Category Archives: 3rdff

When I Knew The Meaning of Love merupakan FanFiction series ketiga author. bisa di bilang ide FanFict ini adalah ide kelima. Ide awalnya NC, NC dan NC. Karena ingin membuat FanFiction yang dapat di baca tanpa batasan karena NC, maka author membuat FanFict yang PG. Ide pembuatan FanFict ini~ ehm… author lupa. sudah lama sekali~ Author dapat ilham sekitar bulan Febuari Maret dan baru mempostingnya pada bulan Agustus di blog awal author ^^

When I Knew The Meaning of Love (Chapter 9)

Standar

Cast: Minho, Taemin, Onew, Key, Jonghyun, Jaerin *Lyra*, Hyoah *Intan*, Jira *Iha*, Jihee *Reeha*, Jaejoong

Genre: Romantic, Friendship

PG: 15

 

 

 

PLEASE DON’T BE SILENT READER, PLEASE COMMENT. AUTHOR NEED YOUR COMMENT. THANKS BEFORE

 

 

 

When I Knew The Meaning of Love (chapter 9)

-I Get You-

 

 

 

 

“Dia bekerja di sebuah perusahan motor. Aku tak tahu dai bekerja di bagian apa.” Ucap Halmeoni.

Minho berpikir. Banyak perusahan motor di Korea. Bagaimana ia bisa menemukannya hanya dengan sebuah marga.

“Baiklah. Terima kasih atas bantuannya. Kami pulang dulu.” Ucap Minho.

“Hati-hati di jalan.” Ucap halmeoni.

Minho dan Jaerin masuk ke dalam mobil.

“Kau akan mencarinya Minho.” Cletuk Jaerin.

‘Ye~ besok aku akan mencarinya.” Sahut Minho melajukan kendaraanya.

“Kau tidak sekolah besok?” sahut Jaerin.

“Aniyo~ aku ingin mencari noonaku.” Ucap Minho.

“Aku ikut ya?” sahut Jaerin.

“Kau tidak sekolah?” sahut Minho.

“Aniyo~ aku ingin membantumu. Siapa tahu kau perlu bantuanku.” Sahut Jaerin.

“Tidak usah. Kau sekolah saja, aku bisa menangani ini sendiri.” Ucap Minho.

“Apa salahnya sich kau menerima bantuan orang lain.” Omel Jaerin.

“Belum tentu kau bisa menyarinya sendiri. Terlebih lagi kau dalam kondisi ingin cepat-cepat bertemu noonamu, pasti kau cepat emosi jika tidak dapat menemukan noonamu.” Lanjut Jaerin.

Minho mendesah.

“Baiklah.” Ucapnya kemudian.

 

 

 

 

 

9.07 PM

  

 

Jihee menarik Key.

“Mau kemana kita?” tanya Key.

“Ke tempat karaoke.” Sahut Jihee.

“Mwo?” sahut Key.

“Kau harus menemaniku berkaraoke. Aku tidak ingin menyanyi sendirian.” Sahut Jihee.

Lalu mereka masuk ke dalam ruangan karaoke.

“Ku harap Jonghyun tidak melihatku.” Ucap Key pelan.

“Mwo?” sahut Jihee tidak mendengar ucapan Key.

“Ah, aniyo~” ucap Key

Jihee menyuruh Key duduk sementara ia memilih-milih lagu.

“Bisa kau pesankan makanan dan minuman?” cletuk Jihee yang sibuk memilih lagu.

“Kau mau pesan apa?” tanya Key.

“Terserah yang penting enak.” Sahut Jihee.

Key langsung meraih telpon yang ada di ruang karaoke dan memulai memesan.

Kemudian Jihee mulai menyanyi. Ia menemukan lagu yang tepat. Ia mulai menyanyi lagu Oh dari SNSD.

Key menahan tawa. Ya bagaimana dia tidak tertawa. Jihee menyanyi dengan gaya rocker dan suara yang tak karu-karuan.

“Hya kenapa kau tertawa? Apa yang kau tertawakan?” sentak Jihee.

“Kau seperti orang gila.” Sahut Key.

“Apa kau bilang?” sentak Jihee.

Key tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Jihee.

“Sekarang giliranmu menyanyi.” Sahut Jihee menarik Key.

“Nyanyikan lagu ini persis dengan tariannya.” Ucap Jihee.

Key melongok. Ini lagu Magic Girl dari Orange Caramel. Jihee duduk menonton dan Key mulai bernyanyi. Key benar-benar menghibur. Suaranya enak di dengar dan dia dapat menirukan tarian Orange Caramel.

Jihee tertawa karena Key persis dengan Orange Caramel.

“Sebenarnya kau namja apa yeoja?” cletuk Jihee tertawa.

Key tersenyum dan melanjutkan menyanyi.

Beberap saat kemudian pelayan masuk membawa pesanan.

“Sepertinya kalian bersenang-senang.” Ucap seorang pelayan.

Key tersenyum.

“Tu…”

Key melototi pelayan itu. Ia tidak ingin ada yang memanggilnya dengan sebutan tuan. Ia tidak ingin orang lain tau bahwa ia memiliki kedudukan yang sangat tinggi di resort.

“Ehm maksudku Key. Sampai kapan kau akan bekerja di sini.” Ucap sang pelayan sembari meletakkan pesanan di atas meja.

“Entahlah. Sampai tuan Kim mengatakan tugasku selesai mungki.” Ucap Key.

“Memang sebelumnya kau ada tugas apa?” sahut Jihee mencomot makanan pesanan yang ada di hadapannya.

Key bingung. Tidak mungkin ia mejelaskannya. Jihee akan tahu banyak tentangnya. Dia tidak ingin yeoja itu tahu. tidak ada satupun yeoja yang tahu kecuali Jaerin dan Hyoah yang terlanjur tahu.

“Key adalah tour guide di sini. Jika hari libur ia datang kemari untuk bekerja. Tuan Kim menyuruhnya untuk bekerja lebih lama lagi karena ada beberapa tamu yang butuh tour guide. Kami kekurangan tour guide jadi tuan Kim menyuruh Key.” Sahut pelayan asal.

“Jinca? Berarti besok kau harus jadi tour guideku donk.” Sahut Jihee.

Key mendesah. Ia menatap pelayan itu dan tersenyum. Lalu pelayan itu keluar.

“Oh ya Key, siapa nama aslimu? Aku yakin Key itu bukan nama aslimu.” Ucap Jihee.

“Waeyo?” sahut Key sembari menyicipi kentang goreng yang ada di hadapannya.

“Penasaran saja. Terus kenapa kau di panggil Key?” sahut Jihee.

“Tidak penting. Untuk apa kau ingin tahu aku? Bukankah aku hanya seorang pelayan?” sahut Key lalu mencomot ebikatsu.

“Aku hanya ingin mengenalmu saja.” Ucap Jihee.

Key terdiam memandang Jihee.

“Kau mencintaiku?” ucap Key.

“Aish~ kenapa kau selalu bilang begitu? Menyebalkan.” Sahut Jihee beranjak dari tempat duduk dan mulai memilih lagu.

“Kau sendiri yang memulai. Kenapa tidak ingin melepasku dan ingin mengenal diriku.” Cletuk Key mencomot kentang goreng.

“Aku ingin berteman denganmu.” Sahut Jihee.

“Selama ini aku tidak mempunyai teman baik. Mereka mau berteman denganku jika ada inginnya saja. Biasanya aku main dengan Jinki oppa. Tapi dia sangat sibuk. Dan kini dia sudah memiliki kekasih. Terlebih lagi dia tidak menyukaiku.” Lanjut Jihee.

“Aku bisa mengerti.” Sahut Key.

“Kau mengerti perasaanku?” sahut Jihee.

“Bukan. Aku bisa mengerti perasaan orang-orang di sekitarmu. Temanmu dan Jinki hyung.” Sahut Key.

“Aku juga menyadari, ternyata kau tidak berperasaan.” Ucap Jihee lalu memutarkan sebuah lagu.

Kemudian ia mulai menyanyikan lagu I Got Crazy Because of You dari T-ara dengan gaya seperti orang gila. Key geleng-gelang kepalah.

“Yeoja ini semakin gila saja.” Ucap Key pelan.

 

 

Keesokan harinya…

6.43 AM

 

Minho menekan bel sebuah apartemen. Dua menit kemudian sesorang membukan pintu.

“Annyeong.” Ucapnya.

“Annyeong Minhossi.” Ucap Jaerin.

“Boleh aku meminjam kamar mandimu? Aku ingin ganti sergamku ini dengan pakaian biasa.” Ucap Minho.

Jaerin mempersilahkan masuk ia menunjukkan kamar mandinya.

“Kau belum memberi tahu orang tuamu?” tanya Jaerin.

“Belum. Meski aku katakan sepertinya mereka tidak akan peduli.” Ucap Minho lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Beberapa menit kemudian ia keluar.

“Ayo kita berangkat !” seru Minho.

Jaerin mengangguk.

“Kau tidak ada pakaian lagi selain itu?” cletuk Minho memandang pakain Jaerin.

“Waeyo apa aneh?” sahut Jaerin.

“Pakaianmu terlalu casual untuk musim panas. Itu lebih cocok untuk pakaian musim gugur. Apa kau tidak kepanasan?” ucap Minho.

“Hanya ini pakaian yang aku punya. Lebih baik aku kepanasan dari pada kedinginan.” Ucap Jaerin.

Minho tersenyum simpul.

“Baiklah ayo kita keluar.” Ucap Minho.

Merekapun keluar. Jaerin mengunci apartemannya.

“Oh!!! Apa yang baru kalian lakukan di dalam apartemen? Jangan-jangan kalian habis melakukan sesuatu ya?” sahut Hyoah yang juga keluar dari apartemennya.

“Aniyo~” sahut Jaerin.

“Aku baru saja datang dan meminjam kamar mandi Jaerin. Jadinya aku masuk.” Sahut Minho.

“Untuk apa kau ke apartemen Jaerin? Lalu kalian tidak sekolah?” sahut Hyoah.

“Aku menjemput Jaerin. Kami ada suatu urusan. Permisi kami tergesah-gesah.” Sahut Minho menarik Jaerin turun.

Hyoah bingung.

“Kenapa Minho menjemput Jaerin? Kenapa mereka tidak sekolah? Apa urusan mereka?” cletuk Hyoah.

“Apa mereka sedang berkencan?” ujar Hyoah.

Ia melihat ke bawah. Minho membukakan pintu mobilnya untuk Jaerin. Lalu ia memasang kaca mata hitamnya dan masuk ke dalam mobilnya.

“Pasti mereka sedang berkencan.” Ucap Hyoah lalu buru-buru turun ke bawah.

 

 

7.05 AM

 

“Kenapa kita kemari?” tanya Jaerin.

“Membeli pakaian untukmu. Untung saja aku membawa kartu kreditku.” Ucap Minho.

“Mwo? Untuk apa membeli pakaian untukku.” Sahut Jaerin.

“Tidak mungkin kita bisa masuk ke perusahaan jika kau berpakaian seperti itu.” Sahut Minho lalu turun dari mobilnya.

Jaerin turun dari mobil.

“Mereka tidak mengizinkan orang berpakaian sepertiku?” sahut Jaerin.

Minho mengangguk.

“Mianhae~ aku jadi merepotkanmu.” Ucap Jaerin.

“Tidak apa-apa. Anggap saja ini ucapan terima kasih untukku.” Ucap Minho lalu masuk ke dalam butik.

Jaerin bingung. Ia menyusul Minho.

“Ucapan terima kasih untuk apa?” tanya Jaerin.

“Karena kau telah membuat perubahan dalam hidupku. Kau memberikanku pelajaran soal kehidupan. Kau memberikan harapan hidupku.” Ucap Minho memandang Jaerin.

“Ehm~ kata-katamu terlalu berlebihan.” Ucap Jaerin.

“Sudahlah sebaiknya kita memilih pakaian yang cocok untukmu.” Ucap Minho.

“Ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya seorang pelayan.

“Tolong carikan pakaian yang cocok untuknya.” Ucap Minho menunjuk Jaerin.

“Mari nona, ikut dengan saya.” Ucap sang pelayan.

Jaerin menatap Minho. Minho hanya mengangguk.

Minho duduk di sebuah kursi dan menunggu sembari membaca majalah. Beberapa menit kemudian Jaerin datang dengan pelayan tadi.

“Bagaimana dengan ini tuan?” ucap sang pelayan.

Minho menatap Jaerin.

“Terlalu glamour.” Ucap Minho lalu melanjutkan membaca.

Pelayan dan Jaerin pergi meninggalkan Minho lagi.

Beberapa menit kemudian mereka kemablai lagi.

“Bagaimana dengan ini?” ucap sang pelayan.

Terlalu futuristic.” ucap Minho.

Selanjutnya.

“Gothic?” ucap Minho lalu mendesah.

Selanjutnya.

“Terlalu kekanak-kanakan.” ucap Minho lalu tertawa.

Selanjutnya.

Jaerin mentap Minho. Ia berharap Minho tidak menyuruhnya ganti pakaian. Ia cukup lelah.

Minho memandang Jaerin. Dia hanya diam lalu menunduk.

Jaerin mendesah. Ia membalik tubuhnya berjalan ke ruang ganti. Tapi seseorang menarik tangannya. Ia meneloh. Ternyata Minho. Namja itu tersenyum kepadanya kemudian memasangkan bando di kepalahnya.

“Ini akan membuatmu lebih cantik.” Ucap Minho lalu tersenyum kepada Minho.

“Gomawo~” ucap Jaerin datar.

“Nah sekarang kita cari sandal yang cocok untukmu.” Cletuk Minho menarik tangan Jaerin ke tempat sandal.

“Tolong carikan sandal untuknya. Yang cocok dengan pakaiannya.” Ucap Minho kepda pelayan.

Pelayan itu mengangguk.

“Apakah harus menggunakan heels?” tanya Jaerin.

“Hm~” ucap Minho.

Jaerin langsung duduk di bangku yang tersedia. Dia merasa kecewa karena ikut dengan Minho.

“Bagaiman jika sepatu biasa saja. Sepatu boots mungkin. Dengan begitu aku bisa menggunakannya saat musim dingin.” Ucap Jaerin.

Minho menoleh.

“Kau selalu membeli pakaian serta alas kaki yang dapat di pakai di segala musim?” tanya Minho.

Jaerin menjawab dengan anggukan.

“Aish~ pantas dandananmu seperti itu.” Ucap Minho lalu menerima sandal pemberian pelayan.

Ia berjongkok di depan Jaerin.

“Mau apa kau?” sahut Jaerin.

“Memasangkan ini di kakimu.” Ucap Minho menunjukan sandal heels yang ada di tangannya.

“Aku bisa sendiri.” Ucap Jaerin mencoba merenggut sandal dari tangan Minho.

“Ani~ aku pasangkan.” Ucap Minho memaksa.

Setelah berdebat akhirnya Jaerin menyerah. Ia membiarkan Minho membuka sepatunya dan memasangkan sandal di kakinya. Tapi tidak pas dengan ukuran kaki Jaerin. Pelayan mencari sandal yang cocok dengan ukuran Jaerin. Entah sudah berapa kali Jaerin menggenakan sandal yang berbeda-beda. Lalu ada sandal yang cocok dengannya. Saat ia mencoba berjalan ia tergelincir dan jatuh. Untuk saja Minho sigap menagkap tubuhnya.

“Gomawo.” Ucap Jaerin.

Ia kembali duduk. Minho melepaskan sandalnya. Mereka berdua mendesah.

“Ini yang terakhir.” Ucap sang pelayan.

“Wedges~” sahut Minho lalu meraih sandal wedgest dari tangan pelayan.

“Semoga pas untukmu.” Ucap Minho memasangkan wedgest di kaki Jaerin.

Minho mendesah. Ternyata pas.

“Cobalah berjalan.” Pinta Minho.

Jaerin menuruti perkataan Minho. Ia melenggak. Dan hasilnya ia tidak terjatuh lagi seperti tadi.

“Bagus. Sekarang tinggal di bayar.” Ucap Minho.

“Berapa semuanya?” tanya Minho kepada pelayan

Sang pelayan menyebutkan harganya. Lalu Minho membayarnya. Jaerin melongok terkejut dengan harga kesemuan barang yang dikenakannya.

Saat mereka di mobil Jaerin mulai membicarakan pakaian yang ia kenakan.

“Seharusnya kita tidak beli di tempat ini. Harganya sungguh mahal. Aku bisa mendapatkan satu HP beserta tiga dady long legs dengan total harga itu.”cletuk Jaerin.

“Apa salahnya? Tempat ini bagus. Produk yang mereka jual berkualitas tinggi, jadi tahan lama.” Ucap Minho.

“Tapi…”

“Sudahlah~ tidak usah diperdebatkan.” Ucap Minho.

Jaerin terdiam.

“Oh ya kenakan sabuk pengamanmu.” Ucap Minho menatap Jaerin.

Jaerin mencoba menarik sabuk pengaman yang terletak di sisi kanannya tapi ia kesulitan. Minho mencoba membantunya. Ia dapat merasakan hembusan nafas minho tepat di depannya. Rasanya hangat. Kemudian suasana menjadi hening. Wajah JAerin sudah merah. Begitu juga Minho. Mereka jadi canggungg karena hal kecil.

 

 

1.17 PM

 

Jonghyun mendesah melihat Key yang bersenang-senang dengan Jihee. Awalnya mereka seperti To & Jerry tapi pada akhirnya mereka berteman baik meski Key seringkali melontarkan kata-kata pedas. Tapi Jihee tidak menanggapinya ia tidak ingin beradu mulut dengan Key. Karena Key selalu menang di akhir perdebatan mereka.

Di atas kebahagian Key dan Jihee, Jonghyun merasakan sakit yang tak tertahankan. Kebahagiannya telah di renggut. Ia harus mengerjakan tugas yang seharusnya di selesaikan Key. Meski ia masih kuliah tapi orang tuanya selalu menekan mereka untuk bekerja. Agar membiasakan merka bekerja di perusaan orang tua mereka.

Tidak ada lagi yeoja. Itu yang ada di pikiran Jonghyun. Awalnya ia merasa kesepian tapi setelah dirasakan kembali ia cukup senang. Ia lebih suka kelelahan karena kerja dari pada kelelahan karena di kejar-kejar yeoja. Ia ingin berhenti bermain-main dengan yeoja. Ia takut apa yang di katakan Jaerin benar. Selama ini mencari-cari nomor kontak Jaerin dan akhirnya ia mendapatkannya. Yeoja itu benar-benar menolaknya mentah-mentah. Jaerin tidak tahan dengan Jonghyun yang selalu dikelilingi yeoja dan bermesraan dengan yeoja itu. Jaerin merasa tidak nyaman. Jaerin mengecap Jonghyun bukan namja normal. Jonghyun sangat tersentak. Lalu terlontarlah kata-kata dari JAerin yang membuat Jonghyun sadar. Selama ini Jonghyun hanya merinduhkan sosok eomma di diri yeoja. Jonghyun memang tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang eomma. Saat ia lahir eommanya meninggal karena pendarahan. Ia di besarkan oleh appanya dan beberpa anggota keluarga Kim lainnya.

Saat pamannya, appa Key menikah, barulah Jonghyun meraskan kasih sayang seoerang eomma dari eomma Key. Tapi itu tak berlangsung lama. Saat mereka mempunya anak, mereka lebih menyanyangi anak mereka. Memanjakan mereka. Sejak itulah Jonghyun sering berdiam diri dan menghabiskan waktu untuk bermain musik dan bernyanyi. Saat SMP ia mulai bermain yeoja. Ia merasa diperhatikan.

Tapi semua itu berkahir karena Jaerin. Jonghyun tidak dapat melupakan Jaerin. Ia seperti sosok yang ia cari. Seseorang yang bijaksana. Tapi Jonghyun tidak dapat memilikinya. Yeoja itu sadah tidak memiliki rasa apapun padanya. Yeoja itu menganggapnya sebagai appanya.

Sekarang Jonghyun berada di lobby. Ia akan kembali ke Seoul karena ia dapat panggilan dari perusahaan di Seoul. Saat memasuki mobil ia di cegat seorang yeoja yang berpakaian seragam lengkap dengan tasnya.

“Ada apa?” tanya Jonghyun heran.

Yeoja itu menatap Jonghyun tajam dan penuh kebencian.

“Kembalikan rumahku!” cletuk yeoja itu.

“Rumah?” sahut Jonghyun heran.

“Ne~ kau menyitanya beberapa hari yang lalu. Aku memintanya kembali.” Ucap yeoja itu.

Jonghyun mulai mengerti apa yang dikatakan yeoja itu.

“Kau adiknya Jiyeo?” ucap Jonghyun.

“Ne~” ucap yeoja itu.

Jonghyun meringis.

“Bagaimana bisa aku mengembalikannya begitu saja. Onniemu itu berhutang banyak kepadaku. Dengan rumah dan seisinya saja tidak cukup untuk membayarnya.” Ucap Jonghyun Ketus.

“Jika begitu aku minta barangku. Di dalamnya ada barangku, bagaimana bisa kau mengambilnya.” Ucap yeoja itu terisak.

Jonghyun tidak peduli. Ia berusaha meninggalkan yeoja itu dan masuk ke dalam mobil tapi yeoja itu menariknya. Ia menepis tangan yeoja itu. Ia masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan yeoja itu. Yeoja itu menangis dan menatap kepergiannya. Lalu tiba-tiba yeoja itu terjatuh. Jonghyun menyuruh sopirnya berhenti. Ia menyuruh sopirnya kembali. Ia turun dari mobil dan mengecek kondisi yeoja itu yang kini di bopong security.

“Bahwa dia ke klinik.” Ucap Jonghyun.

Saat di klinik, dokter mengecek kondisi yeoja itu.

“Konidsinya buruk.” Ucap dokter.

“Sangat buruk?” tanya Jonghyun.

“Kau apakan dia?” sentak dokter.

“Kenapa kau marah padaku? Aku tidak mengapa-apakannya. Dia sendiri datang kepadaku dan meminta rumahnya, barangnya kembali.” Cletuk Jonghyun.

“Rumah? Barang?” sahut dokter muda itu.

“Ye~ Jiyeon berhutang banyak kepadaku, maka dari itu aku menyita rumahnya.” Ucap Jonghyun.

“Salah satu mantanmu?” sahut dokter.

Jonghyun hanya mengangguk.

“Serakan miliknya kembali. Pasti di dalam rumahnya itu ada sesuatu yang berharga. Miliknya bukan milik Jiyeong.” Ucap dokter.

“Andwae~” sahut Jonghyun.

“Seberapa besar hutangnya?”tanya dokter penasaran.

“Hutangnya cukup untuk membeli café yang sering kau kunjungi.” Ucap Jonghyun.

Dokter menelan ludahnya.

“Bagaimana jika mempekerjakannya di mall milik appamu. Ku dengar mereka membutuhkan beberpa karyawan. Dengan begitu dia dapat mebayar hutnag kakaknya.” Ucap dokter.

Jonghyun hanya diam saja.

“Dia kelelahan. Sepertinya dia sudah dua hari tidak makan. Sepatunya sudah lusuh. Sepertinya dia berjalan kaki dari Seoul kesini.” Ucap dokter yang membuat Jonghyun tertawa.

 

 

3.45 PM

 

“Aish~ kemana sich tuh anak.” Omel Jira yang kini berada di depan pintu apartemen Jaerin.

“Ponselnya juga tidak dapat di hubungi.” Cletuk Taemin yang mencoba menghubungi Jaerin.

“Apa jangan-jangan dia~ Ah tidak mungkin. Kejadian itu tidak mungkin terulang lagi.” Cletuk Jira.

Apa dia mengunjungi keluarganya?” cletuk Taemin.

“Dia sebatang kara.” sahut Jira.

“Jangan-jangan dia….”

“Bersama dengan Minho.” sahut sebuah suara.

Jira dan Taemin menoleh. Ia mendapati sesosok yeoja yang mereka kenal. Di belakang yeoja itu ada seorang namja yang berjalan mendekat.

“Nugu? Minho?” sahut Jira.

“Ne~ mereka sangat mencurigakan. Tadi pagi aku melihar Minho keluar dari apartemen Jaerin. Mereka tidak menggenakan seragam. Mereka bilang mereka sedang menangani suatu urusan.” teran yeoja yang bernama Hyoah.

“Urusan?” sahut Taemin.

“Kurasa Minho semalam menginap di apartemen Jaerin lalu mereka melakukan ‘itu’ paginya mereka ke dokter mengecek apakah Jaerin hamil.” ucap Hyoah.

Jinki menjitak kepalah Hyoah.

“Tidak mungkin seperti itu. Jagi~ jangan berpikiran negatif.” ucap Jinki.

Hyoah mengelus kepalahnya yang sakit karena jitakan Jinki.

“Kemarin Jaerin pulang sore dan kemarin sore ada pertandingan basket. Ku dengar sekolah kita dan sekolah Minho hyung bertanding jagi~ kurasa kemaren mereka bertemu dan merencanakan sesuatu. Aku baru ingat.” ucap Taemin kepada Jira.

Jira menjitak kepala Taemin.

“Pabo~ jika kau mengatakan dari tadi kita langsung saja telpon Minho oppa.” sentak Jira.

Taemin hanya tersenyum kecut karena Jira menjitak dan menyentaknya. Kemudian ia mencoba menelpon Minho.

“Ah hyung~ apa kau bersama Jaerin sekarang? …….. Syukurlah. Kami mengkhawatirkan Jaerin. ……………. Aku tidak bisa menghubunginya maka dari itu kami khawatir. ………………. Pantas saja. Oh ya kalian kemana? ……………. Oh baiklah. Jaga dia baik-baik.” ucap Taemin lalu memutuskan pembicaraan.

“Bagaimana?” tanya Jira dan Hyoah bersamaan.

“Jaerin bersama Minho hyung. Dia lupa membawa ponselnya. Mereka sedang ada urusan. Sebenarnya urusan Minho hyung tapi Jaerin ingin membantu.” terang Taemin.

“Yeoja satu selalu membuat orang khawatir.” ucap Jira.

“Sudah-sudah lebih baik kita masuk ke apartemanku dan berbincang-bincang. Bukankah sudah cukup lama kita tidak berbincang?” sahut Hyoah.

“Hm~ baiklah.” ucap Taemin.

Jira hanya mengangguk.

 

 

5 PM

 

“Rumahnya besar sekali~” cletuk Jaerin memandang rumah yang ada di hadapannya.

“Tapi mungkin saja ini bukan rumah noonaku.” Sahut Minho.

Seorang satpam mendekati mobil Minho dan mengetuk pintu kaca Minho.

“Apa ada yang perlu saya bantu tuan, nona?” tanya satpam itu.

“Apakah benar ini kediaman tuan Kim?” tanya Minho.

“Ye~ ini kediaman tuan Kim.” Jawab satpam itu.

“Apa tuan Kim ada di rumah?” tanya Minho.

“Tuan Kim belum datang tuan. Mungkin sebentar lagi belia akan datang. Tapi dia tidak akan lama di sini karena nyonya sekarang ada di Seoul. Maaf jika boleh saya tahu anda siapa?” tanya satapam.

“Saya rekan bisnis.” Ucap Minho.

“Silakan masuk. Anda bisa menunggu tuan di dalam.” Ucap satpam itu lalu membuka pintu gerbang.

Saat di dalam rumah, Minho dan Jaerin berusaha mencari foto keluarga yang biasa di pajang di dinding. Tapi mereka hanya menemukan foto sepasang kakek dan nenek.

“Maaf apakah itu…” tanya Minho menunjuk pigora yang dipajang di dinding.

“Itu foto tuan besar Kim dan mendiang istrinya.” Ucap pelayan yang menyajikan mereka minuman.

“Lalu di mana foto keluarga tuan Kim sendiri? Kudengar belia sudah berkeluarga.” Ucap Jaerin sembari menyesap teh yang di suguhkan.

“Tuan Kim tidak pernah memajang fotonya di ruangan terbuka seperti ini. Beliau biasa memajangnya di kamar. Tapi ada foto nyonya dan anaknya di dinding dekat tangga.” Ucap si pelayan.

“Boleh kami melihatnya?” sahut Minho tak sabar.

“Mari~”

Ucap sang pelayan mulai melangkahkan kakinya. Minho dan Jaerin beranjak mengikuti langkah kaki pelayan.

“Ini foto nyonya dan putranya.” Ucap pelayan menunjukan pigora foto seorang yeoja dan anak kecil yang kira-kira berusia tiga atau empat tahun.

Minho tertegun.

“Wah~ cantiknya. Anaknya juga lucu. Siapa nama anaknya?” ucap Jaerin.

“Donghae~” ucap si pelayan.

DEG~ tiba-tiba jantung Jaerin berdetag kencang. Ia tertegun.

“Namanya Choi Yeonra?” cletuk Minho.

“Eh~” sahutsi pelayan itu.

“Ne~ nyonya Yeonra.” Ucap pelayan itu kemudian.

“Kalian terlihat pucat. Apa kalian tidak apa-apa?” tanya si pelayan.

“Saya tidak apa-apa. Hanya terkejut saja istrinya masih muda.” Ucap Minho.

“Tuan Kim menikah muda. Beliau menikah saat usia dua puluh tahun dan nyonya sembilan belas tahun.” Ucap si pelayan.

Minho memandangi Jaerin. Yeoja itu berkeringat dingin.

“Jaerin kau tidak apa-apa?” tanya Minho.

Jaerin tetap diam. Minho meraih tangan Jaerin. Tangan yeoja itu dingin.

“Kau benar-benar sakit?” tanya Minho.

Jaerin memandang Minho.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingat seseorang.” Ucap Jaerin.

“Donghae?” tanya Minho.

Jaerin mengangguk.

“Maaf kenapa mereka memberi nama putra mereka Donghae?” tanya Jaerin bergetar.

“Saya tidak tahu pasti. Tapi saya dengar itu nama teman tuan Kim yang sudah meninggal beberapa taun yang lalu.” Ucap si pelayan.

Tiba-tiba kaki Jaerin lemas. Ia terduduk di lantai.

“Jaerin kau tidak apa-apa?” tanya Minho khwatir.

“Apakah tuan Kim dulunya tidak tinggal di sini tapi di daerah dekat sini?” tanya Jaerin dengan nada bergetar.

“Ehm~ Ne~” ucap si pelayan.

“Apakah eomma tuan Kim meninggal saat melahirkannya dan appanya meninggal karena kecelakaan?” tanya Jaerin sekali lagi.

Matanya berkeca-kaca.

“Benar sekali.” Ucap si pelayan heran.

“Jaerin kau kenapa?” tanya Minho khawatir.

Ia berjongkok di depan Jaerin.

“Se… sebaiknya kita pulang. Aku tidak enak badan.” Ucap Jaerin.

Minho tau Jaerin menyembunyikan sesutu tapi dia tidak ingin bertanya. Ia takut Jaerin semakin tersiksa dan menangis. Ia memutuskan menggendong Jaerin dan membawanya ke mobil.

“Maaf kami tidak bisa menunggu lama lagi.” Ucap Minho sebelum masuk ke dalam mobil

“Ne~ saya mengerti.” Ucap si pelayan.

Lalu Minho masuk ke dalam mobil.

“Minho bisakah kita mampir ke……”

 

 

6.07 PM

 

“Ku dengar tadi ada yang mencariku.” Ucap Jaejoong yang baru saja tiba.

“Ne~ tuan.” Ucap si pelayan.

“Nugu?” tanya Jaejoong.

“Mereka mengatakan bahwa mereka rekan bisnis tuan.” Ucap si pelayan.

“Nama mereka?” saut Jaejoong.

“Yang namja bernama tuan Choi Minho dan…”

“Minho? Choi Minho? Apakah dia masih muda?” potong Jaejoong.

“Ne tuan. Dia bersama dengan seorang yeoja yang bernama Jaerin.” Ucap si pelayan.

“Jaerin? Seperti apa dia?” tanya Jaejoong.

“Dia cantik dan anggun tuan. Saat dia melihat foto nyonya dan putra tuan, ia sangat senang. Tapi raut wajahnya berubah saat mengetaui nama putra tuan. Dan keadaanya semakin buruk saat mengetaui bahwa nama putra tuan berasal dari nama teman tuan.” Terang si pelayan.

Jaejoong membalikan tubuhnya.

“Ke arah mana mereka pergi.” ucapnya sembari menujuh ke luar.

“Mereka menujuh ke tempat tinggal tuan dulu.” Ucap si pelayan.

“Tolong telpon Yeonra katakan padanya aku tidak pulang hari ini. Katakan juga bahwa Choi Minho datang kemari.” Ucap Jaejoong.

Ia buru-buru masuk ke dalam mobilnya yang di parkir di depan rumah.

“Mengapa mereka ke sana? Tempat itu sudah tidak aman lagi.” Ucap Jaejoong.

Ia meraih ponselnya dari saku jasnya lalu menelpon seseorang.

“Yoochun~ apakah kau sibuk? ……… Kau bisa bantu aku? ……. Kau masih ingat Kim Jaerin? ………. Dia kembali ke tempat tinggalnya dulu. Melewati tempat di mana kejadian itu. ……………. Apa mereka sudah bebas? Itu semakin bahaya! ………….” Ucap Jaejoong mentup pembicaraan kemudian melemperkan ponselnya ke kursi di sampingnya.

 

 

7 PM

 

“Jaerin kau tidak apa-apa?” tanya Minho.

Jaerin tidak menjawab. Ia masih shock.

Minho melepaskan sabuk pengamannya lalu melepaskan sabuk pengaman Jaerin.

“Tenanglah~ ada aku di sini.” Ucap Minho menggenggam tangan Jaerin.

“Untung kau tidak terluka parah. Apa benturan tadi sakit Jaerin?” tanya Minho.

Jaerin tidak mejawab ia hanya menangis.

Tubuh Jaerin gemetaran. Minho medesah.

“Siapa mereka? Apakah mereka gangster?” ucap Minho menatap keluar.

Di luar sana ada beberpa orang mengelilingi mobil Minho. Lalu seorang namja dengan bekas luka di wajahnya mnedekati mobil Minho. Namja itu berdiri tepat di pintu mobil dekat Jaerin. Minho sudah merasakan firasat buruk tentang ini. Dan benar. Namja itu berusaha memecahkan kaca. Minho langsung memeluk Jaerin.

PYAR~

Kaca mobil di dekat Jaerin pecah. Untung saja Minho memeluk Jaerin. Jadi yeoja itu baik-baik saja. Tetapi tidak untuk Minho. Serpihan kaca tadi melukai tubuh Minho.

Namja dengan bekas luka di wajahnya membuka pintu dan menarik Jaerin. Minho berusaha agar Jaerin tidak terlepasa darinya tapi tidak bisa. Seseorang memecahkan kaca pintu yang lain dan menyeret Minho keluar.

“Kau….”

 

 

 

 

To Be Continue….

 

 

Mian lama~

Gimana chapter kali ini?

Maaf klo jelek.

Sepertinya chaoter berikutnya saya protek. Mungkin cuma chapter itu saja.

Mengapa di protek? Karena eh karena ada suatu adegan gitulah.

JANGAN MENGANGGAP ADEGAN HOT!!!

Author cuma mau melindungi chapter berikutnya biar tidak terjadi kesalah pahaman. Syaratnya harus sudah berusia 15 tahun dan mampu menjawab pertanyaan saya. Yang mau passwordnya hubungi admin via FB or Twitter

Oh ya FF ini ada spinoffnya lho~ ada 3 chapter. Hehehe ^^

 

Jangan lupa tinggalkan komentar

When I Knew The Meaning of Love (chapter 8)

Standar

Cast: Minho, Taemin, Onew, Key, Jonghyun, Jaerin *Lyra*, Hyoah *Intan*, Jira *Iha*, Jihee *Reeha*, Jaejoong

Genre: Romantic, Friendship

PG: 15

 

PLEASE DON’T BE SILENT READER, PLEASE COMMENT. AUTHOR NEED YOUR COMMENT. THANKS BEFORE

 

When I Knew The Meaning of Love chapter 8

-The Meaning of Love-

 

Key memandang ke kolam renang. Yeoja itu Jihee. Yeoja itu berenang hingga ke dalaman 2 meter. Key tidak habis pikir. Yeoja itu tidak dapat berenang tapi sok sokan.

Key melepaskan kemejanya dan sepatunya lalu ia meluncur ke dalam kolam renang. Ia meraih Jihee dan membawa yeoja itu ke tepi. Seseorang membantunya membawa Jihee ke daratan. Lalu ia naik ke daratan dan membantu Jihee. Ia memberikan pertolongan pertama kepada Jihee.

“Yeoja paboya.” Ucap Key begitu melihat Jihee tersadar.

“Tolong ambilkan handuk.” Pintah Key kepada seorang karyawan yang ada di dekatnya.

Jihee bangkit. Ia sedikit terkejut.

“Sudah bagus tadi kau bermain air di kedalaman 1,5 meter. Kenapa nekat ke 2 meter? Kau tahu sendiri kau tidak bisa renang. Kau merepotkan saja.” Ucap Key.

Seseorang memberikan 2 handuk kepada Key. Key memberikan salah satunya kepada Jihee. Tapi Jihee tidak menerimanya. Jihee malah menangis. Key mendesah. Key menutupi tubuh yeoja itu dengan handuk lalu menggendong yeoja itu.

“Kau berat sekali. Berapa beratmu.” Ucap Key.

Tangis Jihee meledak.

“Key!!!” sentak Jaejoong yang muncul tiba-tiba.

“Kau apakan dia?” sentak Jaejoong.

“Saya tidak mengapa-ngapakan dia tuan. Dia habis tenggelam. Saya menyelamatkannya.” Ucap Key.

“Bagaimana bisa dia bisa tenggelam? Kau pasti teledor.” Sahut Jaejoong.

“Maafkan saya tuan.” Ucap Key.

“Jangan minta maaf kepada saya. Minta maaflah kepada dia.” Sahut Jaejoong.

“Baik.” Ucap Key.

“Saya masih banyak urusan. Jadi tidak bisa selalu mengawasi. Tolong jangan terulang lagi.” Ucap Jaejoong lalu meninggalkan Key.

Key lanjut berjalan. Ia masuk ke dalam kamar Jihee dan membaringkan Jihee di tempat tidur. Kemudian Key menyelimuti yeoja itu.

“Apakah kau tadi berniat bunuh diri? Karena payah hati?” tanya Key.

Jihee diam.

“Aku tidak tahu apa yang ada di otak kalian.” Ucap Key.

“Suka mengejar-ngejar orang yang di cintainya, pemaksa, manja, merepotkan.” Lanjut Key.

Ia berjalan mendekati jendela. Ia memandang ke luar.

“Yeoja sepertimu memang orang yang aneh.” Cletuk Key.

“Tidak aneh!” sahut Jihee.

“Yeoja itu sungguh rapuh. Kerikil kecil saja bisa memecahkan hatinya.” Isak Jihee.

Key memalingkan tubuhnya menatap Jihee.

“Aku melakukan itu semua untuk memuaskan hatiku. Aku ingin mendapatkan yang aku mau. Aku tidak bisa jika aku tidak mendapatkan yang ku mau. Karena itu sungguh menyakitkan di hatiku.” Isak Jihee.

Key terdiam. Ia berjalan menujuh ke kamer mandi. Beberapa menit kemudian ia keluar.

“Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Berendamlah untuk menenangkan pikiranmu.” Ucap Key kepada Jihee lalu pergi ke luar kamar.

 

 

10.03 AM

 

Jonghyun berujalan menujuh café. Ia mendapati Key duduk melamun. Ia mendekati Key dan duduk di dekatnya.

“Apa yang kau lamunkan?” tanya Jonghyun.

Key tersadar dari lamunannya.

“Tidak~ tidak ada.” Ucap Key lalu meneguk soda yang ada di hadapannya.

Jonghyun tersenyum simpul.

“Kau tidak bisa membohongiku. Katakanlah apa yang kau pikirkan, aku akan membantumu.” Ucap Jonghyun.

Key berpikir sejanak. Kemudian ia berkata,

“Apakah yeoja itu sungguh rapuh?”

“Ye~ yeoja itu sungguh rapuh. Mereka muda terluka. Tapi banyak dari mereka yang kuat menahan luka. Ada juga yang tidak dapat menahan luka mereka sehingga mereka sering kali menangis.” Terang Jonghyun.

“Apa kau pernah membuat yeoja menangis?” tanya Key.

“Pernah. Termasuk eommaku. Aku tidak bermaksud untuk membuat mereka menangis;. Tapi aku tidak ingin dikengkang oleh mereka.” Ucap Jonghyun

“Cantik~ aku pesan cappucino. Kau antarkan ya.” Cletuk Jonghyun kepada waiter yang melintas.

Key mendesah.

“Kau genit.” Cletuk Key.

Jonghyun tersenyum simpul.

“By The Way kenapa kau bertanya soal itu?” tanya Jonghyun.

“Tidak apa-apa.” Ucap Key.

“Baiklah jika kau tidak ingin mengatakannya.” Ucap Jonghyun.

Mereka terdiam.

“Apakah Minho berpacaran dengan Jaerin?” tanya Jonghyun tiba-tiba.

Key menatap Jonghyun.

“Kenapa kau berpikir seperti itu?” sahut Key.

“Entahlah mereka sangat dekat. Katamu Minho belum pernah dekat dengan yeoja. Jadi aku pikir mereka berpacaran.” Ucap Jonghyun.

“Tidak~ mereka tidak berpacaran.” Ucap Key.

“Apa kau yakin?” tanya Jonghyun penasaran.

“Kenapa kau pertanyakan ini? Kau suka dengan Jaerin?” sahut Key.

“Ehm~ aku tertarik dengannya.” Cletuk Jonghyun.

Key memekul kepalah Jonghyun.

“Aish~ apa yang kau lakukan.” Sahut Jonghyun memegangi kepalahnya.

“Jangan dekati dia, dia bukan permainan.” Sahut Key.

“Memangnya siapa yang akan mempermainkanya.” Cibir Jonghyun.

“Kau seharusnya ingat kau seorang cassanova dan dia tidak mungkin tahan denganmu. Terlebih lagi kau terlalu bergairah & bernafsu. Dia pasti takut.” Sahut Key.

“Sepertinya kau tahu banyak tentangnya.” Ucap Jonghyun memandang Key.

“Dia hampir sama denganku. Tapi dia bisa menahan emosinya tidak sepertiku yang langsung mengomel-ngomel. Dan dia lebih mengerti cinta dari pada diriku. Aku tak tahu apa itu cinta. Apa artinya. Seperti yang kau tahu.” terang Key.

“Apakah kau sudah lama mengenal Jaerin?” tanya Jonghyun.

“Ani~ baru-baru saja. Karena suatu insiden.” Sahut Key.

“Insiden ciuman?” sahut Jonghyun.

Key mengangguk.

“Jaerin sangat marah saat Minho menciumnya. Ia lari dan menangis. Ia tidak dapat meluapkan amarahnya kepada Minho. Ia hanya menangis.” Ucap Key.

“Tapi aku dapat merasakan bahwa dia mencintaiku. Dia selalu gugup di dekatku.” Cletuk Jonghyun.

“Dia takut kau melakukan hal buruk padanya, maka ia sedikit aneh. Sudahlah sebaiknya kau cari yeoja lain saja jangan Jaerin. Sepertinya Minho mulai ada rasa dengannya.” Celtuk Key lalu bangkit meninggalkan Jonghyun.

“Ini cappucinonya tuan.” Ucap seorang pelayan meletakkan cangkir di meja Jonghyun.

Jonghyun hanya diam saja. Ia terdiam dalam lamunan hingga pelayan itu pergi.

“Aku yakin dia mencintaiku. Bukankah dulu dia mengejar-ngejarku. Membuntutiku setiap waktu.” Ucap Jonghyun pelan lalu menyesap kopinya.

 

 

11.35 AM

 

“Jinki boleh kah kami duduk di sini?” tanya seorang yeoja.

Jinki tersenyum.

“Aniyo~ aku ada janji dengan seseorang kami tidak ingin diganggu. Cari tempat yang lain ya.” Ucap Jinki.

“Ya~ biasanya kami boleh duduk bersamamu dengan chingumu7.” Ucap yeoja yang lain.

“Kali ini bukan sekedar chingu.” Sahut Jinki.

Para yeoja itupun meninggalkan Jinki. Mereka duduk di bangku kosong yang masih tersedia.

Jinki memandang makanannya. Ia sedikit tidak bernafsu makan. Ia hanya memain-mainkannya.

“Apa yang kalian bicarakan?” sahut seseorang.

Jinki mendongak. Ia melihat Hyoah berderi dengan mapan berisi makananan.

“Bukan apa-apa. Mereka ingin duduk bersamaku tapi aku menolaknya.” Ucap Jinki.

Hyoah duduk di sampingnya.

“Ku harap kau tidak menggoda yeoja lain.” Cletuk Hyoah.

“Yang ada mereka yang menggodaku. Bukankah kau memperhatikannya selama ini.” Sahut Jinki.

“Hm~ iya juga.” Ucap Hyoah lalu memakan makanannya.

“Jagi~ sepertinya makananmu enak. Boleh aku minta.” Cletuk Jinki.

“Makan makananmu sendiri. Bukankah makananmu masih utuh.” Sahut Hyoah.

Jinki menggeleng.

“Ani~ aku tidak mau makananku, aku mau makananmu.” Rengek Jinki.

Hyoah mendesah.

“Kau seperti anak kecil saja. Ini.” Ucap Hyoah menyodorkan piringnya.

Jinki menggeleng.

“Suapin~” ucapnya manja.

Hyoah memandang Jinki heran.

“Kenapa kau jadi manja begini? Apa kau tidak malu di lihat orang.” Cletuk Hyoah.

“Kitakan sudah berpacaran, sah sah saja dong jika kita seperti ini. Bukankah akan menyenangkan?” sahut Jinki lalu tersenyum kepada Hyoah.

“Asih~ aku tidak bisa menolakmu jika kau tersenyum seperti itu.” Ucap Hyoah.

Lalu ia menyuapkan makanan kepad Jinki. Ya mereka saling suap-suapan dan saling membelai. Beberapa yeoja yang melihat miris menangis melihat kemesraan Hyoah & Jinki. Mereka hampir menangis karena cemburu.

“Jagi~ sepertinya da yang tidak suka jika kita seperti ini.” Ucap Hyoah.

“Tidak usah dipedulikan, mereka harus menerima kenyataannya.” Ucap Jinki lalu mengecup kening Hyoah.

“Ada sisa nasi di bibirmu.” Ucap Jinki membersihkan bibir Hyoah.

Lalu ia mencium bibir Hyoah. Terdengar beberapa jeritan yeoja.

“Jinki~ tak seharusnya kau melakukannya di sini.” Ucap Hyoah. Setelah Jinki melepaskan ciumannya.

“Aku ingin menyakinkan mereka bahwa kau adalah yeojachinguku. Karena cinta tak dapat di tolak. Aku tidak mungkin memnyembunyikan betapa aku mencintaimu. Akan ku lakukan apapun demi mempertahankan cinta ini.” Ucap Jinki.

“Bisakah kau berkata dengan sederhana. Aku tidak dapat memahami kata-katamu.” Ucap Hyoah.

“Aku hanya mencoba memberikan pengertianku tentang arti cinta.” Ucap Jinki.

“Maksudmu kau lakukan ini karena kau tau arti cinta itu seperti ini.” Sahut Hyoah.

“Ye~ arti cinta~. Cinta itu memberi dan menerima. Saling berbagi.” Sahut Jinki.

“Aku ada arti yang lain.” Sahut Hyoah.

“Apa?” sahut Jinki.

“Cinta tak harus memiliki.” Ucap Hyoah.

“Maksudmu?” sahut Jinki.

“Aku sudah lama mencintaimu tapi aku tidak memilikimu. Aku cukup senang dengan hanya mencintaimu.” Terang Hyoah.

Jinki tersenyum.

“Tapi cinta indah pada akhirnya.” Ucap Jinki lalu merangkul Hyoah.

 

 

2.32 PM

 

“Jaerin kau tidak pulang?” tanya Jira.

“Aniyo~ aku masih ada tugas.” Jawab Jaerin sibuk membuka buku.

“Bailah, aku pulang dulu dengan Taemin.” Ucap Jira.

“Hm~” ucap Jaerin tidak berpaling dengan buku-bukunya.

“Jangan pulang larut.” Ucap Taemin.

“Hm~” ucap Jaerin.

“Hya~ Jaerin kau dengar tidak?” sentak Taemin.

“Ya ya aku mendengarnya. Aku tidak akan pulang larut.” Sahut Jaerin mentap Taemin.

“Baiklah kami pergu dulu.” Ucap Taemin.

Jira dan Taemin pergi meninggalkan Jaerin di kelas. Mereka berjalan ke laur.

“Kita jalan-jalan dulu ya Jira.” Ucap Taemin.

“Kemana?” tanya Jira.

“Kau ingin kemana?” tanya Taemin balik.

“Beli ice cream yuk.” Ucap Jira.

Taemin mengangguk.

“Ini kenakan helmmu.” Ucap Taemin menyodorkan helm kepada Jira.

Jira menggenakannya. Taemin juga menggenakan helmnya. Ia naik dan menyalakan sepeda montornya.

“Ayo naik!” seru Taemin.

Jira naik ke sepeda montor Taemin.

“Pegangan yang kuat.” Ucap Taemin.

Jira langsung melingkarkan tangannya di perut Taemin.

Beberapa menit kemudian mereka tiba di mall.

“Kenapa di mall?” cletuk Jira dalam perjalanan menujuh ke suatu tempat.

“Aku dengar ada toko ice cream di sini. Rasa ice creamnya enak-enak.” Ucap Taemin.

“Di mana?” tanya Jira.

“Itu di depan sana.” Sahut Taemin menunjuk ke sebuah arah.

Jira memandang arah yang di tunjuk Taemin. Ia langsung beragairah. Ia langsung menarik Taemin ke toko ice cream.

“Kau mau pesan apa Jira?” tanya Taemin.

“Cone rasa vanilla dan mint saja.” Ucap Jira.

“Cone rasa vanilla dan mint satu, cone rasa cappucino dan choco cips satu.” Ucap Taemin kepada pelayan toko ice cream.

Beberapa menit kemudian mereka ke luar toko sembari menikmati ice cream mereka.

“Kemana lagi kita?” tanya Jira.

“Ke game zone yuk!” seru Taemin.

Jira mengangguk.

“Ada sisa ice cream di bawah bibir mu.” Ucap Taemin membersihkan bagian bawah bibir Jira.

Lalu Taemin terdiam.

“Waeyo? Apa yang kau pikirkan?” tanya Jira.

“Ah, aniyio~ ayo kita ke game zone!” sahut Taemin.

Jira menjilati ice creamnya.

“Dia tampak aneh tadi.” Ujar Jira pelan.

Setibanya di game zone Jira meminta Taemin meminta Taemin untuk mendapatkan boneka di box boneka.

“Kau ingin boneka apa?” tanya Taemin.

“Terserah. Yang menurutmu bagus.” Ucap Jira.

“Pegangkan dulu ice creamku.” Cletuk Taemin menyodorkan ice creamnya kepada Jira.

Jira menerimanya.

“Ada sisa-sisa ice cream di bibirmu dan sekitarnya.” Ucap Jira menunjuk-nunjuk bibir Taemin.

“Jinca?” sahut Taemin.

Lalu ia mencium pipi Jira.

“Sekarang sudah tidak ada bukan.” Ujar Taemin.

“Iya sudah tidak ada tapi di pipiku ada.” Omel Jira.

Taemin tertawa lalu ia mencoba mendapatkan boneka di box boneka. Dan ia berhasil mendapatkan boneka kelinci berwarna merah muda.

Jira berlonjak-lonjak senang. Ia memeluk Taemin kemudian menyodorkan ice creamnya ke Taemin. Ia menerima boneka kelinci Taemin.

Ia girang. Ia memakan ice cream yang ada di tangannya lalu ia tersadar. Itu bukan ice cream miliknya.

“Aish~ ini ice cream milikmu. Cappucinonya pahit. Aku tidak seberapa suka.” Ujar Jira.

Taemin tertawa melihat ekspresi Jira. Ia memakan ice cream Jira yang ada di tangannya kemudian ia menempelkan bibirnya di bibir Jira. Ia mengulum bibirnya dengan bibir Jira. Ia menyesap sisa-sisa ice cream di bibir Jira.

“Sudah tidak pahit bukan.” Ucap Taemin setelah melepaskan ciumannya.

Jira terdiam merona.

“Bagaimana rasanya?” tanya Taemin.

“Manis~ seperti susu.” Ucap Jira pelan.

Taemin tersenyum. Ia mengacak-ngacak rambut Jira.

“Kenapa kau melakukannya. Lihat rambutku berantakan.” Omel Jira cemberut.

“Aku senang melihatmu seperti itu. Kau sungguh lucu.” Sahut Taemin.

“Kau senang aku yang susah.” Omel Jira cemberut.

“Mianhae~ Jangan marah padaku. Itu bukti sayangku padamu. Jika aku tidak akan menyakitimu. Jika kau tidak suka, baiklah akan ku lakukan itu padamu saat aku mau.” Sahut Taemin.

“Apa?” sahut Jira.

“Chu~” sahut Taemin.

“Kau pikir cinta hanya butuh chu.” Sahut Jira.

“Ani~ cinta lebih butuh perhatian dan pengorbanan. Maka dari itu aku akan selalu memperhatikanmu dan berkorban demimu.” Ucap Taemin.

“Gomawo Taemin~” ucap Jira memeluk Taemin.

 

 

4.05 PM

 

Jaerin membereskan mejanya yang penuh dengan brangnya. Ia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas lalu ia beranjak ke luar kelas. Suasana sungguh sepi.

“Kau belum pulang?” sahut seseorang hampir mengagetkan Jaerin.

“Ini aku mau pulang.” Ucap Jaerin.

“Jangan pulang dulu. Tontonlah pertandingan basket sekolah kita.” Ucap orang itu.

“Tapi aku tidak ingin pulang telat.” Ucap Jaerin.

“Ini tidak berlangsung lama. Mungkin 25 menit lagi selesai. Tolong dukung sekolah kita. Score pertandingan masih beda tipis.” Ucap orang itu.

“Baiklah. Aku akan menontonnya.” Ucap Jaerin.

“Pertandingannya ada di lapangan luar.” Ucap orang itu lalu berlari pergi ke arah berlawanan.

Jaerin mendesah. Ia tidak seberapa suka melihat pertandingan basket. Bahkan bisa di bilang ia tidak ingin melihat pertandingan basket. Basket hanya mengingatkannya kepada seseorang di masa lalu. Orang yang mirip dengan Minho, yaitu Donghae. Bedanya Donghae menomersatukan balapan lalu menomerduakan basket. Sedangkan Minho, ia menomersatukan basket lalu menomerduakan balapan.

Lapangan sungguh ramai dengan suporter. Kebanyakan dari mereka adalah yeoja. Jaerin tidak dapat melihat pertandingan karena tertutup oleh suporter. Lalu ia memutuskan untuk tidak melihat. Saat beranjak pergi, DUG~ sebuah bola basket mengenainya. Ia memegangi dahinya dan merintih ke sakitan.

“Kau tidak apa-apa?” tanya seseorang.

Jaerin menatap orang itu ia tersentak.

“Jaerin~ kau tak apa-apa?” tanya orang itu.

“Minho~ kau~” sahut Jaerin.

“Kami ada pertandingan hari ini.” Ucap Minho.

Ia mengambil bola basket yang mengenai Jaerin tadi lalu menarik Jaerin ke tepi lapangan.

“Duduklah di sini. Jangan pergi dulu.” Ucap Minho menyuruh Jaerin duduk bersama dengan pemain cadangan dari sekolahnya.

Lalu Minho masuk ke lapangan dan mulai bertanding.

“Hai Jaerin~ ini sekolahmu yach?” sapa seorang pemain cadangan.

“Oh hai~ iya ini sekolahku.” Sahut Jaerin.

“Ini, pakailah ini di kepalahmu.” Ujar seorang pemain cadangan menyodorkan bungkusan handuk berisi air es.

“Gomawo~” ucap Jaerin menerima pemberian orang itu.

“Key tidak ikut?” tanya Jaerin ketika tidak menemukan wajah Key di lapangan.

“Urusannya masih belum selesai.” Ucap salah seorang pemain cadangan.

Jaerin mengangguk. Ia mengompres keplahnya sembari memperhatikan Minho bermain. Para yeoja bersorak ketika melihat Minho mencetak score. Jaerin tidak habis pikir teman satu sekolahnya mendukung musuh. Ia hanya bisa geleng-geleng kepalah.

Beberapa menit kemudian pertandingan usai.

“Kau hebat sekali.” Ucap Jaerin.

Minho hanya tersenyum. Lalu meneguk air mineral.

“Sayang sekali tim basket sekolahku kalah. Padahal aku sudah-susah menyempatkan diri kemari untuk mendukung tim sekolahku.” Ucap Jaerin.

Minho terseledak. Ia terbatuk-batuk.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jaerin khawatir.

“Hya Jaerin jadi kau tadi tidak mendukung Minho?” sahut seorang pemain.

Jaerin sedikit bingung.

“Sudahlah jangan dipermasalahkan.” Ucap Minho.

“Mana ke dua chingumu itu?” tanya Minho kepada Jaerin.

“Mereka sudah pulang duluan.” Ucap Jaerin.

“Kenapa kau belum pulang?” tanya Minho.

“Aku mengerjakan tugas di kelas tadi. Dan baru saja selesai.” Ucap Jaerin.

“Kenapa tidak di selesaikan di apartemenmu saja.” Ucap Minho.

“Aku tidak punya bukunya. Tadi aku menggunakan buku milik temanku. Ini saja aku akan mengembalikannya.” Ucap Jaerin.

“Jadi sekarang kau ingin mengembalikan buku ke rumah temanmu?” tanya Minho.

Jaerin mengangguk.

“Akan ku antarkan. Aku membawa mobil.” Sahut Minho.

“Tidak usah. Pasti kau ada acara makan-makan dengan timmu. Kaliankan menang.” Sahut Jaerin.

“Tidak apa-apa aku bisa bergabung bersama mereka setelah mengantarkanmu.” Ucap Minho.

“Baiklah~ itu jauh lebih aman dari pada ke sana sendirian.” Sahut Jaerin.

 

 

 

5.01 PM

 

Key duduk di ayunan tepat di sebelah Jihee.

“Apa yang kau lamunkan?” tanya Key.

“Bukan urusanmu.” Sahut Jihee ketus.

“Itu akan jadi urusanku. Jika kau melamun terus masuk jurang, aku yang akan di salahkan. Bisa-bisa tuan Kim Jaejoong membunuhku.” Cletuk Key.

“Ternyata kau peduli pada dirimu sendiri.” Sahut Jihee.

“Bukannya kau begitu?” sahut Key.

Jihee mendesah.

“Tidak ada satu namjapun yang mau denganku. Sepertinya perkataanmu benar. Memang ada apa denganku hingga paran namja tidak menyukaiku.” Ucap Jihee mulai berayun.

Key memandang lurus ke dapan.

“Kau yeoja yang liar. Tidak dapat di kendalain. Namja tidak suka yeoja yang tidak dapat ia kendalian.” Sahut Key.

“Berarti namja suka memainkan yeoja.” Sahut Jihee.

“Bukan seperti itu. Namja tidak suka yeoja yang agresig. Itu sungguh menganggu. Kau sangat agresif dan kekana-kanakan.” Sahut Key.

“Jinca? Aku seperti itu?” sahut Jihee.

“Ye~” ucap key.

“Appa benar. Sepertinya aku harus bersikap dewasa. Lalu apa yang harus aku lakukan?” ujar Jihee.

“Berhenti menggantungkan orang lain dan bermanja-manaj.” Ucap Key.

“Kau mengatakn itu karena ingin keluar dari tugasmu melayaniku bukan?” sahut Jihee menatap Key.

“Akhirnya kau mengerti juga.” Sahut Key tertawa senang.

“Asih~ aku tidak akan melepaskanmu.” Sahut Jihee.

“Kenapa tidak bisa melepaskanku? Apakah kau menicntaiku?” sahut Key.

“Aniyo~” sentak Jihee beranjak dari ayunan.

“Aku tidak mencintaimu.” Sentak Jihee lalu pergi meninggalkan Key.

“Jika tidak cinta kenapa matah?” sahut Key lalu tertawa.

 

6.47 PM

 

“Aku duluan ya, aku ingin mengantarkan Jaerin pulang.” Pamit Minho kepada Temannya.

Ia dan Jaerinpun keluar dari rumah makan dan menujuh ke mobil. Mereka masuk ke dalam mobil dan menujuh ke rumah Jaerin.

“Sepertinya aku merepotkanmu saja.” Ucap Jaerin dalam perjalan.

“Aniyo~ aku senang melakukannya. Sudah lama aku ingin seperti ini. Dulu noonaku pernah melakukan ini kepadaku. Saat aku masih kecil. Aku sungguh merindukannya.” Ucap Minho.

“Apakah keluargamu sudah mencarinya ke segala tempat?” tanya Jaerin.

“Sudah. Kami sudah lapor ke kantor polisi dan mengumumkannya ke media massa tapi hasilnya nihil.” Ucap Minho.

“Setahun setelah menghilang orang tua memutuskan menganggap noonaku benar-benar meninggal. Mereka sangat marah dengan noonaku. Mereka melupakan noonaku.” Lanjutnya.

“Apakah kau begitu?” tanya Jaerin.

“Awalnya aku marah karena noonaku tidak mendengarkan perkataan orang tuaku. Tapi akhirnya aku mengerti dan aku tidak marah kepadanya. Aku smerindukannya. Aku yakin dia masih hidup. Mungkin ia berada di suatu tempat.” Terang Minho.

Lalu mereka terdiam.

Beberapa saat kemudian Minho mengerem mendadak.

“Ada apa?” tanya Jaerin panik.

“Sepertinya aku melihat noonaku.” Jawab Minho memandang ke arah pejalan kaki.

Ia menyelusuri para pejalan kaki dengan matanya.

“Apa kita turun saja dan mengeceknya?” saran Jaerin.

“Ani~ aniyo. Sepertinya aku salah lihat. Mungkin saja aku hanya membayangkannya karena aku sedang memikirkannya.” Ucap Minho lalu mejukan kendaraanya.

“Suatu saat kau pasti bertemu dengan noonamu. Oh ya jika boleh tahu siapa nama noonanamu?” cletuk Jaerin.

“Yeonra, Choi Yeonra.” Jawab Minho.

“Astaga~” cletuknya menagetkan Jaerin.

“Ada apa?” tanya Jaerin khawatir.

“Mungkin saja noonaku berusaha menemui kami tapi dia tidak menemukan kami. Kami pindah rumah setahun setelah dia menghilang.” Sahut Minho.

“Sebaiknya kita ke rumahmu yang dulu. Siapa tahu tetanggamu melihatnya datang ke sana.” Ucap Jaerin.

“Baiklah. Sekarang juga kita meluncur ke sana.” Ucap Minho.

 

 

7.35 PM

 

“Ini rumahmu yang dulu?” tanya Jaerin setelah turun dari Mobil.

“Ye~ sedikit lebih kecil dari rumah kami yang baru.” Ucap Minho.

“Jadi rumahmu yang baru jauh lebih besar dari ini?” sahut Jaerin.

Minho mengangguk.

“Ini saja sudah besar.” Ucap Jaerin.

Minho tidak mendengar apa yang di katakan Jaerin. Ia berjalan ke rumah tetangganya. Tepat sekali. Tetangganya keluar rumah dan mendapati Minho berjalan ke arahnya.

“Minho~” ucap tetangga Minho yang seorang halmeoni.

“Halmeoni~ bagaima kabarmu.” Sapa Minho.

“Aku baik-baik saja. Sudah lama aku tak bertemu denganmu. Kau sudah besar. Kau tinggi sekali.” Ucap  Halmeoni.

Minho tersenyum.

“Ne~” ucapnya.

“Oh ya, Yeonra. Choi Yeonra masih hidup.” Ucap halmeoni.

“Apakah dia kemari?” sahut Minho.

“Beberapa minggu yang lalu ia kemari dengan membawa anak dan suaminya.” Ucap halmeoni.

“Anak? Suami?” sahut Minho.

“Sepertinya noonamu itu kawin lari. Apa orang tuamu tidak mengizinkan mereka berhubungan?” ucap halmeoni.

Minho hanya terdiam. Jaerin angkat bicara.

“Apa dia memberi tau dimana ia tinggal?” tanya Jaerin.

“Siapa kau?” tanya halmeoni.

“Aku temannya Minho.” Ucap Jaerin.

“Oh~ dia mengatakan saat ini ia tinggal di rumah keluarga suaminya. Sebelumnya ia tinggal di rumah suaminya.” Terang halmeoni.

“Halmeoni tau siapa nama suaminya? Dan di mana suaminya bekerja?” tanya Jaerin.

“Nama suaminya. Kim~ Kim~ Kim siapa ya, aku lupa. Sepertinya suaminya itu orang kaya. Wajahnya tampan bagai malaikat. Ku rasa mereka sudah menjadi keluarga yang bahagia.” Terang halmeoni.

“Minho~ kau titipkan saj alamtmu kepada halmeoni. Jika noonamu kemari ia bisa meberikan alamatmu.” Bisik Jaerin.

Minho mengangguk.

“Kau ada kertas dan pen?” tanya Minho.

Jaerin mengangguk.Ia mengeluarkan kertas dan pen dari tasnya lalu memberikannya kepada Minho. Minho mencatat alamat rumah beserta nomer telpon rumah dan HPnya. Ia memberikannya kepada halmeoni.

“Tolong berikan kertas ini kepada noonaku jika ia datang kemari.” Ucap Minho.

“Aku ingat.” Cletuk halmeoni.

“Ingat apa?” sahut Minho penasaran.

“Dimana suaminya bekerja.” Sahut halmeoni.

“Dimana?” tanya Minho dan Jaerin bersamaan.

 

 

 

To Be continue…

 

Cepet banget ya udah posting ^^

author rada terbawa NC di chapter ini *ini aslinya FF NC* XD

Jangan lupa komentar ya ^^

Oh ya, author ada spinoff *cerita diluar cerita* yang munkin posting Januari besok =3

 

BTW enaknya di tamatin sampai berapa chapter ya ^^