Category Archives: Lucifer

Lucifer (Onew)

Standar

Annyeonghaseyo ^^

Akhirnya saya bisa posting FF Lucifer Onew version. Jeongmal mianhae telat. Ini gara2 PC admin rusak dan butuh waktu 4 bulan untuk kembali bekerja *bukan kembali seperti semula*

selamat membaca ^^

***

Cast: Onew

Rate: PG-R

Genre: Fantasy, Romance

onew shinee lee jinki

 

***

Seorang namja tertawa terbahak bahak di sebuah bar. Di sekitarnya ada beberapa yeoja yang tergeletak di lantai.

“Kau senang sekali menyebet jiwa-jiwa meraka dalam waktu beberapa menit.” Cletuk seorang namja.

Lalu namja itu berubah. Muncul tanduk dari kepalahnya dan ekor dari balik tubuhnya.
Read the rest of this entry

Lucifer (Taemin)

Standar

Annyeong ^^

Kali ini saya kembali lagi dengan FF Lucifer

Ini FF saya buat untuk teman saya Vuyu~ aka Firyal Fadhilah yang cinta mati ama Taemin ^^

Langsung saja ya

 

Cast: Taemin, Firyal Fadhilah as Shin Minbyul

R: PG

G: Fantasy, Romance

 

Need Your Comments, Please Comments This Fiction


fanfiction korea lucifer taemin

-LUCIFER-

 

*Minbyul POV*

 

Hari yang membosankan. Semuanya berjalan seperti biasa. Teman-temanku sudah hafal betul gerak-gerikku jadi mereka tidak dapat ku kerjai. Sekarang aku duduk sendiri menatap ke luar jendela. Langit begitu cerah tapi tidak secerah hatiku

“Minbyul!” kudengar seseorang memanggil namaku.

“SHIN MINBYUL! Kau dengar tidak?”

Kali ini aku menoleh. Seongsaengnim menatapku tajam. Sejak kapan dia tiba di kelas dan siapa namja yang ada di sampingnya.

“Dia akan duduk di sebelahmu, ku harap kau baik dengannya.” ucap seongsaengnim menatapku tajam.

Aku langsung sumringah. Yes! Ada korban baru.

“OK pak!” seruku.

Lalu namja itu berjalan mendekatiku. Aku sudah menyiapkan jebakan di bangkunya. Aku menumpahkan lem di bangku yang akan ia duduki.

“Annyeonghaseyo. Jaeirumun Lee Taemin imnida. Manasao bangabsumnida.” ucapnya ketika duduk di sampingku.

“Siapa namamu?” tanyanya mencari nametag di blazerku.

“Kau tak perlu tau siapa namaku.” ucapku ketus lalu membuang muka darinya.

Aku tersenyum ala devil karena ia sudah terjebak dalam jebakanku. Tinggal menunggu nanti~

 

Saat bel istirahat berbunyi aku melihatnya ia berdiri. Aku melongok. Bagaimana bisa? Aku sudah memberi lem di bangkunya. Di celananya tidak ada sisa bekas lem

 

*Taemin POV*

 

Ada yang aneh dengan yeoja yang duduk disebelahku. Ia memperhatikanku ketika aku bangkit dari kursi yang ku duduki. Apa ada yang salah denganku? Ekspresinya menunjukkan dia terheran-heran denganku.

Aku keluar kelas menujuh kantin. Beberapa chingu sekelasku bertanya kepadaku apa aku baik-baik saja. Aku jawab aku baik-baik saja. Lalu aku bertanya kenapa mereka menanyaiku seperti itu. Ternyata yeoja yang duduk disampingku adalah tukang iseng. Dia suka mengerjai anak apalagi anak baru sepertiku. Aku hanya tersenyum. Pasti dia terheran-heran karena tidak dapat menjailiku. Oh ya tadi seonsaengnim memanggilnya Minbyul. Shin Minbyul. Hm…. Apakah dia….

Sudahlah aku mau membeli sesuati di kantin.

Lalu aku kembali. Dia masih berada di bangkunya. Ia merebahkan kepalahnya di meja dan tertidur. Wajahnya menghadap ke jendela. Lalu aku melihat kursinya. Aku tersenyum. Ternyata ia tidak beranjak dari tempat duduknya karena lem. Pasti tadi ia, menaruh lem di bangkuku. Aku nyengir. Aku memandanginya tidur. Aku dapat melihat auranya. Itu bukan aura biasa. Sepertinya aku yakin akan siapa dirinya sebenarnya.

Lalu beberapa yeoja mendekatiku. Ia mengajakku menonton apalah dan apalah. Aku sudah biasa seperti ini. Aku berkata iya dan menyuruh mereka menungguku di tempat yang berbeda.

 

Saat bel pulang sekolah berbunyi aku beranjak. Aku membiarkan teman sebangkuku tidur. Aku heran dengannya, bukankah tadi dia sudah tidur saat istirahat? Lalu kenapa ia tidur lagi saat jam terakhir dan kini ia tidak bangun.

Aku siap-siap menghadapi satu demi satu yeoja yang menungguku. Aku tidak menuruti perkataan mereka. Tapi merekalah yang harus menuruti perkataanku. Dengan sekali senyuman ia tidak dapat berkutik. Mereka akan selalu mendengar perkataanku dan menuruti perkataanku. Aku memperbudak mereka untuk melakukan kekacauan di suatu tempat-tempat tertentu.

Setelah selesai dengan tugaku aku kembali ke kelas. Firasatku yeoja itu masih tertidur di kelas. Dan…. Dugaanku salah. Yeoja itu sudah bangun tapi ia kesusahan untuk berdiri. Lalu aku datang mendekatinya. Ia memandangku heran.

“Kenapa kau belum pulang?” tanyanye ketus.

“Kau sendiri saja belum pulang.” sahutku.

Lalu memutar bangkunya ke belakang kelas. Ia bertanya-tanya kepadaku dan melarangku dekat dengannya tapi aku tidak menghiraukan. Kemudian aku meraih ke dua tangannya dan menariknya. Ia terhempas kepelukanku bersamaan dengan suara~

KRAAAKKK~

Sepertinya ada yang sobek dan aku tahu itu.

“Astaga~” ucapnya mendongak menatap wajahku.

“Jangan lihat! Tutup matamu!” sentaknya.

Aku menutup mataku sembari melepaskan blazer milikku.

“Kenakan ini untuk menutupi rokmu yang sobek.” ucapku menyodorkan blazer milikku.

Ia menerimanya. Lalu semenit kemudian aku membuka mataku.

“Eits~ jangan buka matamu. Hitung hingga 100 baru buka matamu.” sahutnya lantang.

Firasatku tidak enak. Aku menurutinya. Setelah berhitung aku membuka mataku. Dia sudah menghilang. Aku melangkah. Aku hampir terjatuh karena tali sepatuku terikat satu dengan yang lain. Sepertinya ia mengikat tali sepatu kiri dan kanan saat aku berhitung tadi. Tapi usahanya gagal. Aku tersenyum ala Lucifer dan seketika itu ikatan tali sepatuku kembali seperti semula. Aku berjalan keluar ruangan mengejarnya. Aku tahu dia masih berada di sekolah.

 

 

*Minbyul POV*

 

Semoga saja dia terjatuh dan tidak mengejarku. Aku cepat-cepat menuruni tangga. Saat menuruni anak tangga terakhir aku terjatuh. Sial! Mungkin karena aku tergesah-gesah. Aku berusaha beranjak tapi tidak bisa. Rasanya sakit sekali. Kakiku benar-benar terkilir.

Aku mencari pegangan merabah-rabah tembok dan mulai melangkah dengan terpincang-pincang. Saat keluar gedung aku kembali jatuh. Kali ini lututku menjadi korban. Aku merintih kesakitan mengutuk diriku yang sungguh sial hari ini. Sekarang rasanya sulit untukku berdiri.

Lalu seseorang berjongkok di hadapanku. Ia membelakangiku, menunjukkan punggungnya.

“Naiklah, aku akan mengantarmu pulang.” ucapnya.

Aku ragu. Mungkin saja dia bermaksud jahat kepadaku.

“Aku tidak akan melukaimu. Tenanglah.” ucapnya.

Aku menelan ludahku. Lalu naik ke punggungnya. Ia memegangi kedua kakiku lalu berdiri. Ia berjalan perlahan. Kami terdiam.

“Di mana rumahmu?” tanyanya memecahkan keheningan.

Aku terdiam. Lalu terbesit di otak untuk mengerjainya. Aku akan membuatnya kelelahan karena menggendongku kesana kemari.

Aku menjelaskan di mana rumahku dengan berputar putar. Tapi tidak berhasil. Dia tetap bugar. Mala aku yang lelah seakan posisiku seperti dirinya. Aku menyandarkan kepalahku di bahunya kemudia aku melinkarkan tanganku di lehernya.

“Waeyo?” tanyanya heran melihat sikapku.

“Aku lelah. Lebih baik kita naik bus atau kereta bawah tanah.” ucapku pelan.

Aku memejamkan mataku. Entah kenapa aku merasa lelah. Aku selalu melemah jika ada di dekatnya. Seakan-akan dia menyerap semua energiku.

Aku merasa tubuhku di hempaskan ke bangku. Entah kenapa aku merasa berada di suatu tempat yang gelap dan hanya ada aku dan dia. Tempat ini benar gelap.

Ku dengar ia bercakap-cakap dengan yeoja. Aku tidak dapat mendengar jelas apa yang ia katakan. Aku merasa panas. Tubuhku berkeringat. Aku dapat merasakan dia mengenggam tanganku. Akupun membuka mataku. Aku menatapnya. Dia tersenyum padaku. Tidak ada yang salah padanya. Tapi aku merasa takut. Saat bus yang aku tumpangi ini berhenti, aku buru-buruk keluar dan berlari darinya. Dengan terpincang-pincang aku menujuh ke keramaian. Bersembunyi di balik keramaian. Ku harap dia kehilangan jejakku.

Aku melihat sekelilingku. Hari sudah malam dan aku tak tahu aku berada dimana. Ada rasa takut. Entah dari mana asalnya. Mungkin karena dia. Ya, namja bernama Taemin itu memiliki senyuman yang tidak biasa. Siapa yang melihatnya langsung luluh. Tapi tidak untuk aku. Aku merasa ia menyedot energi. Membalikkan apa yang ku lakukan kepadanya ke diriku sendiri. Dia selalu berbicara dengan yeoja dengan nada pelan.

Aku punya firasat tentangnya. Firasat yang buruk. Aku menduga dia seorang Lucifer. Mungkin aku gila jika menyimpulkan Taemin seperti itu. Lucifer hanya sebuah legenda yang ku dengar dari orang tuaku. Tugas Lucifer bermacam-macam. Ada yang mencuri jiwa, berbuhat jahat, pokoknya mereka bekerja mengendalikan jiwa orang lain, membuat orang lain sengsara.

Dulu orang tuaku mengataiku sebagai Lucifer. Aku sangat kesal. Setelah mengalami kecelakaan, mereka berhenti mengataiku. Hingga kini aku tidak ingat peristiwa itu.

Ya Tuhan aku belum menemukan jalan pulang. Rasanya aku ingin menangis tapi kenapa air mata ini tidak keluar juga. Aku terduduk di jalan setapak. Tempat ini sungguh gelap. Tidak ada orang yang berlalu-lalang. Suasana sunyi senyap. Yang terdengar hanya suara angin dan ranting-ranting yang bergesekkan.

Lalu terdengar suara berat. Aku menelan ludahku. Sepertinya mimpi burukku segera dimulai.

 

 

*Taemin POV*

 

Aku tidak menyangka ia akan lari dariku dan menghilang begitu cepat. Sebenarnya dimanakah dia? Aku khawatir. Hari semakin malam, apakah dia sudah pulang?

Dalam sunyi senyap aku berjalan menyelusuri jalan setapak. Di kiri kanan terdapat semak belukar dan pepohonan yang menjulang tinggi. Lalu terdengar suara sentakan-sentakan dari kejauhan. Dan paling mengejutkan adalah suara ledakan. Aku langsung berlari ke asal suara. Aku tertegun saat nenyelusuri asap hitam dan menemukan bebarapa orang yang berdiri ketakutan serta sesosok Devil. Aku menelan ludahku.

Devil itu mengamuk, menghantam siapa saja yang mendekatinya. Manusia-manusia yang berusaha melukainya tadi tak berdaya di hantamnya, dilempar ke sana kemari. Saat tak ada lagi yang ia hantam ia menatapku dengan matanya yang merah. Ku lihat dua tanduknya yang ada di kepalahnya. Kurasa ia menjadi devil sempurnah dengan sayap kelalawar hitam yang ia kebahkan. Ia berjalan mendekatku. Aku dapat merasakan nafasnya yang panas. Lalu ia mencekik leherku. Aku tidak bisa bernafas. Aku….

 

 

*Minbyul POV*

 

Aku terbangun. Aku mengucek-ngucek mataku memastikan apa yang aku lihat adalah kenyataan.

Dimana aku? Dan tempat apa ini? Tak ada lampu tapi aku bisa melihat dengan jelas. Lalu apa yang aku kenakan? Dimana seragamku?

Aku turun dari ranjang dan keluar ruangan. Aku menyelusuri lorong yang hanya di terangi obor. Lorong ini berujung ke sebuah ruangan makan. Di meja makan sudah tertata makanan. Saat itu pula aku merasa lapar.

“Kau sudah bangun?”

Aku tersentak. Ku lihat sebuah sosok yang ku kenal berjalan menghampiriku membawa mapan berisi gelas. Ia menata gelas itu di meja kemudian tersenyum kepadaku. Senyumnya itu memaksaku untuk tersenyum. Aku berusaha menahan diriku untuk tersenyum.

“Duduklah~ kita sarapan terlebih dahulu.” ucapnya.

Aku mengernyitkan alisku. Sarapan? Memang sekarang jam berapa?

Aku tidak peduli. Aku duduk berhadapan dengannya dan menyantab makanan yang ada di hadapanku. Aku sangat lapar.

Ia tersenyum lagi. Membuatku jadi salah tingkah.

“Kau sangat lapar ya?” tanyanya yang memperhatikanku melahap makanan.

Aku mengangguk.

Setelah selesai, ku habiskan segelas susu vanilla yang ada di hadapanku. Tapi aku belum puas. Aku merampas gelas susu miliknya. Ia hanya meneguknya sekali.

 

 

*Taemin POV*

 

Dia merampas susu milikku. Padahal aku baru meneguknya sekali. Aku hanya bisa pasrah dan memandangnya. Ia seperti tidak makan selama beberapa hari saja. Aku tertawa, aku baru ingat kemarin siang ia tidak istirahat. Tidak memakan apapun hingga pagi ini.

“Apa yang kau tertawakan?” sentaknya melototiku.

Aku hanya tersenyum. Aku mencondongkan tubuhku lalu mengusap bibirnya yang penuh dengan sisa susu.

“Kau sudah mandi?” tanyaku.

Dia menggeleng ragu.

“Sebentar lagi mereka datang. Sebaiknya kau mandi dulu. Lalu kita berangkat ke sekolah.” ucapku.

“Mereka siapa?” sahutnya.

Aku bangkit lalu menariknya.

“Lepaskan!” pintahnya.

Aku tidak peduli.

“Mandi dulu dan kau akan tahu siapa mereka.” ucapku menyeruhnya masuk ke dalam kamar.

“Di sini gelap.” ucapnya.

Aku menepuk tanganku tiga kali dan

BLEP BLEP BLEP obor-obor di kamar yang ia tiduri tadi menyala.

“Kamar mandinya di sebelah sana.” ucapku menunjuk ke ujung kamar.

“Mereka akan mengantarkan seragammu kemari.” ucapku.

“Siapa si mereka?” tanyanya penasaran.

Aku diam.

“Lalu ini pakaian siapa? Siapa yang mengganti pakaianku?” cerocosnya.

“Pakaian eommaku. Eommaku yang mengganti pakaianmu.” ucapku lalu aku keluar kamar.

Aku menujuh kamarku untuk berganti pakaianku dengan seragam.

Setelah selesai aku keluar kamar. Tidak lupa aku membawa tasku. Aku melewati lorong menujuh ke kamarnya. Ku dengar ada suara dari dalam.

“Jadi katakan. Kenapa eomma bisa ada di sini?”

Sepertinya Minbyul terkejut melihat eommanya berada di sini.

“Akanku jelaskan di luar.” ucap sebuah sauara.

Aku yakin itu eomma Minbyul.

Lebih baik aku ke ruang tamu. Appa pasti sudah menungguku di sana.

Dugaanku benar. Ia berada di sana dengan~ dengan tuan Dev. Aku menelan ludahku. Kenapa tuan Dev ada di sini. Lalu aku duduk bersama mereka. Tak kusangka tuan Dev tersenyum kepadaku. Biasanya beliau tidak pernah tersenyum. Lalu aku membalas senyumannya.

“Duduklah Minbyul.” ucap eommaku.

Ia bersama Minbyul dan eomma Minbyul. Mereka ikut duduk bersama kami.

“Taun Lee dulu teman sekolah eomma.” ucap eomma Minbyul.

“Dia juga teman appamu.” lanjutnya.

Aku melihat raut muka Minbyul berubah.

“Appa?” ucapnya.

“Ne~ kau ingin tahu siapa appamu?” tanya eommanya.

Minbyul mengangguk.

Tunggu. Jadi Minbyul tidak tahu siapa appanya? Sepertinya aku mulai tahu.

“Dia adalah appamu.” ucap eommanya menunjuk tuan Dev.

Minbyul memandang tuan Dev. Tersirat dari rautnya ia tidak percaya dengan semua ini.

Dia tertawa. Semakin lama semakin lantang. Tawanya menggema. Menusuk saraf otakku. Aku benar-benar yakin ia putri tuan Dev. Mereka memiliki tawa yang sama persis.

“Aku tidak percaya.” ucapnya.

“Apa kau mau bukti?” sahut tuan Dev.

Minbyul hanya diam.

“Lihat tanganmu.” ucap tuan Dev.

Minbyul mengankat tangan kanannya. Memperhatikan tangannya yang biasa itu

“Nyonya Lee bisakah kau membantuku?” ucap tuan Dev meminta bantuan eommaku.

Eommaku mengangguk. Ia meraih tangan Minbyul dan melemparkan api dari tangannya ke tangan Minbyul. Minbyul menjerit kesakitan. Aku tidak tega melihatnya. Aku juga merasakan kesakitan seperti itu.

Beberapa detik kemudian cahaya terpancar dari tangan Minbyul.

“Lihatlah tulisan di telapak tanganmu. Apa persis dengan tatu di lenganku ini?” ucap tuan Dev menunjukkan tatonya.

Sepertinya Minbyul sudah yakin tuan Dev itu appanya.

“Lalu apa ini? Kenapa tanganku seperti ini?” ucap Minbyul ingin penjelasan.

“Karena kau seorang Lucifer.” sahut eommaku.

Kurasa Minbyul tidak suka dengan kata Lucifer. Ia memelototi eommaku. Entah kenapa aku ingin membuka mulutku dan mengatakan,

“Kau Lucifer Minbyul. Kau sungguh-sungguh Lucifer. Ada devil di dalam dirimu.” ucapku.

Ia beranjak mendekatiku. Mencengkram kemejaku.

“Apa maksudmu heh?” sentaknya.

“Kau pikir aku sekeji itu?” sentaknya lagi.

“Aku mungkin suka jahil, tapi aku bukan devil atau Lucifer. Kaulah yang Lucifer.” lanjutnya melototiku.

Matanya berubah merah.

Aku tertawa. Dan sepertinya dia tidak suka aku mentertawainya.

“Taemin sudahlah.” ucap appaku.

Aku tidak peduli.

“Kau tahu kenapa kau suka jail?” tanyaku kepada Minbyul yang masih menarik kemejaku.

Aku mencondongkan tubuhku.

“Karena ada darah Lucifer di dalam tubuhmu. Semakin kau mengelak darah itu semakin bergejolak.” Bisikku di telinganya.

Ia mulai memanas. Wajahnya merah padam.

“Tapi kau payah. Kau tidak dapat menjailiku. Malah apa yang kau lakukan padaku berbalik kepadamu. Kau Lucifer yang bodoh. Mana ada Lucifer yang senang menjadi manusia sepertimu.” Ucapku menatap matanya.

Aku sungguh semangat kali ini. Cahaya yang terpancar dari tanganku tidak seperti cahaya Lucifer biasanya. Ini api~ apa aku benar memiliki kekautan api? Pengendali api?

Aku tersenyum kepadanya lalu tertawa di hadapannya.

“Taemin~” sentak appaku.

“Biarkan saja dia.” Ucap tuan Dev.

“Jangin sakiti dia Taemin.” Ucap eommaku.

“Minbyul, jangan kau lakukan itu lagi.” Ucap ahjumma.

Ia tampak khawatir.

Minbyul menatapnya. Ia menatap eommanya seakan meminta kepastian apa maksud dari kata-kata yang eommanya katakan.

“Memangnya apa yang akan ku lakukan?” ucapnya menatap eommanya.

“Membunuhnya…” ucap ahjumma lalu menangis.

Ku lihat amarah Minbyul memuncak.

“Kau Lucifer pembantai. Aku melihat kau sudah membunuh beberapa manusia. Ku rasa kau kurang puas. Apakah kau akan membantiku yang seorang Lucifer ini?” pancingku.

Tanduknya mulai muncul. Dia berubah menjadi Devil sempurnah. Ekornya mengikat tubuhku. Ujungnya yang lancip itu menggores pipiku.

“Kau Lucifer bodoh dengan penampilan Devil. Kau tidak akan pernah bisa mengalakanku.” Ucapku.

Ia berteriak. Lalu membanting tubuhku ke samping. Aku berhasil menahan tubuhku agar tidak terbentur. Sayapku sudah keluar. Aku melayang ke udara dan dia menyusulku. Ia membantaiku habis-habisan.

Tidak tega melihat rumahku berantakan dan ahjumma yang ketakutan aku pun mencengkram tangannya dengan apiku. Lalu mencium bibirnya. Dari mulutnya aku merasakan sesuatu. Sepertinya aku semakin bertenanga.

Kami berdua terjatuh. Aku melepaskan ciumannku. Dia langsung lemas. Apakah dia pingsan? Lalu dia membuka matanya pelan-pelan.

 

 

*Minbyul POV*

 

Aku terhempas ke lanatai. Tapi aku tidak terluka. Aku hanya merasa lemas. Seakan-akan aku baru saja berlari mengelilingi kota. Aku membuka mataku. Aku lihat sesosok orang di hadapanku. Pandanganku tidak seberapa jelas.

“Minbyul kau tidak apa-apa?” tanya eommaku.

Entah sejak kapan ia berada di sampingku.

Aku menatap sosok itu lagi. Dia seorang namja. Aku menyipitkan mataku. Dia… dia… seperti Taemin. Tapi~ kenapa dia bertanduk? Memiliki ekor dan sayap?

“Taemin kau~ sungguh menyeramkan.” Ucapku.

“Lihat dirimu.” Sahutnya.

Ku lihat diriku. Ternyata aku sepertinya. Memiliki tanduk, ekor dan sayap sepertinya. Aku mendesah.

“Jadi aku sepertimu. Aku bukan manusia?” cletukku.

“Ye~” sahutnya.

“Lalu bagaimana aku menghilangkan ini?” tanyaku.

“Sulit untukmu untuk menghilangkan itu semua karena kau tidak terbiasa. Kau tidak terlatih.” Ucap appaku.

Ia berjalan mendekatiku.

“Mulai sekarang kau harus tinggal di dunia ini. Tapi kau masih bisa bersekolah, bermain di dunia manusia.” Ucapnya lalu mengecup keningku.

“Jadi aku tidak bisa sekolah hari ini?” celetukku.

Taemin mnedekati. Ia berjongkok tepat di hadapanku.

“Kau masih bisa sekolah hari ini.” Ucapnya lalu tersenyum kepadaku.

Ia meraih ke dua tanganku dan mengenggamnya. Lalu ia tersenyum lagi kepadaku. Ia mentap mataku dalam. Tanduk, sayap dan ekornya menghilang. Aku merasa aneh terus melihatnya tersenyum kepadaku. Tatapannya membuat jantungku berdebar-debar. Aku memalingkan wajahku. Jangan bilang wajahku merah.

“Wajahmu memerah.” Ucap Taemin mencubit pipiku.

“Tapi karena wajahmu memerah kau jadi kembali seperti semula.” Ucapnya.

Akupun menyadari tubuhku kembali normal. Astaga bagaimana bisa?

 

 

#Di Sekolah#

 

Aku dan Taemin hampir telat.untung saja kami menggunakan ilmu melintasi ruangan, jadi kami tidak telat.

Teman sekelas menatap kami berdua yang masuk bersamaan. Apalagi saat Taemin mempersilahkan aku duduk bagai pangeran yang berudaha bersikap romantis kepada seorang putri.

“Tidak usah memeprlakukanku seperti itu.” Ucapku ketus.

Taemin hanya tersenyum.

Beberapa yeoja mendatanginya. Yayaya menyebalkan sekali. Yeoja itu mengata-ngataiku. Meski tidak langsung. Aku merasa tersindir. Aku ingin marah. Tanganku mulai memanas. Lalu Taemin menggenggam tanganku erat. Aku menatapnya.

“Kau marah jagiya?” ucapnya tersenyum kepasanya.

Aish~ senyumnya itu membuat amarahku padam. Ehm~ dia memanggilku apa?

“Jagiya~ kau cemburu?” ucapnya.

Jagiya?

Ia memalingkan wajahnya ke yeoja yang mengitarinya. Tangannya masih menggenggam tanganku.

“Dia yeojachinguku. Tolong jangan ganggu dia atau aku akan memberi perthitungan padamu.” Ucapnya.

“Dan barang siapa yang menyakitinya. Aku tidak akan segan-segan mencabik-cabikmu.” Ucap Taemin lantang sehingga seisi kelas mendengarnya.

“Ta… Taemin~” ucapku.

Dia memalingkan wajahnya kepadaku. Dia tersenyum lagi. Aku menelan ludahku.

“Saranghae~” ucapnya kemudian tersenyum dan terus tersenyum.

“Nado saranghae~” ucapku tersenyum kepadanya.

“Kau terlihat sangat cantik jiga tersenyum.” Ucapnya mencibit pipiku.

Entah kenapa aku bisa berkata seperti itu. Mungkin ia sudah menghipnotisku. Ia benar-benar seorang Luicfer sejati. Aku mencintainya. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta~

 

 

 

_THE END_

 

 

Need Your Comments, Please Comments This Fiction. Thank You ^^

Mian klo jelek, author lagi kurang enak badan dan depresi karena suatu hal (jiah~ malah curhat)

Kritik dan saran saya terimah.

Mau kasih coklat, bunga, boneka juga saya terima (ngarep) 😀

 

 

Lucifer (Key)

Standar

Annyeong ^^

Akhirnya posting FF Lucifer part Key. ini semua atas permintaan para readers.

Maaf ya klo kurang srek atau kurang puas. coz waktu mbuat author lagi yadong *Lucifer laugh*

Now silakan menbaca FF Romeo & Juliet eh Gali & Ratne eh bukan deh kayaknya. oh iya LUCIFER ^^

 

Cast: Key SHINee

Genre: Fantasy, romance

PG: 15

 

Please Don’t be Silent Reader if You Really Human Not Lucifer

 

Luicifer Key

 

-Lucifer-


Seorang namja asik bermain PSP. Di sebuah café. Beberap kali ia memandang keluar kaca jendela. Tujuannya cuma satu, mencari mangsa. Sehari biasanya ia mendapatkan 3 korban.

Sudah dua puluh lima menit ia duduk di café tapi ia tidak mendapatkan mangsa. Ia melihat arlojinya, sudah satu jam yang lalu anak sekolah pulang. Seharusnya ia mendapatkan korban. Dia tidak ambil pusing, ia sibuk bermain PSP.

Beberapa menit kemudian seorang yeoja duduk di depannya.

“Annyeong~” ucap yeoja itu.

Namja itu berhenti bermain PSP. Ia menatap yeoja yang ada di hadapannya. Ia tersenyum kepada yeoja itu.

“Annyeong~” ucapnya manis.

“Namaku Song Jihee.” Ucap yeoja itu mengulurkan tangannya. *nyolong nama bolehkan Reeha ^^*

“Kim Kibum. Panggil saja Key.” Ucap namja itu menjabat tangan yeoja bernama Jihee.

“Kau sendirian?” tanya Key.

“Ah aniyo~ aku bersama temanku.” Ucap Jihee memandang teman-temannya yang duduk tak jauh darinya.

Key tersenyum. Ia mulai melanjutkan aksinya. Pertama-tama ia mengajak Jihee jalan berdua. Lalu ia membuat Jihee benar-benar jatuh cinta kepadanya. Kemudian ia melakukannya. Ia mengambil jiwa Jihee. Setelah selesai mengambil jiwa Jihee ia meninggalkan Jihee.

“Dasar yeoja paboya.” Cletuk Key tersenyum ala devil sembari menatap tangan kanannya.

Ia memegang jiwa Jihee. Kemudian ia memasukkannya ke dalam liontin kalungnya yang berbentuk kunci.

Ia menyelusir jalanan mencari korban. Terkadang ia memberi senyuman kepada orang lain. Ia sekedar menyapa dengan senyuman. Orang itu sama dengannya. Seorang Lucifer.

 

 

 

 

*Di dunia yang berbeda*

 

 

“Berhantilah bermai-main dan seriuslah kepada pekerjaanmu!!!” sentak seorang ahjussi kepada Key.

Key tidak menghiraukan. Ia sibuk bermain PSP.

Ahjussi itu marah. Ia merampas PSP Key.

“Lihat hyungmu Jonghyun. Ia sudah mendapatkan banyak jiwa kenapa kau tidak seperti dia?” sentak ahjussi itu.

Key medesah.

“Aku tidak sepertinya appa~ Jika dia seorang cassanova aku hanya namja biasa.” Cletuk Key.

“Kau itu seorang Lucifer, mana mungkin tidak dapat melakukannya. Apakah cahayamu sudah cukup kuat?” sahut appa Key.

Key menunjukkan cahayanya yang ada di tangannya. Appanya menepis tangannya.

“Kau tidak pernah berlatih? Bagaimana bisa cahayamu menjadi seperti itu? Jika begini terus kau tidak bisa menjadi Lucifer.” Sentak appa Key.

“Aku tidak ingin menjadi Lucifer. Aku tidak berharap terlahir sebagai Lucifer. Aku ingin menjadi manusia biasa.” Sahut Key.

“Baiklah jika kau ingin menjadi manusia biasa. Aku akan mengabulkannya.” Ucap appa Key.

Key langsung girang. Ia memeluk appanya.

“Tapi dengan satu syarat.” Ucap appa Key.

“Apa syaratnya?” tanya Key.

“Kau mendapatkan seratus jiwa dalam waktu tujuh hari.” Ucap appa Key.

“Aish~ itu sangat berat.” Sahut Key.

“Aku juga merasa berat jika melepaskanmu menjadi manusai biasa.” Ucap appa Key.

 

 

 

*Di dunia manusia*

 

 

Key bermain game di game zone. Ia tampak frustasi dengan persyaratan appanya. Saat bermain game basket. Ia terlalu keras melemparkan bolanya hingga terpental dan mengenai orang.

“Aish! Siapa yang melakukannya.” Ucap seorang yeoja yang memegangi dahinya.

Ia mencari-cari seseorang kemudian ia berjalan mendekati Key.

“Kau yang melakukannya!” sentak yeoja itu memelototi Key.

Key sedikit takut dengan yeoja itu.

“Ye~” ucap Key pasrah.

Yeoja itu menarik kaos Key dan menyeret Key ke suatu tempat. Tempat yang sepi.

“Kau tidak tahu siapa aku?” ucap yeoja itu menatap tajam ke Key.

“Siapa? Bukan artiskan? Karena artis tidak mungkin sepertimu.” Sahut Key.

“Diam kau!” sentak yeoja itu.

“Kau pasti nenek sihir.” Sahut Key.

“Ternyata kau berani juga yach.” Ucap yeoja itu.

Yeoja itu menempelkan telapak tangan kirinya di dada Key. Key bisa melihat cahaya dari tangan yeoja itu. Dia meresakan kehangatan dari tangan yeoja itu.

“Kenapa tidak bisa?” cletuk yeoja itu memandangi tangannya.

Ia mengulangi lagi. Ia menempelkan telapak tangan kirinya di dada Key. Ia menekan Key.

“Apakah ini panas? Apaka ini sakit?” sentak yeoja itu.

Key tersenyum.

“Rasanya hangat seperti sinar matahari di musim panas.” Sahut Key.

Yeoja itu mendorong Key.

“Sebenarnya siapa kau?” tanya yeoja itu memegangi tangan kirinya.

“Menurutmu aku siap?” sahut Key.

“Aku tidak bisa mengambil jiwamu. Ini aneh.” Ucap yeoja itu.

Key mengangkat tangan kananya.

“Jelas kau tidak bisa mengambil jiwaku. Karena aku seorang Luicfer.” Ucap Key menunjukkan cahayanya di tangan kanannya.

“Jadi kau seorang Lucifer?” ucap yeoja itu ketakutan.

Ia berjalan mundur dan berlari. Key langsung meraih tangan yeoja itu. Yeoja itu memberontak. Seseorang melihat mereka. Key langsung saja mencium yeoja itu. Dan orang itupun pergi. Orang itu mengira Key dan yeoja itu adalah sepasang kekasih maka dari itu orang itu pergi.

Key tanpa sengaja menyedot sesuatu dari mulut yeoja itu. Ia memuntahkannya. Sebuah bola berwarnah biru tua.

“Kenapa kau laukan itu? Kembalikan bolaku.” Sentak yeoja itu lalu berusaha mengambil bola miliknya.

Key tidak memberikan bola itu kepada yeoja yang ada di hadapannya. ia mengangkatnya tinggi-tinggi dan berusaha membaca tulisan yang tertera di batu itu.

“Persefone?” cletuk Key.

“Kau tinggal di neraka?” tanya Key.

“Ne~ aku tinggal di neraka. Sekarang kembalikan bola milikku.” Ucap yeoja itu berusa merebut bola yang ada di genggaman Key.

Key menggeleng lalu ia menelan bola itu.

“Kenapa kau menelannya? Appaku bisa membunuhku.” Ucap yeoja itu.

“Siapa namamu?” tanya Key.

“Park Seoyoung.” Jawab yeoja itu.

“Seoyoung~ appamu tidak akan membunuhmu. Lagi pula kau tinggal di neraka pasti kau tinggal jiwa dan terkurung dalam neraka.” Cletuk Key.

“Aku tidak suka terkurung di nereka maka dari itu kembalikan bolaku.” Sentak Seoyoung.

Key menggelng.

“Aku tidak akan memberikannya kepadamu.” Ucap Key.

Seoyoung menarik kaos Key sehingga Key tertarik ke depan tepat di depan wajah Seoyoung.

“Kembalikan atau aku akan membunuhmu.” Ancam Seoyoung.

“Mengambil jiwaku saja kau tidak bisa. Bagaimana kau akan membunuhku?” sahut Key.

Seoyeong melepaskan Key.

“Aku akan mengembalikannya jika kau mau membantuku.” Ucap Key.

“Membantu apa?” sahut Seoyoung ketus.

“Membantuku mendapatkan seratus jiwa dalam waktu tujuh hari.” Ucap Key.

“Seratus jiwa? Dalam waktu tujuh hari?” sahut Seoyoung.

Key mengannguk.

“Gampang. Sehari aku bisa menangkap dua puluh jiwa.” Sahut Seoyoung.

“Menangkap?” sahut Key.

“Ne~ aku menangkap jiwa-jiwa yang melayang tanpa tujuan kemudian mengirimnya ke neraka.” Terang Seoyoung.

“Kau tidak pernah mengambil jiwa sesorang?” tanya Key.

Seoyoung menggeleng.

“Aku tidak bisa dekat dengan namja manapun. Jadi aku hanya menangkapnya. Lagi pula Lucifer lebih hebat melakukan itu ketimbang diriku.” Ucap Seoyoung.

“Aku hanya butuh jiwa-jiwa yeoja. Kau bisakan menangkapnya?” ujar Key.

Seoyoung berpikir.

“Ya~ lihat saja apakah ada jiwa-jiwa yeoja yang melayang.” Ucap Seoyoung.

 

 

 

*Di taman*

 

 

Key dan Seoyoung duduk berdua memandang langit.

“Kebanyakan di sini jiwa-jiwa namja.” Ucap Seoyoung memandang langit.

“Kau bisa melihatnya?” sahut Key.

“Ne~ aku lahir dan besar di neraka jadi aku bisa melihat jiwa.” Ucap Seoyoung.

“Jika aku memiliki kemampuan sepertimu pasti aku tak perlu repot-repot begini.” Cletuk Key.

“Aku berharap tidak dapat melihat mereka. Mereka sungguh menakutkan.” Ucap Seoyoung.

“Seperti apa mereka?” tanya Key.

“Seperti dirimu. Sungguh menyeramkan.” Jawab Seoyoung memandang Key.

“Ah di sana ada. Sebentar aku akan menangkapnya.” Cletuk Seoyoung lalu pergi meninggalkan Key.

Ia menangkap jiwa seperti menangkap serangga. Bedanya ia menggunakan tangan kirinya. Beberapa saat kemudian ia kembali. Ia duduk di sebelah Key.

“Aku dapat tiga.” Cletuk Seoyoung menyodorkan tiga jiwa kepada Key.

“Letakkan saja di kalungku.” Ucap Key.

Seoyoung meletakkan jiwa-jiwa itu ke dalam kalung Key.

“Aku lapar~ ayo makan malam Key.” Cletuk Seoyoung.

“Aku juga. Kau ingin makan apa?” tanya Key.

“Apa saja yang pedas.” Ucap Seoyoung.

Key mengangguk.

 

 

 

 

*Keesokan harinya*

 

 

Key mendesah.
“Mengapa hari ini begitu panas ya.” Ucapnya mengusap keringat di dahinya.

Seoyong tertawa.
“Waeyo?” sahut Key heran.

“Itu karena kau menelan bola milikku.” Ucap Seoyoung.

“Jinca?” sahut Key.

Seoyoung mengangguk.

“Kembalikan saja padaku.” Ucap Seoyoung.

“Aniyo~” sahut Key.

“Hari ini kau harus menangkap lebih dari dua puluh lima jiwa.” lanjut Key.

Seoyoung mendesah.

“Ne~ tapi kau juga harus ikutan menangkapnya. Kau cari dengan caramu dan aku mencari dengan caraku. Kita berpencar.” ucap Seoyoung.

“Kenapa harus berpencar?” sahut Key.

“Agar kita dapat banyak, pabo!” sahut Seoyoung menjitak kepalah Key.

“Kita bertemu di kedai ramen yang kemarin malam saat makan malam OK.” ucap Seoyoung beranjak pergi meninggalkan Key.

 

 

 

*Malamnya*

 

 

Key sibuk bermain PSP di kedai ramen. Ia sudah memasan dua mangkuk ramen untuknya dan Seoyoung. Ia juga memeasan dua gelas soda. Tak lama kemudian Seoyoung duduk di sampingnya. Ia mengunyah sesuatu. Kecapannya itu menganggu Key.

“Berhentilah mengunyah. Kau mengganggu saja.” cletuk Key tidak berpaling dari PSPnya.

“Waeyo? Aku hanya mengunyah permen karet.” ucap Seoyoung.

Key sedikit kesal, ia terus konsentrasi bermain PSP.

“Kau dapat berapa?” tanya Seoyoung.

“Dapat apa?” sahut Key yang sedang sibuk.

“Jiwa!” sentak Seoyoung.

“Dua.” sahut Key tidak berpaling dari layar PSP.

“Mwo?” sentak Seoyoung merampas PSP Key.

“Aku susah-susah membantumu menangkap duapuluh lima jiwa hari ini dan kau hanya mendapatkan dua jiwa?” ucap Seoyong kecewa.

“Astaga~ apakah kau seorang Lucifer?” lanjut Seoyoung.

“Bukankah itu sudah tugasmu untuk menangkap jiwa-jiwa. Jadi buat apa aku repot-repot.” cletuk Key.

Kemudian seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka lalu pergi.

“Kau tahu, kau sudah menelan bola milikku. Aku tidak dapat menangkap banyak jiwa tanpa itu.” cletuk Seoyoung.

Key tidak menggubris. Ia berusaha mengambil PSPmiliknya dari tangan Seoyoung. Seoyoung langsung membakar PSP milik Key dengan tangannya.

“Aish~ kenapa kau lakukan itu?” sentak Key.

Ia melihat sekeliling berharap tidak ada yang melihat mereka. Kedai itu sepi, tidak ada yang memperhatikan mereka. Pemilik kedai dan pelayannya sibuk menonton acara tv.

“Kau menelan sumber kekuatanku. Aku cepat lelah menangkap jiwa-jiwa tanpa itu. Cahaya yang biasa ku gunakan untuk merampas jiwapun perlahan-lahan sirna. Hanya kekuatan bawaan dari lahir yang masih bertahan. Yaitu api. Sudah lama aku tidak mengaktifkannya. Mungkin karena bola itu.” terang Seoyoung lalu menumpahkan sambal di kedua mangkuk berisi ramen.

“Aish~ kenapa kau memasukkan samabal ke makanananku?” sentak Key.

“Kau pesan lagi aku akan memakan ini semua. Aku sangat lapar.” ucap Seoyoung lalu memuntahkan permen karet dan meletakkannya di tangan Key.

“Aish~ apa-apain ini?” omel Key menatap permen karet di tangannya.

“Itu jiwa-jiwa yang ku dapat.” cletuk Seoyoung lalu menyantab makanannya.

“Kenapa kau simpan di permen karet?” sahut Key.

“Aku tidak punya media untuk menyimpannya. Jadi aku mengunyahnya bersama permen karet agar tidak lepas.” sahut Seoyoung lalu kembali menyantab makanannya.

Key geleng-geleng kepalah. Lalu Seoyoung menekan permen karet itu dan membakarnya sehingga yang tersisa hanya jiwa-jiwa yang ia tangkap tadi. Kemudian Key menyimpannya dalam kalungya lalu ia kembali memesan ramen.

Setelah menghabiskan ramennya. Ia menyadari ada yang aneh dengan Seoyoung.

“Seoyoung~ kau tidak apa-apa?” tanya Key.

Samar-samar Seoyoung memandang Key lalu ia terkulai lemas dan tertidur.

“Aish~ kau merepotkan saja.” ucap Key meraih tubuh Seoyoung.

Ia menggendongnya dan membawanya ke luar.

“Cepat sekali ia tertidur. Cletuk Key.

Ia tidak mungkin membawa Seoyoung pulang ke rumahnya. Appanya akan marah besar. Dan sangat tidak mungkin membawa Seoyoung pulang ke rumahnya. Appanya akan membantai mereka. Keypun memutuskan menyewa kamar di sebuah motel. Ia merebahkan Seoyoung ke tempat tidur kemudian ia keluar dari kamar meninggalkan Seoyoung sendiri.

 

 

 

 

*Keesokan harinya*

 

 

Key membuka pintu kamar. Ia tersentak kaget melihat Seoyoung. Mata yeoja itu hitam dan wajahnya pucat.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Key memandangi Seoyoung.

Seoyoun menatap ke arah Key.

“Aku lapar.” cleteuk Seoyoung pelan.

Key menutup pintu kamar.

“Ini aku membawakan ramen pedas untukmu.” ucap Key lalu duduk di lantai membuka bungkusan yang ia bawa.

Seoyoung langsung menyantabnya. Beberapa menit kemudian ia selesai makan.

“Aku masih lapar~” cletuk Seoyoung.

“Apakah kau kelelahan?” tanya Key khawatir.

“Sepertinya~” cletuk Seoyoung memegangi perutnya yang lapar.

“Hari ini kau tidak usah menangkap jiwa. Biar aku saja yang melakukannya. Aku sudah mendapatkan empat puluh jiwa. Masih ada waktu empat hari lagi.” ucap Key.

“Ya kau sendiri bisa menangkap jiwa dengan bolaku itu. Kau dapat merenggut lima jiwa sekaligus.” cletuk Seoyoung.

“Jinca? Bagaimana caranya?” sahut Key.

“Belikan aku makanan yang pedas-pedas dulu.” cleteuk Seoyoung.

 

 

 

 

*siangnya*

 

 

“Penampilanku tak jauh beda dengan hyungku. Ternyata kau lihai juga dalam mendandani orang.” cletuk Key memandangi dirinya di kaca.

“Mwo? Hyung? Kau punya hyung?” tanya Seoyoung.

“Ye~ dia Lucifer yang hebat. Sehari ia dapat mendapatkan lebih dari dua puluh jiwa. Dalam sehari.” cletuk Key.

“Berarti kau Lucifer yang payah.” sahut Seoyoung.

“Ayo beri tahu aku bagaiman mengaktifkannya!” seru Key mengalihkan pembicaraan.

 

 

 

*Sehari sebelum hari H*

 

 

Seoyoung menyantab makanannya dengan lahap.

“Pantas saja kau tidak dapat dekat dengan namja manapun. Sikapmu tidak seperti yeoja semestinya.” cletuk Key lalu meneguk makanannya.

“Terserah aku.” sahut Seoyoung mengunyah makanannya.

“Kurang berapa jiwa?” tanya Seoyoung setelah menelan makanannya.

“Dua belas jiwa lagi. Sepertinya bisa kita selesaikan besok. Tepat seminggu. Semoga berhasil.” ucap Key lalu meneguk minumannya.

Seoyoung mengunyah makanannya lahap. Dia senang mendengar sebentar lagi Key akan mengembalikan bola miliknya.

“Ngomong-ngomong kenapa kau ingin mengumpulkan seratus jiwa dalam waktu satu minggu?” tanya Seoyoung lalu lanjut menyantab makanannya.

“Aku ingin menjadi manusia.” jawab Key.

Seoyoung berhenti makan. Ia menatab Key.

“Untuk apa kau ingin jadi manusia?” tanyanya.

“Aku tidak ingin menjadi Lucifer. Aku ingin hidup bebas tanpa tanggung jawab yang berat ini. Aku tidak sanggup merampas jiwa-jiwa. Aku ingin bermain layaknya namja jaman sekarang.” terang Key.

“Pabo~ kau Lucifer yang paling pabo yang pernah aku lihat.” sahut Seoyoung.

“Untuk apa kau ingin menjadi manusia? Manusia adalah makhluk yang lemah. Kau akan menderita menjadi manusia.” omel Seoyoung.

Key mendesah. Untung mereka ada di tempat yang sepi.

“Aku sudah lemah menjadi Lucifer. Apa yang perlu aku khawatirkan lagi?” sahut Key.

“Kembalikan bolakku sekarang!” sentak Seoyoung.

“Aniyo~ aku belum mendapatkan seratus jiwa.” sahut Key.

“Baiklah. Jika kau tidak mau mengembalikannya sekarang.” sahut Seoyoung beranjak meninggalkan Key.

“Kenapa dia berubah seperti itu?” cletuk Key heran.

Ia melihat arlojinya. Masih jam delapan malam.

“Lebih baik aku merampas dua belas jiwa malam ini juga sebelum ia melakukan hal yang aneh-aneh untuk mendapatkan bola miliknya.” ucap Key lalu beranjak.

 

 

 

*Di Bar*

 

 

Key melihat arlojinya. Jam dua pagi. Satu jam lagi bar akan tutup. Ia berharap mendapatkan korban lagi. Hanya satu korban lagi. Ia merasa bergairah karena satu jiwa lagi dan ia akan menjadi manusia seutuhnya.

Seorang yeoja duduk di sampingnya. Yeoja itu memesan minuman kepada bartender.

“Sendirian saja?” tanya Key.

Yeoja itu menoleh lalu tersenyum ke arah Key.

“Ya seperti yang kau lihat aku sendirian.” ucap yeoja itu.

Key merasa pernah melihat yeoja itu sebelumnya.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Key.

“Aku penyanyi di bar ini. Mungkin kau pernah melihatku saat menyanyi.” ucap yeoja itu.

Bartender memberikan pesanannya. Ia meneguk minumannya.

Key berjalan mendekat dan merangkul yeoja itu.

“Bagaimana jika kita mengobrol di dalam.” Bisik Key di telinga yeoja itu.

Yeoja itu menurut. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya nantinya. Ia meraih gelas minumannya. Membawanya dan mengikuti Key. Key memasuki ruang pribadi. Ia sedah menggunakannya semalam ini untuk merenggut jiwa-jiwa korbannya. Ia membuang korbannya di tempat semestinya. Jadi ruang itu kosong.

“Duduklah.” Ucap Key mempersilahkan yeoka itu duduk.

Yeoja itupun menuruti kata-kata Key. Ia duduk di samping Key dan meletakkan minumanya di atas meja yang tepat ada di hadapannya.

“Di sini kita dapat mengobrol sepuasnya tanpa terganggu suara berisik di luar sana.” Ucap Key.

Yeoja itu tersenyum.

“Ya kau benar.” Tuturnya.

“Jadi kau seorang penyayi ya?” cletuk Key membuka pembicaraan.

“Ne~” ucap yeoja itu.

“Jika aku boleh tahu siapa namamu?” tanya Key membelai yeoja itu.

“Kau sendiri siapa?” tanya balik yeoja itu meraih tangan Key yang menyentuhnya.

“Panggil saja aku Key.” Ucap Key.

“Dan kau?” tanya Key.

“Kau tak perlu tau siapa namaku. Itu tidak penting.” Ucap yeoja itu lalu mencium bibir Key.

Key terkejut akan reaksi yeoja itu. Ia memulai aksinya. Sangat mudah merebut jiwa yeoja itu dalam keadaan seperti ini. Tapi ada sesutu yang salah. Yeoja itu seakan menyedotnya. Yeoja itu menyedot bola yang ada di dalam tubuhnya. Sontak Key mengaktifkan kekuatannya dan mencoba merenggut jiwa yeoja itu. Ia sedikit kesulitan merenggut jiwa yeoja itu. Yeoja itu bukan yeoja biasa.

Key merasakan bola milik Seoyoung berada di mulutnya. Ia langsung saja mencabut jiwa yeoja itu dan menelan kemgbali bola Persefone milik Seoyoung. Key mendorong tubuh yeoja yang ada di hadapannya. Ia tersentak, ia menyentuh yeoja itu. Menatab wajah yeoja itu. Lalu suasana di sekitarnya semakin lama semakin gelap.

“Kau berhasil anakku. Aku tidak menyangka kau akan sekuat ini. Nah apakah kau siap menjadi manusia?” sahut sebuah suara.

Key mendongak ternyata appanya.

“Kenapa ada manusia di sini?” tanya appa Key.

Key terdiam. Wajahnya pucat.

“Apakah dia korbanmu yang ke seratus?” tanya appa Key lagi.

Key menelan ludahnya.

“Aku akan mengabulkan permintaanmu karena aku sudah berjanji kepadamu. Sekarang berikan seratus jiwa yang telah kau renggut.” Ucap appa Key.

Key menggeleng.

“Kenapa kau tidak ingin memberikannya kepadaku? Apakah kau stidak ingin menjadi manusia?” sahut appa Key.

Key memejamkan matanya dan berusaha menata perkataanya yang akan di katakan kepada appanya.

“Appa~ aku belum mendapatkan seratus jiwa.” Ucap Key datar.

“Kau tidak akan ada di sini jika kau tidak mendapatkan seratus jiwa.” Sahut appa Key.

Key menitikkan air matanya.

“Jiwa ke seratus adalah jiwa yang tak seharusnya ku renggut. Aku salah merenggut jiwa appa~” isak Key.

“Apa maksudmu? Kenapa kau menangis?” sentak appa Key.

“Dia bukan manusia. Aku telah merenggut jiwa yang salah.” Isak Key.

“Aaa apa?” sahut appa Key.

BLUUUMMMM

Sebauh percikan api muncul di hadapan appa Key. Api itu menyala-nyala tiada padam. Api itu berwarna biru. Kemudian lama-lama api itu mulai sirna dan muncullah sebuah sosok. Sosok itu menatap Key.

“Berani-beraninya kau merenggut jiwa putriku.” Ucap sosok itu menatap tajam Key.

Mata sosok itu berwarnah merah padam membara.

“Hades~ maksudmu? Yeoja itu putrimu?” tutur appa Key.

Sosok yang bernama Hades itu beralih ke appa Key.

“Ya kau pikir siapa dia? Dia adalah putriku. Anakku satu-satunya.” Ucap Hades menarik pakaian appa Key.

“Mianhae~ ini semua salahku. Aaa aku… tidak sengaja merenggut jiwanya.” Tutur Key tertunduk.

Hades melempar appa Key. Dia lebih hebat dari appa Key yang hanya seorang Lucifer. Dia adalah dewa Neraka. Penunggu Neraka. Makhluk yang tinggal jauh di bawah tempat tinggal Key.

“Mianhae? Kau telah merenggut jiwa putriku dan hanya berkata mianhae?” sentak Hades lalu mencekik dan mengangkat Key dengan tangan kirinya.

“Bahkan kau sudah mencuri Persefone milik putriku.” Sentak Hades lagi lalu ia membanting Key.

Amarahnya sudah memuncak.

“Putriku memang tidak sekuat dirimu. Ia tidak sebanding dengan Lucifer. Tapi dia tetap putriku. Aku akan selalu melindunginya. Aku tidak segan-segan memusnahkan siapapun yang berani menyakitinya apalagi merenggut jiwanya.” Tutur Hades.

Ia mengeluarkan kobaran api berwarnah biru menyala yang menyilaukan mata dari tangan kirinya. Ia hendak melemparkan nyala api itu kepada Key tapi urung.

“Seoyoung.” Cletuk Hades.

“Kenapa kau membelanya? Dia telah merenggut jiwamu.” Ucap Hades.

Key heran melihat Hades berbicara sendiri.

“Baiklah.” Ucap Hades.

“Sekarang kau kembalikan jiwa putriku beserta bola miliknya.” Sentak Hades kepada Key.

Key mendekati tubuh Seoyoung. Lalu ia teringat ia belum menyimpan jiwa Seoyoung. Saat ia menyadari bahwa itu Seoyoung ia melepaskan jiwa itu. Ia tidak sengaja melepaskannya.

“Kenapa?” sentak Hades melihat Key diam tak berkutik.

“Aku tidak membawa jiwanya. Jiwanya terlepas.” Ucap Key.

“Cari jiwanya. Dia ada di sekitar sini.” Ucap Hades berusaha sabar.

“Taa taaapiii aku seorang Lucifer. Aku tidak bisa melihat jiwa-jiwa yang melayang-layang.” Tutur Key.

Hades melototinya. Key ketakutan.

“Baiklah aku akan berusaha menemukannya.” Ucap Key.

Key menyelusuri segala penjuru berusaha mencari jiwa Seoyoung. Tapi ia tidak dapat menemukannya. Lalu ia mulai memejamkan matanya. Ia menggenggam tangan Seoyoung.

“Di mana kau saat ini.” Cletuk Key pelan.

Ia mulai berkonsentarasi. Ia memusatkan pikiran dan kekuatannya. Lalu ia membuka matanya. Matanya berubah merah dan ia dapat melihat jiwa Seoyoung. Ia berusaha menangkap jiwa Seoyoung.

‘Kenapa kau ingin menangkapku?’ tanya Seoyoung.

‘Aku ingin menyelamatkanmu.’ Ucap Key.

‘Untuk apa? Jika kau mengembalikanku kembali ke tubuhku kau akan kehilangan kesempatan untuk menjadi manusia.’ Ucap Seoyoung.

‘Aku mendapatkan jalan yang lain.’ Tutur Key lalu menangkap Seoyoung dengan kekuatannya.

Ia mengembalikan jiwa Seoyoung. Tapi jiwa itu tidak mau masuk ke dalam tubuh Seoyoung.

“Gunakan bola itu untuk mengembalikan jiwa Seoyoung.” Ucap Hades.

Key memasukkan jiwa Seoyoung ke dalam mulutnya. Lalu ia membuka mulut Seoyoung. Lalu ia memasukkan jiwa Seoyung dari mulut kemulut. Ia masih merasakan jiwa Seoyoung masih berada di mulutnya. Ia mencoba memuntahkan bola biru yang ada di dalam tubuhnya. Bola itu berhasil keluar dari tubuhnya masuk kedalam mulut Seoyoung bersama dengan jiwa Seoyoung. Key langsung mentup mulut Seoyoung. Ia menunggu.

Beberapa menit kemudian Seoyoung mulai membuka matanya. Ia bangkit.

“Kenapa kau lakukan itu?” tanya Seoyoung.

“Appamu akan membantaiku.” Sahut Key.

“Appa tolong jangan menghukumnya. Hukum saja aku. Aku telah melanggar perintahmu.” Ucap Seoyoung berlutut di hadapan appanya.

Appanya mendesah.

“Aku tidak akan menghukum kalian jika kalian menikah.” Ucap Hades.

“Mwo?” sahut Seoyoung dan Key bersamaan.

“Key akan menjadi manusia. Dia tidak bisa menikah denganku. Appa hukum saja aku.” Sahut Seoyoung.

“Sekarang tidak mungkin Key merenggut jiwa lagi.” Sahut appa Key yang sudah sadar.

“Baiklah aku akan menikah dengan Seoyoung.” Sahut Key.

“Key apa yang kau katakan? Kau menyerah begitu saja setelah apa yang kita lakukan? Kau masih ada waktu untuk merenggut satu jiwa lagi dan menjadi manusia.” Sahut Seoyoung.

“Aku tidak ingin kau mendapatkan hukuman.” Sahut Key.

“Tapi kau mengecewakanku. Aku telah berusaha selama ini demi keinginannmu yang baru ku ketahu beberapa jam yang lalu.” sahut Seoyoung.

“Bukankah kau mengatakan bahwa menjadi manusia ada hal yang bodoh. Kau mengatakan bahwa aku adalah Lucifer bodoh yang berkeinginan menjadi Lucifer.” Sentak Key.

Seoyoung menangis.

“Kau tidak seharusnya membelaku. Ini semua salahku karena tidak dapat menjaga bola persefone milikku. Ini semua berawal dariku.” Isak Seoyoung.

“Sekarang kau tidak dapat hidup bebas.” Lanjut Seoyoung.

“Berhentilah menangis. Bukankah ini keinginanmu? Kau mengubah dirimu menjadi seorang yeoja yang dari tomboi menjadi feminim dan berusaha merebut bola persefone dariku karena kau tidak setujuh aku menjadi manusia.” Sentak Key.

“Kenapa kau memaraiku?” isak Seoyoung menatap Key.

“Karena kau berusaha menolakku.” Sentak Key meraih tangan Seoyoung.

“Apa maksudmu?” ucap Seoyoung mentap mata Key.

Matanya berkaca-kaca.

“Kau mencintaiku. Kenapa kau berusaha menolak itu.” Ucap Key.

“Karena kau tidak mencintaiku.” Ucap Seoyoung lalu ia memejamkan matanya dan menangis lagi.

“Pabo~ aku juga mencintaimu.” Cletuk Key lalu memeluk Seoyoung.

Seoyoung tidak percaya dengan apa yang dikatakan Key.

“Apa kau bilang?” tanya Seoyoung dalam pelukan Key.

“Yeoja paboya~ sarangheyo~” bisik Key di telinga Seoyoung.

Seoyoung melingkarkan tangannya di tubuh Key.

“Gomawo~” isaknya.

“Akhirnya aku menemukan namja yang dapat menjaga Seoyoung.” Tutur Hades.

“Dan akhirnya aku tidak kecewa dengan Key. Sekarang dia menjadi sepertimu Hades.” Sahut appa Key.

“Ya~ dia menjadi penerusku. Mungkin karena ia menelan persefone dan kuat menhan kekuatan persefone di dalamnya. Sungguh dia bocah yang kuat.” Ucap Hades.

“Aku juga tidak menyangka jika kekuatannya sungguh besar dan ia membutuhkan rangsangan seperti itu.” Ucap appa Key.

“Jadi tanggal berapa mereka menikah?” sahut Hades menatap appa Key.

“Tanyakan saja kepada mereka yang akan menikah.” Sahut appa Key.

“Jadi kapan kalian akan menikah?” tanya Hades kepada dua sejoli yang sedang berpelukan.

“Terserah appa.” Cletuk Seoyoung.

Key melepaskan pelukannya.

“Bagaimana jika kita makan Seoyoung. Aku lapar, aku ingin makan yang pedas-pedas.” Cletuk Key.

Seoyoung tersenyum.

“Kau lucu.” Ucap Seoyoung mencubit pipi Key.

“Kau manis.” Ucap Key balik mencubit pipi Seoyoung.

Lalu mereka berdua lenyap.

“Kemana mereka pergi?” sahut appa Key.

“Mereka pergi kencan. Biar aku saja yang mengurus pernikahan mereka.” Cletuk Hades lalu lenyap bersama api.

Appa Key geleng-geleng keplah.

“Jonghyun kau di langkai bahkan di kalakan oleh adikmu sendiri.” Cletuknya lalu lenyap.

 

#THE END#

 

Gimana? bagus gak?

Komentar ya ^^ saya butuh pemasukan untuk seri berikutnya juga ^^

Lucifer (Jonghyun)

Standar

Inspiration from someone true story. When your love hurt your heart… is it love?

Cast: Jonghyun, Jaerin, Hyunkyo and friends

Genre: Love Story

PG: 15

lucifer

Jangam melihat matanya

Jangan melihat senyumnya

Jangan tersenyum kepadanya

Jangan dekat dengannya

Jangan menyukainya

Jangan jatuh cinta kepadanya

Seorang yeoja memandangi papan pengumuman daftar siswa baru. Kemudian seseorang menepuk pundaknya keras hingga ia tersentak kaget.

”Pasti kau mencari namanya.” cletuk sesorang yang menepuk pundaknya.

Yeoja itu mengangguk. Ia mengelus-elus dadanya ia bisa merasakan jantungnya berdenyut kencang karena terkejut.

”Jaerin~ sampai kapan kau menyukainya? Sudah lupakan saja dia. Dia tidak sekolah di sini.” cletuk orang berambut pendek itu menggibas-ngibaskan tangannya.

”Bagaimana bisa kau seyakin itu, Shin Hyunkyo?” cletuk yeoja berambut panjang.

”Yoon Chiyu.” cletuk Hyunkyo.

Jaerin mendesah.

”Aku tidak percaya. Coba aku SMS Chiyu dulu.”’ ucap Jaerin mengambil HP dari sakunya dan mengetik sesuatu.

”Sudahlah Jaerin~ kenapa kau masih mengharapkannya~ bukankah di sekolah ini sudah ada namja yang kau taksir?” ujar Hyunkyo.

”Namja itu lebih dari masalaluku. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Aku sudah melupakannya. Kenapa kau mengingatkanku lagi?” sahut Jaerin.

”Lalu dari mana kau tahu dia sekolah di sini?” lanjut Jaerin.

”Yoon Chiyu. Kau memutuskan masuk sini karena ada dia bukan? Meski sekolah ini jauh dari tempat tinggalmu.” sahut Hyunkyo.

HP Jaerin bergetar. Ada sms masuk ia membacanya.

Iya aku melihatnya kemarin di depan papan pengumuman. Aku tidak tahu dia masuk kelas berapa.

Oh ya kau sekelas dengan Hyunkyo?

Jaerin membalas.

Jadi dia sekolah di sana? =(

Tidak aku tidak sekelas dengan Halmeoni. Aku masuk kelas khusus, tidakkah kau ingat?

Jika ada kabar darinya tolong kabari aku, ahjumma tersayang ^^

”Bagaimana benar bukan?” cletuk Hyunkyo.

”Ye~ halmeoni benar.” sahut Jaerin.

”Ahjummamu jodoh dengannya ya.” ucap Hyunkyo.

Jaerin menjadi lesu.

”Halmeoni sudah jangan katakan itu lagi.” ucap Jaerin.

HP Jaerin bergetar lagi.

Sepertinya. Aku sering melihatnya.

Oh iya aku lupa ^^

Kau masih memanggilnya Halmeoni?

Iya~ keponakanku tersayang~ ^^

Jaerin membalas.

Tantu saja. Meski dia bukan Halmeoniku hubungan kita tetap seperti kelurga. Begitu juga denganmu ^^

”Kenapa kau tersenyum seperti itu?” cletuk Hyunkyo.

”Karena aku senang, setidaknya Halmeoni satu sekolah denganku.” ucap Jaerin.

”Kau tidak keberatankan aku memanggilmu Halmeoni?” lanjut Jaerin.

”Tidak apa-apa. Bukankah dari dulu seperti itu. Asalkan jangan Haraboji saja. Akukan yeoja, bukan namja.” cletuk Hyunkyo.

Lalu mereka tertawa.

Beberapa hari kemudian.

Jaerin melihat jam dinding kelasnya, beberapa menit lagi pulang. Jam pelajaran terakhir ia hanya mendapatkan tugas dari guru. Sang guru tidak dapat mengajar, ada urusan penting. Ia telah menyelesaikannya dan mengumpulkannya ke ketua kelas. Waktu luang yang ada ia gunakan mengingat masa itu. Masa saat bertemu dengan namja yang tidak lepas dari ingatannya.

FLASH BACK

Jaerin duduk di depan kelas sembari membaca buku. Buku yang ia baca bukan buku pelajaran, melainkan novel. Tidak ada pelajaran waktu itu. Awal-awal tahun ajaran baru memang begitu. Ia memandang ke depan, ke halaman tengah sekolah. Lomba masih berlangsung. Ia tidak tertarik menyaksikan. Tapi suara sorak sorai membuatnya penasaran. Ternyata ada kejadian yang tidak biasa baru saja terjadi. Matanya terdiam memandang seorang namja yang menggenakan jaket berwarna putih.

Namja itu tersenyum memandang ke tengah lapangan. Jaerin memperhatikan namja itu tanpa berkedip. Lalu namja itu menoleh ke arahnya. Jaerin langsung tertunduk menatap novel yang ada di pangkuannya. Sesekali ia menatap namja itu. Namja itu masih ada di tempat.

”Jaerin ayo ke kantin!” seru seseorang.

Jaerin mendongak ia melihat Hyunkyo, Chiyu,Hana,Sachi. Ia beranjak.

”Ayo~” cletuknya.

Sudah berhari-hari Jaerin mengamati namja itu. Ia ingin tahu siapa nama namja itu. Tapi tidak berhasil. Namja itu selalu menggenakan jaket. Ia tidak dapat melihat identitas/nama siswa.

”Ada yang aneh denganmu.” cletuk Chiyu.

”Iya. Kau akhir-akhir ini menjadi diam.” ucap Hana.

”Dan selalu bertengger di depan kelas.” cletuk Sachi.

”Bertengger? Kau pikir aku burung?” sahut Jaerin.

Chiyu, Hana dan Sachi tertawa.

”Kau lihat namja di sana.” ucap Jaerin memandang ke suatu arah.

”Yang mana?” cletuk Chiyu mencari namja yang di maksud Chiyu.

”Yang pakai jaket itu?” cletuk Hana.

”Kau menyukainya?” cletuk Sachi.

Jaerin mengangguk.

”Pantas saja kau betah duduk di sini.” cletuk Chiyu.

”Hai cucuku, hai keponakanku~” seru Hyunkyo yang baru datang.

Tidak satupun menghiraukannya.

”Aish~ kalian mengacuhkanku. Apa sich yang kalian lihat?” ucap Hyunkyu lalu menatap ke suatu arah.

”Oh~ ternyata kalian sedang membicarakan anak baru itu~” cletuk Hyunkyo.

Jaerin, Chiyu, Hana dan Sachi langsung menatap Hyunkyo.

FLASH BACK END

”Jaerin kau tidak pulang?” cletuk seseorang.

Jaerin tersadar. Ia melihat sekeliling, anak-anak meninggalkan kelas.

”Oh ya, aku akan pulang.” ucap Jaerin.

Orang itu meninggalkan Jaerin. Ia hanya menyadarkan Jaerin dari lamunannya.

Jaerin keluar kelas. Ia mencoba tersenyum. Lalu ia mengingat kejadian yang menyenangkan.

FLASH BACK

Jaerin berjalan ke kantin sendirian. Chingunya sudah berangkat duluan.

Deg~

Denyut jantungnya berpacu dengan cepat. Ia melihat namja itu berjalan meninggalkan kantin. Jaerin berusaha tenang. Mereka berpapasan. Setelah itu Jaerin tersenyum.

”Jaerin tadi aku melihatnya melintas barusan. Kau melihatnya tadi?” cletuk Hana yang melihat Jaerin berjalan mendekat.

”Sepertinya dia melihatnya. Lihat saja, dia tersenyum bahagia seperti itu.” sahut Chiyu.

Jaerin duduk di antara Hana dan Sachi, berhadapan hadapan dengan Chiyu.

”Kau seperti mendapatkan rejeki nomplok saja.” cletuk Sachi.

”Jangan-jangan kau mendapatkannya.” sahut Chiyu.

”Ya~ aku mendapatkannya~ akhirnya aku tahu siapa namanya.” ucap Jaerin.

”Siapa?” sahut Hana, Chiyu, Sachi bersamaan.

”Kim Jonghyun.” ucap Jaerin.

FLASH BACK END

”Hya~”

Jaerin tersentak kaget.

”Halmeoni!!!” sentak Jaerin.

Hyunkyo tertawa.

”Salah sendiri melamun.” cletuk Hyunkyo.

Jaerin cemberut.

”Pokoknya aku gak mau tau, Halmeoni harus membelikanku lolipop.” ucap Jaerin cemberut.

”Iya cucuku~” ucap Hyunkyo lalu tertawa.

”Aduh aku lupa mau bilang apa~” lanjut Hyunkyo.

”Berkali-kali kita bertemu kau pasti bilang begitu.” sahut Jaerin.

Hyunkyo berpikir keras, ia mencoba mengingat-ngingat.

Jaerin mendesah kemudian ia berhenti bernafas. Ia mencengkram tangan Hyunkyo yang ada di hadapannya.

”Di di di di di dia~ dia~ dia~” ucap Jaerin terbata-bata.

Hyunkyo memalingkan tubuhnya 90 derajat.

”Nah itu yang ingin aku katakan padamu.” cletuk Hyunkyo.

Jaerin mencengkram tangan Hyunkyo.

”Jonghyun~ sekolah di sini.” ucap Jaerin.

Ia tampak terkejut.

”Aku tahu kau terkejut. Tapi bisakah kau tidak mencengkramku.” ucap Hyunkyo kesakitan.

Jaerin melemparkan tasnya kemudian ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Ia memejamkan matanya.

‘Ia sudah berhari-hari satu sekolah denganku tapi aku tidak menyadarinya.’ batin Jaerin.

Tak seorangpun yang tahu bahwa Jaerin menyukai Jonghyun kecuali Hana, Chiyu, Sachi dan Hyunkyo. Tapi saat semester 2, sepertinya Jonghyun dan chingunya tahu.

Sejak Jaerin mengambil foto Jonghyun di mading, Jonghyun dan chingunya bersikap aneh. Padahal saat mengambil foto sekolah sepi karena hari itu hari libur.

Jaerin seringkali merasa Jonghyun menungguinya di tengah jalan. Saat di kantin, di kopisis bahkan saat ia ke toilet. Setelah dari kantin atau kopsis, Jonghyun pasti mengikutinya dari belakang atau jalan berjajar.

Jonghyun seringkali memberikan perhatian lebih kepada Jaerin.

FLASH BACK

Chiyu berdeham. Jaerin tertunduk ia mengerti mengapa chingunya itu berdeham. Karena Jonghyun tepat ada di sampingnya. Mereka berjalan bersama.

Chiyu, Hana dan Sachi berjalan cepat meninggalkan Jaerin. Jaerin ingin menyusul tapi ia mala terjatuh. Ia terdorong dari arah samping. Jonghyun terjatuh bersamanya. Jonghyunsegera bangkit dan membungkuk untuk minta maaf.

“Apa yang kau lakukan lihat aku terjatuh dan mengenainya. Jangan lakukan itu lagi.” Ucap Jonghyun berbisik kepada temannya.

Jaerin berdiri. Ia dapat mendengar apa yang di katakan Jonghyun.

Jonghyun menatap Jaerin dan membungkuk meminta maaf.

Jaerin langsung pergi begitu saja meninggalkan Jonghyun. Ia melangkah cepat ke arah kelas. Wajahnya merah.

FLASH BACK END

Jaerin memandangi layar HPnya. Tertera tulisan JH K dan sederet nomer. Beberapa detik kemudian ia mendesah.

‘Aku tidak berani mengiriminya pesan ataupun menghubunginya.’ Batin Jaerin.

Beberapa hari kemudian…

“Apa yang kau lihat?” tanya yeoja berambut panjang.

“Tidak ada.” Ucap Jaerin.

“Kau sedang memperhatikan namja itu ya.” Cletuk yeoja itu.

“Tidak kok Hyejin.” Elak Jaerin.

“Ku lihat akhir-akhir ini kau sering memperhatikan namja itu. Waktu SMP dulu kau juga begitu.” Ucap yeoja bernama Hyejin.

“Ehm…”

“Sudah mengaku saja.” Potong Hyejin.

“Iya aku memperhatikan namja itu. Aku menyukainya.” akuh Jaerin.

“Lupakan dia~ dia sudah mempunyai pacar.” Cletuk Hyejin.

“Mwo?” sahut Jaerin.

“Iya, pacarnya adik kelas kita dulu sekaligus tetanggaku.” Ucap Hyejin.

Jaerin terdiam tak percaya. Ia menatap namja yang sedari ia perhatikan. Namja itu sedang bergurau dengan chingunya.

“Jika kau tidak percaya lihat saju akunnya, statusnya pasti sudah berpacaran.” Cletuk Hyejin.

“Akunnya? Tunjukan padaku!” sahut Jaerin.

“Mana HPmu akan ku tunjukkan padamu.” Ucap Hyejin.

Dada Jaerin terasa sesak sekali. Ia menatap layar HPnya.

“Berpacaran dengan…” gumamnya.

Ia membuka akun namja bernama Kim Jonghyun. Ia terdiam begitu lama melihat status hubungannya. Lalu Jonghyun online, ia mengetik sesuatu di berandanya. Dengan cepat Jaerin memberi komentar, ia tak pernah seberani itu. Mungkin karena dunia maya. Karena ia ada di dunia maya ia dapat seberani itu. Tak berepa lama kemudian seseorang ikut mengomentari status Jonghyun. Orang itu tidak lain adalah pacar Jonghyun.

Sejak itu Jaerin akrab dengan Jonghyun dan pacarnya. Tapi itu berlangsung hanya di dunia maya. Di situs jejaring sosial saja. Antara suka dan duka. Ia berada di tengah-tengah hubungan orang lain. Sebelum dekat dengan pacarnya Jonghyun, Jaerin pernah di tanyai oleh yeoja yang membuatnya iri itu.

Apakah hubunganmu dengan Jonghyun?

Jaerin membalas

Teman.

Yeoja itu bertanya lagi.

Kau dekat dengannya?

Jaerin mulai mengerti. Yeoja itu curiga kepadanya.

Tidak~ aku hanya mengenalnya. Kami tidak pernah sekelas. Aku hanya seankatan dengannya. Oh ya kau adik kelasku dulu bukan?

Beberpa hari kemudian….

“Jaerin~ kau tahu~ Jonghyun putus dengannya.” Cletuk Hyejin tiba-tiba.

“Putus?” sahut Jaerin.

“Iya putus. Ia putus dengan tetanggaku. Katanya sich dia selingkuh dengan yeoja lain. Dia selingkuh di situs jejaring, pantas saja ketahuan. Dasar namja bodoh tak tahu diri.” Ucap Hyejin kesal.

Jaerin buru-buru mengecek akun Jonghyun. Status hubungannya sedang rumit. Itu tandanya dia belum-belum putus.

“Statusnya masih rumit tuh.” Cletuk Jaerin.

“Mungkin dia bingun memilih yeoja yang ingin di jadikan kekasihnya. Simpanannyakan banyak.” Sewot Hyejin.

Jaerin terdiam. Ia tidak mengira Jonghyun memiliki sifat seperti itu.

Pulang Sekolah

Jaerin pulang dengan lesuh. Ia tertudnduk.

“Hey!” seru Hyunkyo mencoba mengagetkan Jaerin tapi tidak berhasil.

“Kau kenapa?” tanya Hyunkyo.

Jaerin terdiam. Ia memandang ke dapan. Jonghyun baru saja melintas di hadapannya.

“Kau ada masalah dengan dia?” tanya Hyunkyo lagi.

Jaerin menarik nafas dengan berat.

“Kau seharusnya mengatakan perasaanmu kepadanya. Aku sering melihatnya memandangimu.” Cletuk Hyunkyo.

“Mwo? Memandangiku?” sahut Jaerin.

“Iya~ saat kau tak tahu dia ada di sekitarmu~ dia memperhatikanmu.” Ucap Hyunkyo.

“Dia sudah memiliki kekasih~ apakah kau tidak salah?” ucap Jaerin.

“Mungkin saja dia tidak mencintai kekasihnya saat itu. Tapi dia mencintaimu~ dia menyukaimu~ dia berpacaran dengan yeoja itu hanya demi status palsu. Mungkin saja bukan?” ucap Hyunkyo.

Dada Jaerin terasa sakit.

‘Apa mungkin dia mencintaiku? Apa dia putus dengan pacarnya karena aku?’ batin Jaerin.

“Oh ya apa hubungannya dengan kekasihnya baik-baik saja?” tanya Hyunkyo.

“Tidak~ mereka ada masalah. Ku dengar mereka sudah putus.” Ucap Jaerin.

“Bagus dong!!! Ini kesempatanmu untuk menyatakan cinta kepadanya.” Cletuk Hyunkyo.

“Mereka putus karena orang ketiga. Karena Jonghyun selingkuh.” Sahut Jaerin.

“Mwo?” sahut Hyunkyo.

“Selama ini aku berada di tengah-tengah mereka. Aku takut aku penyebab mereka putus.” Ucap Jaerin.

“Jangan berpikiran seperti itu. Mungkin saja mereka putus karena salah paham. Merekakan tidak satu sekolah lagi. Hubungan jarak jau memang seperti itu. Jangan menyalakan dirimu. Apa yang kau katakan dan apa yang ku katakan sebelumnya belum tentu benar.” Hibur Hyunkyo.

“Kalian ini sama-sama suka curi-curi pandang ya.” Cletuk Hyunkyo.

Jaerin menatap Hyunkyo yang baru keluar dari kelasnya.

“Kau tidak mengatakn perasaanmu kepadanya?” tanya Hyunkyo.

“Tidak~ hubunganku semakin buruk ketika ia putus. Ia jarang online.” Ucap Jaerin.

“Kau kanpunya nomornya, kenapa tidak SMS?” sahut Hyunkyo.

“Tidak berani~ aku takut ia mengetahui bahwa aku menyukainya. Lagi pula di situs jejaringku aku menggunakan nama samaran.” ucap Jaerin.

“Bukankah itu bagus? Tapi fotomu aslikan? Dia pasti mengenalimu.” sahut Hyunkyo.

“Kau gila!!! Aku tidak ingin dia tahu.” sentak Jaerin

“Jika dia tidak tahu, hubunganmu tidak ada perkembangan.” Ucap Hyunkyo.

“Sudahlah dia tidak penting lagi.” Ucap Jaerin.

“Kau menyerah?” sahut Hyunkyo.

Jaerin mengangguk.

“Kau tahu~ kalian itu berjodoh~ kenapa harus menutupi sich? Lagian jangan jaim jaim. Dia sudah tau kok kalu kamu suka sama dia.” Cletuk Hyunkyo.

Jaerin menatap Hyunkyo dalam.

“Dari mana kau tahu?” tanya Jaerin

“Tidak penting dari mana aku tahu. aku sudah mengetahuniya sejak smp dulu bahawa ia dan teman-temanya mengetahui bahwa kau menyukainya. kau masih ingat kejadian saat kau jatuh karenanya?” ucap Hyunkyo.

Jaerin mengangguk.

“Temannya sengaja menggodanya. Mereka tahu kau menyukai Jonghyun. Ia mendorong Jonghyun kepadamu. Tapi Jonghyun tidak berani bicara kepadamukan? Mungkin saja karena ia tahu kau menyukainya. ia tidak tahu harus berkata apa.” Ucap Hyunkyo.

Jaerin mengepalkan ke dua tangannya. Ia tidak percaya.

Seminggu kemudian…

“Hai~ itu dia.” Ucap HYunkyo memandang seseorang.

Jaerin yang duduk di depannya hanya terdiam.

“Ada apa denganmu? Biasanya kau tidak ketinggalan sedetikpun untuk memandangnya.” Ucap Hyunkyo.

Jaerin tidak menghiraukannya. Ia sibuk menikmati makananya.

“Apa ada masalah?” tanya Hyunkyo.

Jaerin meneguk air minumnya.

“Ya~” ucap Jaerin.

“Apa?” sahut Hyunkyo.

“Aku berusaha melupakannya.” Ucap Jaerin.

“Waeyo?” sahut Hyunkyo.

“Karena dia Lucifer.” Ucap Jaerin.

“Lucifer?” sahut Hyunkyo.

“Awalnya dia manis~ aku menyukainya~ tapi lama-lama ia menusuk dari belakang.” Ucap Jaerin.

“Aku tidak mengerti.” Ucap Hyunkyo.

“Dia sudah memuliki kekasih, tapi dia tetap berbagi rasa dengan yeoja lain. Perasaan yang tak seharusnya di bagi-bagi. Yeoja itu tahu dia memiliki kekasih, tapi yeoja itu tidak bisa lepas darinya. Dia memiliki bisikan maut yang membuat yeoja bertekuk lutut kepadanya. Ia mempunyai pandangan yang menakutkan. Karena pandangan itulah aku terjerat. Aku tidak bisa melupakannya. Dia sungguh kejam. Mencari korban dengan memberi kenikmatan. Pada akhirnya, ia menusuknya atu membuangnya.” Ucap Jaerin emosi.

“Apa dia melakukan sesuatu yang buruk padamau?” ucap Hyunkyo khawatir.

“Bukan padaku, tapi pada yeoja lain~ aku memperhatikannya. Ada Lucifer di dalam dirinya. Untung saja agamaku kuat,. Jika tidak mungkin aku terperangkap dalam dunianya.” Ucap Jaerin.

“Kau sungguh berlebihan Jaerin.” Ucap Hyunkyo.

“Karena kau belum merasakannya.” Sahut Jaerin

“Jadi dia melakukan sesuatu?” tanya Hyunkyo bingung.

Jaerin memejamkan matanya.

“Bisikannya, pandanganya, senyumnya itu memberkan cahaya kepadaku, membuatku bahagia~ tapi bisikannya, pandangnya, senyumnya juga membuatku terkekang. Semua ada di ingatanku dan tidak pernah lepas. Dia membuatku gila, tidakkah kau menyadarinya?” ucap Jaerin.

Hyunkyo menelan ludah.ia merasa ada benarnya. Sejak Jaerin menyukai Jonghyun, ia berubah. Jaerin menjadi orang lain tidak seperti Jaerin yang dulu.

“Jangan melihatnya.” Cletuk Jaerin ketika Hyunkyo hendak mentap Jonghyun.

“Dia akan tahu jika kita membicarkannya jika kau melihatnya.” Lanjut Jaerin.

“Dari mana kau tahu?” tanya Hyunkyo.

“Dari mana kau tahu dia tahu tentang perasaanku waktu itu~” ucap Jaerin lalu lanjut menyantab makanananya.

Hyunkyo terdiam ia mulai mengerti. Lalu ia mencoba berpikiran jernih. Lalu ia menyadari apa yang dikatakan Jaerin benar.

FLASH BACK

“Dia tahu jika di bicarakan. Waktu itu aku membicaraknnya. Jarakku dengannya kira-kira 2 kelaslah. Lalu aku memandangnya, dia tiba-tiba menatapku dan berkata ‘Ada apa membicarakanku?’ Aku terkejut mendengarnya.” Ucap yeoja berambut pendek.

“Kau juga harus hati-hati dengannya. Ada sesuatu yang lain darinya. Semoga kau tidak terjerumus lebih dalam.” Lanjutnya.

FLASH BACK END

“Jaerin~ aku percaya dia Lucifer. Tapi apakah tidak apa-apa kita memanggilnya Lucifer. Dia lebih baik dipanggil playboy.” Ucap Hyunkyo.

“Tidak.” Sahut Jaerin.

“Mengapa tidak? Bukankah dia mempermainkan yeoja?” tanya Hyunkyo.

“Dia lebih dari itu~ dia memiliki kekuatan yang kukatakan tadi. Dia bis menghipnotis~ dia Lucifer~” sahut Jaerin.

“Jika dia Lucifer, menghipnotismu~ bagaimana kau bisa sadar?” cletuk Hyunkyo.

“Kan sudah aku bilang agamaku kuat. Lagi pula aku sering mematahkan hipnotis. Bukankah aku pernah mencertakan padamu~ aku pernah keluar dari hipnotisan orang lain. Aku pernah hilang ingatan karena hipnotisku sendiri, dan aku bisa memecahkannya dan mengingat siapa diriku lagi.” Ucap Jaerin.

“Kau sungguh yeoja yang hebat.” Ucap Hyunkyo.

Jaerin hanya diam tidak berkomentar. Ia meneguk habis minumannya. Beberpa meter dari Jaerin dan Hyunkyo, Jonghyun duduk memperhatikan.

“Siapa mereka?” tanya namja yang duduk di sebelah Jonghyun.

“Teman satu sekolahku dulu.” Jawab Jonghyun.

“Kau kenal baik dengannya?”

“Tidak. Aku tidak pernah bicara kepada mereka.”

“Waeyo?”

“Salah satu dari mereka menyukaiku.”

“Kau tidak suka kepadanya? Kau merasa terganggu?”

Jonghyun tersenyum.

“Tidak~ dia berbeda.” Ucap Jonghyun.

“Berbeda? Yeoja yang menyukaimu yang mana?” tanya teman Jonghyun itu.

“Yang rambutnya panjang.” Ucap Jonghyun.

“Apa yang beda?”

“Sesuatu yang belum aku lihat sebelumnya.”

“Dari cara bicaramu sepertinya kau menyukainya.”

Jonghyun tersenyum untuk kesekian kali.

“Meski aku menyukainya aku tidak dapat memilikinya. Aku tidak bisa dekat dengannya. Aku hanya dapat melihatnya dari jauh.” Ucap Jonghyun.

“Dia sudah memiliki kekasih?”

Jonghyun menggeleng.

“Aku tidak pantas untuknya. Aku takut menyakitinya. Selama ini aku hanya berani memandangnya. Aku tidak bernani berbicara langsung kepadanya. Aku takut apa yang ku katakan padanya menyakitinya. Meski itu hanya kata maaf. Biarlah kami sama-sama menderita karena perasaan kami berdua. Karena ini demi kebaikan kami juga. Tidak sepantasnya kami bersama. Kami tidak di izinkan untuk bersama.” Terang Jonghyun.

“Kata-katamu berat sekali. Apa tidak dapat di sederhanakan?”

“Kami tidak boleh bersama, kami tidak boleh mencintai, itu terlarang. Intinya cintaku dan darinya adalah cinta terlarang.”

“Cinta terlarang? Bagaimana bisa?”

“Kau ingat tentang sejarah, cerita…”

“Stop~ aku tahu. pasti ada hubungannya dengan leluhurmu. Sebaiknya jangan cerita kepadaku. Aku tidak ingin terlibat terlalu dalam. Itu sebuah rahasia. Rahasiamu. Jangan libatkan aku, Jonghyun.”

Jonghyun tersenyum melihat temannya ketakutan dan tidak mau mendengarkannya. Ia menatap kedua tangannya.

“Lucifer” gumamnya.

Cinta membuat orang bahagia

Cinta membuat orang terluka

Cinta membuatku untuk berbohong

Cinta membuatku menyakiti dia

Cinta membuatku menyakiti diriku

Cintaku membunuhku

Cintaku tidak boleh menguasaiku

Aku tidak ingin mati karena cinta

Tidak apa-apa aku terluka

Asalkan aku dapat hidup dan melihatnya

Aku ingin melihatnya di sini

Aku tidak ingin melihatnya di sana

Aku tidak ingin melihatnya dari tempat yang buruk itu

Karena dia tidak mungkin ada di sana

Cinta kau bukan cintaku

Cinta aku tidak memiliki hati

Cinta pergi dariku

Cinta biarkan hidup

Cinta ambil nafasku, jangan nyawaku

Cinta biarkan aku melihat cinta meski tidak dapat merasakannya

END

Gimana menurut kalian?

Komentar dong!

Soal karakter-karakternya gimana?

Mohon bantuannya~ *bow sembilan puluh derajat*