Tag Archives: Taemin

~♪ Symphony of LOVE ♥~ Chapter : 1

Standar

About my ff :

Title       : “SYMPHONY OF LOVE”

Author : YeMima Lorna

Length : Series (chaptered)

Genre  : Romance, School, etc

Casts     :

♪-@YeMima Lorna as Han YeonMi

♪-Cho Kyuhyun

♪-Kim Yesung

♪-Kim Jaejoong

♪-Kim Kibum (Key)

♪-@Yovie Hong-xien as Jin Hye Iseul

♪-Lee Sungmin

♪-@Patricia Magdalena as Han Haenul

♪-Choi Minho

♪-Kang Minhyuk

♪-Lee Gikwang

♪-Lee Shindong

♪-Shim Changmin

♪- IU

♪-@Ghita Shawoldiademboice celallu as Song hae yoo

♪-Kim Ryeowook

♪-Lee Taemin

♪-Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk

♪-Lee Donghae

♪-@Lala Shelomi as Lee Ahra

♪-Sunny

♪-Choi Sulli

♪-Yamamoto Yusuke

♪-@Devina cutez as Jin Hong Hye

Read the rest of this entry

MAGIC in 4 Seasons ~Step 2 and Step 3~

Standar

Annyeong readers  ….~!~!~!~

(*゚ 3゚)/~

Akhirnya ff ini berlanjut setelah sekian lamanya….

Hehe~ Mian Hamnida ^^a *Nunduk bareng Changmin*

Oia, auhor mau mengumumkan bahwa keberadaan SHINee & SuJu pada part ini adalah sebagai bintang tamu…. Jadi mohon maaf kalo gak ada hubungannya sama cerita inti~

About my ff :

Author : YeonMimazu

Length : Series (chaptered)

Main Cast            : -Me as Kwon Minmi

-Shim Changmin

-Kim Jaejoong

Other cast           : -U-know Yunho

-Xiah Junsu

-Micky Yoochun

-Lee Hyeshin

H*A*P*P*Y R*E*A*D*I*N*G >>>>

))>)>)Changmin  POV(<(<((

Anak itu lucu sekali sih, baru aku bilang minyeoga  saja pipinya sudah merah seperti tomat begitu. Dia beda sekali ya dengan yeoja-yeoja yang lain, entah apa yang membuatku tertarik padanya hingga memberanikan diriku untuk melakukan hal itu. Tapi dari melihat kelakuannya aku tau, dia itu memiliki kepribadian yang menarik. Hah? Ada apa denganku? aku meyukainya?

“Heh, kau itu kenapa sih? Kok senyum-senyum tidak jelas begitu. Tidak seperti biasanya deh kau begini….” Tanya Yunho hyung.

Read the rest of this entry

SHINee Girl

Standar

Annyeong ^^

Ini oneshoot sebenarnya sudah lama author buat. Sekitar satu tahun yang lalu *lama bgt ya*

Dan sesusunggyhnya ini dapat ilham gara-gara satu photo.
Sekali lihat langsung cling~ author dapat ide XD
Drpd dipendem bikin cekikan sendiri, author bagi-bagi dech XD

Mian, klo gak bagus.
Author GJ yang buat XP

Gak usah banyak bacot langsung aja
Chek this one out (sok english)

Cast
Lyra Callisto as Kim Jaerin
Iha as Choi Jira
Jingga as Shin Hyunkyo
Reeha as Song Jihee
Elycha as Lee Hyeonna
SHINee all members

Genre: Comedy, romance

Rating:  G

Seorang gadis berambut wavy, dan jika dipertegas rambutnya sidikit spiral, ia duduk sambil menyesap susu coklat hangat. Kemudian ia mendesah, menghela nafas panjang dan memandangi langit yang cerah penuh dengan bintang. Ia memandangi rasi bintang yang ia suka. Rasi bintang yang terlihat jelas di bumi belahan utara. Rasi bintang dengan bintang terterangnya Vega.
“Kau belum tidur?”
Ia tersentak kaget mendegar sebuah suara di belakangnya.
Read the rest of this entry

Lucifer (Taemin)

Standar

Annyeong ^^

Kali ini saya kembali lagi dengan FF Lucifer

Ini FF saya buat untuk teman saya Vuyu~ aka Firyal Fadhilah yang cinta mati ama Taemin ^^

Langsung saja ya

 

Cast: Taemin, Firyal Fadhilah as Shin Minbyul

R: PG

G: Fantasy, Romance

 

Need Your Comments, Please Comments This Fiction


fanfiction korea lucifer taemin

-LUCIFER-

 

*Minbyul POV*

 

Hari yang membosankan. Semuanya berjalan seperti biasa. Teman-temanku sudah hafal betul gerak-gerikku jadi mereka tidak dapat ku kerjai. Sekarang aku duduk sendiri menatap ke luar jendela. Langit begitu cerah tapi tidak secerah hatiku

“Minbyul!” kudengar seseorang memanggil namaku.

“SHIN MINBYUL! Kau dengar tidak?”

Kali ini aku menoleh. Seongsaengnim menatapku tajam. Sejak kapan dia tiba di kelas dan siapa namja yang ada di sampingnya.

“Dia akan duduk di sebelahmu, ku harap kau baik dengannya.” ucap seongsaengnim menatapku tajam.

Aku langsung sumringah. Yes! Ada korban baru.

“OK pak!” seruku.

Lalu namja itu berjalan mendekatiku. Aku sudah menyiapkan jebakan di bangkunya. Aku menumpahkan lem di bangku yang akan ia duduki.

“Annyeonghaseyo. Jaeirumun Lee Taemin imnida. Manasao bangabsumnida.” ucapnya ketika duduk di sampingku.

“Siapa namamu?” tanyanya mencari nametag di blazerku.

“Kau tak perlu tau siapa namaku.” ucapku ketus lalu membuang muka darinya.

Aku tersenyum ala devil karena ia sudah terjebak dalam jebakanku. Tinggal menunggu nanti~

 

Saat bel istirahat berbunyi aku melihatnya ia berdiri. Aku melongok. Bagaimana bisa? Aku sudah memberi lem di bangkunya. Di celananya tidak ada sisa bekas lem

 

*Taemin POV*

 

Ada yang aneh dengan yeoja yang duduk disebelahku. Ia memperhatikanku ketika aku bangkit dari kursi yang ku duduki. Apa ada yang salah denganku? Ekspresinya menunjukkan dia terheran-heran denganku.

Aku keluar kelas menujuh kantin. Beberapa chingu sekelasku bertanya kepadaku apa aku baik-baik saja. Aku jawab aku baik-baik saja. Lalu aku bertanya kenapa mereka menanyaiku seperti itu. Ternyata yeoja yang duduk disampingku adalah tukang iseng. Dia suka mengerjai anak apalagi anak baru sepertiku. Aku hanya tersenyum. Pasti dia terheran-heran karena tidak dapat menjailiku. Oh ya tadi seonsaengnim memanggilnya Minbyul. Shin Minbyul. Hm…. Apakah dia….

Sudahlah aku mau membeli sesuati di kantin.

Lalu aku kembali. Dia masih berada di bangkunya. Ia merebahkan kepalahnya di meja dan tertidur. Wajahnya menghadap ke jendela. Lalu aku melihat kursinya. Aku tersenyum. Ternyata ia tidak beranjak dari tempat duduknya karena lem. Pasti tadi ia, menaruh lem di bangkuku. Aku nyengir. Aku memandanginya tidur. Aku dapat melihat auranya. Itu bukan aura biasa. Sepertinya aku yakin akan siapa dirinya sebenarnya.

Lalu beberapa yeoja mendekatiku. Ia mengajakku menonton apalah dan apalah. Aku sudah biasa seperti ini. Aku berkata iya dan menyuruh mereka menungguku di tempat yang berbeda.

 

Saat bel pulang sekolah berbunyi aku beranjak. Aku membiarkan teman sebangkuku tidur. Aku heran dengannya, bukankah tadi dia sudah tidur saat istirahat? Lalu kenapa ia tidur lagi saat jam terakhir dan kini ia tidak bangun.

Aku siap-siap menghadapi satu demi satu yeoja yang menungguku. Aku tidak menuruti perkataan mereka. Tapi merekalah yang harus menuruti perkataanku. Dengan sekali senyuman ia tidak dapat berkutik. Mereka akan selalu mendengar perkataanku dan menuruti perkataanku. Aku memperbudak mereka untuk melakukan kekacauan di suatu tempat-tempat tertentu.

Setelah selesai dengan tugaku aku kembali ke kelas. Firasatku yeoja itu masih tertidur di kelas. Dan…. Dugaanku salah. Yeoja itu sudah bangun tapi ia kesusahan untuk berdiri. Lalu aku datang mendekatinya. Ia memandangku heran.

“Kenapa kau belum pulang?” tanyanye ketus.

“Kau sendiri saja belum pulang.” sahutku.

Lalu memutar bangkunya ke belakang kelas. Ia bertanya-tanya kepadaku dan melarangku dekat dengannya tapi aku tidak menghiraukan. Kemudian aku meraih ke dua tangannya dan menariknya. Ia terhempas kepelukanku bersamaan dengan suara~

KRAAAKKK~

Sepertinya ada yang sobek dan aku tahu itu.

“Astaga~” ucapnya mendongak menatap wajahku.

“Jangan lihat! Tutup matamu!” sentaknya.

Aku menutup mataku sembari melepaskan blazer milikku.

“Kenakan ini untuk menutupi rokmu yang sobek.” ucapku menyodorkan blazer milikku.

Ia menerimanya. Lalu semenit kemudian aku membuka mataku.

“Eits~ jangan buka matamu. Hitung hingga 100 baru buka matamu.” sahutnya lantang.

Firasatku tidak enak. Aku menurutinya. Setelah berhitung aku membuka mataku. Dia sudah menghilang. Aku melangkah. Aku hampir terjatuh karena tali sepatuku terikat satu dengan yang lain. Sepertinya ia mengikat tali sepatu kiri dan kanan saat aku berhitung tadi. Tapi usahanya gagal. Aku tersenyum ala Lucifer dan seketika itu ikatan tali sepatuku kembali seperti semula. Aku berjalan keluar ruangan mengejarnya. Aku tahu dia masih berada di sekolah.

 

 

*Minbyul POV*

 

Semoga saja dia terjatuh dan tidak mengejarku. Aku cepat-cepat menuruni tangga. Saat menuruni anak tangga terakhir aku terjatuh. Sial! Mungkin karena aku tergesah-gesah. Aku berusaha beranjak tapi tidak bisa. Rasanya sakit sekali. Kakiku benar-benar terkilir.

Aku mencari pegangan merabah-rabah tembok dan mulai melangkah dengan terpincang-pincang. Saat keluar gedung aku kembali jatuh. Kali ini lututku menjadi korban. Aku merintih kesakitan mengutuk diriku yang sungguh sial hari ini. Sekarang rasanya sulit untukku berdiri.

Lalu seseorang berjongkok di hadapanku. Ia membelakangiku, menunjukkan punggungnya.

“Naiklah, aku akan mengantarmu pulang.” ucapnya.

Aku ragu. Mungkin saja dia bermaksud jahat kepadaku.

“Aku tidak akan melukaimu. Tenanglah.” ucapnya.

Aku menelan ludahku. Lalu naik ke punggungnya. Ia memegangi kedua kakiku lalu berdiri. Ia berjalan perlahan. Kami terdiam.

“Di mana rumahmu?” tanyanya memecahkan keheningan.

Aku terdiam. Lalu terbesit di otak untuk mengerjainya. Aku akan membuatnya kelelahan karena menggendongku kesana kemari.

Aku menjelaskan di mana rumahku dengan berputar putar. Tapi tidak berhasil. Dia tetap bugar. Mala aku yang lelah seakan posisiku seperti dirinya. Aku menyandarkan kepalahku di bahunya kemudia aku melinkarkan tanganku di lehernya.

“Waeyo?” tanyanya heran melihat sikapku.

“Aku lelah. Lebih baik kita naik bus atau kereta bawah tanah.” ucapku pelan.

Aku memejamkan mataku. Entah kenapa aku merasa lelah. Aku selalu melemah jika ada di dekatnya. Seakan-akan dia menyerap semua energiku.

Aku merasa tubuhku di hempaskan ke bangku. Entah kenapa aku merasa berada di suatu tempat yang gelap dan hanya ada aku dan dia. Tempat ini benar gelap.

Ku dengar ia bercakap-cakap dengan yeoja. Aku tidak dapat mendengar jelas apa yang ia katakan. Aku merasa panas. Tubuhku berkeringat. Aku dapat merasakan dia mengenggam tanganku. Akupun membuka mataku. Aku menatapnya. Dia tersenyum padaku. Tidak ada yang salah padanya. Tapi aku merasa takut. Saat bus yang aku tumpangi ini berhenti, aku buru-buruk keluar dan berlari darinya. Dengan terpincang-pincang aku menujuh ke keramaian. Bersembunyi di balik keramaian. Ku harap dia kehilangan jejakku.

Aku melihat sekelilingku. Hari sudah malam dan aku tak tahu aku berada dimana. Ada rasa takut. Entah dari mana asalnya. Mungkin karena dia. Ya, namja bernama Taemin itu memiliki senyuman yang tidak biasa. Siapa yang melihatnya langsung luluh. Tapi tidak untuk aku. Aku merasa ia menyedot energi. Membalikkan apa yang ku lakukan kepadanya ke diriku sendiri. Dia selalu berbicara dengan yeoja dengan nada pelan.

Aku punya firasat tentangnya. Firasat yang buruk. Aku menduga dia seorang Lucifer. Mungkin aku gila jika menyimpulkan Taemin seperti itu. Lucifer hanya sebuah legenda yang ku dengar dari orang tuaku. Tugas Lucifer bermacam-macam. Ada yang mencuri jiwa, berbuhat jahat, pokoknya mereka bekerja mengendalikan jiwa orang lain, membuat orang lain sengsara.

Dulu orang tuaku mengataiku sebagai Lucifer. Aku sangat kesal. Setelah mengalami kecelakaan, mereka berhenti mengataiku. Hingga kini aku tidak ingat peristiwa itu.

Ya Tuhan aku belum menemukan jalan pulang. Rasanya aku ingin menangis tapi kenapa air mata ini tidak keluar juga. Aku terduduk di jalan setapak. Tempat ini sungguh gelap. Tidak ada orang yang berlalu-lalang. Suasana sunyi senyap. Yang terdengar hanya suara angin dan ranting-ranting yang bergesekkan.

Lalu terdengar suara berat. Aku menelan ludahku. Sepertinya mimpi burukku segera dimulai.

 

 

*Taemin POV*

 

Aku tidak menyangka ia akan lari dariku dan menghilang begitu cepat. Sebenarnya dimanakah dia? Aku khawatir. Hari semakin malam, apakah dia sudah pulang?

Dalam sunyi senyap aku berjalan menyelusuri jalan setapak. Di kiri kanan terdapat semak belukar dan pepohonan yang menjulang tinggi. Lalu terdengar suara sentakan-sentakan dari kejauhan. Dan paling mengejutkan adalah suara ledakan. Aku langsung berlari ke asal suara. Aku tertegun saat nenyelusuri asap hitam dan menemukan bebarapa orang yang berdiri ketakutan serta sesosok Devil. Aku menelan ludahku.

Devil itu mengamuk, menghantam siapa saja yang mendekatinya. Manusia-manusia yang berusaha melukainya tadi tak berdaya di hantamnya, dilempar ke sana kemari. Saat tak ada lagi yang ia hantam ia menatapku dengan matanya yang merah. Ku lihat dua tanduknya yang ada di kepalahnya. Kurasa ia menjadi devil sempurnah dengan sayap kelalawar hitam yang ia kebahkan. Ia berjalan mendekatku. Aku dapat merasakan nafasnya yang panas. Lalu ia mencekik leherku. Aku tidak bisa bernafas. Aku….

 

 

*Minbyul POV*

 

Aku terbangun. Aku mengucek-ngucek mataku memastikan apa yang aku lihat adalah kenyataan.

Dimana aku? Dan tempat apa ini? Tak ada lampu tapi aku bisa melihat dengan jelas. Lalu apa yang aku kenakan? Dimana seragamku?

Aku turun dari ranjang dan keluar ruangan. Aku menyelusuri lorong yang hanya di terangi obor. Lorong ini berujung ke sebuah ruangan makan. Di meja makan sudah tertata makanan. Saat itu pula aku merasa lapar.

“Kau sudah bangun?”

Aku tersentak. Ku lihat sebuah sosok yang ku kenal berjalan menghampiriku membawa mapan berisi gelas. Ia menata gelas itu di meja kemudian tersenyum kepadaku. Senyumnya itu memaksaku untuk tersenyum. Aku berusaha menahan diriku untuk tersenyum.

“Duduklah~ kita sarapan terlebih dahulu.” ucapnya.

Aku mengernyitkan alisku. Sarapan? Memang sekarang jam berapa?

Aku tidak peduli. Aku duduk berhadapan dengannya dan menyantab makanan yang ada di hadapanku. Aku sangat lapar.

Ia tersenyum lagi. Membuatku jadi salah tingkah.

“Kau sangat lapar ya?” tanyanya yang memperhatikanku melahap makanan.

Aku mengangguk.

Setelah selesai, ku habiskan segelas susu vanilla yang ada di hadapanku. Tapi aku belum puas. Aku merampas gelas susu miliknya. Ia hanya meneguknya sekali.

 

 

*Taemin POV*

 

Dia merampas susu milikku. Padahal aku baru meneguknya sekali. Aku hanya bisa pasrah dan memandangnya. Ia seperti tidak makan selama beberapa hari saja. Aku tertawa, aku baru ingat kemarin siang ia tidak istirahat. Tidak memakan apapun hingga pagi ini.

“Apa yang kau tertawakan?” sentaknya melototiku.

Aku hanya tersenyum. Aku mencondongkan tubuhku lalu mengusap bibirnya yang penuh dengan sisa susu.

“Kau sudah mandi?” tanyaku.

Dia menggeleng ragu.

“Sebentar lagi mereka datang. Sebaiknya kau mandi dulu. Lalu kita berangkat ke sekolah.” ucapku.

“Mereka siapa?” sahutnya.

Aku bangkit lalu menariknya.

“Lepaskan!” pintahnya.

Aku tidak peduli.

“Mandi dulu dan kau akan tahu siapa mereka.” ucapku menyeruhnya masuk ke dalam kamar.

“Di sini gelap.” ucapnya.

Aku menepuk tanganku tiga kali dan

BLEP BLEP BLEP obor-obor di kamar yang ia tiduri tadi menyala.

“Kamar mandinya di sebelah sana.” ucapku menunjuk ke ujung kamar.

“Mereka akan mengantarkan seragammu kemari.” ucapku.

“Siapa si mereka?” tanyanya penasaran.

Aku diam.

“Lalu ini pakaian siapa? Siapa yang mengganti pakaianku?” cerocosnya.

“Pakaian eommaku. Eommaku yang mengganti pakaianmu.” ucapku lalu aku keluar kamar.

Aku menujuh kamarku untuk berganti pakaianku dengan seragam.

Setelah selesai aku keluar kamar. Tidak lupa aku membawa tasku. Aku melewati lorong menujuh ke kamarnya. Ku dengar ada suara dari dalam.

“Jadi katakan. Kenapa eomma bisa ada di sini?”

Sepertinya Minbyul terkejut melihat eommanya berada di sini.

“Akanku jelaskan di luar.” ucap sebuah sauara.

Aku yakin itu eomma Minbyul.

Lebih baik aku ke ruang tamu. Appa pasti sudah menungguku di sana.

Dugaanku benar. Ia berada di sana dengan~ dengan tuan Dev. Aku menelan ludahku. Kenapa tuan Dev ada di sini. Lalu aku duduk bersama mereka. Tak kusangka tuan Dev tersenyum kepadaku. Biasanya beliau tidak pernah tersenyum. Lalu aku membalas senyumannya.

“Duduklah Minbyul.” ucap eommaku.

Ia bersama Minbyul dan eomma Minbyul. Mereka ikut duduk bersama kami.

“Taun Lee dulu teman sekolah eomma.” ucap eomma Minbyul.

“Dia juga teman appamu.” lanjutnya.

Aku melihat raut muka Minbyul berubah.

“Appa?” ucapnya.

“Ne~ kau ingin tahu siapa appamu?” tanya eommanya.

Minbyul mengangguk.

Tunggu. Jadi Minbyul tidak tahu siapa appanya? Sepertinya aku mulai tahu.

“Dia adalah appamu.” ucap eommanya menunjuk tuan Dev.

Minbyul memandang tuan Dev. Tersirat dari rautnya ia tidak percaya dengan semua ini.

Dia tertawa. Semakin lama semakin lantang. Tawanya menggema. Menusuk saraf otakku. Aku benar-benar yakin ia putri tuan Dev. Mereka memiliki tawa yang sama persis.

“Aku tidak percaya.” ucapnya.

“Apa kau mau bukti?” sahut tuan Dev.

Minbyul hanya diam.

“Lihat tanganmu.” ucap tuan Dev.

Minbyul mengankat tangan kanannya. Memperhatikan tangannya yang biasa itu

“Nyonya Lee bisakah kau membantuku?” ucap tuan Dev meminta bantuan eommaku.

Eommaku mengangguk. Ia meraih tangan Minbyul dan melemparkan api dari tangannya ke tangan Minbyul. Minbyul menjerit kesakitan. Aku tidak tega melihatnya. Aku juga merasakan kesakitan seperti itu.

Beberapa detik kemudian cahaya terpancar dari tangan Minbyul.

“Lihatlah tulisan di telapak tanganmu. Apa persis dengan tatu di lenganku ini?” ucap tuan Dev menunjukkan tatonya.

Sepertinya Minbyul sudah yakin tuan Dev itu appanya.

“Lalu apa ini? Kenapa tanganku seperti ini?” ucap Minbyul ingin penjelasan.

“Karena kau seorang Lucifer.” sahut eommaku.

Kurasa Minbyul tidak suka dengan kata Lucifer. Ia memelototi eommaku. Entah kenapa aku ingin membuka mulutku dan mengatakan,

“Kau Lucifer Minbyul. Kau sungguh-sungguh Lucifer. Ada devil di dalam dirimu.” ucapku.

Ia beranjak mendekatiku. Mencengkram kemejaku.

“Apa maksudmu heh?” sentaknya.

“Kau pikir aku sekeji itu?” sentaknya lagi.

“Aku mungkin suka jahil, tapi aku bukan devil atau Lucifer. Kaulah yang Lucifer.” lanjutnya melototiku.

Matanya berubah merah.

Aku tertawa. Dan sepertinya dia tidak suka aku mentertawainya.

“Taemin sudahlah.” ucap appaku.

Aku tidak peduli.

“Kau tahu kenapa kau suka jail?” tanyaku kepada Minbyul yang masih menarik kemejaku.

Aku mencondongkan tubuhku.

“Karena ada darah Lucifer di dalam tubuhmu. Semakin kau mengelak darah itu semakin bergejolak.” Bisikku di telinganya.

Ia mulai memanas. Wajahnya merah padam.

“Tapi kau payah. Kau tidak dapat menjailiku. Malah apa yang kau lakukan padaku berbalik kepadamu. Kau Lucifer yang bodoh. Mana ada Lucifer yang senang menjadi manusia sepertimu.” Ucapku menatap matanya.

Aku sungguh semangat kali ini. Cahaya yang terpancar dari tanganku tidak seperti cahaya Lucifer biasanya. Ini api~ apa aku benar memiliki kekautan api? Pengendali api?

Aku tersenyum kepadanya lalu tertawa di hadapannya.

“Taemin~” sentak appaku.

“Biarkan saja dia.” Ucap tuan Dev.

“Jangin sakiti dia Taemin.” Ucap eommaku.

“Minbyul, jangan kau lakukan itu lagi.” Ucap ahjumma.

Ia tampak khawatir.

Minbyul menatapnya. Ia menatap eommanya seakan meminta kepastian apa maksud dari kata-kata yang eommanya katakan.

“Memangnya apa yang akan ku lakukan?” ucapnya menatap eommanya.

“Membunuhnya…” ucap ahjumma lalu menangis.

Ku lihat amarah Minbyul memuncak.

“Kau Lucifer pembantai. Aku melihat kau sudah membunuh beberapa manusia. Ku rasa kau kurang puas. Apakah kau akan membantiku yang seorang Lucifer ini?” pancingku.

Tanduknya mulai muncul. Dia berubah menjadi Devil sempurnah. Ekornya mengikat tubuhku. Ujungnya yang lancip itu menggores pipiku.

“Kau Lucifer bodoh dengan penampilan Devil. Kau tidak akan pernah bisa mengalakanku.” Ucapku.

Ia berteriak. Lalu membanting tubuhku ke samping. Aku berhasil menahan tubuhku agar tidak terbentur. Sayapku sudah keluar. Aku melayang ke udara dan dia menyusulku. Ia membantaiku habis-habisan.

Tidak tega melihat rumahku berantakan dan ahjumma yang ketakutan aku pun mencengkram tangannya dengan apiku. Lalu mencium bibirnya. Dari mulutnya aku merasakan sesuatu. Sepertinya aku semakin bertenanga.

Kami berdua terjatuh. Aku melepaskan ciumannku. Dia langsung lemas. Apakah dia pingsan? Lalu dia membuka matanya pelan-pelan.

 

 

*Minbyul POV*

 

Aku terhempas ke lanatai. Tapi aku tidak terluka. Aku hanya merasa lemas. Seakan-akan aku baru saja berlari mengelilingi kota. Aku membuka mataku. Aku lihat sesosok orang di hadapanku. Pandanganku tidak seberapa jelas.

“Minbyul kau tidak apa-apa?” tanya eommaku.

Entah sejak kapan ia berada di sampingku.

Aku menatap sosok itu lagi. Dia seorang namja. Aku menyipitkan mataku. Dia… dia… seperti Taemin. Tapi~ kenapa dia bertanduk? Memiliki ekor dan sayap?

“Taemin kau~ sungguh menyeramkan.” Ucapku.

“Lihat dirimu.” Sahutnya.

Ku lihat diriku. Ternyata aku sepertinya. Memiliki tanduk, ekor dan sayap sepertinya. Aku mendesah.

“Jadi aku sepertimu. Aku bukan manusia?” cletukku.

“Ye~” sahutnya.

“Lalu bagaimana aku menghilangkan ini?” tanyaku.

“Sulit untukmu untuk menghilangkan itu semua karena kau tidak terbiasa. Kau tidak terlatih.” Ucap appaku.

Ia berjalan mendekatiku.

“Mulai sekarang kau harus tinggal di dunia ini. Tapi kau masih bisa bersekolah, bermain di dunia manusia.” Ucapnya lalu mengecup keningku.

“Jadi aku tidak bisa sekolah hari ini?” celetukku.

Taemin mnedekati. Ia berjongkok tepat di hadapanku.

“Kau masih bisa sekolah hari ini.” Ucapnya lalu tersenyum kepadaku.

Ia meraih ke dua tanganku dan mengenggamnya. Lalu ia tersenyum lagi kepadaku. Ia mentap mataku dalam. Tanduk, sayap dan ekornya menghilang. Aku merasa aneh terus melihatnya tersenyum kepadaku. Tatapannya membuat jantungku berdebar-debar. Aku memalingkan wajahku. Jangan bilang wajahku merah.

“Wajahmu memerah.” Ucap Taemin mencubit pipiku.

“Tapi karena wajahmu memerah kau jadi kembali seperti semula.” Ucapnya.

Akupun menyadari tubuhku kembali normal. Astaga bagaimana bisa?

 

 

#Di Sekolah#

 

Aku dan Taemin hampir telat.untung saja kami menggunakan ilmu melintasi ruangan, jadi kami tidak telat.

Teman sekelas menatap kami berdua yang masuk bersamaan. Apalagi saat Taemin mempersilahkan aku duduk bagai pangeran yang berudaha bersikap romantis kepada seorang putri.

“Tidak usah memeprlakukanku seperti itu.” Ucapku ketus.

Taemin hanya tersenyum.

Beberapa yeoja mendatanginya. Yayaya menyebalkan sekali. Yeoja itu mengata-ngataiku. Meski tidak langsung. Aku merasa tersindir. Aku ingin marah. Tanganku mulai memanas. Lalu Taemin menggenggam tanganku erat. Aku menatapnya.

“Kau marah jagiya?” ucapnya tersenyum kepasanya.

Aish~ senyumnya itu membuat amarahku padam. Ehm~ dia memanggilku apa?

“Jagiya~ kau cemburu?” ucapnya.

Jagiya?

Ia memalingkan wajahnya ke yeoja yang mengitarinya. Tangannya masih menggenggam tanganku.

“Dia yeojachinguku. Tolong jangan ganggu dia atau aku akan memberi perthitungan padamu.” Ucapnya.

“Dan barang siapa yang menyakitinya. Aku tidak akan segan-segan mencabik-cabikmu.” Ucap Taemin lantang sehingga seisi kelas mendengarnya.

“Ta… Taemin~” ucapku.

Dia memalingkan wajahnya kepadaku. Dia tersenyum lagi. Aku menelan ludahku.

“Saranghae~” ucapnya kemudian tersenyum dan terus tersenyum.

“Nado saranghae~” ucapku tersenyum kepadanya.

“Kau terlihat sangat cantik jiga tersenyum.” Ucapnya mencibit pipiku.

Entah kenapa aku bisa berkata seperti itu. Mungkin ia sudah menghipnotisku. Ia benar-benar seorang Luicfer sejati. Aku mencintainya. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta~

 

 

 

_THE END_

 

 

Need Your Comments, Please Comments This Fiction. Thank You ^^

Mian klo jelek, author lagi kurang enak badan dan depresi karena suatu hal (jiah~ malah curhat)

Kritik dan saran saya terimah.

Mau kasih coklat, bunga, boneka juga saya terima (ngarep) 😀

 

 

When I Knew The Meaning of Love (Chapter 9)

Standar

Cast: Minho, Taemin, Onew, Key, Jonghyun, Jaerin *Lyra*, Hyoah *Intan*, Jira *Iha*, Jihee *Reeha*, Jaejoong

Genre: Romantic, Friendship

PG: 15

 

 

 

PLEASE DON’T BE SILENT READER, PLEASE COMMENT. AUTHOR NEED YOUR COMMENT. THANKS BEFORE

 

 

 

When I Knew The Meaning of Love (chapter 9)

-I Get You-

 

 

 

 

“Dia bekerja di sebuah perusahan motor. Aku tak tahu dai bekerja di bagian apa.” Ucap Halmeoni.

Minho berpikir. Banyak perusahan motor di Korea. Bagaimana ia bisa menemukannya hanya dengan sebuah marga.

“Baiklah. Terima kasih atas bantuannya. Kami pulang dulu.” Ucap Minho.

“Hati-hati di jalan.” Ucap halmeoni.

Minho dan Jaerin masuk ke dalam mobil.

“Kau akan mencarinya Minho.” Cletuk Jaerin.

‘Ye~ besok aku akan mencarinya.” Sahut Minho melajukan kendaraanya.

“Kau tidak sekolah besok?” sahut Jaerin.

“Aniyo~ aku ingin mencari noonaku.” Ucap Minho.

“Aku ikut ya?” sahut Jaerin.

“Kau tidak sekolah?” sahut Minho.

“Aniyo~ aku ingin membantumu. Siapa tahu kau perlu bantuanku.” Sahut Jaerin.

“Tidak usah. Kau sekolah saja, aku bisa menangani ini sendiri.” Ucap Minho.

“Apa salahnya sich kau menerima bantuan orang lain.” Omel Jaerin.

“Belum tentu kau bisa menyarinya sendiri. Terlebih lagi kau dalam kondisi ingin cepat-cepat bertemu noonamu, pasti kau cepat emosi jika tidak dapat menemukan noonamu.” Lanjut Jaerin.

Minho mendesah.

“Baiklah.” Ucapnya kemudian.

 

 

 

 

 

9.07 PM

  

 

Jihee menarik Key.

“Mau kemana kita?” tanya Key.

“Ke tempat karaoke.” Sahut Jihee.

“Mwo?” sahut Key.

“Kau harus menemaniku berkaraoke. Aku tidak ingin menyanyi sendirian.” Sahut Jihee.

Lalu mereka masuk ke dalam ruangan karaoke.

“Ku harap Jonghyun tidak melihatku.” Ucap Key pelan.

“Mwo?” sahut Jihee tidak mendengar ucapan Key.

“Ah, aniyo~” ucap Key

Jihee menyuruh Key duduk sementara ia memilih-milih lagu.

“Bisa kau pesankan makanan dan minuman?” cletuk Jihee yang sibuk memilih lagu.

“Kau mau pesan apa?” tanya Key.

“Terserah yang penting enak.” Sahut Jihee.

Key langsung meraih telpon yang ada di ruang karaoke dan memulai memesan.

Kemudian Jihee mulai menyanyi. Ia menemukan lagu yang tepat. Ia mulai menyanyi lagu Oh dari SNSD.

Key menahan tawa. Ya bagaimana dia tidak tertawa. Jihee menyanyi dengan gaya rocker dan suara yang tak karu-karuan.

“Hya kenapa kau tertawa? Apa yang kau tertawakan?” sentak Jihee.

“Kau seperti orang gila.” Sahut Key.

“Apa kau bilang?” sentak Jihee.

Key tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Jihee.

“Sekarang giliranmu menyanyi.” Sahut Jihee menarik Key.

“Nyanyikan lagu ini persis dengan tariannya.” Ucap Jihee.

Key melongok. Ini lagu Magic Girl dari Orange Caramel. Jihee duduk menonton dan Key mulai bernyanyi. Key benar-benar menghibur. Suaranya enak di dengar dan dia dapat menirukan tarian Orange Caramel.

Jihee tertawa karena Key persis dengan Orange Caramel.

“Sebenarnya kau namja apa yeoja?” cletuk Jihee tertawa.

Key tersenyum dan melanjutkan menyanyi.

Beberap saat kemudian pelayan masuk membawa pesanan.

“Sepertinya kalian bersenang-senang.” Ucap seorang pelayan.

Key tersenyum.

“Tu…”

Key melototi pelayan itu. Ia tidak ingin ada yang memanggilnya dengan sebutan tuan. Ia tidak ingin orang lain tau bahwa ia memiliki kedudukan yang sangat tinggi di resort.

“Ehm maksudku Key. Sampai kapan kau akan bekerja di sini.” Ucap sang pelayan sembari meletakkan pesanan di atas meja.

“Entahlah. Sampai tuan Kim mengatakan tugasku selesai mungki.” Ucap Key.

“Memang sebelumnya kau ada tugas apa?” sahut Jihee mencomot makanan pesanan yang ada di hadapannya.

Key bingung. Tidak mungkin ia mejelaskannya. Jihee akan tahu banyak tentangnya. Dia tidak ingin yeoja itu tahu. tidak ada satupun yeoja yang tahu kecuali Jaerin dan Hyoah yang terlanjur tahu.

“Key adalah tour guide di sini. Jika hari libur ia datang kemari untuk bekerja. Tuan Kim menyuruhnya untuk bekerja lebih lama lagi karena ada beberapa tamu yang butuh tour guide. Kami kekurangan tour guide jadi tuan Kim menyuruh Key.” Sahut pelayan asal.

“Jinca? Berarti besok kau harus jadi tour guideku donk.” Sahut Jihee.

Key mendesah. Ia menatap pelayan itu dan tersenyum. Lalu pelayan itu keluar.

“Oh ya Key, siapa nama aslimu? Aku yakin Key itu bukan nama aslimu.” Ucap Jihee.

“Waeyo?” sahut Key sembari menyicipi kentang goreng yang ada di hadapannya.

“Penasaran saja. Terus kenapa kau di panggil Key?” sahut Jihee.

“Tidak penting. Untuk apa kau ingin tahu aku? Bukankah aku hanya seorang pelayan?” sahut Key lalu mencomot ebikatsu.

“Aku hanya ingin mengenalmu saja.” Ucap Jihee.

Key terdiam memandang Jihee.

“Kau mencintaiku?” ucap Key.

“Aish~ kenapa kau selalu bilang begitu? Menyebalkan.” Sahut Jihee beranjak dari tempat duduk dan mulai memilih lagu.

“Kau sendiri yang memulai. Kenapa tidak ingin melepasku dan ingin mengenal diriku.” Cletuk Key mencomot kentang goreng.

“Aku ingin berteman denganmu.” Sahut Jihee.

“Selama ini aku tidak mempunyai teman baik. Mereka mau berteman denganku jika ada inginnya saja. Biasanya aku main dengan Jinki oppa. Tapi dia sangat sibuk. Dan kini dia sudah memiliki kekasih. Terlebih lagi dia tidak menyukaiku.” Lanjut Jihee.

“Aku bisa mengerti.” Sahut Key.

“Kau mengerti perasaanku?” sahut Jihee.

“Bukan. Aku bisa mengerti perasaan orang-orang di sekitarmu. Temanmu dan Jinki hyung.” Sahut Key.

“Aku juga menyadari, ternyata kau tidak berperasaan.” Ucap Jihee lalu memutarkan sebuah lagu.

Kemudian ia mulai menyanyikan lagu I Got Crazy Because of You dari T-ara dengan gaya seperti orang gila. Key geleng-gelang kepalah.

“Yeoja ini semakin gila saja.” Ucap Key pelan.

 

 

Keesokan harinya…

6.43 AM

 

Minho menekan bel sebuah apartemen. Dua menit kemudian sesorang membukan pintu.

“Annyeong.” Ucapnya.

“Annyeong Minhossi.” Ucap Jaerin.

“Boleh aku meminjam kamar mandimu? Aku ingin ganti sergamku ini dengan pakaian biasa.” Ucap Minho.

Jaerin mempersilahkan masuk ia menunjukkan kamar mandinya.

“Kau belum memberi tahu orang tuamu?” tanya Jaerin.

“Belum. Meski aku katakan sepertinya mereka tidak akan peduli.” Ucap Minho lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Beberapa menit kemudian ia keluar.

“Ayo kita berangkat !” seru Minho.

Jaerin mengangguk.

“Kau tidak ada pakaian lagi selain itu?” cletuk Minho memandang pakain Jaerin.

“Waeyo apa aneh?” sahut Jaerin.

“Pakaianmu terlalu casual untuk musim panas. Itu lebih cocok untuk pakaian musim gugur. Apa kau tidak kepanasan?” ucap Minho.

“Hanya ini pakaian yang aku punya. Lebih baik aku kepanasan dari pada kedinginan.” Ucap Jaerin.

Minho tersenyum simpul.

“Baiklah ayo kita keluar.” Ucap Minho.

Merekapun keluar. Jaerin mengunci apartemannya.

“Oh!!! Apa yang baru kalian lakukan di dalam apartemen? Jangan-jangan kalian habis melakukan sesuatu ya?” sahut Hyoah yang juga keluar dari apartemennya.

“Aniyo~” sahut Jaerin.

“Aku baru saja datang dan meminjam kamar mandi Jaerin. Jadinya aku masuk.” Sahut Minho.

“Untuk apa kau ke apartemen Jaerin? Lalu kalian tidak sekolah?” sahut Hyoah.

“Aku menjemput Jaerin. Kami ada suatu urusan. Permisi kami tergesah-gesah.” Sahut Minho menarik Jaerin turun.

Hyoah bingung.

“Kenapa Minho menjemput Jaerin? Kenapa mereka tidak sekolah? Apa urusan mereka?” cletuk Hyoah.

“Apa mereka sedang berkencan?” ujar Hyoah.

Ia melihat ke bawah. Minho membukakan pintu mobilnya untuk Jaerin. Lalu ia memasang kaca mata hitamnya dan masuk ke dalam mobilnya.

“Pasti mereka sedang berkencan.” Ucap Hyoah lalu buru-buru turun ke bawah.

 

 

7.05 AM

 

“Kenapa kita kemari?” tanya Jaerin.

“Membeli pakaian untukmu. Untung saja aku membawa kartu kreditku.” Ucap Minho.

“Mwo? Untuk apa membeli pakaian untukku.” Sahut Jaerin.

“Tidak mungkin kita bisa masuk ke perusahaan jika kau berpakaian seperti itu.” Sahut Minho lalu turun dari mobilnya.

Jaerin turun dari mobil.

“Mereka tidak mengizinkan orang berpakaian sepertiku?” sahut Jaerin.

Minho mengangguk.

“Mianhae~ aku jadi merepotkanmu.” Ucap Jaerin.

“Tidak apa-apa. Anggap saja ini ucapan terima kasih untukku.” Ucap Minho lalu masuk ke dalam butik.

Jaerin bingung. Ia menyusul Minho.

“Ucapan terima kasih untuk apa?” tanya Jaerin.

“Karena kau telah membuat perubahan dalam hidupku. Kau memberikanku pelajaran soal kehidupan. Kau memberikan harapan hidupku.” Ucap Minho memandang Jaerin.

“Ehm~ kata-katamu terlalu berlebihan.” Ucap Jaerin.

“Sudahlah sebaiknya kita memilih pakaian yang cocok untukmu.” Ucap Minho.

“Ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya seorang pelayan.

“Tolong carikan pakaian yang cocok untuknya.” Ucap Minho menunjuk Jaerin.

“Mari nona, ikut dengan saya.” Ucap sang pelayan.

Jaerin menatap Minho. Minho hanya mengangguk.

Minho duduk di sebuah kursi dan menunggu sembari membaca majalah. Beberapa menit kemudian Jaerin datang dengan pelayan tadi.

“Bagaimana dengan ini tuan?” ucap sang pelayan.

Minho menatap Jaerin.

“Terlalu glamour.” Ucap Minho lalu melanjutkan membaca.

Pelayan dan Jaerin pergi meninggalkan Minho lagi.

Beberapa menit kemudian mereka kemablai lagi.

“Bagaimana dengan ini?” ucap sang pelayan.

Terlalu futuristic.” ucap Minho.

Selanjutnya.

“Gothic?” ucap Minho lalu mendesah.

Selanjutnya.

“Terlalu kekanak-kanakan.” ucap Minho lalu tertawa.

Selanjutnya.

Jaerin mentap Minho. Ia berharap Minho tidak menyuruhnya ganti pakaian. Ia cukup lelah.

Minho memandang Jaerin. Dia hanya diam lalu menunduk.

Jaerin mendesah. Ia membalik tubuhnya berjalan ke ruang ganti. Tapi seseorang menarik tangannya. Ia meneloh. Ternyata Minho. Namja itu tersenyum kepadanya kemudian memasangkan bando di kepalahnya.

“Ini akan membuatmu lebih cantik.” Ucap Minho lalu tersenyum kepada Minho.

“Gomawo~” ucap Jaerin datar.

“Nah sekarang kita cari sandal yang cocok untukmu.” Cletuk Minho menarik tangan Jaerin ke tempat sandal.

“Tolong carikan sandal untuknya. Yang cocok dengan pakaiannya.” Ucap Minho kepda pelayan.

Pelayan itu mengangguk.

“Apakah harus menggunakan heels?” tanya Jaerin.

“Hm~” ucap Minho.

Jaerin langsung duduk di bangku yang tersedia. Dia merasa kecewa karena ikut dengan Minho.

“Bagaiman jika sepatu biasa saja. Sepatu boots mungkin. Dengan begitu aku bisa menggunakannya saat musim dingin.” Ucap Jaerin.

Minho menoleh.

“Kau selalu membeli pakaian serta alas kaki yang dapat di pakai di segala musim?” tanya Minho.

Jaerin menjawab dengan anggukan.

“Aish~ pantas dandananmu seperti itu.” Ucap Minho lalu menerima sandal pemberian pelayan.

Ia berjongkok di depan Jaerin.

“Mau apa kau?” sahut Jaerin.

“Memasangkan ini di kakimu.” Ucap Minho menunjukan sandal heels yang ada di tangannya.

“Aku bisa sendiri.” Ucap Jaerin mencoba merenggut sandal dari tangan Minho.

“Ani~ aku pasangkan.” Ucap Minho memaksa.

Setelah berdebat akhirnya Jaerin menyerah. Ia membiarkan Minho membuka sepatunya dan memasangkan sandal di kakinya. Tapi tidak pas dengan ukuran kaki Jaerin. Pelayan mencari sandal yang cocok dengan ukuran Jaerin. Entah sudah berapa kali Jaerin menggenakan sandal yang berbeda-beda. Lalu ada sandal yang cocok dengannya. Saat ia mencoba berjalan ia tergelincir dan jatuh. Untuk saja Minho sigap menagkap tubuhnya.

“Gomawo.” Ucap Jaerin.

Ia kembali duduk. Minho melepaskan sandalnya. Mereka berdua mendesah.

“Ini yang terakhir.” Ucap sang pelayan.

“Wedges~” sahut Minho lalu meraih sandal wedgest dari tangan pelayan.

“Semoga pas untukmu.” Ucap Minho memasangkan wedgest di kaki Jaerin.

Minho mendesah. Ternyata pas.

“Cobalah berjalan.” Pinta Minho.

Jaerin menuruti perkataan Minho. Ia melenggak. Dan hasilnya ia tidak terjatuh lagi seperti tadi.

“Bagus. Sekarang tinggal di bayar.” Ucap Minho.

“Berapa semuanya?” tanya Minho kepada pelayan

Sang pelayan menyebutkan harganya. Lalu Minho membayarnya. Jaerin melongok terkejut dengan harga kesemuan barang yang dikenakannya.

Saat mereka di mobil Jaerin mulai membicarakan pakaian yang ia kenakan.

“Seharusnya kita tidak beli di tempat ini. Harganya sungguh mahal. Aku bisa mendapatkan satu HP beserta tiga dady long legs dengan total harga itu.”cletuk Jaerin.

“Apa salahnya? Tempat ini bagus. Produk yang mereka jual berkualitas tinggi, jadi tahan lama.” Ucap Minho.

“Tapi…”

“Sudahlah~ tidak usah diperdebatkan.” Ucap Minho.

Jaerin terdiam.

“Oh ya kenakan sabuk pengamanmu.” Ucap Minho menatap Jaerin.

Jaerin mencoba menarik sabuk pengaman yang terletak di sisi kanannya tapi ia kesulitan. Minho mencoba membantunya. Ia dapat merasakan hembusan nafas minho tepat di depannya. Rasanya hangat. Kemudian suasana menjadi hening. Wajah JAerin sudah merah. Begitu juga Minho. Mereka jadi canggungg karena hal kecil.

 

 

1.17 PM

 

Jonghyun mendesah melihat Key yang bersenang-senang dengan Jihee. Awalnya mereka seperti To & Jerry tapi pada akhirnya mereka berteman baik meski Key seringkali melontarkan kata-kata pedas. Tapi Jihee tidak menanggapinya ia tidak ingin beradu mulut dengan Key. Karena Key selalu menang di akhir perdebatan mereka.

Di atas kebahagian Key dan Jihee, Jonghyun merasakan sakit yang tak tertahankan. Kebahagiannya telah di renggut. Ia harus mengerjakan tugas yang seharusnya di selesaikan Key. Meski ia masih kuliah tapi orang tuanya selalu menekan mereka untuk bekerja. Agar membiasakan merka bekerja di perusaan orang tua mereka.

Tidak ada lagi yeoja. Itu yang ada di pikiran Jonghyun. Awalnya ia merasa kesepian tapi setelah dirasakan kembali ia cukup senang. Ia lebih suka kelelahan karena kerja dari pada kelelahan karena di kejar-kejar yeoja. Ia ingin berhenti bermain-main dengan yeoja. Ia takut apa yang di katakan Jaerin benar. Selama ini mencari-cari nomor kontak Jaerin dan akhirnya ia mendapatkannya. Yeoja itu benar-benar menolaknya mentah-mentah. Jaerin tidak tahan dengan Jonghyun yang selalu dikelilingi yeoja dan bermesraan dengan yeoja itu. Jaerin merasa tidak nyaman. Jaerin mengecap Jonghyun bukan namja normal. Jonghyun sangat tersentak. Lalu terlontarlah kata-kata dari JAerin yang membuat Jonghyun sadar. Selama ini Jonghyun hanya merinduhkan sosok eomma di diri yeoja. Jonghyun memang tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang eomma. Saat ia lahir eommanya meninggal karena pendarahan. Ia di besarkan oleh appanya dan beberpa anggota keluarga Kim lainnya.

Saat pamannya, appa Key menikah, barulah Jonghyun meraskan kasih sayang seoerang eomma dari eomma Key. Tapi itu tak berlangsung lama. Saat mereka mempunya anak, mereka lebih menyanyangi anak mereka. Memanjakan mereka. Sejak itulah Jonghyun sering berdiam diri dan menghabiskan waktu untuk bermain musik dan bernyanyi. Saat SMP ia mulai bermain yeoja. Ia merasa diperhatikan.

Tapi semua itu berkahir karena Jaerin. Jonghyun tidak dapat melupakan Jaerin. Ia seperti sosok yang ia cari. Seseorang yang bijaksana. Tapi Jonghyun tidak dapat memilikinya. Yeoja itu sadah tidak memiliki rasa apapun padanya. Yeoja itu menganggapnya sebagai appanya.

Sekarang Jonghyun berada di lobby. Ia akan kembali ke Seoul karena ia dapat panggilan dari perusahaan di Seoul. Saat memasuki mobil ia di cegat seorang yeoja yang berpakaian seragam lengkap dengan tasnya.

“Ada apa?” tanya Jonghyun heran.

Yeoja itu menatap Jonghyun tajam dan penuh kebencian.

“Kembalikan rumahku!” cletuk yeoja itu.

“Rumah?” sahut Jonghyun heran.

“Ne~ kau menyitanya beberapa hari yang lalu. Aku memintanya kembali.” Ucap yeoja itu.

Jonghyun mulai mengerti apa yang dikatakan yeoja itu.

“Kau adiknya Jiyeo?” ucap Jonghyun.

“Ne~” ucap yeoja itu.

Jonghyun meringis.

“Bagaimana bisa aku mengembalikannya begitu saja. Onniemu itu berhutang banyak kepadaku. Dengan rumah dan seisinya saja tidak cukup untuk membayarnya.” Ucap Jonghyun Ketus.

“Jika begitu aku minta barangku. Di dalamnya ada barangku, bagaimana bisa kau mengambilnya.” Ucap yeoja itu terisak.

Jonghyun tidak peduli. Ia berusaha meninggalkan yeoja itu dan masuk ke dalam mobil tapi yeoja itu menariknya. Ia menepis tangan yeoja itu. Ia masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan yeoja itu. Yeoja itu menangis dan menatap kepergiannya. Lalu tiba-tiba yeoja itu terjatuh. Jonghyun menyuruh sopirnya berhenti. Ia menyuruh sopirnya kembali. Ia turun dari mobil dan mengecek kondisi yeoja itu yang kini di bopong security.

“Bahwa dia ke klinik.” Ucap Jonghyun.

Saat di klinik, dokter mengecek kondisi yeoja itu.

“Konidsinya buruk.” Ucap dokter.

“Sangat buruk?” tanya Jonghyun.

“Kau apakan dia?” sentak dokter.

“Kenapa kau marah padaku? Aku tidak mengapa-apakannya. Dia sendiri datang kepadaku dan meminta rumahnya, barangnya kembali.” Cletuk Jonghyun.

“Rumah? Barang?” sahut dokter muda itu.

“Ye~ Jiyeon berhutang banyak kepadaku, maka dari itu aku menyita rumahnya.” Ucap Jonghyun.

“Salah satu mantanmu?” sahut dokter.

Jonghyun hanya mengangguk.

“Serakan miliknya kembali. Pasti di dalam rumahnya itu ada sesuatu yang berharga. Miliknya bukan milik Jiyeong.” Ucap dokter.

“Andwae~” sahut Jonghyun.

“Seberapa besar hutangnya?”tanya dokter penasaran.

“Hutangnya cukup untuk membeli café yang sering kau kunjungi.” Ucap Jonghyun.

Dokter menelan ludahnya.

“Bagaimana jika mempekerjakannya di mall milik appamu. Ku dengar mereka membutuhkan beberpa karyawan. Dengan begitu dia dapat mebayar hutnag kakaknya.” Ucap dokter.

Jonghyun hanya diam saja.

“Dia kelelahan. Sepertinya dia sudah dua hari tidak makan. Sepatunya sudah lusuh. Sepertinya dia berjalan kaki dari Seoul kesini.” Ucap dokter yang membuat Jonghyun tertawa.

 

 

3.45 PM

 

“Aish~ kemana sich tuh anak.” Omel Jira yang kini berada di depan pintu apartemen Jaerin.

“Ponselnya juga tidak dapat di hubungi.” Cletuk Taemin yang mencoba menghubungi Jaerin.

“Apa jangan-jangan dia~ Ah tidak mungkin. Kejadian itu tidak mungkin terulang lagi.” Cletuk Jira.

Apa dia mengunjungi keluarganya?” cletuk Taemin.

“Dia sebatang kara.” sahut Jira.

“Jangan-jangan dia….”

“Bersama dengan Minho.” sahut sebuah suara.

Jira dan Taemin menoleh. Ia mendapati sesosok yeoja yang mereka kenal. Di belakang yeoja itu ada seorang namja yang berjalan mendekat.

“Nugu? Minho?” sahut Jira.

“Ne~ mereka sangat mencurigakan. Tadi pagi aku melihar Minho keluar dari apartemen Jaerin. Mereka tidak menggenakan seragam. Mereka bilang mereka sedang menangani suatu urusan.” teran yeoja yang bernama Hyoah.

“Urusan?” sahut Taemin.

“Kurasa Minho semalam menginap di apartemen Jaerin lalu mereka melakukan ‘itu’ paginya mereka ke dokter mengecek apakah Jaerin hamil.” ucap Hyoah.

Jinki menjitak kepalah Hyoah.

“Tidak mungkin seperti itu. Jagi~ jangan berpikiran negatif.” ucap Jinki.

Hyoah mengelus kepalahnya yang sakit karena jitakan Jinki.

“Kemarin Jaerin pulang sore dan kemarin sore ada pertandingan basket. Ku dengar sekolah kita dan sekolah Minho hyung bertanding jagi~ kurasa kemaren mereka bertemu dan merencanakan sesuatu. Aku baru ingat.” ucap Taemin kepada Jira.

Jira menjitak kepala Taemin.

“Pabo~ jika kau mengatakan dari tadi kita langsung saja telpon Minho oppa.” sentak Jira.

Taemin hanya tersenyum kecut karena Jira menjitak dan menyentaknya. Kemudian ia mencoba menelpon Minho.

“Ah hyung~ apa kau bersama Jaerin sekarang? …….. Syukurlah. Kami mengkhawatirkan Jaerin. ……………. Aku tidak bisa menghubunginya maka dari itu kami khawatir. ………………. Pantas saja. Oh ya kalian kemana? ……………. Oh baiklah. Jaga dia baik-baik.” ucap Taemin lalu memutuskan pembicaraan.

“Bagaimana?” tanya Jira dan Hyoah bersamaan.

“Jaerin bersama Minho hyung. Dia lupa membawa ponselnya. Mereka sedang ada urusan. Sebenarnya urusan Minho hyung tapi Jaerin ingin membantu.” terang Taemin.

“Yeoja satu selalu membuat orang khawatir.” ucap Jira.

“Sudah-sudah lebih baik kita masuk ke apartemanku dan berbincang-bincang. Bukankah sudah cukup lama kita tidak berbincang?” sahut Hyoah.

“Hm~ baiklah.” ucap Taemin.

Jira hanya mengangguk.

 

 

5 PM

 

“Rumahnya besar sekali~” cletuk Jaerin memandang rumah yang ada di hadapannya.

“Tapi mungkin saja ini bukan rumah noonaku.” Sahut Minho.

Seorang satpam mendekati mobil Minho dan mengetuk pintu kaca Minho.

“Apa ada yang perlu saya bantu tuan, nona?” tanya satpam itu.

“Apakah benar ini kediaman tuan Kim?” tanya Minho.

“Ye~ ini kediaman tuan Kim.” Jawab satpam itu.

“Apa tuan Kim ada di rumah?” tanya Minho.

“Tuan Kim belum datang tuan. Mungkin sebentar lagi belia akan datang. Tapi dia tidak akan lama di sini karena nyonya sekarang ada di Seoul. Maaf jika boleh saya tahu anda siapa?” tanya satapam.

“Saya rekan bisnis.” Ucap Minho.

“Silakan masuk. Anda bisa menunggu tuan di dalam.” Ucap satpam itu lalu membuka pintu gerbang.

Saat di dalam rumah, Minho dan Jaerin berusaha mencari foto keluarga yang biasa di pajang di dinding. Tapi mereka hanya menemukan foto sepasang kakek dan nenek.

“Maaf apakah itu…” tanya Minho menunjuk pigora yang dipajang di dinding.

“Itu foto tuan besar Kim dan mendiang istrinya.” Ucap pelayan yang menyajikan mereka minuman.

“Lalu di mana foto keluarga tuan Kim sendiri? Kudengar belia sudah berkeluarga.” Ucap Jaerin sembari menyesap teh yang di suguhkan.

“Tuan Kim tidak pernah memajang fotonya di ruangan terbuka seperti ini. Beliau biasa memajangnya di kamar. Tapi ada foto nyonya dan anaknya di dinding dekat tangga.” Ucap si pelayan.

“Boleh kami melihatnya?” sahut Minho tak sabar.

“Mari~”

Ucap sang pelayan mulai melangkahkan kakinya. Minho dan Jaerin beranjak mengikuti langkah kaki pelayan.

“Ini foto nyonya dan putranya.” Ucap pelayan menunjukan pigora foto seorang yeoja dan anak kecil yang kira-kira berusia tiga atau empat tahun.

Minho tertegun.

“Wah~ cantiknya. Anaknya juga lucu. Siapa nama anaknya?” ucap Jaerin.

“Donghae~” ucap si pelayan.

DEG~ tiba-tiba jantung Jaerin berdetag kencang. Ia tertegun.

“Namanya Choi Yeonra?” cletuk Minho.

“Eh~” sahutsi pelayan itu.

“Ne~ nyonya Yeonra.” Ucap pelayan itu kemudian.

“Kalian terlihat pucat. Apa kalian tidak apa-apa?” tanya si pelayan.

“Saya tidak apa-apa. Hanya terkejut saja istrinya masih muda.” Ucap Minho.

“Tuan Kim menikah muda. Beliau menikah saat usia dua puluh tahun dan nyonya sembilan belas tahun.” Ucap si pelayan.

Minho memandangi Jaerin. Yeoja itu berkeringat dingin.

“Jaerin kau tidak apa-apa?” tanya Minho.

Jaerin tetap diam. Minho meraih tangan Jaerin. Tangan yeoja itu dingin.

“Kau benar-benar sakit?” tanya Minho.

Jaerin memandang Minho.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingat seseorang.” Ucap Jaerin.

“Donghae?” tanya Minho.

Jaerin mengangguk.

“Maaf kenapa mereka memberi nama putra mereka Donghae?” tanya Jaerin bergetar.

“Saya tidak tahu pasti. Tapi saya dengar itu nama teman tuan Kim yang sudah meninggal beberapa taun yang lalu.” Ucap si pelayan.

Tiba-tiba kaki Jaerin lemas. Ia terduduk di lantai.

“Jaerin kau tidak apa-apa?” tanya Minho khwatir.

“Apakah tuan Kim dulunya tidak tinggal di sini tapi di daerah dekat sini?” tanya Jaerin dengan nada bergetar.

“Ehm~ Ne~” ucap si pelayan.

“Apakah eomma tuan Kim meninggal saat melahirkannya dan appanya meninggal karena kecelakaan?” tanya Jaerin sekali lagi.

Matanya berkeca-kaca.

“Benar sekali.” Ucap si pelayan heran.

“Jaerin kau kenapa?” tanya Minho khawatir.

Ia berjongkok di depan Jaerin.

“Se… sebaiknya kita pulang. Aku tidak enak badan.” Ucap Jaerin.

Minho tau Jaerin menyembunyikan sesutu tapi dia tidak ingin bertanya. Ia takut Jaerin semakin tersiksa dan menangis. Ia memutuskan menggendong Jaerin dan membawanya ke mobil.

“Maaf kami tidak bisa menunggu lama lagi.” Ucap Minho sebelum masuk ke dalam mobil

“Ne~ saya mengerti.” Ucap si pelayan.

Lalu Minho masuk ke dalam mobil.

“Minho bisakah kita mampir ke……”

 

 

6.07 PM

 

“Ku dengar tadi ada yang mencariku.” Ucap Jaejoong yang baru saja tiba.

“Ne~ tuan.” Ucap si pelayan.

“Nugu?” tanya Jaejoong.

“Mereka mengatakan bahwa mereka rekan bisnis tuan.” Ucap si pelayan.

“Nama mereka?” saut Jaejoong.

“Yang namja bernama tuan Choi Minho dan…”

“Minho? Choi Minho? Apakah dia masih muda?” potong Jaejoong.

“Ne tuan. Dia bersama dengan seorang yeoja yang bernama Jaerin.” Ucap si pelayan.

“Jaerin? Seperti apa dia?” tanya Jaejoong.

“Dia cantik dan anggun tuan. Saat dia melihat foto nyonya dan putra tuan, ia sangat senang. Tapi raut wajahnya berubah saat mengetaui nama putra tuan. Dan keadaanya semakin buruk saat mengetaui bahwa nama putra tuan berasal dari nama teman tuan.” Terang si pelayan.

Jaejoong membalikan tubuhnya.

“Ke arah mana mereka pergi.” ucapnya sembari menujuh ke luar.

“Mereka menujuh ke tempat tinggal tuan dulu.” Ucap si pelayan.

“Tolong telpon Yeonra katakan padanya aku tidak pulang hari ini. Katakan juga bahwa Choi Minho datang kemari.” Ucap Jaejoong.

Ia buru-buru masuk ke dalam mobilnya yang di parkir di depan rumah.

“Mengapa mereka ke sana? Tempat itu sudah tidak aman lagi.” Ucap Jaejoong.

Ia meraih ponselnya dari saku jasnya lalu menelpon seseorang.

“Yoochun~ apakah kau sibuk? ……… Kau bisa bantu aku? ……. Kau masih ingat Kim Jaerin? ………. Dia kembali ke tempat tinggalnya dulu. Melewati tempat di mana kejadian itu. ……………. Apa mereka sudah bebas? Itu semakin bahaya! ………….” Ucap Jaejoong mentup pembicaraan kemudian melemperkan ponselnya ke kursi di sampingnya.

 

 

7 PM

 

“Jaerin kau tidak apa-apa?” tanya Minho.

Jaerin tidak menjawab. Ia masih shock.

Minho melepaskan sabuk pengamannya lalu melepaskan sabuk pengaman Jaerin.

“Tenanglah~ ada aku di sini.” Ucap Minho menggenggam tangan Jaerin.

“Untung kau tidak terluka parah. Apa benturan tadi sakit Jaerin?” tanya Minho.

Jaerin tidak mejawab ia hanya menangis.

Tubuh Jaerin gemetaran. Minho medesah.

“Siapa mereka? Apakah mereka gangster?” ucap Minho menatap keluar.

Di luar sana ada beberpa orang mengelilingi mobil Minho. Lalu seorang namja dengan bekas luka di wajahnya mnedekati mobil Minho. Namja itu berdiri tepat di pintu mobil dekat Jaerin. Minho sudah merasakan firasat buruk tentang ini. Dan benar. Namja itu berusaha memecahkan kaca. Minho langsung memeluk Jaerin.

PYAR~

Kaca mobil di dekat Jaerin pecah. Untung saja Minho memeluk Jaerin. Jadi yeoja itu baik-baik saja. Tetapi tidak untuk Minho. Serpihan kaca tadi melukai tubuh Minho.

Namja dengan bekas luka di wajahnya membuka pintu dan menarik Jaerin. Minho berusaha agar Jaerin tidak terlepasa darinya tapi tidak bisa. Seseorang memecahkan kaca pintu yang lain dan menyeret Minho keluar.

“Kau….”

 

 

 

 

To Be Continue….

 

 

Mian lama~

Gimana chapter kali ini?

Maaf klo jelek.

Sepertinya chaoter berikutnya saya protek. Mungkin cuma chapter itu saja.

Mengapa di protek? Karena eh karena ada suatu adegan gitulah.

JANGAN MENGANGGAP ADEGAN HOT!!!

Author cuma mau melindungi chapter berikutnya biar tidak terjadi kesalah pahaman. Syaratnya harus sudah berusia 15 tahun dan mampu menjawab pertanyaan saya. Yang mau passwordnya hubungi admin via FB or Twitter

Oh ya FF ini ada spinoffnya lho~ ada 3 chapter. Hehehe ^^

 

Jangan lupa tinggalkan komentar