Tag Archives: park jungsoo

Miracle on Valentine’s Day

Standar

Tittle: Miracle on Valentine’s Day

Author: WinkiesWingers

Genre: Romance, Angst

Rating: PG 15

Type: Straight

Status: Oneshot

Cast:

Park Jungsoo – Leeteuk

Yoon Jihwa

Hwang Mi Cha

Lee Jinki –Onew

A/N: After posting one Fanfic, now! I’m comeback again with my best couple  .. Jungsoo-Jihwa couple XD. Ini bisa dibilang side story dari FF Only One is You. Masih inget? Gak inget? Yowes :p .. Disini, author bikin sosok Jungsoo menjadi beda. Hhahaha… skali-kali lah dia dpt peran yg nakal (?). Dia juga srg nakal toh? *nglirik tajem ke parkteuk* . Okay, ini ff juga special dibuat u/ menyambut hari kasih sayang.Hope u like it ^^ ..

WARNING!! DI FF INI AUTHOR PAKE 3 ORG POV.. (JIHWA-JUNGSOO-AUTHOR) SMOGA GAK BIKIN KALIAN BINGUNG soalnya gak dikasi tanda.WKEKEKEKEK

“Selama ini aku sudah mencoba untuk sabar dengan sikap oppa. Tapi, kali ini kesabaranku pada oppa benar-benar sudah habis.” kata ku pada kekasihku, Park Jungsoo. Aku berusaha menahan airmata yang nyaris jatuh membasahi pipiku. “Apa maksud foto ini oppa?” aku melempar sebuah amplop yang berisikan sebuah foto dirinya dengan seorang yeoja yang entah siapa dia. “JELASKAN PADAKU!!” teriakku dengan airmata yang mulai membasahi kedua mata dan pipiku.

Read the rest of this entry

Iklan

Only One is You

Standar

tittle: Only One is You

author: WinkiesWingers

genre: sad romance

length: oneshot

rating: PG

cast: Leeteuk ‘superjunior’, Yoon Jihwa, and other cast

theme song: Life- shinee

A/N:

annyeong ^^, ini ff kedua dari ku .. DO NOT BASHING, okay? comment yah klo abis baca ^^. happy read..

 

 

======= ONLY ONE IS YOU ==========

 

 

Jihwa tengah duduk di bangku yang ada di balkon apartementnya. Ia mendekap erat boneka beruang besar berwarna putih seraya memandang langit biru yang cerah sore itu. Sesekali ia menghela napas panjang. Tampak ada hal yang sedang ia pikirkan.

 

“Eotteohkhaji?” desah Jihwa sambil membenamkan kepalanya ke boneka yang ia dekap. Ia merasakan sesak di dadanya. Matanya pun memanas. Setiap kali memikirkan atau mengingat tentang ‘dia’ , hatinya terasa sangat sakit. Ingin rasanya dia menjerit dengan sangat lantang untuk melampiaskan rasa sakit di dadanya. Tak terasa ia menitikkan airmata tepat saat seseorang memeluknya dari belakang. “Chagi..” sapanya pada Jihwa dan ia meletakkan dagunya di pundak Jihwa. Jihwa yang terkejut dengan kedatangannya lantas menghapus airmatanya. “Bogoshipeun..” lanjutnya. Jihwa tetap tak bergeming dan ia hanya memejamkan matanya. Suara lembut itu membuat dadanya bergemuruh kencang. Ingin rasanya ia berbalik lalu memeluk tubuh pria itu, tapi tubuhnya tak sanggup menerima permintaan dari kata hatinya.

 

Tak mendapati respon dari Jihwa, pria itu melepas pelukannya dan berjongkok di hadapan Jihwa. “Chagi, kau kenapa?” tanya pria itu . “Kau sakit?” lanjutnya sambil membelai lembut rambut Jihwa. Mimik wajahnya menunjukkan kekhawatirannya pada Jihwa. Jihwa membuka matanya. Sejenak ia memandang wajah pria yang amat ia cintai. Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya ke langit senja. “Nan gwaenchana..” jawab Jihwa singkat tanpa menatap wajah kekasihnya itu. Jihwa kembali menghela napas lalu masuk ke dalam tanpa memedulikan kekasihnya.

 

=========================================

 

-[[ JIHWA POV ]]-

 

“Jihwa-ya!” panggil Jungsoo oppa yang mengikutiku masuk ke dalam. Aku tak merespon panggilannya dan terus berjalan menuju ke ruang tengah. Aku duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tentu Jungsoo oppa juga mengikutiku sampai ke ruang tengah. Bahkan kini ia duduk disampingku. “Ceritakan padaku. Apa yang terjadi padamu?” tanya Jungsoo oppa. “Bukankah aku sudah mengatakannya tadi? Aku baik-baik saja, oppa.” jawabku tanpa menatap wajahnya.

 

“Kau berbohong padaku.” ujarnya tegas membuatku menatap wajahnya. Bukan kemarahan yang terpancar di matanya melainkan kekhawatiran yang ia tunjukkan untukku. “Kau tidak biasanya seperti ini. Dimana Yoon Jihwa yang selalu memanggilku dengan sebutan ParkTeuk? Dimana Yoon Jihwa yang selalu menyambutku dengan hangat saat aku datang menemuinya?” Kali ini tersirat kesedihan dimatanya.  ParkTeuk adalah panggilan special dariku untuknya. Aku selalu memanggilnya ParkTeuk, tapi kali ini rasanya sulit untuk memanggilnya dengan sebutan itu.

 

Aku hanya terdiam mendengar pertanyaannya. Haruskah aku melakukan ini padanya? Aku sungguh tak tega. Tapi, ini harus kulakukan. Aku tidak ingin lebih dalam masuk ke dalam kehidupannya. Karena itu hanya akan bisa membuatku merasa sakit.

“Jihwa-ya, tatap mata oppa!” kata Jungsoo oppa seraya mengangkat daguku. aku melihat ia menatapku dengan tajam. Tatapan yang selalu membuatku semakin mencintainya. Dengan segera aku memalingkan wajahku. Aku menarik napas dalam-dalam mencoba mengatakan sesutau padanya.

 

“Oppa.. lebih baik..” ucapku mengambang. Berat bagiku untuk mengatakan ini, tapi tak ada pilihan lain selain ini. “Lebih baik kita akhiri saja hubungan kita.”

“Mworago?”

“Kita putus.” ujarku datar.

“Wae? Wae, Jihwa?” Jungsoo oppa memegang kedua pundakku.

“Aku lelah dengan semua ini.”

“Lelah?  Lelah karena apa? Apa karena berita miring itu?”

aku hanya diam.

“Jihwa-ya, kau tak percaya padaku? Aku dan Taeyeon tak ada hubungan apa-apa. Hubunganku dengannya hanya seperti kakak-adik. Tak lebih dan tak kurang. Lalu, kalung itu.. itu hanya sebuah hadiah dari sponsor.”

“Apa aku bisa mempercayai perkataan Oppa itu? Kau bisa saja mengatakan begitu di depanku. Tapi di belakang, tak ada yang tahu kebenarannya.” sahutku dingin. Jungsoo oppa hanya terdiam. Aku tahu, aku percaya mereka memang tidak ada hubungan apa-apa. Mungkin dengan memancingnya menggunakan gosip lama ini, dengan mudah aku bisa merelakannya pergi dariku.

 

“Apa aku terlihat seperti itu? Jihwa-ya, kau tahu..aku mencintaimu. Tidak mungkin aku bermain dibelakangmu. Percayalah..Apa kau tidak mencintaiku lagi?”

“Bukannya begitu…tapi..” aku kembali mengambangkan kata-kataku dan memutar otakku untuk mencari alasan. “Tapi apa, Jihwa? Kalau kau masih mencintaiku, lalu kenapa kau ingin kita putus? Malhaebwa!” teriak Jungsoo oppa.

“Karena mencintaimu adalah sebuah kesalahan untukku!” aku membalas berteriak.

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Aku sudah mencoba memahami status Oppa sebagai idola yang sibuk dengan schedulenya dan sebagainya. Serta, banyaknya fangirls yang memuja dirimu dan juga kedekatanmu dengan beberapa artis wanita yang membuatku cemburu. Aku sudah berusaha menahannya. Tapi, aku tidak bisa. Aku merasa tertekan. Itu terlalu menyakitkan bagiku. Aku tidak sanggup, oppa..Maafkan aku.”

“Bukankah dulu kau mengatakan tak masalah menjalin hubungan denganku walau statusku adalah seorang idola? Lalu, kenapa sekarang kau seperti ini? ”

“Karena aku sangat mencintaimu dan terlalu mencintaimu! Perasaan ini membuatku tersiksa! Aku tidak tahan dengan ini semua. Semakin besar perasaanku padamu semakin aku merasakan sakit. ”

aku bisa melihat dia tampak terkejut dengan ucapanku barusan. Kesedihan terpancar dari matanya. “Apakah begitu menyakitkannya kau mencintaiku?” tanya Jungsoo oppa. Suaranya sedikit bergetar. Aku hanya bisa diam mematung.

 

“Baiklah, jika dengan mengakhiri hubungan kita itu bisa membuatmu lebih baik, aku akan menerimanya.” Jungsoo oppa bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan. Sebelum ia keluar, Jungsoo oppa membalikkan badannya. “Geundae, ada hal yang harus kau tahu,Jihwa-ya. Apapun yang terjadi cintaku selalu untukmu dan itu tak akan pernah berubah selamanya.”

Aku terhenyak mendengar pernyataannya. Aku bisa merasakan airmata mengalir dari kedua mataku. Aku menundukkan kepalaku dan tak ada keberanian untuk menatap wajahnya. Setelah Jungsoo oppa meninggalkan Apartementku, tangisku pecah.  Hubunganku dengannya sudah berakhir. Cerita awal cinta kami yang penuh canda dan tawa, kini berubah menjadi kepedihan yang aku sebabkan dari diriku sendiri.

 

“Mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo, ParkTeuk-a. Kau begitu baik padaku. Selalu memberikan sebuah hadiah untukku. Kau juga sangat peduli dengan keluargaku. Aku mencintaimu dan sangat mencintaimu. Tapi, aku tidak bisa..itu sangat menyakitkan untukku.”

 

 

==============================

 

-[[ JUNGSOO POV]]-

 

Aku bisa mendengarnya. Dengan sangat jelas aku mendengar suara tangisnya. Ingin sekali aku kembali masuk ke dalam lalu memeluknya. Mendengar tangisannya membuat hatiku perih. Aku selalu memberikan cintaku untuk gadis itu. Akan tetapi, aku tidak menyangka Jihwa mengakhiri hubungan kami. Itu bagaikan tamparan untukku. Jihwa gadis yang sangat berarti dalam hidupku. Aku sangat mencintainya, bahkan sejak awal kami bertemu. Kata-kata yang diucapkan Jihwa kembali terngiang di telingaku. Aku mendesah panjang. Lalu, aku putuskan untuk kembali ke dorm.

 

“Aku pulang..”

 

sesampainya di dorm aku langsung masuk ke kamar dan mengurung diri tanpa memedulikan member lain yang menyapaku. Aku masih terpukul dengan kejadian tadi. Mungkin ini yang terbaik untuk Jihwa. Aku tidak ingin membuat Jihwa lebih tersiksa dan tersakiti karena perasaannya padaku. Lalu untukku? Apa aku bisa menjalani hidup tanpa Jihwa disisiku? Aku tidak yakin.

“Ahh, andwae! Aku tidak boleh menangis.” aku mencoba menghapus airmataku dan menahan diri agar tidak menangis. Entah kenapa semua kenangan-kenangan saat aku bersama dengan Jihwa kembali menghiasi kepalaku membuatku kembali menangis.

 

“Hyung!” panggil Donghae dari luar kamar sembari mengetuk pintu. “Gwaenchana?” tanya Donghae. “Hyung, aku masuk yah..”

Mendengar Donghae akan masuk ke kamar, aku lantas menghapus airmataku dan beranjak ke tempat tidur.

“Hyung, gwaenchana?” tanya Donghae begitu masuk ke dalam kamar.

“Nan gwaenchana. Aku hanya lelah dan butuh istirahat.” jawabku berusaha melemparkan senyum kearah Donghae. “Arasseo.. Kalau begitu aku keluar. Istirahatlah yang cukup, Hyung.”

 

Selalu saja aku seperti ini. Menyembunyikan semua masalah yang sedang aku hadapi dari mereka, member-deul ku. Sudah banyak masalah yang terjadi dalam grup kami dan aku tidak ingin membuat mereka cemas karena masalahku. Aku tidak boleh terpuruk dalam kesedihan. Aku harus kuat dan tidak boleh seperti 4 tahun yang lalu. Yap, aku harus menjadi orang yang kuat dihadapan semua orang. Aku harus kembali menjadi Leeteuk.

 

=====================================

 

Tampaknya aku tak berhasil. Sekeras apapun aku menyembunyikannya, itu malah memberikan dampak pada pekerjaanku. Alhasil, di beberapa syuting acara aku banyak melakukan kesalahan. Saat latihan dance aku juga selalu melakukan kesalahan.Tidak ada semangat dalam diriku saat ini dan ini sudah berlangsung selama beberapa hari. Sulit untukku tersenyum saat ini. Belakangan ini juga tweetku di twitter dan diary entry di cyworldku penuh dengan emoteuk. Para member terlihat sangat mengkhawatirkan diriku tapi aku berusaha tersenyum dan selalu mengatakan,” aku baik-baik saja.”

 

Perasaanku yang belum membaik, kini harus kembali dihadang masalah. Para netizen kembali menyemprotku karena insiden yang terjadi di konser SMTOWN. Di dunia ini tampaknya aku orang yang gampang untuk dihina. Aghh! Jihwa-ya, apa kau tahu? Aku sangat membutuhkanmu. Kau selalu ada untukku saat aku dilanda masalah. Apa yang harus akau lakukan? Aku tidak bisa apa- apa tanpamu.

“Hyung! Kau salah gerakan!” tegur Shindong. Saat ini kami sedang latihan untuk persiapan sushow 3 selanjutnya.

“Ahh, mianhaeyo..” jawabku kikuk. Para member menatapku semua. Ada diantara mereka yang menatapku sebal dan ada juga yang menatapku dengan khawatir.

“Lebih baik sekarang kita istirahat dulu.” ujar Siwon.

“Hyung, gwaenchana? Kau terlihat kurang sehat..” tanya Ryeowook menghampiriku.

“Gwaenchana..”

 

Para member duduk berkumpul menjadi satu sedangkan aku memilih untuk menjauh dari mereka. Bukan apa-apa tapi aku hanya butuh sedikit ketenangan. Sesekali aku menatap layar hapeku. Berharap ada balasan sms atau telepon dari Jihwa untukku. Yah, di dalam lubuk hatiku aku masih mengharapkan bisa kembali dengan Jihwa. Pikiranku pun kembali ke saat-saat kami bersama dulu. Sangat sulit bagiku untuk melupakan gadis yang sangat berharga bagiku. Terlebih dia sudah mengisi hari-hariku dengan cintanya yang ia berikan padaku. Aghh! aku masih sangat membutuhkan Jihwa disampingku. Lama-lama bisa gila aku memikirkan gadis itu.

 

Aku mengacak-acak rambutku sendiri. Aku merasa gemas dengan diriku yang seperti ini.

 

“Teukie hyung, harus sampai kapan kau seperti ini? Ceritakanlah masalahmu pada kami. Kami siap mendengarkannya.” ucap Siwon setelah selesai latihan. Para member yang lain mengerubutiku. Aku menatap mereka satu persatu. Pandangan mereka penuh harap agar aku berbagi kesusahan dengan mereka. Tapi ini masalahku, aku tidak ingin merepotkan mereka.

“Kalian ini kenapa? Aku baik-baik saja. Sungguh!”

“Geotjimal! Hyung selalu saja seperti ini. Memendam semuanya sendirian. Kami disini untukkmu, Hyung. Jika kami ada masalah, hyung selalu ada untuk kami dan mendengar curhatan kami. Tapi, hyung? Hyung tidak sendirian..” ujar Eunhyuk. Ucapannya membuatku terharu.

 

Mereka semua sangat memedulikanku. Aku menghela napas lalu kuceritakan semua kejadian itu pada mereka. Seperti dugaanku, mereka sangat terkejut mendengarnya.

 

“Lalu, hyung mau berbuat apa?” tanya Donghae.

“Tidak berbuat apa-apa. Aku tidak ingin Jihwa merasa lebih sakit jika bersamaku.”

“Pabo! Kalau kau masih mencintainya, seharusnya kau kembali berusaha mendapatkannya. Yakinkan dia, kalau mencintaimu bukanlah kesalahan. heishh chinjja..” celetuk Heechul.

“Tapi aku sudah berusaha, Chul-a! 2 hari lalu aku mencoba mendatangi apartementnya. Tapi apa? Dia mengusirku. Dia mengatakan kalau dia membenciku.” jelasku dengan penuh emosi.

“Percaya padaku. Aku yakin Jihwa juga masih mencintaimu, hyung.” ujar Siwon.

“Neo… eotteohkhae?”

“Diakan seorang pendeta. Percaya saja apa kata dia..” celetuk Heechul lagi. Siwon terlihat memelototi Heechul.

“Hyung masih mempunyai kesempatan!” seru Kyuhyun.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”

“Lakukan saja apa yang bisa kau lakukan. Kami percaya padamu, hyung pasti bisa.” ujar Sungmin bijak.  Aku pun diam sejenak memikirkan cara apa yang harus aku lakukan. “AH! Arasseo. Gomawo..” seruku setelah mendapatkan ide yang mungkin bisa aku lakukan. “Bolehkan aku meminta bantuan kalian? Begini…”

 

-[[ JUNGSOO POV END]]-

 

========================

 

Malam harinya..

 

“Jihwa-ya, kembalilah padanya. Apa kau mau terus-terusan melihat dia seperti itu? Dia membutuhkanmu, Jihwa-ya.”

“Majayo. Kami tidak ingin melihat kalian berdua seperti ini. Kalian masih sama-sama membutuhkan dan masih saling mencintai.”

 

Jihwa membisu mendengar perkataan kedua sahabatnya.

 

Yah, mungkin memang benar apa yang dikatakan Nana unnie dan Jooyeon unnie. Tidak bisa dipungkiri kalau aku masih menyimpan perasaanku pada Jungsoo oppa. Belakangan ini aku membaca diary entry-nya. Entah kenapa aku lebih sakit melihatnya sedih seperti itu daripada sakit yang kurasakan saat bersamanya.Tapi, semua sudah terlanjur. Aku yang mengakhiri cerita cinta kami. Batin Jihwa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kaca.

Tanpa ia sadari, airmatanya menetes membasahi kedua pipinya. Nana yang melihat itu lantas menghampiri Jihwa dan memeluknya.

“Jihwa-ya, semua akan baik-baik saja. Uljima..”

“Unnie, ini lebih menyakitkan. Aku tidak bisa jika tidak ada Jungsoo oppa. Seharusnya aku tidak mengakhiri ini. Karena aku dia seperti ini. Unnie, naneun eotteohkhae?” Jihwa terisak di dalam pelukan Nana. Perasaan bersalah muncul dihatinya.

 

“Daripada kau berdiam diri di Apartementmu, lebih baik kau menghirup udara segar saja. Pergilah ke taman, mungkin itu akan membuat perasaanmu lebih baik..” Tawar Jooyeon sambil menarik tangan Jihwa.

“Dengan unnie-deul?”

“Mianhae, tapi kami berdua harus kembali ke lokasi syuting. Gahee unnie sudah menelepon kami.” jawab Nana.

“Arasseo..”

Dengan langkah gontai Jihwa berjalan menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah itu, bersama dengan Nana dan Jooyeon mereka meninggalkan Apartement. Mereka pun saling berpamitan satu sama lain. Dalam perjalanan menuju lokasi syuting, Nana menelepon seseorang.

“Yoboseyo. Heechul-ssi,  semua beres. Sekarang dia sedang menuju kesana. Anieyo gwaenchana. Ne, annyeong..”

 

================================

 

“Chinjjaro? Oo, arasseo. Gomawo, Nana-ya. Mian, telah membuat kau dan Jooyeon repot. Oke, annyeong.”

“Hyung, gimana?” tanya Eunhyuk. “Jihwa sudah menuju kesini..Ppali! Ppali!” jawab Heechul. Mereka pun segera bersiap-siap sesuai apa yang direncanakan Jungsoo siang tadi.

 

Jihwa tengah berjalan menuju taman. Jalanan yang sepi membuat bulu kuduk Jihwa berdiri. Terlebih lagi angin malam yang menusuk tulangnya. “hyaa, dingiiin! Ahh, kenapa mereka menyuruhku ke taman? Padahal anginnya kencang seperti ini. Tapi, bodohnya aku juga kenapa mau menuruti mereka berdua? Ahh, sudahlah, kesana saja..”

Jihwa pun melanjutkan perjalanannya menuju taman. Tepat saat ia memasuki taman, suara petir menyambar membuat Jihwa terperanjak kaget. ” Gyaa..ParkTeuk-a!!” latah Jihwa. “Ahh, chinjja! Membuatku kaget saja. Lebih baik aku kembali pulang saja.” gerutu Jihwa sebal.

 

“Ya! Chamkkanman, Jihwa-ssi!!” cegah seseorang.

 

Merasa namanya dipanggil, Jihwa membalikkan badannya mencari asal sumber suara yang memanggilnya. Dengan pelan-pelan diselimuti rasa ngeri, Jihwa berjalan kembali memasuki taman. Disana telah berdiri 9 pria yang tak asing baginya.

 

“Kalian? Kenapa ada disini?” tanya Jihwa kepada 9 pria yang berdiri tak jauh darinya. Mereka semua melemparkan senyum kearah Jihwa dan tak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan Jihwa.

“Ya! Kenapa bajumu seperti itu? Heishhh, seharusnya mereka menyuruhmu memakai gaun atau apalah. Kau terlalu biasa dan tidak terlihat cantik..” olok Heechul sambil menatap Jihwa dari bawah lalu keatas. Saat ini hanya celana jeans, kaos putih polos, cardigan, dan sepatu sneakers yang Jihwa kenakan.

“Oppa! Apa yang kau katakan? Memang kenapa dengan pakaian yang aku kenakan? Aku datang kesini hanya untuk mencari udara saja.”

“Ahh,sudahlah! Toh bukan aku yang punya keperluan.” Heechul berjalan mendekati Jihwa. Dari balik punggungnya ia mengeluarkan sesuatu membuat Jihwa bingung.

“Ini untukmu. terimalah..” ujar Heechul seraya menyerahkan sebucket bunga mawar merah kepada Jihwa. “Ige mwoya?” tanya Jihwa polos membuat Heechul gemas melihatnya. “Sudah! terima saja!”

 

Dengan penuh tanda tanya Jihwa menerima pemberian bunga dari Heechul. Belum terjawab apa maksud Heechul memberinya bunga, ke-7 member Suju yang tersisa bergantian juga memberinya bucket bunga mawar merah. Di setiap bucket bunga itu, ditengahnya terdapat sebuah memo kecil. Di memo itu terdapat potongan-potongan kata. Jihwa membacanya bergantian saat tiap member memberinya bunga.

 

Oh, geochin salmae shideureogal ddae, geudaega naegae dagawa

Eoleobooteun nae maeumae soneul daen soongan

Naui salmeun shijak dwaesseumeul

Oh, When this passing life withers away. You come to me..

The moment i touch your frozen heart, my life begins..

 

Geudae jichigo himdeul ttae

budi geu yeopjarie nareul itge hae

When you’re tired and having a hard time

Please let me stay by your side

 

Batgiman han sarangeul dasideuril su itge

i salmi kkeutnagi jeone

So i can give back to you the love i had only received

Before this life ends

 

Sesange mureup kkurko nunmul heullil ttae

pokpung sok bal meomchul ttae geudaeman seo itdamyeon

When I get on my knees and cry

When I stop my tracks inside the storm

ireon apeum, gotongjjeum gyeondil su inneungeollyo

ojik geudaeman, naege itdamyeon in my life

If you alone are standing, I can handle this much pain and suffering

If only you, are with me in my life

 

eodun sup sok gil irheul ttae

eorin naui yeonghoni ulgo isseul ttae

When i lose my way inside the dark forest

When my young soul is crying

biccheoreom gijeokcheoreom, nareul ikkeureojwoyo

i salmi kkeutnagi jeone

Guide me like a light, like a miracle

Before this life ends

 

Uljji anhayo, dashin ulji anhayo

I won’t cry, I won’t cry again

 

geu mueotdo jeoldae nal meomchuji mothae

Absolutely nothing can stop me

 

heona ojik dan han saram geudae

nareul mandeulgo wanseongsikigo

But only one person

You make me, you perfect me

 

o ireoke sumswige hae you

Oh, You make me able to breath like this

 

Begitulah isi kalimat yang ada di tiap memo jika digabungkan menjadi satu. Jihwa terpukau membaca kata-kata yang terdapat ditiap memo itu. Tak dipungkiri, ia merasa sangat terharu. Yah, tampaknya ia mengerti siapa yang ada dibalik ini semua. Dan perkiraan Jihwa pun benar. Jungsoo datang dan seperti para membernya, ia memberi Jihwa sebucket bunga mawar merah yang ukurannya lebih besar dari ke-7 bucket bunga lainnya.

 

“sesange mureup kkurko nunmul heullil ttae, pokpung seokbal meomchul ttae geudaeman seo itdamyeon. eotteon apeum, nunmuljjeum chameul su inneungeollyo. All i want is you, only one is you in my life..” Jungsoo pun menyanyikan sisa bait yang tersisa dari semua memo itu seraya memberikan bucket bunga pada Jihwa. Yap, potongan2 kalimat itu adalah rangkaian sebuah lirik lagu. Jihwa menerima bunga itu tanpa ada senyum diwajahnya. Ia tak tahu harus menunjukkan ekspresi apa didepan pria yang masih mengisi relung hatinya itu.

 

“Semua ini kupersembahkan untukmu. Apa kau suka? itu adalah lagu kesukaanmu kan?” tanya Jungsoo dan Jihwa mengangguk kecil.

“Tugas kami selesai! Teuk-a, sisanya semua terserah padamu. Kami pulang ya. Daah..” seru Heechul. Mereka pun meninggalkan Jungsoo dan Jihwa seorang diri di taman.

 

========================================

 

Keadaan menjadi sunyi senyap. Daun bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti arah angin yang berhembus sedikit kencang. Suara jangkrik yang saling bersahutan terdengar merdu bagaikan lagu keong racun *lho?*. Maksudnya, bagaikan paduan suara.

 

Tak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan satu kata pun. Jungsoo terlihat salah tingkah sedangkan Jihwa, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Sesekali ia mengusap tangannya untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan karena angin malam. Yah, seperti yang ada di film-film. Pria yang melihat gadisnya kedinginan selalu memberikan jaket atau syal yang ia kenakan untuk gadisnya itu. Begitu pula dengan Jungsoo. Ia melepas jas yang ia kenakan lalu memakaikannya ke Jihwa. Awalnya Jihwa menolak, namun Jungsoo memaksanya agar Jihwa tidak jatuh sakit.

 

“Jihwa-ya.. ” panggil Jungsoo.

“Ne” jawab Jihwa singkat, jelas, padat.

“Jihwa-ya, nan…” Jungsoo menggantungkan ucapannya. Ia menarik napas panjang. “Nan.. Neoreul saranghae. Bisakah kita kembali seperti dulu lagi?” tanya Jungsoo sambil memegang kedua tangan Jihwa. “Jihwa-ya, aku tidak bisa tanpa dirimu..”

 

Jihwa menarik tangannya.

 

“Sekeras apapun aku mencoba melupakanmu, tetap tidak bisa. Kau selalu muncul dipikiranku. Seperti yang aku katakan pada hari itu,cintaku selalu untukmu dan itu tak akan pernah berubah selamanya. Aku memikirkanmu, dan selalu memikirkanmu. Aku sangat menyukaimu dan aku tidak bisa melupakan segalanya tentangmu, Jihwa-ya. Hanya kau yang aku inginkan di dalam hidupku.”

Jihwa tertegun mendengar ucapan Jungsoo.

 

“Oppa, mencintai oppa adalah sebuah kebahagian untukku saat pertama kali aku merasakannya. Tapi, semakin lama cintaku padamu semakin besar. Bukannya aku senang dengan perasaan itu, aku malah merasa tersiksa dengan perasaanku itu. Terlebih lagi status oppa, itu membuatku tertekan. Dunia kita sangat berbeda..” Jihwa menghentikan ucapannya. Sejenak ia menengadahkan kepalanya menahan agar airmatanya tak jatuh. “Tapi… ternyata aku salah. Keputusanku itu malah membuat orang yang aku cintai merasa kesepian dan berlarut dalam kesedihan. Apa oppa tahu? Melihat oppa yang seperti itu malah membuatku sakit. Lebih sakit daripada sakit karena terlalu mencintai oppa. Seperti halnya oppa. Aku selalu berusaha agar bisa menghapusmu dari kehidupanku. Tapi aku tidak bisa. ”

 

“Lalu? Apa kita bisa…”

Jihwa langsung memotong perkataan Jungsoo. ” Maafkan aku. Karena aku, oppa terluka. Saat berita insiden itu yang memberika dampak buruk pada oppa, aku merasa sangat sedih.”

“Kau tahu? Saat itu, aku sangat membutuhkanmu. Hanya kau yang bisa membuatku lebih baik. Jihwa-ya, jebal.. dorawa.”

“Tapi, oppa harus berjanji padaku. Jangan ada lagi emoteuk. Melihat oppa sedih, aku juga sedih. Melihat oppa merasakan sakit, aku juga merasa sakit melihat oppa seperti itu.”

“Jika ada kau disampingku, itu seperti memberikanku kekuatan untuk menjalankan hidup ini. Kau mencintaiku dan ada disisiku itu sudah lebih dari cukup.”

 

Jihwa dan Jungsoo saling berpandangan. Senyum lebar menghiasa wajah mereka.

“Nae aegya, jeongmal saranghae..”

“Na do saranghae, naui cheonsa..”

Jungsoo pun memeluk Jihwa dan Jihwa membalas pelukannya.

 

Sayangnya kemesraan itu tak berlangsung lama. Air hujan yang jatuh dari langit langsung mengguyur tubuh mereka. Jungsoo mencari-cari tempat berteduh. Setelah menemukannya, ia lantas menarik tangan Jihwa dan berlari ke box telepon umum.

“Ahh, chinjja! kenapa hujan turun disaat2 terpenting seperti ini?” gerutu Jungsoo kesal sambil menatap keluar box. Jihwa terkekeh dibuatnya. “Kenapa tertawa?”

“Ani. Lucu saja melihatmu menggerutu seperti itu. hihihi”

Jungsoo hanya menggembungkan pipinya melihat Jihwa menertawainya.

 

Hampir setengah jam mereka menunggu hujan reda. Tapi, hujan tak kunjung reda juga.

“Apa kau kedinginan?” tanya Jungsoo cemas melihat Jihwa yang terus-terusan meniup kedua telapak tangannya.

“Ani, gwaenchana..” jawab Jihwa disertai senyumnya.

“Apanya yang baik-baik saja? Tanganmu dingin begini..” seru Jungsoo sembari memegang kedua telapak tangan Jihwa yang memang dingin.”Mendekatlah..”

“Ye?”

“Mendekat padaku! Apa kau tidak dengar?” perintah Jungsoo. Jihwa terlihat kaget melihat Jungsoo berbicar keras padanya. Dengan ragu-ragu ia mendekat kearah Jungsoo. Jungsoo langsung menarik tubuh Jihwa kedalam pelukannya.

“Apa kau merasa hangat?”

“Ne. Gomawo, ParkTeuk-a..”

 

Jungsoo memeluk Jihwa untuk menghilangkan rasa dingin yang melanda Jihwa. Suasana itu malah membuat jantung Jihwa berdegup kencang. Ternyata tak hanya JIhwa, Jungsoo pun merasakan hal yang sama. Ia melirik kearah Jihwa. Ia bisa melihatnya, gadisnya itu terlihat gugup. Lucu sekali.

“ParkTeuk-a! Kenapa melihatku seperti itu?”  Jihwa melepas pelukannya dan sedikit menjauhkan diri dari Jungsoo.

 

Tiba-tiba suara guntur terdengar sangat kencang. Jihwa menjerit karena kaget dan reflek ia memeluk Jungsoo. Jungsoo langsung menenangkan Jihwa. Setelah semuanya baik-baik saja, Jihwa kembali melepas pelukannya. Jihwa terlihat sangat malu dan gugup karena tiba-tiba ia memeluk Jungsoo. Jungsoo yang melihat kegugupan Jihwa, meraih tangan Jihwa dan menggenggamnya.

“All i want is you. Only one is you in my life.” ucap Jungsoo yang tengah memandang kearah luar. Jihwa yang mendengarnya langsung menatap Jungsoo. Jungsoo mengalihkan pandangannya menatap Jihwa dan melemparkan senyum untuk gadis itu.

“Jihwa-ya..” panggil Jungsoo. Ia mendekatkan wajahnya kearah Jihwa. Tangan kanannya dengan perlahan memegang tengkuk gadis itu. Sejurus kemudian Jungsoo menempelkan bibirnya ke bibir Jihwa. Dengan lembut ia mencium Jihwa ditengah hujan yang mulai mereda.

 

Jungsoo melepas ciumannya dan menatap Jihwa yang tertunduk malu. Jungsoo mengecup puncak kepala Jihwa membuat Jihwa memandang kearahnya. Jungsoo tersenyum kearahnya dan Jihwa membalas senyum pria itu. Sedetik kemudian, Jungsoo kembali mencium bibir Jihwa. Kali ini, ciuman yang lebih dalam dari sebelumnya.

 

-THE END-