Category Archives: Twoshoot

I Love Fussy Girl! (Kai Exo Birthday) Part2

Standar

Judul : I Love Fussy Girl! (Kai Exo Birthday) Part2

Author : Aqila

Cast : Cho Jehee, Kai (Kim JongIn) Exo, Cho Kyuhyun, Cho Ah-Ra, Kris Exo, Sehun Exo, Suho Exo, Han Ha Gun.

Genre : Romance

Rating : G

-Twoshoot-

Note : Annyeong yeorobeun! Ini Part 2 lanjutan yang post an pertamaku. Semoga suka yaaa, aku tunggu komentar kalian. Dan karena ini khusus untuk perayaan ultahnya Kai Exo aku mau ngucapin selamat dulu deh, buat Kai Oppa~ saeng il chukkae!!! Semoga makin sukses ditahun 2013 J

I Love Fussy Girl! (Kai Exo Birthday) Part2

Cho Jehee dan Kai yang semakin disibukkan oleh persiapan pesta dansa. Beruntungnya, semua berjalan dengan baik. Dan seusai pesta dansa, mereka masih saja memiliki sejuta alasan untuk terus bertemu, bertatap muka, dan sekedar mengecek kondisi masing – masing, atas efek dari setiap pertemuan mereka.

 

Kim JongIn (Kai) PoV

Jehee mencoba beberapa pakaian pada sebuah butik langganan nunaku. Ini adalah satu – satunya tempat yang aku ketahui ketika ingin mencari pakaian. Tidak ada yang lain, karena butik yang biasa aku kunjungi adalah butik khusus namja.

Sebenarnya aku ingin sekali menunggunya sembari tertidur. Sofa ruang tunggu butik ini cukup nyaman. Tapi bodohnya, rasa kantukku hilang begitu saja. Mataku malah terbuka lebar. Jantungku bekerja melebihi batas. Sekedar menunggu penampilannya setiap kali mencoba mengenakan gaun gaun cantik.

Aku menyukai semua gaun yang dikenakannya. Tubuhnya begitu ideal untuk semua gaun. Atau mungkin karena aku yang mulai menyukainya? Sampai sulit mencari waktu kapan dia terlihat jelek ataupun buruk.

Read the rest of this entry

Iklan

I Love Fussy Girl! (Kai Exo Birthday) Part1

Standar

Judul : I Love Fussy Girl! (Kai Exo Birthday) Part1

Author : Aqila

Cast : Cho Jehee, Kai (Kim JongIn) Exo, Cho Kyuhyun, Cho Ah-Ra, Kris Exo, Sehun Exo, Suho Exo, Han Ha Gun.

Genre : Romance

Rating : G

 

-Twoshoot-

Note : Ini aku buat untuk merayakan hari ulang tahun Kai Exo pada 14 Januari 2013 yang ke 19 tahun yang akan datang. Dan salam kenal, aku baru pertama kali ngirim FF ke blog ini. Semoga kalian semua bisa memaklumi kalo masih ada kekurangannya dan ditunggu komentarnya yaa.

 

Happy reading guys!!

 cats

Yeoja mungil dengan suara nyaring dan kalimat panjangnya. Menutupi semua kepribadian Kai yang terkadang lebih memilih untuk terdiam. Walaupun terkadang dia menyerah untuk menjadi diam ketika bersama Jehee. Persiapan malam pesta dansa yang mengesankan. Membuat mereka yang awalnya selalu bertukar debat tak penting dan selalu ribut, menjadi sebuah keakraban tersendiri yang tercipta.

 

Kim JongIn (Kai) PoV

Kemarin hanya kebetulan. Kemarin lusa juga hanya kebetulan. Dan kemarin sebelum lusa juga hanya kebetulan. Tiga kali kebetulan yang aku temui. Jangan sampai ada yang keempat. Itu sama saja membuat aku untuk menarik kesimpulan bahwa ini semuan adalah.. Pertanda takdir?

“Kai~ssi?” Aku menoleh ke arah orang yang menepuk ringan pundakku. Dia tersenyum kecil menahan tawa saat melihat ekspresiku yang mungkin menurutnya aneh. Entah kenapa aku malah berpikiran orang yang menepuk pundakku adalah dia, yeoja yang aku temui beberapa hari belakangan ini. Dan aku menjadi menoleh dengan perasaan berharap. “Wae? Apa kau begitu merindukanku, eo?”

Read the rest of this entry

Like A Wind (Part 1)

Standar

Like A Wind Part 1

Judul : Like A Wind

Author : Tiara Shahnaz

Facebook : Tiara Shahnaz

Twitter : @tiara_sielf

Cast :   Super Junior’s Eunhyuk

Kwan Jikyo (OC)

Super Junior’s Member

Genre: Sad, romance

Twoshoot

Rating: PG

Eunhyuk FF Korea_

Prolog:

Sebuah kecelakaan kecil saat hendak menuju dorm Super Junior membuat Eunhyuk harus terbaring di kamar inap salah satu rumah sakit di Seoul. Tangannya mengalami keretakan tulang yang mengakibatkan dia tidak bisa –untuk sementara- melakukan hal paling dicintainya, menari. Tapi siapa sangka, di tengah kondisi buruknya itu, dia menemukan sosok yang bisa mengembalikan senyumnya.

Read the rest of this entry

Sarang Bi (Final Chapter)

Standar

Let’s meet when Rain~ Rain~ Rain~

Cast: Donghae, Hangeng, Jaerin, Jihee, Hyekyu

Genre: Tragedy, Romantic

PG: 15

Please don’t be silent reader

Komentar ya ^^

  

Malam hari

Aku masih memikirkan apa yang dikatakan Jihee. Apa benar Donghae selingkuh? Memang akhir-akhir ini ia terlihat aneh. Dia sering melupakan janjiku. Dia memetingkan pekerjaannya. Apakah dia benar-benar banyak pekerjaan?

HPku berbunyi. Ada MMS masuk dari Hyekyu. Aku segera membukanya. Dan aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Seakan-akan waktu berhenti dan semuanya berputar. Aku tidak dapat berpikir jernih. Setetes demi tetes air yang keluar dari kedua mataku membasahi kedua pipiku.

Keesokan harinya

Donghae POV

Aku ingin mengunjunginya sebelum aku bekerja. Aku memasuki toko di mana ia berkeja. Tapi aku tidak melihatnya. Aku hanya melihat chingunya Hyekyu.

”Hyekyu, Jaerin kemana?” tanyaku.

Tapi tidak ada respon darinya.

”Hyekyu, kau dengar aku?” tanyaku sekali lagi.

Yeoja itu tidak mempedulikanku. Ia berjalan masuk kedalam suatu ruangan.

”Doanghae, Jaerin tidak masuk kerja hari ini.” sahut sebuah suara.

Aku melnoleh ke asal muasal suara. Ternyata ahjumma pemilik toko.

”Apakah dia sakit?” tanyaku.

”Aku tidak tahu. Mungkin ia sedang bekerja di apertemennya.” ucapnya.

”Oh~” ucapku.

”Lihat saja ke apertemenya.” ujarnya.

Aku mengangguk.

”Tolong seikat bunga Krisan putih.” ujarku kepada pemilik toko.

”Untuk Jaerinkah?” tanyanya sembari mengambil bunga Krisan putih.

”Tentu ia sangat menyukai bunga Krisan.” ucapku.

”Kau tidak memberika mawar merah untuknya?” cletuk pemilik toko.

”Tidak. Aku tidak tahu apa ia suka bunga itu. Aku tidak ingin memberikan sesuatu yang tidak ia sukai.” ucapku.

Sekarang aku sudah berada di depan pintu apertemennya. Ku harap ia ada. Aku mengambil nafas dan menekan bell apertemennya.

Sudah 5 menit aku berdiri. Sudah 5 kali aku menekan bell apertemennya. Tapi tidak ada jawaban darinya.

Aku menghubunginya, HPnya tidak aktif. Sepertinya ia sibuk. Aku mendesah. Padahal aku ingin bertemu dengannya dan memberikan bunga untuknya.

Aku melangkah pergi dari apertemennya. Aku masuk dalam mobil dan melemparkan seikat bunga krisan ke bangku belakang.

Sekarang aku harus bekerja. Aku harus fokus.

Aku melihatnya duduk sendiri. Aku keluar dari mobil.

”Kau sudah lama menungguku.” ucapku.

Yeoja itu menggeleng. Aku mengulurkan tanganku.

”Ayo kita berangkat.”

Ia menerima uluran tanganku. Aku bisa merasakan tangannya yang dingin. Aku yakin dia sudah lama menungguku. Tak seharusnya aku mampir menemui Jaerin. Seharusnya aku menemuinya langsung. Toh pada akhirnya aku tidak dapat bertemu dengan Jaerin.

Aku membukakan pintu untuknya. Ia masuk ke dalam mobilku. Aku bergegas masuk ke dalam mobil lalu aku melajukan mobilku.

”Kenapa kau mengenakan pakaian itu lagi?” tanyaku.

”Aku suka. Aku suka pemberianmu. Kau mengerti apa yang aku suka.” ucapnya memandang pakaiannya.

Aku memang memberikan itu semua. Penutup kepalah, syal, baju rajutan itu kepadanya. Tapi aku melupakan sesuatu, sarung tangan. Aku tidak memberikan kepadanya. Memang waktu itu tidak ada sarung tangan berwarnah merah muda tapi biru muda, warna kesukaan Jaerin.

”Ini untukku?” tanyanya tiba-tiba.

Aku meliriknya. Ia mengenggam seikat bunga Krisan. Kapan ia mengetahuinya? Kepan ia mengambilnya?

”Ehm, ya.” ucapku.

Aku tidak ingin mengatakan bahwa bunga itu bukan untuknya, tapi untuk Jaerin. Aku tidak ingin melukai hatinya.

”Terima kasih. Tapi aku lebih suka bunga Lily.” ucapnya.

Aku hanya diam.

”Kemana kita pergi?” tanyanya memecahkan keheningan.

”Wonderland.” ucapku singkat.

Jaerin POV

Aku duduk sambil membaca pesan dari Hyekyu. Ia mengatakan Donghae mencariku di toko dan membeli bunga krisan untukku. Aku menghela nafas panjang. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku belum sanggup.

Aku mengganti nomorku untuk menjauh darinya. Hanya Hyekyu dan Jihee yang mengetahui nomer ini.

Ku tatap layar ponselku. Penuh dengan SMS dari Hyekyu. Aku membacanya lagi.

Dia bilang dia tidak ingin memberikan sesuatu  untukmu yang tidak kau sukai

Pesan itu terngiang-ngiang di otakku. Jadi benar, Donghae selingkuh. Perkataan Jihee benar. Ia membeli pakaian berwana merah muda bukanlah untukku. Tapi untuk yeoja lain yang kini mengisi hidupnya.

Air mataku kembali menetes.

Aku membuka MMS dari Hyekyu kemarin. Gambar itu menyayat hatiku. Gambar itu juga yang menguak keraguanku selama ini. Ternyata Donghae menduakanku.

Tangisku pecah.

”Jaerin kenapa kau menangis?” tanya sebuah suara.

Aku mendongak ternyata Jihee dengan Hangeng.

Jihee duduk di sebelahku.

”Apa ada masalah?” tanya Jihee.

Aku tertunduk.

”Jihee kau benar.” ucapku terisak.

”Apa maksudmu?” tanya Jihee tidak mengerti apa maksudku.

”Donghae~ Donghae selingkuh Jihee~” ucapku terisak.

”Jinca?” sontaknya terkejut.

Aku menunjukkan foto Donghae dan yeoja lain.

”Ini dari Hyekyu?” tanya Jihee.

Aku mengangguk.

”Hyekyu juga menatakan padaku Donghae selingkuh. Ia bertanya padaku apakah dia harus mengatakan padamu. Tapi aku tidak menjawabnya, aku tak tahu harus menjawab apa.” ucap Jihee.

”Sekarang katakan padaku. Pakaian itukah yang kau lihat?” ucapku.

”Maksudmu?”

”Kau melihat Donghae membelikan pakaian yang dikenakan yeoka itu bukan?” tekanku.

Jihee terdiam lalu mengangguk pelan. Aku kembali menangis. Ia memelukku dan menghiburku.

”Jihee bukankah itu namja yang waktu itu.” cletuk Hangeng.

”Namja yang mana?” tanya Jihee.

”Yang kau bilang namjachingu Jaerin.” ucap Hangeng.

”Mana?” sontak Jihee.

Hangeng menunjuk suatu arah. Jihee melihat ke arah yang di tunjuk Hangeng. Jihee terdiam.

Aku melihat raut muka Jihee dan Hangeng. Aku tidak suka ekspresi itu, aku yakin apa yang mereka lihat mengecewakan. Aku tidak ingin melihat. Tapi hasyratku mengatakan agar aku melihatnya.

Aku… Aku tak percaya. Donghae bersama yeoja itu lagi. Yeoja itu menggenakan pakain yang sama. Mereka bergandengan tangan mesra. Dan yeoja itu membawa bunga krisan. Bukankah bunga itu untukku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan berlari menjauh. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak ingin melihat itu lagi.

Donghae POV

Rasanya berbeda sekali mengenggam tangannya. Rasanya dingin. Dan rasa itu tetap terasa meski aku mengenggamnya erat. Dan bunga itu. Kenapa ia membawanya. Bukannya ia tidak suka dengan bunga itu? Sepertinya ia menyukai apa yang aku suka meski dia tidak menyukainya.

”Kita kemana dulu?” tanyanya.

”Kau ingin kemana?” tanyaku.

”Apakah di sini ada tempat duduk dekat kolam? Aku ingin duduk dan memandang kolam.” ucapnya.

”Ada. Di kolam itu juga ada bunga lily kesukaanmu.” ucapku.

”Aku tahu itu.” ucapnya.

Jika dia tahu, kenapa ia bertanya? Ia sengaja bersikap seperti itu? Ia manja kepadaku.

Kami berjalan ke arah kolam. Langkahku terhenti melihat yeoja yang menatapku dari bangku kolam. Yeoja itu berlinang air mata. Matanya merah, wajahnya lusuh. Aku tidak sanggup melihat wajah itu. Sungguh aku tak sanggup. Lalu yeoja itu berlari pergi, menghilang dari penglihatanku. Aku ingin mengejarnya. Tapi tidak bisa. Aku tidak bisa. Kakiku seperti mati rasa.

”Donghae~ Donghae~” panggil sesorang.

Aku tersadar. Yeoja yang ada di sampingku itu memanggil namaku.

”Kau tidak apa-apa?” tanyanya.

”Aku baik-baik saja.” ucapku berbohong.

Aku tidak baik-baik saja. Sepertinya sesuatu yang tajam menusuk tepat di jantungku.

”Ayo kita berjalan!” ajaknya.

Aku melangkahkan kaki. Rasanya sangat berat. Aku tidak melihat Jihee. Sepertinya dia mengjar Jaerin tadi.

Seorang namja mendekatiku. Aku tidak mengenalnya. Tapi dia bersama Jihee dan Jaerin tadi.

”Kau Donghae? Lee Donghae?” tanyanya dengan ekspresi jijik kepadaku.

”Ya, aku Lee Donghae.” ucapku.

Dan bruk….

Ia memukulku hingga jatuh tersungkur. Ia menarik pakaianku dan memukulku sekali lagi.

”Stop apa yang kau lakukan!!!” triak yeoja yang bersamaku kepada namja itu

”Aku memberinya pelajaran.” ucap namja itu lalu memukulku lagi.

”Kenapa?” tanya yeoja itu penasaran. Dia ketakutan.

”Tanyakan saja padanya.” sentak namja itu lalu pergi.

Sorenya

Aku menatap yeoja itu. Dia sedih melihatku seperti ini. ”Kenapa kau tidak menjelaskan kepadaku siapa dia? Kenapa dia memukulmu?”

”Aku tidak tahu.” ucapku.

”Lalu kenapa ia tahu namamu? Pasti dia mengenalmu.” cletuknya.

Aku mencoba bernafas, rasanya sangat berat.

”Kau tidak usah memikirkannya. Aku tidak apa-apa.” ucapku.

Dia memandangku.

”Aku pergi dulu. Annyeong~” ucapku lalu beranjak pergi meninggalkannya.

”Apakah ini semua gara-gara aku?” cletuknya tiba-tiba.

Aku berhenti melangkah.

”Apakah benar kau masih mempunyai yeojachingu?” cletuknya lagi.

Aku meneteskan air mata. Aku tidak ingin ia melihatku saat ini.

”Tidak. Ini bukan karenamu. Kau tidak melakukan sesuatu yang membuatku seperti ini.” ucapku datar tanpa berpaling kepadanya.

Aku kembali melangkah dan masuk ke dalam mobil. Aku menangis. Ini bukan salahnya. Tapi ini salahku. Aku melakukan sesuatu yang membuatku jadi seperti ini.

Seminggu kemudian

Sudah seminggu aku tidak bertemu dengnnya. Aku tak tahu dimana dirinya saat ini.

”Kau tidak akan menemuinya di sini. Dia tidak tinggal di sini lagi.” ucap sebuah suara.

Aku melirik ke asal muasal suara. Dan aku mendapati namja yang memukulku saat itu.

”Di mana dia?” tanyaku.

”Untuk apa aku mengatakan kepadamu.” ucapnya ketus.

”Aku ingin mejelaskan sesuatu padanya.” ucapku.

”Apa lagi yang ingin kau jelaskan padanya? Jelas-jelas kau selingkuh.” ucap namja itu.

”Aku tidak melakukan itu karena keinginanku.” ucapku.

”Lalu?”

”Aku melakukan ini untuk balas budi kepada kakaknya.”

Ia menatapku.

”Apa maksudmu.” tanyanya.

Jaerin POV

Jihee mengirimku SMS. Ia ingin bertemu denganku di taman. Sebenarnya aku tidak ingin ke tempat itu. Tempat itu mengingatkanku akan dirinya. Tapi ia memaksa. Katanya ia ingin memberikan sesuatu untukku.

Dengan ogah-ogahan aku pergi. Udara semakin dingin. Aku terpaksa melakukan ini karena ia tak tahu di mana aku tinggal. Aku hanya mengatakan aku tinggal di incheon. Tempat tinggalku saat ini sangat jauh dari taman itu. Taman itu dekat dengan tempat tinggalku dulu.

Aku sudah berada di taman. Aku melihat sekeliling. Tidak ada Jihee. Aku belum melihatnya.

”Jaerin.” panggil sesorang.

Aku menoleh ke belakang. Ke arah asal muasal suara itu.

Aku melihat sesok namja. Aku tidak ingin melihatnya lagi.

Ia berjalan mendekatiku.

”Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

”Aku baik-baik saja.” ucapku.

”Aku ingin menjelaskan sesuatu kepadamu.” ucapnya.

Aku membuang muka. Sepertinya Jihee bersekongkol dengan Donghae.

”Jaerin sebenarnya aku…”

”Aku tahu. Kau memiliki yeoja lain yang lebih baik dariku.” potongku.

”Bu.. Bukan…”

”Oh aku tahu. Kau menemukan belahan hatimu bukan?” potongku lagi.

”Jaerin~” ucapnya.

Aku tidak ingin mendengarkannya lagi.

”Aku tahu maksudmu menemuiku. Kau ingin mengakhiri hubungan ini bukan? Hubangan kita sudah menggantung selama berhari-hari. Sudah seminggukah?” cletukku.

Air itu menetes lagi membasahi pipiku. Aku mengusapnya.

”Apakah kau tidak mencintaiku lagi?” tanya Donghae.

”Ani~ aku tidak mencintaimu lagi. Kau hanya membuatku terluka. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Aku ingin melupakanmu. Bisakah kau pergi dari kehidupanku? Aku tidak bisa hidup bahagia jika kau masih membayang-membayangiku.” ucapku.

”Jadi kau benar-benar ingin mengakhiri hubungan ini?” tanyanya kepadku.

”Ya.” ucapku tanpa keraguan.

”Baiklah, aku akan melepaskanmu.” ucap Donghae lalu menghela nafas panjang.

”Mulai detik ini kita tidak ada hubungan lagi. Aku melepaskanmu. Carilah kebahagianmu.” lanjutnya.

Aku berbalik dan melangkah pergi.

Donghae POV

”Jaerin~” panggilku.

Ia menghentikkan langkahnya. Ia tidak memalingkan wajah kepadaku. Sepertinya ia benar-benar tidak ingin melihat wajahku.

”Berjanjilah~ berjanjilah kau akan tersenyum. Berjanjilah kau akan bahagia.” ucapku mungkin untuk terakhir kalinya.

Hanya itu yang bisa aku sampaikan.

Ia mengangguk pelan. Ia beranjak pergi menjauh dariku. Hatiku pecah berkeping-keping. Bukan itu yang aku inginkan. Tapi jika itu keinginanmu itu tak masalah. Asalkan dia bahagia.

saranghaesseotdeon otteoniga tteonagan jeok itgetjyo modeun ge nae tasiran saenggagi deun jeok itgetjyo na gaeuraeseo japji mothaetjyo 

(I’m sure you’ve had someone that you loved leave you You might have thought it was all my fault That’s why I couldn’t hold onto you)

ireon apeumjjeumeun modu ijeul su isseul geora dareun sarangi chaja ol geora saenggakhaesseotjyo wae geureonde itjil mothaetjyo? 

(I thought that I could forget small pains like this and that another love would come and find me why I can’t forget about you?)

Sekujur tubuhku mati rasa. Aku mendongak menatap langit. Aku menitikkan air mata.

‘Jaerin~ apakah kau benar-benar tidak mencintaku lagi?’

Aku merasa kedinginan. Udara semakin dingin.

‘Tuhan, aku berharap dia kembali lagi padaku. Aku berharap ia masih mencintaiku. Hanya itu harapanku saat ini ya Tuhan. Aku sangat mencintainya. Aku ingin menjelaskan kepadanya bahwa dia satu-satunya yeoja yang ada di hatiku. Yeoja yang waktu itu bukan siapa-siapa. Aku hanya berpura-pura pacaran dengannya. Aku berhutang budi dengan oppanya. Sebagai balasan oppanya menyuruhku untuk menjadi kekasihnya. Yeoja itu sangat menyukaiku. Oppanya ingin adik satu-satunya itu mendapatkan kebahagian yang di inginkan sebelum meninggal. Aku tidak dapat menolak. Lagi pula aku merasa iba kepada yeoja itu. Ia terkena kanker otak.’ tangisku semakin pecah. Aku memejamkan mataku.

‘Tuhan tololnglah aku…’

geujeo haneul barabomyeo oechijyo dasi hanbeon nareul saranghaejwo nae mamsok jageun baraemi biga doeeo naeryeoomyeon 

(I just look up at the sky and cry out please love me again If only this small wish in my heart would turn into rain and fall from the sky)

nae sarangi meorie naerimyeon chueogi doesara nago gaseume naerimyeon sojunghaetdeon sarangi tteooreugo 

(If my love comes into your head the memories comes alive again If my love comes into your heart I’m reminded of our precious love)

nae sarangi ipsure daheumyeon neol saranghae naege oechimyeo biga naerineun gue gireul ttara geotdaga geotdaga geotda bomyeon baradeon naega neol gidaryeo

(If my love touches your lips you cry out to me that you love me following the rainy street… As you walk, walk, walk you will see the me that you were waiting for)

mideumiraneun yeolsoero saranguiran sangjal yeoreo sarangiran gidoreul jeonhaneun jeonhwareul georeo nae mami neol chatji mothaedo

(With the key called trust I open the box called love I call to send a prayer called love Even if my heart can’t find you)

geujeo haneul barabomyeo oechijyo dasi hanbeon nareul saranghaejwo nae mamsok jageun baraemi biga doeeo naeryeoomyeon

(I just look up at the sky and cry out please love me again If only this small wish in my heart would turn into rain and fall from the sky)

nae sarangi meorie naerimyeon chueogi doesara nago gaseume naerimyeon sojunghaetdeon sarangi tteooreugo

(If my love comes into your head the memories comes alive again If my love comes into your heart I’m reminded of our precious love)

nae sarangi ipsure daheumyeon neol saranghae naege oechimyeo biga naerineun gue gireul ttara geotdaga geotdaga geotda bomyeon baradeon naega neol gidaryeo

(If my love touches your lips you cry out to me that you love me following the rainy street… As you walk, walk, walk you will see the me that you were waiting for)

doraga geuttaero nae sarme dan hanbeon gidohaetdeon daero ireoke oechimyeon sarangbiga naeryeowa

(Go back to that time as I prayed for just once in my life if I cry out like this the rain of love will come down)

neoui sarangi naui nune naerimyeon nae aphae niga seoitgo nae gwie naerimyeon nega dasi sarangeul soksagigo

(If your love rains down on my eyes you are standing in front of me if your love rains down on my ears you are whispering sweet nothings again)

neol saranghae nae pume aneumyeon tto dasi haengbokhaejimyeo haega bichuneun gue gireul ttara gachi tto geotdaga gotda bomyeon baradeon uriga seo isseo

(I love you, if I held you in my arms again if I were to be happy again I would follow that sunny road… walking and walking together we will see the us that we’ve been hoping for)

naege dasi oraneun gido hanbeon deo 

(Praying for you to come back to me… Once again…)

Jaerin POV

Aku berhenti melangkah. Aku mendongak ke atas. Sesuatu jatuh mengenai bibirku. Salju~ salju turun. Aku terisak. Aku tertunduk. Aku menangis. Aku teringat masa-masa bersama Donghae. Kami selalu berjanji bertemu saat hujan turun atau salju turun. Kami selalu menghabiskan waktu untuk menunggu salju pertama turun. Masa-masa saat itu tak terlupakan. Masa saat itu sangatlah berarti untukku.

Aku memalingkan tubuhku dan berjalan. Semakin lama semakin cepat. Aku masih melihatnya berdiri di situ.

Aku berjalan mendekatinya. Aku berdiri tepat dihadapannya dengan berlinang air mata.

Ia menurunkan kepalahnya. Ia menatapku. Aku dapat melihat matanya yang berlinang air mata. Ia mengangkat tangannya lalu mengusap air mataku. Tangannya dingin.

”Saranghae~” ucapnya.

Aku langsung memeluknya. Aku menangis dipelukannya. Ia memelukku erat.

”Kau pasti masih mencintaiku bukan?” ucapnya.

”Bagaimana kau tahu?” tanyaku di dalam pelukannya.

”Karena aku dapat merasakannya.” ucapnya pelan.

” Degup jantungmu mengatakan kau sangat-sangat mencintaiku. Kau ingin melihatku lagi. Kau tidak ingin melupakanku. Kau tidak bisa hidup bahagia tanpaku.” lanjutnya.

Ia melepaskan pelukan. Ia menatapku dan menjelaskan semua.

Aku terharu. Ternyata dia tidak bermaksud menyakitiku. Ia ingin membalas budi. Apa yang ia lakukan sungguh berjasa. Aku berharap yeoja itu bisa hidup tenang di sana. Terima kasih karena kau telah menyukai Donghae. Terima kasih karena kau berdoa untuk kami. Berdoa agar kami bahagia.

Beberapa bulan kemudian

Jihee sudah menikah sebulan yang lalu. Sedangkan Hyekyu sudah mendapatkan namjachingu.  Namjachingunya itu merupakan pelanggannya. Sekarang aku menujuh ke suatu tempat bersama Donghae. Dia tidak menjelaskan kemana. Bahkan ia menutup mataku dari awal perjalanan dengan kain.

”Kita sudah sampai.” ucapnya.

”Aku boleh melepaskan kain ini?” sahutku.

”Aniyo.” sahutnya.

Ia menuntunku turun dari mobil dan berjalan ke suatu tempat. Lalu ia melepaskanku.

”Aku boleh melepaskan ini?” tanyaku menyentuh kain yang menutup mataku.

”Nanti ikatan itu akan terlepas dan aku boleh membuka matamu.” ucapnya.

Hah terlepas? Apakah ada yang melepaskannya. Aku semakin tidak mengerti.

Lalu kain itu terlepas. Aku melihatnya berdiri di hadapanku.

Kemudian ia bernyanyi. Saat bait lagu

Orae juhnbutuh nuhreul wihae junbihan Nae sone bitnaneun banjireul badajwuh (Ia membuka sebuah kotak kecil berwarna putih, itu cincin)

Oneulgwa gateun maeumeuro jigeumui yaksok giuhkhalge (Ia berlutut di hadapanku)

”Would you marry me?” ucapnya meraih tangan kananku.

Seketika itu bunga-bunga berguguran. Bunga sakura berguguran. Hujan bunga. Mataku berkaca-kaca.

”I do~” ucapku kepadanya.

Beberapa orang bersorak. Ternyata di belakanku ada wajah-wajah yang aku kenal. Aku tersenyum.

Donghae memasangkan cincin di jari manisku. Lalu ia beranjak.

”Saranghae~” ucapnya.

Aku tidak dapat berkata. Aku hanya bisa tersenyum menatapnya.

Ia langsung melumatkan bibirnya dengan bibirku. Hujan bunga masih menemani kami. Mereka menjadi saksi bisu atas peristiwa ini

 

 END

 

ayo komentar~

Tolong ya komentarnya ^^

I Will Always Protect You (Final chapter)

Standar

Cast: 2PM

Genre: Action, Romantic, Family, Friendship

PG: 15

I Will Always Protect You Final Chapter

”Ya, pak Chansung ada apa?”

”Tuan Junho menyuruhmu ke ruangannya sekarang juga. Aku yang akan mengurus surat pengawalan.” jelas Chansung.

”Baik.” jawab singkat Nichkhun.

Chansung berjalan menujuh ke luar hotel meninggalkan Nichkhun sendiri.

Kemudian Nichkhun berjalan menujuh ke ruangan Junho.

Saat di muka pintu ia menghembuskan nafas panjang dan kemudian barulah ia mengetuk pintu.

”Masuk!” sahut suara di dlam ruangan.

Nichkhun masuk ke dalam ruangan Junho.

”Duduklah.” pinta Junho lalu tersenyum.

”Ada apa tuan mencari saya?”

Tuan Junho tersenyum dan hampir tertawa.

”Maaf tuan, apa kata-kata saya ada yang lucu?” tanya Nichkhun penasaran.

”Tidak. Tidak ada yang lucu. Hanya saja aku tidak mengira jika gadis yang kau maksud dulu itu Yurika.” sahut Junho.

Nichkhun tertegun. Ia mematung tidak bisa berkata.

”Kau tahu Nichkhun, aku senang Yurika memilihmu. Aku sudah lama mengenalmu dan ingin memberikan warisanku padamu. Setelah aku mengetahui soal anakku, Yurika. Aku hendak memaksanya menyukaimu. Tapi aku tidak ingin anakku berakhir sepertiku. Aku tidak ingin menjadi seperti appaku. Syukurlah jika Yurika memilihmu. Dengan begitu akau bisa tenang menyerahkan kekuasaanku padamu.” jelas Junho.

Nichkhun semakin membeku, ia sangat terkejut akan kata-kata yang terlontar dari mulut Junho.

”A… Apa maksud tuan?” tanya Nichkhun sedikit terbata-bata.

”Maksudku, aku akan menyerahkan harta kekayaan dan segalanya padamu jika kau menikahi anakku Yurika. Aku sudah memutuskan sejak awal. Aku ingin kekuasaanku ini kau kuasahi karena aku percaya.”

”Ta… Tapi tuan saya bukan…”

”Aku tidak peduli tentang asal usulmu. Aku peduli terhadap hati dan otakmu. Kau tahu mengapa aku membantumu dan Taecyon agar dapat melanjutkan sekolah hingga kuliah? Karena aku tahu kalian memiliki potensi. Tapi kau lebih pintar daripada Taecyon. Kau dapat kuliah hingga ke Jepang. Kau jenius, kau memiliki hati yang kuat dan tak pernah goyah. Aku kagum denganmu. Aku yakin perusahan-perusahaanku bisa maju dan berkembang di bawah kendalimu.” potong Junho

”Tapi tuan, aku dan Yurika tidak ada hubungan lagi. Kami sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi.”

”Itu karena salahku. Tiga tahun yang lalu aku menyuruhmu kembali ke Korea dan bekerja padaku. Kau sebenarnya ingin bekerja di Jepang karena wanita yang kau cintai itu ada di sana. Anggap saja ini sebagai tanda minta maafku padamu.”

”Tapi tuan…”

”Tidak ada tapi-tapian. Setelah tes DNA itu keluar aku akan menyiapkan pernikahan kalian. Kau lihat Yurika masi mencintaimu dan kau juga begitu.” potong Junho lagi kemudian ia mendongak ke Nichkhun dan meraih kalung Nichkhun.

”N&Y, Nichkhun & Yurika atau sebaliknya. Kau menggunakan kalung ini sama seperti yang digunakan Yurika. Dengan bukti itu sudah cukup membuktikan kalian masih saling mencintai.”

*******

Sorenya, di kamar Nichkhun dan Taecyon.

”Kau kenapa?” tanya Taecyon ketika baru masuk dan mendapati Nichkhun terdiam murung duduk di atas tempat tidurnya.

”Tidak, hanya saja aku teringat masa laluku.” jawab Nichkhun.

”Sudah jangan dipikirkan lagi, nanti kau tidak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalumu.” ujar Taecyon menepuk-nepuk punggung Nichkhun sambil duduk di samping sahabatnya.

”Oh ya, Taecyon. Kenapa tadi kau murung?” tanya Nichkhun tiba-tiba.

”Oh itu.” Raut wajah Taecyon berubah.

”Seseoarng melarangku berpacaran dengan Eunjo, Kekasihku. Padahal aku sungguh sangat mencintainya. Aku hampir saja melamarnya. Tapi sesorang itu mengatakan bahwa Eunjo bukanlah pilihan yang tepat. Ia menyuruhku memutuskan hubunganku dengannya dan menjalin hubungan dengan orang pilihannya. Tadi aku sempat menemui Eunjo. Saat aku mengatakn yang sejujurnya, ia menangis. Aku tak tega meninggalkannya. Tapi aku harus.” Lanjut Taecyon kemudian ia menangis.

”Memang siapa orang itu?” tanya Nichkhun penasaran.

”Appaku.” jawab singkat Taecyon.

”Appamu? Jadi kau menemukan appamu?”

Taecyon mengangguk.

”Aku sangat iri denganmu Nich, kau tidak punya orang tua. Dengan begitu kau tidak usah menuruti perintah orang tuamu, karena tak ada satupun perintah dari mereka.” ujar Taecyon terisak.

”Aku justru iri denganmu Taecyon, kau bisa tahu orang tuamu.” ujar Nichkhun lemah.

*******

Malam-malam Taecyon keluar kamarnya. Sebelumnya ia memastikan jika Nichkhun sudah tidur. Ia tidak ingin Nichkhun mengetahui rahasia yang ini ia simpan rapat. Ia berjalan keluar hotel menujuh ke sebuah resto cepat saji dekat hotel. Ia menujuh ke orang yang duduk dengan dua buah minuman di mejanya.

”Ada apa appa memanggilku lagi?” ujar Taecyon kemudian duduk dan menyedot minuman yang masih utuh.

”Aku ada berita buruk. Sangat buruk.” sahut Junsu.

Taecyon berhenti menyedot minumannya. Ia memandang appanya tanpa berkedip.

”Ka… Ka…bar apa appa?” tanya Taecyon terbata-bata.

”Soal pewaris aset milik tuan Junho.” ujar Junsu. Kemudian ia mengelap kepalahnya yang berkeringat dengan sapu tangan yang ada di sakunya.

”Ternyata tuan Junho menyerahkan aset kekayaan, kekuasaan kepada Nichkhun.” lanjut Junsu.

”Nichkhun?” Taecyon seakan tak percaya.

Kemudian Junsu menjelaskan panjang lebar tentang penyerahan itu.

”Dengan kata lain aku akan memberikan rencana kasar. Untuk merebut itu semua.”

”Rencana apa appa?” tanya Taecyon penasaran.

”Kau harus menculik dan menyelamatkan Yurika setelah tes DNA keluar. Lebih lanjutnya kau baca sendiri. Di amplop ini sudah jelas. Besok pagi, pagi sekali kau menemui mereka untuk membicarakn rencana yang ku buat.” terang Junsu.

”Mereka? Mereka siapa?” tanya Taecyon.

”Orang yang membantumu menculik Yurika. Aku tidak akan biarkan Nichkhun mendapatkan segalanya. Kau juga harus mendapatkan itu semua. Aku yang menyelamatkan tuan Junho dulu, seharusnya itu menjadi milikku dan menjadi milikmu anakku. Aku tidak bisa membiarkan kekayaan itu di tangan orang lain.” jelas Junsu.

*******

Pagi-pagi sekali, Taecyon menata bajunya ke dalam tasnya. Tanpa ia sadari Nichkhun terbangun.

”Kau sedang apa?” tanya Nichkhun mengejutkan Taecyon.

”Ah, aku… Aku di utus manejer ke hotel cabang di luar kota katanya ada masalah dan sepertinya aku orang yang tepat yang bisa menyelesaikannya.” ujar Taecyon berbohong.

”Sepagi ini? Ini masih jam setengah empat pagi?” tanya Nichkhun.

”Ya, karena aku langsung bekerja begitu tiba. Jika aku berangkat jam enam, tujuh atau delapan, pasti aku tiba siang dan sering macet jika jam begituan.” jelas Taecyon beralasan.

”Ya sudah jika seperti itu. Hati-hati di jalan ya.” ujar Nichkhun kemudian merangkul sahabatnya.

*******

Selama Taecyon menjalankan tugas Junsu mencoba menyibukkan Nichkhun dengan memberinya tugas-tugas agar ia jauh dari Yurika. Tapi jika Yurika seringkali menunggu Nichkhun bekerja atau ikut dengan Nichkhun bekerja usahanya bisa sia-sia. Maka dari itu Junsu menyuruh salah seorang karyawan wanita menemaninya menyelusuri hotel dan menyuruh pengawal Yurika untuk mengantar Yurika keliling kota.

Meski begitu, Nichkhun dan Yurika saling jumpa meski hanya sebentar saja. Dan tuan Junho seringkali membuat rencana mendekatkan kembali Yurika dan Nichkhun sehingga usaha Junsu benar-benar gagal total.

Setelah hasil DNA keluar. Tuan Junho dan Yurika segera membuka hasil. Dan tak diragukan lagi, Yurika benar-benar anak kandung tuan Junho.

Tuan Junho pun memeluk Yurika dan terharu. Kemudian ia menyuruh Pak Junsu menyiapkan pesta perkenalan untuk anak semata wayangnya.

Pada hari itu juga Junho bertanya-tanya kepada Yurika. Junho ingin mengetahui lebih jauh tentang anaknya. Yurika tampak bisa menerima Junho sebagai appanya.Appanya jauh lebih baik dari apa yang ia pikirkan.

*******

Malamnya, Yurika menceritakan tentang pebicaraannya dengan appanya. Dan ia mengakui bahwa Junho itu baik seperti yang dikatakan Nichkhun.

*******

Malam keesokan harinya. Yurika menggenakan gaun merah marron pemberian appanya untuk pesta.

”Kau tampak cantik seperti ibumu, anakku.” ujar Junho.

Yurika tersenyum kepada appanya lalu berkata,

”Arigato gozaimasu, papa.”

Junho tersenyum.

”Sudah, ayo kita keluar. Para tamu sudah menunggumu.” ujar Junho.

Kemudian mereka pergi menujuh ballroom. Di ballroom semua mata menujuh ke arah Yurika.

”Papa, apakah ada yang salah dengan dandananku?” tanya Yurika.

”Tidak anakku. Kau sungguh sempurnah. Mereka memandangmu karena kagum dengan keanggunanmu.” jawab Junho.

Yurika tersipu malu.

”Ah papa bisa saja.”

*******

”Nichkhun, kau disana?” sahut suara dari headphone Nichkhun.

”Ya, aku di sini. Ada apa Wooyoung?” tanya Nichkhun kepada Wooyoung melalui headphone yang terpasang di telinga kanannya.

”Ada kabar buruk.” sahut suara di sebrang sana.

”Apa?” Nichkhun mengerutkan dahinya.

”Yakuza mengetahui keberadaan Yurika. Koran pagi ini yang memberitahukannya.”

Deg, jantung Nichkhun terasa sakit. Ia merasa akan terjadi hal yang buruk malam itu juga.

”Dari mana kau tahu?” tanya Nichkhun.

”Adikku Jungshin. Kau tahu sendiri ia mengerti bahasa Jepang. Ia tidak sengaja mendengar pembicaraan dua orang Jepang berwajah sangar. Mereka mengatakan akan melakukan hal buruk kepada Yurika. Dan aku yakin mereka pasti Yakuza, kau berpikiran sama bukan?” jelas Wooyoung.

”Ya, aku pikir mereka Yakuza seperti dugaanmu.” sahut Nichkhun. Dadanya semakin sesak.

”Aku dan pengawal yang lain akan berjaga di luar hotel. Jumlah kami cukup untuk menjaga di luar. Kau jaga di dalam ya dengan staf-staf lain yang bisa melindungi Yurika.” pintah Wooyoung.

Nichkhun pun langsung menemui staf-staf lainnya dan menceritakan semuanya. Lalu Nichkhun masuk ke dalam ballroom. Ia beruasaha bersikap tenang.

”Nichkhun, kau dari mana saja?” sapa Yurika tiba-tiba.

Nichkhun membalikkan tubuhnya ke arah Yurika.

”Aku dari ruang operator. Biasa kerja.” ujar Nichkhun bersikap tenang.

”Kenapa kau berkeringat? Disinikan dingin?” tanya Yurika melihat Nichkhun berkeringat. Kemudian ia mengambil sapu tangan dari tas kecilnya kemudian mengusap keringat Nichkhun lembut.

”Kau tahukan hari ini bukan hari biasa. Hari ini banyak para tamu yang datang untuk pestamu. Jadi aku harus mondar mandir untuk memeriksa apa semuabya baik-baik saja.” sahut Nichkhun beralasan.

”Aku tidak mengerti dengan tugasmu di hotel ini. Aku akan menyuruh papa meringankan bebanmu. Mungkin menaikkan pangkatmu.” ujar Yurika masih mengusap keringat Nichkhun di wajah Nichkhun.

Nichkhun meraih tangan Yurika dan menurunkannya.

”Kau tak perlu repot melakukan itu semua. Aku cukup senang dengan tugasku ini.” kata Nichkhun serius.

Yurika menatap mata Nichkhun, ia mendapati Nichkhun tidak memamdangnya.

”Nichkhun, pandang aku!” sahut Yurika.

”Pandang mataku!” bentak Yurika.

Nichkhun hanya menatap lurus ia tidak menatap wajah Yurika karena Yurika lebih pendek darinya.

”Kau sembunyikan apa dariku?” tanya Yurika.

Nichkhun berjalan ke arah meja berisikan makanan. Ia meraih kentang dan memakannya. Sementara Yurika mengikutinya.

”Acaranya dimulai dari tadi ya?” kata Nichkhun tidak menghiraukan.

”Nichkhun kau dengar aku tidak?”

Nichkhun mengangguk. Ia tersenyum dan berkata,

”Tidak ada yang kau cemaskan, I will always protect you.”

Yurika tersenyum kemudian memeluk Nichkhun.

”Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku lagi.” kata Yurika.

Nichkhun melingkarkan tangannya ke tubuh Yurika.

”Akan ku usahakan.” jawab Nichkhun singkat.

”Berjanjilah kau akan mencintaiku selalu.” kata Yurika lagi di dada Nichkhun.

”I promaise, I will always love you.” ujar Nichkhun kemudian mengecup kening Yurika.

Kemudian seseorang berdeham. Nichkhun dan Yurika saling melepaskan pelukan. Dan menjadi salah tingkah. Lebih-lebih orang yang berdeham itu Junho. Ia tersenyum.

”Apa kalian sudah baikan?” tanya Junho.

Pipi Yurika bersemu merah.

”Apa maksud papa?” sahut Yurika.

Junho tertawa.

”Sudah, jangan malu-malu. Kalian kembali berpacaran lagi bukan?” ujar Junho.

”Tidak seperti tuan. Kami hanya… hanya…” kata Nichkhun beralasan.

”Teman?” potong Junho.

”Teman tapi mesra?” lanjut Junho kemudian tertawa.

Nichkhun dan Yurika salah tingkah. Mereka memalingkan wajah ke arah lain.

Tiba-tiba lampu menjadi padam. Semua orang dalam ballroom berteriak.

”Yurika kau tidak apa-apa?” tanya Nichkhun dalam kegelapan.

Tapi Yurika tidak memberi respon.

”Yurika kau disana?” ujar Junho.

”Yurika.” Panggil Nichkhun.

”Yurika.” panggil Junho.

Mereka memanggil Yurika bersahut-sahutan.

Kemudian lampu menyala.

Mereka mendapati Yurika tidak ada ditempat. Nichkhun mulai gusar. Ia mencari-cari Yurika dalam ballroom kemudian berkata,

”Wooyoung, Wooyoung kau disana?”

”Ya ada apa?” balas suara di ujung sana.

”Yurika. Yurika menghilang. Aku sudah mencari-carinya di ballroom, tapi tak ku temukan.” ujar Nichkhun tersengah-sengah.

”Ba…”

”Saat lampu padam barusan, dia tiba-tiba menghilang.” potong Nichkhun.

”Baiklah, kami akan mencarinya.”

”Jangan semua. Beberapa dari kalian saja bantu aku mencarinya. Biar yang lain menjaga di luar, mungkin saja dia ada di luar.”

Lalu Nichkhun memutuskan pembicaraan dan mulai mencari ke luar ruangan. Saat hendak membuka pintu ballroom, tiba-tiba saja terjadi keribuatan. Nichkhun memandang ke arah keributan itu. Ia mendapati orang bertopeng dengan pakaian serba hitam sedang menyodorkan pisau belati ke leher Yurika.

”Hei, apa yang kau lakukan dengan anakku?” triak Junho.

Nichkhun mendekati keributan itu. Setelah dekat ia mengatakan,

”Taecyon apa yang kau lakukan?”

Sontak orang-orang terkejut termasuk Junsu.

”Taecyon?” ujar Junsu.

‘Aku sudah mengatakan untuk menyuruh orang lain saja melakukannya mengapa dia melakukan itu semua?’ batin Junsu.

Orang bertopeng itu tertawa.

”Nichkhun, Nichkhun ternyata kau mengenaliku.” ujar Taecyon.

”Reto-kun.” triak Taecyon.

Kemudian orang berpakaian hitam dengan wajah sangar muncul mendekati Taecyon. Lalu Taecyon menyerahkan Yurika kepada orang bernama Reto itu.

Lalu Taecyon membuka topengnya.

Semua orang terkejut termasuk Nichkhun. Nichkhun tidak mengira Taecyon yang memiliki wajah yang hangat sekarang tampak menyeramkan. Ia menggunakan lensa kontak merah dan di pipi kanannya terdapat bekas luka.

”Bagaimana kau bisa mengenaliku, Nichkhun?” ujar Taecyon lembut dan senyum sinisnya.

”Saat pertama ku lihat aku sendiri tidak yakin. Tapi saat ku lihat dari dekat aku yakin. Pakaian itu adalah seragam milikmu, terlebih lagi cara berpakaianmu itu mudah dikenali.” Nichkhun menunjuk lengan kemeja Taecyon.

Taecyon mengangkat tangannya dan melihat lengan kemajanya yang berkemiti kecil berwarna emas.

Taecyon tersenyum sinis. Ia tidak mengira Nichkhun sejeli itu.

Kemudaian beberapa orang berpakain serba hitam masuk ke dalam ballroom. Orang berwajah sangar itu bukan orang lokal. Semua orang yang ada di dalam ballroom mulai resah. Mereka ketakutan.

”Yakuza.” ujar Nichkhun.

”Bagaimana bisa mereka masuk?” tanya Junho yang berada di samping Nichkhun

”Taecyon.” ujar Nichkhun singkat.

”Apa? Aku tidak mengerti maksudmu?” tanya Junho.

Taecyon tertawa.

”Ya, ya ini semua karena aku. Aku mengatur semua ini bersama mereka. Tentu saja dengan bantuan appaku Manejer Junsu.”

Sontak beberapa orang terkejut dan mencari-cari orang yang bernama Junsu.

”Tidak. Aku tidak ikut campur.” bentak Junsu.

”Tidak ikut campur ya? Kau sendiri yang merencakan ini semua dan aku hanya mengaturnya. Kau menjadi penulisnya dan aku menjadi sutradara sekaligus aktor.” ujar Junsu berlagak.

”Tapi” lanjutnya kemudian berjalan mendekati appanya.

”Aku tak suka menjadi aktor dalam naskahmu. Aku tidak suka kau mengaturku menyuruhku ini dan itu. Maka dari itu, aku ubah sekenario yang kau buat.”

Lalu Taecyon menusukan pisau tepat di perut appanya. Beberapa orang berteriak. Darah bercucuran dari tubuh Junsu, ia tersungkur dan berkata,

”Kenapa kau melakukan ini anakku?”

”Karena aku tidak menyukaimu.” jawab Taecyon keji.

Nichkhun tertegun melihat Taecyon seperti itu. Ia mendekati Taecyon tapi ia sudah dihadang pria bertubuh kekar. Pria itu melawannya, dengan sigap Nichkhun menghindari. Ia balas melawan pria itu yang merupakan anggota Yakuza. Dalam beberapa kali pukulan, Nichkhun dapat melumpuhkan Yakuza itu. Lalu ia mendekati Taecyon dan menghantam pipi kiri Taecyon sehingga Taecyon berdarah.

Taecyon nyengir.

”Lumayan sakit pukulanmu itu. Lakukan lagi dan kau akan kehilangan orang yang kau sayangi.” ujar Taecyon. Ia menghapus darah yang keluar dari hidungnya akibat hantaman Nichkhun.

Nichkhun melirik Yurika yang disekap Yakuza. Ia mengepalkan kedua tangannya penuh kebencian. Kemudian Taecyon menghantam Nichkhun berulang kali. Nichkhun tidak melawan, ia takut Yurika terluka karena ia melawan Taecyon.

Setelah Nichkhun jatuh tersungkur dan berdarah-darah, Taecyon berkata,

”Ternyata kau sangat lemah.”

Nichkhun menatap Taecyon.

”Bagaimana jika kau ada dalam posisiku? Apakah kau sanggup melihat orang yang kau sayangi terluka? Apakah kau sanggup melihat orang yang kau sayangi menangis karena kau terluka? Bagaima Taecyon? Bagaimana?” ujar Nichkhun.

Tangan Taecyon gemetar.

Di lain pihak, Wooyoung berhasil masuk ballroom tanpa sepengetahuan Yakuza. Dari belakang ia merenggut Yurika dari tangan seorang Yakuza. Wooyoung memerintahkan bawahannya menghajar Yakuza lainnya dan beberapa lainnya membawa tamu-tamu keluar dari ballroom.

Melihat Yurika sudah terlepas, Nichkhun bangkit dan mulai menghajar Taecyon yang terdiam gemetar.

”Ayo, Taecyon, katakan padaku apakah kau masih berani melawan jika kau ada diposisiku tadi.” ujar Nichkhun.

Taecyon masih gemetaran.

”Kau takut bukan? Bahkan kau lebih takut dariku. Kau hanya orang yang pengecut. Jika kau tidak suka sebaiknya katakan tidak saja pada appamu.” lanjut Nichkhun dan memukul kembali Taecyon.

Setelah puas memukuli Taecyon, Nichkhun menghampiri Yurika. Ia tersenyum melihat Yurika yang baik-baik saja. Saat di tengah jalan Yurika berteriak,

”Nichkhun awas!!!” Yurika tampak gusar.

”Awas belakangmu!!!” triak Wooyoung.

Nichkhun memalingkan tubuhnya dan ia terlambat. Pisau belati sudah menembus perutnya.

”Taecyon, ku kira kau sahabat yang baik, selama ini kau sudah ku anggap saudara. Ternyata aku salah menilaimu, aku kecewa, kau hanya orang yang pengecut.” ujar Nichkhun lemah kemudian terjatuh dan matanya pun terpejam.

Yurika berlari menujuh ke Nichkhun bersama Wooyoung.

Taecyon menangis, ia meremas-remas kepalahnya. Ia tidak percaya telah membunuh dua orang yang selama ini ada di sisinya.

”Maafkan akau Nichkhun, memang aku tak pantas menjadi sahabat maupun saudaramua. Aku hanya seorang yang pengecut.” isak Taecyon.

Kemudian ia mengambil pisau yang tadi ia tusukan ke tubuh Nichkhun, kemudian ia menusuk dirinya tepat di jantungnya.

*******

Sebulan kemudian…

Sesorang pria duduk di samping sebuah makam.

”Aku tidak menyangkah kau melakukan harakiri seperti itu Taecyon.” ujar pria itu terisak.

”Sudahlah Nichkhun, kau jangan cengeng seperti itu. Dia akan menangis disana jika kau menangisinya seperti ini.” sahut seorang gadis.

Nichkhun mendongak.

”Yurika, apakah aku salah mengatainya pengecut saat itu?” tanya Nichkhun.

Yurika menggeleng.

”Kau mengatakan hal yang benar. Kau tidak salah. Lagi pula ia mengakui bahwa ia adalah seorang yang pengecut saat itu.” jelas Yurika.

”Ayo kita pulang. Kau baru saja bangun dari koma, keadaanmupun sedikit lelah. Kau butuh istirahat.” lanjut Yurika.

Di tengah perjalanan Yurika berkata kepada Nichkhun.

”Nichkhun are you sure will always protect me?”

Nichkhun mengangguk.

”Baguslah jika begitu.” sahut Yurika.

”Kenapa?” tanya Nichkhun.

”Karena dengan kata lain kau setujuh menjadi suamiku yang akan selalu melindungiku. Papa sudah menetapakan tanggal pernikahan kita. Dia menyiapkan semuanya.” ujar Yurika.

Nichkhun menelen ludah. Yurika tersenyum. Nichkhun nyegir melihat aksen Yurika. Lalu ia mengecup dahi Yurika lembut.

Other Stories

Part 1 Taecyon Letter

Aku benci dan takut halilintar. Tapi aku tidak pernah mengataknnya kepadamu alasannya. Ku rasa ini saatnya aku menceitaknnya Nichk. Ini rahasia kita, jangan katakan kepada siapa-siapa. Aku punya kenangan buruk soal halilintar. Waktu kecil appaku selalu marah-marah. Suatu hari ia sangat marah, hari itu penuh dengan suara halilintar. Pekikannya sangat tajam seperti kerasanya suara halilintar. Ia marah dengan eommaku. Eomma yang aku sayangi. Sejak hari itu aku takut dengan halilintar. Aku tidak saja mendengar appaku marah bersamaan dengan suar halilintar tapi aku menyaksikan juga appa melakukan kekerasan kepada eommaku. Halilintar membunuh eommaku. Halilintar itu mampu membunuh eommaku. Halilintar itu appaku Nichk. Aku sungguh takut. Darah berceran di mana-mana. Saat itu aku baru berusai 8 tahun. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku hanya bisa menjerit ketakutan sementara appaku tetap marah-marah dan tidak merasa bersalah atas apa yang ia lakukan. Ia kesal denganku yang menjerit ketakutan. Ia membawaku dan membuangku ke jalan. Saat itu hujan badai, aku kedinginan. Sesorang menolongku. Sebuah keluarga yang mengendari truck rongsokan. Suara truck itu lebih berisik dari pada suara halilintar. Mereka memili seorang anak perumpuan yang lebih muda dariku. Namnya Eunjo, dia sangat manis dan baik kepadaku.

Aku menyukai kelurga itu. Mereka mengirimku ke panti asuhan karena tidak dapat menampungku. Aku dapat memaklumi itu. Aku sungguh berterimah kasih kepada mereka karena telah menolongku. Di sana aku bertemu denganmu. Bocah dengan sejuta senyuman. Kau seperti maliakat bagiku. Selalu ada menemaniku.

Nah Nichkhun, aku ingin kau melakukan satu hal untukku. Bisakah kau memastikan Eunjo bahagia? Bisakah kau menjaganya? Aku tidak ingin dia terluka. Carikan seseorang yang tepat untuk berada di sisinya. Dan Terima Kasih saudaraku.

Maafkan kesalahanku selama ini. Aku melakukan ini demi ketakutanku. Aku tidak ingin hidup dalam ketakutan. Caranya untuk lepas hanya ada dua cara. Membunuh orang yang membuatmu ketakutan atau mati.

Part 2 Penantian Wooyoung

“Kau mau kemana?” tanya Nichk.

“Acara penjodohan orang tuaku.” jawab Wooyoung.

“Jadi kau belum menemukan orang yang tepat?” cletuk Nichk.

“Belum. Jika pilihannya memang cantik-cantik tapi ya begitu, ada yang suka ikut campur urusankulah, matrelah, manja, bahkan ada yang sadis.” Ucap Wooyoung.

Nichk tertawa.

“Semoga gadis yang ini cocok denganmu.” Ucap Nichkhun lalu pergi meninggalkan Wooyoung.

“Ya semoga saja.”

Wooyoung duduk menanti gadis pilihan orang tuanya. Sudah satu jam ia menanti tapi gadis itu tidak kunjung tiba. Ia sudah bosan. Ia tidak suka dengan gadis yang tidak tepat waktu. Ia keluar dari café dan tak sengaja ia menabrak seorang gadis.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Wooyoung mengulurkan tangannya kepada gadis yang ia tabrak tadi.

“Tidak apa-apa aku hanya tidak terbiasa.” Ucap gadis itu.

“Kau habis kecelakaan?” tanya Wooyoung melihat kaki gadis itu berbalut perban yang masih baru.

“Iya. Aku menolong anak kecil tadi tapi aku terluka. Ya tidak apa-apa yang penting anak kecil itu selamat tidak terluka sama sekali.” Ucap gadis itu lalu mencari sesorang di dalam café.

“Kau mencari siapa di dalam café?” tanya Wooyoung.

“Aku mencari pria kenalan teman mantan pacarku.” Cletuk gadis itu.

“Mantan pacarmu? Teman? Kenalan?” cletuk Wooyoung.

“Pacarku memutuskan hubungan melalui temannya. Temannya menyuruhku menemui kenalannya ini untuk mengetahui kenapa ia memutuskanku.” Ucap gadis itu.

“Kalo boleh tahu siapa nama orang yang kau temui itu?” tanya Wooyoung.

“Ehm aku lupa marganya siapa, kalo gak salah namanya Wooyoung.” Ucap gadis itu.

“Kau yang bernama Eunjo?”

Gadis itu mengangguk.

“Bagaimana bisa kau tahu namaku?” tanya Eunjo.

Wooyoung menelan ludah.

“Nichkhun, jadi kau biang keladinya.” Cletuk Wooyoung pelan.

“Kau bicara apa barusan?” tanya Eunjo.

“Tidak apa-apa. Oh ya akulah orang yang kau cari aku Wooyoung.” Ucap Wooyong.

‘Mantan pacar gadis ini teman Nichkhun. Jangan-jangan dia mantan pacar… sepertinya aku mulai mengerti keadaan ini.’ Batin Wooyoung.

Tamat

Jangan lupa komentarnya reader ^^

Klo bias komentar menggunakan URL twitter or Koprol