Tag Archives: Heechul

ABOUT OUR LOVE

Standar

Tittle: About Our Love
Author: WinkiesWingers
Genre: romance, comedy (?)
Rating: PG – 15
Lenght: Oneshot
Type: Straight
 Disclaimer: I don’t own Kim Heechul and other cast. I just own Yoon Jihwa, and Kim Chansoo as my OC. And this story line is mine! ^^ .. No Bashing, thanks.
Cast:
–    Kim Heechul a.k.a Heechul ‘Super Junior’ as him self
–    Kim Chansoo as readers
–    Author as Yoon Jihwa
–    Leeteuk ‘Super Junior’ as him self
A/N: hi ^^ , saya kembali setelah alam vakumdari blog ini 😀 .. sbnrnya ni ff udah author share ke FB author. tapi, gak apa2 yah di reshare di sini? hhaha. Enjoy~
jangan lupa komen yak?? DON’T BE A SILENT READER .. thanks.=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

 
Seorang gadis tengah berjalan di lorong kampusnya menuju kelas yang terletak di ujung lantai 2 ini. Raut wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat. Mulutnya terus berkomat-kamit tidak jelas. Sampai di depan kelasnya ia membuka pintu dengan kasar sehingga membuat teman-temannya yang di kelas terkejut. Ia trus berjalan menuju mejanya tanpa memedulikan teman-temannya yang memandang kearahnya dengan tatapan heran.

Read the rest of this entry

I’m Sorry My Love

Standar

tittle : I’M SORRY, MY LOVE

author: WinkiesWingers

rate: PG – 15

genre : Romance, drama

cast:

Kim Eun Si

Kim Jong Woon (Yesung) as him self

Kim Hee Chul as him self

Author as Yoon Ji Hwa

Lee Hong Ki as him self

and other cast

note: Hello..Hello.. Hello.. Hello*lupin mode:on* . Author balik lagi bawain FF oneshot dengan genre yang sama sperti sebelumnya ==’ … happy read ^^

 

======  I’M SORRY, MY LOVE =====

Melihat pemandangan yang ada di depan mataku, aku hanya bisa diam mematung. Tak tahu harus berbuat apa. Airmataku turun begitu saja saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kekasihku mencium gadis lain. Hubungan kami masih seumur jagung. Baru sebulan lalu ia menyatakan cinta kepadaku dan tentu aku menerimanya karena aku juga mencintainya. Tapi, apa-apaan ini? Ia mencium gadis lain disaat ia masih memiliki kekasih. Tidak hanya itu, aku juga pernah melihat mereka jalan berdua. Dan bodohnya sampai sekarang aku masih mempertahankan hubungan kami. Tak pernah terbesit di pikiranku untuk memutuskannya. Mungkin karena aku terlalu mencintai lelaki bodoh itu.

 

Sampai suatu ketika, dia memutuskan hubungan kami hanya karena ia ingin melanjutkan sekolahnya ke luar negeri.

“Kenapa harus putus?”

“Aku tidak bisa melakukan long distance, Eun Si-ya. Mianhae..” tuturnya datar dan meninggalkanku seorang diri.

“Yesung oppa!!” teriakku.

 

Aku terduduk lemas di depan rumahku. Aku menangis sejadi-jadinya. Setelah ia bermain di belakangku dengan gadis lain tanpa pernah mengaku padaku. Sekarang ia memutuskan hubungan kami begitu saja. Seandainya dulu ia mengaku, mungkin saja aku bisa memaafkannya dan merelakannya dengan gadis itu. Dan yang pasti aku tidak merasakan hancur seperti ini. Rasa cinta yang terus aku pertahankan kini mencair sudah. Rasa itu telah berubah menjadi kebencian seutuhnya.

 

“Eun Si-ya..” Hee Chul oppa yang melihatku menangis langsung datang memelukku. “Uljima..”

“Aku membencinya, oppa! Aku membencinya!” teriakku dalam tangis.

“Arasseo.. Arasseo..” sahutnya sambil terus menenangkanku.

 

===========================

 

Sejak kejadian itu, aku menjadi sosok yang dingin dan pemurung. Hatiku pun menjadi beku dan sedingin es. Akibat kejadian beberapa tahun lalu itu pandanganku tentang lelaki pun berubah. Aku selalu berpikiran kalau laki-laki hanya bisa menyakiti dan mempermainkan perasaan perempuan. Itulah sebabnya aku menolak mereka yang mencoba mendekatiku. Padahal, sebagian besar laki-laki yang mendekatiku memiliki wajah yang tampan dan ber-uang.

 

“Eun Si-ya, kenapa mereka kau tolak semua?” tanya Hee Chul oppa suatu hari.

“Karena aku tidak berminat menjalin hubungan dengan laki-laki.”

“Kalau begitu, sekarang kau berminat menjalin hubungan dengan perempuan? Eun Si-ya! Kenapa kau jadi tidak normal begini?!” pekiknya sambil mengguncang-guncang badanku. Aku hanya menutup kedua telingaku dengan kedua tanganku.

 

Buukkk!!

 

Sebuah bantal mendarat mulus di kepala Hee Chul oppa. Hee Chul oppa lantas mengusap-usap kepalanya.

“Chagiya! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melempar bantal kearahku?”

“Jangan bicara yang tidak-tidak, oppa. Mana mungkin Eun Si unnie berminat dengan perempuan.” kata Ji Hwa sambil menatap tajam Hee Chul oppa.

“Aku kan hanya bercanda, chagiya. Chagiya jangan marah ya..” bujuk Hee Chul oppa. Ia bergelayut manja di lengan Ji Hwa. Dasar! Kalau dengan Ji Hwa saja ia bersikap manis.

 

Terkadang aku merasa aneh dengan pasangan ini. Bagaimana bisa dua orang yang berbeda bisa bersatu? Sifat mereka sangat bertolak belakang. Ji Hwa yang kalem dan terkesan pendiam sedangkan Hee Chul oppa aneh, urakan, dan bersikap seenaknya sendiri. Mereka cepat bertengkar, tapi rujuknya pun juga cepat. Mereka pun juga jarang terlihat tampil mesra.

 

Daripada terus-terusan memperhatikan mereka dan melihat sikap Hee Chul oppa yang sok manis di depan Ji Hwa, aku memutuskan pergi ke cafe favoritku yang terletak tak jauh dari rumahku. Sesampainya disana aku langsung duduk di tempat yang biasa aku duduki. Sangat nyaman. Suara angin yang menyapu rumput hijau serta suara gemericik air mancur buatan, membuat suasana hati siapa saja yang datang ke cafe ini menjadi tenang. Tapi ternyata keputusanku untuk datang kesini adalah salah. Kenyamanan yang aku rasakan tadi langsung lenyap saat aku melihat kembali sosok lelaki itu memasuki cafe ini. Aku berusaha menutupi wajahku agar kehadiranku tak disadarinya.

 

“Eun Si?”

Aku mengangkat kepalaku dan menatap orang yang memanggil namaku.

“Hongki?”

“Ahh, Eun Si-ya! lama tidak bertemu!” Hongki langsung memelukku. Aku membalas pelukannya.

 

 

Sudah lama aku tidak bertemu dengan bocah satu ini. Lee Hong Ki, ia teman dekat Hee Chul oppa. Hong Ki dulu sering sekali mampir ke rumah kami dan itu membuat aku dengannya menjadi akrab.

 

“Kemana saja kau selama ini? Kenapa tidak pernah lagi main ke rumah?” tanyaku pada Hong Ki.

“Mianhae, aegya. Aku melanjutkan sekolah ke luar negeri.” jawab Hong Ki. Ia masih sama seperti dulu, memanggilku dengan sebutan ‘aegya’ dan aku tidak mempermasalahkan hal itu.

“Nappeun! Kenapa kau tidak mengabari kami?”

“Haha. Bagaimana bisa aku mengabari kalian sedangkan kalian saat itu pergi ke Daegu? Aku mencoba menelepon kau dan Hee Chul hyung tapi tak ada yang menjawab teleponku itu. Dasar!” keluh Hong Ki sambil mengacak-acak rambutku. “Oya, kebetulan kita bertemu. Aku kenalkan kau dengan teman baruku. Hyung!”

 

Kemudian, seseorang muncul dari belakang Hong Ki. Aku sangat terkejut saat mengetahui siapa teman Hong Ki itu. Setelah sekian lama tidak bertemu bahkan mungkin aku sudah melupakannya, kami di pertemukan kembali. Rasa benci yang sudah aku kubur dalam-dalam kini kembali menyeruak. Tapi, tidak dipungkiri masih tersimpan di dalam hatiku rasa rindu untuk lelaki ini.

“Hyung, kenalkan ini Kim Eun Si. Eun Si, ini Yesung hyung.” Hong Ki memperkenalkan kami.

 

===========================

 

Aku tidak tahu apa yang sedang Tuhan rencanakan untukku. Kenapa Tuhan harus kembali mempertemukanku dengan lelaki itu.

Saat ini aku tengah mencari CD kaset penyanyi kesukaanku di toko kaset yang terletak di daerah myeongdong. DIkarenakan aku tidak menemukannya, aku mencoba bertanya pada penjaga toko kaset itu.

 

“Ah, Mianhamnida aegesshi. CD itu…” ucapan penjaga toko itu terpotong karena ada orang yang datang menghampiriku.

“Eun Si? Sedang apa kau disini?”

“Ye–Yesung-ssi.”

“CD itu baru saja dibeli oleh tuan ini..” Penjaga toko itu melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong.

“he? Jadi kau mencari CD ini? Wah, sayang sekali. Mianhae Eun Si-ya, aku dulu yang mendapatkannya.” kata lelaki ini sambil menyeringai.

 

Aku hanya menatapnya dengan kesal lalu pergi keluar dari toko kaset itu. Ia pun mengikutiku keluar dan menahanku. “Kenapa terburu-buru begitu? Bagaimana kalau kita mampir ke cafe? Aku traktir deh.”

“Tidak perlu, Yesung-ssi. Terima kasih.” jawabku angkuh dan pergi meninggalkannya.

 

– [[ YESUNG POV ]]-

 

Hari ini aku memutuskan jalan-jalan di daerah Myeongdong. Saat melewati toko kaset, aku berhenti sejenak di depannya. Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam dan membeli cd kaset yang kebetulan yang sedang aku cari tersisa satu. Tanpa pikir panjang aku langsung membelinya. “Pasti dia akan menyukainya.” gumamku senang sambil menatap CD itu.

 

Selang beberapa menit saat aku masih ada di depan meja kasir, seorang gadis memasuki toko kaset ini. Aku sangat terkejut ketika mengetahui gadis itu adalah Eun Si. Tampaknya ia sedang mencari CD kaset yang sama seperti yang aku beli dan sayang ia tidak mendapatkannya karena terdahului olehku.

“he? Jadi kau mencari CD ini? Wah, sayang sekali. Mianhae Eun Si-ya, aku dulu yang mendapatkannya.” ucapku sedikit menyombongkan diri. Tapi, reaksi yang ia berikan membuatku menjadi merasa bersalah. Ia pergi keluar begitu saja. Tak kehabisan akal, aku keluar menyusulnya dan kutarik lengannya.

“Kenapa terburu-buru begitu? Bagaimana kalau kita mampir ke cafe? Aku traktir deh.” aku berusaha bersikap ramah padanya. “Tidak perlu, Yesung-ssi. Terima kasih.” jawabnya sambil menatapku tajam. lalu, pergi meninggalkanku yang masih berdiri menatap punggungnya.

 

Aku menghela napas. Sikapnya padaku telah berubah. Eun Si yang hangat berubah menjadi Eun Si yang dingin. Ada kebencian yang tersirat dari matanya saat ia menatap wajahku. Sekaligus aku juga melihat kesedihan yang terpancar dari matanya. Aku menyadari, akulah yang membuatnya membenci diriku. Aku tersenyum walau hatiku terasa miris mengingat apa yang telah aku lakukan padanya dulu. ” Eun Si-ya, mianhae. Tapi, itu harus aku lakukan padamu.”

 

-[[ YESUNG POV END]]-

 

===================================

 

Sejak bertemu di toko kaset, entah kenapa beberapa kali kami bertemu tanpa sengaja. Apa ini yang namanya takdir dan jodoh? Tuhan memisahkan kami dulu dan sekarang Tuhan mempertemukan kami kembali. Bahkan berkali-kali kami dipertemukan tanpa sengaja. Entahlah. Aku tidak terlalu peduli dengan yang namanya takdir atau pun jodoh.

 

“Eun Si?” panggil seseorang. Aku pun menoleh kearah sumber suara. Dia lagi? Ya Tuhan!

“Sedang apa kau disini?” tanya Yesung padaku yang tengah berjalan-jalan di taman kota.

“Bukan urusanmu.” jawabku sekenanya dan melanjutkan kegiatan memotretku yang terhenti tadi.

“Kau masih menyukai fotografi ya?” Yesung berdiri disampingku sambil melihat pemandangan yang tersaji di taman kota ini. Aku tidak menggubrisnya dan malah sibuk melihat hasil fotoku. Lalu, aku berjalan mencari view yang bagus dan memotretnya.

“Kau tak berubah, Eun Si-ya. Masih sama seperti dulu. Suka memotret pemandangan.” tuturnya sambil mengikuti kemanapun kakiku melangkah.

Aku yang mulai risih dengannya, menghentikan langkahku. “Berhentilah mengikutiku!” bentakku kesal.

 

Setelah seharian mengelilingi kota Seoul untuk menambah koleksi foto landscapeku, aku memutuskan pulang ke rumah. Saat memasuki ke dalam rumah, aku melihat ada banyak sepatu asing yang tergeletak rapi di lantai. Aku pun melangkah masuk ke dalam dan langsung disambut ramai oleh teman-teman Hee Chul oppa dan teman-teman Ji Hwa yang sekaligus temanku.

“Kim Eun Si! Welcome home, babe!” teriak Hong Ki riang. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan salam pada mereka. Kemudian berjalan menuju kamarku.

 

Aku merebahkan diri ke kasurku. Rasanya sangat lelah sekali. Tiba-tiba wajah Yesung  terbayang di benakku. Tadi aku melihatnya berada diantara teman-teman Hee Chul oppa. Ia tersenyum kearahku. Senyumannya itu masih sama seperti dulu. “Aghh! Kenapa aku jadi memikirkannya?” gerutuku sambil mengacak-acak rambutku sendiri.

Tak lama kemudian Ji Hwa masuk ke dalam kamarku. “Unnie, kenapa tidak ikut bergabung dengan kami? Masa unnie tega membiarkan aku seorang diri diantara kumpulan laki-laki seperti mereka?” bujuk Ji Hwa dan duduk disampingku. Melihat tatapan matanya yang seperti puppy membuatku tak bisa menolak. Jujur, aku sedang malas untuk bergabung dengan teman-teman Hee Chul oppa. Terlebih lagi ada Yesung diantara mereka. Membuatku semakin malas. Tapi, aku lemah melihat tatapan Ji Hwa tadi. Gadis ini seperti anak anjing. Lincah, ceria, menggemaskan, dan sangat manis. Pantas saja Hee Chul oppa menyukainya. *nyahaha, heenim bakal dicincang teukie gr2 suka am author :p*

 

“Kemana mereka?” tanyaku pada Ji Hwa saat melihat ruang tengah yang ramai tadi mendadak sepi.

“Mereka ada di taman belakang. Kita akan pesta Barbeque.” jawab Ji Hwa antusias.

 

Setelah melihat kedatanganku, kami pun memulai pestanya. Sudah aku duga akan seperti ini. Berhasil membujukku sekarang malah sibuk menempel dengan Hee Chul oppa. Alhasil, aku hanya duduk di bangku tamanseorang diri sambil menikmati Orange Juice. Aku memperhatikan mereka. Hong Ki, Key dan Ryeowook oppa sibuk memanggang daging. Simon oppa, Dong Hae oppa, Eun Hyuk oppa dan Jung Mo oppa meramaikan suasana dengan menyanyi dan bermain gitar. Sang Chun oppa sedang bercanda ria dengan Han Geng gege, Hee Chul oppa dan Ji Hwa. Sung Min oppa menyiapkan wine bersama Kyu Hyun oppa . Yesung, dia sedang berjalan kearahku. EH? sial! kenapa dia harus kesini sih?

 

“Sendirian?”

“Ne.”

“Kenapa tidak bergabung dengan mereka?”

“Malas.”

“Oh.”

 

Apa-apaan ini? Percakapan yang sangat hambar. Aku menghela napas dan menatap lagit malam yang kebetulan hari itu banyak sekali bintang yang bertebaran. Bahkan aku menemukan rasi bintang Cassiopeia yang bersinar paling terang malam itu.

“Whoa~ yeppeoyo.” ucapku spontan. Namun, tiba-tiba hal yang tak kuduga-duga terjadi.

“Eun Si-ya..” panggil Yesung.

“Mm?” aku menoleh dan mendapati Yesung sedang menatapku dengan tajam. Bahkan kini tangannya menggenggam tangan kananku. Aku tidak bisa berkutik. Sejak pertama mengenalnya, aku terlalu lemah dengan tatapan matanya itu. Mendadak jantungku berdebar  lebih cepat. Ia mendekatkan wajahnya kearahku dan semakin dekat.

 

“Chamkkanman! Chamkkanmanyo!!” jeritku dalam hati sambil menutup rapat mataku.

“Hayooo!! Sedang apa kalian?” teriak Hee Chul oppa mengagetkan kami berdua. Aku langsung membuka mataku. Aku langsung menarik napas lega. Sekilas aku melihat ia menundukkan kepalanya. Malu? mungkin.

“Nah yaa! Eun Si, ketahuan..” cibir Hee Chul oppa membuat kami berdua salah tingkah.

“Apaan sih?”  aku langsung pergi meninggalkan mereka berdua.

 

Barbeque pun telah siap, kami segera menyantapnya. Selama pesta itu, aku terus bersama dengan Hong Ki dan berusaha menghindari Yesung. Kami bercanda bersama dan itu sangat menyenangkan. Berkali-kali aku melihat Yesung terus menatap kearah kami. Bahkan saat tangan Hong Ki merangkul pundakku, ia menatapku dengan tajam. Tapi, aku tak mau ambil pusing tentang itu. Aku malah membalas rangkulan Hong Ki. Entah setan apa yang merasukiku, selama pesta aku terus menempel pada Hong Ki. Aku berusaha bersikap mesra dengan Hong Ki dihadapan Yesung. Aku juga tidak tahu kenapa aku melakukan ini. Mungkin aku ingin membalas dendam bagaimana sakitnya hatiku saat ia bersama gadis lain.

 

Pesta pun akhirnya selesai pada dini hari sekitar pukul 2 pagi.

“Ahhhh.. kenapa harus sudah selesai? Kita lanjutkan lagi saja sampai pagi..” keluh Hee Chul oppa yang tampaknya sudah mabuk karena terlalu banyak minum wine dan soju. Jalannya pun sudah sempoyongan seperti itu.

“Oppa! Kau sudah mabuk..” Ji Hwa langsung menopang tubuh Hee Chul yang hampir terjatuh.

“Yoon Ji Hwa. Kau milikku! Aku mencintaimu, Yoon Ji Hwa! Hhahaha..” ucap Hee Chul oppa yang mulai ngelantur. tampaknya mulai bahaya ini. Hee Chul oppa mabuk dan sekarang omongannya mulai ngelantur. Sebentar lagi pasti ia akan berbuat macam-macam. Dan bingo! Ia mencium bibir Ji Hwa di hadapan kami. Sungguh gila! *wuah! author gak mau tanggungjwb kalo ntar teukie murka*

“Eun Si!”

Aku pura-pura tak mendengar ada seseorang yang memanggilku. Aku sudah mengenal pemilik suara itu. Aku memutuskan masuk ke dalam.

“Eun Si!!” panggil Yesung lagi dan kali ini menarik tanganku dan menggiringku ke taman yang kini sudah sepi. Genggaman tangannya terlalu kencang hingga membuatku meringis kesakitan. “Kenapa kau melakukan itu? Apa maksudnya?”

“Melakukan apa?” aku tidak mengerti apa yang ia maksud dengan melakukan itu.

“jangan pura-pura tidak tahu! Kenapa kau bersikap seperti itu dengan Hong Ki?” tanya Yesung dengan penekanan di seluruh kalimat yang ia ucapkan *??*.

“Lalu? Apa hakmu melarangku? Aku mau dekat dengan siapa sekarang BUKAN URUSANMU, Kim Jong Woon-ssi!!” bentakku emosi. Yesung melepaskan tangannya yang sedari tadi mencengkeram erat lenganku. Tatapan matanya yang tadi terlihat marah berubah menjadi sedih.

“Apa sudah tidak ada kesempatan kedua untukku, Kim Eun Si-yang?”

Aku terdiam dan hanya menatapnya. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran lelaki ini.

“Apa kau pikir aku bisa memberimu kesempatan kedua setelah apa yang kau lakukan padaku, Yesung-ssi? Aku tidak habis pikir. Kau egois!” ucapku kesal dan bergegas menuju kamar.

 

Aku termenung di dalam kamar. Semua yang terjadi barusan terus berputar di otakku. Ia telah kembali mengingatkanku akan kejadian pahit itu. Tapi, ada satu yang mengganjal hatiku. Wajahnya. Malam tadi, dia terlihat pucat. Berbeda saat aku bertemu dengannya tadi siang di taman kota. Bahkan tangannya berkeringat dan itu dingin.

 

===================================================

 

Selama ini aku tidak pernah melihatnya sepucat itu. Pikiran-pikiran negative pun datang menghampiriku. Dan ini sudah seminggu setelah pesta Barbeque. Aku tidak pernah lagi melihat wajahnya. Terakhir ia datang ke rumah adalah sehari setelah pesta itu. Hari itu dia masih bisa tertawa dan berusaha mengajakku ngobrol seperti biasa. Seolah terlihat tak terjadi apa-apa antara aku dengannya semalam.

 

Aku yang mulai terbiasa dengan keberadaannya selama sebulan ini merasa kehilangan. Ia menghilang begitu saja setelah muncul kembali. Aku mencoba bertanya pada Hong Ki pun juga tak ada hasilnya. Sampai suatu hari aku mendapati ia tengah keluar dari Rumah Sakit dan menuju Apotik yang tepat disamping Rumah Sakit. Aku pun menunggunya di depan Apotik.

 

“Ah, Eun Si? Wae? Sedang apa kau disini?” tanya Yesung gugup. Gelagatnya terlihat aneh.

“Apa kau sakit?” aku balik bertanya.

“Ye? Ani…aniyo.”

“Lalu, kenapa kau pergi ke Rumah Sakit dan ke Apotik? Igo mwoya?” aku menunjuk sebuah tas plastik kecil yang ia bawa. Aku tebak, pasti itu obat.

“Ahh.. ige..  hanya obat. Aku sedikit demam. Makanya, langsung pergi ke Rumah Sakit..hehe” jawabnya. “Ngomong-ngomong, kenapa kau jadi peduli denganku?”

“He? Ani–aniyo! Si–siapa yang peduli padamu? Aku..aku hanya kebetulan lewat sini dan melihatmu. Itu saja.” elakku. Sebelum maluku bertambah, aku memutuskan pergi. ” Sudah ah. Aku pergi dulu.”

“Chamkkanman!”

“Wae?”

“Apa lusa kau ada waktu luang? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Dan kuyakin kau akan menyukainya. Pastikan kau bawa kamera.”

“Lihat besok.”

 

================================

 

Hari ini adalah hari yang ditentukan Yesung untuk mengajakku pergi. Sore ini Yesung sedang menungguku di ruang tamu. Sedangkan aku sedari tadi masih sibuk memilih baju. Aku terus membongkar lemari untuk mencari pakaian yang sesuai. Dan setelah menghabiskan waktu 15 menit, aku menemukan pakaian yang sesuai. Kemudian, aku keluar dan menemui Yesung. Setelah semua siap kami segera pergi ke tempat tujuan.

 

Selama perjalanan tak banyak kalimat yang kuucapkan. Aku hanya menjawab seperlunya dan mengatakan seadanya jika Yesung mengajakku berbicara. Entah kenapa aku menjadi merasa canggung di dekatnya.

“Nah, sudah sampai!” serunya. Ia segera memarkirkan mobilnya.

Aku membuka jendela dan menjulurkan kepalaku keluar jendela. “Namsang Tower? Kau mengajakku ke Namsang Tower?”

“Ne. Bukankah jika kita berada di tower itu, kita bisa melihat pemandangan? Pemandangan dari sana sangat bagus. Kau bisa memotret sepuasmu.” Yesung menatapku lembut membuat wajahku merona merah.

“Ne, arasseo.”

 

Kami pun segera menuju ke tower. Benar apa yang dikatakan Yesung. Pemandangan dari sini sangat indah. Apalagi ditambah pemandangan matahari tenggelam. Sangat bagus. Aku yang tidak mau kehilangan kesempatan lantas mengeluarkan kameraku dan memotret pemandangan yang ada di depan mata.

“Aku tidak tahu ternyata dari atas menara bisa melihat pemandangan seindah ini.” tuturku senang sambil kembali melihat hasil potretku.

“Apa kau belum pernah kesini?”

“Ye? Aku jarang datang ke tempat seperti ini.” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari kamera. “Aku lebih suka pergi ke pantai atau keatas bukit.” lanjutku sambil tersenyum kearahnya.

“Kau masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah dalam dirimu, Eun Si-ya.” Yesung menepuk puncak kepalaku. Diperlakukan seperti itu membuat jantungku berdegup kencang.

 

Aku kembali memotret sedangkan dia pergi untuk membeli minuman. Aku membalikkan badanku menatap dirinya yang berjalan menuju mesin penjual minuman. Aku mengarahkan kameraku kearahnya dan memotret dirinya. “Kenapa kau pintar sekali memainkan perasaanku, Yesung-ssi?” gumamku sambil menatap dirinya.

“Ini untukmu. Chocolate cappucino.” Yesung memberikan sebotol kaleng minuman kepadaku. Bahkan ia masih ingat apa minuman kesukaanku.

“Gomapta.”

 

 

Saat aku sibuk memotret, aku mendengarnya bernyanyi. Sejenak aku menghentikan kegiatanku dan mendengarkannya bernyanyi. Suaranya terdengar sangat lembut dan merdu. Aku kembali memotret sambil mendengar suara merdunya melantunkan lagu.

Hampir 2 jam kami menghabiskan waktu disini. Yesung pun langsung menarikku dan ia kembali mengajakku ke suatu tempat. Ia mengajakku ke Lotte World. Disana kami menghabiskan waktu dengan menaiki beberapa wahana yang ada. Ia juga mentraktirku makan ice cream. Kecanggungan yang sangat terasa saat di Namsang Tower kini mulai mencair. Kami tertawa bersama, bercanda, dan bahkan kami berfoto bersama menggunakan kameraku. Malam itu, kami menghabiskan waktu dengan bermain dan berjalan-jalan sepuasnya di Lotte World. Akan tetapi, saat kami akan memutuskan pulang. Wajah Yesung terlihat sangat pucat. Berkali-kali aku melihatnya saat kami bermain tadi, dia seperti menahan sakit.

 

“Eun Si-ya..” panggilnya. Saat ini kami sudah berada di depan rumahku.

“Ne?”

“Maafkan aku..”

“For what, Yesung-ssi?”

“Kejadian 5 tahun yang lalu..Aku tahu, karena itu kau menjadi benci padaku dan selalu bersikap dingin padaku selama ini.”

“Sudahlah. Aku tidak ingin lagi mengingat atau membahas masalah itu. Jadi, tolong jangan bicarakan itu lagi.” suaraku mulai meninggi.

“Tapi, aku merasa sangat bersalah padamu, Eun Si. Apa kau mau memaafkanku?”

 

Aku terdiam. Entah aku bisa memaafkannya atau tidak. Perbuatannya itu benar-benar membuatku sakit hati.

 

“Tampaknya memang percuma.” Yesung berkata seraya menengadahkan kepalanya. Ia kembali menatapku. ” Aku akan terima jika kau memang tidak memaafkanku. Eun Si-ya, terima kasih untuk semuanya hari ini. Melihatmu tertawa itu sudah sangat cukup untukku.”

 

Aku menatapnya. Sungguh! Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Tiba-tiba saja ia memelukku.

 

“Saranghae, Kim Eun Si. Terima kasih kau mau bersedia menemaniku di saat-saat terakhirku ini.” Yesung melepas pelukannya dan menatap mataku dengan lembut. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kami sama-sama saling memejamkan mata. Sejurus kemudian, Yesung mencium bibirku. Aku menyambut ciumannya. Tatapannya membuatku tak bisa melawan.

“Sekarang, aku bisa pergi dengan tenang.” ucapnya setelah melepas ciuman kami.

“Mwo? memang kau…umphh.” ia kembali menciumku. Seolah tak ingin memberiku kesempatan untuk bicara. Kali ini lebih dalam dari sebelumnya dan bodohnya sekali lagi aku tidak bisa menolaknya. Oh, tidak! Tampaknya aku kembali menyukainya.

 

Seluruh tubuhku mendadak jadi lemas. Jantungku kembali berdetak lebih cepat. Aku terus melihat kearahnya yang kini telah berada di dalam mobil. Ia melambaikan tangan kepadaku dan aku membalasnya. Kenapa kau pintar sekali mempermainkan perasaanku, Kim Jong Woon? Kau membuatku cinta padamu hanya karena senyum dan tatapan matamu yang lembut. Kau membuatku membenciku dengan sikap playboymu. Dan sekarang kau kembali membuatku mencintaimu hanya dengan bersamamu seharian ini.

 

=============================

 

Sudah dua hari ini tak ada kabar dari Yesung. Dia kembali menghilang tanpa jejak. Tiba-tiba, ucapannya kembali teringat olehku.

 

“Saranghae, Kim Eun Si. Terima kasih kau mau bersedia menemaniku di saat-saat terakhirku ini.”

“Sekarang, aku bisa pergi dengan tenang.”

 

Perasaanku berubah tidak enak. Saat-saat terakhir? Pergi dengan tenang? Apa maksudnya?

 

“Eun Si-ya!!!” teriak Hong Ki. Aku langsung keluar dari kamarku.

“Hong Ki? Kenapa kau datang ke rumahku? Ada perlu apa?”

“Eun Si-ya..” wajah Hong Ki terlihat sangat pucat.

“Ne. Waeyo?” aku menatapnya dengan bingung.

“Yesung hyung. Yesung hyung, Eun Si-ya!!” Hong Ki berkata dengan suara yang tinggi. Ia terduduk lemas di lantai.

 

Tiba-tiba saja jantungku berdetak tak karuan. “Apa yang terjadi dengan Yesung, Hong Ki-ya?” Aku mengguncang-guncang tubuh Hong Ki. Tanpa pikir panjang Hong Ki langsung membawaku ke Rumah Sakit. Aku yang bertanya kenapa kesini sama sekali tidak digubrisnya. Ia tampak terburu-buru. Lalu, kami masuk ke salah satu kamar pasien. Seketika aku mematung saat mendapati Yesung tergeletak lemas diatas kasur dengan berbagai peralatan medis disampingnya.

 

Dengan perlahan aku menghampirinya. “Wae? Wae?!” teriakku sembari memegang tangannya.

“Unnie-ya..” Ji Hwa menepuk pundakku.

“Ji Hwa-ya, Hee Chul oppa..” aku memandang sekelilingku. Disana juga ada Simon oppa, Sang Chun oppa, Wookie oppa, dan yang lainnya. Mereka semua menundukkan kepala.

 

Aku datang terlambat. Yesung telah pergi. Dia tidak akan lagi membuka matanya. Aku hanya bisa menangisi kepergiannya. Ji Hwa memelukku. Ia juga menangis. Aku tidak akan lagi bisa melihat senyumnya, tidak bisa lagi mendengar suara merdunya saat bernyanyi, tidak akan ada lagi suara ocehannya.

 

-Tempat pemakaman-

 

Pagi ini Pemakaman Yesung dilaksanakan. Bersama dengan Ji Hwa dan Hee Chul oppa, aku menghadiri upacara pemakaman. Selama pemakaman berlangsung, aku hanya memandangi foto Yesung yang terpampang diatas makamnya.

 

Aku masih berdiri menatap makam Yesung. Semua pelayat telah pulang. Hanya aku dan Hong Ki seorang di makam ini. Aku juga menolak saat Hee Chul oppa mengajakku pulang. Aku meletakkan rangkaian bunga lily diatas makamnya. Aku tidak menyangka akan hal ini. Yesung pergi untuk selamanya. Dan baru kuketahui penyebab kematiannya adalah penyakit kanker paru-paru yang telah lama menggerogoti tubuhnya. “Babo..” aku berguman dan menundukkan kepalaku.

 

“Eun Si-ya..” Hong Ki menghampiriku. “Yesung hyung menitipkan ini padaku.” ujar Hong Ki sambil menyerahkan sebuah surat kepadaku. Aku menerima surat itu dan membukanya. Lalu, kubaca surat itu dalam hati.

 

Dear my love, Kim Eun Si..

 

Eun Si-ya, annyeong ^o^

Aku tahu, kau sangat membenciku karena aku memutuskanmu secara sepihak. Dan menduakanmu.

Eun Si-ya, maafkan aku. Aku terpaksa melakukan itu semua.

Saat kau melihatku berciuman dengan gadis lain serta melihatku kencan dengan gadis yang sama. itu semua hanya rekayasa. Saat itu, aku tak benar-benar menciumnya dan kencan dengan gadis itu juga adalah atas usulku sendiri. Aku tahu, aku jahat dan tega melakukan itu. Tapi, apa kau tau sebab aku melakukan itu semua. Semua itu kulakukan untukmu. Bukankah lebih baik membuatmu membenciku daripada kau mencintai lelaki berpenyakitan sepertiku yang bisa mati kapan saja. Sebulan setelah kita jadian, baru kuketahui aku mengidap kanker paru-paru. Maka dari itulah aku melakukan hal seperti itu agar kau membenciku dan melupakanku.

 

Ternyata usahaku gagal. Kau dengan mudahnya memaafkan diriku. Tapi, semakin hari penyakitku semakin parah. Para Dokter mengusulkanku untuk melakukan perawatan dan itu tempatnya di luar negeri. Maka dari itu, aku terpaksa memutuskanmu dengan alasan ingin melanjutkan sekolah disana.  Kata maaf dariku, tampaknya tak cukup untuk mengobati lukamu.

 

Setelah hampir 5 tahun aku disana, aku menyerah dan memutuskan pulang. Tampaknya ini adalah hukuman yang Tuhan berikan untukku karena telah membuatmu terluka. Penyakitku telah sampai stadium akhir dan sulit untuk disembuhkan. Kanker telah menyebar ke seluruh tubuhku.

kau tahu bagaimana perasaanku saat Tuhan mempertemukan kita kembali? Sangat senang! Aku yang telah menyerah kembali memiliki semangat. Walau kau membenciku, aku terus mendekatimu. Karena apa? Karena aku ingin menghabiskan saat-saat terakhirku denganmu, Eun Si-ya. Dari dulu cintaku selalu untukmu dan tak akan pernah berubah. Sampai aku mati, aku akan terus mencintaimu, Eun Si-ya..

 

Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan untukmu.

I love U..and I’m Sorry, my love..

 

-Kim Jong Woon-

 

Airmataku semakin deras mengalir dan membasahi kertas. Aku meremas kertas itu.

“Nappeun!” gumamku.

“Kau egois! Kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri! Kenapa kau tidak katakan yang sejujurnya padaku? itu akan lebih baik daripada harus seperti ini. Kau datang ke dalam kehidupanku, lalu pergi begitu saja dan meninggalkan luka yang dalam untukku. Sekarang, setelah Tuhan mempertemukan kita lagi kau pergi. Kau pergi dan tak akan kembali. Disaat aku bisa lagi merasakan cinta. Kau jahat, oppa!” aku menangis sejadinya. Hong Ki langsung datang menghampiriku. Ia memelukku dan menenangkanku.

 

-THE END-

It Has To Be You 2 (chapter 6)

Standar

 

Genre: Tragedy, Family, Friendship, Love

Cast: Super Junior, Jeoran, Hyekyu, Eunjo, Hyobyun

PG: 15

 

*PLEASE DON’T BE SILENT READER!!! HELP AUTHOR WITH GIVE COMMENT*

 

it has to be you 2 chapter 6

 

Siwon menutup flat HPnya.

“Bagaimana?” tanya Eunjo.

“Dia tidak mengangkat.” Jawab Siwon.

“Telpon rumahnya.” Sahut Heecul.

Siwon mengangguk. Ia membuka flat HPnya kemudian menghubungi nomor rumah Shin Hyobyun.

“Yoboseyo~ ……. Choi Siwon imnida. Apakah Hyobyun ada di rumah? ………….. Yesung? ………… Jeongmal? … ah ahjumma apakah aku boleh meminta alamat rumah Yesung? ……………….. Gamsahamnida~” ucap Siwon lalu menutup flat HPnya.

“Bagaimana?” tanya Eunjo penasaran.

“ Aku mendapat alamat rumah Yesung.” Cletuk Siwon.

 

©©©©©©©

 

Keesokan harinya

 

“Kau dari mana?” tanya Jeoran yang melihat Hyukjae baru datang.

“Aku baru saja dari rumah teman.” Jawab Hyukjae.

“Kau sudah makan?” tanya Jeoran.

Hyukjae menggeleng.

“Ayo kita makan di luar.” Cletuk Jeoran.

“Kau tidak makan buatan nenek Jang?” tanya Hyukjae.

“Dia sudah tua. Aku tidak ingin merepotkannya lagi. Lagipula saat ini dia sibuk mengurus taman belakang.” Ujar Jeoran.

“Baiklah jika begitu. Aku tahu tempat yang tepat.” Ucap Hyukjae.

 

©©©©©©©

 

“Hyekyu~” panggil seorang ahjussi dari luar rumah.

“Ne~” sahut Hyekyu dari dalam rumah.

“Ada namja yang mencarimu. Cepat kemari!” sahut ahjussi.

“Nugu?” sahut Hyekyu.

“Orang yang kau kenal~ aku juga mengenalnya.” Ucap ahjussi.

Beberapa detik kemudian Hyekyu keluar. Ia terkejut.

“O… oppa~” cletuk Hyekyu.

Namja itu tersenyum lalu berkata,

“Annyeong~”

Hyekyu hanya bisa tertegun.

“A~ ada apa mencariku?” tanya Hyekyu.

“Pertama aku minta maaf atas tindakanku tempo hari. Ke dua aku ingin mengucapkan terimah kasih karena kau menyelamatkan hidupku. Ketiga aku ingin minta bantuan kepadamu.” Ucap namja itu.

“Bantuan apa? Oh ya bagaimana aku harus memanggilmu?” sahut Hyekyu.

“Tolong bantu aku mengingat kembali ingatanku. Panggil aku Yesung.” Sahut namja itu.

“Ne~ Yesung oppa~” ujar Hyekyu.

 

©©©©©©©

 

“Ramennya enak sekali.” Ujar Jeoran.

“Tentu saja.” Sahut Hyukjae.

Lalu mereka terdiam.

“Sampai kapan kita bicara bahasa Ingrris seperti ini?” tanya Hyukjae tiba-tiba.

“Sampai segala urusan terselesaikan.” Ujar Jeoran.

Mereka melanjutkan perjalanan. Beberapa menit kemudian Jeoran berhenti. Ia terdiam.

“Why?” tanya Hyukjae.

Jeoran tidak menjawab. Ia malah melangkahkan kakinya ke suatu rumah. Ia mengikuti alunan melodi yang ia dengar. Saat tiba di mana melodi itu berasal, Jeoran tertegun.

“Ye  ye Yesung~” ucapnya.

Yesung berhenti memetikkan gitar dan memandang Jeoran. Yeoja yang ada di samping Yesung ikut terkejut.

Mata Jeoran mulai berkaca-kaca.

“Benarkah kau Yesung?” tanya Jeoran dalam bahasa Korea.

Hyukjae hanya memandang dari jauh. Ia tidak ingin ikut campur. Ia hanya ingin mengawasi.

“Ne~ Aku Yesung.” Ucap Yesung.

“Apakah aku mengenalmu?” tanya Yesung.

Jeroan menangis.

“Apakah kau tidak ingat lagi denganku Yesung? Apa perlu aku mengingatkanmu?” isak Jeoran.

Kemudian ia mulai bernyanyi

 

Oneuldo nae gieogeul ttarahemaeda
I gil kkeuteseo seoseongineun na
Dasin bol sudo eomneun niga nareul butjaba
Naneun tto I gireul mutneunda

Neol bogo sipdago
Tto ango sipdago
Jeo haneulbomyeo gidohaneun nal

Niga animyeon andwae
Neo eobsin nan andwae
Na ireoke haru handareul tto illyeoneul
Na apado joha
Nae mam dachyeodo joha nan
Geurae nan neo hanaman saranghanikka

 

Yesung mencengkram kepalahnya lalu tidak sadarkan diri.

“Yesung!!!” triak Jeoran panik.

Ia langsung mendekati Yesung.

“Ahjussi!!! Ahjussi!! Tolong!!!” triak Hyekyu memanggil ahjussinya.

Hyukjae berlari mendekat.

“Apa perlu di bawa ke rumah sakit?” cletuknya.

“Aniyo~ ahjussi seorang dokter.” Sahut Hyekyu.

 

 

“Ayo kita pulang. Ini sudah larut. Lagi pula kita dapat menengoknya besok.” Bujuk Hyukjae.

Jeoran menggeleng.

“Pulanglah~ dia tidak apa-apa. Besok kau bisa menengoknya.” Ucap ahjussi yang berada bersama mereka.

Jeoran mengenggam tangan Yesung. Ia terus menangis.

“Pulanglah~ kau butuh istirahat juga. Jika dia sadar aku akan memberitahu Yesung oppa untuk menemuimu. Aku tahu siapa kau. Kau penyanyi terkenal itu. Aku tidak tahu apa hubunganmu dengannya. Tapi setiap mendengar lagu itu ia selalu begini. Saat ia sadar, ia mengingat sesuatu. Ku harap saat sadar ia mengingat dirimu.” Ucap Hyekyu..

Akhirnya Jeoran memutuskan untuk pulang ke tempat tinggal yang di rawat oleh nenek Jang. Saat tiba di rumah nenek Jang sungguh khawatir dengan kondisi Jeoran.

“Ada apa dengannya?” tanya nenek Jang.

“Ceritanya panjang~” ucap Hyukjae.

 

©©©©©©©

 

Keesokan harinya

 

“Dimana dia?” tanya Jeoran.

“Dia… dia…”

Jeoran mencengkram tangan Hyekyu.

“Katakan padaku dimana dia!!!” triak Jeoran.

“Jeo~ tenang~” sahut Hyukjae mencoba melepaskan tangan Jeoran dari tangan Hyekyu.

“Aniyo~ dia berjanji menyuruh Yesung untuk menemuiku taoi mana? Mana? Dia tidak menemuiku? Bahkan dia tidak mau mengatakan di mana Yesung saat ini.” Sentak Jeoran.

“Jeo! Apa yang kau lakukan di sini.” Sahut sebuah suara.

Semua mata memandang orang itu.

Orang itu berjalan mendekati.

“Ada apa ini?” tanya orang itu.

Jeoran melepaskan cengkramannya. Ia terduduk menangis.

“Mianhae~” ucap Hyekyu menitikkan air mata.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya orang yang baru datang itu.

“Kyu~ kau mengenal Jeoran?” cletuk Hyekyu.

Kyuhyun terdiam.

“Tentu saja aku mengenalnya. Dia yeojachingu saudaraku, saudarku yang sudah meninggal.” Ucap Kyuhyun lalu terduduk.

“Jeoran~ apa yang terjadi?” tanyanya kepada Jeoran yang menangis.

Hyekyu menelan ludah. Akhirnya ia tahu siapa yeoja yang dimaksud Siwon.

“Ini ada sakut pautnya dengan oppaku.” Cletuk Hyekyu.

“Oppamu? Ada apa dengan oppamu?” sahut Kyuhyun.

“Dia bukan oppa kandungku. Aku hanya merawatnya saat dia tidak mengingat dirinya.” Ucap Hyekyu.

“Namja itu Yesung. Kemarin ia kemari, Jeoran menemukannya saat ia memtikkan gitar. Lalu ia pingsan dan kami meninggalkannya untuk di rawat Hyekyu. Kami berniat menemuinya keesokan harinya, hari ini. Tapi sepertinya namja itu tidak ada di sini.” Sahut Hyukjae.

“Kemarin sesorang menghubunginya. Ia mengatakan ia keluarganya. Lalu yeoja itu membawanya pulang. Ia mengaku ia calon istrinya Yesung.” Cletuk Hyekyu.

“Kau tahu siapa yeoja itu?” tanya Kyuhyun bangkit.

Hyekyu mengangguk.

“Shin Hyobyun.” Ucap Hyekyu.

“Bukankah dia aktris. Lawan main Choi Siwon di serial drama terbaru itu.” Sahut Hyukjae.

“Siwon? Ya benar~ sepertinya aku tahu bagaimana cara menemukan Yesung. Jeoran bangunlah aku akan membawamu menemui Yesung.” Sahut Kyuhyun.

Jeoran bangkit.

“Mengapa kau membantuku menemuinya? Bukankah kau tidak ingin aku menginatnya lagi?” ujar Jeoran ketus.

“Karena aku tidak ingin melihatmu menangis. Aku ingin melihatmu bahagia. Tersenyum seperti dulu lagi.” Ucap Kyuhyun.

 

©©©©©©©

 

“MWORAGO?” sahut Siwon.

“Aish~ yeoja itu tidak pernah sedetik saja tidak membuat masalah. Baiklah aku akan menangani yang satu ini.” Lanjut Siwon menutup flat HPnya.

Ia mencengkram HPnya kemudian membantingnya ketembok. Ia mendesah.

“Baiklah Shin Hyobyun, jika kau ingin berperang aku akan melawanmu. Kau perlu tahu apa arti cinta yang sebenarnya.” Ucap Siwon.

Ia meraih kunci mobilnya dan berjalan ke gerasi. Ia membuka pintu mobilnya yang berwarna hitam. Ia menyalakan mesinnya, menarik handrem, lalu memasukkan gigi kemudian ia menancapkan gas.

Ia berhenti di suatu tempat. Dan turun dari mobilnya. Ia menarik tangan seorang yeoja dengan kasar.

“Apa yang kau lakukan. Lepaskan!!!” sentak yeoja itu.

“Hyobyun~ kau boleh saja mencintai seseorang. Tapi kau tidak boleh berbohong seperti itu.” Ujar Siwon.

“Hey apa yang kau lakukan!” seru seseorang.

Orang itu berjalan mendekati.

“Siwon~ apa yang kau lakukan.” Ucap orang itu ketika melihat wajah Siwon.

“Kau ingat denganku Yesung?” tanya Siwon.

Yesung mengangguk.

“Apakah kau mengingat Jeoran?” tanya Siwon lagi.

Yesung mengangguk.

“Aku memberikan lagu ciptaanku untuk dinyanyikan olehnya. Waeyo?” ujar Yesung.

“Apa hubunganmu dengan Jeoran?” tanya Siwon sekali lagi.

“Komposer dengan penyanyi.” Jawab Yesung.

“Lalu apa hubunganmu dengan Hyobyun?” tanya Siwon untuk kesekian kalinya.

“Dia calon istriku.” Ujar Yesung.

 

©©©©©©©

 

“Hyung~ aku beberapa kali menghubungimu tidak bisa. Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Kyuhyun.

Siwon hanya duduk tertunduk. Ia memutar-mutar cangkir kopinya.

“Ini buruk.” Ucap Siwon pelan.

“Apa yang buruk?” tanya Kyuhyun.

“Yesung hilang ingatan. Dia tidak dapat mengingat kejadian sau setengah tahun yang lalu. Kemudian ia menerima ingatan palsu dari seseorang yang mengaku calon istrinya.” Jawab Siwon.

“Hyobyun~” sahut Kyuhyun.

“Yeoja itu telah memanipulasi Yesung. Aktingnya hebat. Ia juga dapat mengarang cerita sedemikian rupa. Sepertinya ia layak mendapatkan adwards untuk ini.” Sahut Siwon.

“Apa yang harus ku katakan kepada Jaerin?” sahut Kyuhyun bimbang.

“Katakan kepadanya yang sebenarnya.” Sahut Siwon.

Kyuhyun mendesah.

“Ini akan menjadi flash back.” Cletuk Kyuhyun.

 

©©©©©©©

 

Keesokan harinya

 

 

Joeran menanti seseorang. Matanya tidak berhenti memandang pagar rumah yang ada di sebrangnya. Lima menit kemudian seorang namja keluar.

“Yesung ah~” panggil Jeoran menahan Yesung.

“Ne, ada apa?” ucap Yesung.

“Kau mengenalku?” tanya Jeoran.

Yesung mengangguk.

“Kau yang menyanyikan lagu ciptaanku. Kau So Jeoran.” Ucap Yesung.

“Kau ingat semuanya?” tanya Jeoran lagi.

“Ehm~ belum. Maaf aku buru-buru. Aku mau membeli cincin.” Ucap Yesung.

“Cincin? Cincin apa?” sahut Jeoran.

“Cincin pernikahan. Aku akan segera menikah dengan Shin Hyobyun.” Ucap Yesung.

Jeoran mulai menitikkan air mata. Ia membuka sling bagnya. Mengambil sebuah buku diari.

“Ini untukmu.” Ucap Jeoran memberikan buku diari kepada Yesung.

Yesung menerimanya.

“Sebenarnya itu milikmu.” Ucap Jeoran dengan berlinang air mata.

“Ku harap kau dapat mengingatnya.” Isak Jeoran kemudian.

“Ne gomawo~” ucap Yesung.

Ia beranjak meninggalkan Jeoran.

Jeoran terduduk menangis. Ia tidak merasa sakit menerima kenyataan yang pahit.

Yesung tidak mengerti kenapa Jeoran menangis. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Jeoran. Yeoja itu menangis. Ia semakin tidak mengerti melihatnya. Ia merasa ada sesuatu yang salah. Dan ia merasa ia tidak asing dengan tangisan itu.

 

 

“Ada angin apa kau ingin kemabali ke Seoul?” tanya Kyuhyun sembari memasukkan koper ke dalam bagasi mobilnya.

“Aku ingin membantu Yesung oppa mengingat kemabli ingatannnya.” Sahut Hyekyu.

“Kau serius akan melakukannya?” tanya Kyuhyun.

Hyekyu mengangguk.

“Tentu saja. Aku tidak akan membiarkannya menderita karena kehilangan ingatanya.” Cletuk Hyekyu.

“Tapi bagaimana jika dia tidak menginginkan kenangan itu?” tanya Kyuhyun serius.

Hyekyu mencubit lengan Kyuhyun.

“Tidak mungkin Yesung oppa tidak menginginkan kenangan itu. Itukan kenangan yang membuatnya bertahan hidup. Kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan.” Omel Hyekyu.

“Buktinya dia melupakannya.” Cletuk Kyuhyun.

“Aish~ kau ini mengajak bercanda denganku.” Sentak Hyekyu.

Kyuhyun tertawa.

 

©©©©©©©

 

Hyukjae melirik Jeoran dari kaca spion tengah. Yeoja itu tidak menangis lagi. Tapi dari wajahnya terukir sangat jelas luka yang begitu dalam. Wajahnya pucat pasih. Pandangannya kosong. Matanya sedikit merah.

Hyukjae jadi mengingat Sangwoo. Ia memiliki paras yang sama dengan Jeoran. Memang benar karena mereka kembar. Tapi mereka kembar bersaudara. Jadi ada beberapa perbedaan. Saat melihat Jeoran seperti ini, ia selalu mengingat kembali Sangwoo. Ia menganggap Sangwoo sepertinya saudaranya sendiri. Namja itu selalu bersikap baik dengannya. Karena kebaikannya ia tidak pernah membagi penderitaannya dengan Hyukjae.

Sangwoo selalu merehasiakan sesuatu kepada Hyukjae. Sesuatu yang pribadi. Ia tidak ingin Hyukjae mengetahui yang sebenarnya. Sangwoo tidak ingin siapaun tahu. tapi saat ini semuanya telah terbongkar. Akhirnya Hyukjae mengetahui penyebab Sangwoo berekspresi seperti Jeoran saat ini. Itu karena luka yang ia simpan sendiri. Sangwoo tidak pernah menceritakan yang sebenarnya tentang siapa dirinya. Perasaanya~

Hyukjae menyalakan musik agar membuat Jeoran tenang. Lagu yang di sukai Sangwoo. Ia berharap Jeoran menyukainya.

“Lagunya enak~ ini soundtrack bukan?” ujar Jeoran yang tiba-tiba membuka mulut.

Ekspresinya sudah berubah.

“Ne~” sahut Hyukjae.

“Ini lagu kesukaan Sangwoo.” Lanjut Hyukjae.

“Oh ya aku hampir lupa dengan saudara kembarku sendiri.” Cletuk Jeoran.

“Andai saja ia mengatakan langsung kepadaku. Pasti aku senang sekali mengetahui aku masih memiliki saudara. Aku ingin mengajaknya jalan-jalan. Membuat kenangan dan berbagi layaknya kakak adik. Tapi kini dia telah pergi meninggalkanku.” Ucap Jeoran.

“Kau sedih?” tanya Hyukjae.

“Tentu~” ucap Jeoran pelan.

Ekspresinya kembali sedih.

“Aku ingin tahu seperti apa dia. Bisakah kau menceritakan padaku?” cletuk Jeoran.

“Dia tidak jauh berbeda denganmu. Dia memiliki wajah yang hampir sama denganmu. Hanya mata kalian berbeda. Aku pernah melihat foto orang tuamu. Matamu menurun eommamu dan mata Sangwoo menurun appamu.” Terang Hyukjae.

“Jinca? Apa kau memiliki foto mereka?” sahut Jeoran.

“Tentu saja. Nyonya Kang~ ahjumma mu itu pasti memilikinya. Hanya saja ia menyimpannya di gudang. Itu kenangan terburuknya. Kau pasti masih ingat ceritaku tbeberapa waktu lalu. Hubungan mereka tidak baik.” Ujar Hyukjae.

“Lalu~ Seperti apa lagi Sanwo?” tanya Jeoran antusias.

Hyukjaepun mulai bercerita semabari menyetir. Setidaknya ia dapat menghapus sejenak ekspresi kesedihan di wajah Jeoran.

 

©©©©©©©

 

Jeoran memandangi satu demi satu foto dari album yang ada di pangkuannya saat ini. Sesekali ia tersenyum. Seharusnya ia menitikkan air matanya. Seharusnya ia menangis karena tidak pernah bertemu dengan mereka. Ia dapat tegar menghadapi hidupnya yang begitu menyedihkan.

“Appa~ eomma~ kalian pasangan yang begitu serasi. Aku senang dapat melihat wajah kalian meski aku tidak pernah bertemu dengan kalian. Aku sungguh senang~ karena akhirnya aku mengetahui kalian. Meski kalian telah tiada~ tapi aku merasa kalian sungguh dekat denganku.

Appa~ eomma~ besok aku akan berkunjung ke makam kalian. Tunggu aku ya~” ucap Jeoran sembari memandangi foto kedua orang tuanya.

Kemudian ia menutup album itu dan berahli ke album yang lain. Ia melihat foto bayi. Ia tersenyum.

“Ternyata kita tak jauh berbeda.” Ucap Jeoran.

Ia membalik halaman ke halaman selanjutnya. Foto balita.

Jeoran tersenyum lagi.

“Astaga~ tidak aku sangka kau benar-benar mirip denganku. Ekspresimu juga sama saat aku seusiamu saat itu.” Ujar Jeoran.

Ia membalik lagi ke halaman selanjutnya.

“Astaga~ kenapa kau berwajah dingin seperti itu?” cletuk Jeoran.

Ia membalik lagi ke halaman selanjutnya.

“Kau tidak berubah. Tetap dingin. Apa kau ingin memikat hati yeoja dengan gayamu seperti itu?” cletuk Jeoran lalu tertawa.

Ia membalik lagi halaman. Ia terdiam.

“Saat dewasa perbedaan itu mulai tampak. Mungkin karena di besarkan di tempat yang berbeda… tapi kenapa tidak ada yang sadar bahwa kita memiliki wajah yang sama? Apa karena jenis kelamin kita?” ujar Jeoran.

Ia mengamati baik-baik foto Sangwoo yang telah tumbuh dewasa. Jika diperhatikan sekilas memang mereka tidak mirip. Apa lagi matanya. Di tambah lagi bentuk wajah mereka sedikit berbeda. Sangwoo berwajah kota sedangkan Jeoran berwajah oval.

Jeoran menutup album yang berisikan foto Sangwoo. Ia meraih sebuah pigora. Foto Songwoo dengan pakaian lengkap.

Jeoran tersenyum dan berkata,

“Kau terlihat lebih tua dariku jika berpakaian seperti itu.”

Lalu Jeoran merasa ada yang aneh. Foto itu sedikit miring. Iapun membuka pigora berniat untuk membetulkan letak foto. Dia terkejut melihat tulisan di balik foto.

Ingin sekali aku tersenyum kepadanya, tertawa lepas kepadanya.

Berbagi kebahagian dengannya.

Senyumnya membuat penat di kepalahku menghilang.

Senyumnya meruabh duniaku.

Memberikan kebahagian dalam hidupku.

Jeoran langsung membalik foto itu dan ia terkejut. Itu foto dirinya. Foto dirinya saat tersenyum. Ia tidak mengingat kapan foto itu di ambil. Di balik foto itu ada foto lagi dengan tulisan di baliknya.

 

Aku tidak sanggup melihatnya seperti itu

Aku ingin memeluknya dan mengatakan,

“Jangan menangis~ menangis itu tidak ada gunanya.”

Jeoran membalik fotonya. Itu foto dirinya saat menangis. Ia tidak tahu kapan Sangwoo menagmbil gambar dirinya.

Tanpa sadar, air matanya membasahi kedua pipnya. Jatuh membasahi foto dirinya.

 

©©©©©©©

 

Keesokan harinya

 

Jeoran memandang makam ke dua orang tuanya. Ia telah meletakkan bunga krisan putih di kedua makam. Ia juga telah berdoa. Ia tidak mengatakn sepatah katpun. Tapi ia mengatakn sesuatu di dalam hatinya ntuk ke dua orang tuanya. Cerita hidupnya~ ia menceiritakan kisah hidupnya yang sikat selama satu jam.

Hyukjae memandangnya dari jauh. Ia tidak tahu apa yang di lakukan yeoja itu. Ia diam menatap makam. Ia berpikir mungkin yeoja itu sedang merenung. Lalu ada pesan masuk dari HPnya. Ia membukanya.

 

Katakan padanya agar tidak muncul di depan publik. Aku sudah membicarakan kepada manejernya besok kami akan mengadakan konfrensi pers. Tolong jaga dia agar tidak mendapatkan masalah. Lalu tolong jangan ijinkan dia bertemu dengan Yesung.

Hyukjaepun membalas.

 

Baiklah Nyonya Kang

Aku akan melaksanakan perintahmu

Hyukaje memasukkan HPnya ke dalam sakunya. Ia menatap ke arah Jeoran. Yeoja itu berjalan mendekatinya. Ia langsung masuk ke dalam mobil tanpa sekatapun tanpa ekspresi. Semuanya datar-datar saja.

Hyukjaepun masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin kemudian pergi meninggalkan pemakaman.

 

“Kita langsung pulang atau …”

“Aku ingin bertemu temanku Eunjo.” Potong Jeoran.

 

©©©©©©©

 

Melihat Jeoran, Eunjo buru-buru menarik yeoja itu ke suatu ruangan. Ruangan istirahat pegawai.

“Kenapa kau kemari?” tanya Eunjo.

“Aku ingin bertemu denganmu.” Ucap Jeoran datar.

“Seharusnya kau tidak kelayapan ke mana-mana. Jika ada paparazi bagaimana?” ujar Eunjo khawatir.

“Khan ada Hyukjae.” Cletuk Jeoran.

“Oh ya bagaimana kondisimu? Apa baikan?” tanya Eunjo.

Jeoran mengangguk.

“Oh ya mengenai Yesung…”

“Dia tidak mengingatku.” Potong Jeoran.

“Dia benar-benar amnesia?” tanya Eunjo.

“Ya dia amnesia~ setidaknya dia sudah mengingat kembali namaya.” Cletuk Jeoran.

“Benarkah kau baik-baik saja? Sepertinya ini sangat buruk.” Ujar Eunjo khawatir.

“Sudahlah tidak usah di bahas. Oh ya kau masih ingat dengan saudara kembarku? Sangwoo?” ujar Jeoran.

Eunjo mengangguk.

“Sejujurnya waktu pertama kali melihatnya aku menyadari dia mirip denganmu. Tapi aku tidak menyangka jika dia saudara kembarmu. Bukankah di dunia ini banyak orang yang berwajah mirip.” Cletuk Eunjo.

“Meski dia memiliki keluarga. Tapi dia jauh menderita dibanding denganku. Penderitaan itu mulai muncul ketika ia mengetahu kebenaran tentang keluarganya. Ia sembunyi-sembunyi mencari keberadaanku. Mengamatiku dari jauh. Dia sangat sayang kepadaku. Bahkan ia rela memberikan jantungnya untukku. Kemarin aku menemukan beberapa fotoku yang diambil olehnya. Di balik foto itu terdapat komentarnya tentangku. Ada satu foto yang ku temukan di meja kerjanya yang membuatku tidak ingin menangis lagi.” Terang Jeoran.

“Foto apa?” tanya Eunjo penasaran.

“Fotoku bersama Yesung saat di café. Saat itu aku tersenyum bahagia dengan Yesung. Di balik foto itu tertera tulisan. Kau baca saja sendiri.” Ucap Jeoran mengambil sebuah foto dari tasnya kemudian memberikannya kepada Eunjo.

Eunjo membalik foto itu. Terdapat tulisan tangan…

 

Aku bahagia jika kau bahagia. Bisakah kau mempertahankan senyummu itu jika aku memberikan kehidupan baru untukmu?

Aku ingin mendonorkan jantungku untukmu dengan harapan kau bahagia.

Karena hanya itulah hadiah yang bisa ku berikan kepdamu sebagai seorang saudara.

Dan tolonglah jangan menangis. Aku akan menangis jika kau menangis. Aku terluka jika kau terluka. Kau dan aku adalah satu.

Eunjo menitikkan air mata. Ia langsung memeluk Jeoran.

“Kau beruntung memiliki saudara sepertinya. Kau harus menepati janjinya.” Isak Eunjo.

Ia melepaskan pelukannya.

“Kau tahu Jeo~ dia belum meninggal.” Ucap Eunjo.

“Dia hidup di dalam dirimu. Aku meraskannya. Kau tidak seperti dirimu yang dulu. Kau jarang menangis dan terluka seperti dulu lagi. Kau lebih sering shock dan menyembunyikan perasaanmu. Aku tahu itu bawaan sifat darinya. Dia ada di dirimu. Dia hidup bersamamu di dalam jantungmu.” Lanjut Eunjo.

“Ya~ aku merasakannya.” Ucap Jeoran meletakkan tangan kanannya di dadanya dan merasakan denyut jantungnya.

 

©©©©©©©

 

Keesokan harinya…

 

Di ruangan itu sudah banyak wartawan. Jeoran menahan nafas. Ia tidak tahu harus berkata apa. Seseorang menyentuh pundaknya.

“Biar aku yang bicara. Kau diam saja. Tidak perlu menjawab. Jangan mengurusi pertanyaan-pertanyaan mereka yang menyimpang.” Ucap Nyonya Kang.

Jeoran mengangguk. Merekapun memasuki ruangan. Suara jepretan kamerapun beradu. Suasana menjadi riuh. Para wartawan saling melontarkan pertanyaan. Kemudian sesorang mengatakn sesuatu kepada mereka untuk diam melalui pengeras suara. Orang itu adalah manejer Jeoran.

Acarapun dimulai. Jeoran hanya terduduk diam. Dan Nyonya Kang mulai menjelaskan semua tentang siapa Jeoran yang sebenarnya. Tidak ada yang di tutupi lagi, ia bahkan mengatakan bahwa jantung yang ada di tubuh Jeoran adalah milik Sanwoo, saudara kembar Jeoran.

Para wartawan mulai tertarik tentang kisah yang mengharukan ini. Jeoran pun mulai membuka mulut. Ia menceritakan tentang Sanwoo yang ia ketahui. Ia menceritakan mengenai foto-foto yang baru-baru ini ia temukan.

Setelah selesai ada seorang wartawa yang bertanya,

“Lalu bagaimana hubunganmu dengan Yesung saat ini? Dia masih hidup bukan? Bukannya kau mengatakan bahwa dia mencintaimu? Maka dari itu dia menciptakan lagu It Has To Be You yang ditujuhkan kepadamu?”

Jantung Jeoran seakan berhenti berdetak. Ia tidak mengatakan apapun. Semuanya sangat buruk. Ia berharap waktu cepat berlalu. Ia berharap ia dapat keluar dari ruangan itu. Ia tidak ingin mengingat ngingat soal Yesung saat ini.

“Soal hubungannya dengan Yesung~ biar aku yang menjelaskan.” Sahut sebuah suara.

Semua mata memandang orang itu. Orang itu berjalan ke tengah ruangan.

Orang itu tidak lain adalah…..

.

.

.

To be continue….

©

©

©Gimana ceritanya? Bagus gak? ©

©Mohon komentarnya ^^©

©Oh ya enaknya ditamatin di chapter berapa yach?©

It Has To Be You 2 (chapter 5)

Standar

 Comlicated Life~ I’m walking and I’m fall~

Genre: Tragedy, Family, Friendship, Love

Cast: Super Junior, Jeoran, Hyekyu, Eunjo, Hyobyun

PG: 15

*PLEASE DON’T BE SILENT READER!!! HELP AUTHOR WITH GIVE COMMENT*

It Has Tobe you 2 - 5 

”Kau masih tidak ingat?” tanya seorang dokter.

”Aku sudah ingat.” cletuk seorang namja.

”Lalu kenapa kau tidak ingat yeoja itu?” tanya sang dokter.

”Aku benar-benar tidak mengenalnya.” ucap si namja.

”Apakah ada yang membuatmu bingung?” tanya sang dokter lagi.

”Ya~ aku ingat aku kecelakaan saat musim dingin, tapi kenapa sudah hampir musim panas? Apakah aku koma selama itu?” cletuk si namja.

”Ternyata kau belum ingat. Coba jelaskan apa yang menyebabkan kau masuk ke rumah sakit.”

”Aku mengalami kecelakaan mobil.”

”Dari mana kau dan mau kemana kau saat itu?”

”Aku baru saja pulang dari pekerjaanku dan hendak pulang.”

”Apa pekerjaanmu?”

”Aku seorang penyanyi.”

”Apakah kau penyanyi terkenal?”

”Aku baru saja memulai debutku.”

”Siapa namamu?”

”Semua orang memanggilku Yesung.”

”Bagaimana keadaanya?” tanya dokter Park.

”Dia tidak mengingat peristiwa 1,5th yang lalu. Dia mengira dia masuk rumah sakit karena kecelakaan 1,5th yang lalu.” ucap seorang dokter yang baru keluar dari suatu ruangan.

”Apakah ada kemungkinan ia mengingat kembali beberapa ingatannya yang hilang?”

”Mungkin, jika lingkungannya mendukung ia cepat mengingatnya.”

”Lalu apa langkahmu selanjutnya?”

”Aku akan menyerahkan kepada orang tuanya. Aku akan bicara langsung pada orang tuanya. Mereka mungkin bisa membantu mengembalikan ingatan Yesung.”

Malamnya

”Hyekyu mana?” tanya Kyuhyun.

”Dia sudah kembali.” jawab appa Hyekyu.

”Kapan?” tanya Kyuhyun lagi.

”Tadi siang setelah pemakaman eommanya.” jawab appa Hyekyu lesu.

”Siapa yang mengatarkannya?”

”Dia pergi sendiri.”

”Bukankah itu sangat berbahaya?”

”Dia tidak ingin di antarkan siapapun. Dia tidak percaya siapapun. Bahkan aku.” ucap appa Hyekyu lalu menangis.

”Maafkan aku ini semua salahku.” ucap Kyuhyun lesuh.

”Bukan. Ini bukan salahmu. Ini salahku karena aku egois.” isak appa Hyekyu.

Berkali-kali Kyuhyun memukul setir mobilnya hingga tangannya terluka. Ia berteriak lalu menangis.

”Namja macam apa aku yang selalu membuat yeoja tersakiti. Aku memang egois. Aku tidak ingin menjadi seperti ini.” isak Kyuhyun.

Dua hari kemudian

 

”Akhirnya aku keluar juga dari rumah sakit ini.” cletuk Yesung menatap langit.

”Tapi ada yang aneh~” lanjutnya.

”Tentu saja aneh~ kau sudah setengah tahun menghilang entah kemana. Lalu kau tidak ingat kejadian 1.5 tahun ini.” cletuk seorang ahjumma.

”Apakah aku harus menemukan yeoja itu agar aku mengetahui apa yang terjadi dan mengingat semuanya?” ucap Yesung.

”Ya kau harus menemuinya. Dia yang menyelamtkanmu. Setelah kau mengingat semuanya kau harus menemui malaikatmu.” cletuk sang ahjumma.

”Ah eomeoni~ kau ingin aku mati?” sahut Yesung.

Yesung eomeoni tertawa.

”Saat kau ingat kau pasti tertawa mengingat apa yang kau katakan barusan. Malaikatmu berada di suatu tempat. Kau harus menemukannya dan menyelamatkannya.”

”Menemukannya? Menyelamatkannya?”

”Sayapnya patah~ kau harus menyelamatkannya.”

”Sayapnya???” sahut Yesung semakin tidak mengerti.

Eomeoninya melangkah ke tempat parkir. Sementara Yesung tetap diam di tempat. Ia melangkah ke arah lain. Ia melangkahkan kakinya ke taman.

Jeoran menggulung rambutnya kemudian menggunakan topi. Ia mengambil sunglass putih dari tasnya. Kemudian ia melangkah ke luar kamar. Di depan sudah ada Hyukjae yang menunggunya.

”Di depan tidak ada wartawankan?” cletuk Jeoran.

”Tidak nona. Kami sudah membuat wartawan itu mengira nona ada di panti asuhan.” ucap Hyukjae.

”Jangan memanggilku nona, aku tidak suka. Panggil aku dengan namaku.” sahut Jeoran.

”Tapi bisa-bisa…”

”Call me Jeoy. Can you speak english?” potong Jeoran.

”Yes, I can.” jawab Hyukjae.

”OK. I will speak in english. I will disguise to be foreigner.” ucap Jeoran lalu berjalan ke luar.

Hyukjae mengikutinya.

Jeoran tidak berjalan ke tempat parkir ia berjalan ke taman. Ia menghirup udara di taman dengan senyum mengembang.

”Finally, I get out from this hospital.” cletuknya.

Ia mendongak menatap langit kemudian menatap ke sebuah arah. Di sana ada seorang namja yang membelakanginya. Lalu namja itu berbalik. Jeoran terdiam seakan-akan ia berada di tengah-tengah badai salju dan membeku.

Namja itu berjalan ke arah kanan. Jeoran hanya bisa memandang namja itu dari jauh.

”Jeoy~ are you okay?” tanya Hyukjae.

Jeoran menelan ludah. Ia melangkahkan kakinya yang berat. Ia menitikkan air mata.

‘Kenapa terasa berat?’ batinnya.

”Jeoy~ what’s happen?” tanya Hyukjae sekali lagi.

Jeoran mengepalkan tangannya kemudian berusaha untuk berlari. Ia mengejar namja itu. Hyukjae mengikutinya.

Namja itu membuka pintu mobil.

Jeorang berteriak,

”Yesung~”

Namja itu masuk ke dalam dan menutup pintu mobil.

”Yesung~” triak Jeoran hingga ia terjatuh.

Mobil yang di tupangi namja itu melaju.

”Yesung~” triak Jeoran sekali lagi lalu menangis.

”Yesung?” cletuk Hyukjae.

Jeoran menangis terseduh seduh. Hyukjae mencoba membantunya berdiri.

”Ada apa dengannya?” tanya nyonya Kang melihat Hyukjae memampa Jeoran.

”Where’s my room? I need rest.” ucap Jeoran.

Seorang pembantu menuntunya ke kamarnya.

”Apakah dia sudah sembuh?” tanya nyonya Kang khawatir.

”Kondisinya sudah membaik dan ia dapat di rawat di rumah. Ia belum sembuh betul. Saat aku menjemputnya ia baik-baik saja. Tapi saat di taman ia berubah.” terang Hyukjae.

”Berubah?” sahut nyonya Kang.

”Sepertinya ia melihat Yesung.” ujar Hyukjae.

”Ye… Yesung? Bukannya dia~” ucap nyonya Kang.

”Jasadnya belum di temukan hingga kini. Mungkin saja jasadnya belum ditemukan karena ia masih hidup.” ujar Hyukjae.

”Coba kau selediki.” pinta nyonya Kang.

Hyukjae mengangguk.

”Ehm nyonya~”

”Ya~”

”Jeo~ ehm nona Jeoran ingin di panggil Jeoy. Ia ingin menyamar menjadi orang asing.” cletuk Hyukjae.

”Penyamaran ya~ Aku mengerti. Maka dari itu ia berbicara bahasa Inggris. Oh ya kau sudah mengurus semuanya? Soal keluarga ini?” ucap nyonya Kang.

”Sudah nyonya.” ucap Hyukjae.

”Baiklah. Kapan konfresinya?” tanya nyonya Kang.

”Minggu depan.” ucap Hyukjae.

Nyonya Kang mengangguk.

”Oh ya. Bisakah kau membawa Jeoy besok?”

”Kemana nyonya? Nona Jeoy baru saja tiba.”

”Aku tidak ingin dia mengingat kejadian akhir-akhir ini. Kejadian yang membuatnya sepeti itu. Bawalah dia ke kampung halaman eommanya. Anggap saja liburan.”

Seorang yeoja berpikir sembari menggigit jari telunjuknya.

”Dia masih hidup.” cletuknya tiba-tiba.

”Apa yang kau pikirkan.” sahut sebua suara.

Yeoja itu mendongak.

”Siwonssi~ kau mengagetkanku saja.” ucapnya.

Siwon tersenyum lalu duduk di sampingnya. Ia menyesap kopi yang ia bawa.

”Kau tampak aneh akhir-akhir ini.” ucap Siwon.

”Aku memikirkan Yesung.” ucap yeoja itu.

”Waeyo?” sahut Siwon.

”Ada yang bilang ia masih hidup.” ucap yeoja itu.

”Lalu?” sahut Siwon.

Yeoja itu terdiam.

”Hya Shin Hyobyun kau dengar aku tidak?” ujar Siwon.

Yeoja bernama Hyobyun itu  mendesah.

”Ya ya aku mendengar. Aku senang jika Yesung masih hidup. Tapi ada yang aneh…” ucap Hyobyun.

”Sudah cukup kau selalu saja memikirkannya. Padahal ia tidak pernah memikirkanmu. Berita itu hanya gosip. Dia sudah tiada Hyobyun!” sentak Siwon lalu meninggalkan Hyobyun.

”Kenapa dia marah begitu? Suka suka aku dong mau mikirin siapa.” cibir Hyobyun.

Keesokan Harinya…

”Setelah pulang dari sana aku harap kondisimu pulih dan kita bisa meluruskan segala kebenaran yang ada.” ucap nyonya Kang dalam bahasa Inggris.

Joey hanya mengangguk. Lalu masuk ke dalam mobil. Kemudian Hyukjae masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil.

Mereka terdiam dalam perjalanan hingga Hyukjae mulai bicara.

”Call me Eunhyuk right now.” ucap Hyukjae.

”Eunhyuk?” sahut Jeoy.

”Ya~ itu nama samaran. Untuk menutupi identitas kita. Di sana mereka mengenaliku sebagai Eunhyuk, laki-laki yang berdarah Korea-Inggris.” ucap Eunhyuk alias Hyukjae dalam bahasa Inggris.

”Itu palsu?”

”Ya~ agar mereka mengira aku turis. Dengan begitu mereka tidak banyak tanya karena mereka tidak dapat berbahas Inggris.”

”Lalu bagaimana jika kita ada masalah? Siapa yang akan membantu?”

”Di sana ada temanku. Dia siap membantu. Hanya dia yang tahu siapa aku.”

”Kau sering ke sana?”

”Tidak juga. Aku baru tiga kali ke sana.”

”Apa tempatnya indah?”

”Sangat indah. Itu desa yang indah. Desa keliharan eommamu.”

”Apa ada nenekku di sana?”

”Tidak ada keluargamu di sana. Mereka semua sudah meninggal. Keluarga yang kamu punya hanya nyonya Kang.”

Jeoy terdiam. Ia memandang ke luar. Memandang laut yang berwarna biru.

Seorang ahjussi memandangi yeoja yang kini sedang menyapu halaman rumah.

”Hyekyu-ah~ istirahatlah~ sampai kapan kau akan menyibukkan dirimu~ carilah udara segar.” ucap ahjussi.

Hykeyu tidak menggubris. Ia tetap dalam pekerjaannya.

”Kau sama keras keplahnya dengan appamu.” ucap ahjussi membuat Hyekyu berhenti bekerja.

”Ya~ aku butuh udara segar.” ucap Hyekyu lalu keluar rumah.

Ia berjalan dengan tertunduk hingga ia menabrak seseorang dan terjatuh.

”Maafkan aku.” ucap seorang namja.

Namja itu membantu Hyekyu berdiri. Hyekyu tidak memandang namja itu. Ia melihat sikutnya yang berdarah.

”Astaga kau terluka.” ucap namja itu.

Hyekyu terdiam sejenak kemudian memandang namja yang ada di hadapannya itu. Ia menelan ludah kemudian membalikan tubuh dan melangkah pergi. Tapi namja itu meraih tangannya.

”Lepaskan!” sentak Hyekyu.

”Tidak akan aku lepaskan.” ucap namja itu.

”Lepaskan!!! Aku bilang lepaskan!!!” triak Hyekyu berusaha melepaskan diri dari cengkraman namja yang bersamanya.

”Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu.” ucap namja itu lalu menarik Hyekyu.

Namja itu membawa Hyekyu ke suatu kedai.

”Ramen dingin dua.” ucap namja itu kepada penjual ramen.

Penjual ramen mengangguk lalu ia menatap Hyekyu.

”Hyekyussi~ dia namja chingumu ya?” ucap si penjual ramen.

”Bukan!!! Aku tidak mengenalnya! Dia orang asing!!!” sahut Hyekyu.

”Aku calon suaminya Hyekyu.” sahut namja yang mencengkram tangan Hyekyu.

Hyekyu merasa kesal.

”Lepaskan aku!!!” sentak Hyekyu.

”Hei lepaskan Hyekyu!” sentak penjual ramen yang merasa kasian dengan Hyekyu.

Namja itu hanya diam.

”CHO KYUHYUN LEPASKAN AKU!!!” sentak Hyekyu keras.

Namja itu langsung melepaskan Hyekyu.

”Kau mengenalnya Hyekyu? Katamu kau tidak mengenalnya.” ujar si penjual ramen.

Hyekyu tidak menghiraukannya. Ia sedang menggerutu sendiri.

”Dia pura-pura tidak mengenalku. Biasa~ karena pertengkaran.” ucap Kyuhyun lalu tersenyum kepada penjual ramen.

Penjual ramen tersenyum.

”Namaku Ryeowook, aku temannya Hyekyu.” ucap si penjual ramen sembari menyiapkan bahan untuk membuat ramen.

”Senang berkenalan denganmu.” ucap Kyuhyun.

”Kau benar namja chingunya Hyekyu?” tanya Ryeowook.

”Bukan!” sahut Hyekyu.

”Ya tentu saja bukan, aku kan calon suamimi.” sahut Kyuhyun.

”Benarkah?” sahut Ryeowook.

”Tidak! Aku tidak akan menikah denganmu.” ucap Hyekyu melototi Kyuhyun.

”Jika kau tidak menikah denganku, kau akan jadi perawan tua. Karena tidak ada namja yang mau denganmu.” ucap Kyuhyun.

Ryeowook tertawa.

”Kenapa kau tertawa?” tanya Hyekyu ketus.

”Dia benar. Tidak ada namja yang mau denganmu karena kau kekanak-kanakkan. Selalu pilih-pilih namja yang ingin dijadikan namja chingu.” sahut Ryeowook.

Hyekyu menggerutu.

‘Aku harus mencari yeoja itu. Dimana aku bisa menemukannya?’ Tanya Yesung dalam hati.

Ia mengemudikan kendaraannya. Setelah beberapa menit, ia sudah tiba di Rumah Sakit. Ia masuk ke dalam rumah sakit dan menujuh ke resepsionis.

”Ada yang bisa saya bantu?” tanya si resepsionis.

”Aku pernah di rawat di sini sebelumnya. Aku ingin mengetahui siapa yang membawaku kemari.” ucap Yesung.

”Anda Kamar berapa?” tanya si resepsionis.

”Kamar 204.” jawab Yesung.

Resepsionis mengetik sesuatu di komputer lalu berkata,

”Nona Song Hyekyu. Anda tuan Siwon?”

Yesung terdiam.

‘Siwon? Apakah yeoja itu memanggilku dengan sebutan Siwon? Mengapa dia memanggilku Siwon?’ batin Yesung.

”Apakah saya bisa minta alamatnya? Saya ingin berterimah kasih kepadanya.” ucap Yesung.

”Ya sebentar.” ucap si resepsionis.

3 menit kemudian si resepsionis memberikan kertas berisikan alamat rumah.

”Gamsahamnida.” ucap Yesung

Yesung turun dari mobil. Ia memandangi rumah yang berpagar hitam. Ia menekan bel rumah itu.

”Siapa?” tanya sesorang melalui alat komunikasi yang ada di dekat pagar.

”Saya Yesung. Saya mau bertemu dengan Song Hyekyu.” jawab Yesung.

”Hyekyu? Ehm… Baiklah silakan masuk.”

Seorang membukakan pintu pagar, orang itu terkejut melihat Yesung.

”Siwon~” ucap orang itu.

”Bukan saya Yesung.” ucap Yesung.

”Jadi kau sudah ingat semua?” tanya orang yang tidak lain adalah appa Hyekyu.

”Belum semua.” ucap Yesung.

”Apakah Hyekyu ada?” tanya Yesung kemudian.

”Masuklah. Akan ku jelaskan di ruang tamu.”

”Dimana Hyobyun?” tanya sesorang namja.

”Tidak tahu. Dari tadi aku tidak melihatnya.” sahut seorang yeoja yang sibuk menata kostum.

”Aish~ hari ini ada syuting!!! Tapi dia tidak masuk, nomernya tidak bisa di hubungi juga. Aish~ bagaimana ini!!!” ujar namja itu.

”Ada apa?” tanya Siwon.

”Hyobyun tidak masuk. Padahal dia pemeran utamanya. Aish~ dia ingin membatalkan kontrak apa?” ujar namja itu kesal.

Siwon terdiam dia tidak ingin memikirkan yeoja itu.

”Baiklah kita batal syuting hari ini!!!” ujar namja yang dari tadi meributkan Hyobyun.

”Kenapa di batalkan? Biar aku yang menggantikan. Akukan lebih cantik dari Hyobyun.” sahut sebuah suara.

Semua mata memandang ke asal muasal suara.

”Hya Heechul, kau itu namja!!!” sentak Siwon.

”Siapa yang peduli? Yang penting akukan lebih cantik darinya.” cletuk Heechul mengedip-ngedipkan mata.

Semua orang tertawa.

”Siapapun tolonglah aku!!!” jerit Eunjo di dalam toilet.

”Aish~ siapa yang artis siapa yang di kejar.” ucapnya kemudian.

”Nasib punya chingu seorang artis.” lanjutnya.

Ia memandang ke jendela. Lalu terlintas di benaknya.

‘Apa aku keluar dari sana ya?’

Eunjo mencoba keluar dari jendela. Ia berhasil lolos. Tapi aksinya itu membuar orang terluka.

“Astaga apa yang kau lakukan!!!” omel orang itu.

“Joengmal mianhae~ aku tidak tahu.” ucap Eunjo.

“Kenapa kau keluar dari situ?” tanya orang itu.

“Itu satu-satunya jalan.” Ucap Eunjo.

“Kau bukan wartawankan?” tanya Eunjo tiba-tiba.

“Bukan~ kenapa kau bertanya begitu?”

“Syukurlah jika bukan. Bisakah kau membantuku?”

Orang itu diam dan berpikir.

“Sebenarnya kau siapa sich?” tanya orantg itu kemudian.

“Aku…”

“ITU DIA!!!” triak sesorang.

Eunjo lari bersama orang yang ia ajak bicara tadi.

“Sebenarnya siapa kau? Kenapa kau dikejar-kejar?”

“Aku Eunjo~ aku teman Joeran.”

“Joeran? Penyanyi baru itu?”

“Ya.”

Mereka masuk ke dalam lokasi syuting dan tersengal-sengal.

“Yeoja yang di sukai Kyuhyun itu?” tanya orang yang bersama Eunjo.

“Ya~” jawab Eunjo.

Lalu ia tersadar.

“Tunggu dulu. Darimana kau tahu itu?” ujar Eunjo.

Orang itu tersenyum.

“Aku Kim Heechul. Aku kenal dengannya. Oh ya tadi kau mau minta bantuan apa?”

“Heechul~ kau kenal dengan Choi Siwon tidak?” tanya Eunjo.

Heechul mengangguk.

“Syukurlah~ aku minta bantuanmu untuk menemuinya. Mereka pasti mengijinkanmu.” Ucap Eunjo.

“Ada perlu apa kau ingin bertemu denganku?” sahut Siwon yang tiba-tiba muncul.

“Aish~ kau lebih tampan dari pada di tv.” Celetuk Eunjo.

“Ehm, gamsahamnida.” Sahut Siwon.

“Ternyata kau fansnya Siwon.” Cletuk Heechul.

“Aku sudah lama ingin bertemu denganmu. Ta ta tapi bukan itu tujuanku. Tujuanku kemari untuk minta bantuanmu.” Ujar Eunjo

“Ya ada apa?” tanya Siwon.

“Kau kenal dengan Yesung bukan?” tanya Eunjo.

Siwon mengangguk.

“Apakah kau dekat dengannya?” tanya Eunjo lagi.

“Tidak juga. Aku pernah bekerjasama dengannya. Tapi kami tidak dekat. Kami dekat hanya sebatas pekerjaan.” Jawab Siwon.

“Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?” tanya Eunjo mengintrogasi.

“Aku tidak ingat.” Jawab Siwon.

“Kenapa kau bertanya hal itu?” sahut Heechul ingin tahu.

“Aku ingin mencarinya.” Sahut Eunjo.

“Mwo mencarinya? Bukannya dia sudah tiada?” sahut Heechul.

“Tidak~ jasadnya belum di temukan.” Ujar Eunjo.

“Bu bu bukannya…” ujar Heechul terbata-bata.

“Siwon kau tahu hal ini bukan?” potong Eunjo.

Siwon mengangguk.

“Kemungkinan kecil dia masih hidup. Jika dia hidup dia pasti menampakkan diri.” Ujar Siwon.

“Jeoran melihatnya di Rumah Sakit kemarin saat ia pulang. Aku kira dia berhalusinasi. Tapi dokter Park menceritakan bahwa itu benar Yesung. Dia masih hidup tapi aku tidak bisa melacaknya. Aku tidak pernah tahu tempat tinggalnya. Bisakah kau membantuku?” ucap Eunjo.

“Jadi itu benar ya? Jangan-janga Hyobyun tidak masuk karena itu.” Cletuk Siwon.

“Hyobyun? Dia~ dia menyukai Yesung?” sahut Eunjo.

“Iya. Saat pertama yesung debut, ia jatuh cinta dengan Yesung. Ia berusaha menunjukkan kepada Yesung tapi Yesung tidak merespon. Hingga suatu hari Yesung mengalami kecelakaan dan tidak ingin bertemu dengan siapapun. Hyobyun melupakan namja itu. Karena ia melihat Yesung tidak seperti dulu lagi. Lalu kemarin ia kembali mengingat namja itu.” Terang Siwon.

“Jangan-jangan dia sudah mendengar berita kembalinya Yesung. Apa dia dekat dengan keluarga Yesung?” ujar Eunjo.

“Appanya kenal dengan appanya Yesung.” Sahut Siwon.

“Apa dia tidak tahu bahwa Yesung menyukai Jeoran?” tanya Eunjo.

“Tidak. Dia tidak percaya. Lagi pula tidak banyak yang tahu cerita di balik lagu-lagu yang dinyanyikan Jeoran. Hanya Jeoran yang tahu seluk beluk lagu itu.” Ucap Siwon.

“Wow~ hidup ini sungguh rumit dan penuh kejutan.” Sahut Heechul.

“Lalu apa yang akan kita lakukan?” lanjut Heechul.

Siwon menatap Heechul.

“Ayo ke rumah Yesung.” Ucap Siwon.

“Kau yakin ini rumuhnya?” tanya Eunjo.

“Rumah ini sepertinya kosong.” Sahut Heechul.

“Astaga aku lupa~ aku dengar mereka pindah setelah kematian Yesung.” Sahut Siwon.

“Ya terus gimana?” sahut Eunjo lesu.

“Hyobyun.” Sahut Siwon.

Heechul dan Eunjo memandang Siwon.

“Dia tidak ada di rumah?” tanya seorang yeoja kepada seorang ahjumma.

“Ne~ dia pergi mencari seorang yeoja.” Ucap ahjumma itu.

“Yeoja? Nugu?” tanya yeoja itu.

To be continue…

Bagaiman chapter ini?

Ayo berikan pendapat kalian tentang chapter ini ya~ ^^

Gomawo~

It Has To Be You 2 (chapter 4)

Standar

The Truth Killing Me

Cast: Yesung, Kyuhyun, Siwon, Leeteuk, Eunhyuk, Heechul, Joeran, Hyekyu, Eunjo

Genre: Life

PG: 15

it has to be you 2

Eunjo memberikan koran kepada Jeoran.

”Apa?” tanya Jeoran tidak mengerti kenapa Eunjo memberinya koran.

”Lihatlah berita yang terpampang di sana.” ucap Eunjo.

Jeoran membaca koran yang diberikan Eunjo. Jeoran terbelalak.

”Menurutmu bagaimana?” tanya Eunjo.

Jeoran tetap diam.

”Apakah dia benar-benar orang tua kandungmu?” tanya Enjo sekali lagi.

”Entahlah.” ucap Jeoran pelan.

Ia mengusap wajahnya kemudian berkata.

”Mereka berdua tidak mempunya bukti yang kuat. Koran ini ataupun kebenaran tempo hari. Aku perlu bukti yang kuat.” ucap Jeoran.

Mereka terdiam untuk beberapa saat.

”Lalu bagaimana kondisimu?” tanya Eunjo memecahkan keheningan.

”Lebih baik dari kemarin.” ucap Jeoran.

”Kau tahu Jeo…” ucap Eunjo.

”Mwo?” sahut Jeoran.

”Aku yakin kau dapat mengatasi masalah ini. Kau sudah berjanji tidak akan pernah menyerah karenanya.” ucap Eunjo.

Jeoran tertunduk.

”Iya. Aku sudah berjanji, tapi aku sangat bingung. Aku bahkan tidak percaya kepada orang-orang.” ucap Jeoran.

”Termasuk kepadaku?” tanya Eunjo.

”Bahkan dirimu~ aku tidak percaya lagi dengan yang ada di sekitarku.” ucap Jeoran.

Eunjo hendak berkata tetapi seseorang membuka pintu kamar Jeoran. Orang itu dokter Park.

”Mau apa dokter di sini.” ucap Jeoran ketus.

”Menyampaikan kebenaran.” ucap dokter Park.

”Mengapa baru sekarang dokter menyampaikannya?” sahut Joeran ketus.

”Karena saudara kembarmu. Karena Kang Sangwoo.” jawab dokter Park.

”Jadi benar dia saudara kembar Jeoran?” sahut Eunjo.

Dokter Park mengangguk. Ia memberikan sebuah map kepada Jeoran.

”Bacalah.” ucap Dokter Park.

Jeoran membuka map itu dan membaca kertas yang ada di dalamnya.

Ia menitikkan air mata.

“Dia benar-benar saudaraku.” Isak Jeoran.

Eunjo mendekati Jeoran dan memeluk sahabatnya itu.

“Satu lagi, ini…”

Hyekyu duduk diam di bangku yang terletak di koridor. Ia tertunduk. Tetes demi tetes air mata jatuh membasahi kedua pipinya. Tangisnya semakin lama semakin menjadi. Seorang bapak separuh baya mendekatinya.

“Waeyo Hyekyu ah?” tanya bapak itu yang tidak lain adalah appa Hyekyu.

Hyekyu tidak menjawab dia hanya menangis.

Seorang suster mendekati mereka. Ia mengatakan sesuatu kepada appa Hyekyu.

Kyuhyun memandaingi koran yang di pegangnya.

“Serius sekali. Ada apa?” tanya Siwon yang kemudian duduk di samping Kyuhyun.

Kyuhyun menyodorkan koran kepada Siwon. Siwon menerima dan membacanya.

“Apakah mereka benar-benar orang tua Jeoran?” tanya Siwon setelah membaca sebuah artikel.

“Entahlah.” Ucap Kyuhyun lalu mendesah.

“Bagaimana bisa kau mengatakan begitu? Apa kau tidak menghubunginya?” sahut Siwon.

Kyuhyun menggeleng.

“Aku tidak ingin mengganggunya.” Ucap Kyuhyun pelan.

“Aku tidak suka sikapmu yang keras kepalah. Meski kalian sudah memutuskan untuk tidak pacaran lagi tapi apa salahnya jika kau berteman dengannya. Bukankah saudaramu sudah berpesan sebelum meninggal untuk menjaganya? Kau harus menjaganya. Hubungi dia, tanyakan kondisinya saat ini. Mungkin saja dia terkejut.” Ucap Siwon.

Kyuhyun mendesah panjang. Ia mengambil HPnya dan menghubungi seseorang.

“Dia tidak mengangkat telponku. Dia pasti sibuk.” Cletuk Kyuhyun lalu menggeletakkan HPnya di meja.

“Jangan berpikiran negatif seperti itu. Siapa tahu dia ada masalah. Coba hubungi rumahnya, apa dia baik-baik saja.” Sahut Siwon.

Dengan malas Kyuhyun menelpon lagi.

“Ah ahjussi…. Jeoran ada? …… apakah dia baik-baik saja? ……… apa karena berita di koran hari ini? …………. …… ada masalah apa? ……………….. Eunjo? … …………. Di mana Jeoran di rawat? …………………. Baiklah, gamsahamnida ahjussi.”

Kyuhyun menutup telpon. Ia mencengkram HPnya.

“Sesuatu yang buruk terjadi?” tanya Siwon.

Kyuhyun memejamkan matanya.

“Dia depresi~ sebelum berita ini dia sudah depresi. Aku tidak tahu mengapa…” ucap Kyuhyun kemudian menangis.

Siwon menepuk-nepuk pundak Kyuhyun.

“Jangan menangis~ kaukan seorang namja. Tidak sepantasnya kau menangis.” Ucap Siwon.

“Aku tidak bisa melihatnya menderita hyung~ tidak bisa. Sejak saudaraku meninggal, ia terlihat depresi. Kemudian depresinya menjadi ketika Yesung meninggal, ia hampir saja meninggal dengan bunuh diri. Ia sangat depresi. Dia sering di tinggal oleh orang-orang yang mencintainya, orang-orang yang ia cintai. Aku merasa bersalah hyung~ sangat bersalah~ aku sudah berjanji kepada kakakku agar membuatnya bahagia. Tapi apa nyatanya…” isak Kyuhyun.

“Aku ingin mengatakn sesuatu padamu.” Ucap Siwon.

Kyuhyun mencoba menenangkan diri. Ia menghapus air matanya.

“Tempo hari aku bertemu dengannya saat reality show. Aku iseng menanyakan golongan darahnya. Dia mengatakan golongan darahnya O. aku sangat terkejut. Karena aku tahu Yesung bergolongan darah AB. Yesung sendiri yang mengataknnya. Aku sendiri terkejut. Bukannya itu mustahil~ mustahil jika jantungnya saat itu adalah jantungnya Yesung.” Ucap Siwon.

Kyuhyun menatap Siwon.

“Kau kenal Yesung hyung?”

Siwon mengangguk.

“Tapi tidak terlalu akrab. Aku pernah belajar bernyanyi darinya karena tuntutan peran yang aku mainkan. Aku harus bisa menyanyi, maka dari itu aku belajar darinya.”

“Apa mungkin Jeoran depresi karena itu?”

“Mungkin ia mencari tahu kebenarannya dan ia mendapatkan sesuatu kebenaran yang membuatnya shock.”

Kyuhyun terdiam, ia berpikir.

“Aku harus menanyakan kepada dokternya.” Ucap Kyuhyun bangkit dari tempat duduknya.

Kyuhyun masuk ke dalam suatu ruangan. Tapi ia tidak menemukan apa yang ia cari. Ia keluar dan bertanya kepada suster.

“Sus, dokter Park di mana ya?”

“Sepertinya dokter Park menemui pasiennya. Anda tunggu saja di dalam ruangannya. Sebentar lagi mungkin ia kembali.” Ucap suster.

“Gamsahamnida.” Ucap Kyuhyun.

Ia kembali masuk ke dalam ruangan. Menunggu dokter Park tiba.

Beberapa menit kemudian sesorang membuka pintu dan berkata.

“Ada yang bisa saya bantu?”

Kyuhyun bangkit kemudian berbalik ke arah sumber suara.

“Bisakah dokter mengatakan hal yang sebenarnya kepadaku? Tentang jantung Jeoran. Siap pendonornya.”

Dokter Park terkejut, ia menelan ludah. Kemudian ia berjalan dan duduk di kursinya.

“Duduklah, aku akan menceritakan semuanya.” Ucap dokter Park.

Kyuhyun menurutinya.

Dokter Park melepaskan kacamatanya lalu mendesah. Kemudian ia mulai bercerita mengatakan kebenarannya. Mengatakan tentang Sangwoo. Tapi dokter Park tidak menceritakan bahwa Sangwoo adalah kembaran Jeoran. Ia terlalu lelah menceritakan banyak kebenaran hari ini.

Kyuhyun keluar dari ruangan dokter Park. Ia berjalan sambil menitikkan air mata.

‘Pasti berat untukmu mengetahui kebenaran bahwa jasad Yesung belum di temukan…’ batin Kyuhyun.

Ia berjalan ke taman. Ia butuh udara segar. Lalu seseorang menabraknya. Dia seorang yeoja. Yeoja itu jatuh tersungkur dan menangis.

“Kenapa menangis?” tanya Kyuhyun datar.

Tidak ada jawaban dari yeoja itu.

Kyuhyun mengulurkan tangannya ogah-ogahan.

“Biar aku bantu.” Ucap Kyuhyun datar.

Yeoja itu tidak menghiraukan Kyuhyun.
“Sebenarnya ada apa denganmua hah? Tertabrak dan jatuh saja menangis. Seperti anak kecil saja. Aku tidak suka……” sentak Kyuhyun ketus.

Yeoja itu bangkit. Yeoja itu memandang Kyuhyun dengan mata berlinang air mata.

“Kau seperti anak kecil! Kerjaanmu menyusakan saja.” Sentak Kyuhyun sekali lagi.

Yeoja itu menangis lagi. Ia pergi meninggalkan Kyuhyun.

Kyuhyun memandang yeoja iu.

Seseorang memukul kepalahnya.

“Apa yang kau lakukan. Kau sungguh jahat. Kenapa membuat yeoja menangis?” sentak Siwon.

“Hyung kenapa kau bisa di sini?” tanya Kyuhyun.

“Aku mengikutimu~ aku takut kau menghajar dokter Park karena tidak terima.” Jawab Siwon.

“Oh ya bagaimana bisa kau bersikap ketus kepada yeoja itu. Jika memang itu sikapmu~ pantas saja Jeoran tidak bahagia. Dia malah tertekan.” lanjut Siwon.

Kyuhyun terdiam.

“Tidak ada yeoja yang akan mencintaimu jika kau tetap seperti ini.” Ucap Siwon lalu meninggalkan Kyuhyun pergi.

Hyekyu menangis di belakang mobil sesorang. Ia menekuk kakinya dan memeluknya. Ia meletakkan dagunya di lututnya. Matanya merah dan lebam.

Seorang namja memberikannya sapu tangan. Ia mendongak. Ia terbelalak.

”Hapus air matamu.” cletuk namja itu.

Hyekyu mengambil sarang tangan dari namja itu kemudian mengusap air matanya.

”Kenapa menangis?” tanya namja itu duduk di samping Hyekyu.

Hyekyu terdiam. Ia mengambil nafas panjang.

”Semua pergi meninggalkanku.” ucap Hyekyu.

”Eommaku baru saja meninggal. Oppaku tidak mengenaliku lagi ia mengusirku. Aku merasa aku hanya pembuat masalah.” lanjut Hyekyu.

”Ada lagi yang membuatmu menangis?” tanya namja itu lagi.

”Hidupku~ hidupku tidak berguna. Selalu membuat orang menderita, selalu membuat orang terbebani, selalu bergantung kepada orang lain.” isak Hyekyu meneteskan air mata.

”Apa yang akan kau lakukan?” tanya namja itu.

”Aku tidak tahu Siwon oppa~” isak Hyekyu.

”Apakah kau akan bunuh diri?” tanya Siwon.

Hyekyu terkejut ia memandang lurus ke depan.

”Aku tidak bisa. Aku takut.” cletuk Hyekyu.

”Itulah kau. Kau takut~ itu yang membuatmu menderita.” ucap Siwon.

”Aku kenal seorang yeoja yang memiliki hidup lebih suram darimu.” lanjut Siwon.

Hyekyu memandang Siwon.

”Siapa dia?” tanya Hyekyu.

”Dia adalah yeoja yang dicintai chinguku.” jawab Siwon.

”Dia besar di panti asuhan. Dia tidak tahu siapa orang tuanya. Dia tidak mempunyai keluarga. Dia menganggap orang-orang panti adalah keluarganya. Sejak kecil hingga kini ia sering di hina-hina karena dia dianggap sebagai anak haram. Satu setengah tahun yang lalu dia di tinggal pergi namjachingunya. Ia sangat terpukul. Ia berusaha tidak menangis. Tapi tidak bisa. Chinguku mencoba menolongnya. Awalnya ia hanya ingin menjalankan pesan dari namjachingu yeoja itu yang merupakan saudaranya sendiri tetapi ia mulai mencintai yeoja itu. Setengah tahun yang lalu yeoja itu hampir mati karena penyakitnya. Ia mempunyai kelainan jantung. Seorang namja menyelamatkannya dengan mendonorkan jantungnya kepada yeoja itu. Yeoja itu kembali hidup. Tapi mengetahui siapa pemilik jantung itu ia ingin mengakhiri hidupnya.” terang Siwon.

”Waeyo?” cletuk Hyekyu.

”Karena namja itu adalah orang yang dicintainya.” ucap Siwon.

”Jadi yeoja itu sudah meninggal?” tanya Hyekyu.

”Kau tanyakan saja ke chinguku. Dia akan menceritakan kelanjutannya.” Sahut Siwon beranjak.

”Siapa chingu oppa?” tanya Hyekyu mendongak.

”Orang yang baru saja membuatmu menangis tadi di taman.” ucap Siwon.

”Kyu~” cletuk Hyekyu.

Siwon mengangguk pelan. Kemudian ia pergi meninggalkan Hyekyu sendiri.

Hyekyu melihat namja itu duduk di taman sendiri. Ia masih ragu untuk mendekati namja itu. Lalu ia ingat kata-kata Siwon, ia dapat menyerap apa maksud Siwon. Ia harus menjadi pemberani.

Hyekyu melangkahkan kakinya mendekati namja itu. Ia duduk di samping namja itu. Tapi ia tidak dapat berkata apa-apa. Bibirnya seakan-akan berat untuk dibuka dan mengatakan sesuatu. Ia hanya meremas-remas sapu tangan dari Siwon.

Namja yang duduk di sampin Hyekyu itu melihat sapu tangan Hyekyu. Ia milihat ada ibnisial SC.

”Apa saja yang kau lakukan dengannya?” ujar namja itu.

”M… Mwo?” sahut Hyekyu

”Pasti kau sudah bersenang-senang dengan Siwon hyung~” ucap namja itu.

”Mworago?” sentak Hyekyu.

Namja itu menatap Hyekyu.

”Kau berhenti menangis pasti mendapatkan sesuatu darinya bukan? Sesuatu yang membuatmu senang? Diakan tipemu? Pasti kau sangat senang jika dia memberikan sesuatu padamu. Sesuatu yang tidak kau dapatkan seblumnya. Sesuatu yang hanya kau dapatkan dari seorang namja.” ucap namja itu.

”Kyu aku tidak tahu apa maksudmu. Kata-katamu sungguh tak pantas.” sentak Hyekyu.

”Tidak pantas? Ku kira pantas-pantas saja. Lihat saja bibirmu bergetar. Kau pasti mendapatkan ciuman darinya. Dasar perempuan gampangan. Mau saja di cium dengan orang yang baru….”

”PLAK~”

Hyekyu menampar Kyuhyun hingga membekas di pipi kiri Kyuhyun.

”Aku tidak berciuman dengannya dan asalkan kau tahu aku bukan perempuan gampangan.” sentak Hyekyu penuh emosi.

Ia beranjak kemudian melangkah pergi. Baru tiga langkah ia membalikkan tubuh.

”Dan lagi~ aku telah melakukan satu kesalahan~ Yaitu percaya kepadamu. Kau sama saja dengan orang bejat itu. Aku tidak percaya lagi dengan orang-orang sepertimu. Aku tidak mau percaya lagi dengan orang Seoul.” lanjut Hyekyu kemudian menghilang dari pandangan Kyuhyun.

”Siapa yeoja itu?” sahut sesorang.

Kyuhyun mencari asal muasal suara.

”Bukan siapa-siapa.” ucap Kyuhyun.

”Berhentilah membuat yeoja menderita. Kau sudah banyak membuat yeoja menderita. Kau akan mendapatkan balasan. Mungkin tamparan itu balasannya.” cletuk seorang yeoja kemudian duduk di samping Kyuhyun.

”Sekarang tolong jelaskan semua tentang Jeoran, Eunjo.” ucap Kyuhyun.

Heechul tertawa melihat Kyuhyun yang baru saja masuk ke dalam cafe.

”Hya Kyuhyun ada apa dengan wajahmu.” cletuk Heechul.

Kyuhyun menghampiri Heechul.

”Siwon hyung belum datang ya hyung?” tanya Kyuhyun.

Heechul menggeleng.

Kyuhyun mendesah lalu duduk di samping Heechul.

”Hei kau belum menjelaskan soal pipimu itu.” cletuk Heechul.

”Bekas tamparan.” cletuk Kyuhyun lalu menyambar minuman Heechul dan meneguknya.

Heechul tertawa, ia tidak peduli dengan minumannya yang di rebut Kyuhyun.

”Pasti yeoja yang menampar.” cletuk Heechul.

Kyuhyun diam saja.

”Dua tahun yang lalu semua yeoja bertekuk lutut kepadamu. Kau bagaikan pangeran. Kau di kelilingi banyak yeoja. Tapi sekarang terbalik. Kau yang mengejar-ngejar yeoja.” ujar Heechul.

”Aku tidak mengejar-ngejar yeoja.” sahut Kyuhyun.

”Jeoran?” sahut Heechul.

Kyuhyun diam lagi.

”Mungkin ini karma bagimu. Kau sering mempermainkan yeoja~ nah sekarang berbalik kepadamu~ yeoja itu mempermainkanmu.” cletuk Heechul.

”Aku tidak mempermainkan siapapun & aku tidak dipermainkan siapapun.” ucap Kyuhyun.

”Kau harusnya bercermin Kyu~ kau selalu egois~ kau memetingkan dirimu sendiri. Kau tahu~ meski aku kenal denganmu, jika kau ada masalah besar sepertinya aku tidak akan membantumu sedikitpun.”

”Waeyo?”

”Lihat saja dirimu.”

Kyuhyun tertunduk.

”Maafkan aku~ aku terlalu banyak masalah.” ucap Kyuhyun.

”Minta maaflah kepada yeoja yang pernah kau sakiti.” ujar Heechul.

Kyuhyun mengusapa wajahnya.

”Aku menyukai dirimu yang dulu. Penggila game.” cletuk Heechul.

”Kau sudah minta maaf kepada yeoja itu Kyu?” cletuk Siwon yang baru tiba.

Siwon duduk di depan Kyuhyun.

”Ada apa dengan wajahmu?” tanya Siwon lagi.

”Hyekyu menamparku tadi.” ucap Kyuhyun.

”Pasti kau membuatnya sakit hati.” ujar Siwon.

”Aku tidak bermaksud begitu. Aku sedang emosi dan aku tidak bisa menahannya.” ucap Kyuhyun menyesal.

”Temui dia dan bilang minta maaf kepadanya. Ia baru saja kehilangan orang yang di cintainya.” ujar Siwon.

”Benarkah?” sahut Kyuhyun.

”Wah Hyekyu seperti Jeoran saja.” cletuk Heechul.

”Ia baru saja kehilangan eommanya dan kakaknya tidak ingat lagi dengannya.” ujar Siwon.

Keesokan harinya

”Kau akan pulang hari ini juga?”

Hyekyu mengangguk. Sejak kemarin dia tidak berbicara.

”Lalu bagaimana dengan namja itu?”

Hyekyu hanya diam. Ia memandangi makam eommanya.

”Banyak wartawan di luar. Kau jangan keluar. Itu sangat berbahaya.” ucap Nyonya Kang.

Jeoran hanya terdiam.

”Aku akan menangani masalah ini.” ucap Nyonya Kang lalu keluar dari kamar Jeoran.

Jeoran memandang keluar jendela, kemudian ia berahli ke sebuah buku yang berada di atas meja. Ia meraihnya dan membukanya.

Setitik air membasahi buku itu. Jeoran buru-buru menutup buku itu dan menghapus air matanya.

”Kau masih tidak ingat?” tanya seorang dokter.

”Aku sudah ingat.” cletuk seorang namja.

”Lalu kenapa kau tidak ingat yeoja itu?” tanya sang dokter.

”Aku benar-benar tidak mengenalnya.” ucap si namja.

”Apakah ada yang membuatmu bingung?” tanya sang dokter lagi.

”Ya~ aku ingat aku kecelakaan saat musim dingin, tapi kenapa sudah hampir musim panas? Apakah aku koma selama itu?” cletuk si namja.

”Ternyata kau belum ingat. Coba jelaskan apa yang menyebabkan kau masuk ke rumah sakit.”

”Aku mengalami kecelakaan mobil.”

”Dari mana kau dan mau kemana kau saat itu?”

”Aku baru saja pulang dari pekerjaanku dan hendak pulang.”

”Apa pekerjaanmu?”

”Aku seorang…”

To Continue…