naskahmu. Aku tidak suka kau mengaturku menyuruhku ini dan itu. Maka dari itu, aku ubah sekenario yang kau buat.”

Lalu Taecyon menusukan pisau tepat di perut appanya. Beberapa orang berteriak. Darah bercucuran dari tubuh Junsu, ia tersungkur dan berkata,

”Kenapa kau melakukan ini anakku?”

”Karena aku tidak menyukaimu.” jawab Taecyon keji.

Nichkhun tertegun melihat Taecyon seperti itu. Ia mendekati Taecyon tapi ia sudah dihadang pria bertubuh kekar. Pria itu melawannya, dengan sigap Nichkhun menghindari. Ia balas melawan pria itu yang merupakan anggota Yakuza. Dalam beberapa kali pukulan, Nichkhun dapat melumpuhkan Yakuza itu. Lalu ia mendekati Taecyon dan menghantam pipi kiri Taecyon sehingga Taecyon berdarah.

Taecyon nyengir.

”Lumayan sakit pukulanmu itu. Lakukan lagi dan kau akan kehilangan orang yang kau sayangi.” ujar Taecyon. Ia menghapus darah yang keluar dari hidungnya akibat hantaman Nichkhun.

Nichkhun melirik Yurika yang disekap Yakuza. Ia mengepalkan kedua tangannya penuh kebencian. Kemudian Taecyon menghantam Nichkhun berulang kali. Nichkhun tidak melawan, ia takut Yurika terluka karena ia melawan Taecyon.

Setelah Nichkhun jatuh tersungkur dan berdarah-darah, Taecyon berkata,

”Ternyata kau sangat lemah.”

Nichkhun menatap Taecyon.

”Bagaimana jika kau ada dalam posisiku? Apakah kau sanggup melihat orang yang kau sayangi terluka? Apakah kau sanggup melihat orang yang kau sayangi menangis karena kau terluka? Bagaima Taecyon? Bagaimana?” ujar Nichkhun.

Tangan Taecyon gemetar.

Di lain pihak, Wooyoung berhasil masuk ballroom tanpa sepengetahuan Yakuza. Dari belakang ia merenggut Yurika dari tangan seorang Yakuza. Wooyoung memerintahkan bawahannya menghajar Yakuza lainnya dan beberapa lainnya membawa tamu-tamu keluar dari ballroom.

Melihat Yurika sudah terlepas, Nichkhun bangkit dan mulai menghajar Taecyon yang terdiam gemetar.

”Ayo, Taecyon, katakan padaku apakah kau masih berani melawan jika kau ada diposisiku tadi.” ujar Nichkhun.

Taecyon masih gemetaran.

”Kau takut bukan? Bahkan kau lebih takut dariku. Kau hanya orang yang pengecut. Jika kau tidak suka sebaiknya katakan tidak saja pada appamu.” lanjut Nichkhun dan memukul kembali Taecyon.

Setelah puas memukuli Taecyon, Nichkhun menghampiri Yurika. Ia tersenyum melihat Yurika yang baik-baik saja. Saat di tengah jalan Yurika berteriak,

”Nichkhun awas!!!” Yurika tampak gusar.

”Awas belakangmu!!!” triak Wooyoung.

Nichkhun memalingkan tubuhnya dan ia terlambat. Pisau belati sudah menembus perutnya.

”Taecyon, ku kira kau sahabat yang baik, selama ini kau sudah ku anggap saudara. Ternyata aku salah menilaimu, aku kecewa, kau hanya orang yang pengecut.” ujar Nichkhun lemah kemudian terjatuh dan matanya pun terpejam.

Yurika berlari menujuh ke Nichkhun bersama Wooyoung.

Taecyon menangis, ia meremas-remas kepalahnya. Ia tidak percaya telah membunuh dua orang yang selama ini ada di sisinya.

”Maafkan akau Nichkhun, memang aku tak pantas menjadi sahabat maupun saudaramua. Aku hanya seorang yang pengecut.” isak Taecyon.

Kemudian ia mengambil pisau yang tadi ia tusukan ke tubuh Nichkhun, kemudian ia menusuk dirinya tepat di jantungnya.

*******

Sebulan kemudian…

Sesorang pria duduk di samping sebuah makam.

”Aku tidak menyangkah kau melakukan harakiri seperti itu Taecyon.” ujar pria itu terisak.

”Sudahlah Nichkhun, kau jangan cengeng seperti itu. Dia akan menangis disana jika kau menangisinya seperti ini.” sahut seorang gadis.

Nichkhun mendongak.

”Yurika, apakah aku salah mengatainya pengecut saat itu?” tanya Nichkhun.

Yurika menggeleng.

”Kau mengatakan hal yang benar. Kau tidak salah. Lagi pula ia mengakui bahwa ia adalah seorang yang pengecut saat itu.” jelas Yurika.

”Ayo kita pulang. Kau baru saja bangun dari koma, keadaanmupun sedikit lelah. Kau butuh istirahat.” lanjut Yurika.

Di tengah perjalanan Yurika berkata kepada Nichkhun.

”Nichkhun are you sure will always protect me?”

Nichkhun mengangguk.

”Baguslah jika begitu.” sahut Yurika.

”Kenapa?” tanya Nichkhun.

”Karena dengan kata lain kau setujuh menjadi suamiku yang akan selalu melindungiku. Papa sudah menetapakan tanggal pernikahan kita. Dia menyiapkan semuanya.” ujar Yurika.

Nichkhun menelen ludah. Yurika tersenyum. Nichkhun nyegir melihat aksen Yurika. Lalu ia mengecup dahi Yurika lembut.

Other Stories

Part 1 Taecyon Letter

Aku benci dan takut halilintar. Tapi aku tidak pernah mengataknnya kepadamu alasannya. Ku rasa ini saatnya aku menceitaknnya Nichk. Ini rahasia kita, jangan katakan kepada siapa-siapa. Aku punya kenangan buruk soal halilintar. Waktu kecil appaku selalu marah-marah. Suatu hari ia sangat marah, hari itu penuh dengan suara halilintar. Pekikannya sangat tajam seperti kerasanya suara halilintar. Ia marah dengan eommaku. Eomma yang aku sayangi. Sejak hari itu aku takut dengan halilintar. Aku tidak saja mendengar appaku marah bersamaan dengan suar halilintar tapi aku menyaksikan juga appa melakukan kekerasan kepada eommaku. Halilintar membunuh eommaku. Halilintar itu mampu membunuh eommaku. Halilintar itu appaku Nichk. Aku sungguh takut. Darah berceran di mana-mana. Saat itu aku baru berusai 8 tahun. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku hanya bisa menjerit ketakutan sementara appaku tetap marah-marah dan tidak merasa bersalah atas apa yang ia lakukan. Ia kesal denganku yang menjerit ketakutan. Ia membawaku dan membuangku ke jalan. Saat itu hujan badai, aku kedinginan. Sesorang menolongku. Sebuah keluarga yang mengendari truck rongsokan. Suara truck itu lebih berisik dari pada suara halilintar. Mereka memili seorang anak perumpuan yang lebih muda dariku. Namnya Eunjo, dia sangat manis dan baik kepadaku.

Aku menyukai kelurga itu. Mereka mengirimku ke panti asuhan karena tidak dapat menampungku. Aku dapat memaklumi itu. Aku sungguh berterimah kasih kepada mereka karena telah menolongku. Di sana aku bertemu denganmu. Bocah dengan sejuta senyuman. Kau seperti maliakat bagiku. Selalu ada menemaniku.

Nah Nichkhun, aku ingin kau melakukan satu hal untukku. Bisakah kau memastikan Eunjo bahagia? Bisakah kau menjaganya? Aku tidak ingin dia terluka. Carikan seseorang yang tepat untuk berada di sisinya. Dan Terima Kasih saudaraku.

Maafkan kesalahanku selama ini. Aku melakukan ini demi ketakutanku. Aku tidak ingin hidup dalam ketakutan. Caranya untuk lepas hanya ada dua cara. Membunuh orang yang membuatmu ketakutan atau mati.

Part 2 Penantian Wooyoung

“Kau mau kemana?” tanya Nichk.

“Acara penjodohan orang tuaku.” jawab Wooyoung.

“Jadi kau belum menemukan orang yang tepat?” cletuk Nichk.

“Belum. Jika pilihannya memang cantik-cantik tapi ya begitu, ada yang suka ikut campur urusankulah, matrelah, manja, bahkan ada yang sadis.” Ucap Wooyoung.

Nichk tertawa.

“Semoga gadis yang ini cocok denganmu.” Ucap Nichkhun lalu pergi meninggalkan Wooyoung.

“Ya semoga saja.”

Wooyoung duduk menanti gadis pilihan orang tuanya. Sudah satu jam ia menanti tapi gadis itu tidak kunjung tiba. Ia sudah bosan. Ia tidak suka dengan gadis yang tidak tepat waktu. Ia keluar dari café dan tak sengaja ia menabrak seorang gadis.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Wooyoung mengulurkan tangannya kepada gadis yang ia tabrak tadi.

“Tidak apa-apa aku hanya tidak terbiasa.” Ucap gadis itu.

“Kau habis kecelakaan?” tanya Wooyoung melihat kaki gadis itu berbalut perban yang masih baru.

“Iya. Aku menolong anak kecil tadi tapi aku terluka. Ya tidak apa-apa yang penting anak kecil itu selamat tidak terluka sama sekali.” Ucap gadis itu lalu mencari sesorang di dalam café.

“Kau mencari siapa di dalam café?” tanya Wooyoung.

“Aku mencari pria kenalan teman mantan pacarku.” Cletuk gadis itu.

“Mantan pacarmu? Teman? Kenalan?” cletuk Wooyoung.

“Pacarku memutuskan hubungan melalui temannya. Temannya menyuruhku menemui kenalannya ini untuk mengetahui kenapa ia memutuskanku.” Ucap gadis itu.

“Kalo boleh tahu siapa nama orang yang kau temui itu?” tanya Wooyoung.

“Ehm aku lupa marganya siapa, kalo gak salah namanya Wooyoung.” Ucap gadis itu.

“Kau yang bernama Eunjo?”

Gadis itu mengangguk.

“Bagaimana bisa kau tahu namaku?” tanya Eunjo.

Wooyoung menelan ludah.

“Nichkhun, jadi kau biang keladinya.” Cletuk Wooyoung pelan.

“Kau bicara apa barusan?” tanya Eunjo.

“Tidak apa-apa. Oh ya akulah orang yang kau cari aku Wooyoung.” Ucap Wooyong.

‘Mantan pacar gadis ini teman Nichkhun. Jangan-jangan dia mantan pacar… sepertinya aku mulai mengerti keadaan ini.’ Batin Wooyoung.

Tamat

Jangan lupa komentarnya reader ^^

Klo bias komentar menggunakan URL twitter or Koprol

I Will Always Protect You (1st chapter)

Standar

Cast: Junsu, Nichkhun, Taecyeon, Junho, Wooyoung, Chansung

Genre: Action, Romantic, Family, Friendship

PG: 15

I Will Always Protect You 1st chapter

Angin bertiup kencang, suara guntur menderuh keras.

”Pak manejer, apakah kita harus berangkat saat ini juga?” tanya salah seoarang pemuda berkacamata.

”Ya, kita tidak ada waktu lagi. Mereka orang yang penting. Jangan biarkan mereka menunggu.” jawab bapak separuh baya.

”Tapi sepertinya akan terjadi badai besar.” keluh pemuda berkacamata itu.

”Taecyon, kau tahukan. Ini tugas, apa kau bukan lagi pegawai di tempat ini lagi?” sahut salah seorang pemuda satu lagi.

”Benar yang dikatakan Nichkhun. Ini tugas, jika kau tidak mau lagi menjalankan tugas, kau bukan lagi pegawai di tempat ini.”

Taecyon terdiam. Ia masuk ke dalam van, disusul dengan Nichkhun dan manejernya.

Di tengah jalan hujan deras turun. Jarak pandang tidak lebih dari lima meter.

”Pak, dimana tepatnya mereka berada sekarang?” tanya Nichkhun.

”Di pertokoan Rich Palace.” jawab sang manejer.

”Mengapa mereka menunggu di sana yach?” Taecyon yang dari tadi diampun bicara.

”Ah, kenapa kau bersemangat sekarang?” tanya Nichkhun antusias melihat temannya mulai bicara.

”Aku senang, setidaknya aku dapat ke Rich Palace.” jawab Taecyon kemudian tersenyum.

”Memangnya kau tidak pernah ke sana?”

”Tidak.”

”Hah? Kenapa?”

”Salah seorang melarangku ke tempat itu.”

”Lalu mengapa kau senang ke pertokoan itu?”

”Itu karena…”

”Kekasihnya bekerja di sana.” Sahut pak manejer.

”Apa? Kau sudah punya kekasih? Kenapa kau tidak pernah cerita padaku?”

”Karena, salah seorang melarangku menceritakannya?”

”Siapa yang melarangmu?”

”Sudahlah. Kita ini sedang dalam tugas. Jika ingin berbincang-bincang lagi silahkan setelah tugas ini selesai.” seru pak manejer emosi.

Taecyon dan Nichkhun terdiam.

Nichkhun melihat pak manejer yang duduk di belakangnya melalui kaca spion tengah mobil. Melihat pak manejer yang tidak senang mendengar bawahannya membicarakan hal pribadi saat bertugas, Nichkhun mencoba membicarakan hal yang lain.

”Pak, apa bapak tahu jawaban pertanyaan Taecyon tadi?”

”Soal mengapa mereka memilih pertokoan Rich Palace?”

”Ya.” jawab Nichkhun singkat.

”Karena di sana sangat ramai dan terdapat pos polisi.” jawab pak manejer.

”Tapi, bisa saja Yuja mengintai mereka dari jauh.” sahut Taecyon.

”Yakuza, Taecyon bukan Yuja.” Timpal Nichkhun.

”Ya, Yakuza maksudku.”

”Kurasa tidak mungkin. Mereka mengatakn saat berada di bundaran pusat kota, Yakuza menghilang. Mungkin karena Yakuza melihat banyak polisi. Sedang melakukan operasi.” Jelas pak manejer.

”Jika sudah tahu mereka dikejar-kejar gengster seperti itu mengapa mereka tidak meminta pengawalan saja?” tanya Taecyon.

”Mereka tidak mengira Yakuza akan mengikutinya sampai sejauh ini jadi mereka belum mengurus surat untuk pengawalan.” jelas Nichkhun.

Taecyon mengangguk mengerti.

”Mungkin besok aku membantu mereka mengurus surat pengawalan.” tambah Nichkhun.

Halilintar menyambar tepat lima puluh meter dari kendaraan yang mereka tumpangi. Taecyon menjerit ketakutan. Tangannya gemetar. Melihat hal itu Nichkhun bertanya.

”Kau kenapa?”

Tidak ada jawaban dari Taecyon.

Pak manejer tampak khawatir.

”Pak, apa bapak tahu ada apa dengan Taecyon?” tanya Nichkhun sambil menatap ke depan mengemudikan kendaraan.

”Entahlah, ia seperti itu jika mendengar suara guntur yang begitu keras.”

Nichkhun tampak khawatir. Disentuhnya pundak Taecyon dengan tangan kirinya.

”Kau tidak apa-apa?” tanya Nichkhun ketika Taecyon menegok kepadanya.

”A.. Aku… Aku ti…dak a…pa-apa. A…ku ha…nya pu…nya kenangan buruk dengan halilintar.” jawab Taecyon tersendat-sendat.

Nichkhun ingin bertanya lebih lanjut, tapi ia takut pak manejer memarahinya.

”Kita sudah sampai.” kata Nichkhun lemah.

”Baik, aku dan kau menjemput mereka. Sedangkan kau Taecyon, kau tunggu di mobil sampai kami kembali.” sahut pak manejer.

Taecyon menghembuskan nafas panjang. Sementara pak manejer dan Nichkhun keluar dari kendaraan dan menghilang dari pandangannya.

*******

”Itu mereka.” seru pak menejer.

Nichkhun memastikan orang yang dimaksud pak manejer, ketika matanya menangkap sesosok orang, langkahnya terhenti. Ia memandangi orang itu wajahnya mendadak berubah. Ia terkejut. Kemudian ia melangkah menyusul pak menejer yang ada di depannya.

”Anda pasti manejer Junsu.” sahut bapak separuh baya.

”Benar pak Chansung.” jawab pak manejer. kemudian ia menatap gadis yang berada disamping pak Chansung. ”Dia..”

”Dia Yurika.” potong pak Chansung.

Pak manjer mengangguk.

”Nichkhun, kau bawakan barang mereka.” perintah pak manejer.

Mendengar itu, Yurika menatap orang yang bernama Nichkhun hingga Nichkhun menatapnya ia mendecakkan lidah.

”Yurika kau tidak apa-apa?” tanya pak Chansung yang mendegar Yurika mendecakkan lidah.

”Tidak apa-apa. Aku hanya ingat seseorang.” jawab Yurika.

Nichkhun membawa koper dan barang belanjaan Yurika dari Rich Palace. Nichkhun tertawa kecil. Melihat hal itu Yurika nyengir.

********

Taecyon mulai resah, ia sangat benci dengan suara guntur yang menderuh-deruh. Ia ingin keluar dan masuk ke dalam salah satu Rich Palace, ke tempat kekasihnya bekerja. Tapi ia takut. Ia takut pak manejer memarahinya.

Ia mengambil ponselnya dan menulis sebuah pesan. Kemudian ia mengirimkannya ke kontak yang bernama Eunjo Kekasihku. Ia memandangi layar ponselnya sampai muncul pemberitahuan bahwa pesannya terkirim.

Lalu ia terkejut saat pak manejer tiba-tiba saja membuka pintu di sampingnya.

”Taecyon, kau bawah barang-barang yang ada di Nichkhun ke hotel naik taksi.” perintah pak manejer.

”Kenapa harus aku?” tanya Taecyon.

”Itu gunanya aku mengajakmu. Kami tidak akan ke hotel langsung. Kami akan ke rumah sakit menemui pak Junho.”

”Tunggu dulu. Kenapa tidak Nichkhun saja? Lalu apakah pak Junho sakit sekarang?”

”Kau tidak bisa menyetir bukan? Jadi lebih baik kau mengatarkan barangnya ke hotel naik taksi. Di taksi kau bisa menyuruh sopirnya menyalakan musik sekeras-kerasnya hingga kau tidak bisa mendegar gemuruh guntur lagi. Lalu soal pak Junho, beliau tidak sakit. Akan ku jelaskan jika ada waktu. Sekarang cepat laksanakan tugasmu. Setelah selesai kau boleh istirahat.”

Taecyon keluar dari kendaraan dan mengambil barang yang ada di kedua tangam Nichkhun kemudian memasukkannya ke dalam taksi yang sudah di pesan oleh pak manejer.

”Istirahatlah setelah tiba.” sahut Nichkhun.

Taecyon tersenyum lalu mengangguk. Kemudian ia masuk kedalam taksi. Ia melihat arlojinya.jam menujukan pukul sebelas lewat lima menit. Ia menghembuskan nafas panjang lagi. Ia hendak menyuruh sopirnya untuk menyalakan musik sekencang-kencangnya. Tapi supir itu seperti bisa membaca apa yang dipirkannya. Tanpa diperintah supir itu melakukannya. Sepertinya supir itu sudah dapat penjelasan dari pak manejer.

Sementara itu, Nichkhun, pak manejer, pak Chansung dan Yurika melaju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit pak manejer menunyuruh Nichkhun menunggu di mobil. Sementara mereka bertiga masuk ke dalam rumah sakit.

*******

Keesokan harinya Nichkhun duduk di taman hotel sambil menikmati kopi panasnya.

”Tidak berubah.” sahut suara dari belakangnya.

Ia memalingkan tubuhnya ke belakang.

Nichkhun terdiam.

”Kau seperti melihat hantu saja.”

”Yurika, kenapa kau kemari?”

”Lho, memangnya tidak boleh? Inikan masih milik hotel bukan?” tanya Yurika kemudian ia duduk di samping Nichkhun.

”Bukan begitu. Maksudku, kenapa kau menemuiku?”

”Apa tidak boleh aku mengunjungi mantan pacarku?” ada sedikit penekanan dalam perkataan Yurika saat mengatakan mantan pacarku.

”Kau tidak marah denganku?”

”Marah? Marah karena kau meninggalkanku?”

Nichkhun terdiam. Ia memandangi gelas kopinya.

Yurika tertunduk.

”Sudah tiga tahun kita tidak bertemu, apakah kau sudah memilik kekasih Nichkhun?” tanya Yurika memecahkan keheningan.

”Tidak, aku tidak ada waktu untuk menjalin hubungan seperti itu. Kau sendiri?”

”Sejak aku memutuskan hubungan dengan sesorang yang ku sayangi tiga tahun yang lalu. Aku tidak menjalin hubungan lagi. Aku jenuh, aku tidak mau sakit lagi.”

Nichkhun menundukkan wajahnya. Ia tampak muram. Ia merasa bersalah meninggalkan Yurika tiga tahun yang lalu tanpa sebab hingga Yurika memutuskan untuk putus hubungan dengannya.

Yurika menatap Nichkhun kemudian ia menyambar kopi Nichkhun dari tangan Nichkhun. Ia menuguk kopi itu perlahan-lahan.

”Kopi kental tanpa gula, seharusnya rasanya pahit. Tapi aku tidak merasakan seperti itu.” kata Yurika setelah meneguk habis kopi Nichkhun.

Nichkhun menatap Yurika, kemudian Yurika tersenyum kepadanya.

”Disaat seperti ini kau masih bisa tersenyum rupanya.”

”Bukankah karena hal ini kau menyukaiku?”

Nichkhun tersenyum.

”Lalu bagaimana bisa kau dikejar-kejar Yakuza?”

”Oh itu yach. Sebenarnya aku selalu menghindar jika bertemu dengan Yakuza meski aku tidak ada masalah. Tapi malam itu aku sangat emosi. Teman-temanku meninggakanku saat di Shibuya. Entah sengaja apa tidak. Mereka sering begitu.”

”Temanmu? Maksudmu Mika, Kimino dan Sichiko?”

”Ya. Maka dari itu aku memutuskan untuk ke Osaka menemui nenekku. Tiba di Osaka aku berjalan ke rumah nenek. Aku masih kesal karena ulah mereka. Saat aku melihat kaleng kosong, aku menendangnya. Tak ku sangka mengenai kepalah orang. Orang itu marah. Aku menjadi sangat kesal. Aku tidak senang orang menyentakku. Terlebih lagi orang itu dalam keadaan mabuk. Langsung saja aku memukul kepalahnya dengan tasku. Kemudian ia mau memcekikku. Reflek aku menggigit tangannya kemudian aku menendangnya dengan sepatu bootsku. Tak ku sangka tendanganku mengenai daerah sensitifnya. Ia pun menggeram kesakitan. Kemudian aku memukul kepalahnya lagi dengan botol minuman keras yang dibawahnya lalu lari begitu saja. Aku baru tahu jika orang itu adalah Yakuza setelah aku memutuskan kembali ke Tokyo pada malam hari sekitar pukul delapan waktu Jepang. Orang itu bersama kawanannya menghadangku dan mengatakan bahwa mereka adalah Yakuza. Jalanan yang sama dan tetap sepi. Aku mengira aku akan berakhir di tempat itu. Tapi ternyata tidak, pak Chansung datang menyelamatkanku. Ia menarikku masuk ke dalam mobilnya. Memang aku beruntung saat itu karena Yakuza yang menghadangku malam itu hanya tiga orang.

Setelah itu pak Chansung membatuku melaporkan ke polisi tentang kejadian itu. Dan beberapa hari kemudian Yakuza yang menghadangku itu tertangkap. Tapi bukannya lepas dari kejaran Yakuza, aku malah terikat. Anggota Yakuza lainnya bahkan pimpinannya tidak rela anggotanya masuk penjara seperti itu. Mereka mengejarku untuk cari perhitungan. Ku kira dengan ke Korea aku bisa lolos dari kejaran mereka. Ternyata tidak. Mereka segitunya mengejarku karena Yakuza yang kupukul itu merupakan adik dari pimpinan Yakuza.” cerita Yurika.

Nichkhun menghembuskan nafas panjang.

”Sudah ku katakan jangan mencari masalah meski sekecil apapun. Tahan emosimu. Dan lagi jangan pernah keluar malam apalagi sendiri. Kau tidak pernah menghiraukan hal itu ya?” bentak Nichkhun.

”Maaf. Saat itu pikiranku lagi kacau. Emosiku sudah tak terkendali. Kau tahu hal apa yang membuatku seperti ini?”

Nichkhun menggeleng.

”Ini karena…”

*******

Junsu mendengar pintu ruang kerjanya diketuk.

”Masuk.” katanya.

Sesosok pemuda berkacamata masuk ke dalam ruangan.

Junsu menatapnya.

”Pastikan tidak ada orang di luar kemudian kunci pintunya.” perintah Junsu dari tempat duduknya.

Pemuda itu membuka pintu kembali dan menengok ke kiri dan ke kanan. Lalu ia menutup pintu dan menguncinya.

”Ada apa bapak mencari saya?” tanya pemuda itu.

”Sudah ku katakan. Jika sedang berdua panggil saja aku appa.” sahut Junsu.

Pemuda itu mengangguk. Kemudian ia duduk di kursi kosong di depan Junsu.

”Taecyon, kau tahu. Pemilik hotel ini, pak Junho pernah menikahi wanita Jepang-Korea?”

”Ya, appa kenapa?”

”Tapi ia menceraikannya karena istrinya, Hino tidak dapat memberikannya keturunan. Sayangnya sebulan setelah penceraian saat Hino sudah berada di Jepang, ia menyadari sedang mengandung tiga bulan. Ia hendak memutuskan memberitahu pak Junho, tapi ibunya melarangnya. Eommanya terlanjur sakit hati. Mengapa ia menikahi anaknya kemudian menceraikan ananknya hanyak karena Hino tidak memberikannya keturunan. Eommanya sakit hati karena Junho menikahi Hino bukan karena cinta. Padahal tuan Junho sendiri tidak ingin menceraikan Hino. Itu karena perintah appanya.

Setelah bertahun-tahun mencari di Korea dan bertahun-tahun mencari di Jepang, akhirnya. Ia menemukan dimana Hino. Tapi sayangnya ia sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Tuan Junho tidak mengira Hino kembali ke Jepang. Karena Hino telah lama tinggal di Korea. Hino juga tidak pernah meceritakan tentang tempat tinggalnya di Jepang. Itu yang menyulitkan pencarian. Tuan Junho sangat menyesal tidak bertemu dengan Hino lagi dan meminta maaf atas kesalahannya saat itu. Tapi dilain pihak ia dikejutkan oleh seorang gadis yang bernama Yurika. Gadis yang kemarin kita jemput. Dia lahir beberapa bulan setelah tuan Junho bercerai dengan Hino.” cerita Junsu.

”Jadi gadis itu anak kandung tuan Junho?” Taecyon terkejut, tidak percaya bahwa orang yang selama ini dicap sebagai orang yang tidak bisa memiliki keturunan ternyata memiliki seorang anak.

”Mungkin. Kemarin tuan Junho dan Yurika melakukan tes DNA. Jika hasilnya cocok, berarti Yurika anak kandung tuan Junho sekaligus pewaris tunggal harta kekayaan tuan Junho.” Jelas Junsu dengan penekanan di akhir kalimat terakhirnya.

”Appa, rencana kita bisa jatuh berantakan. Kita bisa gagal untuk merebut harta kekayaan tuan Junho. Kita harus bagaimana appa?” Taecyon kebingungan. Ia meremas-remas rambutnya dengan kedua tangannya.

”Tenang anakku. Aku sudah mendapatkan jalan lain.” ujar Junsu tenang.

”Apa appa?” tanya Taecyon antusias.

”Kau harus menikahi Yurika.” jawab Junsu.

”Apa? Menikahi Yurika?” Taecyon seakan tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut appanya.

”Ya Taecyon. Kau harus merenggut hatinya, kemudian kau menikahinya. Dengan begitu aset-aset milik tuan Junho seperti hotel ini akan kau kuasahi menjadi milikmu.”

”Tapi appa aku sudah memiliki Eunjo.”

”Aku tidak pernah menyetujuhi hubungan kalian.”

”Tapi appa, bukankah kau telah mengijinkanku untuk berpacaran?” bentak Taecyon.

”Ya. Tapi aku tidak mengijinkanmu menjalin hubungan hingga ke jenjang pernikahan tanpa seizinku.” balas Junsu membentak Taecyon.

Taecyon tertunduk.

”Aku akan membantumu mendapatkan Yurika. Kau harus dapat merenggut hatinya. Untuk saat ini. Kau lakukan pendekatan saja seperti berteman dengannya hingga hasil DNA keluar. Jika Yurika benar-benar anak tuan Junho kau baru melakukan tugasmu.” tambah Junsu.

*******

Nichkhun tertegun, ia menatap Yurika dalam.

”Aku tak tahu harus bagaimana, kau tahu sendiri aku sudah terlanjur membenci appaku. Di hatiku tidak ada ruang lagi seperti dia. Aku tidak mungkin bisa menerimanya. Tidak akan bisa Nichkhun.” Lalu air mata Yurika jatuh membasahi ke dua pipinya.

”Aku tahu sejak ibumu meninggal kau membenci appamu karena cerita nenekmu. Tapi tuan Junho tidak seperti itu. Kau tahu, selama ini mungkin sejak kau lahir, beliau mencari-cari ibumu. Dia masih mencintainya. Tidak ada wanita yang bisa menggantikan ibumu di hatinya. Maka dari itu ia tidak menikah. Beliau pernah bertunangan tapi gagal ke jenjang pernikahan karena beliau masih merasa berat untuk menghilangkan kenangan ibumu di hatinya.” jelas Nichkhun.

Nichkhun meraih tangan Yurika, ia menggenggam erat tangan Yurika dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menghaspus air mata Yurika.

”Jangan menangis. Tuan Junho adalah sosok orang yang baik. Ia pasti sangat menyanyangimu seperti ibumu. Ia tidak akan pernah menyakitimu dan meninggalkanmu lagi.” tambah Nichkhun kemudian memeluk Yurika.

*******

”Mereka sangat dekat.” Ujar seorang yang berada di dekat jendela.

”Saya merasa mereka sudah saling kenal tuan Junho.” sahut salah seorang di belakangnya.

Junho memalingkan badan.

”Mengapa kau berkata seperti itu, Chansung?” tanya Junho.

”Ketika kami di Rich Palace, Yurika mendecakkan lidah saat bertemu dengan Nichkhun. Katanya ia teringat seseorang. Saat Nichkhun tertawa kecil, ia juga nyengir. Saat dalam perjalanan mereka sepertinya saling curi pandang.” ujar Chansung.

Junho tertawa kecil.

”Katakan padaku Chansung, dimanakah Yurika kuliah.”

”Di Unevresitas Tokyo.”

”Sudah ku duga.” Junho menatap keluar jendela. Ia melihat Nichkhun dan Yurika di taman.

”Ada apa tuan Junho?” tanya Chansung penasaran.

”Nichkhun adalah mantan pacar Yurika.” jawab Junho.

”Ba… Bagaiman tuan bisa tahu?”

”Nichkhun sering bercerita kepadaku lebih tepatnya aku yang memaksanya, tentang ya soal dirinya. Ia mengatakan padaku dia kuliah di Unevresitas Tokyo dengan Bea Siswa. Dia juga menceritakan tentang gadis yang memikat hatinya. Dia memang tidak memberitahu nama gadis itu tapi dia memberikan ibnisial. Selama ini tidak ada yang tahu jika Nichkhun menggunakan kalung yang memiliki liontin N & Y. N & Y merupakan ibnisial mereka. Jadi aku sangat yakin mereka dulu mantan pacar. Sudah terlihat jelas dengan kejadian ini. Sepertinya mereka masih mencintai.” ujar Junho kemudian tersenyum.

”Sepertinya tuan sangat senang.”

”Tentu. Aku yakin Yurika adalah anakku. Tanpa tes DNApun aku sudah tahu wajahnya sangat mirip dengan Hino. Tes itu hanya bukti kuat agar tidak ada desas desus atau gosip tentang keluargaku. Aku senang jika anakku dapat mencintai seseorang yang tepat.” jelas Junho kemudian memalingkan badan dan duduk di kursinya.

”Chansung, kau urus surat pengawalan. Dan suruh Nichkhun menemuiku sekarang juga.” Perintah Junho.

Chansung mengangguk kemudian pergi meninggalkan ruangan Junho.

*******

Nichkhun berjalan menujuh lobi hotel, ia mencari-cari sesorang. Kemudian dilihatnya sesosok orang yang murung. Wajahnya kusut seakan-akan hidupnya tidak lama lagi.

”Taecyon!” panggil Nichkhun.

Tapi orang yang bernama Taecyon tidak menghiraukan.

Nichkhun meyentuh pundak Taecyon dan berkata,

”Taecyon kau kenapa?”

Taecyon mendongak,

”Hah? Apa kau bilang?”

”Kau kenapa?” ulang Nichkhun.

”Ah tidak apa-apa hanya ada masalah kecil. Jika ada waktu aku akan menceritakan padamu. Sekarang aku tidak ada waktu untuk menceritakannya. Aku takut pak manejer marah pada kita.”

”Ehm, baiklah jika begitu. Ngomong-ngomong kau bisa ikut denganku tidak?”

”Hah, kemana?”

”Mengurus surat pengawalan untuk Yurika.” jawab Nichkhun.

Taecyon terdiam. Ia seperti tidak tertarik dengan ajakan Nichkhun.

”Maaf sepertinya aku tidak bisa. Aku ada tugas dari pak manejer. Kau sendiri bisakan mengurusnya.” kata Taecyon.

Nichkhun mengangguk sambil cemberut.

”Sudah jangan seperti anak kecil. Aku tinggal dulu ya. Sampai ketemu nanti.” ujar Taecyon kemudian meninggalkan Nichkhun.

Lalu seseorang memanggil Nichkhun.

”Nichkhun!”

Nichkhun mencari seseorang yang memanggilnya dan ia menemukan seseorang yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum.

To Be Continue….






Jangan lupa komennya ya~


Beri Komentaer sebagai Nama/URL Twitter *klo bias*


I need your comments~ ^^